Anda di halaman 1dari 12

Topik 3

Analisis Kuantitatif Obat


PENDAHULUAN
Materi belajar ini merupakan pengantar untuk mempelajari dasar analisis kuantitatif
obat secara klasik (metode volumetri/titrimetri). Dengan mempelajari isi materi ini,
diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan pada analisis obat dilaboratorium. Isi materi
ini disajikan secara sederhana disertai contoh-contoh untuk menentukan kadar obat secara
volumetri.
Teknik analisis obat secara kuantitatif, dalam beberapa literatur didasarkan pada
golongan obat menurut jenis efek farmakologisnya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan
mahasiswa mempelajari bagaimana menentukan kadar obat masing-masing yang memiliki
efek sama. Misalnya analisis obat golongan analgetika-antipiretika, yaitu :
 asetosal dapat ditentukan dengan metode alkalimetri menggunakan prinsip reaksi
netralisasi;
 parasetamol dapat ditentukan kadarnya dengan metode nitrimetri menggunakan
prinsip reaksi diazotasi;
 asam mefenamat dapat ditentukan dengan metode titrasi bebas air menggunakan
prinsip reaksi netralisasi.
Gambar 1.12. Struktur molekul (a) parasetamol dan (b) asam mefenamat
Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah atau kadar dari suatu
elemen atau spesies yang ada di dalam sampel. Analisis kuantitatif dalam kimia farmasi
secara spesifik bertujuan untuk mengetahui kadar suatu senyawa obat dalam sampel,
misalnya dalam sediaan tablet, atau untuk mengetahui tingkat kemurnian suatu bahan obat.
A. ANALISIS VOLUMETRI
Masih ingatkan Anda materi tentang analisis kuantitatif secara volumetri pada mata
kuliah Kimia Dasar? Untuk memperdalam materi analisis secara volumetri, dalam uraian
berikut akan dijelaskan hal-hal praktis terkait dengan metode volumetri.

Analisis volumetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dengan mengukur secara teliti
volume larutan yang diketahui konsentrasinya yang dapat bereaksi sempurna dengan zat
yang akan ditentukan kadarnya. Berikut adalah hal-hal yang diperlukan dalam analisis secara
volumetri :
1. Alat pengukur volume seperti buret, pipet volum, dan labu ukur.
2. Neraca analitik untuk menimbang bahan yang akan diselidiki atau senyawa baku untuk
membuat larutan baku.
3. Senyawa yang digunakan sebagai larutan baku atau untuk pembakuan harus senyawa
dengan kemurnian yang tinggi.
Istilah-istilah berikut merupakan istilah yang sering dijumpai dalam analisis volumetri :

1
1. Titrasi adalah suatu proses penambahan larutan baku yang diketahui konsentrasinya
menggunakan buret ke dalam larutan yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi
tepat selesai secara sempurna;
2. Titrasi kembali adalah cara titrasi dengan penambahan zat yang diketahui
konsentrasinya berlebihan ke dalam larutan yang akan ditentukan kadarnya. Kemudian
kelebihannya ditentukan dengan cara titrasi dengan pereaksi ke dua yang diketahui
konsentrasinya;
3. Titrasi blanko adalah titrasi yang dilakukan dengan cara sama dengan titrasi
menggunakan larutan zat uji (pereaksi dan proses sama), tetapi tanpa menggunakan
zat uji (hanya menggunakan pelarut yang digunakan untuk melarutkan zat uji);
4. Larutan standar atau larutan baku adalah larutan pereaksi yang konsentrasinya
diketahui dengan seksama dan umumnya konsentrasi larutan standar/baku dituliskan
sampai 4 desimal, serta larutan standar/baku berfungsi sebagai larutan titer (titran);
5. Baku primer adalah zat-zat pereaksi yang mempunyai kemurnian yang tinggi dan
digunakan sebagai zat untuk menentukan konsentrasi larutan titer pada proses
pembakuan;
6. Titik ekivalen adalah titik yang menunjukkan kondisi/keadaan jumlah larutan
baku/larutan titer yang ditambahkan ekivalen dengan jumlah zat yang ditentukan
didalam Erlenmeyer;
7. Titik akhir titrasi adalah titik yang menunjukkan bahwa indikator yang digunakan
sebagai penunjuk telah mengalami perubahan warna. Perbedaan volume titik ekivalen
dan titik akhir titrasi harus sekecil mungkin, umunya hanya sebanyak 1-2 tetes larutan
titer saja;
8. Penimbangan seksama adalah penimbangan dengan deviasi yang diperkenankan, tidak
lebih dari 0,1% dari jumlah yang ditimbang. Farmakope Indonesia edisi IV menyatakan
bahwa penimbangan harus dilakukan menggunakan alat timbangan yang
ketidakpastian pengukurannya tidak lebih dari 0,1% pembacaan. Penimbangan ini
harus dilakukan menggunakan neraca analitik; (Lihat Farmakope Indonesia Edisi IV
pada bagian Lampiran 41);
9. Pengukuran seksama adalah pengukuran yang harus dilakukan menggunakan alat ukur
volumetrik (pipet volum/buret) yang mempunyai ketelitian hingga 0,1%. Farmakope
Indonesia Edisi IV mensyaratkan untuk suatu pengukuran volumetrik dan pengukuran
harus “diukur dengan seksama” artinya alat harus dipilih sehingga ukuran buret yang
digunakan harus sedemikian hingga volume titran tidak kurang dari 30% volume
nominal. Pengukuran seksama juga berarti pengukuran volume harus menggunakan
pipet volum (Lihat Farmakope Indonesia Edisi IV pada bagian Lampiran 21).
Syarat-syarat berikut ini harus dipenuhi untuk mendapatkan hasil analisis secara volumetri
yang shahih:

2
1. Reaksi harus sederhana dan dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi;
2. Reaksi harus berlangsung cepat;
3. Pada titik ekivalen, reaksi harus dapat diketahui titik akhirnya dengan tajam atau
terlihat jelas perubahannya;
4. Harus ada indikator.
Tahap pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan titrasi adalah pembuatan
larutan standar (larutan baku). Suatu larutan dapat digunakan sebagai larutan standar bila
memenuhi persyaratan berikut :
 mempunyai kemurnian yang tinggi;
 mempunyai rumus molekul yang pasti;
 tidak bersifat higroskopis dan mudah ditimbang;
 larutannya harus bersifat stabil;
 mempunyai berat ekivalen (BE) yang tinggi.
Suatu larutan yang memenuhi persyaratan di atas disebut larutan standar primer.
Sedangkan larutan standar sekunder adalah larutan standar yang bila akan digunakan untuk
standarisasi harus distandarisasi lebih dahulu dengan larutan standar/baku primer.
Baku primer yang digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan titer pada proses
pembakuan yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi III dan IV adalah :
1. Larutan titer asam (asam klorida/asam sulfat) digunakan natrium karbonat anhidrat P
2. Larutan titer dinatrium edetat digunakan kalsium karbonat P
3. Larutan titer iodium digunakan arsentrioksida P
4. Larutan titer kalium permanganat digunakan natrium oksalat P
5. Larutan titer natrium hidroksida digunakan kalium biftalat P
6. Larutan titer natrium tiosulfat digunakan kalium bikromat P
7. Larutan titer perak nitrat (argenti nitrat) digunakan natrium klorida P
8. Larutan titer ammonium tiosianat/kalium tiosianat digunakan larutan perak nitrat yang
telah dibakukan dengan natrium klorida
Analisis kuantitatif dengan metode volumetri didasarkan pada reaksi kimia antara zat
uji dengan larutan titer, baik reaksinya langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan cara
titrasi, metode volumetri dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

