DISUSUN OLEH : HARSONO
TRAINING AND EDUCATION IR. H. DJUANDA (E-LEARNING)
PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)
I. SESI 1 : Pelayanan Sinyal Mekanik
Filosofi Persinyalan Mekanik.
Cara Kerja Wesel Mekanik
Cara Kerja Hendel Mekanik
Cara Kerja Sekat Kenop Tekan Dan Sekat Hendel Mekanik
II. SESI 2 : Negative Chek
Peralatan luar
Peralatan dalam
III. SESI 3 : Pelayanan Sinyal Mekanik
Peraturan Dinas Pengamanan Setempat.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
I. Sinyal
Maksud penggunaan sinyal lengan ialah untuk menunjukkan semboyan kepada masinis bahwa
kereta api boleh memasuki setasiun atau petak jalan dengan aman / aman dengan kecepatan
terbatas atau dilarang masuk.
Pada umumnya, konstruksi penggerak lengan sinyal dibuat sedemikian rupa, apabila kawat
tariknya putus, lengannya akan jatuh sendiri kembali ke kedudukan biasa yaitu kedudukan“tak
aman” sedangkan, pada sinyal muka lengannya akan jatuh sendiri kembali ke kedudukan
“aman dengan kecepatan terbatas”( Fail Safe ).
II. Jaminan Kedudukan Lidah Wesel
Kait yang dipasang pada lidah wesel digunakan untuk menjamin kedudukan lidah yang
merapat pada rel lantaknya apabila alat pembalik wesel sudah mencapai kedudukan akhir. Kait
tidak dimaksudkan untuk menekan lidah dengan erat pada rel lentaknya.
Untuk wesel tanpa kait, sebagai jaminan kedudukan lidah terdapat di dalam roda weselnya.
Adapun roda wesel untuk wesel semacam ini ialah tipe NS yang memerlukan gerakan kawat
sebesar 50 cm
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Sinyal Lengan
satu dengan
roda cupit
tunggal.
Sinyal Lengan
dua dengan
roda cupit
ganda.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Pemasangan Roda Cupit bertujuan utk
memenuhi azas keselamatan : (FAIL
SAFE), Roda Cupit adalah “MOMENT
1 KGm” yang di-
pasang pada ujung lengan
lengan sinyal, tujuannya :
“ BILA PADA SAAT SINYAL
AMAN TIBA2 KAWAT TARIK
/ULUR PUTUS,MAKA AKAN
KEMBALI KEDUDUKAN
TIDAK AMAN “ ( S.7 )
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Pada saat kawat putus
Posisi
normal
Saat hendel Kembali ke S7
Sinyal dibalik BILA LENGAN SINYAL SE
DANG “AMAN” TIBA2 KA-
WAT TARIKNYA PUTUS,
MAKA LENGAN SINYAL
TERSEBUT AKAN KEMBALI
KEDUDUKAN SEMULA
(SEMBOYAN 7 )
Posisi lengan
menyerong ke
atas ( “Aman” )
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
CARA KERJA WESEL MEKANIK
PADA UMUMNYA TUAS
RODA WESEL ISS
MEMPUNYAI 2 (DUA)
LOBANG
a. Lobang pertama
jaraknya 95 mm dari
pusat titik poros
dengan gerakan
batang tarik 160 mm
,untuk Profil Rel
R 25 & R 33.
b. Lobang kedua
jaraknya 105 mm
dari pusat titik poros
dg gerakan
batang tarik 180 mm
untuk Profil Rel
Rel R 42 & R 54
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PENGGERAK WESEL TYPE ISS Persyaratan roda wesel Type ISS.
a. Roda wesel harus dipasang tepat dalam bidang
yang terbentuk oleh weselnya dan di luar propil
ruang bebas. Di bawahnya harus diadakan
jalan penyalur air yang terdiri dari batu
pecahan.
b. Hubungan tuas dengan porosnya harus
tertambat kukuh dengan pasak yang kepalanya
di atas dan terbaut.
c. Hubungan roda rantai terhadap porosnya harus
tertambat kukuh dengan pasak.
d. Baut penambat rantai baik dalam kedudukan
biasa maupun tak biasa tidak boleh keluar dari
setengah lingkaran roda rantai.
e. Lubang batang tarik pada dinding peti harus
dibuat lonjong dan bagian di atas lubang
tersebut harus dibuang untuk memudahkan
pencabutan atau pemasangan batang tariknya.
