Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH BIOFISIKA

BIOLISTRIK

Oleh:

Rian Anggia Destiawan 125130101111030

Rumenega 125130105111004

Wijaya Kusuma Maheru 125130100111039

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013
KataPengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana yang berjudul’’Biolistrik’ ini’. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu bahan baca dalam dunia perkuliahan di lingkungan Universitas
Brawijaya.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Maret, 2013

Penyusun
A. Pengertian Biolistrik

Bio-listrik adalah daya listrik hidup yang terdiri dari pancaran elektron-elektron yang keluar dari
setiap titik tubuh (titik energi) dan muncul akibat adanya rangsangan penginderaan. Pikiran kita
terdiri dari daya listrik hidup, semua daya ini berkumpul didalam pusat akal didalam otak dalam
bentuk potensi daya listrik. Dari pusat akal, daya ini kemudian diarahkan ke seluruh anggota
tubuh kita, yang kemudian bergerak oleh perangsangnya. Potensi daya listrik hidup ini, yang
tertimbun didalam pusat akal harus di tuntut oleh sesuatu supaya mengalir untuk mengadakan
gerakan tubuh kita atau bagian-bagian tubuh lainnya.

Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan Dendries yang
berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke neuron. Stimulus untuk mentringer neuron dapat
berupa tekanan, perubahaan temperature, dan isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik
pada suatu otot dapat menyebar ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan
air(Anonymous1, 2012).

B. Kelistrikan dan Kemagnetan yang Timbul dalam Tubuh

1. Sistem Saraf dan Neuron

Sistem saraf terdiri dari dua sistem, yaitu:

 Sistem Saraf Pusat : Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer (saraf afferen dan
efferen)
 Sistem Saraf Otonom : Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh

Struktur dasar dari sistem sraf disebut neuron/sel saraf. Suatu sel saraf mempunyai fungsi
menerima, interpretasi, dan menghantarkan aliran listrik(Gabriela, 1996).

Gelombang arus listrik bekaitan erat dengan penggunaan arus listrik untuk merangsang saraf
motoris atau saraf sensoris. Gelombang yang dimaksud diantaranya :

1. Arus bolak balik/sinosuidal

2. Arus setengah gelombang

3. Arus setengah penuh

4. Arus searah murni

5. Faradik

6. Sentakan faradik
7. Sentakan sinosuidal

8. Galvanik yang interuptus

9. Arus gigi gergaji (Anonymous2, 2012).

Di dalam otak sendiri terdapat macam-macam gelombang listrik, diantaranya

 Delta biasa terdapat pada orang tidur, dengan frekuensi 0,5 s/d 3,5 cps (Hertz-Hz)
 Theta biasa terdapat pada orang bermimpi dengan frek 0,5 s/d 7 cps
 Alpha biasa terdapat pada kondisi normal orang bekerja frek 7 s/d 13 cps
 Betha biasa terdapat pada orang bekerja berat frel 13 s/d 28 cps(Bertha, 2012).

2. KONSENTRASI DI DALAM DAN DI LUAR SEL

Potensial istirahat pada waktu = 0 dimana ion K akan melakukan difusi dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah sehingga pada saat tertentu akan terjadi membran dipole/membran dua kutub
dimana larutan dengan konsentrasi yang tadinya rendah akan kelebihan ion positif, kebalikan
dengan larutan yang konsentrasi tinggi akan berubah menjadi kekurangan ion sehingga menjadi
lebih negatif. Membran permeabel biasanya permeabel terhadap ion K, Na dan Cl sedangkan
terhadap protein besar (A-) sangat tidak permeabel.

3. KELISTRIKAN SARAF

Dengan menggunakan mikroskop elektron serat saraf dibagi dalam dua tipe yaitu serat saraf
bermyelin dan tidak bermyelin. Serat saraf bermyelin banyak terdapat pada manusia. Myelin
merupakan insulator (isolasi) yang baik dan kemempuan mengaliri listrik sangat rendah.
Potensial aksi makin menurun apabila melewati serat saraf yang bermyelin.

