Anda di halaman 1dari 26

AKUNTANSI TRANSAKSI IJARAH DAN IJARAH MUNTAHIYA BIT

TAMLIK

(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Perbankan Syariah)

Dosen Pengampu: Rahmawati S.E., M.M.

Kelompok 11 :

Febri Anggraini 11170820000040


Ikbal Taufik Ramdhan 11170820000049
Nadia Tri Silvi 11170820000067

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2019 M
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang karena taufik dan pertolongan-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini yang ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi
Perbankan Syariah. Shalawat sertas alam tak lupa untuk selalu diucapkan dan disampaikan
kepada junjungan baginda Nabi Muhammad Saw. beserta para keluarganya, sahabatnya, dan
seluruh pengikut setianya hingga akhir zaman nanti.

Ucapan terimakasih tak lupa penulis ucapkan kepada dosen pengampu mata kuliah
Akuntansi Perbankan Syariah yakni Ibu Rahmawati S.E., M.M. yang selalu memberikan arahan
dan bimbingan kepada mahasiswa/i yang dididiknya. Adapun makalah ini disusun yang
bertujuan guna memenuhi tugas Akuntansi Perbankan Syariah yang diberikan kepada para
mahasiswa.

Penyusunan makalah ini merupakan hasil dari studi pustaka dalam beberapa referensi di
mana penulis mengutip dari referensi buku tersebut sehingga tersusunlah makalah ini sebagai
salah satu bentuk karya ilmiah mahasiswa.

Semoga dengan adanya makalah dari karya ilmiah mahasiswa ini dapat memberikan
manfaat kepada para pembacanya dan menambah wawasan ilmu yang dimiliki. Penulis
menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat
kesalahan, maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sebagai
ajang evaluasi bagi diri penulis sendiri dan demi kesempurnaan untuk penulisan-penulisan
berikutnya.

Ciputat, September 2019

Tim Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah .......................................................................................... 3
1.2. Rumusan Masalah.................................................................................................... 3
1.3. Tujuan ...................................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) .................................. 5
2.2 Ketentuan syar’i dan rukun transaksi Ijarah ............................................................ 5
2.3 Alur transaksi Ijarah dan IMBT ............................................................................... 7
2.4 Cakupan standar akuntansi Ijarah dan IMBT .......................................................... 8
2.5 Teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi Ijarah bagi Bank Syariah ............... 9
2.6 Teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi IMBT bagi Bank Syariah ............. 18
2.7 Penyajian transaksi Ijarah atas asset berwujud ...................................................... 19
2.8 Pengungkapan transaksi Ijarah atas asset berwujud .............................................. 19
2.9 Teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi Ijarah untuk multijasa .................. 20
2.10 Penyajian transaksi Ijarah atas Jasa ....................................................................... 21
2.11 Pengungkapan transaksi Ijarah atas jasa ................................................................ 22
2.12 Pembahasan Kasus ................................................................................................ 22

BAB III PENUTUP


3.1. Penutup .................................................................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 25


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak orang-orang mengakui pentingnya
adanya sebuah perubahan yang diyakini dapat memperbaiki kualitas hidup, baik secara individu,
bermasyarakat, maupun berbegara. Namun, tidak sedikit pula orang yang masih berpegang teguh
pada prinsip tidak semuanya harus mengikuti perubahan dan perkembagan zaman. Mereka
beranggapan bahwa tidak semua komponen dari kehidupan ini dapat dirubah dan dicampuri
dengan unsur-unsur westernisasi dan kemoderenan.
Salah satunya pada aspek perbankan, terbukti dengan banyaknya bank-bank di Indonesia
mengeluarkan produk-produk yang berbasis syariah dan juga banyaknya Bank Syariah baru yang
mulai diminati oleh masyarakat Indonesia. Walaupun jumlah nasabah dan peminat akan produk-
produk dan Bank Syariah tidak sebegitu banyaknya ketimbang bank konvensional, namun hal ini
dapat dijadikan bukti bahwa masih ada masyarakat indonesia yang sadar akan pentingnya nilai-
nilai keislaman pada kehidupan, terutama pada dunia perbankan.
Makalah ini berisikan mengenai pengertian dan penjelasan dari salah satu kegiatan
penyaluran dana Bank Syariah kepada masyarakat, yakni dengan prinsip sewa yang terbagi atas
Ijaroh dan Ijaroh Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) yang mungkin masih belum dikenal dan
diketahui secara jelas oleh masyarakat di Indonesia, sekalipun para umat muslim.
Semakin diminati dan semakin dibutuhkannya peranan Bank Syariah di Indonesia, secara
tidak langusng diperlukan adanya dasar dan pedoman terhadap penilaian, perhitungan, dan
pengungkapan transaksi-transaksi yang terjadi pada Bank Syariah. Hal inilah yang mendorong
dikeluarkannya PSAK 107 yang mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan
pengungkapan transaksi ijarah. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu
aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan.
Aset ijarah adalah aset baik berwujud maupun tidak berwujud, yang atas manfaatnya disewakan.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang di maksud dengan Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT)?

