Anda di halaman 1dari 17

BAGIAN NEUROLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN REFERAT


UNIVERSITAS HASANUDDIN NOVEMBER 2015

PERONEAL PALSY

OLEH :

OLEH :
IRENE SABILONIA BITTICACA
C 111 08 211

Residen Pembimbing
dr. Widyawan Syahputra

Supervisor
Dr. dr. Nadra Maricar Sp.S

BAGIAN ILMU KESEHATAN SARAF


FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS HASANUDDIN
2015
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................. i

Daftar isi....................................................................................................... ii

Lembar pengesahan ..................................................................................... iii

BAB I

Pendahuluan ................................................................................................. 1

BAB II

Pembahasan ................................................................................................. 2

2.1 Anatomi dan Fisiologi............................................................................ 2

2.2 Peroneal Palsy ........................................................................................ 12

A. Definisi .............................................................................................. 12

B. Epidemiologi ..................................................................................... 12

C. Etiologi ............................................................................................. 12

D. Manifestasi Klinis ............................................................................ 13

E. Patofisiologi ....................................................................................... 14

F. Diagnosis ........................................................................................... 15

G. Penatalaksanaan ............................................................................... 16

H. Prognosis & Komplikasi .................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 17


BAB I

PENDAHULUAN

Peroneal palsy ditandai dengan penurunan fungsi sensorik dan motorik pada tungkai bawah
dan kaki akibat lesi pada nervus peroneal. Nama lain dari penyakit ini adalah peroneal
neuropati atau peroneal nerve injury.1

Peroneal palsy dapat terjadi sekunder terhadap trauma langsung, kompresi, cedera
peregangan, iskemia, infeksi, atau penyakit inflamasi. Peroneal nerve palsy paling sering
diakibatkan oleh duduk bersilang kaki, beberapa pekerjaan yang memerlukan berjongkok
atau bersujud, seperti bertani, penambang.

Komplikasi dari penyakit ini yaitu berkurangnya kemapuan berjalan dan sensasi serta
kelemahan atau paralisis pada tungkai bawah dan kaki secara permanen.3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Anatomi & Fisiologi

Anatomi5

Topografi innervasi pada extremitas inferior, yaitu saraf-saraf yang membentuk


innervasi pada extremitas inferior berasal dari ramus anterior nervus spinalis thoracalis
XII, plexus lumbalis dan plexus sacralis.

