0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan65 halaman

Hipertensi Primer di Puskesmas Halmahera

Laporan kasus ini membahas diagnosa holistik dan terapi komprehensif terhadap hipertensi pada seorang pria di Puskesmas Halmahera Semarang. Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dan Jawa Tengah khususnya. Laporan ini bertujuan menganalisis situasi pasien secara menyeluruh dan menyarankan penatalaksanaan yang memadukan aspek medis, psikososial, dan spiritual.

Diunggah oleh

Maylinda Putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
102 tayangan65 halaman

Hipertensi Primer di Puskesmas Halmahera

Laporan kasus ini membahas diagnosa holistik dan terapi komprehensif terhadap hipertensi pada seorang pria di Puskesmas Halmahera Semarang. Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dan Jawa Tengah khususnya. Laporan ini bertujuan menganalisis situasi pasien secara menyeluruh dan menyarankan penatalaksanaan yang memadukan aspek medis, psikososial, dan spiritual.

Diunggah oleh

Maylinda Putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

DIAGNOSIS HOLISTIK DAN TERAPI KOMPREHENSIF


TERHADAP HIPERTENSI PADA Tn. P DI PUSKESMAS
HALMAHERA SEMARANG
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Program Pendidikan Profesi Dokter Pada Bagian
Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disusun oleh:
Fatikhatul Malikhah Maylinda Putri
30101407185

HALAMAN JUDUL

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PUSKESMAS HALMAHERA PERIODE 10 JUNI 2019

i
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019

HALAMAN PENGESAHAN
CASE PRESENTATION
KEJADIAN HIPERTENSI PRIMER PADA Tn. P DI
PUSKESMAS HALMAHERA SEMARANG

Oleh:
Fatikhatul Malikhah Maylinda Putri
30101407185

Laporan Kasus yang telah diseminarkan, diterima dan disetujui di


depan tim penilai Puskesmas Halmahera Kota Semarang.
Telah Disahkan
Semarang, Juni 2018
Disahkan Oleh:

Mengetahui,

Pembimbing PKM Pembimbing Kepaniteraan


Halmahera IKM

dr. Elianna Widyastuti Dr. Siti Thomas

Z.,SKM,M.Kes

ii
Kepala PKM Halmahera Kepala Bagian IKM

dr. Turi Setyawati Dr. Siti Thomas


Z.,SKM,M.Kes

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,

yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat

menyelesaikan case report mengenai KEJADIAN HIPERTENSI

PRIMER PADA Tn. P DI PUSKESMAS HALMAHERA

SEMARANG. Periode 10 Juni 2019.

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas-tugas dalam rangka

menjalankan kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat. Laporan

ini dapat diselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari berbagai

pihak. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada :

1. dr. Turi Setyawati, selaku Kepala Puskesmas Halmahera


Semarang.
2. dr. Elianna Widyastuti. selaku pembimbing di Puskesmas
Halmahera Semarang.
3. Dokter, Paramedis, beserta Staf Puskesmas Halmahera atas
bimbingan dan kerjasama yang telah diberikan.

4. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan

laporan kasus ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan ini

masih jauh dari sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan.

iv
Karena itu kami sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang

bersifat membangun. Akhir kata kami berharap semoga hasil case

report mengenai Hipertensi di Puskesmas Halmahera

v
Semarang Periode 10 Juni 2018 dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, Juni 2019

Penyusun

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN............. Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ......................................................................... iv
DAFTAR ISI ....................................................................................... vii
BAB I .................................................................................................... 9
PENDAHULUAN................................................................................. 9
1.1. Latar Belakang ...................................................................... 9
1.2. Rumusan Masalah .............................................................. 13
1.3. Tujuan .................................................................................. 13
1.3.1. Tujuan Umum ........................................................... 13
1.3.2. Tujuan Khusus .......................................................... 13
1.4. Manfaat ................................................................................ 14
1.4.1. Manfaat bagi mahasiswa.......................................... 14
1.4.2. Manfaat bagi masyarakat ........................................ 15
BAB II ................................................................................................. 16
ANALISA SITUASI ........................................................................... 16
2.1. Cara dan Waktu Pengamatan ........................................... 16
2.2. Laporan Hasil Pengamatan ............................................... 16
2.2.1. Identitas Pasien ......................................................... 16
2.2.2. Anamnesis Holistik ................................................... 17
2.2.3. Diagnosa Holistik ...................................................... 32
2.2.4. Usulan Penatalaksanaan Komprehensif ..........Error!
Bookmark not defined.
BAB III.................................................................................................. 9
PEMBAHASAN ................................................................................... 9

vii
3.1. Dasat Teori ............................................................................ 9
BAB IV ............................................................................................... 22
KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 22
4.1. Kesimpulan .......................................................................... 22
4.2. Saran .................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 24

viii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang

dikenal sebagai silent killer, karena sering tidak menimbulkan gejala.

Pada tahun 2000, diperkirakan 972 juta (26%) orang dewasa di dunia

menderita hipertensi. Angka ini terus meningkat, diprediksikan oleh

WHO pada tahun 2025 sekitar 29% orang dewasa diseluruh dunia

yang menderita hipertensi. (Harianto dan Pratomo, 2013). Sebagian

besar penderita hipertensi di Indonesia tidak terdeteksi, sementara

mereka yang terdeteksi umumnya tidak menyadari kondisi

penyakitnya dan hanya sebagian kecil yang berobat secara teratur.

Apabila penyakit ini tidak terkontrol, akan menyerang target organ,

dan dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan ginjal,

serta kebutaan. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa penyakit

hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali

lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart

failure, dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung (Rahajeng dan

Tuminah, 2009).

9
Data WHO tahun 2000 menunjukkan bahwa sekitar 972 juta

(26,4%) penduduk dunia menderita hipertensi dan angka tersebut

kemungkinan meningkat menjadi 29,2% pada tahun 2025. Dari 972

juta penderita hipertensi, 333 juta berada di negara maju sedangkan 639

juta sisanya berada di negara berkembang. Di Indonesia, pada tahun

2007, prevalensi hipertensi di daerah urban dan rural berkisar antara

17-21%, tetapi data secara nasional belum lengkap. Sebagian besar

penderita hipertensi di Indonesia tidak terdeteksi, sementara mereka

yang terdeteksi umumnya tidak menyadari kondisi penyakitnya.

Padahal hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, otak,

syaraf, kerusakan hati, dan ginjal sehingga membutuhkan biaya yang

tidak sedikit (Yogiantoro, 2006; Misbach, 2007). Menurut data sosio

demografi yang diperoleh dari profik kesehatan Indonesia

menunjukkan prevalensi hipertensi di pulau Jawa sebesar 41,9% dari

jumlah keseluruhan penduduk di pulau Jawa. Dengan kisaran masing-

masing provinsi 36,6 %-47,7 %. Hingga saat ini hipertensi masih

merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia.

Prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia berdasarkan Riskesdas

2013 adalah sebesar 26,5%. Di tahun 2018 Jawa Tengah Hipertensi

masih menempati proporsi penyakit terbesar dari seluruh penyakit

tidak menular, yaitu sebesar 64,83 persen, diikuti oleh Diabetes

10
Mellitus sebanyak 19,22 persen. Jumlah penduduk berisiko (> 18 th)

yang dilakukan pengukuran tekanan darah pada tahun 2017 tercatat

sebanyak 8.888.585 atau 36,53 persen. Dari hasil pengukuran tekanan

darah, sebanyak 1.153.371 orang atau 12,98 persen dinyatakan

hipertensi/tekanan darah tinggi. Berdasarkan jenis kelamin, persentase

hipertensi pada kelompok perempuan sebesar 13,10 persen, lebih

rendah dibanding pada kelompok laki-laki yaitu 13,16 persen. Di

Semarang Tahun 2018 Kasus penyakit tidak menular tertinggi di

Puskesmas dan FKTP tertinggi pada penyakit Hipertensi sebanyak

161.283 kasus. (Dinkes Jawa Tengah, 2018) Semarang menempati

posisi keempat kejadian hipertensi paling rendah di seluruh Jawa

Tengah, setelah Kabupaten Klaten, Grobogan, dan Kendal. (Dinkes

Semarang, 2018)

Berdasarkan data Puskesmas Halmahera, Hipertensi primer

(esensial) masuk dalam 10 besar penyakit di wilayah kerja puskesmas

Halmahera pada tahun 2018 yaitu menempati peringkat pertama

dengan jumlah kasus meningkat dari tahun sebelumnya.Pada tahun

2018 kunjungan pasien hipertensi setiap bulanya fluktuatif.

11
Jumlah Penderita Hipertensi di Puskesmas Halmahera
Tahun 2018
400
350
300
250
200
150
100
50
0

Jumlah Penderita Hipertensi di Puskesmas Halmahera Tahun 2018

1.1 Diagram Penderita Hipertensi Tahun 2018

Berdasarkan uraian diatas diperlukan pengkajian untuk

mengetahui gambaran terjadinya Hipertensi Primer pada Tn. P di

wilayah kerja puskesmas Halmahera kota Semarang.

Menurut Mustaida (2012), terdapat hubungan antara tingkat

pengetahuan penderita hipertensi dengan terkontrolnya tekanan

darah. Peningkatan pengetahuan penderita hipertensi tentang

penyakit akan mengarah pada kemajuan berpikir tentang perilaku

kesehatan yang lebih baik sehingga berpengaruh terhadap

terkontrolnya tekanan darah. Menurut Notoatmodjo (2011), perilaku

seseorang merupakan penyebab utama timbulnya masalah kesehatan,

tetapi juga merupakan kunci utama pemecah msalah kesehatan.

12
Dari uraian di atas, Melihat bahwa Hipertensi akan

memberikan dampak terhadap kuaitas sumber daya manusia dan

peningkatan biaya kesehatan cukup besar perlu dilakukan

pengkajian untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi

terjadinya Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Halmahera Kota

Semarang. Penulis bermaksud ingin mengetahui faktor – faktor yang

berpengaruh terhadap terjadinya penyakit hipertensi berdasarkan

pendekatan H.L. Blum.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana Diagnosis holistic dan terapi komprehensif terhadap

Hipertensi pada Tn.P di puskesmas Halmahera semarang?

1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh informasi mengenai Diagnosis Holistik dan


Terapi Komprehensif Dalam Layanan Kedokteran Keluarga
Terhadap Pasien Hipertensi.
1.3.2. Tujuan Khusus

Mengetahui gambaran Hipertensi Primer pada Tn.P

berdasarkan pendekatan teori HLblum

13
1.3.2.1. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan sosial dengan

kejadian Hipertensi pada penderita. Untuk memperoleh

informasi mengenai faktor perilaku yang mempengaruhi

terjadinya penyakit hipertensi

1.3.2.2. Untuk mengetahui factor ketidak patuhan dalam

berobat dan mengkontrol Hipertensi

1.3.2.3. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor

lingkungan yang mempengaruhi terjadinya penyakit

hipertensi

1.3.2.4. Untuk Untuk memperoleh informasi mengenai faktor

genetik yang mempengaruhi terjadinya penyakit

hipertensi

1.3.2.5. Untuk melakukan proses tindak lanjut pada


pasien hipertensi

1.4. Manfaat

1.4.1. Manfaat bagi mahasiswa

1.4.1.1. Memberi informasi ilmiah untuk memperkaya

keilmuan

1.4.1.2. bahan rujukan untuk penelitian yang lebih lanjut

1.4.1.3. Menjadi Mahasiswa melakukan diagnosis holistic dan

upaya promotif

14
1.4.2. Manfaat bagi masyarakat

1.4.2.1. Memberi rekomendasi langsung kepada masyarakat

untuk memperhatikan perilaku dan lingkungan tempat

tinggalnya.

1.4.2.2. Memberi rekomendasi kepada tenaga kesehatan untuk

pemberdayaan masyarakat dalam upaya kesehatan

promotif dan preventif kesehatan

15
BAB II

ANALISA SITUASI

2.1. Cara dan Waktu Pengamatan

Pengambilan kasus Hipertensi pada pasien dilakukan berdasarkan data

pasien terdiagnosis Hipertensi di Puskesmas Halmahera. Anamnesis dan

pemeriksaan holistik dilakukan di Ruang pemeriksaan Puskesmas

Halmahera. pada tanggal 17 juni 2019. Kunjungan rumah untuk

mengamati kondisi lingkungan, perilaku pasien, dilakukan di JL. Mlati

baru KP GebangAnom 16 RT.003 RW001 Kel.Sarirejo Semarang Timur

pada tanggal 18 juni 2019, Follow Up dilakukan pada tanggal 19 Juni

2019.

2.2. Laporan Hasil Pengamatan

2.2.1. Identitas Pasien

Nama : Tn. P

Tanggal lahir : 1 Januari 1959

Umur : 60 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pendidikan terakhir: Tidak Sekolah

16
Pekerjaan : Sopir

Alamat : JL. Mlati baru KP GebangAnom 16

RT.003 RW001 Sarirejo Semarang Timur

Kewarganegaraan : WNI

Cara pembayaran : BPJS

2.2.2. Anamnesis Holistik

ASPEK 1 Personal

Keluhan Utama : Kepala sering pusing, tengkuk leher

sering kenceng selama 5 hari.

Harapan : keluhan menghilang dan dapat beraktivitas

seperti semula.

Kekhawatiran : sakit yang dialami semakin bertambah parah,

dan mengalami komplikasi.

ASPEK 2 Anamnesis Medis Umum

Riwayat Penyakit Sekarang

Pada tanggal 17 Juni 2019 Pasien datang ke Puskesmas

Halmahera dalam rangka untuk pengobatan keluhan yang

dirasakannya, Pasien mengeluh sakit kepala sejak 5 hari yang lalu.

17
Sebelumnya pasien mengaku badannya pegal-pegal dan leher terasa

tegang. Sakit kepala dirasakan hilang timbul kadang sampai

mengganggu aktivitas sehingga pasien memeriksakan diri ke dokter.

Pasien sudah membeli obat di warung namun keluhan belum

membaik selain itu pasien mengeluh susah tidur.