Panjang dan kecepatan aliran listrik pada serat saraf tergantung pada lapisan myelin. Akson
tanpa myelin dengan diameter 1 mm mempunyai kecepatan 20-50 m/s. sedangkan dengan
diameter 10 m mempunyai kecepatan 100 m/s. pada serat saraf bermyelin aliran sinyal dapat
meloncat dari satu simpul ke simpul lain.

Telah diketahui bahwa sel mempunyai lapisan yang disebut membran sel, didalam sel ini
terdapat ion Na, K, Cl, dan protein (A-). Sel mempunyai kemampuan memindahkan ion dari satu
sisi ke sisi yang lain, disebut aktifitas kelistrikan sel

Suatu saraf atau membran otot pada keadaan istirahat (tidak adanya proses konduksi impuls
listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak di luar sel dari pada di dalam sel.

Potensial aksi merupakan tenomena keseluruhan atau tidak sama seklai (all or none) yang berarti
bahwa begitu nilai ambang tercapai, peningkatan waktu dan amplitudo dari potendial aksi akan
selalu sama, tidak perduli macam apapun intensitas dari rangsangan. Segera setelah potensial
aksi mencapai puncak mekanisme pengangkutan di dalam sel membran dengan cepat
mengembalikan ion Na ke luar sel sehingga mencapai potensial membran istirahat (-90 Mv).
Proses ini disebut polarisasi dan berakshir. Siklus ini mencapai 3 m detik.

arus listrik sendiri terdiri dari dua frekuensi, yaitu:

1. Listrik Berfrekuensi Rendah. Yaitu antara 20 Hz sampai dengan 500.000 Hz. Mempunyai
efek merangsang saraf dan otot sehingga terjadi kontraksi otot. Contoh alatnya adalah stinulator
yang rangkaiannya terdiri dari multivibrator, astable multivibrator.

2. Listrik berfrekuensi Tinggi. Yaitu arus listrik di atas 500.000 siklus per detik (500.000 Hz)
mempunyai sifat merangsang motoris atau saraf sensoris, kecuali dilakukan dengan pengulangan
yang sama. Mempunyai sifat memanaskan(Gabriel, 1996).

4. PERAMBATAN POTENSIAL AKSI

Potensial aksi bisa terjadi apabila suatu daerah membran saraf atau otot mendapat rangsangan
mencapai nilai ambang. Poternsial aksi itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang
daerah sekitar sel membran untuk mencapai nilai ambang. Dengan demikian dapat terjadi
perambatan poternsial aksi ke segala jurusan sel membran. Keadaan ini disebut perambatan
potensial aksi atau gelombang depolarisasi.

Periode Rerfaktrer Absolut : Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsur kekuatan
untuk menghasilkan potensial aksi yang lain.

Perode Refrakter Relatif : Setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari
periode refrekter absolut akan menjadi periode refrekter relatif, dan apabila ada
stimulus/rangsangan yan gkuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru.

5. KELISTRIKAN PADA SINAPSIS DAN NEUROMYAL JUNCTION

Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsis. Berakhirnya saraf pada sel otot/hubungan saraf
otot disebut Neuromyal Junction.

Baik sinapsis maupun neuromyal junction mempunyai kemampuan meneruskan gelombang


depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang berikutnya.

6. KELISTRIKAN OTOT JANTUNG

Membran sel otot jantung tanpa rangsangan dari luar akan mencapai nilai ambang dalam
menghasilkan potensial aksi pada suatu rate/kecepatan yang teratur.
Interval waktunya bisa bervariasi oleh karena perubahan dalam hal :

1. Potensial membran istirahat

2. Tingkat dari nilai ambang

3. Slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang.

Perubahan ketiga parameter itu sangat memperngaruhi mekanisme kontrol fisologis terhadap
frekuensi jantung.