a. Ramus anterior nervus spinalis thoracalis XII


Saraf-saraf pada regio glutea berasal dari ramus anterior nervus spinalis thoracalis
XII. Kulit regio glutea dipersarafi oleh ramus cutaneus nervus intercostalis XII, ramus
cutaneus lateralis nervus iliohypogastrici, nervi clunium superiores, nervi clunium
medii, nervi clunium inferiores mediales, dan nervi clunium inferiores laterales.
b. Plexus lumbalis
Plexus lumbalis dibentuk oleh ramus anterior nervus spinalis L1-L4, seringkali juga
turut dibentuk oleh ramus anterior nervus spinalis thoracalis XII. Plexus ini berada
pada dinding dorsal cavum abdominis, ditutupi oleh m.psoas major. Dari plexus ini
dipercabangkan: n.iliohypogastricus, n.ilioinguinalis, n.genitofemoralis, n.cutaneus
femoris lateralis, n.obturatorius, dan n.femoralis. Percabangan-percabangan tersebut
tadi mempersarafi dinding cavum abdominis di bagian caudal, regio femoris bagian
anterior, dan regio cruralis di bagian medial.
c. Plexus sacralis
Plexus sacralis dibentuk oleh ramus anterior nervus spinalis L4-S3(S4) dan berada di
sebelah ventral m.piriformis, dipisahkan dari vasa iliaca interna serta ureter oleh suatu
lembaran fascia (fascia pelvis parietalis). Biasanya a.glutea superior berjalan di antara
n.spinalis S1-S2 atau S2-S3 (n.spinalis L4 membentuk plexus lumbalis dan juga turut
membentuk plexus sacralis). Plexus sacralis melayani struktur pada pelvis, regio
glutea, dan extremitas inferior.
Dari plexus sacralis dipercabangkan: n.gluteus superior, n.gluteus inferior,
n.cutaneus femoris posterior, nn.clunium inferiores mediales, n.ischiadicus, dan
n.musculares.
Nervus ischiadicus adalah saraf yang terbesar dalam tubuh manusia yang
mempersarafi regio cruralis dan pedis serta otot-otot bagian di bagian dorsal regio
femoris, seluruh otot pada crus dan pedis, serta seluruh persendian pada extremitas
inferior. Nervus ischidicus berasal dari medulla spinalis L4-S3 berjalan melalui
foramen infrapiriormis, berada di sebelah lateral n.cutaneus femoris posterior,
berjalan descendens di sebelah dorsal m.rotator triceps, di sebelah dorsal m.quadratus
femoris, di sebelah ventral m.gluteus maximus, di sebelah dorsal m.adductor magnus,
di sebelah ventral caput longum m.biceps femoris, selanjutnya berada di antara
m.biceps femoris dan m.semimembranosus, masuk ke dalam fossa poplitea, lalu saraf
ini bercabang dua menjadi n.tibialis dan n.peronaeus communis.
Rami musculares dipercabangkan untuk mempersarafi m.biceps femoris caput
longum, m.semitendinosus, m.semimembranosus, dan m.adductor magnus. Rami
musculares ini dipercabangkan dari sisi medial n.ischiadicus sehingga bagian di
sebelah medial n.ischiadicus disebut danger side sedangkan bagian di sebelah lateral
disebut safety side.

Otot-otot kaki penggerak telapak kaki dan jari kaki5


Otot-otot kaki, dibagi ke dalam tiga kompartemen yaitu anterior, lateral, dan
posterior. Kompartemen anterior kaki terdiri dari otot-otot dorsifleksi kaki. Dalam
kompartemen anterior, tibialis anterior merupakan otot panjang, tebal terhadap
permukaan lateral tibia. Otot ekstensor hallucis longus adalah otot tipis antara dan
sebagian mendalam untuk tibialis anterior dan otot extensor digitorum longus. Otot
fibularis (peroneus) tertius adalah bagian dari otot ekstensor digitorum longus.
Kompartemen (fibula) lateral kaki berisi dua otot yaitu fibularis (peroneus)
longus dan fibularis (peroneus) brevis. Kompartemen belakang kaki terdiri dari
kelompok otot-otot dangkal dan dalam. Otot-otot superfisial seperti tendon (Achilles)
calcaneal merupakan tendon terkuat tubuh. Otot ini masuk ke dalam tulang calcaneal
dari pergelangan kaki. Otot gastrocnemius adalah otot paling dangkal dan bentuk
yang paling terlihat pada betis. Otot soleus, yang terletak ke dalam gastrocnemius,
adalah otot yang luas dan datar. Otot plantaris adalah otot kecil yang mungkin tidak
ada; sebaliknya, kadang-kadang ada dua dari mereka di setiap kaki. Otot ini berjalan
miring antara otot gastrocnemius dan soleus.
Otot-otot yang letaknya dalam pada kompartemen posterior adalah popliteus,
tibialis posterior, fleksor digitorum longus, dan fleksor hallucis longus. Otot popliteus
adalah otot segitiga yang membentuk lantai atau dasar popliteal fossa. Otot tibialis
posterior adalah otot terdalam pada kompartemen posterior. Otot ini terletak di antara
fleksor digitorum longus dan fleksor hallucis longus. Otot fleksor digitorum longus
lebih kecil dari fleksor hallucis longus.

