Anda di halaman 1dari 19

BAB I

KONSEP MEDIS
A. Defenisi
Kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang berisi
cairan atau benda seperti bubur (Dewa, 2000). Kista adalah kantong berisi
cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana saja dan jenisnya
bermacam-macam (Jacoeb, 2007). Kista termasuk tumor jinak yang
terbungkus selaput semacam jaringan. Kumpulan sel-sel tumor itu terpisah
dengan jaringan normal di sekitarnya dan tidak dapat menyebar ke bagian
tubuh lain. Itulah sebabnya tumor jinak relatif mudah diangkat dengan jalan
pembedahan, dan tidak membahayakan kesehatan penderitanya.
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada
ovarium yang membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional
adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus
mentsruasi (Lowdermilk, dkk. 2005: 273)
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal,
folikel de graf atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat
pertumbuhan dari epithelium ovarium ( Smelzer and Bare. 2002 : 1556 ).
Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada
indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh
semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium (Agusfarly,
2008).
Kista ovarium merupakan salah satu tumor jinak ginekologi yang
paling sering dijumpai pada wanita di masa reproduksinya. Sebagian besar
kista terbentuk karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus
haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium. Kista ovarium adalah
benjolan yang membesar, seperti balon yang berisi cairan yang tumbuh di
indung telur. Kista tersebut disebut juga kista fungsional karena terbentuk
selama siklus menstruasi normal atau setelah telur dilepaskan sewaktu
ovulasi. (Yatim, 2005).
Klasifikasi kista ovarium dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Kista ovarium Non neoplastik (fungsional)

Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri


setelah 2 hingga 3 bulan
a. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak sampai berevolusi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel
primer yang setelah tumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak
mengalami atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista.
(Prawirohardjo, 2002). Kista folikel adalah struktur normal, fisiologis,
sementara dan seringkali multiple, yang berasal dari kegagalan
resorbsi cairan folikel dari yang tidak berkembang sempurna. Paling
sering terjadi pada wanita muda yang masih menstruasi dan
merupakan kista yang paling lazim dijumpai oleh ovarium normal.
b. Kista korpus Luteum
Dalam keadaan normal korpus luteum akan mengecil dan menjadi
korpus albikans. Terkadang korpus lutem akan mempertahankan diri
(korpus luteum persistens), perdarahan yang sering terjadi di
dalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang berwarna
merah coklat karena darah tua. Dinding kista terdiri atas lapisan
berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel
teka. Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa
amenore diikuti oleh perdarahan tidak teratur. Adanya kista dapat juga
menyebabkan rasa berat di perut bagian bawah dan perdarahan yang
berulang dalam kista dapat menyebabkan ruptur.
c. Korpus Teka Lutein
Kista ini dapat terjadi pda kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan.
Kista lutein yang sesungguhnya, umumnya berasal dari korpus luteum
hematoma. Kista teka lutein biasanya bilateral, kecil dan lebih jarang
dibanding kista folikel atau kista korpus luteum. Kista teka lutein diisi
oleh cairan berwarna kekuning-kuningan, seacar perlahan-lahan
terjadi reabsorpsi dari unsur-unsur darah, sehingga akhirnya
tinggallah cairan yang jernih atau sedikit bercampur darah. Pada saat

