Anda di halaman 1dari 15

Perbedaan Mitosis dan Meiosis

Pada dasarnya mitosis dan meiosis dapat dibedakan berdasarkan berbagai aspek
diantaranya dari tujuan prosesnya, jumlah pembelahan sel, tempat pembelahan dan sifat sel
anaknya. Berikut perbedaan pembelahan mitosis dan meiosis,

Mitosis :
1. Terjadi pada semua sel tubuh (autosom) yang sedang memperbanyak diri.
2. Hanya terdapat satu tahap pembelahan dalam satu siklus pembelahan sel.
3. Tidak terdapat pasangan kromosom homolog, yang berpisah adalah kromatid-
kromatid yang bergerak menuju kutub yang berbeda.
4. Tidak terjadi pertukaran segmen kromosom.
5. Terjadi di sel romantik.
6. Tahapan mitosis : “profase-metafase-anafase dan telofase diselingi oleh interfase”.
7. Tujuan prosesnya adalah untuk masa pertumbuhan seseorang.
8. Sifat sel anak berupa diploid atau 2n.
9. Sel baru yang dihasilkan sari suatu mitosis akan mempunyai struktur genetik yang
sama dengan sel awal.
10. Pembelahan sel waktunya berlangsung singkat.
11. Jumlah kromosom per nukleus tetap dipertahankan pada sel anak.
12. Hasil akhir dari pembelahan satu sel adalah dua sel baru yang sama.
Meiosis :
1. Hanya terjadi pada sel gonad pada saat pembentukan gamet.
2. Terdapat dua tahap pembelahan, yaitu meiosis I dan meiosis II.
3. Terdapat pasangan kromosom homolog pada meiosis I, kemudian setiap anggota
pasangan kromosom akan bermigrasi menuju kutub yang berbeda. pada meiosis II
baru terjadi pemisahan kromatid seperti pada mitosis.
4. Terjadi pindah silang antara kromosom homolog yang berpasangan.
5. Terjadi pada sel gonad di dalam tubuh.
6. Tahapan meiosis: “profase I – metafase I – anafase I – telofase I – profase II – metafase
II – anafase II – telofase II tanpa interfase”.
7. Bertujuan untuk mempertahankan adanya diploid.
8. Sifat sel anak berupa haploid atau n.
9. Sel yang dihasilkan melalui proses meiosis akan mempunyai jumlah kromosom
separuh dari sel semula.
10. Pembelahan sel waktunya berlangsung cepat.
11. Jumlah kromosom setengah dari nukleus semula.
12. Hasil akhir dari pembelahan satu sel adalah empat sel baru yang mempunyai jumlah
kromosom separuh dari sel induk.
Untuk memudahkan dalam memahami perbedaan mitosis dan meiosis dengan lebih
mudah, berikut ini kami sajikan perbedaan keduanya dalam bentuk tabel,
Perbedaan Mitosis Meiosis

Biasanya dua pembelahan dan lebih


Jumlah Pembelahan Hanya satu pembelahan
bertahap

Untuk reproduksi aseksual, Membutuhkan rekombinan dan


pertumbuhan dan reparasi sel. Juga proses reproduksi seksual. Juga
Tujuan
Untuk perkembangbiakan untuk mengurangi jumlah
organisme eukariotik uniseluler. kromosom.

Tidak diplikasi kromosom dan


sitoplasma pada pembelahan
Konten berupa kromosom dan
Isi Duplikasi pertama. pembelahan kedua sama
material sitoplasma.
dengan mitosis dan jumlah
kromosom tidak berkurang

Terjadi proses persilangan (Cross


Persilangan Tidak terjadi persilangan
over)

Sentromer tidak terpisah pada fase


Sentromer terpisah pada fase
Sentromer anafase I, tetapi pada anafase II
anafase
meiosis

Sitokinesis terjadi dua kali, yaitu


Sitokinesis Sitokinesis terjadi hanya sekali
pada fase telofase I dan telofase II.

