Anda di halaman 1dari 14

1

BIONOMIKA TERNAK
“Analisis Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) Berdasarkan Karateristik
Inseminator Pada Ternak Sapi Di Kabupaten Kerinci”

Dosen Pengampu :
Dr. Ir. Noferdiman, MP

Disusun Oleh
LUSI AMIDIA P2E119004

MAGISTER ILMU PETERNAKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2019

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tingginya permintaan masyarakat terhadap produk peternakan terutama


daging dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah penduduk, disamping itu
pertambahan pendapatan dan kian tumbuhnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi juga menambah tingginya
perrmintaan akan daging. Laju permintaan daging yang meningkat ini tidak
diimbangi dengan peningkatan produksi daging dalam negeri, sehingga saat ini
ketersediaan daging sapi nasional masih mengalami kekurangan dan 35% ditutupi
melalui daging impor. Berbagai program dilakukan oleh pemerintah dalam
mencapai sasaran tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan populasi sapi lokal
sebagai sumber utama daging sapi. Program dimaksud diantaranya adalah: (1)
pengurangan pemotongan sapi lokal betina produktif, dan (2) memperluas
jangkauan program kawin silang sapi betina lokal dengan inseminasi buatan
(Harmini, et.al, 2011). Selain itu upaya yang dapat dilakukan mempertahankan
dan menunjang peningkatan produkstivitas ternak dan juga kualitas mutu genetik
ternak dengan memanfaatkan teknologi tepat guna di bidang reproduksi dan pakan
secara mudah dan efisien. Peningkatan efisiensi dibidang reproduksi dalam usaha
optimalisasi penggunaan Inseminasi Buatan (IB) adalah mengupayakan setiap
sapi induk mampu menghasilkan anak setiap tahun dengan jenis kelamin sesuai
keinginan, yakni jantan atau betina (Pamungkas, et.al, 2004).
Inseminasi Buatan (IB) merupakan sebuah teknologi terobosan baru yang
saat ini marak dikembangkan di indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan
jumlah produksi pada ternak dan kualitas mutu genetik pada ternak. Pelaksanaan
inseminasi buatan (IB) pada sapi potong menggunakan semen yang berasal dari
sapi jantan yang genetiknya baik dan angka service per conception (S/C) yang
rata-rata lebih kecil dibandingkan dengan kawin alam.
Program inseminasi buatan (IB) sudah diterapkan di Kabupaten Kerinci
hingga sekarang namun belum merata, dikarenakan masih ada peternak yang
belum bisa menerima kehadiran teknologi inseminasi buatan (IB) untuk

3
mengawinkan ternak betina yang dipeliharanya dan masih memilih kawin secara
alam. Keberhasilan dalam inseminasi buatan (IB) merupakan suatu tolak ukur dari
penerimaan teknologi inseminasi buatan (IB) yang beperngaruh pada masyarakat
agar bisa menumbuhkan minat masyarakat beternak dan memperbaiki genetik
ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat (Susilawati, 2002) penerimaan inovasi
mempunyai dampak bagi peternak dan memperoleh kualitas indukan ternak sapi
dari keturunan yang baik. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan inseminasi (IB)
setiap tahun sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasi ternak sapi.

1.2. Rumusan Masalah


Keberhasilan inseminasi buatan (IB) di Kabupaten Kerinci setiap tahunnya
mengalami penurunan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya
adalah faktor karakteristik inseminator, faktor karakteristik inseminator dibedakan
menjadi dua karakteristik internal inseminator dan karakteristik eksternal
inseminator yang kurang diperhatikan dalam keberhasilan inseminasi buatan (IB).
Dari uraian di atas yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah :
1. Bagaimana tingkat keberhasilan inseminasi buatan (IB)
yang diukur dari induk sapi dan inseminator di Kabupaten Kerinci ?
2. Bagaimana pengaruh karakteristik internal inseminator
(umur inseminator, tingkat pendidikan formal maupun informal
inseminator (pelatihan inseminator), status kepegawaian inseminator,
masa kerja, tanggung jawab, kesiapan memberikan pelayanan inseminasi
buatan (IB), ketelitian, hubungan emosional inseminator dengan peternak,
kemampuan teknis dalam manajemen straw dan keahlian mendeteksi
birahi terhadap keberhasilan inseminasi buatan (IB) di Kabupaten
Kerinci ?
3. Bagaimana pengaruh faktor karakteristik eksternal
inseminator (jarak rumah inseminator ke pos IB dan wilayah kerja,
jaringan inseminator, fasilitas pendukung, sanitasi alat dan kelengkapan,
kondisi pos IB dan isentip inseminator) terhadap keberhasilan inseminasi
buatan (IB) di Kabupaten Kerinci ?

