Anda di halaman 1dari 10

AKUNTANSI MUSYARAKAH

A.PENGERTIAN MUSYARAKAH Musyarakah adalah akad kerja sama dianatra pemilik modal yang mencampurkan modal mereka untuk tujuan mencari keuntungan.Dalam musyarakh mitra dan bank sama-sama menyediakan modal untuk meambiayai suatu usaha tertentu, baik yang sudah berjalan maupun baru. Selanjutnya mitra dapat mengemhabalikan modal tersebut berikut bagi hasil yang telah disepakati secara bertahap atau sekaligus pada bank. Pembiayaan musyarakh dapat diberikan dalam bentuk kas,setara kas,atau aktiva non kas,termasuk aktiva tidak berwujud,seperti lisensi dan hak paten. Karena setaip mitra tidak dapat menjamin modal mirtra lainya,maka setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang disengaja.Beberapa hal yang menunjukan adanya kesalahan yang disengaja ialah: pelanggaran terhadap akad antara lain penyalahgunaan dana pembiayaan,manipulasi biaya dan pendapatan operasianal,pelaksanaan yang tidak sesuai dengan perinsif syariah. Jika tidak adanya kesepakatan antara pihak yang bersangkutan kesalahan yang disengaja harus dibuktikan berdasarkan badan arbitrase atau pengadilan. Laba musyarakah dibagi daintara para mitra,baik secara proprsional sesuai besrnya modal yang disetorkan (baik berupa kasa maupun aktiva lainnya) atau sesuai nisbah yang disepakti oleh semua mitra. Sedangkan rugi dibebankan secara proporsional sesuai dengan besarnya modal yang disetorkan. Musyarakah dapat brsifat musyarakah permanen maupun menurun. Dalam musyarakah permanen,bagian modal setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. Sedangkan dalam musyarakah menurun, bagian modal bank akan dialihkan secara bartahap kepada mitra sehingga bagian modal bank akan menurun dan pada akhir masa akad mitra akan menjadi pemilik usaha tersebut. B.RUKUN MUSYARAKAH 1. Pihak yang berakad 2. Obyek akad proyek atau usaha (modal dan kerja) 3. Shigat ijab kabul Dewan Syariah Nasional menetapkan atuarn tentang pembiayan musyarakah sebagaimana tercantum dalam patwa Dewan Syariah Nasional nomor 08/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 13 April 2000 (Himpunan Fatawa,Edisi kedua,hal 55-56) sebagai berikut: 1.Pearnyataan ijab dan kabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad),dengan memperhatikan hal-hal berikut: Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukan tujuan kontrak Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak Akad dituangkan secara tertulis 2.Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hokum dan memperhatikan hal-hal bearikut: Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan,dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnisnormal Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenag untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memeperhatikan kepentingan mitranya,tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.

Seorang mitra tidak diizinkan mencairkan dana untuk kepentingan pribadi. 3.Obyek akad (modal,kerja,keuntungan dan kerugian) a.Modal Modal yang diberikan harus uang tunai,emas,perak atau yang lainnya sama. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan.seperti barang-barang,property dan sebagainya. Jika modal berbentuk aset,harus lebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan, menyumbangkan atau menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar kesepakatan. Pada prinsipny, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan,namun untuk menhindari terjadinya penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan. b.Kerja Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah; akan tetapi kesamaan porsi kerja bukan merupakan syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya, dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan tambahan bagi dirinya. Setiap mitra melaksanakan keraja dalam musyarkah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. Kedudukan masing-masing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. c.Keuntungan Keuntungan harus dikuantifikasikan dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secar proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumalh yang ditentukan diawal yang ditetepkan bagi seorang mitra. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu,kelebihan atau prosentase diberikan kepadanya 4.Biaya opersional dan persengketaan a.Biaya operasional dibebankan pada modal bersama b.jika salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara para pihak, maka penyelesainnya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. C.STANDAR AKUNTANSI Pengakuan dan pengukuran awal pembiayaan musyarakah 1.Pembiayaan musyarakah diakui pada saat pembayaran tunai atau penyerahan aktiva non-kas kepada mitra musyarakah. (PSAK 59, Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 41) 2.Pengukuran pembiayaan musyarakah adalah sebagai berikut: a.pembiayaan musyarakah dalam bentuk: (i) kas dinilai sebesar jumlah yang dibayarkan; dan (ii) aktiva non-kas dinilai sebesar nilai wajar dan jika terdapat selisih antara nilai wajar dan nilai baku aktiva non-kas,maka selisih nilai tersebut diakui sebagai keuntungan atau kerugian bank pada saat penyerahan; dan b.biaya yang terjadi akibat akad musyarakah (misalnya,biaya studi kelayakan)tidak dapat diakui sebagai bagian pembiayaan musyarakah kecuali ada persetujuan dari seluruh mitra musyarakah.

