Anda di halaman 1dari 22

BAB I

KONSEP MEDIS
A. Defenisi
Bayi prematur menurut WHO adalah bayi lahir hidup sebelum
usia kehamilan minggu ke-37 (dihitung dari pertama haid terakhir).
Bayi prematur/bayi preterm adalah bayi yang berumur kehamilan 37
minggu tanpa memperlihatkan berat badan (Mansjoer, 2000).
Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan
kurang atau sama dengan 37 minggu, tanpa memperhatikan berat badan
lahir (Wong, 2004).
Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelum minggu ke 37,
dihitung dari mulai hari pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai
periode kehamilan memendek.
Prematuritas murni ialah masa gestasinya kurang dari 37 minggu
dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk more gustasi
itu/biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai UK masa kehamilan.
Klasifikasi pada bayi prematur:
1. Bayi prematur digaris batas
a. 37 mg, masa gestasi
b. 2500 gr, 3250 gr
c. 16 % seluruh kelahiran hidup
d. Biasanya normal
e. Masalah :
1) Ketidak stabilan
2) Kesulitan menyusu
3) Ikterik
4) RDS mungkin muncul
f. Penampilan :
1) Lipatan pada kaki sedikit
2) Payudara lebih kecil
3) Lanugo banyak
4) Genitalia kurang berkembang
2. Bayi Prematur Sedang
a. 31 mg 36 gestasi
b. 1500 gr 2500 gram
c. 6 % - 7 % seluruh kelahiran hidup
d. Masalah :
1) Ketidak stabilan
2) Pengaturan glukosa
3) RDS
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

4) Ikterik
5) Anemia
6) Infeksi
7) Kesulitan menyusu
e. Penampilan :
1) Seperti pada bayi premature di garis batas tetapi lebih parah
2) Kulit lebih tipis, lebih banyak pembuluh darah yang tampak
3. Bayi Sangat Prematur
a. 24 mg 30 mg gestasi
b. 500 gr 1400 gr
c. 0,8 % seluruh kelahiran hidup
d. Masalah : semua
e. Penampilan :
1) Kecil tidak memiliki lemak
2) Kulit sangat tipis
3) Kedua mata mungkin berdempetan
Prematuritas bayi dapat digolongkan juga dari ringan, sedang,
dan ekstrim berdasarkan usia kehamilan dan berat lahir:
1. Prematur ringan: bayi yang lahir antara 33 dan 36 minggu kehamilan
(masa gestasi) dan/atau berat lahir antara 1500 2500 g
2. Prematur sedang: bayi yang lahir antara 28 dan 32 minggu
kehamilan dan/atau berat lahir berkisar antara 1000 1500 g
3. Prematur ekstrim: bayi yang lahir sebelum 28 minggu kehamilan
dan/atau berat lahir kurang dari 1000 g.
B. Etiologi
1. Faktor Maternal
Toksenia, hipertensi, malnutrisi/penyakit kronik, misalnya diabetes
mellitus kelahiran premature ini berkaitan dengan adanya kondisi
dimana uterus tidak mampu untuk menahan fetus, misalnya pada
pemisahan premature, pelepasan plasenta dan infark dari plasenta.
2. Faktor Fetal
Kelainan kromosomal (misalnya trisomi antosomal), fetus multi
ganda, cidera radiasi.
Faktor yang berhubungan dengan kelahiran prematur:
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

1. Kehamilan
a. Malformasi Uterus
b. Kehamilan ganda
c. TI. Servik Inkompeten
d. KPD
e. Pre eklamsia
f. Riwayat kelahiran premature
g. Kelainan Rh
2. Penyakit
a. Diabetes Maternal
b. Hipertensi Kronik
c. UTI
d. Penyakit akut lain
3. Sosial Ekonomi
a. Tidak melakukan perawatan prenatal
b. Status sosial ekonomi rendah
c. Mal nutrisi
d. Kehamilan remaja
Faktor Resiko Persalinan Prematur:
1. Resiko Demografik
a. Ras
b. Usia (> 40 tahun)
c. Status sosio ekonomi rendah
d. Belum menikah
e. Tingkat pendidikan rendah
2. Resiko Medis
a. Persalinan dan kelahiran premature sebelumnya
b. Abortus trimester kedua (lebih dari 2x abortus spontan atau
elektif)
c. Anomali uterus
d. Penyakit-penyakit medis (diabetes, hipertensi)
e. Resiko kehamilan saat ini:
Kehamilan multi janin, Hidramnion, kenaikan BB kecil,
masalah-masalah plasenta (misal: plasenta previa, solusio