. Titrasi langsung
Cara ini dilakukan dengan menitrasi langsung zat yang akan ditetapkan kadarnya.
Perhitungan didasarkan pada kesetaraan langsung larutan titer dengan zat uji. Contoh
pada metode Iodimetri (lihat uraian metode iodimetri)
2. Titrasi tidak langsung / titrasikembali
Dilakukan dengan cara penambahan titran dalam jumlah berlebih, kemudian kelebihan
titran dititrasi dengan larutan titran lain. Dengan cara ini umumnya dilakukan titrasi
blanko (tanpa zat uji), perhitungan didasarkan pada kesetaraan tidak langsung larutan
3
titer dengan zat uji. Contoh pada metode iodometri (lihat uraian metode iodometri).
Berdasarkan jenis reaksinya, titrasi dikelompokkan menjadi empat macam yaitu:
a. Titrasi asam basa
b. Titrasi pengendapan
c. Titrasi kompleksometri
d. Titrasi oksidasi reduksi
B. MACAM-MACAM TITRASI BERDASARKAN JENIS REAKSI
1. Titrasi Asam Basa
Titrasi asam basa melibatkan reaksi antara asam dengan basa, sehingga akan terjadi
perubahan pH larutan yang dititrasi. Reaksi antara asam dan basa, dapat berupa asam kuat
atau lemah dengan basa kuat atau lemah. Titrasi dengan larutan titer asam kuat (HCl 0,1 N
atau H2SO4 0,1N) disebut asidimetri, dan titrasi dengan larutan titer basa kuat (NaOH 0,1N)
disebut alkalimetri.
Hanya ada sedikit titrasi asam kuat dengan basa kuat langsung yang tercantum di
dalam penetapan kadar obat yang tercantum dalam Farmakope. Pada titrasi asam kuat
dengan basa kuat, maka harga pH pada titik ekivalen (titik dimana jumlah zat yang
direaksikan telah ekivalen/setara) adalah 7 (netral). Demikian pula pada titrasi basa kuat
dengan asam kuat, maka harga pH titik ekivalen juga sama dengan 7. Jenis asam yang
digunakan pada titrasi asam kuat dengan basa kuat pada penetapan kadar senyawa obat
dalam Farmakope adalah:
 asam perklorat;
 asam klorida;
 asam sulfat;
 tiamin hidroklorida.
Titik ekivalen pada titrasi asam lemah dengan basa kuat (natrium hidroksida) adalah >
7 (basa). Jenis asam lemah yang digunakan pada titrasi asam lemah dengan basa kuat
(natrium hidroksida) pada penetapan kadar senyawa obat dalam Farmakope adalah:
 asetosal;
 asam asetat;
 asam sitrat;
 asam salisilat.
Titik ekivalen pada titrasi basa lemah dengan asam kuat adalah < 7 (asam). Jenis basa
lemah yang digunakan pada titrasi basa lemah dengan asam kuat (asam klorida/asam sulfat)
pada penetapan kadar senyawa obat dalam Farmakope adalah:
 natrium karbonat;
 natrium bikarbonat;
 boraks.
Perbedaan pH pada titik ekivalen titrasi asam basa ini mempengaruhi jenis indikator

4
yang digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Pemilihan jenis indikator harus
memperhatikan pH indikator. Sedapat mungkin, pH indikator sama dengan pH titik ekivalen
netralisasi. Karakteristik indikator yang paling banyak dipilih pada titrasi asam basa adalah
indikator yang mampu menunjukkan perubahan warna yang nyata pada pH yang dekat
dengan titik ekivalen. Contoh-contoh indikator yang biasa digunakan pada titrasi asam basa
adalah :
a. Fenolftalein (pp), termasuk indikator basa
Interval pH : 8,0 – 10,0; perubahan warna : tidak berwarna – merah jambu
Dipakai pada titrasi asam lemah dengan basa kuat (pH titik ekivalen > 7)
b. Jingga metil/methyl orange (mo) = metil jingga, termasuk indikator asam
Interval pH : 3,2 – 4,4; perubahan warna : merah – kuning
Dipakai pada titrasi basa lemah dengan asam kuat (pH titik ekivalen < 7)
c. Merah metil (mm), termasuk indikator asam
Interval pH : 4,2 – 6,2; perubahan warna : merah – kuning
Dipakai pada titrasi basa lemah atau kuat dengan asam kuat (pH titik ekivalen <
7)
Untuk lebih jelasnya lihat daftar indikator pada Farmakope Indonesia Edisi IV.
2. Titrasi pengendapan
Metode titrasi endapan merupakan analisis volumetri yang berdasarkan pada reaksi
pembentukan endapan. Metode titrasi pengendapan yang paling banyak digunakan adalah
metode argentometric. Titrasi pengendapan dengan metode argentometri merupakan
metode umum untuk menetapkan kadar senyawa halogenida (Cl-, Br-, dan I-) dan
senyawasenyawa lain (SCN-) yang membentuk endapan dengan perak nitrat (AgNO3).
Berdasarkan jenis indikator dan teknik titrasi yang digunakan, maka titrasi
argentometri dapat dibedakan atas 3 yaitu :
(a) Metode Mohr, yaitu :
Titrasi argentometri dengan metode Mohr dilakukan berdasarkan pada pembentukan
endapan berwarna pada titik akhir titrasi antara ion Ag+ sebagai larutan titer dengan
ion CrO42- sebagai indikator.
Reaksi yang terjadi pada titik akhir titrasi :
2 Ag+ + CrO42- → Ag2CrO4 ↙ (merah bata)
Cara ini dilakukan dalam suasana netral yaitu sekitar pH 6,5 – 10. Pada pH >10 akan
terbentuk endapan AgOH yang akan terurai menjadi Ag2O, sedangkan apabila pH<6,5