3
b. Apa saja ketentuan syar’i dan rukun transaksi Ijarah?
c. Bagaimana alur transaksi Ijarah dan IMBT?
d. Apa saja cakupan standar akuntansi Ijarah dan IMBT?
e. Bagaimana teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi Ijarah bagi Bank Syaraih?
f. Bagaimana teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi IMBT bagi Bank Syariah?
g. Bagaimana penyajian transaksi Ijarah atas asset berwujud?
h. Bagaimana pengungkapan transaksi Ijarah atas asset berwujud?
i. Bagaimana teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi Ijarah untuk multijasa?
j. Bagaimana penyajian transaksi Ijarah atas Jasa?
k. Bagaimana pengungkapan transaksi Ijarah atas jasa?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui apa yang di maksud dengan Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik
(IMBT)
b. Mengetahui apa saja ketentuan syar’i dan rukun transaksi Ijarah
c. Mengetahui bagaimana alur transaksi Ijarah dan IMBT
d. Mengetahui apa saja cakupan standar akuntansi Ijarah dan IMBT
e. Mengetahui bagaimana teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi Ijarah bagi
Bank Syariah
f. Mengetahui bagaimana teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi IMBT bagi
Bank Syariah
g. Mengetahui bagaimana penyajian transaksi Ijarah atas asset berwujud
h. Mengetahui bagaimana pengungkapan transaksi Ijarah atas asset berwujud
i. Mengetahui bagaimana teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi Ijarah untuk
multijasa
j. Mengetahui bagaimana penyajian transaksi Ijarah atas Jasa
k. Mengetahui bagaimana pengungkapan transaksi Ijarah atas jasa
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT)
Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) merupakan transaksi sewa-menyewa
yang diperbolehkan oleh Syariah. Akad Ijarah merupakan akad yang memfasilitasi transaksi
pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui
pembayaran sewa atau upah tanpa diikuti pemindahan kepemilikan barang. Adapun akad IMBT
memfasilitasi transaksi ijarah, yang pada akhir masa sewa, penyewa diberi hak pilih untuk
memiliki barang yang di sewa dengan cara yang disepakati oleh kedua belah pihak. Akad ijarah
dalam suatu lembaga keuangan syariah dapat digunakan untuk transaksi penyewaan suatu barang
maupun penggunaan suatu jasa yang dibutuhkan oleh nasabah.

Bagi bank syariah transaksi ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan
jenis akad lainnya, yaitu:

1. Dibandingkan dengan akad murabahah akad tijarah lebih fleksibel dalam hal objek
transaksi pada akad murabahah objek transaksi haruslah berupa barang sedangkan pada
akad tijarah objek transaksi dapat berupa jasa seperti jasa kesehatan pendidikan
Ketenagakerjaan pariwisata dan lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah

2. dibandingkan dengan investasi akad ijarah mengandung risiko usaha yang lebih rendah
yaitu adanya pendapatan ijarah yang relatif tetap.

2.2 Ketentuan Syar’i dan Rukun Transaksi Ijarah


Ketentuan syar’i dari ijaroh sendiri tentunya sudah diatur dalam Al-qur’an ditambah
dengan adanya penjelasan As-Sunnah. Ayat Al-Qur’an yang mengatur mengenai kegiatan ijaroh
salah satu di antaranya adalah:
Surah Az-Zuhruf ayat 32, yang berbunyi:

5
Yang artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami
telah menggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar
sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu
lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“.

Adapun dalil dari As-Sunnah sebagaiman terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Muslim
serta sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari sahabat Abdullah bin Umar
Radhiyallahu ‘anhuma. Beberapa di antaranya:
a. Rasulullah SAW. bersabda: “Berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya
kepada tukang bekam itu.“ (HR. Bukhari dan Muslim)
b. Dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW. bersabda:
“Berikanlah upah kerja sebelum keringatnya kering.“ (HR. Ibnu Majah)
c. “Rasulullah melarang dua bentuk akad sekaligus dalam satu objek.“ (HR. Imam Ahmad
dari sahabat Abdullah bin Mas’ud)
d. Sa’ad bin Abi Waqqash mangatakan, “Dahulu kami menyewa tanah dengan (jalan
membayar dari) tanaman yang tumbuh. Lalu Rasulullah melarang kami cara seperti itu
dan memerintahkan kepada kami agar membayarnya dengan emas atau perak.“ (HR.
Imam An-Nasa’i)