Riwayat penyakit dahulu

a. Riwayat keluhan serupa : dua bulan lalu pasien

mengalami keluhan serupa pasien mengatakan sudah

memiliki hipertensi sejak 15tahun yang lalu

b. Riwayat rawat inap : tidak ada riwayat

c. Riwayat alergi obat dan makanan : tidak ada riwayat

d. Riwayat penyakit metabolik : tidak ada riwayat

Riwayat penyakit keluarga

Riwayat keluarga menderita penyakit serupa : tidak ada riwayat

18
ket:

: pasien

: wanita

: laki-laki

: serumah

19
Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien adalah seorang sopir, Pasien tinggal satu rumah bersama

seorang istrinya. Pasien memiliki tiga anak yang sekarang sudah

menikah dan memiliki rumah masing-masing Penghasilan pasien

kurang lebih 1juta perbulan, sedangkan istri pasien memiliki usaha

warung makan yang penghasilannya tidak menentu, Kesan ekonomi

kurang mampu. Pasien memiliki asuransi kesehatan berupa BPJS

Non-PBI kelas 3.

ASPEK 3 Faktor Risiko Internal

Data Individu :

Pasien berusia 60 tahun, Pasien tidak bersekolah. Berat badan

pasien 55 kg, dan tinggi badan 155 cm dimana IMT 22,9kg/m2

(normoweight).

Lingkar perut 87 cm (normal).

20
Data Keluarga

Pendidik
N Nam Stat Keterang
Usia an Pekerjaan
o a us an
Terakhir
Sopir
Sua Tidak
1 Tn. P 60 th angkota HT(+)
mi sekolah
umum
Tidak Wiraswast
2 Ny. S 60 th istri HT(-)
sekolah a
3. Ny.D 40th Anak SMP Karyawan HT(-)

4. Ny. R 37th anak SMP wiraswast HT(-)

5. Ny.F 35th Anak SMP IRT HT(-)

A. Data Perilaku Pasien

Data Perilaku Makan dan olahraga

 Pasien memiliki kebiasaan merokok sehari 1

bungkus

 Pasien makan 2-3 kali sehari pada pagi dan siang hari

dan malam sebagai makanan utama.

 Pasien sering mengonsumsi makanan selain

makanan utama, pasien suka minum teh dan kopi

21
 Jenis makanan yang dikonsumsi berupa nasi, lauk

pauk, sayuran dan sesekali buah-buahan. Lauk pauk

yang biasa dimasak seperti tahu tempe, ikan dan

telur. Pasien juga suka makan gorengan.

 Pasien mengaku jarang melakukan olahraga karena

mudah Lelah.

Perilaku Hygenitas Personal

 Pasien jarang mencuci tangan dengan sabun

sebelum makan, sesudah makan dan sesudah BAB.

Pasien menggosok gigi 2x dalam sehari, minimal

pagi dan sore. Namun untuk mencuci sayuran,

mencuci piring dan peralatan dapur serta mencuci

pakaian biasanya dilakukan di ember dan tidak

dengan air mengalir. Perilaku hygenitas personal

masih kurang.

22
Tabel 2.2. Checklist Survei PHBS
No Indikator Perilaku ya tidak
1 Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan V
2 Asi Ekslusif V
3 Penimbangan balita V
4 Gizi keluarga/ sarapan V
KLP Kesling
5 Air bersih V
6 Anggota rumah tangga menggunakan jamban V
7 Anggota rumah tangga membuang sampah pada V
tempatnya
8 Rumah tidak padat penghuni V
9 Lantai rumah kedap air V
KLP GAYA HIDUP
10 Aktivitas fisik/olahraga V
11 Tidak ada anggota keluarga yg merokok V
12 Mencuci tangan V
13 Menggosok gigi minimal 2 kali sehari V
14 Anggota rumah tangga tidak menyalahgunakan V
Miras/Narkoba
KLP UKM
15 Anggota rumah tangga menjadi peserta V
JPK/Dana Sehat
16 Anggota rumah tangga melakukan PSN V
seminggu sekali

Dari hasil di atas didapatkan skor 11 sehingga dapat di

klasifikasikan sebagai keluarga yang memiliki PHBS Strata

Sehat Utama.

B. Data Genetika/ Kependudukan

 Kepadatan penghuni rumah 2 orang / 10 m2

 Orang tua pasien menderita Hipertensi yaitu ayah psien.

23
ASPEK 4 Faktor Risiko Eksternal

Data Lingkungan

Ekonomi

Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudaea. Pasien

tinggal tinggal dengan istri , mempunyain tiga anak yang telah

hidup sendiri-sendiri. Pasien merupakan suami yang bekerja

sebagai supir angkota umum,Istri pasien bekerja sebagai

wiraswasta memiliki warung makan dan penghasilannya tidak

tentu, Rumah yang ditempati milik sendiri.

Data Rumah

Pasien tinggal di rumah sederhana di daerah JL. Mlati baru

KP GebangAnom 16 RT.003 RW001 Kel.Sarirejo Semarang

Timur Rumah tersebut terdiri 1 ruang tamu , 2 kamar tidur, 1

kamar mandi dan dapur. Luas rumah 10x 60m2

- Terdiri dari 1 lantai

- Dinding dari terbuat tembok dan sebagian dari kayu

- Lantai semen

- Atap genteng.

- Ventilasi : ada di kamar tidur kira – kira sebesar 10% dari

luas lantai.

- Pencahayaan : baik, terdapat 2 jendela, pencahayaan cukup

24
- Sumber air minum, mandi dan cuci menggunakan air PDAM

- Untuk memasak keluarga pasien menggunakan gas LPG.

Keadaan lingkungan rumah saling berdempetan dengan

rumah tetangga lainnya.

Tabel 2.3. Checklist Survei Rumah Sehat

KOMPONEN
NO RUMAH YG KRITERIA NILAI
DINILAI
KOMPONEN
I RUMAH
1 Langit-langit a. Tidak ada 0 V
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan
rawan kecelakaan 1
c. Ada, bersih dan tidak rawan
kecelakaan 2
a. Bukan tembok (terbuat dari
2 Dinding anyaman bambu/ilalang) 1
b. Semi permanen/setengah V
tembok/pasangan bata atau batu yang
tidak diplester/papan yang tidak kedap
air. 2
c. Permanen (Tembok/pasangan batu
bata yang diplester) papan kedap air. 3
3 Lantai a. Tanah 0
b. Papan/anyaman bambu dekat
dengan tanah/plesteran yang retak dan
berdebu. 1
c. Diplester/ubin/keramik/papan
(rumah panggung). 2 V

25
Jendela kamar
4 tidur a. Tidak ada 0
b. Ada 1 V
Jendela ruang
5 keluarga a. Tidak ada 0 V
b. Ada 1
6 Ventilasi a. Tidak ada 0
b. Ada, lubang ventilasi < 10% dari
luas lantai 1 V
c. Ada, lubang ventilasi > 10% dari
luas lantai 2
Lubang asap
7 dapur a. Tidak ada 0 V
b. Ada, lubang ventilasi dapur < 10%
dari luas lantai dapur 1
b. Ada, lubang ventilasi dapur > 10%
dari luas lantai dapur (asap keluar
dengan sempurna) atau ada exhaust
fan atau ada peralatan lain yang
sejenis. 2
a. Tidak terang, tidak dapat
8 Pencahayaan dipergunakan untuk membaca 0
b. Kurang terang, sehingga kurang
jelas untuk membaca dengan normal 1
c. Terang dan tidak silau sehingga V
dapat dipergunakan untuk membaca
dengan normal. 2
TOTAL 8

