Asuhan Keperawatan BBLR pada Bayi
Asuhan Keperawatan BBLR pada Bayi
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah
Keperawatan Anak dengan asuhan keperawatan bayi resiko tinggi BBLR.
Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh anggota kelompok yang telah
berkontribusi secara optimal sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Terima
kasih juga kami ucapkan kepada Ibu selaku dosen pembimbing. Ucapan terima
kasih tak lupa kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu proses
pembuatan makalah ini baik secara moril maupun materil.
Kelompok 1
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
C. TUJUAN........................ .............................................................................3
A. KESIMPULAN.........................................................................................26
B. SARAN......................................................................................................27
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
BBLR adalah berat bayi lahir kurang dari 2500 gram, keadaan tersebut dapat
berdampak banyak terhadap kondisi kesehatan bayi. Komplikasi yang dapat
terjadi pada bayi dengan BBLR terutama berhubungan dengan empat proses
adaptasi pada bayi baru lahir diantaranya, system pernafasan (asfiksia
neonatorum), system kardiovaskuler (patent ductus atreriosus), termoregulasi
(hipotermi) dan hipoglikemi. BBLR menjadi salah satu penyebab kematian pada
bayi (Manggiasih, Jaya,2016).
Presentase kejadian BBLR di Indonesia pada tahun 2013 ada sebanyak 10,2 %.
Angka kejadian ini lebih rendah dari tahun 2010 yaitu 11,1 %. Presentase BBLR
tertinggi terdapat di provinsi Gorontalo (14,1 %) dan terendah di provinsi
Sumatra utara (2,52 %) sementara itu di provinsi Sumatra Barat kejadian BBLR
ada sebanyak 4,61 % (riskesdas2013)
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya BBLR yaitu faktor ibu, faktor janin dan
faktor plasenta. Kasus BBLR di kota Padang menurut Suryati tahun 2013 di
Puskesmas Air Dingin tercatat 82,9% ibumelahirkan BBLR dengan kondisi
anemia. Menurut Mahayana dkk (2015) di RSUP Dr. M. Djamil Padang tercatat
sebanyak 36,1% ibu melahirkan BBLR juga karena anemia. Dari faktor janin
sebanyak 4,2% BBLR terjadi karena ketuban pecah dini dan karena kelainan
plasenta sebanyak 19,4%.
1
sebagian besar BBLR mengalami asfiksia neonatorum derajat sedang sebanyak
104 orang ( 83,2%).
Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam mengatasi bayi dengan
masalah BBLR antara lain perawatan metode kangguru, pemberian ASI dini dan
ekslusif, pencegahan infeksi, pemberian imunisasi, pemantauan tanda bahaya dan
persiapan pra rujukan bila perlu (Maryunani, 2013). Metode kangguru adalah
perawatan yang penting untuk meningkatkan kesehatan BBLR. Menurut Lestari
dkk tahun 2014 di RSUD Kebumen bahwa 100% bayi dengan perawatan metode
kangguru memiliki suhu tubuh yang normal.
Dari penatalaksanaan tersebut, masih banyak ibu yang belum mengetahui cara
perawatan BBLR. Tarigan dkk (2012) mengatakan di Bandung sebanyak 75,56%
ibu kurang pengetahuan tentang penatalaksaan perawatan suhu tubuh BBLR,
penatalaksanaan perawatan pemberian ASI 42,22% dan ibu kurang pengetahuan
tentang pencegahan infeksi pada BBLR 44,45 %.
Penanganan bayi dengan BBLR perlu peran perawat diantaranya yaitu sebagai
pemberi asuhan keperawatan.Peran sebagai pemberi asuhan pada BBLRdapat
dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar seperti
memantau keadaan suhu tubuh pasien, memberikan kehangatan pada pasien
dengan perawatan metode kangguru. Penanganan lain yang dapat dilakukan
adalah dengan memberikan ASI secara rutin setiap 3 jam sekali pada BBLR, dan
melakukan pencegahan infeksi pada BBLR dengan selalu mencuci tangan setiap
akan kontak dengan pasien. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari
yang sederhana sampai dengan komplek (Asmadi,2008).
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti uraikan diatas, maka perumusan
masalah adalah bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan
Berat Bayi Lahir Rendah ?
