Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Kata Pengantar
Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini. Dalam
pembuatan makalah ini, banyak kesulitan yang kami alami terutama disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan. Namun berkat bimbingan dan bantuan dari semua pihak akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan makalah yang kami buat ini yang
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran agar
makalah ini menjadi lebih baik serta berdaya guna dimasa yang akan datang.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan komunikasi interpersonal merupakan kegiatan sehari-hari yang paling
banyak dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial. Sejak bangun tidur di pagi hari sampai
tidur lagi di larut malam, sebagian besar dari waktu kita digunakan untuk berkomunikasi
dengan manusia yang lain. Dengan demikian kemampuan berkomunikasi merupakan suatu
kemampuan yang paling dasar. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita sering
mengalami perbedaan pendapat, ketidaknyamanan situasi atau bahkan terjadi konflik yang
terbuka yang disebabkan adanya kesalahfahaman dalam berkomunikasi. Menghadapi situasi
seperti ini, manusia baru akan menyadari bahwa diperlukan pengetahuan mengenai
bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan efektif.yang harus dimiliki seorang manusia.
Efektifitas seorang komunikator dapat dievaluasi dari sudut sejauhmana tujuan-tujuan
tersebut dicapai. Persyaratan untuk keberhasilan komunikasi adalah mendapat perhatian. Jika
pesan disampaikan tetapi penerima mengabaikannya, maka usaha komunikasi tersebut akan
gagal. Keberhasilan komunikasi juga tergantung pada pemahaman pesandan penerima. Jika
penerima tidak mengerti pesan tersebut,maka tidaklah mungkin akan berhasil dalam
memberikan informasi atau mempengaruhinya. Bahkan jika suatu pesan tidak dimengerti,
penerima mungkin tidak meyakini bahwa informasinya benar, sekalipun komunikator benar-
benar memberikan arti apa yang dikatakan.
Kemampuan berkomunikasi interpersonal yang baik dan efektif sangat diperlukan
oleh manusia agar dia dapat menjalani semua aktivitasnya dengan lancar. Terutama ketika
seseorang melakukan aktivitas dalam situasi yang formal, misal dalam lingkungan kerja.
Lebih penting lagi ketika aktivitas kerja seseorang adalah berhadapan langsung dengan orang
lain dimana sebagian besar kegiatannya merupakan kegiatan komunikasi interpersonal.
Agar komunikasi dapat berjalan lancar, maka dibutuhkan keahlian dalam
berkomunikasi( communication skill). Dan tidaklah semua orang memiliki communication
skill. Banyak orang yang berkomunikasi hanya mengandalkan gaya yang dipakai sehari-hari.
Mereka menganggap cara komunikasi yang mereka pakai sudah benar. Padahal kalau
dicermati masih banyak kesalahan dalam berkomunikasi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi interpersonal?
2. Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam komunikasi interpersonal?
3. Bagaimana memupuk keahlian komunikasi iterpersonal?
4. Bagaimana pentingnya keahlaian komunikasi interpersonal dalam komunikasi?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Komunikasi Interpersonal
Komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaina informasi antara dua orang atau
lebih. Komunikasi merupakan suatu proses yanh vital dalam organisasi karena komunikasi
diperlukan bagi evektifitas kepemimpinan, perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan ,
manajemen konfilk, serta proses-proses organisasi lainnya.
Komunikasi interpersonal biasanya didefinisikan oleh komunikasi ulama dalam
berbagai cara, biasanya menggambarkan peserta yang tergantung pada satu sama lain dan
memiliki sejarah bersama. Hal ini dapat melibatkan satu pada satu percakapan atau individu
berinteraksi dengan banyak orang dalam masyarakat. Ini membantu kita memahami
bagaimana dan mengapa orang berperilaku dan berkomunikasi dengan cara yang berbeda
untuk membangun dan menegosiasikan realitas sosial . Sementara komunikasi interpersonal
dapat didefinisikan sebagai area sendiri studi, itu juga terjadi dalam konteks lain seperti
kelompok dan organisasi.
Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan
antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti
mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal , dan banyak lagi. Sebuah
konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada
individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana
mungkin ada sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif. Deddy
Mulyana (2005) menyatakan: “komunikasi antarpribadi (interpersonal communication)
adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap
pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun
nonverbal.” (Mulyana, 2005:73).
Individu juga berkomunikasi pada tingkat interpersonal berbeda tergantung pada siapa
mereka terlibat dalam komunikasi dengan. Sebagai contoh, jika seseorang berkomunikasi
dengan anggota keluarga, bahwa komunikasi akan lebih dari mungkin berbeda dari jenis
komunikasi yang digunakan ketika terlibat dalam tindakan komunikatif dengan teman atau
penting lainnya.
Secara keseluruhan, komunikasi interpersonal dapat dilakukan dengan baik dan tidak
langsung media komunikasi langsung seperti tatap muka interaksi, serta komputer-mediated-
komunikasi. Sukses mengasumsikan bahwa baik pengirim pesan dan penerima pesan akan
menafsirkan dan memahami pesan-pesan yang dikirim pada tingkat mengerti makna dan
implikasi.
Tujuan komunikasi boleh jadi memberikan keterangan tentang sesuatu kepada
penerima, mempengaruhi sikap penerima, memberikan dukungan psikologis kepada
penerima, atau mempengaruhi penerima.
B. Persepsi Interpersonal dan Konsep Diri dalam Keahlian Komunikasi Interpersonal
Konsep diri dan Persepsi interpersonal sangat dibutuhkan untuk pencapaian dalam
kelancaran komunikasi. Orang yang lancar dalam berkomunikasi berarti orang tersebut
mempunyai keahlian dalam berkomunikasi. Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan
saja pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu
kecermatan persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas
komunikasi interpersonal kita. Faktor-faktor personal yang mempengaruhi persepsi
nterpersonal diantaranya adalah pengalaman, motivasi, kepribadian, stereotyping,atribusi.
Perilaku kita dalam berkomunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi
interpersonal. Jadi persepsi interpersonal membawa pengaruh yang besar bagi komunikasi
interpersonal. Kegagalan komunikasi dapat diperbaiki apabila orang tersebut menyadari
bahwa persepsinya salah. Komunikasi interpersonal kita akan menjadi lebih baik bila kita
mengetahui bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru.
Konsep diri diperlukan agar kita bisa mengamati diri dan sampailah pada gambaran
dan penilaian diri kita. William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai pandangan dan
perassan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan
fisis. Konsep diri bisa juga dijadikan alat pengukur kepercayaan diri kita.
Faktor-faktor yang mempengruhi konsep diri diantaranya adalah orang lain dan
kelompok. Ada kelomok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh terhadap
pembentukan konsep diri kita. Ini disebut kelompok rujukan. Dengan melihat kelompok ini,
orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya.
Pengaruh konsep diri pada komunikasi interpersonal diantaranya adalah sebagai berikut:
• Nubuat yang dipenuhi sendiri
Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi
interpersonal karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep
dirinya. Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri deisebut sebagai
nubuat yang dipenuhi sendiri. Sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada
kualitas konsep diri yang positif atau negatif. Sebagai peminat komunikasi, sebaiknya kita
mampu mengidentifikasi tanda-tanda konsep diri yang positif atau negatif.
• Membuka diri
Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama
berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan
membuka diri, konsep diri menjadi lebih dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai
dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman
dan gagasan-gagasan baru, lebih cenderung menghindari sikap defensif, dan lebih cermat
memandang diri kita dan orang lain.
• Percaya diri
Keinginan untuk menutup diri, selain karena konsep diri yang negatif timbul dari
kurangnya kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri. Orang yang tidak menyenangi
dirinya merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengatasi persoalan. Orang yang kurang
percaya diri akan cenderung sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi. Ia takut kalau
orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya.
• Selektivitas
Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri
mempengaruhi kepada pesan apa anda bersedia membuka diri, bagaimana kita mempersepsi
pesan itu, dan apa yang kita ingat. (Anita Taylor 1977: 112). Dengan singkat, konsep diri
menyebabkan terpaan selektif, persepsi selektif, dan ingatan selektif.
C. Hubungan Keahlian komunikasi Interpersonal dalam Komunikasi
Orang yang mempunyai keahlian komunikasi maka komunikasi orang tersebut akan
berjalan efektif. Kita harus memupuk keahlian kita dalam komunikasi interpersonal melalui
konsep diri. Konsep diri seperti yang telah tertuang diatas sangat penting dilakukan agar kita
ahli dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal
yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami tetapi
hubungan dengan komunikan menjadi rusak. DeVito (1992) memandang komunikasi
interpersonal yang efektif berdasarkan humanistic model dan pragmatic model. Humanistic
model (soft approach) menunjukkan bahwa kualitas komunikasi interpersonal yang efektif
ditentukan oleh 5 faktor, sebagai berikut: Openness (keterbukaan), Empathy, Supportiveness
(mendukung), Positiveness (sikap positif), Equality (kesetaraan). Pragmatic model
(behavioural) atau disebut juga sebagai pendekatan keras (hard approach) atau (competence
model) fokus pada perilaku tertentu yang harus digunakan oleh pelaku komunikasi
interpersonal baik sebagai pembicara maupun sebagai pendengar apabila ingin efektif.
Pendekatan ini pun menyatakan ada 5 skemampuan yang harus dimiliki, yaitu sebagai
berikut:
• Confidence (percaya diri) maksudnya adalah para pelaku komunikasi interpersonal harus
memilki rasa percaya diri secara sosial (social confidence).
• Immediacy merujuk pada situasi adanya perasaan kebersamaan antara
pembicara dan pendengar (oneness). Immediacy ditunjukan dengan sikap memperhatikan,
menyenangi, dan tertarik pada lawan bicara
• Interaction management maksudnya adalah kemampuan untuk mengontrol interaksi demi
memuaskan kedua belah pihak pelaku komunikasi.
• Expressiveness maksudnya adalah kemampuan untuk secara sungguhsungguh terlibat dalam
proses komunikasi.
• Other orientation maksudnya adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan orang lain
selama proses komunikasi interpersonal berlangsung.
Butir-butir tersebut di atas menjelaskan kemampuan yang harus dimiliki agar suatu
proses komunikasi interpersonal efektif. Idealnya semua kemampuan tersebut harus dimiliki
oleh para pelaku komunikasi interpersonal. Namun DeVito (1992) memberikan peringatan
bahwa dalam menerapkan kemampuan tersebut setiap situasi komunikasi, dan aspek budaya
yang berbeda pada pelaku komunikasi. Jadi aturan-aturan komunikasi interpersonal yang
efektif tersebut harus diterapkan secara fleksibel.
Ada sejumlah model untuk menganalisa hubungan personal, tetapi dengan mengikuti ikhtisar
dari Coleman dan Hammen (1974:224-231). Model-model tersebut antara lain adalah sebagai
berikut:
• Model pertukaran sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang
berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi
kebutuhannya.
• Model peranan masyarakat
Model peranan melihatnya sebagai panggung sandiwara. Di sini setiap orang harus
memainkan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat masyarakat. Hubungan
interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspedisi peranan
dan tuntutan peranan, memiliki keterampilan peranan, dan terhindari dari konflik peranan dan
kerancunan peranan.
• Model permainan
Dalam model ini, orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari
permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia.
• Model interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki
sifat-sifat struktural, integratif, dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsisitem
yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan.
Pola-pola komunikasi interpersonal mempuanyai efek yang berlainan pada hubungan
interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi
interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah
berapa kali komunikasi dilakukan. Tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Faktor-faktor
yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal adalah percaya,
kejujuran, sikap suportif.

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI


Komunikasi antar pribadi merupakan proses pemberian dan penerimaan pesan
antara dua atau diantara orang-orang dalam kelompok kecil melalui satu saluran atau lebih,
dengan melibatkan beberapa pengaruh dan umpan balik. Komunikasi antar pribadi
melibatkan hubungan pribadi antara dua individu atau lebih. Dalam proses konseling,
komunikasi antar pribadi memungkinkan terjadinya interaksi yang bersifat pribadi antara
konselor dan klien. Oleh karena itu ketrampilan komunikasi antar pribadi perlu dikuasai oleh
konselor untuk menunjang keefektifan konseling.

Komunikasi antar pribadi ditandai dengan

(1) perkiraan berdasarkan informasi psikologis,

(2) interaksi berdasarkan pengetahuan yang lebih jelas, dan

(3) interaksi berdasarkan aturan yang dibuat secara pribadi.