(asam), ion kromat akan bereaksi dengan H+ menjadi Cr2O72- dengan persamaan
reaksi:
2 CrO42- + 2 H+ → 2 HCrO4- → Cr2O72- + H2O
Penurunan konsentrasi CrO42- menyebabkan diperlukannya penambahan AgNO3 yang
lebih banyak untuk membentuk endapan Ag2CrO4, sehingga kesalahan titrasi makin

5
besar.
(b) Metode Volhard, yaitu:
Titrasi argentometri dengan metode Volhard dilakukan berdasarkan pembentukan
senyawa yang larut dan berwarna sebagai hasil reaksi antara ion Fe3+ sebagai larutan
titer dengan ion SCN- sebagai indikator.
Reaksi yang terjadi pada titik akhir titrasi :
Fe3+ + SCN- → Fe(SCN)2+ (larutan merah)
Berbeda dengan metode Mohr, metode Volhard ini merupakan reaksi tidak langsung
antara larutan titer dengan zat uji. Larutan titer yang digunakan adalah larutan kalium
tiosianat (KSCN) atau ammonium tiosianat (NH4SCN). Dalam hal ini sampel direaksikan
dengan larutan perak nitrat berlebih dalam suasana asam, sisa perak nitrat direaksikan
dengan larutan baku tiosianat. Suasana asam diperlukan untuk mencegah terjadinya
hidrolisis ion Fe3+.
(c) Metode Fayans, yaitu :
Titrasi argentometri dengan metode Fayans dilakukan dengan menggunakan indikator
adsorpsi. Indikator adsorpsi bekerja dengan cara : endapan mengadsorpsi indikator
pada titik ekivalen dan dalam proses penyerapan tersebut terjadi perubahan warna
indikator. Senyawa organik yang sering digunakan sebagai indikator adsorpsi adalah
fluoresein (HFl). Pada kondisi ion klorida berlebih, anion Fl- tidak diserap oleh perak
klorida koloidal, tetapi dalam keadaan ion perak berlebih, ion Fl- dapat ditarik
kepermukaan sehingga partikel bermuatan positif.
Penetapan kadar dengan titrasi pengendapan argentometri metode Fayans yang
terdapat dalam Farmakope Indonesia antara lain adalah penetapan kadar:
 Tiamin HCl
 Teofilin
 kloramfenikol
3. Titrasi kompleksometri
Titrasi kompleksometri merupakan metode volumetri yang berdasarkan pada reaksi
pembentukan kompleks antara ion logam dengan senyawa pengkompleks atau ligan.
Senyawa pengompleks yang paling umum digunakan dalam volumetrik adalah asam
etilendiamin tetraasetat atau sering disingkat EDTA (H4Y) dalam bentuk garam dinatrium
(Na2H2Y).
Kelebihan EDTA sebagai ligan adalah kemampuannya untuk membentuk kompleks 1 : 1
dengan ion logam, baik logam valensi 1, 2 atau 3. Contoh : untuk logam divalent,
misalnya Ca2+ reaksi dapat dituliskan sebagai berikut :
Ca2+ + H2Y2- → CaY2- + 2 H+

