Hipertensi Primer di Puskesmas Halmahera
Hipertensi Primer di Puskesmas Halmahera
Disusun oleh:
Fatikhatul Malikhah Maylinda Putri
30101407185
HALAMAN JUDUL
i
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
HALAMAN PENGESAHAN
CASE PRESENTATION
KEJADIAN HIPERTENSI PRIMER PADA Tn. P DI
PUSKESMAS HALMAHERA SEMARANG
Oleh:
Fatikhatul Malikhah Maylinda Putri
30101407185
Mengetahui,
Z.,SKM,M.Kes
ii
Kepala PKM Halmahera Kepala Bagian IKM
iii
KATA PENGANTAR
ini dapat diselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari berbagai
kepada :
iv
Karena itu kami sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang
v
Semarang Periode 10 Juni 2018 dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Penyusun
vi
DAFTAR ISI
vii
3.1. Dasat Teori ............................................................................ 9
BAB IV ............................................................................................... 22
KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 22
4.1. Kesimpulan .......................................................................... 22
4.2. Saran .................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 24
viii
BAB I
PENDAHULUAN
Pada tahun 2000, diperkirakan 972 juta (26%) orang dewasa di dunia
WHO pada tahun 2025 sekitar 29% orang dewasa diseluruh dunia
lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart
failure, dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung (Rahajeng dan
Tuminah, 2009).
9
Data WHO tahun 2000 menunjukkan bahwa sekitar 972 juta
juta penderita hipertensi, 333 juta berada di negara maju sedangkan 639
10
Mellitus sebanyak 19,22 persen. Jumlah penduduk berisiko (> 18 th)
Semarang, 2018)
11
Jumlah Penderita Hipertensi di Puskesmas Halmahera
Tahun 2018
400
350
300
250
200
150
100
50
0
12
Dari uraian di atas, Melihat bahwa Hipertensi akan
1.3. Tujuan
13
1.3.2.1. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan sosial dengan
hipertensi
hipertensi
1.4. Manfaat
keilmuan
upaya promotif
14
1.4.2. Manfaat bagi masyarakat
tinggalnya.
15
BAB II
ANALISA SITUASI
2019.
Nama : Tn. P
Umur : 60 tahun
Agama : Islam
16
Pekerjaan : Sopir
Kewarganegaraan : WNI
ASPEK 1 Personal
seperti semula.
17
Sebelumnya pasien mengaku badannya pegal-pegal dan leher terasa
18
ket:
: pasien
: wanita
: laki-laki
: serumah
19
Riwayat Sosial Ekonomi
Non-PBI kelas 3.
Data Individu :
(normoweight).
20
Data Keluarga
Pendidik
N Nam Stat Keterang
Usia an Pekerjaan
o a us an
Terakhir
Sopir
Sua Tidak
1 Tn. P 60 th angkota HT(+)
mi sekolah
umum
Tidak Wiraswast
2 Ny. S 60 th istri HT(-)
sekolah a
3. Ny.D 40th Anak SMP Karyawan HT(-)
bungkus
Pasien makan 2-3 kali sehari pada pagi dan siang hari
21
Jenis makanan yang dikonsumsi berupa nasi, lauk
mudah Lelah.
masih kurang.
22
Tabel 2.2. Checklist Survei PHBS
No Indikator Perilaku ya tidak
1 Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan V
2 Asi Ekslusif V
3 Penimbangan balita V
4 Gizi keluarga/ sarapan V
KLP Kesling
5 Air bersih V
6 Anggota rumah tangga menggunakan jamban V
7 Anggota rumah tangga membuang sampah pada V
tempatnya
8 Rumah tidak padat penghuni V
9 Lantai rumah kedap air V
KLP GAYA HIDUP
10 Aktivitas fisik/olahraga V
11 Tidak ada anggota keluarga yg merokok V
12 Mencuci tangan V
13 Menggosok gigi minimal 2 kali sehari V
14 Anggota rumah tangga tidak menyalahgunakan V
Miras/Narkoba
KLP UKM
15 Anggota rumah tangga menjadi peserta V
JPK/Dana Sehat
16 Anggota rumah tangga melakukan PSN V
seminggu sekali
Sehat Utama.
23
ASPEK 4 Faktor Risiko Eksternal
Data Lingkungan
Ekonomi
Data Rumah
- Lantai semen
- Atap genteng.
luas lantai.
