Anda di halaman 1dari 35

PERCEPATAN PERIZINAN PEMANFAATAN RUANG

DALAM RANGKA MENDORONG PENANAMAN MODAL


(INVESTASI) DI DAERAH

15 November 2019

Disampaikan oleh:
Direktur Perencanaan Tata Ruang
Ir. Dwi Hariyawan S., MA

DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG


KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG / BADAN PERTANAHAN NASIONAL
“Tata Ruang Pintu Masuk Terbaik Bagi Investasi Menuju Negeri Makmur, Adil dan Sejahtera”
OUTLINE

1 Tantangan Investasi Terkait Penataan Ruang

2 Kebijakan Penataan Ruang Terkait Perizinan Investasi

3 Muatan Permen ATR/KBPN Nomor 22 Tahun 2019

4 Studi Kasus dalam Pemenuhan Persyaratan Teknis

2
1 TANTANGAN INVESTASI TERKAIT PENATAAN RUANG
4
Visi Presiden Republik Indonesia

5 Visi Presiden Republik Indonesia:


1. Mempercepat dan melanjutkan pembangunan infrastruktur.
Interkoneksi infrastruktur dengan kawasan indsutri kecil, Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK), pariwisata, persawahan, perkebunan dan
perikanan.
2. Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).
Menjamin kesehatan ibu hamil dan anak usia sekolah serta
meningkatkan kualitas pendidikan.
3. Undang Investasi seluas-luasnya untuk buka
lapangan pekerjaan.
Memangkas hambatan investasi.
4. Reformasi Birokrasi.
Kecepatan melayani dan memberi izin, adaptif, produktif, inovasi dan
kompetitif.
5. APBN yang fokus dan tepat sasaran.
APBN dipastikan memiliki manfaat ekonomi dan meningktakan
kesejahteraan masyarakat.

5
Target RPJMN terkait Investasi

Tema RPJMN IV
(2020-2024)
Pertumbuhan Investasi
“Indonesia Berpenghasilan
Menengah – Tinggi yang pada tahun 2020-2024
Sejahtera, Adil, dan ditargetkan naik sebesar
berkesinambungan” 6,9-8,1 persen

Sumber: Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024


6
Data Statistik Layanan OSS
Sistem OSS Telah Berjalan namun belum optimal (1) Jumlah Total
Rata-Rata
(Per Hari)
• Sistem OSS melayani lebih dari 1000 registrasi per-hari Registrasi 180,146 1,325
dan menerbitkan NIB lebih dari 850 per-hari. Aktivasi akun 142,383 1,047
• Sistem OSS memberikan layanan 24/7 (tetap Nomor Induk Berusaha (NIB) 120,342 885
menerbitkan perizinan berusaha pada hari Sabtu, Izin Usaha 132,179 974
Minggu, dan hari libur)
Izin Komersial/Operasional 58,199 447
2500 *Data per tanggal 21 November 2018.

2000
1500
1000
500
0

3-Nov
6-Nov
9-Nov
12-Nov
15-Nov
18-Nov
21-Nov
13-Sep
16-Sep
19-Sep
22-Sep
25-Sep
28-Sep
1-Sep
4-Sep
2 Agt
5 Agt
8 Agt

7 Sept
9 Juli

11 Agt
14 Agt
17 Agt

23 Agt
26 Agt
29 Agt

10 Sept
15Juli

27 Juli
12 Juli

18 Juli
21 Juli
24 Juli

30 Juli

01 Okt
04 Okt
07 Okt
10 Okt
13 Okt
16 Okt

22 Okt
25 Okt
28 Okt
31 Okt
20 Agt

19 Okt
NIB Izin Usaha
Sumber: Kemenko Ekon

7
Data Statistik Layanan OSS (2)
Sistem OSS Telah Berjalan namun belum optimal (2)

Jenis Usaha Jenis Penanaman Modal Skala Usaha


PMDN
Perorangan 89% Non-UMKM
(100,837) 36%
60% (1 (42,519)
(68,522)
UMKM
64%
Non-Perorangan PMA
40% 11% (76,628)
(46,620) (11,896)
Pelaku usaha yang mengurus Lebih dari ¾ jenis penanaman modal Dari sisi skala usaha, lebih dominan
perizinan didominasi oleh adalah PMDN, sisanya merupakan PMA. pelaku usaha UMKM daripada Non-
Perorangan. UMKM.
Sumber: Kemenko Ekon
*Non-perorangan: PT, Perum, Badan Usaha Yayasan, BUMD, BHMN, CV, Firma, Koperasi, Lembaga Penyiaran, BLU.
8
Sebaran Investasi

