Anda di halaman 1dari 11

BAB 24 MENYELESAIKAN AUDIT

A. MELAKSANAKAN PENGUJIAN TAMBAHAN UNTUK


PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Auditor melakukan pendekatan untuk memperoleh bukti untuk tujuan audit yang
berhubungan penyajian dan pengungkapan, konsisten dengan bagaimana mereka
melakukan pendekatan untuk memperoleh bukti untuk tujuan audit yang berkaitan
dengan transaksi saldo.
 Melaksanakan prosedur untuk memahami pengendalian yang berkaitan
dengan tujuan penyajian dan pengungkapan sebagai bagian dari prosedur
penilaian risiko.
 Melakukan pengujian pengendalian yang berkaitan dengan pengungkapan
apabila penilaian awal atas risiko pengendalian berada dibawah maksimum.
 Melaksanakan prosedur substantive untuk memperoleh assurance bahwa
semua tujuan audit dicapai menyangkut informasi dan jumlah yang disajikan
serta diungkapkan dalam laporan keuangan.

Tujuan Audit Contoh Prosedur Substantif

Keterjadian serta hak dan Mereview kontrak utang untuk


kewajiban─Mengungkapkan peristiwa menentukan bahwa piutang usaha
dan transaksi yang terjadi serta terkait digadaikan sebagai jaminan.
dengan entitas.

Kelengkapan─Semua pengungkapan Menggunakan daftar pengungkapan


yang harus dimasukkan dalam laporan untuk menentukan apakah laporan
keuangan telah dimasukkan. keuangan sudah memuat semua
pengungkapan yang diwajibkan oleh
standar akuntansi.

Klasifikasi dan kemampuan untuk Mereview laporan keuangan untuk


dipahami─Informasi keuangan disajikan menentukan apakah aktiva (asset)
dan digambarkan dengan tepat serta diklasifikasikan dengan benar antara
pengungkapannya diekspresikan dengan kategori lancar dan tidak lancar. Baca
jelas. catatan kaki untuk penjelasannya.

Keakuratan dan penilaian─Informasi Merekosiliasi jumlah yang


keuangan dan informasi lainnya dimasukkan dalam catatan kaki utang
diungkapkan secara wajar, pada jumlah jangka Panjang dengan informasi
yang benar. yang diperiksa dan didukung dalam
kertas kerja audit utang jangka
panjang auditor.

Salah satu kekhawatiran utama auditor berkenaan dengan tujuan penyajian dan
pengungkapan adalah menentukan apakah manajemen telah mengungkapkan
semua informasi yang diperlukan (tujuan kelengkapan penyajian dan
pegungkapan). Untuk menilai risiko bahwa tujuan kelengkapan untuk penyajian
dan pengungkapan tidak dipenuhi, auditor mempertimbangkan informasi yang
diperolehnya selama tiga tahap pertama pengujian audit untuk menentukan
apakah mereka menyadari fakta dan situasi yang seharusnya diungkapkan.

B. REVIEW KEWAJIBAN KONTINJEN DAN KOMITMEN


Kewajiban Kontinjensi adalah potensi kewajiban di masa mendatang kepada
pihak luar sebesar jumlah yang tidak diketahui dari aktivitas yang telah terjadi.
Kewajiban kontinjen yang material harus diungkapkan dalam catatan kaki.
Diperlukan tiga kondisi agar kewajiban kontinjen ada:
1) Terdapat potensi pembayaran di masa depan ke pihak luar atau kerusakan
aktiva (aset) yang diakibatkan oleh kondisi yang ada.
2) Terdapat ketidakpastian mengenai jumlah pembayaran atau kerusakan di
masa mendatang.
3) Hasilnya akan dipecahkan oleh satu atau beberapa kejadian di masa
mendatang.

Kemungkinan Keterjadian Peristiwa Peraturan Laporan Keuangan

Remote (kecil kemungkinan) Tidak diperlukan pengungkapan

Reasonably possible (lebih besar dari Diperlukan pengungkapan catatan kaki


remote, tapi lebih kecil dari probable)

Probable (mungkin terjadi)  Jika jumlah dapat diestimasi secara


masuk akal, akun-akun laporan
keuangan disesuaikan.
 Jika jumlah tidak dapat diestimasi
secara masuk akal, diperlukan
pengungkapan catatan kaki.

