Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

TREND AKUNTANSI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas:


Mata Kuliah : Teori Akuntansi
Dosen Pengajar : R. N. Ayke Nuraliati, S. E., Ak., M.Ak., C.A.
Disusun Oleh : Kelompok 3
- Novita Sari 41152020160120
- Nurlitasari 41152020160181
- Nur Siifa Ramdayani 41152020160129
- Santi Oktaviani 41152020160146
- Suci Hafizah G 41152020160049

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS LANGLANGBUANA
BANDUNG
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas
mata kuliah Menejemen Sumber Daya Manusia berupa makalah yang berjudul “Trend
Akuntansi”.

Makalah ini dibuat dengan mengacu pada sumber tertulis dan juga berbagai sumber
sebagai landasan pemikiran. Kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini tidak luput dari
segala kekurangan dan kesempurnaan. Namun kami telah mengusahakan yang terbaik bagi
pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin

Bandung, 13 Desember 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... 2
BAB I...................................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 3
A. Latar Belakang .................................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................. 4
BAB II .................................................................................................................................................... 5
TEORI DAN PEMBAHASAN ............................................................................................................. 5
2.1 Trend Akuntansi .................................................................................................................... 5
2.2 Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi .......................................................................... 6
2.3 Akuntansi Prilaku ............................................................................................................... 12
2.4 Multidiscipline Paradigm .................................................................................................. 12
2.5 Akuntansi Dan Pembangunan Berkelanjutan ............................................................. 14
2.6 Efficient Market Hypothesis ............................................................................................ 16
2.7 Krisis Akuntansi Masa Depan ........................................................................................ 18
2.1.1 Krisis Akuntansi Menurut Lev ................................................................................... 18
2.1.2 Krisis Menurut Belkaoui .............................................................................................. 19
2.1.3 Skandal Korporasi......................................................................................................... 20
2.1.4 Alternatif Akuntansi Konvensional.......................................................................... 21
2.1.5 Bazerman ....................................................................................................................... 22
2.1.6 Albrecht dan Sack........................................................................................................ 22
2.1.7 Akuntansi dan UKM dan Dunia Ketiga .................................................................. 22
2.1.8 Siapa Mengawasi Siapa ............................................................................................ 23
2.1.9 Jim Peterson ............................................................................................................... 23
BAB III ................................................................................................................................................. 24
PENUTUP ........................................................................................................................................... 24
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................ 24

2
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Akuntansi sebagai ilmu terus beradaptasi dengan lingkungan sosial


ekonomi dimna ia berada, sehingga perkembangan sosial ekonomi juga
mempengaruhi perkembangan ilmu ekonomi itu sendiri. Teori akuntansi
merupakan guidance yang mengarahkan perkembangan itu sendiri sehingga
tetap berada dalam kerangka teoritis yang sudah disepakati. Kejadian itupun
dengan terjadinya revolusi ilmu pengetahuan seperti yang digambarkan oleh
Kuhn maupun popper bisa saja muncul perkembangan yang sama sekali
keluar dari kerangka teori yang sudah menjadi konvensi.

Dalam permasahalan ini kami membahas beberapa tren dalam akuntansi


yang merupakan arah yang kemungkinan akan dituju oleh ilmu akuntansi atau
bisa tidak sampai mencapainya. Namanya tren hanya menunjukkan
kecenderungan yang dilihat saat ini. Kenyataannya akan terbukti kemudian.
Tugas akademis dan profesional adalah untuk bermimpi,melihat,
menganalisis dan ikut mengembangkan tren itu sehingga menjadi konvensi
dan menambah manfaat ilmu itu membantu masyarakat secara luas.

Riset akuntansi adalah upaya yang dilakukan untuk mencari kebenaran


dibidang akuntansi. Hasil riset ini merupakan penyambung antara fenomena
sosial dibidang akuntansi dengan sturuktur teori akuntansi. Fenomena sosial
itu dituangkan dalam berbagari bentuk “statment ilmiah” sehingga menjadi
teori. Teori ini bisa manjelaskan tentang kebenaran yang sudah ada
(deskriptif), mendukung teori yang ada (justifikasi), mengingkari kebenaran
yang sudah lama (refute), atau ingin memanggung teori baru. Usaha-usaha
yang dilakukan dalam mencari kebenaran ini dimaksudkan untuk
mengembangkan disiplin akuntansi ini sehingga lebih bermanfaat bagi
masyarakat.

Pada awalnya, proses mencari kebenaran itu dimulai dari cara dogmatis
dimana kebenaran itu berasal dari orang atau pihak atau lembaga yang diberi
dan diyakini memiliki otoritas menetapkan kebenaran. Kemudian cara ini
berkembang dan menggunakan cara normatif dengan menggunakan logika
ilmiah, pemikiran sehat. Kemudian berkembang dan kemudian menggunakan
metode empiris dengan titik berat melihat kenyataan yang ada dilapangan
(fenomena sosial). Didalam sistem yang terakhir inilah yang menjadi ajang
dari penelitian ilmiah. Sudah merupakan suatu kesepakatan masyarakat
akademisi bahwa proses penelitian ini harus mengikuti aturan-aturan atau
konvensi yang diikuti oleh semua pihak sehingga kualitas hasil penelitian itu
terjamin. Perkembangan ilmu akuntansi yang demikian cepat akhir-akhir ini
didasarkan pada proses penelitian ini. Berbagai teori muncul, teori lama di-
refute, dan teori baru dibangun.

3
Peningkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan untuk
menjadi dasar dalam memilih informasi yang relevan terhadap pengambilan
keputusan. Keterampilan matematis sekarang ini telah berperan dalam
menganalisis permasalahan keuangan yang kompleks. Begitu juga dengan
kemajuan dalam teknologi komputer akuntansi yang memungkinkan informasi
yang tersedia dengan cepat. Tetapi, seberapa canggih pun prosedur
akuntansi yang ada, informasi yang dapat disediakan pada dasarnya
bukanlah tujuan akhir.

B. Rumusan Masalah
 Trend Akuntansi
 Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi
 Akuntansi Prilaku
 Multidiscipline Paradigm
 Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan
 Efficient Market Hypothesis
 Krisis Akuntansi Masa Depan

4
BAB II

TEORI DAN PEMBAHASAN

2.1 Trend Akuntansi

Adolf J.H. Enthoven (1995) dalam Accounting Research Monograph No. 5


dengan judul Mega Accountancy Trends, berdasarkan Mega Trend 2000-nya
Naisbitt dalam Harahap (2008), ia mereflesikan megatrend akuntansi akan
menghadapi persoalan sebagai berikut :
1. Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas.
2. Perlunya keterpaduan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya.
3. Perlunya mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang relevan
Kualitas relevan sudah menjadi ciri akuntansi, namun sampai saat ini kualitas ini
belum dapat dinilai tercapai.
Kemudian untuk mengantisipasi tren tersebut di atas maka Ethoven
menganjurkan penyempurnaan insfrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi
tuntutan tren tersebut.
1. Penyempurnaan system pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang
akuntansi.
2. Struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya.
3. Persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya.
4. Praktek profesi dan kelembagaan akuntansi.

