Anda di halaman 1dari 40

1

PROFESSIONAL ETHICS
STUDI KASUS : GARUDA INDONESIA

Disusun oleh :
1. Humam Fauzi
2. Latifatul Fajriyah
3. Mujiatno
4. Putri Utami Ruswandi
5. Yulian Anita

SEKOLAH BISNIS INSTITUT PERTANIAN BOGOR

KELAS E-70
Dosen : Prof. Dr. Aida Vitayala Hubeis
Mata Kuliah : Hukum dan Etika Bisnis
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
BAB 1. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 7
1.3 Tujuan 7
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 8
2.1 Etika 8
2.1.1 Etika Bisnis 8
2.1.2 Etika Profesi (Proefsional) 10
2.1.3 Etika Profesi Auditor 12
2.2 Good Corporate Governance (GCG) 14
2.2.1 Penerapan Prinsip GCG Pada BUMN 15
BAB 3. PEMBAHASAN 17
3.1 Kode Etik dan Budaya Perusahaan PT. Garuda Indonesia (Persero) 17
Tbk.
3.2 Pokok-Pokok Kode Etik PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. 17
3.3 Latar Belakang dan Kronologis Kasus Polemik Keuangan PT. 18
Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
3.4 Pelanggaran yang dilakukan Manajemen Garuda Indonesia dan 20
KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan
3.5 Sanksi untuk PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. 23
3.6 Analisis Kasus Etika Profesi Berdasarkan Kasus Garuda Indonesia 25
3.7 Analisis Pelaksanaan GCG dalam Kasus Laporan Keuangan 28
Garuda Indonesia
BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN 31
4.1 Kesimpulan 31
4.2 Saran 33
DAFTAR PUSTAKA 35

i
1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perusahaan dalam menjalankan usahanya tentu menanamkan etika bisnis


baik di lingkungan internal ataupun eksternal perusahaan. Etika bisnis
merupakan salah satu pedoman bagi perusahaan dalam menjalankan roda
bisnisnya sehari-hari dan juga dapat membentuk karakter karyawan seperti
nilai, norma, dan perilaku karyawan. Etika bisnis juga penting bagi
perusahaan agar dapat mewujudkan citra dan manajemen bisnis yang baik
dan untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing
yang tinggi. Etika tidak hanya mengatur keseluruhan perusahaan, tetapi ada
juga mengatur etika profesi yang terlibat didalam usaha tersebut yang disebut
dengan etika profesi yang diterapkan dalam suatu kelompok profesi dengan
norma yang mangerahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya
bagaimana seharusnya berperilaku dan sekaligus menjamin mutu moral
profesi itu dimata masyarakat.
Menurut undang-undang nomor 8, kode etik profesi adalah pedoman
sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam
kehidupan sehari-hari. Setiap profesi tentu memiliki kode etik yang berbeda-
beda tidak berlaku sama untuk setiap profesi. Jika seseorang bekerja dengan
menghiraukan etika profesinya, tentu akan berdampak negative baik terhadap
dirinya, perusahaan, masyarakat, mitra kerja, dan lain-lain.
Kasus yang sedang ramai saat ini yang berkaitan dengan etika profesi
yaitu kasus laporan keuangan tahun 2018 PT. Garuda Indonesia (Persero)
Tbk. PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. merupakan maskapai kebanggaan
Indonesia yang melayani lebih dari 90 destinasi di seluruh dunia dan berbagai
lokasi di Indonesia. Jumlah penerbangan perhari mencapai 600 penerbangan
melalui konsep “Garuda Indonesia Experience” yang mengedepankan
“Indonesian Hospitality”. Garuda Indonesia juga memiliki dua unit bisnis
2

diantaranya Unit Bisnis Garuda Sentra Medika (GSM) dan Unit Bisnis
Garuda Cargo. Selain memiliki unit bisnis, Garuda Indonesia juga memiliki
anak perusahaan diantaranya PT. Aerowisata, PT. Sabre Travel Network
Indonesia, PT. Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA), PT. Aero
Systems Indonesia (ASYST), PT. Citilink Indonesia, PT. Gapura Angkasa,
dan Garuda Indonesia Holiday France.
Pada tahun 1996, Garuda Indonesia mengalami dua musibah besar yang
terjadi di dua tempat yang memakan korban dalam jumlah yang cukup besar
yaitu penerbangan 865 dari Fukuoka, dan penerbangan 152 di sumatera utara
yang menewaskan seluruh penumpangnya. Tahun 1997, Garuda Indonesia
terkena imbas krisis finansial asia yang membuat keuangan Indonesia
menjadi lesu. Garuda Indonesia harus memotong semua rute yang tidak
menguntungkan, terutama rute jarak jauh menuju Eropa dan Amerika.
Penerbangan rute domestik juga dilakukan penyesuaian ulang.
Maskapai penerbangan Indonesia mengalami deregulasi pada tahun 1999
munculnya peraturan perundang-undangan no. 5 tentang pembatasan praktik
monopoli usaha dan SK Menteri Perhubungan No. 11 tahun 2001 tentang tata
operasional awal maskapai penerbangan dengan batasan armada minimal 2
pesawat. Garuda Indonesia kehilangan hegemoni besarnya dalam pasar
penerbangan Indonesia, yang berakibat pada menurunnya pangsa kemilikian
pasar Garuda Indonesia yang telah kosong dan dimanfaatkan oleh maskapai
berbiaya rendah seperti Pelita Air Service, Awair, Lion Air dan Jatayu
Airlines. Hal ini semakin memperparah dan menyudutkan posisi Garuda pada
situasi sulit. Tahun 1994 sudah merugi dan berutang tanpa membayar,
ditambah dengan budaya kerja yang sangat birokratis dan lamban
eksekusinya membuat sistem yang ada menjadi “tidak ramah dengan ide dan
kreativitas” yang berakibat pada terhambatnya performa kompetitivitas
Garuda Indonesia dengan maskapai penerbangan lain.
Banyaknya peristiwa yang terjadi di tahun 2000 seperti kasus
meninggalnya Munir Said Thalib pada tahun 2004 yang diduga diracuni oleh
seseorang dan meninggal 2 jam sebelum mendarat dalam perjalanan dari
jakarta menuju Amsterdam dengan GA-974. Garuda Indonesia juga
3

menghadapi masalah keselamatan penerbangan, terutama setelah peristiwa


Garuda Indoensaia penerbangan 200, Uni Eropa memberi surat larangan
terbang ke Eropa bagi semua maskapai Indonesia.
Tahun 2010 Garuda Indonesia mulai berbenah diri dengan penyelesaian
seluruh restrukturisasi utang perusahaan untuk siap mencatatkan sahamnya ke
publik pada 11 Februari 2011. Perusahaan resmi menjadi perusahaan publik
setelah penawaran umum perdana atas 6.335.738.000 saham perusahaan
kepada masyarakat. Garuda Indonesia juga mulai pembukaan kembali rute
Eropa dengan rute Jakarta – Amsterdam.
Garuda Indonesia terus melaksanakan program transformasi secara
berkelanjutan dengan hasil sebagai maskapai bintang lima dengan berbagai
pengakuan dan apresiasi skala internasional, diantaranya “The World’s Best
Cabin Crew” selama empat tahun berturut-turut dari 2014 – 2017, “The
World’s Most Loved Airline 2016” dan “The World’s Best Economy Class
2013” dari Skytrax.
Usaha dan pencapaian yang diraih oleh Garuda Indonesia, tidak sejalan
dengan kinerja keuangan perusahaan. Garuda Indonesia hampir selalu
mengalami kerugian, di tahun 2014 merugi sebesar US$370.04 juta, tahun
2015 mengalami keuntungan sebesar US$76.48 juta, tahun 2016 kerugian
mencapai US$8.06 juta, tahun 2017 sebesar US$216,58 juta. Tahun 2018
pada Sembilan bulan pertama rugi bersih sebesar US$114,08 juta.
Berdasarkan laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018, Garuda
Indonesia berhasil berubah 180 derajat menjadi untung, tetapi tidak diiringi
dengan kenaikan pendapatan usaha yang signifikan. Kenaikan pendapatan
usaha di tahun 2018 sebesar US$4.37 miliar naik 4.79% dari tahun 2017
sebesar US$4.17 miliar.
Kejanggalan laporan keuangan itu awalnya tercium oleh dua Komisaris
Garuda, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria (per 24 April 2019, Dony sudah
tidak menjabat sebagai Komisaris Garuda). Mereka menyoroti pencatatan
akuntansi pada laporan kinerja keuangan perusahaan tahun buku 2018.
Mereka menilai, seharusnya Garuda Indonesia mencatatkan rugi tahun
berjalan senilai US$ 244,95 juta atau setara Rp 3,45 triliun (kurs: Rp 14.100
4