2
C. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan
Berat Bayi Lahir Rendah
2. Tujuan khusus
Berdasarkan tujuan umum dapat dibuat khusus sebagai berikut;
a. Mahasiswa mampu mengetahui konsep konsep dasarBerat Bayi Lahir
Rendah
b. Mahasiswa mampu mengetahui konsep asuhan keperawatan Berat
Bayi Lahir Rendah
3
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2. Etiologi
Penyebab BBLR terjadi karena beberapa faktor. Namun penyebab terbanyak
terjadinya BBLR adalah karena kelahiran premature. Semakin muda usia
kehamilan, semakin besar resiko dapat terjadinya BBLR (Proverawati,
Sulistyorini, 2010).
Berikut ini adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan BBLR secara
umum:
a. Faktor ibu:
1) Usia ibu yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35tahun.
2) Jarak kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 1tahun).
3) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti: anemia, perdarahan ante
partum, hipertensi dan infeksi selamakehamilan.
4) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual,
HIV/AIDS.
5) Ibu dengan kecanduan rokok, alkohol dannarkotika.
6) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya
4
b. Keadaan sosial ekonomi
1) Kejadian tinggi terdapat pada golongan sosial ekonomirendah.
2) Mengerjakan aktifitas fisik beberapa jam tanpaistirahat.
3) Keadaan gizi yang kurangbaik.
4) Pemeriksaan antenatal yang kurang. (Proverawati, Sulistyorini,
2010)
c. Faktor janin
1) Berbagai kelainan kromosom, misalnya trisomi 13, 18, 21.
2) Infeksi janin kronik (rubella bawaan).
3) Radiasi.
4) Hidramnion.
5) Ketuban pecah dini.
d. Faktor plasenta
1) Plasenta previa (merupakan plasenta yang letaknya dekat pada porsio
dan menyebabkan perdarahan saat kontraksi melahirkan).
2) Solusio plasenta (merupakan lepasnya plasenta dari dinding uterus).
3) Berbagai masalah anatomis seperti infark multiple, thrombosis
vaskuler umbilical danhemangioma.
4) Kehamilan ganda.
5
b. Penyebab BBLR yang kurang bulan / NKB-KMK atau premature, antara
lain disebabkanoleh:
1) Berat badan ibu yang rendah, ibu hamil yang masihremaja.
2) Pernah melahirkan bayi premature sebelumnya.
3) Ketidakmampuan uterus menahan janin (cervicalimcompetence).
(Maryunani,2013)
3. Patofisiologi
BBLR memiliki beberapa masalah yang akan timbul pada bayi, diantaranya;
a. Pengendalian suhu
Bayi preterm cenderung memiliki suhu yang abnormal disebabkan oleh
produksi panas yang buruk dan peningkatan kehilangan panas.
Kegagalan untuk menghasilkan panas yang adekuat disebabkan tidak
adanya jaringan adiposa coklat (yang mempunyai metabolic aktifitas
yang tinggi), pernafasan yang lemah dengan pembakaran oksigen yang
buruk, dan masukkan makanan yang rendah. Kehilangan panas karena
permukaan tubuh yang relatif besar dan tidak adanya lemak subcutan
disebabka karena panas immature dari pusat pengatur panas dan sebagian
akibat kegagalan untuk memberikan respon terhadap stimulus dari luar.
b. Sistem pernafasan
Semakin pendek masa gestasi maka semakin kurang perkembangan paru-
paru pada BBLR. Ukuran alveoli cenderung kecil dengan adanya sedikit
pembuluh darah yang mengelilingi stroma seluler, otot pernafasan bayi
lemah dan pusat pernapasan kurang berkembang. Terdapat juga
kekurangan lipo protein atau surfaktan pada BBLR yang berfungsi
melawan tegangan permukaan sehingga alveoli tidak kolaps. Defisiensi
surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan paru untuk
mempertahankan stabilitasnya. Alveolus akan kembali kolaps setiap
akhir ekspirasi sehingga untuk pernapasan berikutnya dibutuhkan
tekanan negative intratoraks yang lebih besar disertai usaha inspirasi
yang kuat. Ritme dari dalam pernapasan cenderung tidak teratur. Sering
kali ditemukan nafas cepat pada BBLR sampai apnea.
