Anda di halaman 1dari 26

LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)

OLEH : YOHANES DAHUR

LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH

1 Judul Teknik Pembuatan Rorak Pada Tanaman Kakao


2 Kompetensi Dasar Sasaran Diharapkan Dapat Menerapkan Cara
Pembuatan Rorak Pada Tanaman Kakao Dengan
Benar
3 Sasaran Kelompok Tani Perkebunan
4 Indikator Keberhasilan Sementara Peserta mampu menjelaskan teknik pembuatan rorak
pada tanaman kakao dengan singkat
5 Media Penyuluhan Lieflet
6 Metode Penyuluhan Ceramah dan demonstrasi
7 Alokasi Waktu 90 menit

Deskripsi Kegiatan

Uraian kegiatan Waktu Isi Materi


Bagian Awal 15 Menit o Pengantar : salam pembuka dan dilanjutkan
dengan obrolan yang difokuskan pada materi
yang akan disampaikan
o Menjelaskan tujuan pelaksanaan penyuluhan
dan hasil yang ingin dicapai
Isi materi 60 menit 1. Ceramah : tentang
o Pengertian rorak
o Tujuan pembuatan rorak
o Standar pembuatan rorak
o Cara pembuatan rorak
2. Diskusi : memberikan kesempatan kepada
peserta untuk bertanya
Penutup 15 menit  Mempertegas kembali dan menyimpulkan
pembuatan rorak
 Salam penutup
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Sinopsis

Pembuatan Rorak Pada Tanaman Kakao


PENDAHULUAN

Pembanguan pertanian yang berwawasan lingkungan adalah merupakan upaya dasar dan
berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara arif dan bijaksana untuk
meningkatkan hasil produksi sekaligus menjaga lahan dan air.

Usahatani tanaman kakao pada lahan berlereng perlu adanya upaya pembuatan rorak
dalam menanggulangi bahaya erosi dengan memanfaatkan rorak sebagai media penampungan
bahan organik seperti seresah, kulit buah kakao dan yang lain yang diharapkan menjadi sumber
pupuk organik yang murah dalam menghadapi mahalnya pupuk konvensional, baik organik
maupun anorganik buatan pabrik.

Pengertian

Rorak adalah galian yang dibuat di sebelah tanaman pokok untuk menempatkan pupuk
organik dan dapat berfungsi sebagai lubang drainase. Rorak merupakan salah satu praktek baku
kebun yang bertujuan untuk mengelola lahan bahan organik dan tindakan konservasi tanah dan
air di perkebunan kakao. Rorak dapat diisi serasah tanaman kakao atau sisa hasil pangkasan dan
gulma hingga penuh dan ditutupi dengan tanah. Setelah rorak ini penuh, kita harus membuat
rorak baru di sebelah lain pokok tanaman.

Tujuan pembuatan rorak

1. Mencegah hilangnya tanah lapisan atas oleh erosi dan aliran permukaan (run off)
2. Penampung air hujan yang jatuh
3. Mengembaliakan produktivitas lahan, produksi usahatani dan sekaligus meningkatkan
pendapatn petani
4. Untuk menampung bahan-bahan organik dan sisa-sisa tanaman sebagai sumber unsur
harayang bermanfaat bagi tanaman di sekitarnya.

Standar Pembuatan Rorak

1. Lahan berupa lahan kering dalam 1 ha dapat dibangun 30 unit


2. Panjang rorak 1m sampai dengan 5 m, lebar 0,3 m sampai 0,5 m
3. Kemiringan lahan antara 3% sampai 30%
4. Lahan peka terhadap erosi
5. Ketinggian tempat kurang dari 1.500 mdpl (masih memungkinkan tanaman dapat
diusahakan)
6. Lahan masih diusahakan oleh petani tetapi produktivitasnya telah mengalami penurunan
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Cara pembuatan rorak

1. Bersihkan lahan dari semak dan gulma


2. Lakukan pengukuran pada bidang olah sesuai kontur, dengan ondol-ondol dan pasang ajir
pada ketinggian yang sama
3. Tentukan letak rorak yang akan dibuat sesuai dengan ajir yang sudah dipasamg
4. Ukur panjang, lebar rorak sesuai dengan keadaan lahan dan tanaman supaya tidak
mengganggu pertumbuhan tanaman
5. Gali rorak dengan kedalaman 0,3 m sampai 0,5 m dan tanah galian diatur membentuk
bedengan dengan ketinggian 0,2 m dan lebar 0,3 m membentuk huruf U menghadap
lereng
6. Ulangi cara pembuatan rorak tersebut pada tempat lain sesuai dengan ajir yang dipasang
7. Jarak vertikal rorak satu dengan kedua antara 10 m sampai 15 m
8. Lakuakan perawatan berkala supaya rorak tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Penutup

Pembuatan rorak adalah salah satu upaya penerapan kaidah-kaidah konservasi tanah dan
air dalam upaya pengendalian erosi pada lahan-lahan usaha pertanian. Pembuatan rorak ini
dilakukan sampai tiba di rorak awal yang sudah siap digali. Kompos yang dihasilkan dari rorak
pertama ditaburkan ke piringan tanaman. Piringan tanaman merupakan lingkaran area berjarak
sekitar 1 meter di sekitar pokok tanaman yang selalu dipertahankan bersih dari gulma. Ketika
hujan deras, rorak dapat berfungsi sebagai lubang drainase untuk mempercepat penyusutan air
hujan yang menggenang di atas permukaan tanah. Air yang menggenang dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Stagnasi air dapat berakibat fatal pada pertanaman kakao.
Biasanya saluran drainase dibuat di pinggir blok kebun. Di blok kebun yang terlalu luas,
air yang menggenang di atas hamparan lahan pertanaman membutuhkan waktu cukup lama
untuk keluar melalui saluran drainase ini. Karena itu, rorak yang dibuat di sekitar pertanaman
dapat membantu mempercepat keluarnya air dari hamparan pertanaman, khususnya di lahan
yang tekstur tanahnya berat dan beriklim sangat basah dengan curah hujan bulanan relatif tinggi.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Pada kasus yang ekstrem, di areal pertanaman dengan curah hujan dan intensitas hujan
tinggi tanah bertekstur berat, dan permukaan air tanahnya relatif dangkal, rorak tambahan dapat
dibuat di antara barisan tanaman kakao dengan ukuran rorak lebih panjang dan dalam. Di lahan
miring, pembuatan rorak dapat menekan erosi karena dapat mengurangi aliran permukaan yang
bisa menyebabkan erosi. Di lahan miring yang dibuat teras, rorak dibuat di sebelah dalam teras.
Rorak yang umum dibuat di perkebunan kakao berukuran panjang 100 cm, lebar 30 cm,
dan kedalaman 30 cm. Jika volume bahan organik yang tersedia cukup besar ukuran rorak dapat
diperbesar. Rorak dibuat pada jarak 75 –100 cm dari pokok tanaman tergantung dari lebar teras
yang tersedia di areal pertanaman.