Trend yang dibuat Ethoven ini beranjak dari megatrend-nya naisbitt yaitu :
1. Dunia akan bergerak dari ekonomi nasional ke ekonomi global.
2. Dasar pemikiran orang akan beralih dari skup jangka pendek ke skup jangka
panjang.
3. Ciri masyarakat kita akan beralih dari masyarakat industry ke masyarakat
informasi.
4. Struktur organisasi akn berubah dari yang bersifat hierarki dengan inti
kekuasaan ke struktur organisasi yang bersifat jaringan atau net-working,
kekuasaan sudah tidak dikedepankan lagi.
5. Pilihan semakin banyak sehingga masyarakat beralih dari dua pilihan ke
pilihan banyak.
6. Pertumbuhan ekonomi akan beralih dari dunia bagian utara ke bagian
selatan.
7. Keterlibatan politik masyarakat akan beralih dari demokrasi perwakilan ke
democrasi partiisipasi.
8. Dari bantuan institusi ke mandiri
9. Kemajuan teknologi akan beralih dari teknologi keras ke teknologi lunak.
10. Kekuasaan akan beralih dari sebtralisasi ke desentralisasi

Kesepuluh shift inilah yang dijadikan dasar oleh Enthoven untuk memprediksi
pengaruh tren itu ke dalam profesi dan bidang ilmu akuntansi.

5
Megatrends 2010

Megatrends 2010 yang ditulis oleh Patrice Aburdene (2005). Beliau


mengemukakan paling tidak ada tujuh kecenderungan bisnis yang tentu nantinya
akan mempengaruhi profesi akuntansi. Dari teori akuntansi ketujuh Megatrends
tersebut adalah:
1. Kekuatan spiritualitas (The Power of Spiritualy).
2. Munculnya kapitalisme yang sadar(The Down on Conscious Capitalism).
3. Pemimpin lahir dari level tengah (Leading From the Middle).
4. Bisnis spiritualisme (Spirituality in Business).
5. Konsumen berbasis nilai (The Value-Driven Consumer).
6. Gelombang solusi kesadaran (The Wave of Conscious Salutions).
7. Boomnya investasi pada perusahaan yang memiliki tanggungjawab (The Socially
Rensponsible Investment Boom).
Dari ketujuh megatrends ini baru trends no. 7 yang mulai ditanggapi oleh profesi
akuntansi. Dalam teori dan standar akuntansi belum memberikan pedoman yang
tetap. Megatrend lainnya sama sekali belum terlihat arah dan petunjuk untuk
memenuhinya. Misalnya bagaimana peran kauntansi mengukur, mencatat atau
melaporkan aspek nilai-nilai, spiritualisme, dan sebagainya.

2.2 Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi

Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan pengembangan
bidang akuntansi yang menjadi tren di antaranya adalah:

1. Akuntansi internasional atau akuntansi global;


2. Akuntansi Islam;
3. Akuntansi Sumber Daya Manusia;
4. Triple entry accounting system;
5. Employee Reporting;
6. Value Added Reporting;
7. Akuntansi Perilaku;
8. Multi Diciplines Paradigm;
9. Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan;
10. Efficient Market Hypothesis (EMH);
11. Krisis Akuntansi.

Topic tiga pertama sudah disinggung di beberapa bab sebelumnya dan dalam bab
ini kita akan membahas poin 4 dan seterusnya.

1. Triple Entry system


Kalau dahulu kita mengenal single entry, double entry maka sekarang kita
mengenal triple entry. Dalam system ini transaksi dicatat dalam tiga dimensi.
Model ini bukan saja transaksi yang memengaruhi pos-pos pada sisi aktiva dan
pasiva yang dilaporkan, tetapi juga force atau power yang menyebabkan
sehingga laporan neraca misalnya menyajikan Wealth = Capital = Force. Triple
6
entry memiliki force account yang mencatat beberapa factor antara lain
perubahan harga, perubahan jumlah, atau perubahan volume terhadap arus
hasil dan biaya. Misalnya jika harga suatu barang naik maka akan dibuat
perkiraan force. Demikian juga kalau terjadi perubahan volume dan jumlah.
Informasi yang dilaporkan melalui model ini disebut force statement. Nanti akan
ada tiga jenis laporan wealth statement, capital statement, dan force statement.
Wealth statement melaporkan kekayaan perusahaan (A-L) sedangkan capital
statement melaporkan komposisi dan perubahan modal di mana informasi laba
rugi dimasukkan di dalamnya. Sementara itu, force statement memuat informasi
perubahan kekayaan juga, tetapi yang dipengaruhi oleh kenaikan atau
penurunan laba saja. Force statement ini akan didampingi oleh laporan variance
analysis yang merinci komponen fixed dan varibel.

Model ini sebenarnya merupakan upaya untuk menambah informasi kepada


pembaca khususnya pihak manajemen dan para pengambil keputusan yang
berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan. Triple entry sistem ini
juga menjelaskan margin-variance, volume variance, dan efficiency variance.
Ketiga metode ini akan menghasilkan angka yang sama. Bisa juga mencatat
aspek nilai daya beli yang dicatat sehingga pembaca mendapatkan informasi
tentang daya beli atau dampak inflasi terhadap perusahaan.

Dalam Studies in Accounting Research yang ditulis Yuji Ijiri yang disponsori
AAA menyatakan bahwa kalau double entry itu berdimensi dua maka triple entry
ini berdimensi tiga jadi sebenarnya merupakan penyempurnaan dari system
double entry. Bagi yang berminat mendalami ini dapat dibaca Studies in
Accounting Research No.18. yang ditulis Yuji Ijiri (1982).

2. Employee Reporting
Semakin besarnya kekuatan menawarkan serikat pekerja di Barat, khususnya
di Eropa menimbulkan fenomena baru dalam tuntutan akan laporan keuangan
yang dapat menggambarkan informasi yang dibutuhkan oleh kaum pekerja.
Pegawai selaku salah satu dari stakeholders juga berhak akn informasi
keuangan. Informasi keuangan seperti inilah yang disebut Employee reporting.
Employee reporting merupakan bentuk laporan keuangan yang memuat
informasi yang relevan bagi karyawan atau serikat pekerja. Employee reporting
sangat berkembang d USA dan Eropa pada khususnya. Bahkan telah diterapkan
di beberapa Negara seperti anggota Organization of Economic Cooperation and
Development (OECD) seperti USA, Canada, Jerman, Perancis, Denmark,
Norwegia, Swedia, dan United Kingdom (Belkaoui, 1995).