Pembuangan ini tidak boleh terlalu besar akan
melemahkan kedudukan petinya.
f. Saluran minyak pelumas pada poros harus
dilengkapi dengan sebatang kawat tusuk untuk
melancarkan pelumasan poros bagian atas,
sedangkan poros di bagian bawah harus selalu
terendam minyak pelumas.
g. Ragangan harus tegak lurus terhadap poros
sepur dan baut penambat harus kukuh terputar.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Gambar II.A.2 memperlihatkan kedudukan lidah wesel bilamana alat
pembaliknya sudah mencapai kedudukan akhir, ialah lidah kiri
merapat pada rel lantaknya sedangkan lidah kanan merenggang.
Apabila wesel dibalik, batang tarik T digerakkan menurut arah anak
panah dan akan mengakibatkan pada :
1. Lidah yang merapat
Titik B1 akan menjauhi lidah sehingga kait K1 menggeser keluar dari
kusennya C1 ke arah anak panah.
Setelah titik B1 bergerak sepanjang 40 – 50 mm, baru kait K1 melepaskan
diri dari kusennya sehingga kini lidah bebas dari rel lantak. Apabila
ujung kait telah meninggalkan kusennya sejauh beberapa mm maka
sentil S1 mentok pada pembatas D1 pada trekoor dan pada gerakan
berikutnya lidah akan ikut bergeser sampai kedudukan akhir. Selama
gerakan lanjutan ini ujung kait bergerak sejajar dengan bidang sisi
kusen.
2. Lidah yang merenggang
Pada permulaan gerak, titik B2 memutar sedikit terhadap titik A2
sampai ujung kait K2 mentok pada bidang sisi kusen C2.
Selanjutnya kait menggeser pada kusen sambil membawa lidahnya.
Setelah lidah merapat pada rel lantak maka kait bebas dari penahan
kusennya yang kemudian kait mulai mengait kusen dengan gerak
lengkung lingkaran. Pada kedudukan akhir, ujung kait K2 memeluk
PENGUNCIAN WESEL DG KAIT/KLAU . kusen C2.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PENGUNCIAN WESEL DG KAIT/KLAU .
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
WESEL DENGAN PENGUNCIAN LUAR (EXTERNAL LOCKING).
PENGUNCIAN WESEL DG KAIT/KLAU .
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Persyaratan roda wesel Type NS.
PENGGERAK WESEL TYPE NS. a. Roda wesel harus dipasang tepat dalam bidang
yang terbentuk oleh weselnya dan di luar propil
ruang bebas. Di bawahnya harus diadakan jalan
penyalur air yang terdiri dari batu pecahan.
b. Semua baut di bawah peti sebagai penambat
poros induk harus berkedudukan keras, begitu
pula semua baut dan sekrup penambat pada
dinding peti. Semat belah pada roda, rol
penggerak skiter dan poros induk harus lengkap
dan terbuka.
c. Kelonggaran pada rantai terhadap porosnya
tidak boleh terlalu besar begitu pula pada rol
penggerak skiter, dan harus dilumasi.
d. Baut penambat rantai baik dalam kedudukan
biasa maupun tak biasa tidak boleh keluar dari
setengah lingkaran roda rantai yang dipegang
oleh rantainya.
e. Sekrup jamin pada baut eksentrik harus
berkedudukan kukuh.
f. Kedudukan batang tarik lidah terjauh terhadap
skiter roda wesel harus merupakan garis lurus
yang tegak lurus terhadap poros sepur.
g. Batang tarik lidah terdekat harus juga
merupakan garis lurus terhadap skiter roda
wesel yang bersangkutan dan dekat lidahnya
baru disesuaikan dengan kedudukan baut lidah.
h. Untuk menentukan panjang batang tarik yang
tepat sebaiknya diadakan serepan batang tarik
yang dapat diatur panjangnya.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PENGGERAK WESEL TYPE NS.
1. Gambar II.B.3 memperlihatkan
kedudukan wesel bilamana alat
pembaliknya sudah mencapai
kedudukan akhir, ialah lidah kiri
merapat pada rel lantaknya
sedangkan lidah kanan
merenggang.
