Anda di halaman 1dari 235

PUSTAKAPELAJAR

Sejarah 6t Ruang Lingkup Bahasan


Ay^res-tian-fc?
PM I -A '

Filsafat
I lmu
Jerome R. Ravertz

Filsafat
I lm u
Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan

0
PUSTAKA PELAjAR
F il s a l a t I lmu
Sejarah &Ruang Lingkup Bahasan

Judul Asli:
The Philosophy of Science
Oxford University Press, 1982

Penulis
Jerome R. Ravertz
Penerjemah
Saut Pasaribu
Penyunting
Kamdani

Desain Cover
Nuruddien

Tata Lefak
Bima Bayu Atijah
Cetakan I, Maret 2004
Cetakan IV, Februari 2009
Cetakan V, Agustus 2014
PP.2004.11
Penerbit
PUSTAKA PELAJAR
Celeban Timur UH III/548 Yogyakarta 55167
Telp. (0274) 381542, Fax. (0274) 383083
E-mail: -pustakapelajar@yahoo.com

Pencetak
Pustaka Pelajar Offset
ISBN: 979-3477-50-4
DAFTAR ISI

Daftar Isi — vii

Sejarah Ilmu — 1
Pendahuluan — 3
I. Ilmu dalam Peradaban Zaman Kuno
dan Abad Tengah — 7

1. Ilmu dalam Peradaban Yunani— 7


2. Ilmu dalam Peradaban Romawi— 14
3. Ilmu di Abad Pertengahan — 16

II. Ilmu dalam Peradaban-peradaban Lain — 19


1. Islam — 19
2. India — 22
3. China dan Jepang — 23

III. Pencipta Ilmu Eropa — 27

1. Kelahiran Kembali Ilmu di Zaman


Renesans — 28

v
2. Revolusi dalam Filsafat Alam — 34
3. Hakikat Ilmu Eropa — 45

IV. Ilmu di Zaman Revolusi — 50


1. Ilmu Selama Revolusi Industri — 51
2. Asal-usul Intelektual Revolusi — 53
3. Pengaturan Ilmu dalam Revolusi
Perancis — 55
4. Reaksi Romantik dan Ilmu — 58

V. Zaman Matangnya Ilmu-ilmu — 61


1. Ilmu dalam Abad ke-19 — 62
l.a. Perbedaan-perbedaan
dalam Gaya Penelitian — 63
l.b. Kemajuan dalam Fisika — 67
I.e. Kemajuan dalam Kimia — 68
l.d . Kemajuan dalam Biologi — 69
2. Awal Abad ke-20 — 72
3. Masalah-masalah dan Prospek-prospek

Bibliografi — 79

Filsafat Ilmu — 81

Pendahuluan — 83

I. Pendekatan Umum Pada Filsafat Ilmu — 85

A. Hakikat, Ruang Lingkup


dan Hubungan-hubungan Topiknya —
B. Perkembangan Historis Filsafat Ilmu —
1. Periode Klasik dan Abad Tengah:
Permulaan Filsafat Alam — 92
2. Abad ke-17 dan ke-18: Dari Manifesto
Hingga Kritik — 100
3. Sampai Perang Dunia I: Filsafat Fisika
Klasik — 108
4. Perdebatan Abad ke-20:
Para Positivistis versus Sejarawan — 116

II. Konseptualisasi dan Metodologi Ilmu — 127

A. Unsur-unsur Usaha Ilmiah — 129


1. Data Empiris dan Penafsiran
Teoretis — 129
2 . Prosedur-prosedur Empiris Ilmu — 139
3. Struktur-struktur Formal Ilmu — 145
4 . Perubahan Konseptual dan Perkembangan
Ilmu — 152
B. Gerakan-gerakan Pemikiran Ilmiah — 160
1. Penemuan dan Rasionalitas — 160
2. Pengesahan dan Pembenaran — 169
3. Penyatuan, Pluralisme,
dan Reduksionisme — 175

III. Isu-isu yang Lebih Dalam dan Lebih Luas


yang Melibatkan Ilmu — 183

A. Status Filosofis Teori Ilmiah — 183


1. Status Proposisi dan Konsep-konsep
atau Entitas-entitas Ilmiah — 183
2. Analisis Filosofis dan Praktek
Ilmiah — 189
B. Hubungan antara Ilmu dan Budaya

Bibliografi — 208
Indeks — 213
Sejarah Jtmu
PENDAHULUAN

Sampai saat ini, sejarah tentang ilmu merupakan


sebuah kisah kesuksesan. Kemenangan-kemenangan
ilmu m elam bangkan suatu proses ku m u latif pe-
ningkatan pengetahuan dan rangkaian kemenangan
terhadap kebodohan dan takhayul; dan dari ilmu lah
kemudian mengalir arus penemuan-penemuan yang
berguna untuk kemajuan hidup manusia. Kesadaran
yang terjadi dewasa ini tentang adanya m asalah-
masalah moral yang serius di dalam ilmu, mengenai
kekerasan-kekerasan eksternal dan paksaan-paksaan
pada pengem bangannya, dan m engenai bahaya-
bahaya dalam perubahan teknologis yang tak ter-
kendali, menantang para sejarawan untuk melakukan
penilaian kembali secara kritis terhadap keyakinan
awal yang sederhana ini.
Sejarawan segera menyadari bahwa gagasan ilmu
yang diperoleh selama dalam pendidikannya hanya­
lah salah satu dari sekian banyak gagasan, dan itu me-

3
rupakan produk dari konteks-konteks yang bersifat
sem entara. G agasan itu meliputi kehadiran pusat-
pusat penelitian di berbagai universitas yang hampir
otonom; penerapan hasil-hasil ilmiah secara besar-
besaran oleh para teknolog; dan kebebasan penelitian
ilmiah dari politik dan agama. Di abad ke-19 terdapat
tentang adanya pembedaan-pembedaan kekaburan
antara ilmu, industri dan filsafat, dan tiga atau empat
abad sebelumnya, para sejarawan menemukan bahwa
stu di terh ad ap alam d ilak san ak an dalam suatu
kerangka asumsi-asumsi tentang dunia yang kini di-
tolak sebagai kerangka yang bersifat m agis dan
takhyul. Selain itu, semakin dalam para sejarawan
memasuki asal-usul ilmu modern Eropa, mereka justru
semakin sulit memisahkan sikap-sikap "ilm iah", dan
hasil-hasil "faktual"-nya dari hal-hal yang tampak ber-
lawanan dengannya. Para sejarawan terdahulu mem-
perlakukan percampuran-percampuran itu sebagai
anomali-anomali; sekarang percampuran-percampur­
an itu digunakan sebagai bukti-bukti untuk me-
nyingkap konsepsi-konsepsi dunia alamiah dan cara
manusia mengenalnya, yang memiliki daya hidup dan
makna tersendiri pada zamannya. Oleh karena itu
sejarah ilmu menuntut dan memelihara suatu imaji-
nasi yang diperluas:'kemampuan untuk memandang
diri seseorang dan ilmunya sebagai suatu tahap dalam
evolusi yang berkelanjutan. Dalam suatu periode
ketika relevansi dituntut pada studi-studi ilm iah,

4
sejarah ilmu memberikan relevansinya ketika eksplo-
rasinya pada struktur-struktur penyelidikan yang
berjarak (distant) dan asing (strange) ke dalam dunia
alamiah sebanding dengan analisis kritisnya terhadap
sum ber-sum ber langsung konsepsi-konsepsi dan
praktek-praktek masa kini.
Paparan ini akan disusun di seputar ilmu alam
yang diciptakan oleh peradaban Eropa modern, karena
bentuk ilmu inilah yang telah membawa dunia ke
dalam kondisi sekarang ini, dan, tampaknya, ilmu ini
harus dipahami dan dikendalikan jika umat manusia
ingin tetap hidup. Akar-akar ilmu ini tertanam dalam-
dalam di masa lampau dan di banyak peradaban
manusia. Di sini peradaban-peradaban itu hanya dapat
disebutkan sepintas lalu, tetapi sejak awal harus
ditunjukkan bahwa cara memahami dunia alamiah
yang sekarang adalah suatu perkem bangan yang
masih sangat baru. Adalah mungkin bagi peradaban-
peradaban besar masa lampau mencapai teknologi,
agama dan sistem-sistem hukum yang sangat maju
tanpa hadirnya konsepsi ilmu seperti yang kita pahami
sekarang ini. Seperti peradaban-peradaban M esir
Kuno, Mesopotamia, India, dan Belahan Dunia Barat.
Bahkan bangsa Ibrani, bangsa yang agamanya mem-
bentuk sebagian besar basis peradaban Eropa, acuh
tak acuh terhadap ilmu. M eskipun sekitar dua se-
tengah milenium yang lalu bangsa Yunani mencipta-
kan suatu sistem pemikiran yang sangat mirip dengan

5
pemikiran ilmiah, pada abad-abad selanjutnya hanya
sedikit kemajuan yang melebihi prestasi mereka dan
pengertian terhadap sistem pemikiran tersebut. Di
Eropa ilmu menikmati kemajuan yang berkesinam-
bungan selama 500 tahun, kendatipun pada sebagian
besar periode tersebut ilmu mendapat perhatian yang
lebih sedikit di kalangan elit budaya. Kehidupan orang-
orang awam dipengaruhi oleh ilmu hanya secara tidak
langsung melalui pemikiran-pemikiran para ilmuwan
dan dalam penerapan hasil-hasilnya. Kekuasaan yang
besar dan pengaruh ilmu yang meresap ke semua
aspek kehidupan adalah perkembangan-perkembang-
an yang masih sangat baru. Walaupun pengetahuan
tentang dunia bebas dari kenyataan-kenyataan khusus
pada saat ia ditemukan pertama kali, dan dapat di-
tula rkan di antara berbagai bangsa dan kebudayaan,
namun usaha yang ditempuh manusia untuk mencapai
pengetahuan adalah produk lingkungan manusiawi
yang terus menerus berubah.
Dalam artikel ini yang dapat dibuat hanya pe*
nelitian yang luas dan umum. Untuk rincian sejarah
topik tertentu, lihat bagian historis dalam artikel
mengenai topik tersebut. ❖

6
ILMU DALAM PERADABAN
I ZAMAN KUNO
DAN ABAD TENGAH

1. Ilmu dalam Peradaban Yunani


Kemunculan science Eropa dianggap bermuJa dari
para filsuf negara-negara kota Yunani yang mendiami
pantai dan pulau-pulau Mediterranian Timur, di akhir
abad ke-6 dan ke-5 S.M. Karya mereka hanya dikenal
melalui cuplikan-cuplikan, rujukan-rujukan, kutipan-
kutipan singkat yang dibuat oleh para pengarang
yang hidup belakangan, m ungkin setelah ratusan
tahun. Dengan menyeleksi cuplikan-cuplikan itu para
pengarang dapat menjadikannya tampak lebih rasio­
nal dan lebih ilmiah daripada hanya sekedar pem-
benaran. Sebagai contoh ucapan masyhur Thales yang
dikenal sebagai filsuf tertua, "Semuanya adalah air,"
sebenarnya diikuti dengan cuplikan "dan dunia penuh
dengan dewa-dewa". Kendati demikian tampaknya

7
dapat dipercaya bahwa para filsuf Yunani Kuno lebih
berminat pada penjelasan tentang fenomena dunia
pencerapan inderaw i (perceptual world) daripada
mengajukan resep-resep praktis, mereka melakukan-
nva dengan m engutam akan sebab-sebab daripada
pelaku-pelaku pribadi, m eskipun sebab-sebab itu
sendiri berasal dari analogi yang terdapat dalam
pengalaman berkarya dan perilaku manusia (seperti
h aln y a p rin sip -p rin sip kosm isn y a E m p ed okles
tentang "cinta dan pertentangan"). Dalam keterputus-
annya dengan penjelasan-penjelasan m itologis ke-
budayaan mereka sendiri dan peradaban-peradaban
kuno, tempat mereka barangkali banyak meminjam
pengetahuan m ereka yang terperinci, para filsuf
Yunani justru menjadi perintis sikap ilmiah Eropa
modern. Satu tradisi yang sangat penting terjadi, yakni
aliran Pythagorean secara eksplisit menjadi bersifat
religius. Pendiri aliran ini, berusaha menemukan kunci
bagi harmoni universal, baik yang bersifat alamiah
maupun sosial, dan personalitas bilangan, yang dilihat
sebagai susunan titik-titik yang terbentuk, adalah
bukti yang penting. Filsuf Eleatis yang muncul agak
belakangan, Zeno dan Parm enides, menggunakan
suatu analisis konseptual yang canggih untuk me-
nyokong posisi filosofis yang menyatakan kesatuan
eksistensi yang takberubah. Paradoks-paradoks Zeno
mengenai kesatuan dan gerakan menghadirkan suatu
tantangan yang masih hidup sampai sekarang.

8
Walaupun di penghujung abad ke-5 S.M. penye-
lidikan semakin canggih namun masih berupa pen­
jelasan speku latif m engenai fenom ena akal sehat
ketimbang argumen yang benar-benar teknis tentang
pengalaman-pengalaman buatan yang terkendali (con­
trolled artificial experiences); yang baru muncul bersama
Aristoteles. Selain itu, walaupun filsafat ini tumbuh
subur di kalangan elit yang hidup di zaman yang di-
namai zaman emas ketika Perikles memerintah Athena,
namun akal sehat (common sense) pada zaman itu masih
bersifat mistis dan magis, yang dapat dilihat dari daftar
keahlian yang tertulis dalam Dunia Prometheus karya
Aeschylus. Di masa-masa sulit di penghujung abad
ke-5 S.M., kecurigaan terhadap ketakberagamaan di
kalangan para filsuf menguat dan hal itu tersirat dalam
penghu ku m an terhadap A naxagoras dan dalam
serangan kepada Sokrates dalam Awan-Awan karya
Aristophanes.
Ada dua seni yang dipelajari yang pada waktu
itu m endekati kem atangannya, pertam a, ilmu ke-
dokteran, praktek yang setidaknya m encoba me-
nerapkan metode yang berdisiplin dalam pengamatan
dan penarikan kesimpulan, dan kedua, geometri, yang
sedang mengumpulkan setumpukan hasil di seputar
hubungan-hubungan antara ilmu hitung yang disusun
secara khusus dan sedang mendekati masalah-masalah
struktur logis (dalam edisi berturut-turut Unsur-Unsur,
para pendahulu Euklides) dan m asalah-m asalah

9
definisi (sebagaimana perbandingan irrasional, seperti
V 2).
Plato, yang hidup di awal abad ke-4 S.M., adalah
seorang filsuf earliest (paling awal/paling tua) yang
tulisan-tulisannya masih ada. Ia merupakan seorang
propagandis matematika yang sangat berpengaruh.
D alam R ep u blik ia b erargu m en bahw a geom etri
mempersiapkan pikiran untuk perbincangan dialektis
tentang ide-ide yang nyata (the real ideas), yang mana
benda-benda inderaw i tak lain daripada bayang-
bayangnya, dan dari sana menuju kebijaksanaan dan
penerangan (illumination). Karyanya Timaeus merupa­
kan karya yang lebih berpengaruh di zaman-zaman
yang lebih awal; dalam karya ini ia membuat garis
besar suatu kosmogoni di sepanjang arah Pythagorean,
meliputi suatu teori musik yang ditinjau dari sudut
perimbangan-perimbangan sederhana dan suatu pe-
nyelidikan teori-teori fisika dan fisiologi yang diterima
pada waktu itu. Ia berteman dengan para geometer,
termasuk Eudoxus, orang yang barangkali merupakan
pendiri kartografi matematis mengenai Bumi yang
bersifat bulat, dan juga melakukan suatu penyelidikan
y an g m en d alam terh ad ap k u a n tita s-k u a n tita s
irrasional.
Aristoteles, yang juga hidup di abad ke-4 S.M.,
adalah seorang filsuf dunia yang terkemuka dan ter-
besar. Minat-minatnya terentang luas meliputi seluruh
bidang alam iah dan m anusia, term asuk etika dan

10
metafisika. M elalui pengam atan-pengam atan yang
akurat dan teorisasi yang berdisiplin, ia menciptakan
sebuah ilmu biologis dan sebuah taksonom i yang
banyak mirip dengan ilmu yang kita gunakan seka­
rang ini. Sarjana-sarjana yang belakangan telah menge-
nali kesalahan-kesalahan dalam deskripsi-deskripsi-
nya, namun ada kasus-kasus klasik di mana laporan-
laporannya yang kelihatannya keliru, diperiksa ulang
dan terbukti benar (pada spesies-spesies yang jarang
dan bersifat lokal) kurang dari satu abad yang lalu. Ia
juga melaksanakan penelitian kooperatif yang ter-
organisir untuk studi-studi berskala besar, seperti
terw ujud dalam stu di kom p aratif terhadap per-
undang-undangan negara-negara kota Yunani Kuno.
Ia merupakan seorang empu dalam metode ilmiah;
dalam setiap studi ia m endefinisikan bidang per-
masalahan, berdialog secara kritis dengan para pen-
dahulunya (biasanya dengan menunjukkan bahwa
mereka itu naif dalam beberapa hal penting), dan
kemudian meneruskannya dengan pengalaman dan
penalaran untuk m engem bangkan argu m enn ya.
Sebagian besar pembagian dasariah pengetahuan dan
juga pengungkapan prinsip-prinsip metode dan jenis-
jenis pengetahuan yang berbeda-beda, yang dapat
dicapai dengan penggunaan penalaran, berhutang
budi pada Aristoteles.
Aristoteles memulai karirnya sebagai murid Plato
tetapi pada akhir-nya ia tidak setuju dengan gurunva

11
mengenai soal-soal mendasar. Khususnya, ia meng-
anggap matematika sebagai suatu abstraksi dari ke-
nyataan alamiah. Baginya realitas alamiah adalah suatu
sistem hidup yang kompleks dan swakelola (self-regu­
lation). Sesungguhnya, seluruh filsafat alam berikut-
nya m erupakan sebuah dialog antara P lato dan
Aristoteles, karena merekalah maka persoalar)-per-
soalan filosofis yang paling mendalam dihubungkah
kepada kehidupan. Studi-studi biologis yang dilaku-
kannya berpuncak pada masalah generasi, penyam-
paian bentuk di antara tubuh-tubuh yang berlainan.
Ia juga mencoba menjelaskan cara kerja sang penyebab
pertama seluruh fenomena fisik, melalui pelaksanaan
tujuan-tujuannya dalam siklus surgawi. Ia sedikit ber-
simpati pada sihir; baginya mimpi lebih merupakan
akibat dari pikiran-pikiran bawah sadar (subconscious
mind) dan akibat ketidaknyamanan badaniah daripada
pesan-pesan dari suatu roh. Prinsip-prinsip penjelas-
annya ada dalam kerangka kualitas-kualitas yang
dapat dideteksi dengan panca indera (misalnya panas
atau dingin, basah atau kering) dan serangkaian sebab
(materi, pelaku, rencana dan tujuan-tujuan, dalam
tatanan yang semakin menaik) berdasarkan analogi
karya ahli (craftwork) dengan prinsip "seni meniru
alam ".
Selama beberapa tahun Aristoteles menjadi guru
pribadi pangeran yang kemudian menjadi Alexander
Agung, dan walaupun kemudian hal ini menyebabkan

12
ia mengalami berbagai kesulitan di Athena, namun
pengaruhnya berpindah ke Museum di Alexandria.
Tulisan-tulisannya m erupakan basis bagi filsafat
alamiah yang walaupun dipraktekkan hingga abad
ke-17, tetapi tetap tak terhindarkan akan adanya ke-
salahpaham an, dan tulisan-tulisannya digunakan
untuk menyusun dogma-dogma yang steril. Aristoteles
berabad-abad melampaui zamannya dan ia masih me­
rupakan sumber wawasan dan pendidikan hingga di
masa kini.
Dalam kekaisaran yang dibangun oleh Alexander
Agung (di penghujung abad ke-4 S.M.) kebudayaan
Yunani tumbuh dengan suburnya. Kota-kota besar
menjadi tempat persaingan para sarjana dan teks-teks
klasik, dan beberapa di antara mereka mendirikan
pusat-pusat belajar seperti Museum yang terdapat di
kota terencana Alexandria. Karena bebas dari kuil-kuil
religius, pusat-pusat belajar ini mempunyai perpusta-
kaan-perpustakaan besar, memberi pekerjaan bagi
para ilmuwan dan sarjana, dan dengan terpeliharanya
laporan-laporan danperalatan memungkinkan terjadi-
nya kesinam bungan penelitian. W alaupun zaman
Helenistik ini (kasarnya sejak tahun 323 hingga 40 S.M.)
tidak mencapai keberhasilan puncak sebagaimana
para genius zaman terdahulu, namun zaman ini meng-
hasilkan beberapa matematikawan yang besar (Euklides,
A rchim edes, dan Apollonius) dan para astronom
(Hipparkhus). Studi-studi di bidang ilmu kedokteran

13
dan fisiologi juga berkembang, dan selama periode
ini, alkimia Eropa yang berasal dari alkimia yang di-
kem bangkan oleh alkem isi M esir, m encoba me-
rasionalisasi perubahan kimiawi dengan teori-teori
Aristoteles.

2. Ilmu dalam Peradaban Rom awi


Menjelang berakhirnya periode pra-Kristen, ke-
kaisaran Romawi mencapai dom inasi atas seluruh
dunia Mediterania. Romawi memunculkan paradoks
bagi para sejaraw an ilm u. Perad aban ini begitu
canggih dan nyata-nyata modern dalam politik dan
personalitasnya, begitu gemar mempelajari disiplin
hukum, sangat progresif dalam teknologi-teknologi
perang negara dan kesehatan publik, dengan akses
langsung kepada kumpulan karya-karya ilmu Yunani,
namun gagal menghasilkan ilmuwan seorang pun.
Memang ada dua ilmuwan yang sangat besar yang
hidup selama pemerintahan Marcus Aurelius pada
abad kedua masehi, namun keduanya adalah bangsa
Yunani. Galen dari Pergamon, mensintesiskan dan
memajukan studi kedokteran, anatomi dan fisiologi.
Ptolem eus dari A lexandria, membawa astronom i
matematis yang mendekati kesempurnaan klasik dan
juga mencoba membawa pendekatan matematis dan
ilmiah menuju ilmu sosial empiris yang paling awal,
serta prediksi astrologis. Di satu sisi, orang Romawi
sendiri m enganggap ilmu sebagai hal yang cocok

14
hanya untuk spekulasi yang bersifat sementara (casual
speculation). Di sisi lain, ilmu dianggap cocok hanya
untuk teknik-teknik praktis. Literatur ensiklopedi
mereka berupa suatu kisah yang m em peringatkan
betapa merusaknya pengetahuan bila tanpa disertai
dengan stand ar-stand ar yang seksam a. M asalah-
masalah ilmiah didiskusikan dengan serius di kalangan
orang-orang Rom aw i hanya dalam hubungannya
dengan filsafat-filsafat yang berbasis etis. Dua aliran
terkemuka ialah Stoisisme dan Epikureanisme, dan
amanat yang ditawarkan keduanya untuk menjadi
manusia bijaksana, yaitu mengagungkan pengundur-
an diri (resignation) dan mengajarkan kebahagiaan.
Walaupun demikian, aliran yang belakangan mampu
menghasilkan sebuah maha karya ilmu yang speku-
latif, De rerum natura (Tentang Hakekat Benda-benda),
karya Lukretius (satu abad sebelum masehi). Amanat
dari penjelasan-penjelasan atomistiknya atas fenomena
ialah bahwa roh-roh yang bersifat immaterial hanya
merupakan fiksi yang berfungsi untuk menanamkan
ketakutan dan kepatuhan di kalangan orang banvak
yang mempercayai takhayul.
Para sejarawan berspekulasi tentang penyebab
kegagalan orang Romawi di bidang pengembangan
ilmu. Ada yang mencoba melihat perbudakan-yang
menghambat dorongan bagi inovasi industri, sebagai
penyebabnya, namun hal ini tampaknya terlalu se-
derhana. Barangkali struktur sosial bangsa Romawi

15
yang berkombinasi dengan kelekatannya yang lama
terhadap bentuk-bentuk magis, tidak memberikan
tempat bagi penghargaan atas komitmen istimewa
untuk jalan yang sulit dan berbahaya dalam mencapai
pengetahuan dan kebijaksanaan, yang dapat dilalui
lew at penelitian yang berdisiplin terhadap aspek-
aspek dunia alamiah yang terpisah-pisah. Sebenarnya,
ketika orang menyadari betapa sedikitnya kebudayaan-
kebudayaan yang menumbuh-suburkan ilmu, orang
dapat membalikkan pertanyaan dengan menganggap
Romawi sebagai yang normal dan Yunani Kuno se­
bagai fenomena yang menakjubkan untuk dijelaskan.

3. Ilmu di Abad Pertengahan


P erad aban Y unani-R om aw i m encap ai peng-
genapan siklusnya pada sekitar tahun 1000 Setengah
abad berikutnya di Eropa sering disebut Abad Gelap.
Di Eropa Barat yang diperintah bangsa Roma, ke­
budayaan melek huruf hidup terus hanya di biara-
biara. Usaha-usaha menghidupkan kembali keilmuan
hanya sesekali dilakukan oleh raja-raja besar seperti
Alfred dan Charlemagne. Sebaliknya, dalam Kerajaan
Timur yang diperintah oleh C onstantinopel, ber-
langsung suatu masyarakat yang beradab, walaupun
dalam segenap sejarahnya selama 1000 tahun Byzan­
tium hanya sedikit menghasilkan ilmuwan yang patut
dicatat. Sebagai masyarakat yang baru, suatu bentuk
masyarakat yang lebih biadab sedang terbentuk di

16
Barar, pada waktu itu ada pekerjaan besar yang mem-
pelopori penebangan hutan dan pengeringan rawa-
rawa untuk tempat tinggal, dan ada beberapa pe­
nemuan penting (peiana kuda, sanggurdi, bajak, kincir
angin dan kincir air) yang ditemukan sendiri atau
ditiru. Di awal abad ke-11 sebagian besar orang ter-
pelajar mengenai dan memahami ilmu kuno dalam
cuplikan-cuplikan yang segeiintir dan tercabik-cabik,
namun setelah iru terjadi kemajuan pesat. Pada abad
ke-12 dialam i suatu renaissance yang sebagian di­
sebabkan oleh pergaulan dengan peradaban Islam
yang lebih tinggi yang terdap at di Spanyol dan
Palestina dan sebagian lagi disebabkan perkembangan
berbagai kota dengan kelas atasnya yang melek huruf.
Dari p eriod e ini m u ncu ilah k aran g an -karan g an
spekulatif perdana tentang filsafat alamiah. Abad ke-
13 menyaksikan berdirmya universitas-universitas dan
zam an kebesaran pengetahuan skolastik. Thom as
Aquinas, seorang teolog terkemuka dan Roger Bacon,
penganjur metode eksperim ental, termasuk dalam
zaman ini. Akan tetapi dalam tahun 1350-an Eropa
dilanda oleh bencana ekonorni dan sosial dalam
bentuk keruntuhan finansial dan Maut Hitam (pe-
nyakit pes). Meskipun perdebatan filosofis, termasuk
minat terhadap spekulasi matematis, masih terjadi
namun secara ilmiah pada periode belakangan telah
steril.

17
P en d ap a t-p en d ap at m engenai ilm u di abad
tengah simpang-siur. Para sejarawan terdahulu me-
mandang ilmu di zaman itu, belum terbebaskan dari
beban dogmatisme dan takhayul, sementara sejarawan
lainnya mencoba menunjukkan bahwa banyak fakta
dan prinsip pokok ilmu m odern ditem ukan pada
waktu itu. Persoalannya menjadi jelas ketika disadari
bahwa orang terpelajar pada zaman itu tidak semua-
nya mencoba melaksanakan penelitian ilmiah seperti
yang dipahami sekarang ini. Filsafat alamiah dan fakta-
fakta khusus dipelajari terutama dalam hubungannya
dengan agam a, juga untuk m enjelaskan teks-teks
alkitabiah (secara harafiah ataupun kiasan) atau dalam
rangka perdebatan para pengikut filsuf kafir (terutama
Aristoteles sebagaimana di tafsirkan oleh filsuf Muslim
A verroes atau dalam pengem bangan kosm ologi
N eoplatonis yang mistis yang di dalamnya cahaya
dipelajari sebagai bukti bagi realitas yang dapat di-
tangkap m elalui indera dan dilukiskan secara geo-
metris. Pembedaan antara teknik, magis teoretis dan
magis rakyat sama sekali tidak jelas bagi siapapun.
Oleh karena itu dalam istilah-istilah modern, Roger
Bacon pun adalah korban takhyul yang mudah tertipu.
Demikianlah di Efopa dalam periode pertumbuhan
yang melahirkan peradaban sekarang ini, ada sesuatu
yang dapat disebut ilmu tetapi membutuhkan imaji­
nasi antropologis untuk memahaminya. ❖

18
ILMU DALAM PERADABAN-
PERADABAN LAIN

Deskripsi prestasi-prestasi ilmiah dari peradaban-


peradaban besar dunia lainnya dibuat secara singkat
dalam tulisan ini karena kontribusi-kontribusinya
terhadap ilmu sebagaimana dipahami sekarang ini
sangat sedikit.

1. Islam
Kebudayaan Islam paling relevan bagi ilmu Eropa.
Bukan sekedar karena dekatnya hubungan antara Islam
dengan Judaisme dan Kekristenan, melainkan juga
karena adanya kontak kultural yang aktif antara negeri-
negeri berbahasa Arab dengan Eropa Latin pada masa-
masa yang menentukan. Ironisnya, zaman kebesaran
Islam bersam aan waktunya dengan titik nadir ke­
budayaan di Eropa Barat. Penaklukan-penaklukan
yang dilakukan oleh pengikut sang Nabi yang dimulai
sejak abad ke-7 hingga abad ke-10 telah membuat

19
1

bahasa Arab menjadi bahasa kaum terpelajar bagi


bangsa-bangsa yang terentang mulai dari Persia hingga
Spanyol. Para penakluk Arab umumnya membawa
kedamaian dan kemakmuran bagi negeri-negeri yang
didudukinya. Sebagai contoh, perpustakaan Cordova
di Spanyol nyata-nyata memiliki 500.000 buah buku
pada saat bangsa-bangsa di Pyrenia utara paling-paling
hanya mempunyai 5000 buah buku. Bangsa Muslim
juga toleran terhadap keyakinan-keyakinan monoteis
lainnya, sehingga orang-orang Yahudi mendapatkan
posisi yang tinggi di negeri-negeri Islam pada saat
mereka hampir tidak diizinkan hidup di Eropa. Ter-
tarik akan tradisi-tradisi ilmu Yunani, melalui para
sarjana Kristen yang ada di Syria, para penguasa Arab
yang bertempat di Baghdad pada abad ke-9 memerin-
tahkan penerjemahan besar-besaran terhadap sumber-
sumber ilmu Yunani, dan segera sesudah itu peran
sarjana Arab sendiri bergerak maju khususnya di
bidang matematika, astronomi, optik, kimia, dan ke-
dokteran. Akan tetapi basis sosial ilmunya rapuh.
Dalam suatu masyarakat teokratis hanya ilmu ke-
dokteran sajalah di antara ilmu-ilmu bangsa-bangsa
pemuja berhala yang dianggap patut diterima. Oleh
karena itu tak ada satu pun pusat kebudayaan ilmiah
yang berkem bang pesat lebih dari satu abad, dan
m eskipun bahan-bahannya disebarkan di tengah-
tengah mereka, tiadanya kesinambungan mencegah
berlangsungnya perkembangan yang terus-menerus.

20
Lagipula, gaya kesarjanaan yang berkembang saat itu
ialah dukungan bagi seorang individu dalam mencoba
meraup seluruh pengetahuan dunia untuk mencapai
kebijaksanaan sekuler, atau barangkali sebagai suatu
jalan menuju penerangan (illumination). Tokoh-tokoh
terbesar saat itu dapat membuat kemajuan-kemajuan
kreatif, tetapi jarang sekali ada kerja sama para sarjana
yang dibutuhkan untuk membuat orang awam men­
jadi efektif.
Kontak antara Islam dan Eropa Latin sebagian
besar berlangsung melalui Spanyol, di mana orang-
orang Kristen dan Yahudi dapat bertindak sebagai
perantara dan penerjemah. Abad ke-12 menunjukkan
adanya suatu program penerjemahan besar-besaran
karya-karya berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin,
mula-mula di bidang astrologi, dan magis, kemudian
di bidang kedokteran dan akhirnya di bidang filsafat
dan ilmu. Rute yang lebih kecil berlangsung melalui
Italia, di mana kontak-kontak komersial berlangsung
dengan Tunisia. Pa tut diperhatikan bahwa sekolah
m edis tertua di Eropa bertem pat di Salerno dan
belakangan disaingi oleh Montpellier, yang juga dekat
dengan sumber-sumber Arab dan Yahudi. Akan tetapi
meskipun merupakan pemimpin, bahkan sepanjang
masa-masa penerjemahan, peradaban Islam berada di
bawah tekanan bangsa-bangsa barbar yang ada di
sepanjang wilayah perbatasan kekuasaannya, dan
tidak lama berselang peradaban Islam segera meng-

21
alami keruntuhan. Di samping sumbangannya yang
sangat besar bagi peradaban Barat dalam memelihara
dan menularkan warisan Yunani, bahasa Arab juga
m em beri kontribusi pada ilmu modern dalam se-
jumlah kata, terutama berkenaan dengan tetumbuhan
dan makanan, dan juga kata-kata seperti alkohol dan
aljabar.

2. India
Peradaban India yang tertua sampai sekarang
masih hidup. Peradaban itu telah mencapai tingkat
teknologi yang tinggi sejak tahap awalnya. Kontak
Eropa dengan peradaban India sebagian besar ber-
langsung melalui sumber-sumber berbahasa Arab, dan
penelitian historis belum cukup maju untuk dapat
membedakan prioritas-prioritas dan jalur-jalur penye-
barannya. Jelas terlihat bahwa m atem atika India,
dengan sistem bilangan dan penghitungannya yang
telah b erkem b an g cukup tinggi, m em pengaruhi
aljabar Arab; juga melengkapi angka-angka utama
Arab (yakni, sembilan digit dan satu angka nol dalam
suatu sistem nilai-tempat). Tetapi ciri khas ilmu dalam
peradaban ini berkenaan dengan kesadaran yang lebih
tinggi (higher consciousness), dan dalam soal ini pemikir-
an Eropa sangat kurang, namun hanya kadang-kadang
saja disadari adanya kekurangan itu. Oleh karena itu
prestasi-prestasi Eropa dan India tak dapat dibanding-

22
kan secara ketat melainkan harus dianggap sebagai
saling melengkapi satu sama lain.

3. C hina dan Jepang

Cina memunculkan tantangan yang lebih besar


kepada sejaraw an ilmu Eropa. Basis pengetahuan
umumnya ialah keduniaan ini, meskipun lebih di-
•dasarkan pada harm oni antara pribadi ketim bang
keteraturan-keteraturan abstrak. Meskipun keduanya
berjauhan dan bahasanya berbeda total, terdapat
kontak yang berkesinambungan antara Eropa dan Cina
sejak zam an Yunani K uno. Um um nya hubungan
keduanya bersifat tak langsung dan terbatas pada per-
dagangan barang-barang antik, namun bahkan pada
zam an kuno sudah terd ap at sinkronism e dalam
gerakan-gerakan filosofis di Eropa dan Cina, abad ke-13
terjadi kontak personal yang penting, yakni melalui
Marcopolo, satu-satunya contoh yang sangat mashyur.
Hingga zaman Renaissans teknologi Cina lebih maju
dari Eropa. Dalam karyanya yang monumental, se­
jarawan ilmu Inggris, Joseph Needham , telah me-
nunjukkan pola-pola penyampaian serangkaian pe-
nemuan-penemuan penting dari Cina bagian barat.
Sebenarnya, ketiga penemuan besar, yang diperlihat-
kan oleh para penulis abad ke-16 dan belakangan oleh
Francis Bacon, sebagai hal yang penting bagi trans-
formasi masyarakat Eropa semuanya berasal dari Cina:
kompas m agnetis, serbuk mesiu, dan mesin cetak.

23
Namun Eropa tak pernah menyadari hutang budinya
kepada Cina, sementara itu, yang lebih penting, bangsa
Cina tak pernah mencapai perkembangan hingga men­
jadi ilmu modern dalam jenis yang dicapai bangsa
Eropa.
Ketidaktahuan orang Eropa akan hutang budinya
kepada Cina mudah dijelaskan. Pada masa ketika
peralatan teknis diimpor atau ditiru, mereka tidak
begitu berminat untuk mempelajari, sehingga asal-
usul benda-benda itu tak pernah ditanyakan. Ketika
para missionaris Jesuit tiba di Cina di akhir abad ke-
16, membawa hasil-hasil ilmu dan teknologi Barat
sebagai bukti keunggulan Kekristenan, saat itu upaya-
upaya di bidang ilmu dan teknologi mencapai titik
nadir di Cina, sehingga banyak prestasi-prestasi
penduduk asli telah dilupakan. K egagalan Cina
membuat perkembangan ilmu dan teknologi dapat
dipertimbangkan dalam hubungannya dengan dua
fase penciptaan ilmu Eropa yang didiskusikan di
bawah ini. Masyarakat Cina selalu stabil, diperintah
oleh penguasa sipil yang tidak turun-temurun dan
filsafat yang berlaku di m asyarakat lebih berupa
bimbingan praktis ketimbang prinsip-prinsip abstrak.
Para pedagang adalah kelas yang tidak dipercaya, dan
inovasi teknis harus diselesaikan di dalam birokrasi.
Sehingga, ciri khas Renaissans masyarakat Eropa yang
m em aksa seni-seni praktis m elaju ke depan, tak
pernah terjadi di Cina. Lagi pula, filsafat alam Cina

24
juga didasarkan pada analogi-analogi organis dan
hu bu ngan-hu bu ngan harm oni. Filsafat itu tidak
pcrnah dapat mengakomodasi gambaran materi mati
vang bergerak sesuai dengan hukum-hukum matema­
tis, yang itu merupakan fondasi bagi ilmu Galilean.
Berkaitan dengan ini ialah fakta teknis bahwa hanya
bahasa Yunani vang menghasilkan bahasa yang bersifat
abstrak, matematis logis yang dapat berfungsi sebagai
bahasa ilmu. M atem atika bangsa Cina terdiri dari
aturan-aturan perhitungan, dan m eskipun sangat
canggih, matematika ini hanya dapat diterapkan ke­
pada perhitungan-perhitungan terperinci yang telah
dirancang. Demikianlah, Cina gagal menjadi Eropa.
Akan tetapi, barangkali bersamaan dengan pengharga-
an baru Barat akan perlunya pelaksanaan harmoni
yang lembut antara diri Individu dengan alam, masya-
rakat ilmiah barangkali masih mempunyai sesuatu
yang patut dipelajari dari cara Cina kuno.
A khirnya, terdapat kasus Jepang yang mem-
pesona. Selama beberapa abad Jepang merupakan
jajahan kultural Cina. Jepang mengalami penying-
kapan singkat dalam ilmu dan agama Barat sebelum
para penguasanya di penghujung abad ke-17 me-
m utuskan untuk m enutup pintu pada pengaruh-
pengaruh yang dianggap membahayakan. Di peng-
hujung abad ke-19, bangsa Jepang memutuskan ber-
asim ilasi dengan dunia luar dan kem udian me-
laksanakannya dengan sungguh-sungguh. Agama asli

25
Jepang cukup samar-samar sehingga bisa mengako-
modasi setiap pernyataan ilmu Barat. Para ilmuwan
Jepang, para teknisi dan orang-orang awam masa kini
memutuskan untuk menjalani hidup dalam dua sisi
sebagian dalam dunia yang hiper-m odern dan se­
bagian lagi masih dalam salah satu tradisi sosial kuno
yang ketat. ❖

26
PENCSPTAAN ILMU EROPA

"Ilmu " adalah ciptaan bangsa Eropa. Meskipun


peradaban-peradaban lain m em berikan berbagai
kontribusi yang penting kepadanya, dan walaupun di
masa kini semua bangsa berpartisipasi dalam pe­
nelitian, ilmu alam secara khas adalah ciptaan Eropa
dan koloni-koloni kulturalnya. Ilmu berakar dalam
pemikiran dan masyarakat, sama halnya dengan tekno­
logi Eropa dan jiwanya yang serakah; oleh karena itu
ilmu adalah bagian penting dari proses pencapaian
dominasi atas bangsa yang lemah dan hingga kini
masih merupakan ujung kebiadaban dunia. Pencipta-
an ilmu Eropa mempunyai dua fase; pertama, per­
kembangan teknis di abad ke-16, dan kedua, revolusi
filosofis di abad ke-17. Sejak itu muncullah gagasan
ilmu yang berlaku hingga saat ini.