Maksud komunikasi antar pribadi ialah untuk:

(1) menemukan diri sendiri,

(2) menemukan dunia luar,

(3) membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna dengan orang lain,

(4) mengubah sikap dan perilaku sendiri dan orang lain,

(5) bermain dan hiburan,

(6) memberikan bantuan.

Untuk melangsungkan komunikasi antar pribadi secara efektif perlu memperhatikan


prinsip komunikasi antar pribadi sebagai berikut:

1. Kita tidak mungkin terhindar dari kehidupan tanpa komunikasi

2. Semua komunikasi merujuk kepadda isi dan hubungan di antara partisipan

3. Komunikasi tergantung pada pertukaran antar partisipan atas dasar kesamaan sistem tanda dan
makna

4. Setiap orang berkomunikasi menggunakan rangsangan dan respon berdasarkan sudut


pandangannya sendiri

5. Komunikasi antar pribadi dapat merangsang timbulnya saling meniru atau saling melengkapi
perilaku antara individu yang satu dengan lainnya.

A. Persepsi dalam komunikasi antar pribadi


Persepsi adalah proses individu menjadi sadar dan memberi makna terhadap obyek
dan peristiwa di luar dirinya melalui bermacam alat dria. Persepsi mendasari proses
komunikasi antar pribadi, dalam arti bahwa kualitas komunikasi itu akan banyak ditentukan
oleh persepsi masing-masing partisipan.

Persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

(1) harapan individu,

(2) kesan pertama,

(3) kesan kelompok,

(4) derajat kesamaan perilaku orang lain,

(5) konsistensi (ketetapan) perilaku dalam berbagai situasi,

(6) motivasi internal dan eksternal. Dalam konseling harus dikembangkan persepsi
yang benar dan tepat baik dalam diri konselor maupun dalam diri klien. Harus dihindari
adanya perbedaan pesepsi antara konselor dengan klien.

Menyimak dalam komunikasi antar pribadi


Menyimak merupakan ketrampilan yang sangat diperlukan dalam proses komunikasi
antar pribadi. Menyimak dapat dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang diwujudkan
dalam bentuk proses mengirimkan kemabali kepada pembicara mengenai pikiran, mengenai
isi dan perasaan pembicara.

Fungsi menyimak dalam komunikasi dalam komunikasi antar pribadi adalah sebagai bentuk
memperoleh: rasa senang, infortmasi, dan bantuan. Sedangkan maksud menyimak adalah
untuk: (1) membuat pendengar mengecek pemahaman secara tepat,

(2) menyatakan penerimaan perasaan pembicara,

(3) merangsang pembicara agar memperluas perasaan dan pikiran,

(4) memberitahukan kepada pembicara mengenai reaksi pendengar,

(5) memberikan bimbingan kepada pembicara untuk menyesuaikan isi pesan-pesannya.

Menyimak yang efektif dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

1. Berhenti bicara

2. Tempatkan pembicara dengan mudah

3. Bereaksi secara baik

4. Konsentrasi pada apa yang sedang dibicarakan

5. Jangan terlalu tergesa-gesa memberikan tafsiran


6. Berbagi tangguing jawab dalam komunkasi

7. Ungkapan dengan cara yang benar

8. Menyatakan pemahaman

9. Mengajukan pernyataan

10. Bersikap secara baik seperti: bersahabat, sopan, terbuka, sensitif, dsb.

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

A. Pengertian

Komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara individu-


individu (Littlejohn, 1999).

Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik yang
melibatkan hanya dua orang secara tatap-muka, yang memungkinkan setiap pesertanya
menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal, seperti
suami-isteri, dua sejawat, dua sahabat dekat, seorang guru dengan seorang muridnya, dan
sebagainya.

Steward L. Tubbs dan Sylvia Moss (dalam Deddy Mulyana, 2005) mengatakan ciri-ciri
komunikasi diadik adalah:

1. Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat;

2. Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik
secara verbal maupun nonverbal.

Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat
untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima lat
indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada
komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi
antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi.
Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan
sesamanya, berbeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat kabar, televisi,
ataupun lewat teknologi tercanggihpun.
B. Faktor-faktor pengaruh

Jalaludin Rakhmat (1994) meyakini bahwa komunikasi antarpribadi dipengaruhi oleh


persepsi interpersonal; konsep diri; atraksi interpersonal; dan hubungan interpersonal.

1. Persepsi interpersonal

Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi
inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang
berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan
dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, seorang
peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibat kegagalan
komunikasi.

2. Konsep diri

Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif,
ditandai dengan lima hal, yaitu: a. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah; b. Merasa
stara dengan orang lain; c. Menerima pujian tanpa rasa malu; d. Menyadari, bahwa setiap
orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui
oleh masyarakat; e. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-
aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah. Konsep diri merupakan
faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi, yaitu:

a. Nubuat yang dipenuhi sendiri. Karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai
dengan konsep dirinya. Bila seseorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang
rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik,
mempelajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis
yang baik.

b. Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada
saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri
kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri
sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-
pengalaman dan gagasan baru.

c. Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication


apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa
percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat
menjadi perlu.
d. Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri
mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri (terpaan selektif), bagaimana
kita mempersepsi pesan (persepsi selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain
itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).

3. Atraksi interpersonal

Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang.
Komunkasi antarpribadi dipengaruhi atraksi interpersonal dalam hal:

a. Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian kita terhadap orang lain tidak
semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional, kita juga makhluk emosional. Karena itu,
ketika kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan
dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika membencinya, kita cenderung melihat
karakteristiknya secara negatif.

b. Efektivitas komunikasi. Komunikasi antarpribadi dinyatakan efektif bila pertemuan


komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam
satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, kita akan gembira dan terbuka. Bila
berkumpul dengan denganorang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah, dan
tidak enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.

4. Hubungan interpersonal

Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan orang
lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajad keterbukaan orang
untukmengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi
dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi.
Miller (1976) dalamExplorations in Interpersonal Communication, menyatakan bahwa
”Memahami proses komunikasi interpersonal menuntut hubungan simbiosis antara
komunikasi dan perkembangan relasional, dan pada gilirannya (secara serentak),
perkembangan relasional mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat
dalam hubungan tersebut.”

Lebih jauh, Jalaludin Rakhmat (1994) memberi catatan bahwa terdapat tiga faktor dalam
komunikasi antarpribadi yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu: a.
Percaya; b. sikap suportif; dan c. sikap terbuka.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan
antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti
mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal , dan banyak lagi. Sebuah
konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada
individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana
mungkin ada sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif.
Konsep diri dan Persepsi interpersonal sangat dibutuhkan untuk pencapaian dalam
kelancaran komunikasi. Orang yang lancar dalam berkomunikasi berarti orang tersebut
mempunyai keahlian dalam berkomunikasi. Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan
saja pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu
kecermatan persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas
komunikasi interpersonal kita.
Orang yang mempunyai keahlian komunikasi maka komunikasi orang tersebut akan
berjalan efektif. Kita harus memupuk keahlian kita dalam komunikasi interpersonal melalui
konsep diri. Konsep diri seperti yang telah tertuang diatas sangat penting dilakukan agar kita
ahli dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal
yang baik.

MAKALAH KOMUNIKASI INTERPERSONAL


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan komunikasi interpersonal merupakan kegiatan sehari-hari yang paling banyak
dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial. Sejak bangun tidur di pagi hari sampai tidur
lagi di larut malam, sebagian besar dari waktu kita digunakan untuk berkomunikasi dengan
manusia yang lain. Dengan demikian kemampuan berkomunikasi merupakan suatu
kemampuan yang paling dasar. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita sering
mengalami perbedaan pendapat, ketidaknyamanan situasi atau bahkan terjadi konflik yang
terbuka yang disebabkan adanya kesalahfahaman dalam berkomunikasi. Menghadapi situasi
seperti ini, manusia baru akan menyadari bahwa diperlukan pengetahuan mengenai
bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan efektif.yang harus dimiliki seorang manusia.
Efektifitas seorang komunikator dapat dievaluasi dari sudut sejauhmana tujuan-tujuan
tersebut dicapai. Persyaratan untuk keberhasilan komunikasi adalah mendapat perhatian.
Jika pesan disampaikan tetapi penerima mengabaikannya, maka usaha komunikasi tersebut
akan gagal. Keberhasilan komunikasi juga tergantung pada pemahaman pesandan penerima.
Jika penerima tidak mengerti pesan tersebut,maka tidaklah mungkin akan berhasil dalam
memberikan informasi atau mempengaruhinya. Bahkan jika suatu pesan tidak dimengerti,
penerima mungkin tidak meyakini bahwa informasinya benar, sekalipun komunikator benar-
benar memberikan arti apa yang dikatakan.
Kemampuan berkomunikasi interpersonal yang baik dan efektif sangat diperlukan oleh
manusia agar dia dapat menjalani semua aktivitasnya dengan lancar. Terutama ketika
seseorang melakukan aktivitas dalam situasi yang formal, misal dalam lingkungan kerja.
Lebih penting lagi ketika aktivitas kerja seseorang adalah berhadapan langsung dengan
orang lain dimana sebagian besar kegiatannya merupakan kegiatan komunikasi
interpersonal.
Agar komunikasi dapat berjalan lancar, maka dibutuhkan keahlian dalam berkomunikasi(
communication skill). Dan tidaklah semua orang memiliki communication skill. Banyak
orang yang berkomunikasi hanya mengandalkan gaya yang dipakai sehari-hari. Mereka
menganggap cara komunikasi yang mereka pakai sudah benar. Padahal kalau dicermati
masih banyak kesalahan dalam berkomunikasi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi interpersonal?
2. Apa saja ciri – ciri komunikasi interpersonal?
3. Apa tujuan komunikasi interpersonal?
4. Apa saja faktor penyebab komunikasi interpersonal?
5. Apa maksud dari efektifitas komunikasi interpersonal?
6. Apa yang menjadi hambatan komunikasi interpersonal?
1.3 Tujuan
1. Dapat memahami apa yang dimaksud dengan komunikasi interpersonal
2. Dapat membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti
3. Dapat merubah sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik lagi

BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang


dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat
langsung diketahui balikannya. (Muhammad, 2005,p.158-159).

Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalahpenyampaian pesan oleh satu


orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai
dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p.
30).

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka,


yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik
secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya
dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya
(Mulyana, 2000, p. 73)

Menurut Effendi, pada hakekatnya komunikasi interpersonal adalahkomunikasi antar


komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya
mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis berupa
percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan
ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator mengetahui secara pasti
apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan
kesempatan pada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya (Sunarto, 2003, p. 13).

2. Ciri –ciri Komunikasi Interpersonal


Ada lima aspek yang merupakan ciri - ciri dari komunikasi interpersonal, antara lain :
1. Komunikasi interpersonal biasanya terjadi secara spontan dan tanpa tujuanterlebih dahulu.
Maksudnya, bahwa biasanya komunikasi interpersonalterjadi secara kebetulan tanpa
rencana sehingga pembicaraan terjadi secaraspontan.
2. Komunikasi interpersonal mempunyai akibat yang direncanakan maupun tidak terencana.
3. Komunikasi interpersonal biasanya berlangsung berbalasan. Salah satucirri khas
komunikasi interpersonal adalah adanya timbale balik bergantiandalam saling member
maupun menerima informasi antara komunikatordan komunikan secara bergantian sehingga
tercipta suasan dialogis.
4. Komunikasi interpersonal biasanya dalam suasana kedekatan ataucenderung menghendaki
keakraban. Untuk mengarh kepada suasanakedekatan atau keakraban tentunya kedua belah
pihak yaitu komunikatordan komunikan harus berani membuka hati, siap
menerimaketerusterangan pihak lain.
5. Komunikasi interpersonal dalam pelaksanaannya lebih menonjol dalampendekatan
psikologis daripada unsure sosiologisnya. Hal ini karena adanya unsur kedekatan atau
keakraban yang terbatas pada dua ataudengan paling banyak tiga individu saja yang
terlibat. Sehingga faktor-faktor yang mempengruhi kejiwaan seseorang lebih mudah
terungkapdalam komunikasi tersebut.