Ketentuan syar’i transaksi ijarah juga telah diatur dalam fatwa DSN Nomor 09 Tahun
2000, untuk transaksi ijarah dalam bidang jasa diatur dalam fatwa DSN Nomor 44 tahun 2004,
dan ketentuan syar’i IMBT diatur dalam fatwa DSN Nomor 27 Tahun 2000. Secara detil fatwa
DSN tentang ijarah dan IMBT dibahas salam rukun transaksi ijarah dibawah ini:
a. Pelaku, yang terdiri atas pemberi sewa/pemberi jasa/lessor/mu’jir dan
penyewa/pengguna jasa/lessee/musta’jir. Nasabah sebagai penyewa dan Bank sebagai
pemberi sewa harus lah sudah akil baligh dan memiliki kemampuan yang optimal,
seperti tidak gila ataupun tidak sedang dipaksa. Dengan kewajiban penyewa:
- Membayar sewa dan menjaga keutuhan aset serta menggunakannya sesuai
kontrak
- Menanggung biaya pemeliharaan
- Bertanggungjawab apabila terjadinya kerusakan
b. Objek akad ijaroh, berupa manfaat aset/ma’jur dan pembayaran sewa atau manfaat jasa
dan pembayaran upah. Dibawah ini adalah ketentuan dari objek ijarah:
- Objek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang atau jasa
- Manfaat barang harus bisa dinilai dan dilaksanakan dalam kontrak
- Fasilitasnya diperbolehkan
- Kesanggupan memenuhi manfaat dan sesuai dengan syariat
- Manfaat harus dikenali secara spesifik agar tidak mendatangkan perkara
c. Ijab kabul/serah terima.

2.3 Alur Transaksi Ijarah dan IMBT


Pertama, nama nasabah mengajukan permohonan ijarah dengan mengisi formulir
permohonan. Berbagai informasi yang diberikan selanjutnya di verifikasi kebenarannya dan
dianalisis kelayakannya oleh bank syariah. Bagi nasabah yang dianggap layak, selanjutnya
diadakan perikatan dalam bentuk penandatanganan kontrak ijarah atau IMBT.
Kedua, sebagaimana difatwakan oleh DSN, Bank selanjutnya menyediakan objek sewa
yang akan digunakan oleh kepada nasabah. Bank dapat mewakilkan kepada nasabah untuk
mencarikan barang atau jasa yang akan disewakan nasabah untuk selanjutnya dibeli atau di bayar
oleh bank syariah.
Ketiga, nasabah menggunakan barang atau jasa yang disewakan sebagaimana yang telah
disepakati dalam kontrak. Selama penggunaan objek sewa, nasabah menjaga dan menanggung
biaya pemeliharaan barang yang di sewa sesuai kesepakatan. Sekiranya terjadi kerusakan bukan
karena kesalahan penyewa, maka Bank Syariah sebagai pemberi sewa akan menanggung biaya
perbaikannya.

7
Keempat, nasabah penyewa membayar fee sewa kepada bank syariah Sesuai dengan
kesepakatan akad sewa.
Kelima, pada transaksi IMBT, setelah masa ijarah selesai, bank sebagai pemilik barang
apat melakukan pengalihan hak milik kepada penyewa.

Alur Transaksi Ijarah dan IMBT

1. Negoisasi dan
Akad Ijarah

Nasabah
Bank Syariah
sebagai
sebagai
4. Membayar sewa pada penyewa
pemberi sewa
barang/jasa

3.menggunakan objek Ijarah

2. membeli barang/jasa
Pada pemasok

OBJEK IJARAH
(Barang/Jasa)

5. mengalihkan hak milik


Barang Ijarah pada akhir
masa sewa (khusus
IMBT)

2.4 Cakupan Standar Akuntansi Ijarah dan IMBT


Transaksi ijarah, selain didasari oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, pada bidan akuntansi
juga sudah diatur dalam PSAK. Standar akuntansi tentang ijarah mengacu pada PSAK 107
tentang Akuntansi Ijarah yang mulai berlaku secara efektif per 1 Januari 2008. PSAK 107
menggantikan PSAK 59 yang menyangkut tentang pengakuan, pengukuran, penyajian, dan
pengungkapan transaksi ijarah. Cakupan di dalam PSAK 107 meliputi: pengakuan dan
pengukuran objek ijarah, pendapatan ijarah dan IMBT, piutang pendapatan Ijarah dan IMBT,
biaya perbaikan yang dikeluarakan, perpindahan hak milik objek sewa, terjadinya penurunan
nilai objek sewa secara permanen. Dalam kasus akad ijarah, bank syariah dapat bertindak
sebagai pemilik objek sewa maupun penyewa. Disamping itu, standar PSAK 107 ini dapat pula
diterapkan pada entitas lain yang melakukan transaksi ijarah.