Standar akuntansi menggunakan dua pendekatan utama dalam kaitannya dengan


ketidakpastian kontinjensi kerugian. Ukuran kontinjensi yang pertama
menggunakan pendekatan nilai wajar. Pendekatan yang kedua menggunakan
ambang (threshold) probabilitas. Dengan ambang probabilitas, standar ini
menguraikan tiga tingkat kemungkinan keterjadian (berkisar dari kecil hingga
mungkin terjadi) dan perlakuan laporan keuangan yang tepat bagi masing-masing
kemungkinan itu. Untuk mengevaluasi apakah klien telah menerapkan pendekatan
dan perlakuan yang tepat, auditor harus memberikan pertimbangan yang sangat
professional.

Auditor terutama mencurahkan perhatiannya pada beberapa kewajiban kontinjen:


 Tuntutan tertunda (pending) untuk pelanggaran paten, kewajiban produk, atau
tindakan lainnya
 Perselisihan pajak penghasilan
 Garansi produk
 Diskonto wesel tagih
 Jaminan untuk kewajiban orang lain
 Saldo letter of credit yang beredar yang tidak digunakan

Standar auditing dengan jelas menyatakan bahwa manajemen, bukan auditor,


yang bertanggung jawab mengidentifikasi dan memutuskan perlakuan akuntansi
yang pas untuk kewajiban kontinjensi. Dalam banyak audit, tidaklah praktis bagi
auditor untuk mengungkapkan kontinjen tanpa kerja sama dengan manajemen.

Tujuan auditor yang utama dalam memverifikasi kewajiban kontinjensi adalah :


o Mengevaluasi perlakuan akuntansi kewajiban kontinjen yang diketahui untuk
menentukan apakah manajemen telah mengklasifikasikan dengan benar
kontijensi tersebut (tujuan klasifikasi penyajian dan pengungkapan).
o Mengidentifikasi seberapa praktis setiap kontinjensi yang belum
diidentifikasi oleh manajemen (tujuan kelengkapan penyajian dan
pengungkapan).

Komitmen sangat berkaitan erat dengan kewajiban kontinjensi. Komitmen


meliputi hal-hal seperti kesepakatan untuk membeli bahan baku atau melakukan
sewa guna usaha suatu fasilitas pada harga tertentu dan penjualan barang
dagangan pada harga yang sudah ditentukan. Karakteristik komitmen yang paling
penting adalah kesepakatan perusahaan untuk berkomitmen menetapkan kondisi
yang tetap di masa mendatang, tanpa memperhatikan apa yang terjadi dengan laba
perusahaan atau perekonomian keseluruhan. Perusahaan biasanya menjelaskan
seluruh komitmen, baik dalam penjelasan tambahan terpisah maupun
digabungkan, dengan sebuah catatan mengenai kontinjensi.

a. Prosedur Audit untuk Menemukan Kontinjensi


Langkah pertama dalam mengaudit kontinjensi adalah menentukan ada
tidaknya kontinjensi (tujuan keterjadian penyajian dan pengungkapan).
Seperti Anda ketahui dari mempelajari bidang audit lainnya, jauh lebih sulit
menemukan transaksi atau peristiwa yang tidak tercatat ketimbang
memverifikasi informasi yang tidak tercatat. Begitu auditor mendapati adanya
kontinjensi, evaluasi terhadap materialitas dan pengungkapan catatan kakinya
biasanya dapat dilakukan dengan memuaskan.
Berikut kami sajikan beberapa prosedur audit yang sering digunakan untuk
mencari kewajiban kontinjen, tetapi tidak semuanya dapat diterapkan dalam
semua audit:
 Mengajukan pertanyaan kepada manajemen (secara lisan maupun
tertulis) mengenai kemungkinan adanya kontinjensi yang tidak dicatat
 Mereview laporan agen pendapatan internal tahun berjalan dan tahun
sebelumnya untuk penyelesaian pajak penghasilan
 Mereview notulen rapat direksi dan pemegang saham untuk
menunjukkan adanya tuntutan hukum atau kontinjensi lainnya
 Menganalisis beban hukum selama periode audit dan mereview faktur
serta laporan dari penasihat hukum untuk indikasi kewajiban kontinjen,
tertama tuntutan hukum dan penundaan penilaian pajak
 Memperoleh surat dari setiap pengacara utama yang memberikan jasa
hukum untuk kliennya dalam status penundaan tuntutan atau kewajiban
kontinjen lain
 Mereview dokumentasi audit atas setiap informasi yang mungkin
menunjukkan potensi kontinjensi
 Memeriksa letter of credit yang berlaku pada tanggal neraca dan
memperoleh konfirmasi menyangkut saldo yang digunakan dan tidak
digunakan

