Anda di halaman 1dari 12

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)

PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN DENGAN PENGALIHAN


ENERGI : SENAM

Disusun Oleh :

1. Nurhanifah P1337420217002
2. Ikhlas Dwi Kurniawan P1337420217007
3. Wahyu Andika P1337420217024
4. Khansa Ghina PJ P1337420217032
5. Rafika Nur Fitriyani P1337420217057
6. Tania Nurjannah P1337420217064
7. Qisti Mahmudatus S P1337420217069
8. Erfin P1337420217116

Tingkat 2A

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO


TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN DENGAN PENGALIHAN
ENERGI : SENAM

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial, yang terus menerus membutuhkan


adanya orang lain di sekitarnya. Salah satu kebutuhan manusia untuk
melakukan interaksi dengan sesama manusia. Interaksi ini dilakukan tidak
selamanya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
individu, sehingga mungkin terjadi suatu gangguan terhadap kemampuan
individu untuk interaksi dengan orang lain (Azizah, 2010).
Kelompok adalah kumpulan individu yang memilih hubungan satu
dengan yang lain. Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar
belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif,
takut, kebencian, kompetitif, kesamaan ketidaksamaan, kesukaan dan menarik
diri (Stuart dan Laraia, 2006). Terapi kelompok adalah suatu psikoterapi yang
dilakukan oleh sekelompok penderita bersama-sama dengan jalan diskusi satu
sama lain yang dipimpin, diarahkan oleh terapis/petugas kesehatan yang telah
dilatih (Keliat, 2009).
Terapi aktivitas kelompok itu sendiri mempermudah psikoterapi
dengan sejumlah pasien dalam waktu yang sama. Manfaat terapi aktivitas
kelompok yaitu agar pasien dapat belajar kembali bagaimana cara
bersosialisasi dengan orang lain, sesuai dengan kebutuhannya
memperkenalkan dirinya. Menanyakan hal-hal yang sederhana dan
memberikan respon terhadap pertanyaan yang lain sehingga pasien dapat
berinteraksi dengan orang lain dan dapat merasakan arti berhubungan dengan
orang lain (Bayu, 2011).
Terapi aktivitas kelompok sering dipakai sebagai terapi tambahan.
Wilson dan Kneisl menyatakan bahwa terapi aktivitas kelompok adalah
manual, rekreasi, dan teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman seseorang
serta meningkatkan repon sosial dan harga diri (Keliat, 2009).

1
Pada pasien dengan perilaku kekerasan selalu cenderung untuk
melakukan kerusakan atau mencederai diri, orang lain, atau lingkungan.
Perilaku kekerasan tidak jauh dari kemarahan. Kemarahan adalah perasaan
jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan
sebagai ancaman. Ekspresi marah yang segera karena suatu sebab adalah wajar
dan hal ini kadang menyulitkan karena secara kultural ekspresi marah yang
tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, marah sering diekspresikan secara tidak
langsung (Sumirta, 2013).
Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan
mempersulit diri sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal.
Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan tidak konstruktif pada waktu
terjadi akan melegakan individu dan membantu mengetahui tentang respon
kemarahan seseorang dan fungsi positif marah (Yosep, 2010).
Atas dasar tersebut, maka dengan terapi aktivitas kelompok (TAK)
pengalihan energi melalui senam pasien dengan perilaku kekerasan dapat
tertolong dalam hal sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Tentu saja pasien
yang mengikuti terapi ini adalah pasien yang mampu mengontrol dirinya dari
perilaku kekerasan sehingga saat TAK pasien dapat bekerjasama dan tidak
mengganggu anggota kelompok lain.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) penyaluran
energi dengan topik senam, diharapkan pasien dapat menjalin kerjasama
dengan pasien lain dan mampu mengontrol emosi.
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat menyalurkan energinya secara kosntruktif dan
memberikan stimulasi pada klien agar mampu mengekspresikan
perasaannya melalui gerakan badan (olah raga).

2
b. Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama
panggilan
c. Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan asal, dan
hobi
d. Klien mampu melatih konsentrasi dan meminimalkan penggunaan
energi serta emosional untuk aktivitas
e. Klien mampu mengeluarkan energinya untuk melakukan kegiatan
positif
f. Klien mampu fokus mencontoh gerakan senam yang diajarkan
perawat dan fasilitator
g. Klien mampu menyelaraskan dan menyeimbangkan dengan
melakukan kegiatan positif.

C. Waktu dan Tempat

1. Hari dan tanggal : Rabu, 17 Juli 2019

2. Jam : 09.00-selesai

3. Tempat : Ruang Bima RSUD Banyumas

D. Metode

1. Senam

E. Media dan Alat

1. Laptop

2. Sound sistem

3. Buku catatan dan bolpoin

3
F. Setting Tempat

OP O

L CL

F P P F

F P P F
v

Keterangan Gambar:

L : Leader

CL : Co-Leader

F : Fasilitator
O : Observer

P : Pasien

OP : Operator

(Eko Prabowo, 2014 : 241).