yang sama dibentuklah jaringan fibroblast pada bagian lapisan lutein


sehingga pada kista teka ltein yang tua, sel-sel lutein terbenam dalam
jaringan-jaringan perut. (Wiknojosastro,2005).
2. Kista ovarium Neoplastik
Kista neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung
pada ukuran dan sifatnya.
a. Kistoma Ovarii Simpleks
Kistoma ovarii simpleks adalah kista yang permukaannya rata dan
halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi
besar. Dinding kista tipis berisi cairan jernih yang serosa dan berwarna
kuning.
b. Kistadenoma Ovarii Muscinosum
Bentuk kista multilokular dan biasanya unilatelar, dapat tumbuh
menjadi sangat besar. Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista
dan perubahan degeneratif sehingga timbul perlengketan kista dengan
omentum, usus, dan peritonem parietale. Kista ini berasal dari
teratoma. Selain itu, bisa terjadi ileus karena perlekatan dan produksi
musim yang terus bertambah akibat pseudomiksoma peritonei.
c. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini berasal dari epitel germinativum. Bentuk kistanya unilokular,
bila multilokular perlu dicurigai adanya keganasan. Kista ini dapat
membesar, tetapi tidak sebesar musinosum. Selain teraba massa
intraabdominal juga dapat timbul asites.
d. Kista Dermoid
Kista dermoid adalah teratoma kistik jinak dengan struktur ektodermal
berdiferensiasi sempurna dan lebih menonjol daripada mesoderm dan
entoderm. Dinding kista keabu-abuan dan agak tipis, konsistensi
sebagian kistik kenyal dan sebagian lagi padat. Dapat terjadi
perubahan kearah keganasan, seperti karsinoma epidermoid. Kista ini
diduga berasal dari sel telut melalui proses partenogenesis. (Smeltzer,
2002).

B. Etiologi
Sampai sekarang ini penyebab terjadinya kista ovarium belum
sepenuhnya di mengerti, tetapi beberapa teori menyebabkan adanya gangguan
dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovarium
hipotalamus. Beberapa dari literature menyatakan bahwa penyebab
terbentuknya kista pada ovarium adalah gagalnya sel telur ( folikel ) untuk
berovulasi. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal dalam
melepaskan sel telur, karena itu terbentuk kista di dalam ovarium.
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti tapi ada beberapa
faktor pemicu yaitu :
1. Gaya hidup tidak sehat. Diantaranya :
a. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
b. Zat tambahan pada makanan
c. Kurang olah raga
d. Merokok dan konsumsi alcohol
e. Terpapar denga polusi dan agen infeksius
f. Sering stress
g. Zat polutan
2. Faktor genetic
Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker,
yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya
karena makanan yang bersifat karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia
tertentuatau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi
onkogen, yaitu gen pemicu kanker.
C. Patofisiologi
Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah hormone dan
kegagalan pembentukan salah satu hormone tersebut bisa mempengaruhi
fungsi ovarium. Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh
wanita tidak menghasilkan hormone hipofisa dalam jumlah yang tepat.
Fungsi ovarium yang abnormal kadang menyebabkan penimbunan
folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel
tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur,
terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium karena itu terbentuk kista
di dalam ovarium.
Setiap hari ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut folikel de graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan

diameter lebih dari 2.8cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture
akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5-2
cm dengan kista di tengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit,
korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif.
Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar
kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional
dan selalu jinak. Kista dapat berupa kista folikural dan luteal yang kadangkadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh
gonadotropin, termasuik FSH dan HCG. Kista fungsional multiple dapat
terbentuk

karena

stimulasi

gonadotropin

atausensitivitas

terhadap

gonadotropin yang berlebih. Kista folikel dan luteal, kelainan yang tidak
berbahaya ini berasal dari folikel de graaf yang tidak pecah atau folikel yang
sudah pecah dan segera menutup kembali. Kista demikian seringnya adalah
multipel dan timbul langsung di bawah lapisan serosa yang menutupi
ovarium, biasanya kecil, dengan diameter 1- 1,5 cm dan berisi cairan serosa
yang bening, tetapi ada kalanya penimbunan cairan cukup banyak sampai
mencapai diameter 4-5 cm, sehingga teraba massa dan menimbulkan sakit
pada daerah pelvis.
Pada neoplasia

tropoblastik

gestasional

(hydatidiform

mole

danchoriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan


diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien
dalam terapi infertilitas,induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin
(FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan
sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG.
Kista neopalasia dapat tumbuh dari prolifelasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia
yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh
ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan
sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan
keganasan ni adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas
yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel

granulosa dari sec cord sel dan germ cel tumor dari germa sel primordial.
Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan
germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.
D. Tanda dan Gejala
Kebayakan kista