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

plasenta), pembedahan abdomen, infeksi (misal: pielonefritis,


UTI), inkompetensia serviks, KPD, anomaly janin
3. Resiko Perilaku dan Lingkungan
a. Nutrisi buruk
b. Merokok (lebih dari 10 rokok sehari)
c. Penyalahgunaan alkohol dan zat lainnya (mis. kokain)
d. Jarang / tidak mendapat perawatan prenatal
4. Faktor Resiko Potensial
a. Stres
b. Iritabilitas uterus
c. Peristiwa yang mencetuskan kontraksi uterus
d. Perubahan serviks sebelum awitan persalinan
e. Ekspansi volume plasma yang tidak adekuat
f. Defisiensi progesterone
g. Infeksi
C. Patofisiologi
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor
resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang
disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12
minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari,
riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih
dari 2 kali.
Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion,
anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32
minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm pada
kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali,
riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada
kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor
resiko mayor atau bila ada 2 atau lebioh resiko minor atau bila
ditemukan keduanya.
Neonatus dengan maturitas pertumbuhan dan perkembangan tidak
dapat menghadapi kalau melalui peningkatan metabolisme. Sumber
utama kalori bila ada stress dingin/suhu lingkungan rendah. Rangsangan
dingin, tubuh bayi akan mengeluarkan norepinetuin yang menstimulasi
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

metabolisme lemak dari cadangan lemak cokelat untuk menghasilkan


kalori yang majemuk dibawa oleh darah ke janin. Peningkatan
metabolisme sebagai respon terhadap stress dingin akan meningkatkan
kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak dapat
memenuhi kebutuhan, tekanan oksigen berkurang (hipoksia) dan
keadaan ini akan menjadi lebih buruk karena volume paru menurun
akibat berkurangnnya oksigen adarah dan kelainan paru (paru yang
imatur). Keadaan ini dapat sedikit tertolong oleh haemoglobin fetal
(HGF) yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi dapat
bertahan lebih lama pada kondisi tekanan oksigen yang berkurang. Stres
dingin akan di respon oleh bayi dengan melepas noripenifrin yang
menyebabkan vasokontriksiparu. Akibatnya menurunkan keaktifan
ventilasi paru sehingga kadar oksigen darah berkurang ini menghambat
metabolisme glukosa dan menimbulkan glikolin anaerob yang
menyebabkan peningkatan asam laktat, kondisi bersamaan dengan
metabolisme

lemak

coklat

yang

menghasilkan

asam

sehingga

meningkatkan kontribusi terjadinya asidosis. Kegiatan metabolisme


anaerob menghisap glikogen lebih banyak daripada metabolisme aerob
sehingga mempercepat terjadinya hipoglikemia.
Termoregulasi bayi premature umumnya relative kurang mampu
untuk bertahan hidup karena struktur anatomi / fisiologi yang lebih
tuadan fungsi biokimianya kalsium seperti bayi yang lebih tua. Bayi
resiko tinggi lain juga dapat mengalami kesulitan yang sama karena
hambatan atau gangguan pada anatomi, fisiologi dan biokimia
berhubungan dengan adanya kelainan atau penyakit yang diderita.
D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala atau manifestasi klinis bayi prematur adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Berat lahir sama dengan atau kurang dari 2.500 gram.


Panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm.
Lingkaran dada kurang dari 30 cm.
Lingkaran kepala kurang dari 33 cm.
Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

6. Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, transparan,


lanugonya banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik
usus.
7. Tangisnya lemah dan jarang, pernafasan tidak teratur dan sering
timbul apnea.
8. Reflek tonik leher lemah dan refleks morro positif.
9. Alat kelamin pada bayi laki- laki pigmentasi dan rugae pada skrotum
kurang, testis belum turun kedalam skrotum. Untuk bayi perempuan
klitoris menonjol, labia minora belum tertutup labia mayora
10. Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannnya
lemah
11. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit.
12. Fungsi saraf yang belum atau kurang matang mengakibatkan refleks
hisap, menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif.
13. Tulang rawan dan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya
sehingga seolah- olah tidak teraba tulang rawan dan daun telinga.
14. Pergerakannya kurang dan masih lemah, pernapasan belum teratur
15. Otot-otot masih hipotonik
16. Pernapasan sekitar 45 sampai 50 kali per menit
17. Frekuensi nadi 100 sampai 140 kali per menit
18. Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea (gagal napas)
19. Kepala tidak mampu tegak.
E. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
1. Jumlah darah lengkap : Hb/Ht
2. Kalsium serum
3. Elektrolit (Na , K , U) : gol darah (ABO)
4. Gas Darah Arteri (GDA) : PO2 dan PCO2
F. Komplikasi
1. Sindrom Distress Pernafasan (RDS)
Terjadik karena pada stadium akhir akan terbentuk membran hialin
yang melapisi alveolus paru. RDS sering terdapat pada bayi pematur
karena pembentukan sulfaktan yang belum sempurna, dimana
jumlah dan bentuknya sempurna pada masa gestasi 36 minggu.
Tanda klinisnya: Mendengkur, nafas cuping hidung, retraksi,
sianosis, peningkatan usaha nafas, hiperkarbia, asiobsis respiratorik,
hipotensi dan syok
2. Aspirasi pneumonia
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

Keadaan ini disebabkan karena reflex menelan dan batu pada bayi
prematur belum sempurna.
3. Perdarahan intraventrikular
Perdarahan spontan pada ventrikle otak lateral, biasanya terjadi
bersamaan dengan terbentuknya membran hialin di paru-paru.
4. Displasin bronco pulmaner (BPD)
Akibat terapi oksigen, seperti perporasi dan inflamasi nasal, trakea,
dan faring.
5. Retinopati prematuritas (ROP)
Disebabkan gangguan oksigen yang berlebihan yang dikonsumsi
oleh bayi prematur
6. Hiperbilirubinemia
Keadaan ini disebabkan karena hepar pada bayi premature yang
belum matang sehingga kerja sirkulasi enterhepatik yang belum
sempurna.
7. Hipotermi/hipertermi
Karena system pengontrolan suhu belum stabil.
G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
b. Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang
cukup
d. Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan
antibiotik yang tepat
2. Tindakan Penanganan
a. Inkubator
Bayi prematur kekurangan lemak tubuh yang diperlukan untuk
mempertahankan suhu tubuh mereka, bahkan ketika dibungkus
dengan selimut. Oleh karena itu, inkubator diperlukan untuk
menjaga suhu bayi dalam kisaran normal. Inkubator terbuat dari
plastik transparan dengan pemanas ruang yang menjaga tubuh
bayi tetap hangat, mengurangi kemungkinan infeksi, dan
membatasi kehilangan air. Termometer kecil yang ditempel pada
kulit bayi memantau suhu tubuhnya setiap saat. Pada bayi kuning
(bayi dengan bilirubin tinggi), sebuah lampu neon biru terang
diletakkan di atas inkubator untuk membantu pengobatan.
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

Tabel : Suhu Inkubator sesuai dengan berat badan bayi.


Berat Badan (gram)
Suhu Inkubator (C)
1.000
35
1.500
34
2.000
33,5
2.500
33,2
3.000
33
4.000
32,5
b. Pemberian nutrisi
Bayi prematur memiliki kebutuhan gizi khusus karena mereka
tumbuh pada tingkat yang lebih cepat daripada bayi cukup bulan
dan sistem pencernaan mereka belum matang. ASI adalah
sumber nutrisi terbaik karena mengandung protein yang
membantu melawan infeksi dan meningkatkan pertumbuhan.
Namun, dalam kasus bayi prematur moderat dan ekstrim, bayi
masih terlalu muda untuk menyusu langsung dari payudara atau
botol. Sistem pencernaan mereka juga mungkin belum matang.
Kebanyakan bayi baru lahir prematur berusia di bawah 29
minggu diberi makan melalui intravena (infus), kateter atau
tabung. Setelah sistem pernapasan bayi stabil, barulah menyusui
dapat dilakukan.
c. Monitoring dan alarm
Denyut jantung, laju pernapasan, tekanan darah, dan suhu tubuh
bayi dicatat melalui berbagai bantalan atau manset di dada, kaki,
lengan atau bagian lain dari tubuh bayi. Bantalan dan manset
tersebut terhubung dengan kabel ke monitor yang menyerupai
layar televisi dan menampilkan berbagai angka. Jumlah oksigen
dalam darah juga dapat dipantau dengan alat yang disebut
oksimeter. Alarm peringatan berbunyi ketika terjadi hal-hal yang
menunjukkan keadaan darurat atau masalah lain yang perlu
perhatian segera.
d. Bantuan pernapasan