27
1. K elah iran Kem bali Ilmu di Zam an R e n e sa n s
Kata ilmu dan nenek moyangnya Yunani dan Latin
adalah suatu hal yang sudah tua, dengan arti-artinya
yang terus-menerus berubah. Pada periode masa itu
yang dim aksud dengan kata ilmu terbatas pada
bidang-bidang yang memberikan pengetahuan menge­
nai teologi dan filsafat. Istilah lainnya ialah seni atau
teknik. Beberapa seni disebut liberal dan diajarkan di
sekolah-sekolah Latin dan di universitas-universitas.
Seni itu ialah bahasa, logika, matematika, dan kaum
terpelajar atau para pejabat mempelajari kedokteran
dan hukum . Seni lainnya, yang bersifat m ekanis
umumnya tergolong pekerjaan yang tidak disenangi
karena bayarannya rendah. Konsepsi pengetahuan
yang berlaku di masa itu masih berbeda secara radikal
dengan konsepsi masa kini. Pada masa itu umumnya
diterima bahwa pernah ada suatu zaman keemasan
ketika semua hal diketahui (ketika semua manusia
m asih berdiam di Taman Eden dan barangkali di
zaman kuno atau zamannya para bijaksana). Pene­
muan kembali kebenaran dipandang bukan sekedar
soal m em aham i fakta-fakta; sebab tersedianya ke­
benaran pertama kali dan lenyap pada masa berikut-
nya merupakan peristiwa-peristiwa yang bermakna
religius. Karena dunia inderawi sangat dipengaruhi
oleh agen-agen ilahi, demonis dan magis, maka untuk
menyingkap rahasianya bukan tugas sekuler semata-
mata. Karena konsepsi modern mengenai ilmu se-

28
bagian berakar dalam pertentangannya dengan pan­
dangan dunia (world view) ini maka sulit membayang-
kan kemungkinan adanya sudut pandang (point o f view)
ilmiah di dalamnya. Akan tetapi jika para sejarawan
masih sepakat dengan anggapan ini maka ia masih ter-
penjara dalam kategori-kategori zamannya sehingga
tak mampu memahami dunia luar yang lebih luas.
Tahun 1413 merupakan saat permulaan bagi eks-
pansi Eropa, saat pertama kali bangsa Eropa menyerbu
pantai Afrika, tepat lima ratus tahun sebelum Perang
Dunia I, awal pemisahan kekaisaran-kekaisaran Eropa.
Di awal abad ke-15 iklim kultural Eropa umumnya
suram: universitas-universitas runtuh, gereja terpecah-
pecah, dan perekonom ian masih menderita akibat
pengaruh-pengaruh Maut Hitam. Topik-topik yang
kini disebut ilmu ham pir tidak ada kecuali yang
dipelajari dalam kaitannya dengan seni praktis. Pada
masa itu bahan-bahannya pun tidak mencukupi ke-
butuhan, kom petensinya rendah, dan organisasi
sosialnya tidak berkembang.
Asal-usul kelahiran kembali ilmu dapat dilokasi-
kan pada tiga pusat. Asal-usul pertama dan yang ter-
kenal ialah hal yang disebut dengan penemuan manu­
sia dan alam, sebuah produk Renesans yang artistik
pada abad ke-15 di Italia. Ilham mengenai hal ini
ditemukan di zaman klasik kuno serta fakta bahwa
para sarjana Humanis mengedit dan menerbitkan teks-
teks berbahasa Latin dan Yunani dan menerjemahkan

29
semua bidang, termasuk ilmu. Seni-seni visual, yang
secara longgar dikelom pokkan sebagai arsitektur
bangkit dan mendapatkan penghormatan sosial serta
memberikan suatu silsilah klasik dalam sebuah buku
yang ditulis oleh seorang pengarang Roma, Vitruvius.
Senim an-senim an besar menjadi orang yang mem­
punyai minat dan kebudayaan yang luas, yang dicoba
dilindungi oleh kaum bangsawan. Karir Leonardo da
Vinci di penghujung abad ke-15 merupakan contoh
bagi posisi yang tinggi dan aktivitas yang meliputi
banyak bidang.
Pada saat yang sam a, daerah pegunungan di
Jerm an selatan, dengan ujungnya yang terletak di
Nuremberg dan Cracow, mengalami pertumbuhan
pesat dalam pertambangan, metalurgi dan perdagang-
an. Matematika praktis, teori serta praktek pengolahan
besi (metal working) juga berkembang di sana. Sungai
Rhine yang menghubungkan daerah ini dengan pusat-
pusat pertenunan orang Flander yang makmur. Dan
sungai ini m erupakan jalu r perdagangan tem pat
Gutenberg menemukan mesin cetak. Salah satu speku-
lasi yang sangat rumit dan mahal saat itu adalah di-
adakannya suatu penelitian dan pengembangan yang
bertujuan m enem ukan sifat-sifat cam puran logam
yang tepat untuk membuat cetakan-cetakan logam yang
dapat dipakai berulang-ulang. Namun, begitu ditemu-
kan, proses •penyebarannya cepat sekali. D i-peng­
hujung abad ke-15 setiap kota besar mempunyai pe-

30
nerbitan sendiri, dan tersedianya buku-buku dengan
harga murah menyebabkan terjadinya transformasi di
bidang pembelajaran dan kebudayaan.
Masih dalam abad ke-15 bangsa Spanyol dan
Portugis m em ulai penjelajahannya. O rang-orang
Portugis terdampar di sekitar pantai Afrika, barangkali
menggunakan Brazil sebagai tempat pendaratannya,
mencari emas dan Prester Jhon* yang melegenda di
Ethiopia. Mereka malah menemukan jalur menuju
India, sehingga mereka memintas jalur Timur Tengah
untuk mendapatkan rempah-rempah (pada masa itu
apa pun dibeli dari bangsa-bangsa Timur yang di-
anggap superior secara teknis termasuk resep-resep,
bum bu-bum bu dan obat-obatan). D idorong oleh
kepentingan penelitian kala itu, bangsa Spanyol mem-
biayai perjalanan Colombus beserta para penakluk
(Concjuistadores) untuk menyingkapkan dunia baru.
Pelayaran melintasi lautan menimbulkan tuntutan
baru pada astronomi dan teknik-teknik serta peralatan
matematis, orang-orang Spanyol dan Portugislah yang
pertama kali melaksanakan penelitian tentang hal itu,
khususnya teknik-teknik hidrografis. Dunia baru
memperkenalkan tanam-tanaman baru, hewan-hewan
baru, penyakit-penyakit baru dan peradaban-per-

* Seorang raja dan pendeta legendaris Kristen Abad Tengah


yang konon katanva memerintah baik di Timur Jauh maupun di
Ethiopia. (Penerjemah)

31
adaban baru kepada bangsa-bangsa Eropa; kegembira-
an dan efek-efek yang tidak menyenangkan dari pe­
nemuan itu berlangsung terus, generasi demi generasi.
Buku-buku yang dicetak di abad ke-16 (dalam
salinan modernnya) memberikan suatu sumber bukti
yang layak untuk suatu bangunan ilmu. Pada per-
m ulaan abad ini pengetahuan m asih belum b er­
kembang dan sangat tergantung kepada rihgkasan-
ringkasan kacau dari zaman kuno dan sumber-sumber
berbahasa Arab. M enjelang pertengahan abad ini
muncul berbagai karya yang mengungguli orang-orang
terbaik dari para pendahulunya. Di bidang astronomi
ada De revolutionibus (1543) karya Polish Nicholaus
Copernicus, sebuah maha karya teknis dan juga suatu
telaah revolusioner di bidang kosmologi. Di bidang
anatom i, Andreas Vesalius seorang bangsa Belgia
m enciptakan pendekatan baru kepada penelitian
anatomis dan mengajarkannya dalam buku De fabrica
(1543). Di bidang matem atika, Gerolam o Cardano,
seorang bangsa Italia, mengembangkan aljabar (mem­
berikan solusi umum atas persamaan kubik) dalam
karyanya, Ars magna (1545).
Selama abad ini pula, Reformasi Protestan me-
letuskan serangkaian peperangan yang membuat para
perwira perang memerlukan keahlian matematis ter­
tentu yang baru, yang berkaitan dengan pembuatan
benteng dan keahlian membuat atau menembakkan
meriam, yang juga memunculkan kelas-kelas baru

32
para praktisi seperti ahli-ahli bedah militer dan para
teknisi. Meskipun beberapa bidang teoretis cenderung
spekulatif namun ada kem ajuan besar-besaran di
semua seni ini. Menjelang berakhirnya abad ini seni
matematis terapan menjadi bagian pendidikan yang
standar bagi seorang pria terhormat (gentleman) di
Benua E rop a. F ilsu f-m atem atisi Rene D escartes
m engajarkannya di sekolah Jesuitnya dan G alileo,
seorang Italia, mengajarkannya di universitas Padua.
Dengan cara ini untuk sementara waktu muncullah
rintangan-rintangan yang menyulitkan dari kelas-kelas
yang gila horm at menentang seni-seni itu. Hal ini
sangat menentukan bagi pembentukan filsafat baru
dan penerimaannya oleh para pendukungnya yang
terdidik secara liberal.
Walaupun begitu filsafat baru tersebut bukanlah
syarat mutlak bagi keberhasilan penuh ilmu. Di sekitar
abad itu dan sesudahnya, muncul karya-karya ilmu
yang memuat penem uan-penem uan tertentu yang
masih d iterim a kebenarannya hingga m asa kini,
walaupun para ilmuwan yang menemukannya masih
bekerja dalam kerangka pandangan dunia yang se­
cara langsung ditolak oleh filsafat yang baru tadi.
Demikianlah William Gilbert (1600) di Inggris men­
jelaskan bahwa jarum kompas dari sudut pandang
keberadaan bumi sebagai raksasa, adalah magnit yang
sangat lemah, namun ia m elakukan hal ini dalam
rangka pembuktian bahwa roh dunia terkandung di

33
dalam magnet. Di Paraguai, Johannes Kepler tak lama
kemudian (1609) menemukan orbit-orbit sesungguhnya
dari planet-planet, yang berbentuk elipsis (bulatan
panjang) di sekitar matahari, dan ia tidak pernah meng-
hentikan penelitiannya terhadap harmoni-harmoni
kosmos. Kemudian pada tahun 1628, William Harvey
di Inggris merumuskan sirkulasi peredaran darah,
namun baginya hal itu lebih berupa gambaran mikro-
kosmik sirkulasi-sirkulasi dunia ketim bang suatu
sistem yang bersifat mekanistik belaka. Campuran
yang paling aneh, oleh standar-standar modern, di-
temukan dalam kimianya Paracelsus dan para peng-
ikutnya di abad ke-16 dan ke-17. Mereka menggabung-
kan unsur-unsur keahlian metalurgi, ilmu kedokteran
umum, alkimia, agama, mistik, dan perbaikan sosial,
dan pada akhirnya mereka benar-benar berhasil se­
bagai ahli kimia.

2. R evolusi dalam Filsafat Alam


Pada abad ke-17 terjadi perumusan kembali yang
radikal terhadap objek-objek, m etode-m etode dan
fu ngsi-fu ngsi pengetahuan alam iah. O bjek-objek
barunya ialah fenomena yang teratur di dunia tanpa
sifat-sifat manusia'wi dan spiritual, metode-metode
barunya merupakan penelitian yang berdisiplin dan
kooperatif, dan fungsi-fungsi barunya berupa gabung-
an dari pengetahuan ilmiah dan kekuasaan industrial.
Walaupun hal ini sering disebut revolusi ilmiah, tetapi

34
lebih berupa revolusi tentang ilmu ketim bang di
dalam ilmu. Dalam sebagian besar bidang penelitian,
kemajuan berlanjut terus hingga berabad-abad, dan
membuat lingkungan sosial di luar ilmu berubah se­
cara drastis. Karena sebagai penyebab utama lahirnya
dan cepatnya difusi filsafat ini, maka perubahan radikal
dalam pengetahuan umum kaum terdidik tentang
dunia harus diperiksa: singkatnya, perubahan itu ialah
dari gagasan suatu kosmos yang hid up yang berasal
dari masa-masa yang terdahulu menjadi suatu alam
semesta yang mati.
Target utama serangan para revolusioner ialah
pendidikan tradisional yang lebih tinggi yang disebut
Skolastik. Skolastisisme mengasumsikan sebuah dunia
yang hidup, yang diciptakan dan dijaga oleh Allah
benar-benar hanya demi kebaikan manusia, dan studi
mengenai dunia sebagian besar diselesaikan dengan
mengutip otoritas-otoritas, baik yang bersifat filosofis
maupun dari sumber-sumber kitab suci. Fungsi pe­
ngetahuan ini untuk m erasionalisasi pengalam an
inderawi dalam harmoninya dengan agama wahyu.
Sebaliknya, ilmu-ilmu terdahulu dan terhormat me­
ngenai astrologi dan alkimia dan yang berhubungan
dengannya pada umumnya ditolak mentah-mentah
oleh para filsuf baru dengan suatu cemoohan sekilas
karena menurut akal sehat mereka, kedua ilmu ini
sangat menggelikan sebab tak menuntut adanya pem-
buktian bahwa sesuatu itu tidak benar. Demikianlah

35
di tahun 1600 seorang terpelajar tahu bahwa Bumi
terletak di pusat kosmos, pusat perubahan, bersifat
fana, orang Kristen akan diselamatkan, sementara di
atasnya planet-planet dan bintang-bintang mengitari,
m urni dan tidak berubah namun digerakkan oleh
sejenis inteligensi atau roh-roh ilahi dan juga memberi
isyarat kepada peristiwa-peristiwa manusiawi r^ielalui
lokasi-lokasi dan aspek-aspeknya. Seratus tahun
kemudian, keturunan orang Kristen yang sama, tahu
(jika ia tidak tinggal di suatu daerah yang dikendalikan
oleh Gereja Katolik) bahwa Bumi hanyalah salah satu
di antara planet-planet yang bergerak melintasi ruang
kosong yang tak terbayangkan jauhnya dan bahwa
Allah masih dapat menjalankannya. Sama halnya, orang-
orang terdahulu, sebagai pribadi yang rasional, akan
menerima bukti bekerjanya sihir-sihir dan lazimnya
keberadaan para dukun; sementara orang yang bela-
kangan, dengan rasa pasti yang sama, akan menolak
mentah-mentah semua cerita-cerita itu yang dianggap
sebagai efek-efek penipuan untuk kasus yang satu dan
penyiksaan untuk kasus yang lain.
Para nabi tokoh-tokoh revolusioner abad ke-17
— abad revolusi ini ialah Francis Bacon di Inggris, lahir
tahun 1567, dan Galileo Galilei di Italia, lahir tahun
1564. Masing-masing bertekad melakukan suatu misi
besar di samping fakta-fakta dan teori-teori khusus,
dan masing-masing dalam caranya sendiri merasakan
kekalahan yang tragis. Bacon, yang bekerja secara

36
profesional di bidang hukum dan politik, meminjam
tema-tema dari para filsuf pietistik terdahulu dan
memandang dirinya sebagai orang yang meresmikan
suatu pembaharuan pengetahuan, sehingga penebus-
an material umat manusia dapat beriringan dengan
keselam atan spiritual dalam mempersiapkan masa
depan yang penuh kedam aian dan kem akm uran
(millenium). Ia berharap dapat melaksanakan program
ini melalui dukungan kerajaan namun program ter­
sebut menjadi hancur saat karir publiknya mendadak
diberhentikan dalam suatu pemecatan yang tidak adil.
Descartes percaya bahwa ia telah menyelamatkan ke-
benaran dan agama dari kritik merusak para skeptis,
melalui sebuah metode yang didasarkan pada contoh
geometri. Dengan alat itu ia berharap menjadi Aristoteles
baru, yang mengkonstruksi suatu filsafat yang lengkap,
mulai dari mekanika sampai pada ilmu kedokteran.
Demikianlah ia akan meresmikan sebuah epos baru
umur panjang dan kebijaksanaan, karena mewujud-
nyatakan program rasa persaudaraan mistis kaum
Rosicrucian beserta idealisasinya, dia menjadi orang
yang diperhitungkan. Namun pekerjaannya tersebut
macet dalam kompleksitas setiap aspeknya, dan men-
jelang akhir hidupnya yang singkat, ia tahu bahwa ia
hanyalah seorang metafisikus dan matematikus yang
besar. Galileo kurang mementingkan yang ideal dan
lebih mementingkan praktek. Ia hanya berkeinginan
m en gh an cu rk an konsep si filsafat S k o la stik dan

37
menggantikan dengan filsafatnya, sebentuk pencarian
bebas suatu alam semesta matematis yang tak ber-
pribadi. Baginya sistem Copernican merupakan fakta
yang sangat indah dan juga merupakan senjata ampuh
untuk melawan para profesor bod oh. Ia tak begitu peka
terhadap konsekuensi religius dan ideologis pemikir-
annya yang merupakan revolusi kecil pada zaman dan
tempatnya, sehingga ia membuat kesalahan besar yang
m enim bulkan bencana, yakni berkonflik dengan
teman seniornya dan pelindungnya, Paus Urban VIII.
Walaupun ia berada dalam tahanan rumah, sakit dan
menjadi buta namun ia tetap memendam kebencian
yang terus berkobar terhadap musuh-musuhnya dan,
di usia 74 tahun, mahakaryanya tentang mekanika
diterbitkan, Two New Sciences. Kontribusi Bacon bagi
ilmu memang tidak terlihat, namun ia memberikan
suatu cita-cita yang mengilhami dan juga pertimbang­
an-pertim bangan yang cerdas m engenai aktivitas
sosial ilmu. Descartes menciptakan suatu metafisika
baru, suatu aljabar dan geometri yang maju dan bebe­
rapa hasil-hasil di bidang fisika yang dapat diterima
(penjelasan pelangi). Kerja keras Galileo yang sangat
luas bagi Kopernikus hanya mempunyai pengaruh
kecil yang tak langsung, dan itu merupakan sebuah
campuran; namun dengan mekanikanya ia membawa
kejelasan relatif kepada ilmu gerak dan meletakkan
fondasi-fondasi yang kokoh bagi karya masa depan.

38
Meskipun mereka berbeda-beda dalam gaya dan
kontribusinya, ketiga nabi ini mempunyai tekad yang
sama terhadap dunia alamiah dan studinya. Alam itu
sendiri mereka lihat sebagai sesuatu yang tidak mem­
punyai sifat-sifat manusiawi dan spiritual. Tak mungkin
ada dialog dengan alam, entah itu memakai penerang-
an mistis atau otoritas yang mendapat ilham. Lebih
tepatnya, alam harus diselidiki dengan serius dan tak-
berpribadi, dengan memakai pengalaman inderawi
dan nalar. Fenomena aneh dan ajaib, seperti gempa
bumi, kesembuhan ajaib, kelahiran-kelahiran yang
ganjil yang dulu merupakan objek spekulasi, kini di-
pandang kurang penting dibanding pengam atan-
pengamatan yang teratur yang dapat diulangi. Per­
hatian penuh dan disiplin diri diperlukan dalam peng­
amatan juga dalam berteori, dan pekerjaan kooperatif
diperlukan untuk akumulasi yang mantap dan peng-
ujian hasil-hasilnya.
Tujuan-tujuan penelitian yang masih memper-
tahankan pengaruh m agis dalam idealisasi filsuf
tradisional tentang kebijaksanaan kontemplatif telah
digantikan dengan dominasi alam demi keuntungan
m anusia. Tetapi hilangnya kepercayaan terhadap
kekuatan-kekuatan magis, menyebabkan perubahan-
perubahan dalam metode-m etode dan juga dalam
tanggung jawab. Dengan tiadanya kekuatan-kekuatan
sihir dan obat-obat awet muda (elixirs), pengetahuan
alam menjadi bermanfaat ketika diterapkan kepada

39
p erbaik an -p erb aik an kecil industri dan ilmu ke-
dokteran, serta tidak bersifat merusak. Demikianlah
optimisme moral ilmu Eropa modern membangun
fondasi-fondasinva dan menjadi akal sehat yang tak
dipersoalkan sampai jatuhnya bom atom di dua kota
beradab Hirosima dan Nagasaki.
Kemapanan masyarakat-masyarakat ilmiah me­
rupakan hasil langsung konsepsi baru pengetahuan
alamiah dan m etode-m etode pencapaiannya. Sejak
awal sudah disadari bahwa masyarakat-masyarakat
tersebut, dengan jurnal-jurnalnya, harus mencapai
harmoni antara kebutuhan-kebutuhan komunitas akan
penyebaran hasil-hasilnya yang cepat dengan ke­
butuhan-kebutuhan para ilmuwan akan perlindungan
milik pribadi atas hasil-hasil kerja kerasnya. Royal
Society di London, yang memproklamirkan ketaatan-
nya terhadap cita-cita yang telah ditetapkan oleh
Fran cis Bacon dan m enyem bunyikan hubungan-
hubungannya dengan para pem baharu yang ada
dikubu parlemen, diberi izin dengan piagam resmi
dalam tahun 1662 oleh.raja yang baru saja dipulihkan
kekuasaannya, Charles II. Orang Perancis mengikuti
contoh itu, beberapa tahun kemudian kerajaan-keraja-
an di Eropa kontinental juga melakukan hal yang sama.
G aya-gaya nasional m enyatakan diri sejak awal.
Contohnya, Royal Society, merupakan suatu kelompok
yang bersifat pribadi dengan dukungan raja yang tak
lebih dari dukungan moral, sementara akademi-akademi

40
kontinental didirikan oleh negara dan para anggotanya
m endapatkan penghasilan, m eskipun m ereka ke-
hilangan kebebasannya.
Berkenaan dengan susunan dan cara kerja dunia
alamiah, Para filsuf baru (kecuali Bacon) mengasumsi-
kan bahwa semua fenomena inderawi merupakan hasil
interaksi partikel-partikel materi yang kecil. Partikel-
partikel ini tidak m em punyai inteligensi ataupun
tujuan, sehingga paradigma reaksi ialah pertabrakan
bola-bola. Karena itu kualitas-kualitas benda yang
dapat dilihat dan dirasakan oleh panca indera (yang
merupakan dasar ilmu A ristoteles) hanya bersifat
sekunder, hanya akibat-akibat yang ada dalam pikiran
kita. Kualitas-kualitas primer adalah yang mampu
dilukiskan secara matematis. Meskipun pandangan
ini mempunyai banyak variasi yang diperdebatkan
(N ew ton khususnya m enam bahkan daya sebagai
unsur yang nyata), terdapat demarkasi yang sangat
jelas antara pandangan yang mengikuti dengan pan­
dangan yang menentangnya, A ristotelianism e dan
aikemia.
Dalam beberapa bidang filsafat baru tersebut
cocok dengan kemajuan yang dicapai pada tahap itu,
dan b id ang-bid ang itu m engalam i tran sform asi.
Seperti kosm ologi, m ekanika dan pneum atika. Di
tempat lain di bidang ilmu kemajuan-kemajuan yang
dicapai tidak terlalu besar. Optik mendapatkan awal
modernnva dari Kepler, sedangkan elektrisitas dan

41
m agnetism e dari G ilbert. Teori kimiawi tidak meng-
alami perkem bangan yang berarti; penjelasan-pen-
jeiasan Robert Boyle di Inggris berkenaan dengan sel
darah (pada pertengahan abad ke-17) hanya merasio-
nalisasi ide-ide yang sudah ada. Di bidang biologi dan
kedokteran, meskipun ada usaha prematur reduksi
menuju model fisika, namun hal ini tidak memper-
lihatkan hasil hingga dua abad kemudian. Dampaknya
yang langsung pada teknologi terbatas pada rasionali-
sasi m esin-m esin sederhana dan pengem bangan
teknik-teknik vakum. Dengan demikian filsafat baru
bukan merupakan generalisasi dari keberhasilan ilmu
baru. Lebih tepatnya suatu komitmen metafisik yang
mendahului, yang akhirnya membuktikan kesubur-
annya di segala bidang, terhadap generasi-generasi
berikutnya.
Dengan adanya keadaan-keadaan ini, tidak meng-
herankan bahw a banyak ilm uw an, khususnya di
bidang kimia dan kedokteran, m enolak anggapan
bahw a filsafat p artikel (corpu scu lar) m erupakan
penghidupan kembali sistem ateistik kuno yang tak
bergu na, karena, jika p artikel tidak m em punyai
inteligensi atau tujuan, tabrakan-tabrakannya acak,
aksidental, maka keseluruhan alam semesta menjadi
tak bertujuan. Pada waktu itu kimia belum merupakan
studi yang proses-prosesnya terkendali, yang me-
libatkan reagen-reagen murni melainkan masih terikat
pada praktek keahlian industrial dan ilmu kedokteran

42
Parakelsian. Selam a Perang Sipil, di Inggris ber-
langsung perdebatan mengenai hakikat dan fungsi
ilmu serta pendidikan. Dalam perdebatan tersebut
para sarjana yang berorientasi matematis menempat-
kan diri dalam kubu konservatif. Isu yang dimunculkan
oleh John Webster di tahun 1654, seorang ahli kimia,
ialah apakah universitas-universitas harus mengganti
kurikulum kuno m ereka, kurikulum lepas (sterile
curriculum), dengan studi-studi murni, yang keras serta
keahlian-keahlian praktis yang didasarkan pada kimia
Parakelsian atau tidak. Para pendukung status quo (ter-
masuk para cikal-bakal Royal Society) berargumen
bahwa ajaran ilmiah yang sejati tersedia bagi orang
yang m enginginkannya; tetapi akhirnya terpaksa
mengakui bahwa mereka menerima peranan univer-
sitas sebagai sekolah penyempurnaan bagi kaum elit
karena itu tidak akan menyusahkan para siswa dengan
pelajaran-pelajaran baru yang diwajibkan.
Karir Sir Isaac Newton di penghujung abad ke-17
melukiskan berbagai keruwetan yang masih berlang-
sung, meskipun revolusi ilmu telah berhasil gemilang.
Newton adalah salah seorang ilmuwan terbesar dan
seorang matematikus terkemuka di sepanjang zaman.
la menyatukan langit dan bumi dalam satu hukum
daya tarik yang tak-berpribadi, hukum gravitasi, dan
juga membawa suatu ketepatan logis yang baru ke­
pada m etode-m etode penyelidikan kuantitatif eks­
perimental. Meskipun ia membela kejelimetan dalam

43
berteori, namun ia masih percaya akan kemungkinan
dan ketepatan menarik kesimpulan dari fenomena
alam menuju suatu diskusi m engenai-dew a-dew i
(deity). Ketika ia tiba pada fondasi-fondasi fisikanya
dan mendiskusikan ruang, waktu, gravitasi, serta daya,
dia menemukan relevansi langsung teologi. Ia juga
memakai metode-metode astronomis untuk memper-
baiki kronologi kuno dan alkitabiah dan sungguh-
sungguh percaya bahw a studi terhadap nubuat-
nubuat Perjanjian Lama akan menghasilkan penafsiran
yang benar, sehingga memberikan tuntunan dalam
urusan-urusan politik-religius di zamannya. Maha-
karyanya, Principia (1687) dalam banyak segi adalah
puncak revolusi ilmiah. Akan tetapi pada masa itu
tampak dorongan untuk revolusi ilmiah sudah me-
lemah, dan tak ada ilmuwan baru yang tampil ke depan
dengan kecakapan yang sama. Sebenarnya, dengan
berakhirnya abad ke-17 minat di bidang filsafat alam
telah sedemikian surut sehingga Royal Society nyaris
bubar. Newton sendiri menghidupkan kembali per-
kumpulan ini mulai dari tahun 1704 sehingga menjadi
sebuah perkum pulan orang-orang terhormat yang
menikmati kesempatan mendengarkan eksperimen-
eksperimen dan koleksi-koleksi. Walaupun demikian
karya utama revolusi dalam filsafat telah diselesaikan,
dan kebudayaan tulisan Eropa, termasuk ilmu, telah
diletakkan dengan kukuh pada jalan menuju sekularisasi
yang sempurna.

44
Citra Newton mendominasi ilmu dalam abad ke-
18, seperti sahabatnya, John Locke m endom inasi
filsafat. Awal abad ke-18 adalah masa yang gemilang.
Eropa sembuh dari kekalutan selama dua abad se-
belumnya. Di luar lingkungan Pencerahan (Enlighten­
ment), tak ada perjuangan filosofis yang besar, dan ilmu
yang dipraktekkan sebagian besar berupa pengukuh-
an (consolidation). Segelintir matematikus besar (ke-
luarga Bernoulli dan Leonhard Euler, semuanya orang
Switzerland) mengembangkan kalkulus differensial
dan integral yang ditem ukan oleh seorang filsuf
Jerman Gottfried Leibniz menuju bentuk yang diajar-
kan sekarang ini. Sejarah alamiah berkembang secara
mantap, memperoleh pengaturan sosial dan sintesis
intelektual dari seorang ahli botani Swedia, Carolus
Linnaeus. "Filsafat eksperimental" telah diolah oleh
orang terhorm at, dan sebuah teori yang gemilang
mengenai elektrisitas statis telah dirumuskan oleh
ilmuwan dan diplomat Amerika, Benjamin Franklin.
Meskipun prestasi-prestasi ini bukan kemajuan besar,
namun dengan kokoh menetapkan suatu gaya tertentu
ilmu yang dibela oleh para nabi filsafat yang baru,
walaupun, tentunya, tanpa inspirasi revolusionernya.

3. H akikat Ilmu Eropa

Karakter khusus ilmu Eropa dapat dijelaskan me-


lalui keadaan-keadaan ketika para ilmuwan meng-
garap bahan-bahan yang diwarisi selama dua fase ber-

45
turut-turut. Hal itu mencakup prinsip dasar pengenal-
an dunia alam iah m elalui argum en dem onstratif,
prinsip yang pertama kali dicapai dalam kebudayaan
Yunani, kemudian dipungut oleh peradaban Islam
namun bukan yang lain. Meskipun pada permulaan
Renesans, ilmu Eropa dan teknologi berasal dari tra-
disi-tradisi yang lebih tua dan umumnya kedudukan-
nya lebih rendah, ciri-ciri khas tertentu masyarakat
Eropa pada zaman itu memungkinkannya membuat
kemajuan pesat luar biasa. Kendatipun masyarakat
masih sebagian besar agraris, tidak demokratis, dan
terstratifikasi oleh posisi sosial yang diw ariskan,
namun ada beberapa wilayah di mana gay a kehidup-
an sosial lebih luwes dan individualistis daripada di
tem pat lain dim anapun. Ada kebebasan membuat
penemuan dan mengeksploitasi penemuan seseorang
demi tujuan pribadi tanpa dihalangi oleh penindasan
negara. Dalam peradaban-peradaban lain (di Timur
Jauh atau di Eropa Abad Tengah), inovasi teknis di-
awasi dan ditindas jika mengancam stabilitas politik
atau sosial. Dalam masyarakat Eropa yang relatif ber-
ubah-ubah, setiap individu terdorong untuk melaku-
kan inovasi sebab dengannya mereka dapat memaju-
kan diri sendiri. Selain itu sekat-sekat antara bidang
aktivitas yang berbeda-beda, dan penyesuaiannya
dengan kelas-kelas yang ada, tidak terlalu ketat se­
hingga membolehkan orang terpelajar berkecimpung
dalam penemuan dan, memanfaatkan pengetahuan

46
dan keahlian baca-tulisnya. Penemuan dapat terjadi
di bidang peralatan atau pengetahuan; orang dapat
bergerak dengan bebas dari obyek yang satu kepada
yang lain dan kem bali lagi. Konteks pem antapan
aktivitas tersebut adalah ekspansi komersial dan politis
negara-negara yang agresif dan yang bersaing satu
sama lain, dan negara-negara Eropa melawan dunia.
M asyarakat ini telah disebut kapitalisme awal, dan
meskipun struktur-struktur politisnya cenderung ke­
pada prinsip negara absolut, namun masih liberal bila
dibanding dengan masyarakat-masyarakat totalitarian
di zaman kuno dan zaman yang lebih belakangan dan
zaman-zaman yang belum lama berselang. Dan hal itu
merupakan titik-titik fokus perkembangan komersial
dan manufaktur di masa itu (Italia, Jerman selatan),
pada saat itulah seni-seni teknis mengalami kemajuan
yang sangat pesat.
Meskipun menjelang berakhirnya abad ke-16 ilmu
Eropa m engungguli sum ber-sum ber dan saingan-
saingannya, namun hasil-hasilnya masih belum ber­
beda secara kualitatif dari mereka. Sampai kemudian
datanglah revolusi dalam filsafat yang mengubah
ben tu k ilm u Eropa m enjadi sesu atu yang unik.
Sebenarnya hal itu sudah ada pada periode-periode
sebelumnya ketika filsafat atomistik materi dibela,
namun masih berupa spekulasi filosofis. Di masa kini
filsafat itu disuntikkan ke dalam perkembangan ilmu
yang sedang tumbuh subur. Awalnya perlahan, namun

47
dengan sedikit mempercepat langkah, sintesis telah
mampu menciptakan suatu jenis ilmu baru. Penemuan
paling penting ialah gaya baru aktivitas sosial pene-
litian, di mana kerahasiaan dan kekejaman persaingan
yang menjadi ciri para penemu pribadi dikendalikan
dan ditertibkan oleh tekad untuk bekerja secara ber-
sama-sama demi kebaikan umum. Akar keadaan ini
tertanam pada saat hilangnya kepercayaan pada ke­
kuatan-kekuatan magis, sehingga tak seorang pun ber­
harap dapat menyingkap rahasia-rahasia alam semesta
dengan usaha sendiri. Selain itu, idealisme para nabi
filsafat baru juga menyerukan etika kerja sama pe-
nelitian yang baru, dan meskipun inspirasi ini lambat-
laun menyusut, pengaruh-pengaruhnya dipertahan-
kan oleh penyesuaian kode kehormatan para sarjana.
Dengan demikian rangsangan bersama antara teori dan
praktek, yang dipertahankan dari periode sebelum-
nya, dipusatkan ke dalam kekuatan proses kumulatif
dan swa-koreksi fakta-fakta yang tahan uji tentang dunia
alam iah. Keberhasilan filsafat baru terbukti nyata
menjelang berakhirnya abad ke-17, dan kendatipun
langkah kemajuan mengendur selama abad sesudah-
nya, namun prestasi-prestasi zaman sebelumnya di
bidang pengetahuan dan metode tak pernah hilang
lagi. Begitu juga dengan filsafat mengenai benda mati,
ternyata, dalam jangka panjang menjadi strategi yang
berdayaguna bagi kemajuan ilmiah, meskipun banyak
mengalami kesulitan akibat titik tolak yang keliru,

48
ilmu-ilmu gabungan kimiawi dan ilmu sosial pada
akhirnya dapat membuat kemajuan-kemajuan pada
abad ke-19 dengan hanya berdasarkan konsepsi reduk-
sionis atas dunia alamiah.
Ringkasnya, karena itu, ilmu Eropa berhutang
budi pada keberhasilan-keberhasilan masa lampau
dan karakter khususnya yang mempunyai andil pada
m etafisika dan m etode-m etodenya, ciri-ciri dasar
m asyarakat Eropa: individualisme agresif yang di-
tempa oleh suatu prinsip bekerja sama untuk ke-
maslahatan umum. ❖

49
I t / ILMU DI ZAMAN
1V REVOLUSI MODERN

Menjelang abad ke-18, mulailah revolusi industri


yang m entransform asikan Eropa dari m asyarakat
agraris m enjadi m asyarakat perkotaan; pada akhir
abad inilah terjadi Revolusi Prancis, saat mana ide-
ide politik modern dipraktekkan untuk pertama kali.
Aktivitas ilmu mengalami perubahan-perubahan yang
serupa. Pada masa ini pula fondasi-fondasi sosial dan
kelembagaan menantikan matangnya ilmu di abad
ke-19. Bersamaan dengan itu muncullah reaksi romantik
dalam kesusasteraan dan seni yang mempunyai peran
penting dalam ilmu itu sendiri.
Pada awal periode ini, ilmu merupakan aktivitas
yang dilakukan dalam skala yang sangat kecil, ke-
banyakan diupayakan oleh para gentleman yang kaya
atau oleh para profesional terlatih, seperti fisikawan
dan para insinvur, di waktu-waktu luang mereka.

50
Hanya segelintir universitas (misalnya, Edinburgh
dan Leiden) yang memberikan instruksi ilmu yang
efektif. Ilmu-ilmu matematik (matematika, astronomi,
mekanika, optik) dikembangkan dengan baik, namun
fisika masih merupakan eksperimen-eksperimen yang
tercerai-berai dengan teori-teori yang bersifat kualitatif
dan kebanyakan spekulatif. Kimia hampir seluruhnya
bersifat empiris, dan ilmu-ilmu kehidupan kebanyak­
an dipautkan dengan aktivitas-aktivitas para kolektor.
Pada akhir periode ini ada contoh-contoh kerja ilmiah
terorganisir yang sangat berhasil, dan fondasi-fondasi-
nya telah disiapkan untuk teori-teori yang runtut dan
efektif di sebagian besar bidang ilmu.

1. Ilmu Selam a R evolusi Industri

Dalam transformasi industri Eropa yang bertahap


namun mendalam, sumbangan langsung ilmu, pada
mulanya kecil. Kebanyakan kemajuan awal berasal
dari rasionalisasi teknik-teknik kerajinan dan pe-
nem uan-penem uan mesin sederhana untuk meng-
gantikan penggarapan-penggarapan manual. Bahkan,
bahan-bahan elementer dan pendekatan eksperimental
yang berasal dari buku-buku pegangan populer, mem­
punyai peranan penting. Teknologi daya (power tech­
nology), inilah yang pertama kali dipengaruhi oleh
penerapan-penerapan ilmu. Ditemukannya mesin uap-
vakum di Inggris (tahun 1711) yang berasal dari

51
Pneumatika abad ke-17, dan diperbaharui oleh se­
orang insinyur Inggris, James Watt sejak tahun 1763
dan seterusnya, dipandang erat sekali kaitannya
dengan perkem bangan-perkem bangan dalam teori
panas (theory o f heat). Demikian pula industri kimia
terbantu dengan pengorganisasian pengetahuan kimia
yang dihasilkan oleh guru medis terkemuka Belanda,
Hermann Boehaave dan para pengikutnya. •
Sumbangan Revolusi Industri kepada ilmu, per-
tama-tama tidak langsung Dalam rangka industriali-
sasi d aerah -d aerah In g g ris (Low lands Scotlan d ,
M idlands dan Cornwall), dikembangkanlah suatu per-
temuan resmi untuk hasil-hasil ilmiah. Filsuf peng-
usaha seperti josiah Wedgwood, pengrajin tembikar
dan pembaharu sosial, bergabung bersama para fisi-
kawan untuk mengupayakan penelitian. membentuk
masyarakat-m asyarakat setempat, dan mendukung
para ilmuwan. Di penghujung abad itu, bukan hanya
kuliah lepas tetapi juga publikasi jurnal-jurnal bagi
para spesialis menguntungkan secara ekonomis. Di
bagian Eropa kontinental, monarki-monarki yang lebih
maju mendirikan perguruan-perguruan tinggi teknik,
baik industri, sipil ataupun militer; perguruan-per­
guruan tinggi ini m em berikan latihan bagi para
anggota baru yang potensial dan juga menyediakan
pekerjaan-pekerjaan. Di Inggris, meskipun telah di-
mulai sejak awal dan diminati secara luas, pelatihan
lanjutan tetap tidak berkembang, padahal secara lokal,

52
lembaga-lembaga yang dibiayai dalam rangka untuk
menciptakan pengrajin-pengrajin profesional sedang
menggejala pada periode ini dan periode selanjutnya.
Meskipun sebagian besar masalah yang muncul dalam
praktek industri dan kedokteran di luar jangkauan
teori-teori ilmiah pada masa itu, namun tidak diragu-
kan bahwa harapan akan pemecahannya memuncul-
kan suatu rangsangan dan audiens untuk meneliti,
sehingga akhirnya membawa pada kemajuan ilmiah
secara tidak langsung.

2. A sal-usul Intelektual Revolusi

Permulaan yang agak lebih awal dari Revolusi


Industri adalah sebuah gerakan yang berpusat di
Perancis, yang pertama kali membawa ilmu memasuki
bidang politik. Gerakan ini dinamai Pencerahan (Enligh­
tenment). Programnya berjuang menentang dogma
gereja dan takhyul populer. Senjata utamanya ialah
fakta-fakta ilmu dan metode-metode rasional. Pen­
cerahan dimulai dalam tahun 1730-an oleh Voltaire
dalam gelombang pemujaan bangsa Inggris (anglo-
philia); dia memakai citra Newton untuk mengejek
ortodoksi kosmologi dan fisika Descartes yang berlaku
secara resmi pada saat itu. Filsafat-filsafat beroperasi
di lingkungan elit para cendikiawan Paris dan men-
dorong khayalak pembaca yang makin meningkat untuk
buku-buku ilmu populer; contohnya, Newtonianisme
untuk Wanita merupakan buku yang sangat laris. Pada

53
pertengahan abad itu gerakan ini mencapai kematang-
an. Ensiklopedis Denis Diderot dan matematikus Jean
d'Alambert mengedit Ensiklopedia yang sangat tebal,
di dalam nya dem okrasi pengetahuan ditam pilkan
dengan penataan artikel berdasarkan abjad, dan ke-
rajinan-kerajinan teknik diberi kharisma dan derajad
sama dengan diskusi-diskusi metafisik dan ilmiah.
Karena adanya kebencian atas kebodohan dan akhirnya
merosotnya penyensoran, filsafat-filsafat itu segera
m erekrut semua pikiran-pikiran terbaik Perancis.
Mereka menyadari sepenuhnya bahwa mereka harus
meneruskan karya Bacon dalam memajukan penge­
tahuan praktis, namun mereka juga melakukannya
dalam gaya Descartes, menundukkan semua hal, baik
yang berupa sosial maupun filosofis kepada kritik
penalaran. Gerakan segera terpecah menjadi kubu-
kubu para matematikus rasionalis yakni d'Alembert
bersam a m uridnya, M arie-Jean-Antoine Condorcet
(orang yang menjadi korban Teror selama Revolusi);
kubu m rnanH k, D enis D id erot dan Jean-Jacqu es
Rosseau; dan kubu.materialis atheis yang dipimpin
oleh Paul-Henri Holbach. Walaupun demikian, mereka
semua setuju bahwa musuh utama mereka adalah
gereja. Bagi mereka semua, ilmu alam telah diikrarkan
secara filosofis, yang merupakan kebalikan dari ke­
adaan netral dan positif. Dari ide-ide orang-orang ini
lahirlah slogan-slogan Revolusi Perancis, dan konflik-
konflik yang terjadi akhirnya diberantas dengan
bidang kekuasaan politik.

3. Pengaturan Ilmu dalam Revolusi Perancis


Ilmu alam m em punyai peran yang signifikan
pada saat Revolusi Perancis. Dari Pencerahan para
pelaku revolusi mewarisi keyakinan bahwa ilmu dan
metode-m etodenya mengijinkan para ilmuwan ter-
besar mencurahkan perhatiannya untuk mengorgani-
n i i i i h I i i n I i i s m j . i l i i i l r m i m o m p f i Idli.mk.in ivpublik

pada saat dibutuhkan. Selama dan sesudah revolusi


tampak suatu sistem pendidikan yang disokong oleh
n egara; pem berian beasisw a kepada sisw a-sisw i
berbakat, tersedianya pekerjaan-pekerjaan sebagai
pengajar dan penguji, tersedianya subsidi-subsidi bagi
penelitian, dan penghargaan-penghargaan atas pe-
n em uan-penem u an. Pusat sistem itu ialah Ecole
Polytechnique di Paris, sebagian besar ditujukan
untuk melakukan pelatihan pada insinyur angkatan
bersenjata, namun para ilmuwan terkemuka mengajar
di sana, dan mereka mendapat siswa-siswa paling
menjanjikan.
Gaya dom inan ilmu di zam an Revolusi ialah
m atem atis. Dalam penerapannya, m etode-m etode
yang digunakan berupa rasionalisasi. H asil yang
masih ada sampai sekarang ialah sistem pengukuran
yang runtut yang didasarkan pada satuan-satuan
alamiah dan desimal. Pada masa Revolusi, Perancis
sudah mempunyai para matematikus yang termasyur
(Pierre-Simon Laplace, Joseph-Louis Lagrange, dan
Gaspard Monge); dan murid serta pengganti mereka
(Jean-Baptiste-Joseph Fourier, Simeon-Denis Poisson,
dan Augustin-Louis Cauchy) yang tetap mempertahan-
kan mutunya yang tinggi. Begitupun dalam kimia,
pembaharuan peristilahan yang dicapai oleh Antoine
Lavoisier dan rekan-rekannya, masih memperlihatkan
gaya yang matematis dan abstrak. Senyawa-senyawa
kimiawi dilukiskan dengan suatu skema regular dari
kombinasi nama-nama pada unsur-unsur pokoknya,
dan semua nama tradisional dibuang.
Pada puncak Revolusi muncul gerakan balik
dalam ilmu yang menyalahkan pendekatan matematis
karena bersifat steril dan elitis. Bertolak dari inspirasi
yang berasal dari ide-ide demokratik dan romantik
Rosseau dan dipandu oleh fisikawan dan jurnalis senior,
sang revolusioner Jean-Paul Marat, gerakan ini me-
nuntut "ilmu untuk khalayak", yang terbuka bagi para
pengrajin yang terdidik secara otodidak dan yang di-
dasarkan pada kimia praktis dan sejarah alamiah.
Mereka mengalami pemutusan dari Akademi Ilmu-
ilmu, pada saat memperkenalkan Museum Sejarah
Alamiah yang lebih populer. Pertarungan ideologis
dalam soal sifat dasar ilmu kimia barangkali merupa­
kan salah satu faktor eksekusi Lavoisier (1794) selama
terjadinya Teror, tetapi dengan runtuh dan hancurnya
para Jacobin di akhir tahun 1794 (sebuah kelompok

56
politik yang sangat efektif dalam mendukung gerakan-
gerakan demokrasi radikal di masa Revolusi, ketika
itu Marat menjadi pemimpin untuk sementara), kon­
sepsi kimia yang populis ditindas. Ilmu Perancis yang
bergaya rasionalistik dan m eritokratik ditetapkan
dengan tegas.
Di baw ah kekuasaan N apoleon, ilm uw an ter-
kemuka yang masih hid up dan murid-murid generasi
pertama m ereka m enikm ati bantuan dan prestise,
tetapi "sekolah Laplace" mengalami keruntuhan se-
telah restorasi monarki di tahun 1815. Sekelompok
ilmuwan baru vang termasyur mencoba mengambil
alih, tetapi tidak lama kemudian tenaga penggerak
itupun menghilang. Walaupun Paris merupakan pusat
dunia ilmiah pada tahun 1820-an, namun kemandekan
ilmu terjadi juga di sana. Orang bertanya-tanya atas
kejadian ini, tentu sebagian besar karena alasan-alasan
politis dalam kedua kasus ini, yaitu mengenai dua
orang muda yang tersohor kejeniusannya: Sadi Carnot,
orang yang menetapkan Prinsip-prinsip dasar thermo-
dinamika, dan Evariste Galois, pencipta kelompok
teori di bidang aljabar abstrak. Sesudah tahun 1830,
iklim ilmiah di Paris yang selalu menyerap orang
berbakat dari propinsi-prop insi, didom inasi oleh
karierisme, dan pada abad ke-19 penemuan-penemuan
besar dalam ilmu terjadi di berbagai tempat. Para se-
jarawan ilmu masa kini Tnemandang kemunduran ini

57
bukan sebuah kebetulan tetapi sebagai persoalan
yang signifikan yang membutuhkan penjelasan.