3. Tujuan Komunikasi Interperonal


Komunikasi interpersonal mungkin mempunyai beberapa tujuan. Di sini akan
dipaparkan 6 tujuan, antara lain ( Muhammad, 2004, p. 165-168 ) :
a. Menemukan Diri Sendiri
Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi.
Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak
sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa
yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila
berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan
diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan,
pikiran, dan tingkah laku kita.

b. Menemukan Dunia Luar


Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang
diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui
datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang datang
kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari
atau didalami melalui interaksi interpersonal.

c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti


Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara
hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi
interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.

d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku


Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain
dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu,
misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca
buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita
banyak
menggunakan waktu waktu terlibat dalam posisi interpersonal.

e. Untuk Bermain Dan Kesenangan


Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari
kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan,
berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu
adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan
komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam
pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.

f. Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakkan komunikasi
interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua
juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita
berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa
tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.

4. Penyebab Komunikasi Interpersonal


Menurut Rakhmat (2001) mengemukakan faktor-faktor yang dapatmenyebabkan
komunikasi interpersonal terdiri dari :
1) Persepsi InterpersonalBerupa pengalaman tentang peristiwa atau hubungan yang
diperolehdengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan untuk membedakan bahwa
manusia bukan benda tapi sebagai objek persepsi.
a. Konsep DiriMenurut Brooks (Rakhmat, 2001) konsep diri adalah suatu pandangandan
perasan individu tentang dirinya. Jika individu dapat diterimaorang lain, dihormati, dan
disenangi karena keadaan dirinya, individucenderung akan bersikap menghormati dan
menerima diri. Sebaliknya,bila orang lain selalu meremehkan, menyalahkan dan menolak
dirinya,individu cenderung akan bersikap tidak akan menyenangi dirinya.
b. Atraksi InterpersonalMenurut Barlund (Rakhmat, 2001) Atraksi interpersonal
diperolehdengan mengetahui siapa yang tertarik kepada siapa atau siapamenghindari siapa,
maka individu dapat meramalkan arus komunikasiinterpersonal yang akan terjadi. Misalnya
makin tertarik individukepada seseorang, makin besar kecenderungan
individuberkomunikasinya. Kesukaan pada orang lain, sikap positif dan dayatarik seseorang
disebut sebagai atraksi interpersonal

c. Hubungan InterpersonalMenurut Goldstein (Rakhmat, 2001) hubungan interpersonal ada


tigayaitu :
a. Semakin baik hubungan interpersonal seseorang maka semakinterbuka
individu mengungkapkan perasaannya.
b. Semakin baik hubungan interpersonal seseorang maka semakincenderung individu meneliti
perasaannya secara mendalam besertapenolongnya (psikolog).
c. Semakin baik hubungan interpersonal seseorang maka makincenderung individu
mendengarkan dengan penuh perhatian danbertindak atas nasehat penolongnya.

5. Efektifitas Komunikasi Intelektual


a. Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi
interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang
yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera
membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak
membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri
mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini
patut.
Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk
bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan
tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin
orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak
mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan
ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan.
Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap
orang lain.
Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly,
1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang
anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara
terbaik untuk menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata
Saya (kata ganti orang pertama tunggal).

b. Empati (empathy)
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk
‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut
pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah
merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah
merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan
merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain,
perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal.
Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan
a. keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai
b. konsentrasi terpusat meliputi komtak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan
kedekatan fisik; serta
c. sentuhan atau belaian yang sepantasnya.

c. Sikap mendukung (supportiveness)


Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap
mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan
karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam
suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1)
deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategic, dan (3) provisional, bukan sangat
yakin.

d. Sikap positif (positiveness)


Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan
sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang
yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari
komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang
memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.

Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting
untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi
dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan
terhadap situasi atau suasana interaksi.

e. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin
lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain.
Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari
ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara.
Artinya, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai
dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk
disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan ketidak-
sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang
pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak
mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan
nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl
rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat”
kepada orang lain

6. Hambatan – hambatan Komunikasi Interpersonal


A. Interaksi
Adanya aktivitas-aktivitas dalam kehidupan sosial menunjukkan bahwa manusia
mempunyai naluri untuk hidup bergaul dengan sesamanya (disebut gregariousness). Naluri
ini merupakan salah satu yang paling mendasar dalam kebutuhan hidup manusia, disamping
kebutuhan akan; afeksi (kebutuhan akan kasih sayang), inklusi (kebutuhan akan kepuasan),
dan kontrol (kebutuhan akan pengawasan). Dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup
tersebut akan mendorong manusia untuk melakukan interaksi dengan sesamanya, baik untuk
mengadakan kerjasama (cooperation) maupun untuk melakukan persaingan (competition).
Kata interaksi berasal dari Bahasa Inggris interaction artinya suatu tindakan yang
berbalasan. Dengan kata lain suatu proses hubungan yang saling pengaruh mempengaruhi.
Jadi interaksi sosial (social interaction) adalah suatu proses berhubungan yang dinamis dan
saling pengatuh mempengaruhi antar manusia.
Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack dalam buku Sociology ang Social
Life menyatakan bahwa : “Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh
karena tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.
Sementara itu Soerjano Soekamto dalam buku Sosiologi Suatu Pengantar menyatakan bahwa
: “Interaksi sosial (yang juga dinamakan proses sosial) merupakan syarat utama terjadinya
aktivitas-aktivitas sosial.”

Interaksi antar manusia dimaksud adalah :


a) interaksi antara individu dengan individu,
b) interaksi antara individu dengan kelompok, dan
c) interaksi antara kelompok dengan kelompok.

Hasil dari pada interaksi sosial ada dua sifat kemungkinan :


a. Bersifat positif; suatu interaksi yang mengarah kerjasama dan menguntungkan. Contoh
persahabatan.
b. Bersifat negatif; suatu interaksi yang mengarah pada suatu pertentangan yang berakibat
buruk atau merugikan. Contoh perselisihan, pertikaian, dan sebagainya.

Berdasarkan hasil interaksi yang negatif tersebut di atas maka itulah yang menjadi
hambatan dalam proses Komunikasi Interpersonal. Dalam situasi pertentangan Komunikasi
Interpersonal tidak dapat dilaksanakan dengan baik, kalau pun dipaksakan dilaksanakan
pasti kegiatan Komunikasi Interpersonal efeknya tidak akan berhasil.
B. Kultur
Istilah kultur meruapakan penyebutan terhadap istilah budaya. Dalam khasanah ilmu
pengetahuan kata kebudayaan/budaya merupakan terjemahan dari kata culture. Kata culture
sendiri berasal dari Bahasa Latin dari kata colere yang berarti mengolah, mengerjakan,
menyuburkan, dan mengembangkan tanah/pertanian.
E.B. Taylor yang dikutip Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi
menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks yang meliputi
keyakinan dan cara hidup suatu masyarakat yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Keyakinan adalah keseluruhan idea yang dianut meliputi religi, pemerintahan,
ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan adat istiadat. Cara hidup adalah pola-pola tindakan
yang berhubungan dengan soal kebiasaan meliputi makanan, pakaian, perumahan, cara-
cara perkawian, hiburan, estetika dan sebagainya.
Rapl Linton menyatakan bahwa : “Kebudayaan adalah keseluruhan dari pengetahuan, sikap,
pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu
masysrakat tertentu.”
Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Ilmu Antropoogi menyatakan bahwa :
“Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”
Dari beberapa definisi kebudayaan tersebut di atas dapat disimpulkan dan juga telah
disepakati beberapa ahli antropologi, bahwa kebudayaan dan tindakan kebudayaan itu
adalah segala tindakan yang harus dilalui dan dibiasakan manusia melalui proses belajar
(learned behavior) .
Berkaitan dengan hal tersebut di atas hal tersebut sesuai dengan fungsi komunikasi
menurut Harol D. Lasswell yang ketiga yaitu; The transmission of the social heritage from
one generation to the next, dalam hal ini transmission of culture difocuskan kepada kegiatan
mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi
lain. Itulah fungsi komunikasi terutama Komunikasi Interpersonal.
Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana kedudukan kultur atau budaya dalam
proses kegiatan Komunikasi Interpersonal. Untuk sementara ini para ahli baru meninjau
hanya mengenai hambatan budaya/kulur dalam proses Komunikasi Interpersonal terutama
kegiatan Komunikasi Interpersonal lintas budaya, yaitu diantaranya :
a. Menyampaikan pesan pada orang yang berlainan kultur akan mengundang perbedaan
persepsi terhadap isi pesan sehingga efek yang diharapkan akan sukar timbul.
b. Menyampaikan pesan verbal pada orang yang berlainan kultur tentu saja akan banyak
perbedaan dalam bahasa sehingga dalam proses kegiatan Komunikasi Interpersonal tersebut
selain hambatan dalam bahasa juga terdapat hambatan semantic, yaitu perbedaan
peristilahan dalam masing-masing bahasa.
c. Menyampaikan pesan verbal pada orang yang berlainan kultur disertai penekanan pesan
dengan pesan non-verbal mungkin akan mengundang penafsiran berbeda hingga tujuan
penyampaian pesan tidak akan tersampaikan.
d. Menyampaikan pesan pada orang yang berlainan kultur jika bertentangan dengan adat-
kebisaannya, norma-normanya maka akan terjadi penolakan Komunikasi Interpersonal.

C. Experience
Pengalaman atau experience adalah sejumlah memori yang dimiliki individu
sepenjang perjalanan hidupnya.
Pengalaman masing-masing individu akan berbeda-beda tidak akan persis sama, bahkan
pasangan anak kembar pun yang dibesarkan sama-sama dalam lingungan keluarga yang
sama pengalamannya tidak akan persis sama bahkan mungkin akan berbeda.
Perbedaan pengalaman antara individu (bahkan antar anak kembar) ini bermula dari
perbedaan persepsi masing-masing tentang sesuatu hal. Perbedaan persepsi tersebut banyak
disebabkan karena perbedaan kemampuan kognitif antara individu termasuk anak kembar
tersebut, sedangkan bagi individu yang saling berbeda budaya tentu saja perbedaan persepsi
tersebut karena perbedayaan budaya. Perbedaan persepsi tersebut kemudian ditambah
dengan perbedaan kemampuan penyimpanan hal yang dipersepsi tadi dalam strorage sirkit
otak masing-masing individu tersebut menjadi long-term memory-nya. Setelah itu perbedaan
akan berlanjut dalam hal perbedaan kemampuan mereka memanggil memori mereka jika
diperlukan.
Perbedaan pengalaman tentu saja menjadi hambatan dalam Komunikasi
Interpersonal, karena seperti telah di bahas di muka bahwa terjadinya heterophilious karena
salah satunya diakibatkan perbedaan pengalaman. Sehingga jika terjadi heterophilious maka
proses Komunikasi Interpersonal tidak akan berjalan dan tujuan penyampaian pesan pun
tidak akan tercapai.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Komunikasi interpersonal adalah termasuk pesan pengiriman dan penerimaan pesan
antara dua atau lebih individu. Hal ini dapat mencakup semua aspek komunikasi seperti
mendengarkan, membujuk, menegaskan, komunikasi nonverbal , dan banyak lagi. Sebuah
konsep utama komunikasi interpersonal terlihat pada tindakan komunikatif ketika ada
individu yang terlibat tidak seperti bidang komunikasi seperti interaksi kelompok, dimana
mungkin ada sejumlah besar individu yang terlibat dalam tindak komunikatif.
Konsep diri dan Persepsi interpersonal sangat dibutuhkan untuk pencapaian dalam
kelancaran komunikasi. Orang yang lancar dalam berkomunikasi berarti orang tersebut
mempunyai keahlian dalam berkomunikasi. Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan
saja pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu
kecermatan persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas
komunikasi interpersonal kita.
Orang yang mempunyai keahlian komunikasi maka komunikasi orang tersebut akan
berjalan efektif. Kita harus memupuk keahlian kita dalam komunikasi interpersonal melalui
konsep diri. Konsep diri seperti yang telah tertuang diatas sangat penting dilakukan agar
kita ahli dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan
interpersonal yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jalaudin.1966.Psikologi Komunikasi.Bandung:Remaja Rosdakarya.
Muhammad, Arni.1995.Komunikasi organisasi.Jakarta:Bumi Aksara.
http://anapradhita.blogspot.com/2011/05/makalah-komunikasi-interpersonal.html

http://www.scribd.com/doc/95299120/Makalah-Komunikasi-Interpersonal

http://www.tubiyono.com/template-features/interpersonal-skill/84-hambatan-komunikasi-
interpersonal
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/komunikasi-interpersonal-definisi.html

Contoh Makalah Tentang Komunikasi Interpersonal


June 13, 2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berkomunikasi merupakan keharusan bagi manusia, karena dengan komunikasi


kebutuhan manusia akan terpenuhi. Menurut Johnson (1981) dalam (Supratiknya, 2003: 9)
mengemukakan beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antar pribadi dalam
rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia yaitu: Komunikasi antar pribadi membantu
perkembangan intelektual dan sosial kita, Identitas atau jati diri kita terbentuk dalam dan
lewat komunikasi dengan orang lain, Dalam rangka memahami realitas di sekeliling kita serta
menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang kita miliki tentang dunia di sekitar kita,
kita perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain dan realitas
yang sama, Kesehatan mental kita sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas Komunikasi
atau hubungan kita dengan orang lain, lebih-lebih orangorang yang merupakan tokoh-tokoh
signifikan (significant figures) dalam hidup kita.