24
- Sumber air minum, mandi dan cuci menggunakan air PDAM
KOMPONEN
NO RUMAH YG KRITERIA NILAI
DINILAI
KOMPONEN
I RUMAH
1 Langit-langit a. Tidak ada 0 V
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan
rawan kecelakaan 1
c. Ada, bersih dan tidak rawan
kecelakaan 2
a. Bukan tembok (terbuat dari
2 Dinding anyaman bambu/ilalang) 1
b. Semi permanen/setengah V
tembok/pasangan bata atau batu yang
tidak diplester/papan yang tidak kedap
air. 2
c. Permanen (Tembok/pasangan batu
bata yang diplester) papan kedap air. 3
3 Lantai a. Tanah 0
b. Papan/anyaman bambu dekat
dengan tanah/plesteran yang retak dan
berdebu. 1
c. Diplester/ubin/keramik/papan
(rumah panggung). 2 V
25
Jendela kamar
4 tidur a. Tidak ada 0
b. Ada 1 V
Jendela ruang
5 keluarga a. Tidak ada 0 V
b. Ada 1
6 Ventilasi a. Tidak ada 0
b. Ada, lubang ventilasi < 10% dari
luas lantai 1 V
c. Ada, lubang ventilasi > 10% dari
luas lantai 2
Lubang asap
7 dapur a. Tidak ada 0 V
b. Ada, lubang ventilasi dapur < 10%
dari luas lantai dapur 1
b. Ada, lubang ventilasi dapur > 10%
dari luas lantai dapur (asap keluar
dengan sempurna) atau ada exhaust
fan atau ada peralatan lain yang
sejenis. 2
a. Tidak terang, tidak dapat
8 Pencahayaan dipergunakan untuk membaca 0
b. Kurang terang, sehingga kurang
jelas untuk membaca dengan normal 1
c. Terang dan tidak silau sehingga V
dapat dipergunakan untuk membaca
dengan normal. 2
TOTAL 8
SARANA
II SANITASI
Sarana Air
Bersih(SGL/SP
T/PP/KU/PAH
1 ) a. Tidak ada 0
b. Ada, bukan milik sendiri dan tidak
memenuhi syarat kesehatan 1
c. Ada, milik sendiri dan tidak
memenuhi syarat kesehatan 2
26
d. Ada, bukan milik sendiri dan
memenuhi syarat kesehatan 3
e. Ada, milik sendiri dan memenuhi V
syarat kesehatan 4
Jamban (saran
pembuangan
2 kotoran). a. Tidak ada 0
b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada
tutup, disalurkan ke sungai / kolam 1
c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup,
disalurkan ke sungai atau kolam 2
d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup,
septic tank 3
e. Ada, leher angsa, septic tank. 4 V
Sarana
Pembuangan
Air Limbah a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak
3 (SPAL) teratur di halaman 0
b. Ada, diresapkan tetapi mencemari
sumber air (jarak sumber air (jarak
dengan sumber air < 10m). 1
c. Ada, dialirkan ke selokan terbuka 2 V
d. Ada, diresapkan dan tidak
mencemari sumber air (jarak dengan
sumber air > 10m). 3
e. Ada, dialirkan ke selokan tertutup
(saluran kota) untuk diolah lebih 4
lanjut.
Sarana
PembuanganSa
mpah/Tempat
4 Sampah a. Tidak ada 0
b. Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak
ada tutup 1
c. Ada, kedap air dan tidak bertutup 2 V
d. Ada, kedap air dan bertutup. 3
1
TOTAL 2
PERILAKU
III PENGHUNI
27
Membuka
JendelaKamar
1 Tidur a. Tidak pernah dibuka 0
b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2 V
Membuka
jendelaRuang
2 Keluarga a. Tidak pernah dibuka 0
b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2
Membersihkan
rumah dan
3 halaman a. Tidak pernah 0
b. Kadang-kadang 1
c. Setiap hari 2 V
Membuang
tinja bayi dan
balita ke a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam
4 jamban sembarangan 0
b. Kadang-kadang ke jamban 1
c. Setiap hari dibuang ke jamban 2
Membuang
sampah pada a. Dibuang ke sungai / kebun / kolam
5 tempat sampah sembarangan 0
b. Kadang-kadang dibuang ke tempat
sampah 1
c. Setiap hari dibuang ke tempat V
sampah. 2
TOTAL 6
Keterangan :
I. 8 x 31 = 248
II. 11 x 25 = 275
III. 6x 44 = 264
28
TOTAL = 788
menderita Hipertensi.
Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital
RR : 20x/menit
Temperatur : 36,80C
29
Antropometri : BB: 55 kg TB: 1550 cm
IMT : BB/TB2 = 55/(1,55x 1,55)= 22,9 kg/m2
Lingkar perut : 87cm
Status gizi : normoweight
Status Present
Kepala : normocephal
Thorax
- Auskultasi
30
Cor : S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
darah (-)
(-/-)
tekan (-)
Saraf
31
Tabel 2.4. Pemeriksaan Motorik
-/- -/-
A. Aspek 1 : Personal
32
Cluster headache
Tension Headache
.
sehat,Kurang olahraga.
E. Derajat Fungsional
33
Identifikasi Masalah
A. Intervensi
a. Promotif
Patient centered
Memberikan pendidikan sederhana mengenai
hipertensi.
Memberikan pengetahuan dan edukasi mengenai
menu sehat untuk sehari-hari dan aktivitas fisik atau
olahraga yang rutin terhadap pasien.
Penjelasan tentang hipertensi meliputi : definisi,
faktor resiko dan penyebab, gejala klinis , tatalaksana
pengobatan dan perawatan, komplikasi dan
pemberian nutrisi.
Family oriented
1
Memberikan pendidikan sederhana mengenai
hipertensi.
Memberikan pengetahuan dan edukasi mengenai
menu sehat untuk sehari-hari dan aktivitas fisik atau
olahraga yang rutin terhadap pasien.
2
Semua anggota keluarga ikut serta menjaga pola
makan yang sehat dan olahraga teratur.
Mengurangi kebiasaan merokok
Mengontrol tekanan darah
Semua anggota keluarga ikut serta menjaga kebersihan
rumah, membuka ventilasi rumah dan pencahayaan
yang baik.
Community oriented
Gerakan senam sehat pagi hari pada pasien hipertensi
Kuratif
1. Patient centered
2. Family focused
3. Community oriented
efek samping
3
Rehabilitatif
1. Patient centered
Control teratur
2. Family focused
pasien
Pemantauan/ Follow up
4
RW001 Kel.Sarirejo Semarang Timur pada tanggal 18
Hipertensi.
5
No Masalah Intervensi Tujuan Metode Indikat Sasaran Waktu Pelaksana Biaya
or
keberha
silan
Aktivitas fisik
3. Memberikan edukasi
pasien kurang
tentang jenis, durasi dan
pentingnya olahraga bagi Dokter Muda
penderita HT FK
Agar Pasien
UNISSULA
pasien Edukasi olahrag pasien
mengerti a
jenis, teratur
durasi dan dengan
pentingny jenis
a olahraga
olahrag
bagi
a yang
6
penderita sesuai
HT dengan
HT
1. Pasien kurang - Edukasi pola makan yang Pasien - Edukasi Pasien Pasien Dokter Muda
memperhatik baik dan benar bagi mengerti makan dan FK
an pola penderita HT. pola dan -Diskusi makana keluarga UNISSULA
makan. jenis tanya jawab n sesuai
- Memberikan daftar makanan
makanan yang dianjurkan menu
yang
dan dihindari pasien HT diet
benar
untuk untuk
pasien pasien
HT. HT
4. Kurangnya Edukasi kepada keluarga - Agar Edukasi Keluarg Pasien Dokter Muda
pengetahuan pasien tentang pengertian, keluraga keluarga a dan FK
tentang HT gejala, faktor resiko, cara pasien UNISSULA - -
pasien menger keluarga
mengontrol dan komplikasi tidak -
ti -
dari HT menderita
tentang
HT
pengert
ian,
- Deteksi gejala,
dini faktor
resiko,
7
cara
mengon
trol dan
kompli
kasi HT
5. Pasien tidak Memberi edukasi kepada Pasien - Edukasi Pasien Pasien Dokter Muda
rutin pasien mengenai program memaham mengik dan FK
mengikuti prolanis yang diadakan oleh i -Diskusi UNISSULA - -
uti keluarga
kegiatan BPJS serta mengajak pasien pentingny tanya jawab -
progra -
prolanis untuk mengikuti program a
m
tersebut mengikuti
prolanis
program
prolanis yang
yang diadaka
diadakan n oleh
oleh BPJS BPJS
1.
