Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KOMUNIKASI INTERPERSONAL

KONSEP DASAR KOMUNIKASI INTERPERSONAL


Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Komunikasi Interpersonal
Dosen : Ibnu Haitam, M.Si.

Disusun oleh :
1. Pypiet Noor K.

(13803241013)

2. Amelia Rahman

(13803241020)

3. Lidza Yuniar Erwanda

(13803241028)

4. Mia Rizky Fauzi

(13803241030)

5. Nita Lestari

(13803241094)

6. Rr. Trianina Arini Kudiasanti (13803244001)


7. Shofyana Nur Annisa

(13803244012)

8. Nanda Siti Adi Utami

(13803244014)

PENDIDIKAN AKUNTANSI A/C 2013


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu indikasi bahwa manusia sebagai makhluk sosial adalah perilaku
komunikasi antarmanusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan cenderung memerlukan
bantuan orang lain. Kecenderungan ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari yang
menunjukkan bahwa semua kegiatan manusia selalu berhubungan dengan orang lain.
Misalnya saja, kita sebagai mahasiswa perlu berinteraksi dengan dosen, dengan sesama
mahasiswa, dengan tukang fotokopi, dan lain sebagainya.
Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berkeinginan untuk berbicara, bertukar
gagasan, mengirim dan menerima informasi, berbagi pengalaman, maupun bekerja sama
dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan. Berbagai keinginan tersebut hanya dapat
dipenuhi apabila manusia melakukan interaksi dengan orang lain dalam suatu sistem
sosial tertentu. Aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam kehidupan sosial tersebut
menunjukkan bahwa manusia memiliki naluri untuk hidup bergaul dengan sesamanya.
Naluri tersebut merupakan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia
disamping kebutuhan akan afeksi (kasih sayang), inklusi (kepuasan), dan kontrol
(pengawasan). Upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup tersebut akan
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya, baik untuk melakukan
kerjasama (coorporation), maupun untuk melakukan persaingan (competition).
Aktivitas komunikasi merupakan aktivitas yang sangat dominan dalam kehidupan
manusia. Secara kodrati, manusia merasa perlu untuk berkomunikasi dengan orang lain,
yakni dimulai sejak masih bayi hingga akhir hayat. Bahkan, ada ungkapan lain yang
menyatakan bahwa tiada kehidupan tanpa komunikasi, karena makna hidup yang
sebenarnya adalah relasi dengan orang lain. Salah satu jenis komunikasi yang frekuensi
terjadinya cukup tinggi adalah komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi.
Banyak orang yang menganggap bahwa komunikasi interpersonal mudah dilakukan.
Meskipun demikian, adanya mis communication, yaitu terjadinya kesalahpahaman
pengertian

dalam

berkomunikasi,

dapat

menyebabkan

terjadinya

pertengkaran,

perselisihan, perkelahian, dan perdebatan dalam masyarakat. Misalnya saja, ketika Anda
menyapa seorang teman, tetapi teman anda tidak menanggapi.
Komunikasi interpersonal merupakan suatu aktivitas yang dapat dipelajari. Oleh
karena itu, dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai konsep dasar

komunikasi intepersonal, yang meliputi: pengertian, hakikat, komponen-komponen,


proses, asas-asas, ciri-ciri, tipe, dan tujuan komunikasi interrpersonal. Dengan demikian,
kita dapat meningkatkan keterampilan dalam komunikasi serta menciptakan komunikasi
yang efektif.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut dapat di rumuskan masalah yaitu, bagaimana konsep
dasar komunikasi?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Komunikasi Interpersonal
Menurut Trenholm dan Jensen (1995: 26), komunikasi interpersonal adalah
komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara tatap muka (komunikasi
diadik). Sifat komunikasi ini yaitu: spontan dan informal, saling menerima feedback
secara maksimal, serta partisipan yang berperan fleksibel.
Menurut
communication)

Littlejohn
adalah

(1999),

komunikasi

komunikasi

antara

antarpribadi

individu-individu.

(interpersonal
Komunikasi

interpersonal juga dapat didefinisikan sebagai interaksi tatap muka antara dua atau
beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung dan
penerima pesan dapat menerima dan menanggapi pesan secara langsung pula (M.
Hardjana, 2003: 85). Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Deddy
Mulyana (2008: 81), yang menyatakan bahwa komunikasi interpesonal adalah
komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap
pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung baik verbal maupun
nonverbal.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi
interpersonal adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan antara pengirim
(sender) dengan penerima (receiver) baik secara langsung (tatap muka) maupun tidak
langsung (melalui media tertentu) yang memungkinkan timbulnya umpan balik secara
langsung.