2. Skiter pembatas S3 mentok
pada skiter atas 4.
3. Sentil penjamin S1 menjamin
kedudukan lidah yang merapat.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PENGGERAK WESEL TYPE NS.
Apabila roda rantai diputar
menurut arah panah sebesar
65°, rol 7 menggerakkan lidah
yang merenggang. Pada saat
yang sama sector 5 bergerak
sampai melewati sentil
penjamin S1 sehingga lidah
yang merapat ini dibebaskan
(gambar II.B.4).
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PENGGERAK WESEL TYPE NS.
Pada putaran berikutnya
sebesar 50°, kedua lidah
bergerak sampai rol 7 ada di
ujung cowakannya dan lidah
yang kini merapat siap untuk
dikunci (gambar II.B.5).
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PENGGERAK WESEL TYPE NS.
Kemudian pada putaran
terakhir sebesar 65° (gambar
II.B.6), gerakan lidah A
diteruskan sedangkan lidah B
yang kini merapat dikuasai
kedudukannya oleh sentil S2.
Pada kedudukan ini sentil
pembatas S4 pinggir roda
rantai di sebelah bawah
mentok pada skiter 3.
Gerakan putar roda rantai
adalah 180°.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
WESEL DENGAN PENGUNCIAN LUAR (EXTERNAL LOCKING).
Gambar diatas memperlihatkan kedudukan lidah wesel bilamana alat
pembaliknya sudah mencapai kedudukan akhir, ialah lidah kanan
merapat pada rel lantaknya sedangkan lidah kirinya merenggang.
5 Apabila wesel dibalik, batang tarik ( 1 ) bergerak menurut arah anak
panah dan akan mengakibatkan pada :
1. Lidah tertutup (6).
Stang Arrow (2) akan bergerak sesuai dengan gerakan batang tarik
sampai ekor Arrow masuk cowakan pada stang Arrow.
7
Setelah Ekor Arrow (3) masuk kedalam cowakan (4) yang ada pada
6 stang, maka lidah wesel terlepas dari rel lantaknya.
2. Lidah terbuka (7).
Stang Arrow akan bergerak sesuai dengan gerakan batang tarik dan
mendorong lidah terbuka kearah rel lantaknya.
4
3 Kedua lidah wesel akan bergerak searah dengan gerakan batang tarik
2 sampai lidah kiri merapat pada rel lantaknya.
Batang Arrow terus bergerak sampai Arrow keluar dari Arrow lock
Box (5).
1
Selanjutnya ekor Arrow keluar dari cowakan dan bersandar pada
batangnya dan mengunci lidah rapat.
PENGUNCIAN WESEL DG ARROW .
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
WESEL DENGAN PENGUNCIAN LUAR (EXTERNAL LOCKING).
PENGUNCIAN WESEL DG ARROW .
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
WESEL DENGAN PENGUNCIAN LUAR (EXTERNAL LOCKING).
PENGUNCIAN WESEL DG ARROW .
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
TAHAPAN PEMBALIKAN WESEL
ADA TIGA TAHAPAN PEMBALIKAN WESEL :
1. Wesel dengan penguncian kait/klauw.
a. Lidah yang meregang bergerak, kait pada lidah yang merapat membebaskan diri dari kusennya.
b. Kedua lidah bergerak bersamaan sampai lidah yang tadinya renggang menjadi rapat.
c. Kait yang tadinya merenggang mengait pada kusennya 60 mm, lidah yang tadinya merapat melanjutkan
gerakannya.
2. Wesel dengan penguncian ARROW.
a. Stang Arrow bergerak sesuai gerakan batang tariknya sampai ekor Arrow masuk pada cowakan untuk
melepaskan penguncian pada lidah tertutup.
b. Kedua lidah bergerak bersamaan sampai lidah yang tadinya renggang menjadi rapat.
c. Selanjutnya stang Arrow meneruskan gerakannya sampai ekor Arrow keluar dari cowakan dan bersandar
pada stangnya.
3. Wesel tanpa kait
a. Apabila roda rantai diputar menurut arah panah sebesar 65°, rol 7 menggerakkan lidah yang merenggang.
