Anda di halaman 1dari 72

PENGANTAR

[Document subtitle]

PERJANJIAN LAMA 1

STA-BATU
0
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

TEOLOGI PERJANJIAN LAMA


SILABUS
Program Studi : Teologi/Kependetaan
Kelompok/Nomor : MKB/1
Nama Mata Kuliah : Teologi Perjanjian Lama 1
Dosen Pengampu : Pdt. Fati Aro Zega, M.Th
Bobot : 2 Sks
Semester : -
Prasyarat : Tafsir PL 1
Banyaknya Pertemuan/
Waktu Tiap Pertemuan : 14 X (2 X 50 Menit)

STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah dan perkembangan teologi dalam PL, serta
mampu menjelaskan tema-tema teologi PL sebagaimana dijumpai dalam Kitab Pentateukh dan
Sejarah dan merefleksikannya secara kontekstual.
KOMPETENSI DASAR
1. Mampu menjelaskan dengan benar secara rinci tema-tema Teologi PL I
2. Mempelihatkan sikap kritis dalam mempelajari tema-tema teologi PL I
3. Mampu berinovasi dalam mempelajari tema-tema Teologi PL I
4. Memperlihatkan kesadaran pentingnya mempelajari tema-tema Teologi PL I
5. Mampu mendemonstrasikan penghayatan nilai-nilai tema-tema Teologi PL I
6. Mampu menunjukkan kebiasaan berperilaku sesuai nilai-nilai Teologi PL I
7. Mampu mengumpulkan sumber belajar yang berkaitan dengan Teologi PL I

URUTAN DAN RINCIAN MATERI


1. Pengatar Kitab-kitab Taurat
2. Pengatar Kitab Kejadian
3. Pengatar Kitab Keluaran
4. Pengatar Kitab Kitab Imamat
5. Pengatar Kitab Bilangan
6. Pengantar Kitab Ulangan

INDIKATOR HASIL BELAJAR


1. Menjelaskan Susunan, nama dan identitas Kitab Pentateukh
2. Menjelaskan Gambaran Ringkas Kitab Kejadian
3. Menjelaskan Gambaran Ringkas Kitab Keluaran
4. Menjelaskan Gambaran Ringkas Kitab Kitab Imamat
5. Menjelaskan Gambaran Ringkas Kitab Kitab Bilangan
6. Menjelaskan Gambaran Ringkas KitabUlangan
STANDAR PROSES PEMBELAJARAN
PENDEKATAN Kontekstual partisipatoris
PENGALAMAN BELAJAR 1. Mahasiswa mendengarkan penjelasan dosen
2. Mahasiswa berdiskusi
3. Mahasiswa bereksplorasi
4. Mahasiwa mengkaji
5. Mahasiswa mempresentasikan
6. Mahasiswa berinovasi
METODA : Ceramah, eksplorasi, diskusi, presentasi, tugas mandiri,
inkuiri, studi perbandingan, dan kajian pustaka.

Pdt. FatiaroZega |1
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

TUGAS : 1. Membuat makalah


2. Membuat sketsa
3. Mengoleksi sumber belajar
4. Membuat kajian pustaka
5. Melakukan presentasi
STANDAR PENILAIAN 1. Partisipasi dan kehadira : 10 %
2. UTS : 30 %
3. Pengamatan dan tinjauan buku : 30 %
4. UAS : 30 %
TEKNIK : Tertulis
BENTUK SOAL : Tes Tertulis, Tes Sikap, Porto Folio, proyek, unjuk kerja

MEDIA : Laptop, LCD Proyektor, VCD , Papan Tulis / White board,

PRASYARAT :
SUMBER BELAJAR
1. Keluarga
2. Media elektronik (internet)
3. Narasumber,
4. Lingkungan alam,
5. Lingkungan sosial,
6. Teman di kampus
7. Teman di masyarakat setempat
8. Komunitas gereja
9. Literatur
1. Barth, C (1998) Teologi Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
2. Blommendaal, J. (2009) Pengantar kepada Perjanjian Lama . Jakarta: BPK Gunung Mulia.
3. Childs, Brevards (1993). Biblical Theology of The Old and New Testament: Theological
Reflection on The Christian Bible. Fortress: Minneapolis.
4. Clements, Ronald O (1978) Old Testament Theology: A Fresh Approach. England: Marshall
Morgan & Scott.
5. Dyrness, W (2002) Tema-Tema Dalam Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas.
6. Hasel. G (2002) Isu-Isu Dasar Teologi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas.
7. Hinson, DF (1976) Theology of The Old Testament. London: SPCK.
8. Kaiser, W (1978) Toward an Old Testament Theology. Grand Rapids: Zondervan.
9. Karman, Yongky (2005) Teologi Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
10. Knierim, Rolf P (1995) The Task Of The Old Testament Theology: Method and Cases. Michigan:
Eerdmans.
11. Lassor, W.S, Hubbard & D.A, Bush, F.W (2008) Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan
Sejarah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
12. J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab, Jilid 1. Jakarta: Yay. Komunikasi Bina Kasih, 2004.
13. Rogerson, John, (2000) Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
14. Rowley, H.H (2004) Ibadat Israel Kuno. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
15. Snaith, N (1995) Gagasan-Gagasan Khas Dalam Perjanjian Lama. (Jakarta: BPK Gunung
Mulia).
16. Vriezen, C. Th (2006) Agama Israel Kuno. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
17. Andrew E. Hill dan Hohn H. Walton, Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2004
18. John Balchin, dkk. Intisari Alkitab Perjanjian Lama. Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab,
2005,
19. Berbagai buku komentari dan diktioanri dari software Alkitab”
BibleWork versi 7 dan 10
E-Sword versi 2017 dan 2019
Sabda/OBL versi 5.0
20. Eugene H. Merrill, Teologi Pentateukh, dalam: Roy B. Zuck, ed., A Biblical Theology of The Old
Testament (Teologi Alkitabiah Perjanjian Lama), Malang: Gandum Mas, 2015
Pdt. FatiaroZega |2
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

21. Sarna, Nahum M. et al. "Bible." Encyclopaedia Judaica. Ed. Michael Berenbaum and Fred
Skolnik. Vol. 3. 2nd ed. Detroit: Macmillan Reference USA, 2007.
22. Darmawijaya. Seluk Beluk Kitab Suci. Yogyakarta: Kanisius, 2009
23. James K. Aitken in Edward Kessler and NeilWenborn, ed. A Dictionary of Jewish–Christian
Relations. Cambridge University Press, 2005.
24. Berbagai situs internet

Tugas-tugas
1. Resensi buku. Mengungkapkan latar belakang penulisan buku, pesan dan inti tulisan,
memaparkan manfaat, keistimewaan, dan apa yang mungkin masih perlu dikembangkan
dalam buku (5 – 8 halaman).
2. Meringkas buku. Menentukan inti setiap bab atau sub-bab dan memberi kesimpulan dari segi
bahasa, nilai teologis dan manfaat buku tersebut (5-8 halaman).
3. Makalah (10 – 18 halaman)
Membuat makalah dalam tiga bab: Pertama pendahuluan (1–2 halaman), bab bahasan (8–
15 halaman), dan bab kesimpulan/penutup (1 halaman).
4. Membuat tanggapan atas buku bacaan yang diwajibkan minimal dalam 7 tanggapan evaluatif

Tujuan Utama
Agar setiap orang “Mengenal Yesus Kristus lebih jelas, mengasihi-Nya lebih sungguh, dan
mengikuti-Nya lebih dekat” (Richard Chichester: dalam W. Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap
Hari).

Prinsip Doktrin
Di dalam Keristenan doktrin bukan segala-galanya,
tetapi tidak yang lebih penting dalam Kekristenan daripada doktrin

DAFTAR ISI

Silabus ......................................................................................................................1
DAFTAR ISI ......................................................................................................................3
PENGANTAR Urutan, nama, Arti dan Komposisi Taurat ........................................................4
BAB 1. PENGANTAR KITAB KEJADIAN ................................................................................10
BAB II. PENGANTAR KITAB KELUARAN ...............................................................................21
BAB III. PENGANTAR KITAB IMAMAT ...................................................................................32
BAB IV. PENGANTAR KITAB BILANGAN ...............................................................................41
BAB V. PENGANTAR KITAB ULANGAN ................................................................................49

Pdt. FatiaroZega |3
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

PENGANTAR

Alkitab secara divisional dan kodrati terdiri atas


dua bagian yang lazimnya dikenal sebagai Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama disebut juga sebagai
Kitab Suci Ibrani, komposisinya terdiri dari 39 kitab, selesai
terdokumentasi beberapa ratus tahun sebelum kelahiran
Kristus, dan lengkap dikodifikasikan dalam konferensi para
Rabi Yahudi yang terjadi di Yamnia sekitar tahun 90 SM. Sedangkan Perjanjian Baru memiliki komposisi
1

sebanyak 27 kitab, terkanonkan secara lengkap dan ekumenis terutama dalam Konsili Kartago tahun 397.
Bagian pertama Alkitab, yang disebut dengan nama Perjanjian Lama, identik dengan kanon Alkitab
Ibrani, tetapi berdasarkan urutan dan pemilahannya berbeda sehingga memiliki judul dan jumlah yang
berbeda. Susunan urutan Kitab Suci versi Ibrani berakhir dengan Kitab Tawarikh, sedangkan Perjanjian
Lama berakhir dengan Kitab Maleakhi. Menurut tradisi Ibrani (Yahudi), Kitab Suci ini disebut sebagai
TaNaKh (‫)תנך‬, suatu akronim yang membagi Kitab Suci ini dalam tiga kelompok kitab-kitab, yaitu kelompok
kitab-kitab Taurat, atau Torah, kelompok kitab-kitab para Nabi atau Nebiim (Nevi'im = ‫ )נְבִיאִים‬dan
kelompok kitab-kitab yang suci atau Ketubiim (Ketuvim = ‫ = כְתּובִים‬Tulisan). Kitab-kitab ini terdokumentasi
secara bertahap sepanyang kurang lebih seribu tahun. Secara umum isinya dapat dibagi dalam kategori
yang bersifat hukum, sejarah, puisi dan nubuat, dengan 97% isinya ditulis dalam Bahasa Ibrani dan sisanya
dalam Bahasa Aram.2
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Kitab-kitab dari Perjanjian Lama inilah yang diterima oleh
gereja pada saat kelahirannya sebagai Kitab Sucinya, digunakan baik oleh
Kristus sendiri dan oleh para rasul, misalnya dalam Yoh.5:39; 10;35;
Kis.8:32; Gal.3:8; 2Tim.5:15, kecuali di 2Pet.3:16. Sebab selama sekitar 20
tahun setelah kenaikan Kristus, bagian-bagian Perjanjian Baru yang ada
hanya merupakan cuplikan yang berisi kisah-kisah tentang kehidupan dan
pengajaran Kristus.3 Baru kemudian kitab-kitab Perjanjian Baru
diinspirasikan melalui para Penulis Perjanjian Baru, sejumlah 27 kitab.
Daftar kitab-kitab Perjanjian Lama berdasarkan Teks Masyoret
atau Tenakh itu sedikit berbeda dengan daftar kitab-kitab dalam Alkitab
Kristen, kendatipun sama sekali tidak berbeda dalam hal isinya. Tetapi
berdasarkan daftar Kitab Suci Katolik, sudah terjadi perbedaan mencolok,
baik dalam jumlah, urutan dan isinya. Berikut daftar kitab-kitab menurut
Teks Masyoret (Tanakh), Alkitab Kristen, dan Alkitab Kristen, yang dikutip
dari berbagai sumber.

1Yamnia atau Yabneh (Yavneh) adalah sebuah kota di sebelah selatan Yope, tempat berkumpul guru-guru
Yahudi setelah tahun 70 Masehi, menggantikan Sanhedrin namun tanpa sistem pemerintahan resmi. Pertemuan
Yamnia merupakan bagian penting dalam perkembangan Alkitab, khususnya dengan ditetapkannya kanon PL sekitar
tahun 90 M, ketika para rabi berkumpul untuk membicarakan kitab-kitab mana yang harus diterima dan dimasukkan
ke dalam kanon (seperti Yehezkiel dan Kidung Agung). Di tempat ini juga para rabi menentukan sikap terhadap
kehancuran Yerusalem dan Bait Allah, pembangunan kembali Yudaisme yang baru, serta mempersoalkan kedudukan
kitab-kitab seperti Yesus bin Sirakh. Ref.: W.R.F. Browning. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009, 482;
H.H. Rowley. Atlas Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 10; Darmawijaya. Seluk Beluk Kitab Suci. Yogyakarta: Kanisius,
2009, 301, James K. Aitken in Edward Kessler and NeilWenborn, ed. A Dictionary of Jewish–Christian Relations.
Cambridge University Press, 2005, 224.
2Kiwix. Entry word: Torah or Taurat.
3W.S. Lasor, D.A. Hubbard, F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK GM., 2005, 25.

Pdt. FatiaroZega |4
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

1. Daftar Urutan Tanakh

Torah (‫)ּתֹורָ ה‬ Nevi’im (‫)נביאים‬ Ketuvim (Tulisan atau kitab-kitab


suci [‫)]כְתּובִים‬
1. Bereshit (Kejadian) [‫]בראשית‬ Nabi-nabi Awal (Nevi'im Rishonim Kelompok I: Tiga Kitab Puisi (Sifrei
2. Shemot (Keluaran [‫)]שמות‬ [‫)]נביאים ראשונים‬ Emet)
3. Wayiqra (Imamat [‫)]ויקרא‬ 6. Yekhoshua (Yosua) [‫]יהושע‬ 14. Tehillim (Mazmur) [‫]תהלים‬
4. Bamidbar (Bilangan/ ‫במדבר‬ 7. Syofetim (Hakim-hakim) 15. Mishlei (Amsal) [‫]משלי‬
5. Devarim (Ulangan [‫)]דברים‬ [‫]שופטים‬ 16. Iyov (Ayub) [‫]איוב‬
8. Shemuel (1 dan 2 Samuel
menjadi satu) [‫]שמואל‬
9. Melakhim (1 dan 2 Raja-raja
menjadi satu) [‫]מלכים‬

Nabi-nabi Akhir (Nevi'im Kelompok II: Lima Gulungan


Aharonim [‫)]נביאים אחרונים‬ (Hamesh Megillot)
10. Yeshayahu (Yesaya) [‫]ישעיהו‬ 17. Shir Hashirim (Kidung Agung)
11. Yirmeyahu (Yeremia) [‫]ירמיהו‬ [‫]שיר השירים‬
12. Yekhezqel (Yehezkiel) [‫]יחזקאל‬ 18. Rut (Rut) [‫]רות‬
13. Trei Asar (Dua belas kitab 19. Eikhah (Ratapan) [‫]איכה‬
"Nabi-nabi kecil" [‫)]תרי עשר‬: 20. Qokheleth (Pengkhotbah
[‫)]קהלת‬
Hosea (Hoshea [‫)]הושע‬ 21. Esther (Ester [‫)]אסתר‬
Yoel atau Yo'el [‫]יואל‬
Amos [‫]עמוס‬
Obaja (Ovadyah [‫)]עבדיה‬
Yunus (Yonah [‫)]יונה‬ Kelompok III: Kitab-kitab Sejarah
Mikha (Mikhah [‫)]מיכה‬ Lainnya
Nahum (Nakhum [‫)]נחום‬
Habakuk (Khabaquq [‫)]חבקוק‬ 22. Daniel (Daniel) [‫]דניאל‬
Zefanya (Tsefania [‫]צפניה‬ 23. Ezra (Ezra dan Nehemia
Hagai (Khaggai [‫)]חגי‬ menjadi satu [‫)]עזרא‬
Zakharia atau Tsekharia [‫]זכריה‬ 24. Divrei ha-Yamim (1 dan 2
Maleakhi (Malaakhi [‫)]מלאכי‬ Tawarikh menjadi satu [ ‫דברי‬
‫)]הימים‬

2. Daftar urutan Kitab-kitab dalam Tanakh, Alkitab Kristen dan Alkitab Katolik

Tenakh/Tanakh Katolik Roma/Ortodoks Kristen


Thorah Pentateuch Pentateukhos
1. Beresyith 1. Kejadian 1. Kejadian
2. Shemoth 2. Keluaran 2. Keluaran
3. Wayiqra 3. Imamat 3. Imamat
4. Bemidbar 4. Bilangan 4. Bilangan
5. Debarim 5. Ulangan 5. Ulangan

Nebi’im (Nabi-nabi) Sejarah sejarah


6. Yosua 6. Yosua 6. Yosua
7. Shofetim 7. Shofetim 7. Hakim-hakim
8. Samuel 8. Rut 8. Rut
9. Melakim 9-10. I, II Samuel 9-10. I, II Samuel
10. Yesaya 11-12. I, II Raja2 11-12. I, II Raja-raja
11. Yeremia 13-14 I, II Tawarikh 13-14. I. II Tawarikh
12. Yehzkeil 15-16. Ezra dan Nehemia 15-16. Ezra dan Hehemia

Pdt. FatiaroZega |5
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

13. Tere Asar (Dua Belas) 17. Tobit* 17. Ester


Hosea 18. Yudit*
Yoel 19. Ester & tambahan2
Amos pada kitab Ester*
Obaja
Yunus Syair dan Kebijaksanaan Syair dan Hikmat
Mikha 20. Ayub 18. Ayub
Nahum 21. Mazmur 19. Mazmur
Habakuk 22. Amsal 20. Amsal
Zefanya 23. Pengkhotbah 21. Pengkhotbah
Hagai 24. Kidung Agung 22. Kidung Agung
Zakharia 25. Kebijaksanaan
Maleakhi Salomo*
26. Eklesiastikus
(Kebijaksanaan Yesus
bin Sirakh)*

Ketubim Nabi-nabi Nabi-nabi


14. 14. Tehilim 27. Yesaya 23. Yesaya
15. 15. Ayub 28. Yeremia 24. Yeremia
16. 16. Mishle 29. Ratapan 25. Ratapan
17. 17. Rut 30. Barukh, termasuk 26. Yehezkiel
18. Shir Hashirim (Kid. Agung) surat Yeremia+ 27. Danile
19. Kohelet 31. Yehezkiel 28. Hosea
20.20. Ekah 32. Daniel, termasuk 29. Yoel
21. Ester tambahan pada kitab 30. Amos
22.22. Daniel Daniel*, Susana*, 31. Obaja
23.23. Ezra – Nehemia Lagu Pujian Ketiga 32. Yunus
24. Dibre Hayamin (Tawarikh) Pemuda*, Dewa Bel 33. Mikha
dan Naga* 34. Nahum
33. Hosea 35. Habakuk
34. Yoel 36. Zefanya
35. Amos 37. Hagai
36. Obaja 38. Zakharia
37. Yunus 39. Maleakhi
38. Mikha
39. Nahum
40. Habakuk
41. Zefanya
42. Hagai
43. Zakharia
44. Maleakhi
45. I Makabe* Catatan:
46. II Makabe+ * Apokrifa dalam Kanon
Protestan
+ Hanya pada Roma Katolik

Elemen pertama dari koleksi kitab-kitab Perjanjian Lama itu adalah sekumpulan kitab ilahi yang
diawali oleh urutan kitab-kitab yang disebut sebagai Kelima Kitab Musa. Kelima kitab-kitab itu memiliki
banyak nama dan peristilahan, yang di dalam bahasa Indonesia dinamakan Kitab Kejadian, Kitab
Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan.

Pdt. FatiaroZega |6
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

A. Nama

Kesatuan Lima Kitab pertama ini bagaikan “Alkitab Mini” Perjanjian Lama. Formasi dan kesatuan
kelima buku pertama itu sejak dari awal sudah baku dan diakui sebagai “kitab-kitab Musa”, sekalipun teori
modern liberal memahami sebagai suatu himpunan tulisan yang disusun dari berbagai sumber dalam waktu
yang berbeda-beda. Pentateukh atau Hukum Musa atau dalam bahasa Ibrani Torah ini, menurut
Encylopaedia Yudaica,4 memiliki beberapa nama Ibrani dan nama Yunani yang sepadan.

1. Ha-Sefarim (The Books)

Gelar dan terminologi Ha-Sefarim merupakan nama paling awal dan populer dalam bahasa Ibrani,
misalnya digunakan dalam Daniel 9:2 (cf. 2Raj.22:10; Ul.17:18. Yes.30:8).

2. Ta Biblia (τἁ βιβλία)

Hasil transliterasi Ha-Sefarim ke bahasa Yunani memunculkan kata biblia. Sebutan ini paling awal
diketahui dipakai dalam Surat Aristeas (pertengahan abad ke-2 SM). Dalam bentuk tunggal dipakai kata
Bible (v. 316, ὲν τῇ βίβλε), yamg digunakan untuk Pentateuch. Sedangkan untuk menyebut keseluruhan
Alkitab, oleh Ben Sirakh, digunakan nama τῶν βιβλίων. Dalam ungkapan Hellenistic Jewish digunakan
nama τἁ βιβλία, yang kemudian masuk ke dalam bahasa-bahasa Eropa melalui bentuk kata Latin, dan
dalam bahasa Inggris dinamakan Bible.

3. Sifrei ha-Qodesh (Holy Books)

Istilah ini setara dengan kata Yunani τὴν ὶερἁν βίβλον (Kitab Suci). Sedangkan nama Kitve ha-Qodesh
(Holy Writings, dari akar kata Ibrani ‫[ כתב‬ktb]), setara dengan bahasa Yunani τἁ ἱερἁ γράμματα. Demikian
pula istilah Ha-Katuv (The Scripture), bentuk plural menjadi Ha-Ketuvim (The Scriptures) ekuivalen dengan
kata διἁ τῆς γραΦῆς (Yoh.2:22; Kis.8:32; 2Tim.3:16 et al.; αὶ γραφαί Mrk.12:24; 1Kor.15:34 et al.; τἁ
γράμματα, Yoh.5:47).

B. Identifikasi

Jelas hakikat torah adalah pengajaran. Hal itu tercermin dari etimologi kata torah yang berasal dari
kata Yarah (‫)ירה‬, yang dalam konjugasi kata kerja hifil, antara lain berarti to direct, teach, instruct 5
(menunjukkan, mengajarkan, melatih/memberi instruksi), seperti dipakai di Imamat 10:11, sehingga kata
torah dapat bermakna "ajaran" atau "instruksi", boleh ajaran dari ibu, ajaran dari ayah, atau ajaran dari
Tuhan.6 Terjemahan yang paling sering dipakai ialah "Hukum," yang sebenarnya mengandung makna yang
kurang tepat (contohnya Ul 4:44; Neh.8:1), karena kata bahasa Ibrani untuk "hukum" adalah din.
Kesalahan pengertian "Torah" sebagai "Hukum" dapat menjadi halangan untuk "memahami pemikiran
yang disarikan dengan istilah talmud torah (‫תלמוד תורה‬, "pelajaran Taurat").7
Kenyataan sejarah selanjutnya menunjukkan bahwa penggunaan istilah "torah" ini berkembang dalam
arti yang lebih luas, meliputi peraturan tertulis maupun lisan dan akhirnya meliputi seluruh ajaran agama
Yahudi, termasuk Mishnah, Talmud,8 Midrash dan lain-lain. Terlebih setelah zaman pembuangan ke Babel

4Sarna, Nahum M. et al. "Bible." Encyclopaedia Judaica. Ed. Michael Berenbaum and Fred Skolnik. Vol. 3.
2nd ed. Detroit: Macmillan Reference USA, 2007. pp 576–577.
5BibleWorks v.9.
6D.L. Baker.Kamus Singkat Ibrani Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 63, 2001.
7Kiwix. Ensiklopedi Bebas berbahasa Indonesia Wikipedia versi Offline.
8Mishnah (‫משנה‬, dari kata syana: belajar, pengulangan) adalah tulisan dari Hukum Lisan Taurat orang Yahudi

dari generasi ke generasi. Menurut keyakinan Yudaisme, "Musa menerima Taurat di Sinai dan menyerahkannya kepada
Yosua, Yosua kepada para tua-tua, dan para tua-tua kepada nabi-nabi. Lalu nabi-nabi menyerahkannya kepada pria-
Pdt. FatiaroZega |7
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

(seperti di Mal.3:22; Dan.9:11, 13; Ezr.3:2; 7:6; Neh.8:1; 2Taw.23:18; 30:16), dan era Perjanjian Baru.
Torah dapat diterjemahkan sebagai pengajaran, petunjuk, perintah, atau kebiasaan bahkan sistem
keyakinan. Torah bukan saja diartikan sebagai kelima Kitab Musa atau Torah Moseh (seperti dipakai dalam
Yos.8:31-32; 23:6; 1Raj.2:3; 2Raj.14:6; 23:25), tetapi mewakili sebutan untuk seluruh Kitab Suci Ibrani
(Alkitab PL).
Label Taurat untuk sebutan lain kelima Kitab Musa, dalam tradisi Ibrani digunakan judul "Kitab Musa"
(Ezr.6:18; Neh.13:1; 2Taw.35:12; 25:4; cf. 2Raj.14:6) dan "Kitab Taurat" (Neh.8:3), sebagai kependekan
dari lengkapnya "Kitab Taurat Allah" (Neh.8:8, 18; 10:29–30; cf. 9:3). Sedang bagi orang non-Ibrani, Kitab
Taurat dinamakan Pentateukh, dari kata pentateukhos (5 kotak), yang pertama kali digunakan oleh orang
Yahudi berbahasa Yunani di kota Alexandria, yang bermakna "lima kitab", atau "Lima Hukum" (nomos),
atau "Hukum Musa". Orang Islam menyebut Torah sebagai Tawrat, yaitu untuk menyebut wahyu yang
diberikan kepada nabi Musa.

C. Komposisi Taurat

Menurut Kiwix yang merujuk pada Philip Birnbaum, Encyclopedia of Jewish Concepts, Hebrew
Publishing Company, 1964, page 630, Kitab Taurat (‫ )ּתֹורָ ה‬merupakan lima kitab pertama Alkitab Ibrani
atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Dalam bahasa Yunani 5 kitab ini disebut Pentateukh (lima wadah
atau lima gulungan), merupakan bagian terpenting dari kanon atau Kitab Suci Yahudi.

1. Judul

Kelima kitab dalam Taurat diberi judul berdasarkan kata pertama dari setiap kitab, sehingga berbeda
dengan judul yang terdapat dalam salinan bahasa non-Ibrani.
a. Kitab Kejadian, bahasa Latin: Genesis, bahasa Ibrani: beresyit (‫)בראשית‬,
b. Kitab Keluaran, bahasa Latin: Exodus, bahasa Ibrani syemot (‫)שמות‬,
c. Kitab Imamat, bahasa Latin: Leviticus, bahasa Ibrani wayyikra (‫)ויקרא‬,
d. Kitab Bilangan, bahasa Latin: Numerii, bahasa Ibrani bemidbar (‫ )במדבר‬dan
e. Kitab Ulangan, bahasa Latin: Deuteronomium, bahasa Ibrani debarim (‫)דברים‬.

Nama-nama Latin kitab-kitab tersebut dialihaksarakan dari Septuaginta. Kelima kitab tidak disusun
secara terpisah dan berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari suatu kesatuan utuh. Boleh dikatakan
kitab Taurat merupakan satu karangan besar yang terdiri dari 5 jilid. Secara berkesinambungan memuat
peraturan-peraturan yang dipercayai ditulis atau disusun oleh Musa.

1. Jenis Hukum Taurat

Menurut literatur Rabinis Ortodoks, Musa menerima pewahyuan kitab Taurat sekitar tahun 1312 SM,
atau ada yang memberi penanggalan pada tahun 1280 SM. Sedangkan istilah Torah itu sendiri, dalam
pemahaman Yudaisme, selain menyatakan ke-5 kitab ini, juga mengacu kepada:

pria dari kumpulan banyak orang." (Avot 1:1) Mishnah diakui memuat keterangan yang diterima Musa di Gunung Sinai,
bagian dari Hukum Allah kepada Israel yang tidak tertulis. Karena itu disebut sebagai Tradisi Lisan. Kontributor Mishna
ialah orang-orang (belakangan disebut Sanhedrin) yang dianggap sebagai bagian dari sederetan sarjana berhikmat,
atau cendekiawan, yang secara lisan menyampaikan ajaran-ajaran tertentu dari generasi ke generasi, hingga akhirnya
ajaran ini dicatat di Mishnah.
Talmud (‫ )תלמוד‬adalah catatan tentang diskusi para rabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika,
kebiasaan dan sejarah. Talmud mempunyai 2 komponen: Mishnah, yaitu kumpulan Hukum Lisan yang ditulis, dan
Gemara, diskusi mengenai Mishnah dan tulisan-tulisan yang membahas topik-topik secara luas mengenai Tanakh.
Istilah Talmud dan Gemara seringkali digunakan bergantian. Gemara adalah dasar dari semua aturan dari hukum
rabinik dan banyak dikutip dalam literatur rabinik yang lain. Keseluruhan Talmud biasanya juga dirujuk sebagai
singkatan bahasa Ibrani untuk shishah sedarim, atau "enam tatanan" Mishnah.
Pdt. FatiaroZega |8
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

a. Torah Syebikhtav (‫תורה שבכתב‬, Torah yang ditulis), dan


b. Torah Syebe'al Peh (‫תורה שבעל פה‬, Torah yang diucapkan atau Torah Oral).

Orientasi "Torah Oral" adalah memberi interpretasi dan amplifikasi tradisional yang diturunkan dari
mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi, yang sekarang menjadi kumpulan Talmud (‫ )ּתַּ לְמּוד‬serta
Midrash (‫)מדרש‬, yaitu penjelasan dan penafsiran Torah.
Para Rabi Yahudi meyakini bahwa seluruh Taurat, baik yang tertulis maupun oral, diwahyukan kepada
Musa di atas gunung Sinai. Dalam mistik Yahudi di abad pertengahan dipercayai bahwa Taurat diciptakan
sebelum penciptaan dunia, dan digunakan sebagai rancangan ( blueprint) penciptaan di Kitab Kejadian.
Pada era modern ini, sejumlah pakar Alkitab menganggap kitab-kitab yang tertulis ini mulai disusun dalam
periode pembuangan ke Babel (sekitar tahun 600 SM) dan dilengkapi sebelum zaman Persia ( Yehud
Medinata) sekitar tahun 400 SM. Tetapi itu hanya anggpaan kaum liberal dan rasionalistik, yang tidak
pernah dapat membuktikannya dan tidak didasarkan pada iman yang benar.

D. Tema dan Isi Secara Umum

Hill dan Walton menjelaskan bahwa pembagian kelima kitab Pentateukh sebenarnya merupakan suatu
pembagian tambahan dari suatu keutuhan sastra yang dipersatukan. Berdasarkan rangkaian isi, dengan
mengutip D.J.A. Clines, Hill dan Walton menyatakan bahwa Pentateukh mempunyai dua bagian dasar,
yaitu Kejadian pasal 1 – 11 dan Kejadian pasal 12 – Ulangan 34. Bagian pertama mengetengahkan
“bagaimana hubungan antara Manusia dengan Allah dapat diperbaiki atau dipulihkan lagi setelah kejatuhan
dalam dosa”, bagian kedua memberikan jawaban melalui titik pusat pada kovenan Abraham.

