Anda di halaman 1dari 16

Tugas

DISUSUN OLEH:
Adec iriani cheristine hasibuan
1102014002

PEMBIMBING:

dr. Teddy Ervano sp.PD

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


PERIODE 8 APRIL – 22 JUNI 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN YARSI – RSUD PASAR REBO
JAKARTA
1. TATALAKSANA HIPERTENSI

Non farmakologis

Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan darah, dan secara umum
sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang menderita
hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan
tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut,
tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang
lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.

Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah :

 Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan
buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti
menghindari diabetes dan dislipidemia.
 Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan
tradisional pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungan garam pada
makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam
ini juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi derajat ≥ 2.
Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/ hari
 Olah raga. Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit/ hari, minimal 3 hari/
minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang tidak memiliki waktu untuk
berolahraga secara khusus, sebaiknya harus tetap dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda
atau menaiki tangga dalam aktifitas rutin mereka di tempat kerjanya.
 Mengurangi konsumsi alcohol. Walaupun konsumsi alcohol belum menjadi pola hidup yang umum di
negara kita, namun konsumsi alcohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan
pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar. Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari pada
pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian
membatasi atau menghentikan konsumsi alcohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.
 Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung dapat menurunkan
tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan
pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.

Farmakologis

Dosis obat antihipertensi berdasarkan JNC 8


TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH

Tatalaksana hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh darah ditujukan pada pencegahan
kematian, infark miokard, stroke, pengurangan frekuensi dan durasi iskemia miokard dan memperbaiki tanda dan
gejala. Target tekanan darah yang telah banyak direkomendasikan oleh berbagai studi pada pasien hipertensi
dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, adalah tekanan darah sistolik < 140 mmHg dan atau tekanan
darah diastolik < 90 mmHg.

Seperti juga tatalaksana hipertensi pada pasien tanpa penyakit jantung koroner, terapi non farmakologis yang
sama, juga sangat berdampak positif. Perbedaan yang ada adalah pada terapi farmakologi, khususnya pada
rekomendasi obat-obatannya.

Penyakit jantung koroner

1. Tatalaksana HIpertensi pada Angina Pektoris Stabil Betablocker

Betablocker merupakan obat pilihan pertama dalam tatalaksana hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung
koroner terutama yang menyebabkan timbulnya gejala angina. Obat ini akan bekerja mengurangi iskemia dan
angina, karena efek utamanya sebagai inotropik dan kronotropik negative. Dengan menurunnya frekuensi denyut
jantung maka waktu pengisian diastolik untuk perfusi koroner akan memanjang. Betablocker juga menghambat
pelepasan renin di ginjal yang akan menghambat terjadinya gagal jantung. Betablocker cardioselective (β1) lebih
banyak direkomendasikan karena tidak memiliki aktifitas simpatomimetik intrinsic.

Calcium channel blocker (CCB)

CCB akan digunakan sebagai obat tambahan setelah optimalisasi dosis betabloker, bila terjadi :

 - TD yang tetap tinggi


 - Angina yang persisten
- Atau adanya kontraindikasi absolute pemberian dari betabloker

CCB bekerja mengurangi kebutuhan oksigen miokard dengan menurunkan resistensi vaskular perifer
dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, CCB juga akan meningkatkan suplai oksigen miokard
dengan efek vasodilatasi koroner.
2. Tatalaksana HIpertensi pada Angina pectoris tidak stabil / Infark miokard non elevasi segmen ST (IMA-NST)

Dasar dari tatalaksana hipertensi pada pasien dengan sindroma koroner akut adalah perbaikan keseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen miokard, setelah inisiasi terapi antiplatelet dan antikoagulan. Walaupun kenaikan
tekanan darah dapat meningkatkan kebutuhan oksigen miokard, tetapi harus dihindari penurunan tekanan darah
yang terlalu cepat terutama tekanan diastolik, karena hal ini dapat mengakibatkan penurunan perfusi darah ke
koroner dan juga suplai oksigen, sehingga akan memperberat keadaan iskemia.

