Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apa yang dimaksud dengan audit? bagaimana proses audit yang benar? Serta apa
yang dimaksud dengan audit syariah? Banyak sekali pertanyaan yang timbul ketika kita
menyebut ryang terlibat dengan aktivitas ekonomi atau keuangan. Sedangkan bagi
masyarakat secara umum masih terdengar asing.
Namun perlu kita ketahui bahwa audit, harus di ketahui dan dipahami oleh
masyarakat secara umum. Karena proses audit tidak hanya melibatkan kalangan orang-orang
ekonomi atau keuangan saja namun masyarakat juga perlu terlibat di dalamnya dalam
melakukan pengawasan secara tidak langsung terhadap lembaga keuangan apakah sudah
menjalankan sesuai dengan prosedur yang ada.
Lantas apa yang dimaksud dengan audit syariah? audit syariah adalah suatu proses
menghitung, memeriksa dan memonitor suatu lembaga keuangan syariah apakah dalam
praktiknya sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah atau belum. Audit syariah sangat
diperlukan dalam melakukan pengawasan terhadap lembaga keuangan syariah di Indonesia.
Pihak-pihak yang terlibat dalam proses audit syariah di antaranya: Konsultan Syariah,
Penasihat Syariah dan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Di Indonesia baru DPS yang telah
legal dalam melakukan proses audit. Apabila kita kerucutkan, pihak utama yang harusnya
berperan dalam proses audit adalah individu masing-masing. Di mana apabila setiap individu
berlaku jujur. Maka tidak perlu adanya proses audit.
Dalam melakukan proses audit syariah, mengacu kepada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan Syariah (PSAK Syariah) dan Fatwa DSN MUI. Ketika melakukan
proses audit maka pihak pengawas syariah harus memastikan ketaatan aturan dan standar
yang berasal dari kerangka syariat yang mengatur transaksi ekonomi. Memantau dan
menjamin bahwa dana yang ada digunakan sesuai dengan prinsip syariah. Melaporkan sejauh
mana entitas berpegang teguh terhadap konsep ihsan dalam operasi perusahaannya. Serta
yang paling penting adalah tanggung jawab dalam melaporkan hasil audit sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah yang berlaku.
Dalam kenyataannya, kualitas seorang auditor juga sangat berperan penting dalam
menentukan hasil atas pemeriksaan. Seorang auditor syariah seharusnya tidak hanya sebatas
paham dari segi syariah saja. Namun dari segi keahlian yang lain seperti kemampuan

1
akuntansi, membaca laporan keuangan, menelusuri secara rinci transaksi dari A to Z juga
sangat dibutuhkan agar proses audit yang ada bisa menelusuri dan memberikan opini yang
tepat sesuai dengan bukti yang ada. Sehingga sangat bermanfaat dalam pengambilan
keputusan.
Oleh karena itu, dalam meningkatkan integritas suatu lembaga keuangan syariah
maka peningkatan kualitas auditor syariah menjadi sesuatu hal yang sangat penting. Hal ini
bisa dicapai salah satunya dengan aktif dalam mengikuti setiap pelatihan dan bimbingan yang
dilakukan oleh Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution
(AAOIFI) karena AAOIFI adalah lembaga Islam otonom non profit yang bertugas untuk
mempersiapkan perihal akuntansi, audit, tata kelola, etika dan standar syariat bagi lembaga
dan industri keuangan syariah.
Pad tanggal 29 September 2016, Presiden Republik Indonesia Joko
Widodo mendapatkan penghargaan Global Islamic Financial Leadership Award 2016, dalam
acara Global Islamic Finance Award. Sebelumnya penghargaan ini diraih oleh Muhammadu
Sanusi II pada tahun 2015 yang merupakan mantan Gubernur dari Bank Sentral Nigeria.
GIFA (Global Islamic Finance Award) merupakan penghargaan bagi para pelaku
industri jasa keuangan maupun individu atas kesuksesan dan kontribusinya dalam
pengembangan keuangan syariah skala global. Dalam hal ini Presiden Joko Widodo telah
sukses dan berkontribusi besar dalam pengembangan keuangan global pada umumnya dan
Indonesia khususnya.
Ditandai dengan dikeluarkannya Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia
yang dirilis pada bulan Desember 2015 dan rilis cetakan kedua pada bulan Juli 2016 serta
dibentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketuai oleh Presiden Joko
Widodo sendiri. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan Indonesia
sebagai salah satu pusat keuangan syariah global.
Berdasaarkan uraian latar belakang dan untuk memenuhi tugas mata kuliah seminar
audit mengenai modul Comprensive Development od Auditing Research penulis tertarik
untuk membuat paper yang berjudul AUDITING SYARIAH DAN TANTANGANYA

2
1.2 Rumusan Masalah
1. apa yang dimaksud dengan Audit Syariah?
2. Tantangan apa yang dihadapi dalam Audit Syariah?
3. Apakah SDM Audit Syariah di Indonesia mengalami Problem?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui apa itu Audit Syariah
2. Untuk mengetahui tantangan Audit Syariah
3. Untuk mengetahui problematika SDM audit syariah di Indonesia

BAB II

3
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Keuangan dan Audit Syariah


Keuangan dan Perbankan Syariah telah muncul selama lebih dari empat puluh tahun
belakangan ini. Lembaga keuangan Islam pertama tercatat pada tahun 1962 bernama Mit
Ghamr Savings Bank di Mesir yang diprakarsai salah satunya oleh Ahmad Elnaggar (Haniffa
dan Hudaib, 2010). Industri ini selanjutnya berkembang dengan pesat selama beberapa
dekade terakhir, meski berada pada bayang-bayang sistem perbankan konvensional yang
memang jauh terlebih dahulu muncul di hampir setiap negara. Saat ini, diperkirakan jumlah
asset yang diperoleh manajemen lembaga keuangan dan perbankan syariah melebihi US $ 1
trilyun (US$ 1.000 miliar), yang terkumpul di 400 lembaga keuangan dan perbankan syariah
di seluruh dunia terutama di empat benua besar, Timur Tengah, Asia Tenggara, Eropa dan
Amerika.
Di sinilah audit syariah hadir ke dalam lembaga keuangan syariah. Karena setiap
lembaga pasti tidak ingin kesalahan dan kegagalan dalam setiap usaha yang dijalankan.
Islamic Finance Institutions (IFI) adalah pelopor kelembagaan ekonomi Islam (Khan, 2000).
Abdullah dan Pillai (2010) telah menyatakan bahwa IFI memiliki tugas yang lebih besar dan
tanggung jawab untuk pemangku kepentingan dari lembaga konvensional . IFI harus
mematuhi Syariah dalam semua aspek operasi dan manajemen. Tata kelola perusahaan dan
syariat dapat didefinisikan sebagai sistem formal akuntabilitas oleh IFI atas manajemen
kepada para pemangku kepentingan dan juga kepada Tuhan (Nahar dan Yaacob, 2011). Tata
kelola perusahaan Islam dapat dibagi menjadi tiga dimensi oleh siapa , untuk siapa dan
dengan apa . Al Syura , (42:38) Pengawasan atau audit syariah ini sangat penting untuk
memastikan perusahaan dan memberikan saran kepada bisnis dan memberikan laporan
kepada pemangku kepentingan. Fungsi Audit syariah sama dengan audit perusahaan tetapi
mereka lebih terfokus pada kepatuhan IFI untuk syariah.

2.2 Pengertian Audit Syariah


Audit adalah faktor penting untuk menjamin akuntabilitas perusahaan, hal ini untuk
mengeksplorasi audit Syariah yang selanjutnya memungkinkan praktisi dan pengguna
menggunakan pengetahuan yang diperoleh baik dalam audit konvensional serta perspektif
Islam.

4
Menurut Arens and Loebbecke (Auditing: An Integrated Approach, eight edition,
2000:9), Audit adalah kegiatan mengumpulkan dan mengevaluasi dari bukti-bukti mengenai
informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi dengan
kriteria yang telah ditetapkan. Proses audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan
independen. Audit diperlukan dalam setiap entitas dalam rangka melakukan pengawasan
maupun evaluasi, baik dalam hal kinerja operasional, internal control, maupun evaluasi dan
tes mengenai substansi transaksi-transaksi saldo yang dilakukan. Begitu pentingnya proses
audit dilakukan, baik untuk mengontrol dan meminimalisir resiko maupun untuk
membuktikan apakah kinerja keuangan entitas perusahaan tersebut berjalan stabil, dan dapat
dibuktikan secara wajar, dengan menganalisa laporan tahunan (Annual Report) secara
independen. Kegiatan audit dilakukan oleh seorang auditor independen. Mengapa harus
independen? Sebab seorang auditor harus menyampaikan pendapat / opini wajar secara
objektif serta sesuai dengan standar dan pedoman yang berlaku.
Audit Syariah menurut Haniffa adala: "proses sistematis obyektif mendapatkan dan
mengevaluasi bukti mengenai asersi menurut Islam dan sosial ekonomi untuk memastikan
tingkat kesesuaian, termasuk kriteria yang ditentukan berdasarkan prinsip Syariah
sebagaimana direkomendasikan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan
mengkomunikasikan hasilnya kepada semua pihak
Rahman dalam Othman dkk. mendefinisikan Audit Syariah sebagai "akumulasi dan
evaluasi bukti untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi dan
kriteria yang ditetapkan untuk tujuan syari'ah"
Sedangkan Udit Syariah berdasarkan AAOIFI-GSIFI, bahwa audit syariah adalah
laporan internal syariahyang bersifat independen atau bagian dari audit internal yang
melakukan pengujian dan pengevaluasian melalui pendekatan aturan syariah, fatwa-fatwa,
instruksi dan lain sebagainya yang diterbitkan fatwa IFI dan lembaga supervisi syariah.
Arti umum Audit Syariah adalah untuk melihat dan mengawasi, mengontrol dan
melaporkan transaksi, sesuai aturan dan hukum Islam yang bermanfaat, benar, tepat waktu
dan laporan yang adil untuk pengambilan keputusan. Bukan tugas yang mudah untuk
melakukan audit syariah di dalam kondisi kapitalistik dan sistem keuangan konvensional
yang kompetitif. Masalah ini lebih diperparah oleh penurunan nilainilai moral, sosial dan
ekonomi Islam di Negara-negara yang menganutnya termasuk Indonesia, di bawah tekanan
progresif penjajahan dan dominasi budaya dunia barat selama beberapa abad lalu. Hal ini
menyebabkan diabaikannya nilai sosial ekonomi Islam oleh beberapa kalangan dari Lembaga
Keuangan Syariah.