Pada saat yang sama sector 5 bergerak sampai melewati sentil penjamin S1 sehingga lidah yang merapat
ini dibebaskan
b. Kedua lidah bergerak bersamaan sampai lidah yang tadinya renggang menjadi rapat.
c. Kemudian pada putaran terakhir sebesar 65°, gerakan lidah A diteruskan sedangkan lidah B yang kini
merapat dikuasai kedudukannya oleh sentil S2.
Pada kedudukan ini sentil pembatas S4 pinggir roda rantai di sebelah bawah mentok pada skiter
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PROSES PELANGGARAN WESEL
PELANGGARAN WESEL
Apabila sebuah gerbong atau kereta api bergerak menuju ke
wesel menurut arah panah pada gambar II.A.3, maka lidah
yang merenggang akan terdorong ke samping oleh bandasi
roda B2 dan gerakan lidah ini membesar di tempat batang
penghubung lidah.Akibatnya ialah kait K1 pada lidah yang
merapat akan memutar dan lepas dari kusennya sehingga
lidah akan bebas dari rel lantak.
Pada gerakan selanjutnya, kedua lidah akan bergerak karena
dorongan belebas (rad krans) roda. Kejadian ini disebut
pelanggaran wesel.
Pada umumnya, pelanggaran wesel terjadi dengan gaya
sedemikian besarnya sehingga gaya yang bekerja pada lidah
yang merenggang dan menggerakkan lidah yang menutup.
Gambar II.A.3 menjelaskan bahwa dorongan belebas pada
lidah yang merenggang baru terjadi apabila jarak d1 (antara
sisi dalam Rel R1 dan lidah L2) lebih kecil daripada jarak d2.
Pada wesel dengan penguncian lidah yang sempurna, lidah
yang merenggang akan terdorong lebih dahulu oleh belebas
B2 sebelum belebas B1 terjepit.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
KEDUDUKAN WESEL YANG
HARUS DITENTUKAN
Untuk memastikan benarnya arah dan keamanan perjalanan kereta api yang masuk dalam emplasemen
atau yang berangkat, maka perlu menentukan kedudukan semua wesel yang bersangkutan.
Di sini yang diartikan menentukan kedudukan wesel ialah agar kedudukan wesel yang dimaksud tidak dapat
diubah waktu kereta api masuk atau berangkat.
Penentuan kedudukan wesel terlayan setempat dapat dilaksanakan dengan menggunakan sekat, kancing
atau kunci jamin/Clauss. Penentuan kedudukan wesel terlayan pusat dapat dilaksanakan dengan mengunci
hendelnya. Adapun wesel yang harus ditentukan kedudukannya ialah :
1. Wesel yang dilalui kereta api, sehingga merupakan jalur kereta api.
2. Wesel yang dapat mengarahkan ke jalur yang dilalui kereta api, dalam kedudukan sedemikian agar tidak
mungkin menabraknya dari samping, yang disebut penjagaan samping.
Dari wesel-wesel yang kedudukannya telah ditentukan, ada juga yang masih harus disekat atau dikancing,
ialah :
1. Wesel terlayan pusat menuju ke sepur lurus yang dilalui dari muka di lintas raya (kelas I dan II/1 dengan
kecepatan 45 km.jam atau lebih).
2. Wesel ujung terlayan pusat menuju ke sepur belok yang dilalui dari muka di lintas raya (kelas I dan II/1
dengan kecepatan 45 km.jam atau lebih).
3. Wesel terlayan pusat yang jarak dari tempat pelayanannya lebih dari 150 meter dan dilalui dari muka di
lintas raya (kelas I dan II/1 dengan kecepatan 45 km.jam atau lebih).
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Pengontrol Kedudukan
Wesel
Alat pengontrol kedudukan lidah wesel mempunyai 2 jenis yaitu sekat dan kancing
a. Dua macam sekat dan kancing wesel ialah : Sekat/kancing tunggal dan ganda.
b. Sekat dihubungkan dengan kawat tarik sinyal.
c. Kancing mempunyai hendel tersendiri.
SEKAT TUNGGAL SEKAT GANDA
SEKAT TUNGGAL SEKAT GANDA
PENEMPATAN SEKAT SEBELAH KANAN WESEL PENEMPATAN SEKAT SEBELAH KIRI WESEL
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SEKAT DAN KANCING WESEL
a. Dua macam sekat dan kancing wesel ialah : Sekat/kancing tunggal dan ganda.
b. Sekat dihubungkan dengan kawat tarik sinyal.
c. Kancing mempunyai hendel tersendiri.