ovarium

tidak

menunjukan

tanda

dan

gejala. Sebagian besar gejala yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan


aktivitas hormone atau komplikasi tumor tersebut. Kebanyakan wanita
dengan kanker ovarium tidak menimbulakan gejala dalam waktu yang lama.
Gejala umumnya sangat berfariasi dan tidak spesifik.
Tanda dan gejala yang sering muncul pada kista ovarium antara lain :
a. Menstruasi yang tidak teratur, disertai nyeri.
b. Perasaan penuh dan dtertekan diperut bagian bawah.
c. Nyeri saat bersenggama.
d. Perdarahan.
Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:
a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum mungkin terjadi konstipasi atau sering
berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang
menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
d. Nyeri saat bersenggama.
Pada stadium lanjut :
a.Asites
b.
Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta oran organ di dalam
rongga perut (usus dan hati)
c.Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan,
d.
Gangguan buang air besar dan kecil.
e.Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.
E. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada tumor ovarium yaitu:
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor
berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan silat-sifat tumor
itu.
2. Ultrasonografi (USG)

Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor
kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga
perut yang bebas dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.
Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam
tumor. Penggunaan foto rontgen pada pictogram intravena dan
pemasukan bubur barium dalam colon disebut di atas.
4. Parasentesis
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab asites.
Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan cavum
peritonei dengan kista bila dinding kista tertusuk.
5. Pap smear
Untuk mengetahui displosia seluler menunjukan kemungkinan adaya
kanker/kista.
6. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menununjukan anemia kronis sementara penurunan
Ht

menduga

kehilangan

darah

aktif,

peningkatan

SDP

dapat

mengindikasikan proses inflamasi / infeksi. ( Doenges. 2000:743 ).


F. Komplikasi
Komplikasi komplikasi yang daPat terjadi pada kista ovarium adalah :
1. Perdarahan kedalam kista, biasanya terjadi sedikit-sedikit sehingga
berangsur-angsur menyebabkan pembesaran kista dan menimbulkan
gejala-gejala klinik minimal. Akan tetapi apabila perdarahan terjadi
sekonyong-konyong dalam jumlah yang banyak akan terjadi distensi
cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.
2. Putaran tangkai, dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5
cm atau lebih. Putaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi
meskipun gangguan ini jarang bersifat total.

3. Robek dinding kista, terjadi pada torsi tangkai akan tetapi dapat pula
sebagai akibat trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut,dan lebih
sering pada waktu persetubuhan.
4. Infeksi pada tumor
Menimbulkan gejala: badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu
aktifitas sehari-hari.
5. Keganasan kista ovarium
Terjadi pada kista pada usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45
tahun. .( Wiknjosatro, H. 2007 hal 348 ).

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Mengurangi Nyeri
b. Kolaborasi dalam pemberian analgetik, mencegah syok dan sinkope
akibat nyeri yang luar biasa. Tindakan mandiri perawat yang bisa
mengurangi nyeri yaitu tehnik distraksi dan relaksasi.
c. Penyuluhan pasien tentang pentingnya tehnik aseptik dalam merawat
luka di rumah
d. Mencegah kekurangan volume Cairan
e. Mempertahankan integritas kulit
f. Memberikan nutrisi yang adekuat
g. Mengurangi ansietas
2. Penatalaksanaan medis
a. Pengangkatan kista ovarium
Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui
tindakan bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi
salpingooforektomi.
b. Kontrasepsi oral
Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium
dan menghilangkan kista.
c. Perawatan pasca operasi
Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista
ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan
abdomen dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen
yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya

mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah
dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.
d. Tindakan keperawatan
Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang
pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan
kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik
relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan
terjadi seperti tanda tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi.
e. Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas
ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian
ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi jika tumornya besar
atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya
disertai

dengan

pengangkatan

tuba

(Salpingo-oovorektomi).