per dolar AS). Namun, di dalam laporan keuangan 2018 malah tercatat
memiliki laba tahun berjalan senilai US$ 5,01 juta setara Rp 70,76 miliar.
Sebelumnya, Dua komisaris Garuda Indonesia menyoroti kejanggalan
dalam laporan keuangan 2018. Terdapat beberapa pos keuangan yang
pencatatannya tak sesuai standar akuntansi yang membuat kinerja Garuda
Indonesia untung pada 2018, padahal seharusnya merugi. Keberatan mereka
sampaikan terkait kerja sama penyediaan layanan konektivitas dalam
penerbangan. Dalam dokumen yang didapat oleh awak media, tertulis bahwa
dua komisaris ini Chairal Tanjung dan Dony Oskaria. Keduanya merupakan
perwakilan dari PT Trans Airways, pemegang saham Garuda Indonesia
dengan kepemilikan sebesar 25,61 persen.
Cerita kejanggalan tersebut bermula dari kerja sama itu dilakukan antara
PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia, penyediaan koneksi
wifi di armada pesawat. Kerjasama tersebut kemudian diperluas ke Garuda
Grup, yang juga mengikutkan Sriwijaya Air. Dari situ, Garuda akan
mendapatkan pembayaran dari Mahata Aero Teknologi sebesar US$239,94
juta. Pembayaran tersebut, US$28.000.000 di antaranya merupakan bagi hasil
Garuda Indonesia dengan PT Sriwijaya Air. Namun, hingga akhir 2018
belum ada pembayaran yang masuk dari Mahata Aero Teknologi. Walau
begitu, Garuda Indonesia dalam laporan keuangan sudah mengakuinya
sebagai pendapatan tahun lalu.
Dari pihak Trans Airways berpendapat angka itu terlalu signifikan hingga
mempengaruhi neraca keuangan Garuda Indonesia. Jika nominal dari kerja
sama tersebut belum masuk sebagai pendapatan, perusahaan sebenarnya
masih merugi US$244.958.308. Adapun dengan mengakui pendapatan dari
perjanjian Mahata maka perusahaan membukukan laba sebesar
US$5.018.308. Dua komisaris ini berpendapat dampak dari pengakuan
pendapatan itu menimbulkan kerancuan dan menyesatkan. Masalahnya,
keuangan Garuda Indonesia jadi berubah signifikan dari yang sebelumnya
rugi menjadi untung.
Kantor Akuntan Publik (KAP) tersebut adalah Tanubrata Sutanto Fahmi
Bambang & Rekan (Member of BDO International), yang merupakan auditor
5

independen yang melakukan audit atas laporan keuangan konsolidasian


perseroan.
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tercatat mengalami kerugian
tahun berjalan US$ 175 juta atau setara Rp 2,4 triliun (kurs: Rp 13.995 per
dolar) pada 2018 setelah laporan keuangannya harus disajikan ulang oleh
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Padahal, dalam laporan keuangan
sebelumnya, mereka mengantongi laba tahun berjalan senilai US$ 5 juta. Hal
tersebut terungkap dari materi paparan publik insidentil (Public Expose
Insidentil) yang diunggah pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia
(BEI) pada Kamis (25/7) malam. Dengan penyajian kembali ini, tercatat pula
Pendapatan Lain-Lain Bersih mereka tahun lalu senilai US$ 38,9 juta
Sebelum disajikan ulang, Garuda mencatatkan Pendapatan Lain-Lain
Bersih senilai US$ 278,8 juta. Artinya, ada selisih US$ 239,9 juta pada pos
ini yang akhirnya tidak dimasukkan lagi ke Pendapatan Lain-Lain Bersih.
Angka tersebut sebesar nilai perjanjian kerja sama penyediaan layanan
konektivitas dalam penerbangan yang ditandatangani oleh anak usaha Garuda
Indonesia, yakni PT Citilink Indonesia dengan PT Mahata Aero Teknologi
(Mahata). Pendapatan dari Mahata tersebut nilainya sebesar US$ 239,94 juta.
Selain itu, dari posisi Piutang Lain-Lain Garuda tahun lalu, juga tercatat
mengalami perubahan usai disajikan ulang. Piutang Lain-Lain Garuda tahun
lalu senilai US$ 16,7 juta setelah disajikan ulang. Sebelumnya, mereka
mencatatkan Piutang Lain-Lain senilai US$ 280,8 juta, artinya terdapat selisih
US$ 264,1 juta setelah disajikan ulang. Sementara, Liabilitas Pinjaman
Jangka Pendek Garuda tahun lalu setelah disajikan ulang menjadi US$ 563,5
juta, padahal sebelumnya hanya US$ 14,3 juta. Artinya ada selisih kenaikan
sebesar US$ 549,3 juta. Selisih tersebut merupakan pindahan dari Liabilitas
Pinjaman Jangka Panjang yang sebelum disajikan ulang nilainya sebesar US$
549,4 juta, tapi setelah disajikan ulang menjadi hanya US$ 200 ribu.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, BPK merekomendasikan agar Garuda
membatalkan kerja sama anak usahanya, PT Citilink Indonesia, dengan PT
Mahata Aero Technology. Selain itu, BPK juga meminta Garuda untuk
menyajikan ulang laporan keuangan mereka. "BPK juga merekomendasikan
6

agar Garuda melakukan restatement atas penyajian Laporan Keuangan 2018,"


kata Achsanul. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia
(BEI) sebelumnya telah menjatuhkan hukuman denda total Rp 1,25 miliar
kepada Garuda beserta jajaran Dewan Komisaris dan Direksi. Sanksi denda
tersebut terkait penyajian laporan keuangan 2018 dan kuartal I-2019. Secara
rinci, OJK mengenakan sanksi administratif berupa denda Rp 100 juta kepada
Garuda. Sanksi diberikan atas pelanggaran Peraturan OJK Nomor 29 Tahun
2016 tentang Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik. Lalu, OJK
menjatuhkan denda masing-masing Rp 100 juta kepada seluruh direksi
Garuda yang bertanggung jawab menyajikan laporan keuangan 2018.
Pengenaan denda tersebut atas pelanggaran Peraturan Bapepam Nomor
VIII.G.11 tentang Tanggung Jawab Direksi atas laporan Keuangan.
Adapun, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenakan sanksi berupa denda
senilai Rp 250 juta kepada Garuda. Pelanggaran yang dikenakan BEI ini atas
pelanggaran penyajian Laporan Keuangan Perusahaan Kuartal I-2019. Selain
memberikan denda, baik OJK maupun BEI memberikan sanksi yang
mewajibkan Garuda menyajikan ulang (restatement) laporan keuangan yang
menjadi masalah tersebut.
Tak cukup sampai di situ, Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK)
Kementerian Keuangan turut menjatuhkan sanksi kepada kantor akuntan
publik (KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan (member of
BDO International) yang mengaudit laporan keuangan itu. Sanksinya berupa
peringatan tertulis dengan disertai kewajiban untuk melakukan perbaikan
terhadap Sistem Pengendalian Mutu KAP dan dilakukan review oleh BDO
International Limited. Dasar pengenaan sanksi yaitu UU Nomor 5 tahun 2011
dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 154/PMK.01/2017.
Kementerian juga memberikan sanksi pembekuan izin selama 12 bulan
terhadap Kasner Sirumapea, auditor laporan keuangan tersebut. Kasner
terbukti melakukan pelanggaran berat yang berpotensi berpengaruh signifikan
terhadap opini Laporan Auditor Independen (LAI). Pengenaan saksi ini
melalui KMK No.312/KM.1/2019 tanggal 27 Juni 2019.
7