2.5 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Ijarah bagi Bank Syariah
Pembahasan teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah akan mengacu pada kasus
berikut

PT Namira membutuhkan sebuah mesin untuk keperluan produksi usahanya.Pada bulan


Januari 20XA, PT Namira mengajukan permohonan ijarah kepada Bank Syariah.
Adapun informasi tentang penyewaan tersebut adalah sebagai berikut :

Biaya perolehan barang : Rp 120.000.000

Umur ekonomis barang : 5 tahun ( 60 Bulan )

Masa sewa : 24 Bulan

Nilai sisa umur ekonomis : Rp 0

Sewa per bulan : Rp 2.400.000

Biaya administrasi : Rp 480.000

Harga perolehan barang dalam hal ini merupakan nilai historis yang dikeluarkan oleh
bank syariah untuk memperoleh barang yang akan disewakan. Umur ekonomus dihtung
berdasarkan standar yang umum diterapkan terhadap kebijakan penyusutan suatu asset.Adapun
nilai sisa adalah perkiraan nilai asset setelah habisnya umur ekonomis. Masa sewa ditentukan
oleh kebutuhan nasabah dalam menggunakan fasilitas yang akan disewa. Sewa per bulan
dihitung dengan mempertimbangkan tingkat keuntungan yang ingin diperoleh bank syariah.

 Teknis Perhitungan Transaksi Ijarah

9
Beberapa hal yang perlu dilakukan terhadap perhitungan terkait transaksi ijarah adalah
perhitungan penentuan keuntungan dan fee ijarah, perhitungan uang muka sewa, dan biaya
administrasi ijarah.

 Perhitungan Penyusutan dan Pendapatan Ijarah

Misalkan kebijakan bank syariah adalah memperoleh keuntungan 20% dari modal
penyewaan

( beban penyusutan ).

Penyusutan per bulan = Harga Perolehan – Nilai Sisa

Jumlah Bulan Umur Ekonomis

Rp120.000.000  Rp0
Penyusutan pe bulan =  Rp 2.000.000
60

Pendapatan ijarah pe bulan = Modal penyewaan + n% modal penyewaan

= Rp 2.000.000 + (20% x 2.000.000)

= Rp 2.400.000

Dalam praktik, mengingatkan sewa dilakukan lebih dari satu tahun, penentuan
sewa dapat menggunakan table anuitas.Akan tetapi, setelah dihitung nilai nominalnya,
angka tersebut harus bersifat tetap selama kontrak sewa. Pertimbangan lain dalam
penentuan sewa adalah (1) risiko kerusakan yang menjadi tanggungan bank syariah, (2)
kemampuan nasabah, dan (3) opportunity cost nasabah sekiranya ada alternative skema
lain yang memungkinkan untuk dipilih oleh nasabah, baik dari bank syariah yang sama,
maupun dengan bank lain untuk kebutuhan tujuan yang sama.

 Perhitungan Biaya Administrasi Ijarah

Biaya administrasi bisa diterakan dengan menggunakan presentase tertentu dari modal
yang digunakan untuk perseewaan.Misalkan dalam kasus diatas, bank syariah
menggunakan kebijakan 1% dari modal persewaan.Maka biaya administrasinya adalah
sebagai berikut.

Biaya administrasi ijarah = n% x modal persewaan per bulan x jumlah bulan

= 1% x RP 2.000.000 x 24

= 1% x Rp 48.000.000

= Rp 480.000

 Penjurnalan Transaksi Ijarah


 Transaksi Pengadaan Aset Ijarah

Sebelum akad ijarah dilakukan, bank syariah telebih dahulu melakukan pengadaan
asset iajrah .berdasarkan PSAK nomor 107 disebutkan bahwa objek ijarah diakui pada saat
objek ijarah diperoleh sebesar biaya perolehan.

Misalkan untuk keperluan transaksi ijarah PT Namira di atas, pada tanggal 5 Juni 20XA
Bank Syariah membeli asset kepada perusahaan yang menyuplai barng yang diperlukan.
Pembelian dilakukan via rekening pemasok tersebut.Jurnal terhadap transaksi tersebut
adalah sebagai berikut.

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

05/06/XA Db. Persediaan ijarah 120.000.000

Kr. Kas/ Rekening pemasok 120.000.000

 Transaksi pada Saat Akad Disepakati

Pada saat akad disepakati, terdapat beberapa transaksi yang harus diakui oleh bank
syariah.Transaksi tersebut adalah (1) konversi persediaan ijarah menajadi asset, sebaga
bentuk pengakuan atas adanya pengalihan hak guna kepada penyewa, dan (2) penerimaan
biaya administrasi.

11
Misalkan pada tanggal 10 juni, PT Namira menandatangani akad ijarah atas sebuah
mobil. Maka jurnal yang diperlukan pada waktu itu adalah :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/06/XA Db. Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000

Kr. Persediaan ijarah 120.000.000

10/06/XA Db. Rekening nasabah – PT Namira 480.000

Kr. Pendapatan administrasi 480.000

 Transaksi Pengakuan Penerimaan Pendapatan Ijarah

Berdasarakan PSAK 107 pendapatan ijarah selama masa akad diakui pada saat
manfaat atas asset telah diserahkan kepada penyewa.Piutang pendapatan ijarah diukur
sebesar nilah yang dapat direalisasikan pada akhir periode pelaporan.