5
Audit syariah merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh bukti yang
cukup dan relevan untuk membentuk opini apakah subyek yaitu personil, proses, kinerja
keuangan serta non-keuangan konsisten dengan aturan Syariah dan prinsip-prinsip yang
diterima secara luas oleh masyarakat Islam dan melaporkan kepada pengguna3 Penilaian
independen dan jaminan obyektif yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan
tingkat kepatuhan lembaga keuangan syariah, dengan tujuan utama untuk memastikan
sistem pengendalian internal yang efektif dan untuk kepatuhan syariah.
Auditing syariah lebih luas cangkupannya dari auditing konvensional, dimana
auditing syariah selain mengacu pada standar audit nasional dan internasional juga mengacu
pada prinsip-prinsip syariah. Dalam audit syariah bisa menerapkan aturan audit nasional dan
internasional selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
Audit diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan pengguna laporan keuangan
terhadap laporan keuangan apakah telah disusun sesuai peraturan yang berlaku atau tidak.
Begitu pula dengan Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Tapi seiring dengan pertumbuhan
entitas syariah, ruang lingkup audit konvensional tidak bisa memenuhi pengguna laporan
keuangan LKS. LKS diharuskan mematuhi prinsip-prinsip syariah. Auditor syariah dapat
memberikan jaminan pernyataan atas laporan keuangan dan pemenuhan prinsip-prinsip
syariah. Konsep audit syariah harus diperluas dengan kegiatan yang berkaitan dengan sistem,
produk, karyawan, lingkungan dan masyarakat. Ada kebutuhan untuk mengembangkan
kerangka pemeriksaan syariah berguna untuk memastikan efektivitas tujuan kepatuhan
syariah di lembaga keuangan syariah yang dapat memberikan kontribusi positif bagi
masyarakat pada umumnya.
Audit syariah atas pembiayaan dan investasi syariah, auditor syariah dituntut
mengetahui hukum dan fiqh Islam serta hukum nasional dan internasional. Interaksi antara
hukum dan fiqh Islam dengan hukum-hukum konvensional untuk melihat kesamaan antara
kedua aturan dan etika hukum yang berlaku. Namun tetap hukum dan fiqh Islam menjadi
prioritas acuan utama dalam menentukan aktivitas dan target investasi yang halalan
thayyiban.
Dr. Abdur Rahim Abdur Rahim dalam jurnalnya yang berjudul Shariah Audit for
Islamic Financial Services: The Needs and Challenges menjelaskan tentang tiga fase audit
syariah.
Pertama, Perencanaan. Auditor syariah harus mengetahui dan memahami lingkup
bisnis lembaga keuangan syariah yang akan diaudit, kemudian auditor syariah perlu

6
mengidentifikasi teknik yang tepat untuk mengembangkan program audit, lalu
program audit akan mengidentifikasi kegiatan utama yang akan dilakukan serta
menentukan teknik sampling dalam rangka mencapai tujuan audit.
Kedua, Pemeriksaan. Aspek-aspek utama dari pemeriksaan di lapangan memerlukan
teknik sampling. Kertas kerja dan catatan audit adalah dua hal paling peting dalam
tahap pemeriksaan, yaitu untuk memberikan catatan sistematis pekerjaan yang
dilakukan selama audit dan merupakan catatan informasi dan fakta yang diperoleh
untuk mendukung temuan dan kesimpulan.
rFase Ketiga, Laporan. Hasil dari pelaksanaan audit mencakup pelaporan audit
syariah. Merupakan komunikasi yang baik dari auditor kepada stake holder tentang
kesesuaian laporan keuangan yang diaudit beserta kepatuhan syariah entitas tersebut.

2.3 Perkembangan Audit Syariah


Kompleksitas dan dinamika perusahaan telah meningkatkan kebutuhan audit syariah
menjadi lebih komprehensif dan terintegrasi untuk memberikan jaminan untuk stakeholder
dan pengguna lain pada kepatuhan syariah dari seluruh sistem dan operasi lembaga keuangan
syariah. Shahul menyerukan perbaikan yang luas untuk akuntansi Islam jika ingin bertahan
untuk waktu yang lama.
Kasim dkk. menyatakan bahwa kurangtepatnya praktek audit dari lembaga keuangan
syariah adalah masalah utama yang dihadapi saat ini dalam kerangka audit
syariah.Indonesia dan Malaysia, mengambil inisiatif dalam memproduksi Pedoman Audit
Syariah untuk perusahaan lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah
khususnya, harus memastikan bahwa sistem keuangan Islam secara keseluruhan adalah
syariah compliant. Dalam rangka mencapai tujuan syariah khususnya prinsip keadilan sosial,
ruang lingkup audit dalam perspektif Islam harus lebih luas dibandingkan dengan lingkup
audit konvensional. Menurut Haniffa ini penting untuk melindungi dan memperbaiki kondisi
kehidupan manusia dalam semua dimensi.
Meskipun status kepatuhan audit syariah menjadi bagian penting dari lembaga
keuangan syariah "struktur pemantauan secara keseluruhan, dan studi dalam aspek ini masih
kurang. Ada banyak literatur yang dihasilkan berkaitan dengan Islam dan ekonomi. Namun,
tidak mampu membuat kemajuan yang signifikan dalam menciptakan ekonomi Islam dalam
arti sebenarnya.
Pada abad ke-21 lebih menguntungkan karena pertumbuhan drastis dari sektor
perbankan syariah dan pasar modal syariah yang mendapatkan penerimaan yang lebih luas.

7
Didorong oleh pemerintah dan terus mempercepat perubahan dalam perbankan Syari ah dan
pasar modal, auditor syariah diharapkan memiliki tanggung jawab yang lebih luas.
Sebagaimana diungkapkan Rahman lingkup pertama audit syariah LKS adalah
mengawasi dan memastikan bahwa semua transaksi keuangan diakui, diukur, dan dilaporkan
secara akurat serta adanya hak dan kewajiban yang timbul dari kontrak yang berbeda. Selain
itu, juga akan memastikan bahwa ada kepatuhan terhadap standar yang relevan, seperti aturan
dan peraturan dari Bank Negara atau dari AAOIFI dll.
Hameeds sebagaimana dikutip oleh Yacob dan Donglah menyarankan pendekatan
yang lebih luas dan holistik perlu diadopsi Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang
mempertimbangkan kebijakan, proses dan prosedur, kontrak dan perjanjian, sistem keuangan
dan pelaporan, manajemen sumber daya manusia, kegiatan sosial dan kontribusi, pemasaran
dan periklanan, laporan dan edaran, perhitungan zakat dan pembayaran, dan sistem IT.
Manajer lembaga keuangan syariah bertanggung jawab pada penggunaan dana yang
efisiensi dan efektivitas. Selanjutnya, sejalan dengan ruang lingkup yang luas dari syariah,
usaha untuk menyebarkan kebajikan universal Islam harus dilakukan dalam hal produk,
proses, sistem, personel, pemasaran, investasi dan lain lain. Auditor syariah diharapkan untuk
mencerminkan tanggung jawab dan akuntabilitas mereka tidak hanya untuk manajemen dan
pemangku kepentingan, dan agama. Ini akan mempromosikan fondasi untuk membangun
kepercayaan publik dan jaminan bahwa lembaga keuangan syariah adalah syariah-compliant
dalam semua kegiatan mereka.
Bank Syariah mengacu pada kegiatan dan operasi dari Bank Islam menjadi bebas dari
unsur-unsur kegiatan berdosa, risiko, eksploitasi serta memiliki tujuan ekonomi riil untuk
membiayai sektor-sektor sosial yang produktif dalam ekonomi. Audit syariah harus dilakukan
untuk semua kegiatan di lembaga keuangan Islam.
Audit syari'at diklaim sebagai fungsi sosial, sehingga ruang lingkup lebih luas yang
meliputi perilaku sosial dan kinerja organisasi termasuk hubungan mereka dengan semua
yang berkepentingan. Misalnya, dalam pembayaran zakat, itu adalah kewajiban LKS untuk
membayar zakat dan mendistribusikan.
Tidak adanya ruang lingkup audit syari'ah merupakan tantangan bagi Lembaga
Keuangan Syariah (LKS). Lembaga keuangan Syariah tidak mengambil langkah-langkah
yang tepat untuk memastikan standar dan badan pengawas. Pada saat ini, ruang lingkup
tergantung pada Dewan Syari'ah Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang
mengawasi review syari'at atau audit syari'ah. Rahman menyatakan bahwa dilembaga jasa
keuangan syariah saat ini belum sepenuhnya sistematis audit syari'ah dilakukan, yaitu tidak

8
ada tinjauan sistematis telah dilakukan secara komprehensif untuk memastikan kepatuhan
syariah yang tepat. Oleh karena itu, audit syari'ah harus melibatkan tinjauan sistematis dari
aspek operasional dari Lembaga Keuangan Syariah. Ini termasuk pengawasan kebijakan dan
prosedur dari Lembaga Keuangan Syariah, seperti produk, proses operasional dan kontrak.
Serta meninjau struktur organisasi untuk memastikan apakah layak untuk melakukan kegiatan
sesuai syari'ah "
Dalam pembahasan pengembangan program audit syariah yang sistematis dan
menyeluruh, yaitu daftar seluruh prosedur audit syari'ah, termasuk dokumentasi hukum untuk
prosedur operasional dan sebagainya. Audit syari'ah perlu ditulis dalam bahasa yang dapat
dengan mudah dipahami oleh stakeholder potensial. Masukan mereka diperlukan setelah
periode pengujian program audit syari'ah44 . Sebagian besar lembaga keuangan Syariah
masih menggunakan kerangka audit konvensional termasuk di Indonesia karena tidak adanya
kerangka audit syari'ah. Seharusnya kerangka audit syari'ah harus berbeda dari kerangka
audit konvensional. Dalam penelitian Nawal, mayoritas responden merasa bahwa ada
kebutuhan untuk syariah audit menjadi berbeda dari kerangka konvensional. Selain itu, badan
pengawas harus bertanggung jawab untuk merumuskan kerangka kerja dan diikuti oleh
semua lembaga keuangan syariah. Menyadari pentingnya kerangka syariah audit memiliki
kriteria dan metodologi sendiri berada di paralel dengan Maq'asid Ash-Shariah.
Tidak adanya pedoman yang diakui dan standar audit syariah adalah masalah utama
yang dihadapi saat ini dalam kerangka audit syariah. AAOIFI dan IFSB keduanya terlibat
dalam menangani masalah ini. Namun, untuk Malaysia, standar AAOIFI tidak wajib.
Praktik-praktik audit syariah di lembaga keuangan syariah masih tidak sepenuhnya
sesuai dengan prinsip syariah, baik di Indonesia, Malaysia atau negara-negara lain di dunia
perbankan dan keuangan Syariah. Pihak yang terlibat dengan audit syariah di lembaga
keuangan syariah di Malaysia dan Indonesia menganggap fungsi audit syariah berkembang
dan memiliki kerangka audit syariah yang tepat untuk masa depan .
Proses audit syariah diharapkan menjadi luas, rinci dan kompleks. Selain pengesahan
keuangan, bisa melibatkan pendapat tentang kejujuran, keteraturan, ekonomi, efisiensi atau
efektivitas, atau melaporkan penipuan, ketidaklengkapan administrasi atau ketidakmampuan
manajerial, atau kegagalan untuk mengamati prosedur atau mencapai tujuan. Ruang lingkup
audit syariah harus peduli dengan manfaat kepada masyarakat. Oleh karena itu auditor
syariah harus waspada pada kesalahan peraturan lembaga keuangan syariah yang dapat
menyebabkan kerugian kepada orang lain seperti untuk pemodal yang telah menginvestasikan
dana mereka, kepada masyarakat yang memiliki hak untuk zakat, dan juga untuk lingkungan.

9
Dalam Islam membebankan konsep dual-akuntabilitas, dimana seseorang bertanggung jawab
atas tindakannya di dunia ini dan tanggung jawab kepada Tuhan di akhirat. Hal ini
disebabkan bahwa audit dalam Islam telah diturunkan dari nilai-nilai dasar masyarakat Islam
dan prinsip syariah.