SEKAT DAN KANCING TUNGGAL SEKAT DAN KANCING GANDA
SEKAT DAN KANCING GANDA
Jidar B
JIDAR B (GANDA)
PENEMPATAN SEKAT DAN KANCING SEBELAH KANAN WESEL PENEMPATAN SEKAT DAN KANCING SEBELAH KIRI WESEL
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
BENTUK FISIK SEKAT WESEL
SEKAT TUNGGAL SEKAT GANDA
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SUKU2 BAGIAN HENDEL SINYAL
1. Semat penyentuh.
2. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
3. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
4. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
5. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
Tempat sekat kenop
tekan dan sekat hendel
mekanik
Pelat pelindung sekat
kenop tekan dan sekat
hendel mekanik
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SUKU2 BAGIAN HENDEL SINYAL
Semat kunci bulat
1. Semat penyentuh.
2. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
3. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
4. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
5. Pelat pelindung sekat knop
tekan mekanik
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SEMAT KUNCI BULAT
Bentuk semat kunci bulat Simbul semat kunci bulat
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
HENDEL WESEL DENGAN SEMAT
KUNCI PERSEGI
Hendel wesel Simbul semat kunci persegi
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SUKU2 BAGIAN HENDEL WESEL
GALUR
POROS
PASAK GERAK
PENGGESER(4)
HENDEL ARET
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SUKU2 BAGIAN HENDEL WESEL
1. Poros hendel.
2. Pengapit roda hendel.
3. Aret.
4. Pelat penggeser.
5. Pegas spiral.
6. Pasak gerak.
7. Pegas pasak gerak.
8. Tuas langgar.
9. Pegas tuas langgar.
10. Batang pegas aret.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SEMAT KUNCI PERSEGI
Bentuk semat kunci persegi Simbul semat kunci persegi
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SEKAT KENOP TEKAN MEKANIK
(Kunci Listrik Posisi Normal Bebas).
1. Semat persegi
2. Tuas atas
3. Tuas bawah
4. Pegas tuas.
5. Suku penggerak tuas.
6. Suku penyentuh semat hendel
sinyal.
7. Sentil penekan penggerak tuas.
8. Pegas pelat.
9. Semat penyentuh.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SEKAT KENOP TEKAN MEKANIK
(Kunci Listrik Posisi Normal Tertekan).
1. Semat persegi
2. Tuas atas
3. Tuas bawah
4. Pegas tuas.
5. Suku penggerak tuas.
20,4 s/21 mm. 6. Suku penyentuh semat hendel
sinyal.
7. Sentil penekan penggerak tuas.
8. Pegas pelat.
9. Semat penyentuh.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
SEKAT KENOP TEKAN DIRANGKAI DG
SEKAT HENDEL MEKANIK
1. Semat persegi
2. Tuas atas
3. Tuas bawah
4. Pegas tuas.
5. Suku penggerak tuas.
6. Suku penyentuh semat hendel
sinyal.
7. Sentil penekan penggerak tuas.
8. Pegas pelat.
9. Semat penyentuh.
10. Kait sekat hendel mekanik.
11. Semat pembatas.
12. Pegas kait.
13. Cowakan Roda Hendel Sinyal.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Sekat kenop tekan mekanik
dan sekat hendel mekanik
Semat persegi FUNGSI :
Sekat hendel mekanik
1. SEKAT KENOP TEKAN MEKANIK UNTUK MENYEKAT
KNOP TEKAN DAN MENCEGAH PEMBERIAN WARTA
K.A (WARTA MASUK DAN WARTA BERANGKAT)
SEBELUM MELAYANI HENDEL SINYAL YANG
BERSANGKUTAN.
2. SEKAT HENDEL MEKANIK UNTUK MENCEGAH
HENDEL SINYAL DILAYANI LEBIH DARI SEKALI DAN
MENJAMIN SATU PETAK BLOK UNTUK SATU
RANGKAIAN KERETA API SERTA MEMAKSA UNTUK
MELAYANI HENDEL SINYAL SAMPAI POSISI TERAKHIR.