B. Hakikat Komunikasi Interpersonal


1. Pada hakikatnya komunikasi interpersonal adalah suatu proses atau disebut
juga sebagai sebuah transaksi dan interaksi. Dengan kata lain suatu proses
adalah hubungan yang saling pengaruh mempengaruhi. Dalam kata proses
terdapat makna adanya aktivitas menciptakan, mengirimkan, menerima dan
menginterpretasi pesan.
2. Terdapat komunikator dan komunikan dalam sebuah komunikasi, sehingga
proses komunikasi yang terjadi melibatkan setidaknya dua orang individu.
3. Komunikasi interpersonal dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung.

Akan

tetapi

dengan

mempertimbangkan

efektifitas

maka

komunikasi yang banyak dipilih adalah komunikasi langsung. Pengiriman


pesan dilakukan secara primer atau langsung, sehingga pesan berposisi sebagai
media perantara antara komunikator dan komunikan. Untuk komunikasi
tidak langsung dapat dilakukan melalui beberapa media diantaranya adalah
sms yang telephone.
4. Penyampaian pesan dapat dilakukan baik secara lisan maupun tertulis.
Keuntungan dari komunikasi lisan adalah pesan lebih cepat tersampaikan.
Sedangkan keuntungan komunikasi tertulis adalah pesannya bersifat
permanen. Catatan-catatan tertulis juga mencegah kemngkinan terjadinya
penyimpangan

atau

distorsi

terhadap

gagasan-gagasan

yang

ingin

disampaikan.
5. Komunikasi interpersonal tatap muka, memungkinkan balikan atau respon
dapat diketahui segera (instan feedback).

C. Komponen-Komponen Komunikasi Interpersonal


Secara sederhana dapat dikemukakan suatu asumsi bahwa proses
komunikasi interpersonal akan terjadi apabila ada pengirim menyampaikan
informasi berupa lambang verbal maupun nonverbal kepada penerima dengan
menggunakan medium suara manusia (human voice), maupun dengan medium
tulisan. Berdasarkan asumsi ini, maka dapat dikatakan bahwa dalam proses
komunikasi interpersonal terdapat komponen-komponen komunikasi yang secara
integratif saling berperan sesuai dengan karakteristik komponen itu sendiri.
1. Sumber/komunikator
Merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, yakni
keinginan untuk membagi keadaan internal sendiri, baik yang bersifat
emosional maupun informasional dengan orang lain. Kebutuhan ini dapat
berupa keinginan untuk memengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain.
Dalam konteks komunikasi interpersonal, komunikator adalah individu
yang menciptakan, memformulasikan, dan menyampaikan pesan.
2. Encoding
Adalah suatu aktifitas internal pada komunikator dalam menciptakan pesan
melalui pemilihan simbol-simbol verbal dan nonverbal, yang disusun
berdasarkan

aturan-aturan

tata

bahasa,

serta

disesuaikan

dengan

karakteristik komunikan. Encoding merupakan tindakan memformulasikan

isi pikiran ke dalam simbol-simbol, kata-kata, dan sebagainya sehingga


komunikator merasa yakin dengan pesan yang disusun dan cara
penyampaiannya.
3. Pesan
Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-simbol baik
verbal maupun nonverbal, atau gabungan keduanya, yang mewakili
keadaan khusus komunikator untuk disampaikan kepada pihak lain. Dalam
aktifitas komunikasi, pesan merupakan unsur yang sangat penting. Pesan
itulah yang disampaikan oleh komunikator untuk diterima dan
diinterpretasi makna pesan sesuai yang diinginkan oleh komunikator.
4. Saluran
Merupakan sarana fisik penyampaian pesan dari sumber ke penerima atau
yang menghubungkan orang ke orang lain secara umum. Dalam konteks
komunikasi interpersonal, penggunaan saluran atau media semata-mata
karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan dilakukan komunikasi
secara tatap muka. Prinsipnya, sepanjang masih dimungkinkan untuk
dilaksanakan

komunikasi

secara

tatap

muka,

maka

komunikasi

interpersonal tatap muka akan lebih efektif.


5. Penerima/komunikan
Adalah seseorang yang menerima, memahami, dan menginterpretasi
pesan. Dalam komunikasi interpersonal, penerima bersifat aktif, selain
menerima pesan melakukan pula proses interpretasi dan memberikan
umpan balik. Berdasarkan umpan balik dari komunikan inilah seorang
komunikator akan dapat mengetahui keefektifan komunikasi yang telah
dilakukan, apakah makna pesan dapat dipahami secara bersama oleh kedua
belah pihak yakni komunikator dan komunikan.
6. Decoding
Merupakan kegiatan internal dalam diri penerima. Melalui indera,
penerima mendapatkan macam-macam data dalam bentuk mentah,
berupa kata-kata dan simbol-simbol yang harus diubah ke dalam
pengalaman-pengalaman yang mengandung makna. Secara bertahap
dimulai dari proses sensasi, yaitu proses di mana indera menangkap
stimuli. Proses sensasi dilanjutkan dengan persepsi, yaitu proses memberi
makna atau decoding.