Pdt. FatiaroZega |9
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

BAB I
PENGANTAR KITAB KEJADIAN

Nama Kitab Kejadian dalam bahasa Ibrani cukup disebut dengan kata Beresyit, yang secara harfiah
berarti “pada mulanya.” Istilah “pada mulanya tidaklah diartikan sebagai firman Allah yang pertama, sebab
Alkitab sendiri menyatakan bahwa Adam dan Hawa beserta orang-orang beriman pada masa sebelum dan
sesudah air bah telah menerima firman Allah, sekalipun tidak dicatat atau tidak didokumentasi dalam wujud
tulisan. Sehingga Kitab Kejadian merupakan rangkuman dari segala penyataan Allah sebelumnya dan
pengantar untuk penyataan-penyataan Allah sesudahnya.9

A. Pendahuluan

Kitab Kejadian mengisahkan penciptaan alam semesta, asal-usul umat manusia, pangkal dosa dan
penderitaan di dunia, serta bagaimana Allah berhubungan dengan manusia. Kitab ini dapat dibagi ke dalam
dua bagian yang penting, pertama, pasal 1-11, tentang penciptaan alam semesta, asal-usul manusia dan
penyebaran umat manusia. Kedua, pasal 12-50, mengisahkan asal-usul leluhur bangsa Israel mulai dari
Abraham, Ishak dan Yakub, lalu memberi perhatian khusus kepada salah seorang anak Yakub yang
bernama Yusuf dan peristiwa-peristiwa yang pada akhirnya menjadi latar belakang logis yang mengantar
masuk Yakub bersama anak-anaknya dan keluarga mereka masing-masing pindah ke Mesir.
Meskipun buku ini mengisahkan tentang orang-orang di zaman awal, namun yang mendapat tekanan
khusus ialah kisah tentang perbuatan-perbuatan Allah. Dimulai dengan penegasan bahwa Allah telah
menciptakan alam semesta, diakhiri dengan janji bahwa Allah akan tetap memperhatikan umat-Nya.
Subyek yang memegang peranan utama dalam seluruh alur cerita adalah Allah, Sang Sumber, Dia yang
menghakimi dan menghukum barangsiapa yang berbuat salah. Dia pula yang membimbing dan menolong
umat-Nya serta membentuk sejarah mereka. Kitab ini ditulis untuk mencatat kisah tentang iman suatu
bangsa dan juga untuk membantu agar iman itu tetap hidup.

1. Kepenulisan

Penulis : Sekalipun identitas penulis tidak disebutkan, namun gereja dan tradisi suci tanpa ragu dan
tidak perlu mempertanyakan lagi bahwa Musa adalah penulis Kitab ini.
Tanggal : 1445 — 1405 SM (tidak mutlak)
Tema : Permulaan

2. Pentingnya Kitab Kejadian

Isi Alkitab tidak akan berarti banyak tanpa Kitab Kejadian. Kitab ini menjawab pertanyaan-pertanyaan
"penting" seperti mengapa kita berada di sini dari mana kita datang. Kejaian berbicara tentang awal mula
dunia, manusia, masyarakat, keluarga, bangsa-bangsa, dosa dan keselamatan. Khususnya, Kejadian
bercerita tentang lahirnya bangsa Yahudi.

9 J. Sidlow Baxter, dit. Sastro Soedirdjo. Menggali Isi Alkitab. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, OMF,
2004, 23.
Pdt. FatiaroZega | 10
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Mengutip Baxter, Kitab Kejadian mempunyai tiga segi yang penting. 10


a. Merupakan ikhtisar dari wahyu Allah sebelum kisah Kitab Kejadian
b. Merupakan pendahuluan dari wahyu Allah sesudah Kitab Kejadian
c. Merupakan penjelasan terhadap wahyu Allah dalam seluruh Kitab Kejadian

3. Tujuan

Kitab Kejadian menyediakan suatu landasan hakiki bagi Pentateukh dan semua penyataan Alkitabiah
selanjutnya. Kejadian memelihara satu-satunya catatan yang dapat dipercaya mengenai awal alam
semesta, umat manusia, perkawinan, dosa, kota-kota, bahasa-bahasa, bangsa-bangsa, Israel dan sejarah
penebusan. Kejadian ditulis sesuai dengan tujuan Allah untuk memberikan umat perjanjian-Nya suatu
pemahaman mendasar tentang diri-Nya, ciptaan, umat manusia, kejatuhan, kematian, penghakiman,
perjanjian, dan janji penebusan melalui keturunan Abraham.

4. Gaya Penulisan Kitab Kejadian11


a. Kitab Kejadian mengajarkan kebenaran dengan menceritakan kisah-kisah, bukan dengan memberikan
pelajaran dalam bentuk yang lebih formal.
b. Kisah-kisah yang diceritakan bersifat sangat manusiawi. Tidak ada upaya untuk menutup-nutupi fakta,
bahkan pahlawan-pahlawan besar sekalipun digambarkan apa adanya.
c. Semua kisah diceritakan dengan penuh keagungan dan dengan gaya yang mengharukan. Dinilai dari
standar apa pun, disimpulkan bahwa Kitab Kejadian ditulis dengan cemerlang.

5. Nilai Kitab Kejadian12

Banyak orang yang menilai dengan standar ilmu modern dan kritik sejarah telah meremehkan nilai
Kitab Kejadian. Kendatipun demikian kebenaran Kitab Kejadian tetap dapat diyakini kebenarannya,
setidaknya berdasarkan dua alasan, yaitu:
a. Karena di antara semua argumentasi ilmiah atau sejarah yang mempertanyakan ketepatan Kitab
Kejadian yang tidak pernah memiliki data otentik, selalu terdapat lebih dari satu argumen dalam Kitab
ini yang mendukung kebenarannya.
b. Sebagian besar dari yang diperdebatkan bukan terutama mengenai kebenaran itu sendiri, melainkan
tentang cara-cara pendekatan modern terhadap kebenaran. Apa pun anggapan tentang kebenaran,
Kitab Kejadian tetap merupakan kebenaran. Di atas segalanya, Kitab Kejadian merupakan kebenaran
yang diungkapkan oleh Allah sendiri, mengenai diri-Nya, kita dan dunia tempat kita hidup.

6. Garis Besar

I. Asal Mula Sejarah Manusia (1:1-11:26)


A. Asal Mula Alam Semesta dan Kehidupan (1:1-2:25)
1. Ringkasan Seluruh Penciptaan (1:1-2:4)
2. Kisah Penciptaan Adam dan Hawa yang Lebih Lengkap (2:5-25)

10Baxter. Menggali Isi Alkitab 1, 24.


11John Balchin, dkk. Intisari Alkitab Perjanjian Lama. Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005, 12.
12Balchin, Loc.cit.

Pdt. FatiaroZega | 11
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

B. Asal Mula Dosa (3:1-24)


1. Pencobaan dan Kejatuhan (3:1-6)
2. Dampak-Dampak Kejatuhan (3:7-24)
C. Asal Mula Peradaban (4:1-5:32)
1. Kain: Kebudayaan Kafir (4:1-24)
2. Set: Kaum Sisa yang Benar (4:25-26)
3. Sejarah Silsilah Bapa Leluhur Pra-Air Bah (5:1-32)
D. Air Bah: Hukuman Allah Atas Peradaban Purba (6:1-8:19)
1. Kebejatan Universal (6:1-8, 11-12)
2. Nuh: Persiapan untuk Menyelamatkan Kaum Sisa yang Benar (6:9-22)
3. Beberapa Pengarahan Terakhir dan Air Bah (7:1-8:19)
E. Permulaan Baru bagi Manusia (8:20-11:26)
1. Keturunan Nuh (8:20-10:32; dan khususnya Sem, 11:10-26)
2. Menara Babel (11:1-9)
3. Hubungan Keluarga Antara Sem dengan Abraham (11:10-26)
II. Asal Mula Bangsa Ibrani (11:27-50:26)
A. Abraham (11:27-25:18)
B. Ishak (25:19-28:9)
C. Yakub (28:10-37:2)
D. Yusuf (37:2-50:26)

B. Latar Belakang

Kitab Kejadian bukan hanya cocok sebagai kitab PL yang pertama, sebagai pendahuluan yang hakiki
dari seluruh Alkitab, tetapi juga merupakan landasan bagi semua pengilhaman selanjutnya. Ibarat akar
dari pohon sejarah penyataan Allah yang puncaknya memucuk pada Kitab Wahyu. Judul dalam bahasa
Indonesia adalah Kitab Kejadian, datang dari kata pertama ayat pertama bahasa Ibrani, bereshith (‫)ברשית‬,
ditransliterasikan ke dalam bahasa Yunani menjadi Genesis yang berarti asal mula, sumber, penciptaan
atau awal dari sesuatu (εν αρχη), dalam bahasa Latin dan Inggris dialihbahasakan menjadi kata genesis.
Kitab Kejadian tidak menyebutkan identitas penulis, akan tetapi kesaksian seluruh Alkitab menunjuk
kepada Musa sebagai penulisnya, bahkan seluruh kitab Taurat atau Pentateukh, perhatikan pernyataan,
misalnya, dalam 1Raj 2:3; 2Raj 14:6; Ezr 6:18; Neh 13:1; Dan 9:11-13; Mal 4:4; Mrk 12:26; Luk 16:29,31;
Yoh 7:19-23; Kis 26:22; 1Kor 9:9; 2Kor 3:15. Diakui secara umuam dan secara tradisional, oleh para
penulis Yahudi kuno dan para Bapa Gereja, bahwa Musa menjadi penulis atau penyusun Kitab Kejadian.
Karena seluruh sejarah dalam Kejadian terjadi sebelum kehidupan Musa, maka menurut para ahli
Alkitab modern, perannya dalam Kitab Kejadian adalah sebagai penyusun. Di bawah pengilhaman Roh
Kudus, semua wahyu lisan dan tulisan yang ada sejak Adam hingga wafatnya Yusuf ditulis ulang oleh
Musa. Petunjuk yang dijadikan alasan bahwa Musa memakai catatan-catatan sejarah ketika menulis Kitab
Kejadian ialah pemakaian frasa elleh toledoth yang muncul sebanyak 11 kali, mulai di Kej 2:4 yang
diterjemahkan "Demikianlah riwayat" dan 10 kali lainnya di 5:1; 6:9; 10:1; 11:10,27; 25:12,19; 36:1,9;
37:2, dengan frasa "Inilah keturunan”, yang berhubungan dengan Adam, Nuh, Sem, dan sebagainya,
sehingga ungkapan itu dapat diterjemahkan "inilah sejarah oleh."
Menurut ahli kritik, “Adanya formula ‘toledot’ ini menunjukkan bahwa tulisan-tulisan dalam kitab
Kejadian merupakan gabungan dari berbagai prasasti yang ditulis dalam sejumlah lempengan tablet.

Pdt. FatiaroZega | 12
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Misalnya di Kejadian 5:1 dalam bahasa aslinya ditulis "‫( "זה ספר תולדת אדם‬zeh se·fer tow·l·dot a·dam,
“inilah kitab riwayat Adam”). Kata “kitab” ini dalam bahasa Ibrani adalah "‫( "ספר‬sefer), yang berarti
"catatan tertulis", atau diterjemahkan oleh F. Delitzsch sebagai "akhir tulisan".13 Namun, sekalipun banyak
ahli menduga Kitab Kejadian merupakan hasil penyusunan catatan dan tradisi lisan, tetapi, menurut analisis
saksama di bidang lingustik dan sastra oleh A. Heidel, A.R. Millard dan D. Damrosch, disimpulkan bahwa
tidak ada cukup bukti untuk menandaskan bahwa penulis Kejadian bergantung dari sastra lain, walaupun
memiliki banyak kesamaan dengan tradisi Mesopotamia.14
Kitab Kejadian mencatat kisah-kisah dengan ketepatan sejarah yang tidak terbantahkan akurasinya,
terutama dipastikan dalam PB oleh Tuhan Yesus sendiri (Mat 19:4-6; 24:37-39; Luk 11:51; Luk 17:26-32;
Yoh 7:21-23; 8:56-58, dan oleh para rasul (Rm 4:1-25; 1Kor 15:21-22,45-47; 2Kor 11:3; Gal 3:8; 4:22-
24,28; 1Tim 2:13-14; Ibr 11:4-22; 2Pet 3:4-6; Yud 1:7,11). Fakta sejarah Kitab Kejadian diperkuat juga
oleh berbagai penemuan purbakala, hasil arkeologi zaman modern. Musa dipersiapkan secara luar biasa
melalui pendidikan (Kis 7:22) dan oleh Allah untuk menulis kitab pertama yang unik dalam Alkitab ini. 15

C. Ciri Khas dan Pesan Kitab Kejadian

1. Tujuh Ciri-ciri Kas Kitab Kejadian


a. Merupakan kitab pertama yang ditulis (mungkin kecuali Ayub), dan mencatat permulaan sejarah
manusia, dosa, bangsa Ibrani, dan penebusan.
b. Sejarah dalam Kitab Kejadian meliputi jangka waktu yang lebih lama dari seluruh sisa Alkitab, dimulai
dengan pasangan manusia pertama, berkembang hingga sejarah dunia pra-air bah, dan kemudian
menyempit lagi pada sejarah bangsa Ibrani sebagai arus penebusan yang dirunut sepanyang sisa PL.
c. Menyatakan bahwa alam semesta dan hidup di bumi ini adalah jelas karya Allah dan bukan suatu
proses lepas dari alam. Lima puluh kali dalam pasal 1-2 (Kej 1:1-2:25) Allah menjadi subyek dari kata
kerja yang menunjukkan apa yang dilakukan-Nya selaku Pencipta.
d. Mengisahkan berbagai peristiwa perdana, yakni pernikahan pertama, keluarga pertama, kelahiran
pertama, dosa pertama, pembunuhan pertama, tokoh poligami pertama, alat-alat musik pertama, janji
penebusan pertama, dan sebagainya.
e. Perjanjian Allah dengan Abraham, yang dimulai dengan panggilannya (Kej 12:1-3), diresmikan dalam
pasal 15 (Kej 15:1-21) dan disahkan dalam pasal 17 (Kej 17:1-27), merupakan inti dari seluruh Alkitab.
f. Hanya Kitab Kejadian yang menerangkan asal mula kedua belas suku Israel.
g. Menyatakan bagaimana keturunan Abraham akhirnya tinggal di Mesir (selama 430 tahun) dan
demikian menyiapkan untuk keluaran, peristiwa penebusan yang utama dalam PL. 16

2. Pesan

Pengajaran dari Kitab Kejadian tidak selalu mudah diringkas, namun berikut ini diberikan sekadar
beberapa contoh.
a. Fakta yang diajarkan oleh Kitab Kejadian mengenai Allah
1) Dia kekal dan hidup, Kej 1:1.

13W. S. LaSor, D. A. Hubbard, F. W. Bush, 111-112, dan https://id.wikipedia.org/wiki/Toledot


14Andrew E. Hill dan Hohn H. Walton, Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2004, 145
15SABDA (OLB versi Indoensia) 4.0: Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan.
16Penuntun Hidup Berkelimpahaan. Ciri Khas Kitab Kejadian, dalam SABDA/OLB.

Pdt. FatiaroZega | 13
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

2) Dia pencipta dan Pemberi hidup, Kej 1:1-2:9.


3) Dia adalah pribadi dan rindu bersekutu dengan manusia, Kej 1:26-2:25; 3:8; 15:1-16
4) Dia kudus dan akan menghakimi orang berdosa, Kej 3:8-24; 6:5-8; 11:1-9; 18:16-19:29.
5) Dia penuh belas kasihan, dalam penghakiman sekalipun, Kej 3:21; 4:15; 6:8; 18:32.
6) Dia sabar menangani pengikut-pengikut-Nya, seperti dalam kisah Abraham dan Yakub.
7) Dia berdaulat atas segala kuasa, Kej 18:14; 26:12-16; 50:20.

b. Fakta-fakta Mengenai Manusia Sebagai Keturunan Adam


1) Dilahirkan dalam gambar Allah, dan karenanya bernilai serta mempunyai kemampuan kreatif, Kej
1:27-30.
2) Cenderung mengikuti kehendak jalannya sendiri yang berdosa, 3:1-7.
3) Dosa sudah tertanam dalam tatanan hidupnya, seperti ditunjukkan oleh Abraham, Kej 20:1-18.
4) Dia perlu bersekutu dengan penciptanya, seperti diajarkan melalui kehidupan Abraham.
5) Dia bisa diubahkan oleh Allah, seperti ditunjukkan melalui kehidupan Yakub.
6) Dia berada di bawah kuasa pemeliharaan Allah, seperti ditunjukkan melalui kehidupan Yusuf.

c. Fakta-fakta yang diajarkan oleh Kitab Kejadian mengenai masyarakat


1) Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, bukan sebagai pribadi yang menyendiri, Kej 2:1-18.
2) Banyak terdapat contoh mengenai masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan bersama.
3) Kesatuan dasar dari struktur masyarakat ialah perkawinan, Kej 2:24.
4) Undang-undang pemerintah juga diperlukan untuk membantu manusia hidup dalam dunia yang
penuh dosa ini.

D. Survai Ringkas

Isi Kitab Kejadian sekalipun bukan tentang ilmu pengetahuan, tetapi para ilmuwan modern telah
membuktikan kebenaran-kebenaran yang diutarakannya. Sekalipun bukan buku biografi, tetapi banyak hal
mengenai kehidupan laki-laki dan perempuan di zaman yang sangat kuno diungkapkannya. Kendati bukan
kitab sejarah, namun narasi paparannya menempuh jalan sejarah. Kitab Kejadian adalah sebuah kitab
teologi, kendatipun teologi itu sendiri tidak diuraikan secara sistematis. 17 Seluruh isinya dipengaruhi oleh
satu gagasan bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu. Melalui Kitab Kejadian iman umat Tuhan memiliki
dasar yang pasti dan teguh. Berdasarkan isinya Kitab Kejadian terbagi atas dua bagian utama.

1. Pasal (1:1-11:32)

Bagian ini memberi suatu pandangan luas mengenai permulaan manusia, dari Adam hingga
pemanggilan Abraham sebagai pembatas. Bagian ini berpusat pada lima peristiwa yang sangat penting.

a. Penciptaan (1:1 – 2:3)

Kisah penciptaan merupakan sebuah komposisi sastra yang tersusun sangat baik, diperkaya dengan
formula-formula frasa seperti “jadilah demikian” dan “Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” Menampil-
kan Allah sebagai Oknum Pencipta segala sesuatu “tanpa bahan dasar” (creatio ex nihillo). Ketika semula

17Merujuk Hill dan Walton, 141.


Pdt. FatiaroZega | 14
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

itu “belum berbentuk dan kosong,” Dia kemudian membentuk dan memenuhinya. Tiga hari pertama
digunakan untuk pekerjaan pembentukan, dan tiga hari berikutnya memenuhi apa yang sudah dibentuk
itu. Fokus karya ini ialah agar segala sesuatu yang telah dibentuk dan dipenuhinya itu cocok dan ideal
untuk didiami oleh manusia.18 Penciptaan Allah meliputi alam semesta, termasuk Adam dan Hawa yang
ditempatkan-Nya di Taman Eden. Manusia jelas ditempat pada pusat seluruh kegiatan penciptaan Allah,
mahkota ciptaan yang terjalin dalam hubungan yang sangat kuat melalui ungakapan sebagai “gambar dan
rupa” Allah berdasarkan kata Tselem dan Demuth, cf. 1:26; 5:3 (‫מּותנּו‬
ֵ֑ ‫כִּ ְּד‬ ‫)בְּ צַ לְּ ֵ֖מנּו‬.

b. Kejatuhan dalam Dosa (2:4 – 3:24)

Kisah Kitab Kejadian selanjutnya berfokus kepada umat manusia secara universal. Bagian ini diawali
dengan manusia yang semula memiliki status dan fungsi yang mulia, lalu masuk ke dalam situasi dan
kondisi yang berubah drastis akibat ketidaktaatan. Ketidaktaatan pertama yang dilakukan oleh Adam dan
Hawa ini telah menyebabkan mereka terusir dari Taman Eden, terpisah dari Allah dan berakhir kematian.
Pelanggaran pertama telah memasukkan kutukan dosa penyebab kematian ke dalam sejarah manusia.

c. Peristiwa Kain dan Habel (4:1 – 5:32).

Perubahan status manusia yang berdosa itu berdampak universal. Peristiwa Kain membunuh Habel,
saudaranya, menunjukkan bahwa tatanan yang baru telah tertanam dalam diri manusia. Kisah ini adalah
gambaran tragedi yang menggerakkan dua arus utama dalam sejarah, yaitu antara peradaban humanistik
dan kaum sisa yang tertebus.

d. Air bah (6:1 – 10:32)

Dunia purbakala telah sedemikian jahat pada angkatan Nuh sehingga Allah harus memusnahkannya
dengan banjir universal, hanya menyelamatkan Nuh dan keluarganya yang hidup benar sebagai sisa.
Peristiwa air bah bukan saja menunjukkan hukuman Allah atas dosa, tetapi juga menunjukkan kasih
karunia-Nya. Nuh dan keluarganya diselamatkan untuk mengadakan suatu permulaan yang baru.

e. Menara Babel (11:1 – 32)

Paska air bah, berkat diperbarui, tetapi kemerosotan watak manusia terjadi dengan cepat. Watak
yang sudah terwarisi dosa itu telah membahayakan kehidupan anak-anak Nuh yang rentan dengan
kejatuhan. Karenanya membutuhkan kasih karunia Allah. Motif kejatuhan pertama adalah ketika
berkomplot memberontak terhadap Allah dengan keinginan untuk menjadi seperti Allah atau hendak
menjadikan Allah seperti mereka. Akibatnya, dunia pasca-airbah yang bersatu dalam penyembahan berhala
dan pemberontakan, diceraiberaikan Allah secara geografis dan etnis. Tuhan mengacaukan bahasa dan
kebudayaan mereka, dan menyebarkan umat manusia ke seluruh penjuru dunia. Ini tidak hanya membatasi
kemampuan manusia untuk berkreasi dengan kekompakan, tetapi juga menyiapkan suasana untuk
perubahan pola karya Allah. Bila sebelumnya Allah merancang kasih karunia-Nya kepada satu keluarga,
selanjutnya Dia menyatakan diri kepada manusia melalui satu pribadi.

18A E.. Hill dan J. H. Walton, 150.


Pdt. FatiaroZega | 15
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

2. Pasal 12:1 – 50:26

Pasal 12 – 50 mencatat permulaan umat Ibrani dan memusatkan perhatian kepada kesinambungan
tujuan penebusan Allah melalui empat bapa leluhur utama, yaitu Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf.
Panggilan Allah kepada Abraham (pasal 12:1-20) dan perlakuan terhadap Abraham dan keturunannya
dalam kaitan dengan perjanjian-Nya merupakan awal yang sangat penting dari pelaksanaan maksud Allah
tentang seorang Penebus dan penebusan dalam sejarah. Kitab Kejadian berakhir dengan kematian Yusuf
dan suasana perbudakan yang akan datang di Mesir.
Pendekatan utama narasi sepanyang 38 pasal ini adalah memperkenalkan berbagai unsur yang
membahayakan kovenan atau janji-janji Allah. Ketika setiap penghalang perwujudan kovenan diatasi, maka
diperkenalkan arah penggenapan kovenan yang baru. Berbagai halangan itu ditampilkan dalam bentuk
pewaris pengganti dan berbagai situasi yang mengancam tokoh-tokoh utama.

E. Analisis Singkat Keseluruhan Kitab

Kitab Kejadian adalah kitab pertama dan teristimewa dalam memahami seluruh pewahyuan Allah.
Wujud penginspirasian ilahi tentang penciptaan langsung ( direct creation), dosa dan ketidaktaatan,
pemulihan melalui penumpahan darah dan benih perjanjian yang klimaksnya menunjuk kepada Kristus.
Kitab ini juga menyampaikan inpirasi tentang apa, mengapa dan bagaimana iman, baik sebelum maupun
sesudah air bah. Memulai kisahnya dengan kehidupan (1:20-28) dan diakhiri dengan peti mati (50:26).
Kitab ini terdiri dari 50 pasal, dan 1533 ayat. Secara eksplisit terbagi menjadi dua bagian narasi, yaitu
dari pasal 1–11, dan 12–50. Kedua bagian itu dipisahkan dengan jelas oleh pemanggilan Allah kepada
Abraham. Setiap bagian tersusun menurut pola 4 rangkap.19 Bagian pertama mencakup 4 peristiwa
penting, yaitu penciptaan, kejatuhan manusia, banjir besar dan peristiwa Babel. Bagian kedua,
memunculkan 4 tokoh terkemuka, yaitu Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf, dan seluruh jalinan kisah
berhubungan dengan ke-4 tokoh itu.20
Menurut LaSor dan kawan-kawan, penulis Kitab Kejadian menggunakan tradisi sastra simbolis untuk
melukiskan kejadian-kejadian zaman purba yang unik, dan yang tidak memiliki kesejajaran dengan
pengalaman manusia yang terbatas oleh waktu. 21 Karena itu perlu ditulis dengan bahasa lambang-
lambang. Bahasa lambang ini secara positif, diakui oleh Baxter, terukir dalam PL cukup banyak jumlahnya,
di antaranya ada yang berulangkali dikutip oleh PB, misalnya tentang Adam, air bah dan sebagainya. Nilai
lambang ini merupakan bukti kuat tentang pengilhman Alkitab oleh Allah. Lambang bukan saja
memamerkan kerampungan karya ilahi, tetapi juga semacam nubuat yang amat ajaib dan indah, memberi
lukisan hidup yang tidak mungkin diperoleh kecuali melalui lukisan saja.22 Untuk sedikit lebih dalam, berikut
ini kembali menganalisis secara ringkas dua bagian itu.

1. Narasi Kejadian Pasal 1 – 11

Kejadian pasal 1–11 bukanlah laporan sejarah dalam pengertian modern, yaitu berupa laporan
obyektif oleh saksi mata, sekalipun kisah-kisahnya ini bukanlah mitos. Fakta-fakta yang digambarkan Kitab

19Utamanya diambil dari: Baxter, 27-28.


20Kitab Kejadian bukan hanya memunculkan 4 tokoh penting pemeran sejarah, tetapi juga ada sebanyak 7
tokoh lain, mulai dari Adam, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf.
21W. S. LaSor, Dkk, 118.
22Lihat bahan ini lebih jauh dalam Baxter, 51, 53 dan seterusnya.

Pdt. FatiaroZega | 16
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kejadian bukan untuk maksud sejarah, melainkan lebih bersifat teologis, sehingga tak perlu mengharapkan
suatu kisah yang tersusun kronologis dan obyektif murni. Sekalipun kisah-kisahnya umumnya digambarkan
dalam jenis sastra simbolis, ini tidak berarti bahwa Kej 1-11 menyampaikan sejarah mitos, dan adalah
keliru bila menyimpulkan kebenaran yang dipaparkan tidak mempunyai dasar yang obyektif. 23
Pasal 1 sampai 11 jelas menyampaikan kebenaran mendasar, bahwa pencipta segala sesuatu adalah
Allah. Dia secara langsung campur tangan dalam penciptaan manusia pertama, kesatuan umat manusia
(membentuk Hawa sebagi pasangan Adam), keadaan dunia dan keadaan manusia. Allah juga yang
mengizinkan dunia dan manusia yang semula diciptakan “sungguh amat baik” itu berakhir rusak dengan
masuknya dosa melalui ketidak-taatan pasangan manusia pertama, meluas dan merajalela sampai infeksi
dosa itu harus berhadapan dengan pehukuman yang harus dilaksanakan Allah sebagai konsekuensinya.
Semua kisah ini adalah fakta-fakta yang benar dan nyata.
Ada empat peristiwa besar yang memberi kesan mendalam tentang kedaulatan Allah. Pertama, dalam
kedaulatan Allah menjadikan alam semesta. Kedua, ujian Eden, kedaulatan Allah berkenaan dengan moral
dalam menguji ketaatan manusia. Peristiwa ketiga, terjadinya air bah, yang menunjukkan kedaulatan Allah
dalam memberikan pembalasan atas penyelewengan dan kesewenangan manusia. Peristiwa keempat,
kewenangan Allah dalam penyebaran manusia yang membangun budaya manusiawi, dampak krisis Babel.
Dalam keempat peristiwa besar itu, kedaulatan Sang Khalik terlihat dalam prioritas-Nya yang kekal, wibawa
kesucian-Nya, kuasa keadilan-Nya, dan keunggulan pemerintahan-Nya.24

2. Narasi Kejadian Pasal 12–50

Narasi pasal 12–50 ini berhubungan dengan peran para leluhur Israel. Keempat tokoh yang
dideskripsikan berperan mewujudkan kedaulatan Allah dalam restorasi manusia, termasuk dengan
melindungi dan memelihara umat-Nya. Restorasi Allah itu berhadapan langsung dengan fakta kemerosotan
manusia (baik fisik, psikis maupun etis) yang mulai terlihat secara individual (dari Adam), dalam keluarga
(Kain dalam kasus poligami), dalam bangsa bahkan dalam seluruh umat manusia (dari kisah Babel). Karena
itu, program restorasi Allah, di bagian kedua kitab ini, dimulai secara individual. Dimulai dari pemilihan
Abraham, pemanggilannya dan pembimbingannya. Pola ini selalu muncul dalam pribadi tokoh-tokoh besar
di dalam Kitab Kejadian, ditambah dengan perjanjian-perjanjian kekal Allah yang bukan hanya untuk diri
tokoh yang bersangkutan saja, tetapi juga atas seluruh “keturunannya”.
Menurut pandangan para ahli, seperti Hill dan Walton, serta beberapa ahli lainnya, bagian kedua Kitab
ini harus dilihat dengan latar belakang periode-periode arkeologi yang ditandakan sebagai zaman Perunggu
Tengah awal dan akhir sekitar tahun 2000–1750 SM. Selama periode-periode ini ada kecenderungan umum
dalam struktur sosial di Palestina yang bersifat semi nomaden25 dan bersifat urban, dengan kota-kota
berkubu. Deskripsi Alkitab tentang negeri yang jarang penduduknya yang dikunjungi Abraham dalam
pengembaraannya, didukung oleh analisis arkeologis.

23Lihat LaSor, Hubbard dan Bush, 118-119.


24Baxter, 28.
25Terdapat tiga macam kehidupan nomaden, yaitu sebagai pemburu-peramu (hunter-gatherers),

penggembala (pastoral nomads), dan pengelana (peripatetic nomads). Berburu-meramu adalah metode bertahan
hidup yang paling lama bertahan dalam sejarah manusia, dan para pelakunya berpindah mengikuti musim tumbuhan
liar dan hewan buruan. Para penggembala memelihara ternak dan berpindah ke tempat lain bersama piaraannya, agar
tidak membuat suatu ladang penggembalaan habis dan tidak bisa diperbaiki lagi. Sedangkan urban adalah kawasan
perkotaan, yaitu wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan fungsi sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Pdt. FatiaroZega | 17
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kendatipun masih banyak para sarjana Alkitab yang menentang historisitas para patriarch, baik jenis
sastra, peristiwa-peristiwa yang diceritakan maupun latar belakang geografis dan budayanya, namun tidak
ada bukti yang meragukan bahwa semua kisah Alkitab itu realistis dan benar. Hanya beberapa praduga
yang menyingkirkan keterlibatan Allah dengan umat manusia sajalah yang bertahan dengan pendapat
bahwa kisah-kisah Kejadian hanya sekadar legenda yang sengaja dirancang untuk menjelaskan asal-usul
umat Israel.26

F. Tema-tema Teologis Utama

1. Pemilihan dan Perjanjian Allah

Habel, Nuh, Abraham, Yakub dan Yusuf semuanya dipanggil Allah dan dipilih untuk ditempatkan dalam
sejarah umat Allah. Menurut Hill dan Walton, Tuhan tidak memilih Abraham dan keluarganya karena
mereka lebih benar, lebih setia, lebih saleh atau lebih banyak daripada keluarga lainnya. Dia memilih
mereka sebagai suatu tindakan kasih karunia (‫)חן‬. Lagi pula, kovenan Allah tidak dapat disahkan sebelum
Abraham meninggalkan sanak keluarganya, dan tidak ada persyaratan yang jelas dikenakan pada
perjanjian itu. Tentu saja, berbagai manfaat dari kovenan tersebut bisa tidak dinikmati selama beberapa
waktu, tetapi pembatalan kovenan tidak pernah disebutkan. Keluarga Abraham, dalam keadaan baik atau
tidak, tetap merupakan umat pilihan Allah.
Perjanjian atau kovenan itu merupakan pusat dri teologi umat Israel, bahkan menjadi landasan
terhadap perjanjian-perjanjian setelahnya. Sedangkan teologi Israel berbicara mengenai tujuan Allah untuk
memberkati mereka dan menghormati mereka sebagai saluran dari penyataan Allah.