7
Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya employee reporting
ini adalah (Purdy dalam belkaoui, 1985):

1. Tekanan semakin besar akan perlunya full disclosure;


2. Praktik dan masalah yang berkaitan dengan hubungan perburuhan;
3. Munculnya perdebatan tentang demokratisasi perusahaan;
4. Perkembangan di Negara lain akan perlunya informasi dimaksud.

Di samping tentunya semakin kuatnya organisasi pekerja di planet ini.


Keharusan perusahaan memasukkan informasi yang dibutuhkan karyawan dan
serikat pekerja telah diatur oleh berbagai Negara, seperti di Jerman, 1972,
Prancis, 1979, Swedia, USA, dan Kanada.

Beberapa informasi pennting yang diminta dilaporkan dalam employee


reporting ini adalah:

 Jumlah pegawai;
 Lokasi tempat bekerja;
 Umur karyawan;
 Jam kerja;
 Biaya tebaga kerja;
 Program pension;
 Program jaminan social, kecelakaan kerja, kesehatan, hari tua;
 Pelatihan dan pendidikan atau adanya career path;
 Pengakuan terhadap serikat pekerja;
 Daftar karyawan berdasarkan agama, suku, bangsa, kelamin;
 Dan sebagainya.

Dari suatu survey laporan keuangan kepada karyawan sejak tahun 1919
sampai 1979 diketahui beberapa alasan pelaporan sebagai berikut (Lewis, et. Al
1984 :

a. Menyampaikan perubahan.
b. Menyajikan propaganda manajemen.
c. Mempromosikan kepentingan memahami masalah dan prestasi perusahaan.
d. Menyampaikan keputusan manajemen.
e. Menyampaikan hubungan antara karyawan, manajemen, dan pemegang
saham.
f. Menjelaskan tujuan perusahaan.
g. Mendorong partisipasi karyawan yang lebih besar.
h. Merespons tekanan legislative atau serikat pekerja.
i. Membangun imej perusahaan.
j. Memenuhi ketentuan UU tentang pengungkappan informasi yang dibutuhkan
karyawan.

8
k. Merespon kekhawatiran manajemen terhadap berbagai tuntutan pegawai,
maupun persaingan.
l. Menunjukkan perhatian besar terhadap karyawan.

3. Value Added Reporting


Value Added Reporting (VAR) atau Laporan Pertambahan Nilai berkaitan juga
dengan Human Rresources Accounting dan Employee Reporting terutama
dalam hal informasi yang disajikannya. Value Added Reporting ini masih belum
diwajibkan sebagai laporan utama di berbagai Negara, jadi masih dalam tahap
wacana akademik. Value Added Reporting ini sebenarnya menutupi kekurangan
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan utama, Neraca, Laba Rugi,
dan Arus kas. Karena semua laporan ini gagal memberikan informasi:

a. Total produktivitas dari perusahaan;


b. Share dari setiap stakeholder atau anggota tim yang ikiy dalam proses
manajemen yaitu, pemegang saham, kreditor, pegawai, dan pemerintah
(Belkaoui, 1995).
Kalau laporan keuangan konvensional menekkankan informasinya pada
laba maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan atau nilai
tambah. Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan
pemegang saham saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan
perusahaan. Value Added adalah kenaikan nilai kekayaan yang digenerate atau
dihasilkan dengan penggunaan asset produktif dari seluruh sumber-sumber
kekayan perusahaan oleh seluruh tim yang ada termasuk pemilik modal,
karyawan, kreditor, dan pemerintah. Sebenarnya konsep dasar dari VAR ini
sudah dikenal dalam ilmu ekonomi terutama dalam perhitungan Pendapatan
Nasional. Namun, perlu diingat bahwa value added tidak sama dengan laba.
Laba menunjukkan pendapatan bagi pemilik saham sedangkan pertambahan
nilai mengukur kenaikan kekayaan bagi seluruh stakeholders. Laporan
Pertambahan Nilai jangan pula disamakan dengan Pajak Pertambahan Nilai.

Isi Laporan Pertambahan Nilai

Sebenarnya Laporan Pertambahan Nilai ini adalah modifikasi dari Laporan


Laba Rugi sehingga pada dasarnya dapat disusun dengan menggunakan
laporan laba rugi ini. Langkah yang di ikuti dalam menyusun laporan
pertambahan nilai dari laporan laba rugi adalah (Belkaoui, 1995):

9
Langkah 1:

Disini dihitung Laba Ditahan yang didapat dari Hasil Penjualan dikurangi Biaya,
Pajak, Dividen, atau:

 Penerimaan Penjualan Rp ……….


 Dikurangi:
Pembelian Barang dan Jasa Rp ……….
Penyusutan Rp ……….
Biaya karyawan Rp ……….
Biaya Bunga Rp ……….
Dividen Rp ……….
Pajak Rp ……….
 Total Pengurangan Rp ………
 Laba Ditahan Rp ……….

Langkah 2:

Laporan Pertambahan Nilai ini dapat dosusun dari data di atas dengan format
sebagai berikut:

 Penerimaan Penjualan Rp ……….


 Dikurangi: Pembelian Barang dan jasa Rp ……….
 Pertambahan Nilai Kotor Rp ……….
Pertambahan Nilai ini dirinci sbb:
Penyusutan Rp ……….
Biaya karyawan Rp ………
Biaya bunga Rp ……….
Dividen Rp ……….
Pajak Rp ……….
 Total Pertambahan nilai Rp ……….

Beberapa kegunaan dari Value Added Reporting ini dapat disebut sebagai
berikut:

a. Konsep ini dinilai objektif sehingga dianggap sebagai informasi yang abash
sebagai dasar perhitungan reward.
b. Pertambahan nilai kotor merupakan informasi yang sangat berguna untuk
memgetahui angka reinvestasi (laba ditahan dan penyusutan).
c. Laporan ini dianggap dapat menjembatani kepentingan akuntansi dan
ekonomi dengan jumlah kekayaan dalam pengukuran pendapan nasional.