6
c. Sistem sirkulasi
Ukuran jantung BBLR relatif kecil pada saat lahir, terutama pada bayi
preterm kerjanya lambat dan lemah. Sirkulasi perifer sering kali buruk
dari dinding pembuluh darah intracranial. Hal ini merupakan sebab dari
timbulnya kecendrungan perdarahan intracranial yang terlihat pada bayi
preterm. Tekanan darah lebih rendah dibandingkan bayi aterm karena
berat badan yang menurun. Tekanan sistolik bayi aterm sekitar 80 mmHg
dan pada bayi preterm sekitar 45-60 mmHg. Tekana diastolic antara 30 –
45 mmHg pada bayi preterm.
d. Sistem persarafan
Perkembangan susunan saraf sebagian besar tergantung pada derajat
maturitas, pusat pengendalian fungsi vital. Reflek seperti reflek leher
tonik ditemukan pada bayi premature normal, tetapi reflek tendon
bervariasi karena perkembangan susunan saraf yang buruk. Maka BBLR
yang khususnya lemah lebih sulit untuk dibangunkan dan mempunyai
tangisan yang lemah.
e. Sistem pencernaan
Semakin rendah usia gestasi, maka semakin lemah reflek menghisap dan
menelan bayi. Hal ini disebabkan karena mekanisme penutupan spingter
pilorus yang relatif kuat. Pencernaan tergantung dari perkembangan alat
pencernaan, lambung bayi BBLR memperlihatkan adanya sedikit lipatan
mukosa, glandula sekretoris, dan otot kurang berkembang. Aktifitas otot
pencernaan yang masih belum sempurna sehingga mengakibatkan
pengosongan lambung berkurang.
f. Sistem urinarius
Kerja ginjal masih belum matang. Kemampuan mengatur pembuangan
sisa metabolisme dan air masih belum sempurna. Ginjal yang imatur baik
secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urin yang sedikit, urea
clearance yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh
dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan asidosis
metabolik.
(Maryunani.2013).
7
8
5. Klasifikasi
a. Bayi berat lahir rendah (BBLR) berat lahir 1500-2500gram.
b. Berat bayi lahir sangat rendah (BBLSR) berat lahir 1000-1500gram.
c. Berat bayi lahir ekstra rendah (BBLER) berat lahir kurang dari 1000
gram.
9
mempertahankan stabilitasnya terganggu. Alveolus akan kembali kolaps
setiap akhir ekspirasi. Kolaps paru ini mengakibatkan terganggunya
ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.
Ketidaksempurnaan fungsi paru tersebut mengenai perifer dan sentral.
Pada perifer tulang thoraks masih lembek, dan otot intercostals masih
lemah sehingga resistensi tehadap penarikan diafragma kecil juga
tekanan dalam thoraks kecil. Apabila diafragma turun, dinding thoraks
menjadi kecil sehingga volume udara yang masuk kurang. Hal ini
mengakibatkan pernapasan agak sulit. (Maryunani, 2013).
b. Gangguan pada Hipotalamus
Periventricular leukomnalacia (PVL), kerusakkan dan pelunakan materi
putih bagian dalam otak yang mentransmisikan informasi antara sel-sel
saraf dan sum-sum tulang belakang, juga dari satu bagian otak ke bagian
otak yang lain. Jaringan otak yang rusak mempengaruhi sel- sel saraf
yang mengendalikan gerakkan motorik, akibatnya bayi tumbuh dengan
sel saraf rusak dan menyebabkan otot menjadi kejang. Bayi dengan PVL
beresiko mengalami cerebral palsy, atau menugkoin masalah intelektual
(kesulitan belajar) (Proverawati dan Sulistyorini, 2010).
Hipotalamu juga berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh pada bayi. Janin
di dalam kandungan berada pada suhu 36oC sampai 37oC. segera setelah
bayi lahir dihadapkan pada suhu lingkungan yang lebih rendah.
Perbedaan suhu ini berpengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi.
Selain itu, hipotermi dapat terjadi karena kemampuan untuk
mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas
sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum memadai,
lemak subcutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf pengatur
suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan
dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas. (Pantiawati,
2010).
c. Gangguan Hepar
Fungsi hepar pada BBLR belum matang, hal ini mengakibatkan banyak
terjadinya hiperbilirubin pada BBLR. Ukuran hepar pada BBLR relatif
10
besar tetapi kurang berkembang, hal ini merupakan predisposisi
terjadinya hiperbilirubin akibat adanya ketidakmampuan untuk
melakukan konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum
sempurna (Maryunani, 2013). Bilirubin yang sudah terkonjugasi masuk
ke empedu dan dieksresikan ke usus. Di dalam usus terdapat flora usus
yang dapat merubah bilirubin direk menjadi urobilinogen. Tetapi pada
bayi baru lahir juga terdapat enzim B glukoronidase yang dapat merubah
sebagian bilirubin dan menyerapnya kembali kedalam darah yang
mengakibatkan bayi tampak kuning. Karena kadar bilirubin darah
semakin meningkat maka warna kuning pada bayi semakin terlihat jelas.