PAPUA

PAPUA
BARAT

Sumber: Kemenko Ekon


9
Nilai Investasi Proyek Strategis Nasional

Data RPJMN, Pemerintah


telah menyusun Proyek
Strategis Nasional yang
terdiri dari 223 Proyek dan 3
Program, dengan total nilai
investasi mencapai 4.183
Triliun yang tercantum dalam
Perpres No. 56/2018.

Sumber: KPPIP
10
Integrasi Proyek Strategis Nasional terhadap Rencana Tata Ruang

Secara kumulatif, sejak tahun 2016 s/d September 2019 terdapat 81 PSN
yang telah selesai dengan nilai investasi mencapai Rp. 390 T atau 9,3 %
Integrasi PSN terhadap
Rencana Tata Ruang
Hal ini merupakan tantangan berat bidang
penataan ruang ke depan sehingga dinilai perlu
ada mekanisme koordinasi lintas
Kementerian/Lembaga yang bertujuan agar:
1. Stigma negatif bahwa Rencana Tata Ruang
menghambat pembangunan dapat
dihilangkan;
2. Hasil kajian terhadap potensi sumber daya
diperlukan dan investasi yang dilakukan sektor bersama
daerah dapat segera terinformasikan
sehingga dapat menjadi bahan masukan
dalam setiap periode Peninjauan Kembali
rencana tata ruang; dan
3. Amanat UU 26 Tahun 2007, bahwa proses
peninjauan kembali rencana tata ruang
dilaksanakan 1 kali dalam 5 tahun (ditahun
ke 5) dapat ditegakkan oleh seluruh
Kementerian/Lembaga yang membidangi
Sumber: KPPIP tata ruang.
11
Urgensi Pemberian Rekomendasi Kesesuaian Tata Ruang

Banyak kegiatan investasi yang belum terakomodir di


dalam rencana tata ruang.

Pola Ruang RTRW

Adanya multitafsir penerjemaahan terhadap arahan


pemanfaatan ruang di dalam dokumen rencana tata ruang

Kedetailan pengaturan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai


dengan skala produk rencana tata ruang.

12
Urgensi Pemberian Rekomendasi Kesesuaian Tata Ruang (1)
Investasi yang Belum Terakomodir dalam Rencana Tata Ruang

13
Urgensi Pemberian Rekomendasi Kesesuaian Tata Ruang (2)
Multitafsir Penerjemaahan terhadap Arahan Pemanfaatan Ruang di dalam Dokumen Rencana Tata Ruang

Pola Ruang RTRW Perda Kab Bekasi No. 12 Tahun 2011

Lokasi rencana investasi

Berdasarkan pola ruang RTRW , lokasi rencana pembangunan rencana


pembangunan perhotelan, apartemen, ruko/toko modern, pergudangan dan
fasilitas pendukung lainnya berada pada peruntukan industri, hal tersebut
tidak berarti bahwa di kawasan industri hanya diperbolehkan rencana
pembangunan industri 100%, namun dapat diperbolehkan untuk kegiatan
lainnya sesuai dengan ketentuan umum peraturan zonasi (KUPZ) rencana
tata ruang dengan tidak melebihi dominasi fungsi utama kawasan.

14
Urgensi Pemberian Rekomendasi Kesesuaian Tata Ruang (3)
Kedetailan Pengaturan Pemanfaatan Ruang yang Tidak Sesuai dengan Skala Produk Rencana Tata Ruang

Studi Kasus Sektor Kelistrikan


√ Muatan Umum X Muatan Detail

Muatan RTRW tidak menyebutkan secara rinci Muatan RTRW menyebutkan secara rinci lokasi
lokasi wilayah maupun kapasitas tegangannya, wilayah, jenis transmisi (SUTET dan SUTT) dan
disebutkan lokasi tersebar di seluruh wilayah. kapasitas tegangan.

