Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dilakukan percobaan mengenai diagram terner sistem zat cair tiga komponen
dengan metode titrasi. Percobaan ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat
dalam campuran dua cairan tertentu. Dimana dalam hal ini cairan yang dipergunakan sebagai cairan A
adalah CHCl
3
, cairan B adalah Aquadest, dan cairan C adalah asam asetat. Prinsip dasar dari percobaan ini
adalah pemisahan suatu campuran dengan ekstraksi yang terdiri dari dua komponen cair yang saling larut
dengan sempurna. Pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut yang tidak larut dengan
sempurna terhadap campuran, tetapi dapat melarutkan salah satu komponen (solute) dalam campuran
tersebut. Cairan yang digunakan dalam percobaan ini adalah air (aquadest), kloroform (CHCl
3
), dan asam
asetat. Metode titrasi ini digunakan CHCl
3
dan asam asetat yang saling melarut yang kemudian dititrasi
dengan zat yang tidak larut dengan campuran tersebut yaitu air aquadest.
Pada percobaan pertama, cairan A dan C dicampur dengan variasi perbandingan
volume, yaitu: 2:18 ; 4:16 ; 6:14 ; 8:12 ; 10:10 ; 12:8 ; 14:6 ; dan 16:4 ml. Dari percobaan,
cairan A dan C mampu melarut dengan baik. Hasil tersebut diperoleh karena antara
CHCl
3
dengan asam asetat dapat saling berikatan. Dimana, CHCl
3
dapat berikatan di sekitar
gugus metil dari CH
3
COOH yang bersifat non-polar pada gugus CH
3
-nya.
Ketika titrasi dengan aquades dilakukan, terjadi pemisahan diantara campuran
CHCl
3
dengan asam asetat, hal ini dikarenakan asam asetat membentuk ikatan hidrogen yang
lebih kuat dengan molekul air pada bagian OH dari gugus COOH asam asetatnya. Oleh
karena itu, asam asetat yang awalnya berikatan dengan CHCl
3
akan terpisahkan dan berikatan
dengan air. Hal ini disebabkan karena sifat CHCl
3
yang tidak melarut dengan air sehingga
CHCl
3
yang mulanya berikatan dengan CH3COOH akan terlepas dan terpisah membentuk 2
larutan terner terkonjugasi yang ditandai dengan terbentuknya larutan yang keruh. Karena
kemampuannya yang dapat melarut dengan air dan juga CHCl
3
, maka Asam Asetat Glasial
(CH3COOH) dikenal sebagai pelarut yang bersifat semi-polar. Ketika campuran asam asetat
dan CHCl
3
dititrasi dengan aquades, volume titran I= 20 ml ; volume titran II= 9,6 ml ;
volume titran III= 6,2 ml ; volume titran IV= 4,0 ml ; volume titran V= 2,1 ml ; volume
titran VI = 0,9 ml ; volume titran VII = 0,4 ml dan volume titran VIII = 0,1 ml ditemukan
keadaan campuran dalam keadaan keruh.
Dari hasil perhitungan berdasarkan data-data yang telah diperoleh, maka XA (%
kloroform) pada perbandingan campuran 2:18 = 7,07 %. Untuk perbandingan campuran 4:16
= 18,32%. Untuk perbandingan 6:14 = 29,82%. Untuk perbandingan 8:12 = 41,63%. Untuk
perbandingan 10:10 = 54,01%. Untuk perbandingan 12:8 = 65,63%. Untuk perbandingan
14:6 = 75,56%. Dan untuk perbandingan 16:4 = 84,63%. Hal ini menunjukkan semakin
besar komponen A di dalam campuran, XA-nya makin naik.
Untuk XC (% asam asetat glacial) pada campuran dengan perbandingan 2:18 =
45,15%. Untuk perbandingan campuran 4:16 = 51,98%. Untuk perbandingan 6:14 = 49,36%.
Untuk perbandingan 8:12 = 44,30%. Untuk perbandingan 10:10 = 38,32%. Untuk
perbandingan 12:8 = 31,04%. Untuk perbandingan 14:6 = 22,98%. Dan untuk perbandingan
16:4 = 15,01%.
Sedangkan untuk XB (% aquadest) pada campuran dengan perbandingan 2:18 =
47,78%. Untuk perbandingan campuran 4:16 = 29,70%. Untuk perbandingan 6:14 = 20,82%.
Untuk perbandingan 8:12 = 14,06%. Untuk perbandingan 10:10 = 7,66%. Untuk
perbandingan 12:8 = 3,33%. Untuk perbandingan 14:6 = 1,46%. Dan untuk perbandingan
16:4 = 0,36%.
Dari hasil percobaan tersebut dapat dilihat bahwa konsentrasi cairan C (Asam Asetat)
ternyata justru sebanding dengan naik-turunnya konsentrasi cairan yang dipakai sebagai titran
pada titrasi campuran. Pada percobaan pertama, besarnya fraksi mol asam asetat sebanding
dengan penurunan fraksi mol aquades. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh keunikan asam
asetat yang memiliki sifat semi-polar, dimana dapat melarutkan CHCl
3
dengan baik, begitu
juga halnya dalam melarut dengan air (aquades). Untuk cairan-cairan yang saling melarutkan,
konsentrasinya akan saling berkebalikan karena larutan tersebut akan membentuk daerah
berfase tunggal. Sedangkan cairan yang tidak melarut (larut sebagian) akan membentuk
daerah berfase 2. Untuk membuktikannya lebih lanjut, maka akan digambarkan diagram
terner-nya agar tampak lebih jelas titik kritisnya ketika titrasi dilarutkan sehingga terlihat
batas kelarutan dari masing-masing komponen campuran tersebut. Ketika cairan yang
melarut berubah menjadi tidak larut (kurang melarut), maka akan membentuk dua fase
(daerah yang berarsir), sedangkan komponen-komponen yang saling melarut akan berada
pada luar daerah yang berarsir.
Garis yang menghubungkan titik-titik yang menggambarkan kadar dari setiap zat yang terlibat
adalah titik dimana terjadi pencampuran sempurna antara ketiga zat yang terlibat dalam pencampuran ini.