b. Evaluasi Kewajiban Kontijensi Yang Diketahui


Jika auditor menyimpulkan bahwa terdapat kewajiban kontijensi, maka harus
mengevaluasi signifikansi potensi utang dan sifat pengungkapan yang
diperlukan dalam laporan keuangan untuk memperoleh bukti atas keterjadian
atas hak dan kewajiban dalam tujuan penyajian dan pengungkapan. Untuk
kontijensi yang membutuhkan pengungkapan , auditor juga menelaah konsep
penjelasan tambahan untuk memastikan bahwa informasi yang diuangkapkan
dapat dipahami dan dinyatakan dengan wajar sesuai kondisi kontijensi.

c. Prosedur Audit Untuk Menemukan Komitmen


Penelitian untuk mencari komitmen yang belum diketahui biasanya dilakukan
sebagai bagian dari audit atas masing-masing area audit. Misalkan, dalam
melakukan verifikasi penjualan, auditor seharusnya waspada atas adanya
komitmen penjualan.

d. Mengajukan Pertanyaan kepada Pengacara Klien


Prosedur utama yang diandalkan auditor untuk mengungkapkan tuntutan
hukum yang diketahui atau klaim lain terhadap klien dan mengidentifikasi
klaim tambahan yaitu tanya jawab dengan pengacara klien. Auditor
mengandalkan keahlian dan pengetahuan pengacara mengenai masalah
hukum guna memberikan pendapat professional atas hasil tuntutan hukum
yang diharapkan dan kemungkinan jumlah kewajiban kewajiban termasuk
biaya sidang.

C. REVIEW TERHADAP PERISTIWA KEMUDIAN


Auditor harus mereview transaksi dan peristiwa yang muncul setelah tanggal
neraca untuk menentukan apakah terdapat transaksi atau peristiwa yang muncul
yang mungkin mempengaruhi penyajian dan pengungkapan wajar dari laporan
periode saat ini. Prosedur audit yang disyaratkan oleh SAS 1 (AU 560) untuk
memverifikasi transaksi dan peristiwa tersebut sering kali disebut review untuk
peristiwa kemudian atau review pasca tanggal neraca. Gambar dibawah ini
menunjukkan periode yang dicakup oleh review peristiwa kemudian dan waktu
melakukan review tersebut.

Menurut gambar diatas, auditor bertanggung jawab untuk mereview peristiwa


kemudian yang terjadi antara tanggal 31-12-07 dan 11-03-08, tetapi tidak untuk
peristiwa setelah tanggal pelaporan audit. Kebanyakan prosedur audit terhadap
peristiwa kemudian dilakukan mendekati tanggal pelaporan audit.
Jenis Peristiwa Kemudian
Terdapat dua jenis peristiwa kemudian yang memerlukan pertimbangan
manajemen :
1) Peristiwa yang memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan dan
memerlukan penyesuaian.
Peristiwa periode kemudian, seperti berikut ini, memerlukan penyesuaian
terhadap saldo akun pada laporan keuangan tahun ini jika jumlahnya material
:
- Pernyataan kebangkrutan oleh pelanggan dengan saldo piutang usaha
yang beredar karena kondisi keuangan pelanggan yang memburuk
- Penyelesaian tuntutan hukum dengan jumlah yang berbeda dari jumlah
yang dicatat di dalam pembukuan
- Penyingkiran peralatan yang tidak digunakan dalam operasi dengan
harga di bawah nilai buku saat ini
- Penjualan investasi dengan harga di bawah biaya yang tercatat