8
BAB III
PEMBAHASAN
A. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah yang berlebihan dan
hampir konstan pada arteri. Hipertensi juga disebut dengan
tekanan darah tinggi, dimana tekanan tersebut dihasilkan oleh
kekuatan jantung ketika memompa darah sehingga hipertensi ini
berkaitan dengan kenaikan tekanan sistolik dan tekanan diastolik.
Standar hipertensi adalah sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90
( Gunawan, 2001)
B. Klasifikasi Hipertensi
Menurut The Seventh Report of The Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment
of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada
orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi,
hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (tabel 1)
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7
Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Normal < 120 < 80
Prahipertensi 120-139 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥ 160 ≥ 100
TDS = tekanan darah sistol, TDD = tekanan darah diastol (Lubis,
2001).
9
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2
golongan yakni :
a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer : yang tidak diketahui
penyebabnya (Selekta, 1999)
Klasifikasi
- Hipertensi Benigna : hipertensi esensial yang bersifat
progresif lambat (Sylvia, 2005).
- Hipertensi Maligna : keadaan klinis dalam penyakit
hipertensi yang bertambah berat dengan cepat sehingga
dapat menyebabkan kerusakan berat pada berbagai organ
(Sylvia, 2005).
b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal (Selekta, 1999).
C. Faktor Risiko
Faktor resiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi
antara lain adalah (Yogiantoro, 2006) :
a. Perilaku
- Merokok dan alcohol
- Kurangnya aktivitas fisik (kurang olahraga)
- Pola makan tidak sehat (makan makanan yang
mengandung kadar garam tinggi, kadar lemak tinggi)
b. Stress
c. Genetik
d. Lingkungan
- Tinggal di daerah pesisir pantai dimana terdapat
kandungan garam
yang tinggi didalam air
10
e. Pelayanan kesehatan
Lokasi serta akses pelayanan kesehatan susah dijangkau.
f. Obesitas
3 Faktor Resiko yang tidak dapat diubah
Usia
Hampir tiap survei yang dilakukan para ahli menemukan terjadinya kenaikan
tekanan darah dengan naiknya umur diatas 45 tahun. Pada orang lanjut usia
(usia > 60 tahun) terkadang mengalami peningkatan tekanan nadi dikarenakan
arteri lebih kaku akibat terjadinya arteriosklerosis sehingga menjadi tidak lentur
(Guyton, 2008).
Ras
Suku berkulit hitam berisiko lebih tinggi terkena hipertensi.
Di Amerika, penderita hipertensi berkulit hitam 40% lebih
banyak dibandingkan penderita berkulit putih.
Jenis kelamin
Penelitian di Jawa Tengah dan daerah lain di Indonesia
,menunjukkan kejadian hipertensi lebih tinggi pada
wanita dibandingkan dengan pria karena pada wanita
mengalami menopause sehingga terjadi penurunan
jaringan perifer dan hormon. Wanita yang belum
mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen
yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lopoprotein (HDL).
Keturunan
Suatu pendapat memperkirakan 3% dari anak yang lahir
dari ayah-ibu normotensif (tekanan darah normal)
mungkin akan menderita hipertensi, sedangkan
kemungkinan ini naik menjadi 45% jika kedua orang
tuanya menderita hipertensi. Jadi seseorang akan
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mejadi
hipertensi.
11
4. Faktor Resiko yang tidak dapat diubah
Kebiasaan Merokok
Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara rokok
dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan.
Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah
rokok yang dihisap perhari. Seseoramg lebih dari satu pak rokok
sehari menjadi 2 kali lebih rentan
b. Obesitas
Obesitas atau kegemukan adalah dimana berat badan mencapai indeks
massa tubuh >25 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m)
juga merupakan salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi.
Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah
jantung dan sirkulasi volume darah
12
dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Olah raga ternyata juga
dihubungkan dengan pengobatan terhadap hipertensi. Melalui olah
raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30- 45
menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan
tekanan darah. Selain itu dengan kurangnya olah raga maka risiko
timbulnya obesitas akan bertambah, dan apabila asupan garam
bertambah maka risiko timbulnya hipertensi juga akan bertambah.
Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi makanan
yang mengandung tinggi lemak. Obesitas meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar massa
tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen
dan nutrisi ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar
melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi
tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan berat badan juga
meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar insulin dalam
darah. Peningkatan insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan
air. Penyelidikan epidemiologi juga membuktikan bahwa obesitas
merupakan ciri khas pada populasi pasien hipertensi. Dibuktikan juga
bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan timbulnya
hipertensi dikemudian hari. Pada penelitian lain dibuktikan bahwa
curah jantung dan volume darah sirkulasi pasien obesitas dengan
hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang
mempunyai berat badan normal dengan tekanan darah yang setara.
Obesitas mempunyai korelasi positif dengan hipertensi. Anak-anak
remaja yang mengalami kegemukan cenderung mengalami tekanan
darah tinggi (hipertensi). Ada dugaan bahwa meningkatnya berat
badan normal relatif sebesar 10% mengakibatkan kenaikan tekanan
darah 7 mmHg. Oleh karena itu, penurunan berat badan dengan
membatasi kalori bagi orang-orang yang obes bisa dijadikan langkah
positif untuk mencegah terjadinya hipertensi. Berat badan dan indeks
massa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah,
terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita
hipertensi pada orang dengan obesitas 5 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan seorang yang berat badannya normal. Pada penderita
hipertensi ditemukan sekitar 20-30 % memiliki berat badan lebih.
Inaktivitas Fisik
Olahraga dan aktifitas fisik banyak dihubungkan dengan pengelolaan
hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan
tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga
13
dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Kurang melakukan
olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan
jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya
hipertensi. Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita
hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang
yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung
yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras
pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus
memompa, makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.
Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap.
Apabila stress menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah
menjadi tetap tinggi. Hal ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi
pada binatang percobaan yang diberikan pemaparan terhadap stress
ternyata membuat binatang tersebut menjadi hipertensi. Stres adalah
suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara individu dengan
lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan- tuntutan
yang berasal dari situasi dengan sumber daya sistem biologis,
psikologis dan sosial dari seseorang. Stres adalah yang kita rasakan
saat tuntutan emosi, fisik atau lingkungan tak mudah diatasi atau
melebihi daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya dengan
efektif. Namun harus dipahami bahwa stres bukanlah pengaruh-
pengaruh yang datang dari luar itu. Stres adalah respon kita terhadap
pengaruh-pengaruh dari luar itu. Stres atau ketegangan jiwa (rasa
tertekan, murung, bingung, cemas, berdebar-debar, rasa marah,
dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak
ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut
lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat.
Jika stres berlangsung cukup lama, tubuh berusaha mengadakan
penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan
patologis.
14
A. Tanda dan Gejala Klinis
a. Tanda
Peninggian tekanan darah tidak jarang merupakan satu-
satunya tanda pada hipertensi primer.
b. Gejala Klinis
Gejala yang timbul dapat berbeda-beda dan tergantung
dari tingginya tekanan darah. Kadang-kadang hipertensi
primer berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah
terjadi komplikasi pada organ target seperti pada ginjal,
mata, otak dan jantung (Lubis, 2001).
Gejala seperti sakit kepala, epistaksis, pusing dan
migren dapat ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi
primer meskipun tidak jarang yang tanpa gejala. Pada survei
hipertensi di Indonesia tercatat berbagai keluhan yang
dihubungkan dengan hipertensi yakni kepala pusing, telinga
berdenging, mimisan, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat
ditengkuk, mudah lelah dan mata berkunang-kunang
merupakan gejala yang sering dijumpai (Lubis, 2001).
Gejala lain yang disebabkan oleh komplikasi hipertensi
seperti gangguan penglihatan, gangguan neurologi, gagal
jantung, dan gangguan fungsi ginjal tidak jarang dijumpai.
Gagal jantung dan gangguan penglihatan banyak dijumpai
pada hipertensi berat atau hipertensi maligna yang
umumnya juga disertai oleh gangguan fungsi ginjal bahkan
sampai gagal ginjal. Gangguan serebral yang disebabkan
oleh hipertensi dapat berupa kejang atau gejala akibat
15
perdarahan pembuluh darah otak yang berupa kelumpuhan,
gangguan kesadaran bahkan sampai koma. Timbulnya
gejala tersebut merupakan tanda bahwa tekanan darah perlu
segera diturunkan (Lubis, 2001)
B. KRISIS HIPERTENSI
a. Definisi
Peningkatan tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan diastolic
> 120 mmHg secara mendadak disertai kerusakan organ target.