2. Keselamatan

Setelah manusia berdosa, Allah menyatakan dengan jelas bahwa Dia akan menye-lamatkannya.
Pernyataan di 3:15; 4:4; 22:8 menunjuk kepada karya Kristus di kemudian hari. Oleh karena itu, bila
berbicara mengenai gereja sebagai umat Allah, kita mengacu kepada orang-orang yang sudah menerima
keselamatan oleh iman, teristimewa iman kepada Yesus Kristus, sehingga gereja dapat disebut sebagai
umat Allah dalam pengertian soteriologis, yaitu orang orang yang diselamatkan.
Adalah tidak diragukan lagi, banyak orang Israel dari PL dapat disebut sebagai umat Allah secara
soteriologis oleh sebab iman mereka kepada Yahweh. Tetapi pemilihan mereka oleh Allah dalam Perjanjian
Ilahi yang diadakan dengan Abraham dan keturunannya sebagai sarana pewahyuan. Setiap orang Israel
PL disebut umat Allah karena iman dan firman yang diberikan kepada mereka (Taurat). Sedangkan
tindakan Allah menyatakan diri-Nya kepada dunia adalah melalui Israel, yakni melalui hukum yang
diberikan kepada mereka, melalui sejarah mereka, melalui penulisan Alkitab, dan di atas segalanya, melalui
kelahiran, kehidupan, kamatian dan kebangkitan Yesus Kristus. Allah menyatakan diri-Nya melalui Israel.

3. Monoteisme

Monoteisme adalah terminologi yang berasal dari kata Yunani monon yang berarti tunggal dan Theos
yang berarti Tuhan, yakni kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu dan berkuasa penuh atas segala sesuatu.
Monoteisme Kitab Kejadian bahkan dalam PL terlihat lebih bersifat monoteisme praktis, hanya menyembah

26Hill dan Walton, 146.


Pdt. FatiaroZega | 18
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Satu Allah, bukan monoteisme filosofis (hanya ada satu Allah), seperti dalam Yos 24:2, 14. Khususnya
monoteisme Abraham, monoteisme ini mempraktikkan menyembah El, yang menyatakan diri-Nya kepada
Abraham melalui beberapa gelar, khususnya El Shaddai, walaupun akhirnya gelar Yahweh yang dimengerti
sebagai nama utama Allah perjanjian Israel.27 Monoteisme Kitab Kejadian ini menentang beragam praktik
politeisme, bukan monoteisme filosoifs (hanya ada satu Allah).

4. Dosa

Salah satu tema penting dalam Alkitab adalah masuknya dosa ke dalam dunia dan dampaknya pada
sejarah manusia. Pada waktu Adam dan Hawa diciptakan, keabadian menyertai mereka, apalagi ada pohoh
kehidupan di Taman yang tersedia untuk digunakan. Ketika mereka menyerah pada godaan, mereka diusir
dari Taman dan dijauhkan dari pohon kehidupan itu. Begitu sederhana yang dilakukan, “ambil … dan
makan”, tetapi begitu drastis akibatnya. Sejak itu manusia kehilangan keadaan tidak bersalah untuk
selamanya. Keinginan menjadi sama seperti Allah telah menimbulkan tindakan ketidaktaatan, mencakup
keinginan untuk memiliki otonomi atau independensi, sebagaimana anak-anak ingin memperoleh otonomi
dari orang tua mereka dan bisa mengambil keputusan sendiri. Karena itu, hukuman yang mereka terima
sangat sesuai dan masuk akal, sebab otonomi selalu mendatangkan perpisahan, dan itulah yang terjadi
dalam hubungan Adam dan Hawa dengan Allah. Perlu disadari, otonomi tidak sama dengan kemerdekaan.
Pembinasaan oleh air bah tidak melenyapkan dosa, juga pemilihan Abraham tidak menghentikan dosa.

5. Kerja

Sejatinya, bahkan sebelum kejatuhannya, manusia sudah mempunyai tugas untuk dikerjakan di dunia
ini (Kej 1:28). Manusia diciptakan untuk bekerja. Setelah jatuh ke dalam dosa, tugas itu menjadi kurang
menyenangkan (Kej 3:17-19). Hal ini memberikan landasan pengajaran bahwa Allah menghendaki manusia
dengan akal budinya berbudidaya atau memiliki tanggung jawab kerja kepada Allah, kepada sesama dan
kepada lingkungannya. Inilah pesan Kitab Kejadian bagi manusia di dunia modern dewasa ini.

6. Istirahat

Gagasan untuk menjadikan satu hari dalam seminggu sebagai waktu khusus untuk beristirahat datang
dari pasal kedua dalam Alkitab (Kej 2:2, 3). Perintah itu bukan saja merupakan salah satu dari sepuluh
perintah Allah, tetapi merupakan perintah utama dari Pencipta, yang dikenal dengan istilah sabat.
Kata shabbat (tBv) berasal dari kata kerja shabat yang secara harafiah berarti "berhenti", atau shev
(‫ )שב‬yang berarti "duduk". Meskipun shabbat hampir secara universal diterjemahkan "istirahat" atau suatu
"masa istirahat", terjemahan yang lebih harafiah adalah "berhenti", dengan implikasi "tidak melakukan
pekerjaan" atau beristirahat. Dalam Yudaisme sabat merujuk kepada hari Sabtu, dirayakan dari saat
sebelum matahari terbenam pada hari Jumat hingga tibanya malam pada hari Sabtu. Disebut Sabbath
dalam bahasa Inggris, Sabt dalam bahasa Arab (‫)السبت‬, dan Sabtu dalam bahasa Indonesia. Dari kata ini
muncul konsep sabatikal, yaitu berhenti bekerja pada Sabat. Orang Yahudi menyatakan Sabat sebagai hari
ke-7, akhir setiap minggu, sebuah waktu istirahan yang ditetapkan Allah sejak penciptaan alam semesta,
setelah penciiptaan manusia pada hari keenam.

27Lihat bahasan dalam Hill dan Walton, 157-158.


Pdt. FatiaroZega | 19
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

7. Setan

Setan atau Satan tidak disebutkan dalam kelima Kitab Taurat. Dalam bahasa lambang, Iblis
dipresentasikan sebagai ular penghasut yang akhirnya dikutuk dan ditentukan untuk selalu beroposisi
dengan perempuan dan keturunannya, yang sangat menyusahkan perempuan dan keterunannya bahkan
dunia, namun pada akhirnya akan ditaklukkan oleh keturunan sang perempuan. Kisah tentang peranan
Setan atas kejatuhan manusia muncul di Kej 3:1-7, 14, 15, dan ajaran PB tentang Setan (Why 12:9; 20:2).
Kata “satan” di seluruh PL disebutkan sebanyak 27 kali dengan varian sebutan sebagai setan sebanyak 19
kali, musuh atau musuh-musuh sebanyak 7 kali, dan sekali disebut sebagai lawan (Bil 22:32). 28

8. Maut

Maut atau kematian adalah ancaman dan buah dari dosa manusia (Kej 3:3, 19; 5:5) karena berpisah
dari Allah, namun bila manusia bergaaul dengan Allah secara khusus dan atas anugerah-Nya, maut itu
dikalahkan (Kej 5:24) dan secara kodrati harus dihadapi (contoh Kej 49:1-50:3).

9. Perkawinan

Perkawinan adalah kesatuan antara dua manusia yang sepadan (bukan homogen), sedangkan istri
disebut sebagai “penolong yang sepadan” (‫)עזר כנגדו‬, seperti tercermin dalam Kej 2:18-25, suatu kesatuan
dari 2 pribadi yang ditempatkan secara unik dan otonom, tidak bisa ditempati oleh yang lain.

10. Ibadah

Ibadah adalah suatu sikap dan tindakan bakti, menyembah Allah dalam pemuliaan dan pemujaan
kepada-Nya. Kata yang penting dalam ibadah adalah “mengkhususkan” atau dalam bahasa yang lebih
praktis ialah “memberi nilai lebih”, seperti terlihat dalam cara Habel memberi persembahan korban yang
dikhususkan kepada Allah Allah, bukan hanya dengan mengambil “sebagian“, seperti yang dilakukan Kain
(Kej 4:3-4), tetapi memberi yang terutama.

F. Penerapan dan Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

1. Penerapan
Pesan dalam Kitab Kejadian dapat diterapkan ke dalam tiga wilayah hubungan:

a. Ke dalam kehidupan dengan Allah


1) Taati Allah. Ini yang terbaik, yaitu mengikuti jalan Allah.
2) Beriman kepada-Nya. Ini yang paling benar, walaupun kelihatannya tidak masuk akal.
3) Percayalah kepada-Nya. Allah sungguh-sungguh memelihara kita.
4) Berbicaralah dengan-Nya. Dia harus ditanyai tentang masalah-masalah dan keputusan-
keputusan yang kita ambil.
5) Biarkan Dia bekerja. Allah mampu mengubah suatu kehidupan yang serusak apa pun menjadi
suatu kehidupan yang indah.

28Lihat King James Concordance, dalam Bible software E-Sword.


Pdt. FatiaroZega | 20
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

b. Ke dalam kehidupan keluarga


1) Jujurlah satu dengan yang lain.
2) Jangan pilih kasih.
3) Hati-hati terhadap perasaan iri.
4) Tetap setia dalam keadaan sukar sekalipun.
5) Hiduplah menurut perintah Allah, bukan menurut keinginan sendiri.

c. Ke dalam kehidupan dalam dunia


1) Kembangkan dan gunakan sumber-sumber alam dengan penuh tanggung jawab.
2) Ingatlah bahwa semua orang mempunyai pencipta yang sama dan dibentuk menurut gambar-
Nya.
3) Ingatlah bahwa Allah juga memperhatikan masalah-masalah internasional, bukan hanya
masalah pribadi dan rohani.
4) Hiduplah dengan jujur dan jadilah saksi yang baik.

2. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Kitab Kejadian menyatakan sejarah nubuat penebusan dan seorang Penebus yang akan datang
melalui benih wanita (3:15), melalui keturunan Set (4:25-26), melalui keturunan Sem (9:26-27), dan
melalui keturunan Abraham (12:3). PB menerapkan Kej.12:3 langsung pada kesediaan Allah untuk
penebusan di dalam Yesus Kristus (Gal 3:16,29). Banyak tokoh dan peristiwa dari Kejadian disebut dalam
PB berkaitan dengan iman dan kebenaran (mis. Rm 4:1; Ibr 11:1-22), penghakiman oleh Allah (mis. Luk
17:26-29,32; 2Pet 3:6; Yud 1:7,11), dan pribadi Kristus (mis. Mat 1:1; Yoh 8:58; Ibr 7:1).

Kesimpulan

1. Dalam peristiwa penciptaan, Allah menciptakan dunia dan isinya untuk kemuliaan-Nya.
2. Dalam peristiwa kejatuhan ke dalam dosa, Allah menyatakan kebesaran, kasih dan keadilan-Nya
kepada manusia.
3. Dalam peristiwa Air Bah dan menara Babel Allah menyatakan kekudusan dan kemahakuasaan-
Nya kepada manusia.
4. Dalam kehidupan orang-orang yang dipilihnya Allah menyatakan providensinya sehingga musuh
dan rencana jahat tidak menggagalkan panggilan mereka.

Pdt. FatiaroZega | 21
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

BAB II
PENGATAR KITAB KELUARAN

Kitab Keluaran secara alami menjadi kelanjutan dari Kitab Kejadian. Pasal-pasal terakhir dari Kitab
Kejadian penjadi pembuka narasi tokoh Yakub dan keluarganya yang berpindah ke Mesir. Peristiwa itu
terjadi pada masa jayanya Yusuf. Pada waktu ke Mesir, keluarga Yakub berjumlah 70 orang, dan karena
Yusuf maka Firaun memberikan tanah Gosyen sebagai tempat kediaman keturunan Israel, suatu tempat
yang subur. Lama setelah kematian Yusuf yang menjadi penguasa Mesir di bawah Firaun, keturunan Israel
sudah berkembang menjadi suatu bangsa. Kemudian tiba suatu masa, semua kehormatan dan kebanggan
yang dimiliki Israel berangsur pudar sampai akhirnya dieliminasi oleh generasi penguasa baru Mesir.
Kitab Keluaran secara khusus menggambarkan perjuangan pembebasan dari pembudakan atas
keluarga-keluarga Ibrani sebagai karya langsung dari Tuhan. Proses pembebasan Israel dari penindasan
itulah yang menjadi tema Kitab Keluaran. Maksud pembebaskan itu ialah untuk membina Israel menjadi
sebuah bangsa yang memiliki jatidiri sendiri di antara bangsa-bangsa merdeka lainnya. Melalui Kitab inilah
dikisahkan tentang pelaksanaan janji-janji Tuhan kepada keturunan Abraham.

A. Pendahuluan

Judul Keluaran diambil dari salinan Septuaginta Exodos (19:1), yang aslinya di Tanakh bernama
Shemot (‫)שמות‬, nama yang diambil dari kata permulaan Kitab ini. Judul Keluaran dinilai tepat, berkenaan
dengan peristiwa pokok yang diceritakan, yaitu keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir.
Kitab ini berisi tiga bagian yang penting. Pertama, proses pembebasan Israel dari perbudakan sampai
perjalanan ke Gunung Sinai. Kedua, Perjanjian Tuhan dengan umat-Nya di Sinai dengan memberikan
kepada bangsa Israel hukum-hukum moral, sipil dan keagamaan untuk pedoman hidup. Ketiga, pembuatan
tempat beribadat beserta peralatan dan peraturan-peraturan untuk para imam dalam cara beribadat.
Kitab Keluaran mengisahkan tindakan-tindakan Allah pada waktu membebaskan Israel yang
diperbudak, selain kisah proses pembinaan menjadi suatu bangsa yang berpredikat umat Allah. Pada sisi
lain, pembinaan Allah atas umat-Nya itu memiliki konsekuensi pembinasaan atas setiap aksi kontra-
produktif dari setiap proses yang harus dilalui. Selain itu, Kitab ini menyajikan gambaran prospek masa
depan yang cerah dengan menampilkan Musa, pemimpin yang dipilih Allah, sebagai tokoh utamanya.
Bagian yang paling terkenal dari buku ini ialah daftar Dasa Tita dalam Pasal 20.

1. Kepenulisan
Penulis : Musa
Tema : Penebusan
Tanggal : Sekitar 1445-1405 SM/antara abad 15 – 13 SM

2. Tujuan
Kitab ini diinspirasikan Allah untuk memberikan laporan tentang tindakan-tindakan Allah yang
menyejarah dan menebus atas bangsa pilihan-Nya. Suatu rekaman dari penyataan mengenai perjanjian-
Nya dengan Israel. Kitab ini ditulis sebagai mata rantai yang teramat penting dalam keseluruhan penyataan
diri Allah yang bertahap-tahap hingga mencapai puncaknya di dalam diri Yesus Kristus dan dalam
Perjanjian Baru. Ada tiga tujuan utama lainnya kepenulisan Kitab Keluaran ini.

Pdt. FatiaroZega | 22
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

a. Tujuan Historis

Tujuan historis Kitab Keluaran peratama-tama adalah untuk pelestarian kisah-kisah yang menjelaskan
bagaimana Israel sampai menjadi budak di Mesir, proses pelepasan, dan kehadiran mereka di padang
gurun Sinai. Cerita Kitab Keluaran menghubungkan kisah-kisah para bapa leluhur dengan bangsa teokratis
yang menaklukkan Kanaan (cf.6:4).

b. Tujuan Teologis

Secara teologis Kitab Keluaran merupakan catatan dari penyataan diri Allah. Allah tidak hanya
mengingat janji-janji-Nya kepada para bapa leluhur Ibrani, tetapi sudah menyatakan diri-Nya kepada Israel
sebagai Yahweh (6:2-3). Kendatipun penyataan Tuhan ini terjadi dalam berbagai manifestasi, hasil
akhirnya adalah bahwa Dia mengambil Israel sebagai umat-Nya dan Dia menjadi Allah mereka (6:7).

c. Tujuan Didaktik

Tujuan didaktik dari Kitab ini adalah meliputi petunjuk-petunjuk mengenai pentingnya memelihara
hubungann perjanjian dengan Yahweh, dan pentingnya Taurat sebagai sarana untuk membentuk dan
memelihara jati diri Israel sebagai umat Yahweh (23:20-23). Hanya melalui ketaatan pada persyaratan-
persyaratan perjanjian itu Israel dapat menjadi suatu “kerajaan imam” bagi Yahweh dan suatu bangsa
yang kudus, yang menggenapi maksud yang ilahi di antara semua bangsa (19:5-6).

3. Pentingnya dan Nilai Kitab Keluaran

Kisah keluaran dan Perjanjian di Sinai merupakan peristiwa yang mendasardan sejarah suci bagi
Israel. Khususnya Perjanjian Sinai, Perjanjian ini menjadi sumber iman dan kesusilaan Israel sebagai umat
Allah. Perjinjian lainnya, yang disebut dalam Perjanjian Lama, semuanya dipandang dalam hubungannya
dengan Perjanjian yang utama ini. Begitu pula semua hukum dikemudian hari terhubung dengan Hukum
dasar ini. Termasuk di dalamnya semua mukjizat yang ditampilkan Kitab ini, yang semuanya membuktikan
kuasa penebusan Yahweh yang menyelamatkan, yang menjadi landasan harapan bagi umat Allah ini.
Salah satu bukti signifikan betapa Kitab Keluaran memiliki arti yang penting ialah dengan tetap
diadakannya perayaan Paskah setiap tahun. Perayaan itu bukan hanya peringatan tentang peristiwa yang
terjadi di masa lampau, tetapi sekaligus merupakan kesaksian iman, pengharapan dan kepercayaan. Israel
tetap menyadari dirinya sebagai bangsa yang dibebaskan dari Mesir (Kel 12:27; 13:8 dst.), sebagai umat
pilihan, juga penegas keyakinan mereka bahwa Yahweh tetap hadir menyertai mereka untuk senantiasa
melaksanakan pembebasan ini, terutama pada masa kritis dan penindasan. 29
Demikian juga kemudian pada zaman para Nabi, berulang-ulang umat Israel diperingatkan tentang
Perjanjian dan Hukum Musa. Para nabi tidak mewartakan suatu yang baru semata-mata, tetapi mendorong
ke arah penghayatan yang lebih mendalam terhadap kewajiban sebagaimana yang disebutkan di Kitab ini.
Kemerosotan dan keruntuhan bangsa ini juga digambarkan sebagai tanda gagalnya menaati Perjanijan
yang disebutkan di Kitab ini.
Banyak tema yang dideskripsikan oleh Keluaran ini secara simbolik menunjuk ke arah pembebasan
yang definitif dan sempurna dalam Kristus. PB merelevansikan penebusan kristen dengan pola keluaran

29Lihat Pengantar Kitab Ende, dalam: Program SABDA/OBL versi Indonesia.


Pdt. FatiaroZega | 23
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

dan Israel sebagai latar belakangnya. Tuhan Yesus dilihat Injil Matius merasakan juga pengalaman Israel.
Dia kembali dari tanah Mesir, melalui baptisan-Nya dicobai di padang gurun. Dia digambarkan sebagai
Musa, yang mengumumkan Hukum Kerajaan Allah di atas bukit. Demikian pula Paulus dan Petrus, dalam
surat-suratnya para rasul itu banyak berbicara tentang penebusan dan baptisan dalam hubungan dengan
Kitab Keluaran. Domba Paskah (Kel 12:1-11) melambangkan Anak Domba Allah yang menanggung dosa
dunia (Yoh 1:29). Kristus disebut oleh Paulus sebagai Anak Domba Paskah (1Kor.5:7). Sementara Petrus
menamakan-Nya sebagai Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1Pet.1:19). Hari raya Paskah
diidentikkan dengan pembebasan kristen oleh Darah Yesus (1Kor.10:1-13; 5:7). Perjalanan kekristenan
digambarkan sebagai persiapan memasuki Tanah Perjanjian (Yos.6:22 dst.). Sebagai Israel rohani, orang
Kristen dilihat seperti umat Allah yang mengalami keluaran.
Identik dengan tujuan pembebasan Israel, yaitu untuk terbentuknya suatu bangsa yang baru,
sebagaimana gambaran PB tentang Gereja. Karya Kristus mempersatukan orang beriman mendjadi
persekutuan hidup yang nyata, umat yang dikuduskan untuk Tuhan sebagai milik-Nya (1Pet. 2). Penebusan
Kristus telah menimbulkan ikatan istimewa, PB menggambarkan gereja sebagai penampakan diri Allah di
dunia ini dalam satu kesatuan tubuh. Semua itu adalah gambaran indah yang ditampilkan Kitab ini melalui
peristiwa keluaran sebagai panggilan penebusan gereja yang kudus dan satu.
Kitab Keluaran memberikan banyak ilustrasi pengajaran dengan memakai alat-alat bantu visual.
Kemah Suci melambangkan kehadiran Allah di antara umat-Nya, yang di dalam PB menyatakan Kristus
yang berdiam (berkemah) di antara kita (Yoh 1:14). Jelaslah bahwa Kitab Keluaran merupakan contoh
bagaimana PL menerangi PB. Bilamana mempelajari cara-cara Allah melepaskan umat-Nya dari
perbudakan serta rencana-rencana selanjutnya bagi mereka di Kitab Keluaran, terlihat kisah ini berlaku
juga bagi setiap orang yang menyadari kebutuhannya untuk ditebus pada masa kini.

4. Garis Besar
I. Penindasan Orang Israel di Mesir (1:1-11:10)
A. Beban Orang yang Tertindas (1:1-22)
B. Persiapan Pembebasan (2:1-4:31)
1. Kelahiran Musa dan Empat Puluh Tahun yang Pertama (2:1-15a)
2. Pelarian Musa dan Empat Puluh Tahun yang Kedua (2:15-25)
3. Panggilan Musa dan Kembalinya ke Mesir (3:1-4:31)
C. Pergumulan dengan Penindas (5:1-11:10)
1. Permintaan: "Biarkan Umat-Ku Pergi" (5:1-3)
2. Tanggapan: Penindasan Ditingkatkan (5:4-21)
3. Jaminan: Tuhan Akan Menyatakan Ke-Tuhanan-Nya (5:22-7:13)
4. Usaha: Sepuluh Tulah (7:14-11:10)
II. Pembebasan Bangsa Ibrani dari Mesir (12:1-15:21)
A. Pembebasan Waktu Paskah: Penebusan oleh Darah (12:1-13:16)
B. Pembebasan di Laut Merah: Penebusan oleh Kuasa (13:17-14:31)
C. Nyanyian Pembebasan: Pujian kepada Sang Penebus (15:1-21)
III. Pendidikan Bangsa Israel Dalam Perjalanan ke Gunung Sinai (15:22-18:27)
A. Ujian Kesengsaraan dan Pemeliharaan Ilahi (15:22-17:16)
1. Ujian Pertama: Air Pahit di Mara (15:22-27)
2. Ujian Kelaparan: Burung Puyuh dan Manna (16:1-36)
3. Ujian Ketiga: Air di Rafidim (17:1-7)

Pdt. FatiaroZega | 24
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

4. Ujian Pertentangan: Perang dengan Amalek (17:8-16)


B. Nasihat Yitro yang Bijaksana (18:1-27)
IV. Perjanjian dengan Bangsa Israel di Gunung Sinai (19:1-24:18)
A. Pengarahan Persiapan kepada Musa (19:1-25)
B. Sepuluh Hukum: Landasan Hidup Perjanjian (20:1-17)
C. Peraturan Pelindung Hubungan Perjanjian (20:18-23:19)
D. Janji-janji Mengenai Tanah Perjanjian (23:20-33)
E. Pengesahan Perjanjian (24:1-18)
V. Ibadah Orang Israel Dilukiskan di Gunung Sinai (25:1-40:38)
A. Pengarahan Tentang Kemah Suci (25:1-27:21)
B. Pengarahan Mengenai Imam (28:1-31:18)
C. Dosa Penyembahan Berhala (32:1-34:35)
D. Pelaksanaan Pengarahan Ilahi (Kel 35:1-40:38)30

B. Latar Belakang Kitab Keluaran

Keluarnya orang Israel dari Mesir adalah peristiwa terpenting dalam sejarah keselamatan di PL. Melalui
peristiwa itu Allah menggenapi janji-Nya kepada para bapa leluhur Israel yang akan memberikan tanah
milik kepada mereka, dan menjadikan keturunan mereka menjadi bangsa yang besar. Kitab Keluaran
mencatat peristiwa-peristiwa awal teraniayanya orang Israel di Mesir, kelahiran Musa, sampai penyelesaian
dan pentahbisan Kemah Suci di Sinai, pada bulan pertama tahun kedua sesudah peristiwa keluaran (1:1;
2:1-14; 19:1; 40:17). Rangkaian kisah ini meliput jangka waktu sekitar 85 tahun.
Sesuai data-data yang dicatat dalam Kitab Keluaran ini, menurut penelitian para ahli, ada dua persoalan
mengenai latar belakang kitab Keluaran yang menimbulkan pertentangan besar. Pertama, mengenai
masalah kronologis atau rentang waktu bangsa Israel keluar dari Mesiar dan geografi secara alkitabiah dan
non-alkitabiah. Kedua, masalah penulis Kitab Keluaran ini.31

1. Tanggal Peristiwa Keluaran


Sekalipun peristiwa keluaran merupakan pusat sejarah Israel, namun belum ada penyelesaian tuntas
atas masalah kronologis dan geografis keluarnya orang Israelatau tempat yang persis selama mereka
berada di Mesir. Para ahli telah mengusulkan dua tanggal keluarnya bangsa Israel itu.

a. "Tanggal yang dini" (Disebut Juga Tanggal Alkitabiah)

Penanggalan alkitabiah ini diambil dari 1Raj 6:1 yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi
480 tahun sebelum "tahun keempat, sesudah Salomo menjadi raja atas Israel." Berarti peristiwa ini terjadi
sekitar tahun 1445 SM. Juga dalam Hak 11:26, Yefta (± 1100 SM) menyatakan bahwa bangsa Israel telah
menduduki tanah mereka selama 300 tahun, yang akan menempatkan saat penaklukan ± tahun 1400 SM.
Berdasarkan Kel.12:40, lamanya orang Israel di Mesir 430 tahun. Kronologi peristiwa keluaran, penaklukan
tanah Kanaan, dan periode para hakim ini cocok dengan sejarah Israel yang tercatat selama pemerintahan
tiga raja yang pertama, yaitu raja Saul, Daud, dan Salomo.

30Pengatar Alkitab Hidup Berkelimpahan, dalam Program SABDA/OBL


31Beberapa referensi sumber: Alkitab Penuntun (SABDA/OLB), Hill dan Walton (169), dll.
Pdt. FatiaroZega | 25
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

b. Tanggal Belakangan
Menurut penanggalan non-alkitabiah, terjadinya peristiwa keluaran ± tahun 1290 SM. Penanggalan
ini diusulkan oleh para peneliti Alkitab liberal, berlandaskan anggapan-anggapan tertentu mengenai raja-
raja Mesir dan penanggalan arkeologis tentang hancurnya kota-kota di Kanaan sepanjang masa
penaklukan pada abad ke-13.

2. Penulis Kitab Keluaran

Juga terdapat perselisihan pendapat antara para sarjana Alkitab kelompok injili atau konservatif dan
kaum liberalyang rasionalistik mengenai kepenulisan Musa.

a. Teori JDEP
Para penafsir modern/liberal sering kali memandang kitab ini sebagai hasil karya beberapa orang,
yang diselesaikan pada waktu yang lama sekali setelah zaman Musa (disebut teori JDEP). Namun
pandangan ini semakin ditinggalkan secara umum karena lebih banyak bersifat dugaan tanpa pernah
memberikan bukti otentik.

b. Tradisi Yudaisme
Berdasarkan tradisi Yahudi sejak zaman Yosua (Yos 8:31-35), ditambah kesaksian Yesus (Mrk. 12:26),
kekristenan yang mula-mula, dan hasil penelitian ahli konservatif masa kini, semua menghubung-kan kitab
ini dengan Musa. Lagi pula, bukti-bukti dalam kitab Keluaran sendiri mendukung kepenulisan oleh Musa.
Banyak petunjuk dalam Kitab ini yang menunjukkan bahwa penulisnya merupakan seorang saksi mata dati
peristiwa-peristiwa yang tercatat (mis. Kel 2:12; 9:31-32; 15:27), juga bagian-bagian dalam kitab ini sendiri
membuktikan bahwa Musa terlibat langsung dalam penulisan (cf. Kel 17:14; 24:4; 34:27).

C. Ciri Khas dan Pesan

1. Lima Ciri Khas Kitab Keluaran

a. Kitab ini mencatat keadaan sejarah dari kelahiran sampai terbentuknya Israel sebagai bangsa.
b. Dalam Kesepuluh Hukum (Kel 20:1-17), kitab ini memuat ringkasan hukum moral dan tuntutan
kebenaran Allah bagi umat-Nya, dan dengan demikian memberikan landasan bagi etika dan prinsip-
prinsip moral alkitabiah dalam penyataan Allah selanjutnya.
c. Merupakan kitab PL terpenting dalam menggambarkan sifat kasih karunia dan kuasa penebusan Allah
dalam tindakan. Dari segi PL, Keluaran melukiskan sifat adikodrati pembebasan umat Allah dari bahaya
dan perbudakan dosa, Iblis, dan dunia.
d. Seluruh kitab ini penuh dengan penyataan yang agung mengenai Allah yang …
1) Mulia dalam sifat-sifat-Nya (benar, murah hati, setia, kudus, dan mahakuasa);
2) Tuhan atas sejarah dan raja-raja perkasa;
3) Penebus yang mengikat perjanjian dengan orang yang tertebus;
4) adil dan benar sebagaimana terungkap dalam hukum moral-Nya;
5) layak disembah sebagai Allah yang Mahatinggi yang turun untuk "berdiam" dengan umat-Nya.
e. Kitab Keluaran menekankan bagaimana, apa, dan mengapa ibadah sejati harus diadakan sebagai
akibat dari penebusan umat Allah.