Diawali dengan komunikasi yang intensif dengan ibu pada masa bayi, lingkaran
komunikasi itu menjadi semakin luas dengan bertambahnya usia individu. Seiring dengan
proses tersebut,perkembangan intelektual dan sosial individu sangat ditentukan oleh kualitas
komunikasi dengan orang lain tersebut. Secara sadar maupun tidak sadar individu
memperhatikan dan mengingat-ingat semua tanggapan dari orang lain terhadap diri individu.
Dengan komunikasi dengan orang lain individu dapat menemukan diri yang sebenarnya.
Komunikasi antarpribadi mengembangkan individu dari dimensi kesosialan. Bersosialisasi
dengan orang lain secara tidak langsung menunjukkan kekhasan diri sendiri, sehingga lebih
mudah menemukan jatidiri. Kondisi mental yang sehat dan tidak sehat ternyata dipengaruhi
juga oleh kualitas komunikasi antarpribadi dengan orang lain. Oleh sebab itu komunikasi
antarpribadi sangat penting bagi kehidupan individu yang hidup di tengah-tengah lingkungan
sosial

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi interpersonal ?


2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan komunikasi interpersonal ?

C. Tujuan

1. Dapat mengetahui pengertian dari komunikasi interpersonal


2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketrampilan komunikasi interpersonal

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian komunikasi interpersonal

Komunikasi interpersonal didefinisikan oleh Joseph A. Devito dalam bukunya “ The


Interpersonal Communicationtau Book”.( devito. 1889:4 ) sebagai: “proses pengiriman dan
penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang,
dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik secara seketika”( the process of sending and
receiving messages betwen two persons, or among a small group of person, with some effect
and some immediate feedback). Jadi, Komunikasi merupakan proses pemindahan informasi
dan pengertian antara dua orang atau lebih, dimana masing-masing berusaha untuk
memberikan arti pada pesan-pesan simbolik yang dikirim melalui suatu media yang
menimbulkan umpan balik.

Komunikasi Interpersonal yakni kegiatan komunikasi yang dilakukan secara


langsung antara seseorang dengan orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka,
korespondensi, percakapan melalui telepon, dsbnya.Pentingnya situasi komunikasi
interpersonal ialah karena prosesnya memungkinkan berlangsung secra dialogis. Komunikasi
yang berlangsung secara dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog
menunjukan suatu bentuk komunikasi dimana seorang bicara yang lain mendengarkan, jadi
tidak ada interaksi. Yang aktif hanya komunikatornya saja, sedangkan komunikan bersifat
pasif.

Komunikasi Interpersonal berlangsung antar dua individu, karenanya pemahaman


komunikasi dan hubungan antar pribadi menempatkan pemahaman mengenai komunikasi
dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman
dan makna pribadi terhadap setiap hubungan dimana dia terlibat di dalamnya. Hal terpenting
dari aspek psikologis dalam komunikasi adalah asumsi bahwa diri pribadi individu terletak
dalam diri individu dan tidak mungkin diamati secara langsung. Artinya dalam komunikasi
interpersonal pengamatan terhadap seseorang dilakukan melalui perilakunya dengan
mendasarkan pada persespsi orang yang mengamati. Dengan demikian aspek psikologis
mencakup pengamatan pada dua dimensi, yaitu internal dan eksternal. Namun kita
mengetahui bahwa dimensi eksternal tidaklah selalu sama dengan dimensi internalnya.

Fungsi psikologis dari komunikasi adalah untuk menginterpretasikan tanda-tanda


melalui tindakan atau perilaku yang dapat diamati. Proses interpretasi ini setiap individu
berbeda. Karena setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda, yang terbentuk karena
pengalaman yang berbeda pula. Keterampilan komunikasi tidak hanya mengacu pada cara di
mana kita berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi meliputi banyak hal seperti cara
bagaimana kita menanggapi lawan bicara kita, gerakan tubuh serta mimik muka, nada suara
kita dan banyak hal lainnya. Terdapat delapan elemen yang menentukan efektivitas
komunikasi, yaitu :

1) Pengirim, orang-orang yang mengawali suatu komunikasi.


2) Penerima, orang-orang yang melalui inderanya menerima pesan-pesan dari Pengirim.
3) Encoding, proses mengubah gagasan atau informasi ke dalam rangkaian simbol atau isyarat.
Dalam proses ini, gagasan atau informasi diterjemahkan ke dalam simbol-simbol (biasanya
dalam bentuk kata-kata atau isyarat) yang memiliki kesamaan arti dengan simbol-simbol
yang dimiliki Penerima.
4) Pesan, bentuk fisik dari informasi-informasi atau gagasan-gagasan yang telah diubah oleh
pengirim. Pesan biasanya diberikan dalam bentuk-bentuk yang dapat dihayati dan ditangkap
oleh salah satu indera atau lebih dari penerima. Perkataan dapat didengar, tulisan tangan
dapat dibaca, dan isyarat-isyarat tangan dapat dilihat, dan sentuhan tangan dapat dirasakan
sebagai ancaman atau kehangatan. Pesan-pesan non-verbal merupakan bentuk yang sangat
penting terutama di dalam menekankan arti atau memberikan reaksi-reaksi secara terbuka.
5) Decoding, proses penterjemahan terhadap pesan-pesan yang dikirim oleh Pengirim kepada
Penerima. Proses ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau, penggunaan
interprestasi yang bersifat pribadi terhadap simbol-simbol atau isyarat-isyarat, harapan-
harapan, dan saling pengertian dengan Pengirim. Komunikasi lebih efektif dan efisien apabila
pesan yang diterjemahkan oleh penerima seimbang atau sesuai dengan pesan-pesan yang
dimaksudkan oleh Pengirim.
6) Channel, cara atau saluran atau jalan pengiriman suatu pesan. Hal ini seringkali dapat
dipisahkan dari pesan. Agar komunikasi dapat berjalan secara efisien dan efektif, Channel
haruslah sesuai dengan pesan yang hendak dikirim.
7) Noise, faktor pengganggu jalannya komunikasi. Munculnya gangguan ini bisa pada setiap
tahap komunikasi.
8) Feedback (umpan balik), reaksi atau ekspresi Penerima terhadap pesan-pesan yang telah
diterimanya, dan dikomunikasikan kepada Pengirim. Dengan adanya umpan balik, Pengirim
dapat mengetahui sejauh mana pesan-pesan yang telah dikirimnya bisa diterima oleh
Penerima.

Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang
terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila pihak-pihak yang berkomunikasi
(dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan sama-sama mempunyai perhatian yang
samaterhadap topik pesan yang disampaikan. Sifat- sifat dari komunikasi, yaitu :

1. Komunikasi bersifat simbolis Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang


dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling umum
digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasaverbal dalam bentuk kata-
kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.
2. Komunikasi bersifat transaksional Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan,
yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara
seimbang atau porsional.
3. Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya adalah bahwa para peserta
atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat
yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi seperti telepon,
internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah
dalam berkomunikasi.

Untuk dapat mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi secara efektif, baik


secara personal maupun professional paling tidak kita harus menguasai empat jenis
keterampilan dasar dalam berkomunikasi, yaitu :

1. menulis,
2. membaca,
3. berbicara;
4. mendengar

Persentase penggunaan saluran komunikasi adalah sebagai berikut :

• Menulis (writing): 9%
• Mendengarkan (listening): 45%
• Membaca (reading) : 16%
• Berbicara (speaking) : 30%

Disadari ataupun tidak, setiap hari kita melakukan, paling tidak, satu dari keempat hal
tersebut diatas dengan lingkungan kita. Seperti juga pernafasan, komunikasi sering dianggap
sebagai suatu kejadian otomatis dan terjadi begitu saja, sehingga seringkali kita tidak
memiliki kesadaran untuk melakukannya secara efektif. Aktivitas komunikasi adalah
aktivitas rutin serta otomatis dilakukan, sehingga kita tidak pernah mempelajarinya secara
khusus, seperti bagaimana menulis ataupun membaca secara cepat dan efektif ataupun
berbicara secara efektif serta menjadi pendengar yang baik.

Menurut Stephen Covey, komunikasi merupakan keterampilan yang penting dalam


hidup manusia. Unsur yang paling penting dalam berkomunikasi adalah bukan sekedar apa
yang kita tulis atau yang kita katakan, tetapi karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan
pesan kepada penerima pesan. Penerima pesan tidak hanya sekedar mendengar kalimat yang
disampaikan tetapi juga membaca dan menilai sikap kita. Jadi syarat utama dalam
komunikasi yang efektif adalah karakter kokoh yang dibangun dari fondasi etika serta
integritas pribadi yang kuat.

Tidak peduli seberapa berbakatnya seseorang, betapapun unggulnya sebuah tim atau
seberapapun kuatnya kasus hukum, keberhasilan tidak akan diperoleh tanpa penguasaan
keterampilan komunikasi yang efektif. Keterampilan melakukan komunikasi yang efektif
akan berperan besar dalam mendukung pencapaian tujuan dari seluruh aktivitas. Untuk dapat
melakukan komunikasi yang efektif, maka kemampuan untuk mengirimkan pesan atau
informasi yang baik, kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik, serta keterampilan
menggunakan berbagai media atau alat audio visual merupakan bagian yang sangat penting

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal

Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental


sebagai alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan
kelima lat indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada
komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi
antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi.
Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan
sesamanya, berbeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat kabar, televisi,
ataupun lewat teknologi tercanggih.

Dibandingkan dengan bentuk komunikasi lainnya, komunikasi interpersonal dinilai


paling ampuh dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan.
Alasannya yaitu komunikasi interpersoanal umumnya berlangsung secar tatap muka ( face to
face ). Komunikator dan komunikan saling bertatap muka, maka terjadilah kontak pribadi (
personal contact ) yang menimbulkan keterbukaan antara komunikan dan komunikator.
Ketika komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan, umpan balik akan terjadi
secara seketika ( immediate feedback ). Komunikator akan mengetahui pesan tersampaikan
secara baik atau tidak ketika melihat tanggapan komunikan terhadap pesan yang disampaikan
melalui ekspresi wajah dan gaya bahasa.. apabila umpan baliknya positif artinya tanggapan
dari komunikan tersebut menyenangkan untuk komunikator dan komunikator akan
mempertahankan gaya komunikasi yang sudah terbangun, sebaliknya jika tangggapan negatif
dari komunikan maka komunikator harus merubah gaya komunikasi agar kedepannya dapat
berkomunikasi yang jauh lebih baik.

Oleh karena itu, keampuhan dalam mengubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku
komunikan maka bentuk komunikasi interpersonal sering dipergunakan umtuk melancarkan
komunikasi persuasif ( persuasive communication ) yakni suatu teknik komunikasi secara
psikologis manusiawi yang sifatnya halus, luwes berupa ajakan, bujukan atau rayuan. Tetapi
komunikasi persuasif interpersonal hanya digunakan pada komunikan yang potensial, dalam
artian tokoh yang mempunyai jajaran dengan pengikutnyaatau anak buahnya dalam jumlah
yang sangat banyak, sehingga apabila tokoh tersebut berhasil diubah sikapnya atau
idiologinya maka seluruh jajarannya akan mengikutinya.

Sistem komunikasi interpersonal dijelaskan dalam Buku Psikologi Komunikasi ( Drs.


Jalaluddin Rahmat, M.Sc ) diituliskan bahwa dalam sistem komunikasi interpersonal ada hal-
hal penting tentang:

1) Persepsi Interpersonal
Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan
menggunakan panca indera (Drever dalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima individu
sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan
belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu. Sabri (1993)
mendefinisikan persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan
rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya
kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan)
hidupnya.