Pengakuan bagian bank atas pembiayaan musyarakah setelah akad 1. Bagian bank atas pembiayaan musyarakah permanent dinilai sebesar nilai histories (jumlah yang dibayarkan atau nilai wajar aktiva non-kas pada saat penyerahan modal musyarakah) setelah dikurangi dengan kerugian, apabila rugi. 2. Bagian atas pembiayaan musyarakah menurun dinilai sebesar nilai historis sesudah dikurangi dengan bagian pembiayaan bank yang telah dikembalikan oleh mitra (yaitu sebesar harga jual yang wajar) dan kerugian apabila ada. Selisih antara nilai historis dan nilai wajar bagian pembiayaan musyarakah yg dikembalikan diakui sebagai keuntungan atau kerugian bank pada periode berjalan. 3. Jika akad musyarakah yang belum jatuh tempo diakhiri dengan pembagian seluruh atau sebagian modal,maka selisih antara nilai historis dan nilai pengembalian diakui sebagai laba sesuai dengan nisbah sesuai dengan porsi modal mitra. 4. Pada saat akad diakhiri, pembiayaan musyarakah yang belum dikembalikan oleh mitra diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada mitra. Pengakuan laba atau rugi musyarakah 1. Laba pembiayaan musyarakah diakui sebesar bagian bank sesui dengan nisbah yang disepakati atas hasil usaha musyarakah. Sedangkan rugi pembiayaan musyarakah diakui secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal. (PSAK 59, Akuntansi Perbankan Sariah, pargraf 47) 2. Apabila pembiayaan mysyarakah permanen melewati satu periode pelaporan, maka; Laba diakui dalam periode terjadinya sesuai dengan nisbah bagi hasil yang disepakati. Rugi diakui dalam perioda terjadinya kerugian tersebut dan mengurangi pembiayaan musyarakah. 3. Apabila pembiayaan musyarakah menurun melewati satu periode pelaporan dan terdapat sebagian pengembalian atau seluruh pembiayaan, maka: Laba diakui dalm periode terjadinya sesuai dengan nisbah yang disepakati. Rugi diakui dalam periode terjadinya secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal dan mengurang pembiayaan musyarakah. 4. Pada saat akad diakhiri, laba yang belum diterima bank dari pembiayaan musyarakah yang masih performing diakui sebagai piutang pada mitra. Untuk pembiayaan musyarakah yang non performing diakhiri maka laba yang belum diterima bank tidak diakui tetapi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. 5. Apabila terjadi rugi dalam musyarakah akibat kelalaian atau kesalahan mitra (pengelola usaha) musyarakah,maka rugi tersebut ditanggung oleh mitra pengelola usaha musyarakah.rugi karna kelalaian mitra musyarakah tersebut diperhitungkan sebagai pengurangan modal mitra pengelola usaa,kecuali jika mitra mengganti kerugian tersebut dengan dana baru. D. PERLAKUAN AKUTANSI DAN CONTOH KASUS Pengakuan dan Pengukuran Awal Pembiayaan Musyarakah Modal harus berbentuk tunai dan bias berupa emas atau perak yang setara.menurut para fuqaha tidak ada perbedaan mengenai hal ini. Modal bisa saja berbentuk trading assets seperti barang,propeti, dan peralatan lainnya.modal mungkin saja juga berbentuk hak tak berujud,seperti hak paten,hak gadai, paten dan lain-lain.kalangan fuqaha menyetujui pembeian modal berbentuk tipe-tipe asset di atas asalkan nilai asset itu sebanding dengan nilai uang tunai dan di sepakati bersama.Mazhab Syafii dan Maliki bahwa dana yang diperoleh dari mitra harus dicampur agar tidak hak istimewa diantara