6
Karena selama titrasi terjadi reaksi pelepasan ion H+ maka larutan yang akan dititrasi
perlu ditambah larutan bufer. Untuk menentukan titik akhir titrasi ini digunakan indikator,
diantaranya Calmagite, biru hidroksi naftol (BHN), Eriochrome Black T (EBT). Titik akhir
ditandai dengan terjadinya perubahan warna merah/ungu menjadi biru.
Penetapan kadar dengan metode kompleksometri yang terdapat dalam Farmakope
Indonesia antara lain adalah penetapan kadar:
 Aluminii hydroxydum colloidale
 Zinci undcylenas
 Magnesia trisilicas
4. Titrasi Oksidasi Reduksi
Titrasi oksidasi reduksi adalah cara analisis volumetri yang berdasarkan reaksi reduksi
oksidasi (redoks). Salah satu ciri reaksi redoks adalah terjadinya perubahan bilangan oksidasi
(biloks) dari zat-zat yang bereaksi sebelum dan sesudah reaksi.
Dalam titrasi ini perlu dipahami tentang pengertian oksidator, reduktor, oksidasi, dan
reduksi, yaitu :
(a) Oksidator adalah zat yang dalam reaksi mengalami penurunan bilangan oksidasi
(biloks), karena dalam reaksi tersebut oksidator mengalami reduksi atau menerima
elektron.
Contoh :
MnO4- + 8 H+ + 5 e → Mn2+ + 4 H2O
MnO4- (KMnO4) adalah suatu oksidator
Reduksi karena dalam reaksi tersebut terjadi penangkapan/menerima elektron
(b) Reduktor adalah zat yang dalam reaksi mengalami kenaikan bilangan oksidasi (biloks),
karena dalam reaksi tersebut reduktor mengalami oksidasi atau melepaskan elektron.
Contoh :
Fe2+ → Fe3+ + e
Fe2+ (FeSO4) adalah suatu reduktor
Oksidasi karena dalam reaksi tersebut terjadi pelepasan elektron
Macam-macam titrasi oksidasi reduksi antara lain :
1. Permanganometri
Larutan titer yang digunakan pada metode permanganometri adalah Kalium
permanganat (KMnO4) yang umumnya dilakukan dalam suasana asam (asam sulfat
encer). KMnO4 merupakan suatu oksidator, sehingga zat yang dianalisis merupakan
suatu reduktor.
Contoh : Penetapan kadar hydrogenperoksida yang tertera pada Farmakope Indonesia,
reaksi yang terjadi :
2 KMnO4 + 5 H2O2 + 3 H2SO4 →2 MnSO4 + 5 O2 + 8 H2O + K2SO4
2. Iodimetri dan Iodometri

7
 Iodimetri
Larutan titer yang digunakan pada metode Iodimetri adalah larutan Iodium (I2).
Iodium merupakan suatu oksidator, sehingga zat yang dianalisis merupakan
reduktor.
Contoh : Penetapan kadar vitamin C (asam askorbat) yang tertera dalam
Farmakope Indonesia, reaksi yang terjadi :
Gambar 1.13. Reaksi antara vitamin C dengan Iodium (Rohman, 2008)
 Iodometri,
Larutan titer yang digunakan pada metode Iodometri adalah larutan natrium
tiosulfat (Na2S2O3). Natrium tiosulfat merupakan reduktor, namun reaksi dalam
metode ini didasarkan pada reaksi iodium (oksidator) dengan larutan titer
(natrium tiosulfat). Dimana Iodium merupakan hasil reaksi suatu oksidator (zat
uji) dengan kalium iodida (KI). Iodometri juga bisa dilakukan dengan mereaksikan
zat uji reduktor dengan larutan iodium berlebih, sisa iodium yang tidak bereaksi
dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat (titrasi berlebih).
Contoh :
Penetapan kadar vitamin C, dapat dimodifikasi dengan menambahkan larutan
iodium berlebih. Sisa larutan Iodium selanjutnya dititrasi dengan larutan natrium
tiosulfat, untuk mengetahui jumlah iodium yang bereaksi dengan zat uji (vitamin
C), maka dilakukan titrasi blanko (titrasi tanpa zat uji). Reaksi yang terjadi pada
titrasi lanjutan :
2 Na2S2O3 + I2 → 2 NaI + Na2S4O6
C. DASAR-DASAR PERHITUNGAN PADA VOLUMETRI
Materi selanjutnya yang akan dibahas untuk melengkapi materi analisis kuantitatif
senyawa obat menggunakan analisis voluetri adalah dasar-dasar perhitungan pada
volumetri. Hal utama yang harus diperhatikan dalam perhitungan pada volumetri adalah
satuan konsentrasi dari larutan yang digunakan untuk analisis dan kesetaraan dalam
penentuan Berat Ekivalen (BE). Berikut penjelasan dari hal utama tersebut.
1. Konsentrasi larutan titer biasanya ditentukan dengan satuan konsentrasi normalitas
(N) atau molaritas (M).
Asam askorbat Asam dehidroaskorbat

INGAT : terdapat 2 cara untuk mendapatkan nilai mgrek, tergantung pada data yang tersedia
atau yang akan ditentukan, yaitu :
Mgrek = ml x N atau
=
2. Kesetaraan dalam penentuan berat ekivalen (BE)
a. Kesetaraan dalam penentuan berat ekivalen (BE) yang didasarkan pada prinsip