2) Peristiwa yang tidak memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan


tetapi memerlukan pengungkapan. Peristiwa atau transaksi yang muncul di
periode selanjutnya yang mungkin memerlukan pengungkapan dan bukan
penyesuaian di laporan keuangan termasuk :
- Penurunan dalam nilai pasar sekuritas yang dipegang untuk investasi
sementara atau untuk dijual kembali
- Penerbitan obligasi atau sekuritas
- Penurunan dalam nilai pasar dari persediaan sebagai konseskuensi dari
tindakan pemerintah yang menghalangi penjualan lebih lanjut dari suatu
produk
- Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan akibat dari kebakaran
- Merger atau akuisisi

Pengujian Audit
Terdapat dua kategori prosedur audit untuk review peristiwa kemudian :
1) Prosedur yang biasanya diintegrasikan sebagai bagian dari verifikasi saldo
akun akhir tahun
2) Prosedur yang dilaksanakan terutama untuk tujuan mengungkapkan peristiwa
atau transaksi yang harus diakui sebagai peristiwa lanjutan

Kategori pertama memasukkan pengujian pisah batas dan penilaian yang


dilakukan sebagai bagian dari pengujian atas rincian saldo. Kategori kedua dari
pengujian dilaksanakan secara khusus untuk memperoleh informasi yang akan
dimasukkan ke dalam saldo akun tahun berjalan atau catatan kaki sebagai
pengujian dari tujuan kelengkapan penyajian dan pengungkapan.

Pengungkapan tersebut mencakup hal berikut :


 Mereview Catatan yang Disiapkan Setelah Tanggal Neraca. Auditor harus
mereview jurnal dan buku besar untuk menentukan keberadaan dan sifat dari
transaksi signifikan yang berhubungan dengan tahun berjalan.
 Mereview Laporan Internal yang Disiapkan pada Tanggal Neraca.
Dalam mereview auditor seharusnya menekankan perubahan dalam bisnis
dibandingkan dengan hasil untuk periode yang sama di tahun yang diaudit
dan perubahan setelah akhir tahun.
 Memeriksa Notulen yang Diterbitkan pada Tanggal Neraca. Auditor
harus memeriksa notulen rapat pemegang saham dan direktur setelah tanggal
neraca untuk peristiwa kemudian yang mempengaruhi laporan keuangan
periode berjalan.
 Berkorespondensi dengan Pengacara. Auditor biasanya meminta pengacara
untuk member tanggal dan mengirimkan surat pada tanggal penyelesaian
pekerjaan lapangan yang diharapkan untuk memenuhi tanggung jawab
auditor terhadap peristiwa kemudian.
 Pengajuan Pertanyaan kepada Manajemen. Pengajuan
pertanyaanbervariasi dari klien ke klien tetapi biasanya berkaitan dengan
potensi kewajiban atau komitmen kontinjen, perubahan signifikan dalam
aktiva atau struktur modal perusahaan, status saat ini dari item yang tidak
sepenuhnya diselesaikan pada tanggal neraca dan penyesuaiannya tidakbiasa
yang dibuat setelah tanggal neraca. Pengajuan pertanyaan kepada manajemen
mengenai peristiwa kemudian harus dilakukan dengan personel klien untuk
memperoleh jawaban yang berarti.
 Memperoleh Letter of Representation. Letter of Representataion ditulis
oleh manajemen klien kepada auditor mengesahkan laporan yang dibuat
manajemen mengenai persoalan yang berbeda sepanjang audit, termasuk
diskusi mengenai peristiwa kemudian.

Penanggalan Ganda
Kadang-kadang, auditor menentukan bahwa peristiwa kemudian yang
mempengaruhi laporan keuangan periode berjalan terjadi setelah pekerjaan
lapangan diselesaikan tetapi sebelum laporan audit diterbitkan.