SARANA
II SANITASI

Sarana Air
Bersih(SGL/SP
T/PP/KU/PAH
1 ) a. Tidak ada 0
b. Ada, bukan milik sendiri dan tidak
memenuhi syarat kesehatan 1
c. Ada, milik sendiri dan tidak
memenuhi syarat kesehatan 2

26
d. Ada, bukan milik sendiri dan
memenuhi syarat kesehatan 3
e. Ada, milik sendiri dan memenuhi V
syarat kesehatan 4
Jamban (saran
pembuangan
2 kotoran). a. Tidak ada 0
b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada
tutup, disalurkan ke sungai / kolam 1
c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup,
disalurkan ke sungai atau kolam 2
d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup,
septic tank 3
e. Ada, leher angsa, septic tank. 4 V
Sarana
Pembuangan
Air Limbah a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak
3 (SPAL) teratur di halaman 0
b. Ada, diresapkan tetapi mencemari
sumber air (jarak sumber air (jarak
dengan sumber air < 10m). 1
c. Ada, dialirkan ke selokan terbuka 2 V
d. Ada, diresapkan dan tidak
mencemari sumber air (jarak dengan
sumber air > 10m). 3
e. Ada, dialirkan ke selokan tertutup
(saluran kota) untuk diolah lebih 4
lanjut.
Sarana
PembuanganSa
mpah/Tempat
4 Sampah a. Tidak ada 0
b. Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak
ada tutup 1
c. Ada, kedap air dan tidak bertutup 2 V
d. Ada, kedap air dan bertutup. 3
1
TOTAL 2
PERILAKU
III PENGHUNI

27
Membuka
JendelaKamar
1 Tidur a. Tidak pernah dibuka 0
b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2 V
Membuka
jendelaRuang
2 Keluarga a. Tidak pernah dibuka 0
b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2
Membersihkan
rumah dan
3 halaman a. Tidak pernah 0
b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari 2 V
Membuang
tinja bayi dan
balita ke a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam
4 jamban sembarangan 0
b. Kadang-kadang ke jamban 1
c. Setiap hari dibuang ke jamban 2
Membuang
sampah pada a. Dibuang ke sungai / kebun / kolam
5 tempat sampah sembarangan 0
b. Kadang-kadang dibuang ke tempat
sampah 1
c. Setiap hari dibuang ke tempat V
sampah. 2
TOTAL 6

Keterangan :

Nilai x Bobot (I+II+III)

I. 8 x 31 = 248

II. 11 x 25 = 275

III. 6x 44 = 264

28
TOTAL = 788

Hasil Penilaian : Rumah Tidak Sehat


Kriteria :
1) Rumah Sehat : 1068-1200
2) Rumah Tidak Sehat : <1068
C. Sosial Masyarakat

Keluarga pasien berhubungan baik dengan tetangganya

sekitar rumahnya. Rata-rata lingkungan masyarakat pasien adalah

golongan menengah ke bawah.

D. Data Fasilitas Pelayanan Kesehatan

 Akses pelayanan terdekat adalah Puskesmas Halmahera. Cara

tempuh dengan Sepeda. Jarak tempuh ± 15 menit

 Pasien mendapatkan informasi mengenai Hipertensi setelah

menderita Hipertensi.

ASPEK 5 Derajat Fungsional

Pemeriksaan Fisik

Tanda Vital

Tekanan darah : 180/110mmHg

Nadi : 89x/menit, reguler

RR : 20x/menit

Temperatur : 36,80C

29
Antropometri : BB: 55 kg TB: 1550 cm
IMT : BB/TB2 = 55/(1,55x 1,55)= 22,9 kg/m2
Lingkar perut : 87cm
Status gizi : normoweight
Status Present
Kepala : normocephal

Rambut : hitam, tidak mudah dicabut

Kulit kepala : massa (-)

Wajah : simetris, massa (-)

Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

refleks cahaya (+/+)

Telinga : normotia, massa (-/-), sekret (-/-)

Hidung : deformitas (-), sekret (-/-)

Mulut : bibir pucat (-), kering(-), sianosis (-)

Leher : simetris, pembesaran kelenjar limfe (-\-),

deviasi trakhea (-)

Thorax

- Inspeksi : simetris, retraksi ruang sela iga (-), massa (-)

- Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-),gerakan dinding

dada simetris, fremitus vocal simetris

- Perkusi : sonor seluruh lapang paru

- Auskultasi

30
Cor : S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : vesikuler (+) seluruh lapang paru, Rhonki

basah (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

- Inspeksi : membesar dengan arah membujur, tanda-

tanda inflamasi (-), massa (-),spider nevy (-),

distensi (-), striae gravidarum (-)

- Auskultasi : bising usus (+) normal, bising pembuluh

darah (-)

- Perkusi : timpani (+), nyeri ketok (-), nyeri ketok CVA

(-/-)

- Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-)

Pelvis : deformitas (-), krepitasi (-), massa (-), nyeri

tekan (-)

Musculoskeletal: gerakan bebas (+), deformitas (-), krepitasi (-

), nyeri tekan (-)

Saraf

Kaku kuduk : Tidak ditemukan

Saraf kranialis : Dalam batas normal

31
Tabel 2.4. Pemeriksaan Motorik

Motorik Superior Inferior


Gerakan N/N N/N
Kekuatan 5/5 5/5
Tonus N/N N/N
Trofi N/N N/N
Refleks fisiologis : +/+

Refleks patologis : -/-

Kulit : ikterik (-), petekhie (-), turgor kulit < 2detik

Ekstremitas : Edema - / - Akral dingin -/

-/- -/-

2.2.3. Diagnosa Holistik

A. Aspek 1 : Personal

- Keluhan utama : Sakit Kepala, tengkuk leher kenceng


- Harapan : pasien sembuh dan aktif seperti sedia
kala
- Kekhawatiran : sakit kepala bertambah hebat/tidak
hilang dan menjadi komplikasi
B. Diagnosis Medis Umum

- Diagnosis kerja : Hipertensi grade II disertai


cephalgia
- Diagnosis banding :
 Migraine

32
 Cluster headache
 Tension Headache
.

C. Faktor resiko internal

Pasien seorang laki-laki berumur 60 tahun pendidikan


terakhir tidak sekolah. Pasien tidak memiliki pengetahuan
cukup terhadap hipertensi. Pasien memiliki kebiasaan
merokok serta minum kopi, makan makanan asin & gorengan.
Pasien memiliki pengetahuan yang kurang dalam penerapan
PHBS. Pasien memiliki pengetahuan kurang dalam rumah
sehat. Pasien merasa stress karena sekarang sepi dan
penghasilannya berkurang..Pasien mengaku tidak rutin
mengontrol tekanan darah dikarenakan tidak ada yang bisa
mengantar pasien menuju puskesmas Halmahera &
kesibukan kegiatannya.
Selain itu pasien mempunyai :Pola makan yang kurang

sehat,Kurang olahraga.