Kemudian masing-masing kedua lapisan tersebut dipisahkan untuk menguji ada atau tidaknya
asam asetat glasial. Kemudian dititrasi dengan menggunakan NaOH 10 M. Untuk mencapai titik akhir
titrasi, NaOH yang dibutuhkan pada lapisan atas (aquades + asam asetat glasial) adalah 2 ml dan lapisan
bawah (kloroform) 6,9 ml. Perubahan warna menjadi merah muda pada titrasi lapisan atas menandakan
bahwa campuran telah netral atau pH = 7 sebagai hasil campuran dari asam atau basa. Sedangkan
perubahan warna pada titrasi lapisan bawah menunjukkan tidak adanya asam asetat glasial dalam larutan
tersebut.
Setelah dilakukan perhitungan diketahui total mol NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik
akhir titrasi adalah 0.020 mol dan mol asam asetat glasial sampel adalah0.035 mol. Percobaan pemeriksaan
data dikatakan benar bila mol NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi sama dengan mol asam asetat glasial
sampel. Sedangkan pada percobaan yang kami lakukan ada selisih sebesar 0,015 mol, hal itu terjadi
dimungkinkan karena kesalahan pengamatan kekeruhan pada saat titrasi campuran asam asetat glasial +
kloroform oleh aquades.


III. KESIMPULAN
1. Semakin banyak asam asetat glasial yang dicampurkan dengan kloroform maka semakin banyak
pula aquadest yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi. Jadi asam asetat glasial dapat menaikan
kelarutan kloroform dalam air
2. Pencampuran zat akan homogen atau saling melarutkan apabila komposisinya sesuai perbandingan (dapat
dilihat pada diagram terner), dan apabila komposisi salah satunya melebihi maka akan terjadi pencampuran
heterogen
3. Pencampuran homogen yaitu pada as.asetat glacial-kloroform, sedangkan pencampuran heterogen yaitu
pada kloroform-air.
4. Kelarutan dari zat yang terlibat dalam pencampuran ini dapat kita naikan atau diturunkan dengan cara
melihat perbandingannya dari diagram terner.
5. Total mol NaOH yang dibutuhkan untuk mendapatkan titrasi yang maksimum adalah 0,089 mol dan mol
asam asetat glasial adalah 0,035 mol
6. Tie line yang didapatkan mempunyai % b/b masing-masing yaitu
% b/b kloroform = 84.63 %
% b/b asam asetat glasial = 15.01 %
% b/b air = 0.36 %