Auditor memiliki dua pilihan sebanding yang dapat diterima untuk memperluas
pengujian peristiwa kemudian :
1) Memperluas semua pengujian peristiwa kemudian hingga ke tanggal yang
baru
2) Membatasi review peristiwa kemudian pada persoalan yang berhubungan
dengan peristiwa lanjutan yang baru

Untuk pilihan pertama, auditor hanya mengubah tanggal laporan audit ke tanggal
yang baru. Untuk pilihan yang kedua, auditor menerbitkan laporan audit dengan
tanggal ganda, yang berarti laporan audit tersebut memasukkan dua tanggal:
tanggal yang pertama pada saat pekerjaan lapangan selesai, kecuali untuk
pengecualian tertentu, dan tanggal kedua, yang selalu lebih lambat untuk
pengecualian.

D. AKUMULASI BUKTI AKHIR


Lima jenis pengumpulan bukti akhir dibahas di bab ini adalah: melaksanakan
prosedur analitis akhir, mengevaluasi asumsi going concern, memperoleh surat
representasi dari manajemen, mempertimbangkan informasi yang menemani
laporan keuangan dasar, dan membaca informasi lain dalam laporan tahunan.
Maing-masing dari hal tersebut dilakukan belakangan dalam audit.
a. Melaksanakan Prosedur Analitis Akhir
Ketika melaksanakan prosedur analitis selama tahap review akhir, yang
diharuskan oleh standar audit, partner pada umumnya membaca laporan
keuangan, termasuk catatan kaki, dan mempertimbangkan :
1) Kecukupan dari bukti yang dikumpulkan mengenai saldo akun yang tidak
biasa atau tidak diharapkan atau hubungan yang teridentifikasi selama
perencanaan atau ketika melaksanakan audit
2) Saldo akun yang tidak biasa atau tidak diharapkan atau hubungan yang
sebelumnya tidak teridentifikasi.

b. Mengevaluasi Asumsi Going- Concern


SAS 59 (AU 341) mengharuskan auditor untuk mengevaluasi apakah terdapat
keraguan substansial mengenai kemampuan klien untuk terus berjalan sebagai
going concern untuk setidaknya satu tahun setelah tanggal neraca. Auditor
melakukan penilaian awalnya sebagai bagian dari perencanaan akan tetapi
mungkin merevisinya jika memperoleh informasi yang baru.

c. Memperoleh Surat Representasi Manajemen


SAS 85 (AU 333) mengharuskan auditor untuk memperoleh surat
representasi yang mendokumentasikan representasi lisan yang paling penting
selama audit.
Tiga tujuan dari surat representasi klien adalah :
1) Untuk menekankan pada manajemen tentang tanggung jawabnya atas
asersi laporan keuangan
2) Untuk mengingatkan manajemen potensi salah saji atau penghapusan
data dalam laporan keuangan
3) Untuk mendokumentasikan respons dari manajemen atas pertanyaan
yang diajukan mengenai berbagai aspek audit.

SAS 85 menyarankan empat kategori persoalan khusus yang harus


dimasukkan. Keempat kategori tersebut, dengan contoh dari masing-masing
adalah :
1) Laporan keuangan
2) Kelengkapan informasi
3) Pengakuan, pengukuran dan pengungkapan
4) Peristiwa kemudian

d. Mempertimbangkan informasi tambahan dalam kaitannya dengan


laporan keuangan secara keseluruhan
SAS 29 (AU 551) merujuk pada informasi tambahan tersebut sebagai
informasi yang menyertai laporan keuangan dasar dalam dokumen yang
diserahkan auditor. Auditor harus membedakan dengan jelas tanggung jawab
auditnya dan tanggung jawab pelaporan untuk laporan keuangan utama dan
untuk informasi tambahan. Gambar dibawah ini mengilustrasikan laporan
keuangan dasar dan informasi tambahan.
e. Membaca informasi lain dalam laporan tahunan
SAS 8 (AU 550) mengharuskan auditor untuk membaca informasi lain yang
dimasukkan dalam laporan tahunan yang berhubungan secara langsung
dengan laporan keuangan. SAS 8 hanya berkaitan dengan informasi yang
bukan merupakan bagian dari laporan keuangan tapi diterbitkan bersama
laporan keuangan.