Awalnya wajah bayi tampak kuning, lalu dada, tungkai dan kaki juga
menjadi kuning.
d. Gangguan imunologik
BBLR lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan dengan bayi cukup
bulan. Antibodi tersusun dari protein, disebut juga sebagai immunoglobin
disingkat ig, suatu serum protein globulin. Antibodi akan menghancurkan
musuh-musuh penyerbu atau disebut juga antigen, seperti bakteri dan
virus penyebab penyakit, dengan cara mengikatkan diri pada antigen dan
menandai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri.
Selanjutnya sel pasukan dapat membedakan dan melumpuhkannya.Ada
lima jenis immunoglobulin, yaitu IgG, IgM, IgA, IgE, dan IgD. IgG
adalah antibodi yang paling banyak terdapat dalam darah, yaitu 80
persen. IgG mengikuti aliran darah, mempunyai efek kuat antibakteri,
melindungi tubuh terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam
dalam racun.Bayi premature relatif belum sanggup membentuk antibody
dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi belum baik. Karena
sistem kekebalan tubuh bayi BBLR belum matang. Bayi juga dapat
terkena infeksi saat lahir atau tertular infeksi ibu melalui plasenta
(Proverawati dan Sulistyorini, 2010).
e. Gangguan hematologik
Bayi baru lahirsering terjadi anemia fisiologik Anemia fisiologi BBLR
disebabkan oleh supresi eritropoesis pasca lahir, persediaan besi janin
11
yang sedikit serta bertambah besarnya volume darah sebagai akibat
pertumbuhan yang relatif lebih cepat, oleh karena itu anemia pada BBLR
terjadi lebih dini ( Proverawati dan Sulistyorini,2010).
f. Gangguan jantung
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kelainan fungsi jantung yang
sering terjadi pada BBLR. Kelainan jantung ini merupakan akibat dari
gangguan adaptasi intrauterine ke ekstrauterin. Pada masa kandungan,
duktus arteriousus bersama foramen ovale dan celah katup ventrikel
dipakai sebagai jalan pintas aliran darah. Darah di vena cava yang lebih
kaya oksigen akan melalui jalan pintas tersebut untuk sampai ke jaringan
tubuh janin. Sementara itu, paru yang belum berfungsi hanya sedikit
dilalui darah. Setelah bayi lahir, perubahan yang dialami adalah aliran
darah dan duktus arteriosus serta jalan pintas lainnya akan tertutup
(Maryunani. 2013) Gangguna fungsi Patent Ductus Arteriosus (PDA)
adalah kelainan fungsi jantung yang sering terjadi pada BBLR (Reeder,
dkk,2012).
g. Gangguan pencernaan
Saluran pencernaan pada bayi BBLR belum berfungsi sempurna
sehingga penyerapan makanan terjadi dengan lemah atau kurang baik.
Reflek hisap pada bayi BBLR juga jurang baik sehingga mengakibatkan
asupan nutrisi pada bayi BBLR kurang. Aktifitas otot pencernaan masih
belum sempurna, sehingga pengosongan lambung berkurang. Daya untuk
mencernakan, mengabsorbsi lemak, laktosa, vitamin yang larut dalam
lemak dan beberapa mineral tentu berkurang. Reflek menelan belum
sempurna sehingga memudahkan terjadinya aspirasi ( Maryunani, 2013).
h. Gangguan persarafan
Bayi dengan BBLR mempunyai resiko perdarahan intracranial atau
intracranial haemorrahge. Pada bayi premature akan sering terjadi
perdarahan subkonjungtiva, benjolan kepala dan sebagainya. Terdapat
juga pada bayi baru lahir petekhie dan ekhimosis, hal ini disebabkan
karena perdarahan intracranial yang jalannya tidak jelas, yang tampak
hanya dispnea, sianosis dan sebagainya. Perdarahan adalah sifat yang
12
khas pada premature, hal ini disebabkan karena hipoproteinemia dan
kapiler yang rapuh (Maryunani,2013).
8. Penatalaksanaan
a. Pengaturan suhu tubuh bayi
Pengaturan suhu tubuh bayi dengan menggunakan inkubator. Sebelum
memasukkan bayi kedalam inkubator, inkubator terlebih dahulu
dihangatkan sampai sekitar 29,4oC untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan
32,2oC untuk bayi yang lebih kecil. Bayi diletakkan dalam keadaan tidak
menggunakan baju, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi
dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, dan observasi terhadap pernafasan
lebih mudah. (Proverawati dan Ismawati, 2010).