1.3. Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penelitian ini adalah :

4
1. Untuk mengetahui bagaimana tingkat keberhasilan
Inseminasi Buatan (IB) Ternak Sapi di Kabupaten Kerinci
2. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik internal
inseminator (umur inseminator, tingkat pendidikan formal maupun
informal inseminator (pelatihan inseminator), status kepegawaian
inseminator, masa kerja, tanggung jawab, kesiapan memberikan pelayanan
inseminasi buatan (IB), ketelitian, hubungan emosional inseminator
dengan peternak, kemampuan teknis dalam manajemen straw dan keahlian
mendeteksi birahi terhadap keberhasilan inseminasi buatan (IB) di
Kabupaten Kerinci.
3. Untuk mempelajari pengaruh karakteristik eksternal
inseminator (jarak rumah inseminator ke pos IB dan wilayah kerja,
jaringan inseminator, fasilitas pendukung, sanitasi alat dan kelengkapan,
kondisi pos IB dan isentip inseminator) terhadap keberhasilan inseminasi
buatan (IB) di Kabupaten Kerinci.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menunjang dan mendukung


keberhasilan program Inseminasi Buatan (IB) sebagai upaya peningkatan mutu
genetik dan produktivitas ternak dimasa yang akan datang baik bagi para peneliti,
pengambil kebijakan, pemuliabiakan, maupun masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pola Peternakan Sapi Potong

Menurut Sugeng (2006), sistem pemeliharaan sapi potong di Indonesia


dibedakan menjadi tiga, yaitu: intensif, ekstensif, dan usaha campuran (mixed

5
farming). Pada pemeliharaan secara intensif, sapi dikandangkan secara terus
menerus atau hanya dikandangkan pada malam hari dan pada siang hari ternak
digembalakan. Pola pemeliharaan sapi secara intensif banyak dilakukan petani
peternak di Jawa, Madura, dan Bali. Pada pemeliharaan ekstensif, ternak
dipelihara di padang penggembalaan dengan pola pertanian menetap atau di
hutan. Pola tersebut banyak dilakukan peternak di Nusa Tenggara Timur,
Kalimantan, dan Sulawesi. Dari kedua cara pemeliharaan tersebut, sebagian besar
merupakan usaha rakyat dengan ciri skala usaha rumah tangga dan kepemilikan
ternak sedikit menggunakan teknologi sederhana, bersifat padat karya, dan
berbasis azas organisasi kekeluargaan (Azis dalam Yusdja dan Ilham 2004).
Indonesia memiliki tiga pola pengembangan sapi potong. Pola pertama
adalah pengembangan sapi potong yang tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan usaha pertanian, terutama sawah dan ladang. Pola kedua adalah
pengembangan sapi tidak terkait dengan pengembangan usaha pertanian. Pola
ketiga adalah pengembangan usaha penggemukan (fattening) sebagai usaha padat
modal dan berskala besar, meskipun kegiatan masih terbatas pada pembesaran
sapi bakalan menjadi sapi siap potong (Yusdja dan Ilham 2004).

2.2. Karakteristik

Karakteristik adalah suatu keadaan yang mempengaruhi cara dan


kemampuan yang berbeda dalam bentuk persepsi, informasi apa yang diinginkan,
bagaimana menginterpretasi informasi tersebut (Simamora 2002). Karakteristik
peternak adalah keadaan peternak yang berhubungan dengan keterlibatannya
dalam mengelola usahaternak dan bisa mempengaruhi dalam hal mengadopsi
suatu inovasi. Sumarwan (2004) juga mengatakan bahwa karakteristik peternak
sebagai individu perlu diperhatikan untuk melihat apakah faktor-faktor ini akan
mempengaruhi respon peternak terhadap inovasiyang diperkenalkan.