4. R e a k si Rom antik dan Ilmu


Sebagaim ana dalam R evolusi Perancis, pada
waktu yang sama, Filsafat Alam (Naturphilosophie)
tum buh subur di Jerman. Para penggem arnya, di-
pandu oleh penyair Goethe dan filsuf Schelling, men-
cela kekeringan dan ke-takberperasannya ilmu mate-
matis dan eksperimental tradisi Newtonian. Sebagai
gantinya, mereka mengajukan sebuah filsafat alam
yang di dalamnya tangan dan mata, pikiran serta roh
semuanya akan dipersatukan. Goethe gagal menyerang
teori Newton mengenai warna, namun ia mengilhami
spekulasi biologis di seputar pengorganisasian dan
penyatuan prinsip-prinsip yang ada di belakang struktur
binatang-binatang vertebrata. Para pengikutnya, se­
bagaimana para pemikir Jerman lainnya pada masa
itu, mengupayakan sintesis-sintesis utama fisik dan
spiritual yang bersifat spekulatif yang menyangkut
seluruh dunia.
Di Inggris, pengaruh-pengaruh Naturphilosophie
sebagian besar terlihat dengan jelas pada penyair-
penyair Rom antik. Sam uel Taylor Coleridge telah
mempelajari dan membagi visinya dengan William
W ordsw orth. D engan bebas W illiam Blake telah
melukis berdasarkan sumber-sumber mistis sebagai
N aturphilosophie, dan ia m encela "A tom -atom nya

58
Demokritus dan Partikel-partikel Cahaya N ew ton"
sebagai bagian dari kebutaan dan dehum anisasi
kebudayaan di zamannya.
Prestasi-prestasi ilmiah para penyokong Natur-
philosophie yang masih ada sampai sekarang hanya
sedikit, walaupun barangkali banyak lagi yang dapat
dikenali bila dilakukan penelitian historis yang lebih
sim patik. Sebagai contoh, penem uan elektrom ag-
netisme (1820) oleh fisika wan Belanda, Hans Christian
0 rsted ,y a n g sekarang dikenal sebagai hasil akhir
penelitian, membutuhkan waktu bertahun-tahun agar
diperhatikan, yang ternyata memperagakan kesatuan
dan pengutuban daya-daya alam. Demikian pula pem-
beritahuan yang paling aw al m engenai gagasan-
gagasan tentang konservasi energi dibuat dalam tahun
1841 oleh seorang fisikawan, Julius Robert von Mayer,
yang mempunyai program yang sama. Pola umum
orang muda pada zaman itu lazimnya terpikat pada
visi kebijaksanaan yang terpadu tersebut selama ber-
ada di u niversitas dan kem udian untuk m engisi
hidupnya mereka mencoba sedapat mungkin mem-
bebaskan diri darinya melalui penelitian yang tekun.
Karir jenis ini dilukiskan dengan baik oleh Hermann
Ludwig Helmholtz, seorang psikolog dan fisikawan
Jerman.
Akhirnya Naturphilosophie menjadi suatu pemikir-
an ortodoksi melalui para profesor universitas. Para
pendiri ilmu eksperim ental di Jerm an pada tahun

59
1830-an dan 1840-an merasa jalannya dirintangi oleh
mereka dan terjadilah pertarungan-pertarungan sengit.
W alaupun para ilm uwan m enang, namun selama
beberapa generasi mereka selalu dihantui oleh hantu
Naturphilosophie, dan mereka bereaksi dengan menge-
kang semua tendensi-tendensi spekulatif yang paling
keras, memperkuat sifat kering dan gaya tak manusia wi
ilmu yang dipandang oleh para penyair dengan pe-
rasaan jijik. ❖

60
V ZAMAN MATANGNYA
ILM U-ILMU

Selama abad ke-19, bangsa-bangsa industri maju


Eropa membaurkan akibat-akibat revolusi Industri
dengan Revolusi Perancis. M asyarakat perkotaan
berkembang biak dari suatu bangsa ke bangsa lainnya
den gan kem aju an b erb asis ind u stri yang teru s-
menerus, mengembangkan birokrasi-birokrasi negara
untuk mengatur perdagangan dan kesejahteraan, serta
meningkatkan partisipasi masyarakat banyak dalam
kehidupan sosial dan politik. Satu demi satu disiplin
ilmiah mengalami kemajuan serupa dalam pencapaian
sistem -sistem yang runtut dan dalam penciptaan
lem baga-lem baga pengem bangan aktivitas ilmiah.
Secara keseluruhan ilmu menganut optimisme abad
ini dan mendapat kepercayaan karena dukungannya
yang dianggap benar terhadap kemajuan industri.

61
1. Ilmu dalam Abad ke-19
Bila kita menoleh ke masa larnpau, abad ke-19
tampak sebagai abad gemilang. Ilmu meluas menjadi
bidang-bidang penelitian baru dengan sangat berhasil.
Perluasan itu m eliputi penggabungan m atem atika
dengan eksperim en dalam fisika, penerapan teori
kepada eksperim en dalam kim ia, dan eksperim en
yang terkendali dalam biologi. Hal ini didukung oleh •
berdirinya universitas-universitas baru dan yang telah
diperbaharui yang menyokong dilakukannya pene­
litian, pengajaran dan kom unikasi melalui jurnal-
jurnal dan komunitas-komunitas spesialis. Di peng-
hujung abad ini sudah m em pakan hal yang biasa di-
selenggarakannya pertemuan-pertemuan internasio-
nal, baik mengenai ilmu-ilmu secara umum maupun
mengenai disiplin-disiplin khusus. Penelitian yang
diorganisir secara sosial m enjadi lebih efektif ke-
timbang yang dilakukan sendiri-sendiri oleh individu.
Di semua bidang pembelajaran, metode-metode yang
serba ketat dan pengetahuan yang luas serta men-
dalam, semakin meningkat. Edisi-edisi Encyclopaedia
Britannica yang terbit di penghujung abad ini, dengan
paparan historisnya yang panjang mengenai tiap ilmu,
adalah monumen bagi abad ini dan tetap merupakan
sumber inform asi yang sangat berharga bagi para
pelajar.

62

k
1.a. Perbedaan-perbedaan dalam Gaya Penelitian
Masih terlihat perbedaan-perbedaan mencolok di
antara bangsa-bangsa terkemuka berkenaan dengan
kenyataan-kenyataan dan gaya penelitian. Di Inggris,
terlihat jelas tiadanya lembaga-lembaga yang memberi
pekerjaan kepada peneliti, sehingga tradisigentlemen-
am ateur berlangsung jauh lebih lama daripada di
tempat lain. Misalnya, matematikus Charles Babbage,
fisikawan James Joule dan biolog Charles Darwin. Hal
ini menyebabkan ilmu Inggris lebih kurus dibanding
Jerm an, khususnya dalam bidang-bidang terapan
seperti kimia. Namun lingkup gaya individual dan
keeksentrikannya mampu m enutupi kekurangan-
kekurangan kuantitatif. Di Jerman, ilmu-ilmu alam
mempunyai andil dalam memunculkan sistem univer­
sitas yang standar dan bergengsi. Di sana penelitian
dan pengajaran dipadukan, dan untuk pertama kalinya
didirikan laboratorium pelatihan penelitian, yakni
oleh ahli kimia Jerman, Justus von Liebig dan sekolah-
nya. Dengan basis kelembagaan ini dan perlengkapan
ilmiah yang sangat maju seperti buku-buku pegangan
dan jurnal-jurnal, ilmu Jerman yang bangkit pada tahun
1830, menempati posisi sebagai pemimpin di segala
bidang. Dalam periode ini juga, ilmu Perancis merosot
dari posisi sebelum nya sebagai pem im pin dalam
periode R evolusioner dan periode N apoleon. Di
pinggir Eropa, Rusia mempunyai sebuah akademi
yang kuat dan beberapa universitas yang progresif di

63
tengah-tengah kondisi-kondisi yang umumnya ter-
belakang, dan suatu tradisi ilmiah bermutu tinggi
(yang d ip ancangkan oleh orang seperti N ikolay
Lobachevsky dan Dmitry Mendeleyev) tersedia untuk
membantu m odernisasi yang melaju dengan pesat
menyusul Revolusi pada tahun 1917. Sepanjang abad
ke-19 Amerika Serikat masih tetap merupakan suatu
koloni kultural Eropa, kecuali untuk batas tertentu di
bidang ilmu-ilmu. Universitas-universitasnya yang
besar lebih berorientasi kepada hal-hal yang bermanfaat,
m em berikan sumbangan sosial yang kecil bagi pe­
nelitian murni. Di sekitar penghujung abad ini, ilmu­
wan Amerika pergi ke Jerman dalam jumlah yang besar
dan sekembalinya menciptakan tradisi-tradisi yang
kuat. Namun untuk mencapai kepemimpinan yang
bermutu, Amerika Serikat membutuhkan masuknya
para sarjana pengungsi dari Nazi Jerman pada tahun
1930-an.
Komitmen terhadap apa yang disebut ilmu murni
berhasil dengan baik dalam sistem universitas Jerman.
Di Inggris, pelaku ilmu dapat melibatkan diri dengan
bebas dalam debat-debat filosofis m aupun dalam
penerapan industri. Contoh pentingnya ialah Lord
Kelvin di bidang Fisika; isu yang diungkapnya bukan-
lah keterpcncilan sang sarjana dari dunia melainkan
kebebasan bertindak sang gentlemen. Juga, dominasi
ilm u-ilm u m atem atis dan eksperim ental terhadap
bidang ilmu-ilmu bertumbuh sangat lambat selama

64
periode ini. Di awal abad ini geologi merupakan ilmu
terkem uka. G eologi m em iliki sisi filosofis dalam
spekulasi-spekulasinya mengenai sejarah Bumi dan
memiliki sisi praktis dalam pemanfaatan sumber daya
alam. Sejarah alam, yang diwarisi dari abad ke-18,
membantu tuan tanah dan juga penyelidik dan kolektor
lepas (free-lance collector), seperti Thomas Henry Huxley
di bidang biologi. Hanya dalam bagian terakhir-abad
itu terlihat kecenderungan yang menandakan ke arah
dom inasi peneliti profesional yang terspesialisasi,
dengan para ilmuwan eksperimental yang abstrak
sebagai pem im pinnya. Indikasi bertahapnya per­
ubahan ini di Inggris dapat dilihat dalam perlawanan
terhadap dua istilah yakni ilmuwan (scientist) dan
fisikaw an (physicist). M eskipun m enandakan pe-
makaian umum dalam tahun 1830-an, kedua istilah
itu dinyatakan tidak berlaku oleh pelaku ilmu dan juga
oleh para filsuf alamiah hingga awal abad ke-20.
Hubungan ilmu dengan penerapan-penerapannya
mempunyai perubahan bertahap yang sama; meskipun
terdapat klaim -klaim yang bertentangan, transisi
langsung dari proses-proses laboratorium menuju
pabrik menjadi efektif hanya menjelang akhir abad
ke-19. Pada awal periode ini, ilmu-ilmu terapan yang
sangat sukses ialah yang bersifat tradisional yakni
teknik-teknik deskriptif yang penting bagi negara.
Ilmu-ilmu ini ialah disiplin-disiplin abstrak kartografi
matematis dan perbentengan atau studi-studi sejarah
1

alamiah yang sangat mendalam. Belakangan fisika


terlibat langsung dalam proses baru secara kualitatif,
seperti generasi tenaga uap yang telah diperbaharui
(steam-poioer) dan telekomunikasi listrik. Mula-mula
kim ia m em berikan sum bangan bagi rasionalisasi
proses industri dan juga mengefektifkan teori-teori
pertanian dan nutrisi. Gebrakan ilmu kedokteran me-
lalui terapan muncul sangat lambat, bersama teori
bakteri (germ theory) mengenai penyakit. Dan penting
untuk diingat bahwa kemajuan kehidupan dan umur
panjang di sepanjang abad ini dipandang lebih banyak
bergantung kepada sabun dan saluran air yang baik
— yaitu, perbaikan sanitasi dan kemajuan ekonomi—
ketimbang ilmu medis. Bahan cat (dyestuff) sintetik
adalah contoh pertama penemuan laboratorium yang
langsung memberikan keuntungan, dan ini merupakan
temuan Jerm an. Sebenarnya, penemuan dilakukan
tahun 1856 oleh seorang Inggris, William Henry Perkin;
namun ia adalah murid pakar kimia Jerman August
Wilhelm von Hofman, dan orang-orang Jerman segera
mengambil posisi yang kuat dalam industri ini berkat
sistem pendidikan teknik mereka yang lebih tinggi
bagi para ilmuwan industri. Pada akhir abad ke-19
Jerman mendominasi seltiruh industri kimia, dan juga
industri peralatan listrik berat. Hanya orang Amerika,
dengan kombinasi antara pasarnya yang besar dan
para penemunya yang bebas, yang dapat menyaingi
secara efektif. Perancis tertinggal jauh karena mereka

66
kehilangan posisi kepemimpinan yang dulu mereka
capai melalui pendekatan rasionalnya terhadap ilmu
teknik, dan Inggris berhenti pada prestis awalnya
sebagai bengkel dunia . Perang Dunia II memperlihat­
kan kemampuan Jerman mensintesiskan amonia untuk
baltan-bahan peledak nitrat dari udara (proses Haber),
sementara Inggris bergantung pada Chile untuk ke-
butuhan bahan peledak nitratnya.

1.b. Kemajuan dalam Fisika


Selama abad ke-19, tiap cabang induk ilmu eks-
perimental menghasilkan kemajuan besar, yang bila
ditinjau ke belakang pada keadaan awalnya, tampak
m erupakan tingkat perm ulaan. Fisika m encapai
penyatuan eksperimentasi yang ketat dengan teori
matematik abstrak yang membawa pengetahuan yang
tak terduga dalam nya serta kekuatan penerapan
pengetahuan itu. Bidang yang berbeda-beda ditunduk-
kan di bawah kendali dan kemudian disatukan secara
berturut-turut oleh konsep energi. Thermodinamika
menyatukan ilmu-ilmu tentang panas (heat) dan kerja
(work) dan kemudian memungkinkan sebuah teori
untuk mengembangkan perubahan kimia. Akar per­
kembangan ini terletak dalam karya para fisikawan di
bidang kekuatan rekayasa (power Engineering) yang
dipelopori oleh Sadi Carnot dari Perancis dan James
Joule dari Inggris, dalam bidang-bidang eksperimental
yang beraneka ragam dipelopori oleh orang Jerman

67
Herman Helmhotz, dan dalam penelitian spekulatif
mencari agen tunggal perubahan fisika. Listrik dan
■magnetisme disatukan, mula-mula secara eksperimen­
tal dan kemudian secara teoretis, oleh orang Belanda
Hans Christian 0 rste d dan orang Inggris, Michael
Faraday dan Kelvin; dan suatu konstanta fundamen­
tal dalam teori pengukuran elektromagnetik telah di-
tetapkan oleh seorang Jerman, Wilhelm Weber, yang
dipandang sama dengan kecepatan cahaya yang telah
ditetapkan secara astronomis oleh orang Inggris, James
Clerk Maxwell. Dengan demikian sifat-sifat umum
m ateri dikuasai dan dibuat runtut secara berturut-
turut. Para fisikawan belakangan dengan tepat menye-
but abad ke-19 sebagai abad klasik.

1.c. Kemajuan dalam Kimia


Kimia dibangun di atas fondasi-fondasi teoretis
peristilahan Lavoisier dan teori atomik Dalton. Kimia
menghabiskan beberapa dekade untuk merampung-
kan tugas heroiknya mengklasifikasi substansi-subs-
tansi ke dalam unsur-unsur dan persenyawaan-per-
senyawaan. Dekade sejak tahun 1858 memperlihatkan
tiga kemenangan besar. Di Italia, Stanislao Cannizarro
memecahkan teka-teki kembar mengenai berat atomik
dan komposisi kimiawi dengan mensintesakan ide-
ide yang semula ditinggalkan (khususnya hipotesis
Avogadro) dengan hasil-hasil eksperim ental baru
beserta prinsip-prinsip heuristik yang berkembang

68
dalam pengajaran. Akhirnya, komposisi air diketahui
sebagai H 0O dan bukan HO. Segera sesudah itu,
Fried rich Kekule di Jerm an m enyingkap struktur
senyawa organik yang sebenarnya, dengan ikatan-
tkatan pengganti lingkaran bensin. Kemudian Lothar
Meyer di Jerman dan Dmitry Mendeleyev di Russia
menjadi ahli struktur tabel periodik unsur-unsur dan
dapat memperkirakan sifat-sifat unsur-unsur yang tak
dikenal. Setelah itu kimia dapat bergerak ke arah
penyatuannya yang lebih dekat dengan fisika dan
peningkatan kekuatannya dalam penerapan industri.

1.d. Kemajuan dalam Biologi


Dalam biologi, pendekatan eksperimental per­
tama kali berhasil dikem bangkan dalam fisiologi,
terutam a oleh sekolah Johannes M uller di Jerm an
dalam suasana reaksi yang kompleks dengan Natur-
p h ilosophie . Pertim bangan-pertim bangan filosofis
dengan cara yang sama mempengaruhi pernyataan
teori sel oleh Theodor Schwann. Orang Jerm an ini
umumnya reduksionis. Orang Perancis, yang cende-
rung mempercayai karakter khusus daya-daya vital
-m engem bangkan aspek-aspek fisiologi yang lebih
sintetik (Claude Bernard) dan ilmu kedokteran (Louis
Pasteur). M elalui lapangan ilm u-ilm u m uncullah
prestasi konseptual yang barangkali paling penting
dalam abad ini: dimensi waktu di dalam alam, baik
sebagai suatu hal yang durasinya sangat panjang

69
maupun sebagai kerangka kerja perubahan kualitatif.
Fakta-fakta geologis memperlihatkan bukti mengenai
rangkaian transformasi struktur yang demikian kom-
pleks dan begitu banyaknya urutan bentuk-bentuk
kehidupan sehingga mencoba mendamaikan sejarah
ini dengan yang disketsakan dalam Al-Kitab semakin
m ustahil. Pertarungan antara m ereka yang men-
dukung penjelasan-penjelasan naturalistik yang kejam
dengan mereka yang mencoba mendamaikan Kitab
Kejadian dengan geologi telah dimulai dalam abad
ke-18, dan berlanjut ke abad ke-19 dengan isu-isu baru.
Dengan skala waktu yang panjang yang diterima
secara universal, pemunculan artefak-artefak dan
rongsokan manusia yang tertanam dalam lapisan-
lapisan tanah yang tua, bahkan memunculkan masa­
lah-masalah yang makin menyulitkan, bukti tersebut
agaknya ditinggalkan lebih dari seperempat abad.
Sektor krusial kemajuan ternyata menjadi sejarah
alam iah , dalam m asalah m engenai differen siasi
varietas-varietas alamiah, suatu proses yang hasil-
hasilnya tampak sangat serupa dengan pemeliharaan
selektif tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan jinak. Di
Inggris, ketidaktertarikan dalam penjelasan-penjelasan
adialamiah dan karena wawasan-wawasan yang di-
tularkan oleh sebuah esei tentang kontrol populasi
karya ilm uwan politik Thomas M althus, naturalis
Charles Darwin dan Alfred Russell Wallace memahami
seleksi alamiah melalui prinsip Victorian kelangsung-

70
an hidup makhluk yang paling cocok (survival o f the
fittest). Kemudian doktrin evolusi (tahun 1859) me-
nyatukan seluruh disiplin historis ini dan dengan per-
luasan prinsip ini hingga kepada manusia, doktrin ini
bertentangan dengan ortodoksi religius. Doktrin ini
juga m em berikan prinsip-prinsip penjelasan yang
kokoh bagi ilmu-ilmu sosial yang mulai berkembang
(penambahan prinsip-prinsip evolusioner dari filsuf
sosial Inggris, Herbert Spencer); dan tentu saja itu
merupakan sumber slogan-sloganbagi gerakan-gerakan
politis yang menyolok dari Sosialisme Marxist terhadap
Kapitalisme "bangsawan peram pok" (robber baron).
Episode Victorian ini memperlihatkan bahwa netrali-
tas ilmu berkenaan dengan politik dan idiologi, baik
dalam ilhamnya maupun dalam pengaruh-pengaruh-
nya, adalah hal yang sangat baru dan barangkali
merupakan fenomena yang bersifat sementara.
Tema zaman ini ialah kemajuan, dan ilmu me­
nerim a kepercayaan karena banyaknya kem ajuan
nyata yang terjadi dan juga karena menganut opti-
misme umum zaman itu. Ada tiga faktor yang terdapat
dalam pujian umum terhadap ilmu. Yang pertama
muncul dari tradisi kuno yang menghargai belajar
sebagai suatu sumbangan atau kontribusi bagi per­
adaban, terlepas dari penerapan-penerapannya. Day a
tariknya yang lebih populer didasarkan pada penerapan-
penerapannya, pertama kepada industri kemudian
kepada pengobatan. Faktor yang ketiga, penampak-

71
annya yang sebentar-sebentar, diwarisi dari Pencerah-
an: ilmu alam merupakan senjata melawan dogma
religiu s dan takhayul populer, baik dalam fakta
maupun metodenya. Inga tan akan pengadilan Galileo
masih segar dalam cerita ilmu, sehingga perdebatan
mengenai Darwinisme di Inggris memberikan dorong-
an baru kepada perjuangan ideologis ini, di mana
Kristen Liberal berpihak kepada kaum agnostik me­
lawan kaum ortodoks. Secara bersama-sama, ketiga
kepercayaan ini memperlihatkan banyaknya fungsi
suatu agama dan hal ini tetap merupakan inspirasi
yang kuat bagi ilmu hingga masa-masa belakangan
ini. Pendiskreditan mereka terhadap fungsi-fungsi
agama pada periode masa kini menghadirkan persoal-
an-persoalan serius bagi masa depan ilmu.

2. A w al Abad ke-20
Tendensi-tendensi tertentu yang terjadi selama
abad ke-19 ilmu menjadikan posisi menguat selama
periode pergantian. Pada masa ini, ilmu bersifat pro-
fesional dalam organisasi sosialnya, reduksionis dalam
gayanya dan positif dalam jiwanya.
K em u d ian ilm u dipandang, pada dasarnya,
sebagai hasil karya penelitian murni. Pengajaran di­
pandang kurang pokok. Aktivitas yang bersifat mem-
bantu dan penerapan industri dianggap sebagai tugas
bagi para pekerja yang lain dalam lembaga-lembaga
lain. Hampir semua penelitian dilakukan oleh para

72 '
ahli yang dilatih dengan sangat ketat, bekerja secara
total atau seperlunya untuk pekerjaan ini di dalam
lembaga-lembaga khusus. Komunitas-komunitas para
ilmuwan yang diorganisir berdasarkan disiplin atau
kebangsaan, menikmati otonomi yang tinggi tingkat-
nya dalam memutuskan tujuan, standar penelitian dan
dalam pem berian sertifikat, pem berian pekerjaan
serta pemberian imbalan pada anggota-anggotanya.
Para ilmuwan individual cenderung dikondisikan
oleh kompetisi untuk menjadi pekerja peneliti yang
sangat terspesialisasi. Sama halnya, pengajaran di­
ploma (undergraduate) di dalam ilmu cenderung makin
menjadi program pregraduate yang terspesialisasi yang
dirancang untuk minoritas yang akan meneruskan
penelitian. Karena biaya-biaya penelitian makin me-
ningkat melampaui kemampuan individu maka ilmu
b erg an tu n g pada su b sid i-su b sid i dari lem baga-
lem baga besar, baik yayasan derm aw an (seperti
Rockefeller) maupun departemen-departemen negara-
negara nasional. Lembaga-lembaga ini juga mendiri-
kan laboratorium-laboratoriumnya sendiri, biasanya
untuk penelitian terapan, yang terbaik sejajar dengan
sistim universitas. K etegangan-ketegangan dalam
sistem bantuan luar ini masih terpendam. Demikian
pula, tak ada pengenalan sistimatik bahwa mayoritas
lulusan perguruan tinggi ilmu bekerja di luar ilmu
p ro fesio n al, baik sebagai guru m aupun sebagai
pegawai di dalam perusahaan-perusahaan teknologis.
Gaya pekerjaan yang dominan dalam periode ini
bersifat reduksionis. Penyelidikan-penyelidikan di-
pusatkan pada proses-proses murni, stabil dan dapat
dikontrol secara buatan yang dapat* terlaksana di
laboratorium. Dan teori-teori yang digemari ialah yang
mencakup penyebab-penyebab fisik, yang mengguna­
kan argumen-argumen matematis yang berat. Hampir
semua filsafat ilmu dalam periode ini mengasumsikan
bahwa sebuah ilmu yang nyata bermodelkan pada
fisika teoretis. Prestis gaya ini diperlihatkan dengan
banyak usaha memperluasnya kepada ilmu-ilmu ke-
manusiaan. Pembatasan-pembatasannya, sebagaimana
dilihat sekarang, terpusat dalam suatu ketidaktahuan
yang membahayakan atas fakta-fakta dan prinsip-prin-
sip perilaku lingkungan alamiah.
Jiwa positif ilmu ini terlihat dengan meningkatnya
pemisahannya dari refleksi filosofis. Teori-teori relati-
vitas Einstein (1905 dan 1961) dan prinsip ketidak-
pastian fisikawan Jerman, Werner Heisenberg, dalam
teori kuantum (1927) memunculkan diskusi-diskusi
filosofis yang bersem angat antara para ilm uw an
dengan orang awam. Namun ini m erupakan per-
kecualian; sesudah itu, contoh utama perhatian-per-
hatian filosofis, dengan publik awam , berkenaan
dengan penelitian ilmiah menimbulkan bencana. Para
Nazi menyerang teori-teori dan para ilmuwan ber-
dasarkan ras. Negara Soviet menyerang ilmu genetika
dan menganiaya para ilmuwan terkemuka, dengan

74
memanfaatkan pseudo-genetika T.D. Lysenko. Hasil-
nya, tampak bagi kebanyakan ilmuwan bahwa baik
k em aju an ilm u m au pu n p e le sta ria n n ila i-n ila i
masyarakat liberal menghendaki suatu afirmasi ter­
hadap netralitas ideologis ilmu dan suatu desakan
pada otonomi komplit penelitian. Bagi mereka, ilmu
murni bukanlah suatu pengunduran diri melainkan
suatu komitmen positif.
Prestasi-prestasi ilmiah di awal abad ke-20 terlalu
besar bahkan untuk dikatalogkan. Akan tetapi ada
suatu pola umum kemajuan. Di tiap bidang utama,
kem ajuan didasarkan pada karya deskriptif yang
sangat berhasil dari abad ke-19. Pertama-tama berang-
kat dari suatu analisis yang lebih baik atas unsur-unsur
pokok dan mekanisme-mekanismenya dan kemudian
m ensintesakan hal yang m elangkahi nam a-nam a
disiplin yang diwarisi, yang menghasilkan cangkokan
yang kokoh seperti biokimia dan biofisika. Dalam
fisika, teori-teori klasik mengenai daya-daya fisik yang
utama (panas, listrik, magnetisme) telah disatukan
hingga ke fondasi-fondasinya oleh termodinamika; dan
bagian awal abad ke-20 menyaksikan penemuan efek-
efek baru yang m enyeluruh (sinar X, radioaktif),
penetrasi ke dalam struktur m ateri (teori atom ik,
isotop-isotop). Hal-hal ini menghendaki pembentukan
kem bali hu ku m -hu ku m fu ndam ental fisika dan
beberapa p raan d aian -p raan d aian m etafisikan y a
(relativitas, teori kuantum). Metode-metode analisis

75
kimiawi diperlukan untuk banyak pekerjaan fisika.
Sebaliknya, teori-teori fisika yang baru cukup kuat
untuk memberikan penjelasan-penjelasan efektif bagi
suatu varietas fenomena kimiawi yang luas. Dengan
basis ini, industri kimia dapat menghasilkan sejumlah
besar deretan substansi-substansi yang seluruhnya
sintetik (fiber, plastik). Dalam ilm u-ilm u biologi,
metode-metode kimia dan fisika membawa penemuan
dan p en jelasan m engenai agen-agen yang halus
(vitamin-vitamin, hormon-hormon) dan rekonstruksi
atas siklus-siklus rumit transformasi-transformasi kimia
dengan mana materi hidup. Ilmu kedokteran dapat
dibangun berdasarkan bakteriologi, dan melalui pe­
nem uan obat-obatan khusus dan umum (pertama
Salvarsan melawan sifilis, kemudian sulfonamide dan
penisilin), obat-obat ini nyaris m elenyapkan baik
wabah penyakit klasik maupun penyakit-penyakit
ganas kanak-kanak. A gak m engherankan bahwa
kemenangan-kemenangan ilmu tampak menjanjikan
pengetahuan dan kekuasaan yang berlimpah-ruah.
Segelintir orang dapat meramalkan masalah-masalah
bahwa sukses-sukses yang sama akan dapat dibawa
ke dalam lingkungan sosial dan alamiahnya berdasar­
kan penerapan ilmu dalam jiwa agresif yang tak
berubah selama lima'abad ekspansi Eropa.

76
3. M asalah-m asalah dan Prospek-prospek

Dalam perspektif sejarah yang panjang ini, dapat


dilihat bahwa kesulitan-kesulitan moral, politik dan
lingkungan yang dihadapi ilmu dan teknologi masa
kini tidak seluruhnya baru. Agaknya, semua itu me­
rupakan suatu pembalikan kepada masalah-masalah
yang telah dilupakan, pertama dengan kemunduran
kepercayaan atas magis dan kemudian denga'n datang-
nya ilmu yang matang. Dari sini diwarisi suatu ideologi
ilmu murni, sebuah teknologi yang di dalamnya semua
masalah dipecahkan dengan sangat berhasil, dan se­
buah komunitas para sarjana yang terlindung. Pada
masa kini, hubungan ilmu yang intim dengan industri,
pertahanan, dan politik telah membuat cita-cita akan
ilmu murni ketinggalan zaman dan telah menghadap-
kan masyarakat pada perlunya suatu konsepsi menge­
nai eara kerja dunia alamiah yang berbeda dari model
reduksionis fisika wan.
Namun, walaupun para sejarawan tak dapat di-
puaskan dengan kisah sederhana tentang keberhasilan
terus-menerus yang dituturkan oleh generasi-generasi
yang lebih awal, mereka melihat bahwa ilmu Eropa
modern adalah suatu bagian penting peradaban. Cacat-
cacatnya dan juga kebajikan-kebajikannva berasal dari
aspek-aspek Eropa yang tertanam dengan kuat dalam
cara hidup Barat. Kelangsungan hidup ilmu dan ke-
langsungan hidup peradaban berjalan beriringan.
Menolak kemenangan-kemenangan intelektual dan

77

.
spiritual, serta keuntungan-keuntungan material yang
telah dicapai ilmu dan teknologi Eropa merupakan
suatu pemotongan (mutilation). Transformasi-trans-
formasi apa yang akan dibawa masa depan dan apakah
peradaban dapat berhasil mencapai harmoni dengan
alam yang diperlukan bagi kelangsungan hidup tak
dapat dijamin. Mendefinisikan suatu masalah men-
jalani jalan yang panjang menuju solusi-solusinya.
M asalah itu hanyalah bagian yang bersifat teknis.
Sam a halnya, ia m erupakan salah satu sifat ilmu
alamiah dalam peradaban Eropa sebagaimana ia di­
kembangkan selama berabad-abad. ❖

78
BIBLIOGRAFI

Untuk pengantar kepada sejarah umum ilmu,


dianjurkan karya-karya berikut ini. Charles Singer, A
Short History o f Scientific Ideas to 1900 (1959), jelas dan
komprehensif namun sekarang agak kadaluwarsa. J.D.
Bernal Science interpretasi History, edisi ketiga, 4 vol.
(1971), ditulis dan diilustrasikan dengan baik namun
dirusak oleh kepastian pengarangnya bahwa semua
penemuan ilmiah yang penting mempunyai hubungan
yang sederhana dengan kekuatan-kekuatan ekonomi
dan sosial zamannya. S.F. Mason, Main Currents o f Sci­
entific Thought: A History o f the Sciences (1953; Judul
berbahasa Inggris, A History o f the Sciences: Main Currents
o f Scientific Thought, 1953; edisi revisi, 1962), adalah esei
yang lebih spekulatif mengenai ilmu di masyarakat
dan mempunyai banyak wawasan yang bernilai; Rene
Taton (editor), Histoire gerenerale des sciences, 4 vol. (1957-
64; edisi kedua, 1966— ; Terjemahan berbahasa Inggris,
A G eneral H istory o f the Sciences, 1966— ), adalah

79

.
kumpulan esei berbahasa Inggris yang paling baik yang
menuntun kepada studi-studi yang lebih spesialis.
Untuk ilmu kuno dan Abad Pertengahan, pengantar
yang ilm iah diberikan oleh E.J. D ijksterh u is, De
mechanisering van het wereldbeeld (1950; terjemahan ber­
bahasa Inggris, The Mechanization o f the World Picture,
1961). M en genai C ina, karya yang standar ialah
Joseph Needham, Science and Civilization in China, 7
vol. (1954 - ). Untuk penciptaan ilmu Eropa, pengantar
yang disusun dengan baik diberikan Hugh F. Kearney,
Science and Change, 1500-1700 (1971). Aspek-aspek sosial
dan kelem bagaan ilmu m odern diselidiki dengan
seksama dalam Joseph Ben-David, the Scientist sistem
Role in Society: A Comparative Study (1971). Sekarang
terdapat dalam multivolume Dictionary o f Scientific Bi­
ography, yang diedit oleh C.C. Gillispie (1970 - ) yang
akan memberikan informasi yang terpercaya mengenai
hidup dan karya banyak ilmuwan. Untuk sejarah-
sejarah paralel ilmu kedokteran dan teknologi, pengantar
yang baik adalah R.H. Shryock, The Development o f
Modern Medicine: An Interpretation o f the Social and Scien­
tific Factors Involved (1936 cetak ulangl969); Fredrick
Klemm, Technik: Eine Geschichte ihrer Probleme (1954;
terjemahan berbahasa Inggris, A History o f Western Tech­
nology, 1959). ❖

80
Jitsafat Jtmu
PENDAHULUAN

Dipahami dalam arti luas — yakni sebagai ke­


majuan progresif pengetahuan manusia atas alam—
usaha intelektual terhadap ilmu semula merupakan
bagian penting filsafat, dan kedua bidang penyelidikan
itu tak pernah dipisahkan dengan tegas. Lebih kurang
seratus tahun yang lalu, fisika teoretis — berkenaan
dengan perdebatan fundam ental m engenai alam
fisik— masih dilukiskan sebagai "filsafat alam iah".
Hal ini dimaksudkan untuk membedakannya dari dua
bagian utama filsafat lainnya yaitu filsafat moral dan
filsafat metafisik — yang belakangan merupakan studi
mengenai sifat dasar terdalam realitas atau yang ada
(being), juga disebut ontologi. Sebenarnya, baru pada
abad ke-20 filsafat ilmu dikenal sebagai disiplin
tersendiri, sebagai akibat profesionalisasi dan spesiali-
sasi ilmu-ilmu alam.
Dalam artikel ini dibahas isu-isu metodologis dan
epistemologis —yakni, isu-isu mengenai cara pen-

83
dekatan penyelidik kepada alam. Tulisan ini akan
membahas topik-topik berikut ini:

I. Pendekatan umum pada filsafat ilmu


A. H akekat, ruang lingkup, dan hubungan-
hubungan topik.
B. Pekembangan historis masalah-masalahnya.

II. Konseptualisasi dan metodologi ilmu


A. Unsur-unsur penelitian ilmiah
B. Gerakan-gerakan pemikiran ilmiah.

. Ill. Isu-isu ilmu yang lebih dalam dan keterlibatannya


yang lebih luas
A. Status filosofis teori ilmiah
B. H ubungan tim bal balik ilmu dengan ke­
budayaan. ♦

84
PENDEKATAN UMUM
I PADA FILSAFAT ILMU

A. H akikat, Ruang Lingkup


dan Hubungan-hubungan Topiknya

Sebagai suatu disiplin, filsafat ilmu pertama-tama


berusaha m enjelaskan u nsur-unsur yang terlibat
dalam proses penelitian ilmiah yaitu: prosedur-pro­
sedur pengamatan, pola-pola argumen, metode pe-
nyajian dan penghitungan, praandaian-praandaian
metafisik dan seterusnya. Kemudian mengevaluasi
dasar-dasar validitasnya berdasarkan sudut pandang
logika form al, m etodologi praktis dan m etafisika.
Dalam bentuk kontemporer filsafat ilmu kemudian
menjadi suatu topik bagi analisis dan diskusi eksplisit
yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya
yaitu: etika, logika dan epistem ologi (teori penge­
tahuan). Pada titik tertentu, batas-batas bagi cabang-
caban g terseb u t m asih arbitrer. M isalnya, tidak

85
gam pang m em isahkan dengan tegas pengabsahan
(validation) hipotesis ilmiah dari studi formal logika
induktif (yang menarik kesimpulan dari fakta-fakta
m enjadi prinsip-prinsip um um ), atau antara per­
debatan tentang teori dan pengamatan yang terdapat
di dalam filsafat ilmu dengan yang terdapat di dalam
epistemologi.
Di sepanjang perkembangan filsafat, topik yang
digeluti oleh mereka, (seandainya hidup sekarang akan
disebut filsuf ilmu) terbagi atas dua jenis utama yaitu:
ontologis atau ontal dan epistem ologis, atau epis-
temik. Pembagian ini mencerminkan pembedaan yang
telah berlangsung lama antara objek dan subjek yakni,
antara alam yang diperhatikan manusia untuk men­
dapatkan pengetahuan ilmiah, dengan manusia itu
sendiri, yang dianggap sebagai pencipta serta penemu
atau pemilik pengetahuan tersebut. Sejak tahun 1920
arah baru dalam fisika itu sendiri, — khususnya dalam
mekanika kuantum— telah meragukan setiap pem­
bedaan yang ketat dan terburu-buru antara yang me-
ngetahui (the knower) dengan yang diketahui (the known)
atau antara pengamat (the observer) dengan yang diamati
(the observed). Walau demikian pembedaan itu masih
relevan pada tingkat yang lazim dan masih dapat di-
pertahankan secara hati-hati untuk tujuan-tujuan pen­
jelasan awal.
Keasyikan ontal para filsuf ilmu (yakni perhatian
mereka atas yang ada (being)) kerap tumpang-tindih

86
dengan bidang-bidang ilmu itu sendiri. Karena mereka
telah berhubungan dengan persoalan umum.
Jenis entitas dan unsur-unsur atau istilah-istilah
teoretis apa yang patut berperan dalam teori-teori
ilmiah manusia? Dan jenis eksistensi apa, atau status
objektif lain yang mana, yang benar-benar dimiliki hal-
hal tersebut?
Karena diterapkan kepada kasus-kasus partikular,
masalah umum ini mau tak mau memunculkan per-
tanyaan-pertanyaan m engenai substansi dan juga
metode intelektual. Di awal abad ke-20 perdebatan
antara dua orang fisikawan Austria, Ernst Mach dan
Ludwig Boltzmann, dengan seorang kimiawan fisik
Jerman, Wilhelm Ostwald, tentang eksistensi dan reali­
tas atom, misalnya, mencakup baik isu-isu substantif
mengenai fisika maupun isu-isu filosofis mengenai
jenis analitis yang lebih ketat. Tumpang-tindih serupa
tak dapat dihindarkan juga dalam ilmu-ilmu sosial
dan biologis; yaitu mengenai eksistensi dan status
agen-agen atau entitas-entitas yang sangat vital dan
sosial.
H ingga dew asa ini perhatian epistem ik pada
masalah itu telah lebih bersifat filosofis murni dalam
karakternya, meskipun otonominya kini ditantang
oleh perkembangan-perkembangan di bidang psiko­
logi yang m enyelidiki dan bereksperim en dengan
proses kognitif, dan lainnya oleh sosiologi yang mem-
pelajari pengkondisian kognisi melalui hubungan-

87
hubungan antarpribadi dan kelompok. Secara epis-
tem ologis, para filsuf ilmu telah menganalisis dan
mengevaluasi konsep-konsep serta metode-metode
yang dipakai dalam mempelajari fenomena alamiah
dan perilaku manusia, apakah bersifat individual atau
kolektif. Dan analisis itu telah meliputi baik konsep-
konsep maupun metode-metode umum yang men-
cirikan seluruh penelitian ilmiah beserta hal-hal yang
lebih khusus yang m em bedakan pokok m asalah
dengan masalah-masalah ilmu-ilmu khusus yang ber-
beda-beda. Dalam menangani isu-isu epistemik yang
m uncul di sep u tar ilmu dan p rosed u r-p rosed u r
ilmiah, tulisan ini menekankan pertimbangan istilah-
istilah umum; konsep-konsep dan m etode-m etode
khas, misalnya, sosiologi, fisiologi, atau fisika kuan­
tum yang didiskusikan di tempat lain.
Karena cakupan permasalahannya sangat luas,
filsafat ilmu telah menarik perhatian orang dari latar
belakang dan minat-minat profesional yang sangat
berbeda-beda. Pada titik ekstrim yang satu, filsafat
ilmu dimasukkan ke dalam sejenis ilmu populer yang
bersifat sepintas lalu (Sweeping). Hal ini terdapat dalam
tulisan-tulisan Ernest Haeckel, seorang penganut teori
evolusi Darwinis. Pada titik ekstrem lainnya, filsafat
ilmu diperlukan sebagai perluasan dari logika formal
dan analisis konseptu al. Hal ini dilakukan oleh
Positivisme Logis atau Empirisme Logis abad ke-20,
aliran filsafat terkemuka yang memandang bahwa

88
pengetahuan hanyalah sesuatu yang dapat diverifikasi
secara ilmiah. Filsafat ilmu yang berada di antara kedua
ekstrem ini terdapat dalam cara kerja para ilmuwan
seperti pakar astrofisika Inggris, Arthur Eddington,
dan pakar fisika kuantum Jerman, Werner Heisenberg.
Karya mereka telah mengantar hingga ke tapal batas
pokok-pokok masalah dan m enghadapkan mereka
secara langsung kepada persoalan-persoalan eksis­
tensi, status, dan validitas entitas-entitas dan konsep-
konsep teoretis yang sedang mereka geluti.
Beda orang, beda cara berpikirnya dalam men-
dekati filsafat ilmu. Mulai dari yang sangat abstrak
dan matematis hingga yang konkret dan historis dan
dari sangat positivistik hingga yang sangat teologis.
Sejak Rene Descartes, filsuf modern pertama yang
sangat penting di abad ke-17, hingga Otto Neurath,
seorang Positivis Logis abad ke-20, suksesnya mate-
matika murni dan logika telah mengilhami orientasi
m atem atis yang memasukkan seluruh ilmu alam ke
dalam sistem formal tunggal menurut pola geometri.
Sedang lawannya, yakni dari John Locke, seorang
Empirisis Inggris abad 18 hingga N.R. Hanson, filsuf
ilmu Amerika Serikat dewasa ini. Di sisi lain, para
penentangnya mencari basis yang wajar keyakinan
intelektual manusia di dalam hakikat penyelidikan
ilmiah yang dianggap sebagai aktivitas manusiawi.
Begitu juga seorang Positivis seperti Hans Reichenbach,
filsuf Amerika berkebangsaan Jerman di abad ke-20,

89
telah mencari ke dalam filsafat untuk membuktikan
bahwa bukan hanya penelitian-penelitian ilmiah yang
dapat m em berikan pengetahuan yang berm anfaat.
Sementara seorang teis seperti Pierre Duhem, seorang
fisikawan teoretis Perancis, tertarik kepada filsafat
ilmu, agaknya, untuk memperlihatkan bahwa klaim-
klaim ilmu terbatas secara inheren sehingga masih
menyisakan ruang bagi pengetahuan lainnya, yaitu
rumpun kebenaran metafisik dan religius.
Keanekaragam an minat dan pendekatan telah
mempengaruhi hubungan-hubungan antara filsafat
ilmu dengan disiplin-disiplin lain yang berdekatan.
Pada tingkat praktis, misalnya, interpretasi filosofis
yang berbeda-beda mengimplikasikan prosedur yang
berbeda-beda dalam pengujian dan perkiraan ke­
kuatan konsep-konsep dan hipotesis-hipotesis samgan-
nya. Dengan demikian, tak dapat ditarik garis pemisah
yang jelas antara analisis filosofis teori-teori ilmiah
dengan analisis statistik prosedur-prosedur ilmiah
dengan eksperimen-eksperimen. Juga tak dapat ditarik
garis pemisah yang jelas antara filsafat ilmu dengan
sejarah id e-id e ilm iah. Perd ebatan baru-baru ini
ten tang p en u lisan sejarah ilm u — yaitu , tentang
masalah-masalah dari metode-metode yang menyorot-
kan cahaya pada sejarahnya-— menunjukkan bahwa
pertanyaan-pertanyaan khusus yang membawa se­
orang sejarawan ilmu tiba pada analisisnya mengenai

90
perubahan ilmiah mau tidak mau bergantung pada
sikap-sikap dan komitmen-komitmen filosofisnya.
Pada tingkat yang lebih umum dan abstrak, fil­
safat ilmu tak pernah dapat dipisahkan sama sekali
dari m etafisika dan epistem ologi. Tentu saja ada
beberapa filsuf abad ke-20 — misalnya, pakar logika
filosofis Amerika Serikat Willard V. Quine— yang
dengan efektif membatasi bidang-bidang yang sah
metafisika dan epistemologi pada apa yang telah di-
sebut aspek-aspek ontal dan epistemik filsafat ilmu.
Dalam pandangan Q uine, problem ontologis tra-
disional mengenai apa yang ada di dalam dunia sejauh
yang diketahui manusia harus.dipecahkan dengan
analisis logis terhadap klaim-klaim di seputar jenis-
jenis benda apa yang ada yang tersirat dalam sistem-
sistem teoretis alternatif. Sementara itu, karya para
psikolog kognitif seperti Jean Piaget, seorang Switzer­
land, yang menyelidiki proses-proses yang diperlukan
dalam permulaan pengetahuan, mengikis batas-batas
antara analisis logis sistem-sistem konseptual, penye-
lidikan psikologis proses pikiran dengan validasi
epistemologis prosedur-prosedur intelektual. Misal­
nya, Piaget m endasarkan penyelidikan-penyelidik-
annya kepada pencapaian konsep-konsep yang mirip
dengan konsep Kant, orang yang memandang bahwa
semua pengetahuan memperlihatkan pengaruh struk­
tur pikiran itu sendiri; dan bahkan psikolog itu sendiri,
Piaget bahkan merujuk kepada aspek-aspek tertentu

91
karyanya yang dinamai "epistemologi genetik", me­
rupakan suatu rancangan filosofis.
Oleh karena itu, penyelidikan masa kini pada
filsafat ilmu tidak memuat upaya prasangka terhadap
persoalan utama yakni apakah metode-metode ana­
lisis logis saja yang sah ataukah pada titik-titik tertentu
topiknya bertumpang-tindih secara sah dengan topik-
topik yang berdekatan dengannya seperti psikologi
kognitif, sejarah ilmu, dan epistemologi. Sehubungan
dengan persoalan ini para filsuf ilmu dibagi secara
tajam . Sebagian m enolak aliansi apa pun kecuali
dengan logika. Sementara yang lainnya menggarap
hubungan-hubungan historis dan perilaku yang lebih
luas; dan kedua sudut pandang ini harus diperhitung-
kan.