10
d. Pertambahan nilai bersih bisa menjadi dasar distribusi kekayaan bukan
pertambahan nilai kotor :
 Pertambahan nilai bersih sangat cocok menjadi dasar perhitungan bonus
produktivitas tenaga kerja dengan memberikan penyisihan pada perubahan
modal.
 Dengan mengurangi biaya penyusutan akan menghindari double counting
yang bisa terjadi jika ada pertukaran aktiva antara dua perusahaan.
 Pertambahan nilai bersih sangat menguntungkan bagi konsep laba untuk
semua.
 Mestinya remunerasi karywan tidah hanya berasal dari gaji, tetapi juga
kenaikan kekayaan, ini konsep baru dalam dunia bisnis modern.
 Dapat menjadi media peramalan yang baik bagi peristiwa ekonomi yang
dapat mempengaruhi kesehatan perusahaan.
 Sangat cocok untuk ekonom dalam perhitungan pendapatan nasianal.
 Dapat menilai proporsi masing-masing terhadap niali tambah sehingga
dapat mendorong keadlian.
Namun, di samping keunggulannya ada juga beberapa keterbatasan
Laporan Pertambahan Nilai ini, yaitu sebagai berikut:

 Tidak semua pihak yang terlibat dalam menghasilkan pertambahan nilai itu
merasa senang bekerja sama dengan yang lain.
 Ada kemungkinan dengan adnya laporan pertambahan niali ini manajemen
salah tanggep seolah ingin memaksimasi pertmabhan niali.
 Kesalahan penafsiran terhadap pertambahan nilai dapat menimbulkan
kepalsuan pendapat seperti :
 Kenaikan pertambahan nilai dianggap kenaikan laba;
 Kenaikan pertambahan niali per unit dianggap otomatis bermanfaat
bagi pemegang saham;
 Seolah dianggap bisa mengidentifikasi distribusi yang adil atas
perubahan pertambahan niali;
 Pertambahan nilai yang tinggi untuk tenaga kerja per unit dianggap
meruapakan prestasi ekonomi yang baik;
 Share tenaga kerja yang besar atas pertambahan nilai tidak berhak
mendapatkan gaji yang tinggi.

11
2.3 Akuntansi Perilaku
Aspek budaya dalam akuntansi disebut juga behavioral accounting. Di sini
diperhatikan berbagai budaya yang dapat memengaruhi peran atau hasil dari
interaksi antara informasi akuntansi dengan perilaku konsumennya atau
penyajiannya. Dengan perkataan lain, berkaitan dengan hubungan antara
perilaku manusia dan system akuntansi baik dalam bidang akuntansi
keuangan maupun akuntansi manajemen. Bahkan ini dianggap sebagai
bidang (cabang) akuntansi yang khusus (Siegel, Ramanauskas-Marconi,
1989). Bidang akuntansi ini dimulai dikembangkan pada awal tahun 1950-an.
Pada tahun 1951 the Controllership Foundation of America mensponsori
penelitian untuk mengetahui pengaruh budget terhadap manusia. Riset ini
dilakukan oleh Cornell University dengan dipimpim oleh Chris Argyris.
Penelitian ini telah memberikan beberapa rekomendasi tentang beberapa
perilaku yang muncul dalam penerapan budget. Hasil riset ini muncul di
Harvard business Review yang ditulis oleh Argyris dengan judul Human
Problems with budget. Sejak itu maka banyak ahli menjadi pemerhati dan
menjadi peneliti akuntansi perilaku ini seperti Mayo, Maslow, Mc Gregor,
Likert.

Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari
informasi akuntansi terhadap perilaku orang yang membaca atau
menyiapkannya. Juga melihat bagaimana reaksi manusia terhadap informasi
yang akuntansi yang diberikan. Dampak perilaku dari system budget terhadap
prilaku, dampak system responsibility accounting terhadap oerilaku, dampak
system desentralisasi ataupun sentralisasi pengambilan keputusan terhadap
perilaku, dimensi perilaku dalam system pengawasan internal, beberapa pola
perilaku auditor, aspek perilaku dalam proses pengambulan keputusan, factor
perilaku dalam kebutuhan pengungkapan, aspek perilaku dalam akuntansi
sumber daya manusia, dan sebagainya. Lebih simple Siegel, Ramanauskas,
dan Marconi (1989) membaginya atas tiga bagian besar berikut ini.

a. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain, kontruksi, dan penggunaan


system akuntansi.
b. Pengaruh system akuntansi terhadap perilaku manusia.
c. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.

2.4 Multidiscipline Paradigm

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin


munculnya paradigm baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan
dan keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplion ilmu dengan disiplin
ilmu lainnya. Fenomena ini juga melanda akuntansi.

12
Mulanya ilmu yang dikenal manusia adalah ilmu filsafat. Menurut Al-
Farabi, ilmu filsafat adalah ilmu pengdetahuan tentang alam yang maujud dan
bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya (Anshari, 1991). H.Endang
Saifuddin Anshari (1991) mengubgkapkan ilmu itu kemudian berkembang
menjadi tiga bidang :

1. Ilmu Pengetahuan Alam (Natural science):


a. Biology
b. Antropologi fisik
c. Kedokteran
d. Farmasi
e. Pertanian
f. Ilmu Pasti
g. Ilmu Alam
h. Teknik
i. Geologi, dan lain-lain.
2. Ilmu Sosial (Social Science):
a. Ilmu Hukum
b. Ekonomi
c. Jiwa Sosial
d. Bumi Sosial
e. Sociology
f. Antropologi Sosial Budaya
g. Sejarah
h. Politik
i. Pendidikan
j. Publisistik dan Jurnalistik
k. Dan lain-lain.
3. Humaniora (Humanities Science) :
a. Ilmu Agama
b. Ilmu Filsafat
c. Ilmu Bahasa
d. Ilmu Seni
e. Ilmu Psikologi (Jiwa)

Ilmu ekonomi yang merupakan bagian dari ilmu social berkembang menjadi
berbagai disiplin ilmu seperti :

 Ekonomi Mikro dan Makro


 Ilmu Manajemen
 Oembangunan
 Pemasaran (marketing)

13
 Produksi (production)
 Keuangan (finance)

Ilmu manajemen berkembang lagi menjadi berbagai disiplin ilmu seperti;


Akuntansi, Business Policy, budgeting, Planning, Operating Research,
Information System, dan lain-lain.

Akuntansi kemudian berkembang lagi seperti: Akuntansi Keuangan,


Akuntansi Manajemen, Teori Akuntansi, Sejarah Akuntansi, Akuntansi
Internasional, Controllership, Sistem Pengawasan Manajemen, Auditing, dan
sebagainya.

Perkembangan ilmu di masing-masing bidang ini selalu berkaitan erat dan


saling mengisi dengan disiplin ilmu lain. Contoh yang paling menarik adalah
munculnya ilmu decision science. Ilmu ini tampaknya mengkristal sebagai
gabungan dari berbagai disiplin ilmu seperti akuntansi, computer, information
system, expert system, decision science, mathematic, dan management science.