Muatan rencana tata ruang wilayah provinsi/kabupaten/kota sebaiknya dibuat secara


makro, untuk pendetailan muatan dituangkan dalam rencana detail tata ruang.
15
Urgensi Pemberian Rekomendasi Kesesuaian Tata Ruang (4)
Kedetailan Pengaturan Pemanfaatan Ruang yang Tidak Sesuai dengan Skala Produk Rencana Tata Ruang
Studi Kasus Pertambangan
√ Muatan Umum X Muatan Detail

Muatan RTRW menyebutkan secara rinci jenis


Muatan RTRW tidak menyebutkan secara rinci batuan yang berada pada kawasa pertambangan
lokasi wilayah maupun jenis batuannya hanya mineral dan batu bara hingga mendetailkan jenis
menyebutkan mineral logam di kecamatan. batuannya.

Muatan rencana tata ruang wilayah provinsi/kabupaten/kota sebaiknya dibuat secara


makro, untuk pendetailan muatan dituangkan dalam rencana detail tata ruang.
16
2 KEBIJAKAN PENATAAN RUANG TERKAIT PERIZINAN INVESTASI
Jenis-jenis Izin Pemanfaatan Ruang

Permen PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang


ATR/BPN
No. 17/2019
IZIN PEMANFAATAN RUANG
Izin Lokasi berdasarkan
Komitmen yang telah
berlaku efektif, IZIN PRINSIP BERDASARKAN RTRW
Pertimbangan Teknis
Pertanahan dan
persetujuan
pemenuhan Komitmen
IZIN LOKASI BERDASARKAN RTRW
merupakan satu
kesatuan yang tidak
terpisahkan dan IZIN PENGGUNAAN BERDASARKAN IZIN
dipergunakan sebagai PEMANFAATAN TANAH (IPPT) LOKASI
syarat bagi Pelaku
Usaha untuk IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN BERDASARKAN RDTR
mengajukan
(IMB) DAN PZ
permohonan Hak Atas
Tanah
IZIN LAIN berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 17 Pasal 163, PP No. 15/2010

18
Dasar Hukum Pemberian Izin Pemanfaatan Ruang
PP No. 15 Tahun 2010 tentang
PP No. 13 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
Perubahan Atas PP No. 26 Tahun 2008 tentang Pasal 166
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional 1. Pemberian izin pemanfaatan ruang disertai
Pasal 114A dengan persyaratan teknis dan persyaratan
1. Dalam hal rencana kegiatan pemanfaatan ruang administratif sesuai dengan ketentuan peraturan
bernilai strategis nasional dan/atau berdampak perundang-undangan.
besar yang belum dimuat dalam peraturan 2. Apabila dasar pemberian izin belum ada, maka
daerah tentang rencana tata ruang provinsi, izin diberikan atas dasar rencana tata ruang
yang berlaku dengan tetap memperhatikan
rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota,
pedoman bidang penataan ruang yang telah
dan/atau rencana rincinya, izin pemanfaatan ditetapkan oleh Menteri/menteri terkait.
ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114
didasarkan pada Peraturan Pemerintah ini. Perpres No. 56 Tahun 2018 tentang
2. Dalam pemberian izin pemanfaatan ruang Perubahan Kedua atas Perpres No. 3 Tahun 2016
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis
dapat memberikan rekomendasi Nasional (Pasal 19)
pemanfaatan ruang.

Rekomendasi Menteri Agraria dan Tata


Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional dapat
dijadikan dasar dalam proses pengurusan izin
lokasi dan/atau izin penetapan lokasi, izin
lingkungan, izin penggunaan pemanfaatan
tanah, dan izin mendirikan bangunan.

