Anda di halaman 1dari 51

INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT

Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu bagian / unit / divisi atau fasilitas di rumah sakit,
tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk
keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia, 2004)

Berdasarkan definisi tersebut maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit secara umum dapat
diartikan sebagai suatu departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah
pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi
persyaratan perundang-undangan yang berlaku dan bertanggungjawab atas seluruh pekerjaan
serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri pelayanan paripurna yang mencakup perencanaan,
pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/ sediaan farmasi ; dispensing obat
berdasarkan resep bagi penderita saat tinggal dan rawat jalan; pengendalian mutu dan
pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan
kesehatan di rumah sakit.

Sediaan Solid – Kapsul Paracetamol


Posted on June 23, 2012 by abethpandiangan
Sediaan Solid – Kapsul Paracetamol

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Pengertian

Kapsul adalah sediaaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut. Cangkang pada umumnya terbuat dari gelatin, bias juga dari pati atau bahan lain
yang sesuai. ( Farmakope Indonesia ed. IV ).

1.2. Persyaratan Kapsul

Menurut FI ed. IV persyaratan kapsul meliputi :

1. Keseragaman sediaan, meliputi:


ü Keragaman bobot

ü Keseragaman kandungan

1. Disolusi

Tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila dinyatakan dalam masing-masing
monografi.

1.3. Macam-macam sediaan kapsul

1. Berdasarkan Konsistensi

1.) kapsul lunak

2.) kapsul keras

1. Berdasarkan cara pemakaian

1.) per oral

2.) topical

3.) per vaginal

4.) per rectal

1. Berdasarkan tujuan pemakaian

1.) untuk manusia

2.) untuk hewan


1.4. Wadah dan Penyimpanan Sediaan Kapsul

Kapsul gelatin keras harus disimpan ditempat dingin, dengan kelembaban sedang,
dalam wadah bermulut lebat dan tertutup rapat.

Menurut Farmakope edisi III, sediaan kapsul disimpan di tempat sejuk, bertutup
rapat, dan sebaiknya ditambahakan zat pengering.

Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, sediaan kapsul disimpan dalam wadah
tertutup rapat, tidak tembus cahaya, dan pada suhu kamar terkendali.

1.5. Keuntungan Kapsul

1. Mudah Diidentifikasi Melalui Warna dan Logo,


2. Mudah digunakan dan ditelan,
3. Memiliki Rasa dan Bau Netral,
4. Mudah Membengkak dan Melarut Dalam Air sehingga Zat Aktif mudah Dibebaskan
di Lambung,
5. Cocok untuk Zat Aktif Peka Oksidasi, Peka Cahaya, Termolabil, Higroskopis,
6. Cocok untuk Zat Aktif Berasa Pahit atau Berbau,
7. Ideal Untuk Tujuan Lepas Lambat,
8. Dapat diisi Cairan, Suspensi ataupun Emulsi,
9. Bahan Obat Tak Tersatukan dapat Diisikan Bersama,
10. Dapat disalut dengan Formaldehid atau Seluloseftalat sehingga Resisten terhadap
Asam Lambung
1.6. Kerugian Kapsul

1. tidak sesuai untuk bahan obat yang sangat mudah larut, seperti KCL, CaCL2, KBr,
NH4Br. Apabila kapsul tersebut pecah dan kontak langsung dengan dinding lambung
akan menyebabkan iritasi dan penegangan lambung.
2. Tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang sangat efloresen atau delikuesen.

ü Bahan efloresen : kapsul jadi lunak

ü Bahan delikuesen : kapsul jadi rapuh dan mudah pecah.

BAB II

FORMULA

2.1. Formula Sediaan Kapsul Paracetamol

Paracetamol 500mg

Avicel 15%

Aerosil 1%

Talk 1%

Mg. Stearat 1%

Laktosa ad 650mg

m.f caps 50
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Zat Aktif

ü Paracetamol

Pemeriaan : Serbuk hablur, putih, tak berbau, rasa sedikit pahit

Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1N, mudah larut dalam etanol

Farmakologi : Paracetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui. saluran


cerna. Konsentrasi tinggi dalam plasma dicapai dalam ½ jam dan masa paruh plasma antara
1-3 jam.Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh, paraetamol d ekskresi di dalam ginjal

Dosis : Dosis dewasa : 300 mg- 1g/kali, dengan maksimum 4g /hari

Untuk anak : 6-12 th 150-300mg/kali,dengan maksimum 1,2 g/hari

3.2 Zat Tambahan

ü Avicel

Pemerian : Serbuk kristal berporos, serpihan putih, murni, tidak berbau, tidak berrasa

Kegunaan dalam formula : Pengisi (10-30%)

ü Aerosil

Pemerian : Serbuk amorf, terang, dan tidak berrasa

Kegunaan dalam formula : Penghancur

ü Talk

Pemerian : Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada kulit, bebas dari butiran,
warna putih atau putih kelabu

Kegunaan dalam formula : Pelincir


ü Magnesiun Stearat

Pemerian : Serbuk halus, putih dan volumnus, bau lemah khas, mudah melekat di kulit, bebas
dari butiran

Kegunaan dalam formula : Pelincir

ü Laktosa

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau putih krem, tidak berbau, rasa agak manis, keras, stabil
di udara, tetapi mudah meyerap bau.

BAB IV

CARA KERJA DAN ALAT


4.1. Alat dan Bahan

1. Alat :
2. Timbangan neraca dan analitik
1. Perkamen
2. Spatel
3. Sendok
4. Baskom
5. Ayakan mesh
6. Corong
7. Statif
8. plastik

1. Bahan :

1. Paracetamol
2. Avicel
3. Aerosil
4. Talk
5. Mg. Stearat
6. Laktosa
7. cangkang kapsul no. 00

4.2 Perhitungan Bahan

1. Perhitungan untuk satu kapsul

ü Paracetamol : 500 mg

ü Avicel : x 650 mg = 97,5 mg

ü Aerosil : x 650 mg = 6,5 mg

ü Talk : x 650 mg = 6,5 mg

ü Mg. Stearat : x 650 mg = 6,5 mg

ü Laktosa : 650 mg ( 500 + 97,5 + 6,5 + 6,5 + 6,5) mg

= 650 mg – 617 mg

= 33 mg
1. Perhitungan untuk 50 kapsul

ü Paracetamol : 500 mg x 50 = 25.000 mg = 25 g

ü Avicel : 97,5 mg x 50 = 4.875 mg = 4,875 g

ü Aerosil : 6,5 mg x 50 = 325 mg = 0,325 g

ü Talk : 6,5 mg x 50 = 325 mg = 0,325 g

ü Mg. Stearat : 6,5 mg x 50 = 325 mg = 0,325 g

ü Laktosa : 33 mg x 50 = 1650 mg = 1,65 g

1. Perhitungan nomor cangkang

Nomor cangkang =

= 1,018 cangkang kapsul yang digunakan adalah nomor 00

4.3 Cara Kerja

1. Cara Kerja Pembuatan Granul


1. Siapkan alat dan bahan, kemudian timbang semua bahan.
2. masukkan bahan yang bobotnya kecil terlebih dahulu.
3. campurkan aerosil dengan talk di dalam plastik, aduk ad homogen
4. tambahkan Mg. Stearat aduk ad homogen
5. Tambahkan avicel aduk ad homogen
6. kemudian tambahkan laktosa hingga homogen
7. terakhir tambahkan paracetamol aduk ad homogen
8. setelah semua bahan homogen, timbang kembali bahan yang sudah tercampur
dan catat bobotnya.
9. kemudian ayak dengan ayakan Mesh 30

10. setelah diayak, masukkan ke dalam gelas ukur dan ketok sampai 500 kali, kemudian
hitung Bj mampatnya

11. kemudian uji aliran granul

1. Evaluasi granul
Setelah dilakukan pembuatan granul, tahap selanjutnya yang harus di uji adalah:

1. 1. Bj Nyata

ü Timbang 100 gram granul.

ü Masukkan ke dalam gelas ukur 250 ml.

ü Amati volumenya.

ü Lalu hitung Bj nyatanya.

BJnyata = bobot / volume

ü Lalu di ketuk 500x dan dimasukkan dalam corong.

ü Alirkan dengan menggunakan corong dan dialirkan selama beberapa detik dengan
menggunakan stopwatch.

1. 2. Homogenitas

Dapat dilihat dari pencampuran bahan yang homogenya dan merata.

1. 3. Persen Kompressibilitas

Pengukuran lain dari sebuk yang bebas mengalir adalah kompresibilitas yang dihitung dari
kerapatan granul, yaitu dengan memasukkan sejumlah tertentu granul kedalam gelas ukur.
Volume awal dicatat, kemudian diketuk-ketuk sampai tidak terjadi pengurangan volume.
Selanjutnya dihitung persen kompressibilitasnya. (Lachman, 1994:682-683)

Kompresibilitas = x 100 %

Vo = Volume awal granul

Vi = Volume granul setelah diketukkan


Tabel 2.1 Kompressibilitas dan daya alir. (Lachman, 1989: 400)

% Kompressibilitas Daya Alir


5-15 Baik sekali

12-16 Baik

18-21 Sedang- dapat lewat

23-35 buruk

33-38 sangat buruk

>40 sangat buruk sekali

1. 4. Uji Waktu Alir

Uji ini dilakukan dengan metode corong. Adapun caranya adalah sebagai perikut
yaitu :

ü ditimbang 100g granul yang sudah terbentuk, kemudian dimasukkan kedalam corong
dengan ukuran tertentu yang bagian bawahnya tertutup.