2.3. Pengertian Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi Buatan adalah proses pemasukan atau penyampaian semen ke


dalam kelamin betina dengan menggunakan alat buatan mahnusia, jadi bukan
secara alam Inseminasi buatan merupakan program yang telah dikenal oleh

6
peternak sebagai teknologi reproduksi ternak yang efektif. Parameter IB yang
dapat dijadikan tolak ukur guna mengevaluasi efisiensi reproduksi sapi betina
adalah Service per Conception (S/C), Conception Rate (CR), dan Calving Interval
(CI) dengan menggunakan data sekunder dari recording reproduksi (Feradis,
2010).
Inseminasi buatan dapat dilakukan di suatu kandang jepit yang dapat
menampung 6 sampai 8 sapi dengan pintu-pintu samping untuk memberi
kesempatan kepada teknisi untuk mendekati dan menangani sapi-sapi betina. Sapi
yang berahi digiring perlahan-lahan ke kandang jepit kemudian ditambatkan pada
sebuah patok untuk diinseminasi (Dirjen Peternakan, 2012).
Keuntungan IB adalah peningkatan reproduksi yang dapat dilihat dari
terciptanya selang beranak ideal yaitu 12 sampai 14 bulan , perkawinan pasca
beranak 60-80 hari, CR 60% dari inseminasi pertama dan S/C berkisar 1,6 dan 2,0
(Susilawati, 2002). Hal ini juga sesuai pendapat (Merthajiwa, 2011) teknologi IB
memberikan keunggulan antara lain; bentuk tubuh lebih baik, pertumbuhan ternak
lebih cepat, tingkat kesuburan lebih tinggi, berat lahir lebih tinggi serta
keunggulan lainnya. Melalui teknologi IB diharapkan secara ekonomi dapat
memberikan nilai tambah dalam pengembangan usaha peternakan.
Untuk memperoleh informasi secepat mungkin, perlu digunakan
teknikteknik fertilitas, yang dapat memberikan gambaran umum untuk penilaian
pelaksanaan IB, seperti Conception Rate (CR), Calving Interval (CI) dan Service
Per Conception (S/C). Ukuran terbaik dalam penilaian hasil IB adalah prosentase
sapi bunting pada inseminasi pertama, dan disebut Conception Rate (CR) atau
angka konsepsi yang ditentukan berdasarkan hasil diagnose kebuntingan dalam
waktu 40-60 hari sesudah IB (Tolihere, 2005).
1. Service per Conception (S/C) adalah untuk
membandingkan efisiensi relatif dari proses reproduksi diantara individu-
individu sapi betina subur, juga sering dipakai untuk penilaian atau
perhitungan jumlah pelayanan inseminasi yang dibutuhkan oleh seekor
betina sampai terjadinya kebuntingan atau konsepsi (Feradis, 2010).
Johnson, Weitze and Maxwell, (2006) menyatakan bahwa Service per
conception merupakan perbandingan berapa kali perlakuan pelaksanaan

7
perkawinan sampai terjadi kebuntingan. Nilai S/C ini sangat dipengaruhi oleh
faktor manusia terutama pada proses perkawinan buatan (inseminasi buatan).
Bahwa tingginya nilai S/C diantaranya adalah petugas inseminator. Jainudeen dan
Hafez (2008) yang menyatakan bahwa nilai S/C yang normal adalah 1,6-2,0.
Beberapa penelitian lain mengenai pencapaian rata-rata angka S/C sapi potong
adalahsebesar 2,74 kali.
2. Conseption Rate C/R
Conseption Rate (CR) merupakan persentase kebuntingan pada IB ke 1.
Jumlah akseptor bunting pada IB ke 1 dibagi jumlahakseptor kali 100%.
Rumus CR menurut Susilawati (2005) adalah sebagai berikut:

Jumlah Bunting IB ke 1
CR ¿ x 100 %
Jumlah Akseptor

3. Calving Interval (CI)


Calving Interval (CI) adalah jarak antara kelahiran satu dengan kelahirann
berikutnya pada ternak betina. Jarak kelahiran (CI) merupakan salah satu
ukuranproduktivitas ternak sapi untuk menghasilkan pedet dalam waktu
yang singkat. Jarak waktu beranak (CI) yang ideal adalah 12 bulan, yaitu 9
bulan bunting dan 3 bulan menyusui. Efisiensi reproduksi dikatakan baik
apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun
(Ball and Peters, 2004).