Pdt. FatiaroZega | 26
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

2. Pesan Kitab Keluaran

a. Pembebasan dari Perbudakan


Kitab Keluaran membawa kepada asal mula keberadaan Israel sebagai suatu bangsa (1:1-12:36).
Berita terpentingnya ialah tentang pembebasan atau penyelamatan. Dalam pasal-pasal pertama
diceritakan bagaimana Allah menyiapkan bangsa itu untuk dibebaskan dengan membangkitkan Musa
menjadi seorang pembebas. Kemudian tentang orang Israel yang dipimpin keluar dari Mesir untuk dibentuk
menjadi suatu bangsa di Sinai (12:37-19:25). Sisa kitab itu menceritakan hal-hal yang berhubungan
dengan kelanjutan Israel sebagai bangsa yang menjalin hubungan perjanjian dengan Allah (20:1-40:38).

b. Penebusan Dosa
Konsep penebusan dosa yang muncul dalam Kitab Keluaran terdiri dari ada 3 aspek utama.
1) Kebutuhan Kebebasan. Kebutuhan bangsa itu akan kebebasan terlihat dari penderitaan
mereka di bawah tekanan bangsa Mesir. Hal ini dapat dilihat sebagai gambaran dari perbudakan
manusia oleh dosa dan karenanya mereka sungguh-sungguh perlu dibebaskan.
2) Sarana Pembebasan. Kitab Keluaran menggambarkan pembebasan. Tidak pernah diragukan
bahwa pada akhirnya orang Israel akan berhasil mengecap pembebasan, tetapi disertai
banyakketidakpuasan. Puncak peristiwa ialah pengorbanan Domba Paskah. Darah di ambang
pintu rumah-rumah bangsa Israel merupakan jaminan keselamatan mereka. Bagi orang Kristen,
Kristus adalah Domba Paskah yang darah-Nya menjamin pengampunan dosa dan kehidupan
yang baru.
3) Penyelamatan Allah Menghasilkan Pengudusan. Setelah melalui proses penyelamatan,
orang Israel lalu masuk kepada peristiwa penyucian. Allah memasuki suatu perjanjian dengan
umat-Nya yang harus menjadi saksi-saksi-Nya yang istimewa di dalam dunia. Sebagai bangsa
yang sudah ditebus oleh Allah, mereka terpanggil untuk taat kepada-Nya. Sepuluh Perintah
merupakan peraturan Allah mengenai moralitas. Mereka juga perlu berhubungan terus dengan
Allah melalui penyembahan secara teratur. Oleh karenanya, Israel diberi petunjuk-petunjuk
mengenai apa yang harus dilakukan. Kemah suci merupakan tempat bertemu dengan Allah dan
yakin akan kehadiran-Nya di situ.

D. Survai Kecil

Kitab Keluaran yang berisi 40 pasal dan 1231 ayat ini, memerikan proses lahirnya suatu bangsa.
Dimulai dengan gambaran penderitaan keturunan Yakub akibat perbudakan, penindasan dan pembunuhan
bayi di Mesir. Tema penting lainnya tentang perkembangan orang Israel dari sejumlah suku yang menjadi
suatu umat yang diberi undang-undang (Hukum Taurat), dan diperlengkapi dengan sejumlah ketetapan
yang dinyatakan di Gunung Sinai. Kitab ini diakhiri dengan kehadiran, kuasa, dan kemuliaan Allah yang
dinyatakan (berdiam) di tengah-tengah umat-Nya di tengah padang gurun.
Sehingga, secara keseluruhan Kitab ini menekankan pada tiga tema utama. Pertama, pengutusan
Musa untuk memimpin Israel keluar dari Mesir, yang meliputi hukuman atas Mesir karena pembudakan
Israel (pasal 1–12), dan tuntunan Yahwe bagaikan “Bapak” dari padang gurun menuju ke Gunug Sinai (13-
18). Kedua, pemberian hukum Taurat dan “kovenan teokratis” untuk landasan hidup sebagai umat Yahweh,
berupa Dasatita (pasal 19-20), suatu aturan moral, peraturan hukum kemasyarakatan dan hukum perdata
(pasal 21-24), yang mencakup juga hukum keagamaan atau peribadatan. Ketiga, tema mengenai Kemah

Pdt. FatiaroZega | 27
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Suci, mulai dari persiapan sampai pentahbisan sebagai tanda kehadiran Allah di antara umat-Nya. Lebih
rinci lagi, berikut tinjauan isi kitab ini.

1. Survai Pasal 1-14

Bagian ini mengisahkan Israel di Mesir yang menderita penindasan di bawah raja yang tidak mengenal
Yusuf, dan rancangan Allah yang menebus Israel "dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-
hukuman yang berat" (6:5). Termasuk dalam peristiwa-peristiwa bersejarah bagian ini ialah:
a. Kelahiran Musa, perlindungan dan persiapannya (2:1-25).
b. Panggilan Musa di semak yang menyala (3:1-4:31).
c. Kesepuluh tulah (Kel 7:1-12:51).
d. Paskah (pasal 12; Kel 12:1-51).
e. Penyeberangan Laut Merah (Kel 13:1-14:31). Peristiwa keluaran Israel dari Mesir di sepanjang PL
dipandang sebagai pengalaman penebusan terbesar.

2. Survai Pasal 16-18


Pasal 16:1-18:27 menggambarkan Israel di padang gurun menuju ke Gunung Sinai. Allah menuntun
umat-Nya yang tertebus dengan tiang awan dan tiang api dan menyediakan manna, burung puyuh serta
air, sambil melatih mereka untuk berjalan dengan iman dan ketaatan.

3. Suvai Pasal 19-40


Secara khusus Kel 19:1-40:38 ini mencatat pengalaman Israel di Gunung Sinai, ketika menerima
penyataan Allah, yang meliputi:
a. Persiapan Perjanjian dan penerimaan Sepuluh Hukum Allah, Kel 19:1-25.
b. Sepuluh Hukum atau (Dekalog), Kel 20:1-17.
c. Pembangunan Kemah Suci dan keimaman (25:1-31:18). Kitab ini berakhir dengan penyelesaian
Kemah Suci dan kemuliaan Allah yang memenuhinya (pasal 40).

E. Analisis Singkat

Kitab Keluaran atau exodus (Ibr 11:22) secara langsung melanjutkan cerita tentang sejarah keturunan
ke-12 anak Yakub. Dalam pasal pertama, hanya dua ayat singkat (Kel 1:11-12) yang menceritakan tentang
penggenapan perkataan yang difirmankan Allah kepada Abraham, “Keturunanmu akan menjadi orang
asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan
dianiaya, empat ratus tahun lamanya” (Kej 15:13; Kis 7:6).

1. Ringkasan Per Pasal

Pasal 1—11 mencakup periode ketika bangsa Israel diperbudak oleh bangsa Mesir dan mengalami
banyak penganiayaan. Sesuai waktu yang telah ditetapkan Allah, Dia menyuruh Musa menimpakan 10
bencana ke atas Mesir. Bala yang ke10 dan yang terparah itu, dilukiskan: “Sebab pada malam ini Aku akan
menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh,
dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akullah, TUHAN” (Kel 12:12). Dia mengutus
malaikat maut ke seluruh negeri yang tidak percaya itu untuk melaksanakan perintahNya.

Pdt. FatiaroZega | 28
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Pasal 12—13 menyiapkan cara kelepasan yang ajaib bangsa Israel dari tangan bangsa Mesir. Ini
terjadi karena ketaatan mereka ketika dengan iman membubuhkan darah ke atas pintu rumah, memakan
daging anak domba Paskah dan roti yang tidak beragi dengan terburu-buru, dan bersiap berangkat sesuai
perintah Musa. Pada waktu mereka dilepaskan dari perbudakan, jumlah umat Israel adalah 600,000 orang.
Jumlah ini tidak termasuk wanita dan anak-anak maupun orang-orang dari berbagai bangsa yang ikut
dengan mereka (Kel 12:37-38). Jumlah keseluruhan diperkirakan dua juta orang.
Pasal 14—18 melaporkan gerak perjalanan bangsa Israel dari Laut Mati ke Gunung Sinai, yang
berlangsung selama kira-kira 50 hari.
Pasal 19—40 terjadi di Gunung Sinai yang mencakup waktu kira-kira 11 bulan. Di tempat ini Allah
memberikan Ke-10 Hukum-Nya dan petunjuk rinci mengenai pembangunan Kemah Suci serta
persembahan korban. Kemah Suci melambangkan kehidupan dan misi Kristus. Mulai dari sejak imam Besar
memasuki kawasan tertutup di pelataran Kemah Suci sampai ia memasuki Ruang Maha Suci, setiap
prosedur melambangkan tentang Kristus dan hubungan orang percaya dengan Tuhan.

2. Analisis dan Tinjauan Teologis

Selain berisi kisah tentang tindakan Allah dalam memenuhi janji-janji yang telah disampaikan-Nya
kepada Abraham, menyatakan perlindungan dan pemeliharaan (providensi) terhadap umat-Nya dalam
menghadapi berbagai kesulitan dari musuh-musuh yang kejam. Kitab Keluaran intinya memaparkan
mukjizat agung pembebasan umat Israel dari perbudakan Mesir. Menggambarkan dengan cara yang hidup
pembebasan umat Israel dari kerja paksa dan penindasan oleh rakyat Mesir. Maksud pembebasan Israel
itu ialah untuk membentuk dan melatih mereka menjadi bangsa yang memiliki karakter ilahi yang layak
menjadi imam bagi bangsa-bangsa (19:6).
Sekalipun harus mengahadapi perlawanan Firaun dan orang Mesir, namun akhirnya dengan cara yang
mengagumkan Tuhan memimpin umat-Nya menyeberangi Laut menuju kemerdekaan. Melalui Musa yang
dipilih-Nya sebagai “alat”, Tuhan menjatuhkan tulah yang sangat menyiksa rakyat Mesir yang menentang
kehendak pembebasan ini. Tuhan mempertunjukan kuasa mukjizat untuk melaksanakan maksud ini.
Musa merupakan tokoh penting dan sentral, bahkan bukan hanya dalam Kitab ini, tetapi dalam seluruh
sejarah Israel. Di luar batas-batas yang dipahami manusia, Musa dibentuk dan didik di istana Firaun, dan
karena kedudukan dan bakat alaminya yang istimewa, tepat sekali dia terpilih untuk memimpin perjuangan
kemerdekaan bangsanya.
Kebesaran Musa akan sangat dangkal kalau hanya dilhat dari sudut pandang sebagai pahlawan
kemerdekaan nasional Israel. Keagungan karya dan nilai pribadinya menembus batas-batas nasional-
teokrasi Israel, bahkan menerobos sampai ke Perjanjian Baru dan kekekalan. Melalui Kitab Keluaran
diperlihatkan bagaimana Musa, yang semula membela bangsanya dengan antusiasme patriotik yang sempit
itu, mengalami transformasi yang luar biasa, akibat pertemuannya langsung dengan Tuhan. Sejak peristiwa
itu, dia muncul sebagai utusan dan nabi Tuhan dengan keteguhan iman, ketekunan, kasih dan kerendahan
hatinyanya. Pribadi Musa, seperti dipaparkan oleh LaSor dan kawan-kawan, sebagai pendiri agama Israel,
orang yang mengumumkan undang-undang resmi, organisatoris ulung, pemimpin yang karismatik. 32
Dengan demikian, pembebasan Israel ini bukan hasil prestasi manusia, melainkan oleh mukjizat Tuhan
sendiri demi umat-Nya. Israel tidak mengungsikan diri melainkan dibebaskan. Sehingga jelas bahwa arti
cerita ini lebih daripada peristiwa hitoris belaka, yang mungkin dicapai dengan usaha manusiawi. Makna
lebih dalam yang tersirat dalam karya penebusan Tuhan ini ialah untuk mengajar umat-Nya mengejar

32LaSor, dkk., 191.


Pdt. FatiaroZega | 29
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

kemerdekaan sejati melalui pengabdian dan kehidupan yang melekat kepada Dia. Peristiwa keluaran ini
menjadi titik-tolak gambaran penebusan Israel dan segenap umat manusia dari penindasan dosa serta
akibat-akibatnya. Panggilan keluaran adalah awal perjalanan menuju tanah air yang damai, kekal dan
negeri kebahagiaan sejati.
Makna yang melampaui rancangan manusia ini terefleksi dari deskripsi peristiwa-peristiwa ajaib di
dalam dan sekitar pembebasan. Kitab ini jelas mengambarkan keterlibatan langsung Yahweh atas setiap
kejadian yang jauh dari kesan menampilkan jerih payah manusia. Lebih-lebih lagi bagaimana digambarkan
tentang hubungan yang erat antara Musa dan Tuhan. Apa pun yang dijalankan Musa, dilakukannya
sesudah lebih dulu berkomunikasi dengan Yahweh, atau berdasarkan firman-Nya. Hubungan intim antara
Musa dengan Tuhan ini adalah akibat dari pertemuan pertama di bukit Horeb atau Sinai (Kel 314). Di
sanalah Tuhan mewahyukan nama-Nya Yahweh (‫)אהיה אׁשך אהיה‬, dalam bahasa Inggris disalin menjadi
I AM THAT I AM.33 Peristiwa pembebasan Israel ini merupakan analogi dan awal pelaksanaan penebusan
sejati yang mendasari keselamatan kita sendiri.
Perjanjian dan Sepuluh Hukum merupakan tema penting kedua dalam Kitab Keluaran. Perjanjian Sinai
mengabadikan arti yang mendalam dari pembebasan yang mengagumkan ini. Sedangkan konsekuensi-
konsekuensinya bagi umat ditetapkan dalam Hukum. Itu artinya bahwa Israel, sebagai bangsa, sama sekali
bergantung pada Tuhan dan perlindungan-Nya, atau lebih kongkretnya, Israel terikat total pada Tuhan
dengan suatu perjanjian atau persekutuan.
Pembebasan dari Mesir dan Perjanjian Sinai adalah prakarsa Tuhan dengan mengikatkan diri-Nya
kepada Israel melalui perjanjian. Dengan itu memberikan jaminan bahwa Israel adalah milik-Nya yang
kudus. Tuhan mengadakan ikatan kasih karunia yang baru dan erat, yang membentuk Israel menjadi umat
Tuhan dalam arti sepenuhnya.
Dalam Hukum Perjanjian, yang intinya adalah Dekalog, Tuhan memproklamirkan apa yang
diharapkan-Nya dari umat-Nya, yaitu bagaimana seharusnya sikap dan cara hidup suatu bangsa yang
menjadi milik Tuhan. Ini penting, karena akal budi manusia sudah tercemar akibat dosa. Kecenderungan
hati manusia yang jahat sudah menyesatkan pandangan yang benar tentang Tuhan dan tuntutan-tuntutan-
Nya. Itu sebabnya, dalam rangka pelaksanaan keselamatan adikodrati-Nya, Tuhan membangkitkan dan
menghidupkan pandangan yang sehat tentang suasana dan cara hidup manusiawi yang benar. Itulah
syarat dan titik-tolak hubungan baru antara Tuhan dan manusia yang dibangun melalui Perjanjian Sinai.
Karena perintah-perintah yang mengatur hidup Israel didasarkan atas hubungan yang khas antara
Yahweh dan Israel, maka di dalamnya termuat juga tuntutan-tuntutan yang menuntun ke arah hidup yang
semakin sempurna, berbanding lurus dengan pemahaman yang benar tentang Alllah yang sempurna. Di
dalam Dekalog Tuhan pertama-tama menyatakan Diri sebagai Allah yang Esa, yang bersifat Pribadi,
sempurna dan transenden. Dengan demikian pandangan tentang Tuhan yang bersifat manusiawi, ibadat
yang magis atau material, seperti yang terdapat pada bangsa-bangsa di sekitar Israel, ditolak. Umat Tuhan
dicegah dari menciptakan dewa-dewa menurut gambaran manusia yang jauh dari sempurna, seperti
binatang-binatang atau hal-hal bendawi. Bersama dengan itu, Tuhan menggariskan pedoman hidup yang
mencerminkan kesempurnaan dan kekudusan-Nya. Terutama dalam sikap terhadap Tuhan dan terhadap
saudara-saudara sebangsa.

33Menurut komentar Pulpit: dalam E-Sword versi 3, 2012, I AM THAT I AM. No better translation can be
given of the Hebrew words. "I will be that I will be (Geddes) is more literal, but less idiomatic, since the Hebrew was
the simplest possible form of the verb substantive.
Menurut Albert Barnes’ Note on the Bible: dalam E-Sword 2012: I am that I am - That is, “I am what I am.”
The words express absolute, and therefore unchanging and eternal Being.
Pdt. FatiaroZega | 30
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Meskipun Hukum-Perjanjian ini anugerah Tuhan sendiri, tetapi Musa sebagai nabi dan perantara
merupakan utusan yang memiliki otoritas, sehingga “firman nabi memiliki otoritas sebagai firman Allah.” 34
Dia juga berperanan aktif dalam merumuskan tuntutan-tuntutan Tuhan itu, yang diinspirasikan kepadanya
secara langsung dalam hubungan bersifat individul dengan Yahweh. Aturan-aturan hukum yang ditentukan
oleh Musa itu dapat ditemukan misalanya dalam peraturan-peraturan tentang Tempat Suci dan ibadat.
Dalam upacara ibadat, umat Israel dituntut menjaga kekudusan dan menyatakan penyerahan diri
yang mutlak kepada Yahweh. Hal itu penting agar kemuliaan-Nya hadir di tengah-tengah umat-Nya. Dari
situ pula Tuhan memimpin Israel selama perjalanan. Dengan demikian Perjanjian Sinai bukan hanya
bersifat religius, tetapi sekaligus meliputi keseluruhan hidup. Hukum ini mengatur hubungan-hubungan
sosial sebangsa dan mengatur hubungan dengan bangsa-bangsa lain sedemikian rupa, sehingga ciri khas
Israel sebagai umat Tuhan tetap terjamin. Perjanjian Sinai merupakan Undang-Undang Dasar yang
menyatukan dengan erat antara unsur-unsur kodrati dan adikodrati dalam kehidupan bangsa Israel.

E. Tema-tema Kunci

1. Nama Yahwe

Pernyataan nama Yahweh kepada Musa, sebagai tokoh pelepas Israel, menandai suatu tahapan baru
dalam penyataan diri Allah kepada umat Ibrani secara bertahap. Nama Allah yang biasanya diterjemahkan
“AKU ADALAH” itu menunjukkan aspek pribadi, abadi dan lengkap dari hakikat dan karakter Allah. Dalam
LXX kalimat itu disalin εγω ειμι.
Penyingkapan nama ilahi, Yahweh,35 bukanlah satu-satunya cara bagi Allah untuk menyatakan diri-
Nya kepada Israel selama pengalaman keluaran. Terdapat pula beberapa jenis teofani, 36 misalnya dengan
Malaikat Tuhan (Kel.3:2; 14:9), dan malaikat-malaikat lainnya (23:20; 33:2), melalui semak duri yang
menyala (3:2), perbuatan ajaib (8:16-19), api, asap, guruh dan halilintar di Sinai (19:18-20), penglihatan
dan mimpi (cf. Bil.12:6-8), suara dan komunkasi langsung (24:1), awan kemuliaan (16:10), awan dan tiang
api (40:34-38), bahkan “berhadapan muka” dengan Musa (33:11, 20-23).
Lebih penting dari beraneka menifestasi ilahi kepada umat Ibrani adalah hakikat yang menyingkapkan
tentang Yahweh, Allah Perjanjian. Dia adalah Allah yang mengingat kewajiban-kewajiban kovenan-Nya
yang sebelumnya (Kel.2:24), Allah yang menghukum dan melepaskan (12:27), transenden namun imanen
(19:10-15; 25:1-9), yang memerintah bangsa-bangsa untuk kepentingan pemeliharaan umat pilihan-Nya,
Israel (15:4-6, 13-18), Allah yang unik dan kudus, yang lebih berkuasa dari dewa bangsa-bangsa (15:11;
18:10-12), dan Allah sumber kasih karunia dan kemurahan, yang berbelas kasihan dalam murkanya dan
berkenan menanggapi doa dan pertobatan.

2. Kemerdekaan

34LaSor, Hubbard dan Bush, 198.


35Nama Yahweh yang dieja ‫( יהוה‬YHWH) atau dalam bahasa Yunani disebut Tetragrammaton adalah nama
pribadi dari Tuhan orang Israel. Dari semua nama Tuhan di Perjanjian Lama, Tetragrammaton muncul paling sering,
sebanyak 6.500 kali menurut Jewish Encyclopedia, atau sebanyak 6.828 kali menurut Biblica Hebraica dan Biblica
Hebraica Stuttgartensia (teks yang ditulis dalam bahasa Ibrani dan bahasa Aram). Hal ini mengindikasikan jatidiri yang
lebih pribadi terhadap Sang Penguasa. (Berlawanan dengan gelar yang tidak pribadi seperti "Tuhan" atau "Bapa").
36Teofani berarti Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh yang bersangkutan,

sehingga yang bersangkutan sadar bahwa mereka berhadapan dengan Allah sendiri. Istilah 'teofani' berarti juga
penampakan Allah dalam bentuk yang kelihatan.
Pdt. FatiaroZega | 31
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kitab Keluaran dimulai dengan gambaran mengenai bangsa Israel menggeliat di bawah kuk
perbudakan (Kel.1:11-14). Kebebasan mereka tidak diperoleh dengan mudah, tetapi kebebasan itu
sempurna. Domba Paskah akan selalu dipandang oleh orang Kristen sebagai suatu gambaran dari Anak
Domba Allah dan sebagai peringatan bahwa kita pun selalu telah dibebaskan dari bahaya dan perbudakan
dosa. PB menyebutkan bahwa domba paskah itu adalah Yesus, Sang Anak Domba Allah (Yoh 1:29, 36; Kis
8:32-35; 1Kor.5:7; 1Pet.1:18, 19), dan di dalam Kitab Wahyu dipakai sebanyak 36 kali dalam 34 ayat.

3. Kesepuluh Tulah
Kitab Keluaran menyatakan bahwa konfrontasi antara Musa dan Firaun pada dasarnya merupakan
pergumulan kosmis antara Yahweh, Allah yang benar, dan ilah-ilah palsu dari agama Mesir (cf. Kel.12:12;
15:11; 18:11). Inilah sebabnya Yahweh harus meninggikan Musa pada suatu kedudukan “sebagai allah”
sehingga ia dapat melawan Firaun sebagai orang yang sederajat (cf. Kel 7:1), karena jabatan Firaun adalah
perwujudan secara fisik dewa Aten, dewa matahari (Ra atau Amun Ra, dewa tertinggi Mesir kuno).
Sekalipun banyak sarjana Alkitab menetepkan ilah tertentu sebagai sasaran tiap-tiap tulah yang
semuanya berjumlah sepuluh, namun yang jelas tulah-tulah itu secara kolektif sebagai hukuman terhadap
seluruh kumpulan dewa-dewa orang Mesir. Namun, dua tulah terakhir kelihatannya ditujukan kepada 2
dewa utama Mesir dan wakilnya yang di bumi, yaitu Firaun. Dengan menutupi sinar matahari di Mesir dan
mengizinkan terang siang hari di Gosyen dan dengan mengacaukan siklus dewata firaun dalam tulah
kematian, Yahweh menunjukkan diri-Nya sebagai TUHAN pada orang Mesir.

4. Paskah
Peristiwa paskah yang dilukiskan dalam Kitab keluaran (pasal 12) adalah hukuman atau tulah terakhir
dalam rangka melawan Firaun, orang-orang Mesir, dan dewa-dewa Mesir. Tulah kematian inilah klimaks
yang menjadi momentum terjadinya pelepasan umat Ibrani dari penindasan dan perbudakan (12:21-27).
Generasi-generasi selanjutnya diperintahkan untuk merayakan paskah sebagai suatu hari raya untuk
memperingati kelepasan yang dilaksanakan oleh kekuatan Yahweh yang melawan “tangan kuat Firaun”
(13:14).
Paskah memiliki implikasi didaktis yang penting untuk setiap keluarga Ibrani. Arti paskah bagi umat
Ibrani diajarkan secara formal oleh seorang ayah kepada anaknya, dalam bentuk tanya jawab. Ketika
seorang bertanya, “Apakah artinya ibadahmu ini?’ Sang ayah menjawab, seperti di dalam Kel.12:24-27.
Paskah dalam PB dipahami sebagai tipologi dari kematian Kristus, Anak Domba Allah yang dikorbankan
untuk mengahapus dosa dunia (Yoh 1:29). Jumlah dan persamaan antara upacara Paskah dan kematian
Kristus sangat penting, misalnya Kel 12:46 dan Bil 9:12 dengan Yoh.19:39. Penetapan Perjamuan Tuhan
atau Ekaristi, berasal dari ritus paskah, baik sebagai hari raya peringatan (Luk.22:7-30) maupun dalam
korban yang mendamaikan oleh Anak Domba Paskah yang disediakan Allah (Why.5:6-14).

5. Dasa Titah
Kesepuluh Hukum atau Dekalog yang tertulis dalam Kel.20:1-17 dan diulangi dalam Ul.5:6-21,
diberikan Allah secara langsung. Musa tidak disebutkan sebagai perantara dari perintah-perintah ini,
sebaliknya Allah sendiri yang menulis di atas kedua loh batu dan berbicara langsung kepada seluruh umat
Ibrani itu (Kel 20:1; 32:16). Kitab ini menyatakan bagaimana Dia berbicara kepada umat-Nya dari langit,
bukan dari gunung Sinai. Dengan cara menyampaikan Sepuluh Hukum pada umat Israel seperti itu (20:22
cf. Im.25:1), Yahweh menunjukkan sifat yang sempurna dan kekal dari dekalog itu.

Pdt. FatiaroZega | 32
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Dekalog yang berkaitan dengan kovenan di Sinai, diperlukan untuk memelihara perjanjian antara
Tuhan dan Israel. Selain berfungsi sebagai dasar dari hukum pidana bagi masyarakat Israel, juga
menjelaskan “kejahatan yang serius” dalam hubungan dengan Tuhan demi kesejahteraan bangsa itu.
Sebab pelanggaran terhadap kovenan Yahweh akan membahayakan seluruh masyarakat perjanjian. Dalam
Perjanjian Baru, Yesus merangkum dimensi vertikal dan horizontal dari ketentuan-ketentuan kovenan
dalam Dekalog menjadi dua hukum (Mat.22:36-39 cf. Ul.6:5) dan menekankan bahwa inti hukum
Perjanjian Lama adalah keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (Mat.23:23).

6. Patron
Para mantan budak yang baru dibebaskan itu diingatkan bahwa Allah mengharapkan ketaatan dari
umat-Nya. Sepuluh Perintah itu sangat luar biasa, karena membentuk suatu aturan moralitas yang cocok
bagi semua orang di segala zaman. Perintah-perintah itu tidak pernah lapuk. Bahkan mereka yang telah
menerima Yesus sebagai Juruselamat juga harus ingat, bahwa mereka harus menyembah-Nya sebagai
Tuhan. Dia berkata, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yοh.14:15).
Pada akhirnya ketaatan akan mempengaruhi sikap, motivasi dan perbuatan (cf. Mat. 5:21-48).

7. Penyembahan
Setelah bangsa Israel dibebaskan, mereka segera diberi petunjuk mengenai bagaimana harus
menyembah Allah. Kemah Suci merupakan peringatan nyata dari kehadiran Allah di tengah-tengah umat-
Nya. Dalam ibadah di Kemah Suci, Israel menemukan sifat kesucian Allah, sehingga orang berdosa tidak
dapat menghampiri Allah dengan seenaknya. Mezbah kuningan merupakan tempat untuk mengadakan
korban bakaran dan merupakan satu-satunya jalan untuk menghampiri hadirat Allah. Pakaian imam
dirancang dengan teliti, karena ia adalah orang yang mewakili umat di hadapan Allah. Setiap rincian
berfungsi untuk menekankan kekudusan Allah. Kita yang telah menjadi imamat rajani dengan menjadi
anak-anak Allah diingatkan, bahwa Allah tetap kudus dan hal ini harus tercermin dalam penyembahan kita.

F. Penerapan dan Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

1. Penerapan
Dalam Kitab Keluaran kita banyak belajar tentang sifat-sifat Allah.
a. Allah Berdaulat. Ia mengendalikan sejarah dan melakukan segalanya bagi kemuliaan-Nya.
b. Allah Memperhatikan Umat-Nya. Dia menguasai segala peristiwa dengan tujuan utama kesejahteraan
bagi umat-Nya.
c. Allah Mencukupi Kebutuhan Umat-Nya. Manna dan burung puyuh merupakan bukti nyata Tuhan
sungguh-sungguh mencukupi kebutuhan anak-anak-Nya.
d. Allah Itu Kudus. Kekudusan Allah dijelaskan kepada Musa dan kepada bangsa Israel pada umumnya.
Kita seharusnya membungkuk dengan hormat di hadapan-Nya.
e. Allah mengharapkan ketaatan dari Umat-Nya

2. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru


Sepanyang Keluaran terdapat bayangan mengenai penebusan yang ditawarkan dalam perjanjian yang
baru. Paskah pertama, penyeberangan Laut Merah, dan pemberian Hukum Taurat di Gunung Sinai adalah
penting bagi PL sebagaimana kematian, kebangkitan Yesus, dan pemberian Roh Kudus pada hari

Pdt. FatiaroZega | 33
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Pentakosta adalah penting bagi PB. Lambang-lambang dalam Keluaran yang menggambarkan Kristus dan
penebusan dalam PB adalah Musa, Paskah, penyeberangan Laut Merah, Manna, Batu karang dan air,
Kemah Suci, dan Imam besar. Tuntutan-tuntutan moral yang mutlak dari Sepuluh Hukum diulangi dalam
PB sebagai tuntutan bagi orang beriman.

Kesimpulan

1. Allah di dalam kemahabesaran dan kesetiaan akan janji-Nya melepaskan umat-Nya dari penderitaan
dan perbudakan.
2. Allah di dalam menjaga kekudusan bangsa dan umat-Nya, memberikan batasan- batasan di dalam
kehidupannya.
3. Di dalam ketidaktaatan umat-Nya, Allah menunjukkan kesabaran dan kasih-Nya.

Pdt. FatiaroZega | 34
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

BAB III
PENGANTAR KITAB IMAMAT

Kitab Imamat adalah kitab ketiga dari Taurat. Isinya merupakan peraturan-peraturan untuk ibadat,
upacara-upacara agama dan pedoman untuk para imam yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya,
serta pedoman untuk kehidupan yang kudus secara praktis dari umat Perjanjian Lama. Pokok ajaran yang
ditampilkan ialah mengenai kesucian Allah, dan bagaimana manusia harus hidup dan beribadat supaya
tetap mempunyai hubungan baik dengan TUHAN, Allah Israel.
Judul Ibrani Kitab Imamat ialah wayyiqra (‫ )ויקרא‬yang artinya “Maka dipanggil-Nya/Ia memanggil”
(Im.1:1), yang merupakan awal kalimat pertama dalam kitab Imamat. Dicatat di dalam Kitab ini "perintah-
perintah yang disampaikan TUHAN kepada Musa di gunung Sinai kepada orang Israel". Dalam beberapa
bahasa Eropa, kitab ini disebut Leviticus, diambil dari bahasa Latin Liber Leviticus, transliterasi dari bahasa
Yunani (LXX) Λευιτικόν. Kutipan yang paling terkenal dari buku ini ialah yang disebut oleh Yesus sebagai
perintah utama yang kedua, “Cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Im.19:18).

A. Pendahuluan

Berdasarkan isinya, judul Kitab ini sesungguhnya kurang tepat, hanya meneruskan tradisi yang berasal
dari salinan Septuaginta yang menjadi umum lewat terjemahan Latin. Ternyata sebutan orang-orang Lewi
(Leuim/Leviton/ Levita) hanya sekali sadja disebut namanya (Im.25:32-33). Sedangkan pokok uraian
dalam Kitab ini berkenaan dengan masalah keimamam, sehingga adalah lebih tepat judul Kitab ini dalam
salinana Bahasa Indonesia “Imamat” yang berarti “keimaman.” Pokok perbicangannya berkenaan dengan
masalah keimaman. Sebab yang diutarakan ialah jabatan serta tugas pekerjaan para imam, yang dalam
bahasa Ibrani dinamakan Kohen (1:5-17; 2:2, 8, 9, dsb).
Kitab Imamat merupakan lanjutan dari peristiwa-peristiwa dalam Kitab Keluaran yang berakhir
dengan penyelesaian pembangunan Kemah Suci. Diperkirakan hanya satu bulan tenggang waktu di antara
peristiwa-peristiwa dalam Keluaran dan peristiwa dalam Kitab Bilangan (Kel 40:17; Bil.1:1). Dari seluruh
pasal, perhatian khusus ditujukan hanya untuk menjelaskan bagaimana umat Tuhan harus menjalani
kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Menariknya, jika membandingkan isinya dengan Kitab Kejadian,
ruang yang Allah berikan untuk menjelaskan seluruh penciptaan hanya 27 ayat, tetapi dalam Kitab Imamat,
27 pasal dibutuhkan untuk menjelaskan cara hidup yang wajib dilakukan agar berkenan kepada Tuhan.
Selain itu, kitab ini dikutip lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru.

