ASAM SULFAT, FLUOROSULFONAT DAN ASAM SUPER
(Makalah Kimia Anorganik II)
Disusun Oleh :
Kelompok IV
Grace Febrianti S. Sirait (1817011089)
Gustin Lestiani (18170110)
Khairunisa (18170110)
Nia Mardanti (18170110)
Nia Puspita (18170110)
Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Lampung
2019
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagian reaksi kimia dan banyak pengukuran sifat zat dikerjakan dalam
suatu pelarut. Pelarut memiliki sifat dan karakteristik tertentu dimana sifat
dan karakteristik pelarut tersebut sangat menentukan keberhasilan ataupun
kegagalan suatu studi. Dalam konsep larutan, pelarut atau zat pelarut
merupakan zat yang jumlahnya lebih banyak dalam suatu larutan. Bagi
ahli kimia anorganik, air merupakan pelarut yang paling penting, namun
banyak pelarut lain yang telah dicoba dan ternyata berguna. Misalnya
asetonitril, ammonia, dimetilformamida, dan lain-lain. Adapun yang
sangat erat hubungannya dengan sifat-sifat pelarut adalah perilaku asam
dan basa yaitu suatu senyawa yang bertindak sebagai asam pada pelarut
tertentu akan dapat berlaku sebaliknya pada pelarut lainnya, dan
sebaliknya.
Oleh karena itu, agar lebih memahami konsep yang mempengaruhi
dipilihnya suatu pelarut dan konsep dasar asam dan basa, maka disusunlah
makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sifat suatu pelarut yang menentukan kegunaan pelarut?
2. Bagaimana ciri-ciri beberapa jenis pelarut berproton?
3. Apa sajakah jenis-jenis pelarut tidak berproton?
4. Bagaimanakah karakteristik pelarut bagi reaksi elektrokimia?
5. Apa sajakah cara mendapatkan pelarut yang murni?
6. Bagaimanakah konsep asam dan basa?
7. Bagaimanakah konsep asam dan basa “lunak” dan “keras”?
8. Bagaimanakah komponen kovalen dan ion dari interaksi asam-basa
Lewis?
9. Bagaimanakah aturan mengenai kekuatan asam oksi?
10. Bagaimanakah konsep mengenai asam super?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sifat suatu pelarut yang menentukan kegunaan
pelarut.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri beberapa jenis pelarut berproton.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis pelarut tidak berproton.
4. Untuk mengetahui karakteristik pelarut bagi reaksi elektrokimia.
5. Untuk mengetahui cara mendapatkan pelarut yang murni.
6. Untuk mengetahui konsep asam dan basa.
7. Untuk mengetahui konsep asam dan basa “lunak” dan “keras”.
8. Untuk mengetahui komponen kovalen dan ion dari interaksi asam-
basa Lewis.
9. Untuk mengetahui aturan mengenai kekuatan asam oksi.
10. Untuk mengetahui konsep mengenai asam super.
BAB II PEMBAHASAN
A. Asam Sulfat
Asam sulfat adalah asam yang sangat kuat. Dalam larutan air, asam sulfat
mengionisasi sepenuhnya untuk membentuk ion hidronium (H3O +) serta ion
hidrogen sulfat (H3O+). Sementara dalam larutan encer, ion sulfat hidrogen juga
terpisah. Hal ini membentuk ion hidronium dan sulfat ion (SO42-). Tak hanya
menjadi agen pengoksidasi, asam ini juga mudah bereaksi pada suhu tinggi
dengan banyak logam, sulfur, karbon, dan zat-zat lainnya. Meski sudah sangat
populer, nyatanya masih ada sebagian orang yang belum mengetahui rumus kimia
asam sulfat.
Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4. Berdasarkan dari rumus
kimianya, asam sulfat ini dibentuk dari komponen kation asam (H+) serta
komponen anion sulfat (SO42-). Melihat rumus kimia asam sulfat tersebut, proses
pembuatan asam sulfat memang tak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa
tahapan yang perlu dilalui dalam pembuatannya. Adapun secara umum proses
pembuatan asam sulfat terdiri dari empat tahapan. Sebut saja ekstraksi belerang
dari batunya, konversi belerang sampai menjadi belerang dioksida, konversi
belerang dioksida hingga menjadi belerang trioksida, dan juga konversi belerang
trioksida menjadi asam sulfat.
a. Sifat Fisika Asam Sulfat
Titik leleh (°C) : 10
Titik didih (°C) : 290
Tekanan uap (mmHg) : 1 (146 °C)
Berat jenis cairan : 1,84 (100 persen)
Berat jenis uap : 3,4 (udara = 1)
Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara alami
di bumi oleh karena sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat
merupakan komponen utama hujan asam, yang terjadi karena oksidasi sulfur
dioksida di atmosfer dengan keberadaan air (oksidasi asam sulfit). Sulfur dioksida
adalah produk sampingan utama dari pembakaran bahan bakar seperti batu bara
dan minyak yang mengandung sulfur (belerang). Asam sulfat terbentuk secara
alami melalui oksidasi mineral sulfida, misalnya besi sulfida. Air yang dihasilkan
dari oksidasi ini sangat asam dan disebut sebagai air asam tambang. Air asam ini
mampu melarutkan logam-logam yang ada dalam bijih sulfida, yang akan
menghasilkan uap berwarna cerah yang beracun.
Reaksi hidrasi asam sulfat adalah reaksi eksoterm yang kuat. Jika air ditambah
kepada asam sulfat pekat, ia mampu mendidih. Senantiasa tambah asam kepada
air dan bukan sebaliknya. Sebagian dari masalah ini disebabkan perbedaan
densitas kedua cairan. Air kurang padu berbanding asam sulfat dan cenderung
untuk terapung di atas asam. Reaksi terhasil boleh dianggap sebagai membentuk
ion hidronium, seperti:
H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4-.
Disebabkan asam sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan agen
pengeringan yang baik, dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-
buahan kering. Apabila gas SO3 pekat ditambah kepada asam sulfat, ia
membentuk H2S2O7. Ini dikenali sebagai asam sulfat fuming atau oleum atau,
jarang-jarang sekali, asam Nordhausen.
b. Reaksi Asam Sulfat yang lain adalah sebagai berikut:
Dalam air, reaksi kesetimbangan berikut terjadi antara suatu asam (HA)
dan air, yang berperan sebagai basa,
HA + H2O ↔ A- + H3O+
Reaksi dengan halogen
NaCl + H2SO4 → NaHSO4 + HCl
Reaksi pembentukan asam fosfat untuk industri alumunium fosfat
Ca5F(PO4)3 + 5 H2SO4 + 10 H2O → 5 CaSO4·2H2O + HF + 3 H3PO4
Reaksi dengan logam :
Fe(s) + H2SO4(aq) → H2(g) + FeSO4(aq)
Reaksi dengan air membentuk larutan asam kuat
H2SO4 + H2O → H3O+ + HSO4−
Reaksi dengan non logam
C + 2 H2SO4 → CO2 + 2 SO2 + 2 H2O
Tetapan asam adalah tetapan kesetimbangan untuk reaksi HA dengan air:
Asam kuat mempunyai nilai Ka yang besar (yaitu, kesetimbangan reaksi
berada jauh di kanan, terdapat banyak H3O+; hampir seluruh asam terurai).
Misalnya, nilai Ka untuk asam klorida (HCl) adalah 107.
Asam lemah mempunyai nilai Ka yang kecil (yaitu, sejumlah cukup banyak
HA dan A- terdapat bersama-sama dalam larutan; sejumlah kecil H3O+ ada dalam
larutan; asam hanya terurai sebagian). Misalnya, nilai Ka untuk asam asetat
adalah 1,8 × 10-5.