2.4 Macam-Macam Audit Syariah


Adanya kebutuhan untuk memastikan kepatuhan yang tepat untuk prinsip-prinsip
audit yang syari'ah dalam operasi dan kegiatan, peran masing-masing pelaku utama dalam
audit dari lembaga keuangan Syariah sangat penting. Pelaku audit lembaga keuangan
syariah adalah:
a. Auditor Internal
Pemeriksaan yang dilakukan auditor internal lebih rinci dibandingkan dengan
pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor eksternal. Internal auditor tidak memberikan opini
terhadap kewajaran laporan keuangan karena auditor internal merupakan orang dalam
perusahaan yang tidak independen. Laporan internal auditor mencangkup pemeriksaan
mengenai kecurangan dan penyimpangan, kelemahan pengendalian internal , dan
rekomendasi perbaikan. Audit internal dibagi menjadi :
Komite Audit dan Tata Lembaga Keuangan Islam. Komite ini bertanggung jawab
untuk fungsi-fungsi berikut, sistem pengendalian internal, dan penggunaan rekening
investasi terbatas, kepatuhan syari'ah, rekening sementara dan tahunan dan praktek
akuntansi dan audit. Dewan Pengawas Syariah bertanggung jawab untuk
mengeluarkan fatwa, merumuskan kebijakan sesuai dengan syari'at, dan memberikan
dukungan syari'ah dengan produk dan jasa dari Lembaga Keuangan Islam. Peran
dasar mereka adalah sebagai persetujuan atau stamping otoritas. Fungsi utama dewan
Syariah adalah sebagai penasihat dan pemberi sran kepada Direksi Bursa sebagai
penyelenggara Pasar Komoditas Syariah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
aspek syariah dalam penyelenggaraan Pasar Komoditas Syariah.
Auditor internal bertanggung jawab untuk melakukan audit internal dan untuk
memastikan Lembaga Keuangan Islam mematuhi syari'at dan semua transaksi dan
kontrak yang dilaksanakan dalam kerangka syari'at. Beberapa Lembaga Keuangan
Islam juga memiliki petugas syari'at mereka sebagai unit bekerja sama dengan auditor
internal atau mereka adalah bagian dari auditor internal.

10
b. Auditor Eksternal
Auditor eksternal bertanggung jawab untuk memberikan pendapat mereka apakah
transaksi dan kontrak yang dalam syari'at kebijakan, peraturan dan pedoman. Dimana auditor
internal dan eksternal juga bertanggung jawab untuk menguji kepatuhan syari'ah lembaga
keuangan syariah.
Selain itu, masih ada perdebatan berlangsung pada siapa harus melakukan audit
syari'ah. Studi Kasim menemukan bahwa beberapa responden lebih suka praktek syari'at
audit yang akan dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat dalam syari'at saja.
Lainnya ingin audit syari'ah menjadi tanggung jawab auditor internal atau departemen
syari'ah lembaga keuangan syariah masing-masing atau anggota komite syari'at.
Menurut Pricewaterhouse Coopersip oleh Yacob & Donglah sebagaimana dikut,
fungsi audit syari'at harus dilakukan oleh auditor internal yang memiliki syari'at terkait
pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Tujuan utama mereka adalah untuk
memastikan sistem pengendalian internal yang efektif suara dan kepatuhan syari'ah. Internal
Auditor juga dapat terlibat keahlian dari lembaga keuangan petugas syari'at dalam melakukan
audit yang selama objektivitas audit tidak terganggu. Lembaga keuangan Islam juga dapat
menunjuk pihak eksternal untuk melakukan audit syari'ah.

2.5 Standar Audit Syariah


Kesadaran dan perkembangan ekonomi syariah membutuhkan lembaga sebagai
standar keuangan syariah. Dengan berdirinya lembaga ini menjadi arahan atau pedoman
bagi lembaga keuangan syariah di seluruh dunia. The Accounting and Auditing
Organizationfor Islamic Financial Institution (AAOIFI) yang sebelumnya bernama Financial
Accounting Organization for Islamic Banks and Financial Institution didirikan pada tanggal 1
Safar 1410 H atau 26 Februari 1990 di Aljiria .
Pelaksanaan audit, Prinsip umum audit AAOIFI adalah sebagai berikut:
a. Auditor lembaga keuangan Islam harus mematuhi Kode etik professi akuntan yang
dikeluarkan AAOIFI dan the International Federation of Accountants yang tidak
bertentangan dengan aturan dan prinsip Islam.
b. Auditor harus melakukan auditnya menurut standar yang dikeluarkan oleh Auditing
Standar for Islamic Financial Institutions (ASIFIs).

11
c. Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan kemampuan
professional, hati-hati dan menyadari segala keadaan yang mungkin ada yang
menyebabkan laporan keuangan salah saji.
Pelaksanaan audit terdapat cakupan audit yang harus dilakukan oleh auditor dalam
melaksanakan audit atas Lembaga Keuangan Islam yang disebut skop audit. Prosedur yang
dibutuhkan untuk melakukan audit sesuai standar audit untuk lembaga keuangan Islam
berpedoman pada persyaratan yang ditentukan oleh :
a. Aturan dan Prinsip Islam
b. Standar ASIFIs c. Badan Professi resmi
c. Peraturan leglasi lainnya
d. Peraturan dan prinsip yang tidak bertentangan dengan aturan Islam yang berkaitan
dengan penugasan.
e. International Standar on auditing dianggap termasuk didalam aturan ini sepanjang
tidak bertentangan dengan ASIFIs
Standar auditing menurut AAOIFI atau dikenal dengan nama Ar No. 1 dengan judul
Tujuan dan Prinsip Audit yang disusun oleh tim yang beranggotakan 14 orang dan standar
ini berlaku sejak tanggal 1 Muharram 1418 H atau 1 Januari 199861. Standar ini disahkan
pada pertemuan Dewan ke 11 yang dilaksanakan pada tanggal 2-3 Muharram 1417 atau 19-
20 Mei 1996.
AAOIFI dalam standar auditing tahun 2010 membutuhkan auditor eksternal untuk
memperoleh bukti yang cukup dan tepat yang mendukung pendapat auditor eksternal untuk
memberikan keyakinan memadai bahwa lembaga keuangan syariah telah memenuhi semua
aturan syari'ah dan prinsip-prinsip termasuk fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Pengawas
Syariah. Standar Keuangan Dewan Internasional tahun 2006 dalam pernyataan mereka
mengenai syari'at audit disebutkan, "Komite Audit lembaga yang menawarkan jasa keuangan
syariah harus menggunakan upaya terbaik mereka dalam memastikan bahwa auditor
eksternal yang mampu menampung kepatuhan syari'ah. Sebagian besar lembaga yang
menawarkan jasa keuangan Islam memiliki auditor internal yang melakukan analisis sendiri,
sementara beberapa memiliki Dewan Pengawas Syariahr

2.6 Tantangan Audit Syariah


Dengan jumlah Lembaga Keuangan syariah yang terus meningkat dari waktu ke
waktu. Dalam publikasi OJK pada bulan Agustus 2016. Dari sisi perbankan terdapat 12 Bank
Umum Syariah, 22 Unit Usaha Syariah dan 165 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
Sedangkan dari sisi Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah berjumlah 24 Industri di

12
antaranya 8 perusahaan Asuransi syariah, 7 Lembaga Pembiayaan Syariah, 2 Lembaga Jasa
Keuangan Khusus Syariah dan 7 Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Ditambah dengan
jumlah perusahaan unit usaha syariah non bank berjumlah 87 perusahaan.
Dengan begitu banyaknya lembaga keuangan syariah di Indonesia, maka setiap
lembaga baik itu perbankan maupun IKNB diharapkan dapat beroperasi sesuai kode etik
syariah dan harus menjalankan fungsinya dalam batasan-batasan syariah yang telah
ditetapkan. Agar setiap stakeholder mendapatkan rasa aman dan nyaman ketika menggunakan
fasilitas yang disediakan oleh Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia.
Itu harapannya, mari melihat realitas yang terjadi di Indonesia. Dalam beberapa tahun
terakhir lembaga keuangan syariah dihantam berita kurang baik soal pelaksanaan tata kelola
dan pengawasan yang ternyata masih dapat dibobol dan dipermainkan bahkan oleh pihak
internal itu sendiri. Penyebabnya yaitu Lemahnya pengendalian internal dikarenakan dari
kurang kuatnya sistem pengawasan yang dijalankan oleh entitas tersebut. Namun yang lebih
disayangkan lagi, adalah nama besar Syariah yang diusungnya, yang kemudian menjadi
tercemar. Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga sepertinya ungkapan yang cocok dalam
kondisi seperti ini.
Ini menunjukkan bahwa entitas syariah pun tidak kebal dari apa yang namanya moral
hazard, sehingga pengawasan sangat perlu diperbaiki dan diperketat. Dr. Muhammad Hudeib,
dalam sebuah diskusi mengkritisi pelaksanaan pengawasan syariah yang selama ini hanya
mengandalkan komite syariah atau Dewan pengawas Syariah. Sementara manajemen sendiri
tidak mempunyai kapabilitas yang cukup terkait kesyariahan lingkup kerjanya.
Dr. Hudeib menyampaikan setidaknya terdapat 4 isu utama yang menjadi tantangan
penerapan pengawasan audit syariah pada lembaga keuangan syariah. Meliputi masih
terpisahnya pelaksana audit syariah dengan konvensional, masih lemahnya independensi
auditor syariah, kurang jelasnya ruang lingkup audit syariah, dan kompetensi serta kualifikasi
dari pelaksanaan audit itu sendiri yang masih perlu ditingkatkan.
Untuk menjawab tantangan dan problem yang ada maka seorang auditor syariah
diharuskan untuk memahami lingkup kerja dan peran serta hak dan kewajibannya dalam
melakukan pemeriksaan yang efektif, sehingga opini yang diberikan pun bisa memberikan
rasa aman dan nyaman bagi para stakeholder lembaga keuangan syariah.
Tantangan selanjutnya yaitu kompetensi audit syariah. Kompetensi dapat
diklasifikasikan sebagai dimensi perilaku yang berhubungan dengan pekerjaan yang unggul
Kinerja di mana orang-orang tertentu melakukan lebih baik daripada yang lain. Selain itu,
kompetensi juga terkait dengan keterampilan teknis, keterampilan dan pengetahuan untuk

13
melakukan pekerjaan terutama pekerjaan dengan unsur profesional. Bahkan, kompetensi
dapat generik atau organisasi tertentu.
Kompetensi Profesional, International Federation of Accountant (IFAC): Auditor
perlu memiliki formal audit (pengetahuan / knowledge), keterampilan Profesional, dan
mampu menerapkan nilai-nilai, etika, dan sikap yang professional terhadap situasi dan
organisasi yang berbeda.
Berdasarkan pedoman ini disarankan agar kompetensi merupakan kombinasi dari
atribut yang relevan seperti pengetahuan, keterampilan dan sikap (IFAC 2014) sebagai
dasar untuk mengukur kompetensi umum auditor.
Dalam rangka untuk memastikan auditor internal perusahaan tetap sejajar dengan
perubahan dalam lingkungan kerja mereka, beberapa kompetensi audit internal
digariskan oleh Picket (2000), Perusahaan perlu mendefinisikan kompetensi mereka
sendiri dan membangun program in-house sebagai bagian dari kegiatan pembangunan
yang berkelanjutan, kompetensi dapat dicapai dari interaksi dari tiga faktor, disebut tiga
lingkaran pendekatan yang merupakan standar auditing, produk Audit serta strategi
manajemen risiko organisasi, dan perusahaan harus mengirimkan staf audit internal
mereka untuk pelatihan sebagai kompetensi perlu mengubah sejalan dengan perubahan
dalam lingkungan kerja.
Kompetensi Manusia berbasis Islam, kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten
untuk memastikan keaslian produk dan jasa Lembaga Keuangan Syariah.
Masalah Competency dari pandangan dunia Islam dijelaskan oleh Laldin (2011)
sebagai kebutuhan untuk menjamin ketersediaan sumber daya manusia dalam bentuk
manajemen SDM untuk menghasilkan petugas yang kompeten dan ahli Syariah sangat
penting untuk menjadi ujung tombak inovasi produk dan jasa keuangan Islam.
Hanya perspektif holistik pada SDM yang dapat menghasilkan tenaga kerja yang
mempunyai pengetahuan yang seimbang yang tidak hanya kompeten secara akademis
tetapi yang paling penting memiliki pengetahuan dan komitmen kokoh terhadap dasar-
dasar ajaran dan prinsip-prinsip Islam.
ada tantangan untuk lulusan akuntansi masa depan untuk memahami penerapan
standar yang berbeda dalam dunia akuntansi Islam sebagaimana standar yang berbeda
telah diadopsi secara berbeda oleh berbagai Negara-negara Muslim yang berbeda.
El Razik (2009) menunjukkan bahwa lingkungan bisnis memberikan pengaruh pada
pilihan standar akuntansi di negara-negara Muslim. Para sarjana harus memahami