1.2 Rumusan Masalah


Etika Profesi juga mempunyai Kode Etik Profesi yaitu suatu sistem
norma, nilai, atau aturan yang menegaskan tentang baik atau tidaknya suatu
perbuatan. Kode Etik menyebutkan beberapa hal yang baik untuk dilakukan
dan yang buruk untuk dilakukan. Memberikan suatu batasan antara yang
benar dan salah sehingga seorang karyawan bisa membatasi diri dalam
berperilaku agar tidak berperilaku ke arah yang tidak benar sehingga bisa
merugikan lingkungan sekitar. Dari uraian kasus pada bab pendahuluan
tersebut ada beberapa point yang akan menjadi pembahasan didalam makalah
ini:

a. Bagaimana penerapan kode etik dan budaya perusahaan di PT. Garuda


Indonesia (Persero) Tbk.?
b. Bagaimana Pokok-pokok kode etik di PT. Garuda Indonesia (Persero)
Tbk. ?
c. Bagaimana latar belakang dan kronologi kasus polemik keuangan PT.
Garuda Indonesia (Persero) Tbk.?
d. Bagaimana Pelanggaran yang dilakukan manajemen Garuda Indonesia dan
KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang dan Rekan?
e. Apa sanksi untuk PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk.?
1.3 Tujuan
Sesuai uraian dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari
makalah ini adalah :
a. Mengetahui penerapan kode etik dan budaya perusahaan di PT.
Garuda Indonesia Tbk.
b. Mengetahui pokok-pokok kode etik di PT. Garuda Indonesia Tbk.
c. Mengetahui latar belakang dan kronologi kasus polemic keuangan
PT. Garuda Indonesia Tbk.
d. Mempelajari apa saja pelanggaran yang dilakukan manajemen
Garuda Indonesia dan KAP
e. Mendiskusikan apa sanksi untuk PT. Garuda Indonesia Tbk.
8

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Etika
Chris MacDonald (2010) mengatakan bahwa etika mengacu pada filosofi
penting dan terstruktur yang mempelajari perilaku orang. Etika tidak hanya
tentang mengekspresikan bagaimana orang-orang berperilaku dan
menciptakan nilai mereka sendiri, meskipun itu dapat dianggap sebagai poin
penting, tetapi juga memeriksa dan menganalisis sejumlah keyakinan dan
kebiasaan berprinsip yang menetapkan fondasi untuk menilai norma-norma
tertentu. Etika terstruktur, seperti dikatakan oleh MacDonald, karena itu
bukan pendapat individu tetapi sistem mempersatukan beragam pendapat
menjadi paket aturan umum yang etis. Pendeknya, “Untuk tujuan praktis,
etika berarti memberikan alasan pembenaran untuk pilihan & perilaku kita
ketika itu mempengaruhi orang lain, dan alasan pembenaran untuk pujian
atau kritik kita terhadap perilaku orang lain” Kegiatan hidup manusia, adalah
persoalan tentang nilai. Manusia berbuat, karena ada sesuatu yang diinginkan.
Nilai diartikan sebagai kualitas atau sesuatu kenyataan yang mempunyai
keunggulan, kegunaan dan diinginkan. Pemahaman tentang nilai yang semula
sifatnya abstrak, berubah menjadi kenyataan dalam perbuatan. Perbuatan
yang mencerminkan nilai itu secara tidak langsung terungkap melalui norma.
Dengan demikian nilai diaktualisasikan di dalam perbuatan melalui norma.
Norma hidup masyarakat merupakan penampung norma keluarga, pada
hakikatnya merupakan perwujudan nilai oleh individu di dalam hubungan
antar (interaksi) menuju terwujudnya kepentingan dan keteraturan.

2.1.1 Etika Bisnis


Keputusan yang diambil oleh sesorang merefleksikan banyak faktor
termasuk moral, nilai-nilai individu dan masyarakat. Secara sederhana etika
bisnis dapat diartikan sebagai satu aturan main yang tidak mengikat karena
bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika
bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika
9

bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen
lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan
orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur,
pemakai, dan lain-lain (Dalimunthe, 2004). Etika adalah komitmen untuk
melakukan apa yang benar dan menghindari apa yang tidak benar. Etika
bisnis adalah kode etik perilaku perusahaan berdasarkan nilainilai moral dan
norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan bisnis. Secara
singkat, etika bisnis dapat dikatakan merupakan tata cara berbisnis secara
sehat. Intinya adalah menjalankan bisnis tanpa adanya tindakan yang
merugikan hak dan kepentingan pihak lain yang terkait dengan bisnis
(Nurseto, 2018). Selanjutnya Nurseto (2018) menyatakan bahwa, kinerja
bisnis sesungguhnya tidak hanya diukur dari perolehan keuntungan semata,
tetapi perlu juga mengedepankan komitmen moral, pelayanan, mutu, dan
tanggung jawab sosial. Mengedepankan tindakan beretika dalam berbisnis
dapat dikatakan merupakan strategi bisnis jangka panjang yang terbaik.
Secara umum, prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh dalam
menjalankan bisnis beretika adalah:
a. Kejujuran
b. Tanggung jawab
c. Transparansi
d. Profesional
e. Kepercayaan
f. Keadilan

Hal-hal seperti ini diperlukan untuk mempertahankan kepercayaan


konsumen dan pihak lain yang terkait. Hal ini karena dalam bisnis, reputasi
perusahaan menjadi hal yang sangat penting untuk diciptakan dan dibina
sehingga mampu menghasilkan profit yang berkelanjutan.
10

2.1.2 Etika Profesi (Profesional)


Istilah profesional menunjuk pada pekerjaan yang diorganisir dalam
bentuk institusional, di mana para praktisi yang independen dan
berkominten secara eksplisit melayani kepentingan publik, serta
menawarkan jasa terhadap klien di mana jasa tersebut secara langsung
berhubungan dengan intelektualitas yang berbasis pada pengetahuan.
Pengetahuan tersebut harus bersifat kompleks atau esetoris, dan adanya
legitimasi sosial dalam bentuk pengetahuan yang diinstitusionalkan dan
berbasis pada etika (Ivan A. Setiawan & Imam Ghozali, 2006). Profesi
merupakan pekerjaan yang berlandaskan pada pengetahuan (knowledge)
yang tinggi atau kompleks, atau pengetahuan yang bersifat esetorik. Selama
ini diargumentasikan bahwa pekerjaan akuntan memang didasarkan pada
pengetahuan yang tinggi dan ini hanya bisa dilakukan oleh individu dengan
kemampuan tertentu dan latar belakang pendidikan tertentu. Esetorik
bermakna unik tidak semua orang dapat melakukan pekerjaan ini. Profesi
berkaitan dengan pengkuan sosial. Sebelum suatu profesi memperoleh
pengakuan sosial, praktisi harus memiliki atribut profesionalisme yang
mencakup :
a. Keyakinan bahwa pekerjaannya secara sosial adalah penting;
b. Berdedikasi terhadap pekerjaannya;
c. Membutuhkan otonomi dalam melaksanakan pekerjaannya;
d. Dukungan terhadap pengaturan sendiri (selfregulation);
e. Berafiliasi dengan praktisi lainnya (Ivan A. Setiawan & Imam Ghozali,
2006)
Siti Rahayu (2010) berpendapat bahwa etika profesi adalah kode etik
untuk profesi tertentu dan karenanya harus dimengerti selayaknya, bukan
sebagai etika absolut. Terdapat beberapa prinsip dasar yang menjadi
landasan dalam pelaksanaan kode etik profesi. Adapaun prinsip-prinsip
etika profesi adalah sebagai berikut:
a. Prinsip Tanggung Jawab
Setiap profesional harus bertanggungjawab terhadap pelaksanaan suatu
pekerjaan dan juga terhadap hasilnya. Selain itu, profesional juga
11

memiliki tanggungjawab terhadap dampak yang mungkin terjadi dari


profesinya bagi kehidupan orang lain atau masyarakat umum.
b. Prinsip Keadilan
Pada prinsip ini, setiap profesional dituntut untuk mengedepankan
keadilan dalam menjalankan pekerjaannya. Dalam hal ini, keadilan harus
diberikan kepada siapa saja yang berhak.
c. Prinsip Otonomi
Setiap profesional memiliki wewenang dan kebebasan dalam
menjalankan pekerjaan sesuai dengan profesinya. Artinya, seorang
profesional memiliki hak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dengan mempertimbangkan kode etik profesi.
d. Prinsip Integritas Moral
Integritas moral adalah kualitas kejujuran dan prinsip moral dalam diri
seseorang yang dilakukan secara konsisten dalam menjalankan
profesinya. Artinya, seorang profesional harus memiliki komitmen
pribadi untuk menjaga kepentingan profesinya, dirinya, dan masyarakat.
Sedangkan menurut Suraida (2005), terdapat beberapa prinsip etika
profesi yang harus dijalankan oleh seorang profesional, yaitu:
a. Tanggung Jawab Profesional
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, anggota
harus melaksanakan pertimbangan profesional dan moral dalam seluruh
keluarga.
b. Kepentingan Publik
Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak dalam suatu cara
yang akan melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan
publik, dan menunjukkan komitmen pada profesionalisme.
c. Integritas
Untuk mempertahankan dan memperluas keyakinan publik, anggota
harus melaksanakan seluruh tanggung jawab profesional dengan perasaan
integritas tinggi.
d. Objektifitas
Anggota harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari konflik
12

penugasan dalam pelaksanaan tanggung jawab profesional.


e. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Agar dapat memberikan layanan yang berkualitas, profesional harus
memiliki dan mempertahankan kompetensi dan ketekunan.
f. Kerahasiaan
Profesional harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang
diperolehnya dalam melakukan tugas, walaupun keseluruhan proses
mungkin harus dilakukan secara terbuka dan transparansi.
g. Perilaku Profesional
Profesional harus melakukan tugas sesuai dengan yang berlaku, yang
meliputi standar teknis dan profesional yang relevan.
h. Standar Teknis
Harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan standar teknis dan standar
profesional yang telah ditetapkan.