Selain dengan inkubator, pengaturan suhu tubuh bayi juga dapat
dilakukan dengan perawatan metode kangguru. Metode kangguru tidak
hanya sekedar menggantikan peran inkubator, tetapi juga memberikan
keuntungan yang tidak dimiliki inkubator. Perawatan metode kangguru
merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang
paling mendasar yaitu kehangatan, ASI, perlindungan dari infeksi,
stimulasi, keselamatan dan kasih sayang. Perawatan metode kangguru
dikenal dengan sebutan skin to skin (Maryunani, 2013).
b. Pengaturan dan pengawasan intakenutrisi
Pengaturan dan pengawasan intake nutrisi dalam hal ini adalah
nmenentukan pilihan susu, cara pemberian dan jadwal pemberian yang
sesuai dengan kebutuhan bayi BBLR.
Air Susu Ibu (ASI) merupakan pilihan pertama jika bayi mampu
menghisap. ASI merupakan makanan yang paling utama, sehingga ASI
adalah pilihan yang harus didahulukan untuk diberikan. ASI juga dapat
diberikan pada bayi yang tidak mampu menghisap dengan cara ASI
diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan
memasangkan OGT kedalam lambung. Permulaan cairan yang diberikan
sekitar 200 cc/kgBB/hari. Jika ASI tidak ada atau tidak mencukupi, dapat
digunakan susu formula yang komposisinya mirip ASI atau susu formula
13
khusus bayi BBLR. Jadwal pemberian makanan disesuaikan dengan
kebutuhan berat badan bayi BBLR. Alat pencernaan bayi BBLR masih
belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3 sampai 5 gr/kbBB dan
kalori 110 gr/kgBB, sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Reflek
menghisap bayi masih lemah, sehingga pemberian minum sebaiknya
sedikit demi sedikit tetapi dengan frekuensi yang lebih sering.
c. Pencegahan infeksi
Infeksi adalah masuknya bibit penyakit atau kuman kedalam tubuh. Bayi
BBLR sangat mudah mendapat infeksi, terutama pada infeksi
nosokomial. Infeksi ini disebabkan oleh kadar immunoglobin yang
rendah. Infeksi lokal bayi capat menjalar menjadi infeksi umum. Tetapi
infeksi umum dapat dicegah dengan mengetahui tandanya seperti: malas
menyusu,gelisah, letargi, suhu tubuh meningkat. Frekuensi napas
meningkat, muntah, diare, dan berat badan mendadak turun.
14
sehingga dapat lahir dengan asfiksia perinatal. Bayi BBLR beresiko
mengalami serangan apnea dan defisiensi surfaktan, sehingga tidak dapat
memeperoleh oksigen yang cukup yang sebelumnya diperoleh dari
plasenta. Dalam kondisi seperti ini perlu pembersihan jalan nafas segera
setelah lahir, bayi dibaringkan pada posisi miring, merangsang
pernapasan dengan menepuk atau menjentik tumit. Bila tindakan ini
gagal, dilakukan ventilasi, intubasi endotrakeal, pijatan jantung dan
pemberian oksigen. Dengan tindakan ini dapat dicegah sekaligus
mengatasi asfisksia sehingga memperkecil kematian bayi BBLR
(Proverawati dan Ismawati, 2010).
15
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN BBLR
1. Pengkajian Keperawatan
Dalam melakukan pengkajian dasar dapat dikelompokkan menjadidata
subjektif dan data objektif, yang diuraikan sebagai berikut:
a. Data subjektif
1) Data yang menggambarkan hasil pengumpulan data klien
melalui anamesa danwawancara.
2) Data subjektif berisikan antara lain biodata, riwayat kesehatan,
persalinan dan nifas yang lalu, riwayat psikososial, dan pola
kehidupansehari-hari.
3) Khusus untuk bayi dengan BBLR data yang beresiko dan
berhubungan dengan terjadinya BBLR antaralain:
a) Riwayat kesehatan ibu : Usia ibu dibawah 16 tahun atau diatas 35
tahun, kurangnya nutrisi pada ibu dan tingkat pengetauan ibu
yangrendah).
b) Riwayat Antenatal:
(1) ibu hamil yang menderita anemia, malnutrisi hipertensi, DM,
penggunaan obat-obatan, merokok, konsumsi alcohol dll.
(2) Riwayat kehamilan kembar, jarak kehamilan yang dekat, abortus
sebelumnya, dan pemeriksaan kehamilan yang tidak kontiniu.
c) Riwayat Natal:
(1) Perdarahaan antepartum baik solusio plasenta maupun plsenta
previa.