Jumlah Sel Anak 2 sel 4 sel

Tidak identik dengan sel induk


Sifat Sel Anakan Identik dengan sel induk
(terjadi kombinasi gen)

Sifat kromosom sel


anak hasil
Diploid (2n) Haploid (n)
pembelahan dari sel
induk diploid (2n)

Peranan bagi
organisme eukariotik Menghasilkan sel somatik Menghasilkan sel-sel gamet
multiseluler

Ada, antara meiosis I dengan meiosis


Interkinesis Tidak ada
II

Kromosom berjajar di bidang Metafase II : kromosom berjajar di


Metafase
ekuatorial dalam 1 baris bidang ekuatorial dalam 1 baris

Duplikasi kromosom Para pertengahan profase I (fase


Pada awal profase
(kromatid saudara) pakiten)

Sinapsis kromosom
Tidak terjadi Terjadi pada profase I
homolog

Pindah silang
(crossing over) gen Tidak ada Ada
pada kromosom

Pada anafase I, sentromer belum


Sentromer saat Terbagi 2 sehingga kromatid
memisah. Sentromer memisah saat
anafase memisah saat anafase
anafase II

Anafase I : memisahkan pasangan


Anafase Memisahkan kromatid saudara kromosom homolog, Anafase II :
memisahkan kromatid saudara

Demikianlah penjelasan tentang perbedaan mitosis dan meiosis secara lengkap


Penjelasan Spermatogenesis Dan Oogenesis
Beserta Perbedaannya
Oleh Dosen Pendidikan 2Diposting pada 03/02/2019
DosenPendidikan.Com – Tahukan anda apa itu Spermatogenesis Dan Oogenesis ??
Spermatogenesis ialah proses pembentukan sperma yang terjadi pada tubuh pria. Sedangkan
pada Oogenesis ialah proses pembentukan ovum atau sel telur yang terjadi pada wanita.

Pembahasan Spermatogenesis Dan Oogenesis


Daftar Isi Artikel Ini :
Gametogenesis ialah proses sel kelamin jantan dan betina ( gamet ) dimana sperma dan ovum
terbentuk yang setiap dalam gonad pria dan wanita ( testis dan ovarium ). Gametogenesis
terdiri dari dua jenis yaitu Spermatogenesis dan Oogenesis, untuk lebih jelasnya berikut ini
pembahasan mengenai Spermatogenesis dan Oogenesis.

Spermatogenesis
Spermatogenesis dalam arti luas ialah proses pembentukan dan pematangan sel benih pria
atau spermatozoa. Sehingga tujuan utama dari spermatogenesis ialah pembentukan sel benih
yang jumlahnya 4 sperma fungsional.

Dalam pembentukan spermatogenesis dimulai dari tubulus seminiferus yang sesuai dari jenis
mereka yang bentuknya mirip dengan mie kecil lurus atau bengkok pada testis. Dibagian dalam
tubuhlus seminiferus dilapisi dengan sel sertoli dan spermatogonia. Sel-sel sertoli disebut
dengan “ sel perawat ” karena mereka membantu dalam pengembangan sperma dengan
memakan bahan limbah dari spermatogenesis dan mengalahkan sel-sel melalui kenal-kenal
tubulus.

Oogenesis
Yang pada dasarnya Oogenesis ialah proses pembentukan ovum atau sel telur yang terjadi
pada tubuh wanita. Yang tujuan utamanya dari Oogenesis ialah membentuk ovum dalam
proses pembuahan atau reproduksi. Proses yang berlangsung di organ reproduksi wanita,
yakni ovarium dengan fungsi utama menghasilkan sel telur arau ovum. Pada prosesnya
menghasilkan 1 ovum fungsional.

Oogenesis terjadi pada spesies dengan reproduksi seksual, dan keseluruhan tahap belum
matang sel telur. Untuk matang sel telur melewati lima tahap pada mamalia yaitu :

 Oogonium
 Oosit primer
 Oosit sekunder
 Ootid
 Dan Ovum

Umumnya spesies yang mengalami reproduksi seksual sel telur mengandung setengah materi
genetik dari individu dewasa. Reproduksi yang terjadi disaat sel telur dibuahi oleh gamet jantan
atau sperma. Sperma berisi setengah bahan genetik dari individu yang matang, sehingga
embrio yang dibentuk oleh fertilisasi berisi set lengkap materi genetik setengah sel telur dan
setengah dari sperma.