14
standar Akuntansi internasional serta standar yang di adopsi oleh Negara-negara muslim
lain, jika ingin bekerja di Negara lain. Pendidikan tinggi dan IFI didesak untuk memulai
program dan pelatihan baru bagi bank syariah.
Dimensi Kompetensi Umum, ada juga kebutuhan yang kuat untuk pelatihan yang tepat
pada konsep syariah karena sebagian besar petugas bank yang dilatih dari latar belakang
konvensional.
Temuan di Pakistan: penasihat syariah yang kompeten yang boleh melayani beberapa
IFI, bertentangan dengan peraturan perbankan syariah.
Temuan di LKS Malaysia: hanya 5,9% dari responden yang memenuhi kualifikasi
syariah dan akuntansi atau audit, (kebanyakan auditor internal dan manajemen divisi
syariah) dibandingkan dengan 69% yang mengaku berlatih syariah audit di LKS di
Malaysia.
Penelitian lain: baru-baru ini yang didukung temuan dilakukan oleh Mahzan dan
Yahya (2014) menggunakan survei yang melibatkan 158 auditor internal di IFI yang
menawarkan produk bank Syariah. Sebagian besar responden (39%) memiliki 10-20
tahun pengalaman perbankan umum, hanya 6% dari mereka memiliki 10-20 tahun
pengalaman kerja di perbankan dan keuangan Islam. Dan sebesar 76% dari auditor
internal yang melakukan audit syariah tidak memiliki Perbankan dan Keuangan Islam
dan Syariah kualifikasi.
Opini ini memberikan gambaran tentang isu-isu terkini tentang kompetensi auditor
syariah di Negara-negara muslim dan beberapa temuan mengenai pengetahuan untuk audit
syariah yang belum mapan. Karena audit syariah saat ini masih dilakukan oleh auditor
internal, sebagian besar auditor syariah di bank syariah tidak memiliki pengalaman dan
belum professional atau tidak memiliki kualifikasi akademis baik di perbankan syariah

2.7 Tanggung Jawab Auditor Syariah


Setiap perusahaan yang telah berkembang dan memiliki omset yang besar tentu
membutuhkan seorang auditor untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan tersebut.
Karena sejatinya setiap laporan keuangan yang telah diaudit akan mendapatkan dampak yang
positif bagi perusahaan tersebut serta akan menarik para investor untuk menanam modal di
perusahaan tersebut. Namun pernahkah kita mendengar auditor syariah? Bukan hanya bank
saja yang syariah atau lembaga-lembaga yang memiliki label syariah tapi auditor syariah pun
ada. Dalam hal ini auditor syariah bukan hanya bertanggung jawab pada kliennya tetapi lebih

15
luas kepada semua pihak yang membutuhkan seperti masyarakat atau yang lainnya. Sebab
ruang lingkup auditor syariah jauh lebih luas dari pada ruang lingkup auditor pada umumnya.
Konsep auditor modern yang memiliki sifat independen serta tidak memihak kepada
siapapun sangat dibutuhkan oleh banyak perusahaan guna mengetahui kebenaran dari segala
aktivitas bisnis tersebut. Adapun menurut (Khan, 1985) dalam kerangka Islam peran seorang
auditor syariah harus memiliki prinsip-prinsip umum di antaranya:
1. Kewajiban Auditor terhadap pemodal luar
Setiap keuangan merupakan modal yang berisiko baik itu modal biasa atau dalam
bentuk modal mudharabah. Dalam hal modal mudharabah ini, pemodal luar atau biasa
disebut shahibul maal akan mendapatkan bagi hasil dari setiap keuntungan yang diperoleh
atas usaha tertentu. Namun, jumlah bagi hasil tidak ditetapkan di awal melainkan yang
ditetapkan di awal hanya berupa persentase dari bagi hasil tersebut. Oleh karena itu, seorang
auditor dituntut untuk memanage strategy dalam menggunakan dana dari pemodal luar agar
mereka tidak merasa dikecewakan oleh perusahaan.
2. Menilai Praktik Manajemen
Auditor syariah harus memeriksa dan menilai atas pengelolaan sumber daya yang
digunakan oleh suatu perusahaan. Apakah sumber daya tersebut dikelola dengan baik serta
segala tindakan dan perilaku perusahaan tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
3. Kepatuhan Syariah
Dalam hal ini, seorang auditor syariah menurut pandangan Islam harus bertanggung
jawab terhadap kepatuhan syariah serta standar etika mengenai organisasi bisnis yang
dijalankan. Dengan demikian seorang auditor harus melaporkan sejauh mana praktik dari
organisasi tersebut atas kepatuhannya terhadap syariah.
Di zaman yang sangat modern ini, peran auditor syariah sangat diperlukan oleh
banyak lembaga salah satunya adalah lembaga keuangan syariah. Karena pada dasarnya
segala tindakan serta perilaku yang dilakukan oleh sebuah organisasi harus memberikan
dampak positif bagi makhluk yang ada di sekitarnya.

2.8 Kesesuaian Praktik Audit Sesuai Syariah


Islamic Financial Institution atau Lembaga Keuangan Syariah (LKS) seperti yang kita
ketahui merupakan lembaga perantara keuangan, dimana melakukan proses distribusi dana
yang telah dihimpun dari pihak yang kelebihan dana atau lendersaver kepada pihak yang
membutuhkan dana atau borrowerspender untuk digunakan sebagai modal investasi atau
pemenuhan kebutuhan dana yang bersifat mendadak. Oleh karena itu, lembaga keuangan

16
syariah (LKS) akan dinyatakan berhasil dalam menjalankan fungsinya jika presentase
perputaran dana pada lembaga keuangan syariah (LKS) tersebut terus meningkat. Hal ini
dapat tercapai apabila lembaga keuangan syariah (LKS) mampu mendapatkan dan menjaga
kepercayaan publik terutama deposan selaku borrowerspender dan investor
selaku lendersaver.
Akan tetapi, keberhasilan lembaga keuangan syariah (LKS) tidak hanya terbatas pada
tingginya presentase perputaran dana, tapi juga pada kesesuaian syariah lembaga keuangan
syariah. Kesesuaian syariah ini dapat diukur atau dievaluasi melalui audit syariah pada
lembaga keuangan syariah (LKS). Hal ini didasari oleh tujuan utama audit syariah bagi
lembaga keuangan syariah (LKS). Tujuan utama auditing lembaga keuangan syariah (LKS)
adalah untuk memberikan opini atas laporan keuangan yang disiapkan manajemen
(perusahaan), dalam semua aspek material telah sesuai dengan hukum dan prinsip syariah,
AAOIFI, dan standar akuntansi nasional negara yang bersangkutan (Mardian & Mardiyah,
2015).
Disamping itu, audit syariah ini penting untuk dilakukan mengingat poin utama yang
membedakan lembaga keuangan syariah (LKS) dengan lembaga keuangan konvensional
adalah dilibatkannya nilai-nilai syariah, prinsip-prinsip syariah dan hukum-hukum syariah
pada setiap bagian di lembaga keuangan syariah (LKS), baik produk keuangan maupun
sistem keuangan.
Namun, sebelum melakukan pengukuran kesesuaian syariah di lembaga keuangan
syariah (LKS) dengan menjalankan audit syariah, kita perlu memastikan bahwa praktik audit
syariah tersebut telah sesuai dengan syariah. Karena jika praktik audit syariah yang
dijalankan tidak sesuai syariah maka praktik audit syariah terhadap lembaga keuangan
syariah (LKS) tersebut tidak memberikan hasil yang berarti. Dengan kata lain, tujuan yang
diharapkan dari diterapkannya praktik audit syariah tidak tercapai.
Dalam hal mengukur kesesuaian syariah praktik audit syariah di lembaga keuangan
syariah (LKS) di Malaysia, Nur Laili Abd Ghani dan Abdul Rahim Abdul Rahman (2015)
menggunakan variabel-variabel yang terdapat dalam Exposure Draft Kerangka Audit Internal
Syariah yang diterbitkan oleh International Shariah Research Academy (ISRA). Variabel-
variabel tersebut terdiri dari ruang lingkup audit (audit scope), tujuan audit (audit objectives),
audit dan tata kelola (audit and governance), piagam audit (audit charter), kompetensi
auditor (competency of auditors), proses audit (audit process), dan persyaratan pelaporan
(reporting requirements).

17
Hasil penelitian Nur Laili Ab Ghani dan Abdul Rahim Abdul Rahman (2015)
menunjukkan bahwa sebagian besar bank syariah di Malaysia telah membentuk tujuan audit,
struktur tata kelola, persyaratan kompetensi auditor, proses audit, dan persyaratan pelaporan
sebagai bagian dari praktik audit syariah yang sesuai dengan lembaga keuangan syariah
(LKS) mereka. Akan tetapi, beberapa bank syariah belum menentukan lingkup audit dan
piagam audit yang sesuai dengan lembaga keuangan syariah (LKS) mereka. Dengan kata lain,
praktik audit syariah di lembaga keuangan syariah (LKS) di Malaysia sudah cukup baik dan
menunjukkan perkembangan positif dalam meningkatkan integritas dan akuntabilitas
lembaga keuangan syariah (LKS) di Malaysia (Rahman & Ghani, 2015).
Sedangkan Qonita Mardiyah dan Sepky Mardian (2015) menggunakan variabel
kerangka kerja audit syariah, ruang lingkup audit syariah, independensi auditor syariah dan
kualifikasi auditor syariah dalam mengukur kesesuaian syariah praktik audit syariah di
lembaga keuangan syariah (LKS) di Indonesia. Diperoleh hasil bahwa praktik audit syariah di
lembaga keuangan syariah (LKS) di Indonesia telah cukup sesuai.
Dengan demikian, kesesuaian syariah di lembaga keuangan syariah (LKS) hanya akan
dapat terukur dengan baik apabila auditor syariah baik auditor syariah internal maupun
auditor syariah eksternal menerapkan praktik audit syariah yang sesuai dengan nilai, prinsip,
dan hukum syariah yang berlaku. Karena praktik audit syariah ini dapat
meyakinkan stakeholder bahwa lembaga keuangan syariah (LKS) telah sesuai dengan
syariah. Berkenaan dengan hal tersebut, penting dibuat sebuah pedoman khusus terkait
praktik audit syariah di lembaga keuangan syariah (LKS).