Asam kuat mencakup asam halida - HCl, HBr, dan HI. (Tetapi, asam fluorida,
HF, relatif lemah.) Asam-asam okso, yang umumnya mengandung atom pusat
ber-bilangan oksidasi tinggi yang dikelilingi oksigen, juga cukup kuat; mencakup
HNO3, H2SO4, dan HClO4. Kebanyakan asam organik merupakan asam
lemah.Larutan asam lemah dan garam dari basa konjugatnya membentuk larutan
penyangga.
c. Kelarutan Asam Sulfat
Logam akan dapat larut pada t yang bersifat pengoksidasi seperti asam sulfat.
Asam sulfat encer akan, secara teori, bereaksi dengan logam yang terletak di atas
hidrogen dalam seri reaktivitas dengan menggusur hidrogen dari asam,
melepaskannya sebagai gas dan membentuk garam sulfat dari logam. Logam yang
masuk dalam kategori ini antara lain logam alkali, seperti natrium dan kalium, dan
logam alkali tanah, seperti magnesium dan kalsium, serta banyak logam umum
lainnya, seperti besi, nikel, dan seng. Karena hidrogen memiliki kelarutan yang
sangat rendah dalam air dan asam, akan menghasilkan gelembung; buih yang
dihasilkan lebih besar dengan logam yang lebih reaktif. Asam sulfat encer
(H2SO4) dan magnesium, misalnya, akan bereaksi keras: Mg + H2SO4 ->
MgSO4 + H2. Asam sulfat encer bereaksi dengan logam melalui reaksi
perpindahan tunggal seperti dengan asam khas lainnya, menghasilkan gas
hidrogen dan garam (logam sulfat). Ini menyerang logam reaktif (logam pada
posisi di atas tembaga dalam seri reaktivitas) seperti besi, aluminium, seng,
mangan, magnesium, dan nikel. Aluminium, yang merupakan logam yang sangat
reaktif, tidak akan larut dalam asam pengoksidasi (mis., Nitrat), karena ia akan
mengembangkan lapisan pelindung aluminium oksida di permukaannya.
d. Aplikasi Asam sulfat
Kegunaan utama (60% dari total produksi di seluruh dunia) asam sulfat adalah
dalam "metode basah" produksi asam fosfat, yang digunakan untuk membuat
pupuk fosfat dan juga trinatrium fosfat untuk deterjen. Pada metode ini, batuan
fosfat digunakan dan diproses lebih dari 100 juta ton setiap tahunnya. Bahan-
bahan baku yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini merupakan fluorapatit,
walaupun komposisinya dapat bervariasi. Bahan baku ini kemudian diberi 93%
asam suflat untuk menghasilkan kalsium sulfat, hidrogen fluorida (HF), dan asam
fosfat. HF dipisahan sebagai asam fluorida. Proses keseluruhannya dapat ditulis:
Ca5F(PO4)3 + 5 H2SO4 + 10 H2O → 5 CaSO4•2 H2O + HF + 3 H3PO4
Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja
untuk menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri
otomobil. Asam yang telah digunakan sering kali didaur ulang dalam kilang
regenerasi asam bekas (Spent Acid Regeneration (SAR) plant). Kilang ini
membakar asam bekas dengan gas alam, gas kilang, bahan bakar minyak, ataupun
sumber bahan bakar lainnya. Proses pembakaran ini akan menghasilkan gas sulfur
dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3) yang kemudian digunakan untuk
membuat asam sulfat yang "baru".
Amonium sulfat, yang merupakan pupuk nitrogen yang penting, umumnya
diproduksi sebagai produk sampingan dari kilang pemroses kokas untuk produksi
besi dan baja. Mereaksikan amonia yang dihasilkan pada dekomposisi termal batu
bara dengan asam sulfat bekas mengizinkan amonia dikristalkan keluar sebagai
garam (sering kali berwarna coklat karena kontaminasi besi) dan dijual kepada
industri agrokimia.
Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan
aluminium sulfat. Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun
pada serat pulp kertas untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu
mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas yang keras. Aluminium sulfat
juga digunakan untuk membuat aluminium hidroksida. Aluminium sulfat dibuat
dengan mereaksikan bauksit dengan asam sulfat:
Al2O3 + 3 H2SO4 → Al2(SO4)3 + 3 H2O
Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai
contoh, asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk
mengubah sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk
membuat nilon. Ia juga digunakan untuk membuat asam klorida dari garam
melalui proses Mannheim. Banyak H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak
bumi, contohnya sebagai katalis untuk reaksi isobutana dengan isobutilena yang
menghasilkan isooktana.