B. Perkem bangan H istoris Filsafa t Ilmu

1. Periode Klasik dan Abad Tengah:


Permulaan Filsafat Alam
Pada mulanya persoalan-persoalan ilmu adalah
di seputar metode dan substansi yang tidak terpisah-
kan dari apa yang telah lama disebut sebagai filsafat
alam. Usaha pertama melampaui mitologi-mitologi
tradisional m enuju penjelasan rasional atas alam,
dimulai oleh para filsuf Ionia dan Italia Selatan 600
tahun sebelum masehi. Mereka mencari unsur-unsur
atau entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda.

92
Pertimbangan-pertimbangan empiris atau hasil peng-
amatan yang mendalam, yang mendukung penjelasan
yang satu atau penjelasan saingannya, masih prematur.
Sebagai contoh, apakah manifestasi-manifestasi feno­
mena alam yang berbeda-beda berasal dari suatu
bentuk materi tunggal yang kekal atau berasal dari
beberapa substansi elementer yang bergabung ber-
sama-sama, dan apakah berupa substansi fundamen­
tal, berlangsung terus dan berubah-ubah, ataukah
berupa substansi tersendiri dan bersifat atomik? Yang
lainnya bertanya, apakah bentuk-bentuk fenomena
yang diamati merupakan bukti dari sesuatu yang ber­
sifat universal, pikiran yang mendasari atau suatu
rumpun jenis-jenis roh yang hidup bersama-sama yang
bertanggungjawab atas fenomena yang mempunyai
tatanan kompleksitas yang berbeda.
Pada filsuf Pra-Sokratik mendasarkan jawaban
mereka sedapat mungkin pada dasar-dasar epistemik
— dengan mempertimbangkan jenis-jenis penjelasan
apa yang su ngguh-sungguh dapat d im en g erti—
seperti halnya yang berdasarkan pada hal yang ontal
atau empiris dengan mempertimbangkan jenis-jenis
entitas abadi apa yang mungkin terlihat atau didapat
dalam pengalaman, jenis eksistensi yang dibutuhkan
(required). Jaw aban m ereka terentang dari suatu
ekstrem yang satu, Realisme ontal Parmenides, filsuf
terkemuka Eleatisme — menurutnya semua perubahan
m erupakan penam pakan-penam pakan sem entara

93
(transton/appearances) yang menyembunyikan hubungan-
hubungan tim bal-balik realitas-realitas yang lebih
dalam, yang tak berubah — hingga pada Heracleitus,
filsuf perubahan Ephesian, pada ekstrem yang lain.
Menurutnya, sejauh yang diketahui manusia tak ada
kenyataan seperti yang dijelaskan Parmenides, sebab
segala sesuatu secara empiris berubah secara terus-
menerus.
Meskipun Plato dan Aristoteles memperlihatkan
perhatian cermat terhadap kasus-kasus aktual, namun
filsafat ilmu mereka masih berhenti pada percampuran
pertimbangan-pertimbangan ontologis, epistemologis
dan em piris yang sam a. P ertanyaan-pertanyaan
tentang alam didiskusikan dalam Timaeus karya Plato
dan Physics karya Aristoteles, misalnya, berciri tidak
murni m etafisik ataupun murni empiris walaupun
keduanya mempunyai aspek metodologis yang mirip
dengan filsafat ilmu modern. Juga konstruksi Plato
m engenai teori-teori fundamental ilmu di seputar
konsep-konsep dan pola-pola yang dipinjam dari geo-
metri mempunyai pengaruh mendalam pada periode
modern — pada Rene Descartes, misalnya, dalam abad
ke-17 dan pada logika modern, matematisi Jerman
Gottlob Frege, dalam tahun 1810-an dan sesudahnya.
Plato berargumen bahwa hanya entitas-entitas
matematis yang mempunyai jenis intelligibilitas yang
bersifat tetap, yang telah dituntut Parmenides dengan
tepat pada unsur-unsur pokok terakhir (ultim ate

94
1

c o n s titu e n ts ) dalam ilmu alam rasional. Dengan


demikian, hanya suatu teori fisik yang dibangun ber-
dasarkan kerangka numerik dan geometris yang akan
m engungkapkan struktur-struktur dan hubungan-
hubungan yang benar-benar permanen di balik feno­
mena yang berubah terus-menerus. Di dalam teori
demikian seluruh kesimpulan akan sah dengan sen-
dirinya sepanjang masa sehingga terbebas dari ke-
tidaktetapan peristiwa-peristiwa empiris. Dan seiring
dengan itu angka-angka dan lambang-lambang (figures)
matematika formal akan mempunyai suatu kekekalan
(immutability) yang ditolak bagi objek-objek alamiah
(physical) yang lazim. Dalam pandangan Plato, astro-
nomi duniawi dan teori materi merupakan bidang-
bidang ilmiah yang di dalamnya metodologi mate­
matis akan segera memperlihatkan janjinya; gerakan-
gerakan planet-planet harus dijelaskan melalui kons-
truksi-konstruksi yang ditarik dari geom etri tiga
dimensi, dan fisika materi tampaknya meliputi atom-
atom dengan bentuk-bentuk yang m encerm inkan
geometri lima benda padat yang tetap (tetrakahedron,
dodekahedron, dan sebagainya). Akan tetapi dalam
setiap kasus, teori-teori matematis itu sendiri akan
sangat eksak dan dapat dipahami, sementara objek-
objek dan proses-proses tak lebih dari ilustrasi-ilustrasi
kira-kira dan sementara entitas-entitas dan relasi-relasi
teoretis yang tetap yang mendasarinya.

95
Karena minat ilmiah Aristoteles sangat berbeda,
— lebih dipusatkan pada fenomena biologi ketimbang
gerakan-gerakan planet— secara alami ia mengem-
bangkan m etodologi ilmiah yang sangat berbeda.
Dalam pandangannya, entitas-entitas dan relasi-relasi
matematis sangat umum dan sangat jauh dari peng­
alam an aktual untuk m enjelaskan rincian-rincian
kualitatif entitas-entitas empiris. Jadi unsur-unsur ter­
akhir alam tentunya bukan bentuk-bentuk matematis
yang sangat umum dan abstrak, yang dianggap ter-
pisah sama sekali dari fenomena aktual, seperti di-
nyatakan Plato, melainkan lebih berupa entitas-entitas
tertentu yang lebih spesifik, dapat dikenali dalam
rangkaian pengalaman empiris yang lazim. Contoh-
contoh dari esensi dasar seperti itu dapat ditemukan
dengan mempelajari siklus hid up yang khas makhluk
hidup yang berbeda-beda. Demikianlah, morfogenesis
sebuah benih menjadi contoh "terjadinya" tipe yang
sama antara binatang dan tumbuhan, yang spesifikasi
pada bentuk dew asanya — yang ditentukan oleh
esensinya — adalah tujuan alamiah perkembangannya.
Setelah m engenai arah tujuan p ro ses-p roses
alamiah yang berbeda-beda jenisnya, maka mungkin-
lah m engkonstruksi klasifikasi esensi-esensi yang
menyeluruh yang di dalam bingkainya seluruh dunia
almiah, secara prinsip, akan dapat dipahami. Pen-
jelasan-penjelasan yang meliputi sejarah alam tidak
lagi memuat sesuatu yang umum dan kekal, yang jelas

96

1
dengan sendirinya, seperti geometrinya Plato meiain-
kan. kesim pulan-kesim pulan teoretis yang ditarik
tidak akan kurang deduktif atau penting, dan akan
mempunyai mlai tambah penjelasan langsung karena
sifat-sifat kualitatif yang spesifik pada setiap objek dan
proses-proses yang diamati berbeda-beda.
Perkembangan filsafat ilmu berikutnya, tema-
tema yang dinyatakan Plato dan Aristoteles terjadi lagi
berulang-ulang dan ditampilkan kembali sekarang ini
melalui pendekatan yang bersaing terhadap topik
tersebut— satunya (Platonis) berdasarkan pada logika.
Lainnya (Aristotelian) berdasarkan pada sejarah ilmu.
Keduanva mendominasi topik tersebut selama pe­
riode Yunani kuno belakangan, padahal hal itu juga
penting untuk perdebatan lebih lanjut — antara pe-
nerus Atomis Demokritus dan Epikurus dengan para
filsuf Stoa, yang dipimpin oleh Zeno dari Citium .
Perdebatan ini memberikan analisis pertama yang
mendalam atas kekuatan dan kelemahan penjelasan-
penjelasan atomis. Di satu sisi kaum Epikurian mem-
bela pandangan corpuscular murni di mana satuan-
satuan m eteri individual bergerak dengan sangat
bebas, kecuali pada saat mengadakan kontak aktual.
Di sisi lain, bagi kaum Stoa, dunia empiris dapat di­
pahami hanya dalam rangka interaksi-interaksi dan
pola-pola stabil yang dipertahankan oleh harmoni-
harmoni yang mantap pada jarak tertentu.
Kedua perdebatan ini — di antara para Platonis
dengan A risto telian is dan antara Stoisis dengan
Epikurenis— menampilkan dengan jelas dan untuk
pertama kalinya, alternatif utama cara-cara penjelasan
yang berlaku pada ilmu dan menganalisis kemung-
kinan-kemungkinan dan kekurangan-kekurangannya
dalam istilah-istilah umum. Lebih dari 2000 tahun
sebelum munculnya termodinamika modern dan teori
medan (field theory), misalnya, Aristoteles sudah me-
ngenali berbagai kesulitan menjelaskan perubahan-
perubahan yang terjadi dalam keadaan fisik (contohnya,
pencairan dan penguapan) dalam suatu teori materi
yang atomistik belaka; sementara itu, bahkan lebih
awal lagi, Plato telah memperlihatkan kemungkinan
penjelasan matematis terpadu mengenai perbedaan-
perbedaan di antara substansi-substansi materi yang
berbeda-beda jenisnya. Sebenarnya, fisikawan teoretis
Werner Heisenberg di abad ke-20 sangat terbiasa me-
ngutip argum en-argum en pra-Sokratis yang ber-
kenaan dengan unsur paling dasar penyusun alam
semesta sebagai gagasan yang relevan dengan masa­
lah-masalah masa kini.
Berbeda dengan periode sebelum Euklides sang
ahli geom etri, (yakni, hingga 300 S.M .), periode
H ellenistik, Islam ik, dan Abad Tengah hanya me-
nambahkan sedikit saja bagi pemahaman metodologi
dan penjelasan ilmiah. Mulai dari astronom Alexandria,
P tolom eu s, yang m em perdalam teori geosen tris,

98
kebanyakan para filsuf alam dengan sengaja mem-
batasi klaim-klaim intelektualnya dalam suatu gaya
in stru m en talis; yakni, dengan berupaya sekedar
"mengamankan fenomena" dengan merancang secara
sistematis prosedur-prosedur matematis untuk mem-
prediksi, misalnya, gerhana bulan dan gerakan planet.
Dalam hal ini m ereka m engabaikan m ekanism e-
mekanisme yang penting bagi fenomena itu, dengan
dem ikian m elindungi teknik-teknik penghitungan
(computational technique) ilmu-ilmu tersebut dari risiko
berkonflik dengan teologi selama 1.250 tahun, hingga
zaman Kopernikus.
Oleh sebab itu, pada puncak Abad Pertengahan,
kemungkinan bagi manusia untuk membuat dirinya
menjadi tuan intelektual alam, sebagian besar sudah
ditinggalkan. Pengertian manusia kini tergantung
kepada penerangan A llah. Jam inan pengetahuan
ilmiah tidak terletak pada mutu metodologinya me-
lainkan terletak pada berkat Allah, itulah yang me-
mastikan keterpercayaannya (reliability). Dalam pe­
nafsiran ini, manusia tidak mempunyai jalur langsung
untuk m em asuki alam; satu-satunya jalan menuju
pengetahuan adalah melalui pikiran ilahi. Sehingga
semua persoalan utama dalam filsafat ilmu dinyatakan
kembali sebagai persoalan teologis, sebagai persoalan
di seputar hubungan kemaha-tahuan (omnipotence) Allah
dengan pengetahuan manusia yang lebih terbatas.
Dalam konteks ini kiasan "penerangan" (illumination)

99
dianggap sangat serius pada abad ke-13 sehingga,
pokok persoalan ilmu optik pun digarap oleh seorang
sarjana Oxford terkemuka, lebih menyelidiki impli-
kasi-implikasi teologisnya ketimbang muatan fisiknya.

2. Abad ke-17 dan ke-18: D a ri M a n ife s to


Hingga Kritik
Walaupun Renesans intelektual pada abad ke-16
dan 17 disertai dengan sekulerisasi pembelajaran, yang
memindahkan pusat perdebatan filosofis dan ilmiah
dari biara-biara ke dalam di universitas-universitas
bahkan di snlon-salon pertemuan-pertemuan secara ter-
atur di kalangan penulis, artis, dan lain-lain —hubungan
antara filsafat dengan teologi tidak terputus secara
mendadak. Descartes, Newton, dan Leibniz, sarjana
terkemuka zaman itu, mereka semua berusaha mem­
perlihatkan bahwa posisi-posisinya cocok dengan
teologi; dan kontroversi-kontroversi di seputar penge­
tahuan manusia dan rahmat ilahi dijumpai lagi dalam
gema argumen-argumen, seperti pemyataan Descartes,
bahwa metode rasional penelitian dapat dipercayai
dengan meyakini bahwa Allah tidak akan menipu kita
dengan sengaja. Akan tetapi ada dua faktor baru, yang
bersama-sama memberikan suatu otonomi baru bagi
perdebatan di seputar metodologi ilmiah. Yang per-
tam a, sekarang filsafat m enem patkan p ersoalan -
persoalan utama di dalam filsafat ilmu — dan meng-
hadapinya secara langsung —bukan lagi sebagai per-

100
soalan sampingan teologi yang dibahas sambil lalu.
Yang kedua, persoalan-persoalan ini memperoleh rele-
vansi dan signifikansi baru, karena manusia kemudian
menghasilkan yang baru, teori-teori alam yang ber-
basis empiris dengan kesungguhan yang tak dikenal
selama 1. 200 tahun.
Antara tahun 1600 sampai 1800 perdebatan dalam
filsafat ilmu hampir tak dapat dipisahkan dari per­
debatan dalam ilmu itu sendiri. Sejak Bacon dan
Galileo melalui Descartes dan Leibniz hingga Laplace
dan Kant, semua peserta utama perdebatan filosofis
memainkan peranan penting di pentas ilmiah. Demi-
kianlah Francis Bacon, pengarang metode induksi yang
seksam a (lih at b erik u t ini), dan Rene D escartes
keduanya memikirkan tujuan intelektual yang sama,
yakni merumuskan secara eksplisit suatu metode baru
bagi kemajuan intelek, yakni dengan cara m en yusu n

prosedur-prosedur rasional ilmu dalam cara yang


membebaskannya dari asumsi-asumsi yang sewenang-
vvenang, tak beralasan atau takhayul (berhala-berhala
Bacon) dan mendasarkannya pada cara yang tak ter-
goyahkan dalam konsep-konsep yang bersifat "jelas
dan terpilah-pilah" (clear and distinct), atau sahih secara
nyata (seperti yang dibedakan oleh Descartes).
Yang pasti, ked.uanya menawarkan resep yang
berbeda bagi terbentuknya sebuah ilmu yang rasional
dan m elukiskan hasil penyelidikan ilmiah dengan
istilah-istilah yang sangat berbeda. Di satu sisi Bacon

101
sibuk dengan pengamatan fakta-fakta secara empiris
sebagai titik tolak bagi semua ilmu dan menerima teori
sejauh itu berasal dari fakta-fakta. Idealnya, ia meman-
dang bahwa ilmuwan harus menghasilkan penyebutan
yang seksam a terhadap semua contoh fenom ena
empiris yang sedang diselidiki sebagai pendahuluan
untuk mengidentifikasi "bentuk" alamiah objek yang
dijelaskan. Walaupun Bacon tetap tidak jelas mengenai
abstraksi yang diperlukan, lazimnya ia diasumsikan
telah mengklaim bahwa proposisi-proposisi teoretis
dalam ilmu dapat dibenarkan hanya jika dideduksi
secara formal dari penyebutan tersebut.
B erbeda dengan apa yang d isebu t "in d u k si
Baconian", Descartes berfokus pada persoalan pe-
nyusunan sistem-sistem deduktif yang serba koheren
dan konsisten dalam teori, yang di dalamnya argumen
akan diteruskan dengan jaminan formal yang lazim
dalam geometri Euklidean. Sementara Bacon bereaksi
terhadap ketergantungan Skolastik pada otoritas
Aristoteles, dengan meminta agar manusia kembali ke­
pada pengalaman langsung, Descartes bereaksi ter­
hadap Skeptisisme abad ke-16 yang dianut oleh para
humanis, dengan mengacu pada matematika sebagai
pola bagi setiap pengetahuan mengenai sejati alam.
K arena sebagaim ana aksiom a-aksiom a, d efin isi-
definisi dan rumus-rumus Euklides telah menyerap
sifat-sifat intrinsik hubungan-hubungan spesial dan
m em berikan suatu titik tolak teoretis dari mana

102
seluruh geometri dapat disimpulkan secara deduktif,
m aka tugas fisika abad ke-17 ialah m em perluas
struktur intelektual Euklides dengan menambahkan
lebih lanjut aksiom a-aksiom a, definisi-definisi dan
rumus-rumus yang nyata, hanya dengan cara inilah
teori-teori gerakan, magnetisme dan panas — akhirnva
fisiologi dan kosmologi— mencapai otoritas deduktif
yang sama pentingnya. Descartes mulai memperlihat-
kan dalam volume keempat karyanya Principia Philo-
sophiea ("Prinsip-prinsip Filsafat"), bagaimana semua
fenomena fisika yang lazim dapat dijelaskan melalui
suatu sistem teori matematis yang tunggal dan menye-
luruh, yang didasarkan pada fondasi-fondasi Euklidean
dan sesuai dengan prinsip-prinsip deduktivisnya.
Kemungkinan untuk menafsirkan alam dengan cara
dem ikian sangat berkesan bagi Descartes sehingga
m enam bahkan suatu "kep astian m oral" bagi ke-
simpulan-kesimpulannya.
Argumen-argumen Bacon dan Descartes benar-
benar merupakan manifesto; keduanya menawarkan
program-program intelektual bagi sebuah ilmu alam
yang hendak dibangun, dan, sementara itu memang
benar bahwa selama 150 tahun kemudian, Galileo,
Newton, dan banyak ilmuwan lain benar-benar me-
nyusun ilmu fisika baru yang dianjurkan oleh para
filsuf. Bentuk teori yang dihasilkan pun sesuai dengan
yang dianjurkan oleh para filsuf sekalipun tidak sama
persis dengan apa yang semula diramalkan. Di satu

103
sisi, terdapat sedikit induksi Baconian dalam prose­
dur-prosedur intelektual Newton. Para ilmuwan abad
ke-17, seperti Robert Boyle — salah seorang pendiri
kimia m odern— yang sungguh-sungguh mencoba
m enerapkan m aksim -m aksim Bacon, m enem ukan
nasehatnya yang menjemukan malah menghalangi
ketimbang membantu dalam merumuskan konsep-
konsep teoretis yang menerangi. (Dengan agak kasar
dikatakan, bahwa Bacon "berfilsafat seperti Tuan
Perdana M enteri"). Di sisi lain, walaupun Newton
sangat dipengaruhi oleh contoh matematis Descartes,
ia hanya mengikuti maksim-maksim metodologisnya
pada suatu poin saja. Diakui bahwa teori gerakan dan
gravitasi Principia Newton sebenarnya sesuai dengan
re se p -re se p D e scarte s — ditam bah lagi d engan
aksioma-aksioma, definisi-definisi dan rumus-rumus
dinam is geom etri Euklides— sekalipun demikian
Newton tidak berpretensi membuktikan, lewat bukti
em piris yang lebih mantap, bahwa asumsi-asumsi
tam bahan ini benar-benar nyata dan sah. Sebagai
gantinya, ia m em perlakukannya sebagai asum si-
asumsi kerja yang diterima secara hipotesis asalkan
konsekuensi-konsekuensinya memberikan terang,
dalam kedalaman yang seksama, pada fenomena yang
belum terjelaskan. Dengan tak dapat dihindarkan,
klaim-klaim epistemik yang dibuat demi kepentingan
penjelasan-penjelasan tersebut tidak cocok dengan
ambisi-am bisi Descartes yang sangat "deduktivis".

104
Newton mengetahui, misalnya, bahwa tak ada feno­
mena yang menunjukkan atraksi mekanisme gravi-
tasional dan ia tidak melihat tempat untuk "hipotesis-
hipotesis pura-pura" (feigning hyptheses) tentang hal itu.
Dengan cara ini, dalam prakteknya Newton me-
rancang — hampir tidak disengaja— apa yang telah
dimiliki oleh para filsuf ilmu yang kemudian dinama-
kan metode hipotetis-deduktif, yang di dalamnya,
seperti diteorikan oleh Descartes, bentuk yang tepat
bagi sebuah teori dilihat sebagai sebuah sistem mate-
matis yang di dalamnya fenomena empiris khusus
dijelaskan dengan menghubungkannya kembali se­
cara deduktif kepada sejumlah kecil prinsip-prinsip
dan definisi-definisi umum. Akan tetapi metode ter­
sebut meninggalkan klaim Cartesian bahwa prinsip-
prinsip dan definisi-definisi tersebut dapat dibuktikan,
dengan tegas dan pasti tanpa terlebih dahulu menye-
lidiki apa yang disum bangkan oleh konsekuensi-
konsekuensinya bagi problem-problem dan fenomena
ilmiah yang aktual.
Mulai dari tahun 1700 wilayah perdebatan filsafat
ilmu berpindah. Pertam a-tam a, serangan-serangan
pada metode dan asumsi-asumsi Newton yang di-
lancarkan oleh Leibniz, Berkeley dan sisa-sisa Cartesian
terus berlanjut dari sudut pandang yang berbeda.
Namun pada tahun 1740 berakhirlah masa bagi mani­
festo dan keberatan-keberatan tersebut; ketepatan
basis ilm iah konsep-konsep Newton tak lagi di-
ragukan, dan pertanyaan filosofis menjadi restrospektif
yakni, bagaimana Newton melakukannya? Terhadap
pertanyaan baru ini, para filsuf abad ke-18 terbagi atas
tiga kubu: Empirisme, Rasionalisme dan Kantianisme.
Ada orang yang percaya, seperti David Hume, bahwa
filsafat Newton sesuai dengan maksim-maksim empiris
Francis Bacon dan John Locke. Lagi, ada yang percaya
— seperti matematikus Swiss, Leonhard Euler, salah
seorang pendiri analisis modern, dan Immanuel Kant
di masa m udanya —bahwa prinsip-prinsip fisika
Newton akhirnya akan didasarkan pada sebuah basis
yang benar-benar demonstratif atau nyata sebagai;
mana dikehendaki oleh Rasionalisme Cartesian. Tak
ada dari kedua posisi itu yang terbukti benar-benar
sukses, seperti diakui Kant sendiri: kubu Empirisme
gagal berlaku adil terhadap ketepatan deduktif argumen-
argumen teoretis Newton; dan kubu Rasionalisme tak
dapat m em perlihatkan secara seksama keunikan
matematis Sistem Newton. Seperti sudah diketahui,
bahkan geometri Euklidean, yang meliputi aksioma
mengenai paralel-paralel (menurut satu, dan hanya
satu garis dapat ditarik melalui sebuah titik paralel
menuju garis lain) tak dapat lagi mengklaim keunik­
an formal. Dalam tahun 1733 dan kemudian 1766,
sistem-sistem geometris alternatif dapat dikembang-
kan secara konsisten di dalamnya aksioma mengenai
paralel-paralel digantikan dengan alternatif-alternatif
matematis lain yang dapat diterima. Jelaslah, otoritas

106
yang diklaim atas konsep-konsep dan m etodologi
Newton tak dapat lagi dipertahankan dalam cara
Rasionalis lama; maka muncullah alternatif ketiga,
Kantianisme.
Salah satu tujuan utama filsafat Kant yang disebut
sebagai filsafat Kritis, dengan metodenya yang ter-
kenal dengan sebutan metode transendental, di mana
p en getah u an m en cerm in kan stru k tu r k ateg o ris
pikiran, ialah memberikan sebuah alternatif pembenar­
an filosofis terhadap h asil-hasil N ew ton. Sistem
konsep-konsep yang dipakai dalam geometri Euklidean
dan fisika Newtonian secara unik relevan bagi peng-
alaman aktual m anusia, Kant berargum en, bukan
karena pemakaian empiris prinsip-prinsipnya yang
nyata (self-evident principles) — tak ada sesuatu yang
nyata yang dapat menceritakan kepada si penyelidik
tentang apa pun mengenai dunia luar. Kurang lebih
sistem konsep-konsep itu relevan karena sokongan
induktifnya begitu kuat— tak ada argumen Baconian
yang dapat m enghasilkan jenis kepastian yang di­
butuhkan. Lebih tepatnya karena sang ilmuwan dapat
mencapai suatu sistem penjelasan-penjelasan yang
bersifat rasional, koheren, dan dapat diterapkan secara
empiris, hanya dengan mengkonstruksi teori-teorinya
di seputar konsep-konsep tersebut (Euklidean dan
Newtonian). Dalam kenyataanmya, Kant melangkah
lebih ja u h . K an t m en g k laim , ak sio m a -a k sio m a
Euklidean dibutuhkan bukan hanya bagi ilmu saja;

107
aksioma-aksioma tersebut memperinci secara ekspiisit
struktur-struktur kognitif (pikiran)yang juga tercakup
secara implisit —sebagaimana disebutbentuk-bentuk
intuisi (khususnya ruang dan waktu)—dalam peng-
aturan rasional prailmiah pengalaman inderawi ke
dalam suatu dunia objek-objek substansial yang
koheren dan masuk akal yang dipandang berinteraksi
melalui proses-proses sebab-akibat. jangkauan me­
tode transendental Kant kemudian akan memungkin-
kan seorang pemikir untuk mengenali (atau begitulah
harapan Kant) bagaimana dan dalamhal apa pemakai-
an sistem bentuk-bentuk dan kategori-kategori rasio­
nal yang telah dibentuknya sangatdibutuhkan untuk
setiap pengertian koheren atau bahkan untuk peng­
alaman apa pun.

3. Sampai Perang Dunia I : Filsafat Fisika Klasik


Daya upaya filosofis Kant yang ambisius butuh
waktu lama untuk dipahami. Abadbelakangan, dalam
tahun 1880-an, para filsuf ilmu dengan cara yang ber-
beda-beda, seperti Ernst Mach, fenomenalis Austria,
dan Heinrich Hertz, perintis teorigelombang elektro-
magnetik, keduanya melanjutkan persoalan-persoal-
an yang dibukakan oleh Kant; dan beberapa impli-
kasinya masih diteliti dalam tahun 1970-an, contohnva,
dalam psikologi kognitif. Dalam istilah-istilah umum,
tesis utama Kant—yakni, bahwa manusia memberikan
suatu struktur pada pengetahuannya melalui konsep-

108
konsep dan kategori-kategori yang bermuara pada
pembentukan dan penafsiran pengalaman — terbukti
sangat subur; tesis ini membantu dalam menganalisis
penyusunan teori, dan tesis tersebut telah ditunjukkan
dalam psikologi pengindraan bahwa kem am puan
persepsi manusia yang tepat dapat m enghasilkan
pengetahuan yang efektif hanya pada tingkat ketika
input-input inderawi itu sendiri mempunyai sebuah
struktur kognitif atau konseptual.
Bila kita melihat kembali ke masa lampau, dalam
satu hal, tampaknya Kant telah berusaha terlalu banyak.
Mencakup struktur inderawi manusia dan pengaturan
intelektual seluruh geometri Euklidean, fisika funda­
mental Newton dan pemikiran-pemikiran prailmiah
mengenai substansi dan sebab, Kant bertekad untuk
memperlihatkan secara a priori bahwa struktur aktual
manusia adalah struktur satu-satunya yang dapat di-
terima dan yang paling efektif— sekarang ini diketahui
pembuktian ini sesat, karena tesisnya bukan soal yang
sebenarnya. Hal ini terjadi tidak hanya disebabkan
sistem-sistem alternatif geometri dan dinamika dapat
dikembangkan secara konsisten dalam istilah-istilah
matematika (sebab Kant sendiri telah menyadari hal
ini); lebih tepatnya disebabkan oleh astrofisika dan
mekanika kuantum telah berhasil dalam memberikan
penerapan empiris yang sepenuhnya koheren untuk
penjelasan ilmiah pada fenomena alamiah di luar
konsep-konsep Eklidean dan post-Newtonian — dan

109
ini tidak dipikirkan sebelumnya oleh Kant. Sebenar-
nya, di samping matematika murni, Kant dan para
penerus terd ekatn ya, yakin bahw a Euklides dan
Newton di antara keduanya bagaimanapun juga telah
mencapai suatu sistem geometri dan fisika yang luar
biasa —jika bukan kebenaran-kebenaran matematis
yang terakhir tentang alam.
K urang lebih seratu s tahun, fond asi-fondasi
epistemik dan komitmen-komitmen ontal apa yang
disebut ilmu klasik ini diterima begitu saja secara luas.
Oleh karena itu perdebatan dalam filsafat ilmu abad
ke-19 berpusat pada topik-topik pinggiran dan meng-
hind ari isu -isu yang dapat m em pertanyakan ke-
mapanan Euklides dan Newton. Validitas sistem klasik
tidak dipersoalkan, persoalan-persoalan yang di-
anggap relevan hanya menyangkut penafsiran impli-
kasi-implikasinya; dan posisi-posisi yang dimuncul-
kannya dapat diklasifikasi dengan penyederhanaan
yang agak berlebihan, di bawah kubu doktrin meka-
nistik (atau Materialis) dan doktrin Idealis.
Kubu Idealis mengambil inti tesis Kant bahwa
struktur kognitif pengalaman dipaksakan kepada alam
ketimbang ditemukan di dalamnya dan mereka men-
coba menyelidiki konsekuensi-konsekuensinya yang
lebih luas. Psikologi persepsi inderawi, misalnya, yang
dulunya ditarik dari studi ilmiah langsung melalui
pemisahan mutlak Descartes atas materi dari pikiran,
sekarang terbuka bagi penyelidikan; sehingga, pada

110
pertengahan abad ke-19, Herman von Helm holtz,
pelopor studi-studi ilmiah yang luas cakupannya,
memulai penyelidikan-penyelidikan yang luar biasa
ke dalam produksi pengalaman inderawi dan ide-ide
manusia yang dilakukan dalam karya monumentalnya
Hnndbuch derphysiologischen Optik (1856-67); diterjemah-
kan ke dalam bahasa Inggris, Physilogical Optics,
(1921-25).
Akan tetapi bagi sebagian besar penerus Kant,
jalur Idealis m eninggalkan filsafat ilmu memasuki
bidang lain — khususnya, ke dalam ideologi politis,
filsafat sejarah dan sosiologi. Dengan demikian, tidak
heran bahwa baru pada abad ke-20 Sir Arthur Eddington
teoretisi relativitas-kuantum, dalam bukunya Funda­
mental Theory (1946), sekali lagi menerima sungguh-
sungguh tugas dasar Idealisme Kantian, yakni, mem-
perlihatkan, berdasarkan pada prinsip-prinsip epis-
temologi yang bersifat a priori, bahwa interpretasi fisik
m anusia pada alam m encakup stru ktur-stru ktu r
penting yang dipaksakan pada fisika oleh sifat pro­
sedur-prosedur teoretisnya sendiri.
Sementara itu, para Materialis mekanistik meng-
abaikan wawasan-wawasan sentral Kant dan sebagai
gantinya berkonsentrasi pada im plikasi-im plikasi
sistem Newtonian yang tampak kepada cabang-cabang
ilmu lain. Perdebatan filosofis yang bersemangat, se­
cara khusus dihasilkan di bidang-bidang itu yang baru
saja mengembangkan metode-metodepenjelasan yang

111
efektif dan konsep-konsep teoretis' mereka sendiri.
Satu contoh yang baik dari bidang tersebut ialah psiko-
logi, yang di dalamnya karya seorang pelopor fisio­
logis eksperimental, Claude Bernard, dengan analisis
teoretisnya yang mencolok terhadap sistem vasomo­
tor dan mekanisme-mekanisme pengaturan di dalam
tubuh, yang mendahului ide-ide abad ke-20 tentang
sistem-sistem umpan balik, akhirnya menerobos jalan
buntu yang telah berlangsung lama di antara dua
kelompok ilmuwan yang bertentangan —para mekanis
ekstrem, yang mengakui tidak ada perbedaan sama
sekali antara proses-proses organik atau fisiologis dan
fenomena fisiokemis dunia inorganik, dan para vitalis
yang langsung, yang bersikeras bahwa dua jenis
fenomena itu berbeda secara mutlak. Perdebatan juga
m endorong suatu pandangan epifenom enal pada
pengalaman — sebagai suatu jenis buih (froth) mental
subjektif tanpa pengaruh sebab akibat pada meka-
nisme-mekanisme fisikal yang mendasarinya— dengan
demikian mempertajam ancaman yang tampak kepada
semua klaim tentang "kehendak bebas" manusia.
Sesungguhnya sekarang ini tampak bahwa kesimpulan-
kesimpulan ilmiah yang dipopulerkan seperti evo-
lusionis Jerman, Ernest Haeckel, yang mengawinkan ide-
ide fisika klasik dengan sejarah alam Darwinian baru
untuk m em bentuk kosm ologi M aterialistik yang
kom prehensif, atau "anti-teologi", yang lebih ber-

112
r

pengaruh pada masa itu daripada yang terlihat di masa


lampau.
Ada satu pertukaran yang menjanjikan tentang isu-
isu epistemik utama di dalam filsafat ilmu pada per-
tengahan abad, yang terjadi antara William Whewell,
seorang filsuf Inggris dan sejarawan ilmu yang ter-
kenal karena karyanya mengenai teori induksi, dan
eseis politis, John Stuart Mill: namun pertukaran ini
gagal. Perdebatan berakhir dalam tujuan yang ber-
seberangan, sebagian besar lantaran perbedaan-per-
bedaan dalam temperamen dan hal-hal yang digeluti.
Pengetahuan Whewell —bukan cuma ilmu fisik kon-
temporer melainkan mengenai seluruh latar belakang
historisnya— luas sekaligus rinci. Kebutuhan mate-
matis argumen-argumen tersebut seperti yang terdapat
dalam dinam ika N ew tonian m engesankannya se-
banyak yang dialami Kant: namun ia memberikan pen­
jelasan yang kurang megah untuk alasan-alasan ke­
butuhan ini. Filsafat Whewell, variasi Kantian pada
m etode h ip otetik o-d ed u ktif, dihistorisasi: hanya
dengan suatu pendekatan progresif maka para fisika-
wan tiba pada sistem-sistem yang paling koheren dan
komperhensif dari apa yang disebut Whewell hipo-
tesis "consilien" — yang diperoleh secara terpisah,
namun merupakan sekumpulan hukum-hukum yang
serasi — yang cocok dengan pengetahuan empiris juga
penyelesaiannya. Mill, di sisi lain, secara prinsip mem-
perhatikan metodologi ilmu-ilmu sosial, yang terpusat

113
pada basis pengam atan ilmu menuj-u pengabaian
terus-menerus pengaturan teoretisnya sehingga m e­
nekankan hakikat kesatuan, atau takniscaya dan ber-
ubah-ubah semua pengetahuan em p iris yang asli.
Tepat pada waktunya, doktrin-doktrinnya yang ter-
tentu, seperti penjelasannya m engenai rumus-rumus
aritmetis sebagai suatu varietas generalisasi empiris,
m em buat ia diejek orang tertentu: nam u n, untuk
sementara waktu, sementara sebagian besar tulisan-
tulisan dan pengetahuan Whewell m eredam kekuatan
argumen-argumennya, gaya paparan M ill yang lancar
dan kurang teknis merebut hati orang banyak.
Akibatnya, baru tahun 1890-an dan awal tahun
1900-an terjadi keraguan-keraguan serius yang ber-
tambah besar terhadap finalitas sintesis Newtonian;
dan tu lisan -tu lisan Ernst M ach, H e in ric h H ertz
fisikawan Jerman yang terkenal, M ax Planck, Pierre
Duhem, dan orang-orang lain m enobatkan fase baru
ciri reanalisis kritis yang b erjang kau an jauh pada
filsafat ilmu abad ke-20. Dalam satu dan lain cara,
semua ilmuwan ini berpaling ke belakang dan melihat
pada sistem-sistem Euklidean dan N ew tonian dengan
mata yang segar dan kurang terpaku. Mereka telah
mempelajari peringatan Kant tentang sifat konstruktif
teori-teori formal, tanpa menganut keyakinannya pada
rasionalitas yang unik sintesis klasik; dan, akibatnya,
topik-topik utama diskusi mereka berkenaan dengan
ca ra -ca ra terb aik m enyatakan k e m b a li problem

114
Kantian. M engakui bahwa aktivitas intelektual pe-
nyusunan teori mempunyai efek m em bangun ke-
butuhan fisik ke dalam argumen-argumen teoretis
manusia, mereka bertanya, lalu apa yang akan terjadi,
secara ontologis, tentang realitas atau kelaziman atom-
atom, daya-daya, elektron-elektron yang dihasilkan
dan sebagainya, dan apa yang dapat dikatakan, secara
epistemologis, tentang status kognitif dan kesahihan
logis prinsip-prinsip teoretisnya?
Pada sisi ekstrem, seorang fisikawan dan filsuf
Austria, Ernst Mach, dan Richard Avenarius, pengarang
filsafat yang dikenal sebagai empirio-kritisme, men­
jelaskan secara rinci bentuk sensasionalis Empirisisme
yang m engingatkan kita pada David Hume, yang
telah bersikeras bahwa semua ini dapat dilacak kepada
"kesan-kesan" (sensasi-sensasi). Dalam pandangan
mereka, konsep-konsep teoretis merupakan fiksi-fiksi
intelektual, diperkenalkan untuk mencapai pengatur-
an dalam organisasi intelektual kesan-kesan panca
indra, atau pengam atan-pengam atan, yang hanya
untuknya keunggulan ontal dapat diklaim. Sama hal-
nya, semua klaim terhadap pengetahuan ilmiah mem­
punyai kesahihan epistemik hanya bagi mereka sejauh
dapat didasarkan pada kesan-kesan indrawi tersebut.
Sebagai perlawanan pada posisi instrumentalis atau
reduksionis ini, Max Planck, pengarang teori kuantum,
membela Realisme terbatas, yang, setidaknya, meng-
ungkapkan cita-cita ke arah yang dituju semua per-

115
kembangan konseptual di bidang fisik; karena, tanpa
suatu keyakinan pada realitas alam eksternal yang
kekal (enduring reality o f external nature), ia berargumen,
semua motif bagi perbaikan teoretis di dalam ilmu
akan sia-sia. Di antara dua posisi yang ekstrem ini,
Henri Poincare, yang sama-sama dibedakan dalam
matematika dan filsafat ilmu, dan Pierre Duhem, se­
orang fisikawan teoretis Perancis, menempati suatu
barisan pertengahan yang disebut posisi konvensio­
nalis, vang berusaha mengatakan yang sebenarnya
m engenai unsur-unsur yang sewenang-wenang di
dalam konstruksi teori sam bil m enghindari jenis
keraguan radikal tentang status ontal entitas-entitas
teoretis yang membawa Mach ke dalam Skeptisisme
seumur hid up tentang realitas atom-atom.