Otot intrinsik kaki penggerak jari kaki7


Fasia profunda kaki membentuk plantar aponeurosis (fascia) yang memanjang dari
tulang kalkaneus untuk falang jari-jari kaki. Aponeurosis mendukung lengkungan
longitudinal kaki dan membungkus tendon fleksor di kaki. Otot-otot intrinsik kaki
dibagi menjadi dua kelompok yaitu dorsal dan plantar. Hanya ada satu otot dorsal
yaitu ekstensor digitorum brevis.
Otot-otot plantar disusun dalam empat lapisan. Lapisan yang paling dangkal
disebut lapisan pertama. Ada tiga otot pada lapisan pertama. Otot abductor hallucis,
yang terletak di sepanjang perbatasan medial tapak kaki, sebanding dengan abductor
pollicis brevis di tangan. Otot fleksor digitorum brevis, yang terletak di tengah-tengah
telapak kaki. Otot abduktor digiti minimi, yang terletak di sepanjang perbatasan
lateral telapak kaki, adalah sebanding dengan otot yang sama di tangan, dan
mengabduksi jari kelingking kaki.
Lapisan kedua terdiri dari quadratus plantae yaitu otot berbentuk persegi
panjang dan otot lumbrikalis, empat otot kecil yang mirip dengan otot lumbrikalis di
tangan.
Lapisan ketiga terdiri dari tiga otot. Otot fleksor hallucis brevis, terletak
berdekatan dengan permukaan plantar metatarsal dan sebanding dengan otot yang
sama di tangan. Otot adductor hallucis memiliki ujung miring dan melintang seperti
adduktor polisis di tangan. Otot fleksor digiti minimi brevis terletak dangkal ke
metatarsal dari jari kelingking kaki.
Lapisan keempat adalah yang terdalam dan terdiri dari dua kelompok otot.
Dorsal interossei adalah empat otot yang mengabduksi jari kaki 2-4, memendekkan
falang proksimal, dan memperpanjang falang distal. Ketiga plantar interossei
mengabduksi jari kaki 3-5, memendekkan falang proksimal, dan memperpanjang
falang distal. Interosei kaki serupa dengan yang di tangan.
Fisiologi

SIKLUS BERJALAN

Satu siklus berjalan/gait dimulai dari tumit salah satu kaki mengenai lantai (heel
strike) hingga heel strike berikutnya pada kaki yang sama, disebut 100% total siklus
berjalan. Titik-titik tertentu dari siklus ini dapat diamati.
 0% : heel strike pada permulaan fase berdiri (stance phase)
 15% : kaki bagian depan menyentuh lantai, disebut juga foot flat
 30% : tumit terangkat dari lantai (heel off)
 45% : lutut dan panggul menekuk untuk mempercepat kaki kedepan dalam
antisipasi fase mengayun (swing phase) disebut knee band
 60% : jari-jari terangkat dari lantai, akhir dari fase berdiri untuk mengawali
fase mengayun, disebut toe off. Pada pertengahan ayunan diperlukan
dorsofleksi kaki untuk mencegah jari-jari menyentuh lantai.
 100% : tumit kaki yang sama kembali menyentuh lantai.
Selama total siklus berjalan, fase berdiri meliputi 60% total siklus danfase mengayun
40%.

Fase-fase dari siklus berjalan:

0 – 15% : fase heel strike


15 – 30% : fase mid stance
30-45% : fasepushoff
45 – 60% : fase acceleration of the swing leg
Pada akhir dari fase berdiri dari satu kaki dan permulaan fase berdiri kaki lainnya
terdapat suatu saat dimana tubuh ditopang oleh kedua tungkai. Fase double support ini
berlangsung selama 11% dari siklus.
Panjang langkah (stide length) adalah jarak dari satu hell strike ke heel strike
berikutnya dari kaki yang sama, rata-rata 156 cm. Step length adalah jarak antara heel
strike kaki yang satu dengan kaki lainnya, rata-rata separuh dari jarak stride length.
Lebar langkah (stride width) ditentukan dari jarak antara kedua garis tengah kedua
kaki, rata-rata 8 lebih kuran 3,5 cm. Sudut kaki (foot angle) adalah sudut yang
terbentuk pada saat melangkah dimana sumbu kaki memotong garis arah berjalan,
rata-rata 6,7 – 6,8 0.
Lamanya satu siklus jalan adalah lebih dari 1 detik (1,03 lebih kurang 3,5).
Jumlah langkah (step) 117/menit, stride 60/menit. Dari angka-angka tersebut diatas
bisa terdapat berabagai variasi.
Pada proses berjalan diperlukan:
 mekanisme refleks yug sederhana pada tingkat medula spinalis. Refleks-
refleks postural dan berdiri yang mempertahankan tubuh tetap tegak dengan
meningkatkan tonus otot-otot antigrafitasi, refleks-refleks leher dan labirin
untuk mempertahankan tonus yang diperlukan,
 refleks tegak (righting reflexes) untuk mempertahankan posisi kepala, anggota
gerak dan batang tubuh
 integrasi fungsi-fungsi motorik dari koretks piramidal, • mekanisme otomatis
melalui basal ganglia untuk postur, tonus dan gerakan yang berhubungan serta
sinergisme
 fungsi-fungsi kordinasi serebelum
 unsur-unsur sensorik terutama porprioseptif untuk menginformasikan posisi
individual dari masing-masing bagian badan dan untuk memberikan orientasi
ruang yang memadai. Orientasi ruang ini juga diperoleh melalui fugsi visual,
terutama bila fungsi sensorik proprioseptif terganggu.
Selama berjalan berat badan ditopang oleh salah satu tungkai sementara tungkai lain
melakukan gerakanmaju. Tungkai penopang mula-mula ekstensi penuh dengan tumit
yang pertama menyentuh lantai (heel strike), kemudian lutut menekuk membuat sudut
150 saat ini bagian depan kaki juga menyentuh lantai (mid stance),lalu kembali
ekstensi hingga tumit mengangkat (heel off) pada saat pusat gravitasi bergerak ke
depan.

Tungkai lainnya memulai gerakan maju segera setelah berat badan


dipindahkan pada tungkai penopang. Kemudian berat badan ditopang sesaat oleh
tumit dari tungkai yang bergerak maju, kemudian oleh kaki hingga tumit terangkat
dan akhirnya oleh bagian depan kaki. Sehingga gerakan berjalan (gait) yang normal
merupakan tahapan penopangan tumit jari dan maju.
Pelvis sedikit berputar ke sisi tungkai yang bergerak kedepan (rotasi pelvis 40
pada masing - masing sisi), dan turun 50 pada sisi kaki yang mengayun (pelvic tilt).
Selama berjalan tungkai juga mengalami rotasi, femur 80, tibia 90. dari awal gerakan
(toe off) tungkai mengalami rotasi interna yang mencapai puncaknya pada mid stance
(15-20% siklus berjalan), kemudian terjadi rotasi eksterna hingga fase push off.
Bersamaan dengan gerakan batang tubuh dan tungkai, terdapat gerakan ayunan
anggota atas asosiatif dengan arah berlawanan pada masing-masing sisi ekstremitas.
Gait akibat kelemahan
Gangguan gait akibat kelemahan adalah disebabkan oleh penyakit berat dan lama
hingga menyebabkan atrofi yang menyeluruh. Gangguan gait ini tidak khas
menunjukkan suatu penyakit neurologik atau kerusakan fokal sistem saraf. Gangguan
gait berupa ketidak seimbangan (unsteadiness) dan mengharapkan bantuan. Pasen
tampak bergoyang-goyang ke satu sisi dan lainnya, meyerupai ataksia. Pasen terlihat
ingin bersandar di kursi untuk memperoleh pegangan atau bersandar ke dinding.
Gerakannya lambat dan lutut tampak gemetar.