2.9 Ruang Lingkup Audit Syariah Pada Negara Berkembang


Dalam perkembangannya, setiap entitas perusahaan selalu membutuhkan jasa audit,
baik jasa audit internal (Internal Audit) maupun jasa audit eksternal (Eksternal Audit). Kini,
di setiap belahan Negara di dunia, baik yang tergolong ke dalam Negara maju maupun
Negara berkembang satu per satu telah melakukan kegiatan audit, bahkan kantor KAP
(Kantor Akuntan Publik) pun telah berdiri di beberapa belahan dunia. Tak terkecuali, Negara
Indonesia pun telah membentuk IAPI (Institut Akuntan Publik Indonseia) sejak 50 tahun
berdirinya IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), tepatnya pada tanggal 24 Mei 2007 dan hingga
kini terbilang cukup banyak KAP yang telah berdiri kokoh di Negara Indonesia, menjalankan
tugas dan tanggung jawab nya dalam melakukan fungsi audit dengan baik secara independen.
Di sisi lain, dalam ruang lingkup syariah di era tahun 2016 ini, setiap Lembaga
Keuangan Syariah yang sudah Go Publik telah di wajibkan untuk di audit oleh internal dan

18
eksternal auditor, bahkan minimal tiap-tiap DPS pun harus memiliki auditor syariah. Dalam
hal ini, jabatan Auditor Syariah biasa disebut dengan Dewan Pengawas Syariah. Di Negara
Indonesia misalnya, dalam jabatannya, posisi Dewan Pengawas Syariah (DPS) berada di
bawah naungan Dewan Syariah Nasional (DSN). Dalam hal ini, Dewan Pengawas Syariah
(DPS) harus memenuhi aturan dan prinsip-prinsip yang dibuat oleh Dewan Syariah Nasional
(DSN), termasuk terkait dengan fatwa-fatwa yang dikeluarkannya.
Jabatan Dewan Pengawas Syariah di setiap Negara pun berbeda-beda. Pada Negara
berkembang misalnya, DPS di Negara Malaysia dikenal dengan Shariah Supervisory
Council (SSC). Kemudian, di Negara Pakistan, DPS dikenal dengan Shariah Advisor (SA).
Sementara di Negara Bahrain, DPS dikenal dengan Shariah Supervisory Board (SSB).
Terkait dengan hal ini DPS memiliki peranan penting dalam menegakan Kepatuhan Syariah
(Shariah Compliance). Oleh karena itu, Kepatuhan Syariah (Shariah Compliance) merupakan
salah satu hal penting yang harus di penuhi dalam Audit Syariah.
Syariah (Shariah Compliance) merupakan salah satu pilar yang menjadi pembeda
utama antara lembaga keuangan syariah dengan lembaga keuangan konvensional. Untuk
menjamin teraplikasinya prinsip-prinsip syariah di lembaga perbankan dan keuangan syariah,
diperlukan pengawasan syariah yang diperankan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Di
Negara Indonesia, Pemerintah RI telah mengeluarkan dua Undang-Undang yang
memosisikan Dewan Pengawas Syariah secara strategis untuk memastikan kepatuhan akan
prinsip-prinsip syariah di lembaga perbankan dan keuangan syariah. Kedua Undang-undang
tersebut ialah, Undang-Undang UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan UU
No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Kedua Undang-Undang ini merupakan
landasan yuridis yang cukup kuat bagi keberadaan DPS untuk menjamin terimplementasinya
Kepatuhan Syariah (Shariah Compliance) di lembaga perbankan dan keuangan syariah.
Melihat lebih jauh lagi, kita mengenal adanya Lembaga Internasional yang menjadi
pedoman bagi Lembaga Keuangan Syariah di Negara-Negara lainnya dalam mengembangkan
standar-standar yang berlaku, baik berupa standar akuntansi, standar audit, governance,
maupun standar etika terkait dengan kegiatan lembaga keuangan syariah dengan selalu
memperhatikan kepatuhan terhadap prinsip syariah. Lembaga Internasional tersebut adalah
AAOIFI (Accounting & Auditing Organization for Islamic Financial Institution).
AAOIFI (Accounting & Auditing Organization for Islamic Financial Institution)
didirikan pada 1990 di Algeria dan berkantor pusat di Manama, Bahrain. Saat ini, AAOIFI
beranggotakan 155 anggota lembaga dari 40 negara yang meliputi bank sentral, lembaga
keuangan syariah, dan anggota lainnya dari industri keuangan dan bank syariah internasional.

19
Selain itu, AAOIFI juga mendapat jaminan implementasi atas standar yang dikeluarkan
antara lain oleh negara Bahrain, Jordan, Lebanon, Qatar, dan Sudan. Beberapa Negara
berkembang di dunia pun telah berpedoman pada standar yang dibuat oleh AAOIFI.
Lembaga keuangan syariah memliki tugas untuk memastikan apakah kepatuhan
syariah sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah di seluruh aspeknya. Baik dari produk,
instrumen, operasi, maupun praktik dan manajemen yang akan dicapai dengan melakukan
pembentukan kerangka tata kelola syariah yang tepat (Miskam, 2013).
Namun pada hakikatnya, tiap-tiap Negara telah memiliki aturannya masing-masing
sesuai dengan regulator, prinsip, dan pedoman yang diadopsi. Keterlibatan terbesar Regulator
harus diposisikan sebagai pemenuhan dalam pertumbuhan jumlah Lembaga Keuangan
Syariah di pasar saat ini dan juga untuk memungkinkan sisa persaingan di industri perbankan
syariah terutama dalam menyediakan informasi kepatuhan syariah kepada pengguna laporan
keuangan LKS.

2.10 Problematika SDM Audit Syariah Di Indonesia

Pertumbuhan entitas syariah di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami kenaikan.


Sebagai salah satu contohnya adalah pertumbuhan bank syariah. Menurut data OJK di
Laporan Triwulan II tahun 2016, jumlah aset, pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga (DPK)
perbankan syariah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,05%, 2,05% dan 2,45%
menjadi Rp297,9 triliun, Rp217,9 triliun dan Rp238,4 triliun. Tapi marketshare untuk bank
syariah masih rendah yaitu kurang dari 5%. Padahal Indonesia adalah negara yang mayoritas
penduduknya beragama Islam.

Langkah yang ditempuh bank syariah untuk meningkatkan marketshare salah satunya
dengan melakukan audit syariah. Laporan audit menjadi dasar pengambilan keputusan para
stakeholder. Audit syariah adalah proses sistematis yang terdiri dari proses menghitung,
mengevaluasi, dan memonitor tim manajemen agar kegiatannya sesuai dengan prinsip dan
tujuan syariah sehingga tidak terjadi masalah keagenan, yaitu ketimpangan informasi
(asymmetric information) akibat dari moral hazard dan adverse selection.

Ruang lingkup audit syariah tidak sebatas tentang laporan keuangan tapi juga meliputi
kinerja manajemen dalam perilaku sosial dan nilai-nilai syariah dalam setiap aktivitas di

20
dalam organisasi. Konsentrasi syariah tidak sebatas hubungan antar individu tetapi juga
hubungan antara individu dengan Penciptanya.

Masalah yang ada dalam audit syariah adalah pertama, auditor syariah jumlahnya
terbatas, karena lembaga penyuplai SDM berkualitas belum mampu memenuhi kebutuhan
industri. Salah satu penyebabnya adalah adanya time lag yang panjang, dimana industri
membutuhkan SDM dalam waktu yang singkat, sedangkan lembaga penyuplai SDM
(Lembaga Pendidikan) membutuhkan waktu yang panjang untuk menyiapkan SDM yang
dibutuhkan. Seperti yang kita ketahui untuk jenjang strata 1 atau S1 dibutuhkan paling
singkat waktunya adalah 3,5 tahun sampai 4 tahun.

Kedua, auditor yang disediakan lembaga penyuplai SDM dengan auditor yang
dibutuhkan industri mengalami mis-match kualifikasi. Idealnya seorang auditor syariah
memiliki kemampuan yang integrative antara pengetahuan umum, syariah, dan bisnis industri
kontemporer. Sehingga saat ini yang mengaudit Laporan Keuangan (audit umum) adalah
Auditor Umum dan yang di sisi syariah adalah Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Ketiga, saat ini di Indonesia yang berperan sebagai auditor syariah adalah DPS. DPS
inilah yang melakukan fungsi pengawasan terhadap pemenuhan prinsip syariah di LKS.
Namun, dalam melaksanakan tugasnya, standar mekanisme kerja DPS dalam LKS belum ada.
Opini yang DPS keluarkan sifatnya umum, belum terstruktur, belum seragam dan belum
memiliki klasifikasi layaknya opini auditor umumnya (seperti wajar tanpa pengecualian,
wajar dengan pengecualian, tidak wajar dan tidak memberikan opini). Opini yang dibuat
masih berdasar inovasi dan inisiatif DPSnya sendiri.

Dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan SDM kita bisa mengadopsi usulan
Nor Aishah Mohd Ali, dkk yang dalam jurnalnya (2015) mengusulkan ada tiga hal yang harus
dimiliki auditor, memiliki pengetahuan yang memadai di bidang umum dan syariah, terampil
di bidang yang digeluti dan berkarakter.

Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi sebagai Lembaga Penyuplai SDM harus


memenuhi kewajiban tridharma perguruan tinggi UU No 12 tahun 2012 yang
diimplementasikan dalam menyelenggarakan pendidikan melalui pendidikan akademik,
pendidikan vokasional dan pendidikan profesi. Dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut

21
ada tiga konsen yang harus dipenuhi perguruan tinggi yaitu bidang pendidikan, penelitian,
dan pengabdian masyarakat.

Perguruan tinggi sebagai lembaga penyuplai SDM harus menyediakan pendidikan


yang dapat melahirkan auditor- auditor syariah di masa depan dengan kurikulum yang sesuai
kompetensi auditor syariah. Kurikulumnya harus meliputi pengetahuan umum dan
pengetahuan syariah yang bersifat komprehensif dan pendalaman keterampilan teknis. Bahan
ajar dalam kurikulum yang dibutuhkan ini bisa didapat dari penelitian-penelitian yang
dilakukan oleh para civitas akademis di lembaga pendidikan tersebut. Sehingga kurikulum
yang diberikan dalam kegiatan pendidikan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan
industri. Perpaduan pendidikan, penelitian dan pengabdian dalam perguruan tinggi yang
dijalankan secara seimbang mampu melahirkan SDM yang memiliki intelektual, visi inovasi
dan berdaya bagi masyarakat sehingga mampu menciptakan kualitas kehidupan yang semakin
baik dalam bidang apapun.

SDM yang terampil dan berkarakter adalah SDM yang mampu menerapkan ilmu yang
dimilikinya dalam bidang yang ia geluti dan memiliki karakter yang baik. Keterampilan bagi
SDM ini dapat diperoleh dari lembaga informal. Lembaga informal seperti pelatihan ini dapat
memberikan pemahaman yang mendalam tentang wawasan dan skill akuntansi dan syariah
seorang SDM, sehingga nantinya SDM tersebut dapat terampil dan profesional di bidangnya.
Untuk itu dibutuhkan juga peran lembaga pelatihan dan lembaga sertifikasi. Pelatihan-
pelatihan yang dilakukan pun dapat diselenggarakan oleh entitas itu sendiri, yaitu pelatihan
dari senior auditor kepada junior auditornya. Sehingga auditor junior memiliki keterampilan
sesuai dengan kebutuhan bidang yang ia geluti. Lembaga sertifikasi contohnya Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI). IAI sudah mengeluarkan sertifikasi akuntansi syariah. Harapannya
kedepan IAI juga membuka sertifikasi bagi auditor syariah. sehingga nantinya auditor syariah
yang ada lebih berkualitas.

Sedangkan karakter dalam diri setiap individu SDM yang dapat menjadi pembeda
antara individu satu dengan yang lain, contohnya adalah kemampuan berkomunikasi,
negosiasi dll. Karakter atau kepribadian ini dapat dibangun di pendidikan formalnya, melalui
kurikulum yang ada di lembaga perguruan tinggi. Selain itu juga dapat dibangun dari
lingkungan dan pendidikan informal. Saat ini banyak lembaga informal yang membuka kelas
kepribadian bagi SDM yang ingin menjadi pribadi yang berkarakter.

22
Mengatasi tugas, mekanisme kerja dan klasifikasi opini DPS, harapannya ada regulasi
dari pihak yang berwenang yang mengatur bagaimana tugas, mekanisme kerjanya dan
kualifikasi opini auditor syariah, seperti layaknya audit yang ada saat ini. Dalam hal ini
dibutuhkan sinergi antara DPS dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia (DSN MUI) selaku yang mengeluarkan fatwa syariah. Sehingga segala sesuatunya
dapat terarah dan terstruktur rapi.