Perbedaan Spermatogenesis Dan Oogenesis


 Spermatogenesis ialah produksi sel sperma laki-laki, sedangkan Oogenesis ialah
produksi ovum wanita.
 Pada vertebrata, Spermatogenesis terjadi di testis pria, sedangkan Oogenesis terjadi
pada ovarium perempuan.
 Spermatogenesis dimulai di spermatosit primer, sedangkan Oogenesis dimulai daro
Oosit Primer.
 Spermatogenesis menghasilkan empat spermatozoa fungsional dari spermatosit primer,
sedangkan Oogenesis menghasilkan ovum tunggal dari 3 badan polar Oosit Primer.
 Pada Spermatogensis hasil sitokinesis dalam dua sel berukuran sama sedangkan pada
Oogenesis menghasilkan dua sel yang sangat tidak setara.
 Sel sperma tidak mengandung makanan, misalnya ovum ( sel telur ).
 Sel-sel sperma jauh lebih kecil dari sel telur.
 Sel-sel sperma yang motil, sedangkan pada ovum ialah immotile.
 Spermatogenesis selesai sementara di testis, sedangkan devisi pematangan sekunder
Oogenesis terjadi di luar Ovarium atau saluran telur.
 Spermatogenesis dimuali di masa pubertas, sedangkan pada Oogenesis dimulai dari
sebelum kelahiran pada tahap perkembangan embrio.
 Spermatogenesis menghasilkan sel sperma pada satu waktu, sedangkan pada hasil
Oogenesis hanya satu ovum per bulan.
 Spermatogenesis melibatkan fase pertumbuhan pendek, sedangkan Oogenesis
melibatkan fase yang panjang.
 Spermatogenesis terjadi secara terus menerus setelah pubertas, sedangkan pada
Oogenesis terjadi dalam pola siklik.
Proses menstruasi pada wanita berlangsung setiap bulan, dengan siklus yang berbeda-
beda. Menstruasi terjadi karena meluruhnya penebalan pada dinding rahim yang dipersiapkan
untuk kehamilan. Selain darah, cairan menstruasi juga mengandung lendir dan sel-sel lapisan
dalam rahim.
Siklus menstruasi terjadi selama 28 hari, dihitung dari hari pertama periode haid saat ini sampai
dengan hari pertama pada periode haid selanjutnya. Meski begitu, tidak semua wanita memiliki
panjang siklus menstruasi yang sama. Siklus ini terkadang bisa datang lebih cepat atau justru lebih
lambat, tergantung kondisi masing-masing.

Memahami Fase-fase Menstruasi


Proses menstruasi dibagi ke dalam empat fase, yaitu:

 Fase menstruasi
Pada fase ini, lapisan dinding dalam rahim (endometrium) yang mengandung darah, sel-sel
dinding rahim, dan lendir, akan luruh dan keluar melalui vagina. Fase ini dimulai sejak hari
pertama siklus menstruasi dimulai dan bisa berlangsung selama 4 sampai 6 hari. Pada fase
ini, wanita biasanya akan merasakan nyeri di perut bawah dan punggung karena rahim
berkontraksi untuk membantu meluruhkan endometrium.

 Fase folikular
Fase ini berlangsung sejak hari pertama menstruasi sampai memasuki fase ovulasi. Pada fase
ini, ovarium akan memproduksi folikel yang berisi sel telur. Pertumbuhan folikel ovarium
menyebabkan endometrium menebal. Fase ini biasanya terjadi pada hari ke-10 dari 28 hari
dalam sebuah siklus menstruasi. Durasi waktu yang dihabiskan pada fase ini menentukan
berapa lama siklus menstruasi seorang wanita berlangsung.