Akuntansi sebagai suatu system informasi membutuhkan computer,


information science, dan decision science. Akhirnya muncullah ilmu baru seperti
decision science yang sumberformula dan elemen-elemennya berasal dri ilmu
tadi. Decision science ini merupakan disiplin ilmu baru di Amerika dan bahkan
sudah menjadi salah satu jurusan yang popular di College of Business,
fenomena inilah yang disebut Multidicipline paradigm.

Fenomena ini menarik karena Nampak sekali bahwa lengah sedikit saja
dalam pengembangan ilmu itu kita akan ketinggalan ditelan kemajuan disiplin
lain. Oleh karena itu, pengembangan disiplin dan profesi akuntansi di tanah air
jangan sampai lengah dan terlambat mengantisipasi perubahan ilmu dan
teknologi yang demikian cepat.

Dalam megatrend akuntansi Enthoven diharapkan akuntansi lebih memikirkan


perndekatan terpadu dengan disiplin ilmu lainnya.

2.5 Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan

Dilaksanakannya “Earth Summit” mangingatkan kita pada isu yang sama di


ajukan oleh Club of Rome tahun 1975 yang lalu yaitu Konsep Limit to Growth atau
sering juga disebut Zero Growth. Club para ahli nomor wahid ini menganggap
bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai factor yang harus
direm perkembangannya seperti perkemabangan penduduk, investasi, kkonsumsi
sumber alam, industry, ketidakadilan distribusi pendapatan, pertanian, kehutanan.
Club ini ingin menyelamaykan masa depan umat manusia dengan mengingatkan
kita perlunya keharmonisan pengelolaan ekosistem yang bersfat global dan
dependen. Subbab ini ingin mencoba menjelaskan perlunya alat ukur untuk

14
memudahkan para pengambil keputusan dalam memanaje masalah
pembangunan, lingkunagn, dan aspek social ekonominya.

Akuntansi sebagai Alat Ukur

Sebenarnya akuntansi diam-diam mempunyai perangkat penting dalam


mengamankan pembangunan bumi yang aman. Namun, para teknokrat
barangkali belum tahu dan mungkin tidak terpikir untuk memanfaatkannya. Bekas
presiden Bank Dunia A. W. Clausen pernah mengeluh bahwa karena ketiadaan
aat yang dapat mencatat, mengukur, dan melaporkan posisi kejadian, dampak
industry (pembangunan) kepada masyarakat, menimbulkan kesukaran kita
mengawasi dampak itu. Ia menyebutkan:

Saya mengakui salah satu alasan dari respons kita yang tidak lengkap
terhadap permasalahan social adalah isu kualitas hidup yang membingungkan
dan penyebab utama kkebingungan itu adalah kekurangan atau karena
“kasarnya” bentuk dan kualitas pengukuran (May 1971).

Keluhan beliau ini sebenarnya dapat diatasi oleh disiplin akuntansi sebagai
satu instrument measurement of quality. Para ahli akuntansi sejak awal athun
1930-an sebenarnya sudah melakukan pengkajian yang intensif tentang
bagaiman mencatat, mengukur national income, social accounting, dan dampak
social yang diakibatkan oleh industry, perusahaan, atau kegiatan pembangunan.
Ini tidak berbeda dengan apa yang dibicarakan dalam KTT Bumi tersebut. Dalam
pengertian lingkungan termasuk di dalamnya manusia, flora, fauna, air, lahan, dan
segala isinya.

Untuk mengelola setiap suatu masalah perlu keputusan-keputusan.


Keputusan yang baik hanya dapat lahir dari analisis terhadap keadaan yang valid,
factual, dan relevan. Keadaan yang factual, valid, dan relevan dapat disupply oleh
akuntansi. Dalam akuntansi disiplin yang mensupply ini disebut environment
accounting. Disiplin ini secara, teori-teorinya belum sepenuhnya disepakati oleh
sebagian besar para ahli akuntansi dan organisasi profesi. Bidang ini sampai saat
ini masih terus menjadi ladang penelitian para ahli dan secara parsial, ada yang
sudah diwajibkan dan ada yang masih dalam taraf dianjurkan penyajiannya dalam
laporan keuangan.

Perlunya Akuntansi Lingkungan

Keperluan akan akuntansi lingkungan ini sebenarnya sudah jelas. Konsep


yang menganggap bahwa perusahaan sebagai wadah hukum yang melakukan
eksploitasi dalam suatu wilayah dan Negara dan mendapatkan keuntungan dari
kekayaan alam wilayah itu, mestinya juga menjadi penduduk yang baik, yang
melindungi alamnya dan juga makhluk pengisinya. Filosofi ini jelas dan rasional.
Sebuah industry sebenarnya hidup dari lingkungan. Ya factor alam, tenaga kerja,
makhluk lainnya yang mendiami bumi. Adalah etis seandainya perusahaan itu

15
juga yang tergantung dengan makhluk lain sebagai penduduk bumi ikut
bertanggung jawab melindungi bumi dari setiap kerusakan lingkungan yang kalau
tidak dijaga akhirnya akan merusak dia sendiri sehingga tidak dapat dilakukan
pembangunan berkelanjutan atau pembangunan berwawasan lingkungan.

Kesulitan Pengukuran

Kesulitan utama dari akuntansi bidang ini adalah ketidaksepakatan para ahli
dalam menentukan criteria pengukuran. Mengukur nilai kerusakan lingkungan,
nilai social cost maupun social benefit-nya tidak semudah yang dibayangkan.
Contohnya kasus Cernobyl, kasus Union Carbides, dan lain sebagainya
menunjukkan betapa sukarnya melakukan penetapan nilai kerusakan dan
perbaikan lingkungan yang sama-sama diterima dan sesuai pula dengan prinsip
akuntansi yang sudah baku.

Penyajian

Dari berbagai konsep yang diajukan lembaga dan para ahli ada yang
menganjurkan metode penyajian: penjelasan dalam laporan keuangan (footnote
disclosure, narrative disclosure), membuat pos tersendiri, laporan khusus tentang
kerusakan lingkungan, Social Responsibility Report, Environment Exchange
Report, Social Income Statement Report, Compherensive Social Benefit Cost
Model, dan Multidimensional Income Statement. SEC biasanya mengharuskan
perusahaan yang listed di bursa New York Stock Exchange untuk melaporkan
hal-hal yang bertalian dengan masalah lingkungan, dan social cost dan benefit
lainnya.