ü Kemudian buka penutup corong bagian bawah bersamaan dengan dimulainya stopwatch.

ü Catat waktu yang diperlukan seluruh granul untuk melalui corong tersebut dengan
menggunakan stopwatch. Waktu alir granul yang baik adalah jika waktu yang diperlukan
kurang lebih atau sama dengan 18 detik untuk 100 gram granul. Dengan demikian kecepatan
alir yang baik adalah lebih besar dari 100 gram/detik.

ü Setelah granul berhenti mengalir, ukur ketinggian dan diameter dari aliran granul yang
terbentuk untuk mengukur sudut diam pada granuk tersebut.

1. Cara Pengisian Kapsul


1. Timbang 10 cangkang kapsul kosong, kemudian catat bobotnya.
2. siapkan alat semi manual
3. buka cangkang kapsul sebanyak 50 buah
4. kemudian letakkan wadah kapsul ke dalam alat semi manual. Kemudian
ratakan.
5. masukkan serbuk ke dalam wadah kapsul hingga penuh
6. kemudian kapsul ditutup dengan tutup kapsul
7. evaluasi kapsul

1. Evaluasi kapsul

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi menurut FI III adalah sebagai berikut :

1. Keragaman Bobot

ü Kelompok kapsul yang berisi bahan padat

 Timbang 20 kapsul sekaligus, timbang lagi satu per satu, catat bobotnya.
 Keluarkan semua isi kapsul, timbang seluruh bagian cangkang kapsul

Bobot rata-rata isi tiap kapsul Perbedaan bobot isi kapsul


dalam %
A B
≤ 120 mg 10 20
 Hitung bobot isi tiap
≥ 120 mg 7,5 15
kapsul dan hitung bobot rata-rata
isi tiap kapsul.
 Memenuhi syarat FI, jika perbedaan dalam % bobot isi tiap kapsul terhadap bobot
rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan dalam kolom “A” dan
untuk setiap 2 kapsul terhadap bobot rata-rata ditetapkan dalam kolom “B”.

ü Kelompok kapsul yang berisi bahan cair atau setengah padat / pasta / salep.

 Timbang 10 kapsul sekaligus, timbang lagi satu per satu.


 Keluarkan semua isi kapsul, cuci cangkang kapsul dengan eter. Buang cairan cucian,
biarkan hingga tak berbau eter lagi.
 Timbang seluruh bagian cangkang kapsul
 Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata isi kapsul
 Memenuhi syarat FI, jika perbedaan dalam % bobot isi tiap kapsul terhadap bobot
rata-rata tiap isi kapsul tidak lebih dari 7,5%

1. Waktu Hancur

Ditentukan dengan suatu alat yang disebut disintegrator tester yang terdiri atas:

ü Lima buah tabung transparan dengan ukuran (P.80-100mm, dd 28mm, d.l 30mm), ujung
bawah dilengkapi dengan kawat kasa tahan karat dengan lubang sesuai dengan pengayak no.4
ü Bak berisi air dengan suhu 36-38oC sebanyak 100ml. dengan kedalaman tidak kurang dari
15cm sehingga dapat dinaik-turunkan dengan teratur. Kedudukan kawat kasa pada posisi
tertinggi berada tepat di atas permukaan air dan kedudukan terendah mulut keranjang tepat di
bawah permukaan air.

Cara pengujian waktu :

 Masukkan 5 butir kapsul dalam keranjang (setiap tabung untuk satu kapsul)
 Naik-turunkan keranjang secara teratur 30x setiap menit
 Kapsul dinyatakan hancur jika sudah tidak ada lagi bagian kapsul yang tertinggal di
atas kasa
 Waktu yang telama hancur di antara kapsul itu yang dinyatakan sebgai waktu hancur
kapsul yang bersangkutan
 Memenuhi persyaratan FI, jika waktu hancurnya tidak lebih dari 15 menit

1. Keseragaman Sediaan

Terdiri atas keragaman bobot untuk kapsul keras dan keseragaman kandungan untuk kapsul
lunak.

1. Uji Disolusi

Dilakukkan untuk kapsul gelatin keras

BAB V

HASIL PRAKTIKUM

A. Evaluasi granul

1. Persen kompresibilitas

ü Bobot = 32,55 g

ü Vol sebelum diketuk = 72 ml

ü Vol setelah diketuk = 51 ml

Bj Mampat = = 0,6382 g/ml

= 638,2 mg/ml
BJ Nyata = = 0,4520 g/ml

= 452,0 mg/ml

% Kompresibilitas = x 100%

= x 100%

= 29,176 %

1. Uji waktu alir

0 detik ( Tidak mengalir )

B. Evaluasi kapsul

1. Uji keseragaman bobot

0,5330 0,5996
0,5129 0,5819
0,5455 0,5766
0,5803 0,5444
0,5465 0,5703
0,5561 0,5396
0,5344 0,5611
0,5489 0,5610
0,5159 0,5779
0,5667 0,651
Σ = 11,0912

ü Bobot rata-rata = g = 0,5956 g

ü Bobot 10 cangkang = 940,0 mg

ü Bobot rata-rata cangkang = 94,00 mg

ü Bobot serbuk = 650 mg


ü Bobot cangkang + isi = 650 mg + 94 mg = 744 mg

v Parameter A 7,5 %

x 744 mg = 55,8 mg

744 mg – 55,8 mg = 688,2 mg

744 mg + 55,8 mg = 799,8 mg

v Parameter B 15 %

x 744 mg = 111,6 mg

− 744 mg – 111,6 mg = 632,4 mg

+ 744 mg +111,6 mg = 855,6 mg

1. Uji waktu hancur

ü Waktu hancur cangkang = 2 menit 4 detik

ü Absorpsi = 2 menit 54 detik

BAB VI
PEMBAHASAN

Berdasakan hasil praktikum kami, sediaan kapsul yang kami buat tidak memenuhi
persyaratan keseragaman bobot karena ketidaktepatan pemilihan nomor cangkang yang
digunakan. Cangkang yang digunakan adalah cangkang nomor 0, sedangkan cangkang yang
seharusnya digunakan sesuai dengan perhitungan adalah cangkang nomor 00, sehingga
serbuk banyak yang tersisa dan mengakibatkan penyimpangan bobot yang signifikan.

BAB VII

KESIMPULAN

Kapsul yang dibuat oleh kelompok kami tidak memenuhi persyaratan dari Farmakope
Indonesia karena semua hasil praktikum kelompok kami menyimpang dari syarat-syarat yang
ditentukan.
Filed under Uncategorized | Leave a comment
Jun23

Sediaan Solid – Tablet Methylprednisolon


Posted on June 23, 2012 by abethpandiangan
Sediaan Solid – Tablet Methylprednisolon

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Pengertian

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih
atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih
dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat
pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang
cocok.(MENURUT FI III)
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet
kempa.Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya didalam
mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuh
dan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga
kesukaran untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau
gumpalan.Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya, melarutnya, dan tidak
mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh
tantangan, sebab masih banyak tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini.(MENURUT FI IV)

1.2. Komposisi Tablet

1. a. Zat pengikat(binder)

Dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak,dapat merekat.Biasanya yang digunakan
adalah mucilago Gummi Arabici 10 -20 %(panas solutio Mythylcellulosum 5%).

1. b. Zat penghancur(disinterogator)

Dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut.Biasanya yang digunakan adalah amilum
manihot kering,gelatinum,agar – agar, natrium alginat.

1. c. Zat pelican (lubricant)

Dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan(matrys).Biasanya digunakan talkum 5


%,Magnesium stearas,Acidum Stearicum.

1. d. Zat pengisi (diluent)

Dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet.biasanya digunakan Saccharum


lactis,Amylum manihot,calcii phospas,calcii carbonas dan zat lain yang cocok.

1. e. Zat penyalut

Untuk maksud dan tujuan tertentu tablet disalut dengan zat penyalut yang cocok, biasanya
berwarna atau tidak.

1.3. Kriteria Tablet

Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan
2. harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil
3. keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik atau mekanik
4. keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan
5. harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan
6. bebas dari kerusakan fisik
7. stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan
8. zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu
9. tablet memenuhi persyaratan Farmakope yang berlaku

1.4. Syarat Tablet

1. Memenuhi keseragaman ukuran


2. Memenuhi keseragaman bobot
3. Memenuhi waktu hancur
4. Memenuhi keseragaman isi zat berkhasiat
5. Memenuhi waktu larut (dissolution test)

1.5. Keunggulan Tablet

1. cepat dapat dilayani di apotik, karena sudah tersedia dan tidak perlu diracik dahulu
2. mudah disimpan (stabil) dan dibawa
3. lebih mudah menelan tablet daripada puyer (sebagian besar orang)

1.6. Kerugian Tablet

1. komposisi dan dosis belum tentu sesuai kebutuhan penderita


2. waktu disintegrasi dan disolusi bila tidak memenuhi syarat, maka kadar obat plasma
tidak tercapai

1.7. Jenis Sediaan Tablet

Berdasarkan prinsip pembuatan, tablet terdiri atas :

1. Tablet Kempa

Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul
menggunakan pons atau cetakan baja.