7. Respon
Yakni apa yang telah diputuskan oleh penerima untuk dijadikan sebagai
sebuah tanggapan terhadap pesan. Respon dapat bersifat positif, netral,
maupun negatif. Respon positif apabila sesuai dengan yang dikehendaki
komunikator. Netral berarti respon itu tidak menerima ataupun menolak
keinginan komunikator. Dikatakan respon negatif apabila tanggapan yang
diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator. Pada
hakikatnya, respon merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat
menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.
8. Gangguan (noise)
Gangguan atau noise atau barier beraneka ragam, untuk itu harus
didefinisikan dan dianalisis. Noise dapat terjadi di dalam komponenkomponen maupun dari sistem komunikasi. Noise merupakan apa saja
yang mengganggu atau membuat kacau penyampaian dan penerimaan
pesan, termasuk yang bersifat fisik dan psikis.
9. Konteks komunikasi
Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu, paling tidak ada
tiga dimensi, yaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada
lingkungan konkrit dan nyata tempat terjadinya komunikasi, seperti
ruangan, halaman, dan jalanan. Konteks waktu menunjuk pada waktu
kapan komunikasi tersebut dilaksanakan, misalnya pagi, siang, sore,
malam. Konteks nilai meliputi nilai sosial dan budaya yang memengaruhi
suasana komunikasi, seperti adat istiadat, situasi rumah, norma sosial,
norma pergaulan, etika, tata krama, dan sebagainya. Agar komunikasi
interpersonal dapat berjalan secara efektif, maka masalah konteks
komunikasi ini kiranya perlu menjadi perhatian. Artinya, pihak
komunikator

dan

komunikan

perlu

mempertimbangkan

konteks

komunikasi ini.

D. Proses Komunikasi Interpersonal


Proses
terjadinya

Komunikasi

kegiatan

ialah

komunikasi.

langkah-langkah
Secara

yang

sederhana

menggambarkan

proses

komunikasi

digambarkan sebagai proses yang menghubungkan pengirim dengan penerima


pesan. Proses tersebut terdiri dari enam langkah-langkah yaitu :

1. Keinginan berkomunikasi. Seorang komunikator mempunyai keinginan untuk


berbagi gagasan dengan orang lain.
2. Encoding oleh komunikator. Encoding merupakan tindakan memformulasikan
isi pikiran atau gagasan ke dalam simbol-simbol, kata-kata dan sebagainya
sehingga komunikator merasa yakin dengan pesan yang disusun dan cara
penyampaiannya.
3. Pengiriman pesan. Untuk mengirim pesan kepada orang yang dikehendaki,
komunikator memilih saluran komunikasi seperti telepon, SMS, email, surat
ataupun secara tatap muka.
4. Penerimaan pesan. Pesan yang dikirim oleh komuniaktor telah diterima oleh
komunikan.
5. Decoding oleh komunikan. Decoding adalah proses memahami pesan. Apabila
semua berjalan lancar, komunikan tersebut menterjemahkan pesan yang
diterima dari komunikator dengan benar, memberi arti yang sama pada
simbol-simbol sebagaimana yang diharapkan oleh komunikator.
6. Umpan balik. Setelah menerima pesan dan memahaminya, komunikan
memberikan respon atau umpan balik. Dengan umpan balik ini seorang
komunikator dapat mengevaluasi efektivitas komunikasi.

Shirley Taylor (1999:6) mengambarkan langkah-langkah kunci dalam


berkomunikasi interpersonal sebagai sebuah siklus. Proses komunikasi interpersonal
dimulai oleh seorang sender (pengirim) mengkonsep pesan yang ingin disampaikan
kepada seorang recipient (penerima).