(2) Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian
obat penenang (nakrose) yang dapat menekan sistem saraf pusat.
b. Data objektif
1) Data yang menggambarkan hasil pemeriksaan fisik klien, hasil
laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam
data fokus.
2) Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesuai dengan
kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan
khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi) pemeriksaan
16
penunjang (laboratorium, catatan baru dansebelumnya).
3) Pemeriksaan fisik bayi
Keadaan Umum
a) Keadaan bayi saat lahir: BB < 2500 gr, PB < 45 cm, LK 33 cm,
LD < 30cm.
b) Inspeksi:
(1) Kepala lebih besar daripada badan, ubun-ubun dan surtura
lebar.
(2) Lanugo banyak terdapat pada dahi, pelipis, telinga dan
tangan.
(3) Kulit tipis, transparan danmengkilap.
(4) Retraksi sternum daniga.
c) Palpasi:
(1) Hati mudahteraba.
(2) Limpa mudahteraba.
(3) Ginjal dapatdipalpasi.
(4) Daya isap lemah.
d) Auskultasi:
(1) Nadi lemah.
(2) Denyut jantung 140 – 150 x/menit.
Sistem Tubuh
a) Pernafasan
(1) Observasi pernafasan cuping hidung, bentuk dada (cekung,
cembung) kesimetrisan, frekuensi pernapasan (40-60
x/menit). Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan
gerakkan singkron dari dada dan abdomen.
(2) Auskultasi bunyi pernapasan: stridor, mengi, ronki,
mengorok.
b) Kardiovaskuler
(1) Observasi warna kulit bayi: sianosis, pucat, ikterik. Kaji
warna kuku, membrane mukosa danbibir.
(2) Gambarkan nadi perifer, CRT < 2 detik,mottling.
17
(3) Auskultasi frekuensi denyut jantung (120-160x/menit).
c) Gastrointestinal
(1) Tentukan distensi abdomen: lingkar perut bertambah, kulit
mengkilat tanda-tanda eritema dinding abdomen.
(2) Tentukan adanya regusitasi makanan dan waktu yang
berhubungan dengan pemberian makanan. Monitor jumlah,
warna, konsistensi, dan bau dari adanya muntah.
(3) Auskultasi bising usus (3-5x/menit).
d) Genitourinaria
(1) Bayi perempuan ditemukan klitorisnya menonjol, labia
mayora belum berkembang.
(2) Bayi laki-laki ditemukan skrotumnya menonjol.
(3) Berkemih setelah delapan jam kelahiran.
(4) Gambarkan jumlah urine (warna, pH,dll).
e) Neurologis-mukuloskeletal
(1) Observasi gerakkan bayi: acak, gelisah, kedutan, spontan,
menonjol, tingkat aktifitas denganstimulasi.
(2) Observasi posisi atau sikap bayi: fleksi, ekstensi.
(3) Periksa reflek yang diamati: moro, babinski, reflexplantar.
Neurologis
(1) Reflex gerakkan neurologis tampak tidak resisten, gerak
kembalinya hanya sebagian.
(2) Menelan, menghisap, dan batuk sangat lemah atau tidak
efektif.
(3) Suhu tubuh tidak stabil, biasanyahipotermi.
(4) Gemetar, kejang, dan mata berputar biasanya bersifat
sementara tetapi juga mengindikasikan kelainan neurologis.
Muskuloskeletal
(1) Tulang kartilago lembut danlunak.
(2) Tulang tengkorak dan tulang rusuk lunak.
(3) Gerakkan lemah dan tidak agresif. (Maryunani,2013)
18
4) Pemeriksaan diagnostic
a) Jumlah sel darah putih: 18.000/mm3 (N: 5.000-10.000)
netrofil meningkat sampai 23.000 – 24.000/mm3, hari
pertama setelah lahir (menurun bila adasepsis).
b) Hematokrit (Ht): 43%-61% (N: pria: 40-48, wanita: 37-43)
(peningkatan sampai 65% atau lebih menandakan
polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau
hemoragic prenatal/perinatal).
c) Hemoglobin (Hb): 15-20 gr/dl (N: 17-22 gr/dl) (kadar lebih
rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis
berlebihan).
d) Bilirubin total: 6mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8
mg/dl 1- 2 hari dan 12 mg/dl pada 3-5hari.
(Maryanti,dkk, 2011).