7. ELEKTRODA

Untuk mengukur potensial aksi secara baik dipergunakan elektroda. Kegunaan dari elektroda
untuk memindahkan transmisi ion ke penyalur elektron. Bahan yang dipakai sebagai elektroda
adalah perak dan tembaga.

8. ISYARAT LISTRIK TUBUH

a. EMG (Elektromiogram), pencatatan otot biolistrik selama pergerakan otot. Tujuannya


untuk memperoleh informasi tentang aktivitas kelistrikan otot.

b. ENG (Elektroneurogram). Untuk mengetahui keadaan lengkungan refleks, mengetahui


kecepatan konduksi saraf motoris dan sensoris, dan untuk menentukan penderita miastenia
gravis.

c. ERG (Elektroretinogram), pencatatan potensial biolistrik pada retina melalui sangsangan


cahaya pada retina.

d. EOG (Elektrookulogram), pengukuran beda potensial pada kornea-retina akibat perubahan


posisi dan gerakan mata.

e. EGG (elektrogastrogram), yang berkaitan dengan peristaltil traktus gastrointestinalis.

f. EEG (Elektroensefalogram), pencatatan isyarat listrik otak.

g. EKG, ECG (Elektrokardiogram), pencatatan isyarat biolistrik jantung, dilakukan pada


permukaan kulit.

9. AKTIFITAS KELISTRIKAN OTOT JANTUNG

Sel membran otot jantung serupa dengan sel membran otot bergaris, yaitu mempunyai
kemampuan menuntun suatu perambatan potensial aksi/gelombang depolarisasi. Ini akan
menghasilkan kontraksi otot. Hanya saja ada 3 hal penting perbedaan antara sel otot jantung
dengan sel oto bergaris, yaitu sel otot jantung mempunyai:

1. High speed conductive pathway (konduksi berjalan dengan kecepatan tinggi)


2. Long refractory period (periode refrekter yang penjang)

3. Automatisasi (otomatis)

C. PENGGUNAAN LISTRIK DAN MAGNET PADA PERMUKAAN TUBUH

Pada tahun 1890 Jacques A.D. Arsonval telah menggunakan listrik berfrekuensi rendah untuk
menimbulkan efek panas. Taun 1929 telah pula menggunakan frekuensi 30 MHz untuk
pemanasan yang disebut short wave diathermy. Tahun 1950 diperkenalkan penggunaan
gelombang mikro dengan frekuensi 2.450 MHz untuk keperluan diathermy dan pemakaian radar.

E. SYOK LISTRIK

Adalah suatu nyeri pada saraf sensoris yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir secara tiba-
tiba melalui tubuh. Merupakan kejadian yang timbul secara kebetulan.

1. Syok dengan tujuan tertentu, ini dilakukan atas dasar indikasi medis. Penderita akan dialiri
arus listrik dalam orde 0,5 sampai 1,5 A dengan voltase 80-110 V dalam waktu 1/10 sampai 1/5
sekon.

2. Syok tanpa tujuan tertentu, timbulnya akibat dari suatu kecelakaan. Ini dikenal dengan Earth
Shock :

a. Low tension shock (syok tegangan rendah)

b. High tension shock (syok tegangan tinggi)

1. PARAMETER YANG MEMPENGARUHI SYOK LISTRIK

Syok semakin serius apabila arus yang melewati tibuh semakin besar. (I=V/R) berarti tegangan
penting dalam menentukan berapa arus yang dapat dilewati oleh tahanan yang diberikan oleh
tubuh.

1. Jenis kelamin

a. Rata-rata threshold untuk laki-laki 16 mA, untuk wanita 10,5 mA

b. Rata-rata let go current untuk laki-laki 16 mA, untuk wanita 10,5 mA. Minimum let go
current untuk laki-laki 9,5 mA, untuk wanita 6 mA.