E. Asas-asas Komunikasi Interpersonal


Kelancaran komunikasi ditentukan oleh peran pengirim informasi dan
penerima

dalam memformulasikan dan memeahami pesan. Berikut merupakan

lima asas komunikasi :


1. Komunikasi berlangsung antara pikiran seseorang dengan pikiran orang lain.
Komunikasi interpersonal melibatkan sekurang-kurangnya dua orang dan
masing-masing memiliki keunikan jalan pikiran.Dalam hal memformulasikan
maupun menerima pesan, sangat dipengaruhi oleh jalan pikiran orang yang
bersangkutan. Agar komunikasi dapat berjalan efektif maka dipersyaratkan
diantara orang-orang yang terlibat komunikasi tersebut memiliki pengalaman

bersama dalam memahami pesan. Tatkala pesan dimaknai berbeda, maka akan
terjadi mis communication. Perbedaan pemaknaan bisa disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain : latar belakang pengetahuan bahasa. Misalnya
komunikasi interpersonal antara seorang yang menggunakan bahasa Jawa
sebagai bahasa sehari-hari dengan seseorang yang biasa menggunakan bahasa
Sunda. Kata gedhang dalam bahasa Jawaberarti pisang, tetapi dalam bahasa
Sunda berarti pepaya. Atos di Jawa bermakna keras, tetapi di Sunda
berarti sudah.
2. Orang hanya bisa mengerti sesuatu hal dengan menghubungkannya pada
suatu hal laim yang telah dimengerti. Artinya ketika memahami suatu
informasi, seseorang akan menghubungkannya dengan pengalaman dan
pengetahuan yang sudah dimengerti. Misalnya ketika mendengar bunyi
kentongan, asosiasi

dapat berbeda-beda. Bagi sekelompok orang bunyi

kentongan dimaknai sebagai adanya orang yang sedang bertugasronda yaitu


menjaga keamanan lingkungan, namun bagi kelompok ain dapat dimaknai
berbeda-beda, pedagang mie ayam, petani menghalau burung yang menyerang
tanaman padi dan sebagainya.
3. Setiap

orang

berkomunikasi

tentu

mempunyai

tujuan.

Komunikasi

interpersonal bukanlah keadaan yang pasif, melainkan suatu action oriented


ialah suatu tindakan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Tujuan komunikasi
itu mulai dari sekedar ingin menyapa atau sekedar basa-basi untuk
menunjukkan adanya perhatian kepada orang lain, menyampaikan informasi,
sekedar untuk menjaga hubungan, sampai kepada keinginan untuk mengubah
sikap dan perilaku orang lain.
4. Orang yang telah melakukan komunikasi mempunyai suatu kewajiban untuk
meyakinkan dirinya bahwa ia memahami makna pesan yang akan
disampaikan. Dalam hali ini proses encoding memilii arti sangat penting. Hali
ini disebabkan isi pikiran atau ide dari seorang komunikator perlu
diformulasikan secara tepat menjadi pesan yang benar-benar bermakna sesuai
dengan isi pikiran tersebut. Dengan demikian sebelum pesan tersebut
diinformasikan kepada orang lain, seorang komunikator harus lebih dulu
meyakini bahwa makna pesan yang akan disampaikan sudah sesuai dengan
yang diinginkan.

5. Orang yang tidak memahami makna informasi yang diterima, memiliki


kewajiban untuk meminta penjelasan agar tidak terjadi bias komunikasi.
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya mis-komunikasi diperlukan
kesediaan masing-masing pihak yang berkomunikasi untuk meminta
klarifikasi sekiranya tidak memahami arti pesan yang dierimanya. Dalam hal
ini decoding memiliki pesan strategis. Sekiranya penerima pesan tidak
memahami substansi pesan yang diterimanya, maka merupakan suatu tindakan
yang terpuji, apabila sebelum memberikan respon terlebih dahulu berusaha
mencari penjelasan atas pesan tersebut.
F. Ciri Ciri Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal merupakan jenis komunikasi yang frekuensi
terjadinya cukup tinggi dalam kehidupan sehari hari. Apabila diamati dan
dikomparasikan dengan jenis komunikasi lainnya, maka dapat dikemukakan ciri
ciri komunikasi interpersonal, antara lain :
1. Arus pesan dua arah
Komunikasi interpersonal menempatkan sumber pesan dan penerima dalam
posisi yang sejajar, sehingga memicu terjadinya pola penyebaran pesan
mengikuti arus dua arah. Artinya komunikator dan komunikan dapat berganti
peran secara cepat. Seorang sumber pesan, dapat berubah peran sebagai
penerima pesan, begitu pula sebaliknya. Arus pesan secara dua arah ini
berlangsung secara berkelanjutan.
2. Suasana nonformal
Komunikasi interpersonal biasanya berlangsung dalam suasana nonformal.
Dengan demikian, apabila komunikasi itu berlangsung antara para pejabat di
sebuah instansi, maka para pelaku komunikasi itu tidak secara kaku
berpegang pada hirarki jabatan dan prosedur birokrasi, namun lebih memilih
pendekatan secara individu yang bersifat pertemanan. Relevan dengan
Suasana nonformal tersebut, pesan yang dikomunikasikan biasanya juga
cenderung bersifat lisan, bukan tertulis. Di samping itu, forum komunikasi
yang dipilih biasanya juga cenderung bersifat nonformal, seperti percakapan
intim dan lobi, bukan forum formal seperti rapat.
3. Umpan balik segera