Tatalaksana awal meliputi tirah baring, monitor EKG dan hemodinamik, oksigen, nitrogliserin dan bila angina
terus berlanjut dengan pemdapat diberikan morfin sulfat. Perlu diingat bahwa pemberian nirat selama angka
panjang tidak direkomendasikan oleh berbagai guidelines sampai saat ini.
3. Tatalaksana HIpertensi pada infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-ST)

Seperti pada IMA-NST, dasar dari tatalaksana hipertensi pada pasien dengan sindroma koroner akut adalah
perbaikan keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard, setelah inisiasi terapi antiplatelet dan
antikoagulan.
4. Tatalaksana HIpertensi pada Gagal Jantung

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gagal jantung. Penggunaan obat-obat penurun
tekanan darah yang baik memiliki keuntungan yang sangat besar dalam pencegahan gagal jantung, termasuk
juga pada golongan usia lanjut. Hal ini telah banyak diteliti pada penggunaan diuretic, betablocker, ACEi dan
ARB, dimana penggunaan CCB paling sedikit memberikan keuntungan dalam pencegahan gagal jantung.
5. krisis hipertensi
 Dosis obat parenteral hipertensi emergency
2. Tatalaksana CHF

Terapi pada fase akut meliputi:

1. Terapi Oksigen
o - Berikan O2 nasal 2-4L/menit, disesuaikan dengan hasil pulseoxymetry. Bila diperlukan, O2
dapat diberikan dengan masker non- rebreathing atau rebreathing bila tidak membaik dalam
waktu 1/2 jam
o - Bila saturasi oksigen tetap rendah dengan mask atau ada distress pernafasan, digunakan
CPAP.
o - Bila distress pernafasan tidak membaik dan atau tidak toleran dengan CPAP dilakukan
intubasi
2. Obat-obatan

- Furosemid intravena:

Bolus 40 mg (bila tidak dalam pengobatan diuretic sebelumnya), 2,5x dosis sebelumnya (bila sebelumnya sudah
minum diuretik)

- Nitrogliserin infus
Dimulai dari 5 microgram/menit, bila tekanan darah sistolik >110 mmHg, atau ada kecurigaan sindroma koroner
akut.

- Morphin Sulfat injeksi, 2 sd4 mg bila masih takipnoe

- Dobutamin mulai 5 mcg/kgBB/menit bila tekanan darah <90 mmHg

- Dopamine mulai dari 5 mcg/kgbb/menit bila TDs <80 mmHg

- Noradrenaline mulai dari 0.02 mcg/kgbb/mnt bila TDs <70 mmHg

- Digoksin IV 0,5 mg bolus bila fibrilasi atrium respon cepat, bias diulang tiap 4 jam hingga maksimal1mg

- Captopril mulai dari6.25mg bila fase akut telah teratasi.

Klasifikasi yang bervariasi tentang sindrom gagal jantung akut (AHF) telah dibuat, seperti Klasifikasi
Killip (dibuat berdasarkan gejala klinis dan penemuan foto rontgen toraks) dan Klasifikasi Forrester (dibuat
berdasarkan gejala klinis dan karakteristik hemodinamik).

Klasifikasi Killip

Kelas Gambaran Klinis Mortalitas di


Rumah Sakit
Kelas I Tidak ada tanda disfungsi LV / gagal jantung, tidak ada tanda dekompensasi 0-6 %
cordis.
Kelas II Ada gagal jantung. Kriteria diagnosis termasuk ronki, S3 gallop, hipertensi 30 %
vena pulmonal. Kongesti paru dengan ronki basah pada setengah lapangan
paru bawah.
Kelas III Gagal jantung yang berat. Oedem paru Frank dengan ronki yang menyebar di 40 %
seluruh lapangan paru.
Kelas IV Syok kardiogenik. Tanda meliputi hipotensi (tekanan darah sistolik ≤ 90 > 80 %
mmgHg) dan ada vasokonstriksi perifer seperti oliguria, sianosis dan
diaphoresis.
Klasifikasi Forrester

Pasien diklasifikasi secara klinis atas dasar hipoperfusi perifer (sianosis perifer, kulit teraba dingin,
hipotensi, takikardi, kebingungan, oliguria) dan kongesti paru (ronki, foto rontgen toraks abnormal) dan
hemodinamik berdasarkan indeks kardiak yang terdepresi (≤ 2.2 L/menit/m2) dan peningkatan tekanan
kapiler pulmonal (> 18 mmHg). Mortalitas sekitar 2.2% pada grup I, 10.1% pada grup II, 22.4% pada grup
III, dan 55.5% pada grup IV.