2.6 Efficient market Hypothesis

Sebenarnya topic ini bukan baru apalagi tren, karena isu ini sudah lama kenal
dalam akuntansi. Dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH (Efficient
Market Hypothesis). Teori EMH ini menyatakan bahwa “Pasar akan
menyesuaikan diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai
saham.” Dalam bahasa penelitian bidang penelitian yang menyangkut soal ini
adalah positive accounting teory. Dalam teori ini yang dibahas bukan bagaimana
mencatat transaksi, tetapi menyangkut:

 Melihat hubungan antara pengumuman informasi akuntansi kepada public


dan reaksi pasar terhadap informasi itu yang dilihat dari indicator harga
saham di bursa;
 Melihat pengaruh perubahan kebijakan akuntansi terhadap harga pasar.

16
Fama (1969) menyatakan bahwa beberapa syarat untuk menciptakan pasar
yang efisien adalah sebagai berikut:

a. Tidak ada biaya transaksi dalam perdagangan saham.


b. Semua informasi tersedia secara Cuma-Cuma bagi semua peserta pasar.
c. Semua sepakat terhadap implikasi informasi saat ini terhadap harga sekarang
dan distribusi harga masa yang akan dating dari tiap saham.
Menurut Fama informasi ada tiga set informasi:

a. Gerakan harga saham masa lalu;


b. Informasi yang tersedia bagi public;
c. Seluruh informasi baik uang tersedia bagi public maupun milik perusahaan.

Ketiga set informasi di atas dapat memengaruhi harga saham sebagai berikut.

1. Bentuk lemah (weak form) dari sham efisien. Di sini harga pasar saham pada
periode tertentu secara penuh merupakan refleksi dari informasi yang berasal
dari harga harga saham masa lalu. Di sini tidak ada strategi dagang
berdasarkan siklus harga, pola harga atau peraturan lainnya.
2. Bentuk semi kuat (semistrong) di mana harga saham secara penuh
merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada public
termasuk harga saham masa lalu. Di sini juga tidak ada strategi dagang yang
dipakai dalam perdagangan saham.
3. Bentuk kuat (strong form) di mana harga saham merupakan gambaran dari
seluruh yang ada baik informasi harga saham yang lalu, informasi yang
tersedia untuk public dan informasi lainnya seperti informasi dari dalam dan
informasi pribadi nlainnya.

Dari ketiga bentuk ini maka bentuk semistrong-lah yang paling relevan
dengan akuntansi karena dasar informasinya adalah informasi yang tersedia
bagi public.

Dalam EMH sering digunakan Capital Assets Princing Model (CAPM). Yang
dimaksud dengn model CAMP ini adalah suatu model yang menaksir laba yang
abnormal atau laba yang tidak diperkirakkab dari saham biasa suatu perusahaan
pada saat diumumkannya laba perusahaan. Bentuk semistrong juga dipakai
dalam model ini.

17
2.7 Krisis Akuntansi Masa Depan

Walaupun profesi akuntan dinilai mengalami perkembangan yang demikian


cepat, bukan berarti profesi ini tidak menunjukan hal-hal yang bersifat suram.
Disamping itu, akuntansi tidak hanya memberikan informasi kuantitatif, tetapi juga
informasi kualitatif. Akuntansi konvensional juga sedang menjadi sorotan
khususnya ketidakmampuannya memberikan informasi yang relevan pada situasi
di mana prinsip stable monetary unit tidak berjalan seperti masa inflasi.

Akuntansi konvensional juga mendapat tantangan dari akuntansi islam,


akuntansi pertambahan nilai, akuntansi sumber daya manusia,dan pelaporan
pegawai. Berbeda dengan akuntansi kovensional , akuntansi islam lebih menekan
pada aspek pertanggungjawaban dengan penekan pada keadilan dan kebenaran,
bukan saja mengabdi kepada kepentingan pemegang saham saja, tetapi juga
semua pihak dan menaati semua hokum syriah. Fenomena ini menunjukan
ketidakpuasan terhadap akuntansi konvensional jika tidak ditanggapi akan dapat
menimbulkan krisis kepercayaan terhadap konvensional saat ini.

Akuntansi manajemen juga dapat mempengaruhi eksistensi akuntansi


keuangan. Fungsi akuntansi keuangan selama ini menekan pada kepentingan
public yang terkait dengan standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi atau
regulator sehingga relevansinya terhadap kepentingan manajemen kurang.
Akuntansi manajemen dianggap memberikan informasi yang lebih relevan untuk
kepentingan pengambilan keputusan. Menurut penelitian proses penurunan porsi
penerimaan kantor akuntan dari jasa audit semakin lama semakin menurun dan
fungsi atau jasa konsultasi justru semakin meningkat.

Ketentuan itu adalah sebagai berikut :

 Kantor akuntan hanya boleh memberikan jasa information technology (IT) dan
konsultasi lainnya jika Komite Dewan Audit menerimanya.
 Auditor independen akan dinilai apakah investor yang biasa akan melihat ada
tidaknya konflik.
 Auditor tidak dapat melakukan tugas internal auditing melebihi 40%.
 Perusahaan harus mengungkapkan berapa mereka membayar untuk biaya
audit, konsultasi, dan jas pajak.

2.1.1 Krisis Akuntansi Menurut Lev

Menurut Lev, akuntan bukan a good eyesight. Apalagi jika ingin melaporkan
hal-hal yang berkaitan dengan aktiva tidak berwujud seperti : ide, merek, cara
kerja, goowill, franchises. Lev mengambil contoh, didalam standart dan poor
500,500 perusahaan memiliki rasio market to net value perusahaan (yang

18
terdapat di neraca) lebih besar dari 6. Ini berarti bahwa angka neraca yang di-
supply oleh akuntansi keuangan hanya menggambarkan 10-15% dari nilai
perusahaan. Pada tahun 1929 rasio modal intangible business yang cukup
spektakuler. Produk intangible asset dapat berupa :

a. Aktiva yang dikaitkan dengan produk inovasi atau hasil R & D.


b. Aktiva yang dikaitan menjual dengan merek (brand) perusahaan dengan
mana perusahaan menjual mereknya. Misalnya nike, reebok, mc Donald,
dunhill;
c. Aktiva structural yaitu kemampuannya melebihi perusahaan lain selaku
kompetitornya;
d. Monopoli, perusahaan yang menikmati hak hal monopoli.