E. MENGEVALUASI HASIL
Setelah melaksanakan semua prosedur audit dalam setiap bidang audit, termasuk
mereview kontinjensi dan peristiwa kemudian serta mengumpulkan bukti akhir,
auditor harus mengintegrasikan hasilnya menjadi satu kesimpulan secara
keseluruhan mengenai laporan keuangan.

Bukti yang Tepat yang Mencukupi


Untuk melakukan evaluasi akhir menyangkut apakah bukti yang tepat yang
mencukupi telah dikumpulkan, auditor mereview dokumentasi audit untuk
menentukan apakah semua kelas transaksi yang material, akun dan pengungkapan
telah diuji secara memadai, dengan mempertimbangkan semua situasi audit.

Bukti yang Mendukung Pendapat Auditor


Bagian yang penting ketika mengevaluasi apakah laporan keuangan telah
dinyatakan secara wajar meliputi review auditor terhadap ikhtisar salah saji yang
ditemukannya dalam audit. Selain setiap salah saji yang material tersebut, sering
kali juga ada beberapa salah saji yang tidak material yang belum disesuaikan oleh
klien.

Jika auditor meyakini cukup bukti tetapi menyimpulkan bahwa laporan keuangan
disajikan secara wajar, mereka kembali memiliki dua pilihan: Laporan harus
direvisi untuk memenuhi keinginan auditor atau harus memberikan baik pendapat
wajar dengan pengecualian maupun pendapat tidak wajar.

Gambar dibawah ini menyajikan baik salah saji yang diketahui di mana klien telah
memutuskan untuk tidak menyesuaikan dan memproyeksikan salah saji, termasuk
kesalahan sampling, maupun total salah saji yang mungkin bagi beberapa kategori
laporan keuangan.
Pengungkapan Laporan Keuangan
Sebagai bagian dari review akhir terhadap pengungkapan laporan keuangan,
banyak kantor akuntan publik mengharuskan penyelesaian daftar pemeriksaan
pengungkapan laporan keuangan atas setiap audit. Kuisioner tersebut dirancang
untuk mengingatkan auditor akan masalah pengungkapan umum dalam laporan
keuangan dan untuk memfasilitasi review akhir atas keseluruhan audit oleh
partner yang independen.

Mengaudit Review Dokumentasi


Ada tiga alsan mengapa seorang anggota kantor akuntan publik yang
berpengalaman harus meneliti dengan seksama review dokumentasi audit pada
tahap penyelesaian audit:
1) Untuk mengevaluasi kinerja personil yang belum berpengalaman.
2) Untuk memastikan bahwa audit memenuhi standar kinerja kantor akuntan
publik.
3) Untuk mengatasi bias yang sering kali merecoki pertimbangan auditor.

Review Indpenden
Reviewer ini sering kali mengambil posisi berlawanan untuk memastikan
pelaksanaan audit sudah memadai. Tim audit harus mampu menjustifikasi bukti
yang telah dikumpulkan dan kesimpulan yang dicapai berdasarkan situasi aduit.

Ikhtisar Evaluasi Bukti


Auditor mengevaluasi kecukupan dan kelayakan bukti dengan pertama kali
mengevaluasi risiko audit yang dicapai, menurut akun dan siklus, dan kemudian
melakukan evaluasi yang sama atas laporan keuangan secara keseluruhan.

F. MENERBITKAN LAPORAN AUDIT


Auditor akan menerbitkan laporan tanpa pengecualian dengan kata-kata standar.
Kantor akuntan biasanya memiliki template elektronik untuk laporan ini danhanya
mengubah nama klien, judul laporan keuangan, dan tanggal. Sebagian besar
kantor akuntan publik memiliki petunjuk manual pelaporan audit yang
komprehensif untuk membantunya memilih kata-kata yang tepat dalam laporan
yang akan diterbitkan.