2.1.3 Etika Profesi Auditor


Menurut Mulyadi (2002:9) Auditing adalah suatu proses sistematik untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan–
pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan
menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan–pernyataan dengan
kriteria yang telah ditetapkan, serta penampaian hasil–hasilnya kepada
pemakai yang berkepentingan. Menurut Sihwahjoeni dan Gudono
(2000:170), “Kode Etik Akuntan adalah norma yang mengatur hubungan
antara akuntan dengan kliennya, antara akuntan dengan sejawatnya, dan
antara profesi dengan masyarakat.” Menurut IAI, “Kode Etik Ikatan
Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh
anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan
dunia usaha, pada instansi pemerintah maupun di lingkungan dunia
pendidikan dalam pemenuhan tanggung-jawab profesionalnya.”
Prinsip Etika Akuntan sebagaimana ditetapkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia memuat Delapan prinsip etika dengan masing-masing penjelasan
seperti dibawah ini.
13

a. Tanggung jawab profesi


Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap
anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan
profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Sebagai
profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat.
Sejalan dengan peranan tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab
kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus
selalu bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan anggota untuk
mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat,
dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri.
Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan
meningkatkan tradisi profesi.
b. Kepentingan publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu
profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi
akuntan memegang peranan yang penting di masyarakat, di mana publik
dari profesi akuntan terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah,
pemberi kerja, pegawai investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak
lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam
memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib.
c. Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota
harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas
setinggi mungkin. Integritas adalah suatu elemen karakter yang
mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan
kualitas yang mendasari kepercayaan publik dan merupakan patokan
(benchmark) bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang
diambilnya Integritas mengharuskan seseorang anggota untuk, antara
ain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia
penerima jasa, pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan
14

oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak


disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat
menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.

2.2. Good Corporate Governance (GCG)


Dalam Keputusan Menteri BUMN (KEP-117/M-MBU/2002) tentang
Good Corporate Governance, ditetapkan, yang dimaksud dengan Corporate
Governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ
BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan
guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan
perundangan dan nilai-nilai etika. Organ adalah Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS), komisaris dan Direksi untuk Perusahaan Perseroan
(PERSERO), dan Pemilik Modal, Dewan Pengawas dan Direksi untuk
Perusahaan Umum (PERUM) dan Perusahaan Jawatan (PERJAN). BUMN
wajib menerapkan GCG secara konsisten dan atau menjadikan GCG sebagai
landasan operasionalnya. Menurut Sutedi (2012:4), unsur-unsur GCG secara
umum adalah sebagai berikut:
a. Fairness (keadilan), menjamin perlindungan hak para pemegang saham
dan menjamin terlaksananya komitmen dengan para investor
b. Transparancy (transparansi), mewajibkan adanya suatu informasi yang
terbuka, tepat waktu, serta jelas dan dapat diperbandingkan, yang
menyangkut keadaan keuangan, pengelolaan perusahaan, dan kepemilikan
perusahaan.
c. Accountability (akuntabilitas), menjelaskan peran dan tanggung jawab,
serta mendukung usaha untuk menjamin penyeimbangan kepentingan
manajemen dan pemegang saham, sebagaimana yang diawasi oleh Dewan
Komisaris.
d. Responsibility (pertanggungjawaban), memastikan dipatuhinya
peraturanperaturan serta ketentuan yang berlaku sebagai cermin
dipatuhinya nilai-nilai sosial.
15

2.2.1 Penerapan Prinsip GCG pada BUMN


Penerapan prinsip Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan
yang baik) pada BUMN Republik Indonesia diawali dengan semangat
perbaikan ekonomi (economy recovery) dan reformasi BUMN di Indonesia
pasca terjadinya krisis ekonomi di tahun 90-an. Semangat perbaikan
ekonomi (economy recovery) dan reformasi BUMN di Indonesia tersebut
diwujudkan dengan pemberlakuan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) No.KEP-117/MMBU/2002 tentang kewajiban penerapan
praktik Good Corporate Governance pada BUMN. Kemudian seiring
dengan kegiatan dunia usaha yang semakin dinamis dan kompetitif maka
peraturan sebelumnya diperbaharui melalui Peraturan Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara Nomor: Per-01/MBU/2011 tentang penerapan
tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) pada Badan
Usaha Milik Negara dan kemudian diperbaharui lagi melalui Peraturan
Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-09/MBU/2012 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-
01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate
Governance) pada Badan Usaha Milik Negara. Definisi Tata Kelola
Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) menurut Peraturan
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: 01/MBU/2011 adalah
“prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan
perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika
berusaha”.
Adapun prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good
Corporate Governance) yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara Nomor: 01/MBU/2011adalah:
a. Transparansi (Transparency);
b. Akuntabilitas (Accountability);
c. Pertanggungjawaban (Responsibility);
d. Kemandirian (Independency);
e. Kewajaran (Fairness)
16

Keputusan menteri BUMN untuk menerapkan prinsip Tata Kelola


Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) di lingkungan BUMN
Republik Indonesia tentunya berdasarkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Adapun, tujuan yang ingin dicapai dari penerapan prinsip Tata Kelola
Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) tertuang pada pasal
ke-4 dari Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor:
01/MBU/2011, tujuan-tujuan tersebut adalah:
a. Mengoptimalkan nilai BUMN agar perusahaan memiliki daya
saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional,
sehingga mampu mempertahankan keberadaannya dan hidup
berkelanjutan untuk mencapai maksud dan tujuan BUMN
b. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien, dan
efektif, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan
kemandirian Organ Persero/Organ Perum;
c. Mendorong agar Organ Persero/Organ Perum dalam membuat
keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang
tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,
serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial BUMN
terhadap Pemangku Kepentingan maupun kelestarian lingkungan
di sekitar BUMN;
d. Meningatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional;
e. Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi
nasional
17

BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Kode etik dan Budaya Perusahaan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
Dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan praktik GCG, PT GI
telah merumuskan kebijakan terkait kode etik berupa Pedoman Etika Bisnis
dan Etika Kerja yang berperan sebagai pedoman standar sikap dan perilaku
dalam pelaksanaan segenap aktivitas bisnis sekaligus pencapaian visi dan
misi PT GI. Sebagai pedoman sikap dan perilaku, Pedoman Etika Bisnis dan
Etika Kerja mengacu pada praktik industri terbaik dengan memperhatikan
kesesuaian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia.
Melalui penerapan Pedoman Etika Bisnis dan Etika Kerja yang menyeluruh
untuk seluruh insan PT GI tanpa terkecuali, PT GI juga berharap mampu
meningkatkan kesadaran dan mengarahkan pola pikir, sikap, dan perilaku
segenap karyawan pada pengelolaan usaha yang baik sesuai prinsip- prinsip
GCG dan hubungan yang selaras dengan pemangku kepentingan dalam
jangka waktu Panjang

3.2 Pokok Pokok Kode Etik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Pedoman Etika Bisnis dan Etika Kerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk,
diresmikan pertama kali pada 10 Februari 2011 ditandai dengan
penandatanganan Komitmen oleh Direksi, Dewan Komisaris, Pejabat Vice
President, dan GM Kantor Cabang. Pedoman Etika Bisnis dan Etika Kerja PT
GI telah disahkan dengan Surat Keputusan Direktur Utama PT GIpada 11
Maret 2011 dan diperbaharui dengan Surat Keputusan Direktur Utama PT GI
tanggal 7 Oktober 2015. Pedoman Etika Bisnis dan Etika Kerja memuat di
antaranya sebagai berikut:
a. Jati Diri Perusahaan, yang berisi mengenai Visi dan Misi PT GI, Tata Nilai
PT GI serta Perilaku Utama yang harus ditampilkan oleh pegawai PT GI.
18

b. Perilaku Terpuji yang menjelaskan mengenai hubungan dengan PT GI,


hubungan dengan pelanggan, hubungan dengan mitra kerja, hubungan
dengan pemegang saham, hubungan dengan kreditur, dan hubungan
dengan pesaing.
c. Kepatuhan dalam bekerja yang menjelaskan mengenai bagaimana
transparansi komunikasi dan informasi keuangan, penanganan benturan
kepentingan, pengendalian gratiikasi, perlindungan terhadap aset PT GI
dan perlindungan terhadap rahasia PT GI.
d. Tanggung jawab insan PT GI yang menjelaskan mengenai tanggung jawab
kepada masyarakat, tanggung jawab kepada pemerintah dan tanggung
jawab kepada lingkungan.
e. Penegakan Etika Bisnis dan Etika Kerja yang menjelaskan mengenai
pelaporan pelanggaran Whistleblowing System (WBS), sanksi atas
pelanggaran, sosialisasi Etika Bisnis dan Etika Kerja, penandatanganan
Pakta Integritas oleh seluruh insan PT GI.