 Fase ovulasi
Pada fase ovulasi, folikel yang diproduksi ovarium akan melepaskan sel telur untuk dibuahi.
Sel telur yang telah matang akan bergerak ke tuba fallopi dan menempel di rahim. Sel telur ini
hanya bertahan selama 24 jam. Jika tidak dibuahi, sel telur akan mati. Namun jika sel telur
bertemu dengan sperma dan dibuahi, akan terjadi Fase ovulasi menandai masa subur wanita.
Ovulasi biasanya terjadi sekitar dua minggu sebelum siklus menstruasi berikutnya dimulai.

 Fase luteal
Setelah fase ovulasi, folikel yang telah pecah dan mengeluarkan sel telur akan membentuk
korpus luteum pada fase ini. Korpus luteum akan memicu peningkatan hormon
progesteron untuk mempertebal lapisan dinding rahim. Fase ini juga dikenal sebagai
fase pramenstruasi. Fase ini umumnya ditandai sejumlah gejala, seperti payudara membesar,
muncul jerawat, badan terasa lemas, menjadi mudah marah atau emosional.

Proses menstruasi ini terus berputar, hingga berakhir ketika seorang wanita sudah memasuki masa
menopause. Biasanya terjadi saat wanita berusia 40 tahun ke atas.

Hormon Menstruasi yang Memengaruhi


Proses menstruasi dipengaruhi oleh beberapa hormon, antara lain:

 Estrogen
Hormon estrogen berperan penting dalam pembentukan fisik dan organ reproduksi wanita,
misalnya dalam pertumbuhan payudara, rambut di sekitar organ intim, memproduksi sel telur
di dalam ovarium, serta mengatur siklus menstruasi. Estrogen akan meningkat pada fase
ovulasi dan menurun pada fase luteal.

 Progesteron
Salah satu fungsi hormon progesteron adalah merangsang lapisan dinding rahim untuk
menebal dan menerima sel telur yang siap dibuahi. Kadar hormon ini sangat rendah pada fase
folikular dan akan mengalami peningkatan pada fase luteal. Hormon ini diproduksi setelah
melewati fase ovulasi.

 Hormon pelepas gonadotropin (gonadotrophin-releasing hormone/GnRh)


Hormon ini diproduksi di dalam otak dan berfungsi merangsang tubuh untuk menghasilkan
hormon perangsang folikel dan hormon pelutein.
 Hormon perangsang folikel (follicle stimulating hormone/FSH)
Hormon ini berperan dalam produksi sel telur. Dalam siklus menstruasi, kadar hormon ini akan
meningkat sebelum fase ovulasi.

 Hormon pelutein (luteinizing hormone/LH)


Hormon ini berfungsi merangsang ovarium untuk melepaskan sel telur selama ovulasi. Jika sel
telur bertemu sperma dan dibuahi, hormon ini akan merangsang korpus luteum untuk
memproduksi progesteron.

Proses menstruasi yang normal akan terjadi secara alami. Jika proses menstruasi tidak berjalan
normal atau mengalami gangguan lain, sebaiknya konsultasi ke dokter untuk penanganan yang tepat.
Pengertian Siklus Menstruasi

Siklus Menstruasi

Apa sih Siklus Menstruasi itu? Satu masa haid rata-rata berlangsung antara tiga sampai tujuh hari.
Nah, yang dimaksud dengan siklus menstruasi adalah rentang waktu mulai dari hari pertama
menstruasi sampai hari pertama menstruasi pada bulan berikutnya.

Umumnya, siklus menstruasi normal terjadi setiap 28 hari sekali, meski ada pula yang setiap 21
sampai 35 hari. Haid Anda masih terhitung normal jika muncul di mana saja di antara rentang waktu
ini. Lantas, seperti apa siklus Anda, apakah normal atau justru tidak teratur? Coba cek di bawah sini.

Cara menghitung siklus haid yang benar


Cara menghitung siklus haid Anda begini: Mulai dari hari pertama darah menstruasi Anda keluar di
bulan ini. Ini artinya, bercak cokelat atau flek yang biasanya muncul beberapa hari menjelang haid
tidak termasuk ke dalam siklus haid Anda.

Ambil contoh hari pertama menstruasi Anda di bulan ini jatuh pada tanggal 15 Agustus, jangan lupa
tandai di kalender. Selanjutnya, tunggulah sampai menstruasi Anda berakhir. Ketika bulan depan
Anda haid lagi maka catat kembali tanggalnya, misalnya di tanggal 12 September. Inilah awal siklus
haid Anda yang baru.