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

Pada bayi yang memerlukannya, bantuan pernapasan dapat


diberikan dengan salah satu alat berikut:
1) Endotracheal tube: tabung yang dipasang ke tenggorokan
bayi

untuk

memberikan

udara

hangat,

lembab

dan

beroksigen.
2) Ventilator atau respirator: mesin pernapasan yang terhubung
dengan pipa endotrakeal dan dapat memantau jumlah
oksigen, tekanan udara dan laju pernapasan.
3) Continuous Positive Airway Pressure( C PAP ): alat untuk
bayi yang dapat bernapas sendiri tetapi membutuhkan
bantuan untuk memasukkan udara ke paru-parunya.
4) Oxygen hood: kantung plastik bening yang ditempatkan di
atas kepala bayi dan melekat ke tabung yang memompa
oksigen ke bayi.

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1.

Riwayat kehamilan
a. Umur ibu dibawah 16 tahun dengan latar belakang pendidikan
rendah
b. Kehamilan kembar
c. Status sosial ekonomi, prenatal care tidak adekuat, nutrisi buruk
d. Kemungkinan penyakit genetic
e. Riwayat melahirkan premature
f. Infeksi seperti TORCH, penyakit menular seksual dan lain
sebagainya
g. Kondisi seperti toksemia, prematur rupture membran, abruptio
placenta dan prolaps umbilicus

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

h. Penyalahgunaaan obat, merokok, konsumsi kafeine dan alcohol


i. Golongan darah, faktor Rh, amniocentesis.
2. Status bayi baru lahir
a. Umur kehamilan antara 24 37 minggu, berat badan lahir rendah
atau besar masa kehamilan
b. Berat badan dibawah 2500 gram
c. Kurus, lemak subkutan minimal
d. Adanya kelainan fisik yang terlihat
e. APGAR skore 1 5 menit: 0 3 mengindikasikan distress berat,
4 6 menunjukkan disstres sedang dan 7 10 merupakan nilai
normal.
3. Kardiovaskular
a. Denyut jantung 120 160 x per menit pada sisi apikal dengan
irama teratur
b. Saat kelahiran, terdengar murmur
4. Gastrointestinal
a. Protruding abdomen
b. Keluaran mekonium setelah 12 jam
c. Kelemahan menghisap dan penurunan reflex
d. Pastikan anus tanpa/dengan abnormalitas kongenital
5. Integumen
a. Cyanosis, jaundice, mottling, kemerahan, atau kulit berwarna
kuning
b. Verniks caseosa sedikit dengan rambut lanugo di seluruh tubuh
c. Kurus
d. Edema general atau local
e. Kuku pendek
f. Kadang-kadang terdapat petechie atau ekimosis
6. Muskuloskeletal
a. Cartilago pada telinga belum sempurna
b. Tengkorak lunak
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

c. Keadaan rileks, inaktive atau lethargi


7. Neurologik
a. Refleks dan pergerakan pada test neurologik tanpa resistansi
b. Reflek menghisap, swalowing, gag reflek serta reflek batuk
lemah atau tidak efektif
c. Tidak ada atau minimalnya tanda neurologic
d. Mata masih tertutup pada bayi dengan umur kehamilan 25 26
minggu
e. Suhu tubuh yang tidak stabil : biasanya hipotermik
8. Pulmonary
a. Respiratory rate antara 40 60 x/menit dengan periode apnea
b. Respirasi irreguler dengan nasal flaring, grunting dan retraksi
(interkostal, suprasternal, substrenal)
c. Terdengar crakles pada auskultasi
9. Renal
a. Berkemih terjadi 8 jam setelah lahir
b. Kemungkinan ketidakmampuan mengekresikan sulution dalam
urine
10. Reproduksi
a. Perempuan: labia mayora belum menutupi klitoris sehingga
tampak menonjol
b. Laki-laki: testis belum turun secara sempurna ke kantong
skrotum, mungkin terdapat inguinal hernia.
11. Data penunjang
a. X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya
abnormalitas
b. Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ
c. Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa
d. Kadar