Sumber : Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao, Indonesia Jember


LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH

1 Judul Fermentasi kulit kakao sebagai pakan ternak babi


2 Kompetensi Dasar Sasaran Diharapkan Dapat Menerapkan Cara
Pembuatan pakan ternak dari kulit kakao
3 Sasaran Kelompok Ternak
4 Indikator Keberhasilan Sementara Peserta mampu menjelaskan cara pembuatan pakan
dari kulit kakao
5 Media Penyuluhan Leaflet
6 Metode Penyuluhan Ceramah dan demonstrasi
7 Alokasi Waktu 90 menit

Deskripsi Kegiatan

Uraian kegiatan Waktu Isi Materi


Bagian Awal 15 Menit o Pengantar : salam pembuka dan dilanjutkan
dengan obrolan yang difokuskan pada materi
yang akan disampaikan
o Menjelaskan tujuan pelaksanaan penyuluhan
dan hasil yang ingin dicapai
Isi materi 60 Menit 1. Ceramah : tentang :
o Pengertian Kulit Kakao
o Tujuan pembuatan rorak
o Manfaat Fermentasi Kulit Kakao
o Cara pembuatan fermentasi kulit
kakao
o Pemberian Fermentasi Kulit Buah
Kakao Kepada Ternak
2. Diskusi : memberikan kesempatan kepada
peserta untuk bertanya
3. Demonstrasi : mempraktekan cara
pembuatan (fermentasi) pakan babi dari kulit
kakao
Penutup 15 menit Penegasan dan kesimpulan
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Sinopsis Fermentasi Kulit Kakao Untuk Pakan Ternak

PENDAHULUAN

Penggunaan kulit kakao untuk ternak dapat mencapai 30–40% dari kebutuhan pakan,
sehingga pemanfaatan kulit buah kakao dapat mengantisipasi masalah kekurangan pakan ternak
serta menghemat tenaga kerja dalam penyediaan pakan hijauan.

Adapun usaha untuk meningkatkan kandungan nutrisi pada limbah kulit kakao salah
satunya adalah fermentasi. Fermentasi merupakan proses yang relatif mudah yang telah lama
dilakukan. Proses fermentasi dengan cara dan dosis yang sesuai mampu menghasilkan produk
protein, menurunkan kadar lemak, dan membentuk (menyederhanakan) karbohidrat kompleks.

Pengertian

Kulit buah kakao ( shel fod husk ) merupakan limbah agroindustri tanaman kakao (Theobroma
cacao L.) berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kulit buah kakao segar memiliki
kandungan nutrisi terdiri dari bahan kering (BK) 88 %, protein kasar (PK) 8 %, serat kasar (SK)
40,1 % dan TDN 50,8 %. Penggunaannya oleh ternak sapi dapat mencapai 30-40 % dari
kebutuhan pakan. Seiring perluasan areal perkebunan kakao, pengelolaan kulit buah kakao
secara baik penting diupayakan oleh petani. Hal tersebut bertujuan untuk mengatasi dampak
serangan penyakit pada tanaman akibat menumpuknya kulit buah kakao di areal perkebunan,
antisipasi masalah kekurangan pakan ternak serta menghemat tenaga kerja penyediaan pakan
hijauan. Sebaiknya kulit buah kakao difermentasi terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai
pakan ternak, Manfaat fermentasi tersebut adalah mempertinggi daya cerna, menurunkan
kandungan lignin, meningkatkan kadar protein, menekan efek buruk racun theobromine dan
meningkatkan produktifitas ternak sapi. Kulit buah kakao merupakan limbah pada perkebunan
kakao rakyat yang selalu berlimpah dan belum dikelola secara baik. Ditinjau dari segi kandungan
zat-zat makanan kulit buah kakao dapat dijadikan sebagai pakan ternak karena mengandung
berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kulit buah kakao segar memiliki kandungan
nutrisi terdiri dari bahan kering (BK) 88 %, protein kasar (PK) 8 %, serat kasar (SK) 40,1 % dan
TDN 50,8 %. Penggunaannya oleh ternak sapi dapat mencapai 30-40 % dari kebutuhan pakan.

Manfaat Fermentasi Kulit Kakao

Kulit buah kakao yang di fermentasi


memiliki manfaat yang sangat baik terhadap
ternak,di antaranya :

 Meningkatkan daya cerna dan kesukaan


ternak (palatabilitas) terhadap pakan tersebut.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

 Meningkatkan kandungan protein


 menurunkan kandungan serat kasar.
 Menurunkan kandungan zat tannin(racun), zat yang dapat menghambat pencernaan.