(Starry, 2007). Pada umumnya krisis hipertensi terjadi pada
pasien hipertensi yang tidak atau lalai meminum obat
antihipertensi (Susalit, 2002).
b. Pembagian
Krisis hipertensi dibagi menjadi dua kelompok yakni :
1. Hipertensi darurat (emergency hypertension)
Situasi dimana selain tekanan darah yang sangat tinggi
terdapat kelainan/kerusakan target organ yang bersifat
progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan dengan
segera (dalam menit sampai jam) agar dapat
mencegah/membatasi kerusakan organ target yang terjadi
(Susalit, 2002).
2. Hipertensi mendesak (urgency hypertension)
Situasi dimana terdapat tekanan darah yang sangat tinggi
tetapi tidak disertai kelainan/kerusakan organ target yang
progresif, sehingga penurunan tekanan darah dapat
dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam sampai hari)
(Susalit, 2002).
16
Analisis Penyebab masalah
MASALAH
HIPERTENSI
A. Perilaku
17
a. Pola konsumsi makanan tinggi garam dan kolesterol.
Garam merupakan faktor yang sangat berpengaruh penting
dalam patogenesis hipertensi. Hipertensi hampir tidak ditemukan
pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan
garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan prevalensi
hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam antara 5-15
gram tiap hari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %.
Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadi
melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan
darah. Peningkatan asupan garam ini akan diikuti oleh
peninggian ekskresi garam sehingga tercapai kembali keadaan
hemodinamik yang normal. Pada pasien hipertensi primer,
mekanisme peningkatan ekskresi garam tersebut terganggu,
selain adanya faktor lain yang berpengaruh. Tingginya kadar
garam yang di konsumsi mengakibatkan peningkatan kekentalan
darah, sehingga jantung membutuhkan tenaga yang lebih untuk
mendorong darah sampai ke jaringan paling kecil (Lubis, 2001).
Makanan yang mengandung lemak dan kolesterol dapat
menimbulkan penumpukan plak dari timbunan kolesterol LDL
pada pembuluh darah. Hal ini mengakibatkan pembuluh darah
menyempit sehingga kecepatan aliran darah semakin tinggi
(Lubis, 2001).
b. Pengetahuan tentang hipertensi rendah
18
Peningkatan pengetahuan tentang hipertensi dapat
digunakan dalam upaya pencegahan kekambuhan hipertensi
seperti dalam menjaga pola makan serta pola aktivitas yang baik,
sedangkan kurangnya pengetahuan tentang hipertensi
kebanyakan menunjukan kontrol atau pengendalian tekanan
darah yang kurang baik (Viere et al, 2008)
B. Lingkungan
a. Stres psikis
Kondisi psikis seseorang dapat mempengaruhi tekanan
darah, misalnya kondisi psikis seseorang yang mengalami stres
atau tekanan.Stres dapat meningkatkan aktivitas saraf
simpatis. Peningkatan ini mempengaruhi meningkatnya
tekanan darah secara bertahap. Stres adalah rasa takut dan
cemas dari perasaaan dan tubuh kita terhadap perubahan di
lingkungan. Secara fisiologis, bila ada sesuau yang
mengancam, kelenjar pituitary otak mengirimkan informasi
dan hormon ke kelenjar endokrin, yang kemudian mengalirkan
hormon adrenalin dan hidrokortison kedalam darah. Hasilnya,
tubuh menjadi siap untuk menyesuaikan diri terhadap
perubahan yang muncul. Stres akan membuat tubuh lebih
banyak menghasilkan adrenalin, hal ini membuat jantung
bekerja lebih kuat dan cepat (Lawson et al, 2007).
b. Ekonomi Rendah
Masyarakat sosial ekonomi rendah sebagian besar mereka
mempunyai pola hidup sedenter yang ditandai dengan aktivitas
fisik dan rendah dan pola makan yang tidak sehat, sehingga
19
meningkatkan risiko keterpaparan terhadap hipertensi (Bustan
,2013).
c. Lingkungan perokok
Merokok dapat menyebabkan hipertensi akibat zat-zat
kimia yang terkandung di dalam tembakau yang dapat merusak
lapisan dalam dinding arteri, sehingga arteri lebih rentan terjadi
penumpukan plak (arterosklerosis). Hal ini terutama disebabkan
oleh nikotin yang dapat merangsang saraf simpatis sehingga
memacu kerja jantung lebih keras dan menyebabkan
penyempitan pembuluh darah, serta peran karbonmonoksida
yang dapat menggantikan oksigen dalam darah dan memaksa
jantung memenuhi kebutuhan oksigen tubuh (WHO, 2007).