3.3 Latar Belakang dan Kronologis Kasus Polemik Keuangan PT. Garuda
Indonesia (Persero) Tbk.

Kinerja PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (Garuda Indonesia) selama


ini terus tertekan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2014, perusahaan
mmerugi sebesar US$370,04 juta, Pada 2015 mencatatkan laba sebesar
US$76,48 juta. Tidak bertahan lama, kinerja Garuda Indonesia justru merosot
tajam pada 2016 menjadi hanya US$8,06 juta. Kemudian, perusahaan pun
merugi pada 2017 sebesar US$216,58 juta. Kerugian itu terus berlanjut
sampai kuartal III 2018. Pada kuartal I misalnya, kerugian perusahaan sebesar
US$65,34 juta dan akumulasi semester I tahun lalu kerugiannya US$116,85
juta. Lalu, sembilan bulan pertama 2018 tercatat rugi bersih US$114,08 juta,
turun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 sebesar US$222,03
juta.
Berdasarkan Laporan Keuangan Garuda Indonesia pada tahun 2018,
Garuda Indonesia berhasil berubah 180 derajat menjadi untung. Namun
demikian, hal itu tak diiringi dengan kenaikan pendapatan usaha yang
19

signifikan. Perusahaan meraih pendapatan usaha sebesar US$4,37 miliar


sepanjang 2018. Angka itu hanya naik 4,79 persen dari posisi 2017 yang
sebesar US$4,17 miliar. Hal yang Menarik, pendapatan bersih lain-lain
perusahaan melonjak 1.308 persen dari US$473,85 juta menjadi US$567,93
juta. Kenaikan signifikan itu ditopang oleh pendapatan kompensasi atas hak
pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hiburan dalam pesawat dan
manajemen konten sebesar US$239,94 juta.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, layanan konektivitas dalam penerbangan
dan hiburan itu berasal dari kerja sama yang diteken Garuda Indonesia
dengan Mahata pada 31 Oktober 2018 dan diperbaharui pada 26 Desember
2018 lalu. Dalam kerja sama itu, Mahata berkomitmen untuk menanggung
seluruh biaya penyediaan, pelaksanaan, pemasangan, pengoperasian,
perawatan dan pembongkaran dan pemeliharaan termasuk jika ada kerusakan,
mengganti atau memperbaiki peralatan layanan konektivitas.
Pemasangan peralatan layanan itu dipasang dalam penerbangan untuk 50
pesawat Garuda Indonesia tipe A320, 20 pesawat A330, 73 pesawat Boeing
737-800 NG, dan 10 pesawat Boeing 777 dengan nilai US$131,94 juta.
Kemudian, layanan hiburan dipasang di 18 pesawat tipe A330, 70 pesawat
Boeing 737-800 NG, satu pesawat Boeing 737-800 Max, dan 10 pesawat
Boeing 777 dengan nilai US$80 juta.
Berdasarkan pada surat yang disusun oleh dua Komsiaris Garuda
Indoensia yaitu Chairal dan Dony, pihak Mahata sebenarnya belum
membayar satu sen pun dari total kompensasi yang disepakati US$239,94 juta
kepada Garuda Indonesia hingga akhir 2018. Namun, manajemen
memutuskan untuk mencatatkannya sebagai pendapatan dan jika tidak dicatat
sebagai pendapatan perusahaan masih merugi US$244,95 juta. Keputusan
manajemen memang berhasil membuat pasar terlena dengan catatan positif di
laporan keuangan. Namun menurut Dua Komisaris Garuda, Chairal dan Dony
hal ini justru merugikan perusahaan dari sisi arus kas. Sebab, ada kewajiban
bayar Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari laba
yang diraih Garuda Indonesia. Beban itu seharusnya belum menjadi
kewajiban karena pembayaran dari kerja sama dengan Mahata belum masuk
20

ke kantong perusahaan. Mereka melihat hal ini bertentangan dengan


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 23 paragraf 28 dan
29.
Salah satu Pemegang Saham Garuda Idnonesia yaitu Trans Airways
melalaui Wakilnya Chairal dan Dony berpendapat angka transaksi dengan
Mahata sebesar US$239,94 juta terlalu signifikan, sehingga mempengaruhi
neraca keuangan Garuda Indonesia. Jika nominal dari kerja sama tersebut
tidak dicantumkan sebagai pendapatan, maka perusahaan sebenarnya masih
merugi US$244,96 juta. Pada paragraf 28 tertulis pendapatan yang timbul
dari penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga,
royalti, dan dividen diakui dengan dasar yang dijelaskan di paragraf 29 jika
kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut
akan mengalir ke entitas dan jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.
Mahata adalah perusahaan rintisan (startup) penyedia teknologi wifi on
board. Perusahaan itu menggunakan teknologi bernama GX Aviation Sistem
atau layanan konektivitas nirkabel global berkecepatan tinggi. Namun,
Mahata di sini rupanya bertindak sebagai perantara atau broker antara Garuda
Indonesia dengan pemilik teknologi bernama Inmarsat Aviation, Lufthansa
Technik, dan Lufthansa System.
3.4 Pelanggaran yang dilakukan Manajemen Garuda Indonesia dan KAP
Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan

Dalam perkembangannya Garuda mengakui penghasilan dari


perjanjiannya dengan Mahata sebagai suatu penghasilan dari kompensasi atas
Pemberian hak oleh Garuda ke Mahata. Sehingga, menurut Standar Akuntansi
Keuangan, pengakuan dan pengukuran penghasilan yang berasal dari imbalan
yang diterima dibayarkan untuk penggunaan aset Garuda oleh Mahata harus
mengikuti ketentuan yang diatur diatur dalam PSAK 23, yaitu
diklasifikasikan sebagai pendapatan royalti.
Dalam hal ini, Komisaris Garuda Chairal Tanjung dan Dony Oskaria,
perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd selaku
pemilik dan pemegang 28,08 persen saham Garuda Indonesia berpendirian
senada, bahwa ini merupakan pendapatan royalti. Komisaris Garuda hanya
21

keberatan dengan pengakuan (rekognisi) pendapatan transaksi sebesar 239,94


juta dollar AS yang tertuang di dalam perjanjian kerja sama penyediaan
layanan konektivitas dalam penerbangan antara PT Mahata Aero Teknologi
(Mahata) dan PT Citilink Indonesia selaku anak usaha Garuda Indonesia.
Keberatan itu disampaikan keduanya kepada manajemen pada 2 April
2019 lewat sepucuk surat dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan
(RUPST). Ringkasnya, keberatan keduanya didasarkan pada PSAK 23 dan
Perjanjian Mahata. Menurut Chairal dan Dony, tidak dapat diakuinya
pendapatan tersebut karena hal ini bertentangan dengan PSAK 23 paragraf 28
dan 29. Menurut paragraf 28, pendapatan yang timbul dari penggunaan aset
entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen diakui
dengan dasar yang dijelaskan di paragraf 29, jika kemungkinan besar manfaat
ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas dan
jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.
Sedangkan paragraf 29 sendiri menegaskan royalti diakui dengan dasar
sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan. Dalam lampiran PSAK 23
paragaraf 20, dielaborasi dalam ilustrasi makna dari PSAK 23 paragraf 28
tersebut bahwa royalti akan diterima atau tidak diterima bergantung kepada
kejadian suatu peristiwa masa depan. Dalam hal ini, pendapatan hanya diakui
jika terdapat kemungkinan besar bahwa royalti akan diterima, beberapa hal
yang menjadi fakta yang tidak menjamin bahwa royalty tersebut akan
diterima antara lain sebagai berikut:
1. Perjanjian Mahata ditandatangani 31 Oktober 2018, namun hingga
tahun buku 2018 berakhir, tidak ada satu pembayaran yang telah
dilakukan oleh pihak Mahata meskipun telah terpasang satu unit alat di
Citilink.
2. Dalam perjanjian Mahata tidak tercantum term of payment yang jelas
bahkan pada saat ini masih dinegosiasikan cara pembayarannya.
3. Sampai saat ini tidak ada jaminan pembayaran yang tidak dapat ditarik
kembali, seperti bank garansi atau instrumen keuangan yang setara dari
pihak Mahata kepada perusahaan. Padahal, bank garansi atau instrumen
22