Jadi klasifikasi Forrester:


1. Normal (F I): perfusi jaringan normal atau hipoperfusi ringan, dengan indeks kardiak ≥ 2.2 L/menit/m2,
serta PCWP (Pulmonary Capillary Wedge Pressure) < 18 mmHg.
2. Edema pulmonal (F II): perfusi jaringan normal atau hipoperfusi ringan, dengan indeks kardiak ≥ 2.2
L/menit/m2, serta PCWP > 18 mmHg.
3. Syok hipovolemik (F III) : hipoperfusi berat, dengan indeks kardiak < 2.2 L/menit/m2, serta PCWP < 18
mmHg.
4. Syok kardiogenik (F IV) : hipoperfusi berat, dengan indeks kardiak < 2.2 L/menit/m2, serta PCWP > 18
mmHg.

`
3. Patofisiologi thrombosis ( trias virchow)

Triad Virchow

 Aliran darah
 Blood vessel
 Komponen darah
Tiga faktor ini dikenal sebagai Viradow's triad
Stasis sirkulasi
- kelainan hemorheologi dan turbulensi pada bifurkasi pembuluh darah dan daerah
stenotik
Cidera dinding vaskular
- kelainan pada endotelium, seperti aterosklerosis dan inflamasi vaskular terkait
Keadaan hiperkoagulabel
- kelainan pada jalur koagulasi dan fibrinolitik dan fungsi trombosit yang terkait
dengan peningkatan risiko VTE dan penyakit kardiovaskular lainnya (termasuk CAD
dan gagal jantung, dan stroke pada pasien dengan AF)
4. Protocol ketoasidosis
5. Dyspepsia

Definisi

dispepsia sampai saat ini disepakati oleh para pakar dibidang


gastroenterologi adalah kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom) rasa
tidak nyaman atau nyeri yang dirasakan di daerah abdomen bagian atas
yang disertai dengan keluhan lain yaitu perasaan panas di dada dan
perut, regurgitas, kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang,
sendawa, anoreksia, mual, muntah dan banyak mengeluarkan gas asam
dari mulut

Patofisiologi
Tatalaksana dan diagnostik

alarming features.
Alarming fatures adalah gejala dan tanda yang meliputi: perdarahan saluran cerna,
anemia, penurunan berat badan>10% yang tidak diketahui penyebabnya, kesulitan menelan
(dysphagia) yang memberat, sampai nyeri telan berat (odynophagia), muntah profus, riwayat
keluarga dengan keganasan saluran cerna, riwayat keganasan lambung atau esofagus, riwayat
ulkus peptik, limfadenopati atau didapatkan massa abdomen. Pasien yang memenuhi satu atau
lebih kriteria diatas direkomendasikan untuk dilakukan endoskopi saluran cerna atas. Tujuan
endoskopi adalah untuk memeriksa kemungkinan adanya keganasan atau penyakit ulkus
peptik.
Terapi

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan

Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama, seperti halnya pada
sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit
disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk memastikan penyakitnya,
maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa
laboratorium, radiologis, endoskopi, USG, dan lain-lain.
1. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabets mellitus, dan
lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal.
2. Radiologis Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran
makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan
bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.
3. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi) Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia
fungsional, gambaran endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik.
4. USG (ultrasonografi: Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak
dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit, apalagi alat ini
tidak menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat dan pada kondisi klien yang
beratpun dapat dimanfaatkan
5. Waktu Pengosongan Lambung Dapat dilakukan dengan scintigafi atau dengan pellet
radioopak. Pada dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30 – 40 % kasus.