Proses persepsi terdiri dari tiga tahap yaitu


1. pengideraan
2. pengorganisiran berdasarkan prinsip- prinsip tertentu.
3. stimulasi pada penginderaan diinterpretasikan dan dievaluasi.

Mar’at (1981) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang
yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari
lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik
lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan. Mar’at
(Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi di pengaruhi oleh faktor pengalaman, proses
belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis

Rahmat (dalam Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi juga ditentukan juga
oleh faktor fungsional dan struktural.

o faktor fungsional atau faktor yang bersifat personal antara kebutuhan individu,
pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang
bersifat subyektif.
o Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain: lingkungan
keluarga, hukum-hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat.

2) Konsep Diri

Menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang
kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang
kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu
bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada
diri individu (Mulyana, 2000:7).

Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat
diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya.
Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang
lain mengenai dirinya. Menurut William D. Brooks bahwa konsep diri adalah pandangan dan
perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Centi (1993:9) mengemukakan konsep
diri (self-concept) adalah gagasan tentang diri sendiri, bagaimana kita melihat diri sendiri
sebagai pribadi, merasa tentang diri sendiri, dan menginginkan diri sendiri menjadi manusia
sebagaimana kita harapkan. Jadi, Konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang
dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya
maupun lingkungan terdekatnya.

3) Atraksi Interpersonal
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik
seseorang. Adanya daya tarik ini membentuk rasa suka. Rasa suka pada seseorang umumnya
membuat orang yang kita sukai menjadi signifikan bagi kita.

Teori atraksi interpersonal

o Reinforcement theory menjelaskan bahwa seseorang menyukai orang lain adalah sebagai hasil
belajar.
o Equity theory menyatakan bahwa dalam suatu hubungan, manusia selalu cenderung menjaga
keseimbangan antara harga (cost) yang dikeluarkan dengan ganjaran (reward) yang diperoleh.
o Exchange theory ,interaksi sosial diibaratkan sebagai transaksi dagang. Jika orang kenal pada
seseorang yang mendatangkan keuntungan ekonomis dan psikologis, akan lebih disukai.
o Gain-loss theory , orang cenderung lebih menyukai orang-orang yang menguntungkan dari
pada orang-orang yang merugikan kita.

Faktor yang mempengaruhi atraksi interpersonal:

Faktor-faktor personal, meliputi:

a. kesamaan karakteristik personal;cognitive consistency theory dari Fritz Heider mengemukakan


bahwa orang cenderung memiliki sikap yang sama dengan orang yang disukai;
b. tekanan emosional (stress),
c. harga diri yang rendah,
d. isolasi sosial.

Faktor-faktor situasional:

a. daya tarik fisik,


b. ganjaran (reward),
c. familiarity,
d. kedekatan (closeness),
e. kemampuan.

4) Hubungan Interpersonal.

Komunikasi efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan


komunikasi sekunder terjadi, isi pesan dipahami, tetapi hubungan dengan komunikan rusak.
Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur,
tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting. Hubungan
interpersonal,memerlukan komunikasi yang berkualitas
Komunikasi interpersonal dipengaruhi beberapa faktor, yaitu :

1. Pengaruh Faktor-faktor Situasional pada Persepsi Interpersonal

Menurut eksperimen Solomon E. Asch, bahwa kata yang disebutkan pertama akan
mengarahkan penilaian selanjutnya. Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai
primacy effect. Menurut teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh
penilaian kita tentang orang lain. Jika kata tersebut berada ditengah rangkaian kata maka
disebut central organizing trait.

Walaupun teori Asch ini menarik untuk melukiskan bagaiana cara orang
menyampaikan berita tentang orang lain mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu, dalam
kenyataan kita jarang melakukannya. Jarang kita melukiskan orang dengan menyebut
rangkaian kata sifat. Kita biasanya mulai pada central trait, menjelaskan sifat itu secara
terperinci, baru melanjutkan pada sifat-sifat yang lain.

Edward T. Hall, juga menyimpulkan keakraban seorang dengan orang lain dari jarak
mereka, seperti yang kita amati. Kedua, erat kaitannya dengan yang pertama, kira menangapi
sifat orang lain dari cara orang itu membuat jarak dengan kita. Ketiga, caranya orang
mengatur ruang mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu.

Macam- macam petunjuk pada saat melakukan komunikasi, yaitu :

a. Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)

Petunjuk kinesik adalah persepsi yang didasarkan kepada gerakan orang lain yang
ditunjukkan kepada kita. Beberapa penelitian membuktikan bahwa persepsi yang cermat
tentang sifat-sifat dari pengamatan petunjuk kinesik. Begitu pentingnya petunjuk kinesik,
sehingga apabila petunjuk-petunjuk lalin (seperti ucapan) bertentangan dengan petunjuk
kinesik, orang mempercayai yang terakhir. Mengapa? Karena petunjuk kinesik adalah yang
paling sukar untuk dikendalikan secara sadar oleh orang yang menjadi stimuli (selanjutnya
disebut persona stimuli-orang yang dipersepsi;lawan dari persona penanggap).

b. Petunjuk Wajah
Diantara berbagai petunjuk non verbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting
dalam mengenali perasaan persona stimuli. Ahli komunikasi non verbal, Dale G. Leather
(1976:21), menulis; “Wajah sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi
interpersonal. Inilah alat yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa
detik ungkapan wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusan. Kita menelaah wajah
rekan dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan mereka,pada
gilirannya, menelaah kita”.

Walaupun petunjuk fasial dapat mengungkapkan emosi, tidak semua orang


mempersepsi emosi itu dengan cermat. Ada yang sangat sensitive pada wajah, ada yang tidak.
Sekarang para ahli psikologi sosial sudah menemukan ukuran kecermatan persepsi wajah itu
dengan tes yang disebut FMST-facial meaning sensitivity test (tes kepekaan makna wajah).
Dengan tes ini, kepekaan kita menangkap emosi pada wajah orang lain dapat dinilai skornya.

c. Petunjuk Paralinguistik
Yang dimaksud paralinguistik ialah cara orang mengucapkan lambing-lambang
verbal. Jadi, jika petunjuk verbal menunjukkan aoa yang diucapkan, petunjuk paralinguistik
mencerminkan bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi tinggi-rendahnya suara, tempo
bicara, gaya verbal (dialek), dan interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau
obrolan). Suara keras akan dipersepsi marah atau menunjukkan hal yang sangat penting.
Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan tersendat-sendat, akan dipahami sebagai ungkapan
rendah diri atau … kebodohan.

Dialek digunakan menentukan persepsi juga. Bila perilaku komunikasi (cara bicara)
dapat memberikan petunjuk tentang kepribadian persona stimuli, suara mengungkapkan
keadaan emosional.

d. Petunjuk Artifaktual

Petunjuk artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance) sejak potongan


tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya. Bila kita
mengetahui bahwa seseorang memiliki satu sifat (misalnya, cantik atau jelek), kita
beranggapan bahwa ia memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya,periang atau penyedih); ini
disebut halo effect. Bila kita sudah menyenangi seseorang, maka kita cenderung melihat sifat-
sifat baik pada orang itu dan sebaliknya.

Selain berbagai petunjuk diatas, petunjuk verbal juga mempunyai peran. Yang
dimaksud dengan petunjuk verbal disini adalah isi komunikasi persona stimuli, bukan cara.
Misalnya, orang yang menggunakan pilihan kata-kata yang tepat, mengorganisasikan pesan
secara sistematis, mengungkapkan pikiran yang dalam dan komprehensif, akan menimbulkan
kesan bahwa orang itu cerdas dan terpelajar.

2. Pengaruh Faktor-faktor Personal pada Persepsi Interpersonal

Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada komunikasi interpersonal,


tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu,keceramatan persepsi interpersonal akan
sangat berguna untuk meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal kita. Beberapa cirri-
ciri khusus penanggap yang ceramat adalah :

a) Pengalaman

Pengalaman mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat


proses belajar formal. Pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang
pernah kita hadapi. Inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres
pada wajah anaknya atau pada petunjuk kinesik lainnya. Ibu lebih berpengalaman
mempersepsi anaknya daripada bapak. Ini juga sebabnya mengapa kita lebih sukar berdusta
di depan orang yang paling dekat dengan kita.

b) Motivasi

Proses konstruktif yang banyak mewarnai persepsi interpersonal juga sangat banyak
melibatkan unsur-unsur motivasi.

c) Kepribadian
Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara pertahanan ego.
Proyeksi adalah mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang
melempar perasaan bersalahnya pada orang lain. Maling teriak maling adalah contoh tipikal
dari proyeksi. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang lain sifat-sifat yang
ada pada dirinya, yang tidak disenanginya. Sudah jelas, orang yang banyak melakukan
proyeksi akan tidak cermat menanggapi persona stimuli, bahkan mengaburkan gambaran
sebenarnya. Sebaliknya, orang yang menerima dirinya apa adanya, orang yang tidak dibebani
perasaan bersalah, cenderung menafsirkan orang lain lebih cermat. Begitu pula orang yang
tenang, mudah bergaul dan ramah cenderung memberikan penilaian posoitif pada orang lain.
Ini disebut leniency effect (Basson dan Maslow, 1957).

Bila petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal membantu kita melakukan persepsi
yang cermat, beberapa factor personal ternyata mempersulitnya. Persepsi interpersonal
menjadi lebih sulit lagi, karena persona stimuli bukanlah benda mati yang tidak sadar.
Menusia secara sadar berusaha menampilkan dirinya kepada orang lain sebaik mungkin.
Inilah yang disebut dengan Erving Goffman sebagai self-presentation (penyajian diri).

d) Proses Pembentukan Kesan

o Stereotyping

Seorang guru ketika menghadapi murid-muridnya yang bermacam-macam, ia akan


mengelompokkan mereka pada konsep-konsep tertentu; cerdas, bodoh, cantik, jelek, rajin,
atau malas. Penggunaan konsep ini menyederhanakan bergitu banyak stimuli yang
diterimanya. Tetapi, begitu anak-anak ini diberi kategori cerdas, persepsi guru terhadapnya
akan konsisten. Semua sifat anak cerdas akan dikenakan kepada mereka. Inilah yang disebut
stereotyping.

Stereotyping ini juga menjalaskan terjadinya primacy effect dan halo effect yang
sudah kita jelaskan dimuka. Primacy effect secara sederhana menunjukkan bahwa kesan
pertama amat menentukan; karena kesan itulah yang menentukan kategori. Begitu pula, halo
effect. Persona stimuli yang sudah kita senangi telah mempunyai kategori tertentu yang
positif, dan pada kategori itu sudah disimpan semua sifat yang baik.

o Implicit Personality Theory

Memberikan kategori berarti membuat konsep. Konsep “makanan” mengelompokkan


donat, pisang, nasi, dan biscuit dalam kategori yang sama. Konsep “bersahabat” meliputi
konsep-konsep raman, suka menolong, toleran, tidak mencemooh dan sebagainya. Disini kita
mempunya asumsi bahwa orang ramah pasti suka menolong, toleran, dan tidak akan
mencemooh kita. Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang sifat-sifat apa yang
berkaitan dengan sifat-sifat apa. Konsepsi ini merupakan teori yang dipergunakan orang
ketika membuat kesan tentang orang lain. Teori ini tidak pernah dinyatakan, kerena itu
disebut implicit personality theory. Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua psikolog,
amatir, lengkap dengan berbagi teori kepribadian. Suatu hari anda menemukan pembantu
anda sedang bersembahyang, anda menduga ia pasti jujur, saleh, bermoral tinggi. Teori anda
belum tentu benar, sebab ada pengunjung masjid atau gereja yang tidak saleh dan tidak
bermoral.
o Atibusi
Atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain
dengan melihat pada perilakunya yang tampak (Baron dan Byrne, 1979:56). Atribusi boleh
juga ditujukan pada diri sendiri (self attribution), tetapi di sini kita hanya membicarakan
atribusi pada orang lain. Atribusi merupakan masalah yang cukup poupuler pada dasawarsa
terakhir di kalangan psikologi sosial, dan agak menggeser fokus pembentukan dan perubahan
sikap. Secar garis besar ada dua macam atribusi: atribusi kausalitas dan atribusi kejujuran.