Dengan ketiga problem tersebut teratasi maka fungsi auditor syariah sebagai pihak
yang menjembatani kepentingan kedua belah pihak, management dan stakeholder dalam
masalah keagenan dapat terlaksana. Untuk itu auditor syariah (DPS Indonesia) sebagai
tumpuan dari para stakeholder terkait pemenuhan prinsip syariah LKS harus melakukan
pengawasan ex-ante auditing dan ex-post auditing, tidak hanya sebatas mengawasi saat
peluncuran produk. Tetapi, juga memastikan praktik tersebut sesuai dengan prinsip syariah.
Sehingga nantinya dapat menghasilkan opini yang tidak menyesatkan para stakeholder saat
proses pengambilan keputusan. Selain itu, pengawasan dari pangkal hingga ujung dalam
proses audit syariah, mampu menekan risiko ketidakpatuhan syariah, dan meningkatkan
kepercayaan masyarakat. Yang akhirnya market share entitas syariah pun meningkat.

2.11 Independensi DPS dan Auditor Pada Bank Syariah


Pentingnya independensi auditor pada dasarnya berasal dari kebutuhan untuk
memberikan kredibilitas laporan keuangan organisasi, sehingga semakin independen seorang
auditor maka laporan keuangan tersebut semakin kredibel, dan semakin dipercaya para
pengguna laporan keuangan khususnya investor. Beberapa studi empiris menunjukkan ada
hubungan yang erat antara independensi auditor dan ketergantungan investor pada Laporan
Keungan yg telah diaudit dalam mengambil keputusan keuangan. (misalnya Lavin, 1977;
Lavin dan Libby, 1977; Firth, 1980; Dykxhoorn dan berbuat dosa, 1982)
Tidak seperti bank pada umumnya, bank syariah memiliki Dewan Pengawas Syariah
(DPS), yang salah satu peran DPS yaitu memberikan laporan kepada pengguna laporan
keuangan, yang menyatakan bahwa bank telah menaati syariat islam dalam transaksinya.
Independensi yang dirasakan dari DPS penting bagi para pengguna laporan keuangan.
Saat ini di Indonesia, badan pengawas untuk audit transaksi syariah dan audit laporan
keuangan masih dilakukan secara terpisah. Untuk pengawasan transaksi syariah pada bank
syariah dilakukan oleh DPS, dimana DPS menentukan syarat yang harus diikuti oleh bank

23
dalam semua transaksi keuangan. Kemudian untuk audit laporan keuangan dilakukan oleh
Auditor Eksternal.
Tidak seperti auditor eksternal, anggota DPS adalah karyawan bank dan digaji oleh
bank. Anggota DPS ditunjuk oleh dan melaporkan kepada manajemen serta pemegang saham
bank. DPS juga memiliki hak akses ke ke semua dokumen dan catatan yang dipandang perlu
dalam melaksanakan tugasnya dalam membuat laporan khusus yang diterbitkan berbarengan
dengan laporan tahunan auditor eksternal. Sama seperti Auditor Eksternal yang mengeluarkan
laporan berbentuk opini yang menginformasikan bahwa laporan keuangan wajar atau tidak
wajar, untuk laporan DPS dimaksudkan untuk memberikan kredibilitas informasi dalam
laporan keuangan dari perspektif agama.
Independensi DPS cenderung berasal dari komitmen yang mendalam mereka untuk
ajaran Islam. Hubungan karyawan tampaknya tidak menghasilkan keraguan signifikan
tentang kemerdekaan anggota DPS. Beberapa pengguna laporan keuangan seperti pemegang
saham, akuntansi dan nasabah pembiayaan merasakan bahwa nilai-nilai agama menjadi
norma utama, mereka mengakui bahwa kepercayaan tidak hanya dilihat dari independensi,
tetapi juga dilihat dari pendalaman agama seorang DPS.
Auditor harus mampu melaporkan setiap pelanggaran dan kesalahan ditemukan dalam
sistem akuntansi dan harus memiliki kewenangan yang cukup untuk mengabaikan tekanan
klien. Moizer (1985) berpendapat bahwa auditor yang dianggap independen akan lebih
dihargai oleh pasar dan meningkatkan daya jual.
Untuk seorang DPS, kegagalan untuk menjaga Hukum Islam harus dibalas dengan
beban moral, dan ini jauh lebih besar dari hilangnya pendapatan ekonomi. Sama seperti
auditor eksternal yang harus menjaga etika profesi dan tanggung jawab sosial, di mana DPS
juga harus menjaga nilai-nilai moral agama. Jadi seorang DPS harus mengabaikan
kepentingan/keinginan agar bank syariah terus berkembang, tetapi digadaikan dengan
mengabaikan pelanggaran syariat dalam bank syariah. Menurut Karim R. (1990) dampak
yang terjadi bisa lebih besar apabila seorang DPS mengabaikan pelanggaran pada bank
syariah, karena tidak hanya DPS dan Bank tersebut yang tercoreng namanya, tetapi juga lebih
luas lagi yaitu agama islam.
Karim R. (1990) mengkatagorikan pemegang saham di Bank Syariah yaitu:
Pertama, pemegang saham yang memiliki saham yang besar, dapat mengontrol
manajemen bank memiliki hak suara yang kuat, investasi nya bersifat jangka panjang.

24
Mereka akan memastikan bahwa bank dapat mencapai tujuannya dengan baik,
mempertahankan klien bank dan menarik pelanggan yang potensial.
Kedua, pemegang saham yang memiliki komitmen kuat dengan islam dengan
menginvestasikan sumber daya mereka kepada lembaga-lembaga islam, tidak
memiliki mayoritas hak suara. Jika bank tidak menjalankan bisnisnya sesuai dengan
syariah bisanya mereka akan menarik saham mereka dan akan mempengaruhi nilai
bank di pasar modal. Pada kelompok ini manajemen bank syariah akan berusaha agar
bank sesuai dengan prinsip syariah, agar pemegang saham bisa tetap berinvestasi.
Ketiga, pemegang saham yang berinvsetasi di saham islami bukan karena alasan
ekonomi dan tanpa memperhatikan aspek keagamaan, dan tidak memiliki mayoritas
suara dan biasanya investasi jangka pendek. Kelompok ini tidak memperdulikan hasil
laporan dari DPS dan tidak akan bereaksi negative jika Bank tidak mematuhi prinsip
syariah.
Kredibilitas informasi dipengaruhi oleh rasa independensi DPS dan auditor eksternal.
Independensi DPS dipengaruhi oleh nilai-nilai moral, sedangkan Independensi Auditor
Ekternal sebagian dipengaruhi oleh etika profesi, dan independensi mereka akan
mempengaruhi kredibilitas laporan keuangan sebuah Bank Syariah yang saat ini terus
berkembang pesat di dua dekade terakhir ini.

2.12 Tantangan Peningkatan Kualitas Oleh Dps


Dalam dunia perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah non-bank, Dewan
Pengawas Syariah (DPS) memiliki kendali yang penting dan strategis dalam penerapan
prinsip dan nilai syariah. Sebagaimana yang diterapkan oleh Accaunting and Auditing
Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI), bahwa DPS bertanggung jawab
untuk memberi kepastian bahwa seluruh produk dan operasional lembaga keuangan syariah
sesuai dengan prinsip syariah.
Di Indonesia, adanya DPS dalam lembaga keuangan syariah merupakan sebuah
keharusan. Sesuai dengan UU No. 21 Thn. 2008 Perbankan Syariah dan UU. No.40 Thn.
2007 Perseroan Terbatas. Maka peran DPS mendapatkan posisi yang kuat, penting dan
strategis dalam sebuah lembaga keuangan syariah.
Berkaca pada penelitian Bank Indonesia (2008), peran Dewan Pengawas Syariah
belum optimal dalam penerapan manajemen risiko di perbankan syariah. Apabila kinerja DPS
dalam pengawasan terhadap produk dan praktik syariah tidak optimal sehingga menimbulkan
pelanggaran, maka masyarakat dan konsumen akan memiliki citra dan kredibilitas yang

25
negatif terhadap perusahaan yang bersangkutan. Sehingga kepercayaan masyarakat dan
konsumen menurun serta menghambat laju perkembangan perbankan syariah di Indonesia.
Hal ini menjelaskan pula bahwa dalam menghadapi sistem keuangan, resiko terbesarnya
adalah hilangnya kredibilitas dan kepercayaan dalam operasionalnya, bukan kesalahan dalam
menciptakan laba.
Beberapa anggota dewan syariah hanya memenuhi syarat dalam bidang Fiqh dan
hukum Islam daripada hukum, ekonomi, keuangan atau akuntansi, dan cenderung untuk
bersandar pada putusan sederhana ulama Islam sebelumnya (Iqbal dan Molyneux, 2005). Hal
ini adalah salah satu penyebab utama tidak optimalnya kinerja DPS. Seorang DPS haruslah
seorang ilmuwan yang bereputasi tinggi dengan pengalaman memadai di bidang hukum,
ekonomi dan sistem perbankan khususnya dalam hukum dan keuangan syariah islam (Dubai
Islamic Banking, 2000).
Berdasarkan kualifikasi DPS tersebut, maka perbankan syariah perlu melaksanakan
restrukturisasi dengan pengangkatan DPS dari ilmuwan yang berintegritas dan kompeten di
bidang keuangan syariah. Agar DPS dapat melaksanakan tugasnya dengan optimal dan dapat
dipertanggungjawabkan serta memperoleh citra positif dari masyarakat, sehingga dapat
membantu pengembangan perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah di Indonesia.
Selain restrukturisasi, diperlukan adanya pelatihan untuk DPS seperti training yang
diselenggarakan AAOIFI (Accaunting and Auditing Organization for Islamic Financial
Institutions) sejak tahun 2008 dalam meningkatkan keterampilan praktisi keuangan syariah
yaitu Certified Islamic Professional Accountant (Islamic accounting), and Certified Sharah
Advisor and Auditor (Sharah supervisory). Begitupula di Indonesia telah memiliki Lembaga
Sertifikasi Profesi Keuangan Syariah (LSPKS) yang telah resmi didirikan dan telah
melakukan sertifikasi kompetensi guna meningkatkan keahlian sumber daya manusia di
industri syariah khususnya perbankan syariah sejak 18 Mei 2016.
Langkah selanjutnya yaitu mengedukasi masyarakat dan konsumen tentang urgensi
peran DPS dalam suatu lembaga. Konsumen perlu mengetahui anggota siapa saja DPS dan
apa saja tugas serta wewenang mereka. Agar timbul suatu kepercayaan konsumen terhadap
produk dan akad yang diberikan oleh perbankan syariah. Dengan ini konsumen akan
menyadari bahwa produk syariah yang mereka gunakan dibawah pengawasan pihak yang
independen dan berkompeten di bidang keuangan syariah.