4. Perdebatan Abad ke-20: Para Positivistis


versus Sejarawan
Di pertengahan abad ke-20, perdebatan dalam
filsafat ilmu menjadi semakin mendalam, rumit, dan
kritis; dalam kenyataannya selama 50 tahun, kita telah
melihat topik itu akhirnya mendapat status sebagai
suatu disiplin profesional yang mantap. Tidak sedikit
di antara penyebab perkem bangan ini ialah per-
ubahan-perubahan mendalam yang telah terjadi sejak
tahun 1900 di dalam fisika teoretis dan cabang-cabang
fundamental ilmu alam. Selama sintesis klasik Euklid
dan Newton mempertahankan otoritasnya yang tak
dapat diganggu gugat, hanya sedikit kesem patan
untuk benar-benar memeriksa secara mendalam basis
ontologis dan epistemologis; namun teori relativitas
— yang menerangkan geometri-geometri dan hukum-
hukum yang lebih awal di dalam kerangka wawasan
baru ke dalam hubungan-hubungan di antara ruang dan
waktu— dan mekanika kuantum — yang menerang-
kannya dalam kerangka rumusan statistik dan indeter-
ministik— mengajukan tantangan yang frontal kepada
sintesis itu, dan mau tak mau, mendorong pertanyaan-
pertanyaan kritis dan filosofis terhadap kesahihan
m etode-m etode dan asum si-asum si yang m enjadi
sandarannya. Akibatnya, antara tahun 1920 dan 1940
muncul suatu interaksi yang diperbaharui antara
fisikawan teoretis dengan para filsuf ilmu — khusus-
nya para Positivis Wina dan para pengarang mekanika
kuantum yang baru.
Tem a-tem a utama perdebatan berikutnya se-
bagian besar diperkenalkan dalam diskusi periode
sekitar tahun 1900. Reduksionism e kritis Mach, di
dasarkan pada Beitrdge zur Analyse der Empfindungen
(1886; terjemahan Inggrisnya, The Analysis o f Sensation...,
1959), yang di dalamnya ia mencoba mereduksi semua
pengetahuan menjadi pernyataan-pernyataan tentang
sensasi-sensasi, sebagai sumber utama baik Positivisme
dan empirisisme logis Lingkaran Wina — sekelompok
filsuf dan ilmuwan terkemuka yang bertemu secara
teratur di Wina selama tahun 1920-an dan 1930-an— dan

117
juga teori-teori epistemologis tentang data-indra dan
konstruksi-konstruksi logis yang dikembangkan di
Inggris kira-kira dalam waktu yang bersamaan oleh
Bertrand Russell, barangkali logikawan dan filsuf yang
kem udian terkem uka di Inggris; oleh G.E. M oore,
seorang perintis yang sangat teliti di bidang Analisis
Linguistik; dan oleh filsuf lainnya. Sem entara itu,
realisme terbatas Planck dan Hartz dilaksanakan lebih
jauh oleh filsuf seperti Norman Campbell, seorang
fisikawan Inggris yang dikenal karena pembedaannya
yang mempertajam antara hukum-hukum dan teori-
teori, dan Karl Popper, seorang filsuf Austro-Inggris
yang dikenal karena teorinya tentang falsifiabilitas,
pandangan keduanya mencerminkan metodologi yang
eksplisit banyak ilmuwan yang bekerja di masa kini.
Suatu perkecualian yang utama adalah para pengikut
positivistik Niels Bohr dalam fisika teoretis aliran
Copenhagen. Akhirnya, berlanjut menjadi dukungan
su bstansial pada kom prom i-kom prom i lanjutan,
konvensionalis, dengan nada tambahan Kantian, di
sepanjang garis-garis umum yang dikembangkan oleh
Poincare dan Duhem.
Dari kompleksitas yang berlimpah filsafat ilmu
dewasa ini, dua untaian utama dapat dipilih untuk
diuraikan secara khusus di sini. Yang pertama adalah
unidian Positivisme neo-Humean, yang pertama ber-
kembang di Lingkaran Wina dan bertumbuh subur
dewasa ini di Amerika Serikat dan menggeluti secara

118
mendasar isu-isu epistemologis. Sementara sebagian
besar meninggalkan keyakinan Mach bahwa sensasi-
sensasi adalah dasar terakhir satu-satunya pengetahu­
an, para pendukungnya telah melanjutkan, bersama
Mach, memandang entitas-entitas teoretis sebagai fiksi-
fiksi atau konstruk-konstruk logis, kesahihannya se-
penuhnya tergantung pada kemampuan memberikan
basis di dalam pengam atan-pengam atan em piris.
Posisi neo-Humean ini banyak berasal dari desakan,
jika bukan konfirmasi formal, penekanan Einstein pada
peranan esensial sang pengam at di dalam fisika
relativitas dan dari serangan pada teori kuantum yang
dibuat oleh fisikawan Jerm an, Werner Heisenberg,
pada setiap pembedaan yang tajam, pada level-level
subatomik, di antara si pengamat, pengamatannya, dan
sistem yang diamati (lihat Philosophy o f Nature).
Para Positivis Logis dan Empirisis memanfaatkan
argumen-argumen epistemik ini sebagai suatu per-
alatan formal yang diambil dari filsafat matematik-
khususnya, dari Principia M athem atica (1910-1913)
Russell dan Whitehead. Dalam pandangan mereka,
ak tiv itas konstru ksi teori ekuivalen secara logis
dengan penciptaan sistem-sistem proposional, yang
di dalam nya kelom pok-kelom pok proposisi secara
ideal dikemukakan dalam bentuk aksioma tik. Ditafsir-
kan demikian, metode hipotetiko-deduktif menjadi
sebuah resep untuk membagi suatu rangkaian sistem-
sistem aksiom a yang sem akin m enyeluruh secara

119
progresif, yang didasarkan pada sekumpulan postulat
umum alternatif (atau proposisi-proposisi primitif)
yang diusulkan tanpa bukti, yang darinya proposisi-
proposisi em piris, partikular, dapat disim pulkan.
Seperti dalam kasus teori relativitas yang khusus,
proposisi-proposisi partikular ini — misalnya, bahwa
sumbu elips orbit Merkuri akan mendahului (atau
berbalik) pada kecepatan tertentu— kemudian dapat
digunakan untuk mengesahkan rumus-rumus umum
dengan m em bandingkannya dengan pengalam an
aktual sehingga — secara langsung atau tidak langsung—
juga membuktikan proposisi-proposisi primitif yang
lebih umum. Perdebatan berikutnya di dalam aliran
Wina berkenaan dengan, sebagian besar, ciri eksak dan
daya pembuktian ini —entah itu verifikasi, konfirmasi,
atau korroborasi dan/atau falsifikasi. Pada posisi
ekstremnya yang paling ambisius, aliran Wina ini di-
tujukan untuk mengkonstruksi sebuah sistem tunggal
ilmu yang terpadu, dengan mana seluruh korpus
pengetahuan positif akan tercakup di dalam suatu
sistem aksioma yang tunggal dan mencakup segalanya
yang dikonstruksi di sekitar logika simbolik Russell
yang abstrak. Menurut program ini semua penge­
tahuan ilmiah yang sejati, pertama-tama, disahkan
dengan seruan kepada pengam atan -p en gam atan
empiris yang netral, dengan resiko dihilangkan se­
bagai yang tak bermakna (meaningless); dan kemudian

120
'

ia harus digabungkan ke dalam skema ilmu terpadu


yang lebih besar.
Oposisi yang paling kuat kepada aliran Empirisis
atau Positivis telah muncul, juga, yang berasal dari
aliran Neo-Kantian yang mempertanyakan persis pada
kem ungkinan m engidentifikasi kum pulan peng-
amatan-pengamatan yang netral secara teoretis yang
dibutuhkan untuk memperkuat atau tidak memper-
cayai teori-teori alternatif dalam suatu cara yang logis
secara ketat. Aliran Neo-Kantian ini pada filsafat ilmu
abad ke-20 telah dikukuhkan oleh pemikir pelopor
Heinrich Hertz (dalam teori gelombang elektromag-
n etik ) dan Ludw ig W ittgenstein (dalam filsafat
bahasa). Menolak pertanyaan-pertanyaan epistemo-
logis utama Mach tentang sensasi-sensasi dan ide-ide,
kedua orang ini justru telah mulai dari pertanyaan-
pertanyaan Kantian tentang manfaat representasi-
representasi atau m odel-m odel dalam penjelasan
fenomena. Telaah Hertz pada The Principles o f Mechanics
(1894), misalnya, menjelaskan secara terperinci dinamika
Newtonian sebagai suatu representasi formal yang
secara logis m em erlukan kesim pulan-kesim pulan
em piris hanya bila fenomena yang bersangkutan
sudah dapat dideskripsikan dalam istilah-istilah yang
ditarik dari teori itu sendiri; dan Tractatus Logico-
Philosophicus (1922) Wittgenstein memperluas analisis
Hertz untuk memberikan suatu teori filosofis bahasa
yang umum sebagai suatu instrumen merepresentasi

121

I
fa k ta -fa k ta . Im p lik asi-im p lik asi pen d ekatan ini
untuk analisis filosofis dan m etodologi ilmu telah
diselidiki lebih lanjut oleh beberapa murid dan penerus
W ittgenstein, yang telah mengubah fokus diskusi
berlalu dari verifikasi proposisi-proposisi ilmiah men-
jadi penetapan konsep-konsep dan teori-teori ilmiah;
dengan m enyoroti masalah perubahan konseptual,
m ereka telah m enghidupkan kembali minat pada
signifikansi filosofis sejarah ide-ide ilmiah. Karena,
dari sudut pandang ini, pertanyaan-pertanyaan logis
tentang struktur sistem-sistem proposisional harus
digabungkan dengan yang lain, maka pertanyaan-
pertanyaan rasional yang sama-sama mendasar tentang
cara yang di dalamnya sistem-sistem teoretis yang
berbeda menjadi berhasil satu sama lain, (lihat di bawah:
Perubahan konseptual dan perkembangan ilmu).
Selama periode yang sama ini, perubahan-per-
ubahan luar biasa yang terjadi di dalam ilmu-ilmu
seperti fisika teoretis, biokimia, dan psikologi telah
merangsang diskusi-diskusi filosofis di kalangan para
ilmuwan itu sendiri. Sebagai contoh, penggeseran
fisika N ew tonian klasik oleh m ekanika kuantum
Heisenberg telah mendorong suatu giliran baru argu-
men-argumen tentang kausalitas dan determinisme,
dengan beberapa orang yang mengelu-elukan Prinsip
Indeterminasi Heisenberg —yang memandang bahwa
lokasi sebuah partikel secara intrinsik tidak jelas dalam
arti bahwa momentumnya persis (dan sebaliknya)—

122
yang memberikan tumpuan kehendak bebas manusia
yang oleh determinisme ketat abad ke-19 tampaknva
tidak dimungkinkan. Kemajuan dalam Fisiologi se-
lular dan subselular, lebih lanjut, telah memunculkan
ronde-ronde lanjutan perdebatan di dalam filsafat
biologi. Claude Bernard, eksperimentalis terkemuka
kedokteran abad ke-19, tidak pernah berhasil memper-
luas analisisnya pada mekanisme-mekanisme peng-
atur, seperti syaraf-syaraf yang mengendalikan ukuran
pembuluh-pembuluh darah, untuk mencakup proses-
proses embriologi dan morfogenesis (perkembangan
bentuk-bentuk organis); dan, pada level yang lebih
halus ini, ada jalan buntu yang dibuat lagi sekitar tahun
1900 sampai 1920, antara vitalisme Hans Driesch, yang
mengusulkan suatu realitas yang nyaris mirip-roh
yang membimbing perkem bangan, dengan meka-
nisme Jacques Loeb, dua biolog eksperimental dengan
minat filosofis. Sekali lagi, para pendukung posisi
ekstrem tidak dapat m em buktikan alasan mereka
seluruhnya; malahan, para biolog cenderung ke arah
konsepsi sistemik yang menengahi, yang dikenalkan
pertama kali oleh Paul A. Weiss, seorang biolog per­
kembangan yang ternama pada pertengahan tahun
1920-an. Konsepsi itu dikembangkan kemudian secara
rinci menjadi aplikasi-aplikasi teori-teori baru siber-
netika dan umpan balik, yang melaksanakan studi-
studi komparatif pada sistem-sistem kendali otomatis
dalam sistem saraf dan dalam rekayasa elektro meka-

123
nis. Belum lama berselang perkem bangan biologi
molekuler telah memaksa para ilmuwan untuk me-
rumuskan kembali masalah morfogenesis sekali lagi
— inilah saatnya ketika m asalah bagaim ana me-
mahami pola-pola struktural makromolekul-makro-
molekul nuklei acid dalam bahan genetis turun-temurun
menemukan ungkapan struktural dalam tubuh yang
sedang berkem bang sebagai sebuah hasil interaksi
dengan lingkungan. Sampai sekarang, pertanyaan ini
sebagian besar masih belum terjawab.
Secara metodologis, sejak tahun 1940 satu pusat
baru perdebatan filosofis telah berkembang, kini dalam
ilmu-ilmu behavioral. Sejak Descartes dan Hobes, telah
ada ketidaksepakatan yang tajam tentang keabsahan
perluasan metode-metode dan kategori-kategori ilmu
fisik ke lingkungan proses-proses mental manusiawi
yang lebih tinggi dan khas. Bahkan pada tahun 1970-
an, para psikolog teoretis masih jauh dari sepakat
dalam penjelasan-penjelasan mereka mengenai peri-
laku manusia. Beberapa psikolog bersikeras bahwa
tindakan-tindakan manusia tunduk kepada hukum-
hukum dan m ekanism e-m ekanism e yang sejenis
dengan proses-proses fisik; yang lain menolak setiap
penyamaan langsung apa pun yang terdapat di antara
aturan-aturan perilaku dan hukum -hukum alam.
Sampai sekarang perdebatan ini masih hidup dalam
psikologi bahasa. Para Behavioris m engikuti B.F.
Skinner, seorang psikolog Amerika, menolak setiap

124
kelas tersendiri untuk hukum-hukum dan proses-
proses mental, sementara para psikolog kognitif dan
ahli tata bahasa generatif, yang dipimpin oleh Noam
Chom sky, berargum en bahw a ak tiv itas-ak tiv itas
linguistik bersifat kreatif dan diatur sesuai dengan hal-
hal yang tidak dapat dijelaskan oleh para Behavioris.
Begitu juga dalam sosiologi dan antropologi, abad
ke-20 telah menjadi periode kontroversi metodologis.
Di sini konflik yang tidak terpecahkan berkenaan
dengan signifikansi sejarah dalam menjelaskan peri-
laku kolektif manusia. Di suatu sisi, di dalam sosio­
logi, ada suatu aliran yang disebut strukturalis atau
fungsionalis yang mengikuti sarjana Amerika lainnya,
Tallcott Parsons. Dalam antropologi, ada etnolog Inggris
Arnold Radcliff-Brown dan Bronislaw Malinowski,
yang mempelajari mentalitas dan perilaku primitif,
yang memandang semua praktek budaya dan lem-
baga-lembaga sosial yang berfungsi di dalam komuni-
tas tertentu kapan saja, saling berhubungan satu sama
lain secara sistematis dalam suatu struktur keseluruh-
an. Untuk menjelaskan salah satu dari praktek atau
lem baga-lem baga itu, mereka menganggap, cukup
dengan m enunjukkan bagaim ana ia berhubungan
dengan semua aspek-aspek kebudayaan lainnya se­
cara serentak. Di sisi lain, aliran yang lebih berorientasi
historis, terutama "para Marxis kritis" (seperti Jurgen
H aberm as) m enekankan pengem bangan dinam is
karakter struktur-struktur dan hubungan-hubungan

125
sosial. Sekali lagi, di sini perdebatan m etodologis
masih berlanjut dan hasil akhirnya belum dapat di-
ramalkan dengan jelas. ❖

126
KONSEPTUALISASI
II DAN M ETODOLOGI ILMU

Sekarang adalah saat yang tepat untuk men-


definisikan masalah-masalah yang selalu berulang,
yang m em ainkan peran utam a dalam perdebatan
filosofis tentang ilmu dan unsur-unsur krusial yang
harus tercakup di dalam laporan suatu filsafat ilmu
yang adekuat. Sejak permulaan, para ilmuwan sendiri
tertarik bukan hanya untuk m engkatalogkan dan
m endeskripsikan dunia alam seperti yang mereka
temukan, melainkan untuk membuat cara kerja-cara
kerja alam dapat dipahami dengan bantuan teori-teori
yang padat dan terorganisir. Seiring dengan itu, para
filsuf ilmu diharuskan untuk m em pertim bangkan
bukan cuma alam semesta yang terisolasi — sekedar
tumpukan fakta-fakta empiris, yang menunggu dengan
bisu ditemukan manusia — tetapi juga cara manusia
m encerap dan m enafsirkan sendiri fakta-fakta itu
ketika memasukkannya ke dalam genggaman suatu

127
teori yang dapat dipahami dan pertimbangan-pertim-
bangan yang di dalamnya kesahihan ide-ide teoretis
yang dihasilkan (atau konsep-konsep) dipengaruhi
oleh pemrosesan data empiris.
Berbicara secara historis, persoalan-persoalan
yang dimunculkan oleh interaksi manusia dan alam
ini menjadi rumit dan membingungkan. Walaupun
sampai hari ini para filsuf ilmu menghadapi banyak
pertanyaan yang sama, yang sudah diperdebatkan di
A thena kuno, nam un deretan dan relevansi p er­
tanyaan-pertanyaan itu diperjelas setiap saat. Misal­
nya, ketika para filsuf pada abad ke-17 menganalisis
alam dan ruang lingkup penjelasannya yang mungkin
secara matematis dan eksperimental, mereka mem-
bantu memperjelas dasar bagi Newton untuk mengem-
bangkan program intelektual dan metodologi fisika
teoretis modern. Sementara itu, perdebatan filosofis
berikutnya tentang klasifikasi buatan dan alamiah juga
memperjelas dasar bagi taksonomi ilmiah sistemikus
Sw edia, Carolus Linnaeus dan teori seleksi alam,
Charles Darwin. Klarifikasi metodologis dalam filsafat
ilmu, telah berkali-kali membawa kemajuan kreatif
pada ilmu itu sendiri sehingga, pada gilirannya, me-
munculkan pengalaman baru yang dapat dimanfaat-
kan para filsuf untuk memajukan analisis metodologis-
nya.

128
A. Unsur-unsur U sah a Ilmiah

Memang cukup mudah mendaftar unsur-unsur


utama yang pasti memperoleh tempat di dalam setiap
filsafat ilmu, nam un persoalan-persoalan m uncul
ketika m em etakan hubungan-hubungan di antara
mereka.

1. Data Empiris dan Penafsiran Teoretis


Yang pertama adalah unsur-unsur empiris. Tugas
ilmu ialah menjelaskan peristiwa-peristiwa, proses-
proses, atau-fenomena aktual di alam; dan tidak ada
sistem ide-ide teoretis, istilah-istilah teknis, dan pro­
sedur-prosedur matematis — atau prosedur-prosedur
matematis semata— yang patut disebut ilmiah jika ia
tidak bertarung dengan fakta-fakta empiris itu pada
titik tertentu dan dengan cara tertentu membantu
membuatnya lebih dapat dipahami. Di satu sisi, fakta-
fakta yang sedang digarap mungkin diperoleh dengan
menggunakan metode-metode pengamatan — yakni,
dengan cara melaporkannya sebagaimana adanya dan
ketika terjadi secara alamiah, tanpa menggunakan cara-
cara khusus apa pun untuk mempengaruhi peristiwa-
peristiwanya. Situasi ini adalah tentu saja, hal normal
di dalam astronomi, di mana objek-objek studi tidak
dapat dipengaruhi atau dikontrol. Lainnya, fakta-fakta
itu boleh jadi ditemukan dengan menggunakan me­
tode-m etode eksperim ental — yakni, dengan me-
rancang peralatan spesial atau perkakas yang dengan

129
bantuannya proses-proses atau fenomena-fenomena
dibuat terjadi sesuai dengan permintaan dan di bawah
kondisi-kondisi yang dikendalikan secara khusus.
Dalam kasus itu, sang ilmuwan dapat menyerang
masalah-masalah ilmiah — untuk menggunakan meta-
for Kant yang bersemangat— dengan "menempatkan
Alam untuk dipersoalkan", seperti halnya di dalam
fisika dan biologi dasar. Cara lain, suatu kesulitan filo­
sofis muncul seketika berkenaan dengan hasil-hasil
studi empiris sang ilmuwan: karena dia harus me-
nanyakan bagaimana mungkin bahan mentah fakta-
fakta empiris tersebut dapat diubah, dinyatakan, dan
dideskripsikan di dalam suatu cara yang menerangi
masalah-masalah teoretis ilmuwan itu sendiri. Apakah
semua fakta em piris apa saja bisa m enjadi bahan
mentah ilmu? Ataukah hanya fakta-fakta yang rele-
vansi teoritisnya telah diseleksi lebih dahulu —atau
bahkan, pada tingkat tertentu, fakta-fakta itu dibentuk
lagi untuk memastikannya? Apakah seorang ilmuwan
beru rusan dengan setiap peristiw a em piris yang
khusus, tersebut, atau hanya dengan fenomena umum
atau keteraturan-keteraturan (regularity) yang dapat
dikenali dalam peristiwa-peristiwa itu? Aliran-aliran
filsuf yang berbeda memperlakukan bahan mentah ini
dengan cara-cara yang sangat berbeda.
Di tempat kedua terdapat unsur-unsur konsep-
tual. Setiap ilmu menggunakan abstraksi-abstraksi,
term inologi dan teknik-teknik penafsiran dan pen-
jelasan ciri khasnya sendiri, yang jenis-jenisnya bisa
sangat berbeda. M ereka bisa saja berupa tipe-tipe
ideal, seperti dalam teori gas dan bagian-bagian sosio-
logi; prinsip-prinsip konservasi, seperti di dalam
dinam ika dan energetika; taksa, seperti di dalam
sistem atika biologis; partikel-partikel atau unsur-
unsur pokok seperti di dalam genetika dan fisika
su batom ik; m od el-m odel atau d iagram -d iagram
aliran, seperti di dalam analisis ekonometrik. Unsur-
unsur konseptual tersebut adalah kunei-kunci intelek­
tual yang dengannya fenomena dibuat bisa dipahami,
dan sebuah perdebatan filosofis yang paling aktif telah
mengubah sama sekali bagian yang mereka mainkan
dalam penafsiran fenomena. Jika, misalnya, ide parti­
kel-partikel atau unsur-unsur pokok terakhir (ultimate
constituents) materi dipandang sebagai suatu konsep
yang diciptakan para ilmuwan dalam rangka analisis
teoretis mereka sendiri, dapatkah kemudian diklaim
suatu eksistensi tersendiri untuk entitas-entitas teoretis
tersebut di lingkungan alam itu sendiri? Atau harus-
kah semua ide tersebut dipandang sebagai fiksi-fiksi
atau konstruk-konstruk, sehingga klaim terhadap
realitas tidak pernah melampaui makalah tempat di-
tulisnya penjelasan-penjelasan ilmiah? Demikian pula,
jika deskripsi-deskripsi teoretis alam yang terdapat
pada ilmu diidealisir dan abstrak tanpa terelakkan,
apakah ini menyiratkan bahwa desakan untuk mem-
bubuhkan argum en-argum en, m isalnya, di dalam

131
fisika teoretis itu sendiri hanyalah suatu artifak atau
produk sam ping prosedur-prosedur ilmuwan itu
sendiri untuk menafsirkan fenomena? Atau dapatkah
seseorang, bagaimanapun juga, membicarakan peris­
tiwa-peristiwa alamiah itu sendiri sebagai hal yang
terjadi "tak terhindarkan"?
Akhirnya, setiap ilmu alamiah juga mencakup
unsur-unsur formal dan matematis atau unsur-unsur
matematis saja. Hal ini boleh jadi berupa algoritma-
algoritma matematis, atau prosedur-prosedur peng-
hitungan, seperti yang digunakan dalam astronomi
komputasional sejak zaman Babylonia, atau seperti
program-program komputer yang merupakan padan-
annya di abad ke-20; atau konstruksi-konstruksi geo-
metris, seperti terdapat pada cabang-cabang optik
tertentu; atau metode-metode analisis grafis, seperti
yang digunakan dalam penanganan data statistik; atau
sistem -sistem aksiom atik yang dengannya, sejak
zaman klasik, geometri dan fisika diorganisir menjadi
skemata formal proposisi-proposisi yang diikat ber­
sama oleh hubungan-hubungan logis. Para filsuf
dalam tradisi Platonis memberikan perhatian-perhati-
an khusus kepada unsur-unsur formal tersebut. Yang
dianggap dapat dipahami secara autentik hanyalah
teori-teori yang muatannya dapat ditampilkan secara
eksplisit dalam sistem -sistem proposisi-proposisi
yang formal dan lebih digemari yang bersifat mate­
matis. Teori-teori jenis ini saja yang mampu — seperti

132
diungkapkan oleh ahli logika Jerman yang terkemuka
G ottlob Frege — m en ggu nakan "k o n sep -k o n sep
dalam bentuknya yang m urni". Demikianlah para
filsuf ilmu abad ke-20 telah m encurahkan banyak
waktu dan usaha kepada persoalan: seberapa jauh dan
pada kondisi-kondisi apa, cabang-cabang ilmu alam
lainnya dapat (yakni, mekanika kuantum atau genetika)
dimasukkan di dalam bentuk aksiomatik yang definitif
yang sama sebagaimana mekanika klasik dan teori
listrik? Atau apakah konstruksi formal itu sendiri
hanyalah peralatan manusia yang diadopsi untuk me-
nyederhanakan penanganan data empiris, yang tidak
menyatakan apa-apa lagi tentang struktur yang men-
dasari alam itu sendiri?
Masing-masing tiga kelompok unsur-unsur ini
mengajukan masalah-masalah yang masih menimbul-
kan ketidaksepakatan yang mendalam bagi para filsuf
ilmu; dan perbedaan-perbedaan pandangan ini dapat
diilustrasikan secara bermanfaat dengan menunjukkan
berbagai pendekatan yang dipakai oleh anggota-
anggota aliran yang saling bersaing ketika mendiskusi-
kan masing-masing kelompok. Pada tingkat ekstrem
dapat disebut para filsuf dengan kerangka berpikir
Empirisis radikal, yang memandang penting, terutama,
menekankan fondasi-fondasi em piris pengetahuan
ilmiah; bagi mereka, fakta-fakta mentah (raw facts)
pengalaman bersifat primer dan berhak mendapatkan
penghargaan absolut. Dalam pandangan ini, prinsip-

133
prinsip teoretis umum mempunyai muatan ilmiah
yang autentik hanya bila ditafsirkan sebagai generali-
sasi-generalisasi empiris tentang data empiris yang
dipahami secara langsung; dan, sama halnya, entitas-
entitas teoretis yang abstrak harus dimengerti sebagai
konstruksi-konstruksi logis unsur-unsur yang lebih
fundamental yang dapat diidentifikasi secara lang­
sung di dalam pengalaman empiris. (Kepercayaan ini,
tentu saja, adalah basis kesimpulan Mach bahwa atom-
atom submik roskopik hanyalah fiksi-fiksi intelektual
dan mendapatkan makna ilmiahnya seluruhnya dari
pengalam an-pengalam an indra m akroskopik yang
biasa digunakan mereka untuk menjelaskan.)
Pada ekstrem yang lain, para filsuf yang benar-
benar Rasionalis, atau Cartesian, dapat disebut me­
nolak ide bahwa fakta-fakta empiris yang m entah, di
dalam dan pada dirinya sendiri, m em p erlih atk an
hubungan-hubungan apa pun yang dapat dipaham i
atau diatur oleh hukum — dan tetap m erupakan se-
suatu yang kurang penting. Bagi mereka, seperti bagi
Plato, pengalaman mentah ilmuwan akan alam adalah
sekumpulan yang tidak teratur, atau terus-m enerus
berubah, sampai ia berhasil menemukan su atu struk­
tur rasional atau prinsip-prinsip yang m enghubung-
kan fakta-fakta yang tak bertautan ini dengan suatu
keseluruhan yang lebih besar dan lebih d a p a t d i­
paham i. K etim bang m engijinkan sig n ifik a n si dan
otoritas yang sama kepada peristiw a-peristiw a yang

134
sedang terjadi, ilmuwan, dalam pandangan ini, harus
sangat selektif dalam pengamatan-pengamatan yang
dilakukannya; memang, fungsi persis eksperim en
yang dirancang dengan baik sekarang ialah untuk men-
ciptakan fenom ena yang dapat m engilu strasikan
hubungan-hubungan yang dapat dipaham i, yang
merupakan perhatian sejati ilmu sehingga patut men-
dapat status sebagai fakta-fakta yang sah secara ilmiah.
Kedua, pendekatan ini, empiris dan rasionalis, me­
nekankan poin-poin yang sahih dan penting, namun,
di dalam bentuk-bentuknya yang ekstrem, mereka
menimbulkan kesulitan-kesulitan yang mungkin tak
dapat diatasi. Mengenai pendekatan empiris, keterper-
cayaan (credentials) konsep ilmiah atau teori apa pun
tentu saja tergantung kepada suatu tingkat substansial
yang berbasiskan pengalaman empiris. Sebenarnya,
telah banyak yang dipelajari tentang statistik, kalkulus
probabilitas, dan rancangan eksperimen-eksperimen
ilmiah dari analisis yang hati-hati terhadap prosedur-
prosedur yang digunakan untuk m enangani data
empiris secara sungguh-sungguh, bahkan sebelum
mempersoalkan penafsiran teoretis yang muncul se­
cara langsung. Namun dapat dipertanyakan apakah
kesan-kesan indra saja dapat dianggap sebagai bukti
bagi posisi ilmiah apa pun, seperti yang diasumsikan
oleh Mach dan para filsuf data-indra (sense-data). Semua
pengamatan-pengamatan ilmiah yang sejati, seperti
diekspresikan Kant, mempunyai bentuk pertimbang-

135
an-pertimbangan — yakni, yang diekspresikan dalam
pernyataan-pernyataan yang menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang dirumuskan terlebih dahulu. Barang-
kali merupakan tindakan melebih-lebihkan bila ber-
sikeras bahwa semua pernyataan-pernyataan teoretis
yang sah di dalam ilmu harus dihubungkan dengan
cara deduktif yang ketat kepada pengamatan-peng-
amatan em piris sehari-hari yang digunakan untuk
menjelaskan; dan merupakan sebuah karikatur bila
m em perlakukan kekuatan eksplanatoris hukum -
hukum dan prinsip-prinsip teoretis, sebagai contoh di
dalam fisika, tidak berbeda jenisnya dari generalisasi
elementer seperti "Semua telur burung robin berwarna
biru kehijau-hijauan".
Mengenai pendekatan Rasionalis, salah satu dari
tugas-tugas utama bagi para filsuf ilmu tentu saja ialah
menjelaskan antarhubungan-antarhubungan rasional
yang memberi penjelasan-penjelasan ilmiah ciri-khas
keterpahamian (intelligibility) yang khas. Dalam hal ini,
orang seperti Descartes, Kant, dan Hertz telah mem-
perdalam pemahaman filsuf mengenai usaha ilmiah
dengan m engharuskannya m engenali cara-cara di
mana pengaturan intelektual teori-teori ilmiah ber­
sandar pada aktivitas-aktivitas konstruktif ilmuwan
itu send iri, ketim bang pada fakta-fakta spesifik.
Namun, sekali lagi ia akan menyesatkan jika meng­
gunakan fakta ini sebagai dalih untuk memperhatikan
teori-teori fisik — untuk mengumandangkan ungkapan

136
Einstein — sebagai seluruhnya "ciptaan-ciptaan bebas
pikiran m anusia". Bila langkah dari pengam atan-
pengamatan menuju teori-teori tidak bersandar pada
warisan-warisan formal belaka, ia akan menjadi pem-
besar-besaran-tandingan (counter-exaggeration) yang
sama serius jika menganggap bahwa konstruksi teori
benar-benar sewenang-wenang atau tak dibatasi oleh
tuntutan-tuntutan im peratif pem ecahan m asalah-
masalah spesifik.
Oleh karena itu tugas yang belum diselesaikan
bagi kebanyakan filsuf ilmu ialah menemukan jalan
tengah yang dapat diterima di antara ekstrem-ekstrem
Rasionalis dan Em piris sehingga berlaku adil baik
kepada fondasi-fondasi empiris teori-teori maupun
kepada pengaturan internalnya. Penekanan yang ber­
beda para filsuf umumnya paling-paling mencermin-
kan perbedaan dalam keasyikan-keasyikan substantif-
nya. Orang yang tertarik (seperti Mill) pada metode-
metode yang memungkinkan pengembangan ilmu-
ilmu manusia atau sosial, secara alamiah menaruh
tekanan yang paling kuat kepada basis-basis empiris
pengetahuan ilmiah. Orang yang akrab (seperti W he­
well) dengan hasil terakhir yang nyata konstruksi
teori di dalam ilmu-ilmu yang mapan, seperti fisika,
secara alamiah menekankan koherensi sistematik dan
struktur pengertian ilm iah. O rang yang berm inat
dengan alam dan kesahihan pengertian historis (seperti
Giambattista Vico) juga berakhir dengan penjelasan

137
yang sangat berbeda mengenai kepastian dan ke-
niscayaan orang-orang (seperti Descartes) yang men-
cita-citakan pengetahuan ilmiah bersifat matematis
formal.
Jika filsuf terpukau dengan usaha ilmiah yang
sangat kompleks, pendekatan ini dapat membawanya
kepada pengertian yang lebih eksak terhadap masalah-
masalah intelektual yang bervariasi dalam ilmu-ilmu
alam dan manusia. Sekali dikenali betapa berbedanya
jenis-jenis pertanyaan yang muncul di dalam bidang-
bidang yang berbeda tersebut seperti elektro-dinamika
kuantum dan biologi perkembangan, neurologi klinis
dan sosiologi historis, maka tujuan merumuskan suatu
metode ilmiah yang tunggal — dengan sekumpulan
prosedur dan kriteria yang dapat diterapkan secara
universal untuk mennnbang teori-teori atau ide-ide
baru di semua bidang ilmu — dapat tampak sebagai
sebuah khayalan. Namun desakan sang filsuf yang sah
pada generalitas telah'm em bantu mempromosikan
perluasan-perluasan dan pemaduan-pemaduan yang
penting pengertian manusia. Maka sekali lagi, se­
karang ia harus menghindari untuk mengambil sikap
yang terlalu dogmatis, baik untuk maupun menentang
generalitas yang lengkap, yang terdapat di benak Kant,
yang mengingatkan bahwa akal dapat diharapkan me-
metakan batas-batasnya yang tepat itu sendiri hanya
dengan resiko kadang-kadang akan melampaui batas-
nya.

138
2. Prosedur-prosedur Empiris Ilmu
Bersama dengan tiga kelompok unsur yang sudah
didiskusikan, tiap fase dalam usaha ilmiah — empiris,
formal, dan konseptual, atau interpretatif— m em ­
punyai prosedurnya sendiri yang khas. Pada level
pengamatan empiris dan deskripsi, tiga topik itu dapat
dibicarakan secara ringkas, semua ini didiskusikan
dengan lebih panjang lebar dalam artikel yang lain
(lihat Measurement, Theory o f Classification Theory; dan
artikel-artikel mengenai ilmu-ilmu dasar).
Pertama, ada prosedur-prosedur pengukuran yang
membawa para ilmuwan tiba pada perkiraan-per-
kiraan ku antitatif terhadap variabel-variabel dan
besaran-besaran yang dipertimbangkan di dalam teori-
teori mereka. Saat ini, ada tubuh pengetahuan yang
dikem bangkan dengan baik dan disepakati para
sarjana yang berisikan banyak teknik dan tindakan
pencegahan yang digunakan di dalam praktek dalam
pengukuran kuantitas-kuantitas empiris, dalam meng-
hitung kesalahan-kesalahan yang mungkin atau pe-
nyim pangan-penyim pangan yang signifikan dan
seterusnya. Akan tetapi tentang signifikansi yang lebih
dalam dari prosedur-prosedur pengukuran dan hasil
terak h irn y a m asih ada p erselisih an -p erselisih an
filosofis yang tidak dapat dipecahkan. Ketidaksepakat-
an-ketidaksepakatan ini mencerminkan perbedaan-
perbedaan pendekatan yang sudah disebutkan. Demi-
kianlah, beberapa filsuf m em andang setiap teori

139
ilmiah yang berkenaan dengan besaran-besaran yang
dapat diukur (dapat dikuantifikasi) secara intrinsik
lebih utama daripada yang bersifat kualitatif (atau,
seperti yang akan m ereka katakan, yang bersifat
impresionistik), meskipun yang belakangan ini kaya
dan terorganisir dengan baik. Yang lain, sebaliknya,
akan berargum en bahwa setiap desakan pada pe-
makaian ukuran-ukuran numeris bagaimanapun juga,
bahkan di dalam sebuah ilmu tersebut, sebagai contoh,
biologi sistematik, hanya akan membawa si penyelidik
menyalahpahami hakikat sebenarnya dari persoalan-
persoalan yang dihadapi. Sekali lagi, para filsuf Empi­
risis yang ekstrem atau persuasi Positivis kadang-
kadang menafsirkan prosedur-prosedur eksperimental
yang mengukur besaran-besaran teoretis dalam fisika,
m isalnya, m enghasilkan definisi-definisi im plisit
istilah-istilah teknis yang bersangkutan — yang di-
sebut d efinisi-d efinisi operasional— dan dengan
demikian dianggap dapat mengklaim bahwa warisan-
warisan logis yang sedang dicari ilmuwan di antara
pengamatan-pengamatan dan teori-teori dimantapkan
oleh dekrit linguistik (lihat di bawah, Status proposisi-
proposisi ilmiah dan konsep-konsep atau entitas-entitas).
Kedua, terdapat prosedur-prosedur analitis sta-
tistik u ntu k ran can gan ek sp erim en -ek sp erim en
ilm iah. Teknik-teknik m atem atis yang digunakan
untuk tujuan ini, dalam kenyataannya, ialah yang
berhubungan erat dengan teknik-teknik yang terlibat

140
di dalam teori-teori pengukuran, kesalahan yang
mungkin, signifikansi statistik, dan yang lainnya. Di
bidang ini, hubungan antara diskusi-diskusi filosofis
m engenai logika induktif dan prosedur-prosedur
praktis pekerjaan para ilmuwan berada pada tingkat
yang terdekat. Sementara seorang ilmuwan religius
(Blaise Pascal), seorang pendeta Nonkonformis (Tho­
mas Bayes) dan seorang astronom (Pierre Marquis de
Laplace), semuanya juga m atem atikaw an, m eng-
analisis fondasi-fondasi filosofis kalkulus m odern
probabilitas pada abad ke-17 dan 18, para matemati­
kawan abad ke-20 dan ahli logika induktif sama-sama
telah menyelidiki basis intelektual untuk rancangan
dan penafsiran terhadap eksperimen-eksperimen yang
signifikan; dan, sekarang ini, prosedur-prosedur yang
relevan, membentuk suatu cabang statistik matematis
yang tumbuh subur bersama banyaknya penerapan
yang bernilai, secara khusus di bidang-bidang seperti
sosiologi dan ekonomi, yang di dalamnya dicakup se-
jumlah besar variabel.
Akan tetapi masalah-masalah rancangan eksperi-
m ental, dapat dinyatakan dengan jelas dan tidak
ambigu hanya dalam situasi-situasi di mana pertanya­
an-pertanyaan tentang penafsiran-penafsiran teoretis
yang fundamental tidak sedang dibicarakan secara
aktif; yakni, dalam eksperim en-eksperim en untuk
menetapkan yang mana di antara dua antibiotik yang
lebih efektif melawan infeksi yang diderita atau untuk

141
mempelajari apakah korelasi-korelasi signifikan yang
ada di antara dua variabel-variabel fisik yang di-
ketahui. Akan tetapi segera sesudah pertanyaan-per­
tan yaan yang lebih fu ndam ental terhadap teori
muncul, masalah-masalah rancangan eksperimental
melampaui ruang lingkup analisis statistik manapun.
Lagi pula, hal yang sama berlaku pada prosedur-
prosedur pemrograman komputer: data numeris yang
diperoleh dari eksperim en ilmiah yang langsung,
dalam banyak kasus, dapat dimasukkan ke dalam
suatu komputer yang diprogram untuk menyeleksi
grafik atau rumus yang sesuai dengan data yang ber-
asal dari h ip otesis-h ip otesis yang sesuai dengan
seperangkat persyaratan-persyaratan konseptual atau
in terp re ta tif yang telah ditentu kan sebelum nya;
dengan demikian, dalam arti ini, sebuah komputer
dapat digunakan untuk melaksanakan penyimpulan-
penyim pulan induktif. Pembagian gaya-gaya jenis
baru penafsiran konseptual atau teoretis, sebaliknya,
m elibatkan perluasan atau m odifikasi prosedur-
prosedur penjelasan masa kini untuk memuaskan per­
syaratan-persyaratan intelektual yang baru; dan tugas-
tugas ini membutuhkan teknik-teknik yang lebih dari-
pada sekedar teknik statistik formal atau teknik pe-
mrogaman.
Akhirnya penanganan awal data empiris sang
ilmuwan mengharuskannya menggunakan prosedur-
prosedur klasifikasi sistematik. Hakikat dan kesahihan

142
prosedur-prosedur klasifikasi ilmiah dan spesies-
spesies, genus-genus, famili-famili, dan seterusnya,
— tem pat para ilmuwan membagi pokok masalah
empiris— telah menjadi topik perdebatan yang panjang
dan mudah menimbulkan pertentangan, yang dibahas
dengan panjang lebar di dalam artikel Teori Klasifikasi.
Jalan buntu yang berlangsung lama di antara para pen-
dukung sistem -sistem klasifikasi alam iah dengan
klasifikasi buatan sebagian besar didobrak —di dalam
taksonomi zoologis, bagaimanapun juga— melalui
keberhasilan seleksi alamiah teori Darwin. Seperti
ditunjukkan Darwin, spesies-spesies yang dimuncul-
kan evolusi organis bukanlah entitas-entitas alamiah
yang tidak berubah secara abadi juga bukan fiksi-fiksi
belaka tentang penciptaan sewenang-wenang sang
zoolog; dianggap sebagai populasi-populasi yang
koheren, yang mengisolasi diri, mereka mempunyai
realitas yang sejati walaupun bersifat sementara dan
dilindungi oleh proses-proses variasi dan pengadaan
seleksi. Akan tetapi dalam beberapa bidang pemikiran
lainnya, identifikasi pendahuluan dan klasifikasi
bahan empiris masih menimbulkan pertanyaan-per­
tanyaan filosofis yang mudah m enim bulkan per­
tentangan. Ketika sosiolog berteori tentang kelompok-
kelompok sosial atau sistem-sistem di dalam ilmu-
ilmu humaniora misalnya, ia harus memutuskan apa
yang harus dilakukan kumpulan manusia dan lem-
baga-lembaga, atau yang tidak harus dilakukan, untuk

143
menghadapi topik-topik umum ini. Dapatkah tes-tes
objektif ditemukan untuk mengidentifikasi satuan-
satuan alamiah analisis sosiologi? Atau, apakah pilih-
an satuan-satuan ini diadakan semata-mata untuk ke-
senangan sosiolog itu sendiri? Ketidakpastian pokok
masalah sosiologi itu sendiri menjadi rintangan me-
nuju penciptaan tubuh teori sosial yang disepakati;
dan kesulitan-kesulitan yang sebanding juga dapat
muncul di dalam antropologi, linguistik dan psikologi.
Oleh karena itu, tidak heran bahwa beberapa kritikus
bahkan telah mempertanyakan apakah disiplin-disiplin
ini benar-benar dapat disebut sebagai ilmu.
Sifat kesulitan-kesulitan yang terus berlanjut ini
menekankan satu poin signifikansi yang umum tentang
hubungan bukti empiris dengan teori-teori ilmiah:
walaupun para filsuf mungkin merasa perlu mem-
bedakan fase-fase empiris, unsur-unsur dan prosedur-
prosedur ilmu dari yang teoretis secara analitis, tidak
berarti bahwa mereka terus-menerus dapat terpisah
dalam praktek nyata. Prosedur-prosedur pengukuran
yang memuaskan, rancangan-rancangan eksperimen-
tal, dan prinsip-prinsip klasifikasi yang sistem atik
adalah, tak diragukan lagi, prasyarat-prasyarat yang
dibutuhkan untuk berteori secara efektif; namun se-
baliknya, mereka tunduk kepada revisi dan peng-
halusan dalam kerangka pertimbangan-pertimbangan
teoretis berikutnya. Untuk sampai kepada teori-teori
dinamis, misalnya, Newton harus memulai dengan

144
bersandar pada pengertian-pengertian akal sehat
mengenai usaha, bobot, dan jumlah gerakan; namun
ia segera menggantikannya dengan konsep-konsep
yang lebih eksak, yang didefinisikan secara teoretis
dalam daya, massa, dan momentum, dan perubahan
ini juga bereaksi kembali kepada prosedur-prosedur
empiris fisika. Begitu juga di bidang ilmu lain, per­
tim bangan m engenai apakah hasil akhir prosedur
empiris apa pun relevan atau signifikan secara ilmiah
atau tidak, segera berhenti menjadi pertanyaan empiris
belaka, ketika perubahan-perubahan teoretis bereaksi
kembali kepada prosedur-prosedur empiris tersebut
dan memaksa sang ilmuwan memodifikasi caranya
mengumpulkan dan melukiskan apa yang dianggap
data ilmu yang mentah. Dalam hal ini, bukti empiris
yang dipakai untuk membenarkan kesimpulan-ke-
simpulan ilmiahnya segera kehilangan sifatnya yang
murni dan netral secara teoretis.