The steppage gait


Gangguan berjalan ini terdapat dalam hubungannya dengan foot drop dan disebabkan
oleh kelemahan atau paralisis dorsifleksi kaki dan/atau jari kaki. Waktu jalan kaki
bisa diseret atau diangkat tinggi untuk mengkompensasi foot drops. Terdapat fleksi
yang berlebihan pada panggul dan lutut, kaki dilemparkan kedepan dan jari-jari turun
dengan suara yang khas sebelum tumit atau bagian depan kaki meneganai lantai.
Pasen tidak dapat berdiri pada tumitnya.
Gait ini bisa unilateral atau bilateral. Penyebab yang paling sering adalah
faresis tibialis anterior dan/atau ekstensor digitorum danhallucis longus, yang
disebabkan karena lesi pada nervus peroneus komunis atau profunda, lesi pada
segemen L4-S1 atau kauda ekuina. Foot drops dan steppage gait bisa juga terdapat
pada poliomyelitis, PSMA (progressive spinal muscular attrophy), ALS, penyakit
Charcot-Marie-Tooth, dan neuritis perifer.

Gait yang berhubungan dengan parese dan paralisis


Gangguan berjalan dapat terjadi pada berbagai kelumpuhan. Parese gastroknemius
dan soleus, pasen tidak dapat berdiri pada jari kaki, saat berjalan tumit lebih dulu
mengenai lantai, dan kaki terseret parese otot hamstring, terdapat kelemaham fleksi
otot lutut. Parese otot kuadrispes femoris, kelemahan ekstensi lutut, tidak mampu naik
atau turun tangga atau bangkit dari posisi berlutut tanpa menahan lututnya, bila jalan
lutut harus dijada tetap lurus, bila lutut menekuk pasen cenderung jatuh. Berjalan
mundur lebih mudah daripada maju. Parese n.peroneus superfisialis, kelemahan
eversi, pasen berjalan menggunakan sisi luar kakinya.
2.2 Peroneal Palsy

A. Definisi

Keadaan yang ditandai dengan penurunan fungsi sensorik dan motorik pada tungkai
bawah dan kaki akibat lesi pada nervus peroneal. Nama lain dari penyakit ini adalah
peroneal neuropati atau peroneal nerve injury.1

B. Epidemiologi

Saat ini tidak ada perbedaan ras, maupun jenis kelamin yang lebih cenderung
mengalami peroneal palsy ini namun kasus ini lebih jarang dialami oleh anak-anak.

C. Etiologi

Peroneal nerve palsy paling sering diakibatkan oleh duduk dengan kaki bersilang yang
menyebabkan saraf peroneal terjepit antara caput fibula dan condylus femur externa
serta patella pada tungkai yang berlawanan. Kondisi ini lebih sering terjadi pada
mereka dengan penurunan berat badan yang drastis atau pada masa konvalesen dari
suatu penyakit atau tindakan operasi. Hilangnya lemak (fat) yang sangat akan
mengurangi proteksi terhadap saraf tersebut, sedangkan penurunan berat badan
memungkinkan pasien merasa enak (comfortable) dengan duduk bersilang kaki.
Kebiasaan duduk bersilang kaki dapat menimbulkan dimple sign yang terdiri dari
daerah pressure atropi berbentuk oval yang mengenai jaringan sampai ke saraf
peroneal di caput fibula.

Selain itu beberapa pekerjaan yang memerlukan berjongkok atau bersujud,


seperti bertani, penambang akan meningkatkan tekanan pada saraf terhadap collum
fibula sehingga menyebabkan terjadinya occupational peroneal palsy, juga gangguan
fungsi saraf peroneal dapat terjadi setalah mengalami keseleo atau terkilir pada
pergelangan kaki.
Mekanisme lain yang diketahui sebagai penyebab peroneal nerve palsy adalah
trauma langsung, dislokasi lutut, fraktur tibia dan fibula, myxedema pretibial,
intoksikasi ergot dan malposisi diatas meja operasi. Lokalisasi lesi sebagian besar
ditemukan pada collum fibula tempat saraf tersebut bercabang menjadi N.Peroneal
superficial dan profunda. Pada daerah ini tampaknya saraf tersebut paling mudah
mengalami kompresi atau streching.