keuangan yang setara merupakan instrumen yang menunjukkan


kapasitas Mahata sebagai perusahaan yang bankable.
4. Mahata hanya memberikan surat pernyataan komitmen pembayaran
kompensasi sesuai dengan paragraf terakhir halaman satu dari surat
Mahata 20 Maret 2019: "Skema dan ketentuan pembayaran ini tetap
akan tunduk pada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam
perjanjian. Ketentuan dan skema pembayaran sebagaimana yang
disampaikan dalam surat ini dan perjanjian dapat berubah dengan
mengacu kepada kemampuan finansial Mahata.
Dari keberatan yang disampaikan oleh komisaris, dapat disimpulkan
bahwa pada dasarnya Komisaris setuju bahwa penghasilan yang
diperoleh/akan diperoleh Garuda dari perjanjiannya dengan Mahata adalah
penghasilan royalti sehingga tunduk dalam PSAK 23. Komisaris hanya
keberatan kepada saat pengakuan penghasilan tersebut yang menurut mereka
Garuda belum saatnya mengakui penghasilan sama sekali
Berdasarkan hasil penelitian dan pengkajian oleh Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) telah memutuskan bahwa PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk
melakukan kesalahan terkait kasus penyajian Laporan Keuangan Tahunan per
31 Desember 2018. OJK menyatakan bahwa terkait laporan keuangan,
Garuda Indonesia telah terbukti melakukan pelanggaran dalam penyajian dan
publikasi laporan keuangannya, ketentuan yang dilanggar antara lain sebagai
berikut:
1. Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
(UU PM) yaitu laporan keuangan yang disampaikan kepada Bapepam
wajib disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum yang
sesuai dengan ketentuan akuntasi di bidang pasar modal.
2. Peraturan Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentang Penyajian dan
Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik.
3. Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 tentang Penentuan
Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Sewa.
4. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 30 tentang Sewa.
23

3.5 Sanksi Untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Berdasarkan hasil investigasi dan penyelidikan yang dilakukan oleh


berbagai regulator terkait kasus laporan keuangan Garuda Indonesia, berbagai
pihak memberikan sanksi atas pelanggaran ketentuan yang dilakukan oleh
Garuda Indonesia maupun Kantor Akuntan Publik yang melaksanakan Audit
atas laporan keuangan Garuda Indonesia.
a. Sanksi oleh OJK
Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kementerian Keuangan Republik
Indonesia ,Pusat Pembinaan Profesi Keuangan, PT Bursa Efek Indonesia,
dan pihak terkait lainnya, OJK memutuskan memberikan sejumlah sanksi
terkait dengan kasus Garuda Indonesia antara lain sebagai berikut:
1. Memberikan Perintah Tertulis kepada PT Garuda Indonesia (Persero)
Tbk untuk memperbaiki dan menyajikan kembali LKT PT Garuda
Indonesia (Persero) Tbk per 31 Desember 2018 serta melakukan
paparan publik (public expose) atas perbaikan dan penyajian kembali
LKT per 31 Desember 2018 dimaksud paling lambat 14 hari setelah
ditetapkannya surat sanksi, atas pelanggaran Pasal 69 Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UU PM) ,Peraturan
Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentang Penyajian dan
Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik,
Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 tentang Penentuan
Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Sewa, dan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) 30 tentang Sewa.
2. Selain itu juga Perintah Tertulis kepada KAP Tanubrata, Sutanto,
Fahmi, Bambang & Rekan (Member of BDO International Limited)
untuk melakukan perbaikan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu
atas pelanggaran Peraturan OJK Nomor 13/POJK.03/2017 jo. SPAP
Standar Pengendalian Mutu (SPM 1) paling lambat 3 (tiga) bulan
setelah ditetapkannya surat perintah dari OJK.
3. Sanksi Administratif berupa denda sebesar Rp 100 juta kepada PT
Garuda Indonesia (Persero) Tbk atas pelanggaran Peraturan OJK
24

Nomor 29/POJK.04/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten atau


Perusahaan Publik.
4. Sanksi denda kepada masing-masing anggota Direksi PT Garuda
Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp 100 juta atas pelanggaran Peraturan
Bapepam Nomor VIII.G.11 tentang Tanggung Jawab Direksi atas
Laporan Keuangan.
b. Bursa Efek Indonesia (BEI)
BEI resmi menjatuhkan sanksi kepada PT Garuda Indonesia Tbk
(GIAA) atas kasus klaim laporan keuangan perseroan yang menuai
polemik. Beberapa sanksi yang dijatuhkan antara lain denda senilai Rp 250
juta dan restatement atau perbaikan laporan keuangan perusahaan dengan
paling lambat 26 Juli 2019.
c. Kementerian Keuangan
Pusat Pembinaan Profesi Keuangan Kementerian Keuangan (PPPK
Kemenkeu) menemukan pelanggaran yang dilakukan oleh Akuntan Publik
(AP) atau auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) yang melakukan audit
terhadap PT Garuda Indonesia Tbk dimana hal itu mempengaruhi opini
laporan auditor independen. Selain itu, KAP dianggap belum menerapkan
sistem pengendalian mutu secara optimal terkait konsultasi dengan pihak
eksternal.
Kelalaian yang dilakukan oleh Akuntan Publik (AP) Menurut
Kementerian Keuangan antara lain AP bersangkutan belum secara tepat
menilai substansi transaksi untuk kegiatan perlakuan akuntansi pengakuan
pendapatan piutang dan pendapatan lain-lain. Sebab, AP ini sudah
mengakui pendapatan piutang meski secara nominal belum diterima oleh
perusahaan sehingga Akuntan Publik terbukti melanggar Standar Audit
(SA) 315. Kedua, akuntan publik belum sepenuhnya mendapatkan bukti
audit yang cukup untuk menilai perlakuan akuntansi sesuai dengan
substansi perjanjian transaksi tersebut. Ini disebutnya melanggar SA 500.
Ketiga, AP juga tidak bisa mempertimbangkan fakta-fakta setelah tanggal
laporan keuangan sebagai dasar perlakuan akuntansi, di mana hal ini
melanggar SA 560. Tak hanya itu, Kantor Akuntan Publik (KAP) tempat
25

Kasner bernaung pun diminta untuk mengendalikan standar pengendalian


mutu KAP.
Atas pelanggaran yang dilakukan tersebut Kementerian Keuangan
menjatuhkan sanksi pembekuan izin selama 12 bulan kepada AP Kasner
Sirumapea dan KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan,
selaku auditor laporan keuangan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan
Entitas Anak Tahun Buku 2018.

3.6 Analisis Kasus Etika Profesi Berdasarkan Kasus Garuda Indonesia


Kasus pelanggaran etika profesi pada Garuda Indonesia disebabkan karena
rekayasa laporan keuangan Garuda Indonesia. Pada kasus ini terjadi manipulasi
berupa pengakuan pendapatan dalam laporan laba rugi atas suatu transkasi atau
kejadian yang belum secara riil sesuai standar akuntasi dapat diakui sebagai
pendapatan. Seharusnya Garuda Indonesia dan KAP yang terlibat dalam Audit
atas Laporan keuangan Garuda Indoensia harus bertindak profesional dan jujur
sesuai pada asas- asas etika profesi. Berdasarkan analisis penerapan Prinsip
Etika Akuntan sebagaimana ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
beberapa hal yang telah dilanggar dan tidak sesuai dengan profesi Akuntan
publik antara lain sebagai berikut:
1. Tanggung jawab profesi
Seorang akuntan dan auditor harus bertanggung jawab secara
professional terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Auditor , AP
Kasner Sirumapea dan KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan
kurang bertanggung jawab secara profesi dengan beberapa alsan anatara
lain.
 Akuntan Publik belum secara tepat menilai substansi transaksi untuk
kegiatan perlakuan akuntansi pengakuan pendapatan piutang dan
pendapatan lain-lain. AP ini sudah mengakui pendapatan piutang
meski secara nominal belum diterima oleh perusahaan sehingga
Akuntan Publik terbukti melanggar Standar Audit (SA) 315.
26