mereka. Meskipun demikian mazhap Hanapi tidak menentukan pembagian dana dalam bentuk tunai, dan mazhabHambali tidak mensyaratkan adanya percampuran modal. Paetisipasi dari para mitra dalam pekerjaan musyarakah merupakan dasar hukum dan dan dilarang salah satu pihak untuk menghindari atau tidak mau terlibat. Meskipun demikian, persamaan pekerjaan bukan merupakan hal yang pokok. Salah satu mitra diperbolehkan untuk melakukan lebih banyak usaha dibandingkan dengan mitra lainnya dan diperbolehkan untuk mengisyaratkan bagi dirinya sendiri bagian ekstra keuntungan. Modal musyarakah diatur oleh sekelompok asas, dimana yang terpemting adalah: saham mitra haruslah di ketahui, yang ditetapkan dan disepakati pada waktu pengadaan akad, dan harus ada dalam bentuk tunai/semacamnya, namun tidak dalam bentuk hutang, untuk menghindari penipuan, ketidaktahuan dan ketidakmampuan dalam menggunakan modal. Sesui dengan hukum perundangundangan syariah, apabila modal berada dalam bentuk aset terwujud maupun tidak terwujud, maka dalam hal ini asas syariah akan mensyaratkan nilai aset tak berwujud berdasarkan perjanjian dengan para mitra, dan jumlah saham bang dalam musyarakah akan di ukur dengan nilai pasar yang sebenarnya, yakni jumlah yang telah di bayarkan atao di mana jumlah ini telah di nilai pada saat mengadakan akad. Penilaian tersebut harus dilakukan oleh orang yang ahli dan atas persetujuan kedua belah pihak. Ada dua alasan untuk menggunakan nilai historis dalam mengukur aset non moneter yang mewakili saham Bank Islam dalam musyarakah, yaitu: Pertama: Penerapan nilai aset yang sudah disepakati kedua belah pihak harus menerima hasil dari penilaian akuntansi keuaangan yang objektif dan dibukukan dalam Pernyyataan Objektif. Kedua: penerapan nilai sesungguhnya untuk mengukur aset secara ini akan menjurus kepenerapan konsep kejujuran penyajian sesuai dengan Pernyataan Konsep. Dalam PSAK tentang Akuntansi Perbangkan Syariah, dijelaskan pengakuan dan pengukuran pembiayaan musyarakh sebagai berikut: 1. Pembiayaan musyarakah diakui pada saat pembayaran tunai atau penyerahan aktiva non-kas kepada mitra musyarakah. (PSAK 59, Akuntansi Perbangkan Syariah, pargraf 41) 2. Pengukurn pembiayaan musyarakah dalah sebagai berikut: Pembiayaan musyarakah dalam bentuk: a) Kas dinilai sebesar jumlah yang dibayarkan. b) Aktiva non-kas dinilai sebesar nilai wajar dan jika terdapat selisih antara nilai wajar dan nilai buku aktiva non-kas, maka selisih tersebut diakui sebagai keuntungan atau kerugian bank pada saat penyaerahan. Biaya yang terjadi akibat akad musyarakah (misalnya, biaya studi kelayakan) tidak dapat diakui sebagai bagian pembiayaan musyarakah keculi ada persetujuan dari seluduh mitra musyarakah. Dalam ketentuan tersebut jelas bahwa pembiayaan musyarakah atau modal syirkah yang diserahkan oleh bank syariah tidak hanya dalam bentuk uang tunai saja tetapi dapat juga dala bentuk non-kas atau aktiva yang sejalan dengan usaha yang akan dilaksanakan. Begitu juga penyarahan dodal musyarakah dalam dilakukan srcara bertahap atau sekaligus. Untuk memberikan gambaran yang jelas atas transaksi moda musyarakah tersebut dapat dijelaskan dalam contoh berikut:

Contoh: Pada tanggal 01 Maret saat bank memberiakn fasilitas pembiayaan musyarakah kepada Amrin dalam usaha pabrik pengolaan kelapa sawit dan telah disepakati dengan data-data sebagiai berikut: 1. Tanggal 05 Maret dibayar beban pra akad, seperti pembuatan studi kelayakan proyek, penelitian kelayakan proyek sebesar Rp. 2.000.000,2. Modal syirkah keseluruhan sebesar Rp. 250.000.000,- dimana bank syariah mendapatkan porsi modal sebesar Rp. 120.000.000,- dan porsi modal untukt Amrin sebesar Rp. 130.000.000,- dengan nisbah keuntungan untuk bank sebesar 40 dan Amrin sebesar 60 3. Modal syirkah yang menjadi porsi bank syariah sebesar Rp. 120.000.000,- dibayar dengan tahapan sebagai berikut: a. Tanggal 16 Maret, dibayarkan modal syirkah dalam bentuk kas sebesar Rp. 40.000.000,b. Tangaal 21 Maret diserahkan modal non-kas berupa dua buah mesin pabrik yang telah dimiliki oleh bank syariah, mesin pertama sebesar Rp. 50.000.000,- yang dibeli dengan harga Rp. 55.000.000,- dan mesin yang kedua sebesar Rp. 30.000.000,- yang dibeli dengan harga Rp. 22.500.000,Atasa transaksi tersebut di atas dilakukan jurnal dan penjelasan sebagai berikut: 1. Tanggal 01 Maret pada saat pembiayaan musyarakah disetujui dan diakui oleh Amrin, bank syariah mempunyai kewajiban berupa komitmen atas pembiayaan musyarakah sebesar Rp. 120.000.000,Jurnal komitmen (rekening administratif): Dr. Kontra Komitmen Pemb Musyarakah Rp.120.000.000,Kr. Komitmen Pembiayaan Musyarakah Rp. 120.000.000,Dengan adanya pembiayaan mudharabah tersebut, buku besar komitmen (rekening administratif) menunjukkan sebagai berikut: BUKU BESAR (Adm) Komitmen Pembiayaan Musyarakah Tgl Keterangan Jumlah Tgl 01/03 Keterangan Amrin Jumlah 120.000.000

2. Tanggal 16 maret, bank syariah menyerahkan modal dalam bentuk uang tunai kepada syirkah sebesar Rp. 40.000.000,Dr. Pembiayaan Musyarakah Rp. 40.000.000,Kr. Kas/Rekening Musy./Kliring Rp. 40.000.000,Dr. Komitmen Pemb Musyarakah Rp. 40.000.000,Kr. Kontra komitmen Pemb Musyarakah Rp. 40.000.000,-

Dengan jurnal transaksi tersebut akan mengakibatkan perubahan posisi buku besar dan neraca sebagai berikut: BUKU BESAR (Adm) Komitmen Pembiyaan Musyarakah Tgl 16/03 Keterangan Prnyerahan modal Jumlah 40.000.000 Tgl 01/03 Keterangan Amrin Jumlah 120.000.000

BUKU BESAR (Neraca) Pembiayaan Musyarakah Tgl 16/03 Keterangan Amrin Jumlah 40.000.000 Tgl Keterangan Jumlah

NERACA Per 16 Maret 2009 Aktiva Pasiva Uraian Pembiayaan Musyarakah 3. Jumlah 40.000.000 Uraian Jumlah

Tanggal 21 Maret pada saat mank menyerahkan aktiva non-kas 1. Jika nilai wajar aktiva yang diserahkan lebih rendah atas nilai buku/harga perolehan. dengan harga perolehan sebesar Rp. 55.000.000,Jurnal atas penyerahan mmodal non-kas adalah : Dr. Pembiayaan musyarakah Rp. 50.000.000,Dr. Kerugia penyerahan aktiva Rp. 5.000.000,Kr. Aktiva non-kas Rp. 55.000.000,Dr. Komitmen Pemb Musyarakah Rp. 50.000.000,Kr. Kontra komitmen Pemb Musyarakah Rp. 50.000.000,-