Alat Dan Bahan

Alat Bahan

 Parang 1. EM4 peternakan


 Ember 2. Gula pasir
 Terpal 3. Air
 Kentong 4. Isolasi

Proses Pembuatan

1. Kulit buah kakao di cacah dengan ukuran 3-5 cm menggunakan parang atau alat
pencacah khusus.
2. Mencampurkan EM4 dengan air dalam satu ember,sesuai dengan takaran tertentu.
3. di tambahkan gula pasir pada larutan em4 yang tercampur dengan air sesuai takaran
tertentu dan di aduk hingga sampai merata (homogen).
4. Larutan ini di masukkan pada silo/ kentong kosong dan kulit kakao yang di cacah di
masukan bersamaan pada satu kentong.
5. Kentongnya di tutup rapat dan di isolasi sampai tidak ada udara yang masuk.
6. Di tunggu hasil fermentasinya 3-4 hari.
7. Setelah 3-4 hari bisa langsung di berikan kepada ternak.

o Proses fermentasi yang berhasil memperlihatkan ciri-ciri seperti,


1. Permukaan irisan kulit buah kakao berwarna kecoklatan atau kehitaman.
2. Berbau manis seperti bau tape.
o Proses fermentasi di anggap gagal memperlihatkan ciri-ciri seperti,
1. Berbau amis atau busuk,
2. Kulit buah kakao berlendir,
3. dan terdapat bintik kuning pada permukaan kulit buah kakao.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Pemberian Fermentasi Kulit Buah Kakao Kepada Ternak

1. Berikan kulit buah kakao yang telah difermentasi kepada ternak dengan cara
mencampurnya dengan air dan dedak padi
2. Dicoba dengan jumlah yang sedikit pada ternak babi yang baru pertama kali diberikan
pakan fermentasi batang pisang.apabila ternak sudah terbiasa, barulah diberikan dengan
jumlah yang banyak.

Penutup

Fermentasi limbah kulit buah kakao merupakan proses perombakan strukturnkeras secara
fisik, kimia dan biologi, sehingga bahan dengan struktur yang kompleks akan berubah menjadi
lebih sederhana, dan hal tersebut menyebabkan daya cerna ternak menjadi lebih efisien.
Fermentasi kulit buah kakao dapat mempertinggi daya cerna, menurunkan kandungan lignin,
meningkatkan kadar protein, menekan efek buruk racuntheobromine dan meningkatkan
produktivitas ternak sapi.

SUMBER :
Departemen Pertanian (Deptan). 2009. Pusat Data dan Informasi Pertanian. Komoditi Kakao.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumbar Jln. Padang-Solok Km. 40, Sukarami, Kabupaten
Solok dan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat 2010
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

LEMBAR PERSIAPAN MENYULUH


1 Judul Budidaya Padi Berbasis Organik SRI
2 Kompetensi Dasar Sasaran Diharapkan Dapat Menerapkan Cara
Budidaya Padi Berbasis Organik SRI
3 Sasaran Kelompok Tani padi Sawah
4 Indikator Keberhasilan Sementara Peserta mampu menjelaskan cara Budidaya Padi
Berbasis Organik SRI
5 Media Penyuluhan Leaflet
6 Metode Penyuluhan Ceramah dan demonstrasi
7 Alokasi Waktu 90 menit

Uraian kegiatan Waktu Isi Materi


Bagian Awal 15 Menit o Pengantar : salam pembuka dan dilanjutkan
dengan obrolan yang difokuskan pada materi
yang akan disampaikan
o Menjelaskan tujuan pelaksanaan penyuluhan
dan hasil yang ingin dicapai
Isi materi 61 menit 1. Ceramah : tentang :
o Pengertian Sistem budidaya SRI
o Tujuan pembuatan Budidaya SRI
o Manfaat budidaya SRI
o Cara budidaya SRI
3. Diskusi : memberikan kesempatan kepada
peserta untuk bertanya
4. Demonstrasi : mempraktekan cara budidaya
padi sistem SRI
Penutup 15 menit Penegasan dan kesimpulan

Sinopsis

BAGIAN AWAL

Peningkatan dosis pemupukan anorganik perlu diimbangi dengan pemupukan organik.


Tanaman padi bukan tanaman air, tetapi tanaman yang memerlukan air dan mampu hidup dalam
kondisi tergenang air. Bahan organik mudah didapatkan disekitar tempat produksi dan rumah
petani, ramah lingkungan, hasil produksi lebih berkualitas dan harga jual produk lebih tinggi.
Prinsip metode SRI : Tanam bibit muda < 12 hari setelah semai, bibit 1 (satu) batang per titik
tanaman dan jarak tanam jarang, pindah tanam sesegera mungkin ( < 30 menit) akar tidak putus
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

dan terlipat, pemberian air macak – macak maksimal 2 cm dan terputus – putus, penyiangan
lebih awal dan sesering mungkin dan dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik.

BAGIAN ISI

Prinsip Budidaya Padi Metode SRI

1. Tanam bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika bibit masih
berdaun 2 helai.
2. Tanam bibit satu lubang satu bibit dengan jarak tanam lebar 30x30 em, 35x35 em 9tau
lebih jarang lagi.
3. Pindah tanam harus segera mungkin (kurang 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak
putus dan ditanam dangkal.
4. Pemberian air maksimum 2 cm (maeak-maeak) dan periode tertentu dikeringkan sampai
peeah (irigasi berselangl terputus).
5. Penyiangan sejak awal sekitar umur 10 hari dan diulang 2 - 3 kali dengan interval 10 hari.
Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik dan pestisida organik.

Keunggulan Metode SRI

1. Tanaman hemat air, selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen pemberian air
maksimum 2 cm paling baik maeak-maeak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan
sampai tanah retak (irigasi terputus).
2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kglha, tidak butuh biaya peneabutan bibit, tidak butuh
biaya pindah bibit, tenaga tanam berkurang, dan lain-lain.
3. Hemat waktu ditanam bibit muda 5 - 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih
awal.
4. Produksi meningkat di beberapa tempat meneapai 11 ton/ha.
5. Ramah lingkungan, secara bertahap penggunaan pupuk kimia (urea, Sp36, KCI) akan
dikurangi dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan
MOL), begitu juga penggunaan pestisida.

