Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MATA KULIAH

FILSAFAT ILMU
(Prof. Dr. Syukri Hamzah, M.Si)”

Disusun oleh:
NIKO HAFRI, SH
B2A017048

PROGRAM STUDI PASCA SARJANA FAKULTAS HUKUM


UNIVERSITAS BENGKULU
2018
1. Apakah perbedaan antara ilmu dengan agama? Jelaskan hubungannya
dengan aspek kebenaran!
Jawaban:

Jika membahas antara ilmu dan agama kemudian dijelaskan


hubungannya dengan aspek kebenaran maka terdapat perbedaan diantara
keduanya. Dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Aspek Kebenaran

Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human.


Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat
manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha
“memeluk” suatu kebenaran.

Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan


kebenaran itu menjadi :

1) Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling


sederhanan dan pertama yang dialami manusia
2) Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan
disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
3) Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang
mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4) Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari
Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan
integritas dengan iman dan kepercayaan

Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan


memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk
melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman
tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia
akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam
kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan
kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak
akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana
selalu ditunjukkan oleh kebenaran.

b. Ilmu (Kebenaran Ilmiah)

Ilmu berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang
berarti tahu atau mengetahui, dan secara istilah ilmu diartikan sebagai
idroku syai bi haqiqotih (mengetahui sesuatu secara hakiki). Dalam
bahasa Inggris, ilmu disebut dengan science, sedang pengetahuan
dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science (berasal dari
bahasa latin dari kata scio, scire yang berarti tahu) umumnya diartikan
ilmu tapi sering juga diartikan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ilmu adalah pengetahuan
tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut
metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan
gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.
Menurut The Liang Gie secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri
ilmu sebagai berikut :
1) Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan),
2) Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan
saling bergantung dan teratur),
3) Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi),
4) Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang
terinci),
5) Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya)

Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan pengertian ilmu


adalah sejenis pengetahuan tersusun atau disusun secara sistematis
yang dilakukan dengan menggunakan metode tertentu dengan cara
studi, observasi, eksperimen.

Sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu


pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta
mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang
berkembang dewasa ini merupakan akumulasi dari pengalaman/
pengetahuan manusia yang terus difikirkan, disistimatisasikan, serta
diorganisir sehingga terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai
kekhasan dalam objeknya.

Kebenaran Ilmu (Kebenaran Ilmiah) ditemukan dalam pernyataan-


pertanyaan yang sah dan dalam keterbukaan. Kebenaran ilmu adalah
kesatuan dari pengetahuan dengan yang diketahui, kesatuan subjek
dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering
dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui
pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.

Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:


1) Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai
berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi
atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat
rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat
menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami
kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian
dianggap sebagai kebenaran universal.
2) Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan
yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan
kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di
alam ini.
3) Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha
menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis
dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar”
dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka
pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan
manusia.
c. Agama

Kebenaran ilmu (kebenaran ilmiah) sebelumnya menggunakan


akal, budi, fakta, realitas dan kegunaan sebagai landasannya yang
dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Dalam teori kebenaran
agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan dan bersifat
keyakinan atau dimulai dengan sikap percaya dan iman.

Manusia sebagai makluk pencari kebenaran, manusia dapat


mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Dengan demikian,
sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama
atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Agama dengan kitab
suci dan hadits nya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan
manusia, termasuk kebenaran.

Kata agama berasal dari dua suku kata yaitu “A” yang berarti tidak
ada “Gama” yang berarti kacau. Jadi agama berarti tidak kacau. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama berarti ajaran, sistem yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan
Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Agama memang tidak mudah diberi definisi, karena agama


mengambil berbagai bentuk sesuai dengan pengalaman pribadi masing-
masing. Meskipun tidak terdapat definisi yang universal, namun dapat
disimpulkan bahwa sepanjang sejarah manusia telah menunjukkan
rasa "suci", dan agama termasuk dalam kategori "hal yang suci".
Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang
tidak terbatas yang diberikan kepada obyek yang disembah. Hubungan
manusia dengan "yang suci" menimbulkan kewajiban, baik untuk
melaksanakan maupun meninggalkan sesuatu. Tidak mudah untuk
menentukan pengertian agama, karena sikap terhadap agama bersifat
batiniah, subjektif, dan individualistis, walaupun nilai-nilai yang
dimiliki oleh agama bersifat universal. Jika membicarakan agama, maka
akan dipengaruhi oleh pandangan agama atau keyakinan yang dianut
oleh masing-masing orang/pribadi.

Di dalam setiap agama, paling tidak ditemukan empat ciri khas,


yaitu:
1) aspek kredial, yaitu ajaran tentang doktrin-doktrin ketuhanan
yang harus diyakini.
2) aspek ritual, yaitu ajaran tentang tata-cara berhubungan
dengan Tuhan, untuk meminta perlindungan dan pertolongan-
Nya atau untuk menunjukkan kesetiaan dan penghambaan.
3) aspek moral, yaitu ajaran tentang aturan berperilaku dan
bertindak yang benar dan baik bagi inidividu dalam kehidupan.
4) aspek sosial, yaitu ajaran tentang aturan hidup bermasyarakat.
2. Filsafat ilmu adalah ilmunya ilmu. Bandingkan dengan pengertian ilmu
dan pengertian filsafat!
Jawaban:

Ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan


mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari
pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan
dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan
menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian
ilmiah (observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan lain-lain).

Sedangkan Filsafat adalah ‘ilmu istimewa’ yang mencoba menjawab


masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa
karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan
biasa. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya
untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta
sistematis.

Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa Filsafat merupakan inti


dari pandangan hidup terhadap suatu ilmu. Oleh karena hal tersebut maka
dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah ilmunya ilmu atau disebut
sebagai “mother of science” sebab dari ilmu filsafat tersebut seseorang akan
mengembangkan ilmu yang ada. Melalui filsafat dia akan mengetahui
banyak hal yang sebelumnya belum terungkap dalam teori. Filsafat akan
mengembangkan wawasan seseorang akan hal-hal yang baru, bahkan
dapat muncul ilmu-ilmu baru. Pada intinya, filsafat akan menambah
wawasan seseorag sehingga akan menimbulkan hal-hal baru bahkan akan
muncul ilmu-ilmu baru dari pengembangan wawasan ilmu filsafat tersebut.
Jaidi, tanpa filsafat tak akan ada lahir ilmu-ilmu yang dapat kita pelajari
saat ini.

3. Dimensi kreatif dalam filsafat ilmu menunjukkan berbagai penemuan


dalam perkembangan ilmu.
Menurut anda, bagaimanakah tentang kedudukan tesis hasil penelitian
mahasiswa?
Jawaban:

Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian


studi pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai
oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis
mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya
secara analisis kristis. Tesis merupakan bukti kemampuan yang
bersangkutan dalam penelitian dan pengembangan ilmu pada salah satu
bidang keilmuan dalam Ilmu Pendidikan.

Filsafat ilmu sangat penting artinya bagi perkembangan


dan penyempurnaan ilmu pengetahuan, termasuk dalam Penelitian
(penyusunan Tesis) yang merupakan suatu proses dalam rangka mencoba
memberikan jawaban persoalan ilmiah disipilin ilmu tertentu.
Sehingga filsafat ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam
pengembangan proses penyusunan tesis mahasiswa, hal tersebut
dikarenakan:
1) Filsafat ilmu meletakkan kerangka dasar orientasi dan visi
penyelidikan ilmiah, dan menyediakan landasan-landasan
ontologisme, epistemologis, dan aksiologis ilmu pada umumnya.
2) Filsafat ilmu melakukan kritik terhadap asumsi dan postulat
ilmiah serta analisis-kritis tentang istilah-istilah teknis yang
berlaku dalam dunia keilmuan.
3) Filsafat ilmu juga menjadi pengkritik yang sangat konstruktif
terhadap sistem kerja dan susunan ilmu.

Pada dasarnya filsafat bertugas memberi landasan filosofi untuk


minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai
membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara
substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan
disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori subtantif.
Selanjutnya secara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi,
pengembangan ilmu dapat mengoprasionalkan pengembangan konsep
tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.

4. Menggunakan logika induktif memerlukan sikap kehati-hatian. Mengapa?


Jawaban:
Secara sederhana, metode induktif merupakan metode yang
digunakan untuk sampai pada pernyataan yang universal dari hal-hal yang
bersifat individual. Kesimpulan ditarik dari hal-hal yang khusus untuk
menuju kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penalaran induktif, kerja
akal atau fikiran beranjak dari pengetahuan sebelumnya mengenai
sejumlah kasus sejenis yang bersifat spesifik, khusus, individual, dan
nyata yang ditemukan oleh pengalaman inderawi kita. Ia berangkat dari
sesuatu yang riel, lalu dari berbagai kenyataan tersebut disimpulkan
pengetahuan baru yang bersifat lebih umum. Jadi, generalisasi dalam
logika induktif ini selalu berdasar pada hal-hal yang empiris.

Dalam menggunakan logika induktif memerlukan sikap kehati-hatian,


hal tersebut dikarenakan alasan sebagai berikut:
1) Penalaran induktif bukan merupakan prediksi yang benar-benar
akurat. Induktif bisa dihasilkan karena pengulangan-
pengulangan secara terus menerus. Penalaran induktif juga bisa
jadi menghasilkan kesimpulan yang berbahaya dan salah kaprah,
hal ini tergantung pada pengetahuan kita yang bersumber dari
penalaran atau pemikiran.

Contoh:
seekor ayam diberi makan oleh pemiliknya sedemikian sehingga
ayam tersebut setiap kali pemiliknya mendekat selalu tahu
bahwa saat itulah ia akan disuguhi makanan yang akan
mengenyangkan dirinya. Dengan demikian ayam (secara
instingtif atau behavioristis) memiliki pengetahuan atas suguhan
makanan yang akan dimakan lewat kasus pembiasaan yang
diulang ulang. Ayam sampai pada kesimpulan bahwa majikan
datang sama dengan makanan datang. Ini merupakan
kesimpulan umumnya.

Namun suatu ketika majikan datang dan sang ayampun


mendekat. Bukan makanan yang di dapat oleh sang ayam tapi
tebasan pisau yang meneteskan darah dilehernya. Majikan
datang sama dengan maut. Dengan demikian kesimpulan umum
bahwa majikan datang sama dengan makanan menjadi sebuah
pengetahuan yang salah dan menjerumuskan sang ayam itu
sendiri.

2) Penalaran induksi seringkali dikaitkan dengan sebuah korelasi


atau hubungan baik secara langsung maupun tidak langsung
terhadap dua buah kejadian yang berbeda. Hasil-hasil
kesimpulan secara induksi juga dikaitkan dengan kausalitas
sebuah kejadian. Penalaran induktif memang membantu kita
dalam memahami, memprediksi, dan mengontrol sesuatu.
Namun tidak semua hal bisa dipercaya dengan melakukan
penalaran induktif.
Contoh:
Penebangan pohon dihutan menyebabkan banjir dan longsor,
kebut-kebutan penyebab utama kecelakaan, dll. kemudia ada
kausal setiap Andi selesai mencuci mobil, akan turun hujan.
Maka apakah ini bisa dijkaitkan dengan proses kausalitas?

Anda mungkin juga menyukai