2. Frekuensi AC, menurut hasil penelitian Dalziel ternyata frekuensi 50-60 Hz merupakan
minimum let go current.
3. Duration, nilai ambang fibrilasi akan meningkat bila waktu semakin kecil.

4. Berat badan, nilai ambang fibrilasi akan meningkat dengan meningkatnya berat badan.

5. Jalan yang ditempuh arus, apabila jalan yang ditempuh arus melewati jantung atau otak akan
timbul bahaya syok semakin keras.

3. PENGOBATAN TERHADAP SYOK lISTRIK

Ringan :

1. Penderita diistirahatkan

2. Diberi minum dengan air dingin, tujuannya agar tidak menyebabkan vasodilatasi/pelebaran
pembuluh darah dan berkeringat banyak yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah.

Berat :

1. Penderita ditelentangkan sedemikian rupa agar mudah bernafas.

2. Pakaian dibuka/dilonggarkan

3. Apabila kesadaran menurun dan kegagalan pernafasan dapat dilakukan pernafasan buatan
“mouth to mouth”

4. Kalau terjadi jantung berhenti berdenyut, lakukan mesase jantung.

4. PENCEGAHAN TERHADAP SYOK

Terhadap alat listrik yang digunakan :

1. Semua alat listrik harus menggunakan three wire cord/ kabel tiga urat dan dihubungkan ke
ground sekuat mungkin.

2. Segala tombol dan tahanan harus berada pada live (kawat fasa)

3. Seluruh tombol harus “turn off” apabila tidak dipergunakan

4. Alat pacu jantung harus diisolasi dan hindari dari sentuhan logam

5. Lakukan prosedur tes secara teratur

6. Alat-alat listrik diletakkan sedemikian rupa sehingga terhindar dari pegangan penderita.

Terhadap penderita :
Penderita diisolasikan dari ground. Ini agak sulit karena pada EKG monitor kaki kanan penderita
selalu dihubungkan ke ground. Untuk menghindari hak itu digunakan transformer.

Terhadap ruangan :

1. Lantai ruangan terbuat dari bahan tanpa penghantar listrik atau dipasang karpet karet.

2. Ruangan harus sekering mungkin.


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous1.2012.Biolistrik.http://reikinaqs.wapsite.me/Biolistrik diakses tanggal 19 Maret


2013

Anonymous2.2012.Biolistrik.http://strengthlive1899.blogspot.com/2012/11/makalahkimiakepera
watan-1-bio-listrik.html diakses tanggal 19 Maret 2013

Bertha.2012. Pengenalan Hukum dalam Biolistrik


http://beequinn.wordpress.com/nursing/fisika/501-2/ diakses tanggal 19 Maret 2013

Gabriel, J.F. Fisika Kedokteran. EGC. Jakarta. 1996


Kesimpulan

Bio-listrik adalah daya listrik hidup yang terdiri dari pancaran elektron-elektron yang
keluar dari setiap titik tubuh (titik energi) dan muncul akibat adanya rangsangan penginderaan.
Dari pusat akal, daya ini kemudian diarahkan ke seluruh anggota tubuh kita, yang kemudian
bergerak oleh perangsangnya. Gelombang arus listrik bekaitan erat dengan penggunaan arus
listrik untuk merangsang saraf motoris atau saraf sensoris. Di dalam otak sendiri terdapat
macam-macam gelombang listrik, diantaranya: gelombang alpha, betha, gamma, dan theta yang
masing-asing terdapat bekerja pada kondisi yang berbeda. Potensial aksi merupakan tenomena
keseluruhan atau tidak sama seklai (all or none) yang berarti bahwa begitu nilai ambang tercapai,
peningkatan waktu dan amplitudo dari potendial aksi akan selalu sama, tidak perduli macam
apapun intensitas dari rangsangan. Syok listrik dapat terjadi karena sebab tertentu maupun tanpa
sebab.

Anda mungkin juga menyukai