1. Tablet Cetak

Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah pada lubang
cetakan.

1.8. Macam – macam kerusakan pada pembuatan tablet


1. a. Binding adalah kerusakan tablet akibat massa yang akan dicetak melekat pada
dinding ruang cetakan.
2. b. Sticking/picking adalah perlekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah
akibat permukaan punch tidak licin, ada lemak pada pencetak, zat pelicin kurang, atau
massa basah.
3. c. Whiskering terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan atau terjadi
pelelehan zat aktif pada saat pencetakan pada tekanan tinggi. Akibatnya, pada
penyimpanan dalam botol, sisi – sisi yang berlebih akan lepas dan menghasilkan
bubuk.
4. d. Splitting/capping lepasnya lapisan tipis dari semua permukaan tablet terutama
pada bagian tengah. Capping adalah membelahnya tablet bagian atas.

Penyebabnya adalah :

ü Daya pengikat dalam massa tablet berkurang.

ü Massa tablet terlalu banyak fines, terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah
dicetak udara akan keluar.

ü Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar sehingga udara yang berada di
atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak.

ü Formulanya tidak sesuai.

ü Die dan punch tidak rata.

1. e. Mottling terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet.
2. f. Crumbling adalah tablet yang menjadi retak dan rapuh. Penyebabnya adalah
kerang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang.

BAB II

FORMULA

Formula sediaan tablet Metylprednisolon.


Methyl prednisolon 8 mg

PVP 3%

Primogel 2%

Talk 1.5%

Mg.Stearat 1%

Zat warna 0.2%

Nipagin 0.1%

Amylum 10%

Laktosa ad 150

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 METHYL PREDNISOLON

1. a. Pemerian : Serbuk hablur, putih, atau praktis putih; tidak berbau; melebur pada
suhu lebih kurang 2250 disertai peruraian.
2. b. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam dioksan; agak sukar larut
dalam aseton; dalam methanol; sukar larut dalam eter.
3. c. Penetapan kadar : Lakukan penetapan dengan cara kromatografi cair
kinerja tinggi seperti tertera pada kromatografi. Fase gerak buat campuran n-butil
klorida P-n- butyl klorida P jenuh air – tetrahidrofuran P – methanol P – asam asetat
glasial P { 475:475:70:35:30}. Larutan baku internal buat larutan prednison 6 mg/ml
dalam campuran kloroform P – asam asetat glasial P {97:3} dengan cara sebagai
berikut: tambahkan seluruh asam asetat glasial P kedalam labu ukur 100 ml yang
berisi prednisone dan sonikasi. Tambahkan perlahan kloroform P sambil lakukan
sonikasi dan pengocokan hingga larut. Encerkan dengan kloroform P sampai tanda.
Larutan baku timbang seksama lebih kurang 20 mg metilprednisolon, Asetat BPFI,
masukkan kedalam labu ukur 100 ml. tambahkan 5.0 ml larutan baku internal dan
encerkan dengan kloroform P sampai tanda.
4. d. Dosis : Dalam bentuk sediaan oral mengandung 4 mg dan dalam bentuk
sediaan parenteral mengandung 40 mg/ml.
5. e. Farmakologi : metil prednisolone merupakan obat kortikosteroid.
Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein.
Kortikosteroid mempengaruhi metabolism karbohidrat, protein, lemak, dan
mempengaruhi juga system kardiovaskuler ginjal, otot lurik, system saraf, dan organ
lain. Karena fungsi kortikosteroid pentinh untuk kelangsungan hidup organism, maka
dikatakan bahwa korteks adrenal berfungsi homeostatic. Suatu dosis kortikosteroid
dapat memberikan efek fisiologik dan farmakologik tergantung keadaan sekitar dan
aktivitas individu. Tetapi bila keadaan sekitar tidak optimal maka dibutuhkan dosis
obat yang lebih tinggi untuk mempertahankan hidupnya.

3.2 PVP

Sinonim : Povidon.

Pemerian : Serbuk putih kekuningan, berbau lemah atau tidak berbau,

higroskopis, amorf, coklat kekuningan.

Kegunaan : sebagai pengikat.

3.3 Primogel

Sinonim : -

Pemerian : Tidak berwarna atau sampai putih, tidak berbau, tidak

berasa, serbuk yang bebas mengalir, mikroskopik.

Kegunaan : sebagai penghancur dengan konsentrasi 2 – 10%.


3.4 Talk

Sinonim : Talcum.

Pemerian : serbuk hablur, sangat halus, licin, mudah melekat, pada kulit

bebas dan butiran, warna putih atau putih kelabu.

Kegunaan : sebagai pelincir bagian atas dan bawah.

3.5 Mg Stearat

Sinonim : Magnesi Stearas

Pemerian : Serbuk halus, putih dan voluminous, bau lemah khas,

mudah melekat dikulit, bebas dari butiran.

Kegunaan : sebagai pelincir samping.

3.6 Nipagin

Sinonim : -

Pemerian : Serbuk hablur halus, putih, hamper tidak berbau, tidak

mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa

tebal.

Kegunaan : sebagai pengawet dengan konsentrasi 0.015 – 0.2%.

3.7 Amilum

Sinonim : -

Pemerian : Serbuk sangat halus, putih tidak berbau, tidak berasa.

Kegunaan : sebagai pengisi.

3.8 Laktosa
Sinonim : Saccharum Lactis.

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau putih krem, tidak berbau, rasa

agak manis, keras, stabil di udara, tetapi mudah menyerap

bau.

Kegunaan : sebagai pengisi.

BAB IV
CARA KERJA DAN ALAT

4.1 CARA KERJA DAN ALAT

1. a. Alat :

- Timbangan neraca dan analitik

- Perkamen

- Spatel

- Sendok

- Baskom

- Ayakan mesh 16 dan 20

- Corong

- Statif

- Gelas ukur

- Beaker glass

- Thermometer
- Hardness tester

- Friability tester

1. b. Bahan :

 Methyl Prednisolon
 PVP
 Primojel
 Talk
 Mg. Stearat
 Zat warna
 Nipagin
 Amylum
 Laktosa

4.1 Perhitungan bahan

v Untuk pembuatan 1 butir kaplet.

Thiamfenikol : 8 mg

PVP :

Primojel :

Talk :

Mg Stearat : g

Zat warna :

Nipagin :

Amilum :

Laktosa : 150 – (8+4,5+3+2,25+1,5+0,3+0,15+15)

= 115,3 mg
v Untuk pembuatan 1000 butir tablet.

Methyl Prednisolon : 8 mg x 1000 = 8.000


mg

PVP : 4,5 mg x 1000 = 4.500


mg

Primojel : 3 mg x 1000 = 3000


mg

Talk : 2,25 mg x 1000 = 2.250


mg

Mg Stearat : 1,5 mg x 1000 = 1.500


mg

Zat warna : 0,3 mg x 1000 =


300 mg

Nipagin : 0,15 mg x 1000 = 1.500


mg

Amilum : 115,3 mg x 1000 =


115.300 mg

4.2 Cara Kerja

1. a. Cara Kerja Pembuatan Granul

v Pembuatan Fase Dalam

1. Siapkan baskom, lalu masukkan metyl prednisolon, amilum dan laktosa. Lalu
dicampur homogen, jadikan sebagai (M1).
2. Siapkan beaker glass, masukkan 10 ml alkohol dan larutkan PVP hingga larut (seperti
gelembung kecil), setelah itu larutkan nipagin dan zat warna, jadikan sebagai (M2).
3. Setelah terbentuk, masukkan sediaan (M2) ke dalam (M1), perlahan – lahan dan ditutpi
dengan sediaan (M1). Lalu campurkan hingga larut, setelah itu bersihkan beaker glass
dengan sisa alkohol 5 ml dan campurkan ke (M2).
4. Lalu siapkan 3 tempat alumunium dan dilapisi dengan kertas. Setelah itu ayak sediaan
yang telah jadi dengan ayakan mesh 10.
5. Lalu keringkan granul yang ada di 3 tempat alumunium, setelah kering masukkan
dalam oven.

v Pembuatan Fase Luar

1. Timbanglah talk, Mg stearat dan primojel sesuai perhitungan, lalu campurkan dengan
granul yang telah dicampurkan dengan fase dalam. Setelah itu dicampurkan
homogeny
2. Lalu setelah itu, diayak kembali dengan ayakan mesh 20