D. Manifestasi Klinis2

Pasien dengan peroneal palsy sering mengalami drop foot (tidak mampu melakukan
gerakan dorsofleksi). Kram pada malam hari dapat terjadi di anterior tungkai bawah
(jika kompresi yang kronis). Jika kompresi akut, gejala cenderung lebih maksimal di
awal. Nyeri bisa terjadi di lokasi kompresi. Gangguan sensorik (misalnya, kesemutan,
mati rasa) di lateral tungkai bawah dan kaki. Untuk gejala klinis pastinya dapat
dibedakan menurut lesinya antara lain:

 Lesi Pada Kaput Fibula


Sebagian besar kelumpuhan saraf peroneus terjadi pada daerah kaput fibula,
dimana saraf tersebut terletak superfisial dan rentan terhadap cedera. Cabang
profunda lebih sering terkena dari pada saraf yang lain. Jika ke 2 cabang
terkena (superfisial dan profuna) menimbulkan parese/paralise jari kaki, dorso
fleksi kaki dan jari kaki, serta bagian lateral distal dari tungkai bawah. Jika
hanya cabang profunda yang terkena, menimbulkan deep peroneal nerve
syndrome.
 Anterior Tibial (Deep Peroneal) Nerve Syndrome
Saraf ini bisa terkena cedera pada kaput fibula atau lebih distal. Kelainan ini
menimbulkan parese/paralise jari kaki dan dorsofleksi kaki. Gangguan sensoris
terbatas pada kulit di sela jari-jari antara jari kaki 1 dan 2. Saraf ini dapat juga
tertekan pada pergelangan kaki, sehingga menyebabkan anterior tarsal tunnel
syndrome yang menimbulkan gejala parese dan atropi pada M.extensor
digitorum brevis. Sedangkan gangguan sensoris bisa terdapat atau tidak pada
kulit di sela jari-jari antara kaki 1 dan 2.
 Superficial Peroneal Nerve Syndrome
Lesi bisa pada kaput fibula atau lebih distal. Menimbulkan parese dan atropi
pada M.Peronei dan gangguan eversi kaki. Gangguan sensoris pada kulit
bagian lateral distal tungkai bawah dan dorsum kaki, sedangkan kulit di sela
jari-jari antara jari kaki 1 dan 2 masih baik.

E. Patofisiologi4

N.Peroneus tersusun oleh serabut-serabut fasikel dan dipisahkan oleh jaringan ikat,
ruang interfasikular dan jaringan ikat yang elastis, keadaan ini memberikan bantalan
sebagai proteksi terhadap tekanan. Serabut-serabut saraf yang terletak superfisial
agaknya melindungi serabut-serabut saraf yang letaknya lebih dalam.

Di lain pihak jika tenaga mekanik externa terjadi secara tangensial atau jika
ada cedera terbatas yang disebabkan oleh pergerakan saraf tubuh terhadap permukaan
tulang yang keras, beberapa fasikel dapat terkena, sedangkan lainnya selamat. Saraf-
saraf yang mempersarafi otot lebih rentan dari pada saraf kulit terhadap efek
kompresi. Perbedaan ini mungkin karena adanya perbedaan sifat biokimiawi dan
komposisi serabut yang terdapat di antara otot dan saraf kulit. Kepentingan komposisi
serabut saraf dikatakan bahwa serabut-serabut tebal yang bermielin kurang tahan
terhadap tekanan daripada serabut yang tipis dan serabut bermielin lebih mudah rusak
dari pada serabut saraf yang tidak bermielin dan 75% serabut saraf kulit tidak
bermielin. Perbedaan dalam komposisi dan kerentanan terhadap tekanan dapat
menpengaruhi efek tekanan secara keseluruhan pada saraf otot dan saraf kulit

Meningkatnya kerentanan saraf terhadap cedera tekanan

Sekali saraf tepi itu rusak oleh karena penyakit, maka saraf tersebut menjadi lebih
sensitif terhadap efek tekanan. Jadi pada pasien yang menderita malnutrisi,
alkoholisme, diabetes, gagal ginjal atau Guillain-Barre Syndrome sering terjadi
komplikasi pressure neuropathy. Kelainan tersebut biasanya tampak pada saraf yang
lazim berpeluang terkena tekanan. Penyebab meningkatnya kerentanan tetap tidak
diketahui. Disamping itu faktor genetik juga berperan sebagai predisposisi timbulnya
pressure neuropati.