3. Struktur-struktur Formal Ilmu


Di bagian ini dan bagian berikutnya, aspek-aspek
usaha ilmiah yang akan dibicarakan ialah aspek-aspek
yang telah m endom inasi perdebatan m utakhir di
dalam filsafat ilmu, yakni, struktur-struktur formal
teori ilmiah dan proses perubahan konseptual. Akan
segera jelas bahwa masalah-masalah filosofis yang
memunculkan kedua aspek tersebut, secara berturut-

145
turut, bersifat korelatif dan melengkapi — yang satu-
nya bersifat statis, yang lainnya bersifat dinamis.
Sejak tahun 1920, kebanyakan filsuf-filsuf analitis
ilmu telah mendasarkan program mereka secara eks-
plisit pada suatu pra-andaian yang diw arisi dari
Descartes dan Plato, yakni, bahwa muatan intelektual
ilmu alam iah apa pun dapat diungkapkan dalam
suatu sistem proposional yang formal, yang mem­
punyai struktur logis esensial yang bersifat terbatas
— apa yang disebut dengan singkat oleh filsuf ilmu
Am erika yang terkem uka, Ernest Nagel "struktur
ilm u" di dalam bukunya yang memakai judul itu
(1961). Satu inspirasi langsung dari program ini ialah
karya David Hilberg, seorang matematikus akhir abad
ke-19. Untuk membuat metode-metode pembuktian
m atem atis lebih eksplisit dan lebih mudah untuk
dimengerti sehingga dengan demikian berarti lebih
ketat, H ilberg m em akai teknik-teknik form alisasi,
suatu reduksi kepada hubungan-hubungan sementara
yang mengabaikan hakikat relata, dan aksiomatisasi,
suatu pelacakan pada warisan-warisan kembali kepada
aksioma-aksioma yang diterima.
Teknik-teknik yang sama dialihkan ke dalam
filsafat m atem atika oleh logikus-perintis Jerm an,
G ottlob Frege, dan dijadikan logika simbolik oleh
Bertrand Russell dan koleganya Alfred North Whitehead;
dan, dari tahun 1920 sampai seterusnya para Positivis
Wina dan para penulisnya juga mencoba mengguna-

146
kannya dalam filsafat ilmu, berharap dapat memper­
lihatkan kesahihan pola-pola formal penyim pulan
ilmiah dengan perluasan langsung metode-metode
yang sudah akrab dalam logika deduktif.
Menurut program yang dihasilkan, tugas pertama
bagi filsafat ilmu ialah mengulangi di dalam istilah-
istilah yang sangat umum jenis analisis yang dipakai
Heinrich Hertz, perumus teori gelombang magnetik,
dalam ilmu mekanika, untuk memilih aspek-aspek
formal ilmu dari aspek-aspek empirisnya. Program itu
dilakukan dengan harapan agar ia akan mungkin, per-
tama-tama, untuk memperlihatkan eksistensi struktur-
struktur formal yang esensial bagi ilmu apa pun, yang
disebut-sebut dengan tepat, dan kedua, untuk meng-
identifikasi hakikat hukum-hukum, prinsip-prinsip,
h ip o tesis-h ip otesis dan pengam atan-pengam atan
melalui fungsi-fungsi logis yang khasnya. Sekali hal
ini telah dilakukan, masa selanjutnya definisi-definisi
formal yang ketat dapat diberikan pada kesahihan,
probabilitas, tingkat konfirmasi, dan semua relasi pem-
buktian yang tercakup dalam pertimbangan argumen-
argumen ilmiah.
Pelaksanaan aktual program ini telah melibatkan
penyelidikan-penyelidikan yang kompleks dan sangat
teknis, selama itu kecerdikan yang hebat telah di-
perlihatkan — sebagaimana misalnya, oleh seorang
sem antikus filosofis terkemuka dan analis, Rudolf
Carnap, dalam sistem logika induktifnya, yang ia

147
gunakan untuk mengkritisi argumen-argumen yang
m endukung generalisasi-generalisasi empiris, dan
oleh Hans Reichenbach, seorang Positivis Jerman-
A m erik a, dalam analisisnya terhadap argum en-
argumen probabilistik. Akan tetapi sejauh ini, pro­
gram itu telah menghasilkan hasil-hasil substansial
hanya ketika diterapkan kepada argumen-argumen
yang diekspresikan dalam suatu simbolisme formal
yang diidealisasir yang dimodelkan pada kalkulus
fu n gsion al logika m atem atis yang lebih rendah.
Sebaliknya, sedikit yang telah dilakukan untuk me-
nunjukkan bagaim ana seseorang m ungkin untuk
memperluas prosedur-prosedur formal yang dihasil-
kan menjadi argumen-argumen yang diungkapkan
dalam term inologi-term inologi praktis ilmu yang
sedang dikerjakan. Perluasan itu, dalam kenyataannya,
m enim bulkan kesulitan-kesulitan dan ambiguitas-
ambiguitas yang selama ini belum terpecahkan dan
mungkin tidak dapat dipecahkan. Tujuan suatu ana­
lisis formal murni terhadap penyimpulan ilmiah telah
menghasilkan kesulitan-kesulitan, misalnya, dengan
menggoda para logikus agar cepat-cepat menghindari
perbedaan-perbedaan penting di antara generalisasi-
gen eralisasi d esk rip tif sem ata tentang fenom ena
alam iah dan teori-teori penjelas (hukum, prinsip-
prinsip, dan sebagainya) yang iHkembangkan seorang
ilm uw an untuk m em buat fenomena itu dapat di-
pahami; dan yang tidak tahan kepada godaan ini men-

148
ciptakan masalah-masalah, baik di dalam logika induk­
tif maupun di dalam aplikasi-aplikasinya.
Pendukung termasyur program ini, Carl Hempel,
semula seorang anggota kelompok Berlin (bersekutu
dengan Lingkaran Wina), telah mendiskusikan apa
yang dia sebut dilema teoritikus: jika tugas menjelas­
kan fenom ena alam iah menghendaki suatu bukti
bahwa sifat fenomena ini secara formal diwariskan oleh
kondisi-kondisi peristiwanya, yang disatukan dengan
generalisasi-generalisasi langsung tertentu berdasar-
kan p en g alam an em p iris sebelum nya, dan jik a
generalisasi-generalisasi empiris itu mencakup pe-
nyimpulan-penyimpulan kepada entitas-entitas hipo-
tesis, maka sang teoritikus dihadapkan dengan suatu
pilihan yang menyakitkan hati: karena, dalam kasus
itu, baik generalisasi-generalisasinya (hukum-hukum-
nya) di dalam fakta benar-benar merupakan suatu
hubungan logis di antara kondisi-kondisi fenomena
dan peristiwa aktualnya dan asumsi entitas-entitas
hipotesis yang secara formal berlebih-lebihan; atau
yang lain mereka tidak berhasil dalammelakukannya,
dan asumsi itu belum menjelaskan fenomena itu secara
ketat. Jelaslah, dilema ini dapat dihindari hanya dengan
menantang identifikasi hukum-hukum dengan generali­
sasi-generalisasi dan bersikeras bahwa seruan apa pun
terhadap hukum-hukum alam selalu melibatkan sang
ilmuwan dalam penafsiran fenomena alamiah bukan
hanya sekedar membuat generalisasi tentang mereka.

149
K arena p e n g lih atan / p e n g am ata n yang me*
lampaui internal logika induktif, persamaan hukum-
hukum ilm iah dengan g e n e ra lisa si-g e n e ra lisa si
empiris yang meragukan, juga telah dikritik karena ia
memperlakukan muatan hukum-hukum itu sebagai
masalah cara terjadinya peristiwa (happenstance), jauh
lebih aksidental atau berubah-ubah daripada yang
diungkapkan di setiap hukum alam yang sejati. Dalam
pandangan law annya, kekuatan penjelas tentang,
misalnya, hukum fisikawan tentang inersia berbeda
secara total dari pernyataan yang m enggeneralisir
seperti "Semua angsa berbulu putih"; dan orang tidak
mempelajari apa pun tentang kesahihan argumen-
argumen fisik yang aktual sampai analisis filosofisnya
menghargai perbedaan krusial itu. Akan tetapi belum
terbukti, lebih mudah menganalisis struktur formal
ilmu-ilmu dengan cara yang kurang abstrak ketimbang
cara para Positivis Wina atau memberikan suatu repre-
sentasi sejati cara kerja bahasa dan argumen-argumen
suara hati. Dalam bukunva Essay on Metaphysics (1940),
R.G. Collingwood, seorang filsuf dan sejarawan Inggris,
membuat suatu usaha yang mencolok, di mana struktur
formal sistem -sistem intelektual dijelaskan dalam
istilah-istilah, bukan dalam kerangka pew arisan-
pewarisan secara langsung di antara proposisi-proposisi
yang kurang lebih universal namun lebih tepatnya di
antara praandaian-praandaian mutual konsep-konsep
yang kurang lebih umum. Dalam penjelasan ini,

150
prinsip inersia bukanlah pernyataan sejati yang paling
universal dalam dinamika melainkan, lebih tepatnya,
praandaian yang paling dapat diterapkan secara
umum, atau prinsip penafsiran. Seperti suatu pen­
jelasan yang mempunyai keunggulan menjelaskan,
mengapa di dalam suatu ilmu tertentu, pola-pola
argumen formal tertentu melaksanakan kebutuhan
nyata yang mereka lakukan; namun pada waktu yang
sama ia meletakkan dirinya sendiri terbuka kepada
tuntutan yang menghasilkan terlalu banyak relativisme
dan karena itu menghancurkan objektivitas penge­
tahuan ilmiah dengan memberi kesan bahwa struktur-
struktur konseptual ilmu dipaksakan pada fenomena
oleh pilihan sewenang-wenang si teoritikus ilmiah itu
sendiri.
Oleh karena itu, akhir tahun 60-an menyaksikan
suatu pembaharuan yang mempertanyakan tentang
asumsi semula, yakni, bahwa seluruh muatan intelek­
tual sebuah ilmu dapat ditangkap dalam suatu sistem
proposisional atau praandaian. Keraguan-keraguan
tertentu mengenai tesis ini menghidupkan kritik yang
diajukan pada pergantian abad tersebut oleh seorang
Pragmatis Amerika Serikat, Charles Sanders Pierce,
yang berargum en bahwa status logis istilah-istilah
teoretis dan pernyataan-pernyataan di dalam sebuah
ilmu ialah — dalam hakikat m asalahnya— tunduk
kepada perubahan historis seperti pengaturan kon­
septual ilmu yang dikembangkan. (Wawasan yang

151
sam a telah d iselid iki baru-baru ini oleh seorang
logikus Amerika Serikat, Willard Quine yang menolak
setiap usaha mengklasifikasi pernyataan-pernyataan
di dalam teori-teori ilmiah yang menggunakan di-
kotomi-dikotomi tradisional yang mutlak —berubah-
ubah— niscaya dan sintetik-analitik-sebagai hal yang
keliru dan dogmatis.) Kritik lain terhadap tesis ini jauh
lebih dalam. Dengan memfokuskan perhatian filo-
sofisnya secara eksklusif pada struktur formal yang
statis sistem -sistem proposisional dan, juga, pada
muatan intelektual ilmu-ilmu pada parohan yang sama
besar, yang bersifat sem entara dan khusus dalam
perkem bangannya — mereka menunjukkan— sang
filsuf m engalihkan perhatian dari pertanyaan-per-
tanyaan pelengkap mengenai cara di mana pengaturan
konseptual suatu ilmu berubah dan, juga, dari klaim-
klaim tradisional ilmu alam untuk menjadi usaha
yang rasional serta logis. Oleh karena itu, pada titik
perdebatan ini, pusat perhatian berganti dari masalah
statis m enganalisis suatu ilmu dalam istilah-istilah
logis yang statis menjadi masalah historis dalam meng­
analisis proses-proses dinamis perubahan intelektual
dan konseptual.

4. Perubahan K o n s e p tu a l dan P e rkem ba ngan Ilm u


Masalah perkembangan konseptual dewasa ini
kembali kepada inti. Persoalan penting yang diajukan
ialah: "apakah konsep itu ?" Pada saat masa jaya

152
Empirisisme Logis, pertanyaan itti sebagian besar
diabaikan. M engikuti contoh Frege, para Positivis
Wina telah m engutuk setiap kecenderungan m e­
mandang filsafat ilmu berkenaan dengan pemikiran
ilmiah — yang dalam pandangan mereka pada masa
itu merupakan persoalan untuk para psikolog— dan
telah membatasi diri mereka sendiri pada analisis for­
mal argum en-argum en ilm iah. Keasyikan dengan
logika ini juga tercermin dalam pandangan mereka
terhadap konsep-konsep. Untuk menafsirkan sebuah
konsep sep erti tenaga (force) yang m engacu baik
kepada suatu perasaan atas usaha atau kepada citra
mental, mereka berargumen, hanya akan menyebab-
kan kebingungan. Sebagai gantinya para filsuf harus
menyamakan konsep-konsep dengan istilah-istilah
dan variabel-variabel yang tampak di dalam sistem-
sistem proposisional ilmu dan m endefinisikannya,
sebagian dengan merujuk kepada peran-perannya di
dalam struktur-struktur formal sistem -sistem pro­
posisional itu — dengan d em ikian m em bakukan
makna sistematiknya— dan sebagian dengan merujuk
kepada peristiw a-peristiw a dan fenomena spesifik
yang mereka gunakan untuk menjelaskan — dengan
demikian m em bakukan m akna em pirisnya. Oleh
karena itu, pada tahun 1920-an dan 1930-an, semua per­
tanyaan filosofis substantif tentang konsep-konsep
ilmu ditangani secara ringkas: hanya diterjemahkan
menjadi pertanyaan-pertanyaan logis atau linguistik

153
tentang peran-peran form al dan rujukan-rujukan
em piris istilah-istilah teknis dan variabel-variabel
matematis.
Akan tetapi sekali filsafat ilmu didekati secara
lebih historis, pertanyaan-pertanyaan substantif harus
dihadapi lagi secara tersendiri. Teori-teori ilmiah
saingannya sekarang akan dibedakan bukan melulu
karena begitu banyaknya sistem-sistem formal alter­
natif, yang didasarkan pada istilah-istilah prim itif
yang berbeda dan aksiom a-aksiom a, namun juga
karena cara-cara alternatif pengaturan pengetahuan
alam, yang didasarkan pada teknik-teknik penjelas
yang berbeda dan modus-modus representasi. Akibat-
nya, ciri-ciri khas konsep-konsep ilmiah yang berbeda
akan terletak bukan dalam peran-peran formal mereka
satu sama lain dan penyimpulan-penyimpulan empiris,
namun di dalam gaya-gaya prosedur penjelas yang
terlibat dalam penerapannya. Prosedur-prosedur itu
mungkin terdiri dari jenis-jenis yang berbeda: misal­
nya, penghitungan-penghitungan konservasi fisik, dia-
gram-diagram cahaya optik, analisis-analisis fungsio-
nal, klasifikasi-klasifikasi taksonomik, rekonstruksi-
rekonstruksi historiko-evolusioner, atau sistem-sistem
aksioma dinamis. Oleh karena itu, mereka menyedia-
kan kesempatan-kesempatan untuk memakai rumus-
rumus matematik atau model-model yang dapat di-
pahami secara intuitif, atau pohon-pohon genealogis,
atau gaya-gaya representasi yang lain. Akan tetapi

154
pada tiap kasus, sang filsuf dapat melukiskan peng-
aturan konseptual penjelasan-penjelasan yang dihasil-
kan dalam istilah-istilah yang bukan m odel-m odel
intuitif maupun rumus-rumus dan variabel-variabel
matematis yang dipakai sendirian: apa yang harus kita
pertimbangkan sekarang ialah seluruh pola penafsiran
teoretis-model-model, matematika, dan semuanya.
Dipandang dari sudut pandang alternatif ini,
filsafat ilmu akan diawali dengan mengidentifikasi
gaya-gaya penjelasan yang berbeda, ciri khas ilmu-
ilmu yang berbeda-beda atau tahap-tahap yang ber­
beda dalam ilmu yang bersangkutan dan akan menge-
nali bagaimana perbedaan-perbedaan dalam gaya pen­
jelasan itu m encerm inkan problem -problem khas
bidang-bidang dan periode-periode ilmiah yang ber­
beda. Dipahami demikian, generalisasi-generalisasi
em piris dan klasifikasi-klasifikasi deskriptif akan
membantu mengatur data empiris ilmu dalam suatu
cara pendahuluan; namun penafsiran yang serius baru
dapat dimulai sesudah titik itu. Tugas filosofis yang
utama sekarang ialah menganalisis dengan jelas dan
eksplisit, (1) standar-standar yang dijadikan patokan
oleh para ilmuwan untuk memutuskan apakah suatu
penafsiran sah, benar, atau tidak dan mantap dengan
meyakinkan dan (2) pertimbangan-pertimbangan yang
m em benarkan pem buangan penafsiran yang telah
diterima dewasa ini demi suatu penafsiran alternatif
yang baru.

155
Yang pertam a dari pertanyaan-pertanyaan ini
ialah yang dicoba dijawab Empirisis Logis dengan cara
mereka sendiri. Mereka memperlakukan data empiris
dan prinsip-prinsip ilmu sebagai hal yang dihubung-
kan dengan relasi-relasi logis murni dan berusaha
m endefinisikan standar-standar yang diperlukan
dalam kerangka suatu teori formal konfirmasi, bukti
yang menguatkan, atau falsifikasi. Pertanyaan kedua
ialah satu hal yang tidak pernah diselesaikan mereka
secara serius. Sebagai gantinya, mereka mengasumsi-
kan bahwa orang pertama-tama menggarap indeks
kuantitatif akseptabilitas untuk teori-teori individual
yang dipahami secara terpisah dan kemudian meng-
gunakannya sebagai suatu skala untuk mengukur dan
membandingkan keunggulan-keunggulan penafsiran-
penafsiran teoretis saingan. Akan tetapi, sekarang juga,
jelaslah bahwa ketika biofisikaw an, misalnya, me-
ninggalkan satu pendekatan teoretis demi pendekatan
lain — yang lebih membawakan hasil dari sudut pan­
dang biofisika— pertim bangan-pertimbangan yang
menuntun mereka melakukan hal itu sama sekali tidak
dapat dianalisis di dalam istilah-istilah formal saja.
Sebaliknya, kemampuan seorang biokemis, misalnya,
mempertimbangkan apakah perubahan dalam pen­
dekatan tersebut akan membantu secara efektif untuk
memecahkan masalah-masalah teoritisnya atau tidak,
merupakan salah satu dari penilaian yang paling tajam
tentang jangkauan substantif biokimia itu.

156
Dengan cara ini, pergantian perhatian dari pro­
p osisi-p rop osisi ilmu m enjadi konsep-konsepnya
tengah m em buat para filsuf lebih sadar terhadap
tingkat di mana pengertian teoretis meliputi penafsir­
an kembali hasil-hasil em piris, bukan transformasi
formalnya belaka. Sama halnya, masalah perubahan
konseptual yang sedang memunculkan pertanyaan-
p ertan y aan tentang p ro ses-p ro ses dengan mana
penafsiran-penafsiran teoretis berhasil menggantikan
satu sama lain dan tentang prosedur-prosedur per-
timbangan konseptual yang diterapkan pada perkem ­
bangan rasional suatu ilmu. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut dewasa ini menjadi diskusi yang aktif, dan
beberapa jalur serangan yang sedang dipertimbang-
kan, tak satu pun yang akhirnya memantapkan dirinya.
Pada tingkat yang ekstrem, terdapat orang yang
m asih m em an d an g k o n sep -k o n sep te o re tis dan
prinsip-prinsip sebagai sistem-sistem yang diorganisir
menjadi sistem logis yang rapi, dan terdapat orang
yang mencoba mendefinisikan pendirian-pendirian
alternatif terhadap ilmu-ilmu yang berbeda sebagai
konsekuensi-konsekuensi premis-premis dasar atau
praandaian-praandaian yang berbeda. Setelah meng-
adopsi pendekatan sistematik ini penyelidik kemudian
menemukan bahwa perubahan konseptual pada level
fundam ental menemukan ruang lingkup yang me-
madai hanya melalui penggantian satu sistem formal
yang komplit dengan sistem yang lain, sistem peng-

157
ganti yang terpisah dan berbeda. Hasilnya, perubahan
teoretis fundam ental dalam pandangan ini, dapat
dipaham i hanya sebagai hasil akhir dari revolusi-
rev o lu si in tele k tu a l yang m en yelu ru h , yang di
dalamnya satu sistem teoretis keseluruhan-aksioma-
aksioma, prinsip-prinsip, kriteria relevansi, standar-
standar pertim bangan, dan semuanya — disisihkan
demi sistem yang lain.
Secara pilihan, ada orang yang membedakan dua
jenis prinsip fundamental yang berbeda dalam sebuah
ilmu — yang menandai pernyataan-pernyataan teoretis
dasar seperti "materi terdiri dari atom-atom yang ber-
gabung m enjadi m olekul-m olekul". Dari maksim-
maksim m etodologisnya dan standar-standar per­
timbangan, seperti "semua fenomena fisik dijelaskan
dalam istilah-istilah mekanis" — dan orang yang me­
ngenai perubahan-perubahan konseptual fundamen­
tal dalam ilmu sebagai hal yang sah, benar sejauh
m ereka m enghargai maksim -m aksim m etodologis
yang bersifat definitif di dalam ilmu tersebut. Pan­
dangan yang kedua ini, perubahan-perubahan kon­
septual yang sedalam apa pun pada substansi intelek­
tual sebuah ilmu akan terus dapat dipahami, asalkan
pandangan-pandangan baru itu masih diatur oleh pro­
gram yang mantap dan konsep-konsep kerangka kerja
ilmu yang bersangkutan. Kemudian revolusi-revolusi
di dalam ilmu akan terjadi hanya bila suatu pendekat­
an intelektual yang m enyeluruh tidak dipercaya-

158
yakni, bahwa iatrokemistri abad ke-16 dan ke-17, JvamT
Cl
mempelajari kirnia sebagai alat mengobati penyakit-
atau ketika ilmu tertentu yang sama sekali baru di-
ciptakan, dengan sistem penafsirannya sendiri yang
lengkap — yakni, biologi molekuler.
Pada tingkat ekstrem yang lain ada orang yang
meragukan apakah pembedaan tajam apa pun dapat
d itarik di antara pernyataan-pernyataan teoretis
substantif dan maksim-maksim prosedur metodologis
dan orang yang berargumen bahwa semua aspek ilmu
alam iah m ungkin terbuka kepada pertim bangan
historis dan m odifikasi. Semakin spesifik doktrin-
doktrin teoretis dan konsep-kOnsep yang dipertim-
bangkan, semakin berbahayalah dia, dan semakin siap
dimodifikasi atau ditinggalkan atau keduanya. Akan
tetapi, dari ketiga sudut pandang ini, dapat diper-
tanyakan apakah perubahan apa pun, seberapa drastis-
pun ia — bahkan hibridisasi kristalografi, genetika
virus, dan biokimia, yang membawa kepada pengu-
kuhan biologi molekuler— selalu bersifat diskontinu
atau revolusioner seperti yang disiratkan kedua pan­
dangan yang terdahulu. Sebagai gantinya usaha itu
m ungkin dibuat untuk melaporkan prosedur-pro­
sedur dan proses-proses yang terlibat dalam per­
kembangan historis konseptual ilmiah dengan meng­
gunakan bentuk umum teori yang sama pada setiap
level — menjelaskan inovasi sebagai suatu pilihan se-
lektif yang dikehendaki antara varian-varian intelek-

159
tual jenis-jenis yang berbeda; dan, dalam hal ini, teori
perkembangan konseptual dapat dihubungkan dengan
teori-teori perubahan alamiah dan budaya yang di­
dasarkan secara historis.
Alternatif yang manapun diadopsi, satu poin harus
dicamkan di dalam pikiran: pada saat masalah-masalah
di seputar pengaturan teoretis ilmu yang sedang ber-
ubah mulai dilaksanakan dalam suatu cara pengem-
bangan yang autentik, penelitian-penelitian filosofis
diberi suatu arah yang sama sekali baru. Langkah ini
memaksa orang untuk memandang semua pertanyaan
tentang struktur logis dan sistem-sistem proposisional
ilmu melawan suatu latar belakang historis yang lebih
luas. Dalam konteks yang baru ini ilmu-ilmu alamiah
dilihat bukan sebagai struktur-struktur formal yang
statis melainkan sebagai usaha-usaha rasional yang
dicirikan oleh prosedur-prosedur atau gerakan-gerakan
intelektual tertentu. Prosedur-prosedur dasar pe-
ngem bangan intelektual ini di dalam ilmu adalah
topik yang dibicarakan pada bagian berikutnya.

B. G erakan-gerakan Pem ikiran Ilmiah

1. Penemuan dan Rasionalitas


D alam m enganalisis ilm u-ilm u alam iah demi
tujuan-tujuan filosofis sebagai usaha-usaha yang ber-
kembang secara historis, pertanyaan "apa yang mem-
buat ilmu itu rasional?" dimunculkan dalam suatu

160
r

bentuk yang baru: apakah prosedur-prosedur intelek­


tual yang benar-benar dipakai para ilmuwan untuk
menyelidiki dan menjelaskan fenomena alamiah mem-
puny ai keunggulan-keunggulan intelektual yang ter-
batas dan objektif sehingga penggunaan mereka hati-
hati, bijaksana, dan wajib secara rasional? Dalam men-
jawab pertanyaan ini, opini filosofis cenderung me-
ngutub pada tahun-tahun terakhir ini ke arah dua
posisi yang ekstrem: di satu sisi, ekstrem positivis atau
formalis, di sisi lain, ekstrem romantik atau irrasio-
nalis.
Karena ilham dan keasyikan-keasyikan mate-
matisnya, baik Empirisis Wina maupun penggantinya
di Inggris dan di Amerika Serikat, telah menafsirkan
rasionalitas prosedur-prosedur ilmiah tergantung
semata-mata kepada kesahihan formal, atau logikalitas,
argumen-argumen ilmiah. Dalam pandangan mereka,
pertanyaan-pertanyaan terhadap rasionalitas dapat
dimunculkan tentang pekerjaan sang ilmuwan hanya
pada tahap terakhir penelitiannya — yakni, ketika ia
m ulai, sebagai hasil akhir karyanya, m em berikan
argu m en-argu m en penjelas yang eksplisit untuk
mendukung teori-teori atau penafsiran-penafsirannya
yang baru— hanya dengan demikian, mereka me-
nyatakan, akan ada apa pun yang dapat dikritik ten­
tang ilmu dalam istilah-istilah logis atau filosofis.
Oleh karena itu ada satu pernyataan yang biasa
dari analisis Empirisis dewasa ini dalam filsafat ilmu

161
yang harus dibedakan sejak permulaan yakni antara
penemuan dan pembenaran. Istilah penemuan meng-
acu kepada semua tahap dalam penelitian ilmiah yang
mendahului perumusan argumen-argumen penjelas
baru yang merupakan hasil terakhirnya. Istilah pem­
benaran, sebaliknya, mengacu kepada demonstrasi
bahw a kesahihan form al atau kekuatan penjelas
argumen-argumen itu membenarkan sang ilmuwan
dalam menerima kesimpulan-kesimpulan mereka yang
sah dan mantap secara ilmiah. Dalam pandangan ini
minat-minat rasional sang filsuf terhadap ilmu dibatasi
hanya pada fase terakhir pembenaran. Semua pertanya­
an tentang tahap-tahap yang lebih awal — yakni,
tentang penemuan— adalah masalah-masalah psiko­
logi belaka, bukan filsafat yang serius. Seperti yang di-
ungkapkan oleh satu epigram yang diterima luas, "tak
ada logika penemuan"; dan pembedaan ini — mem-
berikan persamaan rasionalitas di dalam logikalitas—
tam paknya tidak m engesahkan semua pertanyaan
tentang rasionalitas langkah-langkah pendahuluan
dengan mana seorang ilmuwan tiba pada sebuah pe­
nemuan.
Pada kutub ekstrem yang berlawanan, terdapat
beberapa tokoh seperti Michael Polanyi, ilmuwan dan
filsuf kelahiran Hongaria, dan Arthur Koestler, seorang
novelis dan jurnalis, yang menekankan bagian-bagian
yang d im ainkan oleh intu isi, hasil dugaan, dan
kesem patan dalam penyelidikan ilmiah, mengutip

162
hal-hal ini sebagai bukti bahwa prestasi teoretis meng-
gerakkan suatu kreativitas intelektual yang lebih
unggul menuju rasionalitas murni. Menurut argumen
Anti-Positivis ini, ilmuwan modern adalah seorang
yang berjalan sambil tidur, wawasan kreatif menuntun
dia ke tempat tujuan intelektual yang sebelumnya
tidak pernah dapat dilihat atau dinyatakan dengan
jelas: sebaliknya, setiap keasyikan yang berlebihan
dengan rasionalitas prosedur-prosedur ilmiah, berasal
dari keinginan seorang pejalan kaki memotong sayap-
sayap imajinasi dan mengurung sang ilmuwan dalam
prosedur-prosedur yang dibakukan, sehingga meng-
hancurkan kesuburan kreatif ilmu. Lebih dari sekedar
m en und ukkan intuisi ilm iah kepada p en jelasan
intelektual yang tandus dari para Positivis, suatu ke-
simpulan berlaku, yaitu bahwa orang harus menerima
anti-rasionalisme yang romantis.
Akan tetapi dalam tiap kasus-kasus ekstrem ini,
persamaan awal rasionalitas dengan tuntutan-tuntutan
logikalitas menuntut pengkajian yang lebih serius.
Tentu saja, aktivitas penyelidikan dan penemuan dapat
dikaji dengan memanfaatkan sudut pandang psiko-
logis seperti telah dilakukan, dalam kenyataannya,
oleh matematikus Perancis, Jacques Hadamard, dan
juga dari sudut pandang filosofis. Namun kemungkin-
an penyelidikan-penyelidikan psikologis tersebut
tidak membuktikan secara jelas, sepenuhnya melalui
dirinya sendiri, bahwa prosedur-prosedur penyelidik-

163
an intelektual pada ilmu dan matematika pada dasar-
nya bersifat non rasional. Kesempatan, misalnya, mem-
bantu membawa bahan yang relevan kepada perhatian
seorang ilmuwan. Namun kesempatan — sering di-
katakan— membantu mempersiapkan pikiran, dan
pantaslah menanyakan seberapa jauh sang ilmuwan
bertindak secara rasional, betapapun, dalam memilih
item-item yang digarapnya supaya relevan dengan
masalah-masalah par.tikularnya. Sama halnya, di dalam
kasus intuisi kreatif dan yang lainnya; sekali lagi,
manusia dengan pikiran yang terlatih baik sanggup
m em berikan pengontrol yang paling bebas kepada
imajinasi intelektualnya karena dia akan menjadi yang
paling memenuhi syarat untuk menilai konteks rasio­
nal masalah-masalahnya yang terbaru dan mengenali
teka-teki yang berarti, yang menjanjikan jalur-jalur
analisis, atau jawaban-jawaban yang mungkin kepada
pertanyaan-pertanyaannya yang memasuki pikirannya.
Dengan tidak merendahkan fase-fase awal pene-
litian ilmiah sebagai minat psikologis belaka maupun
memujinya secara berlebihan sebagai latihan-latihan
imajinasi yang kreatif sehingga mengatur persoalan
filsafat yang sekarang terlibat di sini; yakni, yang me-
nunjukkan apa yang membuat prosedur-prosedur
penyelidikan tertentu lebih rasional daripada pro­
sedur-prosedur lainnya. Untuk m enem ukan jalan
tengah antara formalisme dan irasionalisme, pentinglah
melihat lebih dekat pada hakikat masalah-masalah

164
penelitian ilmiah. Jika kemajuan konsep-konsep dan
teori-teori ilmiah tergantung kepada perkembangan
prosedur-prosedur penjelasan yang lebih kuat, maka
analisis filosofis penemuan menghendaki agar orang
m em perlihatkan apa yang pada dasarnya terlibat
dalam merancang, menguji, dan menetapkan deretan
aplikasi prosedur-prosedur tersebut. Lebih lanjut,
persoalan ini pasti berkenaan, bukan dengan sebuah
analisis formal pada argumen-argumen yang dihasil-
kan itu sendiri, melainkan, pertama-tama dan ter-
utama, dengan penetapan tugas apa yang wajib di-
laksanakan oleh prosedur penjelas yang baru, tun-
tutan-tuntutan pelaksanaan yang bagaimana, apa yang
layak untuk diberi kepuasan, dan tujuan-tujuan intelek-
tual apa yang diharapkan dicapai oleh seorang ilmu­
wan pada semua fase penyelidikannya. Diajukan
dalam istilah-istilah alternatif ini, problem rasionali-
tas ilmiah menjadi suatu persoalan memperlihatkan
bagaimana perubahan-perubahan konseptual di dalam
ilmu menghasilkan pengenalan ide-ide baru, sebagai-
mana terdapat dalam ungkapan Mach yang ditemukan-
nya di awal tahun 1910 — "diadaptasi lebih baik,
kepada fakta-fakta maupun kepada satu sama lain".
Adalah hal yang rasional bahwa teori-teori ilmiah yang
lebih tua digantikan oleh teori-teori yang lebih baru
yang memang lebih unggul secara fungsional; dan
tugas bagi para filsuf ilmu ialah mendemonstrasikan
secara eksplisit di mana terdapat keadaptasian (adaptness).
Pada zaman sekarang, banyak filsuf ilmu yang
lebih muda, m enganalisis secara aktif hakikat per-
soalan-persoalan ilmu dalam istilah-istilah ini. Secara
signifikan, sebagian besar dari orang-orang ini, yang
telah mendapatkan pelatihan pertamanya dalam ilmu-
ilmu alamiah, lebih cocok untuk tugas yang meng-
hendaki suatu analisis yang lebih mendalam terhadap
proses inovasi intelektual daripada mereka yang di-
la tih dalam logika formal atau matematika murni yang
lazim hingga sampai saat ini. Dalam menempatkan
dikotomi sederhana di antara penemuan dan pem-
benaran, misalnya, ia meminta suatu bagian proses
inovasi menjadi suatu urutan yang lebih kompleks
melalui tahap-tahap yang berbeda; dan untuk tiap
tahap pertimbangan-pertimbangan rasional maupun
kausal relevan. Dengan demikian, pada tahap awal
dalam penelitian apa pun, seorang ilmuwan harus me-
mutuskan yang mana di antara semua varian gudang
metode penjelasan dewasa ini yang mungkin secara
filosofis, yang merupakan kemungkinan-kemungkinan
yang sejati. Pem ilihan pendahuluan inovasi yang
semula masuk akal yang berasal dari inovasi-inovasi
yang tidak masuk akal ini, pasti berhubungan dengan
— dan berhubungan dalam cara yang paling rasional
dan mungkin— jauh sebelum munculnya pertanyaan
apa pun terhadap pembenaran.
Prosedur pemilihan yang pertama ini juga me­
rupakan satu hal yang dibicarakan ilmuwan itu sendiri

166
dengan meyakinkan dan fasih. Jauh dari memutuskan
apakah sugesti-sugesti yang baru itu mungkin atau
masuk akal secara autentik berdasarkan psikologis
murni atau melalui pelatihan intuisi yang misterius
dan non-rasional, para ilmuwan lazimnya menjelaskan
alasan-alasan mereka menerima seperangkat varian
konseptual yang patut menerima pertimbangan yang
serius, bukan varian lain. Pada waktu yang sama,
mikro-analisis terhadap inovasi ilmiah tersebut tentu
saja harus meninggalkan ruang untuk pertanyaan-per-
tanyaan kausal dan juga rasional. Selama periode ter-
tentu dalam perkembangan historis ilmu, misalnya,
para ilmuwan mendapat nama buruk karena telah
mengabaikan kemungkinan-kemungkinan baru yang
belakangan ternyata menjadi kunci pemecahan ke-
su litan-kesu litan teoretis yang krusial. M eninjau
kembali kepada periode-periode tersebut, mungkin*
lah merekonstruksi, dengan sangat memperhatikan
pertimbangan-pertimbangan rasional yang mungkin
telah diajukan pada masanya, untuk m enjelaskan
pengabaian ini; namun walau demikian, orang kadang-
kadang terpaksa menyimpulkan bahwa orang ber-
prasangka terhadap kemungkinan-kemungkinan itu
karena taktor-faktor eksternal kepada ilm u-ilm u
mereka; misalnya, karena pengaruh-pengaruh yang
berasal dari kerangka politik, sosial dan budaya yang
lebih luas di zaman mereka. Demikianlah, Newton
secara khusus takut bahwa teorinya mengenai partikel-

167
p ertik el m aterial m ungkin ditu du h m endukung
Epikureanisme, sementara Darwin menyembunyikan
spekulasi-spekulasi pribadinya tentang basis serebral
aktivitas mental karena tuduhan-tuduhan publik ke­
pada Materialisme.
Oleh karena itu, dalam menganalisis mikrostruk-
tur pem ecahan m asalah ilmiah, perlulah menolak
setiap godaan untuk menggeneralisasi secara terburu-
buru. Para penyelidik ilmiah yang bekerja di bidang-
bidang yang berbeda, atau pada zaman yang berbeda-
beda, tam paknya m enghadapi kesulitan-kesulitan
teoretis dengan jenis-jenis yang berbeda sama sekali.
O leh karena itu orang harus mulai dengan mem-
pelajari kebutuhan-kebutuhan dan tugas-tugas spe-
sifik masing-masing ilmu tertentu, pada tahap yang
satu dan tahap yang lain dalam evolusinya, secara ter-
pisah — mencoba mengenali, dalam tiap kasus indi-
vidualnya, tuntutan-tuntutan intelektual yang khusus
dipertemukan dengan konsep baru atau teori apa pun,
jika ia ingin berhasil. Pada akhirnya, hasil-hasil yang
terkum pul dari m ikro-analisis yang spesifik dapat
membawa si penyelidik kepada suatu titik di mana ia
sanggup untuk m enggeneralisasi lagi semua per-
soalan-persoalan teoretis yang berm acam -m acam
untuk m enghadapi, misalnya, fisika dan tuntutan-
tuntutan intelektual yang lebih luas yang dipertemu­
kan dengan perubahan-perubahan teoretis yang ber­
hasil dalam suatu kumpulan bermacam-macam situasi

168
ilmiah. Akan tetapi, tahap yang sekarang, walaupun
para filsuf ilmu masih belum sanggup meminta per-
tanyaan-pertanyaan ini, mereka terpaksa melaksana-
kan analisis mereka dalam cara yang sepotong-se-
potong — membangun gambar mereka akan penemu-
an dan inovasi ilmiah dengan mempertimbangkan se-
deretan contoh kasus yang luas dan menggunakan cara
mereka hanya secara bertahap menuju penjelasan yang
lebih kom prehensif terhadap problem atika usaha
ilmiah.

2. Pengesahan dan Pembenaran


Jika situasi ini benar pada tahap paling awal
dalam penemuan maka tidak kurang benar dalam
kasus pembenaran (Justification) itu sendiri. Di sini lagi,
dari tahun 1920 sampai seterusnya, perdebatan dalam
filsafat ilmu sangat terfokus pada dua posisi yang ber-
tentangan secara tajam , jika ditinjau ke belakang
keduanya tampak terlalu sempit. Di satu sisi, para
filsuf Empirisis membuktikan suatu pandangan yang
memprediksi tes yang sangat penting bagi kesahihan
ilmiah; di sisi lain, para filsuf yang berwatak lebih
R asionalis m elihat koherensi dan ruang lingkup
sebagai persyaratan-persyaratan yang lebih penting.
Bagi para Em pirisis, praandaian fundam ental
ialah bahwa fakta-fakta yang membenarkan perubahan-
perubahan dalam ide-ide ilmiah secara intelektual
mendahului teori-teori, jika waktu mengizinkan, yang

169
dikembangkan untuk menjelaskannya, dan juga dapat
dikenali secara terpisah dan mendahului semua kons-
truksi teori. K arena praandaian ini, m ereka me-
mandang prediksi dan pengesahan sebagai langkah-
langkah yang sangat penting dan khas dalam prosedur
ilm iah, m aka m ereka berpendapat bahw a, untuk
menetapkan keabsahan proposisi ilmiah yang umum,
perlulah menunjukkan bahwa generalisasi teoretis
yang dipertanyakan kesahihannya memerlukan per-
nyataan-pernyataan faktual yang khusus yang dikuat-
kan oleh pengamatan-pengamatan empiris yang bebas.
Proses pengesahan ini kem udian m elibatkan dua
langkah yang esensial (1) langkah formal yang me-
nyimpulkan prediksi-prediksi baru dari teori tersebut
dan (2) langkah empiris yang membandingkan pre­
diksi-prediksi tersebut dengan fakta-fakta sehingga
memperlihatkan kebenaran teori tersebut atau mem-
buktikan kekeliruannya.
Dalam pem erikasaan yang lebih dekat, kedua
langkah dalam prosedur Em pirisis yang diterim a
menghadapi kesulitan-kesulitan yang serius, dan hal
ini menambah kekuatan —dengan tantangan— kepada
posisi konstruktivis, sebagai alternatifnya. Mengenai
langkah (1), tampaknya tidak ada keberatan terhadap
ide m endeduksi prediksi-prediksi faktual tertentu
langsung dari hipotesa-hipotesa teoretis, sejauh orang
menerima penafsiran Empirisis atas hukum-hukum
alam sebagai pernyataan-pernyataan empiris pada

170
level logis yang sama seperti "semua beruang kutub
berwarna putih". Akan tetapi ketika penafsiran itu
dipertanyakan, kurang jelas apakah penyim pulan-
penyim pulan d ed u ktif yang langsung dari teori
kepada fakta selalu dapat dipraktekkan. Sebaliknya,
jika hukum -hukum teoretis dan laporan-laporan
empiris murni, dalam hakikat masalahnya, dibingkai
dalam kerangka sekumpulan konsep yang bermacam-
macam dan berbeda, tak ada prosedur umum yang
tersedia bagi penarikan deduktif dari yang satu ke­
pada yang lain. Karena teori kemudian akan menjadi
penafsiran ulang (reinterpretasi) fakta-fakta, bukan
sekedar generalisasi dari mereka. Sama halnya, dengan
langkah (2), suatu pembenturan empiris teori-teori
dengan fakta-fakta memunculkan deretan pilihan yang
lebih kompleks daripada yang disiratkan oleh pen-
jelasan Empirisis. Ketika berhadapan dengan ketidak-
cocokan antara prediksi dengan pengamatan, para
ilmuwan tentu saja harus memodifikasi penjelasan-
penjelasan teoretis m ereka; m odifikasi ini secara
normal dapat dibuat dalam beberapa alternatif. Misal­
nya, relevansi teoretis dari suatu pengamatan parti-
kular dapat dipertanyakan; atau suatu penafsiran
teoretis alternatif dapat dikem ukakan; atau peng-
halusan-penghalusan lebih jauh dapat dibuat dalam
struktur teori yang bersangkutan — dan semua ini
dapat dilakukan sebelum munculnya pernyataan apa
pun tentang konflik langsung dan tak dapat dihindar-
kan di antara pengamatan yang bertentangan dengan
doktrin teoretis umum yang sedang diselidiki.
Saingannya, posisi konstruktivis m em bentuk
daya tarik-daya tariknya dari keberatan-keberatan
seperti ini. Posisi ini mengikuti jalur pemikiran yang
sudah disketsakan oleh fisikawan teoretis Perancis
Pierre Duhem pada pergantian abad itu. Mengenai pen-
jelasan ini, tes pokok suatu ilmu ialah bahwa la harus
m em berikan pengaturan-pengaturan teoretis yang
m enjangkau luas, konsisten, koheren. Fakta-fakta
empiris kemudian akan dikenal relevan secara ilmiah
hanya pada tingkat bahwa mereka menjadi contoh
penafsiran-penafsiran ini dan membuatnya lebih ber-
beda-beda. Dengan demikian, tak ada pengamatan
faktual tunggal yang dapat terus-menerus berlaku
sebagai eksperim en yang krusial secara logis dan
membuktikan atau menolak setiap doktrin spesifik
secara kompulsif, yang terpisah dari kompleks ke-
seluruhan teori dan penafsiran. Oleh karena itu apa
yang dipertaruhkan dalam setiap eksperimen, ialah
tubuh teori seluruhnya, bersama dengan konvensi-
konvensi mutakhir yang mengatur penerapan empiris-
nya; dan sem akin kom prehensif suatu teori, para
ilmuwan semakin bebas mengubah rincian-rincian
penerapan spesifiknya, daripada menerima suatu
contoh-tandingan tunggal sebagai tantangan terhadap
kevalidan umumnya.