Selain itu merokok dapat menyebabkan kekuan pembuluh darah,
sehingga kemampuan elastisitas saat mengalami tekanan yang
tinggi menjadi hilang (Lubis, 2001). Asap rokok yang
dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif,
lima kali lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat
kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin (Khoirudin, 2006).
C. Genetik
a. Riwayat hipertensi
Adanya faktor genetik tertentu pada keluarga akan
menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita
hipertensi. Individu dengan orang tua dengan hipertensi
mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi
dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi (Wade et al, 2003).
20
D. Pelayanan Kesehatan
a. Jarak pusat pelayanan kesehatan
Salah satu faktor yang mempengaruhi pasien tidak patuh
untuk kontrol rawat jalan adalah karena letak pelayanan kesehatan
tersebut susah dijangkau (Lubis, 2001).
21
Pasien tidak mengikuti Memberi edukasi kepada pasien
program prolanis dari mengenai program prolanis yang
BPJS diadakan oleh BPJS serta
mengajak pasien untuk mengikuti
program tersebut
BAB IV
4.1. Kesimpulan
banyak.
22
4.1.3. Berdasarkan kasus ini faktor lingkungan fisik, dan biologi
4.2. Saran
penanggulangan hipertensi
23
DAFTAR PUSTAKA
24
7. Harianto, E., Pratomo, H., 2013, Pajangan Kebisingan dan
Hipertensi di Kalangan Pekerja Pelabuhan, Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional, 8, 5.
8. Imam Effendi, Feokromositoma, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Balai Penerbit FKUI, Edisi IV, Jakarta, 2006, Hal. 612
9. Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI, Jakarta,
1999
10.Kaplan NM. Kaplan’s Clinical Hypertension. 8 th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins, 2002. p. 137
11.Khoirudin. Perbedaan kapasitas vital paru dan tekanan darah antara
perokok aktif dengan perokok pasif pada siswa Madrasah
Hidayatul Mubtadi’in Semarang Tahun Ajaran 2005/2006.
Semarang: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri; 2006.
12.Lawson R.Wulsin and Arthur J, BarskyVictor RG, Kaplan NM,
2007. Systemic hypertension: mechanisms and diagnosis. In: Libby
P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, eds.,. Braunwald's Heart
Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 8th ed.
Philadelphia, Pa; Saunders Elsevier: chap 86.
13.Mohammad Yogiantoro, Hipertensi Esensial, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Edisi IV, Jakarta, 2006,
Hal.599
14.Mustaida., 2000. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Pasien
Tentang Hipertensi dengan Terkontrolnya Tekanan Darah di
Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
15.Notoatmojo,Suryo. (2011). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku.
Jakarta: Rineka Cipta
25
16.Price Sylvia Anderson dan Wilson M. Lorraine, Patofisiologi,
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 2005.
17.Rahajeng, Tuminah, 2009, Prevalensi Hipertensi Dan
Determinannya di Indonesia, Majalah Kedokteran Indonesia, 59,
12.
18.Rampengan, Starry, Krisis Hipertensi, Bik Biomed, Vol.4, 2007,
Hal 1.
19.Viera, N, Black, H. R. (2008). Seventh Report of Joint National
Committee in Prevention, detection, Evaluations and Treatment in
High Blood Pressure. JAMA
20.Wade, A Hwheir, D N Cameron, A. 2003. Using a Problem
Detection Study (PDS) to Identify and Compare Health Care
Privider and Consumer Views of Antihypertensive therapy. Journal
of Human Hypertension, Jun Vol 17 Issue 6, p397.
21.World Health Organization. The global burden of disease: 2007
update. Geneva: WHO Library Cataloguing in-Publication Data;
2011:40-51.
26
Lampiran
= (155 – 100)
= 55 Kg
Kebutuhan kalori : 55 kg x 30
= 1650 kkal
Koreksi
o umur : -10%
o aktivitas : + 20%
o kurus : - 20%
= 1440 kkal
27
Jam senin selasa Rabu
28
Pecel jeruk pisang Tumis kangkug
Apel
29
30
DOKUMENTASI
31
32