Komunikasi interpersonal biasanya mempertemukan para pelaku komunikasi


secara bertatap muka, maka umpan balik dapat diketahui dengan segera.
Seorang komunikator dapat segera memperoleh balikan atas pesan yang
disampaikan dari komunikan, baik secara verbal maupun nonverbal.
4. Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat
Komunikasi interpersonal merupakan metode komunikasi antar individu
yang menuntut agar peserta komunikasi berada dalam jarak dekat, baik jarak
dalam arti fisik maupun psikologis. Jarak yang dekat dalam arti fisik, artinya
para pelaku saling bertatap muka, berada pada satu lokasi tempat tertentu.
Sedangkan jarak yang dekat secara psikologis menunjukkan keintiman
hubungan antar individu.
5. Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan
spontan, baik secara verbal maupun nonverbal
Untuk

meningkatkan

keefektifan

komunikasi

interpersonal,

peserta

komunikasi dapat memberdayakan pemanfaatan kekuatan pesan verbal


maupun nonverbal secara simultan. Peserta komunikasi berupaya saling
meyakinkan, dengan mengoptimalkan penggunaan pesan verbal maupun
nonverbal secara bersamaan, saling mengisi, saling memperkuat sesuai
tujuan komunikasi.

Sementara itu Judy C. Pearson (S. Djuarsa Sendjaja, 2002: 2.1)


menyebutkan enam karakteristik komunikasi interpersonal, yaitu :
1. Komunikasi interpersonal dimulai dengan diri pribadi (self). Artinya bahwa
segala bentuk proses penafsiran pesan maupun penilaian mengenai orang
lain, berangkat dari diri sendiri.
2. Komunikasi interpersonal bersifat transaksional. Ciri komunikasi seperti ini
terlihat dari kenyataan bahwa komunikasi interpersonal bersifat dinamis,
merupakan pertukaran pesan secara timbal balik dan bekelanjutan.
3. Komunikasi interpersonal menyangkut aspek isi pesan dan hubungan
antarpribadi. Maksudnya bahwa efektivitas komunikasi interpersonal tidak
hanya ditentukan oleh kualitas pesan, melainkan juga ditentukan kadar
hubungan antarindividu.
4. Komunikasi interpersonal mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak
pihak yang berkomunikasi itu saling tatap muka.

5. Komunikasi

interpersonal

menempatkan

kedua

belah

pihak

yang

berkomunikasi saling tergantung satu dengan lainnya (interdependensi). Hal


ini mengindikasikan bahwa komunikasi interpersonal melibatkan ranah
emosi, sehingga terdapat saling ketergantungan emosional diantara pihak
pihak yang berkomunikasi.
6. Komunikasi interpersonal tidak dapat diubah maupun diulang. Artinya,
ketika seseorang sudah terlanjur mengucapkan sesuatu kepada orang lain,
maka ucapan itu sudah tidak dapat diubah atau diulang, karena sudah
terlanjur diterima oleh komunikan. Ibaratnya seperti anak panah yang sudah
terlepas dari busurnya, sudah tidak dapat ditarik lagi. Memang kalau
seseorang terlanjur melakukan salah ucap, orang tersebut dapat meminta
maaf dan diberi maaf, tetapi itu tidak berarti menghapus apa yang pernah
diucapkan.
G. Tipe Tipe Komunikasi Interpersonal
Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (terjemahan Deddy Mulyana dan
Gembirasari, 2005: 15-16) menjelaskan bahwa komunikasi insani atau komunikasi
antarmanusia muncul dalam beberapa tipe situasi yang berbeda, yaitu :
1. Komunikasi Dua Orang
Komunikasi dua orang atau komunikasi diadik mencakup segala jenis
hubungan antarpribadi, antara satu orang dengan orang lain, mulai dari
hubungan yang paling singkat (kontak) biasa, sampai hubungan yang
bertahan lama dan mendalam. Contoh komunikasi diadik adalah suami-istri,
guru-murid, pimpinan-bawahan, dan sebagainya. Ciri komunikasi diadik
adalah pihak pihak yang terlibat komunikasi berada dalam jarak yang
dekat.
2. Wawancara
Wawancara adalah salah satu tipe komunikasi interpersonal dimana dua
orang terlibat dalam percakapan yang berupa tanya jawab. Misalnya seorang
pemimpin mewawancarai karyawan yang menjadi bawahannya untuk
mencari

informasi

mengenai

pelaksanaan

suatu

pekerjaan.