2. Diagnosa Keperawatan
a) Hipotermi b/d kegagalan mempertahankan suhu tubuh,
penurunan jaringan lemaksubkutan.
b) Ketidakefektifan pola menyusui b/d ketikmampuan bayi
dalam menyusui.
c) Ketidakefektifan pola nafas b/d imaturitas otot-otot
pernafasan dan penurunan ekspansi paru.
d) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d penumpukkan
secret pada jalan nafas.
e) Kekurangan volume cairan b/d kurangnya asupan cairan
kedalam tubuh.
f) Intoleransi aktifitas b/dkelemahan.
g) Resiko infeksi b/d pertahanan imunologis tidak adekuat.
h) Ikterus neonatus b/d bilirubin tak terkonjugasi dalam
sirkulasi. (NANDA,2015).
19
3. Intervensi Keperawatan
Moorhead, dkk (2013, edisi 5). Bulechek, dkk, (2013, edisi 6)
menjelaskan teori rencana keperawatan yang dapat dilakukan
untuk diagnosa keperawatan adalah :
20
Tabel 2.1: Intervensi Keperawatan Berat Bayi Lahir Rendah
21
b. Irama pernapasan (5: lahir dibawah
tidak menyimpang penghangat
darirentang normal) 6. Pertahankan kelembaban
c. Tekanan darah pada 50% atau lebih besar
sistolik (5: tidak dalam inkubator
menyimpang dari untuk
rentang normal) mencegah hilangnya
d. Tekanan darah panas
diastolic (5:
tidak menyimpang
darirentang normal)
3. Kontrol resiko :
hipotermia
a. Mengidentifikas i
faktor resiko
hipotermi (5:
tidak menyimpang
dari batas normal)
a. Mengidentifikas i
tanda gejala
hipotermi (5:
tidak menyimpang
dari batas normal)
b. Mengidentifikas i
kondisi yang
mempercepat
kehilangan panas(5:
tidak
menyimpang dari
batas normal)
22
ketikmampuan a. Intake nutrisi(5: tidak kebutuhan gizi klien
menerima nutrisi, menyimpang dari 2. Identifikasi adanya
imaturitas batasnormal) alergimakan
peristaltic b. Intake cairan 3. Tentukan apa yang
gastrointestina lewat mulut(5: menjadi preferensi
tidak menyimpang makanan bagiklien
dari batas 4. Tentukan jumlah kalori
normal) dan jenis nutrisi yang
c. Hidrasi(5: tidak dibutuhkan untuk
menyimpang dari memenuhi persyaratan
batasnormal) gizi
d. Haemoglobin(5: tidak 5. Monitor kalori dan
menyimpang dari asupanmakanan
batasnormal) 6. Monitor kecendrungan
e. Intake cairan terjadinya penurunan dan
intravena(5: tidak kenaikan berat badan.
menyimpang dari Konseling Laktasi
batasnormal) 1. Berikan informasi
mengenai manfaat
menyusui baik fisiologis
maupunpsikologis
2. Tentukan keingan dan
motivasi ibu untuk
kegiatan menyusui dan
juga persepsi mengenai
menyusui
3. Berikan materi
pendidikan sesuia
kebutuhan
4. Dorong kehadiran ibu
dikelas menyusui setelah
melahirkan, jika
memungkinkan
5. Bantu menjamin adanya
kelekatan bayi ke dada
dengan cara yangtepat
6. Monitor kemampuan bayi
untukmenghisap
7. Diskusikan kebutuhan
untuk isitrahat yang
cukup, hidrasi, dan diet
yangseimbang
PerawatanBayi
1. Monitor berat dan
panjangbayi
23
2. Monitor intake dan output
3. Berikan makanan pada
bayi sesuai dengan
perkembangan(ASI)
4. Kuatkan keterampilan
orangtua dalam
melakukan perawatan
khusus pada bayi
5. Informasikan orangtua
mengenai kondisi bayi
24
mengganggu upaya klien
untuk bernapas
7. Monitor kerusakkan kulit
terhadap adanya
gesekkan perangkat
oksigen
Monitor pernafasan
1. Monitor kecepatan,
irama, kedalaman dan
kesulitan bernafas
2. Catat pergerakkan dada,
catat ketidaksimetrisan,
penggunaan otot bantu
pernafasan.