Dengan jurnal transaksi tersebut akan mengakibatkan perubahan posisi buku besar dan neraca sebagai berikut : BUKU BESAR (Adm) Komitmen Pembiayaan Musyarakah Tgl 16/03 21/03 Keterangan Prnyerahan modal Penyerahan mesin Jumlah 40.000.000 50.000.000 Tgl 01/03 Keterangan Amrin Jumlah 120.000.000

BUKU BESAR (Neraca) Pembiayaan Musyarakah Tgl 16/03 21/03 Keterangan Amrin Amrin Jumlah 40.000.000 50.000.000 Tgl Keterangan Jumlah

BUKU BESAR (L/R) Kerugian Penyerahan Aktiva Tgl 21/03 Keterangan Penyerahan mesin Jumlah 5.000.000 Tgl Keterangan Jumlah

NERACA Per 21 Maret 2009 Aktiva Pasiva Uraian Pembiayaan musyarakah Jumlah 90.000.000 Uraian Jumlah

2. Jika nilai wajar aktiva yang diserahkan lebih tinggi atas nilai buku/harga perolehan. Mesin kedua diserahkan dengan harrga pasar/wajar sebesar Rp. 30.000.000,-, msin tersebut dibeli dengan harga perolehan sebesar Rp. 22.500.000,Dr. Pembiayaan musyarakah Rp. 30.000.000,Kr. Aktiva non-kas Rp.22.500.000,Kr. Keuntungan penyerahan aktiva Rp. 7.500.000,Dr. Komitmen Pemb Musyarakah Rp. 30.000.000,Kr. Kontra komitmen Pemb Musyarakah Rp. 30.000.000,Dengan jurnal transaksi tersebut akan mengakibatkan perubahan posisi buku besar dan neraca sebagai berikut : BUKU BESAR (Adm) Komitmen Pembiayaan Musyarakah Tgl 16/03 21/03 21/03 Keterangan Prnyerahan modal Penyerahan mesin Penyerahan mesin Jumlah 40.000.000 50.000.000 30.000.000 Tgl 01/03 Keterangan Amrin Jumlah 120.000.000

BUKU BESAR (L/R) Keuntungan Penyerahan Aktiva Tgl Keterangan Jumlah Tgl 21/03 NERACA Per 21 Maret 2009 Aktiva Pasiva Uraian Pembiayaan Musyarakah Jumlah 120.000.000 Uraian Jumlah Keterangan Penyerahan mesin Jumlah 7.500.000

4.

Tanggal 6 Maret 2009- pada saat mengeluarkan biaya dalam rangka akad musyarakah Dr. uang muka dalam rangka akad Rp. 2.000.000,Kr. Kas/kliring Rp. 2.000.000,Pengakuan biaya akad musyarakah A. Jika diakui sebagai beban Dr. Biaya akad Rp. 2.000.000,Kr. Uang muka dalam rangka akad Rp. 2.000.000,B. Jika berdasarkan kesepakatan diakui sebagai pembiayaan Dr. Pembiayaan musyarakah Rp. 2.000.000,Kr. Uang muka dalam rangka akad Rp. 2.000.000,-

5.

Pengakuan Laba atau Rugi Musyarakah A. Perlakuan laba pembiayaan musyarakah Laba pembiayaan musyarakah dalam satu periode pelaporan berdasarkan laporan yang diterima atas pengelolaan modal musyarakah, misalkan diperoleh bagi hasil sebesar Rp. 500.000.000,- dimana pembagian bagi hasil 60 untuk Amrin dan 40 untuk Bank Syariah. Jadi porsi bagi hasil miliak bank syariah adalah : 40/100 x Rp. 500.000.000,- = Rp. 200.000.000,a) Apabila penerimaan pendapatan/keuntungan musyarakah -kas Dr. Kas/Rekening Musy.Kliring Rp. 200.000.000,Kr. Pendapatan/keuntunganmusyarakah Rp. 200.000.000.Karena pendapatan tersebut diterima kas, maka pendapatan tersebut merupakan unsur pendapatan dalam pembagian hasil usaha.