1. b. Evaluasi granul

Setelah dilakukan pembuatan granul, tahap selanjutnya yang harus di uji adalah:

v Kadar Air

1. Timbang granul sebanyak 5 gram diatas nampan logam alumunium.


2. Nyalakan alat dan cek suhu pada 700C.
3. Penetapan kandungan lembap dapat diatur skalanya pada alat (% hilang atau gram nya
hilang).
4. Penetapan dihentikan setelah dicapai angka konstan.

v Bj Nyata

1. Timbang 100 gram granul.


2. Masukkan ke dalam gelas ukur 250 ml.
3. Amati volumenya.
4. Lalu hitung Bj nyatanya.

BJnyata = bobot / volume

1. Lalu di ketuk 500x dan dimasukkan dalam corong.


2. Alirkan dengan menggunakan corong dan dialirkan selama beberapa detik dengan
menggunakan stopwatch.
v Homogenitas

Dapat dilihat dari pencampuran bahan yang homogeny dan merata.

v Persen Kompressibilitas

Pengukuran lain dari sebuk yang bebas mengalir adalah kompresibilitas yang dihitung dari
kerapatan granul, yaitu dengan memasukkan sejumlah tertentu granul kedalam gelas ukur.
Volume awal dicatat, kemudian diketuk-ketuk sampai tidak terjadi pengurangan volume.
Selanjutnya dihitung persen kompressibilitasnya. (Lachman, 1994:682-683)

Kompresibilitas = x 100 %

Vo = Volume awal granul

Vi = Volume granul setelah diketukkan

Tabel 2.1 Kompressibilitas dan daya alir. (Lachman, 1989: 400)

% Kompressibilitas Daya Alir


5-15 Baik sekali

12-16 Baik

18-21 Sedang- dapat lewat

23-35 buruk

33-38 sangat buruk

>40 sangat buruk sekali

v Uji Waktu Alir

Uji ini dilakukan dengan metode corong. Adapun caranya


adalah sebagai perikut yaitu :

1. ditimbang 100g granul yang sudah terbentuk, kemudian dimasukkan kedalam corong
dengan ukuran tertentu yang bagian bawahnya tertutup.
2. Kemudian buka penutup corong bagian bawah bersamaan dengan dimulainya
stopwatch.
3. Catat waktu yang diperlukan seluruh granul untuk melalui corong tersebut dengan
menggunakan stopwatch. Waktu alir granul yang baik adalah jika waktu yang
diperlukan kurang lebih atau sama dengan 18 detik untuk 100 gram granul. Dengan
demikian kecepatan alir yang baik adalah lebih besar dari 100 gram/detik.
4. Setelah granul berhenti mengalir, ukur ketinggian dan diameter dari aliran granul
yang terbentuk untuk mengukur sudut diam pada granuk tersebut.

1. c. Pencetakan tablet

Tahapan-tahapan dalam proses pencetakan;

1. Pengisian die dengan granul


2. Serbuk atau granul2 dialirkan dari hopper masuk kedalam DIE (aliran sesuai
grafitasi).
3. Pencetakan granul.

Pada tahap ini, Hopper akan kembali pada tempatnya dan punch atas akan turun mengempa
granul menjadi tablet. Selama tahapan ini ada beberapa tahapan yang terjadi sehingga granul
menjadi tablet. Penyusunan ulang dari struktur granul. Ketika punch atas mengempa granul,
maka distribusi granul akan tersusun ulang diantara punch atas dan punch bawah.

1. Perubahan bentuk granul dan pembentukan ikatan.

Pada tahap ini, akan terjadi perubahan bentuk granul karena penekanan. Pada awalnya, terjadi
deformasi elastis kemudian plastik.

1. Pembentukan ikatan intergranul.

Hasil dari penekanan, granul termampatkan dan terjadi ikatan antar granul sehingga menjadi
tablet.

1. Pengeluaran tablet.

Setelah tablet dikempa, punch atas akan kembali ketempat aslinya. Kemudian punch bawah
akan bergerak keatas membawa tablet sejajar dengan die. Setelah itu Hopper akan bergerak
untuk mengisi granul ke dalam die sehingga tablet akan tergeser oleh hopper dan keluarlah
tablet.

1. d. Evaluasi Tablet.

v Uji Keseragaman Bobot.

1. 1. Diambil sebanyak 20 tablet


2. 2. Kemudian ditimbang satu per satu dan dihitung bobot rata – ratanya.
3. 3. Selanjutnya dihitung persentase tablet dengan syarat tidak boleh lebih dari
dua tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 5% bobot rata – ratanya dan
tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih dari 10% bobot rata –
ratanya.

1. 1. Uji Keseragaman Ukuran.


1. 1. Diambil 10 tablet secara acak, lalu diukur tebalnya satu per satu
dengan menggunakan jangka sorong.
2. 2. Kemudian hitung rata – ratanya, kecuali dinyatakan lain garis
tengah tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal
tablet.

1. 2. Uji Kekerasan.
1. 1. Pengujian dilakukan terhadap 10 tablet yang diambil secara acak
2. 2. Pengujian dilakukan dengan cara, sebuah tablet diletakkan di antara
ruang penjepit. Kemudian di jepit dengan memutar alat penekan,
sehingga tablet kokoh ditempatnya dan petunjuk berada pada skala 0,
melalui putaran padasebuah sekrup.
3. 3. Tablet akan pecah dan dibaca penunjuk skala pada alat yang disebut
Hardness Tester.

v Uji Waktu Hancur

1. 1. Pengujian dilakukan terhadap 3 tablet secara acak.


2. 2. Panaskan air dalam beaker glass sampai suhu 37oC.
3. 3. Masukkan tablet dalam tabung uji, kemudian ditutup dengan menggunakan
cakram.
4. 4. Letakkan alat pada mesin, kemudian nyalakan mesin dan tunggu hingga
semua tablet hancur.
5. 5. Kemudian catat waktu hancurnya. Waktu hancur suatu tablet yang baik
adalah tidak lebih dari 15 menit.

v Uji Keregasan

1. 1. Ambil 20 tablet secara acak.


2. 2. Masukkan ke dalam mesin Friabilator
3. 3. Atur putaran pada mesin
4. 4. Nyalakan mesin dan putar sebanyak 100x. Catat waktu setelah mesin
berhenti, kemudian lihat apakah ada tablet yang capping lebih dari dua.
BAB V

HASIL PRAKTIKUM

1. 5.

5.1. Evaluasi Granul

1. 1. Uji Homogenitas

Bahan uji telah homogen secara visual.

1. 2. Uji Kandungan air

Bobot awal : 5000 mg

Bobot penyusutan : 150 mg

x 100%

= x 100%

= 3%

1. 3. Persen kompresibilitas

Bobot (g) V0 (ml) Vt (ml) BJ Nyata (g/ml) BJ Mampat (g/ml)


100 214 166

% = x 100%

= x 100%
= 28,938 %

1. 4. Uji waktu alir

Bobot = 100 g

Waktu alir = 7 detik

Kecepatan alir =

1. Uji sudut diam

Tinggi Puncak = 3,6 cm

Diameter = 13,9 cm

Sudut diam = Tan

=Tan 0,258

Tan-1 =14,52

5.2. Evaluasi Tablet

1. 1. Uji keseragaman bobot

146,2 mg 146,1 mg
148,1 mg 148,8 mg
150,2 mg 148,4 mg
145,3 mg 150,8 mg
148,3 mg 149,2 mg
148,5 mg 149,8 mg
147,8 mg 147,6 mg
144,9 mg 150,8 mg
149,0 mg 150,5 mg
150,3 mg 149,8 mg
Σ = 2970,4 mg

Bobot rata-rata =148,52

ü Penyimpangan untuk tablet 26 – 150 mg

10 % – 20 %

 Minimum = mg

148,52 mg – 14, 852 mg = 133,668 ( Tidak ada penyimpangan )

 Maksimum =

148,52 mg + 29,704 mg = 178,224 ( Tidak ada penyimpangan )

1. 2. Uji keseragaman ukuran

0,46 mm 0,44 mm Rata-rata =


0,44 mm 0,44 mm
0,45 mm 0,44 mm
0,44 mm 0,45 mm
= 0,444 mm
0,44 mm 0,44 mm
Σ = 4,44 mm

 · Diameter tablet : 0,60

1. 3. Uji kekerasan (Friksibilitas)


14 kg/cm2 15 kg/cm2
14,5 kg/cm 2 13,5 kg/cm2
2
15kg/cm2 13,5 kg/cm2 Rata-rata = kg/cm
11,5 kg/cm2 14 kg/cm2
= 13,325 kg/cm2
10,75 kg/cm2 11,5 kg/cm2
Σ = 133,25 kg/cm2

1. 4. Uji keregasan (Friabilitas)

Wo = 2,9480

Wt = 2,9372

%=

1. 5. Uji waktu hancur

2 menit 45 detik

BAB VI

PEMBAHASAN

Sebelum tablet dicetak harus dilakukan terlebih dahulu uji granul. Uji grarnul yang dilakukan
yaitu :
1. Kadar air

Kadar air dari granul yang kami hasilkan adalah 3 % (granul ideal memiliki kadar air 1-4 %),
karena kadar air yang kecil maka granul yang dihasilkan menjadi sangat keras dan sulit untuk
di lewatkan pada mesh.