Kemudian, hitung rentang waktu antara hari pertama menstruasi sebelumnya (tanggal 15) sampai
satu hari sebelum menstruasi Anda berikutnya (tanggal 11 September). Jangan hitung sampai
tanggal 12 karena di hari itu, Anda sudah menstruasi lagi sehingga ini akan terhitung ke dalam siklus
haid selanjutnya.

Setelah dihitung, dari tanggal 15 Agustus sampai 11 September berjarak 28 hari. Jarak hari inilah
yang menunjukkan siklus haid Anda, yaitu per 28 hari sekali.

Baca Juga : Organ Tubuh Manusia – Organ Dalam, Organ Luar, Dilengkapi Gambar Dan
Penjelasan

Bagi Anda yang punya siklus haid yang tidak teratur, Anda mungkin bingung untuk menentukan cara
menghitung siklus haid. Misalnya saja, siklus haid Anda bulan ini per 30 hari tapi siklus berikutnya
ternyata terhitung lebih cepat jadi per 25 hari, atau justru lebih lama selama 35 hari.

Sebetulnya, cara menghitung siklus haid teratur dan tidak teratur itu tetap sama, kok. Kuncinya tetap
dengan menghitung rentang waktu antara hari pertama haid Anda bulan ini sampai satu hari sebelum
menstruasi Anda selanjutnya.

Bedanya, Anda yang memiliki menstruasi tidak teratur dianjurkan untuk mencatat siklus haid Anda
minimal enam bulan berturut-turut lalu bagi rata-ratanya. Nah, hasil yang Anda dapatkan inilah yang
menjadi patokan siklus haid Anda.
Fase-fase dalam Siklus Menstruasi
Pada dasarnya, siklus menstruasi dibagi menjadi beberapa fase yang diatur oleh lima hormon di
dalam tubuh. Hormon yang dimaksud antara lain:

Estrogen
Hormon yang diproduksi pada ovarium ini sangat berperan di dalam tubuh, terutama pada ovulasi
dalam siklus reproduksi wanita. Hormon estrogen juga berperan pada perubahan tubuh remaja
dalam masa pubertas serta terlibat dalam pembentukan kembali lapisan rahim setelah periode
menstruasi.

Progesteron
Hormon ini bekerjasama dengan estrogen guna menjaga siklus reproduksi dan menjaga kehamilan.
Sama dengan estrogen, progesteron juga diproduksi di ovarium dan berperan dalam penebalan
dinding rahim.

Hormon pelepas gonadotropin (Gonadotrophin-releasing hormone-GnRh)


Diproduksi oleh otak, hormon ini membantu memberikan rangsangan pada tubuh untuk
menghasilkan hormon perangsang folikel dan hormon pelutein.

Hormon Pelutein (Luteinizing hormone-LH)


Sel telur dan proses ovulasi dihasilkan oleh ovarium berkat rangsangan dari hormon ini.

Hormon perangsang folikel (Follicle stimulating hormone-FSH)


Hormon ini berfungsi membantu sel telur di dalam ovarium matang dan siap untuk dilepaskan.
Hormon ini diproduksi di kelenjar pituitari pada bagian bawah otak.

Baca Juga : Sel Epitel – Pengertian dan Penyebabnya Beserta Gambar

Fase-fase dalam Siklus Menstruasi


Fase Pertama – Menstruasi

Fase dalam siklus menstruasi yang pertama biasanya terjadi selama 3-7 hari. Pada masa ini, lapisan
dinding rahim luruh menjadi darah menstruasi. Banyaknya darah yang keluar selama masa
menstruasi berkisar antara 30-40 ml pada tiap siklus.

Pada hari pertama hingga hari ke-3, darah menstruasi yang keluar akan lebih banyak. Pada saat ini,
biasanya wanita akan merasakan nyeri atau kram pada bagian panggul, kaki, dan punggung.