(Wiknjosastro, et.all, 1999).


f. Asuhan post operatif
Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang
mencakup keputusan untuk melakukan operasi, seperti hemorargi atau
infeksi. Pengkajian dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda vital,
asupan dan keluaran, rasa sakit dan insisi. Terapi intravena, antibiotik
dan analgesik biasanya diresepkan. Intervensi mencakup tindakan
pemberiaan rasa aman, perhatian terhadap eliminasi, penurunan rasa
sakit dan pemenuhan kebutuhan emosional Ibu. (Hlamylton, 1995).
H. Prognosis
Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut
dapat

tumbuh

di

jaringan

sisa

ovarium

atau

di

ovarium

kontralateral. Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas


berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan
pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam
stadium akhir. Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata
41.6%, bervariasi antara 86.9% untuk stadium FIGO Ia dan 11.1%
untuk stadium IV. Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan
hidup 82% sedangakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari
kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk. Sebagian

besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal


memiliki prognosis yang sangat baik.. Secara keseluruhan angka
bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86.2% (william, 2005)

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, agama dan alamat, serta data penanggung jawab
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit
Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa di
daerah abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan klien adalah nyeri pada daerah abdomen
bawah, ada pembengkakan pada daerah perut, menstruasi yang tidak
berhenti, rasa mual dan muntah.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya tidak ada keluhan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
d. Riwayat perkawinan
Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap timbulnya
kista ovarium.
4. Riwayat kehamilan dan persalinan
Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi untuk
tumbuh/tidaknya suatu kista ovarium.
5. Riwayat menstruasi
Klien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan
bahkan sampai amenorhea.
6. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara sistematis.
a. Kepala
1) Hygiene rambut
2) Keadaan rambut
b. Mata

1) Sklera
: ikterik/tidak
2) Konjungtiva
: anemis/tidak
3) Mata
: simetris/tidak
c. Leher
1) Pembengkakan kelenjer tyroid
2) Tekanan vena jugolaris.
d. Dada
1) Pernapasan
a) Jenis pernapasan
b) Bunyi napas
c) Penarikan sela iga
e. Abdomen
1) Nyeri tekan pada abdomen.
2) Teraba massa pada abdomen.
f. Ekstremitas
1) Nyeri panggul saat beraktivitas.
2) Tidak ada kelemahan.
g. Eliminasi, urinasi
1) Adanya konstipasi
2) Susah BAK
7. Data Sosial Ekonomi
Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dan berbagai
tingkat umur, baik sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
8. Data Spritual
Klien
menjalankan
kegiatan
keagamaannya
sesuai
dengan
kepercayaannya.
9. Data Psikologis
Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita, dimana ovarium
sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari ovarium tersebut
sementara pada klien dengan kista ovarium yang ovariumnya diangkat
maka hal ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil/punya
keturunan.
10. Pola kebiasaan Sehari-hari
Biasanya klien dengan kista ovarium mengalami gangguan dalam
aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
11. Pemeriksaan Penunjang
Data laboratorium
a. Pemeriksaan Hb
b. Ultrasonografi (Untuk mengetahui letak batas kista)
B. Diagnosa Keperawatan

Adapun diagnosa keperawatan yang dapat timbul untuk kanker ovarium yaitu
sebagai berikut:
1. Preoperasi
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses penyakit
(penekanan/kompresi) jaringan pada organ ruang abdomen.
b. Gangguan eliminasi urinarius, perubahan/retensi berhubungan dengan
adanya edema pada jaringan lokal.
c. Cemas berhubungan dengan diagnosis dan rencana pembedahan
2. Post operasi
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan luka post operasi
b. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif dan pembedahan
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan imobilitas (nyeri paska
pembedahan)
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah
kulit (jaringan, perubahan sirkulasi).
C. Intervensi Keperawatan
1. Preoperasi
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses penyakit
(penekanan/kompresi) jaringan pada organ ruang abdomen.
Tujuan : Rasa nyeri klien hilang/ berkurang
Kriteria hasil:
a. Klien tidak mengeluh nyeri / nyeri berkurang
b. TTV normal
c. Menunjukkan nyeri berkurang/terkontrol
d. Menunjukkan ekspresi wajah/postur tubuh rileks
e. Berpartisipasi dalam aktivitas dan tidur/istirahat dengan tepat
f. Skala nyeri 0 dari skala nyeri 0-10.
Intervensi :
a. Kaji penyebab nyeri
Rasional : Penyebab diketahui sehingga dapat dengan mudah
menentukan intervensi
b. Kaji skala nyeri secara komprehensif
Rasional : Skala nyeri menunjukan respon px terhadap nyeri.
c. Monitor TTV
Rasional : Perubahan TTV merupakan identifikasi diri terhadap
perkembangan klien
d. Ajarkan tehnik relaksasi
Rasional : Tehnik relaksasi akan membantu otot-otot berelaksasi