Fritz Heider (1958) adalah yang pertama menelaah atribusi kausalitas. Menurut
Heider, bila kita mengamati perilaku sosial, pertama-tama kita menentukan dahulu apa yang
menyebabkannya; factor situasional atau personal; dalam teori atribusi lazim disebut
kausalitas eksternal dan kausalitas internal (Jones dan Nisbett, 1972).

Sekarang bagaimana kita dapat menyimpulkan bahwa persona stimuli jujur atau
munafik (atribusi kejujuran-attribution of honesty)? Menurut Robert A. Baron dan Donn
Byrne (1979:70-71), kita akan memperhatikan dua hal: (1) sejauh mana pernyataan orang itu
menyimpang dari pendapat yang popular dan diterima orang, (2) sejauh mana orang itu
memperoleh keuntungan dari kita dengan pernyataan itu.

3. Pengaruh Persepsi Interpersonal Pada Komunikasi Interpersonal

Perilaku kita dalam komunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi


interpersonal. Karena perspsi yang keliru, seringkali terjadi kegagalan dalam komunikasi.
Kegagalan komunikasi dapat diperbaiki bila orang menyadari bahwa persepsinya mungkin
salah. Komunikasi interpersonal kita akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui bahwa
persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru. Kita jarang meneliti kembali persepsi
kita. Akibat lain dari persepsi kita yang tidak cermat ialah mendistorsi pesan yang tidak
sesuai dengan persepsi kita. Persepsi kita tentang orang lain cenderung stabil, sedangkan
persepsi stimuli adalah manusia yang selalu berubah. Adanya kesenjangan antara persepsi
dengan realitas sebenarnya mengakibatkan bukan saja perhatian selektif, tetapi juga
penafsiran pesan yang keliru.

Dalam komuniaksi interpersonal terdiri dari berbagai macam teori salah satunya
adalah teori fungsional. Kata fungsional disini hakekatnya ini bukanlah sebuah teori,
melainkan suatu perspektif yang dapat digunakan sebagai pijakan teori. Beberapa teori
komunikasi menggunakan perspektif fungsional, yaitu.

A. Teori-teori Struktural dan Fungsional

Bagian ini memasukkan kelompok utama pendekatan-pendekatan yang tergabung


secara samar dalam ilmu sosial. Meski makna istilah strukturalisme dan fungsionalisme
kurang begitu tepat, tetapi keduanya percaya bahwa struktur sosial adalah hal yang nyata dan
berfungsi dalam cara yang dapat diamati secara objektif.

Sebagai contoh, pengamat komunikasi mungkin berasumsi bahwa hubungan personal


merupakan sesuatu yang nyata dengan bagian-bagian yang disusun secara khusus, seperti
juga rumah yang merupakan suatu yang nyata dengan material yang disusun sesuai rencana.
Disini hubungan dilihat sebagai struktur sosial. Pengamat akan berasumsi lebih jauh bahwa
hubungan yang ada bersifat tidak statis tetapi memiliki atribut seperti ikatan, ketergantungan,
kekuatan, kepercayaan dan sebagainya.
Meskipun strukturalisme dan fungsionalisme seringkali digabung, tetapi keduanya
tetap berbeda dalam penekanannya. Strukturalisme yang berakar pada linguistik, menekankan
pada organisasi bahasa dan sistem sosial. Fungsionalisme yang berakar pada biologi,
menekankan pada cara-cara sistem yang terorganisasi bekerja untuk menunjang dirinya.
Sistem terdiri atas variabel-variabel yang berhubungan timbal balik dengan variabel lain
dalam sebuah fungsi network. Perubahan pada satu variabel akan mengakibatkan perubahan
pada yang lain. Peletakan dua pendekatan ini secara bersama-sama menghasilkan suatu
gambaran sistem sebagai struktur elemen dengan hubungan yang fungsional. Sebagai contoh,
beberapa peneliti komunikasi organisasi menggunakan pendekatan struktural-fungsional
dalam kerja mereka. Mereka melihat organisasi sebagai suatu sistem dimana bagian-bagian
yang terkait membentuk departemen, tingkatan, perilaku umum, suasana, aktivitas kerja dan
produk.

Pendekatan teoritik yang paling umum dari komunikasi yaitu teori sistem. Teori
sistem dan dua bidang yang berhubungan, sibernetika dan teori informasi, menyajikan
perspektif yang luas mengenai cara memandang dunia. Teori sistem berkaitan dengan saling
keterhubungan antara bagian-bagian dari suatu organisasi.

B. Teori kebutuhan hubungan interpersonal

Salah sastu bagian dalam lapangan komunikasi yang dikenal sebagai relational
communication sangat dipengaruhi oleh teori sistem. Inti dari kerja ini adalah asumsi bahwa
fungsi komunikasi interpersonal untuk membuat, membina, dan mengubah hubungan dan
bahwa hubungan pada gilirannya akan mempengaruhi sifat komunikasi interpersonal.
Poin ini berdasar pada gagasan bahwa komunikasi sebagai interaksi yang menciptakan
struktur hubungan. Dlaam keluarga misalnya, anggota individu secara sendirian tidak
membentuk sebuah sistem, tetapi ketika berinteraksi antara satu dengan anggota lainnya, pola
yang dihasilkan memberi bentuk pada keluarga. Gagasan sistem yang penting ini secara luas
diadopsi dalam lapangan komunikasi. Proses dan bentuk merupakan dua sisi mata uang;
saling menentukan satu sama lain.

Seorang Antropolog Gregory Bateson adalah pendiri garis teori ini yang selanjutnya
dikenal dengan komunikasi relasional. Kerjanya mengarah pada pengembangan dua proposisi
mendasar pada mana kebanyakan teori relasional masih bersandar. Pertama yaitu sifat
mendua dari pesan: setiap pertukaran interpersonal membawa dua pesan, pesan “report” dan
pesan “command”. Report message mengandung substansi atau isi komunikasi, sedangkan
command message membuat pernyataan mengenai hubungan. Dua elemen ini selanjutnya
dikenal sebagai “isi pesan” dan “pesan hubungan”, atau “komunikasi” dan
“metakomunikasi”.

Pesan report menetapkan mengenai apa yang dikatakan, dan pesan command
menunjukkan hubungan diantara komunikator. Isi pesan sederhana seperti “I love you” dapat
dibawakan dalam berbagai cara, dimana masing-masing mengatakan sesuatu secara berbeda
mengenai hubungan. Frasa ini dapat dikatakan dalam cara yang bersifat dominasi,
submissive, pleading (memohon), meragukan, atau mempercayakan. Isi pesannya sama,
tetapi pesan hubungan dapat berbeda pada tiap kasus.

Proposisi kedua Bateson yaitu bahwa hubungan dapat dikarakterisasi dengan


komplementer atau simetris. Dalam hubungan yang komplementer, sebuah bentuk perilaku
diikuti oleh lawannya. Contoh, perilaku dominan seorang partisipan memperoleh perilaku
submissive dari partisipan lain. Dalam symmetry, tindakan seseorang diikuti oleh jenis yang
sama. Dominasi ketemu dengan sifat dominan, atau submissif ketemu dengan submissif.
Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur dalam sistem.
Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki.
Sistem yang mengandung serangkaian pesan submissif akan sangat berbeda dengan yang
mengandung rangkaian pesan yang besifat dominasi. Dan struktur pesan yang mencampur
keduanya adalah berbeda pula.

C. Teori disonansi kognitif

Teori Leon Festinger mengenai dissonansi kognitif merupakan salah satu teori yang
paling penting dalam sejarah psikologi sosial. Selama bertahun-tahun teori ini menghasilkan
sejumlah riset dan mengisi aliran kritik, interpretasi, dan extrapolasi.

Festinger mengajarkan bahwa dua elemen kognitif termasuk sikap, persepsi,


pengetahuan, dan perilaku. Tahap pertama yaitu posisi nol, atau irrelevant, kedua yaitu
konsisten, atau consonant dan ketiga yaitu inkonsisten, atau dissonant. Dissonansi terjadi
ketika satu elemen tidak diharapkan mengikuti yang lain. Jika kita pikir merokok itu
berbahaya bagi kes ehatan, mereka tidak berharap kita merokok. Apa yang konsonan dan
dissonan bagi seseorang tidak bisa berlaku b agi orang lain. Jadi kita harus selalu
menanyakan apa yang konsisten dan yang tidak konsisten dalam sistem psik ologis orang itu
sendiri.

Dua premis yang menolak aturan teori dissonansi. Pertama yaitu bahwa dissonansi
menghasilkan ketegangan atau penekan an yang menekan individu agar berubah sehingga
dissonansi terkurangi. Kedua, ketika dissonansi hadir, indivi du tidak hanya berusaha
menguranginya, melainkan juga akan menghindari situasi dimana dissonansi tambahan bisa
dihasilkan.
Semakin besar dissonansi, semakin besar kebutuhan untuk menguranginya. Contoh, semakin
perokok tidak konsisten dengan pengetahuannay mengenai efek negatif merokok, semakin
besar dorongan untuk berhenti merokok. Dissonansi itu sendiri merupakan hasil dari dua
variabel lain, kepentingan elemen kognitif dan sejumlah elemen yang terlibat dalam
hubungan yang dissonan. Dengan kata lain, jika kita mempunyai beberapa hal yang tidak
konsisten dan jika itu penting untuk kita, kita akan mengalami dissonansi yang lebih besar.
Jika kesehatan tidak penting, pengetahuan bahwa merokok itu buruk bagi kesehatan
kemungkinan tidak mempengaruhi perilaku perokok secara aktual.

Sikap, Kepercayaan, dan Nilai. Salah satu teori yang paling komprehensif mengenai
sikap dan perubahannya yaitu milik Milton Rokeach. Dia mengembangkan penjelasan yang
meluas mengenai perilaku manusia berdasarkan kepercayaan, sikap dan nilai.
Rokeach percaya bahwa setiap orang mempunyai sistem yang tersusun dengan baik atas
kepercayaan, sikap dan nilai, yang menuntun perilaku. Belief adalah ratusan atau ribuan
pernyataan yang kita buat mengenai diri dan dunia. Kepercayaan dapat bersifat umum
ataupun khusus, dan itu disusun dalam sistem dalam hal sentralitas atau pentingnya terhadap
ego. Pada pusat sistem kepercayaan yang dibangun dengan baik itu, kepercayaan yang secara
relatif tidak dapat berubah yang membentuk inti sistem kepercayaan. Pada pinggiran sistem
terbentang sejumlah kepercayaan yang tidak signifikan yang dapat mudah berubah. Percaya
bahwa orang tua kita bahagia dalam perkawinan kemungkinan cukup penting, karena
dampaknya yaitu banyak hal lain yang kita anggap benar.
D. Teori self disclosure

Disclosure dan understanding merupakan tema penting dalam teori komunikasi pada
tahun ’60 dan ‘70-an. Sebagian besar sebagai konsekuensi aliran humanistik dalam psikologi,
sebuah ideologi “honest communication” muncul, dan beberapa dari pemikiran kita tentang
apa yang membuat komunikasi interpersonal itu baik dipengaruhi oleh gerakan ini. Didorong
oleh karya Carl Rogers, disebut Third Force begitu dalam psikologi menyatakan bahwa
tujuan komunikasi adalah meneliti pemahaman diri dan orang lain dan bahwa pengertian
hanya dapat terjadi dengan komunikasi yang benar.

Menurut psikologi humanistik, pemahaman interpersonal terjadi melalui self-


disclosure, feedback, dan sensitivitas untuk mengenal atau mengetahui orang lain.
Misunderstanding dan ketidakpuasan dalam hubungan diawali oleh ketidakjujuran,
kurangnya kesamaan antara tindakan seseorang dengan perasaannya, miskin feedback, serta
self disclosure yang ditahan. Banyak riset pengenalan diri muncul dari gerakan humanistik
ini. Seorang teoritisi yang menggali proses self-disclosure ini adalah Sidney Jourard.
Uraiannya bagi kemanusiaan sifatnya terbuka dan transparan. Transparansi berarti
membiarkan dunia untuk mengenal dirinya secara bebas dan pengenalan diri seseorang pada
orang lain. Hubungan interpersonal yang ideal menyuruh orang agar membiarkan orang lain
mengalami mereka sepenuhnya dan membuka untuk mengalami orang lain sepenuhnya.