Misalkan rencana dan realisasi pembayaran sewa oleh PT Namira adalah sebagai berikut:

No. Tanggal Jatuh Sewa per Porsi Porsi Ujrah Tanggal Jumlah
Tempo bulan (Rp) Pokok (Rp) (Rp) Pembayaran dibayar

1 10 Juli XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Juli XA 2.400.000

2 10 Agt XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Agt XA 2.400.000

3 10 Sept XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Sept XA 2.400.000

4 10 Okt XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Okt XA 2.400.000

5 10 Nov XA 2.400.000 2.000.000 400.000 5 Des XA 2.400.000

6 10 Des XA 2.400.000 2.000.000 400.000 10 Des XA 1.400.000

3 Jan XA 1.000.000
Pembayaran yang dilakukan oleh PT Namira diatas dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk,
Pertama, pembayaran pada saat tanggal jatuh tempo seperti pada pembayaran bulan Juli sampai
dengan bulan Oktober.Kedua, pembayaran setelah jatuh tempo seperti pada pembayaran untuk
bulan November.Ketiga pembayaran yang dilakukan sebagian pada saat jatuh tempo dan sisanya
setelah tanggal jatuh tempo seperti pada pembayaran untuk bulan Desember. Berikut akan
ditunjukkan penjurnalan untuk masing-,asing klasifikasi tersebut.

(i) Pembayaran sewa oleh nasaba dilakukan saat jatuh tempo

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/7/XA Db. Kas/ rekening nasabah 2.400.000

Kr. Pendapatan ijarah 2.400.000

10/8/XA Db. Kas/ rekening nasabah 2.400.000

Kr. Pendapatan ijarah 2.400.000

10/9/XA Db. Kas/ rekening nasabah 2.400.000

Kr. Pendapatan ijarah 2.400.000

10/10/XA Db. Kas/ rekening nasabah 2.400.000

Kr. Pendapatan ijarah 2.400.000

(ii) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan setelah tanggal jatuh tempo
Misalkan untuk pembayaran sewa bula November, pada tanggal 10 November
20XA, nasabah belum membayar sewa kepada bank.Pembayaran baru dilakukan
pada tanggal 5 Desember 20XA. Maka jurnal transaksi tanggal 10 November dan
5 Desember tersebut ialah :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

13
10/11/XA Db. Piutang sewa (porsi pojok) 2.000.000

Db. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah) 400.000

Kr. Pendapatan ijarah – akrual 2.400.000

05/12/XA Db. Kas/ rekening nasabah 2.400.000

Kr. Piutang sewa (porsi pokok) 2.000.000

Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah) 400.000

Db. Pendapatan ijarah – akrual 2.400.000

Kr. Pendapatan ijarah 2.400.000

Penambahan istilah akrual pada pendapatan ijarah akrual adalah untuk keperluan
praktis membedakannya dengan pendapatan yang telah berwujud kas.Pembedaan
ini dipandang perlu untuk keperluan bagi hasil, yang mana pendapatan yang
belum berwujud kas tidak diikutsertakan dalam perhitungan bagi hasil.

(iii) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan sebagian pada saat jatuh tempo
dan sebagian lagi setelah tanggal jatuh tempo
Misalkan tanggal 10 Desember 20XA, nasabah membayar sebesar Rp 1.400.000.
sisanya dibayar kemudian pada tanggal 3 Januari 20XB, Maka jurnal atas
transaksi tanggal 10 Desember 20XA dan 3 Januari 20XB tersebut adalah sebagai
berikut:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/12/XA Db. Kas/rekening nasabah 1.400.000

Db. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)* 166.667

Db. Piutang sewa (porsi pokok)** 833.333


Kr. Pendapatan ijarah 1.400.000

Kr. Pendapatan ijarah – akrual 1.000.000

*(Rp1.000.000/Rp2.400.000)xRp400.000=Rp166.667

**Rp1.000.000-Rp166.667=Rp833.333

03/01/XB Db. Kas/rekening nasabah 1.000.000

Kr. Piutang sewa (porsi pokok) 833.333

Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah) 166.667

Db. Pendapatan ijarah – akrual 1.000.000

Kr. Pendapatan ijarah 1.000.000

 Pengajuan Penyusuta Aset yang Diperoleh untuk Ijarah

Berdasarkan PSAK 107, objek ijarah, jika berupa asset yang dapat disusutkan atau
diamortisasi, sesuai dengan kebijakan penyusutan atau penyusutan untuk asset sejenis
selama umur manfaatnya ( umur ekonomis ). Dalam hal ini, penyusutan asset ijarah, dapat
diakui setiap bulan ketika pendapatan diakaui.Pengakuan penyusutan mengakibatkan
meningkatnya rekening beban penyusutan dan rekening akumulasi penyusutan.