 Akuntan publik belum sepenuhnya mendapatkan bukti audit yang


cukup untuk menilai perlakuan akuntansi sesuai dengan substansi
perjanjian transaksi tersebut. Ini disebutnya melanggar SA 500.
 Akuntan publik juga tidak bisa mempertimbangkan fakta-fakta setelah
tanggal laporan keuangan sebagai dasar perlakuan akuntansi, di mana
hal ini melanggar SA 560. Tak hanya itu, Kantor Akuntan Publik
(KAP) tempat Kasner bernaung pun diminta untuk mengendalikan
standar pengendalian mutu KAP.
2. Kepentingan Publik
Akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang
berhubungan dengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-lain.
Dalam kasus ini Manajemen Garuda diduga tidak bekerja demi kepentingan
publik karena dengan sengaja merekayasa laporan keuangan sehingga
Garuda Indonesia yang seharusnya rugi namun dalam laporan keuangan
dicatat mengalami keuntungan, selain itu hal yang seharusnya belum dicatat
sebagai pendapatan sudah diakui sebagai pendapatan. Hal ini tentu saja
sangat merugikan publik mengingat Garuda sebagai perusahaan publik yang
sebagaian juga dimiliki oleh Publik dan negara. Kepentingan public yang
dirugikan dengan adanya manipulasi laporna keuangan ini antara lain:
 Kreditur, karena adanya dengan laporan keuangan yang dimanipulasi
dapat mempengaruhi analisis pemeberian kredit dan berdampak pada
kesalahan dalam pemberian putusan kredit maupun fasilitas perbankan
lain.
 Share holder, dimana harga saham Garuda sempat mengalami
kenaikan yang signifikan saat dipublikasikan kinerjanya positif dan
tiba-tiba turun saat kasus ini ramai terbongkar.
 Share holder juga dirugikan karena perseroan harus membayar pajak
atas pendapatan yang tidak diterima sehingga mempengaruhi nerasa
laba rugi yang sesungguhnya.
3. Integritas
Dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi.
Dalam kasus ini Manajemen, AP Kasner Sirumapea dan KAP Tanubrata,
27

Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan yang terlibat dalam kasus Garuda
Indonesia tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan
manipulasi laporan keuangan dan tidak menyampaikan hal yang sebenarnya.
Akuntan professional diharuskan tidak boleh terkait dengan pernyataan
resmi, laporan, komunikasi atau informasi lain ketika akuntan meyakini
bahwa informasi tersebut terdapat :
 Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan.
 Informasi atau pernyataan yang dilengkapi secara sembarangan.
 Penghilangan atau pengaburan informasi yang seharusnya
diungkapkan sehingga akan menyesatkan.
4. Objektifitas
Dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau
tidak memihak siapapun. Dalam kasus Manajemen, AP Kasner Sirumapea
dan KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan diduga tidak
obyektif karena telah merekayasa laporan keuangan sehingga hanya
menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berada dan terkait dengan Garuda
Indonesia, khususnya manajemen garuda. Hal ini juga melanggar prinsip
independensi yang harus dimiliki oleh Akuntan Publik dan tidak terddapat
conflict of interest dengan siapapun dalam melaksanakan pekerjaanya.
5. Kompetensi dan kehati-hatian professional
Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh
kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban
untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada
tingkat yang diperlukan. Dalam kasus ini, auditor Garuda Indonesia tidak
melaksanakan kehati-hatian profesional sehingga tidak mengetahui
terjadinya rekayasa pencatatan yang mengakibatkan Garuda Indonesia yang
seharusnya rugi namun laporan keuangan mengalami keuntungan, namun
disisi lain ahrus membayar pajak atas pendapatan yang sebenarnya belum di
terima.
6. Perilaku professional
Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten
selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat
28

mendiskreditkan profesinya. Dalam kasus ini Manajemen Garuda dan KAP


yang melakukan Audit Laporan keuangan diduga tidak berperilaku
profesional karena dengan sengaja melakukan rekayasa dalam melaporkan
laporan keuangan, dan hal ini dapat mendiskreditkan (mencoreng nama
baik) profesinya. Hal tersebut dilakukan dengan harapan seolah manajemen
dapat meingkatkan kinerjanya sevara signifikan mengingat sebelumnya
hanya ditarget rugi namun bisa menghasilkan keuntungan. Hal ini
diindikasikan dilakukan agar mereka dapat memeproleh bonus performance
atas kinerja tahun berjalan tahun 2018
7. Standar teknis
Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan
mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan dalam hal ini
adalah standar yang dikeluarkan oleh IAI (Ikatan Akuntansi
Indonesia), International Federation Of Accountants, badan pengatur dan
undang-undang yang relevan dengan profesi akuntan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut.
Rekayasa Laporan Keuangan Garuda Indonesia dalam kasus ini terdeteksi
adanya manipulasi dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu
bentuk penipuan yang dapat merugikan public, khususnya share holder
lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik
profesi akuntansi.

3.7 Analisis Pelaksanaan GCG dalam Kasus Laporan Keuangan Garuda


Indonesia
Kode Etik dalam tingkah laku berbisnis di perusahaan (Code of Corporate
and Business Conduct)” merupakan implementasi salah satu prinsip Good
Corporate Governance (GCG). Kode etik tersebut menuntut karyawan &
pimpinan perusahaan untuk melakukan praktek-praktek etik bisnis yang
terbaik di dalam semua hal yang dilaksanakan atas nama perusahaan. Apabila
prinsip tersebut telah mengakar di dalam budaya perusahaan (corporate
culture), maka seluruh karyawan & pimpinan perusahaan akan berusaha
29

memahami dan berusaha mematuhi peraturan yang ada. Pelanggaran atas


Kode Etik dapat termasuk kategori pelanggaran hukum. Dalam Laporan
Keuangan garuda Indonesia, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi
perhatian utama dimana beberapa prinsip GCG belum sepenuhnya
dilaksanakan oleh manajemen antara lain terkait dengan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
1. Fairness (keadilan), Manajemen belum seutuhnya menjamin perlindungan
hak para pemegang saham dan menjamin terlaksananya komitmen dengan
para investor, hal ini dapat dilihat sebagai dampak keputusan manajemen
untuk mengakui piutangs ebagia pendapatan sehingga konsekwensinya
Perseroan harus membayar pajak atas pendapatan yang tidak diterima
sehingga merugikan investor.
2. Transparancy (transparansi), manajemen belum menyampaikan suatu
informasi yang terbukaserta jelas dan dapat diperbandingkan seusai
dengan atuan dan etika profesionalitas, yang menyangkut keadaan
keuangan dan pengelolaan perusahaan.
3. Accountability (akuntabilitas), menjelaskan peran dan tanggung jawab,
serta mendukung usaha untuk menjamin penyeimbangan kepentingan
manajemen dan pemegang saham, sebagaimana yang diawasi oleh Dewan
Komisaris. Dewan Komisaris Garuda Indonesia telah menjalankan fungsi
dan perannya dengan baik dengan melakukan pengawasan atas laporang
keuangan yang disampaikan oleh Garuda Indonesia serta memberikan
nasehat untuk perbaikan walau pada akhirnya mereka menggunakan hak
nya untuk tidak menyetujui laporan keuangan tersebut karena tidak sesuai
dengan ketentuan dan standar akuntasi yang berlaku.
4. Responsibility (pertanggungjawaban), Manajemen Garuda belum
sepenuhnya mematuhi peraturan peraturan serta ketentuan yang berlaku
terkait sistem dan prosedur penyampaian laporan keuangan, sebagi bentuk
pertanggung jawaban atas pelanggaran yang terjadi, manajemen dan
garuda harus memperbaiki laporan keuangannya dan membayar denda
kepada regulator sesuai dengan ketentuan yang berlaku..
Disadari atau tidak, penerapan Good Corporate Governance dalam
30

implementasi etika dalam bisnis memiliki peran yang sangat besar. Pada
intinya etika bisnis bukan lagi merupakan suatu kewajiban yang harus
dilakukan oleh pelaku bisnis tetapi menjadi suatu kebutuhan yang harus
terpenuhi. Salah satu contohnya pada prinsip-prinsip GCG mencerminkan
etika bisnis yang dapat memenuhi keinginan seluruh stakeholdernya. Etika
bisnis yang baik dan sehat menjadi kunci bagi suatu perusahaan untuk
membuatnya tetap berdiri kokoh dan tahan terhadap segala macam serangan
ketidakstabilan ekonomi.
31