D. Faktor Resiko Eksternal

 Anggota keluarga kurang peduli dengan pasien

 Pasien tidak mengikuti program rutin seperti senam

aerobik rutin untuk penderita Hipertensi dari puskesmas

E. Derajat Fungsional

Skala 1 : tidak ada kesulitan, dimana pasien hidup mandiri

33
Identifikasi Masalah

Berdasarkan kasus diatas pada pasien Tn.P, usia 60thn

tahun masalah pada faktor internal adalah kebiasaan

mengkonsumi kolesterol dan tinngi garam serta

kurangnya perhatian dalam berobat, kurangnya

pengetahuan tentang gaya hidup yang baik ( pola

makan dan olahraga dan merokok), dan pengolahan

stress yang kurang baik

A. Intervensi

a. Promotif
 Patient centered
 Memberikan pendidikan sederhana mengenai
hipertensi.
Memberikan pengetahuan dan edukasi mengenai
menu sehat untuk sehari-hari dan aktivitas fisik atau
olahraga yang rutin terhadap pasien.
Penjelasan tentang hipertensi meliputi : definisi,
faktor resiko dan penyebab, gejala klinis , tatalaksana
pengobatan dan perawatan, komplikasi dan
pemberian nutrisi.

 Family oriented

1
 Memberikan pendidikan sederhana mengenai
hipertensi.
Memberikan pengetahuan dan edukasi mengenai
menu sehat untuk sehari-hari dan aktivitas fisik atau
olahraga yang rutin terhadap pasien.

 Memberikan pendidikan sederhana mengenai


hipertensi.
 Penjelasan tentang hipertensi meliputi : definisi,
faktor resiko dan penyebab, gejala klinis , tatalaksana
pengobatan dan perawatan, komplikasi dan
pemberian nutrisi.
 Memberikan informasi penjelasan kepada keluarga
pasien mengenai bahaya rokok bagi kesehatan..
b. Preventif
 Patient centered

 Berhenti untuk merokok


 Diet rendah garam
 Diet rendah lemak
 Mengedukasi agar pasien tidak stres dengan tidak
terlalu memikirkan masalahnya terlalu dalam
 Olahraga teratur
 Menghindari paparan asap rokok
 Sering mengontrol tekanan darah
 Family oriented

2
 Semua anggota keluarga ikut serta menjaga pola
makan yang sehat dan olahraga teratur.
 Mengurangi kebiasaan merokok
 Mengontrol tekanan darah
 Semua anggota keluarga ikut serta menjaga kebersihan
rumah, membuka ventilasi rumah dan pencahayaan
yang baik.

 Community oriented
Gerakan senam sehat pagi hari pada pasien hipertensi

Kuratif

1. Patient centered

- HCT 12.5-50 mg/hari

- Captopril 3x12,5-50 mg/hari

2. Family focused

 Keluarga membantu memantau pola

makan dan konsumsi obat

3. Community oriented

 Perludilakukanpemantauan oleh tenaga

kesehatan perkembangan dan edukasi

pentingnya keteraturan minum obat dan

efek samping

3
Rehabilitatif

1. Patient centered

 Setiap pagi pasien berolahraga rutin

ringan (jalan-jalan) 15 - 30 menit

 Control teratur

 Memotivasi agar semangat hidup sehat

2. Family focused

 Anggota keluarga dapat mengajak pasien

untuk berolahraga bersama

 Selalu menyemangati dan mempehatikan

pasien

Pemantauan/ Follow up

Penggalian informasi pertama kali dan pemeriksaan

holistik dilakukan di Ruang pemeriksaan Puskesmas

Halmahera saat pagi hari saat pasien berkunjung ke

puskesmas. Kunjungan rumah untuk mengamati kondisi

lingkungan, perilaku pasien, dan keluarga pasien

dilakukan di JL. Mlati baru KP GebangAnom 16 RT.003

4
RW001 Kel.Sarirejo Semarang Timur pada tanggal 18

juni 2019, follow up dilakukan pada tanggal 19 juni 2019.

Untuk pemantauan setelah intervensi dilakukan saat

pasien datang ke puskesmas untuk kontrol pengobatan

Hipertensi.

5
No Masalah Intervensi Tujuan Metode Indikat Sasaran Waktu Pelaksana Biaya
or
keberha
silan

2. Kebiasaan Edukasi Pasien Pasien -


Merokok berhent
Memberikan edukasi Agar
i
tentang bahaya merokok pasien
dan efek yang ditimbulkan mau
meroko Dokter Muda
dan dapat berdampak pada menguran k FK
anggota keluarga yang lain gi atau UNISSULA
menjadi perokok pasif untuk
berhenti
merokok

Aktivitas fisik
3. Memberikan edukasi
pasien kurang
tentang jenis, durasi dan
pentingnya olahraga bagi Dokter Muda
penderita HT FK
Agar Pasien
UNISSULA
pasien Edukasi olahrag pasien
mengerti a
jenis, teratur
durasi dan dengan
pentingny jenis
a olahraga
olahrag
bagi
a yang

6
penderita sesuai
HT dengan
HT

1. Pasien kurang - Edukasi pola makan yang Pasien - Edukasi Pasien Pasien Dokter Muda
memperhatik baik dan benar bagi mengerti makan dan FK
an pola penderita HT. pola dan -Diskusi makana keluarga UNISSULA
makan. jenis tanya jawab n sesuai
- Memberikan daftar makanan
makanan yang dianjurkan menu
yang
dan dihindari pasien HT diet
benar
untuk untuk
pasien pasien
HT. HT

4. Kurangnya Edukasi kepada keluarga - Agar Edukasi Keluarg Pasien Dokter Muda
pengetahuan pasien tentang pengertian, keluraga keluarga a dan FK
tentang HT gejala, faktor resiko, cara pasien UNISSULA - -
pasien menger keluarga
mengontrol dan komplikasi tidak -
ti -
dari HT menderita
tentang
HT
pengert
ian,
- Deteksi gejala,
dini faktor
resiko,

7
cara
mengon
trol dan
kompli
kasi HT

5. Pasien tidak Memberi edukasi kepada Pasien - Edukasi Pasien Pasien Dokter Muda
rutin pasien mengenai program memaham mengik dan FK
mengikuti prolanis yang diadakan oleh i -Diskusi UNISSULA - -
uti keluarga
kegiatan BPJS serta mengajak pasien pentingny tanya jawab -
progra -
prolanis untuk mengikuti program a
m
tersebut mengikuti
prolanis
program
prolanis yang
yang diadaka
diadakan n oleh
oleh BPJS BPJS

1.

8
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Dasat Teori

A. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah yang berlebihan dan
hampir konstan pada arteri. Hipertensi juga disebut dengan
tekanan darah tinggi, dimana tekanan tersebut dihasilkan oleh
kekuatan jantung ketika memompa darah sehingga hipertensi ini
berkaitan dengan kenaikan tekanan sistolik dan tekanan diastolik.
Standar hipertensi adalah sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90
( Gunawan, 2001)
B. Klasifikasi Hipertensi
Menurut The Seventh Report of The Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment
of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada
orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi,
hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (tabel 1)
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7
Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Normal < 120 < 80
Prahipertensi 120-139 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥ 160 ≥ 100
TDS = tekanan darah sistol, TDD = tekanan darah diastol (Lubis,
2001).