Dalam

komunikasi interpersonal tipe wawancara ini, arah distribusi pesan bersifat


relatif tetap. Pewawancara bertindak sebagai perancang dan pencipta

berbagai pernyataan, sedangkan terwawancara bertindak sebagai penerima


pertanyaan, dan selanjutnya menyampaikan jawaban atau umpan balik.

3. Komunikasi Kelompok Kecil


Komunikasin kelompok kecil merupakan salah satu tipe komunikasi
interpersonal, dimana beberapa orang terlibat dalam suatu pembicaraan,
percakapan, diskusi, musyawarah, dan sebagainya. Istilah kelompok kecil
memiliki tiga makna: (1) jumlah anggota kelompok itu memang hanya
sedikit orang, (2) diantara para anggota kelompok itu saling mengenal
dengan baik, dan (3) pesan yang dikomunikasikan bersifat unit, khusus, dan
terbatas bagi anggota sehingga tidak sembarang orang dapat bergabung
dalam kelompok itu.

H. Tujuan Komunikasi Interpersonal


Komunikasi interpersonal merupakan merupakan suatu action oriented,
ialah salah satu tindakan yang berorientasi pada tindakan tertentu. Beberapa tujuan
komunikasi interpersonal yaitu :
1. Mengungkapkan perhatian kepada orang lain
Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah untuk mengungkapkan
perhatian kepada orang lain. Dalam hal ini seseorang berkomunikasi dengan
cara menyapa, tersenyum, melambaikan tangan, membungkukan badan,
menanyakan kabar kesehatan, dan sebagainya.
2. Menemukan diri sendiri
Artinya seseorang melakukan komuniksi interpersonal karena ingin
mengetahui dan mengenali karakteristik diri pribadi berdasrkan informasi
dari orang lain. Bila seseorang terlibat komunikasi nterpersonal dengan orang
lain, maka terjadi proses belajar banyak sekali tentang diri maupun orang
lain.
3. Menemukan dunia luar
Dengan komunikasi interpersonal diperoleh kesempatan untuk mendapatkan
berbagai informasi dari orang lain termasuk informasi penting dan aktual.
4. Memelihara dan membangun hubungan yang harmonis
Sebagai mahluk sosial, salah satu kebutuhan setiap orang yang paling besar
adalah membentuk dan memelihara hubungan baik dengan orang lain.

Semakin banyak teman yang dapat diajak bekerjasama maka semakin


lancarlah kehidupan sehari - hari.
5. Mempengaruhi sikap dan tingkah laku
Pada dasarnya komunikasi adalah sebuah fenomena sebuah pengalaman.
Setiap pengalaman akan memberi makna pada situasi kehidupan manusia
termasuk memberi nmakna tertentu pada terhadap kemungkinan terjadinya
perubahan sikap.
6. Mencari kesenangan atau sekedar menghabiskan waktu
Ada kalanya seseorang melakukan komunikasi interpersonal sekedar mencari
kesenangan atau hiburan. Komunikasi interpersonal yang seprti ini mampu
memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan
suasana rileks, ringan dan menghibur dari semua kegiatan serius.
7. Menghilangkan kerugian akibat salah komunikasi
Dengan komunikasi interpersonal dapat dilakukan pendekatan secara
langsung, menjelaskan berbagai pesan yang rawan menimbulkan kesalahan
interpretasi.
8. Memberikan bantuan
Tanpa disadari setiap orang ternyata sering bertindak konseler ataupun
konseli dalam interaksi interpersonal sehari-hari. Seperti seorang yang curhat
kepada temanya dan mahasiswa yang berdiksusi kepada seorang dosen.

I. Komunikasi Interpersonal Secara Lisan dan Tertulis


Komunikasi interprsonal dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis.
Masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga penerapannya
perlu memperlihatkan situasi dan kondisi yang ada. Komunikasi lisan (oral
communication) ialah proses pengiriman pesan dengan bahasa lisan. Komunikasi
lisan mempunyai beberapa keuntungan yaitu :
1. Keuntungan terbesar dari komunikasi lisan adalah kecepatannya, dalam arti
ketika melakukan tindak komunikasi dengan orang lain, pesan dapat
disampaikan dengan segera.

Aspek kecepatan ini akan bermakna kalau

menjadi persoalan yang esensial.

2. Muculnya umpan balik segera (instant feedback). Artinya penerima pesan


dapat dengan segera memberi tanggapan atas pesan pesan yang kita
sampaikan.
3. Memberi kesempatan kepada pengirim pesan untuk mengendalikan situasi,
dalam arti sender dapat melihat keadaan penerima pesan pada saat
berlangsungnya tindak komunikasi tersebut

Komunikasi tertulis (written communication) ialah proses komunikasi,


dimana

pesan

disampaikan

secara

tertulis.