1. Sifat alir

Granul yang kami hasilkan memiliki laju alir 2 menit 45 detik, bila dilihat dari parameter
yang ada maka granul ini dapat digolongkan ke dalam kategori sangat baik .

1. Kompresibilitas

Kompresibilitas dari hasil granul adalah 28,398%. Bila dilihat dari parameter kompresibilitas
yang ada maka granul ini dapat digolongkan ke dalam kategori kurang, yaitu berada di antara
range 23 – 33%.Kompresibilitas berhubungan dengan proses pencetakan dari tablet. Apabila
kompresibilitas baik berarti granul akan mudah untuk dicetak.

Setelah mengalami proses pencetakan, tablet yang telah dicetak dilakukan evaluasi yang
meliputi : uji dari penampilan tablet (bentuk, warna, permukaan dan cetakan); ukuran dan
ketebalan; waktu hancur; keseragaman bobot dan friabilitas atau kerapuhannya dengan
masing-masing alat penguji. Hasil yang diperoleh sebagai berikut :

1. Penampilan
1. Bentuk : tablet
2. Warna : merah muda
3. Permukaan : Rata dan licin
4. Cetakan : halus

1. Ketebalan (keseragaman ukuran)

Diuji dengan menggunakan 10 kaplet dan hasilnya rata-rata sama memiliki ketebalan 0.444
mm.tablet yang dihasilkan memenuhi standard tablet yang ditetapkan oleh FI III yaitu
diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak boleh kurang dari 11/3 tebal
kaplet.Ketebalan dipengaruhi oleh tekanan.Semakin tinggi tekanan, maka ketebalan semakin
kecil.

1. Waktu hancur

Waktu hancur tablet yang dihasilkan yaitu 2 menit 45 detik. Pada uji ini tablet memenuhi
syarat uji waktu hancur pada FI III yang mensyaratkan waktu hancur tablet tidak bersalut
kurang dari 15 menit.
1. Keregasan (Friabilitas)

Diuji dengan menggunakan alat Friabilator menggunakan 20 tablet dengan kecepatan 25 kali
putaran permenit selama 4 menit. Alat ini menguji kerapuhan suatu tablet terhadap gesekan
dan bantingan selama waktu tertentu. Friabilitas tablet methyprednisolon yang dihasilkan
dalam praktikum adalah 0,3 %. tablet yang dihasilkan memenuhi standard friabilitas yang
seharusnya < 1%.

1. Keseragaman bobot

Diuji dengan menimbang satu per satu tablet sebanyak 20 tablet dan dicatat lalu dihitung
bobot rata-ratanya. Bobot rata-rata dihasilkan pada praktikum ini adalah 148,52 mg. Tablet
yang dihasilkan telah memenuhi standard keseragaman bobot yang ditetapkan FI III.

9 Kekerasan tablet

Diuji dengan alat uji kekerasan, menggunakan 10 tablet. Nilai kekerasan ditentukan oleh
pabrik dari pembuat tablet. Hasil : 13,325 kg/cm2

Kendala yang dihadapi selama praktikum pembuatan tablet adalah :

1. Saat pencampuran pengikat dengan bahan fase dalam, bahan pengikat lebih banyak
menempel ditangan sehingga pengikat dengan bahan lain kurang homogen.
2. Alat pencetak tablet yang kurang mendukung (sudah lama dan manual) sehingga
mempengaruhi hasil cetakan tablet dan pada saat evaluasi tablet seperti kekerasan,
waktu hancur, dan keregasan.
3. Penggunaan alat pencetak yang sama untuk sediaan tablet yang berbeda zat aktifnya
sehingga menyebabkan terkontaminasinya tablet yang dibuat dengan sediaan tablet
yang lain.
BAB VII

KESIMPULAN

Kualitas dari tablet yang dihasilkan oleh kelompok kami sudah cukup bagus dilihat dari
estetika penampilannya. Hal ini dapat dilihat dari terpenuhinya syarat pada uji penampilan,
uji keseragaman ukuran, uji disintegrasi, dan uji keseragaman bobot. Dari hasil praktikum
yang kami lakukan, tablet yang kami cetak sudah memenuhi persyaratan berdasarkan
Farmakope Indonesia.

Filed under Uncategorized | Leave a comment


Jun23

New Themes: Blog Simple and Skylark


Posted on June 23, 2012 by abethpandiangan
New Themes: Blog Simple and Skylark

Reblogged from WordPress.com News:


In the mood to simply showcase your words or your work? The two newest themes in our
collection allow you to do just that!

First, let’s say hello to Blog Simple, an inventive premium theme for bloggers designed by
Mike Kus. Its vibrant, two-tone color scheme and bold typography will definitely set your
blog apart from the crowd. When you outfit your blog with this theme, your words will shine,
front and center.

Read more… 100 more words

Filed under Uncategorized | Leave a comment


Oct26

Cream
Posted on October 26, 2011 by abethpandiangan
Cream

BAB I
PENDAHULUAN

LANDASAN TEORI
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut
atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan
untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai
emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air.
Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak
dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam
air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan
estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. (Farmakope Indonesia
IV : 6)
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, emulsi
digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (Minyak dalam Air), adalah emulsi yang terdiri
dari butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal
dan air sebagai fase eksternal.
Emulsi tipe W/O (Water in Oil) atau A/M (Air dalam Minyak), adalah emulsi yang terdiri
dari butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal dan
minyak sebagai fase eksternal.
Pemerian
Spermaceti / Cetaceum (Farmakope Indonesia III : 141)
Masa hablur, bening, licin, putih mutiara, memiliki bau dan rasa yang lemah.
Titik Lebur : 42○ – 50○ C
Fungsi : Zat Tambahan
White Wax / Cera Alba (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 187)
Padatan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya dalam keadaan lapisan tipis, bau khas
lemah dan bebas bau tengik.

Titik Lebur : 62○ – 65○ C


Fungsi : Penstabil
Sodium Borate / Borax (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 669)
Putih, kristal keras, granul atau serbuk kristal.
Titik Lebur : 75○ C
Fungsi : Antimikroba, Emulsi Agent
Stronger Rose Water
Bening, bau khas, encer.
Fungsi : Zat tambahan, Pewangi
Purified Water / Aqua Destilata (Farmakope Indonesia III : 96)
Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak punya rasa.
Rose Oil / Minyak Mawar (Farmakope Indonesia III : 459)
Tidak berwarna atau kuning, bau menyerupai bunga mawar, rasa khas, pada suhu 25○ C
kental, jika didinginkan perlahan-lahan berubah menjadi massa hablur bening yang jika
dipanaskan mudah melebur.
Fungsi : Pengaroma
Stearyl Alcohol / Cetostearyl Alcohol (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 151)
Putih atau hampir putih atau granul, larut dalam etanol.
Titik Lebur : 57○ – 60○ C
Fungsi : Pelembut
Sorbitan Monooleate / Span 80 (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 714)
Seperti krim atau cairan atau padatan yang berwarna dengan bau dan rasa yang berbeda.
Titik Beku : -12○ C
Fungsi : Nonionik Surfaktan, Suspending Agent, Emulgator
Sorbitol Solution 70% (British Pharmakope Vol.I: 1331)
Jernih, tidak berwarna, cairan seperti sirup, dapat dicampur dengan air, gliserol 85% dan
dengan propilen glikol, larut dalam alkohol.
Titik Lebur : 110○ – 112○ C
Fungsi : Pemanis

Polysorbate 80 / Tween 80 (Farmakope Indonesia III : 509)


Cairan kental seperti minyak, jernih, kuning, bau asam lemak khas.
Fungsi : Zat tambahan
Methyl Paraben / Nipagin (Farmakope Indonesia III : 378)
Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak punya rasa, agak membakar diikuti
rasa tebal.
Titik Lebur : 125○ – 128○ C
Fungsi : Zat Pengawet
Propyl Paraben / Nipasol (Farmakope Indonesia III : 535)
Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa.
Titik Lebur : 95○ – 98○ C
Fungsi : Zat Pengawet
Coconut Oil / Minyak Kelapa (British Pharmakope Vol.I: 403)
Putih, berbau kelapa, mudah larut dalam alkohol 96%, sedikit larut dalam temperatur rendah.
Titik Lebur : 23○ – 26○ C
Fungsi : Pelembut
Stearic Acid / Asam Stearat (Farmakope Indonesia III : 57)
Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih atau kuning pucat mirip lemak
lilin.
Titik Lebur : Tidak kurang dari 54○ C
Fungsi : Emulsi Agent
Cetyl Alcohol (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 155)
Putih, granul, bau yang khas.
Titik Lebur : 45○ C sampai 52○ C
Fungsi : Emulgator, Pengental
Gliserin / Gliserol (Farmakope Indonesia III : 271)
Cairan seperti sirup, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat.
Fungsi : Antimikroba
Potassium Hidroxide / Kalium Hidroksida (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 61)
Massa berbentuk batang atau bongkahan, putih, sangat mudah meleleh.
Fungsi : Anticaking
LATAR BELAKANG
Adapun dibuatnya sediaan krim ini karena mudah menyebar rata, praktis, lebih mudah
dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe m/a ( minyak dalam air ), cara kerja
langsung pada jaringan setempat, tidak lengket, terutama pada tipe m/a ( minyak dalam air ),
bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun sehingga
pengaruh aborpsi biasanya tidak diketahui pasien, aman digunakan dewasa maupun anak –
anak, memberikan rasa dingin, terutama pada tipe a/m ( air dalam minyak ), bisa digunakan
untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama pada bayi, pada fase a/m ( air dalam minyak
) karena kadar lemaknya cukup tinggi, bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara,
krim mata, krim kuku, dan deodorant, bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit,
tetapi tidak menyebabkan kulit berminyak.
Namun di samping kelebihan tersebut, ada kekurangan di antaranya yaitu mudah kering dan
mudah rusak khususnya tipe a/m ( air dalam minyak )
karena terganggu system campuran terutama disebabkan karena perubahan suhu dan
perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau
pencampuran 2 tipe crem jika zat pengemulsinya tidak tersatuka, .susah dalam
pembuatannya, karena pembuatan cream mesti dalam keadaan panas, mudah lengket,
terutama tipe a/m ( air dalam minyak ), gampang pecah, disebabkan dalam pembuatan
formulanya tidak pas, pembuatannya harus secara aseptik.