8
netralisasi
Pada reaksi asam-basa, valensinya ditentukan berdasarkan banyaknya mol H+
atau OH- yang dihasilkan tiap mol asam atau basa.
Contoh:
 HCl akan terurai menurut reaksi : HCl  H+ + Cl-, maka 1 mol HCl = 1 grek
(BE = BM)
 H2SO4 akan terurai menurut reaksi : H2SO4  2H+ + SO42-, maka 1 mol
H2SO4 = 2 grek (BE = ½ BM)
 NaOH akan terurai menurut reaksi : NaOH  Na+ + OH-, maka 1 mol NaOH
= 1 grek (BE = BM)
b. Kesetaraan dalam penentuan berat ekivalen (BE) yang didasarkan pada prinsip
reaksi pengendapan
Pada reaksi pengendapan, 1 ion Ag+ dapat mengikat 1 ion halogen (Cl-, Br-, atau I-
), maka kesetaraan suatu senyawa halogen ditentukan oleh banyaknya atom

halogen di dalam rumus molekulnya yang dapat diendapkan sebagai garam


perak.
Jika mengandung :
 atom halogen, maka 1 mol senyawa tersebut = 1 grek (BE = BM)
 atom halogen, maka 1 mol senyawa tersebut = 2 grek
(BE = ½ BM), dst.
c. Kesetaraan dalam penentuan berat ekivalen (BE) yang didasarkan pada prinsip
reaksi pembentukan senyawa kompleks
Kelebihan EDTA sebagai ligan adalah kemampuannya untuk membentuk
kompleks 1 : 1 dengan ion logam, baik logam valensi 1, 2, atau 3. Sehingga
kesetaraannya selalu 1 : 1 pula, yaitu 1 mol senyawa = 1 grek (BE = BM). Oleh
karena itu konsentrasi larutan titer (EDTA) yang digunakan adalah dalam satuan
molaritas (M).
d. Kesetaraan dalam penentuan berat ekivalen (BE) yang didasarkan pada prinsip
reaksi redoks
Kesetaraan suatu oksidator dan reduktor dalam suatu reaksi redoks tergantung
pada jumlah elektron yang dilepaskan atau diterima, dimana 1 ekuivalen zat
oksidator atau reduktor setara dengan 1 mol elektron.
Contoh :
Pada reaksi :
MnO4- + 8 H+ + 5 e → Mn2+ + 4 H2O
Maka, 1mol KmnO4 setara dengan 5 mol elektron. Jadi 1 mol KmnO4 = 5 grek (BE
= 1/5 BM)
2 S2O32- S4O62- + 2 e

9
Maka, 2 mol Na2S2O3 setara dengan 2 mol elektron. Jadi 2 mol Na2S2O3 = 2 grek
atau 1 mol Na2S2O3 = 1 grek (BE = BM)
Berikut ini contoh-contoh perhitungan pada volumetri:
1. 100 ml HCl 0,5 N diencerkan dengan air hingga 500 ml. berapa normalitas larutan yang
terjadi ?
Jawab :
Gunakan rumus pengenceran :
V1 x N 1 = V 2 x N 2
100 ml x 0,5 N = 500 ml x N2
N2 =
= 0,1 grek/liter
Jadi normalitas larutan yang terjadi = 0,1 N
2. Pada pembakuan larutan HCl, diperoleh bahwa 22,3 ml larutan HCl tersebut setara
dengan 0,1216 gram Na2CO3 murni. Hitunglah normalitas larutan HCl tersebut.
Jawab :
Persamaan reaksi : Na2CO3 + 2 HCl  2 NaCl + H2CO3
1 mol Na2CO3  2 mol HCl  2 mol H+
Maka, 1 mol Na2CO3 = 2 grek
BE = BM/2
= 106/2 = 53
Karena pada titik ekuivalen antara HCl dan Na2CO3, jumlah HCl ekuivalen dengan
jumlah Na2CO3. Maka gunakan rumus perhitungan berikut :
Mgrek HCl = mgrek Na2CO3
VHCl x NHCl =
22,3 x NHCl =
NHCl = 0,1029 grek/liter
Jadi normalitas larutan HCl tersebut adalah 0,1029 N
3. Contoh asam benzoat (C6H5COOH) yang ditimbang seksama sebanyak 0,2500 g
dilarutkan dalam 15 ml etanol yang telah dinetralkan terhadap merah fenol, lalu
ditambahkan 20 ml air. Larutan ini dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,1000 N
menggunakan indikator merah fenol, ternyata volume larutan titer yang dibutuhkan
20,4 ml. hitunglah kadar contoh asam benzoat tersebut.
Maka 1 mol H2C2O4 = 2 grek
BE = BM/2 = 126/2 = 63
Gunakan rumus :
Mgrek KMnO4 = mgrek H2C2O4
VKMnO4 x NKMnO4 =
24,9 ml x NKMnO4 =