Sekat kenop tekan mekanik
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
NEGATIVE CHEK PERALATAN LUAR
SINYAL :
1. SAAT HENDEL SINYAL POSISI DIATAS
(DILAYANI), STANG PENGGERAK LENGAN
SINYAL DILEPAS, MAKA POSISI LENGAN
SINYAL HARUS KEMBALI NORMAL “TIDAK
AMAN” ( moment 1kgm terpenuhi )
2. SAAT HENDEL SINYAL POSISI DIATAS
(DILAYANI), KAWAT TARIK SINYAL DILEPAS,
MAKA POSISI LENGAN SINYAL HARUS
KEMBALI NORMAL “TIDAK AMAN”
3. SAAT HENDEL SINYAL POSISI DIATAS
(DILAYANI), KAWAT ULUR SINYAL DILEPAS,
MAKA POSISI LENGAN SINYAL HARUS
KEMBALI NORMAL “TIDAK AMAN”
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Baut trekoor.
Baut kusen.
Baut wesel.
WESEL :
1. BAUT TREKOOR DILEPAS WESEL DILAYANI, LIDAH
RAPAT HARUS TETAP IKUT BERGERAK.
2. WESEL YANG DILENGKAPI DENGAN SEKAT, BAUT
WESEL DILEPAS ,WESEL DILAYANI KEMUDIAN
HENDEL SINYAL DILAYANI, LENGAN SINYAL TIDAK
BOLEH MENUNJUKAN ASPEK “AMAN”
3. WESEL YANG DILENGKAPI DENGAN SEKAT,
Baut tambat trekoor. RANGKULAN KAIT (KLAUW) KURANG DARI 40 mm
KEMUDIAN HENDEL SINYAL DILAYANI, LENGAN
SINYAL TIDAK BOLEH MENUNJUKAN ASPEK “AMAN”
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PERALATAN DALAM
Peralatan dalam sistem persinyalan mekanik type S&H adalah sbb. :
Pesawat blok.
Lemari mistar.
Perkakas hendel.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PERKAKAS HENDEL
Perkakas hendel merupakan suatu tempat untuk
menyusun hendel – hendel sesuai dg lajurnya.
Macam-macam jenis hendel ialah :
Hendel Sinyal berfungsi sebagai alat untuk
menggerakkan lengan sinyal yang dapat
memberikan semboyan kepada masinis dan
dapat dirangkai dengan pengontrol kedudukan
lidah wesel ( sekat )
Hendel Wesel berfungsi sebagai alat untuk
menggerakan lidah wesel sesuai dengan arah
yang dikehendaki ( posisi lurus atau posisi
belok ).
Hendel Kancing berfungsi sebagai alat untuk
menggerakkan roda kancing pengontrol
kedudukan lidah wesel
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
LEMARI MISTAR
Lemari mistar merupakan tempat untuk menyusun
suatu interlocking yang berfungsi sebagai alat
pengamanan perjalanan kereta api yang akan masuk
dan keluar suatu Emplasemen.
Lemari mistar terintegrasi dengan hendel-hendel dan
pesawat blok yang mengatur tertib perjalanan kereta
api
Bagian-bagian dari lemari mistar mempunyai fungsi
sbg penggerak, pengunci, pembebas dan pengontrol
yang saling terkait satu sama lain.
Mistar
Poros-poros
Sentil-sentil
Kruk-kruk & Roset (Kruk biasa & kruk sayap)
Semat-semat kunci hendel
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PESAWAT BLOK
Pesawat Blok ialah gabungan dari kunci listrik arus AC/DC,
lonceng panggil, knop panggil dan induktor.
Kunci-kunci listrik kedudukannya dapat dilihat melalui
kaca bundar pada dinding mukanya, dan diplombir.
Kunci listrik diperlukan untuk memungkinkan agar
pelayanan hendel Sinyal, wesel, kancing dsb. Yang
dilayani penjaga rumah sinyal dapat dikuasai dari
jarak jauh.
Pesawat blok terintegrasi antara kunci listrik dengan
hendel, kruk yang berada di perkakas hendel
tersebut.
Kunci listrik yang berkedudukan mencegah pelayanan
disebut kedudukan tertekan, sedangkan yang
membebaskan pelayanan disebut bebas.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
NEGATIVE CHEK PERALATAN DALAM
HENDEL WESEL :
Hendel sinyal Hendel wesel
1. LIDAH WESEL DIGANJAL BATU,
HENDEL DILAYANI PLOMBIR HARUS
PUTUS ( RODA HENDEL OVER ).