1. Kepenulisan
Penulis : Musa.
Tema : Kekudusan atau peraturan mengenai kehidupan dan penyembahan
Tanggal Penulisan: 1445 — 1405 SM

2. Pentingnya Kitab Imamat


Pentingnya Kitab Imamat ini untuk mengajar bangsa Israel dan para imam perantara mereka
mengenai cara menghampiri Allah melalui darah korban pendamaian dan untuk menjelaskan standar
kehidupan kudus yang ditetapkan Allah bagi umat pilihan-Nya.
Sistem pengorbanan dalam Kitab Imamat merupakan penjelasan yang paling lengkap dalam
seluruh Alkitab, yang menganalogikan karya penebusan Juruselamat bagi dosa manusia. Istilah-istilah
bahasa Ibrani untuk kudus, kekudusan, dan menguduskan muncul kira-kira 150 kali dalam kitab ini.
Walaupun keimaman Lewi dan sistem pengorbanan telah berhenti, namun prinsip-prinsip yang sama masih
cocok diterapkan bagi orang-orang Kristen masa kini. Karena tanpa kekudusan, tidak seorang pun melihat
Tuhan (Ibr 12:14).

Pdt. FatiaroZega | 35
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Sebagian besar isi Kitab Imamat menyangkut imam-imam suku Lewi, tetapi pengulangan kata-
kata, "Berbicaralah kepada orang Israel…" menunjukkan bahwa kitab itu juga diperuntukkan bagi semua
orang. Bila dalam Kitab Keluaran diceritakan mengenai Allah yang membebaskan dan membuat perjanjian
dengan mereka, maka di dalam Kitab Imamat diterangkan mengenai kehidupan dan penyembahan bangsa
perjanjian itu diatur. Jadi, sebagian besar kitab ini berkenaan dengan seluruh bangsa Israel.

3. Latar Belakang Kitab Imamat


Setelah dijelaskan bagaimana Allah Yang Mahakuasa merupakan Pencipta, Pemelihara dunia dan
isinya, di Kitab Kejadian, dan mengetahui bahwa Allah selalu setia dan memperhatikan kehidupan umat-
Nya melalui Kitab Keluaran, maka di dalam Kitab Imamat Ia memberikan cara-cara persekutuan antara
Diri-Nya dengan umat-Nya. Kitab ini terbagi atas 27 pasal, 859 ayat dan dapat dibagi menjadi dua, yaitu
mengenai peraturan-peraturan tentang persembahan kepada Allah, dan peraturan di dalam kehidupan
ibadah dalam persekutuan dengan-Nya.
Kitab Imamat menjadi sambungan yang wajar bagi kitab Keluaran. Kitab Keluaran mencatat
bagaimana Israel dibebaskan dari Mesir, menerima hukum Allah, dan membangun Kemah Suci sesuai
dengan pola Allah, lalu diakhiri dengan datangnya Yang Kudus untuk tinggal di dalam Kemah Suci yang
baru saja didirikan itu (Kel 40:34). Kitab Imamat berisi pengarahan yang diberikan Allah kepada Musa,
selang 2 bulan dari selesainya pembangunan Kemah Suci (Kel.40:17) dan keberangkatan Israel dari
Gunung Sinai (Bil 10:11).
Lebih dari 50 kali disebutkan bahwa isi kitab ini adalah firman dan penyataan Allah yang langsung
kepada Musa bagi Israel, yang kemudian didokumentasikan Musa dalam bentuk tertulis. Yesus mengacu
kepada sebuah bagian dalam kitab ini dan menghubungkannya dengan Musa (Mrk.1:44). Rasul Paulus
mengacu kepada satu bagian dalam kitab ini dengan mengatakan, "Sebab Musa menulis …"(Rm.10:5).
Para pengeritik, kaum liberal, mengatakan bahwa kitab ini ditulis oleh seorang imam penyusun yang hidup
jauh di kemudian hari, hal ini didasarkan atas sikap yang menolak integritas kesaksian Alkitab.

4. Garis Besar
I. CARA MENGHAMPIRI ALLAH: MELALUI KORBAN (1:1-6:23)
Im. 1:1-17 Korban bakaran
Im. 2:1-16 Korban sajian
Im 3:1-17 Korban perdamaian
Im 4:1-5:13 Korban penghapus dosa
Im 5:14-6:7 Korban penebus salah
Im 6:8-18 Petunjuk-petunjuk bagi para imam
Im 6:19-23 Korban pentahbisan.
II. ATURAN YANG PERLU DIKETAHUI OLEH PARA IMAM (Im.6:24-7:38)
Im.6:24-30 Korban penghapus dosa — bagian para imam
Im.7:1-8 Korban penebus salah — bagian para imam
Im. 7:9-10 Korban sajian — bagian para imam
Im 7:11-21 Korban perdamaian — peraturan cara memakan
Im 7:22-27 Larangan memakan lemak dan darah
Im 7:28-38 Korban perdamaian — bagian para imam.
III. PENGANGKATAN PARA IMAM (Im 8:1-10-20)
Im 8:1-36 Upacara pentahbisan
Im 9:1-24 Persembahan korban
Im 10:1-7 Dosa anak-anak Harun
Im 10:8-11 Larangan minum bagi para imam yang sedang bertugas
Im 10:12-20 Korban penghapus dosa
IV. KEBERSIHAN DAN KENAJISAN (11:1-15:33)
Im 11:1-47 Binatang yang halal dan haram
Im 12:1-8 Pentahiran sesudah melahirkan anak
Im 13:1-46 Penyakit kulit — diagnosa dan apa yang harus dilakukan
Im 13:47-59 Kelapukan pada pakaian

Pdt. FatiaroZega | 36
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Im 14:1-32 Upacara pembersihan sesudah sembuh dari penyakit kulit


Im 14:33-57 Kelapukan pada rumah
Im 15:1-33 Kenajisan lelehan manusia.
V. HARI RAYA PENGHAPUSAN DOSA (Im 16:1-34)
Im 16:1-11 Penyucian imam besar
Im 16:12-19 Penyucian Kemah Suci
Im 16:20-28 Penyucian bangsa Israel
Im 16:29-34 Upacara diulangi tiap-tiap tahun.
Vi. HIDUP ADIL DAN SUCI (Im 17:1-22:33)
Im 17:1-9 Semua persembahan diperuntukkan bagi Allah
Im 17:10-16 Darah adalah kudus
Im 18:1-30 Hubungan yang dilarang
Ima 19:1-37 Peraturan kehidupan — kasihilah sesamamu
Ima 20:1-27 Peraturan kehidupan — jadilah suci
Im 21:1-22:16 Kesucian para imam
Im 22:17-33 Persembahan yang diterima.
VII. PERATURAN KEHIDUPAN BANGSA (Im 23:1-25:55)
Im 23:1-44 Hari Sabat dan hari-hari raya keagamaan
Im 24:1-9 Kebaktian umum di Kemah Tuhan
Im 24:10-23 Dosa dan hukuman — contoh
Im 25:1-7, 18-24 Tahun ketujuh — dilarang bercocok tanam
Im 25:8-17, 25-55 Tahun kelima puluh — tahun Yobel.
VIII.RINGKASAN DAN KESIMPULAN (Im 26:1-27:34)
Im 26:1-39 Ketaatan membawa berkat ketaktaatan akan membawa hukuman
Im 26:40-46 Pertobatan akan membawa pengampunan
Im 27:1-34 Peraturan mengenai nazar dan persembahan

B. Ciri Khas dan Pesan Kitab

1. Lima Ciri-ciri Khas Kitab Imamat


a. Penyataan sebagai firman yang langsung dari Allah lebih ditekankan di dalam Imamat
dibandingkan dengan kitab lain di Alkitab. Tidak kurang dari 38 kali dikatakan dengan tegas
bahwa Tuhan berbicara kepada Musa.
b. Pengarahan mengenai sistem pengorbanan dan pendamaian melalui pengganti diberikan
secara terinci dalam kitab ini.
c. Pasal 16:1-34 merupakan pasal Alkitab terpenting yang menerangkan Hari Pendamaian.
e. Imamat menekankan tema bahwa bangsa Israel harus memenuhi panggilan keimaman mereka
dengan cara hidup suci secara rohani dan moral, terpisah dari bangsa-bangsa lainnya dan taat kepada
Allah.

2. Pesan Kitab
a. Allah Hadir di Tengah-tengah Umat-Nya (Im 1:1-6:7; 18:1-22:16)
1) Dalam penyembahan, semua persembahan dan upacara berlangsung "di hadapan Allah."
2) Dalam kehidupan sehari-hari, Allah selalu hadir dan segala sesuatu harus dilakukan dalam
terang kehadiran-Nya.

b. Allah Kudus, Karenanya Umat-Nya Harus Kudus (11:44, 45; 19:2; 20:7, 8 ,24-26).
Karakter umat harus mencerminkan karakter Allah. Sepanyang menyangkut umat Allah, yang
dimaksud dengan kekudusan ialah menjauhkan segala kenajisan, memper-sembahkan korban dan
mematuhi semua peraturan.

c. Dosa Harus Diakui (Im 1:1-7:38; 11:1-15:33)

Pdt. FatiaroZega | 37
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Oleh karena Allah itu kudus, Dia tidak dapat berhubungan dengan segala yang berdosa dan najis.
Dengan demikian, apabila manusia ingin mengadakan hubungan dengan Allah ia terlebih dahulu harus
bersih dari segala macam kenajisan.

d. Penebusan dosa memerlukan korban (Im 1:4; 14:29-31; 16:1-34)


Dosa adalah hal yang serius, menghapusnya bukanlah hal yang mudah. Jika ingin disucikan dari
dosa dan menjadi layak di hadapan Allah, maka ada korban yang harus dipersembahkan. Korban ini
"menciptakan penebusan" yang membebaskan si pendosa dari kematian yang layak diterimanya. Namun
Kitab Imamat menjelaskan bahwa bukan korban yang memberikan pengampunan dan penyucian,
melainkan karunia Allah.

e. Allah menaruh perhatian pada seluruh aspek kehidupan (Im 18:1-22:16)


Imamat tidak melulu berbicara mengenai penyembahan. Ada peraturan mengenai makanan dan
minuman, sakit penyakit, pakaian, rumah, hasil panen, hubungan kekeluargaan dan kondisi kerja. Setiap
aspek kehidupan harus dijalani sedemikian rupa, sehingga mencerminkan sifat-sifat Allah.

C. Survai Ringkas

Kitab Imamat terbagi dalam dua bagian utama, berkenaan tema pendamaian dan kekudusan.
Bagian pertama, pasal 1—17 mengemukakan pemulihan hubungan dengan Allah dan peraturan mengenai
korban dan penyucian sebagai dasar persekutuan manusia dengan Allah. Semua ini harus ditandai dengan
darah. Darah binatang korban harus dicurahkan di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi
nyawa (Im.17:11; Ibr.9:22). Tetapi darah dari binatang yang dikorbankan untuk menutupi dosa-dosa umat
hanya sementara saja dan harus diulang kembali. Darah binatang korban itu adalah analogi yang
melambangkan darah Yesus yang harus dipersembahkan hanya satu kali saja karena dosa untuk selama-
lamanya (Ibr.10:12 9:14). Seluruhnya mengutarakan peraturan-peraturan yang tidak berkaitan dengan
kesusilaan, tetapi hukum yang menjadi dasar persekutuan lewat korban. Bagian akhir (pasal 18–27)
tentang hidup sebagai umat Allah, mengutarakan peraturan-peraturan yang semata-mata berkaitan
dengan masalah kesusilaan dengan membangun persekutuan lewat pemisahan (pengudusan) diri.
Lima persembahan korban diperlukan, memberi gambaran yang lengkap mengenai berkat-berkat
yang indah yang akhirnya akan datang melalui satu persembahan korban yang terakhir, yaitu kematian
Tuhan Yesus Kristus (1Yoh. 1:7).
Korban pertama berupa korban persembahan yang harus dibakar habis (1:1-7). Kata persembahan
disalin dari kata qorban (‫ )קרבן‬berarti “yang dibawa mendekat.” Sedangkan kata “korban” disalin dari kata
olah (‫)עלה‬, yang secara harfiah berarti “yang dinaikkan.”
Korban kedua, korban sajian (dari kata minkhah [‫ ]מנחה‬yang artinya menghormati), suatu korban
ucapan syukur dan suka rela.
Korban ketiga, korban keselamatan (zebah shelemim [‫ )]זבח ׁשלמים‬zebah artinya sembelihan,
shelem artinya ganjaran, imbalan, arti definitifnya korban pendamaian atau korban keselamatan.
Korban keempat, korban penghapus dosa (4:1 dst.), yaitu korban persembahan Karena imam
melakukan kesalahan, yang menyebabkan seluruh bangsa ikut berdosa. Kata salah berasal dari khattah
(‫)חּטאת‬, kejahatan yang bersifat ofensif, sejajar dengan kata Yunani hamartia. Dari 294 kali kata ini dipakai
dalam PL, 66 kali dalam Kitab Imamat.
Kelima, korban penebus salah (5:1 – 6:7), berasal dari kata asham (‫ )אׁשם‬yang artinya korban
penebus salah atau korban kompensasi, yaitu korban persembahan atas pelanggaran hukum yang tidak
disengaja.
Bagian yang ke-2 menjelaskan tentang 7 hari raya, pasal 18—27. Petunjuk pelaksanaan hari-hari
raya itu telah disampaikan di padang gurun ketika seluruh suku berkumpul di sekitar Kemah Suci, kira-kira

Pdt. FatiaroZega | 38
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

500 tahun sebelum Bait Allah dibangun. Namun, hari-raya-hari raya itu diberi jeda waktu agar semua orang
yang diam di Tanah Perjanjian itu dapat pergi ke Yerusalem tiga kali setahun untuk merayakan ketujuh
hari raya yang telah diperintahkan itu, Tiga kali setahun segala orangmu yang laki-laki harus menghadap
ke hadirat Tuhanmu TUHAN, Allah Israel (Kel 34:23). 37
Perjalanan yang pertama ke Yerusalem dilaksanakan pada bulan pertama tahun ibadah itu, ketika
ketiga Hari Raya diperingati, yaitu:

 Hari Raya Paskah, yang mulai pada malam hari yang ke 14;
 Hari Raya Roti Tak Beragi, mulai pada hari ke-15 dan berlangsung terus selama seminggu.
 Hari Raya Hulu Hasil, pada hari sesudah Sabat dalam minggu itu (Im 23:1-44).

Perjalanan kedua, yang dilaksanakan 7 minggu kemudian, memperingati Hari Raya Tujuh Minggu
atau yang dikenal dengan Hari Pentekosta (Kisah 2:1), yang jatuh pada hari Minggu, pada hari sesudah
Sabat, tepatnya 50 hari setelah Hari Raya Hulu Hasil.
Kelompok hari raya yang ketiga diperingati pada bulan ke-7. Termasuk di dalamnya adalah Hari
Raya Serunai pada hari pertama; Hari Raya Pendamaian pada hari ke-10, dan Hari Raya Pondok Daun dari
hari ke-15 sampai hari ke-22.
Selain ke tujuh hari raya juga ada hari Sabat, yang juga dinamakan hari raya. Ada Sabat mingguan
dan beberapa Sabat khusus yang juga sering disebut pertemuan kudus (Im.23:2-4, 7-8, 21, 24, 27, 35-
37). Semua ini merupakan kesempatan untuk bersekutu bersama-sama, merayakan kebaikan-kebaikan
Tuhan dan kesempatan mendengarkan ajaran dari firman-Nya yang kudus. Pada saat itu seorang pun tidak
boleh melakukan sesuatu pekerjaan di segala tempat mereka (Im 23:3, 14, 21, 31).

1. Pasal 1:1-16:34

Keenambelas pasal ini berisi ketetapan Allah untuk penebusan dari dosa dan dari pengasingan
antara Allah dengan manusia yang diakibatkan oleh dosa. Berbagai variasi dari kata kerja "mendamaikan"
(Ibr. kaphar) dipakai sekitar 48 kali dalam Imamat; kata bendanya, "pendamaian," dipakai 3 kali. Arti
dasarnya ialah "menutupi atau membuat penutup." Korban-korban darah PL (1:1-7:38) merupakan darah
penutup dosa yang bersifat sementara (bd. Ibr 10:4) sampai tiba saatnya Yesus Kristus mati sebagai
korban sempurna untuk menghapus dosa dunia (bd. Yoh 1:29; Rm 3:25; Ibr 10:11- 12). Imam-imam Lewi
(pasal 8-10) melambangkan pelayanan Kristus sebagai perantara, sedangkan Hari Pendamaian tahunan
(16:1-34) melambangkan penyaliban.

2. Pasal 17:1-27:34

Sebelas pasal selanjutnya menyajikan serangkaian standar praktis yang dengannya Allah
memanggil umat-Nya kepada kemurnian dan hidup kudus. Perintah Allah yang diulang-ulang ialah,
"Kuduslah kamu, sebab Aku TUHAN, Allahmu, kudus" (mis. 19:2; 20:7, 26). Kata-kata Ibrani untuk "kudus"
dipakai lebih dari 100 kali, dan ketika diterapkan kepada manusia menunjukkan hidup yang murni dan
taat. Kekudusan terungkap dalam pelaksanaan upacara (17:1-16) dan ibadah (pasal 23-25), tetapi
khususnya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari (pasal 18-22). Imamat diakhiri dengan suatu
nasihat dari Musa (26:1-46) dan pengarahan mengenai beberapa nazar khusus (27:1-34).

37Ke-7 hari raya Yahudi (mo’ed) itu adalah hari raya persiapan, hari raya Paskah, hari raya Pendamaian, hari

raya Pentahbisan, hari raya Pantekosta (Yahudi), hari raya Pondok Daun, hari raya Roti Yang Tidak Beragi.
Pdt. FatiaroZega | 39
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

D. Analisis Ringkas

1. Analisis Umum

Kitab ini identik dengan kitab hukum. Hukum-hukumnya mempunyai persamaan dengan materi
hukum dalam seluruh Pentateukh. Pertama, seperti Kitab Keluaran dan Kitab Ulangan, undang-undang di
Kitab Imamat dituangkan dalam kerangka kisah sejarah (contoh pasal 8 – 19; 24). Kedua, formula firman
ilahi diulang secara konsisten sepanyang Kitab ini (“TUHAN berfirman kepada Musa…”). Ungkapan itu
diulang 20 kali di sepanyang 27 pasal (hanya ps. 2, 3, 5, 7, 9, 10, 26 yang tidak diawali formula itu),
bahkan di seluruh Pentateukh. Ketiga, pengulangan kata-kata penting dan formula pembukaan dan
penutup digunakan untuk menandai berbagai unit sastra atau unit-unit perundangan yang berkaitan,
misalnya, ungkapan “inilah hukum” atau “inilah hal-hal” menetapkan pasal 6-17 sebagai satu unit sastra
(6:8; 7:1; 11:1; 17:2), dan ungkapan “Akulah TUHAN, Allahmu” yang berulang muncul adalah bagian yang
standar dalam pasal 18-26.
Kitab Imamat tidak memuat cerita atau kisah seperti kitab-kitab lain dari Taurat Musa, yakni
menempatkan peraturan dan cerita bercampur. Kitab ini berisikan undang-undang dan hukum semata-
mata. Cerita pendek dalam 10:1-7; 10:16-20 dan 24:10-14, hanya menjadi landasan saja untuk
menegaskan hukum tertentu, sehingga tidak bisa disebut "kisah". Kitab ini sesungguhnya bagian dari
perundangan atau aturan besar yang terangkai dalam Kel 25:1-31:18; 34:29-35; 31:1-18; Im 1:1-27:34,
dan Bil 1-10, yang secara keseluruhan dinamakan "perundang-perundangan Gunung Sinai."
Penyajian undang-undang di dalam Kitab Imamat secara logis disusun dalam kaitannya dengan
pembangunan dan pentahbisan Kemah Suci dalam Kel.40:1-33. Sebuah Kemah pertemuan untuk Yahweh.
Kitab Imamat mendokumentasikan sifat dan maksud tujuan liturgi Ibrani untuk Kemah Suci, termasuk
beberapa macam persembahan (Im 1–7) dan persyaratan-persyaratan untuk imam yang mengepalai
ibadah itu (imam besar).
Bagian lain dari Kitab Imamat berisi ketetapan-ketetapan hukum yang mengatur kehidupan bangsa
Ibrani agar dapat mencerminkan kekudusan sebagai umat-Nya dalam kehidupan setiap hari (cf. Kel.19:6).
Pasal 11-16 membicarakan berbagai hal haram yang menghalangi penyembahan yang seharusnya dan
hubungan dalam masyarakat, sementara pasal 17-25 terdiri atas berbagai pedoman praktis untuk hidup
kudus agar kehidupan keagamaan dan kehidupan sekular Israel tidak terpisah satu sama lain.
Dua pasal terakhir (26-27) memperkuat konteks kovenan dari undang-undang Imamat. Tujuan
dasar kitab ini dijelaskan dalam pasal 26, termasuk pemberitahuan berkat-berkat kovenan dan kutuk. Pasal
ini juga menghubungkan perundang-undangan dengan proses pembuatan kovenan di Sinai agar dengan
demikian Israel dapat menjadi umat-Nya dan Yahwehh dapat menjadi Allah mereka (26:45-46). Pasal
terakhir merupakan tambahan, yang dicantumkan karena hubungan kovenan sebenarnya merupakan
“pengambilan sumpah” di hadapan Yahwehh (kesamaan formula penutup dalam Im.26:46 dan 27:34).
Ketetapan-ketetapan yang menyangkut berbagai nazar dan persembahan selanjutnya mengajar umat itu
mengenai sifat sakral dan khidmat dari nazar mereka di hadapan Allah. 38

1. Analisis Per bagian

Bagian pertama, memuat undang-undangan tentang upacara korban (1:1-7:38). Dibicarakan


bahan korban bakaran (1:1-17), korban santapan (2:1-16), korban syukur (3:1- 17), korban penebus dosa
(Im 4:1-34), korban penebus salah (5:1-6:7). Lalu semua korban tsb. sekali lagi dibicarakan tetapi dari
segi lain, yakni upacaranya dan hak para imam atas sebagian dari korban-korban itu (6:1-7:38).
Bagian kedua, merinci proses pentahbisan para imam (8:1-10:20), yang merupakan pelaksanaan
perintah yang sudah diberikan (Kel 29). Para imam ditahbisan (8:1-39), yaitu Harun serta anak-anaknya.
Kemudian, dalam 9:1-21, para imam baru itu mulai bertugas dengan mempersembahkan semua korban

38Bagian ini dikutip dari Hill dan Walton, 193-194).


Pdt. FatiaroZega | 40
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

yang diatur (psl 1-7). Selanjutnya menjelaskan hukuman jika seseorang tidak berpegang pada aturan
sebagaimana ditetapkan (10:1-11).
Bagian ketiga, menjanjikan hukum-hukum tentang tahir dan najis (11:1-15:33), yaitu tentang
binatang halal dan haram (11:1-22), kenajisan perempuan yang bersalin (12:1-8), penyakit kulit (kusta)
dan caranya diperiksa oleh para imam (13:1- 59), korban pentahiran setelah penjakit kusta sembuh (14:1-
32), di rumah najis serta pentahirannya (14:33-57), najis akibat gejala-gejala seksual (15:1-33). Pasal 16
akhirnya memaparkan dengan panyang lebar upacara pendamaian (16:1-34), yang sekali setahun harus
dirayakan untuk menghapus segala dosa dan kenajisan umat. Pasal 16 ini boleh juga dianggap sebagai
bagian tersendiri.
Bagian keempat atau bagian terakhir (17:1-26:46) memperbincangkan kesucian yang dituntut oleh
Allah Yang Kudus serta kekudusan ibadah yang dirayakan Israel. Karena itu ada yang menyebutnya sebagai
"Taurat Kesucian." Sebab, berulang-ulang terdapatlah rumusan (atau yang serupa), “Kuduslah kamu,
sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. (19:2; 20:8,26; 21:6,8,15,23; cf.22:9,16,32). Selain mengutarakan
korban yang khusus, yakni darah serta lemaknya, juga tempat mempersembahkan korban (17:1-16),
mengenai masalah penyimpangan seksual dan penyimpangan hidup perkawinan yang suci (18:1-30).
Menyusul berbagai hukum tentang perkara hidup sehari-hari (19:1-37) dan hukum pidana (20:1-21).
Berikutnya, peraturan mengenai para pejabat ibadah, yaitu para imam (21:1-22:16) dan tentang binatang
yang boleh dipersembahkan sebagai korban (22:17-33). Disajikan juga daftar perayaan-perayaan
keagamaan serta ibadah yang berkaitan (23:1-44), yaitu hari Sabat (23:3-4), hari raya Paskah (23:5-8),
perayaan panen pertama (23:9-14), hari raya Pantekosta (23:15-22), hari pertama bulan ketujuh (23:23-
25), yaitu hari raya Pendamaian (23:26-32), perayaan Pondok Daun-daunan (23:33-44). Lalu suatu
kumpulan dari berbagai hukum tentang ibadah lagi, yaitu tentang minyak untuk lampu di Ruang Suci yang
tetap (24:1-4), roti sajian (24:5-9), menghujat dan hukum pembalasan (24:10-23). Ditetapkan pula
tentang perayaan tahun istirahat, yaitu tahun Sabat (25:1-7) dan tahun kebebasan/yobel (25:8-55).
Kesemuanya itu diakhiri dengan sederetan berkat dan kutuk untuk orang yang menepati atau melanggar
hukum-hukum itu (26:1-46).
Pasal terakhir Kitab Imamat (27:1-34) terlihat merupakan suatu tambahan saja yang menetapkan
penggantian korban nazar serta pernilaiannya (27:1-27), barang yang diharamkan (27:28-29) dan bagian
sepersepuluh yang wajib dengan setia diberikan umat Israel (27:30-33).39

E. Tema-tema Teologis Penting

1. Hukum
Sebagian besar hukum dalam Imamat adalah mengenai upacara keagamaan, tetapi terdapat juga
hukum mengenai kebersihan dan sikap moral yang serupa dengan Sepuluh Perintah. Tidak terdapat
perbedaan yang nyata antara hukum-hukum yang berbeda-beda itu, semua mencerminkan maksud Allah
terhadap bangsa Israel dan semuanya harus dipatuhi. Dalam PB pengorbanan Kristus membawa penyucian
yang menyeluruh, oleh karena itu hukum-hukum mengenai korban dan upacara penyucian tidak lagi
berlaku. Kendati demikian, semua hukum itu sangat berguna untuk menjelaskan arti kematian Kristus.

2. Korban
Ada 6 korban yang digambarkan dalam Imamat, yang digolongkan ke dalam 3 jenis.

a. Korban Persembahan
Bertujuan untuk memuliakan Allah dan mempersembahkan diri kepada-Nya. Bentuknya, korban
bakaran (binatang utuh dibakar), korban sajian, termasuk di dalamnya persembahan bukan binatang, dan
korban Keselamatan. Tujuannya ialah untuk menjaga hubungan dengan Allah. Wujudnya adalah korban
perdamaian, sebagian korban dibakar, sisanya dimakan dalam suatu acara makan bersama.

39Sumber dasar: Pengantar Kitab Khudus Ende: Kitab Levitika, dalam Program SABDA/OBL.
Pdt. FatiaroZega | 41
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

c. Korban Penyucian
Tujuannya untuk menghapus dosa dan memperbarui hubungan dengan Allah. Berupa korban
penghapus dosa (untuk dosa-dosa terhadap Allah), korban penebus salah (di mana ada ganti rugi yang
harus dibayar), korban pentahbisan, khusus bagi para imam.

3. Kekudusan
Kenyataan bahwa Allah itu kudus merupakan hal yang sudah selayaknya dalam Imamat, dan
menjadi dasar dari semua peraturan (11:44, 45; 19:2-4; 20:7, 8, 24-26). Kata kekudusan (‫ )קדׁש‬pada
hakikatnya menyatakan pengertian “pemisahan” perkara-perkara sekular untuk pelayanan dan, atau
penyembahan kepada Yahweh, yang juga terpisah sama sekali dari penciptanya. Dasar tuntutan
kekudusan ini karena umat Tuhan adalah imago Dei. Bacalah ayat-ayat tertera di atas.

2. Keadilan
Kekudusan dan keadilan Allah berjalan bersama-sama. Allah berlaku adil terhadap umat-Nya dan
mereka pun harus berlaku adil terhadap sesama. Peraturan yang diberikan dalam pasal 19 menunjukkan
bagaimana keadilan harus diberlakukan di Israel. Keadilan menuntut hak semua pihak dihargai dan semua
orang menerima haknya. Tidak mementingkan diri sendiri secara berlebihan, tidak merugikan orang lain
dan berbagi kepada orang yang lemah dan papa. Kita dapat menerapkan prinsip-prinsip ini dalam dunia
modern dewasa ini. Dalam Hukum Emas di PB (Mat.7:21), Yesus mengajarkan untuk melakukan apa yang
diharapkan dilakuan oleh orang lain, dan tidak melakukan apa yang tidak ingin dilakukan orang lain.

3. Perjanjian (Kovenan)
Oleh karena bangsa Israel adalah umat yang dengannya Allah telah membuat perjanjian istimewa,
maka mereka harus hidup sesuai dengan pola yang telah diatur-Nya. Tidak ada pilihan lain bagi bangsa
Israel selain mematuhi semua peraturan itu, dan Kitab Imamat merupakan kitab pertama dari Alkitab yang
dipelajari oleh anak-anak Israel. Bacalah pasal 26 dan perhatikanlah 8 hal yang berhubungan dengan
perjanjian itu.40

4. Ucapan Syukur
Israel perlu menyadari, bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh diberikan oleh Allah, termasuk
semua hukum dan korban yang memungkinkan mereka memperbarui hubungan dengan-Nya yang telah
rusak akibat dosa. Pasal 23 menggambar-kan upacara-upacara yang dapat dilakukan oleh bangsa Israel
untuk menunjukkan rasa syukur mereka kepada Allah. Kesempatan lain apa saja untuk menunjukkan rasa
syukur kepada Allah yang digambarkan dalam Imamat?