Dengan menggunakan teknik perhitungan penyusutan yang telah dibahas pada sub-
bab perhitungan penyusutan dan pendapatan ijarah, jurnal untuk pengakuan penyusutan
asset yang diperoleh ijarah untuk enam bulan pertama adalah sebagai berikut :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/07/XA Db. Beban penyusutan asset ijarah 2.000.000

Kr. Akumulasi penyusutan asset ijarah 2.000.000

15
10/08/XA Db. Beban penyusutan asset ijarah 2.000.000

Kr. Akumulasi penyusutan asset ijarah 2.000.000

10/09/XA Db. Beban penyusutan asset ijarah 2.000.000

Kr. Akumulasi penyusutan asset ijarah 2.000.000

10/10/XA Db. Beban penyusutan asset ijarah 2.000.000

Kr. Akumulasi penyusutan asset ijarah 2.000.000

10/11/XA Db. Beban penyusutan asset ijarah 2.000.000

Kr. Akumulasi penyusutan asset ijarah 2.000.000

10/12/XA Db. Beban penyusutan asset ijarah 2.000.000

Kr. Akumulasi penyusutan asset ijarah 2.000.000

Perlakuan Akuntansi Bebas Perbaikan dan Pemeliharaan

Berdasarkan PSAK 107, biaya perbaikan objek ijarah merupakan tanggungan pemilik. Perbaikan
tersebut dapat dilakukan oleh pemilik secara langsung atau dilakukan oleh penyewa atas
persetujuan pemilik. Pengakuan biaya perbaikan objek ijarah adalah sebagai berikut :

(a) Biaya perbaikan tidak rutin objek ijarah diakui pada saat terjadinya;
(b) Jika penyewa melakukan perbaikan rutin obejk ijarah dengan persetujuan pemilik, maka
biaya tersebut dibebankan kepada pemlik dan diakui sebagai beban pada saat terjadinya
dan;
(c) Dalam ijarah muntahiyah bittamlik melalui penjualan secara bertahap, biaya perbaikan
obejk ijarah ang dimaksud dalam huruf (a) dan (b) ditanggung pemilik maupun oenyewa
sebanding dengan bagian kepemilikan masing-masing atas objek ijarah.

Misalkan pada tanggal 23 Desember 20XA dilakukan perbaikan asset ijarah sebesar Rp
500.000 . Perbaikan tersebut dilakukan atas tanggungan bank syariah sebagai pemilik objek
sewa dengan sistem pembayaran langsung pada perusahaan jasa ruko maka jurnal atas
transaksi tersebut adalah :

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

23/12/XA Db. Beban perbaikan asset ijarah 500.000

Kr. Kas/ Rekening nasabah 500.000

Penyajian pada Laporan Laba Rugi dan Laporan Perhitungan Bagi Hasil

Pendapatan ijarah dilaporkan, baik pada laporan laba rugi maupun laporan perhitungan bagi
hasil. Pada kedua laporan, pendapatan yang disajikan adalah pendapatan bersih, yaitu pendapatan
ijarah dikurangi dengan beban-beban yang terkait dengan ijarah, antara lain beban penyusutan
dan beban perbaikan dan pemeliharaan. Pada laporan laba rugi biasanya dibuat pada akhir tahun,
sedangkan laporan perhitungan bagi hasil biasanya disajikan setiap bulan untuk keperluan
perhitungan bagi hasil dengan pemilik dana pihak ketiga. Laporan laba rugi memasukkan
pendapatan iajarah yang memang terjadi pada periode terkait, tetapi laporan untuk perhitungan
bagi hasil hanya memasukkan pendapatan ijarah yang sudah berwujud kas pada periode terkait.

(i) Laporan Laba Rugi

Juli Agustus September Oktober November Desember Total

Pendapatan 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 14.400.000


ijarah (saldo
kas+akrual)

(beban 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 12.000.000


penyusutan)

(beban - - - - - 500.000 500.000


perbaikan)

17
(beban lain) - - - - - - -

Pendapatan 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 (100.000) 1.900.000


ijarah bersih

(ii) Laporan Perhitungan Bagi Hasil

Juli Agustus September Oktober November Desember Total

Pendapatan 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 - 3.800.000 13.400.000


ijarah (kas)

(beban 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 12.000.000


penyusutan)

(beban - - - - - 500.000 500.000


perbaikan)

(beban lain) - - - - - - -

Pendapatan 400.000 400.000 400.000 400.000 (2.000.000) 1.300.000 900.000


ijarah bersih

2.6 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi IMBT bagi Bank Syariah
Teknis perhitungan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan transaksi ijarah.
Perbedaan terknis perhitungannya terletak pada ketentuan penyusutan asset ijarah. Berdasarkan
PSAK 107, penyusutan atau amortisasi yang dipilih harus mencerminkan pola konsumsi yang
diharapkan dari manfaat ekonomi di masa depan dari objek ijarah. Umur ekonomis dapat
berbeda dengan umur teknis. Misalnya, mobil yang dapat dipakai selama 5 tahun diijarahkan
dengan akad ijarah IMBT selama 2 tahun, maka umur ekonomisnya adalah 2 tahun. Selanjutnya
biaya perolehan dibagi dengan umur ekonomis (atau masa sewa) untuk mendapatkan besaran
penyusutan IMBT per bulan.
Penjurnalan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan penjurnalan pada transaksi
ijarah. Perbedaan yang mendasar hanya terdapat pada konsep perhitungan penyusutan yang tidak
dikaitkan dengan umur ekonomis, melainkan dengan masa sewa. Dengan demikian, pembahasan
penjurnalan IMBT langsung ditujukan pada transaksi pemindahan kepemilikan asset kepada
penyewa. Pemindahan hak milik IMBT dapat dilakukan dengan cara:
- Pelepasan sebagai hadiah
- Pelepasan melalui penjualan sebelum berakhirnya masa sewa
- Pelepasan melalui penjualan setelah berakhirnya masa sewa