B. Fluorosulfonat
Fluorosulfuric acid adalah cairan tidak berwarna yang mengalir bebas. Ini
larut dalam pelarut organik polar (misalnya nitrobenzena , asam asetat , dan etil
asetat ), tetapi larut dalam pelarut nonpolar seperti alkana. Mencerminkan
keasamannya yang kuat, ia melarutkan hampir semua senyawa organik yang
bahkan merupakan akseptor proton yang lemah. [3] HSO 3 F terhidrolisis secara
perlahan menjadi HF dan asam sulfat . Asam triflik terkait (CF 3 SO 3 H)
mempertahankan keasaman tinggi HSO 3 F tetapi lebih stabil secara hidrolitik.
a. Sifat fisika asam florosulfonat
Melting point : 185.7 K
Boiling point : 438.5 K
Density of liquid : 1.74 g/cm³
Relative permittivity : 120 (at 298 K)
Self-ionization constan t 4 × 0 10‐⁸ (at 298 K)T
b. Reaksi asam florosulfonat
Ionisasi diri asam fluorosulfonat juga terjadi:
2 HSO 3 F ⇌ [H 2 SO 3 F] + + [SO 3 F] - K = 4.0 × 10 −8 (pada 298 K)
Fluorosulfuric acid dibuat oleh reaksi HF dan sulfur trioxide :
SO 3 + HF → HSO 3 F
Atau, KHF 2 atau CaF 2 dapat diobati dengan oleum pada 250 ° C. Setelah
dibebaskan dari HF dengan menyapu dengan gas inert, HSO 3 F dapat
didistilasi dalam peralatan gelas.
c. Kelarutan logam dalam fluorosulfonat
Struktur asam sulfonat diilustrasikan oleh prototipe, asam metanasulfonat.
Gugus sulfonat asam, RSO2OH memiliki pusat sulfur tetrahedral, yang
berarti bahwa belerang berada di pusat empat atom: tiga atom oksigen dan
satu karbon. Geometri keseluruhan pusat sulfur mengingatkan pada bentuk
asam sulfat.
d. Fluorosulfonat :
Meskipun baik asam alkil dan aril sulfonat diketahui, sebagian besar
aplikasi berhubungan dengan derivat aromatik.
C. Asam Super
Superasam (Bahasa Inggris: superacid) adalah sejenis asam yang mempunyai
keasaman lebih besar daripada 100% asam sulfat yang mempunyai fungsi
keasaman Hammett (H0) −12. Superasam yang secara komersial tersedia meliputi
asam trifluorometanasulfonat (CF3SO3H), dikenal sebagai asam triflat, dan asam
fluorosulfat (FSO3H). Kedua senyawa tersebut memiliki keasaman sekitar seribu
kali lebih kuat (memiliki nilai H0 yang lebih negatif) daripada asam sulfat.
Superasam yang paling kuat dihasilkan dari kombinasi asam Lewis kuat dan asam
Brønsted kuat.
Istilah superasam pertama kali diasciptakan oleh James Bryant Conant pada
tahun 1927 untuk menjelaskan asam-asam yang memiliki keasaman lebih besar
dari asam mineral. George A. Olah diberikan penghargaan Nobel pada tahun 1994
atas investigasinya terhadap superasam dan penggunaannya dalam pemantauan
karbokation. "Asam ajaib" Olah (Bahasa Inggris: Olah's "magic acid"),
dinamakan demikian atas kemampuannya menyerang hidrokarbon, dihasilkan
dengan mencampur antimon pentafluorida (SbF5) dan asam fluorosulfat.