Jourard mengembangkan gagasan ini setelah mengamati bahwa sakit mental


cenderung tertutup bagi dunia. Dia menemukan bahwa mereka menjadi sehat ketika mereka
bersedia mengenalkan dirinya pada ahli terapi. Kemudian, Jourard menyamakan kesakitan
(sickness ) dengan ketertutupan dan kesehatan dengan transparansi. Jourard melihat
pertumbuhan –pergerakan orang menuju cara berperilaku yang baru- sebagai hasil langsung
dari keterbukaan pada dunia. Orang yang sakit sifatnya tetap dan stagnan; pertumbuhan orang
akan sampai pada posisi hidup baru. Selanjutnya, perubahan merupakan esensi dari
pertumbuhan personal.

Personal growth melekat pada komunikasi interpersonal sebab dunia merupakan


sosial yang sangat luas. Untuk menerima perubahan seseorang itu sendiri meminta kita untuk
menetapkan bahwa kita juga diterima oleh orang lain. Pertumbuhan akan sulit jika orang-
orang di sekitar kita tidak membuka untuk penerimaan kita sendiri.
Sekarang kita mengerti self-disclosure sebagai proses yang lebih kompleks daripada yang
dilakukan pada tahun ’60 dan ‘70-an. Sebagai contoh pemikiran terbaru atas subyek ini,
Sandra Petronio meletakkan secara bersamaan serangkaian ide mengenai kompleksitas self-
disclosure dalam relationship. Teori ini berdasar pada risetnya sendiri dan survey pada
sejumlah banyak kajian lain dengan topik pengembangan hubungan dan disclosure. Dia
menerapkan teori ini pada pasangan yang menikah khususnya, selain juga dapat diterapkan
pada bermacam-macam; hubungan.

Menurut Petronio, individu terlibat dalam hubungan secara konstan menjadi bagian
dalam proses pengaturan yang membatasi antara publik dan privat, antara perasaan dan
pikiran yang mereka mau berbagi dengan sang patner dengan perasaan dan pikiran yang tidak
mau mereka bagi. Permainan diantara kebutuhan untuk berbagi dan kebutuhan untuk
melindungi diri ini sifatnya konstan dan mendorong pasangan untuk membicarakan dan
mengkoordinasi batasan mereka.
Hambatan Komunikasi Interpesonal

Para peneliti telah mengidentifikasikan sejumlah hambatan-hambatan yang biasanya


terjadi di dalam komunikasi antar pribadi, sebagai berikut :

a. Mendengar apa yang diharapkan akan didengar. Pengalaman-pengalaman masa lampau


mengarahkan seseorang untuk mendengarkan sesuatu hal yang memang diharapkannya.
Sebagai contoh, seorang pekerja yang telah terbiasa dikritik akan tetap merasa dikritik
meskipun atasannya mengungkapkan kata-kata yang bersifat memuji.
b. Mengabaikan informasi-informasi yang bertentangan dengan yang diketahui. Apabila kita
mendengar pesan yang berbeda dengan pengertian kita terdahulu, kita cenderung
mengabaikan pesan itu daripada merubah gagasan kita atau mencari penjelasan yang lain.
c. Mengevaluasi sumber, arti yang kita tegaskan pada suatu pesan sangat dipengaruhi oleh
penilaian kita terhadap sumber.
d. Pengamatan yang berbeda. Kata-kata, tindakan, dan kejadian- kejadian akan diamati
berdasarkan nilai-nilai individual dan pengalaman dari Penerima.
e. Tanda-tanda non verbal yang tidak sesuai. Nada suara, ekspresi wajah, dan postur badan dapat
membantu atau mengganggu komunikasi.
f. Pengaruh perasaan. Kehidupan perasaan yang mendominasi (misalnya marah, takut, gembira
dsb) akan mempengaruhi interprestasi terhadap pesan-pesan yang diterima

Cara memperbaiki komunikasi interpersonal

Untuk dapat melakukan komunikasi yang efektif diperlukan beberapa persyaratan,


atara lain : persepsi, ketetapan, kredibilitas, pengendalian, dan kecocokan / keserasian.
Komunikasi yang efektif dapat mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi dengan
memperhatikan tiga hal sebagai berikut:

a. Membuat satu pesan secara lebih berhati-hati


b. Minimalkan gangguan dalam proses komunikasi
c. Mempermudah upaya umpan balik antara si Pengirim dan si penerima pesan

BAB III
PENUTUP

Komunikasi interpersonal didefinisikan oleh Joseph A. Devito dalam bukunya “ The


Interpersonal Communicationtau Book”.( devito. 1889:4 ) sebagai: “proses pengiriman dan
penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang,
dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik secara seketika”( the process of sending and
receiving messages betwen two persons, or among a small group of person, with some effect
and some immediate feedback). Jadi, Komunikasi merupakan proses pemindahan informasi
dan pengertian antara dua orang atau lebih, dimana masing-masing berusaha untuk
memberikan arti pada pesan-pesan simbolik yang dikirim melalui suatu media yang
menimbulkan umpan balik.

Komunikasi Interpersonal berlangsung antar dua individu, karenanya pemahaman


komunikasi dan hubungan antar pribadi menempatkan pemahaman mengenai komunikasi
dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman
dan makna pribadi terhadap setiap hubungan dimana dia terlibat di dalamnya. Hal terpenting
dari aspek psikologis dalam komunikasi adalah asumsi bahwa diri pribadi individu terletak
dalam diri individu dan tidak mungkin diamati secara langsung. Artinya dalam komunikasi
interpersonal pengamatan terhadap seseorang dilakukan melalui perilakunya dengan
mendasarkan pada persespsi orang yang mengamati. Dengan demikian aspek psikologis
mencakup pengamatan pada dua dimensi, yaitu internal dan eksternal. Namun kita
mengetahui bahwa dimensi eksternal tidaklah selalu sama dengan dimensi internalnya.

Sistem komunikasi interpersonal dijelaskan dalam Buku Psikologi Komunikasi ( Drs.


Jalaluddin Rahmat, M.Sc ) diituliskan bahwa dalam sistem komunikasi interpersonal ada hal-
hal penting tentang:

1. Persepsi Interpersonal
2. Konsep Diri
3. Atraksi Interpersonal
4. Hubungan Interpersonal.

Komunikasi interpersonal dipengaruhi beberapa faktor, yaitu :

Pengaruh Faktor-faktor Situasional pada Persepsi Interpersonal

Menurut eksperimen Solomon E. Asch, bahwa kata yang disebutkan pertama akan
mengarahkan penilaian selanjutnya. Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai
primacy effect. Menurut teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh
penilaian kita tentang orang lain. Jika kata tersebut berada ditengah rangkaian kata maka
disebut central organizing trait.

• Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)


• Petunjuk Wajah
• Petunjuk Paralinguistik.
• Petunjuk Artifaktual

Pengaruh Faktor-faktor Personal pada Persepsi Interpersonal

Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada komunikasi interpersonal,


tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu,keceramatan persepsi interpersonal akan
sangat berguna untuk meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal kita. Beberapa cirri-
ciri khusus penanggap yang ceramat adalah :

• Pengalaman
• Motivasi
• Kepribadian
• Proses Pembentukan Kesan

Pengaruh Persepsi Interpersonal Pada Komunikasi Interpersonal

Perilaku kita dalam komunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi


interpersonal. Karena perspsi yang keliru, seringkali terjadi kegagalan dalam komunikasi.
Kegagalan komunikasi dapat diperbaiki bila orang menyadari bahwa persepsinya mungkin
salah.

DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jallaludin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Mcleod. 2008. Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus. Jakarta : University Press
Muhammad, Arni. 1995. Komunikasi Organisasi. jakarta : Bumi Aksara
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung : PT. Citra
Aditya Bakti
www. jurusankomunikasi.blogspot.com diakses pada tanggal 6 April 2011 pukul
20.25 WIB
www. stumbleoverclovers.blogspot. com diakses pada tanggal 6 April 2011 pukul
20.27 WIB

Makalah Komunikasi Interpersonal


Ditulis oleh: firmansyah aries - Selasa, 22 Juli 2014

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia sebagai mahluk sosial sudah tentu memiliki kebutuhan untuk saling berkomunikasi
satu sama lain. Namun dengan keterbatasan kemampuan menangkap pesan yang dismpaikan,
antara satu orang dengan yang lainnya akan berbeda. Karena itu dibutuhkan sebuah pengertian
komunikasi interpersonal. Pengertian komunikasi interpersonal adalah adanya komunikasi secara
langsung atau face-to-face communication pada waktu dan tempat yang sama (Lievrouw, 2008).

Setiap manusia butuh untuk berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini dilakukan sebagai
bagian dari kodrat manusia yang tak bisa hidup sendiri. Dasar dari komunikasi interpersonal adalah
adanya komunikasi antara dua orang atau lebih yang membicarakan topik tertentu. Memang tidak
semua orang bisa menjadi seorang komunikator yang baik dan handal. Ada teknik-teknik komunikasi
yang harus dipelajari bila ingin bisa diterima dari berbagai kalangan social.

konsep ilmu Komunikasi, keterkaitan psikologi memang tidak bisa ditinggalkan. Bahkan para
Bapak Komunikasi tiga diantaranya adalah pakar psikologi, Kurt Lewin, Paul Lazarzfeld dan Carl I
Hovland. Meskipun demikian, komunikasi bukanlah subdisiplin psikologi. Komunikasi sebagai sebuah
ilmu tersendiri memang menembus banyak disiplin ilmu. Bagaimanapun komunikasi merupakan
bagian yang essensial buat pertumbuhan kepribadian manusia seperti disebutkan oleh Ashley
Montagu. Dan komunikasi amat erat kaitannya dengan perilaku dan pengalaman kesadaran
manusia. Karenanya komunikasi selalu menarik minat psikolog
Dalam psikologi komunikasi mempunyai makna yang sangat luas, meliputi segala
penyampaian energi, gelombang suara, tanda diantara tempat, sistem atau organisme. Kata
komunikasi sendiri dipergunakan sebagai proses, sebagai pesan, sebagai pengaruh atau secara
khusus sebagai pesan pasien dalam psikoterapi. Jadi psikologi komunikasi adalah ilmu yang berusaha
menguaraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi.
Peristiwa mental adalah internal mediation of stimuli sebagai akibat berlangsungnya komunikasi
(Fisher) Sementara peristiwa behavioral adalah apa yang nampak ketika orang berkomunikasi.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat ditarik rumusan masalah diantaranya yaitu :

1. Apa yang dimaksud Komunikasi Interpersonal ?


2. Apa yang dimaksud Antraksi interpersonal ?
3. Apa saja faktor-faktor personal dan situasional yang memengaruhi atraksi interpersonal ?
4. Bagaimana pengaruh atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal?
5. Apa yang dimaksud hubungan interpersonal ?
6. Bagaimana teori-teori dan tahapan-tahapan hubungan interpersonal ?
7. Apa saja factor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal ?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dilihat dari rumusan masalah diatas yaitu :
1. Mengetahui Pengertian Komunikasi Interpersonal.
2. Mengetahui atraksi interpersonal.
3. Mengetahui factor-faktor personal dan situasional yang memengaruhi atraksi interpersonal.
4. Mengetahui pengaruh atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal.
5. Mengetahui pengertian hubungan interpersonal.
6. Mengetahui teori-teori dan tahapan-tahapan hubungan interpersonal.
7. Mengetahui factor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi
interpersonal.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Komunikasi Interpersonal


Komunikasi antar pribadi merupakan proses pemberian dan penerimaan pesan antara dua
atau diantara orang-orang dalam kelompok kecil melalui satu saluran atau lebih, dengan melibatkan
beberapa pengaruh dan umpan balik.
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk
mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face) maupun dengan media. Berdasarkan
definisi ini maka terdapat kelompok maya atau faktual (Burgon & Huffner, 2002).