BAB II
BAHAN, PERHITUNGAN BAHAN DAN CARA KERJA

FORMULA V
Bahan
Cream Base W/O
Oleaginous Phase
Spermaceti 12,5 %
White Wax 12,0 %
Coconut Oil 55,58 %
Aqueous Phase
Sodium Borate 0,5 %
Stronger Rose Water 2,5 %
Purified Water 16,5 %
Aromatic
Rose Oil 0,02 %
m.f 50 g
Perhitungan Bahan
Spermaceti : 12,5/100 x 50 = 6,25 g
White Wax : 12,0/100 x 50 = 6 g
Coconut Oil : 55,58/100 x 50 = 27,79 g = 27,8 g
Sodium Borate : 0,5/100 x 50 = 0,25 g = 250 mg
Stronger Rose Water : 2,5/100 x 50 = 1,25 g
Purified Water : 16,5/100 x 50 = 8,25 g
BJ air = 1 g/ml
Volume= Massa/BJ =(8,25 g)/(1 g/ml)=8,25 ml
Rose Oil : 0,02/100 x 50 = 0,01 g = 10 mg ≈ 50 mg

Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan, timbang sesuai kebutuhan
Lelehkan Spermaceti dan White Wax di penangas air
Tambahkan Coconut Oil dan teruskan pemanasan sampai 70○ C
Larutkan Sodium Borate dalam Purified Water dan Stronger Rose Water, dihangatkan
samapai 75○ C
Secara bertahap tambahkan fase air ke fase minyak dengan pengadukan
Dinginkan hingga 45○ C dengan pengadukan dan tambahkan Rose Oil

FORMULA VI
Bahan
Cream Base O/W
Oleagenous Phase
Stearyl Alcohol 15 %
White Wax 8 %
Sorbitan Monooleate 1,25 %
Aqueous Phase
Sorbitol Solution 70 % 7,5 %
Polysorbate 80 3,75 %
Methyl Paraben 0,025 %
Propyl Paraben 0,015 %
Purified Water qs ad 100 %
m.f 50 g
2.2.2 Perhitungan Bahan
- Stearyl Alcohol : 15/100 x 50 = 7,5 g
White Wax : 8/100 x 50 = 4 g
- Sorbitan Monooleate : 1,25/100 x 50 = 0,625 g = 625 mg
- Sorbitol Solution 70 % : 7,5/100 x 50 = 3,75 g
- Polysorbate 80 : 3,75/100 x 50 = 1,875 g
- Methyl Paraben : 0,025/100 x 50= 0,0125 g = 12,5 mg ≈ 50 mg
- Propyl Paraben : 0,015/100 x 50 = 0,0075 g = 7,5 mg ≈ 50 mg
- Purified Water : 50 – (7,5 + 4 + 0,625 + 3,75 + 1,875 +
0,0125 + 0,0075) = 32,23 g
BJ air = 1 g/ml
Volume= Massa/BJ =(32,23 g)/(1 g/ml)=32,23 ml
Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan, timbang bahan sesuai kebutuhan
Panaskan fase minyak dan fase air hingga 70○ C
Tambahkan fase minyak dengan perlahan ke fase air dengan pengadukan untuk membentuk
emulsi minyak mentah
Dinginkan sekitar 55○ C dan homogenkan
Dinginkan dengan pengadukan hingga mengental
2.3 FORMULA VII
2.3.1 Bahan
Cream Base O/W
Oleagenous Phase
Stearic Acid 13 %
Stearyl Alcohol 1%
Cetyl Alcohol 1%
Aqueous Phase
Glycerine 10%
Methyl Paraben 0,1%
Propyl Paraben 0,05%
Potassium Hidroxide 0,9%
Purified Water qs ad 100%
m.f 50 g
2.3.2 Perhitungan Bahan
Stearic Acid : 13/100 x 50 = 6,5 g
Stearyl Alcohol : 1/100 x 50 = 0,5 g = 500 mg
Cetyl Alcohol : 1/100 x 50 = 0,5 g = 500 mg
Glycerine : 10/100 x 50 = 5 g
Methyl Paraben : 0,1/100 x 50 = 0,05 g = 50 mg
Propyl Paraben : 0,05/100 x 50 = 0,025 g = 25 mg
Potassium Hidroxide : 0,9/100 x 50 = 0,45 g = 450 mg
Purified Water : 50 – (6,5 + 0,5 + 0,5 + 5 + 0,05 + 0,025
+ 0,45) = 36,975 g
BJ air = 1 g/ml
Volume= Massa/BJ=(36,975 g)/(1 g/ml)=36,975 ml
2.3.3 Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan, timbang bahan sesuai kebutuhan
Panaskan fase minyak dan fase air sekitar 65○ C
Tambahkan fase minyak dengan perlahan ke fase air dengan pengadukan untuk membentuk
emulsi minyak mentah
Dinginkan sekitar 50○ C dan homogenkan
Dinginkan dengan pengadukan hingga mengental

BAB III
PEMBAHASAN DAN HASIL KERJA
3.1 PEMBAHASAN
Rose Oil / Minyak Mawar dimasukkan pada saat temperatur rendah sekitar 45○ C, ini
dilakukan untuk memungkinkan terjadinya kehilangan aroma karena penguapan saat
pembuatan. (Modern Pharmaceutical : 309)
Surfaktan atau Emulsi Agent yang terdapat pada Formula V dan Formula VI yaitu Sodium
Borate, Stearyl Alcohol, Sorbitan Monooleate, dan Polysorbate 80.
Bobot Jenis (BJ) minyak mawar adalah 0,848 sampai 0,863, penetapan dilakukan pada suhu
30○ C dan air akan ditetapkan pada suhu 15○ C. (Farmakope Indonesia III : 459)
3.2 HASIL KERJA
3.2.1 FORMULA V
Bobot pot kosong : 7,5 g
Bobot pot + isi : 51 g
Bobot isi : 51 – 7,5 = 43,5 g
Bobot penyusutan : 50 – 43,5 = 6,5 g
Persentase bobot penyusutan : 6,5/50 x 100 % = 13 %
3.2.2 FORMULA VI
Bobot pot kosong : 10,5 g
Bobot pot + isi : 53 g
Bobot isi : 53 – 10,5 = 42,5 g
Bobot penyusutan : 50 – 42,5 = 7,5 g
Persentase bobot penyusutan : 7,5/50 x 100 % = 15 %
3.2.3 FORMULA VII
Bobot pot kosong : 9,3 g
Bobot pot + isi : 54,5 g
Bobot isi : 54,5 – 9,3 = 45,2 g
Bobot penyusutan : 50 – 45,2 = 4,8 g
Persentase bobot penyusutan : 4,8/50 x 100 % = 9,6 %

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 KESIMPULAN
Dari hasil praktikum di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi bobot penyusutan pada saat
pengerjaan, hal itu terjadi karena pada saat proses peleburan terjadi penguapan yang
berlebihan, bahan yang masih melekat pada cawan uap pada saat proses peleburan serta
cream yang masih melekat pada lumpang pada saat proses pengadukan hingga mengental.