e.

sehingg persepsi nyeri akan berkurang


Atur posisi yang nyaman

Rasional : Posisi yang sesuai/nyaman akan mambantu otot-otot


berelaksasi sehingga nyeri berkurang

f. Kolaborasi pemeberian obat analgetik


Rasional : Analgetik dapat mengurangi nyeri
b. Gangguan eliminasi urinarius, perubahan/retensi berhubungan dengan
adanya edema pada jaringan lokal.
Tujuan : Gangguan eliminasi urin dapat berkurang/hilang
Kriteria Hasil :

Klien dapat mempertahankan atau memperoleh pola eliminasi yang efektif

Klien ikut serta dalam pengobatan.

Memulai perubahan gaya hidup yang diperlu

Intervensi :
Pantau pola penolakan.
Informasi ini sangat penting untuk merncakan perawatan dan mempengaruhi
pilihan intervensi invidu.

Palpasi kandung kemih

Distensi kanung kemih mengindikasi retensi urinarius.

Tingkatkan masukan cairan 2000 3000 ml/hari (28 tpm - 48 tpm)

Mempertahankan hidrasi aekuat dan meningkatkan fungsi ginjal.

Hindari tanda - tanda penolakan verbal atan nonverbal.

Ekspresi kekecewaan akan menurunkan rasa percaya diri dan tidak membantu mensukseskan
program.

c. Cemas berhubungan dengan diagnosis dan rencana pembedahan


Tujuan : cemas dapat berkurang dan hilang dan pengetahuan klien bertambah
Kriteria Hasil :

Klien dapat menuturkan pemahanan kondisi, efek prosedur dan pengobatan

Klien dapat menunjukkan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan


suatu tindakan

Klien memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam
program perawatan

Intervensi :

Bina hubungan yang terapeutik dengan klien.


Hubungan yang terapeutik dapat menurunkan tingkat kecemasan klien.

Kaji dan pantau terus tingkat kecemasan klien.


Mengidentifikasi lingkup masalah secara dini, sebagai pedoman tindakan
selanjutnya.

Berikan penjelasan tentang semua permasalahan yang berkaitan dengan


penyakitnya.

Informasi yang tepat menambah wawasan klien sehingga klien tahu tentang keadaan dirinya.

Libatkan orang terdekat ssesuai indikasi bila keputusan penting akan dibuat.
Menjamin sistem pendukung untuk klien dan memungkinkan orang
terdekat terlibat dengan tepat.

2. Post operasi
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan luka post operasi
Tujuan : Gangguan rasa nyaman (nyeri) berkurang / hilang
Kriteria Hasil :
a. Klien mengatakan tidak pernah nyeri lagi
b. Klien tidak tampak meringis lagi
c. Klien tidak lagi memegangi area nyeri
d. Skala nyeri 0 (tidak ada nyeri) dari skala nyeri 0-10.
e. TTV dalam batas normal
f. Klien tampak rileks
Intervensi :
a. Kaji skala nyeri
Rasional : Untuk mengetahui tingkat nyeri
b. Kaji faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
Rasional : Dapat membantu perawat dalam memberikan intervensi
berikutnya
c. Observasi TTV
Rasional : Peningkatan Tekanan Darah dan nadi menandakan
d.
e.
f.
g.
h.