Teknis Budidaya SRI

 PENGOLAHAN TANAH
Untuk mendapatkan media tumbuh metode tanam padi SRIyang baik, maka lahan
diolah seperti menanam padi metode biasa yaitu tanah dibajak sedalam 25 sampai 30 cm
sambil membenamkan sisa-sisa tanaman dan rumput-rumputan, kemudian digemburkan
dengan garu, lalu diratakan sebaik mungkin sehingga saat diberikan air ketinggiannya di
petakan sawah akan merata.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

 PARIT
Pada petak SRI perlu dibuat parit keliling dan melintang petak untuk membuang
kelebihan air. Letak dan jumlah parit pembuang disesuaikan dengan bentuk dan ukuran
petak, serta dimensi saluran irigasi.
 PERENDAMAN BENIH
Benih yang telah diuji tersebut, kemudian direndam dengan menggunakan air
biasa. Perendaman ini bertujuan untuk melunakkan sekam gabah sehingga dapat
mempereepat benih untuk berkeeambah. Perendaman dilakukan selama 24 sampai 48
jam.
 PENGANGINAN BENIH
Benih yang telah direndam kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam karung
yang berpori-pori atau wadah tertentu dengan tujuan untuk memberikan udara masuk ke
dalam benih padi, dan kemudian disimpan di tempatyang lembab. Penganginan dilakukan
selama 24 jam.
 PEMILIHAN BENIHYANG BAIK
Untuk mendapatkan benih yang bermutu baik atau bernas, dengan metode SRI,
harus terlebih dahulu diadakan pengujian benih. Pengujian benih dilakukan dengan cara
penyeleksian menggunakan larutan air garam, yang langkah-Iangkahnya adalah sebagai
berikut:
 Masukkan air bersih ke dalam ember/panei, kemudian berikan garam dan aduk
sampai larut.
 Masukkan telur itiklbebek yang mentah ke dalam larutan garam ini. Jika telur itik
belum mengapung maka perlu penambahan garam kembali. Pemberian garam
dianggap cukup apabila posisi telur itik mengapung pada permukaan larutan
garam.
 Masukkan benih padi yang akan diuji ke dalam ember/panei yang berisi larutan
garam. Aduk benih padi selama kira-kira satu menit.
 Pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Benih yang
tenggelam adalah benih yang bermutu baik atau bernas.
 Benih yang baik atau bernas ini, kemudian dicuci dengan air biasa sampai bersih
dengan indikasi bila digigit, benih sudah tidak terasa garam.
 PERSEMAIAN BENIH
Persemaian dengan metode SRI, dilakukan dengan mempergunakan nare atau
tampah atau besek atau juga di hamparan sawah, hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah penanaman.
Pembuatan media persemaian dengan metode SRI dapat dilakukan dengan
langkah-Iangkah sebagai berikut:
 Meneampur tanah, pasir dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1 :1.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

 Sebelum nare atau tampah tempat pembibitan diisi dengan tanah, pasir yang
sudah dieampur dengan pupuk organik terlebih dahulu dilapisi dengan daun
pisang dengan harapan untuk mempermudah peneabutan dan menjaga
kelembaban tanah, kemudian tanah dimasukkan dan disiram dengan air
sehingga tanah menjadi lembab.
 Benih yang sudah dianginkan ini, ditaburkan ke dalam nare yang berisi
tanah.
 Setelah benih ditabur, kemudian ditutup dengan lapisan tanah yang tipis.
 Persemaian dapat diletakkan pada tempat-tempat tertentu yang aman dari
gangguan ayam atau binatang lain.
 Selama masa persemaian, pemberian air dapat dilakukan setiap hari agar
media tetap lembab dan tanaman tetap segar.
 PENYAPLAKAN

Sebelum penanaman terlebih dahulu


dilakukan penyaplakan dengan memakai caplak
agar jarak tanam pada areal persawahan menjadi
lurus dan rapi sehingga mudah untuk disiang.
Caplak berfungsi sebagai penggaris dengan jarak
tertentu. Variasi jarak tanam diantaranya: Jarak
tanam 30 cm x30 cm, 35 cm x 35 cm, atau jarak
tertentu lainnya.
Penyaplakan dilakukan secara memanjang dan melebar. Setiap pertemuan garis
hasil garis penyaplakan adalah tempat untuk penanaman 1 bibit padi.

 PENANAMAN DENGAN METODE SRI

Penanaman dengan metode SRI dilakukan dengan langkah-Iangkah sebagai


berikut:
1. Bibit yang ditanam harus berusia muda, yaitu kurang dari 12 hari setelah
semai yaitu ketika bibitmasih berdaun 2 helai.
2. Bibit padi ditanam tunggal atau satu bibit perlubang.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

3. Penanaman harus dangkal dengan kedalaman 1-1,5 em serta perakaran


saat penanaman seperti huruf l dengan kondisi tanah sawah saat enanaman
tidak tergenang air.
 PEMUPUKAN
Pemupukan Anorganik (Kimial Takaran pupuk anorganik (kimia) mengikuti
anjuran Dinas Pertanian/PPL atau kebiasaan petani setempat. Dibawah ini contoh
pemupukan yang dilakukan pada demplot SRIMT-1 tahun 2008 binaan PT HM
Sampoerna Tbk. di Desa Gunting, Keeamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan,
JawaTimur :
a. Pemupukan I pada umur 7 - 15 HST dengan dosis Urea 100 kg/ha, SP-36
50 kg/ha.
b. Pemupukan II pada umur 25 - 30 HST dengan dosis Urea 50 kg/ha,
Phonska 100 kg/ha. Pemupukan III pada umur 40 - 45 HST dengan dosis
Urea 50 kg/ha, ZA 50 kg/ha.

Pemupukan Organik Mol yang disemprotkan terbuat dari bahan-bahan sebagai


berikut:

a) Penyemprotan I, di lakukan pada saat umur 10 HST, dengan


mempergunakan mol yang terbuat dari daun gamal, dengan dosis 14
liter/ha.
b) Penyemprotan II, dilakukan pada saat umur 20 HST, dengan
mempergunakan mol yang terbuat dari batang pisang, dengan dosis 30
liter/ha.
c) Penyemprotan III, dilakukan pada saat umur 30 HST, dengan
mempergunakan mol yang terbuat dari urine sapi, dengan dosis 30 liter/ha.
d) Penyemprotan IV, dilakukan pada saat umur 40 HST, dengan
mempergunakan mol yang terbuat dari batang pisang, dengan dosis 30
liter/ha.
e) Penyemprotan V, dilakukan pada saat umur 50 HST, dengan
mempergunakan mol yang terbuat dari serabut kelapa, dengan dosis 30
liter/ha.
f) Penyemprotan VI, dilakukan pada saat umur 60 HST, dengan
mempergunakan mol yang terbuat dari buah-buahan dan sayur-sayuran,
dengan dosis 30 liter/ha.
g) Penyemprotan VI, dilakukan pada saat umur 70 HST, dengan
mempergunakan mol yang terbuat dari terasi, dengan dosis 30 liter/ha 8.
Penyemprotan VI, dilakukan pada saat umur 80 HST, dengan
mempergunakan mol yang terbuat dari terasi, dengan dosis 30 liter/ha
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

 PEMBERIAN AIR

Pemberian air, dengan cara terputus-putus


(intermitten) dengan ketinggian air di petakan
sawah maksimum 2 cm, paling baik macak-macak
(0,5 em). Pada periode tertentu petak sawah harus
dikeringkan sampai pecah-pecah. Pemberian air
terlalu tinggi akan menyebabkan pertumbuhan akar
terganggu dan pertumbuhan tunas tidak optimal.