9
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2
golongan yakni :
a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer : yang tidak diketahui
penyebabnya (Selekta, 1999)
 Klasifikasi
- Hipertensi Benigna : hipertensi esensial yang bersifat
progresif lambat (Sylvia, 2005).
- Hipertensi Maligna : keadaan klinis dalam penyakit
hipertensi yang bertambah berat dengan cepat sehingga
dapat menyebabkan kerusakan berat pada berbagai organ
(Sylvia, 2005).
b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal (Selekta, 1999).
C. Faktor Risiko
Faktor resiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi
antara lain adalah (Yogiantoro, 2006) :
a. Perilaku
- Merokok dan alcohol
- Kurangnya aktivitas fisik (kurang olahraga)
- Pola makan tidak sehat (makan makanan yang
mengandung kadar garam tinggi, kadar lemak tinggi)
b. Stress
c. Genetik
d. Lingkungan
- Tinggal di daerah pesisir pantai dimana terdapat
kandungan garam
yang tinggi didalam air

10
e. Pelayanan kesehatan
Lokasi serta akses pelayanan kesehatan susah dijangkau.
f. Obesitas
3 Faktor Resiko yang tidak dapat diubah
 Usia
Hampir tiap survei yang dilakukan para ahli menemukan terjadinya kenaikan
tekanan darah dengan naiknya umur diatas 45 tahun. Pada orang lanjut usia
(usia > 60 tahun) terkadang mengalami peningkatan tekanan nadi dikarenakan
arteri lebih kaku akibat terjadinya arteriosklerosis sehingga menjadi tidak lentur
(Guyton, 2008).
 Ras
Suku berkulit hitam berisiko lebih tinggi terkena hipertensi.
Di Amerika, penderita hipertensi berkulit hitam 40% lebih
banyak dibandingkan penderita berkulit putih.
 Jenis kelamin
Penelitian di Jawa Tengah dan daerah lain di Indonesia
,menunjukkan kejadian hipertensi lebih tinggi pada
wanita dibandingkan dengan pria karena pada wanita
mengalami menopause sehingga terjadi penurunan
jaringan perifer dan hormon. Wanita yang belum
mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen
yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lopoprotein (HDL).
 Keturunan
Suatu pendapat memperkirakan 3% dari anak yang lahir
dari ayah-ibu normotensif (tekanan darah normal)
mungkin akan menderita hipertensi, sedangkan
kemungkinan ini naik menjadi 45% jika kedua orang
tuanya menderita hipertensi. Jadi seseorang akan
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mejadi
hipertensi.

11
4. Faktor Resiko yang tidak dapat diubah

Kebiasaan Merokok
Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara rokok
dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan.
Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah
rokok yang dihisap perhari. Seseoramg lebih dari satu pak rokok
sehari menjadi 2 kali lebih rentan

hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok. Zat-zat kimia


beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui
rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan
endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses
aterosklerosis dan hipertensi. Nikotin dalam tembakau merupakan
penyebab meningkatnya tekanan darah segara setelah isapan pertama.
Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin diserap oleh
pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam paru-paru dan
diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa detik nikotin sudah
mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal
pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin). Hormon
yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa
jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi.
Setelah merokok dua batang saja maka baik tekanan sistolik maupun
diastolik akan meningkat 10 mmHg. Tekanan darah akan tetap pada
ketinggian ini sampai 30 menit setelah berhenti mengisap rokok.
Sementara efek nikotin perlahan-lahan menghilang, tekanan darah
juga akan menurun dengan perlahan. Namun pada perokok berat
tekanan darah akan berada pada level tinggi sepanjang hari.

b. Obesitas
Obesitas atau kegemukan adalah dimana berat badan mencapai indeks
massa tubuh >25 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m)
juga merupakan salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi.
Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah
jantung dan sirkulasi volume darah

penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita


hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer
berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi

12
dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Olah raga ternyata juga
dihubungkan dengan pengobatan terhadap hipertensi. Melalui olah
raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30- 45
menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan
tekanan darah. Selain itu dengan kurangnya olah raga maka risiko
timbulnya obesitas akan bertambah, dan apabila asupan garam
bertambah maka risiko timbulnya hipertensi juga akan bertambah.
Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi makanan
yang mengandung tinggi lemak. Obesitas meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar massa
tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen
dan nutrisi ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar
melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi
tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan berat badan juga
meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar insulin dalam
darah. Peningkatan insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan
air. Penyelidikan epidemiologi juga membuktikan bahwa obesitas
merupakan ciri khas pada populasi pasien hipertensi. Dibuktikan juga
bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan timbulnya
hipertensi dikemudian hari. Pada penelitian lain dibuktikan bahwa
curah jantung dan volume darah sirkulasi pasien obesitas dengan
hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang
mempunyai berat badan normal dengan tekanan darah yang setara.
Obesitas mempunyai korelasi positif dengan hipertensi. Anak-anak
remaja yang mengalami kegemukan cenderung mengalami tekanan
darah tinggi (hipertensi). Ada dugaan bahwa meningkatnya berat
badan normal relatif sebesar 10% mengakibatkan kenaikan tekanan
darah 7 mmHg. Oleh karena itu, penurunan berat badan dengan
membatasi kalori bagi orang-orang yang obes bisa dijadikan langkah
positif untuk mencegah terjadinya hipertensi. Berat badan dan indeks
massa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah,
terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita
hipertensi pada orang dengan obesitas 5 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan seorang yang berat badannya normal. Pada penderita
hipertensi ditemukan sekitar 20-30 % memiliki berat badan lebih.

Inaktivitas Fisik
Olahraga dan aktifitas fisik banyak dihubungkan dengan pengelolaan
hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan
tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga

13
dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Kurang melakukan
olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan
jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya
hipertensi. Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita
hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang
yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung
yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras
pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus
memompa, makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.

Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap.
Apabila stress menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah
menjadi tetap tinggi. Hal ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi
pada binatang percobaan yang diberikan pemaparan terhadap stress
ternyata membuat binatang tersebut menjadi hipertensi. Stres adalah
suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara individu dengan
lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan- tuntutan
yang berasal dari situasi dengan sumber daya sistem biologis,
psikologis dan sosial dari seseorang. Stres adalah yang kita rasakan
saat tuntutan emosi, fisik atau lingkungan tak mudah diatasi atau
melebihi daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya dengan
efektif. Namun harus dipahami bahwa stres bukanlah pengaruh-
pengaruh yang datang dari luar itu. Stres adalah respon kita terhadap
pengaruh-pengaruh dari luar itu. Stres atau ketegangan jiwa (rasa
tertekan, murung, bingung, cemas, berdebar-debar, rasa marah,
dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak
ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut
lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat.
Jika stres berlangsung cukup lama, tubuh berusaha mengadakan
penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan
patologis.