2.1.2 Krisis menurut Belkaoui

Pada tahun 1989 Belkaoui menulis buku dengan judul The Coming Crisis in
Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul dari hal-hal
sebagai berikut :

 Profesi Akuntan
Dalam profesi akuntan terjadi penurunan remunerasi, penurunan jumlah
tenaga kerja, peningkatan porsi jasa konsultasi dan pengurangan jasa
akuntan/auditing. Akuntan yang selama ini dianggap borjius justru menjadi
proletar. Di samping itu, ada juga anggapan bahwa akuntan sebetulnya bukan
tergolong sebagai profesi karena ketidakmampuan menjadi independen dan
otonom dari langganannya dan kehilangan monopolinya atas jasa informasi
akuntansi yang saat ini banyak di-supply oleh IT.
 Kecurangan dalam lingkungan akuntansi
Kecurangan adalah tindakan criminal. Banyak tindakan kecurangan yang
dilakukan korporasi maupun kecurangan yang melibatkan akuntan khususnya
melalui laporan keuangan. Public menganggap meningkatnya kecurangan ini
tidak lepas dari kegagalan profesi akuntan. Bahkan di tanah air akuntan
sering juga dicap”tukang angka” yang bias menentukan jumlah laba atau rugi
perusahaan. Kasus factual telah banyak terjadi mendukung anggapan ini
sehingga akuntan berada di ambang krisis.
 Menurunnya work load dalam proses akuntansi
Karena kemajuan computer, tugas-tugas akuntansi sudah bias dilakukan oleh
software yang user friendly sehingga tidak memerlukan keahlian akuntansi
lagi. Dengan demikian, beban kerja dari seorang ahli akuntan semakin
terbatas yang akan menimbulkan krisis profesi akuntan.
 Iklim organisasi dikantor akuntan
Kantor akuntan adalah fakultas kedua setelah fakultas ekonomi. Kantor
akuntan hanya sebagai batu loncatan untuk memasuki dunia bisnis lain yang
lebih menggiurkan. Bahkan turn over perpindahan kerja, di kantor akuntan
cukup tinggi, career path tidak jelas, job description yang tidak tegas, semakin

19
kabur, dan bahkan semakin tingginya konflik internal dalam kantor akuntan itu
sendiri. Bahkan jasa yang akan dibolehkan diberikan oleh akuntan semakin di
atur dan dibatasi seperti baru-baru ini diberlakukan oleh SEC di USA, di mana
akuntan tidak bias bebas memberikan beberapa jasa pada perusahaan yang
sama karena dianggap mengurangi independensi.
 Problema produksi ilmu pengetahuan dalam akuntans
Ilmu pengetahuan paling tidak saat ini dari proses akademik sedangkan
akuntansi adalah kebutuhan profesi yang berkembang secara praktik dalam
dunia bisnis. Sering terjadi antara hasil proses ilmu pengetahuan dari proses
akademik sering tidak match atau tidak sesuai dengan keinginan atau
kebutuhan dunia praktik sehingga terjadi gap antara dunia akademis dengan
dunia profesi. Banyaknya keluhan ditemukan pasar bahwa apa yang
diajarkan di bangku kuliah tidak relevan dengan apa yang diinginkan pasar
atau user dari tenaga akuntan yang dihasilkan perguruan tinggi itu. Jika hal ini
berjalan terus maka akuntansi juga akan mengalami krisis.

Disamping itu, semua Belkaoui (2006) mempertanyakan apakah akuntan itu


benar sebagai profesi atau tidak . Menurut beliau paling tidak ada persyaratan
jika ingin disebut sebagai suatu profesi, yaitu :

a. Memiliki disiplin ilmu pengetahuan


b. Otonom dalam melaksakan profesinya
c. Memiliki perasaan solidaritas kelompok yang paling setia
d. Bias mengatur sendiri praktik
e. Memerlukan izin praktik
f. Memiliki kekuasaan atas langganannya
g. Memiliki kode etik.

Menurut Belkaoui akuntan saat ini tidak memiliki otonomi yang cukup kepada
langganan dalam melaksanakan profesinya dan tidak memiliki kekuasaan atas
langganan. Kemudian, dengan berkembangnya ilmu computer maka
kompleksitas profesi menjadi berkurang akibat kemampuan computer menyabot
sebagian besar fungsi akuntan terutama dalam penyajian laporan keuangan.
Dari sini Belkaoui menyimpulkan bahwa akuntansi berada dalam situasi apakah
sebagai”yang tidak murni profesi” atau berada pada proses
bertahap”deprofessionalisasi”.

2.1.3 Skandal Korporasi

Skandal korporasi ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sejarah menunjukan
bahwa manusia dengan segala kemajuan dan perangkat social yang dimilikinya
sudah didesain untuk menghindari kemungkinan skandal itu. Skandal korporasi
itu ada yang menggunakan teknik akuntansi. Skandal korporasi yang terjadi
belakangan ini terungkap, umumnya menyangkut skandal akuntansi. Bahkan
skandal ini sempat meruntuhkan salah satu kantor akuntan besar Arthur

20
Anderson di Amerika dan mengubah system pertanggungjawaban korporasi di
Amerika. Untuk mengasi itulah tidak kurang presiden George bush jr melakukan
pidato dan mengujungi NYSE dan pada tanggal tangga 30 juli 2002 UU
Corporate Accountability telah diundangkan. UU ini diharapkan untuk dapat
mengembalikan kepercayaan public terhadap perusahaan Amerika yang sudah
jatuh akibat berbagai skandal yang terjadi belakangan ini. UU itu mencakup
sebagai berikut :

1. Peningkatan hukuman bagi pelaku kecurangan dan pemusnahan dokumen


2. Mewajibkan CEO dan CFO perusahaan public untuk membuat pernyataan
mengenai keakuratan laporan keuangan serta bertanggung jawab jika terjadi
kecurangan
3. Mewajibkan SEC menunjukan badan pengawasan yang bekerja purna waktu
dan mendisiplinkan akuntan public pasar modal
4. Mencegah KAP memberikan jasa konsultasi kepada perusahaan yang dia
audit, menghentikan setiap kecenderungan pertentangan kepentingan
5. Melarang pinjaman pribadi dari perusahaan kepada pimpinan puncak dan
direksi dan mewajibkan orang dalam perusahaan memberikan informasi
kepada SEC sesegera mungkin jika terjadi pembelian atau penjualan saham
perusahaan.

Respon Amerika terhadap skandal besar 2002 ini cukup cepat kendatipun
kemungkinan terjadinya kasus serupa di masa yang akan datang masih
mungkini. Sejauh ini memang skandal keuangan akibat kesalahan akuntansi
belum banyak terungkap karena dinaungi besarnya KKN.