172
Akan tetapi, jika dua pendekatan filosofis ini
sekarang dianggap berlawanan dengan latar belakang
yang lebih historis dan lebih luas, mereka tidak lagi
tampak menjadi seseksama atau sekontradiktif seperti
yang terjadi pada tahun 1920-an dan 1930-an. Tentu
saja dengan memilih ilustrasi-ilustrasi yang cocok,
orang dapat m em buat tiap posisi menjadi sangat
menarik dan masuk akal karena, dalam suatu situasi
atau situasi lainnya, pertim bangan-pertim bangan
rasional yang membawa bobot yang sejati di dalam
pembenaran aktual teori-teori ilmiah yang baru men-
cakup kesuksesan prediktif dan koherensi konseptual.
Tetapi "Kitab Alam ", istilah yang digunakan Galileo,
adalah seperti Kitab Suci: ia menawarkan teks-teks
untuk mencocokan semua kesempatan dan tujuan.
Dan, pada pemikiran yang kedua, dapat dinyatakan
bahwa para filsuf Empirisis dan konstruktifis terlalu
menyederhanakan proses pembenaran di dalam ilmu
dan kriteria yang digunakan para ilmuwan dalam
menilai kesahihan konsep-konsep dan teori-teori yang
baru. W alaupun tidak berm aksud menjadi tes ke­
sahihan yang tunggal atau sederhana, pertanyaan
apakah sukses prediktif atau koherensi, kesederhana-
an, otentisitas historis, atau kepahaman mekanis, tetap
merupakan pertimbangan utama — dan di dalam arti
apa tiap ungkapan yang ambigu— harus dipertim-
bangkan lagi kasus demi kasus dengan selalu mem-
perhitungkan tuntutan-tuntutan spesifik tiap situasi
masalah ilmiah yang baru.
Di dalam usaha ilmiah yang berkembang secara
historis, m asalah-m asalah intelektual muncul dari
banyak tipe yang berbeda, tergantung baik kepada
jenis-jenis pokok m asalah yang sedang diselidiki
m aupun kepada tahap perkem bangan ilmu yang
bersangkutan. Pada satu ilmu dan pada satu tahapan-
nya, bobot ter tentu mungkin melekat kepada suatu
prediksi tunggal yang berhasil secara mendadak:
seperti ketika teori gelombang cahaya menghasilkan
penemuan yang sama sekali tak terduga sehingga rin-
tangan sirkular yang ditempatkan dengan sempurna
di depan sebuah titik sumber cahaya menghasilkan
suatu bayangan sirkular yang mempunyai bintik yang
bersinar di pusatnya. Akan tetapi, pada ilmu yang lain
atau di saat lain, hal itu mungkin tidak dapat diprak-
tekkan maupun tidak relevan untuk menyimpulkan
prediksi-prediksi tersebut dan konsep-konsep baru
b o leh jad i d isah kan m elalu i p ertim b a n g a n -p er­
timbangan dari jenis-jenis yang lain sama sekali. Bahkan
di dalam ilmu yang tunggal seperti fisika, sesungguh-
nya, para ilmuwan tidak dihadapkan dengan masalah-
masalah dan pertimbangan-pertimbangan dari tipe
yang tunggal dan seragam pada setiap tahap. Sebagai
gantinya, evolusi historis fisika-turun berabad-abad
dari Nicole Oresme, Galileo, dan dari Newton kepada
Maxwell, Rutherford, dan Heisenberg — telah mem-

174
bangkitkan suatu genealogi m enyeluruh berbagai
masalah; dan pertimbangan-pertimbangan yang ter-
kandung dalam kesu litan-kesulitan teoretis yang
dihadapi para fisikawan pada tahap-tahap yang ber­
beda telah mengubah mereka sendiri, dengan benar-
benar sah, bersama dengan konsep-konsep substantif
dan teori-teori ilmu. Sehingga, dalam kerangka kerja
yang lebih kompleks dari usaha rasional yang sedang
berkem bang, tugas filsuf tidak lagi m em aksakan
kriteria tunggal atau sederhana pilihan intelektual
kepada pertimbangan-pertimbangan ilmiah dari semua
jenis. Lebih tepatnya, tugasnya ialah mengenali bagai­
mana pertimbangan-pertimbangan rasional dan krite­
ria kesahihan relevan dengan pertim bangan-per-
timbangan tertentu yang berubah bersama situasi-
situasi masalah teoretis yang menghasilkan konteks-
konteks historisnya.

3. Penyatuan, Pluralisme, dan Reduksionisme


Sebagai ilustrasi yang penting mengenai tarik-
menarik di antara isu-isu pragmatis dan logis di dalam
filsafat ilmu, dapat disebutkan gerakan Penyatuan
Ilmu. Di bawah kepemimpinan Otto Neurath yang
penuh semangat, seorang sosiolog yang berpenge-
tahuan luas dan filsuf, gerakan ini menampilkan tahap
yang ekstrem dalam ambisi-ambisi Posivisme Wina
di antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II; karena
tujuan-tujuan filosofis umum yang memotivasi pe-

175
nyelidikan ilmu yang terpadu bertentangan secara
m encolok dengan pertim bangan-pertimbangan pe-
m ecahan m asalah sp esifik yang m enuntun para
fisikawan yang sedang bekerja menuju penyatuan dan
p e n g g a b u n g a n k o n sep -k o n se p te o re tis m ereka
dengan prosedur-prosedur penjelasan dalam praktek
ilmiah yang aktual.
Selain tes utam a keberhasilan prediktif, para
Positivis Lingkaran Wina juga mengijinkan — dalam
istila h -istilah m ereka sen d iri— untuk kebaikan-
kebaikan teoretis koherensi dan kekomprehensifan
lebih lanjut. Akan tetapi, pendekatan logiko-matematis
m ereka kepada struktur proposisional teori-teori
ilmiah menuntun mereka untuk menafsirkan tuntutan
pada teori-teori yang koheren dan komprehensif ini
dalam suatu arti yang formal. Dalam penafsiran mereka,
suatu tubuh ide-ide ilmiah yang terpadu secara total
akan menjadi suatu sistem teorema-teorema ilmiah
yang komprehensif dan separoh-euklidean, yang di-
dasarkan pada sekumpulan tunggal aksioma-aksioma
umum, postulat-postulat, dan proposisi-proposisi
p rim itif dan dapat diterapkan kepada fenom ena
alamiah dari segala jenis. Karena generalisasi-generali-
sasi empiris yang cukup mencakup segalanya menjad i
titik permulaan dari ilmu terpadu tersebut, maka akan
menjadi mungkin, dalam pandangan mereka, untuk
mendeduksi pernyataan-pernyataan partikular tentang
semua fenomena yang dicakup oleh ilmu-ilmu khusus

176
yang bermacam-macam disatukan di dalam ruang
lingkup aksiomatiknya. Mengambil logika simbolik
Russell dan Whitehead sebagai inti formalnya, para
pembela filosofis penyatuan ilmu kemudian mulai
mengkonstruksi, pada suatu pola aksiomatik tunggal,
suatu penjelasan yang sangat komprehensif tentang
alam yang mampu menjelaskan (yakni, mewariskan)
semua fenomena alam yang manapun.
Pada pandangan pertama, ambisi ini tampaknya
terpuji dan sah, namun sekali lagi program Empirisis
tersebut kemudian menghadapi belitan-belitan yang
tak disangka-sangka. Alasan-alasan untuk situasi ini
tidak hanya penemuan bahwa ide-ide teoretis yang
dipakai di dalam cabang-cabang ilmu yang berbeda-
beda (misalnya, fisika matematis) lebih tahan terhadap
penggabungan konseptual daripada yang semula di-
harapkan (tugas mengkonstruksi suatu teori relativis-
tik yang konsisten pada dirinya mengenai elektro-
dinamika kuantum, misalnya, adalah satu tugas yang
masih mengalahkan para fisikawan); namun yang
lebih buruk, yang sekarang menjadi tampak, bahwa
beberapa cabang teori ilmiah yang dipandang tepat
dan berdasar tidak membantu penjelasan dengan cara
matematis yang formal sama sekali. Setiap teori evo-
lusi organis yang memuaskan, misalnya, mempunyai
suatu dimensi historis yang tak dapat direduksi; dan
tak ada kemungkinan menempatkan zoologi historis
pada jenis basis prediktif yang dituntut para empirisis,

177
yang masih kurang digabungkan ke dalam sistem
aksiom a terpadu N eurath yang lebih besar. Ber-
hadapan dengan contoh partikular ini, memang, se­
orang filsuf empirisis yang terkenal, Carl Hempel, telah
menarik suatu kesimpulan yang agak ekstrem, yakni,
bahwa teori seleksi alamiah samasekali bukanlah pen-
jelasan yang sebenarnya atas evolusi organis —bahkan
juga bukan sesuatu yang buruk— namun hanyalah
suatu deskripsi ulang yang mengembangkan episode-•
episode historis yang bersangkutan. Namun ini benar-
benar suatu cara yang berputar-putar untuk mengakui
bahw a baik persoalan-persoalan historis m aupun
ambisi-ambisi teoretis para zoolog evolusioner tidak
mematuhi pola kuasi-matematis yang mulai dipaksa-
kan para Empirisis Logis kepada semua ilmu-ilmu
alam yang serupa demi penyatuan aksiomatik untuk
jangka waktu yang lebih lama.
Jika, di sisi lain, tuntutan pada penggabungan atau
penyatuan dianggap sebagai masalah praktis me-
todologi, maka akan ditemukan bahwa para ilmuwan
sedang menghadapi masalah-masalah dari jenis yang
lebih pragmatis dan berbeda. Ilmu psikologi meng-
ajukan suatu contoh menarik karena, di dalam bidang
ini, masalah reduksionisme — yakni, mengenai apakah
semua fenomena apa saja dapat direduksi kepada
istilah-istilah psiko-kimia belaka— telah berulang-
ulang menghasilkan perdebatan aktif. Sejak zaman
Antoine Lavoisier, yang pertama menjelaskan dengan

178
r

tepat proses pembakaran — yakni, sejak abad ke-18


dan bahkan sebelumnya— telah ada suatu pembagian
metodologis pendapat, yang melibatkan, di satu sisi
para kimiawan dan fisiolog yang bermimpi menyama-
kan fungsi-fungsi fisiologis dengan reaksi-reaksi
kimiawi dan merencanakan program mereka untuk
biokimia di sekitar ambisi itu dan, di sisi lain, para
ilmuwan klinis dan para fisiolog yang berorientasi
fungsional yang mempertanyakan legitimasi apa yang
disebut program -program fisikalis dan bersikeras
bahwa fenomena fisiologis menampilkan ciri-ciri atau
aspek-aspek tertentu yang tak dapat dijelaskan di
dalam istilah-istilah fisio-kimia saja. Isu-isu ilmiah
yang diperdebatkan dalam kasus ini tak pernah ber-
kaitan dengan masalah-masalah formal aksiomatisasi
dan integrasi logis saja: sekali lagi, mereka telah me-
libatkan pertanyaan-pertanyaan substantif penafsiran.
Oleh karena itu, resolusi sementara perdebatan ini,
yang diselesaikan Claude Bernard dalam pertengahan
abad ke-19, tidak tiba pada penyusunan suatu sistem
aksioma yang terpadu dari biokimia bersama fisiologi.
Lebih tepatnya, Bernard membedakan pertanyaan-
pertanyaan dan minat-minat yang patut dari kedua
ilmu itu dan memperlihatkan ciri substantifnya — dan
batas-batas-relevansi bersama.
D ipandang sebagai proses-proses ygng dapat
dilokasikan dan bersifat spesifik di dalam organ-organ
utama tubuh, ia menyatakan, semua fenomena fisio-

179
logis, sebenarnya, terjadi bersam a ruang lingkup
hukum-hukum dan konsep-konsep fisiko-kimia umum
sebagai proses-proses pengatur yang sama di dalam
sistem -sistem inorganik. Akan tetapi dalam ling-
kungan-lingkungan-m ikro khusus tubuh, tipe-tipe
umum fenomena yang sama membantu fungsi-fungsi
fisiologis tertentu yang unik, yang tidak mempunyai
pasangan-pasangan inorganik; dan pada tingkat ini,
masalah-masalah dan pertanyaan-pertanyaan khusus
muncul di dalam fisiologi^sehingga tidak dapat di-
terjemahkan secara seksama menjadi bahasa fisika dan
kimia inorganis. Walaupun biokim ia dan fisiologi
tidak mempunyai pertentangan yang berarti, masih
tetap ada suatu pluralitas yang esensial dalam tujuan-
tujuan penjelasan kedua ilmu itu; dan pluralisme ini,
pada gilirannya, memunculkan pluralisme yang sesuai
dari metode-metode dan konsep-konsep.
Namun contoh ini pun tidak menghasilkan ke-
simpulan-kesimpulan yang dapat digeneralisasi dengan
aman. Walaupun dalam pandangan-pandangan ter­
tentu tujuan-tujuan penjelasan fisiologi dan biokimia
akan, sangat mungkin, selalu berbeda dan terpisah,
di dalam kasus-kasus yang lain masalah-masalahnya
telah digarap dengan cara lain. Ketika, pada tahun
1873, fisikawan Skotlandia, Jam es Clerk M axwell,
misalnya, menggabungkan ilmu-ilmu listrik, magnetisme
dan optik yang sebelumnya terpisah menjadi fisika
terpadu m engenai elektrom agnetism e, tidak ada

180
r

perselisihan pendapat yang sebanding dan tidak di-


perlukan himbauan perdamaian metodologis. Dalam
kasus ini masih m ungkin, setelah karya M axw ell
seperti sebelumnya, membedakan antara fenomena
optik, magnetik, elektrik yang langsung pada level
empiris; namun pada level teoretis yang lebih umum
pembedaan-pembedaan tersebut kehilangan signifi-
kansinya yang terdahulu, dan tidak lagi mempertahan-
kan masalah-masalah, metode-metode, dan kategori-
kategori penjelasan ketiga ilmu yang terdahulu agar
tetap terpisah.
Ringkasnya: dalam dorongan metodologis ke arah
penyatuan ilmu-ilmu, seperti terjadi dalam fase-fase
penemuan dan pengesahan yang lebih awal, godaan
intelektual untuk menggeneralisasi secara prematur
m elem pangkan jalan para filsuf menuju bahaya-
bahaya nyata tertentu. Dalam prakteknya, kasus pe­
nyatuan teori-teori dan konsep-konsep dari dua ilmu
atau lebih harus dipertimbangkan lagi dalam setiap
hal, dan jarang dapat diputuskan di kemudian hari,
apakah penyatuan tersebut akan mencapai sesuatu
yang bermanfaat bagi ilmu-ilmu atau tidak. Sebagai
gantinya, orang harus menganalisis tuntutan-tuntutan
praktis masalah-masalah mutakhir di dalam bidang-
bidang yang berbeda dan melihat seberapa jauh per-
syaratan-persyaratan itu dapat dipertemukan lewat
pengembangan suatu perlakuan penjelasan terpadu
bagi semua ilmu-ilmu khusus yang sedang digarap.

181

L
Penggabungan konsep-konsep teoretis yang dicapai
di dalam proses tersebut tidak hanya terdiri dalam
penarikan formal bersama sistem-sistem proposisional
yang berbeda: yang lebih tipikal, ia akan membutuhkan
pengem bangan suatu pola penafsiran teoretis yang
seluruhnya baru. Dan, walaupun hal itu mungkin,
dalam kasus-kasus tertentu, untuk menjelaskan teori
yang dihasilkan di dalam bentuk aksiomatik, harus
ditetapkan, dalam tiap kasus secara terpisah, apakah
hal ini bisa dilakukan atau tidak. Dalam arti ini, pe­
nyatuan konseptual dan m etodologis m enyajikan
suatu gerakan sejati dalam perkembangan pemikiran
ilmiah; namun bentuk logis ilmu terpadu yang dituju
para filsuf bukanlah sesuatu yang dapat diletakkannya
secara definitif sebelum zamannya tiba. ❖

182
m
is u - is u YAN G LEB IH DALAM
DAN LEBIH LUAS
YANG MELIBATKAN ILMU

A. Statu s Filosofis Teori Ilmiah

1. Status Proposisi dan Konsep-konsep


atau Entitas-entitas Ilmiah
Bagian artikel ini yang berjudul Konseptualisasi dan
Metodologi Ilmu mengkaji, pertama-tama, bahan-bahan
material (unsur-unsur)yang dipakai para ilmuwan
dalam mengembangkan teori-teori mereka tentang cara
kerja dunia alam iah, dan kedua, langkah-langkah
intelektual (gerakan-gerakan) yang membawa mereka
sampai kepada pemahaman ilmiah akan alam. Dengan
cara meringkas, akhirnya patutlah mempertimbangkan
sudut-sudut pandang utama mengenai status intelek­
tual konsep-konsep dan doktrin-doktrin ilmiah yang
mewujudkan pemahaman tentang alam yang muncul
dari perdebatan filosofis tentang ilmu. Bertitiktolak

183
dari status epistem ik proposisi-proposisi teoretis
dalam ilmu, baik jugalah mempertimbangkan klaim-
klaim yang berbeda yang telah diajukan tentang
objektivitas penerapan-penerapannya atau kebenaran-
nya atau kedua-duanya. Kemudian, kembali ke sta­
tus ontal konsep-konsep atau entitas-entitas ilmiah,
mungkin perlu juga mempertimbangkan klaim-klaim
yang telah dibuat tentang objektivitas rujukannya atau
tentang maknanya atau kedua-duanya. Dalam kedua
kasus itu tujuan sebuah kritik filosofis terhadap ilmu
ialah menetapkan sejauh mana muatan dan rujukan
pengetahuan ilmiah dapat dipandang sebagai laporan
yang benar tentang struktur aktual dan cara-cara kerja
alam dan sebaliknya, dan seberapa jauh mereka me-
wakili konstruk-konstruk atau artifak-artifak intelek­
tual dalam kerangka yang telah dipilih orang secara
kebetulan, atau dianggap patut diingini untuk meng-
atur pemikiran-pemikiran mereka tentang struktur dan
cara-cara kerja alam.
B ertitiktolak dari status epistem ik teori-teori
ilmiah, tiga pandangan utama dapat dibedakan: pada
kutub yang ekstrem ialah posisi Realis yang ketat, yang
menekankan basis faktual bagi semua pengetahuan
ilmiah dan menekankan kontingensi logis yang di-
siratkan basis ini bagi semua proposisi-proposisi subs-
tantif di dalam ilmu. Dalam pandangan ini, hampir
semua pernyataan yang paling formal di dalam ilmu
membuat pernyataan-pernyataan tentang bagaimana

184
dunia alam dikonstitusi dan beroperasi dalam ke-
n yataan — yang d ip erten tan g k an dengan sem ua
keadaan altematif peristiwa-peristiwa yang secara jelas
dapat dipahami dan sangat mungkin, namun ternyata
tidak benar mengenai dunia aktual. Dilihat dari pen-
dirian Realis ini, setiap proposisi di dalam ilmu, dari
laporan pengam atan yang paling khusus hingga
prinsip teoretis yang paling umum, benar-benar me-
laporkan suatu kumpulan fakta-fakta empiris yang
— kurang lebih— komperhensif tentang alam dan cita-
cita menjadi suatu cermin objektif yang akurat menge­
nai fakta-fakta yang —kurang lebih— universal tentang
apa yang dibicarakan.
Pada kutub ekstrem lawannya, terdapat posisi
konvensionalis yang ketat, yang menekankan peran
konstruktif artikulasi teori sang ilmuwan itu sendiri
dan menekankan keharusan logis untuk mengembang-
kan struktur konseptual yang dihasilkan. Dalam pan-
dangan ini hampir sebagian besar pem yataan-pem ya-
taan pengamatan m um i di dalam ilmu mencerminkan
pola-pola yang digunakan sang ilmuwan untuk mem-
bentuk gambar konseptualnya tentang dunia alamiah
—pola-pola yang membuat semua keadaan peristiwa-
peristiwa dapat dim engerti dengan gam blang ber-
dasarkan ide-ide mutakhir yang harus dirumuskan.
Dilihat dari pendirian konvensionalis ini, termodina-
mika teoretis, misalnya, menentukan sifat semua dunia
yang m ungkin konsisten dengan p rin sip -p rin sip

185

s
konservasi energi dan peningkatan entropi (atau
keacakan): suatu dunia — yang kepadanya termodina-
mika tidak dapat diterapkan— yang pada faktanya
nanti tidak akan sedemikian keliru (gagal) sebagai-
mana dibayangkan dalam istilah-istilah masa kini.
Akhirnya, sederetan luas pandangan-pandangan
perantara mencoba menghindari pertentangan utama
antara para Realis dart konvensionalis. Suatu pan­
dangan representatif jenis ini, pertama dipopuierkan
oleh Mach menjelang akhir abad ke-19, menyerukan
serangan Kant pada benda-dalam -dirinya sendiri
(ithings-in-themselves), memandang serangan itu sebagai
pem berian dasar-dasar untuk melenyapkan semua
perdebatan tentang realitas dan objektivitas sebagai
hal yang tandus dan kosong yang terelakkan. Dalam
bentuknya yang paling maju, posisi yang disebut
operasionalis ini mendorong sang filsuf memandang
proposisi-proposisi teoretis dalam ilmu sebagai yang
bermakna hanya sejauh sebagai praktek ilmiah yang
m encakup operasi-operasi spesifik — baik operasi-
operasi pengukuran m anual, atau operasi-operasi
pensil-dan-kertas komputasional— dalam kerangka
inilah p rop osisi-p rop osisi itu diberi m akna ope-
rasional. Kemudian tak ada yang diramalkan menjadi
pengetahuan ilmiah di luar makna operasionalnya,
secara khusus, para ilmuwan tidak dimengerti apakah
m ereka sebagai yang m engklaim atau yang tidak
mengklaim apa pun tentang realitas atau konvensio-

186
nalitas keadaan-keadaan suatu peristiwa yang mereka
laporkan. Dengan demikian ide alam sebagai benda-
dalam-dirinya sendiri dihilangkan sebagai takhyul
intelektual dan suatu rintangan menuju pemahaman
ilmiah yang lebih baik, yang bertahan hidup sejak era
metafisik yang lebih awal.
D isku si-d isku si prim er m engenai im plikasi-"
implikasi ontologis teori ilmiah terdapat dalam artikel
Metafisika dan Filsafat A lam .Sekalipun demikian di sini
pantaslah untuk membedakan tiga pandangan utama.
Sekarang pertanyaan utama ialah, apakah semua kata
benda dan frase-frase kata benda yang digunakan
sebagai istilah-istilah teknis di dalam proposisi-pro-
posisi teoretis ilmu bersandar pada klaim apa saja
yang mengacu kepada entitas-entitas yang objektif dan
eksternal untuk makna; dan pendekatan-pendekatan
terbaru kepada pertanyaan ini sejajar dengan pan-
dangan-pandangan yang sudah ada tentang isu-isu
epistemologis, yakni, apakah proposisi-proposisi itu
sendiri untuk kebenarannya bersandar pada suatu
klaim sebagai yang mencerminkan atau melaporkan
fakta-fakta objektif dan eksternal. Di sini, juga, sang
Realis menafsirkan semua istilah teknis utama teori
ilmiah seperti nama entitas-entitas objektif yang sudah
ada secara bebas di dalam alam dari semua teori dan
penafsiran manusia. Dalam pandangan ini, entropi,
m isalnya — suatu ukuran m eningkatnya keacakan
yang dialami setiap sistem total— adalah suatu besaran

187
yang sejati, kepentingan objektif yang, setiap waktu,
memainkan suatu bagian krusial dalam cara kerja-cara
kerja alam, sekalipun para fisikawan, baru dewasa ini
saja mempunyai kecerdasan untuk menemukannya;
sehingga baru saja m enjadi persoalan — di dalam
bagian-bagian itu kosmos yang dapat diamati— bahwa
entropi total suatu sistim yang terisolasi, di mana-mana
berkurang.
Sang instrum entalis, sesuai dengan bidangnya
m em an d an g sem ua p e n g ertia n te o re tis, sep erti
entropi, sebagai fiksi atau artifak-artifak intelektual
yang diciptakan oleh konstruksi teori sang ilmuwan
itu sendiri dan sangat berbeda dari dunia alamiah
objek-objek, sistem-sistem, dan fenomena yang harus
dijelaskan teori-teori ilmiah. Tak diragukan lagi, teori
ilmiah dan realitas eksternal alam benar-benar ber­
hubungan dengan level empiris sehari-hari; meja-meja
dan kursi-kursi, batu-batuan dan bunga-bunga. Akan
tetapi karena tugas-tugas intelektual berteori ilmiah
maka konsep-konsep yang dihasilkan pada dasarnya
abstrak; dan setiap pemahaman sesudah entitas-entitas
yang nyata, sebagai rujukan eksternal yang objektif
istilah-istilah teoretis, mencerminkan suatu kesalah-
pahaman yang jelas terhadap usaha teoretis ini.
Sem entara itu, sang fenom enalis m engulangi,
dalam hal istilah-istilah teknis ilmu, kritik agnostik
yang sama seperti yang diajukan oleh sang operasio-
naiis di dalam hal proposisi-proposisi teoretisnya.

188
Dalam pandangan ini, hanya merupakan pembuangan
waktu yang percuma bagi para ilmuwan memper-
debatkan eksistensi entitas-entitas teoretis yang abadi,
yang dipandang sebagai benda-benda-dalam-dirinya
sendiri yang bersifat eksternal dan objektif; sama
halnya ketika mereka menafsirkan teori-teori ilmiah
sebagai pembuatan, atau penolakan, klaim-klaim yang
sama tentang eksistensi keadaan-keadaan peristiwa
yang bersifat eksternal dan objektif. Sebagai gantinya,
istilah-istilah dan konsep-konsep ilmu tersebut semua-
nya dimengerti sebagai produk dari begitu banyaknya
operasi logis, atau semantik atau konstruksi, dan per-
tanyaan-pertanyaan tentang eksistensinya yang nyata
disisihkan sebagai takhayul-takhayul metafisik yang
membahayakan.

2. Analisis Filosofis dan Praktek Ilmiah


A rgu m en-argu m en tentang pand an gan -p an -
dangan ontologis dan epistemologis yang bersaing ini
tak dapat ditinggalkan atau dipertimbangkan dengan
aman tanpa pertama-tama melihat pada hubungan
yang semakin dekat dan kompleks antara minat-minat
analitis yang umum dari para filsuf dan minat-minat
intelektual yang lebih spesifik dari pekerjaan para
ilmuwan itu sendiri. Karena tingkat di mana tiap-tiap
pandangan tentang realitas entitas-entitas dan fakta-
fakta ilmiah yang membawa keyakinan, tergantung
— terutam a— kepada apa yang sedang dibicarakan

189
oleh cabang-cabang ilmu. Karena fokus perhatian
filosofis telah berubah secara historis dari suatu lahan
ilmiah kepada lahan lainnya, maka tingkat-tingkat
relatif kemasukakalan posisi-posisi saingan juga telah
bervariasi.
Sejak tahun 1920-an, misalnya, telah ada suatu
tanda hidupnya kembali diskusi filosofis di kalangan
para ilmuwan yang bekerja di beberapa bidang yang
terspesialisasi — khususnya di kalangan para fisikawan
yang menaruh perhatian pada struktur dan perkem-
bangan mekanika kuantum. Dalam istilah-istilah epis-
temik, ciri penjelasan-penjelasan kuantum-mekanis
telah mempromosikan beberapa pertanyaan funda­
mental mengenai status dan pembatasan-pembatasan
pengetahuan manusia. Jelaslah, tingkat dan akurasi
pengetahuan m anusia tentang alam dibatasi oleh
bentuk-bentuk operasi instrumen-instrumen ilmiah.
Akan tetapi, juga tidak mungkinkah bahwa signi-
fikansi ciri statistik ini terletak pada suatu level yang
lebih dalam? Barangkali hubungan-hubungan objektif
yang relevan dan keadaan-keadaan peristiwa di dalam
alam itu sendiri diatur secara intrinsik oleh suatu
kausalitas yang semata-mata probabilistik dan karena
itu pada dasarnya tidak ditentukan. Atau adakah suatu
titik yang dicapai pada level mikrofisik di mana setiap
pembedaan antara pengetahuan manusia yang subjek-
tif dan keadaan-keadaan peristiwa yang objektif pada
akhirnya dihancurkan? Im plikasi-im plikasi ontal

190
m ekanika kuantum telah m em bingungkan seperti
implikasi-implikasi epistemik. Apakah sebuah elektron,
misalnya, sebuah partikel yang terpisah yang terjadi
hanya untuk menghindari pengamatan eksak manusia;
apakah ia pada dasarnya ikatan gelombang yang samar
yang tidak mem punyai karakteristik-karakteristik
dinamis yang tidak persis; apakah ia merupakan kon-
sentrasi probabilitas, suatu simbol teoretis belaka, atau
apa? Atau haruskah orang menyisihkan semua per­
tanyaan ontologis ini sebagai yang kurang berarti bagi
fisika dan tetap pada cara kerja tugas fisikawan yang
tepat, yang m em perluas kekuatan penjelas yang
langsung mengenai penjelasan mekanis-kuantum itu
sendiri? (lihat Filsafat Alam. Juga karena pertanyaan-
pertanyaan ini telah memainkan suatu bagian yang
penting bukan hanya di dalam filsafat ilmu tetapi juga
dalam fisika teoretis itu sendiri, semuanya didiskusi-
kan dari sudut pandang ilmiah dalam artikel Mekanika,
Kuantum; Elektron, Hukum-hukum Konservasi; dan Simetri
dan Relativitas).
Di mana-mana perdebatan filosofis tentang ilmu
telah dilaksanakan dalam bentuk-bentuk yang spesifik
lainnya. Persis seperti dalam filsafat alam Aristoteles,
kontroversi metafisik tentang Ide-ide dan esensi-esensi
tercermin dalam pendekatan metodologis Aristoteles
sendiri kepada biologi dan kepada studi hubungan-
hubungan alamiah dan klasifikasi-klasifikasi orga-
nisme-organisme, maka ketika abad ke-20 memper-

191
timbangkan kembali taksonomi tradisional, — dalam
keran gka teori ev olu si, gen etik a, dan dinam ika
populasi— menjadi suatu kesempatan untuk mem-
perbaharui perdebatan filosofis. Akibatnya, ketidak-
sepakatan-ketidaksepakatan yang terdahulu tentang
klasifikasi-klasifikasi alamiah dan buatan telah di-
rum uskan kem bali dan telah m enghasilkan per-
tengkaran baru tentang kem ungkinan pendasaran
taksonomi pada ilmu matematis fenetik — di mana
sifat-sifat utama spesies-spesies yang berbeda, genus,
dan sebag ain ya sem ua d iberi b ilan gan -b ilan g an
kuantitaf atau ukuran-ukuran — sehingga memper-
gunakan sum ber-sum ber teknis komputer modern
untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Sam a h aln ya, dalam p sikologi persep si dan
bidang-bidang yang terkait, perluasan pemahaman
pada tahun-tahun belakangan ini akhirnya mengijin-
kan penyusunan pertanyaan-pertanyaan empiris se­
cara autentik tentang persepsi dan kognisi yang cocok
untuk p en yelid ikan langsung sebagai ganti dari
penelitian yang dibatasi kepada spekulasi-spekulasi
a priori yang umum. Hasilnya ialah perdebatan teoretis,
yang hal itu akan mempunyai akibat-akibat yang men-
dalam baik pada epistemologi filosofis maupun ilmu
alam iah. Di bidang-bidang perdebatan ini bahkan
Mach pun sudah puas dengan hanya mengajukan per­
tanyaan-pertanyaan yang sangat umum, dalam tradisi
filosofis Davrd Hume, tentang peran kesan-kesan

192
indrawi sebagai bahan mentah semua kognisi dan
persepsi, sekarang jelaslah bahwa banyak perbedaan
dan kom pleksitas pendahuluan harus dipecahkan
sebelum orang dapat berharap mengenali pertanyaan-
pertanyaan operatif yang sejati di dalam bidang ini.
Jauh dari semua bentuk pengetahuan dan persepsi
yang mematuhi suatu pola umum yang tunggal, indra
manusia dan hubungan-hubungan praktis dengan
dunia menggerakkan kumpulan bermacam-macam
sistem perseptu al yang operasi-operasinya tidak
membenarkan rumus epistem ologi tentang kesan-
kesan dan ide-ide, data-indra dan konstruksi-kons-
truksi logis, atau intuisi-intuisi dan skemata. Demikian-
lah, pada m asa kini, p en y elid ik an -p en y elid ik an
beberapa fisiolog, psikolog dan sibernetisi sedang
membawa indra m anusia dan ak tiv itas-ak tiv itas
kognitif ke dalam ruang lingkup ilmu alamiah, semen-
tara pada saat yang sama mempertahankan keper-
cayaan pada masalah-masalah dan wawasan-wawasan
filosofis yang lebih umum dari filsuf-filsuf seperti
Locke dan Leibniz, Hume dan Kant, Helmholtz dan
Mach.
Pada titik ini aliansi di antara ilmu dan filsafat
hanya memindahkan ke dalam bidang-bidang ilmu
yang m erupakan w ilayah -w ilayah kebin gu ngan
metodologis masa kini, interaksi-interaksi yang sama,
yang subur pada abad-abad terdahulu, di mana ilmu
m em punyai m eto d e-m eto d e yang sek a ra n g di-

193
m engerti dengan baik. Interaksi-interaksi ini pada
akhirnya tidak mungkin membenarkan satu pun dari
posisi-posisi yang bersaing di dalam filsafat ilmu,
apakah itu ontologis (Realis, instrum entalis atau
fenom enalis) atau epistem ologis (Realis, konven­
sionalis, atau operasionalis). Mungkin pembenaran
tersebut, dalam peristiw a apa pun, terlalu banyak
diharapkan. Karena dalam semua ilmu khusus yang
berbeda — baik alamiah maupun sosial— perkembang-
an historis pada akhirnya membawa sang penyelidik
kepada suatu titik di mana ia siap beroperasi dengan
suatu varietas istilah-istilah teknis atau entitas-entitas
yang mempunyai sifat-sifat dan fungsi-fungsi logis
yang berbeda dan yang padanya proposisi-proposisi
atau prinsip-prinsip teoretis yang paling umum me-
n am p ilkan p erbed aan -p erb ed aan yang sesuai di
dalam status dan implikasi-implikasi logisnya.
Selama diskusi filosofis dibatasi di dalam batas-
batas suatu bahasa buatan yang ideal atau sistem yang
proporsional, barangkali, ia bisa terus mengajukan
dilema-dilema umum yang abstrak tentang, misalnya,
entitas-entitas teoretis atau konfirmasi teori. Namun
m enghasilkan dilem a-dilem a formal tersebut pada
muatan aktual pemikiran ilmiah kontemporer menjadi
semakin tidak jelas. Dalam memperdebatkan status
ontal entitas-entitas teoretis, m isalnya,. pertanyaan
yang harus dihadapi pada tahap tertentu ialah, apakah
frase itu dimaksudkan untuk menyembunyikan pe-

194
ngertian-pengertian semisal gen atau pion, spesies-
spesies atau wajah yang dingin, momentum atau super
ego, kelas sosial atau pasar ekonomis. (Tentunya, tidak
semua istilah ini mempunyai sifat-sifat dan fungsi-
fungsi yang identik.) Dalam memperdebatkan status
epistem ik teori-teori ilmiah, juga, harus dijelaskan
apakah yang d ip ikirkan orang, m isalnya, skem a
matem atis teori medan kuantum -m ekanis, analisis
populasional, seleksi alam iah, m ikrostruktur dan
m ekanism e-m ekanism e biologi molekuler, urutan-
urutan perkembangan psikologi kognitif, teori kerja
nilai ekonomis, keteraturan-keteraturan umum meteo-
rologi bumi, atau apa. (Sekali lagi, tidak semua teori-
teori ini mempunyai jenis-jenis status atau implikasi-
implikasi yang identik.)
D oktrin-d oktrin dan pendekatan-pen dekatan
filosofis yang membawa keyakinan besar ketika di-
terapkan kepada teori-teori dan ide-ide dari sebuah
ilmu m ungkin — tak m engherankan— kehilangan
semua kemasukakalannya ketika diperluas ke bidang-
bidang lain. Demikianlah, suatu analisis empirisis bisa
d iterap kan secara langsung kepada m eteorologi
namun seluruhnya memberi keterangan yang keliru
tentang struktur dan implikasi-implikasi teori elektro-
m agnetik; sem entara, sebaliknya, penjelasan Neo-
Kantian mengenai fisika teoretis mungkin kekurangan
relevansi langsung, misalnya, kepada ide-ide tentang
perilaku binatang. Sekarang ini seperti di masa Athena

195
klasik, klarifikasi analitis dalam filsafat ilmu, dalam
hal ini, seiring dengan penghalusan-penghalusan
m etodologis dalam ilmu-ilmu itu sendiri. Bila me-
mandang ke belakang, wawasan metodologis biolog
laut Aristoteles dan astrofisikus teoretis Plato dapat
dianggap saling m elengkapi, daripada saling ber-
seberangan. Sama halnya, sekarang ini, filsuf harus
melihat pada posisi-posisi saingannya di dalam filsa­
fat ilmu, bukan sekedar jawaban-jawaban kontradik-
toris kepada pertanyaan-pertanyaan teknis di dalam
filsafat itu sendiri, m elainkan sama-sama sebagai
k o n trib u si-k o n trib u si p elen gk ap bagi kem ajuan
m etodologis pem aham an teoretis kepada seluruh
wilayah yang bermacam-macam dari bidang-bidang
ilmiah yang berbeda.

B. Hubungan antara Ilmu dan Budaya


Survei ini, hampir secara eksklusif, telah mem-
bicarakan masalah-m asalah filosofis dan argumen-
argumen tentang ilmu-ilmu yang dipandang sebagai
sum ber-sum ber pengetahuan teoretis. Dalam per-
lawanan Realisme terhadap instrumentalisme, ide-ide
m ekanistik melawan ide-ide organis, pengetahuan
ilahi melawan kekeliruan manusiawi, atau Ide-ide
Platonis m elaw an esensi-esensi A ristotelian, sang
filsuf di dalam masing-masing kasus membahas sta­
tus intelektual, im plikasi-im plikasi dan kesahihan
konsep-konsep, metode-metode, atau entitas-entitas

196
ilmiah tertentu yang umum. Akan tetapi, membatasi
diri hanva pada aspek-aspek intelektual ini, akan ber-
arti menerima suatu abstraksi total teori dari praktek
dan ide-ide ilm iah dari ungkapan behavioralnya.
Demikianlah, bersama dengan perubahan masa kini
penekanan dari ilmu fisik menuju ilmu humaniora
dan sosial, orang menemukan bahwa pendekatan-pen-
dekatan abstrak tersebut sekali lagi rentan terhadap
kritik karena terlalu mengintelektualisir hakikat dan
implikasi-implikasi ilmu.
Beberapa dari serangan-serangan ini berasal dari
arah neo-Marxis dan mencerminkan desakan Marxian
tradisional pada kesatuan teori dan tindakan. (Bukan
tak beralasan Lenin mencari-cari kesalahan Ernst Mach
sebagai sasaran khusus penghinaan.) Akan tetapi
kritik-kritik yang sama juga datang dari orang dengan
kesetiaan-kesetiaan intelektual yang sangat berbeda-
misalnya, dari sosiolog perkotaan Lewis Mumford dan
dari para Eksistensialis kontemporer. Oleh karena itu,
sebagai penutup, suatu diskusi yang ringkas di sini
memberikan beberapa pandangan tentang hubungan
antara ilmu dan bagian lain kebudayaan; yakni, tentang
relevansi pengetahuan ilmiah kepada lingkungan-
lingkungan pengalaman dan perhatian dan, sebalik-
nya tentang signifikansi yang lebih luas, pertimbangan-
pertim bangan praktis untuk pengertian m anusia
mengenai teori itu sendiri.