14
A. Tanda dan Gejala Klinis
a. Tanda
Peninggian tekanan darah tidak jarang merupakan satu-
satunya tanda pada hipertensi primer.
b. Gejala Klinis
Gejala yang timbul dapat berbeda-beda dan tergantung
dari tingginya tekanan darah. Kadang-kadang hipertensi
primer berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah
terjadi komplikasi pada organ target seperti pada ginjal,
mata, otak dan jantung (Lubis, 2001).
Gejala seperti sakit kepala, epistaksis, pusing dan
migren dapat ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi
primer meskipun tidak jarang yang tanpa gejala. Pada survei
hipertensi di Indonesia tercatat berbagai keluhan yang
dihubungkan dengan hipertensi yakni kepala pusing, telinga
berdenging, mimisan, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat
ditengkuk, mudah lelah dan mata berkunang-kunang
merupakan gejala yang sering dijumpai (Lubis, 2001).
Gejala lain yang disebabkan oleh komplikasi hipertensi
seperti gangguan penglihatan, gangguan neurologi, gagal
jantung, dan gangguan fungsi ginjal tidak jarang dijumpai.
Gagal jantung dan gangguan penglihatan banyak dijumpai
pada hipertensi berat atau hipertensi maligna yang
umumnya juga disertai oleh gangguan fungsi ginjal bahkan
sampai gagal ginjal. Gangguan serebral yang disebabkan
oleh hipertensi dapat berupa kejang atau gejala akibat

15
perdarahan pembuluh darah otak yang berupa kelumpuhan,
gangguan kesadaran bahkan sampai koma. Timbulnya
gejala tersebut merupakan tanda bahwa tekanan darah perlu
segera diturunkan (Lubis, 2001)
B. KRISIS HIPERTENSI
a. Definisi
Peningkatan tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan diastolic
> 120 mmHg secara mendadak disertai kerusakan organ target.
(Starry, 2007). Pada umumnya krisis hipertensi terjadi pada
pasien hipertensi yang tidak atau lalai meminum obat
antihipertensi (Susalit, 2002).
b. Pembagian
Krisis hipertensi dibagi menjadi dua kelompok yakni :
1. Hipertensi darurat (emergency hypertension)
Situasi dimana selain tekanan darah yang sangat tinggi
terdapat kelainan/kerusakan target organ yang bersifat
progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan dengan
segera (dalam menit sampai jam) agar dapat
mencegah/membatasi kerusakan organ target yang terjadi
(Susalit, 2002).
2. Hipertensi mendesak (urgency hypertension)
Situasi dimana terdapat tekanan darah yang sangat tinggi
tetapi tidak disertai kelainan/kerusakan organ target yang
progresif, sehingga penurunan tekanan darah dapat
dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam sampai hari)
(Susalit, 2002).

16
Analisis Penyebab masalah

Permasalahan HT pada pasien Tn.P dapat dianalisis menggunakan

pendekatan Teori HL Blum yang membahas mengenai Perilaku

MASALAH

Menurut pendekatan HL. Blum dan data-data yang diperoleh,


didapatkan :
LINGKUNGAN
- Stres psikis
PERILAKU
- Pengetahuan keluarga tentang
hipertensi rendah
- Kebiasaan merokok
- Pola konsumsi makanan tinggi - Ekonomi rendah
garam dan kolesterol - Lingkungan perokok
- Pengetahuan tentang
hipertensi rendah

HIPERTENSI

PELAYANAN KESEHATAN GENETIKA

- Akses ke pelayanan kesehatan tidak ditemukan riwayat hipertensi


cukup jauh

A. Perilaku

17
a. Pola konsumsi makanan tinggi garam dan kolesterol.
Garam merupakan faktor yang sangat berpengaruh penting
dalam patogenesis hipertensi. Hipertensi hampir tidak ditemukan
pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan
garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan prevalensi
hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam antara 5-15
gram tiap hari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %.
Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadi
melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan
darah. Peningkatan asupan garam ini akan diikuti oleh
peninggian ekskresi garam sehingga tercapai kembali keadaan
hemodinamik yang normal. Pada pasien hipertensi primer,
mekanisme peningkatan ekskresi garam tersebut terganggu,
selain adanya faktor lain yang berpengaruh. Tingginya kadar
garam yang di konsumsi mengakibatkan peningkatan kekentalan
darah, sehingga jantung membutuhkan tenaga yang lebih untuk
mendorong darah sampai ke jaringan paling kecil (Lubis, 2001).
Makanan yang mengandung lemak dan kolesterol dapat
menimbulkan penumpukan plak dari timbunan kolesterol LDL
pada pembuluh darah. Hal ini mengakibatkan pembuluh darah
menyempit sehingga kecepatan aliran darah semakin tinggi
(Lubis, 2001).
b. Pengetahuan tentang hipertensi rendah

18
Peningkatan pengetahuan tentang hipertensi dapat
digunakan dalam upaya pencegahan kekambuhan hipertensi
seperti dalam menjaga pola makan serta pola aktivitas yang baik,
sedangkan kurangnya pengetahuan tentang hipertensi
kebanyakan menunjukan kontrol atau pengendalian tekanan
darah yang kurang baik (Viere et al, 2008)
B. Lingkungan
a. Stres psikis
Kondisi psikis seseorang dapat mempengaruhi tekanan
darah, misalnya kondisi psikis seseorang yang mengalami stres
atau tekanan.Stres dapat meningkatkan aktivitas saraf
simpatis. Peningkatan ini mempengaruhi meningkatnya
tekanan darah secara bertahap. Stres adalah rasa takut dan
cemas dari perasaaan dan tubuh kita terhadap perubahan di
lingkungan. Secara fisiologis, bila ada sesuau yang
mengancam, kelenjar pituitary otak mengirimkan informasi
dan hormon ke kelenjar endokrin, yang kemudian mengalirkan
hormon adrenalin dan hidrokortison kedalam darah. Hasilnya,
tubuh menjadi siap untuk menyesuaikan diri terhadap
perubahan yang muncul. Stres akan membuat tubuh lebih
banyak menghasilkan adrenalin, hal ini membuat jantung
bekerja lebih kuat dan cepat (Lawson et al, 2007).
b. Ekonomi Rendah
Masyarakat sosial ekonomi rendah sebagian besar mereka
mempunyai pola hidup sedenter yang ditandai dengan aktivitas
fisik dan rendah dan pola makan yang tidak sehat, sehingga

19
meningkatkan risiko keterpaparan terhadap hipertensi (Bustan
,2013).
c. Lingkungan perokok
Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat
kimia yang terkandung di dalam tembakau yang dapat merusak
lapisan dalam dinding arteri, sehingga arteri lebih rentan terjadi
penumpukan plak (arterosklerosis). Hal ini terutama disebabkan
oleh nikotin yang dapat merangsang saraf simpatis sehingga
memacu kerja jantung lebih keras dan menyebabkan
penyempitan pembuluh darah, serta peran karbonmonoksida
yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa
jantung memenuhi kebutuhan oksigen tubuh (WHO, 2007).
Selain itu merokok dapat menyebabkan kekuan pembuluh darah,
sehingga kemampuan elastisitas saat mengalami tekanan yang
tinggi menjadi hilang (Lubis, 2001). Asap rokok yang
dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif,
lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat
kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin (Khoirudin, 2006).
C. Genetik
a. Riwayat hipertensi
Adanya faktor genetik tertentu pada keluarga akan
menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita
hipertensi. Individu dengan orang tua dengan hipertensi
mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi
dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi (Wade et al, 2003).

20
D. Pelayanan Kesehatan
a. Jarak pusat pelayanan kesehatan
Salah satu faktor yang mempengaruhi pasien tidak patuh
untuk kontrol rawat jalan adalah karena letak pelayanan kesehatan
tersebut susah dijangkau (Lubis, 2001).