2.4. Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB)

Keberhasilan IB ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah


kualitas straw yang digunakan. Kualitas straw meliputi: pH, warna, viabilitas,
motilitas dan konsentrasi. (Aerens, et.al, 2013) menyatakan bahwa setiap sapi
mempunyai kualitas straw yang berbeda-beda tergantung dari umur, kondisi
ternak, libido dan bangsa. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha
memaksimalkan hasil program IB adalah sebagai berikut :
1. Deteksi Birahi
2. Waktu optimum saat IB
3. Pelaksanaan IB
4. Keadaan reproduksi sapi betina yang di Inseminasi

8
5. Skill Inseminator
6. Kualitas Semen Beku (Handling dan Thawing) (Ditjen Peternakan, 2010).
Menurut Ditjen Peternakan,(2010) menyatakan bahwa faktor yang paling
penting dalam menunjang keberhasilan IB adalah mendeteksi berahi karena tanda-
tanda berahi sering terjadi pada malam hari. Oleh karena itu petani diharapkan
dapat memonitor kejadian berahi dengan baik dengan mencatat siklus berahi
semua sapi betinanya (dara dan dewasa) dan Petugas IB harus mensosialisasikan
cara-cara mendeteksi tanda-tanda berahi (Ditjen Peternakan, 2010). Berahi atau
estrus adalah keadaan yang menunjukkan bahwa seekor hewan betina
memperlihatkan naluri dan keinginan untuk berkawin (Sukra,2000).

2.5. Inseminator

Keahlian inseminator dalam melaksanakan Inseminasi Buatan (IB)


merupakan salah satu dari lima faktor penentu keberhasilan IB. Inseminator
berperan sangat besar dalam keberhasilan pelaksanaan IB. Keahlian dan
keterampilan inseminator dalam akurasi pengenalan birahi, sanitasi alat,
penanganan (handling) semen beku, pencairan kembali (thawing) yang benar,
serta kemampuan melakukan IB akan menentukan keberhasilan. Indikator yang
paling mudah untuk menilai keterampilan inseminator adalah dengan melihat
persentase atau angka tingkat kebuntingan (Conception Rate, CR) ketika
melakukan IB dalam kurun waktu dan pada jumlah ternak tertentu (Herawati,
et.al., 2012).
Faktor inseminator dalam pelaksanaan IB merupakan salah satu dari lima
faktor penentu keberhasilan IB, yakni (i) kualitas semen beku di tingkat peternak;
(ii) pengetahuan dan kepedulian peternak dalam melakukan deteksi birahi; (iii)
body condition score (BCS) sapi; (iv) kesehatan ternak terutama yang terkait
dengan alat-alat reproduksi; serta (v) keterampilan dan sikap inseminator, dan
waktu IB yang tepat (BIB, 2011; Diwyanto, 2012; Caraviello et al., 2006).
Indikator yang paling mudah untuk menilai keterampilan inseminator adalah
dengan melihat persentase atau angka tingkat kebuntingan (conception rate, CR)
ketika melakukan IB dalam kurun waktu dan pada jumlah ternak tertentu
(Herawati, 2012).