F. Penerapan dan Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

1. Penerapan Masa Kini


a. Rencana Allah bagi Suatu Bangsa yang Kudus
Peraturan-peraturan yang diberikan Allah kepada bangsa Israel menunjukkan kepada kita sifat-
sifat dan kehendak Allah dan memberikan patokan-patokan yang masih berlaku sampai saat ini…
1) Allah harus ditaati (Im 17:2)
2) Hanya Allah yang boleh disembah dan dilayani (Im 17:3-9; 20:1-5)
3) Kehidupan kekeluargaan harus dijaga (Im 18:6-19:2; 20:10-21)
5) Orang miskin harus dibantu (Im 19:9, 10)
6) Keadilan sangat penting dalam semua transaksi dagang (Im 19:11-23, 33-37)

40Berkat perjanjian itu (1) banyak dan berlimpah dengan buah dan hasil bumi, (2) panen yang tidak
berkeputusan, (3) aman dalam perlindungan ilahi, (4) sukses dan berkemenangan dalam setiap pertempuran, (5)
berkembang biak dan beranak cucu, (6) melimpah dengan kebaikan Allah yang tersimpan, (7) menikmati kehadirannya
dalam dan karena melaksankan perintah-perintah Tuhan, (8) menikmati semua berkat perjanjian Allah.
Pdt. FatiaroZega | 42
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

7) Hindari ilmu gaib dan sihir (Im 19:26-31; 20:6, 27)


8) Pemberian Allah harus disyukuri dan dirayakan (Im 23:1-44)
9) Tak seorang pun boleh menumpuk kekayaan dengan merugikan orang lain (Im.25:8-55).

b. Arti Korban dan Penebusan


Imamat menjelaskan mengenai sarana-sarana yang diberikan Allah untuk memerangi dosa dan
menolong kita untuk mengerti ajaran Perjanjian Baru tentang korban dan ganti korban. Pasal 16, mengenai
Hari Raya Penghapusan dosa, menjelaskan pokok-pokok berikut:

1) Allah itu kudus dan tidak kompromi terhadap dosa.


2) Dosa memisahkan manusia dari Allah.
3) Jika ingin bersekutu dengan Allah, dosa harus disingkirkan.
4) Untuk itu darah harus tertumpah. Upah dosa adalah maut.
5) Korban harian saja tidaklah cukup.
6) Bahkan Hari Penghapusan dosa perlu diulang setiap tahun.
7) Para imam, Kemah Suci dan manusia — semuanya perlu disucikan.
8) Korban dapat menghapuskan akibat dosa.
9) Persekutuan dengan Allah diperbarui, walaupun hanya sementara
10) Hari Penghapusan dosa merupakan karunia Allah, suatu anugerah dan bukan hak mutlak.

2. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru


Karena penekanan gandanya pada pendamaian darah dan kekudusan, kitab ini tetap ada sangkut-
paut dengan orang percaya di bawah perjanjian yang baru. PB mengajarkan bahwa darah pendamaian
dari binatang yang dikorbankan, hal yang menonjol dalam Imamat, menjadi "bayangan saja dari
keselamatan yang akan datang" (Ibr 10:1) dan menunjuk kepada Kristus sebagai korban penghapus dosa
yang dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 9:12). Perintah untuk hidup kudus dapat dicapai
sepenuhnya melalui darah Kristus yang mahal di dalam diri seorang percaya perjanjian baru, yang
terpanggil untuk kudus di dalam semua bidang hidupnya (1Pet 1:15). Hukum terbesar kedua sebagaimana
dinyatakan oleh Yesus diambil dari Im 19:18, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat
22:39).41

Kesimpulan

1. Allah, melalui Imamat memberi jalan kepada umat-Nya untuk mengetahui kehendak-Nya.
2. Allah melalui Kitab Imamat mengajarkan kepada umat-Nya untuk memberikan persembahan,
sebagai tanda ketaatan dan pengucapan syukur atas pemeliharaan- Nya.
3. Allah yang Mahakudus melalui Kitab Imamat mengajarkan kepada umat-Nya untuk hidup di
dalam kekudusan, sebab Ia sebagai sesembahan adalah kudus.
4. Allah yang memilih umat-Nya melalui Kitab Imamat mengajarkan kepada umat-Nya untuk
beribadah atau berhubungan dengan-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.
5. Seluruh hari raya maupun korban persembahan melambangkan tentang Kristus.

41Penuntun: SABDA/OLB
Pdt. FatiaroZega | 43
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

BAB IV
PENGANTAR KITAB BILANGAN

Kitab Bilangan merupakan kitab keempat dalam Pentateukh dan secara alami melanjutkan kisah
keluaran. Kitab ini menceritakan tentang sejarah bangsa Israel selama hampir 40 tahun, sejak mereka
meninggalkan Gunung Sinai sampai tiba di perbatasan timur Kanaan, di dataran Moab, berhadapan dengan
wilayah dan negeri yang dijanjikan Allah untuk diberikan kepada mereka.
Judul kitab ini dalam bahasa Ibrani adalah be’midbar (‫)ּבמִדְ ַּ֥ ַּּבר‬, yaitu kata dari kalimat pertama
yang artinya “di padang gurun” atau di “daerah liar.” Sedangkan kata Bilangan adalah terjemahan dari
Septuaginta, Αριθμοί (Arithmoi), bahasa Latin Numeri, atau dalam bahasa Inggris diberi nama Numbers,
yang mencerminkan peristiwa penting yang berkenaan dengan sensus jiwa yang dilaksankan dua kali, di
pasal 1 dan 26.42 Nama “Bilangan” ini cocok juga, sebab kitab ini penuh diisi dengan beragam bilangan.

A. Pendahuluan

Sebagian isi Kitab Bilangan menceritakan pengalaman bangsa Israel selama 40 tahun sebelum
memasuki Tanah Perjanjian. Dalam banyak hal, Kitab Bilangan menjadi bacaan yang menyedihkan, karena
menncatat banyak penderitaan bangsa Israel sebagai akibat langsung dari ketaksetiaan dan ketidaktaatan.
Sikap tidak taat itu dipandangan Tuhan sebagai “penistaan” yang menghasilkan murka Yahweh, sehingga
mayat umat Israel harus berhamparan di sepanjang jalan pengembaraan, serta harus mengalami
persinggahan yang menunda banyak waktu untuk menjangkau Kanaan. Sehingga “orang boleh
mengatakan bahwa Bilangan merupakan catatan mengenai kegagalan manusia terhadap kesetiaan ilahi.” 43

1. Kepenulisan
Penulis : Musa
Tema : Pengembaraan di Padang Gurun
Tanggal Penulisan: ± 1405 SM

2. Pentingnya Kitab Bilangan


Kitab Bilangan mengisahkan suatu bangsa yang seringkali berkecil hati dan takut menghadapi
kesukaran-kesukaran. Mereka melanggar perintah Allah dan tak mau menurut kepada Musa yang ditunjuk
TUHAN untuk memimpin mereka. Namun, kitab ini juga mengisahkan tentang kesetiaan TUHAN yang
memelihara bangsa-Nya, walaupun mereka itu lemah dan tidak taat. Juga mengisahkan tentang Musa,
yang bisa kurang sabar, tetapi tetap melayani TUHAN dan bangsa Israel dengan tabah.
Kitab Bilangan memiliki nilai dan peranan yang penting dalam sejarah, teologi, dan didaktik baik
itu umat Ibrani, juga bagi orang Kristen masa kini. Kitab ini penuh dengan gambaran rohani yang
mendalam, karena itu berulangkali dikutip di dalam PB. Petikan dari kitab ini muncul jelas dalam tulisan
rasul Paulus, seperti dalam 1Kor.10:1-12; Rm.15:4, bahkan dalam Ibr.3:7–4:6. Pentingnya kitab ini juga
karena mencatat peristiwa-peristiwa penting selama masa pengembaraan Israel di padang gurun hampir
40 tahun, sebelum kematian Musa dan pendudukan Kanaan.

3. Tujuan Penulisan Kitab Bilangan


Kitab Bilangan ditulis untuk mengisahkan alasan umat Israel tidak langsung masuk tanah
perjanjian setelah meninggalkan Gunung Sinai. Juga menggambarkan tuntutan Allah tentang iman dari
umat-Nya, balasan dan hukuman-Nya atas pemberontakan, dan bagaimana maksud-Nya yang
berkelanjutan itu akhirnya diwujudkan.

42Dalam beberapa hal merujuk kepada Hill dan Walton, 205.


43Balchin, dkk., 37.
Pdt. FatiaroZega | 44
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kitab Bilangan bermanfaat untuk keperluan sejarah, karena mencatat sejarah awal orang Ibrani.
Catatan perjalanan Israel dari Sinai ke dataran Moab melanjutkan narasi Kitab Keluaran dan Kitab Imamat,
dan menolong menjelaskan kehadiran orang Ibrani di Tanah Kanaan. Seluruh isi Kitab mengantisipasi dan
mempersiapkan pendudukan negeri perjanjian, sehingga memiliki korelasi antara penetapan hukum-
hukum di Sinai dengan jalannya penaklukkan Palestina (contoh Bil.33:50-36:13). Kitab ini disediakan untuk
mengisahkan pemilihan, pembagian, kekudusan dan masalah hak-hak pewarisan tanah Kanaan (cf. 26:52-
56; 33:51-53; 35:31-34; 36:9).
Secara teologis pentingnya Kitab Bilangan adalah untuk melestarikan kisah tahap-tahap permulaan
dari pelaksanaan praktis perjanjian Allah yang belum lama ditetapkan di Sinai. Kitab ini juga menekankan
kekudusan Allah, keadaan berdosa manusia, perlunya ketaatan pada Yahweh, tragedi ketidaktaatan pada
perintah-perintah Yahweh, dan kesetiaan sempurna dari Allah, Yahweh, pada persetujuan perjanjian-Nya.
Secara praktis, sebagian tujuan Kitab adalah untuk menata dan mengorganisasikan mantan para
budak Ibrani itu menjadi komunitas bersatu, yang dipersiapkan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban
kovenan mereka. Undang-undang, berbagai petunjuk dan ketetapan, sensus, penataan pasukan dan
pengaturan perkemahan masing-masing suku, tata cara keimaman, awan penuntun, hukum-hukum
pewarisan dan sebagainya, dimaksudkan untuk mengubah bangsa yang dulunya tertindas menjadi suatu
kerajaan imam-imam dan bangsa yang kudus.
Kitab ini juga penting untuk tujuan didaktik, karena memberikan peringatan yang tegas kepada
generasi-generasi mendatang bangsa Ibrani ini suatu ajaran dan nilai pentingnya ketaatan terhadap
perjanjian, juga sebagai pengajaran bagi gereja Yesus Kristus (cf. Rm.15:4; 1Kor.10:11).

4. Latar Belakang Kitab Bilangan


Salah satu ciri Kitab Bilangan ialah sebagian bersifat sejarah dan sebagian lagi bersifat undang-
undang. Kitab ini tidak menyajikan narasi penuh atau kisah bersambung yang ketat. Hanya sedikit yang
diceritakan mengenai masa-masa yang dilewati di padang gurun, sekalipun peristiwa-peristiwa tertentu
ditonjolkan dan digambarkan secara panjang lebar. Kesan keseluruhan ialah bahwa Allah tetap berkuasa
melawan pemberhalaan dan imoralitas bangsa Israel.
Mengawali narasinya, Kitab Bilangan menampilkan statistik jumlah warga “keluaran” (1:1-54) yang
didapat melalui sensus jiwa, yang dilakukan ulang di pasal 26. Sensus pertama diadakan oleh Musa di
Gunung Sinai sebelum bangsa itu berangkat, dan yang kedua ketika mereka berada di wilayah bangsa
Moab, di sebelah timur Sungai Yordan, kira-kira satu angkatan kemudian. Karena sebagian besar kitab ini
mengisahkan pengalaman-pengalaman Israel selama mengembara di padang gurun, maka tak heran
tradisi Yahudi mempertahankan nama Ibraninya, yaitu Be-Midbar, "Di Padang Gurun."
Secara kronologis, Kitab Bilangan merupakan sambungan sejarah yang dicatat di kitab Keluaran.
Sekitar satu tahun tinggal di Gunung Sinai, ketika itu Allah menetapkan perjanjian dengan Israel,
memberikan hukum Taurat dan pola Kemah Suci kepada Musa, serta memberikan pengarahan mengenai
isi kitab Imamat. Selanjutnya, bangsa Israel bersiap melanjutkan perjalanan mereka menuju tanah yang
dijanjikan Allah kepada mereka sebagai keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub. Tetapi, sejenak sebelum
meninggalkan Gunung Sinai, Allah menyuruh Musa membuat sensus menghitung semua laki-laki Israel
yang sanggup berperang (Bil 1:2-3). Sembilan belas hari kemudian bangsa itu berangkat mengadakan
perjalanan singkat ke Kadesy (Bil 10:11).
Kitab Bilangan mencatat pemberontakan serius Israel di Kadesy dan hukumannya di padang gurun
selama 39 tahun, sehingga Allah membawa suatu angkatan orang Israel yang baru ke dataran Moab, yang
terletak di seberang Sungai Yordan, bertentangan dengan Yeriko dan tanah perjanjian.
Sejarah menganggap bahwa kitab ini ditulis oleh Musa. Hal itu dinyatakan oleh:
1) Pentateukh Yahudi dan Samaria,
2) tradisi Yahudi,
3) oleh Yesus dan para penulis PB,
4) para penulis Kristen kuno,
5) para cendekiawan konservatif zaman modern dan

Pdt. FatiaroZega | 45
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

6) bukti di dalam kitab itu sendiri (mis. #/TB Bil 33:1-2).


Rupanya Musa mencatat peristiwa sepanjang pengembaraan di padang gurun dan kemudian
menyusunnya menjadi isi kitab Bilangan menjelang kematiannya (sekitar 1405 SM). Kebiasaan Musa untuk
menyebut dirinya dengan kata ganti orang ketiga memang biasa dilakukan dalam tulisan-tulisan kuno dan
karena itu tidak melemahkan kredibilitasnya sebagai penulis.44

5. Garis Besar Kitab Bilangan


1 Organisasi Bangsa Israel (1:1-10:36)
1:1-54 Sensus yang diperintahkan oleh Allah
2:1-4:49 Pengaturan perkemahan
5:1-6:27 Penyucian perkemahan
7:1-9:14 Penyembahan dalam Kemah Suci
9:15-10:36 Pimpinan Allah di perkemahan
2 Pengalaman Dalam Perjalanan (11:1-25:18)
11:1-35 Kerusuhan dalam perkemahan
12:1-16 Keluhan terhadap Musa
13:1-33 Penyelidikan ke Kanaan
14:1-45 Pemberontakan di perkemahan
15:1-41 Peraturan-peraturan tambahan
16:1-17:13 Pemberontakan terhadap kepemimpinan Musa
18:1-19:22 Hukum dan peraturan-peraturan
20:1-21:35 Peristiwa-peristiwa di perjalanan
22:1-24:25 Kisah Bileam
25:1-18 Dosa dan hukuman
3 Penantian Masuk Ke Tanah Perjanjian (26:1-33:49)
26:1-65 Sensus kedua
27:1-11 Anak-anak perempuan Zelafehad
27:12-23 Yosua menggantikan Musa
28:1-30:16 Hukum dan peraturan-peraturan
31:1-54 Penghakiman atas Midian
32:1-42 Penempatan suku-suku Ruben dan Gad
33:1-49 Tinjauan kisah perjalanan
4. Persiapan Untuk Memasuki Kanaan (33:50-36:13).45

B. Ciri Khas dan Pesan Kitab Bilangan

1. Enam Ciri Khas Kitab Bilangan46


a. Merupakan "Kitab Pengembaraan di Padang Gurun," yang menyatakan alasan mengapa Israel
tidak segera menduduki tanah perjanjian setelah meninggalkan Gunung Sinai, tetapi
sebaliknya harus mengembara tanpa tujuan selama 39 tahun lebih.
b. Merupakan "Kitab Keluhan," dan berkali-kali mencatat keluhan ketidak-puasan yang ketus
orang Israel terhadap Allah dan perlakuan-Nya terhadap mereka.
c. Menunjukkan prinsip bahwa tanpa iman tak mungkin berkenan kepada Allah (Ibr.11:6).
Sepanyang kitab ini terlihat bagaimana umat Allah bergerak maju hanya karena memercayai-
Nya dengan iman yang kokoh, memercayai janji-janji-Nya dan bersandar kepada-Nya sebagai
sumber hidup dan pengharapan mereka.
d. Kitab Bilangan dengan jelas sekali menyatakan prinsip bahwa jikalau satu angkatan gagal,
Allah akan membangkitkan angkatan lain untuk memenuhi janji-janji-Nya dan melaksanakan
misi-Nya.

44Penuntun, dalam :SABDA/OBL


45Balchin,
et.al, 39.
46Penuntun, Ciri Kahs Kitab Bilangan, dalam: SABDA/OBL

Pdt. FatiaroZega | 46
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

e. Sensus sebelum Kadesy (pasal 1-4) dan sensus kemudian di dataran Moab sebelum memasuki
Kanaan (pasal 26) menyatakan bahwa bukan kekuatan yang tidak memadai dari tentara Israel
yang membuat mereka tidak bisa masuk Kanaan di Kadesy tetapi kekurangan iman dan
ketaatan mereka.
f. Kitab Bilangan merupakan "Kitab Disiplin Ilahi," yang menunjukkan bahwa Allah memang
mendisiplin dan menghukum umat-Nya sendiri ketika mereka terus mengeluh dan tidak
percaya (cf. pasal 13-14).

2. Pesan Khas Kitab Bilangan47

a. Pengaturan yang Baik (1:1-10:10)


Pasal-pasal pembukaan menggambarkan bangsa Israel di gurun Sinai, termasuk keterangan
mengenai sensus, pemilihan imam-imam Lewi dan pentahbisan mereka, peraturan untuk orang nazir dan
tata cara penyembahan di Kemah Suci. Penekanan utama ialah pada kekudusan dan kesetiaan Allah.

b. Keluh-kesah dan Pemberontakan (10:11-20:29)


Di sini dapat ditelusuri perjalanan bangsa Israel setelah mereka meninggalkan Gunung Sinai hingga
mencapai Kadesy Barnea. Bagian ini mencatat kisah sedih yang berisi keluhan yang terus menerus
terhadap Allah dan mengenai hukuman yang kemudian dijatuhkan. Lagi-lagi ini merupakan peringatan
bagi mereka yang kurang percaya.

c. Kegagalan dan Kemenangan (21:1-36:13)


Dalam bagian ketiga, ditampilkan hal-hal yang menggembirakan. Catatan yang menonjol ialah
mengenai kemenangan yang diperoleh, walaupun masih ada kegagalan yang perlu dicatat. Ditampilkan
bagaimana Yosua diangkat sebagai pengganti Musa, dan persiapan-persiapan yang dibuat untuk memasuki
Tanah Perjanjian. Sementara terus menekankan mengenai kekudusan Allah, kitab ini juga memperlihatkan
bahwa Allah adalah Allah yang tertib. Dengan cara yang sama Allah memberikan petunjuk-petunjuk yang
jelas mengenai bagaimana mereka harus menjalani kehidupan dan ibadah mereka. Di bawah perjanjian
yang baru, prinsip segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur itu diungkapkan kembali
(1Kor.14:40).

C. Survai Ringkas

Kitab Bilangan memiliki 36 pasal dan 1.288 ayat. Amanat utamanya menjelaskan bagaimana umat
Allah baru bisa maju hanya dengan memercayai Dia dan menaati firman-Nya. Sekalipun perlu melewati
padang gurun untuk waktu tertentu, tetapi bukanlah maksud Allah bila satu angkatan harus hidup dan
mati di situ. Tetapi, perjalanan yang harusnya singkat, dari Gunung Sinai ke Kadesy, menjadi penderitaan
dan hukuman selama 39 tahun karena ketidakpercayaan mereka. Sepanjang sebagian besar kitab ini,
"angkatan Keluaran" Israel tidak beriman, memberontak, tidak berterima kasih atas mukjizat-mukjizat dan
pemeliharaan Allah. Umat itu terus bersungut-sungut segera setelah meninggalkan Gunung Sinai (pasal
11), Miryam dan Harun menentang Musa (12:1-16), Israel secara keseluruhan memberontak dengan
ketidakpercayaan di Kadesy dan menolak masuk ke Kanaan (pasal 14), Korah dan banyak orang Lewi
membangkang terhadap Musa (pasal 16), Musa sampai hilang kesabaran oleh pembangkangan mereka,
hingga akhirnya berdosa karena meluapkan kejengkelannya (20:1-29), orang Israel menyembah Baal
(25:1-18). Semua orang Israel berusia 20 tahun ke atas di Kadesy (kecuali Yoshua dan Kaleb) wafat di
padang gurun. Akhirnya, suatu angkatan baru yang diantar hingga batas timur tanah perjanjian (26:1-
36:13).

47Balchin, 40.
Pdt. FatiaroZega | 47
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kitab ini juga merekam peranan sejumlah tokoh yang “mewarnai” kisah pengembaraan yang
dicatat kitab ini. Tokoh utama dan terpenting sudah jelas adalah Musa. Buku ini mencatat percakapan
Musa dengan Hobab (10:29-32), doanya di Tabera (11:10-15), reaksinya terhadap kecaman (12),
keputusannya mengirim utusan memata-matai Kanaan (13), keprihatinannya terhadap kehormatan Allah
(14:13-19), ketidakikutsertaannya masuk ke dalam Tanah Perjanjian (20:2-13).
Tokoh penting kedua yang selalu disebut adalah Harun. Terutama dalam hubungannya dengan
pemberontakan Korah (Bil 16). Miryam, kakak perempuan Musa, juga merupakan salah seorang tokoh
dalam kitab ini. Dalam Pasal 12 diceritakan bagaimana ia dihukum oleh karena iri hati. Nama-nama lain
yang disebut termasuk Yosua dan Kaleb, dua orang mata-mata yang berani dan percaya kepada Allah,
sehingga hanya mereka berdua dari generasi itu yang diizinkan masuk ke Kanaan. Kitab Bilangan juga
mencatat kisah yang menarik mengenai Bileam dan Balak (pasal 22-24, 31).
Perlu juga diketahui, para kritikus Alkitab dari kalangan liberal suka mengajukan sejumlah
pertanyaan tentang ketepatan sejarah dan statistik dari kitab ini. Namun kalangan Injli percaya ketepatan
sejarah dari kitab ini dapat diterima, jika kita menyadari bahwa para penulis bangsa Ibrani tidak selalu
mengikuti urutan kronologis peristiwa-peristiwa secara ketat. Mereka lebih mementingkan arti dan
pentingnya peristiwa.

D. Analisis Ringkas

Sesuai dengan judulnya, Kitab Bilangan, di dalamnya dideskripsikan data statistik jumlah orang
Israel, baik secara keseluruhan maupun per suku. Sensus warga ini dilakukan dua kali, yang pertama pada
waktu masih tinggal di daerah sekitar gunung Sinai (pasal 1-4) dan yang kedua pada akhir perjalanan di
padang gurun (pasal 26). Selain mencatat cacah jiwa, kitab ini juga membahas berbagai hal. Misalnya
mencatat jumlah persembahan dan sumbangan dari pihak para pemimpin (pasal 7), besarnya korban
santapan dan korban curahan (pasal 15), jumlah hewan yang harus dipersembahkan pada hari-hari raya
(pasal 28-29) dan lainnya. Sehingga nama "Bilangan" untuk kitab ini memang tepat.
Secara keseluruhan kitab ini mengisahkan umat Yahweh yang baru diciptakan-Nya di gunung Sinai,
dan tentang tipikal generasi Israel pertama. Semua itu menjadi perlambang sejarah berikutnya. Di
dalamnya dirinci tatanan dan struktur umat Allah, baik berkenaan dengan ibadah (sebagaimana dalam
Kitab Keluaran dan Imamat), juga pemisahan antara kuasa politis (Yosua: Bil 27:12-23) dan kuasa religius
(Eleazar: Bil 20:22-29). Keimaman dan kaum Lewi diberi kedudukan khusus dalam keumatan (Bil 3:1-3;
5-13; 18:1-7). Juga penetapan pembagian Tanah Perjanjian kepada semua suku menurut besarnya dan
menurut peranan masing-masing suku (Bil 33:50-34:15).
Skopa yang merangkum masa Israel berkelana di gurun selama 40 tahun, dimulai saat mereka
bergerak dari gunung Sinai sampai di perbatasan Kanaan, ketika mereka berkemah di seberang Yordan.
Di situlah barisan pasukan Israel menyiapkan diri untuk menyerbu dan merebut tanah Kanaan. Kitab ini
meneruskan kisah Kitab Keluaran yang berhenti di gunung Sinai, dan mengantar ke masa yang dikisahkan
kitab Yosua.

1. Tinjauan Per Bagian


Kitab Bilangan memerikan sejarah perjalanan bangsa Israel sejak tiba di Gunung Sinai sampai
mereka mencapai kawasan Lembah Moab hampir 40 tahun kemudian. Kitab ini secara keseluruhan terbagi
dalam tiga bagian besar.

a. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Gunung Sinai (Bil 1:1-10:10)


Setelah umat Israel berada di Gunung Sinai selama kira-kira satu tahun, Tuhan menyuruh agar
menghitung jumlah seluruh laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas. Perhitungan itu menyatakan bahwa
ada 603,550 laki-laki yang memenuhi syarat untuk menjadi tentara Israel.

Pdt. FatiaroZega | 48
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

b. Peristiwa-peristiwa selama 38 tahun pengembaraan (10:11-21:35)


Pada hari kedua puluh, bulan kedua, pada tahun kedua, Tuhan mengangkat awan hadirat-Nya dari
Kemah Suci sehingga umat Israel mengikuti awan yang bergerak menuju Kadesy-barnea, kira-kira 160 mil
ke arah utara. Namun tidak lama kemudian orang banyak itu mulai bersungut-sungut dan memberontak
(11:1-10; pasal 16). Akhirnya umat Israel tiba di Kadesy-Barnea, dan di tempat itu umat Israel memaksa
untuk mengintai dulu keadaan Tanah Perjanjian itu sebelum memasukinya (13-14; cf.Ul.1:22-40).
Dua belas pengintai diutus, dan ketika mereka kembali 40 hari kemudian (Bil 13:25), 10 orang dari
mereka mengajukan keberatan untuk memasuki tanah itu karena ada raksasa- raksasa dan tembok yang
kokoh yang mengelilingi kota-kota di negeri itu. Walaupun Yosua dan Kaleb memberi jaminan, “ Tuhan
menyertai kita; janganlah takut kepada mereka (13:30-14:24), namun segenap umat sudah terhasut dan
bersungut-sungut kepada Tuhan. Pemberontakan umat Israel itu berakibat 38 tahun pengembaraan yang
sia-sia di padang gurun sampai seluruh orang yang berusia 20 tahun ke atas meninggal. Hanya Yosua dan
Kaleb dari generasi pertama yang akhirnya memasuki tanah itu.
Pemberontakan yang lain terjadi ketika Korah, Datan, Abiram beserta 250 orang pemuka yang
berkumpul menentang kepemimpinan Musa dan Harun. Allah menegaskan dukungan-Nya terhadap
kepemimpinan Musa dengan mengirimkan gempa bumi yang mengakibatkan tanah terbelah dan menelan
mereka yang membangkang itu. Karena mereka tidak mau mengakui peristiwa ini sebagai hukuman dari
Allah, maka umat langsung mengecam Musa dan Harun sehingga berakibat 14,700 pembangkang
meninggal pula (16:1-50). Kemudian, akibat umat itu kembali bersungut terhadap Musa, ribuan dari
mereka dipagut oleh ular berbisa dan meninggal. Musa kemudian memohon doa kepada Tuhan dan Tuhan
menuruhnya untuk menaikkan ular tembaga pada sebuah tiang agar setiap orang yang memandang ular
itu akan sembuh (Bil.21:4-9).
Ketika mereka berangkat menuju ke arah utara, umat Israel berjumpa dengan Sihon, raja Amori,
dan Og, raja Basan. Bangsa Israel berhasil mengalahkan keduanya dalam medan peperangan dan
menduduki wilayah mereka di sebelah timur sungai Yordan dan Laut Mati (21:21-35).

c. Peristiwa-peristiwa di Lembah Moab dan Petunjuk-petunjuk penaklukkan (22-36)


Dalam persiapan memasuki tanah Kanaan, umat Israel berkumpul di padang Moab. Padang ini
terletak di sebelah utara Laut Mati, ke arah timur Sungai Yordan, bersebelahan dengan Yerikho, kira-kira
230 mil dari Gunung Sinai. Peristiwa ini diikuti dengan upaya dari Balak, Bileam, dan orang-orang Midian
yang ingin menaklukkan umat Allah dengan cara membujuk mereka untuk berbuat kejahatan moral. Akibat
ikut bujukan Bileam dan rayuan kejahatan mereka, 24.000 orang Israel meninggal (22:12 25:1-9). Allah
mengharuskan kematian seluruh orang Midian dan mereka membunuh Bileam dengan pedang (31:1-18).
Kemudian Tuhan menyuruh Musa dan Eliezer untuk menghitung kembali semua laki- laki yang berusia 20
tahun ke atas dari generasi yang baru, seperti yang telah dilakukan 38 tahun sebelumnya di Gunung Sinai.
Hasil perhitungan berjumlah 601.730 orang (26:51). 48

E. Tema-tema Teologis Utama

1. Angka Sensus
Penghitungan jumlah orang merupakan prosedur administratif yang biasa di Timur Dekat Kuno.
Sensus itu mempunyai fungsi memastikan dan merekrut tenaga-tenaga untuk berperang (cf. Bil.1:3), dan
untuk pembagian tugas pekerjaan dan penyembahan (misalnya Bil.3:4). Selain itu, sensus menjadi dasar
untuk menetapkan persembahan khusus (cf. Kel. 30:11-16). Bersamaan dengan petunjuk-petunjuk untuk
menata suku-suku Ibrani dalam formasi pasukan dan perkemahan (pasal 2). Pengambilan sensus
mempunyai akibat praktis, yaitu membantu mengorganisasikan para bekas budak ini menjadi umat Allah
yang bersatu.

48Pengantar Bible Pathway: Pendahuluan Bilangan


Pdt. FatiaroZega | 49
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

1. Angka-angka Statistik Sensus Pasal 1 dan 26

Suku Ayat Acuan Sensus 1 Angka (pasal 1) Ayat Acuan Sensus 2 Angka (pasal 26)
Ruben 1:20-21 46.500 26:5-11 43.730
Simeon 1:22-23 59.300 26:12-14 22.200-
Gad 1:24-25 45.650 26:15-18 40.500
Yehuda 1:26-27 74:600 +
26:19-22 76.500+
Isakhar 1:28-29 54.400 26:23-25 64.300
Zebulon 1:30-31 57.400 26:26-27 60.500
Efraim 1:32-33 40.500 26:35-37 32.500
Manasye 1:34-35 32.200_ 26:28-34 52.700
Benyamin 1:36-37 35.400 26:38-41 45.600
Dan 1:38-39 62.700 26:42-43 64.400
Asyer 1:40-41 41.500 26:44-47 53.400
Naftali 1:42-43 53.400 26:48-50 45.400
Jumlah 603.550 601.730
Rata-rata per suku 50.296 50.144
Jumlah tertinggi 74.600 76.500
Jumlah terendah 32.200 22.200
Peningkatan terbesar Suku Manasye (20.500)
Penurunan terbesar Suku Simeon (37.100)

2. Pemeliharaan Allah
Kita menemukan beberapa ilustrasi dalam Bilangan mengenai bagaimana Allah memenuhi
kebutuhan umat-Nya. Contoh, Bil 20:1-11; 21:1-9; 27:1-11, (cf.Bil 36:1-12); Bil 27:12-23; 35:1-5; 35:6-
28. Renungkanlah bagaimana cara Allah memenuhi kebutuhan umat-Nya dewasa ini.

3. Ketidaksenangan Allah
Salah satu aspek yang menyedihkan dalam Bilangan ialah kenyataan bahwa Allah sering kali
murka kepada umat-Nya (11:1-3; 11:33; 12:1-16; 14:20-23; 14:36-38; 16:31-35; 25:1-3). Apa yang
diperbuat oleh umat Allah pada masa kini yang membuat Allah sedih?

4. Keteraturan Allah
Allah adalah Allah yang teratur dan tertib. Lihat pasal 1; 2; 3; 4; 26; 32 mengenai penjumlahan
umat-Nya, pengaturan perkemahan suku-suku. Lihat juga 7:1-19:14; pasal 15; 18; 19; 28; 29 mengenai
tata-cara ibadah.