G. Pembagian Tugas

1. Leader :

Tugas :

a. Menyiapakan proposal kegiatan TAK

b. Menyampaikan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktivitas kelompok


sebelum kegiatan dimulai

4
c. Menjelaskan aturan permainan

d. Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan


memperkenalkan dirinya

e. Mampu memimpin aktivitas kelompok dengan baik dan bersih

f. Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok

2. Co-leader

Tugas :

a. Mendampingi leader

b. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas


klien

c. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang dari perencanaan yang


telah dibuat

d. Mengambil alih posisi leader jika leader mengalami bloking dalam


proses terapi

3. Fasilitator

Tugas :

a. Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung

b. Ikut serta dalam kegiatan kelompok

c. Memfasilitasi dan memberikan stimulus dan motivator pada anggota


kelompok untuk aktif mengikuti jalannya terapi

4. Observer

Tugas :

a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan

b. Mengamati serta mencatat perilaku verbal dan non-verbal klien selama


kegiatan berlangsung (dicatat pada format yang tersedia)

5
c. Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan, proses,
hingga penutupan

5. Operator

Tugas :

a. Mengatur alih permainan (menghidupkan dan mematikan musik)

b. Timer (mengatur waktu)

H. Klien

1. Kriteria klien

a. Klien dengan indikasi menarik diri dan harga diri rendah dan mulai
menunjukkan kemampuan untuk interaksi sosial

b. Klien dengan kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai


dengan stimulus yang diberikan

2. Proses seleksi

a. Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria

b. Mengumpulkan klien yang masuk kriteria

c. Membuat kontak dengan klien yang setuju mengikuti TAK, meliputi


menjelaskan tujuan TAK pada klien, rencana kegiatan kelompok dan
aturan main dalam kelompok

I. Susunan Pelaksanaan

1. Susunan organisasi TAK sebagai berikut :

a. Leader :

b. Co-leader :

6
c. Fasilitator :

d. Observer :

e. Operator :
2. Klien peserta TAK sebagai berikut :

NO NAMA MASALAH KEPERAWATAN


1.
2.
3.
4.

J. Proses Pelaksanaan

Alokasi
No. Kegiatan Keterangan
waktu
1. Tahap orientasi: Leader
 Memberi salam terapeutik: salam dari 5 menit
terapis
 Evaluasi/validasi: menanyakan perasaan
pasien saat ini, apakan masih ada
perasaan marah?
 Kontrak
2. Tahap kerja:
1) Terapis memperkenalkan diri (nama 15 menit Leader
lengkap dan nama panggilan serta Co Leader
memakai papan nama). Fasilitator
2) Terapis melakukan gerakan senam diikuti
oleh seluruh peserta
3. Tahap terminasi:
 Evaluasi (Subjektif dan Objektif) 10 menit Leader
 Rencana tindak lanjut

7
 Kontrak yang akan datang

K. Tata Tertib dan Antisipasi Masalah

1. Tata tertib pelaksanaan TAK

a. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK sampai dengan selesai

b. Peserta wajib hadir 5 menit sebelum acara dimulai

c. Peserta berpakaian rapi, bersih, dan sudah mandi

d. Peserta tidak diperkenankan makan, minum, merokok selama


kegiatan TAK berlangsung

e. Jika ingin mengajukan atau menjawab pertanyaan, peserta


mengangkat tangan kanan dan berbicara setelah dipersilahkan oleh
pemimpin

f. Peserta yang mengacaukan jalannya acara akan dikeluarkan dari


permainan

g. Peserta dilarang meninggalkan tempat sebelum acara selesai

h. Apabila waktu yang ditentukan untuk melakukan TAK telah habis,


sedangkan permainan belum selesai maka pemimpin akan meminta
persetujuan anggota utnuk memperpanjang waktu TAK

2. Antisipasi kejadian yang tidak diinginkan pada proses TAK

a. Penanganan klien yang tidak aktif saat aktivitas kelompok

1) Memanggil klien

2) Memberi kesempatan pada klien tersebut untuk menjawab sapaan


perawat atau klien yang lain

b. Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :

1) Panggil nama klien

8
2) Tanya alasan klien mengapa meninggalkan permainan
3) Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan
penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan
keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi

c. Bila klien lain ingin ikut :

1) Memberikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada


klien yang telah dipilih

2) Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin
dapat diikuti oleh klien tersebut

3) Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak


memberi peran pada permainan tersebut

9
Lampiran

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)


PADA PASIEN PERILAKU KEKERASAN DENGAN PENGALIHAN
ENERGI : SENAM

No. Aspek yang Dinilai Nama Peserta TAK

1. Mengikuti kegiatan dari awal


sampai akhir
2. Memberi respon (ikut
bernyanyi/menari/joget/menggerakk
an tangan-kaki dagu sesuai irama)
3. Memberi pendapat tentang musik
yang didengar
4. Menjelaskan perasaan setelah
mendengar lagu

Petunjuk :

1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien

2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti,


merespons, memberi pendapat, menyampaikan perasaan tentang musik yang
didengar. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (-) jika klien tidak
mampu.

10
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, dkk. (2004). Modul IC Manajemen Kasus Gangguan Jiwa dalam


Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. . Jakarta: World Health
Organization Indonesia.

Ma'rifatul L. (2011). Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Purwaningsih W & Karlina I. (2010). Asuhan Keperawatan Jiwa Terapi


Modalitas dan Standard Operating Procedure (SOP). Yogyakarta: Nuha
Medika.

Prabowo E. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:

Nuha Medika.

Azizah, L. M. (2011). Keperawatan Jiwa : aplikasi Praktik Klinik. Graham Ilmu:


Yogyakarta.

Keliat. B. A and Akemat. (2009). “Mode Praktik Keperawatan Profesional Jiwa”.


Jakarta: ECG.

Sumirta, Nengah, I. (2013). Relaksasi Nafas dalam Terhadap Pengendalian


Marah Klien dengan Perilaku Kekerasan. http://poltekkes-
denpasar.ac.id/files/JURNAL%20GEMA%20KEPERAWATAN/JUNI%2020
15/I%20Nengah%20Sumirta.pdf.

Stuart dan Sundeen. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3. Jakarta: EGC.

Yosep, Ivus. (2010). “Keperawatan Jiwa”. Bandung: Refika Aditama

11