9
2.6. Deteksi Birahi Pada Sapi

Waktu yang tepat untuk melalukan inseminasi adalah pada saat turunnya
sel telur dan dimasukkannya semen kedalam uterus (Tappa, 2012). Dalam kondisi
normal sekitar 4 persen dari ternak bunting akan minta kawin lagi. Lebih jauh
Tappa (2012) menyampaikan bahwa inseminator dapat mengetahui kondisi
tersebut pada waktu insemination gun dimasukkan kedalam cervix yang terasa
lengket, karena cervix akan tertutup lender tebal seperti karet yang menyerupai
sumbat. Menurut Feradis (2010), beberapa tanda-tanda sapi estrus antara lain:
a. Sapi terlihat resah dan gelisah, beberapa mencari perhatian dengan
menempatkan kepalanya pada punggung sapi dewasa yang terdapat dalam
kelompok ternak
b. Sering berteriak
c. Suka menaiki dan dinaiki sesamanya
d. Vulva: bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat, keluar lendir dari
vulva yang bening dan tidak berwara
e. Nafsu makan menurun
Menurut Sonjaya,(2005). Menyatakan bahwa Berahi dapat dideteksi
dengan melihat tanda-tanda yang muncul seperti sapi betina menjadi tenang,
kurang nafsu makan dan kadang-kadang menguap dan berkelana mencari hewan
jantan, menaiki sapi-sapi betina yang lain dan diam berdiri jika dinaiki. Vulva sapi
tersebut dapat bengkak, memerah dan penuh dengan sekresi mucus transparan
yang menggantung dari vulva atau terlihat disekeliling pangkal ekor.

KERANGKA PEMIKIRAN

Peningkatan produktivitas usah ternak sapi di Indonesia telah banyak


dilakukan dengan banyak cara, salah satunya melalui perbaikan mutu genetik
ternak dengan teknologi Inseminasi Buatan (IB). Teknologi Inseminasi buatan
digunakan dalam meningkatkan populasi ternak dan dapat memperbaiki mutu

10
genetik dari ternak itu sendiri. Prosedur inseminasi buatan diperlukan kualitas
semen beku yang cukup baik untuk digunakan. Penggunaan teknologi Inseminasi
Buatan (IB) juga memiliki banyak keuntungan diantaranya menghemat biaya
pemeliharaan ternak jantan; meningkatkan angka kelahiran secara cepat dan
teratur; mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding); dengan
peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu
yang lama; semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian
walaupun pejantan telah mati; menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada
saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar; menghindari ternak dari
penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Laju pertumbuhan populasi ternak dan keberhasilan inseminasi buatan(IB)
di Kabupaten Kerinci mempunyai kaitan erat dengan pelaksanaan inseminasi
buatan (IB) yang dilakukan oleh inseminator. Peran dan kecakapan petugas
inseminator dilapangan sangat menentukan keberhasilan kegiatan pelaksanaan
inseminasi buatan (IB). Hal ini sesuai dengan pendapat (Herawati et.al., 2012) ada
beberapa faktor yang mempengaruhi inseminator dalam keberhasilan inseminasi
buatan (IB) seperti kemampuan teknis dari inseminator yang mempengaruhi
angka kebuntingan pada populasi ternak sapi, pengetahuan inseminator, sanitasi
alat dan kelengkapan, penanganan (handling) dan pencairan kembali (thawing)
semen beku yang benar dan kemampuan dalam melakukan inseminasi buatan (IB)
juga menentukan keberhasilan IB.

DAFTAR PUSTAKA

Aerens, Candra D.C., M. Nur Ihsan dan Nurul Isnaini. 2013. Perbedaan kuantitatif
dan kualitatif semen segar pada berbagai bangsa sapi potong. Malang.

Ball, P. J,. H, A. R. Peters. 2004. Reproduction in Cattle. Third Edition Blackwell


Publishing.Victoria. Australia.

11
Caraviello, D.Z., K.A. Weigel, P.M. Fricke, M.C. Wiltbank, M.J. Florent, N.B.
Cook, K.V. Nordlund, N.R. Zwald and C.L. Rawson. 2006. Survey of
Management Practices on Reproductive Performance of Dairy Cattle on
Large us Commercial Farms. Department of Dairy Science, University of
Wisconsin,
Madison 53706. School of Veterinary Medicine, University of Wisconsin,
Madison 537. Journal of Dairy Science. 89(12) : 4723–4735.