DAFTAR PUSTAKA
A.W. Francis, Liquid-Liquid Equilibriums, Interscience Publisher, New York, 1963
Daniel et al., Experimental Physical Chemistry, ed VII, 1970, hal. 128-131
G.W. Caastellan, Physical Chemistry, Ed. I, 1971, hal. 247-350

http://chemistapolban.blogspot.com/2011/06/praktikum-kelarutan-zat-diagram-terner.html


VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum Diagram Terner ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu
cairan yang terdapat dalam campuran dua cairan tertentu. Dimana dalam hal ini
cairan yang dipergunakan sebagai cairan A adalah CCl4, cairan B adalah Aquades, dan
cairan C adalah asam asetat.
Pada percobaan pertama, cairan A dan C dicampur dengan variasi perbandingan
volume, yaitu: 1:9 ; 3:7 ; 5:5 ; 7:3 ; dan 9:1 ml. Setiap penambahan cairan, tiap
Erlenmeyer beserta cairan yang ada didalamnya ditimbang agar diperoleh selisih
massa ketika cairan ditambahkan. Dari percobaan, cairan A dan C mampu melarut
dengan baik. Hasil tersebut diperoleh karena antara CCl4 dengan asam asetat dapat
saling berikatan. Dimana, CCl4 dapat berikatan di sekitar gugus metil dari
CH3COOH yang bersifat non-polar pada gugus CH3-nya.
Ketika titrasi dengan aquades dilakukan, terjadi pemisahan diantara campuran CCl4
dengan asam asetat, hal ini dikarenakan asam asetat membentuk ikatan hydrogen
yang lebih kuat dengan molekul air pada bagian OH dari gugus COOH asam
asetatnya. Oleh karena itu, asam asetat yang awalnya berikatan dengan CCl4 akan
terpisahkan dan berikatan dengan air. Hal ini disebabkan karena sifat CCl4 yang
tidak melarut dengan air sehingga CCl4 yang mulanya berikatan dengan CH3COOH
akan terlepas dan terpisah membentuk 2 larutan terner terkonjugasi yang ditandai
dengan terbentuknya larutan yang keruh. Karena kemampuannya yang dapat melarut
dengan air dan juga CCL4, maka Asam Asetat Glasial (CH3COOH) dikenal sebagai
pelarut yang bersifat semi-polar.
Ketika campuran asam asetat dan CCl4 dititrasi dengan aquades, volume titran I=
2,55 ml ; volume titran II= 1,10 ml ; volume titran III= 0,60 ml ; volume titran IV=
0,50 ml ; dan volume titran V= 2,40 ml ditemukan keadaan campuran dalam keadaan
keruh.
Dari hasil perhitungan berdasarkan data-data yang telah diperoleh, maka XA pada
perbandingan campuran 1:9= 6,45 %. Untuk perbandingan campuran 3:7 = 13,64%.
Untuk perbandingan 5:5 = 32,05%. Untuk perbandingan 7:3 = 50,34%. Dan untuk
perbandingan 9:1 = 37,66%. Hal ini menunjukkan semakin besar komponen A di dalam
campuran, XA-nya makin naik. Kecuali pada perbandingan 7:3 didapatkan hasil fraksi
A cukup tinggi kenaikannya.
Untuk XB pada campuran dengan perbandingan 1:9 diperoleh 41,90%, untuk
perbandingan 3:7 diperoleh hasil 27,30%, untuk campuran A-C 5:5 diperoleh fraksi
B sebesar 14,10%. Pada campuran A-C dengan perbandingan 7:3 didapatkan XB =
12,75%, dan untuk perbandingan campuran A-C 9:1 didapatkan XB = 54,39%
Sedangkan untuk XC pada perbandingan campuran 1:9 sebesar 51,65%, untuk