5. Pimpinan Allah
Patut dicatat, kendatipun terjadi pembangkangan yang terus menerus, Allah masih memimpin
umat-Nya dalam pengembaraan mereka dengan tiang awan dan api (9:15-23). Sampai saat ini Allah masih
memimpin umat-Nya: bagaimana cara Allah melakukannya?

F. Penerapan dan Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

1. Penerapan
a. Kita Diselamatkan untuk Melayani
Dalam Keluaran kita membaca kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan, dalam Bilangan
penekanan terletak pada pelayanan. Hanya orang yang sudah diselamatkan yang dapat sungguh-sungguh
menyembah dan melayani Allah yang hidup.

Pdt. FatiaroZega | 50
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

b. Allah Adalah Allah yang Tertib


Kitab ini berisi banyak hukum dan peraturan yang mengingatkan kita bahwa dalam melayani Allah
"segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur" (1Ko 14:40).

c. Dosa-dosa yang sering dilakukan oleh umat Allah


1) Dosa tidak percaya. Kegagalan bangsa Israel untuk masuk ke Tanah Perjanjian disebabkan
oleh ketidakpercayaan.
2) Dosa pemberontakan. Dalam Bilangan kita membaca beberapa kisah mengenai
pemberontakan. Kita semua cenderung terlalu mudah untuk menyerah kepada semangat
pemberontakan dan melawan para pemimpin yang dipilih Allah.
3) Dosa kecemburuan. Harun dan Miryam, keduanya membuat Allah tidak senang. Hati-hati
terhadap kecemburuan.

d. Allah Menghargai Kesetiaan


Kaleb dan Yosua bertahan sebagai pengikut Allah yang setia dan hanya mereka yang
diperbolehkan memasuki Tanah Perjanjian. Secara tragis mudah bagi kita untuk merasa takut menghadapi
kesukaran-kesukaran, tetapi iman mengalahkan hal yang tidak mungkin.

2. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru


Keluhan dan ketidakpercayaan Israel disebutkan sebagai peringatan bagi orang percaya di bawah
perjanjian yang baru (1Kor 10:5-11; Ibr 3:16-4:6). Hebatnya dosa Bileam (pasal 22-24) dan
pemberontakan Korah (pasal 16) juga disebutkan (2Pet 2:15-16; Yud. 1:11; Why 2:14). Yesus mengacu
kepada ular tembaga (Bil 21:7-9) sebagai ilustrasi dari diri-Nya yang diangkat sehingga mereka yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:14- 16); juga Kristus
dibandingkan dengan batu karang di mana orang Israel minum air di padang gurun (1Kor 10:4) dan dengan
manna surgawi yang mereka makan (Yoh 6:31-33).

Kesimpulan

1. Kitab Bilangan mengajarkan kemurahan Allah dalam mengampuni dan menyatakan keadilan
Allah terhadap umat-Nya yang berbuat dosa.
2. Pemberontakan dan ketidaktaatan kepada Allah hanya menghasilkan murka dan hukuman
Allah.
3. Hidup yang berkemenangan, hanya dapat diperoleh dengan iman yang penuh kepercayaan
dan ketergantungan terhadap Allah.

Pdt. FatiaroZega | 51
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

BAB V
PENGANTAR KITAB ULANGAN

Kitab Ulangan menjadi kitab penutup dari kelima dari Kitab Taurat Musa. Komposisi isinya berupa
tiga rangkaian amanat yang diucapkan Musa di depan bangsa Israel sewaktu mereka berada di negeri
Moab. Mereka berhenti di situ sesudah mengakhiri perjalanan panjang lewat padang gurun, sebelum
memasuki Kanaan untuk menduduki negeri itu. Masa perhentian sebelum bangsa Israel memasuki Kanaan
merupakan masa peralihan dari generasi lama ke generasi baru. Semua generasi lama sudah habis.
Keimaman Harun sudah diganti oleh Eleazar, dan disinilah Yosua ditetapkan sebagai pemimpin baru. Alih
generasi itu dimulai pada peristiwa Kadesy-Barnea, dengan kematian Harun (cf. Bilangan 20).

A. Pendahuluan

Selama tiga puluh delapan tahun tertunda memasuki tanah Kanaan, sejak dari Gunung Sinai, orang
Israel berdiam di padang Paran dan Kadesy-Barnea, sampai semua “generasi Mesir” mati. Kemudian
mereka melanjutkan perjalanan dengan memutar hindari Edom, hingga tiba di dataran Moab. Di tanah
Moab pasukan Israel berkemah menantikan saat yang dirancang Allah. Selama masa penantian itulah Musa
memberikan tiga pidato penting dan terakhirnya sebelum wafat, sebagai amanat perpisahan. Amanat-
amanat itu berupa pengulangan dan penekanan kembali perjanjian yang dibuat antara Allah dan bangsa
Israel di Sinai, untuk mengingatkan mereka tentang arti menjadi umat Allah. Bentuk perjanjian dibuat
sesuai dengan pola umum naskah perjanjian di daerah Asia Timur Dekat kuno, di antaranya, prolog latar
belakang historis, daftar kewajiban, uraian mengenai berkat dan kutuk, saksi-saksi perjanjian, serta
pengaturan untuk menyimpan dan membaca dokumen perjanjian. 49

1. Kepenulisan
Tema : Pembaruan Perjanjian (Suatu tantangan bagi umat Allah)
Tanggal Penulisan: Sekitar 1405 SM.

Beberapa ahli mempertanyakan kepenulisan Kitab Ulangan, namun tidak ada alasan untuk
meragukan Musa sendiri sebagai penulisnya, kecuali pada bagian akhir, di pasal 34 yang menceritakan
kematian Musa. Sangat mungkin Yosua turut berperan dalam menutup kitab ini. Menurut para ahli injili,
pada kenyataannya pola hidup yang digambarkannya cocok dengan latar belakang kehidupan bangsa
Israel sebelum adanya kerajaan. Contoh-contoh perjanjian dan prinsip-prinsip yang terdapat dalam
Keluaran seringkali dikemukakan secara berbeda di dalam Ulangan. Mungkin hal ini dilakukan untuk
memenuhi situasi yang berbeda , tetapi tidak berarti tidak didasarkan pada bahan-bahan dari Musa.50

2. Judul
Nama Ibrani untuk kitab Ulangan diambil dari baris pembukaan kitab ini yang berbunyi “Inilah
perkataan-perkataan itu” ( ~yrªIb'D>h; hl,aäe) = Eleh Haddebarim), lalu dinamakan
Debarim. Nama “Ulangan” diambil dari salinan Yunani (LXX) Deuteros yang berarti kedua atau ulangan
dan kata nomos atau hukum, sehingga membentuk nama “Hukum Kedua” atau Ulangan Hukum. Judul
dalam bahasa Yunani ini merupakan pengalihan bahasa yang sedikit kurang tepat dari 17:18 yang aslinya
berarti “salinan dari hukum ini.”51 Istilah hukum kedua (second law) itu tak dimaksudkan sebagai hukum

49Andrew E. Hill dan J. H. Walton, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004), 228
50Lihatargumentasi ini dalam E. Hill dan J. H. Walton, hal. 225-228.
51Balchin, dkk,

Pdt. FatiaroZega | 52
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

yang baru, melainkan Salinan hukum yang sudah diberikan di Sinai yang diulangi dan ditekankan kembali
(reviewed).
Sesuai dengan judul Ibraninya, “Kitab perkataan-perkataan”, Kitab Ulangan berisi perkataan-
perkataan yang disampaikan Musa dalam tiga rangkaian khotbah. Isinya penting sekali, selain berupa
amanat terakhir, juga mengulangi kembali ingatan pada hukum-hukum yang telah diberikan dalam kisah
Keluaran, tetapi dengan diberi penekanan baru dan beberapa tambahan yang sangat perlu bagi angkatan
baru Israel yang dibesarkan di padang gurun itu.

2. Pentingnya Kitab Ulangan


Maksud Musa mula-mula dalam menulis Kitab ini ialah untuk menasihati dan mengarahkan
angkatan Israel tentang beberapa pokok penting.

a. Musa mengingatkan bangsa Israel tentang peristiwa-peristiwa besar selama 40 tahun yang
terakhir. Ia meminta kepada bangsa itu supaya mereka ingat bagaimana Allah memimpin
mereka melalui padang gurun dan karena itu mereka harus taat dan setia kepada Allah.
b. Musa mengulangi Sepuluh Perintah Allah, dan menekankan arti perintah yang pertama. Ia
minta dengan sangat supaya orang Israel beribadat hanya kepada TUHAN saja. Lalu ia
mengulangi beberapa hukum dan perintah yang mengatur kehidupan bangsa Israel di tanah
yang sudah dijanjikan.
c. Musa mengingatkan bangsa Israel arti dari ikatan perjanjian Allah dengan mereka. Ia
mendorong mereka supaya membarui kesediaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban.
d. Yosua ditunjuk sebagai pengganti Musa untuk memimpin umat Allah. Sesudah menyanyikan
sebuah lagu pujian bagi kesetiaan TUHAN, dan mengucapkan berkat atas suku-suku Israel,
Musa meninggal di Moab, di sebelah timur Sungai Yordan.

Tema pokok buku ini ialah bahwa Allah sudah menyelamatkan dan memberkati umat pilihan-Nya,
bangsa yang dikasihi-Nya. Jadi bangsa Israel tak boleh lupa akan hal itu. Mereka harus mentaati Allah,
supaya mereka tetap hidup dan terus diberkati. Ayat-ayat yang paling penting dalam buku ini ialah Ul 6:4-
6. Ayat- ayat ini memuat kata-kata yang oleh Yesus disebut hukum yang terbesar, "Cintailah TUHAN
Allahmu dengan sepenuh hatimu: Tunjukkan itu dalam cara hidupmu dan dalam perbuatanmu."

3. Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari pidato-pidato Musa ialah untuk meyakinkan bangsa Israel sebagai umat Allah
sebelum ia menyerahkan tampuk pimpinan kepada Yosua dan bangsa itu berjuang melawan orang Kanaan.
Secara keseluruhan Kitab Ulangan mengajarkan isi dan arti agama Israel, menantang mereka untuk
melaksanakan peraturan-peraturannya dan mendorong bangsa itu untuk menyerahkan diri sekali lagi pada
pengabdian kepada Allah. Kitab ini menggambarkan kehidupan berbahagia dalam persekutuan dengan
Allah sambil menikmati segala berkat-Nya, dan membandingkannya dengan akibat yang akan terjadi jika
mereka melalaikan perjanjian. Kitab ini dapat digambarkan sebagai suatu kitab "undang-undang" bagi
Israel dan bukan hanya sebagai buku pegangan bagi para pemimpin mereka.

4. Latar Belakang Penulisan


Melalui amanat perpisahan, Musa mengulas kembali dan memperbarui perjanjian Allah dengan
Israel demi angkatan Israel yang baru. Mereka kini sudah mencapai akhir dari pengembaraan dan siap
masuk ke Kanaan. Sebagian besar angkatan ini tidak mengingat Paskah yang pertama, penyeberangan
Laut Merah, atau pemberian Hukum di Gunung Sinai. Karena itu mereka memerlukan pengisahan kembali
semangat perjanjian, hukum Taurat, dan kesetiaan Allah, dan suatu pernyataan baru mengenai berbagai
berkat yang menyertai ketaatan dan kutuk yang menyertai ketidaktaatan. Berbeda dengan kitab Bilangan
yang mencatat pengembaraan "angkatan keluaran" yang suka memberontak selama 39 tahun, kitab

Pdt. FatiaroZega | 53
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Ulangan meliputi masa yang pendek sekitar satu bulan pada satu tempat di dataran Moab sebelah timur
Yerikho dan Sungai Yordan.
Kitab Ulangan ditulis oleh Musa (Ul.31:9, 24-26; cf. Bil 4:44-46; 29:1) untuk diwariskan kepada
Israel sebagai dokumen perjanjian yang harus dibacakan seluruhnya di hadapan seluruh bangsa setiap
tujuh tahun (Ul.31:10-13). Musa menyelesaikan penulisan kitab ini menjelang kematiannya sekitar tahun
1405 SM. Musa sebagai penulis kitab ini ditegaskan juga oleh:

a. Pentateukh Samaria dan Yahudi.


b. Para penulis PL (mis. Yos 1:7; 1Raj 2:3; 2Raj 14:6; Ezr 3:2; Neh 1:8-9; Dan 9:11).
c. Yesus (Mat.19:7-9; Yoh 5:45-47) dan penulis PB yang lain (mis. Kis. 3:22-23; Rm 10:19).
d. Para cendekiawan Kristen zaman dalu
e. Cendikiawan Keyakinan Evangelical-konservatif dan Pantekostal masa kini.
f. Bukti di dalam kitab Ulangan sendiri (mis. kesamaan susunan dengan bentuk-bentuk
perjanjian yang ditulis pada abad ke-15 SM). Kisah kematian Musa (34:1-12) pasti
ditambahkan segera sesudah peristiwa itu terjadi (sangat mungkin oleh Yosua) sebagai
penghargaan yang layak bagi Musa, hamba Tuhan itu.

B. Survei Singkat Kitab Ulangan

Kitab Ulangan secara khusus memokuskan pesan mengenai persiapan untuk menjalani kehidupan
dan kewajiban-kewajiban rohani umat Israel di negeri Kanaan. Melalui beberapa rangkaian amanat yang
disampaikan selayaknya orang berkhotbah, Musa memperingati generasi baru yang sebentar lagi akan
menikmati Tanah Perjanjian itu untuk menjaga keeksklusivan dan kemurnian penyembahan kepada
Yahweh. Oleh karena itulah maka Musa memberikan rangkuman penting sejarah periode di padang gurun,
mengenai perjanjian antara Tuhan dan Israel dan pemilihn Allah atas mereka sebagai umatnya ((5:2; 7:6;
26:16-19; 27:9), mengasihi dan takut akan Allah (6:4-5, 24), melaksanakan hukum dan peraturan Allah
dengan konsekuen dan sungguh-sungguh (4:5-8; 30:11-14), mengulang kembali Hukum Allah atau
Dekalog (5:2) dan beberapa pokok penting lainnya. Kitab ini merupakan dokumen dari amanat perpisahan
Musa yang mengulas kembali dan memperbarui perjanjian Allah dengan angkatan baru Israel yang terlahir
selama masa pengembaraan di padang gurun, yang akan memasuki Kanaan, Tanah Perjanjian (cf.4:1).
Pesan dan teguran terakhir Musa ini terjadi di akhir 120 tahun masa hidupnya yang luar biasa,
sementara mereka berada di dataran Moab, tepatnya pada hari pertama bulan ke-11 tahun ke-40
pengembaraan, atau sekitar 2 bulan 10 hari sebelum memasuki Tanah Perjanjian (1:3-5). Perlunya
pengulangan ini mengingat generasi baru Israel tidak mengalami paskah pertama, penyeberangan laut
Merah atau pemberian hukum di gunung Sinai, dan tidak mengingat pengalaman pengembaraan selama
40 tahun. Selain itu, kitab ini juga mengulas suatu penyataan baru mengenai berbagai berkat yang
menyertai ketaatan dan kutuk yang menyertai ketidaktaatan.

1. Ciri Khas Kitab Ulangan


Karakter : bersifat sejarah dan hukum, cf. Luk 24:44.
Pasal kunci : 29 (Perjanjian Palestina)
Ayat Kunci : 6:5, mengasihi Allah dengan segenap hati” dan 27:9, "Diamlah dan dengarlah,
hai orang Israel. Pada hari ini engkau telah menjadi umat TUHAN, Allahmu.”
Kata-kata kunci : ingat, perjanjian (kovenan), hukum (cf. 4:9-10).
Gagasan kunci : Taati dan lakukan, 10:12-13.
Kitab ini dapat disebut juga sebagai ...

a. Kitab Peralihan

Pdt. FatiaroZega | 54
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kitab Ulangan, menurut Baxter,52 dapat disebut sebagai kitab peralihan. Peralihan yang dinyatakan
dengan 4 cara:
1) Peralihan ke suatu generasi baru. Generasi lama (yang lahir di Mesir) telah mati sebelum
menyeberangi sungai Zered (Ul 2:13-15), tinggal Musa, Yosua dan Kaleb.
2) Peralihan ke suatu pemilikan yang baru. Dari bangsa pengembara beralih menjadi penduduk
menetap (di Kanaan)
3) Peralihan ke suatu pengalaman hidup yang baru. Kemah berganti rumah, kehidupan nomadis
(pengembara) berubah menjadi kehidupan menetap. Dari memakan makanan di padang
gurun beralih akan memakan hasil tanah Kanaan, berupa susu, madu, gandum dan anggur.
4) Peralihan ke suatu penyataan yang baru, yaitu tentang kasih Tuhan (4:37; 7:7-8), tugas yang
baru, dan tingkah laku yang baru, yang sesuai dengan ajaran dan tuntutan hukum Tuhan.

Dalam beberapa hal, karakter Kitab Ulangan memiliki persamaan dengan Kisah Para Rasul di PB.
Sebab Kis juga berada diurutan kelima di PB, suatu peralihan dari ke-4 Injil ke deretan daftar surat-surat
kiriman. Kisah Para Rasul sama-sama ditujukan kepada generasi baru, yaitu orang yang dilahirkan kembali
di dalam Kristus. Sama-sama menuju ke negeri pemilikan yang baru, Kanaan surgawi (cf. Ef.1:3). juga
merupakan tanda peralihan kepada pengalaman hidup yang baru, yaitu suatu kelahiran, kehidupan dan
kuasa baru di dalam Roh Kudus. Kisah Para Rasul juga merupakan kitab peralihan kepada penyataan baru,
yaitu penyataan beragam hikmat Allah (cf. Ef.3:10-11).

b. Kitab Ajaran dan Kenangan


1) Kitab Ulangan merupakan amanat yang menyediakan landasan dan motivasi untuk menaati
Allah dan perjanjian-Nya bagi angkatan baru Israel yang akan memasuki Kanaan.
2) Kitab Ulangan merupakan Kitab Hukum Kedua, berupa rangkuman perintah dan sabda Tuhan
Allah yang terdapat dalam keempat kitab sebelumnya (cari dan temukan!).
3) Kitab Ulangan merupakan kitab kenangan. Nasihat yang khas Ulangan kira-kira dalam
rumusan begini: “Ingatlah… dan jangan melupakan!” Amanat Ulangan menasihati Israel
untuk mempertahankan dan menaati kebenaran yang sudah dinyatakan Allah sebelumnya
dalam firman-Nya yang absolut dan tak berubah. Contoh: 4:9-19, 23; 5:15; 7:18; 8:2-6; 9:7;
16:3; 24:9; 25:17; 32:7.
4) Kitab Ulangan memberi rumusan yang penting dalam memercayai dan menaati Allah dengan
segenap jiwa raga secara tekun. Rumusan itu berupa “iman tambah ketaatan”, yang akan
memungkinkan Israel mewarisi janji-janji berkat Allah yang penuh. Ketiadaan iman dan
ketaatan akan mengakibatkan hukuman dan kegagalan dalam segala aspek (cf. 4:27-31).

2. Kepenulisan Kitab
Sampai pada pertengahan milennium kedua Masehi, Kitab Ulangan diakui sebagai karya Musa.
Tetapi dampak dari kebangkitan rasionalisme era renaisans yang muncul setelah abad pertengahan,
meragukan keotentikan tulisan Musa. Namun, tidak ada alasan untuk meragukan bahwa bahan berasal
langsung dari Musa, kecuali tambahan pada bagian akhir. Pandangan “teori penulis banyak” yang
menyatakan ditulis selama masa reformasi rohani Hizkia atau Yosia, atau setelah masa pengasingan tidak
perlu dipercayai, karena tidak didukung fakta. Juga tidak ada isi kitab yang mengindikasikan isinya
berhubungan dengan tradisi raja Daud, Bait Allah di Yerusalem atau zaman raja-raja.
Menurut Balchin, dan kawan-kawan, pada kenyataannya pola hidup yang digambarkan kitab ini
cocok dengan latar belakang kehidupan Israel sebelum era kerajaan. Sekalipun sangat sukar untuk
menentukan kapan akhirnya kitab ini ditulis, namun contoh-contoh perjanjian dan prinsip-prinsip yang
terdapat dalam kitab Keluaran sering ditemukan secara berbeda di dalam Ulangan, hal itu bisa saja terjadi
karena memenuhi tuntutan situasi yang berbeda.53 Kitab ini patut diterima sebagai tulisan Musa, dan “tidak

52J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 1, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004, 203
53John Balchin, dkk, 43.
Pdt. FatiaroZega | 55
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

dapat disangkal kitab ini sangat mempengaruhi nabi-nabi54 yang hidup jauh sesudah Musa. Musa-lah yang
menjadi pola yang ditetapkan dalam prinsip-prinsip agama Israel.
a. Nesesitas Penulisan
Kitab Ulangan adalah sebuah karya profetik yang sangat spesial, dan merupakan amanat terakhir
Musa. Tujuan utama amanat Musa yang diutarakan dalam bentuk rangkaian khotbah itu ialah demi
meyakinkan hati umat Israel bahwa mereka adalah umat Allah (27:9), merekalah yang akan berjuang
menaklukkan negeri Kanaan. Amanat ini disampaikan sebelum ia menyerahkan tampuk kepemimpinan
kepada Yosua, penggantinya.
Secara keseluruhan Ulangan mengajarkan isi dan arti iman (agama) Israel, menantang dan
mendorong umat Allah itu untuk melaksanakan peraturan-peraturan dengan taat sebagai ibadat dan
pelayanan kepada Allah. Kitab Ulangan menggambarkan “kehidupan bahagia” dalam persekutuan dengan
Allah sambil menikmati segala berkat-Nya dan membandingkan dengan akibat yang akan terjadi jika
mereka melalaikan perjanjian Allah. Kitab ini hampir dapat digambarkan sebagai suatu kitab “undang-
undang” bagi bangsa Israel.

b. Tahun Penulisan
Kitab ini ditulis sementara Israel berkemah di dataran Moab, menghadap ke barat sungai Yordan
di seberang Yerikho. Menurut Hill dan Walton, isi Ulangan mirip sekali dengan bentuk pakta orang Het,
maka penetapan penulisan kitab ini dapat dipercayai dalam pertengahan milenium kedua Sebelum Masehi,
atau sekitar tahun 1400-1500 sM.55 Atau sekitar tahun 1405 sM (SABDA/OBL, Pengatar Kitab).

c. Keyakinan Injili-Pentekostal
Keyakinan alkitabiah, injili-pantekostal, mengakui teori inspirasi dan tradisi paling kuno, bahwa
Kitab Ulangan ditulis oleh Musa dengan beberapa tambahan. Menolak teori penulisan oleh beberapa orang
dan hasil penyuntingan berulang-ulang kemudian hari setelah Musa. Kitab ini sendiri menyatakan ditulis
oleh Musa (31:9, 24-26; cf. 4:44-46; 29:1), dan diwariskan kepada Israel sebagai dokumen perjanjian
untuk dibacakan di hadapan seluruh bangsa setiap 7 tahun (31:10-13). Bahwa Musa penulis kitab ini.

C. Garis Besar
I. Amanat (Pidato) Pertama
A. Prakata, 1:1-5
B. Prolog: Sejarah perbuatan Allah terhadap Israel, 1:6-4:40
1. Ringkasan sejarah diterimanya firman Allah, 1:6 – 3:29
2. Kewajiban2 terhadap Allah yang harus ditaati, 4:1-40.
C. Penunjukkan kota-kota suaka (perlindungan), 4:41-43
II. Amanat (pidato) kedua: Hukum Allah, 4:44 – 26:19
A. Syarat-syarat perjanjian, 4:44-11:32
1. Prakata, 4:44-49
2. Dasatitah (dekalog), 5:1-21
3. Tanggapan Umat, 5:22-33
4. Perluasan Dasatita, 5:34-26:19
a. Hukum ke-1, ps.6-11
1) Perintah Utama, ps.6
2) Tanah Perjanjian dan masalah2nya, ps. 7
3) Pelajaran dari perbuatan2 Allah dan tanggapan, 8:1-11:25
4) Pilihan2 yang diperhadapkan pada Iasrael, 11:26-32.
b. Hukum ke-2, ps. 12
c. Hukum ke-3, 13:1-14:21
d. Hukum ke-4, mengenai ibadat, 14:22-16:17
e. Hukum ke-5, mengenai jabatan, 16:18-18:22

54Lihat LaSor, Hubbard, Bush, 2005: 251-252


55Hill & Walton: 226
Pdt. FatiaroZega | 56
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

f. Hukum ke-6, ps. 19-21


1) Mengenai para penjahat, ps. 19
2) Mengenai perang suci, ps. 20
3) Mengenai hukum lainnya, ps. 21
g. Hukum ke-7, 22:1-23:14
h. Hukum ke-8, 23:15-24:7
i. Hukum ke-9, 24:8-16
j. Hukum ke-10, 26:1-19
1) Pengakuan liturgis, 26:1-15
2) Nasihat-nasihat terakhir, 26:16-19.
B. Upacara yang akan dilakukan di Sikhem, ps. 27-28
1. Batu peringatan dan mezbah di gunung Ebal, 27:1-10
2. Kutuk dan berkat, 27:11-28:68.
III. Amanat (pidato) Ketiga, Perjanjian dengan Allah, perintah terakhir, ps.29-30
A. Tujuan penyataan Allah, ps. 29
B. Dekatnya Firman Allah, 30:1-14
C. Pilihan2 yang diperhadapkan, Allah layak dipatuhi, 30:15-20.
V. Kematian Musa, Peralihan kepada Yosua, ps. 34.

F. Susunan Isi Kitab Ulangan

Menurut Baxter, susunan kitab Ulangan sederhana, jelas dan indah sekali. Ulangan 1–11
merupakan tolehan ke belakang. Sedangkan ps 12–34 merupakan pandangan ke masa depan. Dasarnya,
kerena mereka hidup pada masa peralihan, maka umat Israel perlu menoleh ke belakang dulu sebelum
memandang ke masa depan, dan kedua-duanya harus direnungkan menurut pandangan Allah. Mereka
harus mengenang dan mengambil keputusan. 56 Bagian pertama (ps.1-11) berisi kenangan dan
perenungan, bagian kedua (ps.12-34) berisi pengharapan dan peringatan.

C. Analisis Ringkas

Salah satu di antara kitab-kitab yang terpenting dalam keimanan orang Israel ialah Kitab Ulangan.
Kitab yang dalam bahasa aslinya diberi nama Ha-Devarim ini, diberi nama popular “Ulangan” melalui
terjemhan bahasa Yunani, Deuteronomion, yaitu bentukan dari kata deuteros (yang kedua) dan nomos
(hukum). Nama Deuteronomion ini merupakan alihbahasa dari salinan Septuaginta terhadap pasal 17:18.
Kata “deutros” dalam Bahasa Ibrani dipakai kata mishneh (‫)מׁשנה‬, dan menurut Strong’s Hebrew and
Greek Dictionaries (dalam E-Sword 2019), berarti “a repetition, that is, a duplicate (copy of a document),
or a double (in amount); by implication a second (in order, rank, age, quality or location) …” (suatu
pengulangan, yaitu, suatu duplikat [salinan suatu dokumen], atau menggandakan [dalam jumlah], dengan
implikasi menjadi yang kedua (dalam pesanan, tingkatan, zaman, kualitas atau tempat). Menurut NETBible
(dalam BibleWorks9), frasa mishneh hattorah hazzot (‫הַּזֹּאת‬ ‫ׁשנ ֶה הַּּתֹורָ ה‬
ְ ‫מ‬ִ ) lebih baik bila disalin
menjadi "copy of this law" (salinan hukum ini)

1. Ringkasan Isi
Musa sadar bahwa dia akan segera meninggalkan robongan bangsa yang telah dipimpinnya selama
40 tahun itu untuk memasuki Negeri Perjanjian tanpa dirinya. Karena itu dia menulis Kitab Ulangan sebagai
kumpulan pesan dan ajaran terakhir bagi generasi muda Israel. Pesan dan ajaran itu dicatat untuk memberi
pedoman dan harus dibacakan setiap tujuh tahun sekali, yang isinya sebenarnya adalah pengulangan
ajaran yang sebelumnya. Secara komposisional, kitab ini terbagi atas tiga bagian utama.

a. Bagian Pendahuluan

56Baxter: 204-205
Pdt. FatiaroZega | 57
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kitab Ulangan pasal 1:1-11:32 berisi amanat Musa yang bersifat pendahuluan, disertai unsur-unsur
cerita ringkas. Dalam pasal 1:6-3:29, Musa mengulangi tahap-tahap perjalanan Israel, mulai dari
meninggalkan Horeb sampai ke lembah Moab, di tempat mereka mendirikan kemahnya. Dalam pasal 4:1-
40, Musa mengucapkan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan, juga menentukan tiga kota untuk
perlindungan dengan fungsinya secara terperinci di dalam pasal 4:41-49. Kemudian, dalam pasal 5-11,
Musa menyampaikan amanatnya yang dimulai dengan mengulangi Kesepuluh Hukum, dan yang berakhir
dengan hukum berikutnya.

b. Pemberian Hukum di Hadapan Seluruh Umat (Pasal 12 – 26)


Bagian kedua, pasal 12 – 26, berisi undang-undang yang disebut dalam bagian pembukaan
sebagai “ketetapan” (‫ חק‬khôq) dan “peraturan” (‫ מׁשּפט‬mishpậ t, cf. Rm 12:1), tetapi dalam 26:17,
ditambahkan kata “perintah” (‫ מצוה‬mitsvâh). Dengan memakai ketiga kata ini hukum-hukum itu dapat
digolong-golongkan dalam tiga kelompok.

1) Peraturan-peraturan
Peraturan (mishpat), secara definitif adalah suatu hukum atau undang-undang yang ditentukan
oleh penguasa atau adat kebiasaan, yang menjadi patokan bagi seorang hakim untuk mengadili suatu
perkara khusus. Contoh-contoh khas dapat dilihat dalam peraturan-peraturan di Kel 21. Penting disadari
bahwa banyak dari peraturan ini dirumuskan dalam terminologi yang “mirip sekali dengan pakta Neo-Het”,
atau memiliki kesamaan dengan Kitab Undang-undang Hammurabi, misalnya 22:22 dengan Hukum
Hammurabi nomor 129,57 dari kurun waktu beberapa abad lebih dini dari Musa. Hal ini menunjukkan bahwa
Allah membimbing Musa untuk memasukkan undang-undang ketertiban umum yang sudah mantap berlaku
guna melengkapi peraturan-peraturan yang dicatatnya untuk diberlakukan di tanah perjanjian.

2) Ketetapan-ketetapan
Kata ‘ketetapan’ bahasa Ibraninya khoq (‫)חק‬, misalnya muncul di 4:1, 5,6,8, dst., dari akar kata
yang berarti mengukir atau menoreh. Dengan demikian artinya ialah peraturan yang permanen atau
ketetapan. Bedanya dengan ‘peraturan’ sebagai undang-undang adalah seperti berikut. ‘Peraturan’ lebih
terkait dengan hakim, sedang ‘ketetapan’ lebih terkait dengan kata hati atau Allah. Kedua perbedaan itu
disajikan dalam 1Raj 6:12. Di ayat ini Salomo diperintahkan ‘menuruti’ ketetapan-ketetapan Allah, dan
‘melakukan’ peraturan-peraturan-Nya. Biasanya kata-kata ini diungkapkan dalam petunjuk budi pekerti,
dan dengan demikian menkonstitusikan peraturan hidup yang berasal dari Allah, suatu peraturan yang
tidak terdapat dalam kitab Undang-undang Semitic. Beberapa dari peraturan itu berkaitan dengan upacara
agama, hari-hari raya (Ul 16:1; 17), atau persembahan (Ul 2:5-28). Di situ tercakup undang-undang
keadilan, kesucian (mis 16:19; 23:17), kebaikan hati dan belas kasih (23:15,24).