 PENYIANGAN

Penyiangan,dilakukan dengan mempergunakan


alat penyiang jenis landak atau rotary weeder seperti
yang dikembangkan DISIMP, atau dengan alat jenis
apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan
sekaligus penggemburan tanah. Penyiangan dengan
ngosrok atau mempergunakan rotary weeder, selain
dapat mencabut rumput, juga dapat menggemburkan
tanah di celah-celah tanaman padi.
Penggemburan tanah bertujuan agar tercipta kondisi aerob di dalam tanah yang
dapat berpengaruh baik bagi akar-akar tanaman padi yang ada di dalam tanah.
Penyiangan minimal 3 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 hari setelah
tanam dan selanjutnya penyiangan kedua dilakukan pada umur 20 HST. Penyiangan
ketiga pada umur 30 HST dan penyiangan keempat pada umur 40 HST.
 PENGENDALIAN HAMA

Lokasi SRI anorganik, Pengendalian hama dan


penyakit dikendalikan dengan konsep Pengendalian Hama
Terpadu (PHT), dengan cara mempergunakan varietas
benih yang sehat dan resisten terhadap hama dan penyakit,
menanam secara serentak serta mempergunakan pestisida
secara selektif. Penggunaan pestisida hanya dilakukan
sebagai langkah terakhir, bila ternyata serangan hama dan
penyakit belum dapatdiatasi.
Lokasi SRI organik, pengendalian hama trip, mempergunakan pestisida nabati
yang terbuat dari daun sere dan bawang putih. Pengendalian belalang, penggerek batang
mempergunakan pestisida nabati yang terbuat dari buah mahoni, daun tembakau dan
daun suren. Pengendalian wereng, mempergunakan pestisida nabati dan hewani yang
terbuat dari daun tembakau dan urine sapi yang sudah difermentasi.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

 PANEN

Panen dilakukan setelah tanaman


tua ditandai dengan menguningnya bulir
secara merata. Bulir padi juga tidak akan
berair apabila dicoba untuk digigit. Panen
dengan metode SRI biasanya lebih awal
dibandingkan dengan metode biasa,
dihitung dari mulai persemaian.

PENUTUP

SRI mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara : pengelolaan tanaman, tanah,
air, dan unsur hara. Metode ini dapat menghemat air, hemat biaya, hemat waktu, dan
meningkatkan produksi.

SUMBER

Saptoningsih, 2009. Dalam sinar Tani Edisi 15-21 Juli 2009 No.3312 Tahun XXXIX. Rubrik
Inovasi hal 18.
Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna
Dusun Betiting, Desa Gunting Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan - 67161
TeI.62.343.632745 /633781 I Fax.62.343.632745
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

LEMBAR PERSIAPAN MENYULUH


1 Judul Teknis Aplikasi Pestisida Organik pada tanaman
Hortikultura
2 Kompetensi Dasar Sasaran Diharapkan Dapat mengaplikasi Pestisida
Organik pada tanaman Hortikultura
3 Sasaran Kelompok Tani Hortikultura
4 Indikator Keberhasilan Sementara Peserta mampu menjelaskan Teknis Aplikasi Pestisida
Organik pada tanaman Hortikultura
5 Media Penyuluhan Leaflet
6 Metode Penyuluhan Ceramah dan demonstrasi
7 Alokasi Waktu 90 menit

Uraian kegiatan Waktu Isi Materi


Bagian Awal 15 Menit o Pengantar : salam pembuka dan dilanjutkan
dengan obrolan yang difokuskan pada materi
yang akan disampaikan
o Menjelaskan tujuan pelaksanaan penyuluhan
dan hasil yang ingin dicapai
Isi materi 60 Menit 1) Ceramah : tentang :
a) Menjelaskan judul materi
b) Menjelaskan Manfaat dan keunggulan
Pestisida Organik
c) Menjelaskan cara penggunaan Pestisida
Organik
d) Menjelaskan teknis membuat Larutan
Pestisida organik dengan dosis Yang
tepat
2) Diskusi : memberikan kesempatan kepada
peserta untuk bertanya
3) Demonstrasi : mempraktekan aplikasi
penggunaan pestisida organik pada tanaman
hortikultura

Penutup 15 Menit Penegasan dan kesimpulan


LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Sinopsis

A. Pendahuluan
Penggunaan pestisida khususnya untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman
saat ini masih menimbulkan dilema. Penggunaan pestisida khususnya pestisida sintetis/ kimia
memberikan keuntungan secara ekonomis, namun dapat mendatangkan kerugian diantaranya
adalah residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tapi juga air, tanah dan udara dan
penggunaan terus-menerus akan mengakibatkan efek resistensi dari berbagai jenis hama.
Penggunaan pestisida kimia di Indonesia telah memusnahkan 55% jenis hama dan 72 % agens
pengendali hayati. Oleh karena itu diperlukan pengganti, yaitu pestisida yang ramah lingkungan.
Satu alternatif pilihan adalah penggunaan pestisida hayati yang berasal dari tumbuhan. Pestisida
nabati adalah salah satu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Tumbuhan
mempunyai bahan aktif yang berfungsi sebagai alat pertahanan alami terhadap pengganggunya.
Bahan pestisida yang berasal dari tumbuhan dijamin aman bagi lingkungan karena cepat terurai
di tanah dan tidak membahayakan hewan, manusia atau serangga yang bukan sasaran.