2.7 Penyajian Transaksi Ijarah Atas Asset Berwujud


Berdasarkan papsi 2013 (h.6.4) terdapat beberapa ketentuan penyajian laporan keuangan
terhadap akun yang berkaitan dengan transaksi ijarah dengan aset berwujud.

1. Objek sewa yang diperoleh bank disajikan sebagai aset ijarah

2. akumulasi penyusutan atau amortisasi dan cadangan kerugian penurunan nilai dari
aset ijarah disajikan sebagai pos lawan aset ijarah

3. Porsi pokok atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan sebagai piutang sewa

4. porsi ujrah atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan sebagai pendapatan
sewa yang akan diterima yang merupakan kan bagian dari aset lainnya pada saat
nasabah tergolong Performing sedangkan apabila nasabah tergolong non-Performing
maka pendapatan sewa yang akan diterima disajikan pada rekening administratif.

5. Cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang sewa disajikan sebagai pos lawan
(contra account) piutang ijarah.

Beban penyusutan/amortisasi aset ijarah disajikan sebagai pengurang pendaparan ijarah


pada laporan laba rugi.

2.8 Pengungkapan Transaksi Ijarah Atas Asset Berwujud


Berdasarkan PAPSI 2013 (h. 6.6.-7), hal-hal yang harus diungkapkan terkait transaksi
ijarah dengan menggunakan aset berwujud antara lain:

19
1. Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan ijarah;

2. Jumlah piutang cicilan ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua tahun terakhir;

3. Jumlah objek sewa berdasarkan jenis transaksi (ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik),
jenis aset dan akumulasi penyusutan Nya serta cadangan kerugian penurunan nilai jika
ada apabila bank sebagai pemilik objek sewa;

4. komitmen yang berhubungan dengan perjanjian ijarah muntahiyah bittamlik Yang


berlaku efektif pada periode laporan keuangan berikutnya;

5. kebijakan akuntansi yang digunakan atas transaksi ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik

6. Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.

2.9 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Ijarah untuk Multijasa


Ijarah untuk multi jasa adalah pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Keuangan
Syariah (LKS) kepada nasabah dalam memperoleh manfaat atas suatu jasa dengan menggunakan
akad ijarah.dalam pembiayaan untuk multijasa ini, LKS memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau
fee yang harus telah disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan persentase.
Praktik perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah untuk jasa pada dasarnya sama
dengan perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah untuk barang. Perbedaannya adalah pada
ijarah untuk jasa tidak terdapat kegiatan pemeliharaan dan perbaikan asset ijarah. Dibawah ini
adalah contoh kasus ijarah untul multijasa dan contoh pernjurnalannya.

Ibu uli melakukan transaksi ijarah dengan BPRS Anugerah Sejahtera untuk keperluan
biaya sekolah anaknya selama 1 semester di Universitas Gajah Mada (UGM). Adapun
informasi tentang transaksi untuk penyediaan jasa tersebut adalah sebagai berikut:
Harga perolehan jasa : Rp. 9.000.000 (dibayar ke UGM tgl 1 Feb)
Masa sewa : 6 bulan (mulai 1 Feb-1 Agus)
Sewa per bulan : Rp. 1.700.000 (setiap tgl 1 mulai bulan Maret)
Penyusutan per bulan : Rp. 1.500.000 (setaip tgl 1 mulai bulan Maret)
Biaya administrasi 0,5% : Rp. 45.000 (diterima tgl 1 Feb)
 Jurnal pengadaan asset ijarah
01/Feb: Aset yang diperoleh untuk ijarah Rp.9.000.000
Rekening UGM Rp.9.000.000
 Saat akad disepakati (pembayaran biaya administrasi)
01/Feb: Rekening Nasabah/Kas Rp.45.000
Pendapatan administrasi Rp.45.000
 Pengakuan penyusutan dan penerimaan pembayaran sewa ijarah
Bank mengakui penyusutan asset ijarah sebesar Rp.1.500.000 dan penerimaan pendapatan
sewa ijarah sebesar Rp.1.700.000 setiap bulan mulai Maret – Agustus, degan penjurnalan
setiap bulannya:
Beban amortisasi
Beban amortisasi asset ijarah Rp.1.500.000
Akumulasi amortisasi asset ijarah Rp.1.500.000