F. Diagnosis

Diagnosa peroneus palsy ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan dengan foto polos pada lutut dan pergelangan kaki harus
diperoleh untuk mengevaluasi adanya fraktur, lesi massa, atau arthritis jika ada
riwayat yang menunjukkan salah satu etiologi tersebut. Selain itu, MRI lumbal dapat
memberikan bukti radikulopati L5 jika radiografi negatif. MRI pada lutut dan
pergelangan kaki dapat lebih menjelaskan lesi tulang atau menunjukkan ganglia
intraneural.
Pada pemeriksaan elektromiografi terlihat adanya perubahan amplitudo yang
menunjukkan blok konduksi dan kegagalan kkonduksi saraf, kecepatan hantaran
menurun, latensi distal meningkat dan memperlihatkan tanda-tanda denervasi.
Differensial Diagnosis:
 Radikulopati L5
 Post operasi pinggul
 High aciatic mononeuropathy yang mengenai serabut peroneus kommunis

G. Penatalaksanaan6

 Konservatif yaitu dengan mengistirahatkan kaki dan menghindari faktor-faktor


kompresi seperti menyilangkan kaki.
 Tindakan bedah diperlukan jika terdapat lesi akibat terdapat suatu massa yang
mengkrompresi saraf, membebaskan saraf yang tertambat atau terjepit, dan
jika terjadi trauma terbuka dan tumpul yang berat dan mengkompresi saraf.
H. Prognosis & Komplikasi

Dekompresi saraf peroneal komunis adalah prosedur yang berguna untuk


memperbaiki sensasi dan kekuatan serta mengurangi nyeri. Sebuah studi retrospektif
mengevaluasi faktor prognostik elektrodiagnostik setelah cedera saraf peroneal pada
39 sunjek penelitian. Hasil ini dikaitkan dengan potensial aksi respon otot ekstensor
digitorum brevis dan tibialis anterior: 81% subyek dengan respon tibialis anterior dan
94% dengan ekstensor digitorum brevis memiliki respon yang baik (setidaknya 4 dari
5 pergelangan kekuatan dorsofleksi) dibandingkan dengan mereka yang tidak
berespon baik. Selain itu, semua pasien dengan kompresi nontraumatik memiliki hasil
yang baik.
Komplikasi dari penyakit ini yaitu berkurangnya kemapuan berjalan dan sensasi
serta kelemahan atau paralisis pada tungkai bawah dan kaki secara permanen.3
DAFTAR PUSTAKA

1. Agarwal, P. 2012. Peroneal Mononeuropathy. From http://emedicine.medscape.com, 30


Oktober 2015
2. Baima, J. & Krivickas, L. 2008. Evaluation and Treatment of Peroneal Neurophaty Curr
Rev Musculoskelet Med. 1(2): 147–153.
3. Campellone, JV. 2013. Common peroneal nerve dysfunction.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000791.htm, 30 Oktober 2015
4. Kennedy JG, Baxter DE.2008. Nerve disorders in dancers. Clin Sports Med. 27(2):329-
34.
5. Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Jakarta : EGC.
6. Sotaniemi K.A. 1984. Slimmer’s Paralysis—Peroneal Neuropathy During Weight
Reduction. J Neurol Neurosurgery Psychiatry. 47(5):564–6.
7. Tortora GJ, Derrickson B. 2009. Principles of anatomy and physiology. 12nd ed. United
States of America : John Wiley & Sons, Inc