Nyeri pada bagian perut yang juga kerap dirasakan pada hari-hari pertama menstruasi dipicu karena
adanya kontraksi dalam rahim. Kontraksi otot rahim ini terjadi karena adanya peningkatan hormon
prostaglandin selama menstruasi terjadi.

Adapun kontraksi yang kuat dalam rahim dapat menyebabkan suplai oksigen ke rahim tidak berjalan
dengan lancar. Karena kekurangan asupan oksigen inilah, kram atau nyeri perut dirasakan selama
menstruasi.

Meski menyebabkan rasa sakit, kontraksi yang terjadi selama menstruasi sebetulnya berfungsi
membantu mendorong dan mengeluarkan lapisan dinding rahim yang luruh menjadi darah
menstruasi.

Luruhnya lapisan dinding rahim ini juga disebabkan oleh penurunan kadar estrogen dan progesteron.
Pada saat yang sama, hormon perangsang folikel (FSH) mulai sedikit meningkat dan memancing
perkembangan 5-20 folikel (kantong yang berisi indung telur) di dalam ovarium. Dari beberapa folikel
yang berkembang, hanya ada satu folikel yang terus berkembang akan memproduksi estrogen.

Selama masa menstruasi inilah hormon estrogen Anda akan berada pada tingkatan yang rendah.
Maka tak heran jika secara emosional Anda lebih mudah untuk marah ataupun tersinggung selama
masa menstruasi.

Fase Kedua – Pra ovulasi dan Ovulasi

Pada fase pra ovulasi, lapisan dinding rahim yang sempat luruh akan mulai menebal kembali.
Lapisan dinding rahim tersebut cukup tipis, sehingga sperma dapat melewati lapisan ini dengan
mudah dan bisa bertahan kurang lebih selama 3-5 hari. Proses penebalan rahim dipicu oleh
peningkatan hormon.
Baca Juga : Organ Reproduksi Pria – Hormon Beserta Fungsinya

Mungkin Anda sempat berpikir bahwa ovulasi selalu terjadi pada hari ke-14 setelah siklus pertama.
Tapi nyatanya masa ovulasi tiap wanita tidaklah sama, tergantung kepada siklus menstruasi masing-
masing dan beberapa faktor, seperti penurunan berat badan, stress, sakit, diet dan olahraga.

Jika Anda sedang berencana memiliki momongan, ada baiknya Anda melakukan hubungan intim
dengan suami pada masa praovulasi hingga ovulasi. Sebab, ini adalah waktu terbaik yang
memungkinkan terjadinya pembuahan. Di samping itu, sperma dapat bertahan kurang-lebih selama 3
hingga 5 hari di dalam rahim.

Fase Ketiga – Pra Menstruasi

Pada fase ini lapisan dinding rahim makin menebal. Hal ini dikarenakan folikel yang telah pecah dan
mengeluarkan sel telur, membentuk korpus luteum. Korpus luteum kemudian memproduksi
progesteron yang membuat lapisan dinding rahim makin tebal.

Jika tidak terjadi pembuahan, Anda akan mulai merasakan gejala pramenstruasi (PMS), seperti
perubahan emosi yang lebih sensitif dan perubahan kondisi fisik, seperti nyeri pada payudara,
pusing, cepat lelah, atau kembung. Selain gejala tersebut, korpus luteum akan mengalami
degenerasi dan berhenti memproduksi progesteron. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar progesteron
dan estrogen akan menurun, lapisan dinding rahim juga akan luruh hingga menjadi darah menstruasi.
Fertilisasi adalah salah satu proses di dalam tubuh perempuan sebelum kelahiran bayi
mungil. Proses pembuahan yang berhasil membuat Anda memiliki kesempatan yang lebih
besar untuk segera memiliki bayi dan menimangnya.

Ingin tahu lebih dalam apa pengertian fertilisasi dan bagaimana prosesnya terjadi? Baca
lebih lanjut penjelasan ini untuk menemukan jawabannya!

Pengertian fertilisasi
Fertilisasi adalah proses penyatuan kedua sel gamet, yaitu sel telur dari pihak perempuan
dan sel sperma dari pihak laki-laki. Proses fertilisasi sering juga disebut sebagai proses
pembuahan.