Pada

komunikasi

tertulis,

keuntungannya adalah bahwa ia bersifat permanen, karena pesan pesan yang


disampaikan dilakukan secara tertulis. Selain itu, catatan catatan tertulis juga
mencegh terjadinya penyimpangan (distorsi) terhadap interpretasi gagasan gagasan
yang dikomunikasikan.

J.

Sikap Positif Dalam Berkomunikasi


Hubungan antar manusia dibina atas dasar hal hal kecil yang mengakrabkan
persahabatan, yang terbit dari kata hati yang tulus ikhlas, dan mengejawantah
sebagai sikap positif dalam komunikasi. Ada beberapa contoh sikap positif yang
perlu dikembangkan untuk mendukung efektifitas komunikasi interpersonal.
1.

Membuka pintu komunikasi. Dengan membuka pintu komunikasi, berarti


kita memiliki komitmen untuk membina kerja sama dan hubungan harmonis.
Sangat banyak cara yang bisa kita pilih untuk membuka pintu komunikasi,
mudah melakukannya asal ada kemuan dan kesadaran. Seperti halnya :

Lambaian tangan.

Senyum yang tulus dan simpatik.

Ucapkan kata sapaan: Hallo! Selamat pagi, dan sebagainya.

Cobalah mengajak berjabat tangan.

Tanyakan keadaannya: Apa kabar? Berapa anakmu? Sehat bukan?

Mintalah maaf dan permisi: maaf nama saya Agus, sioapa nama
anda? Bolehkah aku tahu alamat kamu?

Ucapkan terimakasih

2. Sopan dan ramah dalam berkomunikasi.


Penampilan yang sopan dan ramah akan membuat kita lebih aman dalam
memulai berkomunikasi ketimbang penuh emosi dan rasa curiga. Komunikan
akan lebih senang mendengarkan argumentasi yang disampaikan dengan
sopan.
3. Jangan sungkan meminta maaf pada saat merasa bersalah
Ketika kita menyadari sudah melakukan sebuah kesalahan dalam
berkomunikasi, maka sebaiknya kita meminta maaf. Dengan begitu maka
kita sebenarnya menaruh rasa hormat pada orang lain, dan giliran berikutnya
kita pun juga akan dihormatinya.
4. Cepat dan tanggap.
Tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan atau fungsinya (by
function), artinya keputusan yang diambil dan hasil dari pekerjaan tersebut
harus baik serta dapat dipertanggung jawabkan, sesuai standar profesi, efisien
dan efektif.
5. Penuh perhatian.
Tujuannya adalah menguji sejauh mana perhatian anda terhadap teman karib
anda. Apabila anda memiliki perhatian yang baik, maka anda akan
memahami karakteristiknya, dan dengan demikian anda dapat mengusahakan
proses komunikasi yang menyenangkan kedua belah pihak, tanpa melanggar
etika dan tata krama.
6. Bertindak jujur dan adil.
Kejujuran merupakan prinsip profesional yang penting. Ditunjukkan oleh
sifat jujur dan setia serta merasa terhormat pada profesi yang disandangnya,
tidak menyombongkan diri, serta berusaha terus untuk mengembangkan diri
dalam peningkatan keahlian dan keterampilan profesional.