19
MUATAN PERMEN ATR/KBPN NOMOR 22 TAHUN 2019
3 tentang Percepatan Perizinan Pemanfaatan Ruang
Muatan Permen:
 Menimbang;
 Menetapkan;
 Ketentuan Umum;
 Kewenangan Pemerintah Daerah terkait Usulan
Pemanfaatan Ruang;
 Tanggapan atas Usulan Pemanfaatan Ruang
(Rekomendasi atau Penolakan);
 Persyaratan Teknis;
 Persyaratan Administratif;
 Penerbitan Izin Pemanfaatan Ruang; dan
 Ketentuan Lainnya.

21
Latar Belakang Pengajuan Usulan Pemanfaatan Ruang

PENANAMAN
MODAL/INVESTASI
DI KAB/KOTA

SESUAI DENGAN BELUM SESUAI


RENCANA TATA RUANG RENCANA TATA RUANG

Pemerintah Bupati/Walikota mengajukan usulan


Kabupaten/Kota dapat pemanfaatan ruang yang mendukung
melanjutkan proses izin Penanaman Modal kepada gubernur dengan
pemanfaatan ruang tembusan kepada Menteri ATR/KBPN cq
Direktur Jenderal Tata Ruang

22
Skema Pemberian Tanggapan Usulan Pemanfaatan Ruang

Bupati/Walikota menyurati Persyaratan Teknis


Gubernur dalam rangka (Lokasi yang Dimohonkan)
permohonan rekomendasi • Pertimbangan terhadap
kesesuaian tata ruang kebijakan spasial;
(tembusan Menteri • Fisik wilayah; Rekomendasi
ATR/KBPN c.q. Dirjen Tata • Sosial kependudukan; Kesesuaian Tata Ruang
Ruang) • Ekonomi wilayah; (seluruh/sebagian usulan) atau
• Persebaran Penolakan
GUBERNUR

ketersediaan
dan kebutuhan sarana dan Kunjungan Lapangan Usulan Pemanfaatan Ruang
Diproses *apabila diperlukan
Pemerintah
prasarana; (seluruh usulan disertai alasan Kabupaten/Kota dapat
• penguasaan tanah; penolakan)
• lingkungan hidup; dan
melanjutkan proses izin
(jangka waktu 40 hari Keterangan:
• pengurangan risiko bencana. Surat Tanggapan Gubernur kepada
pemanfaatan ruang
kerja sejak tanggal Rapat Pembahasan
diterima surat di provinsi) *persyaratan teknis dapat Bupati/Walikota dengan tembusan (dilaporkan kepada
melibatkan professional Menteri ATR/KBPN cq Dirjen Tata Ruang Menteri ATR/KBPN
judgement cq Dirjen Tata Ruang)
Tidak
Berita Acara Rekomendasi *izin dikeluarkan apabila
diproses Persyaratan Administratif telah sesuai dengan RTR
• Pertimbangan terhadap kesepakatan Kesesuaian Tata Ruang
BUPATI/WALIKOTA

kedudukan dan peran (seluruh/sebagian usulan) atau


Bupati/Walikota dapat pemerintah daerah provinsi Penolakan
menerbitkan dan/atau kabupaten/kota; Usulan Pemanfaatan Ruang Keterangan:
Rekomendasi dan (seluruh usulan disertai alasan Kewenangan Gubernur
Kesesuaian Tata Ruang • Pemenuhan dilaksanakan penolakan) Kewenangan Bupati/Walikota
(yang dianggap disetujui berdasarkan keputusan Keterangan: Proses Kegiatan
oleh Gubernur) dalam forum TKPRD. Surat Tanggapan Bupati/Walikota
kepada pemohon dengan tembusan
Menteri ATR/KBPN cq Dirjen Tata Ruang

23
Hal-hal yang menjadi syarat teknis untuk pertimbangan dalam
PERSYARATAN TEKNIS pemberian rekomendasi kesesuaian tata ruang

Dalam memberikan rekomendasi perlu mempertimbangkan amanat yang termuat dalam


KEBIJAKAN SPASIAL
Rencana Tata Ruang (RTR) dan RTR memiliki asas hirarki komplementer