Interpersonal Communication adalah komunikasi antara dua orang atau lebih secara tatap
muka, yang memungkinkan adanya reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non-verbal.
Komunikasi antar pribadi (komunikasi interpersonal) adalah komunikasi antar dua orang, dimana
terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan. Komunikasi jenis ini berlangsung secara tatap
muka, bisa melalui medium, misalnya telepon sebagai perantara. Sifatnya dua arah atau timbal
balik (Effendy,1986:61). Effendy juga menambahkan komunikasi antar pribadi adalah proses
pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang, atau diantara sekelompok kecil orang dengan
beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika,dan komunikasi antar pribadi dikatakan efektif dalam
merubah perilaku oranglain, apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan
komunikator diterima oleh komunikan

2. Antraksi interpersonal
a. Pengertian atraksi interpersonal
Atraksi berasal dari bahasa latin “attrahere (att: menuju) dan “trahere”: menarik. Jadi, atraksi
interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Makin tertarik
kita dengan orang lain, maka makin besar kcenderungan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Daya tarik seeorang sangat penting bagi komunikasi interpersonal. Jika kita menyukai seseorang,
maka kita cenderung melihat sesuatu dari diri seseorang tersebut secara positif. sebaliknya, jika kita
tidak menyukai seseorang, maka kita cenderung melihat sesuatu dari diri seseorang tersebut secara
negative.
b. faktor-faktor personal yang mempengaruhi atraksi interpersonal.
Pentingnya atraksi Interpersonal maka kita akan melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
atarksi interpersonal. Terdapat dua faktor yaitu :

1. Faktor-faktor Personal
Adapun faktor-faktor personal yang mempengaruhi atraksi interpersonal adalah :

a. Kesamaan karakteristik personal


Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat
sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Menurut teori Cognitive Consistensy
dari Fritz Heide, manusia selalu berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya. Kata
Heider, kita cenderung memilih orang yang sama sikapnya dengan kita bahkan kita ingin memiliki
sikap yang sama dengan orang yang kita sukai, supaya seluruh unsur kognitif kita konsisten.

Asas kesamaan ini bukanlah satu-satunya determinan atraksi. Atraksi interpersonal akhirnya
merupakan gabungan dari efek keseluruhan interaksi di antar individu. Walaupun begitu, bagi
komunikator, lebih tepat untuk memulai komunikasi dengan mencari kesamaan diantara semua
peserta komunikasi.

b. Tekanan Emosional
Dalam penelitian, seseorang yang berada dalam keadaan cemas yang sangat tinggi lebih
menginginkan adanya sahabat atau orang didekatnya untuk memberikan kasih sayang.
Orang yang berada di bawah tekanan emosional, stress, bingung, cemas, dan lain-lain akan
menginginkan kehadiran orang lain untuk membantunya, sehingga kecenderungan untuk menyukai
orang lain semakin besar.

c. Harga diri yang rendah


Menurut Walster, bila harga diri direndahkan, hasrat bergabung dengan orang lain bertambah,
dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain. Dengan perkataan lain, orang yang
rendah diri cenderung mudah mencintai orang lain.

Orang yang rendah diri cenderung mudah menyukai orang lain. Orang yang merasa penampilan
dirinya kurang menarik akan mudah menerima persahabatan dari orang.

d. Isolasi diri
Beberapa orang peneliti menyebutkan bahwa tingkat isolasi sosial yang amat besar berpengaruh
terhadap kesukaan kita pada orang lain. Menurut Aronson, orang yang kesukaannya kepada kita
bertambah akan lebih kita senangi darpada orang yang kesukaannya kepada kita tidak berubahasi
sosial yang amat besar berpengaruh terhadap kesukaan kita pada orang lain. Menurut Aronson, orang
yang kesukaannya kepada kita bertambah akan lebih kita senangi darpada orang yang kesukaannya
kepada kita tidak berubah.

Sebagai makhluk sosial, manusia mungkin tahan untuk hidup terasing selama beberapa waktu,
namun tidak untuk waktu yang lama. Beberapa penelitian menunjukkan baha tingkat isolasi sosial
sangat besar pengruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain
2. Faktor-faktor Situasional
Adapun faktor-faktor situasional yang mempengaruhi Atraksi interpersonal yaitu :

a. Daya Tarik Fisik


Dalam beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab
utama Atraksi personal. Orang-orang yang berwajah cantik dan ganteng cenderung mendapat
penilaian yang baik dan dikatakn mempunyai sifat-sifat yang baik.

b. Ganjaran
Kita cenderung menyenangi orang yang memberi ganjaran pada kita. Ganjaran itu berupa
bantuan, dorongan moral, pujian, atau hal-hal yang meningkatkan harga diri kita. Kita akan menyukai
orang yang menyukai kita.

c. Familiarity
Yaitu hubungan kita dengan orang-orang yang sudah kita kenal. Menurut Robert B. Zajonc,
semakin sering orang melihat seseorang maka ia akan semakin menyukainya.

d. Kedekatan (Proximity)
Orang cenderung menyenangi mereka yang berdekatan dengannya, baik rumah, tempat tidur,
tempat duduk, dan sebagainya.

e. Kemampuan
Kita cenderung menyenangi orang-orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi daripada
kita atau lebih berhasil dalam kehidupannya. Dalam penelitian Aronson, orang yang paling disenangi
adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi tapi menunjukkan beberapa kelemahan

c. pengaruh atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal.


Pengaruh Atraksi Interpersonal dalam komunikasi Interpersonal terdapat pada dua hal yaitu :
1. Penafsiran Pesan dan Penilaian
Penilaian terhadap personal tidak berdasarkan rasional saja karena kita adalah manusia yang
berperasaan yang dapat menilai manusia melalui emosional. Seseorang yang menyukai orang yang
memberikan pesan kepadanya maka ia akan dengan mudah menafsirkan pesan dan melakukan
penilaian tetapi jika yang menyampaikan itu orang yang tidak disukainyamaka bisa saja ia salah
dalam menafsirkn pesan tersebut dan melakukan penilaian yang salah seperti tujuan komunikator baik
tetapi dia menanggapinya buruk.

2. Efektifitas Komunikasi
Komunikasi interpersonal akan efektif jika komunikator dan komunikan merasa senang
dalam komunikasi tersebut. Jika komunikasi didasarkan pada suka sama suka maka interaksi antara
keduanya akan berjalan lancar dan tidak akan mengalami kekeliruan atau kesalah pahaman.

3. Hubungan interpersonal

a. Pengertian Hubungan Interpersonal


Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita
bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan
interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content
melainkan juga menentukan relationship.
Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik
hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin
cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif
komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
b. Teori Mengenai Hubungan Interpersonal
Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai hubungan interpersonal, yaitu:
1. Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang
berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.
Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai
berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara
sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup
memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”. Ganjaran yang dimaksud adalah setiap akibat
yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang,
penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Sedangkan yang dimaksud
dengan biaya adalah akibat yang negatif yang terjadi dalam Hubungan Interpersonal . suatu hubungan.
Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-
kondisi lain yang dapat menimbulkan efekefek tidak menyenangkan.
2. Model Peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini
setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat.
Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya.
3. Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki
sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling
tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai
kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem
terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan
bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.

c. Tahapan-tahapan hubungan interpersonal


Adapun tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:
1. Pembentukan
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan
hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh
usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak
berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. bila mereka merasa ada
kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari
meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.

Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh
kategori, yaitu:
a) informasi demografis
b) sikap dan pendapat (tentang orang atau objek)
c) rencana yang akan dating
d) kepribadian
e) perilaku pada masa lalu
f) orang lain
g) hobi dan minat. Hubungan Interpersonal
2. Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan
memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan
keseimbangan.

Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:


a) keakraban
b) control
c)respon yang tepat
d) nada emosional yang tepat.
Keakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal
akan terperlihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan.
Faktor kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Jika dua
orang mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambil kesimpulan, siapakah yang harus
berbicara lebih banyak, siapa yang menentukan, dan siapakah yang dominan. Konflik terjadi
umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah. Faktor ketiga
adalah ketepatan respon. Dimana, respon A harus diikuti oleh respon yang sesuai dari B. Dalam
percakapan misalnya, pertanyaan harus disambut dengan jawaban, lelucon dengan tertawa,
permintaan keterangan dengan penjelasan. Respon ini bukan saja berkenaan dengan pesanpesan
verbal, tetapi juga pesan-pesan nonverbal. Jika pembicaraan yang serius dijawab dengan main-main,
ungkapan wajah yang bersungguh-sungguh diterima dengan air muka yang menunjukkan sikap tidak
percaya, maka hubungan interpersonal mengalami keretakan. Ini berarti kita sudah memberikan
respon yang tidak tepat. Faktor terakhir yang dapat memelihara hubungan interpersonal adalah
keserasian suasana emosional ketika komunikasi sedang berlangsung.
Walaupun mungkin saja terjadi interaksi antara dua orang dengan suasana emosional yang
berbeda, tetapi interaksi itu tidak akan stabil. Besar kemungkinan salah satu pihak akan mengakhiri
interaksi atau mengubah suasana emosi.
3. Pemutusan Hubungan
Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima
sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu: Hubungan .
a. Kompetisi, dimana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain.
b. Dominasi, dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang tersebut
merasakan hak-haknya dilanggar.
c. Kegagalan, dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak
tercapai.
d. Provokasi, dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung
perasaan yang lain.
e. Perbedaan nilai, dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
d. factor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal.
a. Percaya (trust).
Percaya didevinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dalam situasi yang penuh resiko. Ada situasi yang
menimbulkan resiko. Bila orang menaruh kepercayaan kepada seseorang, ia akan menghadapi resiko.
Resiko itu dapat berupa kerugiaan yang anda alami. Faktor yang menaruh kepercayaan kepada orang
lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung kepada orang lain. Orang yang yakin
bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap percaya.
a. karakteristik dan maksud orang lain. Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang yang dianggap
memiliki kemampuan, keterampilan atau pengalaman dalam bidang tertentu.
b. Hubungan kekuasaan. Percaya apabila orang-orang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain.
c. Sifat dan kualitas komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan tujuan sudah jelas,
ekspektasi sudah dinyatakan maka akan tumbuh sikap percaya.

Ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan
komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya. Menerima, empati dan kejujuran.

Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tampa menilai dan berusaha
mengendalikan. Menerima adalah sikap melihat orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang
patut dihargai.

Empati adalah memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosinal bagi kita, sebagai
keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain siap mengalami
suatu emosional.

Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Kejujuran mengakibatkan
perilaku kita dapat diduga, ini mendorong orang-orang untuk percaya pada kita.

b. Sikap suportif
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap depentif dalam komunikasi dalam
penelitian gaib di ungkapkan bahwa makin sering orang menggunakan perilaku depentif, makin besar
kemungkinan komunikasi depentif, komunikasi depentif berkurang dalam perilaku suportif, ketika
orang menggunakan perilaku ke sebelah kanan.
a. Evaluasi dan Deskripsi. Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain, memuji atau
mengancam. Deskripsi artinya penyampaian pesan dan persepsi antara tampa menilai.

b. Control dan Orientasi Masalah. Perilaku kontrol adalah berusaha untuk mengubah orang lain,
mengendalikan perilakunya, mengubah sikap, pendapat dan tindakannya.

c. Strategi dan spontanitas. Stategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau manipulasi untuk
mempengaruhi orang lain.

d. Netralitas dan Empati. Netralitas berarti sikap inpersonal memperlakukan orang lain tidak
sebagai persona, melainkan sebagi objek.

e. Superioritas dan Persamaan. Superioritas berarti sikap menunjukkan anda lebih tinggi atau
lebih baik dari pada orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan atau
kecantikan.

f. Kepastian dan Provisionalisme. Orang yang memiliki kepastian berarti memiliki dogmatis,
keinginan menang sendiri dan melihat pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat
diganggu gugat

c. Sikap terbuka.
Sikap terbuka amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif
Kriteria sikap orang terbuka:
a. Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajengan logika.

b. Membedahkan dengan muda melihat nuansa

c. Berorientasi pada isi

d. Mencari informasi dari berbagai sumber.

e.Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercayannya.

Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan

BAB I

PENUTUP

A. Kesimpulan
Interpersonal Communication adalah komunikasi antara dua orang atau lebih secara tatap muka, yang
memungkinkan adanya reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non-verba dan atraksi
interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang
Factor-faktor yang mempengaruhi atraksi interpersonal yaitu factor personal dan factor situasional
serta yag memengaruhi atraksi pada nkomunikasi interpersonal yaitu Penafsiran Pesan dan Penilaian
dan efektifitas komunikasi.
B. Saran
Makalah ini disusun sesuai dengan kebutuhan pembelajaran sehingga semoga dapat menjadi bahan
yang sesuai dan dapat dijadikan referensi yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007.

Hardjana, Agus M, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal,Yogyakarta : Kanisius, 2003.

M. Ghojali Bagus A.P., S.Psi. Buku Ajar Psikologi Komunikasi, Fakultas Psikologi Unair,2010.

http://www.teguhsantoso.com/2011/10/tahap-tahap-hubungan interpersonal.html#ixzz2Bn4Hp86R

http://unisankomunikasi-3.blogspot.com/2009/10/atraksi-interpersonal.html