G. BERKOMUNIKASI DENGAN KOMITE AUDIT DAN


MANAJEMEN
a. Mengkomunikasikan Kecurangan dan Tindakan Ilegal
Standar auditing mengharuskan auditor untuk mengomunikasikan semua
kecurangan dan tindakan illegal kepada komite audit atau kelompok yang
ditunjuk, tanpa memandang materialitas. Tujuannya adalah membantu komite
audit dalam melaksanakan perannya sebagai pengawas atas laporan keuangan
yang dapat diandalkan.

b. Mengomunikasikan Defisiensi Pengendalian Internal


Auditor juga harus mengomunikasikan secara tertulis defisiensi pengendalian
internal yang signifikan dan kelemahan yang material dalam perancangan
atau pengoperasian pengendalian internal kepada pihak yang berhak. Dalam
perusahaan yang lebih besar, komunikasi ini dilakukan kepada komite audit
sementara dalam perusahaan yang lebih kecil, komunikasi dapat dilakukan
kepada pemilik atau manajemen senior.
c. Komunikasi Lain dengan Komite Audit
Standar auditing mengharuskan auditor untuk mengomunikasikan informasi
tambahan tertentu yang diperoleh selama audit kepada pihak yang berhak,
yang umumnya adalah komite audit. Tujuan dari komunikasi yang diwajibkan
ini adalah untuk mempertahankan agar komite audit, atau pihak yang berhak,
tetap memperoleh informasi yang relevan dan signifikan guna mengawasi
proses pelaporan keuangan serta menyediakan kesempatan bagi komite audit
untuk mengomunikasikan persoalan penting kepada auditor. Jadi, persyaratan
standar auditing dirancang untuk mendorong komunikasi dua arah antara
auditor dan pihak yang berhak. Ada empat tujuan utama dari komunikasi
yang diwajibkan ini:
1) Untuk mengkomunikasikan tanggung jawab auditor dalam audit atas
laporan keuangan.
2) Untuk menyediakan tinjauan mengenai lingkup dan penetapan waktu
audit.
3) Untuk menyediakan pihak yang berhak temuan yang signifikan yang
diperoleh selama audit.
4) Untuk memperoleh informasi yang relevan dengan audit dari pihak yang
berhak atau yang terlibat dalam tata kelola.

d. Surat Manajemen
Surat manajemen (management letter) ditujukan untuk memberi tahu personil
klien mengenai rekomendasi akuntan publik untuk memperbaiki setiap bagian
bisnis klien. Sebagian besar rekomendasi itu berfokus pada saran agar operasi
berjalan lebih efisien. Beberapa auditor memadukan surat manajemen dengan
surat mengenai defisensi yang signifikan dan kelemahan yang material. Pada
audit yang lebih kecil, sudah umum bagi auditor untuk mengomunikasikan
sara tentang operasi secara lisan dan bukan melalui surat manajemen.

H. PENEMUAN FAKTA-FAKTA LEBIH LANJUT


Ketika penemuan fakta-fakta lebih lanjut (subsequent discovery of facts) ini
terjadi, auditor berkewajiban untuk memastikan bahwa para pemakai yang
mengandalkan laporan keuangan diberi tahu mengenai salah saji tersebut atau
perubahan kesimpulan atas keefektifan pengendalian internal. (jika auditor sudah
mengetahui salah saji tersebut sebelum laporan audit diterbitkan, auditor akan
bersikeras bahwa manajemenlah yang harus memperbaiki salah saji itu, atau,
sebagai gantinya, laporan audit yang berbeda akan diterbitkan.) kita tidak perlu
mempersoalkan apakah kegagalan untuk menemukan salah saji itu merupakan
kesalahan auditor atau klien.

Jika auditor menemukan bahwa laporan keuangan ternyata menyesatkan setelah


diterbitkan, tindakan yang harus ditempuh adalah meminta klien untuk segera
menerbitkan laporan keuangan yang telah direvisi yang mencantumkan penjelasan
mengenai alasan revisi tersebut. Jika laporan keuangan periode selanjutnya telah
selesai sebelum laporan yang direvisi akan diterbitkan, tidaklah dibenarkan untuk
mengungkapkan salah saji dalam laporan keuangan periode selanjutnya.