adanya nyeri
Atur posisi klien senyaman mungkin
Rasional : Mengurangi rasa nyeri
Anjurkan tehnik relaksasi
Rasional : Memberikan rasa nyaman pada klien
Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri
Rasional : Agar klien tidak terlalu merasakan nyerinya
Ciptakan lingkungan nyaman bagi klien
Rasional : Memberikan kenyamanan sehingga mengurangi nyeri
Kolaborasi: Berikan analgetik sesuai indikasi
Rasional : Analgetik dapat mengurangi nyeri

b. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif dan pembedahan


Tujuan : Resiko infeksi pada luka post operasi dapat dicegah
Kriteria Hasil :
a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak,
nyeri, panas pada area luka post op
b. Insisi luka operasi tampak mongering
c. Suhu tubuh klien dalam batas normal (36-37,2 C)
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda infeksi
Rasional : Dapat menentukan intervensi yang tepat
b. Observasi TTV klien
Rasional : Mengetahui status kesadaran umum klien
c. Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik dan anti septic
Rasional : Meminimalkan masuknya mikro organisme
d. Jaga kebersihan area sekitar luka. Diskusikan dengan klien dan
keluarga klien tentang perawatan luka post operasi
Rasional : Mencegah penyebaran infeksi
e. Tingkatkan istirahat
Rasional : Istirahat menurunkan proses

metabolisme,

memungkinkan O2 dan nutrien digunakan untuk penyembuhan


f. Kolaborasi: Beri Antibiotik sesuai indikasi
Rasional : Anti biotik untuk mematikan mikro organisme
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan imobilitas (nyeri paska
pembedahan)
Tujuan : Defisit perawatan diri tidak terjadi
Kriteria Hasil :
a. Klien dapat mandi sendiri
b. Klien bebas dari bau
c. Klien tampak menunjukkan kebersihan
d. Klien nyaman
Intervensi :
a. Kaji defisit perawatan diri klien
Rasional : Untuk menentukan dan mengetahui tingkat defisit
perawatan klien guna memberikan perawatan.
b. Anjurkan keluarga untuk menyeka klien tiap pagi dan sore hari
Rasional : Agar kebersihan diri klien tetap terjaga
c. Anjurkan keluarga klien untuk mengganti pakaian klien 2 sehari
Rasional : Agar klien merasa nyaman dengan pakaian yang bersih.
d. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang pentingnya
kebersihan diri setelah post operasi.
Rasional : Untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang
personal hygene setelah post operasi
e. Mengganti sprei

Rasional : Agar klien merasa nyaman dan bersih


d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah
kulit (jaringan, perubahan sirkulasi).
Tujuan : Luka operasi mencapai penyembuhan
Kriteria Hasil :
a. Tercapainya penyembuhan luka
b. Mencegah komplikasi
c. Tidak timbul jaringan parut
Intervensi :
a. Periksa luka secara teratur, catat karakteristik dan integritas kulit.
Rasional : Mengobservasi adanya kegagalan proses penyembuhan
luka
b. Anjurkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka
Rasional : Mencegah kontaminasi luka
c. Secara hati-hati lepaskan perekat dan pembalut saat mengganti
balutan
Rasional : Mengurangi resiko trauma kulit
d. Kolaborasi : Pemberian antibiotic
Rasional : Diberikan secara profilaksis atau untuk mengobati
infeksi khusus dan meningkatkan penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Lowdermilk. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi keempat. Jakarta:EGC.
Pearce, Evelyn C. 2000. Anatomi dan Fisiolog untuk Paramedis Edisi Barui.Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Mansjoer ,Arif.2001.Kapita Selekta Kedokteran .Jakarta : EGC
Marylynn. E.Doengus. (2000). Rencana Asuhan keperawatan, edisi 3, penerbit buku kedokteran,
Jakarta.
Doenges, M.E. (2000) Rencana Keperawatan. Jakarta : EGC
http://www.ibudanbalita.net/830/penanganan-terhadap-penyakit-kista.html diakses tanggal 17
September 2013 pukul 11.00 WIB

Wiknojosastro, Hanifa. Editor. Abdul Bari Saifuddin, Trijatmo Rachimhadhi. 2005.Ilmu


Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta:
EGC
Yatim, F. 2005. Penyakit Kandungan. Jakarta: Penerbit Pustaka Populer Obor
Linda Juall Carpenito, Alih Bahasa Monika Ester, Diagnosa Keperawatan, EGC, 2001.