perbandingan 3:7 didapatkan 59,06%, untuk perbandingan 5:5 diperoleh hasil
53,85%, untuk perbandingan 7:3 diperoleh hasil 36,91%, dan untuk perbandingan
campuran 9:1 didapatkan hasil 7,95%.
Percobaan kedua dilakukan dengan menyampurkan cairan B (aquades) dan cairan C
(asam asetat glacial) dengan variasi campuran 1:9 ; 3:7 ; 5:5 ; 7:3 ; dan 9:1. Dari
percobaan yang telah dilakukan dan dari hasil perhitungan yang didapatkan, XA
(fraksi mol CCl4) untuk perbandingan campuran 1: 9 adalah 8,06%, untuk
perbandingan campuran 3:7 diperoleh sebesar 2,81%, untuk perbandingan 5:5
didapatkan hasil XAnya 0,89%, untuk prbandingan campuran 7:3 hasilnya 0,97%, dan
untuk campuran dengan perbandingan 9:1 diperoleh hasil 0,42%.
Dari hasil perhitungan yang didapatkan, XB (fraksi mol Aquades) untuk
perbandingan campuran 1: 9 adalah 41,29%, untuk perbandingan campuran 3:7
diperoleh sebesar 59,60%, untuk perbandingan 5:5 didapatkan hasil XAnya 79,71%,
untuk perbandingan campuran 7:3 hasilnya 88,95%, dan untuk campuran dengan
perbandingan 9:1 diperoleh hasil 96,48%.
Sedangkan dari hasil perhitungan, XC (fraksi mol CCl4) untuk perbandingan
campuran 1: 9 adalah 50,65%, untuk perbandingan campuran 3:7 diperoleh sebesar
37,59%, untuk perbandingan 5:5 didapatkan hasil XAnya 19,40%, untuk
perbandingan campuran 7:3 hasilnya adalah 3,10%.
Dari hasil kedua percobaan tersebut dapat dilihat bahwa konsentrasi cairan C (Asam
Asetat) ternyata justru sebanding dengan naik-turunnya konsentrasi cairan yang
dipakai sebagai titran pada titrasi campuran. Pada percobaan pertama, besarnya
fraksi mol asam asetat sebanding dengan penurunan fraksi mol aquades. Sedangkan
pada percobaan kedua, fraksi mol asam asetat sebanding dengan penurunan fraksi
mol dari CCl4 (titran). Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh keunikan asam asetat
yang memiliki sifat semi-polar, dimana dapat melarutkan CCl4 dengan baik, begitu
juga halnya dalam melarut dengan air (aquades). Untuk cairan-cairan yang saling
melarutkan, konsentrasinya akan saling berkebalikan karena larutan tersebut akan
membentuk daerah berfase tunggal. Sedangkan cairan yang tidak melarut (larut
sebagian) akan membentuk daerah berfase 2. Untuk membuktikannya lebih lanjut,
maka akan digambarkan diagram terner-nya agar tampak lebih jelas titik kritisnya
ketika titrasi dilarutkan sehingga terlihat batas kelarutan dari masing-masing
komponen campuran tersebut.
Ketika cairan yang melarut berubah menjadi tidak larut (kurang melarut), maka akan
membentuk dua fase (daerah yang berarsir), sedangkan komponen-komponen yang
saling melarut akan berada pada luar daerah yang berarsir.


VIII. KESIMPULAN
XI. DAFTAR PUSTAKA
http://devry.wordpress.com/2008/08/26/diagram-fasa-logam/
http://staff.ui.ac.id/internal/131611668/material/PanduanKimiaFisika.pdf
http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/kimia_dasar/cairan_dan_larutan/kesetimbangan fasa-dan-
diagram-fasa/

http://sleepingbeautyandprincephilips.blogspot.com/2010/05/diagram-terner-i_05.html