2. HENDEL WESEL POSISI TERKUNCI,
RODA HENDEL DIPUTAR DENGAN
BANTUAN TUAS PENGUMPIL, RODA
HENDEL HARUS BISA BERPUTAR.
3. HENDEL WESEL YANG DILENGKAPI
DENGAN HENDEL KANCING, SAAT
HENDEL KANCING DILAYANI, HENDEL
WESEL TERSEBUT HARUS TERKUNCI.
HENDEL SINYAL
1. TANPA MELAYANI KRUK ( MENGUNCI
HENDEL WESEL TERKAIT), SEMAT KUNCI
HENDEL TIDAK BOLEH KELUAR DARI
RODA HENDELNYA.
2. PELAT PENUTUP SEKAT KENOP TEKAN
MEKANIK HARUS DIPLOMBIR KAWAT,
SEHINGGA KERJA NYA TIDAK BISA
DITIRUKAN DARI LUAR.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
LEMARI MISTAR :
1. UNTUK NEGATIVE CHEK PERKAKAS
HENDEL MENGACU PADA DAFTAR
PENGUCILAN PERJALANAN K.A DAN
DAFTAR KEDUDUKAN WESEL
EMPLASEMEN SETEMPAT.
2. TIAP-TIAP KOTAK YANG DIARSIR DI
PERIKSA SESUAI DENGAN ARAH DAN
KEDUDUKAN WESEL YANG TERKAIT.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
HUBUNGAN BLOK
HUBUNGAN BLOK
1. Yang disebut hubungan blok adalah suatu jalan kereta api yang dilengkapi dengan pesawat blok, antara
kedua belah pihak dibatasi oleh sinyal masuk atau sein Pos, di petak jalan tersebut hanya boleh ada satu
kereta api.
2. Hubungan blok ada 2
- Hubungan blok A dan B jalur tunggal
- Hubungan blok III lintas jalur ganda.
Persyaratan pada hubungan blok
a. Sinyal blok harus dikembalikan kekedudukan tidak aman setelah kereta api berangkat.
b. Sinyal blok setelah ditarik aman, tidak bisa dilayani untuk kedua kalinya
c. Pada lintas sepur tunggal, bahwa sinyal blok tidak boleh ditarik aman, apabila sinyal blok disetasiun lawan
dengan jurusan bertentangan sedang ditarik aman.
d. Sinyal blok tidak boleh ditarik aman sebelum sinyal blok untuk kereta api yang berlawanan dikembalikan
kekedudukan tidak aman, boleh berlaku untuk sebaliknya jika kereta apinya telah meninggalkan blok.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
CARA PELAYANAN HUBUNGAN BLOK
Hubungan blok jalur tunggal
MEMINTA BLOK
Stasiun R meminta blok pada stasiun S dengan menekan kenop panggil S, kemudian lonceng panggil R di
stasiun S akan berbunyi.
MEMBERI BLOK
Stasiun S menekan tingkapan jalur tunggal hingga membingkas putih, tingkapan blok ke S di stasiun R akan
membingkas putih
MEMBERI WARTA LEPAS
Stasiun R melayani hendel-hendelnya, setelah kereta api berangkat melewati wesel terjauh stasiun R
Mengembalikan hendel-hendelnya dengan urutan sebaliknya.Kemudian stasiun R menekan tingkapan blok ke
dan tingkapan jalur tunggal secara bersamaan, sehingga tingkapan blok ke S menjadi putih dan tingkapan
jalur tunggal menjadi putih, di stasiun S tingkapan lewat di membingkas putih.
MEMBERI WARTA MASUK
Stasiun S melayani hendel-hendelnya, setelah kereta api masuk stasiun S mengembalikan hendel-hendelnya
Dengan urutan kebalikannya. Kemudian stasiun S menekan tingkapan lewat di sehingga tingkapan lewat di dan
Tingkapan jalur tunggal menjadi merah, distasiun R tingkapan jalur tunggal menjadi merah selesai.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
HUBUNGAN BLOK JALUR TUNGGAL
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
CARA PELAYANAN HUBUNGAN BLOK
Hubungan blok jalur ganda
MEMINTA BLOK
Stasiun R meminta blok pada stasiun S dengan menekan kenop panggil S kemudian lonceng panggil R di
stasiun S akan berbunyi.