FISIK WILAYAH Merupakan kondisi fisik wilayah/kawasan pada lokasi investasi yang dimohon

Penduduk di suatu wilayah perlu menjadi pertimbangan dalam pemenuhan persyaratan teknis,
SOSIAL terutama dalam hal mata pencaharian utama penduduk yang akan terdampak akibat adanya
KEPENDUDUKAN
rencana kegiatan
Pemenuhan
Perlu juga mempertimbangkan dampak ekonomi yang akan timbul akibat adanya rencana dilaksanakan melalui
EKONOMI WILAYAH kegiatan, misalnya: mata pencaharian penduduk setempat, tenaga kerja yang akan terserap kajian teknis oleh
serta besarnya nilai investasi yang akan meningkatkan pendapatan daerah pemerintah daerah
PERSEBARAN
sesuai kewenangannya
KETERSEDIAAN DAN Merupakan sarana dan prasarana pendukung yang harus dipenuhi guna keberlangsungan berdasarkan
KEBUTUHAN SARANA DAN rencana kegiatan investasi, seperti: jaringan jalan, listrik, air bersih, dan lain sebagainya pertimbangan
PRASARANA
profesional di
bidangnya
PENGUASAAN TANAH Mempertimbangkan status kepemilikan lahan dan penguasaan lahan dari rencana kegiatan
investasi
*persyaratan teknis
dilakukan pada lokasi yang
Rencana kegiatan investasi harus tetap menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dimohon
LINGKUNGAN HIDUP
serta mencegah dampak negatif yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan

Rencana kegiatan investasi perlu memperhatikan kawasan rawan bencana yang ada di dalam
PENGURANGAN RISIKO
BENCANA maupun di sekitar kawasan serta melakukan rekayasa teknis untuk dapat beradaptasi dengan
jenis bencana yang ada
24
Hal-hal yang menjadi syarat tata laksana pengambilan keputusan
PERSYARATAN ADMINISTRATIF dan/atau tindakan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan
dalam pemberian rekomendasi kesesuaian tata ruang

- Pembagian kewenangan antara pusat dan daerah sesuai dengan UU 23/2014


PERTIMBANGAN - Sebagai contoh kegiatan yang direncanakan lintas kabupaten/kota merupakan
TERHADAP kewenangan provinsi, sedangkan kegiatan yang direncanakan lintas provinsi Pemenuhan
KEDUDUKAN DAN merupakan kewenangan pusat, wilayah pesisir merupakan kewenangan dilaksanakan
PERAN
provinsi berdasarkan
PEMERINTAH
DAERAH PROVINSI - Rekomendasi kesesuaian tata ruang perlu memperhatikan rekomendasi teknis keputusan dalam
DAN/ATAU forum TKPRD
(rekomtek) dari sektor (OPD)
KABUPATEN/KOTA
*rekomtek dikaitkan dengan persoalan investasi yang terkena dampak langsung pada
peruntukan fungsi ruang yang menjadi kewenangan OPD. Contoh: permohonan industri
pada lahan pertanian dibutuhkan rekomtek dari Dinas Pertanian. *forum TKPRD merupakan
wadah koordinasi
penyelesaian persoalan
pemanfaatan ruang
(apabila diperlukan), bukan
untuk penerbitan izin

25
4 STUDI KASUS DALAM PEMENUHAN PERSYARATAN TEKNIS
Studi Kasus Persyaratan Teknis
Pertimbangan terhadap Kebijakan Spasial

Rencana Pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Kandis-Dumai

Diterbitkan Rekomendasi Kesesuaian Tata


Ruang Rencana Pembangunan Jalan Tol
Pekanbaru-Kandis-Dumai yang telah
terakomodir dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 13 Tahun 2017 (RTRWN) dan Perpres
Nomor 13 Tahun 2012 (RTR Pulau Sumatera),
sehingga proses perizinan dapat dilanjutkan.