2.13 Pentingnya Peningkatan Kualitas Pengawasan Syariah

26
Dalam menjaga kesesuaian antara praktek transaksi syariah dengan standar transaksi
syariah yang berlaku, dimana saat ini tidak hanya di terapkan oleh lembaga keuangan bank,
tetapi juga oleh lembaga keuangan non-bank seperti asuransi syariah, leasing syariah, hotel
syariah dan sebagainya. Dibutuhkanlah auditor syariah yang hingga saat ini diperankan oleh
Dewan Pengawas Syariah, guna untuk mengawasi, menilai dan melaporkan jalannya
transaksi syariah tersebut. Dalam melakukan tugasnya, Dewan Pengawas Syariah dituntut
tidak hanya paham transaksi keuangannya saja, melainkan juga harus paham fiqh
muamalahnya. Atau dengan kata lain, seorang Dewan Pengawas Syariah harus memiliki
keahlian dan pengalaman dalam operasi keuangan islam kontemporer.
Namun, hingga saat ini, pengawas syariah yang mengawasi praktek transaksi syariah
terdiri dari latar belakang yang berbeda, yaitu yang hanya paham transaksi keuangan atau
yang hanya paham fiqh muamalahnya saja. Sehingga, hal ini dinilai kurang efisien. Walau
demikian, keberadaan Pengawas Syariah dalam lembaga keuangan syariah sangat diperlukan.
Jika tidak ada Dewan Pengawas Syariah disana, kredibilitas suatu lembaga keuangan syariah
akan dipertanyakan baik oleh seluruh pemegang saham (stakeholder) ataupun seluruh
masyarakat.
Hal ini sejalan dengan temuan-temuan dari Ayedh dan Echchabi (2015) yang
mengungkapkan, bahwa dalam praktiknya, anggota Dewan Pengawas Syariah (SSB) berasal
dari latar belakang pendidikan yang berbeda. Sehingga memiliki perspektif yang berbeda
tentang isu-isu terkini dan karenanya, mengalami kesulitan untuk membentuk Dewan
Pengawas Syariah yang homogen dan Efisien. Selain itu, terdapat kontradiksi antara
standar Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI)
dengan ijtihad Dewan Pengawas Syariah yang mengakibatkan AAOIFI hanya dijadikan
pedoman pendukung dalam melakukan pengawasan.
Hal ini mengindikasikan, dalam hal kualitas pengawasan syariah masih dikatakan
kurang optimal, baik itu dari efisiensinya maupun dari kinerjanya. Untuk itu, diperlukan
sebuah usaha untuk merevitalisasi dan meningkatkan pengawasan syariah.
Pada dasarnya, Dewan Pengawas Syariah memiliki peranan penting dalam
meminimalisir dan menghindari adanya kemungkinan penyimpangan atas kepatuhan prinsip-
prinsip syariah dalam mencapai tujuan perusahaan. Melalui pengawasan tersebut, Dewan
Pengawas Syariah diharapkan dapat membantu mengevaluasi dan mendeteksi mengenai
sejauh mana penyimpangan yang terjadi dalam mengevaluasi kepatuhan atas prinsip-prinsip
syariah tersebut. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah diharapkan dapat memfokuskan

27
dirinya dalam mengembangkan dan mengawal agar produk dan aktivitas lembaga keuangan
syariah yang diawasinya selalu berjalan sesuai dengan syariah. (Umam, 2015)
Jika sebuah kerangka umum dapat dilakukan secara selaras dan bersatu, itu akan
meningkatkan hasil (output) dari Dewan Pengawas Syariah. Namun prakteknya, sangat sulit
menyatukan fatwa terkait dengan kasus lembaga keuangan syariah modern ini, karena setiap
kasus memiliki karakteristik dan keadaan yang berbeda. Walau demikian, harmonisasi
praktek-praktek Dewan Pengawas Syariah harus terus dikejar. Supaya independensi,
integritas dan Pengawasan Syariah dapat terus dipertahankan.
Oleh Karena itu, untuk dapat meningkatkan kualitas pengawasan syariah, perlu
terlibatnya bagian lain baik itu pengawasan internal maupun eksternal dalam membantu
Dewan Pengawas Syariah dalam melakukan pengawasan; pelatihan up-to-date secara terus-
menerus; dibuatnya konsep kurikulum jenjang pendidikan keuangan islam kontemporer yang
memadai; dibentuknya sekolah profesi untuk menjadi Dewan Pengawas Syariah;
mempekerjakan sarjana keuangan islam kontemporer yang berkualitas sebagai anggota
Dewan Pengawas Syariah; serta adanya sertifikasi hingga level akhir bagi seluruh Dewan
Pengawas Syariah yang melakukan pengawasan di lembaga keuangan syariah. Peningkatan
kualitas ini dimaksudkan agar Pengawasan Syariah dapat memberikan kontribusi yang lebih
baik lagi dan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan juga standar yang berlaku dalam
melakukan tugasnya. Sehingga kinerja yang dihasilkan oleh lembaga keuangan syariah juga
menjadi lebih baik lagi.

2.14 Review Audit Syariah Pada Negara Lain


Dunia bisnis dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Mereka saling
berlomba mendapatkan apa yang mereka sebut dengan profit. Sehingga berbagai macam cara
mereka tempuh demi pertumbuhan bisnisnya. Untuk memastikan bisnisnya berjalan dengan
sehat, maka perlu dilakukan sebuah pemeriksaan menyeluruh terkait dengan bisnisnya.
Pemeriksaan ini akan berdampak pada kepercayaan customer dan going
concern perusahaannya. Pemeriksaan yang dilakukan tersebut dikenal dengan istilah Audit.
Siapakah yang seharusnya melakukan audit? Idealnya, audit dilakukan oleh setiap
individu dalam kehidupannya. Jika setiap individu melakukan proses audit dalam hidupnya,
maka penyimpangan-penyimpangan yang terjadi akan sirna, karena kesadaran akan
kesehatan kehidupannya.
Pemenuhan syariah islam dalam kehidupan sudah seharusnya menjadi pokok dalam
melakukan segala aktivitas apapun. Seiring dengan berkembangnya perbankan syariah, maka

28
muncul fungsi audit baru yaitu audit syariah dimana audit ini bertujuan memastikan suatu
institusi syariah telah melaksanakan kegiatan bisnisnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Menurut (Haniffa, 2010), auditing syariah tidak hanya memeriksa laporan keuangan, tetapi
juga melakukan tes kepatuhan syariah di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) menurut fatwa
dan pedoman Dewan Pengawas Syariah (SSB). Maka lingkup audit syariah lebih luas
daripada audit konvensional.
Dalam perbankan syariah, tanggung jawab inti dalam membimbing dan mengawasi
operasi perbankan syariah agar tidak menyimpang dari kepatuhan syariah terletak
pada Syariah Advisor (SA) dan Anggota Dewan Syariah Lembaga Keuangan Islam. Dalam
hal ini Dewan Syariah akan membutuhkan bantuan SA untuk meninjau operasi Lembaga
Keuangan Syariah (LKS) secara periodik mengenai kepatuhan terhadap syariahnya untuk
memastikan bahwa semua produk dan jasa yang ditawarkan LKS sesuai dengan aturan dan
prinsip-prinsip syariah.
Di setiap negara, SA dan pedoman dalam menjalankan fungsi audit syariah mempunyai
istilah masing-masing. Misalnya di Malaysia, Syariah Advisor (SA) dikenal dengan
nama Sharia Committee atau Sharia Suvervisory Council (SSC) dan Laporan audit syariah di
Malaysia berpedoman kepada GP8-i yang dikeluarkan oleh Bank Negara Malaysia (BNM).
Di Pakistan, Syariah Advisor (SA) dikenal dengan nama Syariah Advisor (SA) dan pedoman
yang digunakan dalam penyusunan laporan audit mengacu pada persyaratan yang dikeluarkan
oleh Bank Negara Pakistan atau State Bank of Pakistan dan beberapa persyaratan AAOIFI.
Kemudian Di Bahrain, Syariah Advisor (SA) dikenal dengan nama Shariah Suvervisory
Board (SSB) dan laporan auditnya berpedoman secara ketat kepada persyaratan AAOIFI.
Sedangkan di Indonesia, Syariah Advisor (SA) dikenal dengan nama Dewan Pengawas
Syariah (DPS) dan berpedoman kepada Fatwa Dewan Syariah Nasional (Fatwa DSN) yang
dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) syariah yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).
Setelah proses audit dilakukan, hasilnya akan ditampilkan dalam sebuah
Laporan/Review Audit Syariah dimana tujuannya untuk memastikan semua aktivitas yang
dilakukan oleh LKS benar-benar telah sesuai dengan aturan dan peraturan syariah yang
tercermin dalam keputusan SA. Review ini diawali dengan prosedur perencanaan review,
pelaksanaan review, persiapan dan kertas kerja review, mendokumentasikan kesimpulan, dan
akhirnya prosedur penyusunan Laporan/Review Audit Syariah. Prosedur-prosedur ini
haruslah tersaji dalam Laporan/Review Audit Syariah.

29
Selain dari prosedur-prosedurnya yang harus ditampilkan, Laporan/Review Audit
Syariah juga harus memuat kebijakan bisnis LKS, produk dan aktivitas LKS, perhitungan dan
pembayaran zakat, kontrak dan perjanjian LKS, sumber daya manusia dan pembangunan,
serta kegiatan sosial (amal) LKS. Ruang lingkup pengungkapan ini akan mempengaruhi
kualitas informasi Laporan /Review Audit Syariah yang berguna bagi pengambilan keputusan
pemegang saham dan pengguna lain, sehingga sangatlah penting mengungkapkan hal-hal
tersebut dalam Laporan /Review Audit Syariah. Kelengkapan lain dari Laporan/Review Audit
Syariah adalah elemen-elemen dari laporan tersebut, di antaranya:
Judul Laporan
Menurut AAOIFI, laporan audit syariah harus mempunyai judul yang tepat untuk
menginformasikan kepada pengguna laporan keuangan. Laporan audit syariah ini
ditempatkan pada laporan tahunan LKS.
Penerima Laporan Audit Syariah
Paragraf yang menjelaskan untuk siapa laporan audit ini ditujukan harus dicantumkan dalam
Laporan Audit Syariah.
Paragraf pembuka
Pada bagian ini, mereka harus mengidentifikasi tujuan keterlibatan dan menggambarkan sifat
pekerjaan yang dilakukan serta adanya pernyataan yang jelas mengenai manajemen LKS
yang bertanggung jawab untuk melakukan audit Syariah dengan benar sesuai aturan dan
prinsip syariat Islam.
Ruang lingkup pekerjaan Audit yang dilakukan
Paragraf ini berisi tentang pekerjaan audit yang dilakukan dalam menguji transaksi dan
kegiatan LKS, seperti melakukan tes, prosedur, dan peninjauan proses kerja yang sesuai.
Opini tentang kepatuhan LKS terhadap aturan dan prinsip syariah
Bagian utama dari Laporan audit syariah adalah opini SA tentang kepatuhan LKS. Opini ini
merupakan hasil pemeriksaan kontrak dan bukti audit lainnya yang telah dilakukan oleh SA.
Ketika terjadi pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap syariah, maka hal tersebut harus
dinyatakan dalam Laporan Audit.
Tanggal Laporan dan Tanda tangan Dewan Pengawas Syariah

Laporan/Review Audit Syariah di Malaysia, Pakistan, dan Bahrain


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, setiap negara memiliki pedomannya
masing-masing dalam mengungkapkan laporan Audit syariah. Jika dilihat dari lingkup audit

30
yang harus diungkapkan dalam laporan audit syariah, berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh (Aimi et al., 2015) dengan objek penelitian tiga negara yaitu Malaysia, Pakistan, dan
Bahrain dimana Malaysia diwakili oleh Bank Islam Malysia Berhad, Pakistan diwakili oleh
Meezan Bank, sedangkan Bahrain diwakili oleh Albaraka Bank, hasilnya menunjukkan
Pakistan memiliki pendekatan yang lebih unggul dibanding Malaysia dan Bahrain karena
laporan audit syariahnya memberikan informasi yang relevan dan berguna bagi pemegang
saham serta pengguna lain, dimana dalam laporannya diungkapkan tentang kegiatan,
transaksi, dan operasi bank secara menyeluruh.
Adanya audit di LKS ini, khususnya audit syariah memberikan suatu kepercayaan
bagi masyarakat untuk terus bertransaksi dan terlibat dalam aktivitas LKS. Ketika hasil
auditnya telah sesuai dengan aturan syariah dan full disclosure, maka kepercayaan
masyarakat terhadap LKS tersebut akan meningkat. Dalam rangka meningkatkan
kepercayaan masyarakat dan mencapai tujuan dasar LKS, regulator LKS di negara-negara
lain harus mengikuti langkah Bank Negara Pakistan dalam menekankan pengungkapan
informasi yang relevan pada Laporan Audit Syariah LKS. Selain itu, agar laporan audit dapat
memberikan informasi yang relevan dan berguna yaitu dengan memiliki kerangka audit
syariah untuk memastikan efektivitas tujuan kepatuhan syariah di LKS yang akan
memberikan kontribusi positif untuk masyarakat pada umumnya (Kasim, Mohamad Ibrahim,
& Sulaiman, 2009). Pun tak bisa dipungkiri, untuk mendapatkan pengungkapan yang lebih
transparan, haruslah ditekankan kepada regulator sebagai pembuat pedoman laporan. Karena
jika tidak ada pedoman yang mewajibkan pengungkapan suatu informasi, LKS hanya akan
menampilkan informasi minimum yang disediakan oleh regulator (Aimi et al., 2015).
Maka untuk Indonesia yang baru menampilkan opini audit syariahnya saja,
diharapkan untuk menyajikan pula ruang lingkup serta elemen pengungkapan secara lengkap
agar kualitas laporan/review Audit syariah dapat diandalkan dan relevan bagi pengambilan
keputusan para pengguna. Hal ini dikembalikan lagi kepada regulator untuk menyusun
standarisasi laporan/review Audit syariah dengan mewajibkan pengungkapan item-item yang
ada dalam ruang lingkup pengungkapan laporan/review Audit syariah, sehingga setiap LKS
menyajikannya secara transparan.