B. Pengertian

Secara umum pestisida organic atau nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan
dasarnya adalah tumbuhan. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan bahan dan teknologi
yang sederhana. Bahan bakunya yang alami/nabati membuat pestisida ini mudah terurai
(biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan. Pestisida ini juga relatif aman
bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati bersifat
“pukul dan lari” (hit and run), saat diaplikasikan, akan membunuh hama saat itu juga dan setelah
hamanya mati, residunya akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu
pestisda sehingga aman dikonsumsi manusia. Pestisida nabatimenjadi alternatif pengendalian
hama yang aman dibanding pestisida sintetis. Penggunaan pestisida nabati memberikan
keuntungan ganda, selain menghasilkan produk yang aman, lingkungan juga tidak tercemar.
Pestisida organik ini mampu mengatasi dan mengusir hama perusak tanaman pertanian dan
perkebunan umumnya seperti kutu, ulat, belalang dan sebagainya

C. Manfaat dan Keunggulan

Beberapa manfaat dan keunggulan pestisida alami, antara lain:

Mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan (ramah


lingkungan).
Relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang.
Dapat membunuh hama/penyakit seperti ekstrak dari daun pepaya, tembakau, biji
mahoni, dsb.
Dapat sebagai pengumpul atau perangkap hama tanaman: tanaman orok-orok, kotoran
ayam
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Bahan yang digunakan nilainya murah serta tidak sulit dijumpai dari sumberdaya yang
ada di sekitar dan bisa dibuat sendiri
Mengatasi kesulitan ketersediaan dan mahalnya harga obat-obatan pertanian khususnya
pestisida sintetis/kimiawi.
Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan
penggunaan pestisida sintesis. Penggunaan dalam dosis tinggi sekalipun, tanaman sangat
jarang ditemukan tanaman mati
Tidakmenimbulkan kekebalan pada serangga
D. Cara aplikasi Pestisida Organik:
1. Mempersiapkan alat dan bahan
a. Alat : Alat semprot (Hand Sprayer)
b. Bahan : Pestisida organic (Pestona), Air
2. Cara Kerja
 Campurkan 5-10 cc Pestona kedalam 1 ltr air
 Aduk larutan hingga merata
 Masukkan larutan kedalam handsprayer
 Semprotkan ketanaman secara merata minimal 3 kali penyemprotan/ musim
 Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari
E. Penutup
Pestisida organic alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi hama
dengan cepat. Pestisida alami harus menjadi bagian dari system pengendalian hama terpadu, dan
digunakan hanya/bila diperlukan.

Sumber: Haryanto, H. 2007. Pengendalian Hama Pada Tanaman Sayuran Organik di Lombok
barat Melalui Pemanfaatan Insektisida Non Kimiawi. Laporan Penelitian, Universitas Mataram

Litbang Pertanian-BPTP Jawah Tengah


LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

LEMBAR PERSIAPAN MENYULUH


1 Judul Pemilihan Bibit Ternak
2 Kompetensi Dasar Sasaran Diharapkan Dapat Melakukan Pemilihan Bibit
Ternak
3 Sasaran Kelompok Ternak
4 Indikator Keberhasilan Sementara Peserta mampu menjelaskan cara pemilihan bibit
ternak
5 Media Penyuluhan Leaflet
6 Metode Penyuluhan Ceramah dan Diskusi
7 Alokasi Waktu 90 menit

Uraian kegiatan Waktu Isi Materi


Bagian Awal 20 Menit o Pengantar : salam pembuka dan dilanjutkan
dengan obrolan yang difokuskan pada materi
yang akan disampaikan
o Menjelaskan tujuan pelaksanaan penyuluhan
dan hasil yang ingin dicapai
Isi materi 70 menit Ceramah : tentang :
a. Menjelaskan judul materi
b. Menjelaskan Manfaat dan keunggulan
Pestisida Organik
c. Menjelaskan cara penggunaan Pestisida
Organik
d. Menjelaskan teknis membuat Larutan
Pestisida organik dengan dosis Yang
tepat
Diskusi : memberikan kesempatan kepada peserta
untuk bertanya
Penutup 15 menit Penegasan dan kesimpulan

Sinopsis

Pengantar
Salah satu faktor keberhasilan beternak adalah keterampilan memilih bibit ternak
(bakalan). Pemilihan bibit biasanya disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan. Jika tujuan
pemeliharaan adalah untuk memanfaatkan tenaga dari ternak untuk mengolah sawah dan juga
ingin mendapatkan anak ternak, maka pemilihan bibit lebih diutamakan pada pemilihan temak
betina.
Ciri-ciri ternak yang baik
Adapun cirii-ciri bibit ternak yang baik adalah :
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

1. ternak tersebut sehat dan tidak cacat tubuh


2. tidak mengidap penyakit menahun (kronis)
3. mempunyai alat reproduksi (kelamin) yang baik serta bentuk ambing normal
4. karakter tenang, bulu halus (tidak kusam)

Pemilihan Bibit Ternak

Ternak pengganti (replacement)


Dalam usaha ternak potong, baik itu untuk tujuan pembibitan maupun penggemukan,
faktor pemilihan induk pengganti (replacement) sangat menentukan keberhasilan usaha. Induk
pengganti yang memenuhi kriteria yang ditentukan sesuai tujuan usaha akan memberikan hasil
yang optimal.

Replacement merupakan ternak pengganti yang diperuntukan untuk mengganti ternak-


ternak yang sudah tidak layak untuk berproduksi dari segi fisik dan umur (afkir). Untuk
menentukan ternak yang layak untuk di afkir, maka dari itu kita harus bisa memilih dan memilah
agar tidak salah memilih ternak yang tidak layak.

Di Indonesia, kebanyakan peternakannya masih berbasis peternakan rakyat, replacement


ini sering kali di abaikan. Para peternak masih mengangggap hal ini bukan hal yang peka.
Membiarkan ternak berproduksi melebihi kapasitasnya. Dengan demikian, mereka tidak
memperhatikan kesejahteraan dari ternak tersebut.