2.1.4 Alternatif Akuntansi Konvensional

Skandal besar dalam korporasi belakangan ini yang mempengaruhi industry


keuangan, pasar modal, investor, profesi dan karyawan menurut Bazerman et.al
(2002) tidak lepas dari tindakan korupsi, kriminalitas dari akuntan yang tidak
memiliki etika yang memalsukan angka-angka, melakukan penyelewengan baik
untuk kepentingan pribadi maupun untuk melindungi kliennya. Hal ini tidak
terlepas dari factor “unconscious bias” yang berasl dari sifat subjektif dari
akuntansi itu sendiri serta hubungan yang sangat erat antara akuntan public dan
langganannya.

Akuntansi kapitalisme dinilai dituduh hanya sebagai bentuk kesadaran palsu


yang memistikkan. Akuntansi dituduh bukan memberikan informasi yang benar
tentang hubungan social yang harmonis. Ia hanya membungkus kepentingan
ekonominya dalam symbol efisiensi, laba rugi, produktifitas, dan sebagainya
(Harahap,1993). Dalam diri disiplin akuntansi konvensional itu sendiri lahir
beberapa konsep yang keluar dari mainstreamnya seperti munculnya socio
economic accounting, environmental accounting, employee reporting, human

21
resoures accounting, value added reporting, Islamic aceounting.Current Cost
accounting (Belkaoui, 1984, Harahap, 2003).

2.1.5 Bazerman

Menurut Bazerman (2002) akuntan itu memiliki unconscious bias, sesuatu


bias yang terjadi tanpa disadarinya disebabkan adanya “self serving bias”. Self
serving bias ini muncul disebabkan enam factor psikis : (1) ambiguity dari ilmu
akuntansi karena banyaknya persoalan yang memerlukan pertimbangan dan
kebijakan subjektif ; (2) attachement, terhadap kepentingan nasabah karena
akuntan ditunjukan dan dibayar oleh perusahaan; (3) approval, di mana akuntan
selalu cenderung menerima dan menyetujui judgment perusahaan; (4) familiarity
merupakan sifat di mana kita mengutamakan membela kenalan daripada orang
asing yang belum dikenal; (5) discounting di mana orang cenderung merespons
akibat yang akan muncul segera dan menunda risiko yang masih lama; (6)
escalation merupakan kecenderungan untuk menyembunyikan atau
mengabaikan hal-hal yang bersifat minor. Auditor pada akhirnya ikut menerima
laporan keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan.

2.1.6 Albrecht dan Sack

Albrecht dan Sack (2000) melakukan penelitian yang sangat intens tentang
nasib pendidikan akuntansi di USA dan mereka menyimpulkan bahwa profesi ini
tengah mengalami bahaya disebabkan tiga factor:

1. Jumlah dan kualitas mahasiswa yang memilih jurusan akuntansi menurun


secara drastic. Mereka menganggap profesi ini tidak bernilai tinggi lagi dalam
bekerja di dunia bisnis.
2. Praktisi dan akademis akuntansi yang ingin melanjutkan studi memilih jurusan
yang bukan akuntansi.
3. Tokoh akuntan dan praktisinya menyatakan bahwa pendidikan akuntansi
yang sekarang sudah kuno, rusak, dan perlu diubah secara signifikan.

Memang situasi ini belum memasuki profesi di tanah air tetapi biasanya
gelombangnya akan merambah praktisi di Negara lain karena sector ekonomi
dan bisnis dikuasai oleh Amerika.

2.1.7 Akuntansi dan UKM dan Dunia Ketiga

Desain dari akuntansi yang saat ini dikenal terutama yang diajarkan di
perguruan tinggi lebih banyak untuk kepentingan perusahaan besar dan
perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Padahal sebagian besar perusahaan
banyak tergolong perusahaan kecil dan titik terdaftar di pasar modal sehingga
akuntansinya juga mestinya memiliki perbedaan. Salah seorang yang bergelut
dengan sector usaha kecil dan koperasi Thoby Mutis menyatakan betapa
akuntansi konvensional tidak bias diandalkan untuk membantu perusahaan UKM

22
dan perusahaan yang tidak terdaftar di pasar modal. Akuntansi untuk UKM dan
koperasi harus memiliki sifat dan ciri tersendiri.

2.1.8 Siapa Mengawasi Siapa

Permasalahan lain yang juga sering dihadapi di masyarakat adalah masalah


siapa yang mengawasi akuntan. Akuntan yang sering juga dinilai sebagai profesi
pengawas, sering dipertanyakan siapa yang mengawasinya? Kita dihadapkan
pada pertanyaan filosofi yang telah lama: “ Quis custodiet custodies? Siapa yang
mengawal pengawal, yang menjadi polisi bagi polisi, yang mengontrol
pengontrol, yang mengawasi pengawas?

2.1.9 Jim Peterson

Dalam sebuah artikelnya di International Herald Tribune tanggal 18-19


November 2006 halamn 17 dengan judul yang sangat provokatif “ An Auditor’s
Cry for Love? Saya terjemahkan dengan “Auditor yangminta disayangi?” Jim
Peterson mengemukakan isu yang sangat kritis yang selam ini sudah menjadi
buah bibir masyarakat, tetapi tidak pernah dijadikan isu formal dalam profesi,
yaitu apakah jasa akuntansi selam ini dalam menyajikan informasi keuangan
masih bermanfaat?

Beliau mengemukakan pada awal November 2006 th Big Four ditambah dua
lembaga besar, yaitu :

1. Deloittee
2. Ernest & Young
3. KPMG
4. Pricewaterhouse Coopers
5. Grant Thornton
6. BDO

23
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bahwasannya trend akuntansi itu berdasarkan Mega Trend 2000-nya


Naisbitt dalam Harahap (2008), ia mereflesikan megatrend akuntansi akan
menghadapi persoalan-persoalan seperti Perlunya akuntansi memberikan
pengukuran efisiensi dan produktivitas,perlunya keterpaduan akuntansi dengan
bidang dan disiplin lainnya,perlunya mengidentifikasi, mengukur, dan
melaporkan informasi yang relevan.
Kemudian untuk mengantisipasi tren tersebut di atas maka Ethoven
menganjurkan penyempurnaan insfrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi
tuntutan tren tersebut yaitu dengan cara penyempurnaan system pendidikan,
pelatihan, dan riset dalam bidang akuntansi, struktur dan persyaratan sosio
ekonomi dan budaya, persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya, praktek
profesi dan kelembagaan akuntansi.
Dalam hal ini kami juga membahas tentang akuntansi keperilakuan yang
mana dalam makalah kami kami menekankan pada beberapa prinsip
etika profesi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yaitu tanggung jawab profesi,
kepentingan publik, integritas, obyektivitas, kompetensi dan kehati-hatian
profesional, kerahasiaan, perilaku profesional, standar teknis.

24