Superasam yang paling kuat, asam fluoroantimonat, adalah kombinasi dari
hidrogen florida dan SbF5. Dalam sistem ini, HF melepaskan unsur seiring proton
(H+) dengan pengikatan F− oleh antimon pentafluorida. Anion yang dihasilkan
(SbF6−) merupakan nukleofil yang lemah sekaligus basa lemah. Proton secara
efektif menjadi "telanjang", hal inilah yang bertanggung jawab atas keasam sistem
ini yang ekstrem. Asam fluoroantimonat 2×1019 kali lebih kuat dari 100% asam
sulfat,[2] dan dapat menghasilkan larutan dengan nilai H0 sebesar –25.
a. Superasam yang paling kuat, asam fluoroantimonat :
Rumus kimia : H2SbF7
Massa molar : 256.765
Penampilan : Cairan tak berwarna
Densitas : 2.885 g/cm3
Kelarutan : SO2ClF, SO2
Keasaman (pKa) : −25
Kebasaan (pKb) : 39
b. Reaksi-Reaksi Asam Super
Dapat menunjukkan bahwa pada 140 °C, FSO3H–SbF5 akan mengubah
metana menjadi butil tersier karbokation, sebuah reaksi yang dimulai dari
protonasi metana:[4]
CH4 + H+ → CH5+
CH5+ → CH3+ + H2
CH3+ + 3 CH4 → (CH3)3C+ + 3H2
Reaksi untuk menghasilkan asam fluoroantimonat adalah:
2 HF ⇌ H2F+ + F−
SbF5 + F− → SbF−6
Reaksi keseluruhan adalah:
SbF5 + 2 HF → SbF−6 + H2F+
Reaksi kedua adalah tidak setimbang, oleh karena itu reaksi ini bersifat
eksotermik.
c. Kelarutan logam dalam asam super
Logam dapat larut dalam asam super hal tersebut dikarenakan asam super
merupakab salah satu asama pengoksidasi yang kuat. Superasam yang
secara komersial tersedia meliputi asam trifluorometanasulfonat
(CF3SO3H), dikenal sebagai asam triflat, dan asam fluorosulfat (FSO3H).
Kedua senyawa tersebut memiliki keasaman sekitar seribu kali lebih kuat
(memiliki nilai H0 yang lebih negatif) daripada asam sulfat. Superasam
yang paling kuat, asam fluoroantimonat, adalah kombinasi dari hidrogen
florida dan SbF5. Dalam sistem ini, HF melepaskan unsur seiring proton
(H+) dengan pengikatan F− oleh antimon pentafluorida. Anion yang
dihasilkan (SbF6−) merupakan nukleofil yang lemah sekaligus basa
lemah. Proton secara efektif menjadi "telanjang", hal inilah yang
bertanggung jawab atas keasam sistem ini yang ekstrem. Asam
fluoroantimonat 2×1019 kali lebih kuat dari 100% asam sulfat,[2] dan
dapat menghasilkan larutan dengan nilai H0 sebesar –25.
d. Aplikasi Asam super:
Superasam umumnya digunakan untuk menciptakan lingkungan yang dapat
menghasilkan dan menjaga kation, yang berguna sebagai molekul antara pada
berbagai reaksi kimia.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Austin, George T. 1996. Industri Proses Kimia (jilid 1) Edisi Kelima. Jakarta :
Erlangga
R.A. DAY, JR.& A. L. UNDERWOOD. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif (Edisi
Keenam). Jakarta : Erlangga
Erhardt Tabel, Eberhard Zirngiebl, Joachim Maas "Asam Fluorosulfurat" dalam
"Ensiklopedia Kimia Industri Ullmann" 2005, Wiley-VCH, Weinheim. doi :
10.1002 / 14356007.a11_431
Cotton, FA; Wilkinson, G. (1980). Kimia Anorganik Tingkat Lanjut (edisi ke-4).
New York: Wiley. hal. 246. ISBN 0-471-02775-8.
Cotton, dan Wilkinson. 1976. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI Press
Miessler, Gary L dan Donald A. Tarr.1990. Inorganic Chemistry. Englewood
Cliffs, N.J. : Prentice-Hall International.
Day, M. Clyde. 1987. Kimia Anorganik Teori. Yogyakarta : Universitas Gajah
Mada Press.