kalsium

serum,

penurunan

hipokalsemia

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

kadar

berarti

terjadi

e. Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada


prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia)
f. Kadar elektrolit, analisa gas darah, golongan darah, kultur darah,
urinalisis, analisis feses dan lain sebagainya.
B. Diagnosa Keperawatan
1.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan


perfusi ventilasi.

2.

Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan imaturitas pusat


pernafasan perkembangan otot, penurunan energi / kelelahan

3.

Gangguan termoregulator berhubungan dengan prematuritas atau


perubahan

suhu

lingkungan,

ketidak

mampuan

merasakan

dingin

berkeringat, sistem termoregulasi mencapai batas maksimal.


4.

Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen, zat besi, kalsium


dan kalori.
5.

Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan,


perubahan faktor pembekuan, ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia,
perpindahan elektrolit, peningkatan bilirubin).

6.

Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan


cairan berlebihan (kulit tipis, kurang lapisan lemak, peningkatan suhu
lingkungan, ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin).

7.

Resiko infeksi berhubungan dengan respon imun imatur, prosedur


invasif, pemajangan lingkungan (KPD, pemajangan transplasental).
C. Intervensi Keperawatan
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
perfusi ventilasi.
a. Tujuan dan kriteria hasil:
Mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal.
Menderita RDS minimal, dengann penuruna kerja pernapasan
dan tidak ada morbiditas. Bebas dari displasia bronkopulmonal.
b. Intervensi:
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

1) Perhatikan usia gestasi, berat badan, dan jenis kelamin.


Rasional: neonatus lahir sebelum gestasi mingu ke-30 dan /
atau berat badan kurang dari 1500 g beresiko tinggi terhadap
terjadinya RDS. Selain itu, pria 2 kali rentannya dari pada
wanita.
2) Kaji status pernafasan, perhatikan tanda-tanda disters
pernafasan.
Rasional: menandakan distres pernafasan
3) Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi,
catat kadar tiap jam, ubah sisi alat setiap 3-4 jam .
Rasional: memberika pemantaaun noninfasiv

konstan

terhadap kdar oksigen


4) Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati, sesuai
kebutuhan.
Rasional: mempertahankan kepatenan jalan nafas
5) Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai
indikasi berdasarkan protokol.
Rasional:
dehidrasi
merusak

kemampuan

untuk

membersihkan jalan nafas saat mukus menjadi kental..


6) Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis.
Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari PO2 rendah dan
tampak sampai ada sedikit lebih dari 3 g /dl penurunan Hb
pada darah erteri sentrl.
7) Pantau pemeriksaan laboratorium, dengan teta; grafik seri
GDA.
Rasional:

Hopoksemia.

Hiperkapnia,

dan

asisdosis

menurunkan produksi surfaktan kadar pao2 harus 50-70


mmhg atau lebih tinngi, kadar paco2 haru 35-45mmhg, dan
saturasi oksigen harus 92%-94%.
8) Berikan oksigen sesuai kebutuhan
Rasional: imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan
ventilasi untuk mempertahankan pernapasn.
9) Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian.
Rasional: kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan
dari IPPB dan PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan
bayi pada displasia bronkopulmunal.
10) Berikan obat-obatan sesui indikasi:
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

a) Natrrium bikarbonat.
Rasional: Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati
dapat mengembalikan ph ke dalam rentang normal.
b) Surfaktan(artifisial atau eksogen).
Rasional: Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah
diagnosis RDS untuk menurunkan beratnya kondisi dan
komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai
72 jam.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan imaturitas pusat
pernafasan perkembangan otot, penurunan energi / kelelahan
a. Tujuan dan kriteria hasil:
Mempertahankan pola pernafasan periodik ( periode apenik
berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek ventilasi cepat).
Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung
DBN.
b. Intervensi:
1) Kaji frekuensi pernafasan, pola dan kedalaman pernafasan.
Rasional: membantu dalam memberikan periode perputaran
pernfasan normal dari serangan apneik sejati, yang terutama
sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30.
2) Bersihkan jalan nafas bagian atas dan bawah dengan cara
penghisapan atau suction sesuai kebutuhan.
Rasional: Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan
napas.
3) Hindari hiperekstensi leher.
Rasional: untuk mengurangi diameter trakea
4) Pertahankan suhu tubuh optimal
Rasional: Sedikit peningkatan atau penurunn

suhu

lingkungan dapat menimbulkan apnea.