27
Studi Kasus Persyaratan Teknis (2)
Fisik Wilayah

Rencana Pembangunan Tanggul Laut di Prov. Banten dan Prov. Jawa Barat

Diterbitkan Rekomendasi Kesesuaian Tata Ruang


Rencana Pembangunan Tanggul Laut di Prov.
Banten dan Prov. Jawa Barat yang merupakan
satu kesatuan sistem pengaman pantai yang
berfungsi sebagai penahan banjir laut akibat
penurunan muka tanah terintegrasi dan
membentang di pesisir.

28
Studi Kasus Persyaratan Teknis (3)
Sosial Kependudukan

Rencana Integrasi Pembangunan Tanggul Laut Kota Semarang dan Jalan Tol Semarang-Demak

Diterbitkan Rekomendasi Kesesuaian Tata


Ruang Integrasi Pembangunan Tanggul Laut
Kota Semarang dan Jalan Tol Semarang-Demak
dengan memperhatikan aspek sosial akibat
dari pemindahan trase jalan tol Semarang-
Demak.

29
Studi Kasus Persyaratan Teknis (4)
Ekonomi Wilayah

Rencana Pengembangan KIPI Tanah Kuning dan Mangkupadi di Kab. Bulungan

Diterbitkan Rekomendasi Kesesuaian Tata


Ruang Rencana Pengembangan KIPI Tanah
Kuning dan Mangkupadi di Kab. Bulungan yang
akan direncanakan sebagai Kawasan Industri dan
Pelabuhan Internasional dengan nilai investasi
23 Triliun.

30
Studi Kasus Persyaratan Teknis (5)
Persebaran Ketersediaan dan Kebutuhan Sarana dan Prasarana

Rencana Pembangunan SUTET, SUTT, GI dan PLTA Matenggeng di Prov. Jabar, Jateng, dan Banten

Diterbitkan Rekomendasi Kesesuaian Tata


Ruang Pembangunan SUTET, SUTT, GI dan PLTA
Matenggeng di Prov. Jabar, Jateng, dan Banten
dengan mempertimbangkan kebutuhan
pengembangan dan pelayanan wilayah.

31
Studi Kasus Persyaratan Teknis (6)
Penguasaan Tanah

Rencana Pembangunan Kawasan Industri oleh PT. VDNIP di Kawasan Industri Kab. Konawe

Diterbitkan Surat Tanggapan Keterangan


Kesesuaian Tata Ruang Rencana Pembangunan
Kawasan Industri oleh PT. VDNIP di Kawasan
Industri Kab. Konawe dengan persyaratan
melengkapi pengajuan permohonan hak sesuai
alas hak dan kelengkapannya.

32
Studi Kasus Persyaratan Teknis (7)
Lingkungan Hidup

Rencana Pengembangan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai di Provinsi Bali

• Berdasarkan RTR KSN Sarbagita, Rencana


Pengembangan Bandar Udara I Gusti Ngurah
Rai di Provinsi Bali berada pada Zona L3
(Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan
Cagar Budaya).
• Berdasarkan hasil survei Kementerian Kelautan
dan Perikanan, menyatakan bahwa ekosistem
terumbu karang di Zona L3 belum memenuhi
kriteria sebagai kawasan konservasi.
• Diterbitkan Rekomendasi Kesesuaian Tata
Ruang Rencana Pengembangan Bandar Udara I
Gusti Ngurah Rai di Provinsi Bali dengan
memperhatikan hasil survei dari Kementerian
Kelautan dan Perikanan.

33
Studi Kasus Persyaratan Teknis (8)
Pengurangan Risiko Bencana

Permohonan Kegiatan Penambangan di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi

Penolakan usulan permohonan kegiatan


penambangan di Kec. Srumbung, Kab.
Magelang, Prov. Jawa Tengah, dikarenakan lokasi
kegiatan berada pada Zona L4 yaitu merupakan
Kawasan Rawan Bencana Alam Geologi yang
terdapat Kantung (enclave) permukiman
tercantum dalam Perpres Nomor 70 Tahun 2014
tentang RTR Kawasan Taman Nasional Gunung
Merapi.

34
“Tata Ruang Pintu Masuk Terbaik
Bagi Investasi Menuju Negeri
TERIMA KASIH Makmur, Adil dan Sejahtera”