Hasil dari proses pembuahan di dalam fertilisasi akan menghasilkan sebuah sel tunggal yaitu
zigot. Tempat terjadinya fertilisasi pada manusia adalah di dalam tuba fallopi wanita
atau oviduct.

Pada manusia, fertilisasi yang terjadi merupakan fertilisasi internal. Fertilisasi internal
adalah proses pembuahan yang terjadi di dalam tubuh induk betina. Memang, fertilisasi
pada manusia akan menghasilkan jumlah individu yang lebih sedikit tetapi lebih aman.

Fungsi fertilisasi
Fertilisasi yang terjadi bukanlah tanpa fungsi. Pada semua mahluk hidup termasuk manusia,
fertilisasi memiliki beberapa fungsi. Tak pelak, fungsi utama fertilisasi adalah menghasilkan
keturunan.

Masih ada beberapa fungsi fertilisasi lainnya, :

1. Mengaktivasi sel telur untuk memulai proses perkembangan


2. Menurunkan materi genetik dari jantan dan betina ke anak
3. Membuat jumlah kromosom dari haploid menjadi diploid lagi
4. Menentukan jenis kelamin anak

Apa saja yang diperlukan dalam fertilisasi?


Beberapa hal yang diperlukan di dalam proses fertilisasi adalah sel telur, sel sperma, tuba
fallopi, dan rahim. Keempat hal tersebut adalah hal yang minimal harus ada agar bisa
fertilisasi bisa terjadi.

Anda perlu tahu bahwa sel telur dan sel sperma haruslah sel yang sehat dan tidak memiliki
kekurangan untuk membuahi dan dibuahi. Selain itu, kedua sel gamet tersebut harus
merupakan dua sel gamet dari spesis yang sama.
Fertilisasi hanya bisa terjadi jika sel telur dan sel sperma dari spesis yang sama bertemu.
Contohnya, sel telur manusia akan dibuahi bila bertemu sel sperma manusia. Hal yang sama
berlaku pada mahluk hidup lainnya.

Bagaimana proses pembuahan terjadi?


Apabila semua hal yang dibutuhkan telah ada maka fertilisasi atau proses pembuahan bisa
berlangsung. Seperti apa proses pembuahan yang terjadi di dalam tubuh perempuan? Yuk,
simak dengan seksama!

Berikut ini adalah beberapa tahap yang diperlukan selama proses pembuahan:

1. Proses pematangan sel gamet

Tahap utama dari fertilisasi adalah proses pematangan kedua sel gamet, yaitu sel telur dan
sel sperma. Anda bisa melihat penjelasannya di bawah ini:

 Proses pematangan sel telur

Sel telur yang bisa dibuahi adalah sel telur yang matang. Proses pematangan sel telur ada di
dalam ovarium. Di dalam ovarium ada sekantung sel-sel telur yang masih muda, yaitu
folikel.

Folikel yang ada di dalam ovarium akan mengalami proses pematangan oleh sebuah hormon
yaitu FSH atau Follicle Stimulating Hormone (Hormon perangsang folikel).Hormon FSH akan
merangsang folikel agar tumbuh dan menjadi lebih besar yaitu sekitar 20 mm.

Hanya sel telur yang matang yang masih bertahan sedangkan yang lainnya akan hancur.
Setelah sel telur matang berhasil didapatkan maka folikel besar akan merangsang hormon
estrogen untuk membentuk lapisan rahim untuk tempat tumbuhnya janin.

Lapisan rahim yang telah tumbuh ini akan ditangkap otak melalui hormon LH (luteinizing
hormone). Hormon LH inilah yang menjadi indikator untuk mendeteksi kehamilan melalui
test pack kehamilan.

 Proses pematangan sel sperma

Sel sperma juga harus melalui proses pematangan sebelum terjadinya proses pembuahan.
Proses pematangan sel sperma akan terjadi di dalam epididimis. Selama proses
pematangan, sel-sel sperma akan mendapatkan ‘modal’ untuk bisa membuahi. Akan tetapi,
hanya ada satu sperma terunggul yang berhasil membuahi sel telur.