10
NKMnO4 = 0,0978
b. Pada penetapan kadar besi (II) sulfat: reaksi oksidasi besi (II) pada ½ reaksi redoks
antara besi (II) dengan KMnO4 adalah :
Fe2+  Fe3+ + e
1 mol Fe2+  1 mol elektron
Maka 1 mol FeSO4 = 1 grek
BE = BM = 152
Gunakan rumus :
Mgrek FeSO4 = mgrek KMnO4
= VKMnO4 x NKMnO4
= 20,1 ml x 0,0978 mgrek/ml
= 1,9658 mgrek
FeSO4 = 1,9658mgrek x 152 mg/mgrek
= 298,7986 mg
= 0,2988 g
Jadi kadar FeSO4 dalam zat uji = x 100%
= 53,74%

Latihan
1) Untuk pembakuan larutan titer EDTA, ditimbang kalsium karbonat (BM = 100) dan
tertimbang sebanyak 0,0955 g. Setelah dilarutkan dengan asam klorida encer dan
ditambahkan buffer amonia, larutan ini dititrasi dengan larutan EDTA yang hendak
dibakukan menggunakan indikator biru hidroksi naftol. Volume larutan titer yang
dibutuhkan pada saat titrasi adalah 19,3 ml yang ditandai dengan terbentuknya warna
biru. Hitunglah molaritas (M) larutan EDTA tersebut.
2) 0,3 gram contoh asam sitrat (struktur dan BM lihat FI ed. IV) dilarutkan dengan 100 ml
air. Dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,0997 N menggunakan indikator yang sesuai.
Volume titrasi yang dibutuhkan adalah 42,2 ml.
a. Tuliskan indikator yang sesuai tersebut, dan perubahan warna indikator yang
terjadi pada titik akhir titrasi.
b. Hitung kadar kemurnian contoh asam sitrat tersebut
Ringkasan
Metode volumetri merupakan metode analisis kuantitatif obat secara
sederhana/konvensional yang banyak digunakan dalam penetapan kadar obat dalam sampel
(misalnya dalam sediaan tablet) atau untuk mengetahui tingkat kemurnian suatu bahan
obat.
Untuk dapat dilakukan analisis secara volumetri harus dipenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
1) reaksinya harus sederhana dan dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi,

11
2) reaksinya harus berlangsung cepat,
3) pada titik ekivalen, reaksi harus dapat diketahui titik akhirnya dengan tajam (jelas
perubahannya),
4) harus ada indikator.
Analisis kuantitatif dengan metode volumetri didasarkan pada reaksi kimia antara zat
uji dengan larutan titer, baik reaksinya langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan jenis
reaksinya, maka titrasi dikelompokkan menjadi empat macam titrasi yaitu :
1) Titrasi asam basa/netralisasi (asidimetri dan alkalimetri);
2) Titrasi pengendapan (argentometri);
3) Titrasi pembentukan senyawa kompleks (kompleksometri);
4) Titrasi oksidasi reduksi (permanganometri, iodimetri, iodometri).
Konsentrasi larutan dalam volumetri biasanya ditentukan dengan satuan konsentrasi
normalitas (N) atau molaritas (M). Dimana Normalitas adalah satuan konsentrasi larutan
yang menyatakan jumlah gram ekuivalen (grek) zat terlarut dalam 1 liter (1.000 ml) larutan.
Molaritas adalah satuan konsentrasi larutan yang menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam
1 liter (1.000 ml) larutan.
Kesetaraan dalam penentuan berat ekivalen (BE) ditentukan berdasarkan reaksi yang
terjadi. Beberapa rumus yang dapat digunakan dalam perhitungan kadar secara volumetri
adalah :
 N = grek/liter = dan M = mol/liter =
 ml x N = mgrek
 ml x M = mmol

12