A.Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta :


EGC.
Lowdermil, Perta. 2005. Maternity Womens Health Care. Seventh edit.
Mansjoer,

Arief dkk.
Aesculapus.

(2001). Kapita

Selekta

Kedokteran.

Jakarta:

Media

Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.


Jakarta:EGC.
Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification (NIC). United
States of America:Mosby.
Meidian, JM. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of
America:Mosby.
William Helm, C. Ovarian Cysts. 2005. American College of Obstetricians and
Gynecologists
(
cited
2005
September
16
). Available
at http://emedicine.com
Winknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Doengoes, Marilyn E (2000). Rencana Asuhan keperawatan. Edisi 3. EGC.
Jakarta.
http://atmeyvriska.blogspot.com/2013/05/askep-kista-ovarium.html diakses
pada tanggal 21 jini 2014
http://putri-yohana.blogspot.com/2013/02/kista-ovarium.html diakses
tanggal 21 juni 2014

pada

http://d3keperawatanperintis.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatankista-ovarium.html diakses pada tanggal 21 juni 2014


http://jerryns-ilmukeperawatanj-ry.blogspot.com/2013/10/askep-kistaovarium_31.html diakses pada tanggal 21 juni 2014
http://nurlizaa-anissa.blogspot.com/ diakses pada tanggal 21 Juni 2014
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2013/11/laporan-pendahuluan-kistaovarium.html#.U6ciU7EZJOJ diakses pada tanggal 21 juni 2014
http://patofis.blogspot.com/2012/04/kista-ovarium.html diakses pada tanggal
21 juni 2014
Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta; Media
Aesculapius. FKUI
Mohtar Rustam. 1999. Sinopsis Obstetris, Obstetri Fisiologis, Obstetri Patologi
Edisi 2. Jakarta; EGC.
Prawirto Hardjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kandungan Edisi 2. Jakarta; Yayasan
Bina Pustaka.
A.Price, Sylvia. (2006). Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta :
EGC.
Doengoes, Marylinn.
Jakarta:EGC

(2000). Rencana

Asuhan

Keperawatan.

Edisi

3.

Lowdermilk, Perta. (2005). Maternity Womens Health Care. Seventh edit.


Mansjoer,

Arief dkk.
Aesculapus.

(2001). Kapita

Selekta

Kedokteran.

Jakarta:

Media

Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.


Jakarta:EGC.
Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification (NIC). United
States of America:Mosby.

Meidian, JM. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of


America:Mosby.
William Helm, C. Ovarian Cysts. (2005). American College of Obstetricians and
Gynecologists
(
cited
2005
September
16
). Available
at http://emedicine.com
Winknjosastro, Hanifa. (2005). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Arif Mansjoer, dkk.1999 Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.


2. Carpenito, Lynda Jual. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8.Jakarta:
EGC
3. Doenges
E.
Marilyn.
2002. Rencana
Asuhan
Keperawatan
Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.
4. Hanifa, 1997. Ilmu Kandungan. Edisi 2. Jakarta: EGC.
5. Lowdermil, Perta. 2005. Maternity Womens Health Care. Seventh edit. Jakarta:
EGC
6. Sardjadi. 1995.Patologi Ginekologi. Jakarta; EGC.
7. Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
8. Ignatavicius, D.D. dan M.V. Bayne. 1991. Medical Surgical Nursing A Nursing
Process Approach. Vol 2. Philadelphia. W.B. Saunders Company.