3. Monitor suara nafas
tambahan seperti ngorok
danmengi
4. Monitor saturasi oksigen
pada klientersedasi
5. Palpasi kesimetrisan
ekspansiparu
6. Monitor nilai fungsi paru,
terutama kapasitas vital
paru, volume
inspirasimaksimal,
volume ekspirasi
maksimal selama 1 detik
(FEV1) danFEV1/FVC
sesuai data yang tersedia
7. Monitor secara ketat klien
yang beresiko tinggi
mengalami
ganguanrespirasi
8. Berikan bantuan
resusutasi jika
diperlukan
25
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
BBLR adalah berat bayi lahir kurang dari 2500 gram, keadaan
tersebut dapat berdampak banyak terhadap kondisi kesehatan bayi. BBLR
diklasifikasikan anataranya : BBLR dengan berat lahir 1500-2500 gram,
BBLSR dengan berat lahir 1000-1500 gram, dan BBLER dengan berat lahir
kurang dari 1000 gram. Persentase kejadian BBLR di Indonesia pada tahun
2013 ada sebanyak 10,2, di kota Padang tahun 2013 dipuskesmas Air Dingin
tercatat 82, 9% ibu melahirkan BBLR dengan kondisi anemia.
Beberapa faktor yang menyebabkan BBLR yaitu : faktor ibu, keadaan
sosial ekonomi, faktor janin dan faktor plasenta.Tanda dan gejala dari BBLR
yaitu : usia kehamilan sama atau kurang dari 37 minggu, berat badan sama
atau kurang dari 2500 gram, bentuk kepala relatif lebih besar dan abdomen
kempes, panjang badan sama atau kurang dari 45 cm, ubun-ubun besar,
jaringan lunak subkutan tipis, tonus otot lemah, verniks tidak ada, aktifitas
dan tangisan lemah, refleks hisap, batu dan menelan masih lemah atau tidak
efektif.
BBLR memiliki masalah beberapa masalah yang akan timbul pada
bayi, diantaranya pada: pengendalian suhu, sistem pernafasan, sistem
sirkulasi, sistem persyarafan, sistem pencernaan, sistem urinarius.
Kemungkinan diagnosa yang muncul pada BBLR adalah : Hipotermi b/d
kegagalan mempertahankan suhu tubuh, Ketidakefektifan pola menyusui b/d
ketidakmampuan bayi dalam menyusui, ketidakefektifan pola nafas b/d
imaturitas otot-otot pernafasan, letidakefektifan bersihan jalan nafas b/d
penumpukan sekret pada jalan nafas. Penatalaksaan pada BBLR adalah :
pengaturan suhu tubuh bayi, pengaturan dan pengawasan intake nutrisi,
pencegahan infeksi, penimbangan berat badan, dan pengawasan jalan nafas.
26
B. SARAN
Setelah mempelajari isi makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan
pembaca mengenai BBLR. Kepada petugas kesehatan untuk dapat
mengaplikasikannya dalam melakukan asuhan keperawatan pada BBLR.
Selain itu disarankan kepada mahasiswa keperawatan agar dapat membuat
makalah yang lebih sempurna dari makalah ini.
27
DAFTAR PUSTAKA
Amanda, Fathia. dkk. 2014. Karakteristik Ibu dan Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) di RSU Sundari Medan Tahun 2012. Jurnal Gizi, Kesehatan
Reproduksi dan Epidemiolog. Volume 2, No 6,
http://jurnal.usu.ac.id/index.php/gkre/article/view/514, 8 Januari 2017
Amrizal. 2015. Penanganan Berat Bayi Lahir Rendah. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI
http://googleweblight.com/?lite_url=http://jurnal.fk.unand.ac.id,
Maryanti, Dwi. Sujianti. Tri Budiarti. 2011. Buku Ajar Neonatus, Bayi, & Balita.
Jakarta: Trans Info Media.
Maryunani, Anik. 2013. Buku Saku Asuhan Bayi Dengan Berat Badan Lahir
28
Rendah. Jakarta: CV Trans Info Media
Mathindas, Stevry. dkk. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus. Jurnal
Biomedik. Volume 5, No 1,
http://download.portalgarudaorg/articlephp?article, 11 Juni 2017
Moorhead, Marion, dkk. 2013. Nursing Utcomes Classificatin (NOC) Five
Edition. USA: Elseiver.
Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jilid 1. Yogyakarta:
MediaAction Publishing.
Saputra, Reza Gusni. 2016. Perbedaan Kejaian Ikterus Neonatorum antara bayi
premature dan bayi cukup bulan pada bayi dengan BBLR di RS PKU
Muhammadiyah Surakarta. ejournal.com. Volume 9, No 1.
http://download.portalgarudaorg/articlephp?article/768/neonatus . 12 Juni
2017
29