b) Apabila penerimaan keuntungan/pendapatan musyarakah -akrual Dr. Pendapatan yadit Musyarakah Rp. 200.000.000,Kr. Pendapatan/keuntungan musyarakah Rp. 200.000.000,Oleh karena pendapatan tersebut belum diterima secara kas, hanya dalam pengakuan saja maka pendapatan tersebut bukan sebagai unsur pendapatan dalam pembagian hasil usaha (profit distributionaa) bank, dan akan menjadi unsur pendapatan dalam pembagian hasil usaha setelah pendapatan tersebut diterima secara kas. Pada saat diterima kas jurnal yang dilakukan adalah : Dr. Rekening mitra/kas/kliring Rp. 200.000.000,Kr. Pendapatan yadit Musyarakah Rp. 200.000.000,Walaupun tidak ada pencatatan dalam pendapatan bank syariah karena ada aliran kas masuk atas pembayaran kas musyarakah, maka jumlah atau aliran kas masuk tersebut harus diperhitungkan sebagai unsur pendapatan dalam pembagian hasil usaha. B. Perlakuan rugi pembiayaan musyarakah 1) Rugi Pembiayaan Musyaarakah dalam satu periode pelaporan pengakuan kerugian musyarakah Dr. Kerugian musyarakah xxxxxx Kr. Pembiayaan xxxxxx 2) Kerugian pembiayaan musyarakah sebagai akibat kelalaian mitra. Pengakuan kerugian yang lebih tinggi dari modal mitra akibat kelalaian atau penyimpangan mitra musyarakah Dr. Piutang mitra xxxxxx Kr. Pembiayaan musyarakah xxxxxx Pengakhiran Akad berakhir Pada saat akad berakhir, keuntungan yang belum diterima bank dari mitra musyarakah diakui sebagai piutang musyarakah. Apabila teradi kerugian dalam musyarakah akibat kelalaian atau penyimpangan mitra musyarakah, mitra yang melakukan kelalaian tersebut menanggung beban kerugian itu. Kerugian bank yang diakibatkan kelalaian atau penyimpangan mitra tersebut diakui sebagai piutang musyarakah. Jurnal pengakuan kerugian akibat kelalaian atau penyimpangan mitra musyarakah : Dr. Piutang musyarakah xxxxxx Kr. Kerugian musyarakah xxxxxx Pada saat akad berakhir, saldo pembiyaan musyarakah yang belum diterima diakui sebagai piutang musyarakah Dr. Piutang musyarakah xxxxxx Kr. pembiayaan musyarakah xxxxxx Jurnal penyelesaian musyarakah permanen Dr. Kas/Piutang musyarakah xxxxxx Kr. Pembiayaan musyarakah Jurnal penyelesaian musyarakah menurun Dr. Kas/Piutang musyarakah xxxxxx

xxxxxx

Dr. Kerugian penyelesaian pemb. Musyarakah Kr. Pembiayaan musyarakah Kr. Keuntungan penyelesaian pemb. musyarakah

xxxxxx xxxxxx xxxxxx

Penurunan/prlunasan modal musyarakah dengan mengalihkan kepada mitramusyarakah lainnya Dr. Kas/rekenig syirkah xxxxxx Kr. Pembiayaan musyarakah xxxxxx Pengembalian modal musyarakah non-kas dengan nilai wajar lebih rendah dari nilai historis Dr. aktiva non-kas xxxxxx Dr. Kerugian penyelesaian xxxxxx Pemb. Musyarakah Kr. Pembiayaan musayarakah xxxxxx Pengembalian modal musyarakah non-kas dengan nilai wajar lebih tinggi dari nilai historis Dr. aktiva non-kas xxxxxx Kr. Pembiayaan musyarakah xxxxxx Kr. Keuntungan penyelesaian pem. musyarakah xxxxxx Pembentukan penyisihan akibat kerugian piutang Dr. Beban penyisihan kerugian piutang musyarakah xxxxxx Kr. Akumulasi penyisihan kerugian piutang musyarakah

xxxxxx