Filed under Uncategorized | Leave a comment


Oct23

UJI DISOLUSI
Posted on October 23, 2011 by abethpandiangan
UJI DISOLUSI

1. Penjelasan Singkat Uji Disolusi


Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera
dalam masing – masing monografi untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket
dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi ini tidak berlaku untuk kapsul
gelatin lunak, kecuali bila dinyatakan dalam masing – masing monografi. Bila dalam etiket
dinyatakan bahwa sediaan bersalut enterik, sedangkan dalam masing – masing monografi, uji
disolusi atau uji waktu hancur tidak secara khusus dinyatakan untuk sediaan bersalut enteric,
maka digunakan cara pengujian untuk sediaan lepas lambat, seperti yang tertera pada Uji
Pelepasan Obat , kecuali dinyatakan lain dalam masing – masing monografi. (Farmakope
Indonesia Edisi IV, Halaman 1083).
2. Alat yang digunakan pada Uji Disolusi
Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan transparan lain yang
inert, suatu motor, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor dan keranjang berbentuk
silinder. Wadah tercelup sebagian didalam suatu tangas air yang sesuai berukuran sedemikian
sehingga dapat mempertahankan suhu dalam wadah pada 370 ± 0.50 selama pengujian
berlangsung dan menjaga agar gerakan air dalam tangas air halus dan tetap. Bagian dari alat,
termasuk lingkungan tempat alat diletakkan tidak dapat memberikan gerakan goncangan atau
getaran signifikan yang melebihi gerakan akibat perputaran alat pengaduk. Penggunaan alat
yang memungkinkan pengamatan contoh dan pengadukan selama pengujian berlangsung.
Lebih dianjurkan wadah disolusi berbentuk silinder dengan dasar setengah bola, tinggi 160
mm hingga 175 mm, diameter dalam 98 mm hingga 106 mm dan kapasitas nominal 1000ml.
Pada bagian atas wadah ujungnya melebar, untuk mencegah penguapan dapat digunakan
suatu penutup yang pas. Batang logam berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya
tidak lebih dari 2 mm pada tiap titik dari sumbu vertical wadah, berputar dengan halus dan
tanpa goyangan yang berarti. Suatu alat pengatur kecepatan digunakan sehingga
memungkinkan untuk memilih kecepatan putaran yang dikehendaki dan mempertahankan
kecepatan seperti yang tertera dalam masing – masing monografi dalam batas lebih kurang
4%.

Filed under Uncategorized | Leave a comment


Oct23

Gel dan Pasta


Posted on October 23, 2011 by abethpandiangan
Gel dan Pasta

BAB I
PENDAHULUAN

LANDASAN TEORI
1.1.1 PASTA
Pasta adalah sediaan berupa massa lunak yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Biasanya
dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan
vaselin atau parafin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol,
mucilago atau sabun. Digunakan sebagai antiseptik atau pelindung kulit (Farmakope
Indonesia edisi III).
Di samping itu, Pasta yang akan dibahas disini adalah tipe Pasta Berlemak. Dimana Sebagai
bahan dasar salep digunakan Vaseli, Paraffin cair. Bahan tidak berlemak seperti Glycerinum,
Mucilago atau sabun dan digunakan sebagai antiseptic atau pelindung kulit.
Karena itu, merupakan salep yang tebal, kaku, keras, dan tidak meleleh pada suhu badan.
Komposisi salep ini memungkinkan penyerapan pelepasan cairan berair yang tidak normal
dari kulit.
Karena jumlah lemak lebih sedikit dibanding serbuk padatnya supaya homogeny lemak –
lemak ini harus dilelehkan dulu (Ilmu Meracik Obat, Moh.Anief, Gajah Mada University
Press, Hal 68).
Adapun bahan yang diformulasikan dalam pembuatan Pasta (Zinc Oxide Paste, USP)
menurut Modern Pharmaceutical Hal, 310 yaitu meliputi Zinc Oxide , Starch , Calamine ,
White Petrolatum,qs,ad.

1.1.2 GEL
Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang
tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar atau saling
diserapi cairan. Gel satu fase merupakan gel dalam amna makro molekulnya disebarkan
keseluruh cairan sampai tidak terlihat ada batas diantaranya. Dalamm hal dimana massa gel
terdiri dari kelompok-kelompok partikel kicil yang berbeda, maka gel dikelompokkan
sebagai sistim dua fase dan sering disebut magma atau susu. Gel dan magma dianggap
sebagai dispersi koloidal oleh karena masing-masing mengandung partikel-partikel dengan
ukuran koloidal. ( Ansel,C. H. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press).
Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik
yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. gel kadang –
kadang disebut jeli. (Farmakope Indonesia edisi IV, hal 7)
Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil senyawaan
organik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing terbungkus dan saling terserap
oleh cairan (Formularium Nasional, hal 315)
Adapun bahan – bahan yang diformulasikan untuk membuat Gel (Lubicating Jelly) menurut
Modern Pharmaceutical, Hal 308 yaitu meliputi Methocel 90 H.C. 4000 , Carbopol 934 ,
Propylene Glycol , Methyl Paraben , Sodium Hydroxide,qs ad , dan Purified Water.
1.1.3 PEMERIAN
Zinc Oxide : Serbuk amorf, sangat halus, putih atau putih kekuningan, tidak berbau, lambat
laun akan menyerap karbondioksida dari udara (Farmakope Indonesia edisi III, Hal 536).
Starch/Pati : Serbuk hablur putih, larut dalam air panas membentuk larutan agak keruh
(Farmakope Indonesia edisi III, Hal 720).
Calamine : Serbuk halus, merah jambu, tidak berbau praktis, tidak berasa. Praktis tidak larut
dalam air, larut dalam asam mineral (Farmakope Indonesia edisi III, Hal 119).
White Petrolatum : Putih/Kekuningan pucat, massa berminyak transparan dalam lapisan tipis
pada cahaya setelah didinginkan pada suhu 0oC. Titik Lebur antara 380-600C. Fungsi
sebagai Zat tambahan, Emollient (Farmakope Indonesia edisi III, Hal 822).
Methocel 90 H.C. 4000: Putih, granul, bau khas, larut dalam air. Fungsi sebagai penyalut.
Titik Lebur : 1900 – 2000C (Handbook of Pharmaceutical Excipients, Hal 462).
Carbopol 934 (Carbomer): Putih, lembut, higroskopis, bau khas. TL nya meliputi 260oC, 30
menit. Fungsinya sebagai Emulgator dan Suspending Agent (Handbook of Pharmaceutical
Excipient, Hal 111).
Propylene Glycol (Methyl Glycol): Cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis
tidak berbau, menyerap air pada udara lembab (Farmakope Indonesia edisi IV, hal 712).
Methyl Paraben (Nipagin): Hablur kecil, tidak berwarna/serbuk hablur, putih, tidak
berbau/bau khas lemah, memiliki rasa terbakar, mudah larut dalam etanol dan eter. Jarak
lebur 125o – 128o. Khasiat sebagai Pengawet (Farmakope Indonesia edisi IV hal, 551).
Sodium Hydroxide: Bentu batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras, rapuh,
dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh basah, sangat mudah larut dalam air
dan dalam ethanol (95%). Khasiat sebagai Zat tambahan (Farmakope Indonesia edisi III, Hal
412).
Purified Water: Cairan Jernih , tidak berwarna , tidak berbau. (Farmakope Indonesia ed IV,
Hal 112). Fungsi : Sebagai Pelarut

LATAR BELAKANG
Pada umunya Pasta memiliki Karateristik yang berbeda dengan sediaan padat yang lain, yaitu
daya absorbsinya lebih besar, digunakan untuk mengadsorbsi sekresi cairan serosal pada
tempat pemakaian, tidak sesuai dengan bagian tubuh yang berbulu, mengandung satu atau
lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical, konsistensi lebih kenyal dari
unguentum, tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum, memiliki persentase bahan
padat lebih besar dari pada salep yaitu mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %- 50 %.
Disamping itu, Pasta mengikat cairan secret, pasta lebih baik dari unguentum untuk luka akut
dengan tendensi mengeluarkan cairan, bahan obat dalam pasta lebih melekat pada kulit
sehingga meningkatkan daya kerja local, konsentrasi lebih kental dari salep, daya adsorpsi
sediaan pasta lebih besar dan kurang berlemak dibandingkan dengan sediaan salep. Dan pasta
pun memiliki kekurangan, yaitu karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapat ditembus, pasta
pada umumnya tidak sesuai untuk pemakaian pada bagian tubuh yang berbulu, Dapat
mengeringkan kulit dan merusak lapisan kulit epidermis, dapat mengeringkan kulit dan
merusak lapisan kulit epidermis, dapat menyebabkan iritasi kulit.
Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert, aman dan tidak
bereaksi dengan komponen lain Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan
penggunaan sediaan yang diharapkan. Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya
sangat tinggi atau BM besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau
digunakan).