5) Berikan rangsangan taktil yang segera. (mis, gosokan
punggung bayi) bila terjadi apnea. Perhatikan adanya
sianosis, bradikardi, atau hipotonia.
Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan
tubuh dan kembalinya pernafasan spontan.
6) Perhatikan kepatenan jalan napas.
Rasional: mencegah terjadinya sesak berulang.
7) Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

Rasional:

hipoksia,

asidosis

metabolik,

hiperkapnia,

hipoglekimia, hipokalsemia,dan sepsis dapat memperberat


serangan apneik.
8) Berikan oksigen sesuai kebutuhan
Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat
meningkatkan pernfasan.
9) Berikan obat-obatan, sesuai indikasi:
c) Natrium bikarbonat.
Rasional: memperbaiki asidosis.
d) Antibiotik.
Rasional: mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis.
e) Kalsium glikonat.
Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada
apnea.
f) Aminoflin.
Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan
menurunkan

sensitifitas

terhadap

karbondiosida,

menurunkan frekuensi apnea.


g) Pankuronium bromida (pavulon).
Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang
mungkin perlu bila bayi scra mekanis terventilasi.
h) Larutan glukosa.
Rasional: mencegah hipoglikemia. (Rujuk pada DK:
nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh,
resikotinggi terhadap).
3. Gangguan termoregulator berhubungan dengan perkembangan SSP
imatur, ketidak mampuan merasakan dingin berkeringat
a. Tujuan dan kriteria hasil:
Mempertahankan suhu kulit /aksila dalam batas normal, bebas
dari tanda-tanda stres dimgin.
b. Intervensi:
1) Kaji suhu dengan sering.
Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres
dingin.
2) Gunakan lampu pemanas selama prosedur.
Rasional; menurunkan kehilangan panas pada lingkungan
yang lebih dingin dari ruangan.

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

3) Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan


pagar isolette yang tidak semestinya.
Rasional:
menurunkan
kehilangan

panas

karena

konveksi/konduksi.
4) Ganti pakaian atau linen tempat bila basah.
Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi.
5) Pantau system pengatur suhu, penyebar hangat, atau
incubator. (pertahankan batas atas pada bayi 98,6 oF,
tergantung pada ukuran atau usia bayi).
Rasional: hipertemie akibat peningkatan

pada

laju

metabolisme, kebutuhan oksigen dan glukosa dan kehilangan


air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang
dapat dikontrol, terlalu tinggi.
6) Kaji haluaran dan berat jenis urin.
Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis
urin di hubungkan dengan penurunan perfusi ginjal
selama periode stres dingin.
7) Pantau penambahan berat badan berturut-turut.
Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan
meskipun masukan kalori tidak adekuat dapat menandakan
bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh,
memerlukan penngkatan suhu lingkungan.
8) Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi terhadap
suhu rendah di dalam inkubator, atau pada suhu ruangan,
saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat
Rasional: .alat buain dapat di gunakan bila bayi dapat
memperthankan suhu tubuh stabil 97,7 F dalam udara
ruangan dan dapat meningkatkan berat badan.
9) Perhatikan perkembangan takikardia, warna kemerahan,
diaforesis, letarge,apnea, koma atau aktifitas kejang.
Rassional: tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar
dari 99 F( 37,2 C).
10) Berikan obat-obatan, sesuai indikasi :
a) Fenobarbital.