Kasus
Kasus 1:
Sepasang suami istri (pasutri) memiliki seorang anak dan seorang pembantu rumah tangga.
Pasutri tersebut memiliki kesibukan yang amat padat dikantor sampai-sampai si anak lebih
sering bersama pembantu dan lebih merasa di sayang pembantu ketimbang orang tuanya
sendiri. Sang orang tua merasa cemburu ketika melihat sang anak lebih akrab dan dekat
dengan pembantunya. Si anak hanya mau makan jika disuapi oleh pembantu, mandi, belajar,
bahkan bermain hanya ingin dilakukan bersama pembantu.
Cara penyelesaiannya adalah
Cemburu ketika melihat sesuatu yang kita miliki lebih dekat dengan orang lain adalah sesuatu
yang wajar. Lebih lagi dalam kasus tersebut sang orangtua sadar betul bahwa mereka tidak
banyak menyediakan waktu bersama anak mereka. Pergi amat pagi, pulang amat malam. Hal
yang harus dilakukan adalah mengalah. Mengalah kepada pembantu, cobalah untuk meredam
rasa cemburu dan menggantinya dengan perasaan terima kasih karena pembantu sudah
memberikan rasa sayangnya kepada si buah hati. Karena biasanya yang terjadi adalah
orangtua menyalahkan pembantu yang membuat si anak tidak dekat dengan orangtuanya.
Melihat keakraban pembantu dan anak hingga segala aktivitas hanya ingin dilakukan bersama
pembantu merupakan hal yang sungguh tidak wajar, apalagi pembantu hanyalah pembantu,
yang bekerja atau mengurus anak dengan temporal atau tidak selamanya. Sehingga kalau
suatu saat pembantu memutuskan untuk tidak bekerja lagi disitu maka si anak tidak mau
melakukan aktivitas apapun tanpa pembantu yang biasa mengurusnya, maka orangtua akan
kerepotan untuk mengurus sendiri dengan pola asuh anak tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan
sikap kompromi antara pembantu dengan sang majikan. Kedua belah pihak berkompromi
agar pembantu jangan terlalu intensif melakukan segala aktifitas dengan si anak dan
membiarkan orangtua untuk mengambil alih kegiatan bersama anak yang biasanya dilakukan
oleh pembantu. Tentu orangtua harus menyediakan waktu lebih dengan sang anak. Bisa
dengan menyediakan waktu libur dengan berjalan-jalan dengan anak atau orangtua harus
bersikap asertif dengan melakukan pengurangan jam kerja di kantor agar memiliki waktu
bersama anak.
Dengan begitu maka proses kerja sama akan terbentuk. Kualitas waktu yang dibangun
dengan keakraban dan kebersamaan antara orangtua dan anak akan menghasilkan pola
komunikasi dan kehidupan yang harmonis.
Kasus 2:

Dalam instansi perguruan tinggi seperti UNJ, disetiap semester 7-8 terdapat Matakuliah
PKL/PPL. Dalam hal ini pembagian kelompok dilakukan/dibagikan sendiri oleh mahasiswa,
dan disetiap kelompok berjumlah 2-3 orang. Dengan jumlah 2-3 orang tersebut, maka akan
terjadi adanya perbedaan pendapat mengenai tempat PKL. Contoh : si A ingin PKL di stasiun
Radio, sedangkan si B ingin PKL di Instansi pemerintahan, sedangkan si C ingin PKL di
stasiun Televisi.
Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, maka telah terjadi adanya suatu konflik, dimana
masing-masing orang berbeda tujuan, berbeda pendapat dalam menentukan tempat PKL.
Oleh karena itu cara penyelesaiannya kita harus melakukan kerja sama agar pendapat dan
keinginan dari masing-masing pihak dihargai dan terpenuhi, dan jalan keluar yang memenuhi
keinginan semua dicari secara bersama, dengan cara hari ini kita mndatangi stasiun televise
yang diinginkan oleh si C, sedangkan besok kita ke Instansi, dan lusa kita ke stasiun radio.
Maka dengan cara kerjasama inilah semua pihak merasa diuntungkan. Win-win solution.
Kasus 3:
Salah satu konflik terjadi berawal dari adanya arogansi seseorang, seperti ketika si A merasa
hari ini sangat melelahkan dan banyak permasalahan dalam hidupnya sehingga tingkat stres
pada si A cukup tinggi. Dan si A memiliki kawan yakni si B yang memiliki sikap yg
cendrung to the point ketika dimintai pendapat tanpa harus berbasa-basi atau bertele-tele.
Saat si A mencoba mencurahkan masalahnya yang sangat meningkatkan kadar stress pd si A
dan berharap mendapatkan solusi berupa membangkitkan motivasi atau sekedar mendapatkan
pembelaan dari keputusan yg A ambil sebagai solusi dr masalahnya. Namun karena kondisi si
A yg tidak maksimal dalam menangkap pesan dari di B sehingga muncul ketidakterimaan
dalam benak si A terhadap pesan yg diberikan si B.
Maka dalam situasi seperti ini sebagai solusi dr konflik yg akan terjadi antara dan A dan B
sebaiknya A mencoba menata kembali stabilitas emosi dan selanjutnya A mengutarakan
pemahamannya terhadap pesan si B agar si B dapat mengklarifikasi maksud pesannya.
namun perlu juga bagi si B memahami kondisi dari si A sehingga komunikasi yg
disampaikan tidak memicu konflik antar keduanya dengan cara si B menggunakan intonasi
yg tepat dan pemilihan kata yg lebih terdengar lembut, tidak menggurui atau menghakimi.
Dari penyampaian seperti ini diharapkan konflik dapat diredam dengan menjaga perasaan
satu sama lain dan lebih dari itu tujuan awal dari terciptanya komunikasi ini yakni untuk
menemukan solusi permasalahan dapat di capai.