MEMBERI BLOK
Stasiun S menekan tingkapan “buka blok / lewat di” hingga membingkas putih, tingkapan “blok ke” S di
stasiun R akan membingkas putih
MEMBERI WARTA LEPAS
Stasiun R melayani hendel-hendelnya, setelah kereta api berangkat melewati wesel terjauh, stasiun R
Mengembalikan hendel-hendelnya dengan urutan sebaliknya.Kemudian stasiun R menekan tingkapan “blok ke”
S sehingga tingkapan “blok ke” S menjadi merah, tingkapan “buka blok / lewat di” stasiun S menjadi merah
KA MASUK
Stasiun S melayani hendel-hendelnya, setelah kereta api menginjak kontak rel, maka sekat kenop tekan listrik
( tingkapan kecil) membingkas putih stasiun S mengembalikan hendel-hendelnya dengan urutan kebalikannya
selesai.
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
HUBUNGAN BLOK JALUR GANDA
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
PERATURAN DINAS PENGAMANAN
SETEMPAT
• Cover
• Daftar Isi
• Daftar Lampiran
• BAB I = Petunjuk
• BAB II = Penjelasan Umum
• BAB III = Pelayanan Perangkat Sinyal
• BAB IV = Hubungan Blok
• BAB V = Peraturan Istimewa
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
NO PENJILIDAN, NO LINTAS - NO EMPLASEMEN NO PENJILIDAN, NO LINTAS - NO EMPLASEMEN
IIIF, 50 – 2
IIIF,50 – 2
PERATURAN DINAS
PENGAMANAN SETEMPAT
(PDPS) SEMENTARA
EMPLASEMEN
ALASTUA
Contoh Cover.
Ditetapkan dengan Surat Manager Sintelis Daop 4 Semarang
........................................ Tanggal. ....................................
PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)
DAERAH OPERASI 4 SEMARANG
2012
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
DAFTAR ISI
Halaman Judul
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PETUNJUK ........................................................................................................... X
Pasal 1 Arti dan Istilah .................................................................................. X
BAB II PENJELASAN UMUM ......... .......................................................................... X
Pasal 2 A. Sinyal.............................................................................................. X
Pasal 3 Semboyan Sinyal Peraturan Dinas 3 (PD 3)....................................... X
Pasal 4 B. Wesel.............................................................................................. X
pasal 5 C. Kontak Rel ..................................................................................... X
Pasal 6 D. Alat – alat Pelayanan ................................................................. X
Pasal 7 E. Kedudukan Aspek Sinyal , Wesel, Hendel, Kruk
Dan Tingkapan ............................................................................. X
Pasal 8 F. Perhubungan Listrik ....................................................................... X
Pasal 9 G. Keamanan Perjalanan Kereta Api ................................................ X
Pasal 10 H. Daftar Pengucilan Perjalanan Kereta Api dan
Kedudukan Wesel ....................................................................... X
BAB III PELAYANAN PERANGKAT SINYAL ........................ ................................... X
Contoh Daftar isi Sinyal Mekanik
Pasal 11 A. Peraturan Umum ........................................................................... X
Pasal 12 ............................................................................................................. X
Pasal 13 ............................................................................................. ............... X
Pasal 14 .............................................................................................................. X
Pasal 15 ............................................................................................................. X
Pasal 16 B. Perlayanan Perjalanan Kereta Api ................................................. X
1. Kedatangan
2. Keberangkatan
3. Jalan Langsung
BAB IV HUBUNGAN BLOK ............................................................................................ X
Pasal 17 A. Hubungan Blok .......................................................................... X
1. Dinas Malam
2. Kembali kepada Dinas Siang
BAB V PERATURAN ISTIMEWA .............................................................................. X
Pasal 18 Peraturan Istimewa ............................................................................ X
Pasal 19 Tanjung Jawab ................................................................................ X
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Contoh Bab Sinyal Mekanik
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Contoh Lampiran Sinyal Mekanik
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
Contoh Lampiran Sinyal Mekanik
E-Learning Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ir. H. Djuanda
TERIMA KASIH