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

Rasional:

Membantu

mencegah

kejang

berkenaan

dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan oleh


hipertermia.
b) Natrium bikarbonat
Rasional: Memperbaiki asidosis, yang dapat terjadi pada
hipotermia dan hipertermia.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen, zat besi,


kalsium dam kalori.
a. Tujuan dan kriteria hasil:
Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva
normal, dengan penambahan BB tetap sedikitnya 20-30 g/hari.
Mempertahankan glukosa serum DBN dan keseimbangan
nitrogen positif.
b. Intervensi:
1) Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan
Rasional: Menentukan metode pemberian makan yang tepat
untuk bayi.
2) Observasi pola bayi dan kebutuhan nutrisi bayi.
Rasional: mengetahui cara pemberian nutrisi yang baik dan
sesuai.
3) Auskultasi terhadap adanya bising usus.
Rasioanal: Pemberian makan pertama pada bayi stabil yang
memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam setelah
kelahiran..
4) Beri makanan PASI sesuai kebutuhan tubuh melalui selang
OGT.
Rasional: Pemberian makan perselang mungkin perlu untuk
memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi yang telah
mengalami koordinasi menghisap yang buruk dan refleks
menelan atau yang menjadi lebih selama pemberian makan.
5) Perhatikan selang pemberian makan pada bayi, gunakn
prosedur pengkleman yang tepat untuk mencegah masuknya
udara kedalam lambung.
Rasional: Pemasangan selang pada trakea yang tidak tepat
dapat menurunkan fungsi pernapasan.
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

6) Masukan ASI/formula dengan perlahan selama 20 menit pada


kecepatan 1 ml/menit
Rasional: Pemasukan makanan kedalam lambung yang
terlalu cepat dapat menyebabkan respons balik cepat
regurgitasi,

peningkatan

resiko

aspirasi,

dan

distensi

abdomen, semua ini menurunkan status pernapasan.


7) Penuhi kebutuhan menghisap pada bayi

dengan

menggunakan dot selama pemberian makan perselang.


Rasional: Memberikan kepuasaan oral sehingga bayi
menghubungkan kepuasaan diri dalam menghisap dengan
kenyamanan dari pengisian lambung.
8) Timbang berat badan bayi setiap hari.
Rasional: untuk melihat perkembangan bayi.
9) Bersihkan mulut bayi setiap selesai pemberian nutrisi.
Rasional: menjaga kebersihan bayi.
10) Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral.
Rasional: ketentuan dukungan nutrisi di dasarkan pada
perkiraan kebutuhan bayi.
11) Pantau pemeriksaan laboratorium; mis, glukosa serum,
elektrolit, protein total.
Rasional: Mengukur ketepatan NPT
5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan berlebihan (kulit tipis, kurang lapisan lemak, peningkatan
suhu lingkungan, ginjal imatur/kegagalan untuk mengkonsentrasikan
urin).
a. Tujuan dan kriteria hasil:
Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan
cairan sama dengan haluaran dan pH, Ht, dan berat jenis urin
DBN. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari.
b. Intervensi:
1) Kaji dan bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap
shift dan keseimbangan kumulatif setiap periode 24 jam.
Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam, sementara
kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada hari
pertama kehidupan, meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari
pada hari ke-3 pasca kelahiran.

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

2) Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih, atau setiap 24 jam.
Rasional; Kadar yang rendah menandakan volume cairan
berlebihan.
3) Pantau tekanan darah (TD), nadi, dan tekanan arterial rerata
(TAR)
Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan
syok dengan TAR <25 mmHg menandakan hipotensi
4) Evaluasi turgor kulit, membran mukosa, keadaan fontanel
anterior
Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm.
Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan
cepat menimbulkan dehidrasi, terlihat oleh turgor kulit yang
buruk, membran mukosa kering, dan fontanel cekung.
5) Perhatikan letargi, menangis dengan nada tinggi, distensi
abdomen, peningkatan apnea, kedutan, hipotonia, atau
aktivitas kejang.
Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia, yang
paling mungkin terjadi selama 10 hari pertama kehidupan.
6) Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam.
Perhatikan

edema

atau

kegagalan

masuknya

cairan.

Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi


cairan atau plester terlalu ketat.
7) Berikan kalium klorida, kalsium glukonat 10%, dan
magnesium sulfat 50%, sesuai indikasi.
Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu
untuk mempertahankan atau mencapai homeostasis.
8) Berikan transfusi darah.
Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar
Ht/Hb optimal dan menggantikan kehilangan darah.
9) Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi (kalsium
serum dan magnesium serum).
Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar
kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan rendah, depresi
rangsang paratiroid, dan stress karena hipoksia, sepsis, atau
hipoglikemia. Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia.
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

10) Berikan infus parenteral sesuai kebutuhan


Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah,
membantu mengembalikan vasokonstriksi berkenaan dengan
hipoksia, asidosis, dan pirau kanan kekiri melalui PDA, dan
telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis
nekrotisan dan displasia bronkopulmonal.
6. Resiko infeksi berhubungan dengan respon imun imatur, prosedur
invasif, pemajangan lingkungan (KPD, pemajangan transplasental).
a. Tujuan dan kriteria hasil:
Mempertahankan serum negatif, CSS, urin, dan kultur
nasofaringeal dengan hitung darah lengkap, trombosit, kadar pH,
dan tanda vital DBN.
b. Intervensi:
Mandiri
1) Tinjau ulang catatan kelahiran.
Rasional: Faktor-faktor maternal seperti KPD dengan
persalinan dan kelahiran praterm kemungkinan disebabkan
oleh proses infeksi asenden.
2) Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi dan faktor yang dapat
membawa infeksi.
Rasional: membantu menentukan interbensi selanjutnya.
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.
Rasional: Mencuci tangan adalah praktik yang paling
penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol
infeksi dakam ruang perawatan.
4) Lakukan perawatan tali pusat dengan bersih.
Rasional: membantu mencegah kolonisasi
5) Batasi kontak langsung dengan bayi.
Rasional: meminimalkan terjadinya infeksi.
6) Ciptakan lingkungan yang bersih dan sterilkan alat-alat
secara teratur.
Rasional: lingkungan yang bersih mendorong bayi yaman
dan terhindar dari resiko infeksi.
7) Pantau bayi terhadap tanda-tanda awitan lanjut penyakit atau
infeksi.
Rasional: Awitan lanjut penyakit dapat terjadi dapat terjadi
secepat-cepatnya pada hari kelima, tetapi ini biasanya terjadi
setelah minggu pertama kehidupan.
Laporan Pendahuluan Bayi Premature
Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

8) Berikan ASI untuk pemberian makan, bila tersedia.


Rasional: ASI mengandung IgA, makrofag, limfosit, dan
netrofil, yang memberikan beberapa perlindungan dari
infeksi.
9) Pantau pemeriksaan laboratorium sesui indikasi :
a) Seri jumlah SDM dan diferensia.
Rasional: prematuria menurunkan respon imun pada
infeksi. Jumlah SDP pada bayi praterm bervariasi dari
6.000 sampai 225.000/mm3 dan dapat berubah dari hari
ke hari, membatasi reabilitas diagnostic. Peningkatan
nyata atau tiba-tiba atau penurunan SDP atau sel pita
menandakan infeksi.
b) Jumlah trombosit
Rasional : sepsis menyebabkan jumlah trombosit
menurun, tetapi pada bayi praterm, rentang trombosit
normal mungkin hanya 60.000 (pada 3 hari pertama)
sampai 100.000/mm3
c) Glukosa dan kadar PH serum
Rasional ; hipoglikemi, hiperglikemi atau asodisis
metabolic ( dengan kadar bikarbonat kurang dari 21
mEq/L ) menandakan infeksi.
10) Berikan antibiotic secara intravena berdasarkan laporan
sensitivitas.
Rasional:

antibiotic

spectrum

luas

membantu

mengembangkan resitensi strain bakteri, dan mengubah flora


normal bayi baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, L.J. 2004. Buku Ajar Keperawatan Anak. Ed.4. Jakarta:EGC.
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2.
Jakarta: EGC.

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)

Corwin, J. Elizabeth. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.


Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse. 2001. Rencana Asuhan
Keperawatan. Ed.3. Jakarta: EGC.
Lynda Juall Carpenito. 2010. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Ed.13.
Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Ed.3. Jilid.1. Cet.1;
Jakarta: Media Aesculapius.
Novita Regina. 2011. Keperawatan Maternitas. Bogor:Ghalia Indonesia.
Saccharin, Rossa M. 2004. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Ed. 2. Jakarta:
EGC.
Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
EGC.

Laporan Pendahuluan Bayi Premature


Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angk. IX
Fatmawati S.Kep (70900115008)