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan ulasan dari Bab Pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap prinsip etika profesi Akuntan
Publik yang dilakukan oleh AP Kasner Sirumapea dan KAP Tanubrata,
Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan, selaku auditor laporan keuangan PT.
Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Entitas Anak Tahun Buku 2018.
Adapun pelanggaran yang telah dilakukan yaitu :
a. Tanggung jawab profesi
Seorang akuntan dan auditor harus bertanggung jawab secara
professional terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Auditor ,
AP Kasner Sirumapea dan KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang
& Rekan kurang bertanggung jawab secara profesi, yang mana telah
melanggar Audit (SA) 315, SA 500 dan SA 560.
b. Kepentingan Publik
Akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang
berhubungan dengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-
lain. Dalam kasus ini, dalam melakukan proses penilaian kinerja
laporan keuangan, Auditor , AP Kasner Sirumapea dan KAP
Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan telah melakukan
manipulasi laporan keuangan sehingga brdampak terhadap kesalahan
pemberian putusan kredit maupun fasilitas perbankan lainnya, dan
dari segi share holder dirugikan karena perseroan harus membayar
pajak atas pendapatan yang tidak diterima sehingga mempengaruhi
nerasa laba rugi yang sesungghnya
c. Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap
anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan
32

integritas setinggi mungkin. Dalam kasus ini Manajemen, AP Kasner


Sirumapea dan KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan
yang terlibat dalam kasus Garuda Indonesia tidak menjaga
integritasnya, karena diduga telah melakukan manipulasi laporan
keuangan dan tidak menyampaikan hal yang sebenarnya.
d. Objektivitas
Anggota harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari konflik
penugasan dalam pelaksanaan tanggung jawab professional. Dalam
kasus Manajemen, AP Kasner Sirumapea dan KAP Tanubrata,
Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan diduga tidak obyektif karena telah
merekayasa laporan keuangan sehingga hanya menguntungkan pihak-
pihak tertentu yang berada dan terkait dengan Garuda Indonesia,
khususnya manajemen garuda. Hal ini juga melanggar prinsip
independensi yang harus dimiliki oleh Akuntan Publik dan tidak
terdapat conflict of interest dengan siapapun dalam melaksanakan
pekerjaanya.
e. Kompetensi dan kehati-hatian professional
Dalam kasus ini, auditor Garuda Indonesia tidak melaksanakan kehati-
hatian profesional sehingga tidak mengetahui terjadinya rekayasa
pencatatan yang mengakibatkan Garuda Indonesia yang seharusnya
rugi namun laporan keuangan mengalami keuntungan, namun disisi
lain ahrus membayar pajak atas pendapatan yang sebenarnya belum di
terima.
f. Perilaku professional
Profesional harus melakukan tugas sesuai dengan yang berlaku, yang
meliputi standar teknis dan profesional yang relevan. Dalam kasus ini
Manajemen Garuda dan KAP yang melakukan Audit Laporan
keuangan diduga tidak berperilaku profesional karena dengan sengaja
melakukan rekayasa dalam melaporkan laporan keuangan, dan hal ini
dapat mendiskreditkan (mencoreng nama baik) profesinya.
g. Standar teknis
Akuntan dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan standar teknis
33

dan standar profesional yang telah ditetapkan, dalam hal ini adalah
standar yang dikeluarkan oleh IAI (Ikatan Akuntansi
Indonesia), International Federation Of Accountants, badan pengatur
dan undang-undang yang relevan dengan profesi akuntan.

2. Bahwa PT Garuda Indonesia telah melakukan pelanggaran etika bisnis,


yang mana etika bisnis merupakan landasan utama dalam penerapan
prinsip Good Corporate Governance. Dalam kasus ini, terdapat beberapa
prinsip yang dilanggar yaitu :
a. Fairness (keadilan), hal ini dapat dilihat sebagai dampak keputusan
manajemen untuk mengakui piutang sebagai pendapatan sehingga
konsekwensinya Perseroan harus membayar pajak atas pendapatan
yang tidak diterima sehingga merugikan investor.
b. Transparancy (transparansi), manajemen belum menyampaikan suatu
informasi yang terbuka serta jelas dan dapat diperbandingkan seusai
dengan atuan dan etika profesionalitas.
a. Responsibility (pertanggungjawaban), Manajemen Garuda belum
sepenuhnya mematuhi peraturan peraturan serta ketentuan yang
berlaku terkait sistem dan prosedur penyampaian laporan keuangan
4.2 Saran
Terhadap permasalahan pelanggaran etika bisnis diatas, dapat diberikan saran
sebagai berikut :
1. Etika bisnis sangatlah diperlukan oleh perusahaan dan setiap individu
di dalam perusahaan, guna dapat mencapai visi dan misi perusahaan.
Perusahaan yang ingin pencapai kestabilan bisnis dan dapat
berkompetisi adalah perusahaan yang menjunjung tinggi etika bisnis.
Karena itu, dalam menjalankan aktivitas usaha, Perusahaan harus
memiliki komitmen yang tinggi dalam menjaga etika bisnisnya
sehingga visi dan misi perusahaan akan lebih mudah dicapai.
2. Lebih diperketatnya aturan dan kontrol serta evaluasi dari pemerintah
dalam proses penerapan etika bisnis yang baik dalam setiap perusahaan
di Indonesia, baik itu perusahaan milik dalam atau luar negeri. Seperti
34

yang telah kita ketahui, bahwa masih terdapat banyak perusahaan yang
menurut masyarakat luas, telah memberikan dampak buruk bagi
masyarakat, lingkungan, dan negara. Tentunya hal tersebut sangat
bertolak belakang dengan etika bisnis dan norma-norma yang ada.
Oleh karena itu, peran pemerintah, serta didukung oleh masyarakat,
sangat penting bagi kelancaran penarapan etika bisnis di Indonesia.
35

DAFTAR PUSTAKA

Adrian, Sutedi. 2012. Good Corporate Governance. Sinar Grafika. Jakarta.


Chris, M.D. 2010. Ethics: Definition. The business ethics blog. [Web page]. [Ref
November 13, 2018]. Dikutip dari :
https://businessethicsblog.com/2010/03/21/ethics-definition/
Dalimunthe, Ritha F., 2004, Etika Bisnis, e-USU Repository ©2004 Universitas
Sumatera Utara
Garuda Indonesia. 2016. Annual Report 2016. Jakarta
Garuda Indonesia. 2016. Visi dan Misi. Dikutip dari : https://www.garuda-
indonesia.com/id/id/corporatepartners/companyprofile/companyvision-
mission/index.page? (11 Oktober 2017)
Hapzi, Ali. Modul ketiga: PPT Business Ethic and Good Governance. Jakarta
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/10970/7.BAB%20II.pdf?
sequence=6&isAllowed=y
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297330/pendidikan/bab-7-etika-
bisniscompatibility-mode.pdf.

Annisa Nurlestari. 2016. Penerapan Nilai Etika Bisnis (Studi pada PT. Garuda
Indonesia Periode 2016). Dikutip dari :
https://www.academia.edu/34861008/PENERAPAN_NILAI_ETIKA_BIS
NIS_Studi_Pada_PT_Garuda_Indonesia_Tbk_Periode_2016_Makalah_ini
_dibuat_untuk_memenuhi_salah_satu_tugas_mata_kuliah_Business_Ethic
s_and_Good_Governance
https://www.garuda-indonesia.com/id/id/corporate-partners/company-
profile/corporate-vision-mission/
Lubis, Suhrawardi K., Etika Profesi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 1994.
Nurseto T. n.d. Etika Bisnis [Internet]. [diacu 2018 November 2]. Tersedia dari
Setiawan, Ivan aries dan Imam Ghozali, 2006, Akuntansi Keperilakuan Konsep
Dan Kajian Empiris Perilaku Akuntan, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro
Sihwahjoeni dan Gudono, 2000. Persepsi Akuntan Trhadap Kode Etik Akuntan.
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol 3 No.2.
Siti Kurnia Rahayu. (2010). AUDITING, Konsep Dasar dan Pedoman Pemriksaan
Akuntan Publik. Yogyakarta : Graha Ilmu.
36

Sumber Pengertian. 2017. Pengertian Etika Bisnis Menurut Para Ahli dan Contohnya.
Diambil dari:http://www.sumberpengertian.com/pengertian-
etika-bisnis-menurut-para- ahli-dan-contohnya (10 Oktober
2017) Wikipedia. 2017. Etika Bisnis. Diambil dari:
https://id.wikipedia.org/wiki/Etika_bisnis (11 Oktober 2017)
Suraida, Ida. 2005. Pengaruh Etika, Kompetensi, Pengalaman Audit dan Resiko
Audit Terhadap Skeptisme Profesional Auditor dan Ketepatan Pemberian
Opini Akuntan publik. Jurnal Sosiohumaniora, Vol. 7, No. 3.