Penerimaan pembayaran sewa ijarah


Rekening Nasabah/kas Rp.1.700.000
Pendapatan ijarah Rp.1.700.000

Mengakhiri siklus transaksi ijarah multijasa


Akumulasi amortisasi asset ijarah Rp.9.000.000
Asset yang diperoleh untuk ijarah Rp.9.000.000

2.10 Penyajian Transaksi Ijarah Atas Jasa


Berdasarkan PAPSI 2013 terdapat beberapa ketentuan penyajian di laporan keuangan
terhadap akun yang berkaitan dengan transaksi ijarah dengan jasa

1. Perolehan atas jasa disajikan sebagai bagian asset ijarah dan disajikan terpisah dari
asset ijarah lain
2. Amortisasi atas perolehan asset ijarah disajikan sebagai pos lawan dari asset ijarah
3. Porsi pokok atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar disajikan sebagai
piutang sewa.

21
4. Porsi ujrah atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar disajikan sebagai
pendapatan sewa multijasa yang akan diterima yang merupakan bagian dari asset
lainnya pada saat nasabah tergolong performing. Sedangkan apabila nasabah
tergolong nonperforming maka pendapatan sewa multijasa yang akan diterima
disajikan pasa rekning administrative
5. Cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang sewa disajikan sebagai pos lawan (
contra account) piutang sewa.
6. Beban amortisasi asset ijarah disajikan sebagai pengurang pendapatan ijarah pada
laporan laba rugi.
2.11 Pengungkapan Transaksi Ijarah Atas Jasa
Berdasarkan PAPSI 2013 (h. 6.10), hal-hal yang harus diungkapkan terkait transaksi
ijarah dengan jasa antara lain:

1. sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan ijarah

2. rincian perolehan atas jasa berdasarkan jenis

3. Jumlah piutang cicilan ijarah yang akan jatuh tempo hingga 2 tahun terakhir

4. Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.

2.12 Pembahasan Kasus


Dibawah ini kami paparkan mengenai kasus ataupun isu yang berhubungan dengan akad
Ijarah pada perbankan syariah di indonesia. Kasus di bawah ini merupakan kesimpulan dari
jurnal yang tim penulis telah baca sebelumnya. Alasan kami memilih untuk membahas hasil dari
penelitian yang sudah tertulis pada jurnal ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang lebih
mendalam mengenai transaksi akad ijarah pada bank syariah yang belum sepenuhnya diketahui
dan dipahami oleh masyarakat indonesia, terutama oleh para mahasiswa.

Judul : Implementasi Akad Murabahah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik Pada Produk
KPR BRI Syariah KC Malang Kawi.
Penulis : Winda Ika Pratiwi dan Moch Novi Rifa’i (Universitas Muhammadiyah
Malang).
Tahun : 2017
Hasil : Produk KPR Faedah dan KPR IMBT yang ada pada bank BRI Syariah KC
Malang Kawi adalah sama, yang membedakan hanyalah mekanismenya.
Dimana pada akhir pelunasan KPR IMBT memberikan opsi untuk kepemilikan
atau tidak kepada nasabah. Pada jurnal ini juga dibahas mengenai keselarasan
antara teori dan praktik pada bank syariah ini, dapat disimpulkan: (1) ketetapan
hukum antara teori dan paktek akad murabahah dan IMBT telah sesuai Fatwa
DSN MUI yang berlandaskan pada Al-Qur’an, hadist, dan ijma‘ ulama. (2)
mekanisme akad murabahah dan IMBT yang ditetapkan pada produk KPR
bank BRI Syariah telah sesuai dengan ketentuan syariah. (3) pada angsuran,
bank BRI Syariah menggunakan sistem piramda terbalik atau efektif, dimana
angsuran pokok tetap dan marginnya semakin lama semakin turun sampai akhir
pelunasan pembiayaan.

23
BAB III
PENUTUP

Demikian data dan informasi yang dapat kami paparkan dan tuangkan mengenai
Akuntansi Transaksi Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, tim penulis memohon maaf apabila terjadi banyak kekurangan dan kelemahan pada
makalah ini perihal pengejaan kata dan kalimat yang kurang jelas, dimengerti, dan lugas ataupun
kesalahan data yang tidak sengaja dilakukan karena terbatasnya pengetahuan dari tim penulis.

Kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan
penyusunan makalah selanjutnya dan sebagai perbaikan pada makalah Akuntansi Transaksi
Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik, dan kami berharap makalah yang kami susun dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Terima kasih.

Tim Penulis
DAFTAR PUSTAKA

Salman, Kautsar Riza. 2012. Akuntansi Perbankan Syariah Berbasis PSAK Syaraiah. Jakarta:
Indeks.

Yaya. Rizal, Aji Erlangga, dan Ahim Abdurrahim. 2014. Akuntansi Perbankan Syariah edisi 5.
Jakarta: Salemba empat.

http://www.iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-70-psak-107-
akuntansi-ijarah (diakses: Selasa, 10 September 2019)

25