Usaha breeding (pembibitan), kualitas induk dan pejantan yang digunakan sangat
berpengaruh terhadap keturunan yang dihasilkan. Untuk itu maka perlu dilakukan :

a. Pemilihan breed/bangsa pejantan dan betina yang akan digunakan dalam breeding.
Bangsa yang digunakan harus sesuai dengan tujuan usaha, karena secara genetik,
kemampuan temak bervariasi. Misalnya sapi untuk tujuan memproduksi daging, berbeda
untuk tujuan kerja, tujuan produksi susu dan sebagainya. Selanjutnya dalam memilih
breed, penting juga memperhatikan besar kecilnya ukuran tubuh ternak, terutama dalam
usaha kawin silang, jangan sampai menimbulkan kesulitan pada saat beranak karena
kesalahan dalam memilih pejantan sehingga berakibat berat lahir anak terlalu besar.
b. Melihat catatan silsilah/pedigree. Catatan mengenai prestasi tetuanya : berat lahir, berat
sapih, Average Daliy Gain (ADG), berat umur 1 tahun, dll.
c. Penilaian bentuk luar (dengan judging). Dalam judging, ada bagian-bagian tubuh ternak
yang mendapat penilaian lebih tinggi sesuai dengan tujuan
Induk Pengganti
Sebagaimana jabaran di atas, induk penggati merupakan ternak pengganti (indukan) yang
berguna untuk menggantikan induk-induk yang sudah tua (afkir). Dengan demikian, kita tidak
mempergunakan ternak-ternak yang umur tua dan yang berproduksi rendah. Induk pengganti
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

juga diperuntukan untuk menghasilkan bibit-bibit yang unggul, yang baik untuk calon bakalan
nantinya.
Secara garis besar dapat kita lihat beberapa kriteria dalam menyeleksi induk pengganti,
salah satunya antara lain:
a. Berpostur tubuh baik
b. Ambing baik
c. Bulu halus, mata bersinar
d. Nafsu makan baik
e. Tanda-tanda berahi teratur
f. Sehat dan tidak cacat
g. Umur siap kawin (+ 2 tahun, untuk ternak sapi)

Menyeleksi Induk Pengganti

Seleksi adalah tindakan memilih sapi yang mempunyai sifat yang dikehendaki dan
membuang sapi yang tidak mempunyai sifat yang dikehendaki. Sebagai contoh : seorang
peternak menginginkan sapi yang mempunyai pertumbuhan badan cepat, maka peternak harus
melakukan pemilihan sapi-sapi dengan ukuran tubuh besar dan membuang yang ukurannya kecil.

Seleksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

o Penjaringan dan populasi


Penjaringan adalah tindakan seleksi yang dilakukan di suatu populasi (biasanya di
peternakan rakyat atau di pasar hewan) untuk langsung mendapatkan sapi yang terbaik
penampilan luar dari sifat tertentu yang dikehendakinya. Penjaringan ini cocok dilakukan
untuk usaha pembibitan berskala kecil (usaha ternak rakyat), menengah dan besar.
o Seleksi keturunan
Seleksi keturunan adalah tindakan memilih sapi dari suatu populasi terbatas yang telah
diketahui silsilah keturunannya, untuk mendapatkan sapi calon pengganti bibit sumber.
Cara ini dapat diterapkan pada usaha pembibitan skala menengah ke atas yang
menggunakan skema seleksi sistem tertutup (Closed Nucleous Breeding Sceme). Data
silsilah sapi yang diseleksi harus jelas untuk menghindari terjadinya perkawinan
keluarga. Dalam menyeleksi induk pengganti terdapat beberapa kriteria dalam memilih
calon indukan yang bagus. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan calon anak yang baik
dan dapat memberikan keuntungan yang lebih bagi peternak.

Seleksi untuk calon induk antara lain :

o Melihat sifat-sifat individu yang baik.


Seleksi dengan berdasarkan sifat-sifat individu biasanya yang menjadi perhatian meliputi
sifat-sifat :
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

- Bentuk tubuh yang serasi : ternak betina mempunyai bentuk badan yang panjang
dan ramping, kaki-kakinya berdiri lurus dengan perototan yang halus.
- Pertumbuhannya baik, artinya pertumbuhannya sesuai dengan umur ternak itu
sendiri. Misalnya ternak domba umur l tahun akan memiliki berat badan minimal
yang harus dicapai yaitu 20 kg.
- Efesien dalam menggunakan makanan, artinya dengan makanan yang relatif
sedikit atau kurang sesuai tetapi tetap akan menghasilkan pertumbuhan yang baik.
Contoh : Ternak diberi makanan rumput saja, tetapi memperlihatkan pertumbuhan
yang baik apalagi bila diberi makanan yang sesuai kualitas/kuantitasnya maka
pertumbuhan akan semakin baik. Dengan kata lain, bahwa setiap penambahan
makanan akan selalu menghasilkan kenaikan berat.
- Tidak memperlihatkan adanya cacat atau gejala abnormal.
- Melihat asal-usulnya/silsilah.
Seleksi dengan cara ini pada umumnya yang diperhatikan yaitu sifat-sifat dari
induk dan pejantannya (tetuanya), sedang cara penilaiannya dengan cara yang
sama untuk seleksi berdasarkan sifat-sifat individu.Pada umumnya cara ini
dipergunakan dalm memilih ternak-ternak yang masih muda atau ternak yang
kurang jelas catatan produksinya.
- Melihat kemampuan/daya produksinya
Produksi merupakan hasil dari suatu usaha, sehingga daya produksi dapat dipakai
sebagai kriteria dalam seleksi lebih-lebih dalam bidang peternakan. Cara seleksi
ini merupakan cara yang terbaik dan paling tepat karena dapat langsung melihat
sifat-sifat yang produktif/ekonomis. Pada cara ini terdapat 2 aspek yang perlu
mendapat perhatian, yaitu
a. Sifat-sifat produktif dari ternak-ternak yang bersangkutan, dan
b. Sifat-sifat produktif dari keturunannya.
Adapun sifat-sifat produktif ekonomis yang menjadi dasar penilaian, antara lain :
~ Berat lahir ternak
~ Berat sapih ternak
~ Penambahan berat badan (Gain atau ADG)
~ Efesiensi dalam penggunaan makanan
~ Kualitas daging yang dihasilkan

Cara seleksi seperti ini dapat dilakukan apabila terdapat data-data ternak secara lengkap,
dengan demikian tinggal melihat catatan dalam melakukan seleksi.