BAB II
BAHAN, PERHITUNGAN BAHAN DAN CARA KERJA

FORMULA VIII
Bahan
Zinc Oxide 25 %
Starch 25 %
Calamine 5 %
White petrolatum qs ad 100 %
m.f 50 g

Perhitungan Bahan
Zinc Oxide : 25/100 x 50=12,5 g
Starch : 25/100 x 50=12,5 g
Calamine : 5/100 x 50=2,5 g
White Petrolatum : 50 – (12,5 + 12,5 + 2,5) = 22,5 g

Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan, timbang sesuai kebutuhan
Ayak Zinc Oxide dengan ayakan No.100 sebelum ditimbang
Campur Zinc Oxide, Starch, dan Calamine, aduk ad homogen
Lebur sebagian Vaselin Putih , tambahkan dalam campuran serbuk, aduk ad homogen
Tambahkan sisa Vaselin Putih yang tidak di lebur, aduk ad homogen
Masukkan ke dalam wadah

2.2 FORMULA IX
2.2.1 Bahan
Methocel 60 H.C.4000 0,8 %
Carbopol 0,24 %
Propylene Glycol 16,7 %
Methyl Paraben 0,015 %
Sodium Hidroxide qs ad pH 7, 1 %
Purified Water qs ad 100 %
m.f 50 g

2.2.2 Perhitungan Bahan


Methocel : 0,8/100 x 50=0,4 g=400 mg
Carbopol : 0,24/100 x 50=0,12 g=120 mg
Propylene Glycol : 16,7/100 x 50=8,35 g
Methyl Paraben : 0,015/100 x 50=0,0075 g
=7,5 mg≈50 mg
Sodium Hidroxide : 1/100 x 50=0,5 g=500 mg
Purified Water : 50/100 x 12 ml=6 ml
50 – (0,4 + 0,12 + 8,35 + 0,0075) = 41,1225 g
BJ air = 1 g/ml
Volume= Massa/BJ =(41,1225 g)/(1 g/ml)=41,1225 ml

2.2.3 Cara Kerja


1. Larutkan Methocel dalam 20 ml air (80○ – 90○) panas
2. Larutkan Carbopol dalam 10 ml air panas
3. Larutkan Methyl Paraben dalam Propylene Glycol
4. Campur ketiga larutan tersebut dengan hati-hati untuk menghindari penggabungan udara
5. Sesuaikan pH larutan menjadi 7,0 dengan menambahkan Natrium 1 % (sekitar 12 ml
diperlukan) dan volume hingga 40 ml dengan aquadest
6. Aduk ad homogen

BAB III
PEMBAHASAN dan HASIL KERJA

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil yang di praktekkan banyak yang dijadikan perubahan. Umumnya Starch
terdiri dari 5 golongan , yaitu :
Amylum Manihot (Pati Singkong)
Amylum Maydis (Pati Jagung)
Amylum Oryzae (Pati Beras)
Amylum Solani (Pati Kentang)
Amylum Tritici (Pati Gandum)
(Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipients, Hal 483)
Tetapi dari kelima Starch tersebut yang digunakan sebagai formulasi untuk sediaan Pasta
adalah Pati Jagung (Corn Starch).
Dan cara kerja pada pasta pun harus sangat teliti agar pasta homogeny yaitu dengan cara
menyisihkan sebagian sediaan Starch, Zinc Oxyde, dan Calamine yang telah dicampur ad
homogeny dan tambahkan White Petrolatum sedikit demi sedikit lalu gerus perlahan-lahan
sampai sediaan menyatu dan terbentuk homogeny.

3.2 HASIL KERJA


3.2.1 FORMULA VIII
Bobot pot kosong : 13,6 g
Bobot pot + isi : 62,55 g
Bobot isi : 62,55 – 13,6 = 48,95 g
Bobot penyusutan : 50 – 48,95 = 1,05 g
Persentase bobot penyusutan : 1,05/50 x 100 % = 2,1 %
3.2.2 FORMULA IX
Bobot pot kosong : 13,7 g
Bobot pot + isi : 59,5 g
Bobot isi : 59,5 – 13,7 = 45,8 g
Bobot penyusutan : 50 – 45,8 = 4,2 g
Persentase bobot penyusutan : 4,2/50 x 100 % = 8,4 %

BAB IV
KESIMPULAN

KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang dipraktekkan bahwa terjadinya penyusutan drastis yang
disebabkan oleh efek peleburan yang terlalu lama sehingga terjadi penguapan yang banyak
dan melekatnya bahan pada cawan atau beaker glass serta penimbangan bahan yang tidak
sesuai dengan yang diperintahkan. Dan homogenitas yang kurang akibat dari cara
pengadukan yang tidak sesuai pada saat pengerjaan.

Filed under Uncategorized | Leave a comment


Sep1

CARA MENYUSUN PENULISAN OBAT


Posted on September 1, 2011 by abethpandiangan
CARA MENYUSUN PENULISAN OBAT

Cara menyusun penulisan obat yang ada pada resep, yaitu :


1. Remidium Cardinale [Basis] : Yaitu yang meliputi obat pokok
2. Remidium Adjuntiva : Yaitu meliputi obat tambahan. Adapun jenisnya,yaitu ;
a. Remidium Corrigens Actions : memperbaiki / menambah efek obat
b. Remidium Corrigens Saporis : memperbaiki rasa
c. Remidium Corrigens Coloris : memperbaiki warna
d. Remidium Corrigens Odoris : memperbaiki bau
e. Remidium Corrigens Solubis : memperbaiki kelarutan obat utama
3. Remidium Constituens : untuk memperbesar volume obat
Contohnya :
R/ Cenilanid Tab No.I
Diuretin Tab No. ¼
m.f . pulv . dtd. No XII
jadi: peran Cenilanid ini sebagai obat pokok yaitu sebagai dekompensasi jantung, sedangkan
Diuretin sebagai diuretikum gunanya untuk menghilangkan Oedum

Filed under Uncategorized | Leave a comment


Feb6

PULVIS dan PULVERES


Posted on February 6, 2011 by abethpandiangan
PULVIS dan PULVERES

Apakah itu PULVIS ? dan Apakah PULVERES itu?


a. Pengertian SERBUK ?
Ialah campuran kering berbahan obat atau zat kimia yang digunakan untuk pemakaian dalam
/ Oral dan pemakaian luar / Tipikal.

b. Cara pembuatan / meracik serbuk :


Serbuk yang diracik dengan cara mencampur bahan obat satu per satu serta memasukan
secara perlahan – lahan, dimulai dengan bahan obat yang jumlahnya sedikit dan diayak
dengan menggunakan ayakan no.60
1. Jika serbuk mengandung lemak , maka ayakan yang digunakan adalah ayakan no. 44.
2. Jika bobot obat 50 derajat Celsius.
4. Jika obat berupa cairan *seperti: Tinctura / Ekstrak cair* maka dilakukan dengan cara
diuapkan pelarutnya hamper kering dan dibuat serbuk dengan cara menambahkan zat
tambahan.
5. Jika obat bermassa lembek *seperti : Ekstrak kental* harus dilarutkan dengan pelarut
secukupnya dan diserbukkan oleh zat tambahan *biasanya : Etanol*.
6. Jika serbuk mengandung bagian yang mudah menguap, dapat dikeringkan dengan
pertolongan kapur tohor atau bahan pengering lainnya/

c. Keuntungan dan Kerugian Serbuk :


- Keuntungan :
1. Serbuk lebih mudah terdispersi dan larut daripada sediaan yang dipadatkan.
2. Bagi anak – anak / orangtua yang sukar menelan tablet atau kapsul, lebih mudah menelan
dengan serbuk.
3. Masalah stabilitas pada zat cair tidak ditemukan dalam serbuk.
4. Obat yang tidak stabil dalam suspense atau larutan air dapat dibentuk dalam serbuk.
5. Obat yang volumenya besaruntuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dengan serbuk.
6. Dokter lebih leluasa untuk memilih dosis yang sesuai dengan keadaan pasien.
- Kerugian :
1. Tidak tertutupnya rasa bau, sepet, pahit, dan amis.
2. Tempat penyimpanan terkadang lembab atau basah.

d. Syarat – syarat untuk serbuk


1. Homogeny
2. Halus
3. Kering
4. Sesuai dengan uji KESERAGAMAN BOBOT dan KESERAGAMAN KANDUNGAN
yang berlaku untuk Pulveres yang kandungannya Narkotika, Psitropika, dan Obat Keras.

e. OBAT SERBUK berdasarkan PENGAYAKAN .


- OBAT SERBUK KASAR untuk Simplisia Nabati yang sesuai dengan Ayakan dan Derajat
Kehalusan, serta pengeringan tidak melebihi suhu 50 derajat Celsius.
1. Foeniculi fructus / 44
2. Anisi fructus / 44
3. Belladonae folia / 100
4. Caryophilly / 44
5. Digitalis folia / 100
6. Ipecancuahae radix / 100
7. Zingiberis rhizome / 100
8. Cinamoni cortex / 100
9. Cinchonae cortex / 100
10. Myrhae / 44
11. Opii pulvis / 100
12. Sapo medicatus / 44
13. Strammonii folia / herba / 100
14. Sennae folia / 100
15. Strychinini semen / 100
16. Valerianae radix / 100
- SERBUK SANGAT HALUS / 120
1. Carbo adsorben
2. Acidum boricum
3. Sulfur precipitatum
4. Magnesii carbonas
5. Magnesia oxydum
6. Talcum
- SERBUK HALUS / 100
1. Digitalis folia
2. Saccharose
3. Ipecacuanae redix
4. Cinchonae cortex
5. Opii pulv
6. Zinci oxydum
7. Tannalbin
8. Kaolin
- SERBUK AGAK HALUS / 44 dan 85
1. Laktosa
2. Mira
3. Caryophilly
4. Foeniculi fructus