Anda di halaman 1dari 3

Aktivitas Koperasi Konsumen

Koperasi konsumen adalah koperasi yang anggotanya para konsumen akhir atau pemakai
barang atau jasa. Karena koperasi tidak memproduksi sendiri produknya maka koperasi
konsumen harus melakukan pembelian barang-barang yang akan dijualnya. Untuk membeli
barang-barang tersebut koperasi harus mengeluarkan uang sebagai bukti pembayaran, baik
pada saat terjadinya transaksi maupun di kemudian hari. Dengan adanya barang dagangan
mengharuskan koperasi melakukan aktivitas penjualan kepada konsumen langsung yang
menjadi anggota koperasi maupun yang bukan merupakan anggota koperasi. Dari aktivitas
penjualan barang ini koperasi akan memperoleh penerimaan uang dari pelanggan.

Berdasarkan uraian di atas, maka aktivitas utama koperasi konsumen terdiri dari:
1. Pembelian 3. Penjualan
2. Pengeluaran kas 4. Penerimaan kas

B. Rekening-Rekening Koperasi Konsumen


Rekening-rekening yang terdapat pada koperasi konsumen yaitu:

1. Pembelian adalah rekening yang hanya digunakan untuk menampung aktivitas


pembelian barang dagangan koperasi.
2. Partisipasi bruto anggota adalah kontribusi anggota kepada koperasi sebagai imbalan
penyerahan barang dan jasa kepada anggota, yang mencakup harga pokok dan
paritsipasi neto. Dengan kata lain, partisipasi bruto adalah nilai total penjualan produk
perusahaan, barang dan jasa, kepada anggota koperasi.
3. Partisipasi neto anggota adalah kontribusi anggota terhadap hasil usaha koperasi yang
merupakan selisih antara partisipasi bruto dengan beban pokok. Dengan kata lain,
partisipasi neto adalah laba yang timbul akibat penjualan produk perusahaan, barang
dan jasa, kepada anggota koperasi.
4. Pendapatan dari non anggota adalah penjualan barang dan jasa kepada pihak selain
anggota koperasi.
5. Beban perkoperasian adalah beban sehubungan dengan gerakan perkoperasian dan
tidak berhubungan dengan kegiatan usaha.
6. Sisa Hasil Usaha (SHU) menunjukkan selisih antara penghasilan yang diterima
selama periode tertentu dengan pengorbanan yang dikeluarkan untuk memperoleh
penghasilan itu. SHU ini setelah dikurangi dengan beban-beban tertentu akan
dibagikan kepada para anggota sesuai dengan perimbangan jasanya masing-masing.
7. Persediaan adalah untuk menunjukkan jumlah barang dagangan yang dimiliki
koperasi pada awal atau akhir periode tertentu.
8. Harga Pokok Penjualan digunakan untuk menampung harga pokok/ harga beli barang
yang dijual di dalam suatu periode akuntansi.
9. Beban pokok adalah harga beli dari barang yang dijual kepada anggota koperasi. Jadi
pada dasarnya beban pokok adalah harga pokok penjualan untuk barang yang dijual
kepada anggota koperasi.
10. Potongan penjualan/ potongan tunai digunakan untuk menampung jumlah diskon atau
pengurangan yang diberikan pihak penjual kepada konsumen karena telah membayar
secara tunai atau dalam waktu yang telah ditentukan.
11. Retur penjualan digunakan untuk menampung sejumlah barang yang telah dijual
tetapi dikembalikan lagi oleh pihak pembeli karena ada ketidaksesuaian dengan
pesanan.
12. Potongan pembelian digunakan untuk menampung sejumlah diskon yang telah
diberikan pihak produsen/ supplier kepada pihak pembeli karena telah membayar
secara tunai atau dalam waktu yang ditetapkan.
13. Beban pemasaran digunakan untuk menampung keseluruhan beban yang dikeluarkan
koperasi untuk mendistribusikan barang dagangannya hingga sampai ke tangan
pelanggan. Beban ini mencakup beban iklan , komisi perantara, komisi wiraniaga, dan
lain-lain.
14. Beban administrasi dan umum digunakan untuk menampung keseluruhan beban
operasi kantor. Beban ini mencakup gaji manajer koperasi, gaji manajer produksi,
beban listrik, air dan telepon, beban depresiasi, dan lain-lain.

C. Metode Pencatatan
Metode yang dapat digunakan untuk mencatat transaksi koperasi konsumen yaitu:
1. Metode Perpetual, adalah metode yang digunakan untuk mencatat hal-hal yang berkaitan
dengan persediaan barang dagangan di dalam koperasi konsumen, dimana persediaan dicatat
dan dihitung secara detail, baik pada waktu dibeli maupun dijual. Metode ini lebih cocok
digunakan di dalam koperasi yang memiliki frekuensi transaksi yang tidak terlalu tinggi
tetapi nilai transaksinya besar.

2. Metode Periodik (Fisik) adalah metode yang digunakan untuk mencatat hal-hal yang
berkaitan dengan persediaan barang dagangan di dalam koperasi konsumen, dimana
persediaan dicatat dan dihitung hanya pada awal dan akhir periode akuntansi saja untuk
menentukan harga pokok penjualannya. Metode ini paling banyak dipakai oleh koperasi yang
frekuensi transaksinya tinggi.

D. Harga Pokok Penjualan dan Beban Pokok


Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah harga beli dari barang-barang yang dijual di dalam
suatu periode akuntansi.Sedangkan Beban Pokok adalah harga beli (HPP) dari barang-barang
yang dijual kepada anggota koperasi.
Harga Pokok Penjualan dihitung dengan cara:

Persediaan awal barang dagangan xxx


Pembelian xxx
Biaya angkut pembelian xxx +
Pembelian kotor xxx
Retur Pembelian xxx
Potongan Pembelian xxx +
(xxx)
Pembelian bersih xxx +
Barang yang tersedia untuk dijual xxx
Persediaan akhir barang dagangan (xxx)
Harga Pokok Penjualan xxx

SHU Kotor = Penjualan – HPP


SHU Bersih Usaha Sebelum Pajak = SHU Kotor – Beban Operasi (beban pemasaran + beban
administrasi dan umum)
Contoh Penyusunan Laporan Perhitungan Hasil Usaha pada Koperasi Konsumen
Koperasi Niaga Sejahtera adalah koperasi konsumen yang menjual barang dagangannya
kepada anggota dan non anggota. Selama bulan Januari 2003, koperasi tersebut menjual
barang dagangannya kepada anggotanya senilai Rp 60.000.000,00 dan kepada masyarakat
umum yang bukan anggota sebesar Rp 40.000000,00. Koperasi menetapkan HPP sebesar
80% dari nilai penjualan. Sedangkan beban operasi yang dikeluarkan selama bulan Januari
2003 adalah sebagai berikut:
Gaji pegawai koperasi Rp 3.000.000,00
Gaji pengurus koperasi Rp 1.500.000,00
Beban listrik, air PAM dan telepon Rp 900.000,00
Beban perlengkapan kantor Rp 250.000,00

Penyelesaian:
Beban pokok (HPP kepada anggota) = 80% x penjualan ke anggota (partisipasi bruto
anggota)
= 80% x Rp 60.000.000,00
= Rp 48.000.000,00
HPP kepada non anggota = 80% x penjualan ke non anggota
= 80% x Rp 40.000.000,00
= Rp 32.000.000,00