Alternatif Pemecahan Masalah

Tabel 3.1. Alternatif Pemecahan Masalah


Masalah Alternatif Pemecahan Masalah

Pasien kurang Edukasi pasien tentang pola


memperhatikan pola makan penderita HT
makannya Membuat menu diet HT

Pengetahuan pasien Edukasi tentang pengertian,


tentang pengertian, tanda, tanda, gejala, faktor resiko, dan
gejala, faktor resiko, dan komplikasi HT dengan Leaflet
komplikasi HT masih
kurang

Edukasi dan memotivasi pasien


Aktivitas fisik yang kurang
serta keluarga untuk menambah
dan olah raga yang tidak
aktifitas dan berolahraga
rutin
Keluarga tidak Edukasi kepada keluarga tentang
memberikan dukungan penyakit HT serta pola diet yang
dalam mengatur pola diet cocok untuk pasien HT, sehingga
dan olahraga pasien keluarga dapat mambantu
mengawasi diet pasien

21
Pasien tidak mengikuti Memberi edukasi kepada pasien
program prolanis dari mengenai program prolanis yang
BPJS diadakan oleh BPJS serta
mengajak pasien untuk mengikuti
program tersebut

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

4.1.1. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya

penyakit HT berdasarkan pendekatan Teori Perilaku HL

Blum adalah perilaku kesehatan yang kurang baik dan

lingkungan serta terdapat factor genetik

4.1.2. Berdasarkan kasus ini factor perilaku yang berpengaruh

terhadap terjadinya penyakit HT adalah pasien Yang

memiliki kebiasaan merokok, kurang memperhatikan pola

makannya, kurang memperhatikan kesehatannya, dan

kurang tau mengenai penyakit hipertensi serta stressor yang

banyak.

22
4.1.3. Berdasarkan kasus ini faktor lingkungan fisik, dan biologi

berpengaruh terhadap terjadinya penyakit HT.

4.1.4. Berdasarkan kasus ini faktor genetika/kependudukan

mempengaruhi terjadinya penyakit HT.

4.2. Saran

4.2.1. Memberikan edukasi dan memotivasi pasien dan keluarga

untuk menambah aktifitas dan berolahraga

4.2.2. Pasien dapat menjaga pola makan yang sehat yang

kaitannya mencegah hipertensi

4.2.3. Untuk puskesmas dapat meningkatkan pengetahuan dan

pendidikan keluarga seperti menggandeng kelurahan untuk

mengadakan kegiatan penyuluhan.

4.2.4. Untuk FK Unissula agar dapat membantu masyarakat dan

puskesmas untuk berpartisipasi dalam pencegahan dan

penanggulangan hipertensi

4.2.5. Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga pasien

serta motivasi terhadap pentingnya menjaga Pola hidup sehat.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Agus Tessy, Hipertensi Pada Penyakit Ginjal, Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Edisi IV, Jakarta, 2006,
Hal. 604
2. Bustan MN. Epidemiologi penyakit tidak menular. Jakarta: Rineka
Cipta; 2013.
3. Departemen Kesehatan RI, 2006. Pedoman Penilaian Kinerja
Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jendral Biro Kesehatan
Masyarakat.
4. E.J Kapojos, H.R Lubis, Hipertensi Primer, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Edisi III, Jakarta, 2001, hal.
453
5. Endang Susalit. Penatalaksanaan krisis hipertensi. Dalam Alwi I,
Bawazier LA eds. Penatalaksanaan kedaruratan di bidang Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian
Ilmu Penyakit Dalam FK UI. 2002. 109-116.
6. Ginova Nainggolan, Hiperaldosteronisme Primer, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Edisi IV, Jakarta, 2006,
Hal. 610

24
7. Harianto, E., Pratomo, H., 2013, Pajangan Kebisingan dan
Hipertensi di Kalangan Pekerja Pelabuhan, Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional, 8, 5.
8. Imam Effendi, Feokromositoma, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Balai Penerbit FKUI, Edisi IV, Jakarta, 2006, Hal. 612
9. Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI, Jakarta,
1999
10.Kaplan NM. Kaplan’s Clinical Hypertension. 8 th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins, 2002. p. 137
11.Khoirudin. Perbedaan kapasitas vital paru dan tekanan darah antara
perokok aktif dengan perokok pasif pada siswa Madrasah
Hidayatul Mubtadi’in Semarang Tahun Ajaran 2005/2006.
Semarang: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri; 2006.
12.Lawson R.Wulsin and Arthur J, BarskyVictor RG, Kaplan NM,
2007. Systemic hypertension: mechanisms and diagnosis. In: Libby
P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, eds.,. Braunwald's Heart
Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 8th ed.
Philadelphia, Pa; Saunders Elsevier: chap 86.
13.Mohammad Yogiantoro, Hipertensi Esensial, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Edisi IV, Jakarta, 2006,
Hal.599
14.Mustaida., 2000. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Pasien
Tentang Hipertensi dengan Terkontrolnya Tekanan Darah di
Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
15.Notoatmojo,Suryo. (2011). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku.
Jakarta: Rineka Cipta

25
16.Price Sylvia Anderson dan Wilson M. Lorraine, Patofisiologi,
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 2005.
17.Rahajeng, Tuminah, 2009, Prevalensi Hipertensi Dan
Determinannya di Indonesia, Majalah Kedokteran Indonesia, 59,
12.
18.Rampengan, Starry, Krisis Hipertensi, Bik Biomed, Vol.4, 2007,
Hal 1.
19.Viera, N, Black, H. R. (2008). Seventh Report of Joint National
Committee in Prevention, detection, Evaluations and Treatment in
High Blood Pressure. JAMA
20.Wade, A Hwheir, D N Cameron, A. 2003. Using a Problem
Detection Study (PDS) to Identify and Compare Health Care
Privider and Consumer Views of Antihypertensive therapy. Journal
of Human Hypertension, Jun Vol 17 Issue 6, p397.
21.World Health Organization. The global burden of disease: 2007
update. Geneva: WHO Library Cataloguing in-Publication Data;
2011:40-51.

26
Lampiran

Terapi gizi medis

 BBI : ( 155 – 100) x 1kg

= (155 – 100)

= 55 Kg

 Kebutuhan kalori : 55 kg x 30

= 1650 kkal

 Koreksi 

o umur : -10%

o aktivitas : + 20%

o kurus : - 20%

kalori yang dibutuhkan sehari :

1650 kkal + ( -10%x 1650)

= 1440 kkal

27
Jam senin selasa Rabu

06.00-08.00 Roti putih Nasi Nasi

Selai kacang Sayur sawi Sayur bening

Telur rebus Pepes ikan Tempe goring

tomat jeruk Jambu air

10.00 apel pepaya Pisang

12.00-13.00 Nasi Nasi Nasi

Semur daging Tumis kagkung Pepes ikan

Tempe goreng Telur rebus Cah tahu

28
Pecel jeruk pisang Tumis kangkug

Apel

16.00 apel pepaya Salak

18.00-19.00 Nasi Nasi Nasi

Pepes ikan Ayam tanpa kulit Semur daging

Cah tahu Lalapan Tempe goreng

Tumis kangkug Sayur sawi Pecel

apel pepaya Jeruk

21.00 jeruk Jambu air Pisang

29
30
DOKUMENTASI

31
32

Anda mungkin juga menyukai