2. Ovulasi

Setelah kedua sel gamet sama-sama matang maka harus terjadi proses ovulasi terlebih
dahulu. Sel telur matang yang didapatkan akan dilepas dari ovarium ke tuba fallopi sekitar
24 hingga 36 jam setelah hormon LH diproduksi. Sel telur yang ditangkap oleh tuba fallopi
akan tetap disitu hingga muncul sel sperma dan membuahinya.
3. Ejakulasi

Umumnya, proses pembuahan terjadi secara alami yaitu dengan cara hubungan intim
sehingga terjadi ejakulasi dan jutaan sel sperma masuk ke dalam vagina. Setiap ejakulasi
bisa terdapat sekitar 120 juta sel sperma per 1 mL cairan mani.

Namun, tahap ejakulasi ini berbeda bila proses pembuahan dilakukan secara fertilisasi in
vitro (proses bayi tabung). Jutaan sel sperma akan masuk ke dalam vagina dan terus
berenang hingga mencapai tuba fallopi.

4. Kapasitasi spermatozoa

Selama proses penyelaman sperma di dalam sistem organ kewanitaan, sperma akan
mengalami kapasitasi. Kapasitasi adalah proses penyesuaian sperma di dalam rahim dengan
cara melepas selubung glikoprotein. Dengan begitu, sperma akan tetap bertahan di dalam
rahim hingga bertemu dengan sel telur.

5. Perlekatan spermatozoa

Setelah mengalami kapasitasi, sel sperma harus bisa melekat dulu dengan zona pelucida.
Zona pelucida adalah lapisan terluar dari sel telur. Fungsi dari perlekatan spermatozoa (sel
sperma) pada zona pelucida adalah untuk memastikan bahwa jumlah kromosom sperma
sama dengan jumlah kromosom sel telur.

Jika sel sperma yang bertemu dengan sel telur manusia berbeda spesis maka sel sperma
tersebut tidak dapat melekat apalagi membuahi. Inilah tahap penting yang menjelaskan
mengapa hanya spesis yang sama yang dapat menghasilkan keturunan.

6. Reaksi akrosom

Sebelum spermatozoa menembus zona pelucida maka sel sperma harus mengalami reaksi
akrosom. Reaksi akrosom adalah reaksi di mana sel sperma mengalami proses pelepasan
enzim-enzim hidrolitik untuk mencerna zona pelucida sehingga dapat ditembus.

7. Penetrasi zona pelucida

Zona pelucida yang telah diinduksi oleh reaksi akrosom dari sel sperma tertentu akan dapat
ditembus oleh sel sperma tersebut. Setelah itu, sel sperma pun akan melewati zona
pelucida.

8. Peleburan membran sel gamet

Sel sperma yang berhasil menembus zona pelucida akan masuk ke dalam sitoplasma sel
telur dengan melepaskan ekornya. Hanya kepala spermatozoa saja yang masuk karena di
dalam itu mengandung kromosom termasuk kromosom X atau Y (penentu kelamin).

9. Perlindungan dari sperma lain


Kepala sel sperma yang akan masuk akan mengaktivasi sel telur untuk melanjutkan
pembelahan meiosis yang berguna untuk proses pembuahan. Selain itu, aktivasi sel telur
juga akan mencegah polispermia (mencegah masuknya sel sperma yang lain).

10. Difusi sperma dan ovum

Setelah sel telur teraktivasi maka dinding terdalam sel telur akan terbentengi dari sel
sperma yang lain. Setelah itu, akan terbentuk pronukleus jantan dari dalam kepala sel
sperma dan pronukleus betina dari sel telur.

Pembentukan pronukleus jantan dan betina akan mengalami syngami atau penyatuan
keduanya. Penyatuan kedua pronukleus ini akan mengalami difusi dan terjadilah fertilisasi
atau proses pembuahan.

Hasil dari fertilisasi adalah zigot yang akan terus mengalami pembelahan mitosis hingga
menjadi sebuah embrio atau cikal bakal janin. Janin pun akan berkembang selama kurang
lebih 9 bulan di dalam rahim dan menunggu hari kelahirannya.