31
BAB II
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Arti umum Audit Syariah adalah untuk melihat dan mengawasi, mengontrol dan
melaporkan transaksi, sesuai aturan dan hukum Islam yang bermanfaat, benar, tepat waktu
dan laporan yang adil untuk pengambilan keputusan. Bukan tugas yang mudah untuk
melakukan audit syariah di dalam kondisi kapitalistik dan sistem keuangan konvensional
yang kompetitif. Masalah ini lebih diperparah oleh penurunan nilainilai moral, sosial dan
ekonomi Islam di Negara-negara yang menganutnya termasuk Indonesia, di bawah tekanan

32
progresif penjajahan dan dominasi budaya dunia barat selama beberapa abad lalu. Hal ini
menyebabkan diabaikannya nilai sosial ekonomi Islam oleh beberapa kalangan dari Lembaga
Keuangan Syariah.
Audit syariah merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh bukti yang
cukup dan relevan untuk membentuk opini apakah subyek yaitu personil, proses, kinerja
keuangan serta non-keuangan konsisten dengan aturan Syariah dan prinsip-prinsip yang
diterima secara luas oleh masyarakat Islam dan melaporkan kepada pengguna3 Penilaian
independen dan jaminan obyektif yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan
tingkat kepatuhan lembaga keuangan syariah, dengan tujuan utama untuk memastikan
sistem pengendalian internal yang efektif dan untuk kepatuhan syariah.
Dr. Hudeib menyampaikan setidaknya terdapat 4 isu utama yang menjadi tantangan
penerapan pengawasan audit syariah pada lembaga keuangan syariah. Meliputi masih
terpisahnya pelaksana audit syariah dengan konvensional, masih lemahnya independensi
auditor syariah, kurang jelasnya ruang lingkup audit syariah, dan kompetensi serta kualifikasi
dari pelaksanaan audit itu sendiri yang masih perlu ditingkatkan.
Untuk menjawab tantangan dan problem yang ada maka seorang auditor syariah
diharuskan untuk memahami lingkup kerja dan peran serta hak dan kewajibannya dalam
melakukan pemeriksaan yang efektif, sehingga opini yang diberikan pun bisa memberikan
rasa aman dan nyaman bagi para stakeholder lembaga keuangan syariah.

Terdapat permasalahn yang dalam Audit syariah, dimana tidak dapat mengimbangi
antara pertumbuhan kualitas SDM audit syariah dengan pertumbuhan LKS nya. Terdapat tiga
hal utama. pertama, auditor syariah jumlahnya terbatas, karena lembaga penyuplai SDM
berkualitas belum mampu memenuhi kebutuhan industri Kedua, auditor yang disediakan
lembaga penyuplai SDM dengan auditor yang dibutuhkan industri mengalami mis-
match kualifikasi. Ketiga, saat ini di Indonesia yang berperan sebagai auditor syariah adalah
DPS.

Dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan SDM kita bisa mengadopsi usulan
Nor Aishah Mohd Ali, dkk yang dalam jurnalnya (2015) mengusulkan ada tiga hal yang harus
dimiliki auditor, memiliki pengetahuan yang memadai di bidang umum dan syariah, terampil
di bidang yang digeluti dan berkarakter.

3.2. Saran

33
Kami mengetahui bahwasanya penulisan paper ini masih banyak yang kurang dan
kemungkianan tidak memnuhi materi yang sesuai yaitu Comprensive Defelopment of Audit
Researc, sehingga kritik dan sarannya sangat kami butuhkan

DAFTAR PUSTAKA

A.A.R.. 1990. The Independence of Religious and External Auditors: The Case of Islamic
Banksr, Accounting, Auditing and Accountability. Journal, Vol. 3, No. 3.

Alvin. A. and James. K. Loebbecke. r2000. Auditing an Integrated Approach (8th edition).
Englewood Cliff, New Jersey: Prentice Hall International, Inc.r

34
Afflanda, Thio Harbinadli. 2016. Tantangan Dewan Pengawas Syariah dalam Meningkatkan
Kualitas Kinerja. http://www.dakwatuna.com/2016/11/07/83376/tantangan-dewan-
pengawas-syariah-meningkatkan-kualitas-kinerja/#ixzz4gNfvipyC[7 Mei 2017].

Agustianto. 2011. Meningkatkan kualitas dan kompetensi Dewan Pengawas Syariah.


[Online]. Tersedia: http://www.agustiantocentre.com/?p=830 Html [7 Mei 2017].

Arianti, Neng Evi Silvia. 2016. Berkaca Dari Laporan atau Review Audit Syariah di
Berbagai Negara. http://www.dakwatuna.com/2016/10/17/82972/berkaca-laporan-
review-audit-syariah-berbagai-negara/#ixzz4gLStmGE7[7 Mei 2017].

Aimi, N., Puad, M., Rafdi, N. J., Shukeri, S. N., Jaliah, N., & Rashid, R. 2015. Analysis Of
Shariah Audit / Review Report:, 2015(November), 489499.

Arens, Alvin. A., Randal J. Elder, and Mark S. Beasley. (200. Auditing and assurance
services: An Integrated approach (9th edition). Upper Saddle River, New Jersey:
Pearson Education, Inc.

Ayedh, Abdullah Mohammed dan Abdelghani Echchabi. 2015. Shariah supervision in the
Yemeni Islamic banks: a qualitative survey. Qualitative Research in Financial
Markets, Vol. 7 Iss 2 pp. 159 172.

Hayati, Nur. 2015. Menjawab Problematika SDM Audit Syariah di Indonesia.


http://www.dakwatuna.com/2016/11/15/83595/menjawab-problematika-sdm-audit-
syariah-indonesia/#ixzz4gLNPAuPF [7 Mei 2017].

Haniffa, R. 2010. Auditing Islamic Financial Institutions. QFinance Newsletter, 14.


Retrieved from http://www.qfinance.com/auditing-best-practice/auditing-islamic-
financial-institutions?full[7 Mei 2017].

Khan, Tahrim Noor. 2015. Enchancing Islamic Financial Brand: Shariah Board Theoretical
Conceptual Famework. Journal. June 2015, Vol. 3, No. 1, pp. 62-72.

Lukito, Shellvy. 2016. Urgensi Peran Auditor Syariah.


http://www.dakwatuna.com/2016/10/12/82910/urgensi-peran-auditor-
syariah/#ixzz4gLKKgJQE [7 Mei 2017].

Mardiyah, Qanita, dan Sepky Mardian.2015. Praktik Audit Syariah di Lembaga Keuangan
Syariah di Indonesia. Akuntabilitas: Journal of Accounting Studies 8.1:01-17.
Laporan Triwulanan II tahun 2016 Otoritas Jasa Keuangan

35
Mardian, Sepky. 2013. Auditor Syariah: Lulusan Syariah atau Lulusan Akuntansi. Jurnal
Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, 13.1: 179-198, ISSN 1411-
6154.

Mardian, S., & Mardiyah, Q. 2015. Praktik Audit Syariah di Lembaga Keuangan Syariah
Indonesia. Akuntabilitas: Vol. VIII No. 1, 1-17.

Mitsalina, Dina. 2016. Ruang Lingkup Audit Syariah di Negara Berkembang.


http://www.dakwatuna.com/2016/10/28/83206/ruang-lingkup-audit-syariah-negara-
berkembang/#ixzz4gLRehkfy [7 Mei 2017].

Mohd Ali,N.A, Muhamed,Z.M, Shahimi, Shahida, & Shafii, Zurina. Competency of Shariah
Auditor in Malaysia: Issues and Challenges. IIUM: Journal of Islamic Finance 4.1
(2005): 022-030.

Mohamad Puad, Noor Aimi., Rafdi, Nurauliani Jamlus., Shukeri, Siti Norwahida., Ramino
Rashid, Nurul Jaliah. 2015. International Journal. Analysis Of Shariah Audit/Review
Report:Malaysia,Pakistan and Bahrain

OJK (2015) Statistik Perbankan Syariah www.ojk.go.id/dl.php?i=4590&f=1 (statistik-


perbankan-syariah-april-2015)

Rizky, Muhammad Afrizal. 2016. Menakar Peran Auditor Syariah di Indonesia


http://www.dakwatuna.com/2016/10/25/83106/menakar-peran-auditor-syariah-
indonesia/#ixzz4gLJ0jRbP [7 Mei 2017].

Rahman, A. R., & Ghani, N. L. 2015. An Analysis of Shariah Audit Practices in Islamic
Banks in Malaysia. Jurnal Pengurusan 43(2015), 107-118

Setiabudi, Agung. 2016. Isu dan Tantangan Kompetensi Auditor Syariah .


http://www.dakwatuna.com/2016/10/28/83202/isu-dan-tantangan-kompetensi-auditor-
syariah/#ixzz4gLE2QWtT [7 Mei 2017].

Sukmana, Adi Angga. 2015 Independensi DPS dan Auditor pada Bank Syariah.
http://www.dakwatuna.com/2015/11/05/76590/independensi-dps-dan-auditor-pada-
bank-syariah/#ixzz4gLQ4DZd4 [7 Mei 2017].

Syifaulqulub, Daiyah .2016. Kesesuaian Praktik Audit Secara Syariahr.


http://www.dakwatuna.com/2016/11/07/83371/kesesuaian-praktik-audit-secara-
syariah/#ixzz4gLR7laOC [7 Mei 2017].

36
Umam, Khotibul. 2015. Urgensi Standarisasi Dewan Pengawas Syariah dalam
Meningkatkan Kualitas Audit Kepatuhan Syariah. Jurnal Perhimpunan Mahasiswa
Hukum Indonesia Cabang D.I.Y. Vol. 1, No. 2 pp. 114 138

Wulantika,Anggraita Ria. 2016. Pentingnya Meningkatkan Kualitas Pengawasan Syariah.


http://www.dakwatuna.com/2016/10/28/83193/pentingnya-meningkatkan-kualitas-
pengawasan-syariah/#ixzz4gLRwdIav [7 Mei 2017].

Zanariyatim, Apip. 2015. Pentingnya Auditor Syariah di Indonesia.


http://www.dakwatuna.com/2015/11/18/76973/pentingnya-auditor-syariah-di-
indonesia/#ixzz4gLKspYFI[7 Mei 2017].

37