Diwyanto, K. 2012. Optimalisasi Teknologi Inseminasi Buatan untuk Mendukung


Usaha Agribisnis Sapi Perah dan Sapi Potong. Bunga Rampai.
Puslitbangnak. (unpublished).

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Direktorat Budidaya


Ternak. 2012. Pedoman Optimalisasi Inseminasi Buatan (IB).
Kementerian Pertanian RI, Jakarta.

Feradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi pada Ternak. Afabeta. Bandung.

Harmini, R., W. Asmarantaka dan J. Atmakusuma. 2011. Model dinamis sistem


ketersediaan daging sapi nasional. Jurnal Ekonomi Pembangunan. 12 (1) :
128–146.

Herawati, T., Anneke Anggraeni, Lisa Praharani, Dwi Utami dan Argi Argiris.
2012. Peran inseminator dalam keberhasilan inseminasi buatan pada sapi
perah. Jurnal informatika pertanian, vol. 21 no.2, Desember:81 – 88.

Jainudeen, M.R. and Hafez, E.S.E. 2008. Cattle And Buffalo dalam Reproduction
In Farm Animals. 7th Edition. Edited by Hafez E. S. E. Lippincott
Williams & Wilkins. Maryland. USA.

Johnson, L. A., Weitze, K. F., Fiser, P and Maxwell, W. M. C. 2006. Storage Of


Boar Semen. Animal Reproduction Science. 62 (2000): 14.

Merthajiwa. 2011. Inseminasi Buatan (IB) atau Kawin Suntik pada Sapi. Sekolah
Ilmu Dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Bandung.

12
Simamora B. 2002. Panduan Riset Prilaku Konsumen. Jakarta (ID): Gramedia
Pustaka Utama.

Pamungkas, D, L. Affandhy, D.B. Wijono, A. Rasyid dan T. Susilawati. 2004.


Kualitas spermatozoa sapi PO hasil sexing dengan teknik sentrifugasi
menggunakan gradient putih telur dalam beberapa imbangan tris-buffer
semen. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner : 37 – 40.

Sonjaya, H. 2005. Materi Mata Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas


Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sugeng YB. 2006. Sapi Potong. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Sugoro, I. 2009. Pemanfaatan Inseminasi Buatan Untuk Meningkatkan


Produktifitas Sapi. Bandung: Kajian Bioetika Institut Teknologi
Bandung.

Sukra, Y. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio: Benih Masa Depan Dirjen
DiktiDepdiknas, Jakarta.

Sumarwan U. 2004. Prilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam


Pemasaran. Bogor (ID): Ghalia Indonesia.

Susilawati, T., 2002. Optimalisasi Inseminasi Buatan dengan Spermatozoa Beku


Hasil Sexing pada Sapi untuk Mendapatkan Anak dengan Jenis Kelamin
sesuai Harapan. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi.
Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya, Malang.

Susilawati T. 2005. Tingkat Keberhasilan kebuntingan dan ketepatan jenis


kelamin hasil inseminasi buatan menggunakan semen beku sexing pada
sapi Peranakan Ongole. Animal production. 7 (3) : 161–164

Tappa, B., R. Harahap, S. Said, R. Ridwan, H.Yanwa dan E.Sophion. 2012. Upaya
Perbaikan Mutu Genetik Sapi Potong Dan Usaha Tani Hijauan Makanan

13
Ternak Di Kabupaten Belu, NTT. Pengembangan wilayah perbatasan
NTT melalui penerapan teknologi. http : //www. elib. pdii.
lipi.go.id.katalog/index.php/ search katalog/ .../9477. [Diunduh tanggal 3
November 2019].

Toelihere, MR Semiadi. G Yusuf. LT. 2005. Potensi Rerpoduksi Rusa Timor


(Cervus timorensis) sebagai Komoditas Ternak Baru:
UpayaPengembangan Populasi di Penangkaran melalui Pengkajian dan
Penerapan Teknologi Inseminasi Buatan. Hibah Penelitian Pasca Sarjana
Angkatan I tahun 2003-2005. Insitut Pertanian Bogor.

Yusdja Y, Ilham N. 2004. Tinjauan kebijakan pengembangan agribisnis sapi


potong. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. 2(2): 167−182
.

14