PENUTUP

Produktivitas sapi bali akan optimal apabila pemilihan bibit, tata laksana pemeliharaan,
dan pemberian pakan dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan potensi bibit yang
dipelihara.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

Sumber;

Djaga, I.B, IGN Raka Haryana, I G M Putra, IB Mantra dan A A oka 2002. Ukuran standar
tubuh sapi Bali Bibit, Laporan hasil penelitian kerjasma Bapeda Propinsi Baali

LEMBAR PERSIAPAN MENYULUH


1 Judul Teknik Pemangkasan Tanaman Tomat
2 Kompetensi Dasar Sasaran Diharapkan Dapat Melakukan Pemangkasan
tanaman Tomat
3 Sasaran Kelompok Tani Hortikultura
4 Indikator Keberhasilan Sementara Peserta mampu menjelaskan cara pemangkasan Tomat
dengan singkat
5 Media Penyuluhan Leaflet
6 Metode Penyuluhan Ceramah dan Diskusi
7 Alokasi Waktu 100 menit

Uraian kegiatan Waktu Isi Materi


Bagian Awal 15 Menit o Pengantar : salam pembuka dan dilanjutkan
dengan obrolan yang difokuskan pada materi
yang akan disampaikan
o Menjelaskan tujuan pelaksanaan penyuluhan
dan hasil yang ingin dicapai
Isi materi 70 Menit Ceramah : tentang :
a. Menjelaskan judul materi
b. Menjelaskan Manfaat dan keunggulan
pemangkasan tanaman tomat
c. Menjelaskan cara pemankasan tanaman
tomat
d. Menjelaskan teknis membuat Larutan
Pestisida organik dengan dosis Yang
tepat
Diskusi : memberikan kesempatan kepada peserta
untuk bertanya
Demondtrasi cara pemangkasan tanaman tomat
Penutup 15 menit Penegasan dan kesimpulan
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

SINOPSIS

TEKNIK PEMANGKASAN TANAMAN TOMAT

PENDAHULUAN

Pemangkasan pada tanaman tomat akan meningkatkan produksivitas yang lebih


baik,pangkaslah tanaman tersebut untuk menghilangkan tunas dan daun yang tidak diinginkan
agar semua nutrisi hanya digunakan untuk buah tomat.

PENGERTIAN

Pemangkasan tanaman merupakan usaha yanag dilakukan para petani untuk mendapatkan
bentuk tajuk tanaman yang ideal atau untuk mendaptkan hasil tanaman yang berbuah lebih
banyak terlepas dari baik tidaknya mutu buah tersebut.

Langkah-langkah Penerapan pemangkasan tanaman tomat

1. Tentukan variatas tomat yang mau ditanam


2. Carilah tunas batang yang ingin dipangakas
3. Hilangkan semua tunas batang ada dibawah tanndan bunga
4. Biarkan tunas yang tebal
5. Untuk variatas tomat sisakan 4-5 tandan buah dan buang semua sisanya
6. Hilangkan daun yang mengunin
7. Pangkas bagian atas tanaman

TUJUAN

1. Tujuan utama pemangkasang tomat yaitu untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan
produksi pada tanaman buah dan tanaman tersebut menghasilkan buah yang matangnya
banyak.

TEKNIK PENERAPAN

Ada beberapa cara pemangkasan pada tanaman tomat

1.
variatas tomat inderterminate yaitu tanaman tumat tumbuh
merambat,dan harus diberi ajir(penyangga)agar bisa tegak
dan harus dipangkas agar bisa tumbuh maksimal.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

2.
Carilah cabang kecil baru yang muncul dipertemuan
antara cabang dengan batang pada tanaman
tomat,cabang kecil ynag dinamakan tunas batang ini
harus dihilangkan,tunas batang yang tidak dipangkas
akan mengambil energy dari tanman sehingga
sehingga buah yang dihasilkan menjadi
sedikit,memang ini bukan hal yang buruk,namun
menghilangkan tunas batang secara strategis akan membantu tanman tomat untuk
menghasilkan buah yang besar disepanjang musim.
3.
Hilangkan semua tunas yang ada dibawah tandan
bunga pertama ini membuat tanaman menjadi kuat
karena tumbuh dengan batang tengha yang
kokoh,dan tindakan ini membuat hamper semua
nutrisi mengalir kearah buah.

4.
Biarkan tunas yang tebal agar bisa melakukan
fotosintesis dan melindunggi buah dari paparan sinar
matahari. Ini merupakan cabang yang tumbuh dari
batang utama diatas tandan bunga pertama dengan
hanya menyisikan empat atau lima
tandan,pertahankan empat atau lima tandan yang
kuat,lalu hilangkan semua tunas sampingan,dengan membiarkan tunas dibagian atas
tanaman tetap utuh.

5. Hilangkan daun yang menguning,daun yang menguning akan mengisap lebih banyak
gula daripada yang diproduksi oleh daun tersebut.ketika tanamn mulai dewasa,secara
alami daun yang ada di bagian bawah akan mulai layu dan menguning.ini sangat normal
dan petiklah daun-daun tersebut jika muncul sehingga tanman tetap segar dan terhindar
dari penyakit.
LEMBARAN PERSIAPAN MENYULUH (LPM)
OLEH : YOHANES DAHUR

6. Pangkas bagian atas tanaman agar bisa mendapatkan hasil terbaik dari tanaman diakhir
musim.

MANFAAT PEMANGKASAN TANAMAN TOMAT

1. Meningkatkan produksivitas
2. Memudahkan dal pemeliharaan,pemupukan dan pengendalian hama penyakit
3. Meningkatkan jumlah rumpun buah tomat
4. Unsure hara yang diserap tanaman akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh
tanaman untuk memperbesar buah yang dipelihara,intensitas cahaya matari yang
masuk ketanaman lebih banyak sehingga akan menggurangi terjadinya seranggan
hama penyakit.

PENUTUP

Pemangkasan tanaman merupakan usaha yanag dilakukan para petani untuk


mendapatkan bentuk tajuk tanaman yang ideal atau untuk mendaptkan hasil tanaman yang
berbuah lebih banyak terlepas dari baik tidaknya mutu buah tersebut.

Pemangkasan pada tanaman tomat akan meningkatkan produksivitas yang lebih


baik,pangkaslah tanaman tersebut untuk menghilangkan tunas dan daun yang tidak diinginkan
agar semua nutrisi hanya digunakan untuk buah tomat.

Sumber : Agronomi UNHAS budidaya pertanian.01 november 2013 agronomi artiket B.ingris
biokimia tanaman bioteknologi botani.