197
V ariasi pand angan-p and angan ini senantiasa
banyak sekali. Para pendukungnya telah tergabung
dari semua bidang mulai dari orang seperti Wilhelm
Ostwald yang bersemangat dan Julian Huksley evo-
lusionis — keduanya mengakarkan etika pada alam—
m enyajikan ide-ide dan prosedur-prosedur ilmiah
sebagai obat-obat mujarab yang rasional bagi masalah-
m asalah intelektual dan praktis dari semua jenis,
hingga kepada orang, seperti Pierre Duhem dan Carl
von Weizsacker, fisikawan dan filsuf alam, keduanya
mengakui adanya Tuhan, dengan sengaja membatasi
klaim-klaim ilmu sedem ikian rupa sehingga melin-
dungi kebebasan dari manuver untuk etika, misalnya,
atau teologi. Pada masing-masing tahap, yang paling
m em bela k laim -klaim ekstrem ilmu adalah para
Realis ontologis; dan, dalam memperkuat klaim-klaim
ontal dan epistemik mereka, mereka juga bersikukuh
pada suatu klaim menolak prioritas intelektual atas
nama pengetahuan ilmiah, sangat berbeda dengan
bentuk-bentuk pengalaman lain. Sama halnya, orang
yang membatasi klaim-klaim kultural yang lebih luas
atas ilmu cenderung menjadi fenomenalis; dan dalam
memperlemah klaim-klaim filosofisnya, mereka juga
telah berusaha membatasi otoritas ilmu kepada per-
hatian-perhatia-n in telektu aln y a sendiri yang di-
definisikan secara sempit.
Akan tetapi, apa pun posisi filosofis umum sese-
orang berkenaan dengan realitas pengetahuan dan

198
entitas-entitas ilmiah, ada pertanyaan-pertanyaan lain
yang lebih p raktis untuk d ihad ap i, p ertan yaan-
pertanyaan tentang implikasi-implikasi spesifik ide-
ide dan kepercayaan-kepercayaan ilmiah yang berbeda
untuk bidang-bidang tindakan dan pengalaman ma­
nusia yang serupa. Pada titik ini, satu tema khusus
menyatukan sederetan luas kritikus-kritikus radikal
ilmu, termasuk Lewis Mumford, kritikus sosial Amerika
Serikat, dan para eksistensialis. Seperti Christian Dane
Soren Kierkegaard, seorang perintis dan tokoh eksis-
tensialism e aw al, m enuduh sistem etika yang di-
universalkan oleh Kant mengabaikan individualitas
masalah-m asalah dan pertim bangan-pertim bangan
etis yang aktual, sehingga sekarang ini terdapat reaksi
yang tersebar luas menentang setiap kecenderungan
memperlakukan pertimbangan-pertimbangan sosial
atau praktis sebagai masalah-masalah teknis, yang
dapat ditinggalkan untuk pertimbangan ahli-ahli ilmiah
atau teknologis. M etode-m etode umum teknologi,
mungkin benar-benar mewakili penerapan-penerapan
praktis pem aham an teoretis yang dicapai dengan
ilmu; namun semua pertimbangan individual tentang
penggunaan teknik-teknik umum tersebut — yakni,
dalam membangun suatu bandara udara atau stasiun
pembangkit listrik —jangan dibuat dengan menarik
rumus umum atau aturan jempol (rule o f thumb) apa pun
melainkan dengan menyeimbangkan seluruh deretan
pertimbangan-pertimbangan yang bermacam-macam—

199
ekonomis dan estetik, lingkungan dan manusia, dan
juga yang semata-mata teknis.
Menurut pengkajian masa kini yang lain, sudut-
sudut pandang teoretis yang diadopsi dalam ilmu
alam adalah umum dan abstrak, namun tuntutan-
tuntutan praktis tindakan sosiopolitis dan, a fortiori,
tindakan individual adalah konkret dan khusus; dan,
dengan sendirinya, perbedaan ini menempatkan suatu
larangan yang segera pada relevansi eksistensial ide-
ide ilmiah dan teknik-teknik rekayasa. Para sarjana
seperti Thomas Huxley, seorang ilmuwan yang cakap
dalam berbagai bidang dan pembela evolusi, atau
Wilhelm Ostwald, seorang perintis elektrokimia, yang
memandang realitas pada dasarnya sebagai energi,
mungkin berargumen dalam istilah-istilah yang umum
dan abstrak untuk menafsirkan prinsip-prinsip etis
dalam istilah-istilah evolusioner atau termodinamis
jika mereka mau (demikianlah para kritikus melanjut-
kan); namun argumen-argumen spekulatif yang abs­
trak tersebut tidak berhubungan dengan tugas-tugas
aktual pertimbangan dan tindakan etis. Di sini, setiap
pilihan etis melibatkan suatu konstelasi yang unik dari
pertimbangan-pertimbangan dan tuntutan-tuntutan;
dan masalah ini tak dapat dihubungkan dengan me-
nariknya kepada aturan universal apa pun melainkan
harus dinilai berdasarkan individu, sebagaim ana
ketika ia muncul.

200
Yang lain m engam bil pendekatan yang lebih
positif ke arah kontribusi ilmu bagi suatu pemahaman
nilai-nilai manusia. Tanpa harus mengklaim meng-
ubah etika itu sendiri menjadi sebuah "ilm u", mereka
berargumen, bahwa sikap-sikap pribadi dibutuhkan
untuk bekerja efektif di dalam ilmu — skeptisisme yang
berbahaya dan pikiran terbuka yang kritis— mem­
punyai relevansi yang lebih luas juga kepada perilaku
dan hubungan-hubungan sosial manusia. M ereka
menganggap bahwa hanya melalui diskusi sosial dan
politis yang dilaksanakan dengan semangat tentatif
dan kritis yang sama inilah, maka hasrat yang tipikal
dan tercela serta kebingungan dapat digantikan oleh
pertimbangan yang lebih rasional akan cara-cara yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang di-
nyatakan secara eksplisit. Sementara ide-ide ilmiah yang
spesifik dan doktrin-doktrin itu sendiri mungkin tidak
cukup untuk mengarahkan tindakan sosial dan politis,
namun demikian, sikap ilmiah, mempunyai signifi-
kansi yang mendalam bagi kebijakan sosial dan etika
individual yang sama.
Perbedaan ini, di antara kritikus yang berorientasi
eksistensial mengenai klaim bahwa ilmu mencakup
segalanya dengan orang yang berorientasi sosial yang
percaya pada sikap ilmiah, dapat diringkas dengan
mengacu kepada diskusi-diskusi kontemporer ten­
tang signifikansi sosial ilmu itu sendiri. Di sisi lain,
baru-baru ini ada suatu penghidupan kembali pan-

201
dangan-pandangan anti-ilmiah yang terang-terangan,
yang kurang lebih sudah tidak aktif sejak zaman Blake,
Johann Wolfgang fon Goethe, dan para penerusnya
dalam gerakan Romantik. Para pendukung posisi anti-
ilmu ini menunjukkan peran utama teknologi militer
dalam dukungan finansial riset ilmiah abad ke-20 dan
m enolak dalih lazim ilmuwan bahwa ia tidak ber-
tanggungjaw ab untuk penggunaan penem uan-pe-
nemuannya yang netral secara etis, dianggap sebagai
dalih yang muram dan tidak jujur. Sebaliknya (mereka
berargumen), terdapat persekutuan yang berlangsung
lama dan mengerikan, yang menghubungkan lembaga-
lembaga kolektif ilmiah dan profesi-profesi teknologis
dengan kekuasaan-kekuasaan ekonom is, industrial
dan politis. Dihadapkan dengan buah-buah persatuan
historis ini (mereka menyimpulkan) sudah waktunya
bahwa para ilmuwan mengakui tanggungjawab sosial
mereka; dan kegagalan kontrol-kontrol kelembagaan
yang lebih banyak, hasil terakhir perenungan moral
ini mungkin menjadi bukti yang baik untuk melaku-
kan penundaan sementara riset ilmiah selanjutnya.
M ungkin manusia yang sudah m engetahui terlalu
banyak untuk kebaikan sendiri dan perlu memahami
lebih jauh lagi signifikansi persediaan pengetahuannya
yang sudah ada, sebelum menambahnya. Sehingga
tidak m em perlebar kembali jurang pemisah antara
pengetahuan teoretis dan kebijaksanaan praktis.

202
Di sisi lain, ada yang mengakui ilmu memainkan
peranan yang penting dalam dunia modern, namun
melanjutkannya dengan menarik kesimpulan yang
berlawanan. Daripada memilih menghentikan (orang
ini akan m enyatakan), ruang lingkup ilmu harus
diperluas; yakni, para sarjana harus mempelajari dan
memahami dengan lebih baik cara pelaksanaan ilmu
yang berfungsi sebagai suatu unsur dalam tatanan
sosial yang lebih besar —barangkali dengan mengem-
bangkan analisis yang lebih memadai terhadap struktur
sosial atau barangkali dengan suatu perluasan ber-
skala besar, terhadap metode-metode pelaksanaan pe-
nelitian. Terlepas dari hal lain, (mereka menunjukkan),
penundaan sementara pada ilmu adalah suatu pe-
nundaan sementara pada dosa yang tidak dapat di-
laksanakan. Ia dapat dipaksakan hanya jika ketidak-
sepakatan politis mencapai suatu tingkat yang tidak
dapat dibayangkan di kalangan para ilmuwan. Dalam
ab sen si p em aksaan-p em aksaan tersebu t, negeri-
negeri yang berpikiran liberal hanya akan menempat-
kan dirinya pada kerugian yang tak perlu — baik
ekonomis maupun militer— jika dibandingkan dengan
negara-negara totalitarian. Daripada mengejar harapan
yang sukar dicapai ini, para sarjana harus melakukan
usaha yang lebih banyak pada tugas memahami baik
prasyarat-prasyarat sosial perkembangan ilmiah yang
efektif maupun prioritas-prioritas ekonomi dan politis

203
yang terlibat di dalam penerapan praktis penelitian
ilmiah.
Jika dibandingkan dengan kontroversi-kontro-
versi pada abad-abad terdahulu, perdebatan di antara
ilmu dan agama dibungkam secara aneh sekarang ini.
Dewasa ini hanya sedikit ruang kecil untuk nafsu-
nafsu teologis yang menelan diskusi mengenai teori
planet Copernikus yang baru, sejarah James Hutton
tentang Bumi, atau teori Darwin tentang seleksi alam-
nya; dan orang akan ragu-ragu untuk berbicara lebih
jauh, seperti yang begitu banyak dilakukan para nenek
moyang kita, tentang peperangan di antara ilmu dan
agama sebagai hal yang tak terhindarkan. Memang
benarlah bahwa segelintir penulis pendukung masih
merasa kesulitan untuk memutuskan isu-isu seperti
apakah eksistensi kehidupan pada dunia lain akan
memerlukan penetapan kembali adanya ke-jatuhan ke
dalam dosa dan penebusan yang diajarkan agama
Kristen atau sebaliknya, dapat mendesakkan bahwa
h asil-h asil ek sp lorasi astronom is m enolak setiap
keyakinan religius bahwa Tuhan adalah Pria Tua yang
ada di langit. Akan tetapi, bagi sebagian besar orang,
pertanyaan-pertanyaan tersebut telah sedemikian jauh
keh ilan g an gig itan n ya yang terdahulu sehingga
sekarang ini tampak sangat naif.
Apakah alasan bagi perubahan ini? Di zaman-
zaman terdahulu, istilah kosmologi tidak hanya men-
cakup struktur astronom is kosm os dan asal-usul

204
spesies m anusia nam un juga signifikansi religius
tem pat m anusia di dalam alam . Sebaliknya, para
teolog kontemporer, melihat fisika dan biologi sedikit
banyak berhubungan dengan sikap-sikap religius dan
keasyikan-keasvikan manusia daripada yang dilihat
para pendahulunya. Akibatnya, ambisi manusia ter-
dahulu mengkonstruksi suatu pandangan manusia
yang tunggal dan menyeluruh, yang mencakup ke-
benaran-kebenaran esensial baik ilmu maupun agama,
tidak lagi memainkan bagian yang aktif dalam ke-
hidupan intelektual seperti di zaman sebelum nya.
Satu-satunya cabang ilmu yang masih mampu men-
dorong perdebatan teologis dengan penuh semangat,
bahkan sampai sekarang, adalah ilmu-ilmu humaniora
ketim bang ilm u-ilm u alam iah. Im plikasi-im plikasi
psikologi Freudian terhadap doktrin rahm at dan
kegunaan obat-obat bius yang menimbulkan khayalan
untuk menghasilkan pengalaman-pengalaman kuasi-
mistik adalah topik-topik diskusi yang hangat di masa
kini, bukan lagi evolusi, astrofisika, dan geologi historis.
Perubahan fokus ini telah disertai oleh suatu
perubahan dalam ide-ide tentang batas-batas intrinsik
ilmu. Dulu diasumsikan bahwa batas-batas di antara
ilmu dan aspek-aspek pengalaman manusia lainnya
dapat didefinisikan dengan menandai tipe-tipe topik
tertentu yang dianggap tertutup secara esensial kepada
penyelidikan ilm iah. Pada satu generasi, jan tung
teritori terlarang ini masih diperhatikan; dan bagi

205
generasi berikutnya, ia merupakan kehidupan; bagi
generasi ketiga, merupakan penciptaan. Dalam pan­
dangan ini, sesuatu yang ada di dalam hakikat esensial
aktivitas mental atau aktivitas vital, atau di dalam asal-
usul tatanan alam yang dibicarakan, tidak mungkin
untuk m em perlakukan ia sebagai fenomena yang
terbuka bagi studi dan penjelasan melalui metode-
metode rasional dan prosedur-prosedur intelektual
yang berlaku pada ilmu. Dalam kenyataannya, pan­
dangan ini selalu mempunyai kelemahan, dari sudut-
sudut pandang ilmiah maupun teologis. Kepada para
ilmuwan, ia tampak memaksakan suatu larangan yang
sewenang-wenang pada lingkungan cara-cara kerja
mereka kemudian bertindak sebagai suatu tantangan
dan gangguan yang tetap. Bagi para teolog, ia mem­
punyai kelemahan karena menempatkan klaim-klaim
esensial agama, dapat diibaratkan dalam bubungan
pasir yang terancam tenggelam suatu ketika akan
muncul gelombang pasang — demikian juga dalam
pengetahuan ilmiah. Jadi, secara diam-diam disetujui,
batas-batas esensial ilmu saat ini didefinisikan di
dalam istilah-istilah yang berbeda sama sekali. Batas-
batas ini sekarang dikenali dengan mengakui bahwa
sifat prosedur-prosedur ilmiah itu sendiri menempat­
kan batas-batas pada relevansi hasil-hasilnya. Seorang
sarjana boleh m em ilih m em pelajari objek-objek,
sistem-sistem, atau proses-proses apa pun yang di-
senanginya, nam un hanya pertanyaan-pertanyaan

206
tertentu yang akan dapat dijawab di dalam istilah-
istilah umum, teoretis yang khas pada ilmu.
Perubahan pendekatan ini mungkin tidak men-
jadikan masalah substantif — yang membatasi tapal
batas ilmu secara eksak pada semua titik— jauh lebih
mudah dibanding sebelumnya, namun ia mempunyai
satu keunggulan yang asli: ia menghargai fakta yang
sangat penting, yang menarik perhatian khusus dalam
survei ini, bahwa ciri khas ilmu terletak bukan pada
tipe-tipe objek dan peristiwa yang dapat diakses ilmu­
wan melainkan dalam prosedur-prosedur intelektual
yang dipakai dalam penyelidikan-penyelidikannya
dan juga dalam jenis-jenis masalah yang membantunya
mencapai solusi ilmiah. ❖

207
BIBUO GRAFI

Ernest Nagel, The Structure o f Science (1961); dan


M.W. Wartofsky, Conceptual Foundations o f Scientific
Thought (1968), bersam a-sam a m em aparkan pen-
dekatan-pendekatan kepada filsafat ilmu sebagai
bidang studi yang umum; sementara Arthur Danto dan
Sidney Morgen Besser (eds), Philosophy o f Science (1962),
memberikan antologi yang sangat bermanfaat menge-
nai makalah-makalah klasik mengenai topik tersebut;
dan Samuel B. Rapport dan Helen Wright (ed.), Science:
Method and Meaning (1964), adalah antologi makalah-
makalah nonteknis yang merangsang.
Asal-usul dan perkembangan ilmu alamiah dan
sikap-sikap para filsuf kepada penjelasan ilmiah di
zaman kuno dan Abad Pertengahan digarap dengan
baik dalam Samuel Sambursky, The Physical World o f
the Greeks, edisi kedua (1962; aslinya diterbitkan pada

209
Hebrew, 1954); dan The Physical World o f Late Antiquity
(1962); John H. Randall, JR., Aristotle (1960); dan Alistair
C. Crombie, Medieval and Early Modern Science, 2nd ed.,
2 vol. (1963). Untuk abad ke-17 dan ke-18, lihat Edwin
A. Burtt, The Metaphysical Foundations o f Modern Physi­
cal Science, 2nd ed. (1932); edisi kedua Alexandre Koyre,
Newtonian Studies (1965); Herbert Butterfield, The Ori­
gins o f Modern Science: 1300-1800, rev. ed. (1965); edisi
revisi I. Bernard Cohen, Franklin and Neioton (1956); dan
G o tteried M artin , Im m an uel K an t: O n tolog ie and
W issen schaftstheorie (1951; terjem ahan berbahasa
Inggris, Kant's Metaphysics and Theory o f Science, 1955).
Untuk abad ke-19, kontribusi-kontribusi yang paling
signifikan telah datang dari tulisan-tulisan para ilmu­
wan sebagai filsuf: Claude Bernard, Introduction a
Petude de la medecine experimentale (1865; Terjemahan
berbahasa Inggris, An Introduction to the Study o f Ex­
perimental Medicine, 1927, dicetak ulang 1961); Hermann
von Helmholtz, Popular Scientific Lectures (1962; dicetak
ulang dari kumpulan kuliah Popular Lectures on Scien­
tific Subjects, seri pertam a dan kedua, 1881); T.H.
Huxley, Science and Culture, and Other Essays (1882); dan
William Whewell, The Philosophy o f the Inductive Sciences,
Founded upon Their History, edisi kedua (1847 dicetak
ulang 1966).
Latar belakang perdebatan abad ke-20 dalam
filsafat ilmu, sebagaimana yang dikembangkan antara
tahun 1890 dan 1920, dapat direkonstruksi dari Ernst

210
Mach, DieMechanik in ihrer Entivicklung historisch-kritisch
Deirgestellt, e disi kesem bilan (1933 terjemahan ber-
bahasa Inggris, The Science o f Mechanics, 1960); dan Die
A n aly se der E m p fin d u n g en .u n d das V erhdltnis des
Physischen ziim Psychischen, edisi kelima (1906 ter­
jemahan bahasa Inggris, The Analysis o f Sensations and
the Relation o f the Physical to the Psychical, 1959); Karl
Pearson, The Grammar o f Science, edisi ketiga (1960);
Pierre Duhem, La Theorie physique: son objet et sa structure
(1906; terjemahan Inggris, The Aim and Structure o f Physi­
cal Theory, 1954); Henri Poincare, La Science et Phypothesa
(1903; terjemahan bahasa Inggris, Science and Hypothesis,
1905); dan Heinrich Hertz, Die Prinzipien der Mechanik
(1895; terjemahan berbahasa Inggris, The Principles o f
Mechanics, 1889, dicetak ulang 1956), khususnya Peng-
antar. Rangkaian perdebatan berikutnya, antara tahun
1920 dan 1960, dilukiskan dalam Carl G. Hempel,
Aspects o f Science (1965);
Rudolf Carnap, Logical Foundations o f Probability,
edisi kedua (1962); Karl R. Popper, Logik der Forschung
(1953; edisi kedua, 1966; terjemahan berbahasa Inggris,
The Logic o f S cien tific D iscovery, 1959); R obin G.
Collingwood, An Essy on Metaphysics (1940); Norman
R. Campbell, What Is Science? (1921); dan William H.
W atson, On U n d erstan d in g P h y sics (1959). Dua
pandangan bersisi-dua perdebatan tersebut dari pen-
dirian-pendirian formal yang sangat berbeda dapat
ditemukan pada William V. Quine, From a Logical Point

211
o f View, edisi revisi kedua (1961); dan Ronald A. Fisher,
Statistical Methods fo r Research Workers, edisi keempat
belas (1970). Peter Achinstein dan Stephan F. Barker
(editor.), The Legacy o f Logical Positivism (1969), adalah
sebuah usaha penilaian historis pada periode itu.
Perdebatan dewasa ini tentang perubahan kon-
septual dan dasar alasan penem uan dalam ilmu
adalah topik-topik utama dalam Karl R. Popper, Con­
jectures and Refutations, edisi kedua revisis (1965);
N orw ood R. H anson, Patterns o f D iscovery (1958);
Stephen Toulmin, Human Understanding, vol. 1 (1972);
Thomas S. Kuhn, The Structure o f Scientific Revolutions,
edisi kedua revisi (1970); Im re Lakatos dan Alan
Musgrave, Criticism and the Groivth o f Knowledge (1970);
dan Michael Polanyi, Personal Knowledge (1958); Untuk
aspek-aspek budaya yang lebih luas perdebatan kon-
temporer tentang ilmu, lihat C.H. Waddington, The Sci­
entific Attitude, new ed. (1968); Jacob Bronowski, Sci­
ence and Human Values, edisi revisi (1965); Theodore
Roszak, The Making o f Counter Culture (1969); dan Lewis
Mumford, The Myth o f the Machine (1967).

212
INDEKS

Abad Gelap, 16
Abad Klasik, 68
abad ke-4S.M .,10
Abad Pertengahan, 16, 99
abad ke-5S.M., 7, 9
Abad Tengah, 98
abad ke-6,7
Aeschylus, 9
abad ke-7,19
Afrika, 29
abad ke-9,20
Agama asli, 25
abad ke-10,19
agama Barat, 25
abad ke-11,17
Akademi Ilmu-ilmu, 56
abad ke-12,21,17
aksioma-aksioma Euklidean,
abad ke-13,17,23
107
abad ke-15, 29, 30, 31
Al-Kitab, 70
abad ke-16,23, 27, 32,34,100
Alexander Agung, 12, 13
abad ke-17, 10, 13, 25, 27, 34,
Alexandria 13, 14, 98
36, 42, 43, 44, 48, 52, 89,
aliansi di antara ilmu dan
94, 104, 128
filsafat ,193
abad ke-18, 45, 50, 65,179
aliran Wina, 120
abad ke-19, 4, 25, 61, 62, 66,
aljabar Arab, 22
67, 68, 72, 75, 111, 123,
alkemisi Mesir, 14
146, 179
alkimia Eropa, 14
abad ke-19,65
Amerika Serikat, 45, 64, 66,
abad ke-20, 75, 83, 87, 88,
118,125,161,199
89, 91, 98, 111, 112, 132,
analisis Empirisis, 161
133, 141,191, 202

213
analisis konseptuai, 88 B
anatomi,14 Babbage, Charles, 63
Anaxagoras, 9 Babylonia, 132
angka-angka utama Arab, 22 Bacon, 17, 36,38,54,101,102,
anti-ilmiah, 202
103, 104
anti-rasionalisme, 163
Bacon, Francis, 17, 18, 23, 40,
anti-teologi, 112
54, 101, 106
Apollonius, 13
Baghdad, 20
Aquinas, Thomas, 17
bahasa Arab, 20, 22
Arab, 20, 21
bahasa Latin, 21
Archimedes, 13
bahasa Yunani, 25
argumen Anti-Positivis, 163
Baptiste, 56
argumen Baconian, 107
batas-batas intrinsik ilmu, 205
Aristophanes, 9
Bayes, Thomas, 141
Aristoteles, 10, 11, 12,13, 14,
Behavioris, 124, 125
18, 37, 41,94,96, 97,98,
102, 191, 196 Beitrage zur A nalyse der
Aristoteles baru, 37 Empfindungen, 117
Aristotelian, 97, 196 Belanda, 52, 68
Aristotelianis, 98 Belgia, 32
Aristoteiianisme, 41 benda-benda-daiam-dirinya
Ars magna, 32 sendiri, 189
atau Materialis, 110 Benua Eropa, 33
Athena, 13; - klasik, 195: - berhala-berhala Bacon, 101
kuno, 128 Berkeley, 105
Atom-atomnva Demokritus, 58 Bernard, Claude, 69, 112,123
Augustin, 56 179
Aurelius, Marcus, 14 Bernoulli, 45
Austria, 87, 108 biofisika, 75
Avenarius, Richard, 115 biokimia, 75,159
Averroes, 18 biologi molekuler, 159
Avogadro, 68 Blake, William 58, 202
Avvan-Awan, 9 Boehaave, Hermann, 52
Boltzmann, Ludwig, 87
Boyle, Robert, 42, 104
Brazil, 31

214
Brown, 125 Darwinisme, 72
Byzantium, 16 De fabrica#32
De rerum natura (Tentang
Hakekat Benda-benda),
C
15
Cannizarro, Stanislao, 68 De revolutionibus, 32
Cardano, Gerolamo, 32 dekrit linguistik, 140
cara-cara kerja alam, 184,188 Demokritus, Atomis, 97
C arnap,147 Descartes, Rene, 37, 38,54,89,
Carnot, Sadi, 57, 67 94, 100, 101, 102, 103,
Cartesian, 105, 134 104, 105, 110, 124, 136,
casual speculation, 15 138, 146
Cauchy, Louis, 56 Diderot, Denis, 54
Charles II, 40 dilema teoritikus, 149
Chile, 67 dinamika Newtonian, 113,121
Chomsky, Noam, 125 doktrin evolusi, 71
Cina, 23, 24; - kuno, 25 doktrin Idealis, 110
Citium, 97 doktrin mekanistik, 110
Coleridge, Samuel Taylor, 58 Duhem, Pierre, 90, 114, 116,
Colombus, 31 172, 198
common sense, 9 Dunia Prometheus, 9
Condorcet, Antoine, 54
Conquistadores, 31
Constantinopel, 16 E
controlled artificial experiences, 9 Ecole, 55
Cordova, 20 Eddington, Arthur, 89
Cornwall, 52 Edinburgh, 51
Cracow, 30 Einstein, 119, 137
craft work, 12 eksistensialis, 199; - kontem-
porer, 197
ekspansi Eropa, 29
D
eksperimental, 17
d'Alamberc. Jean, 54 Eleatis, 8
Darwin, Charles, 63, 70, 128, Eleatisme, 93
143, 168 elektrodinamika kuantum, 177
Darwinian baru, 112 elektromagnetisme, 59

215
Empedokles, 8 Euklides, 9, 13, 98, 102, 103,
empirio-kritisme, 115 104, 110
Empiris, 137, 119, 121, 169, Euler, Leonhard, 45, 106
170; - Logis, 156, 178; - evolusi historis fisika, 174
radikal, 133
Empirisis Wina, 161 F
Empirisisme 115; - Logis, 153
Faraday, Michael, 68
empirisisme logis Lingkaran
fenomenalis, 188, 194, 198
Wina, 117
Filsafat Alam (N atu rp h ilo so -
Empirisme Logis, 88; -abad ke-
phie) 58,12, 92,187, 191
20 , 88
filsafat alam Aristoteles, 191
Empirisme, Rasionalisme, 106
filsafat alam Cina, 24
Encyclopaedia Britannica, 62
filsafat alamiah, 17, 18, 83
entropi, 187, 188; - total, 188 filsafat atomistik materi. 47
Ephesian, 94 Filsafat eksperimental, 45
Epikureanisme, 15, 168 filsafat ilm u, 74, 85, 86,
Epikurenis, 98 88, 89, 90, 91, 92, 94,
Epikurian, 97 97, 99, 100, 101, 113,
Epikurus, 97 116, 121, 127, 147, 153,
Episode Victorian, 71 154, 155, 169, 176, 191,
epistemologi, 85, 86, 91, 92; - 196; -abad ke-19 110; -
genetik, 92 abad ke-20114; - modern
epistemologis, 86 94
Eropa, 4, 5, 6, 16, 17, 18, 19, filsafat Kritis, 107
20, 21, 22,23,24,25, 27, filsafat metafisik ,83
29, 45, 46, 47, 49, 50, 61, filsafat moral, 83
64, 76; - Abad Tengah, filsafat partikel (corpuscular), 42
46; -B a ra t 16, 19; -kon- filsafat Skolastik 37
tinental 40, 52; -L atin filsuf abad ke-'18,106
19, 21;-m o d e m 8,40,77 filsuf dalam tradisi Platonis,
Ethiopia, 31 132
etika, 10, 85, 201 filsuf empirisis 140, 178; -dan
Eudoxus, 10 konstruktifis 173
Euklid, 116 filsuf ilmu, 86, 88,92,117,127,
Euklidean, 102, 107,109, 114 128, 133, 137, 165, 166; -
Amerika, 146

216
filsuf Pra-Sokratik, 93 H
filsuf-filsuf analitis ilmu, 146
Habermas, Jurgen, 125
fisika Descartes, 53
Hadamard, Jacques, 163
fisika Newtonian, 107; - klasik,
Haeckel, Ernest, 88,112
122
H andbuch der physiologischen
fisika teoretis, 74, 83
Optik, 111
fisikawan (physicist ), 65
Hanson, N.R. 89
fisiologi, 14
Harvey, William, 34
Flander, 30
Heisenberg, Werner, 74,89,98,
formalisme, 164
119, 174
Franklin, Benjamin, 45
Helenistik, 13
free-lance collector, 65
Helmholtz, Herman von, 59,
Frege, Gottlob, 94,133,146,153
68,193, 111
Fundamental Theonj, 111
Hempel, Carl, 149, 178
fungsionalis, 125
Heracleitus, 94
Hermann, 59
G Hertz, Heinrich, 108,114,121,
Galen, 14 136, 147
Galilei, G alileo, 33, 36, 37, hibridisasi kristalografi, 159
38, 101, 103, 173, 174 higher consciousness , 22
Galois, Evariste, 57 Hilberg, David, 146
gelombang pemujaan bangsa Hipparkhus, 13
Inggris (ianglophilia ), 53 Hobes, 124
genetika, 133; - virus, 159 Hofman, Wilhelm von, 66
gentlemenamateur, 63 Holbach, Henri, 54
geometri, 9; - Euklidean 106, Hongaria, 162
107, 109 hubungan antara filsafat
gerakan Penyatuan Ilmu, 176 dengan teologi, 100
Gerakan-gerakan Pemikiran hubungan antara ilmu dan
Ilmiah, 160 bagian lain kebudayaan,
Gereja Katolik, 36 197
Gilbert, William, 33, 42 Huksley, Julian, 198
Goethe, 58; - Johann Wolfgang hukum gravitasi, 43
fon, 202 hukum-hukum fundamental
Gutenberg, 30 fisika, 75

217
Hume, David, 106, 115, 192, In g g ris, 23, 33, M r 36, 4 3 ,
193 51, 52, 58, 6S i 64, 6 5,
Huxley, Thomas Henry, 65,200 67, 70, 71, 89; 113, 161
instmmentalis, 188, 194
Ionia,, 92
I
irasiomlisme, 164
iatrokemistri abad ke-16 dan Islam, 17, 19, 21
ke-17, 159 Italia, 21, 29, 32, 3Si 47, 68,
Ibrani, 5 92
ide-ide mekanistik melawan
ide-ide organis, 196
J
ideologi ilmu murni, 77
illumination, 10, 21 j Jacobin, 56
ilmu alam 27, 55; - rasional, i Jacques, 54
95 Jean, 54, 56
ilmu alamiah, 78 Jepang, 23, 25)
ilmu biologis, 11 Jerm an, 58, 63, 64, 66 , 67,
ilmu dan agama, 204 68, 69, M , 87, 89 112,
ilmu eksperimental, 67 114, 119,, 133/146
ilmu eksperimental di Jerman, Jerman selataii, 343, 47
59 Jhon, Prester,?31
ilmu Eropa, 27 Joseph, 56
ilmu genetika, 74 Joule, JameS) 63,67
ilmu kedokteran, 9,76 Judaisme, 19
ilmu murni, 75, 77
ilmu untuk khalayak, 56 &
ilmu-ilmu alamiah, 160
Kant, Immanuel, 91, 106,107,
ilmu-ilmu biologi, 76
108, 109, 110, 111, 113,
ilmu-ilmu kemanusiaan, 74
114, 130, 135, 136, 138,
ilmu-ilmu khusus, 181 186, 193, 199
ilmuwan (scientist ), 65
Kantian, 113, 121
ilmuwan eksperimental, 65
Kantianisme, 106, 107
im p likasi ontologis teori kapitalisme awal, 47
ilmiah, 187
kartografi matematis, 10
India, 5, 22, 31 karya-karya berbahasa Arab,
induksi Baconian 102, 104 21

218
Kebudayaan Islam, 19 Laplace, Simon, 56,101
kebudayaan tulisan Eropa, 44 Latin, 28, 29
kebudayaan Yunani, 46 Lavoisier, 56, 68
kedokteran, 14 Lavoisier, Antoine, 178
Kekristenan, 19 Leibniz, Gottfried, 45,100,101,
Kekule, Friedrich, 69 105, 193
Kelvin, 64, 68 Leiden, 51
Kepler, Johannes, 34,41 Lenin, 197
Kerajaan Timur, 16 Liebig, Justus von, 63
kerja alam, 127 Lingkaran Wina, 118, 149
kerja dunia alamiah, 183 Linnaeus, Carolus, 45, 128
Kierkegaard, Christian Dane Lobachevsky, 64
Soren, 199 Locke, John, 45, 89, 106,193
kimia Parakelsian, 43 logika, 85; - deduktif, 147; -
Kitab Alam, 173 form al 85, 88, 166; -
Kitab Kejadian, 70 induktif, 86, 141, 149; -
Kitab Suci, 173 simbolik Russell, 120; -
Klarifikasi metodologis dalam sim bolik R ussell da*
filsafat ilmu, 128 Whitehead, 177
klasifikasi alamiah, 143 London, 40
klasifikasi buatan, 143 Lukretius, 15
Koestler, 162
konservasi energi, 59
M
konvensionalis, 185,186, 194
Kopernikus, 38, 99 Mach, Ernst, 87, 108,114,115,
kosmologi, 32; -materialistik, 116, 119, 121, 134, 135,
112 165, 186, 192, 193
Kristen,20, 21, 36, 204;-Abad Malinowski, Bronislaw, 125
Tengah, 31; -Liberal, 72 Malthus, Thomas, 70
kritik agnostik, 188 Marat, Paul, 56, 57
Marcopolo, 23
Marie, 54
L
Marxian tradisional, 197
Lagrange, Louis, 56 Marxis kritis, 125
langkah empiris, 170 Marxist, 71
langkah formal, 170 matematika India, 22

219
Materialis mekanistik, 111 model reduksionis fisikawan,
Materialisme, 168 77
Maut Hitam, 17, 29 Monge, Gaspard, 56
Maxwell, James Clerk, 68,180, Montpellier, 21
174 Muller, Johannes, 69
Mayer, Julius Robert von, 59 Mumford, Lewis, 197, 199
Mediterania, 14 Museum Sejarah Alamiah, 56
Mediterranian Timur, 7 Muslim, 20
mekanika klasik, 133
mekanika kuantum, 86, 122,
N
133
mekanisme Jacques Loeb, 123 Nabi, 19
Mendeleyev, Dmitry, 64,69 Nagasaki, 40
mesin cetak, 30 Nagel, Ernest, 146
Mesir Kuno, 5 Napoleon, 57
Mesopotamia, 5 Naturphilosophie, 58, 59,60, 69
Metafisika, 187 Nazi, 74; - Nazi Jerman, 64
metafisika, 11, 91 Needham, Joseph, 23
metafisika baru, 38 negeri-negeri berbahasa Arab,
metode hipotetiko-deduktif, 19
113, 119 negeri-negeri Islam, 20
metode hipotetis-deduktif, 105 neo-Iiumean, 119
metode induksi, 101 Neo~Kantian, 121, 195
metode intelektual, 87 neo-Marxis, 197
metode transendental, 107 Neoplatonis, 18
metode transendental Kant, 108 netralitas ideologis ilmu, 75
metode-metode analisis logis, Neurath, Otto, 89,175,178
92 Newton, Sir Isaac, 43, 44, 45,
metode-metode astronomis, 44 53, 100, 103, 104, 105,
metode-metode penyelidikan 106, 107, 110, 116, 128,
kuantitatif eksperimen- 144, 167, 174
tal, 43 Newtonian, 107, 111, 114
Meyer, Lothar, 69 Newtonianisme untuk Wanita,
Midlands, 52 53
Mill, John Stuart, 113,114,137 Nuremberg, 30
missionaris Jesuit, 24

220
o pendekatan logiko-matematis,
ontal, 86 176
ontologi, 83 pendekatan matematis, 56
ontologis, 86 pendekatan rasionalis, 136
operasionalis, 186, 188, 194 pendekatan sistematik, 157
Oresme, Nicole, 174 penemuan, 162; - dan pem­
0rsted, Hans Christian, 59,68 benaran, 166
ortodoksi kosmologi, 53 "penerangan" (illum ination ),
ortodoksi religius, 71 99
Ostwald, Wilhelm, 87,198,200 pengadilan Galileo, 72
Oxford, 100 Pengesahan dan Pembenaran,
169
pengetahuan skolastik, 17
P penyair-penyair Romantik, 58
Palestina, 17 penyatuan ilmu-ilmu, 181
pantai Afrika, 31 penyatuan konseptual dan
Paracelsus, 34 metodologis, 182
Paraguai, 34 peradaban Barat, 22
Paris, 53, 55, 57 peradaban Eropa, 78
Parmenides, 8, 94 Peradaban India, 22
Parsons, Tallcott, 125 peradaban Islam, 21, 46
Par tike 1-par tik el C ahaya Perancis, 40, 53, 54, 55, 57,
Newton, 59 63, 66, 67, 69, 90, 116,
Pascal, Blaise, 141 163, 172
Pasteur, Louis, 69 Perang Dunia 1,175
Paul, 54 Perang Dunia II, 67, 175
Paus Urban VIII, 38 Perang Sipil, 43
pembenaran (justification ) 162, perceptual world , 8
169 Pergamon, 14
p enafsiran Em pirisis atas periode Napoleon, 63
hukum-hukum alam, 170 periode Revolusioner, 63
Pencerahan (E n lig h ten m en t ), Perjanjian Lama, 44
45, 53 Perkin William Henry, 66
pendekatan eksperimental, 51 Persia, 20
pendekatan empiris, 135 Philosophy o f Nature, 119
Physics, 94

221
Piaget, Jean, 91 Prinsip-prinsip Filsafat, 103
Pierre Marquis de, Laplace, 56, problem Kantian, 114
141 program Empirisis, 177
Planck, Max 114, 115 Prosedur-prosedur Empiris
Plato, 10, 11, 12, 94, 95, 96, Ilmu, 139
97, 98, 134, 146, 196 proses Haber, 67
Platonis, 97, 98, 196 pseudo-genetika, 75
Pluralisme, 175,180 psikologi bahasa, 124
Poincare, Henri, 116 psikologi Freudian, 205
point of view, 29 psikologi kognitif, 92
Poisson, Denis, 56 Ptolomeus, 14,98
Polanyi, 162 puncak revolusi ilmiah, 44
Polish Nicholaus Copernicus, Pyrenia utara, 20
32 Pythagorean, 8, 10
Polytechnique, 55
Portugis, 31
Positivis, 121, 163 Q
Positivis Jerman- Amerika, 148 Quine,. Willard V., 91
Positivis Lingkaran Wina, 176
Positivis Logis, 119; - abad ke-
20, 89
«
Positivis Wina, 117,146, 153 Radcliff, Arnold, 125
Positivisme, 117;- Logis, abad Rasionalis, 134, 137
ke-20,88; - neo-Humean Rasionalis lama, 107
118 Rasionalisme Cartesian, 106
Posivisme Wina, 175 reaksi romantik dalam ke-
post-Newtonian, 109 susasteraan dan seni, 50
pra-Kristen, 14 reaksi romantik dalam ke-
pra-Sokratis, 98 susasteraan dan seni, 50
Principia, 44; -Mathematica, Realis, 184, 185, 186, 187,
119: - Newton, 104; - 194; - ontologis, 198; -
Philosophiea, 103 ontal Parmenides, 93
Prinsip Indeterminasi Heisen­ Realisme terbatas, 115
berg, 122 Reduksionisme, 176, 178; -
prinsip ketidakpastian, 74 kritis Mach, 117
Prinsip-prinsip dasar thermo- Reformasi Protestan, 32
dinamika, 57

222
Reichenbach, Hans 89, 148 sekolah-sekolah Latin, 28
relata, 146 sekularisasi, 44
relativitas, teori kuantum, 75 self-regulation, 12
Renaissans masyarakat Eropa, signifikansi sosial ilmu, 201
24 sistem Copernican, 38
Renesans, 29, 46 skeptisisme, 116, 201; - abad
Republik, 10 ke-16,102
resignation, 15 Skinner, B.F., 124
revolusi dalam filsafat, 47 Skolastik, 35, 102
revolusi filosofis, 27 Skolastisisme, 35
revolusi ilmiah, 34 Soviet, 74
revolusi Industri, 50,51,52,53, Spanyol, 17, 20, 21, 31
61 Spencer, Herbert, 71
R evolusi P erancis, 50, 54, status epistemik teori-teori
58, 61 ilmiah, 195
revolusi tentang ilmu, 35 status ontal entitas-entitas
Rockefeller, 73 teoretis, 194
Roma, 30 Stoa, 97
Romawi, 14, 15, 16 Stoisis, 98
Rosicrucian, 37 Stoisisme, 15
Rosseau, 54, 56 struktur dan perkembangan
Royal Society, 40, 43, 44 mekanika kuantum, 190
Rusia, 63, 69 struktur ilmu, 146
Russell, Bertrand, 119,146 Struktur-struktur Formal Ilmu,
Rutherford, 174 145
struktur-struktur formal teori
ilmiah, 145
S
strukturalis, 125
Salerno, 21 subconscious mind, 12
Schelling, 58 sum ber-sum ber berbahasa
Schwann, Theodor, 69 Arab, 22, 32
Scotland, Lowlands ,52 Sungai Rhine, 30
sejarah alam, 65 Swedia, 45
sejarah bumi, 65 Switzerland, 45,. 91
sejarah ilmu, 92 Syria, 20
sekolah Laplace, 57

223
T Tractatus Logico-P hiloso-
phicus, 121
tak ada logika penemuan, 162
tradisi Newtonian, 58
taksonomi, 11
teknik-teknik hidrografis, 31 transtory appearances, 94
tugas fisika abad ke-'17,103
Teknologi daya, 51
teknologi Eropa, 27 Tunisia, 21
Two New Sciences , 38
teori atomik Dalton, 68
teori gelombang cahaya, 174
teori medan (field theory), 98 U
teori Newton, 58 universitas Padua, 33
teori panas (theory o f heat), 52 Unsur-unsur, 9
teori perkembangan konsep-
tual, 160
teori planet Copernikus, 204
V
teori relativitas Einstein, 74 Vesalius, Andreas, 32
teori sel, 69 Vico, Giambattista, 137
teori seleksi alam, 128 Victorian, 70
teori seleksi alamiah, 178 Vinci, Leonardo da, 30
teori-teori fisika, 76 vitalisme Hans Driesch, 123
teori-teori perubahan alamiah Vitruvius, 30
dan budaya, 160 Voltaire, 53
termodinamika modem, 98
Teror, 56 W
Thales, 7
Wallace, Alfred Russell, 70
The A nalysis o f Sensation, 117
Watt, James, 52
the knower, 86
Weber, Wilhelm, 68
the known, 86
Webster, John, 43
the observer , 86
Wedgwood, Josiah, 52
The Principles of M echanics, 121
Weiss, Paul A., 123
the real ideas, 10
Weizsacker, Carl von, 198
Thermodinamika, 67
Whewell hipotesis "consilien",
things-in-them selves,1S6
113
Timaeus, 10, 94
Whewell, William, 113,114
Timur Jauh, 31, 46
Whitehead, Alfred North, 119,
Timur Tengah, 31
146

224
Wina, 117 Yunani, 5, 7, 8, 13, 14, 20, 22,
Wittgenstein, Ludwig, 121,122 28, 29; - Kuno, 8, 11,16,
Wordsworth, William, 58 23, 97; -Romawi, 16
world view, 29

Z
Y
Zeno 8, 97
Yahudi, 20, 21

225
uku ini, Filsafat Ilmu: Sejarah dan Ruang Lingkup

B Bahasan dibagi ke dalam dua bagian. Bagian per-

tama membahas tentang sejarah ilmu. Topik-topik

yangdikaji dalam bagian ini meliputi: Ilmu dalam peradaban

zaman kuno dan abad tengah; ilmu dalam peradaban Islam,

India, Cina dan Jepang; Pencipta Ilmu Eropa; ilmu di zaman

revolusi dan; zaman matangnya ilmu-ilmu.

Bagian kedua membahas tentang filsafat ilmu. Topik-topik


■ r-

yang dikaji dalam bagian ini meliputi: Pendekatan Umum

Filsafat Ilmu; Konseptualisasi dan Metodologi Ilmu; Isu-isu

yang lebihdalamdan lebih luasyang melibatkan ilmu.

Buku ini sangat penting bagi mahasiswa filsafat,sebagai buku

rujukan matakuliah filsafat ilmu. Juga sangat membantu bagi

siapa pun yang berminat untuk mengembangkan pengeta­

huan tentang filsafat.

o
ISEN 9 7 9 - 3 4 7 7 - 5 0 - 4

9*789793 4 7 7 5 0 3