3) Perintah-perintah
Walaupun kata ‘perintah’ dapat dikenakan kepada setiap jenis perintah, tetapi demi kemudahan,
di sini artinya dibatasi hanya pada perintah-perintah yang tidak mempunyai kewajiban abadi, yang dapat
digenapi hanya satu kali untuk selamanya, seperti perintah untuk memusnahkan kuil-kuil bangsa kafir
(12:2), pengangkatan para hakim dan petugas (16:18), dan penentuan kota-kota perlindungan (19:1-13).
Pemberian hukum ini disertai perasaan keagamaan yang sangat hangat, menerakan nama Yahweh
sebanyak 189 kali. Waktu Musa menetapkan peraturan-peraturan yang gunanya untuk menegakkan
kebenaran dan keadilan di tengah-tengah umat Israel, serentak ia berusaha mempertautkan mereka
kepada Yahweh, Allah mereka, dalam rasa ketaatan dan kasih sayang.

c. Amanat Terakhir dan Tambahan 27:1-34:12)

57Lihat http://sejarahisraelpurba.blogspot.com/2016/10/pengantar-alkitab-ibrani-10.html
Pdt. FatiaroZega | 58
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Tambahan yang terdiri dari cerita dan amanat, yang berakhir dengan kematian Musa, pasal 27,
memuat perintah Musa supaya menuliskan semua hukum itu pada batu, dan supaya mengadakan
perjanjian yang khidmat sesudah menyeberangi Sungai Yordan. Pasal 28 menyusul dengan berkat bagi
orang-orang yang taat dan kutuk bagi yang ingkar atau durhaka. Dalam pasa l29 dan 30, umat Israel diikat
oleh Musa dalam suatu perjanjian, supaya beribadah kepada Yahweh, Allah mereka, dan hanya kepada-
Nya saja (29:1,10).
Dalam pasal 31 Yosua tampil, dan kitab ini menceritakan nasihat Musa kepada Yosua, selanjutnya
lalu mereka bersama-sama mengajarkan suatu ‘nyanyian’ kepada bangsa itu (32:1-47). Kitab ini diakhiri
dengan berita tentang kematian Musa (32:48-52; 34:1-8), berkat Musa kepada suku-suku Israel ‘sebelum
ia mati’, dan ketaatan umat itu kepada Yosua sebagai pengganti Musa (34:9-12).

2. Meninjau Teori Liberal tentang Penulis dan Pentarikhan Kitab Ulangan


Sejak zaman Wellhausen, pentarikhan Kitab Ulangan menjadi pokok pembahasan yang tidak
putus-putusnya. Wellhausen sendiri mengemukakan teori, bahwa penulis Kitab ini (yang dibatasinya hanya
sampai inti, pasal 12-26) ialah seorang nabi, yang merangkainya pada tahun 622 SM. Tujuan nabi ini
adalah pembaruan dalam hidup keagamaan, dan secara khusus menghancurkan bukit-bukit pengorbanan
(bamot = bukit pengorbanan, 1Raj 3:4; 12:3) dan memusatkan peribadatan di Yerusalem. Maka
disembunyikannya Kitab ini di Bait Suci, agar kiranya ‘dijumpai’, seperti yang terjadi oleh Hilkia, yang
membuahkan pembaruan, tertulis dalam 2Raj 22; 23.
Pokok utama pandangan ini diterima oleh S. R Driver, tetapi ia menganggap pasal 5-11, dan
barangkali lebih dari itu, adalah bagian dari Kitab itu. Untuk menghindari kesan seolah-olah itu penipuan,
ditariknya tarikh Kitab itu ke belakang, ke ± tahun 640 SM. Teori yang sama diterima oleh H. H Rowley,
tetapi ia lebih menyukai tarikh ± tahun 680 SM, dan mengisyaratkan bahwa penulisnya mungkin sekali
seorang pengikut nabi Yesaya. Di pihak lain beberapa ahli (Kennett, Halscher) menganggap Kitab Ulangan
berasal dari zaman sesudah pembuangan. Mereka kemukakan bahwa pasal 17:15 tidak mungkin ditulis
sementara raja keturunan Daud masih menduduki takhtanya, bahwa banyak undang-undang dalam Kitab
Ulangan tidak cocok tanggalnya dengan peristiwanya selama zaman kerajaan yang terakhir, dan
ketetapan-ketetapan hukum, seperti dalam pasal 13 dan 20, secara lahiriah tidak dapat dilaksanakan.
Sementara ahli menyarankan tarikh yang lain, yakni tahun 701 SM atau yang lebih dini lagi (von Rad),
pemerintahan raja Hizkia (Westphal, Hempel), atau zaman sebelum nabi-nabi (A. C Welch). Pandangan
yang lebih konservatif dikemukakan oleh E Robertson, yang mengatakan bahwa Kitab itu dirampai oleh
Samuel dari bahan-bahan Musa, yang sebagian dalam bentuk tertulis.
Jika bukti-bukti yang dipakai oleh ahli-ahli ini diteliti, akan jelas bahwa sampai tingkat tertentu
mereka saling membatalkan, tidak satu pun pandangan mereka mempunyai dasar yang kokoh.
Kelemahannya sebaga berikut.
Sukar menganggap Kitab itu sebagai rencana pembaruan, yang disusun oleh seorang murid Yesaya
pada bagian pertama pemerintahan Manasye. Jika tujuan penulis adalah menghancurkan bukit-bukit
pengorbanan, mengapa hal itu tidak disebut? Jika keinginannya memusatkan peribadatan di Yerusalem,
mengapa tidak dijelaskan? Kota Yerusalem tak pernah jelas disebut atau disinggung.
Abad 7 sM (tarikh Ulangan menurut pandangan tadi) adalah zaman kegelapan, yang menyusuli
runtuhnya Kerajaan Utara, dan seorang raja yang menyembah berhala menduduki takhta kerajaan Yehuda.
Tetapi bayangan dari semuanya itu tidak ada dalam Kita Ulangan. Nada Kitab ini adalah harapan cerah
yang tidak kenal surut. Sukar mencari tanda pengaruh Yesaya, baik dalam pandangan maupun bahasanya.
Tidak memuat ajaran mengenai ‘sisa Israel’, melainkan himbauan terhadap ‘seluruh Israel.’ Tidak pernah
memakai rumusan para nabi: ‘beginilah firman Tuhan ALLAH’, juga tak pernah terdapat sebutan khas
Yesaya: ‘Yang Mahakudus, Allah Israel’. Dan tidak masuk akal bahwa seorang pengkhotbah dengan bakat
dan kuasa rohani yang luar biasa, akan takut mengumumkan pesannya secara terbuka, lebih menyukai
tinggal tersembunyi dan menuliskan amanatnya dalam sebuah kitab dan kemudian menyembunyikannya
di Bait Suci!

Pdt. FatiaroZega | 59
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Di pihak lain, dasar untuk menerima Musa sebagai penulisnya sangat kuatnya. Tradisi terus-
menerus mengaitkan penulisan Kitab Ulangan kepada Musa. Yesus membenarkan pendapat ini (Mat 19:8)
demikian juga umumnya penulis PB.
Dalam ps 31 penulis mencatat bahwa ‘hukum Taurat’ dituliskan oleh Musa dalam suatu kitab dan
diberikannya kepada imam-imam, dan diperintahkannya mereka membacakan kitab itu kepada umat Israel
(31:9-13). Selanjutnya dia memerintahkan supaya ‘kitab hukum Taurat’ diletakkan di samping tabut
perjanjian sebagai kesaksian (31:24-26). Maka cocok sekali dengan berita ini, bahwa penguasa yang
kemudian harus membuat salinan Kitab ini, yang disalin dari kitab yang dimiliki oleh para imam (17:18
dab). Dari sini agak kelihatan, bahwa kitab yang ditulis oleh Musa tidak memuat ps 31-34. Memang, kedua
pasal terakhir jelas ditambahkan sesudah kematiannya.
Tafsiran paling sederhana dan paling mungkin ialah, Musa sendiri yang ‘menulis’ pemberian Hukum
itu, yaitu ps 12-26, dan bahwa amanat-amanat dan pasal-pasal penutup dicatat dan ditambahkan di
kemudian hari, oleh Yosua atau siapa pun itu.
Adalah tidak beralasan dan logis untuk menempatkan penulis pasal 31-34 pada suatu tarikh yang
lebih jauh dari waktu yang langsung menyusuli kematian Musa. Orang itu mungkin sekali Eleazar atau
salah seorang rekannya. Ia menulis seperti seorang yang menyaksikan sendiri peristiwa-peristiwa yang
ditulisnya. Rincian yang tepat sekali mengenai bahan geografisnya dan sifat undang-undang, menyaksikan
bahwa Kitab itu merupakan suatu dokumen, yang sebaya dengan peristiwa-peristiwa yang diterangkannya.
Rujukan-rujukan kepada pengalaman-pengalaman yang pasti menggugah perasaan Musa secara
mendalam, sekali-sekali meluap tidak disangka-sangka, seperti ‘tempat perbudakan’ (5:6 dll), acuan pada
serangan Amalek yang keji (25:17 dab), beratnya tanggungan penghakiman (1:9-18), umat Israel
bersungut-sungut (9:22), bahan untuk membuat tabut perjanjian (10:3), dan musuh-musuh yang mereka
kalahkan. Rujukan kepada Harun (9:20 dab; 10:6 dab; 32:50 dab) dan Miryam (24:9) wajar dicetuskan
oleh Musa, itu kelihatan ganjil sebagai angan-angan dari nabi abad ke-7. Di sini kita hadapi suatu catatan
yang sungguh dan dapat dipercaya, seperti apa yang diucapkan dan ditulis sendiri oleh Musa.

3. Suasana Penulisan dan Tempatnya


Latar belakang waktu, tempat dan suasana Kitab ini jelas diungkapkan. Amanat-amanat dan
peristiwa-peristiwa yang diceritakan di dalamnya termasuk pada bulan terakhir pengembaraan 40 tahun,
yang dibebankan kepada umat Israel karena kedurhakaan hati mereka (1:3, 35; 2:14). Semuanya berakhir
dengan peristiwa kematian Musa.
Dalam Kitab ini terdapat banyak perincian geografis, khususnya pada pasal-pasal permulaan dan
terakhir. Perlu diperhatikan bahwa tanah Palestina selalu dipandang dari luar Palestina. Ketelitian yang
cermat dalam memberi keterangan tentang tanah Moab dan perjalanan ke situ, merupakan contoh yangg
tepat sekali (cf. pasal 2-3, dan perhatikan 1:2).
Ada sedikit yangg kurang jelas mengenai tempat-tempat yang disebut dalam Ul 1:1 (Di-Zahab).
Maksudnya mungkin sebagian kata-kata Musa telah diucapkan sebelum tiba di tempat yang begitu teliti
ditentukan dalam 3:29 dan 4:44-49. Ini suatu ‘lembah’ di dataran tinggi, atau suatu jurang (gay’). Dari
perkemahan terlihat sebuah kuil (bet) dewa Peor, berhala orang kafir, suatu nama yang menimbulkan
kenangan pahit (Bil 25; Ul 3:29; 4:46). Dari sana, dengan memandang ke arah barat, terlihat Gunung Ebal
dan Gerizim jauh di kaki langit (11:29-30). Tinggi di atas perkemahan itu memanjang punggung gunung
Pisga (34:1), dari situ dapat dipandang jelas seluruh tanah Kanaan.
Di samping Musa ada para tua-tua dan imam (27:1,9), dan pembantunya yang setia, Yosua, selalu
dekat padanya (1:38). Pendengar yang disapa oleh Musa umumnya angkatan muda. Memang ada
sejumlah tertentu (Bil 14:29) yang masih mengingat masa kanak-kanak mereka pada waktu perbudakan
di Mesir, juga mukjizat-mukjizat pada saat kelepasan mereka. Kadang-kadang Musa lebih menujukan
ucapannya kepada golongan terakhir, kadang-kadang kepada golongan pertama. Musa optimis
memandang hari depan, Allah kita selamanya adalah ‘Allah sumber pengharapan’ (cf. Rm 15:13). Umat
Israel pasti akan menyeberangi Sungai Yordan dan akan mewarisi tanah di seberang (Ul 3:28; 12:10).

Pdt. FatiaroZega | 60
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Dua ungkapan yang paling sering diucapkan dalam Kitab ini ialah ‘masukilah, dudukilah negeri…’
(sebanyak 35 kali, mis. 1:8) dan ‘tanah yang diberikan Yahweh, Allah-mu, kepadamu’ (sebanyak 34 kali,
mis. 5:16). Tapi kesukaran-kesukaran sekali-kali tidak diremehkan, mereka harus berjuang keras (ps 20)
dan godaan menyembah berhala sangat menggiurkan (ps 13). Justru Musa menyentuh perasaan untuk
mendorong mereka tetap ‘berpaut’ kepada Yahweh, Allah mereka (Ul 13:3-4) dengan ‘segenap hati dan
dengan segenap jiwa’ mereka, dan agar ‘berhati-hatilah, supaya jangan melupakan’ (Ul 6:12; 8:11) semua
kasih karunia-Nya.
Undang-undang yang dituliskan dalam pasal 12-26 tepat cocok dengan latar belakang ini, dan
tidak cocok dengan latar belakang lain yangg mana pun. Menurut Eugene H. Merrill, bentuk perjanjian
dalam Kitab Ulangan bahkan seluruh PL “menyerupai bentuk dan pola perjanjian orang taklukan (vassal)
dari bangsa Het pada Zaman Perunggu Akhir”,58 maka jelas tidak dapat menghindari fakta ditulis pada
zaman Musa.

4. Kutipan-kutipan di Kemudian Hari


‘Kitab Taurat’ yangg ditemukan Hilkia di Bait Suci, hampir pasti memuat (paling sedikit berisikan)
Kitab Ulangan, demikian juga kitab yang dibaca oleh Ezra (Neh 7:73). Lama sebelum peristiwa ini, raja
Yosafat menyuruh orang-orang Lewi ke kota-kota berkubu di Yehuda untuk mengajar dari ‘kitab Taurat
Yahweh’ (2Taw 17:8 dab). Lebih dini lagi ialah kitab yang dipesankan Daud kepada Salomo untuk
dipatuhinya (1Raj 2:3). Di Sikhem Yosua mematuhi perintah untuk mengukirkan hukum Musa pada batu-
batu (Yos 8:30-35; cf. Yos 1:8; 24:26). Lebih penting lagi ialah Tuhan Yesus sendiri menggunakan-Nya.
Dalam pencobaan-Nya tiga kali Dia kutip ayat-ayat dari kitab ini sebagai kitab yang berotoritas (Mat
4:4,7,10; Ul 8:3; 6:13,16). Untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat, Ia juga mengutip Ul.6:4 (Mrk 12:29).
Jelas, bahwa Kitab Ulangan sudah Dia kenal baik.
Ucapan Musa tentang seorang nabi yang akan datang (18:15) ditafsirkan oleh Petrus dan Stefanus
sebagai nubuat mengenai Yesus Kristus (Kis 3:22; 7:37), dan lagi kutipan-kutipan lain dari kitab ini dalam
PB. Paulus, mengikuti teladan Musa, mengajarkan perlunya agama yang sungguh yang timbul dari hati,
dan mengenakan Ul 30:11-14 kepada iman dalam Yesus Kristus (Rm 10:6-8; cf. Gal 3:10,13; Ibr 10:28).
Mengenai Kitab Ulangan, Yesus Kristus berkata: “Ada tertulis’ (Mat 4:4, 7, 10) dan dengan rasa
terima kasih ditambahkan Paulus: “untuk menjadi pelajaran bagi kita” (Rm 15:4).

D. Ajaran-ajaran Prinsip

Berdasarkan isinya, Kitab Ulangan tidak berbicara tentang suatu hukum lain dari yang sebelumnya
sudah diberikan atau sebagai hukum kedua, melainkan berupa pengulangan dari kode hukum yang termuat
di dalam kitab-kitab sebelumnya. Namun karena nama Deuteronomium sudah umum diterima di kalangan
ahli Alkitab, dan sedikit banyak berindikasi dengan maksud kitab ini, sehingga sangat pantas kalau dalam
salinan bahasa Indonesia dinamakan Kitab Ulangan. Beberapa tema yang sangat penting muncul dalam
kitab ini, yang memiliki ajaran-ajaran prinsip yang sangat penting, melampaui segaa zaman. Ajaran-ajaran
prinsip itu adalah seperti berikut.

1. Kewajiban Utama dan Pengakuan Iman


Kewajiban prinsip yang diajarkan kitab Ulangan dengan jelas tercantum dalam pengkuan iman di
6:4-5, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa! Kasihilah TUHAN Allah-mu
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Ajaran ini
ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus sebagai Hukum Pertama dan yang terutama (Mrk 12:29, 30; Mat
22:37.

58Eugene H. Merrill, Teologi Pentateukh, dalam: Roy B. Zuck, ed., A Biblical Theology of The Old Testament

(Teologi Alkitabiah Perjanjian Lama), Malang: Gandum Mas, 2015, 139.


Pdt. FatiaroZega | 61
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kata Esa di sini menggunakan kata ekhad (‫)אחד‬. Artinya, satu (dalam arti kolektif, serumpun,
serangkai), bukan dalam arti matematis, satu yang tidak dapat dibagi-bagi, sehingga ini mendukung
konsep Trinitas Allah. Sedangkan kata untuk satu satuan mutlak dalam bahasa Ibrani ialah yakheed (‫)יחיד‬,
seperti dalam Kej. 22:2,16, tetapi kata ini tak pernah dipakai untuk menyebut keesaan Allah.
Pengakuan Iman ini harus dicamkan, dibatinkan dalam diri orang Israel, dan wajib diajarkan secara
konsisten dan tekun kepada anak-anak mereka. Pengkuan ini harus menjadi tanda pada tangan dan
lambang di dahi mereka. Harus ditulis pada tiang pintu dan pintu gerbang. Ini telah menjadi ibadat sehari-
hari orang Yahudi. Pengakuan ini menyatakan keesaan, keeksklusivan dan keunikan TUHAN, Allah Israel.

2. Kebenaran Prinsip
Kebenaran prinsip khas kitab Ulangan tertera dalam 6:23, “Tetapi kita dibawa-Nya keluar dari
sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-
Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita.”
Dalam ayat ini terkandung kebenaran tiga rangkap:
a. Fakta: Kita dibawa-Nya keluar
b. Tujuan: Supaya dibawa-Nya masuk
c. Alasan: (sebab musabab) terselindung di belakang fakta dan tujuan itu, yaitu “Telah
dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita.”
Dalam fakta itu ada kuat kuasa Allah, sebab Tuhan mengantar mereka keluar dari Mesir dengan
tangan yang kuat (6:21). Dalam tujuan, ada rahmat Allah, karena mereka akan dibawa masuk ke suatu
negeri yang berlimpah2 susu dan madunya (Kel 3:8). Dalam alasan atau sebab musabab, ada kasih setia
Allah, karena semua dilakukan untuk menepati perjanjian-Nya.

3. Tuntutan Prinsip
Tuntutan prinsip Allah kepada Israel dinyatakan dalam 10:12. Perhatikan: “Maka sekarang, hai
Israel , apakah yang diminta dari pdamu oleh Tuhan, Allahmu, selain dari takut akan Tuhan Allahmu, hidup
menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, …” Perkataan ini merupakan inti nilai dan arti kitab Ulangan.
Mereka diingatkan lagi tentang bagaimana Allah memelihara mereka selama perhambaan di Mesir.
Bagaimana Allah telah membawa mereka keluar dari perbudakan itu dengan mengadakan tanda-tanda
ajaib dan mukjizat2. Bagaimana Allah telah menetapkan mereka menjadi satu bangsa yang terpilih di Sinai,
dilindungi dan dipimpin menuju daerah2 pebatasan Kanaan. Bagaimana Allah bersabar terhadap
persungutan dan pemberontakan mereka di kadesy, melindungi, melengkapi dan memelihara mereka
selama 40 tahun di padang gurun hingga saat itu mereka sudah di hadapan negeri perjanjian. Mereka
harus merenungkan semuanya itu dengan sungguh. Perhatian tuntutan-tuntuan berikut ini:
Adapun yang dituntut dari mereka saat menjelang masuk ke negeri perjanjian itu ialah: “Maka
sekarang, …” Bagaimanakah halnya? “Supaya kamu takut akan Tuhan, Allah-mu, hidup menurut segala
jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia… dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”
Ini adalah suatu tuntutan tanggung jawab yang meliput segenap kewajiban lain, yaitu setia, taat
karena kasih dan oleh kesadaran karena perjanjian Allah yang setiawan. Ketaatan merupakan kata kunci
bagi setiap pasal di Ulangan.
Mengapa Israel dituntut patuh dan setia kepada Allah? Ada tiga sebab (mis. 4:7-8)
a. Sebab apa yang telah Allah lakukan bagi mereka
b. Sebab sifat Allah sendiri adalah setia
c. Sebab kesempurnaan hukum-Nya
Tuntutan yang sama berlaku juga terhadap orang Kristen! Dalam Kristus kita dianugerahi hak yang
lebih tinggi daraipada yang diberikan kepada Israel. Sebab itu kita harus lebih patuh dan setia kepada-Nya
dalam kasih dan takut yang ilahi. Perhatikan Yoh 14:21,23.

4. Jaminan Prinsip

Pdt. FatiaroZega | 62
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Terpilihnya Israel sebagai umat yang dikhususkan menjadi milik Allah adalah hak prerogatif Israel
yang paling eksklusif. Di dalamnya tersimpan berbagai berkat dan jaminan pemeliharan Allah demi
kelangsungan keberadaan bangsa ini, yang berlaku secara eternal. Jaminan dari kesitimewaan tersebut
terwujud dalam perjanjian-perjanjian Allah, baik melalui Perjanjian Sinai maupun perjanjian-perjanjian
sebelumnya. Perjanjian-perajnajian itulah yang menjadi jaminan prinsip bagi umat Allah ini untuk
memastikan Allah akan selalu memihak kepada mereka dan menjaga kelestarian mereka.
a. Makna Perjanjian Sinai
Jaminan yang paling prinsip dari hubungan Allah dengan bangsa Israel ialah di dalam perjanjian
Sinai. Dalam Ulangan, segenap syarat dan peraturan Perjanjian Sinai ( Sinaitic Covenant) diulangai kembali.
Apabila Israel melanggar atau tidak mematuhinya maka mereka akan terkena hukuman berat, sesuai
dengan syarat perjanjian itu. Semua peringatan dan ancaman itu sudah pernah disampaikan kepada
generasi tua, ketika selesai pemberitaan hukum perjanjian dulu (Ul 26). Tetapi kembali disampaikan di Ul
28, pada akhir pengumuman yang kedua angkatan baru di padang Moab. Ancaman hukuman yang terberat
ialah penceraiberaian Israel dan pemusnahan Kanaan sehingga menjadi sunyi sepi (Im 26:32-33; Ul 28:63-
68), yang memang terbukti dalam sejarah Israel (cf. Rat. Yer).

2. Landasan Perjanjian Sinai


Tetapi satu hal yang tidak dapat dilupakan, bahwa Perjanjian Sinai bukanlah satu-satunya dasar
ikatan dari hubungan Allah dengan Israel. Sebab di luar Perjanjian Sinai masih ada perjanjian lain yang
lebih mulia dan berlaku untuk selama-lamanya, yakni Perjanjian Abraham (Abrahamic Covenant).
Perjanjian ini tidak dapat ditiadakan oleh apa pun. Perjanjian ini dimeteraikan dengan darah dan
diteguhkan dengan sumpah (cf. Kej 15). Tidak dapat dibatalkan oleh ketidaksetiaan dan pendurhakaan
Israel. Suatu perjanjian tanpa syarat dan bersifat kekal bagi Abraham dan keturunannya. Perjanjian
Abraham berada di balik dan berada di luar, jauh di atas perjanjian Sinai. Karena itulah, sekalipun Israel
telah melangggar perjanjian Sinai dan pantas dihukum atas pendurhakaannya, namun ada satu perjanjian
yang lebih besar lagi yang menjadi jaminan azasi, bahwa Allah masih tetap setia dan akan tetap setia dan
bermurah hati terhadap Israel. Perhatikan Im 26:33, 40, 42; dan Ul 4:27,30-31; Rm 11:29. Sedangkan
dalam Kitab Ulangan, Perjanjian Sinai ini bersifat khusus dan eksklusif bagi Israel berkaitan dengan
kesejahteraan, keamananan, kelimpahan dan kehormatan Israel di Kanaan. Bandingkan Ul 30:20, 6-10.

5. Pilihan-pilihan Prinsip
Di dalam kitab Ulangan Musa menyampaikan pilihan2 yang sangat prinsip yang harus menjadi
landasan sikap dan tingkah laku bagi Israel nanti di Kanaan. Perhatikan Ulangan pasal 27 – 30.

a. Pasal 27 melukiskan secara tepat dan rinci bagaimana hukum Taurat mendatangkan hukuman
dan kematian bagi mereka (cf. 2 Kor 3:7,9). Ada 12 kutuk disampaikan di gunung Ebal.
b. Pasal. 28 berisi pilihan antara berkat dan kutuk.
c. Pasal. 29 penegasan agar membuat pilihan cara hidup agar terhindar dari celaka, lepas dari
sentakan terusir keluar Kanaan dengan membandingkan cara hidup dari penduduk asli
Kanaan.
d. Pasal. 30 pilihan antara hidup dan keberuntungan atau kematian dan kecelakaan
Catatan: Dalam pehukuman sekalipun selalu terselip angugerah Allah. Perhatikan 27:5-7! Di
gunung Ebal tidak hanya didirikan batu peringatan hukum Taurat saja, tetapi juga sebuah
mezbah. Itu artinya, sekalipun dalam kutuk Taurat tidak terdapat suka cita, tetapi pada
mezbah yang harus didirikan itu terdapat suka cita dan keselamatan. Mezbah itu
melambangkan Golgota. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita.” Gal 3:3.

6. Imbauan Prinsip

Pdt. FatiaroZega | 63
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Kitab Ulangan bukanlah kitab tentang hukum, melainkan kitab yang berisi ungkapan isi hati,
instruksi dengan mengajarkan bagaimana untuk hidup secara sungguh-sungguh sebagai umat Allah
sebagai respon atas kasih dan belas kasihan-Nya (cf. misalnya, 4:29; 6:4, 32 - 40; 11:1). Salah satu
gagasan yang paling penting, yang menjadi imbauan prinsip kitab ini ialah corak penyampaiannya yang
diutarakan dalam bentuk khotbah. Perintah-perintahnya disajikan bukan dalam format resmi, tetapi dalam
gaya imbauan dan peringatan agar menaatinya, yang dilandaskan oleh besarnya kemurahan Allah
sebagaimana telah mereka alami. Juga konsep tentang perjanjian, tidak diutarakan semata-mata dalam
konsep yang formal, tetapi dalam bentuk ungkapan keakaraban hubungan antara Yahweh dan umat-Nya.
Seruan ketaatan yang melingkupi imabaun seluruh kitab ini adalah suatu permintaan yang menyerukan
agar seluruh kehidupan mereka harus berpaut kepada Dia yang telah menyatakan diri-Nya di dalam sejarah
mereka sebagai Allah sejati. Hal ini tidak hanya sekedar dengan melaksanakan hokum Taurat, tetapi
terutama imbauan untuk memilih Allah sebagai satu-satunya tempat berpaut (cf. Yos.24:14-15).

E. Teologi Kitab Ulangan

Kelima Kitab Musa atau Pentateukh merupakan kumpulan penyataan Allah yang paling mendasar
dalam Alkitab. Kitab-kitab itu merupakan satu kesatuan yang tidak hanya bersifat sejarah tetapi juga
merupakan dasar ajaran pembentuk iman yang terus berkembang di atasnya, mempengaruhi
perkembangan ajaran dan pemikiran teologis sampai menjangkau jauh ke masa Perjanjian Baru. Kitab-
kitab itu bukan hanya menjadi sumber utama dan karakter agama umat Perjanjian Lama, tetapi juga bagi
orang Kristen masa kini. Secara progresif ajaran Taurat itu berkembang kitab demi kitab, sampai
puncaknya pada Kitab Ulangan. Di kitab ini Musa memberikan ulangan ajaran atau hukum yang ditekankan
lebih jauh, sehingga menjadi sumber banyak pandangan teologis yang mempengaruhi pemikiran dan
kehidupan. Beberapa pemikiran teologis yang penting Kitab Ulangan itu yang perlu dibahas di bagian ini.

1. Hukum Taurat
Bagi umat Israel, hukum Taurat adalah wahyu Allah. Utamanya untuk menyatakan bahwa Allah
telah memilih untuk menyatakan diri kepada mereka dan memberi tahu dengan jelas apa yang diharapkan-
Nya dari mereka. Pelanggran terhadap hukum sama artinya pelanggaran terhadap Allah.
Selain itu, hukum Taurat menekankan perilaku yang benar di pemandangan Allah. Satu akibat dari
pandangan ini adalah bahwa di PL umat Israel tidak pernah mengeluh tentang beratnya hukum itu. Justru
Taurat dianggap sebagai contoh luar biasa dari kasih Allah terhadap mereka. Taurat dianggap sebagai
suatu kesukaan, bukan suatu yang menjemukan. Suatu penyataan yang memerdekakan daripada belenggu
yang membatasi. Dan tidak ada tempat di mana perspektif positif tentang semangat hukum Taurat yang
begitu nyata seperti dalam kitab Ulangan.
Di PB, sikap terhadap hukum Taurat itu menjadi dogmatik dan legalistik. Sekembalinya orang-
orang Yahudi dari pembuangan di Babilonia, Taurat dijadikan sebagai tanda kehormatan dan pengikat.
Seperti dikatakan oleh Barclay, ketika orang Yahudi kembali dari Babilonia, sekitah tahun 440 sM, secara
manusiawi pengharapan mereka sebagai bangsa yang besar telah lenyap. Karena itu mereka memutuskan
bahwa kebesaran yang mereka miliki sebagai bangsa terletak pada Hukum Taurat (Barclay: 2009). Hukum
Taurat dikultuskan dengan segenap kemampuan. Mereka memelihara seluruh hukum itu sedemikian rupa,
yang diejawantahkan dalam penerapan hukum lisan, yaitu penyusunan seluruh sistem kehidupan yang
didasarkan atas penafsiran dari hukum Taurat.
Di PB, jika Paulus menyampaikan kekecewaan yang dirasakan tentang hukum Taurat (misalnya di
Galalatia 3), itu hanya dalam pengertian bahwa orang Yahudi pada zamannya sudah berusaha untuk
menjadikan hukum Taurat suatu wahana keselamatan (Gal 3:10-12), bukan penyataan Allah saja. Taurat
yang sesungguhnya merupakan contoh penyediaan keselamatan dan tindakan kasih karunia,
dikembangkan menjadi syarat dan satu-satunya jalan menemukan Allah.

Pdt. FatiaroZega | 64
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

2. Tempat Ibadah Sentral


Gagasan satu tempat ibadah di Israel secara simbolis berhubungan dengan konsep satu Allah. Di
Timur Dekat Kuno, kota-kota yang berbeda mempunyai dewa pelindung yang berbeda-beda dengan
membangun kuil yang berbeda untuk menmghormaati dewa-dewa itu. Karena itu pantaslah bagi Israel,
yang hanya mempunyai Allah Yang Esa, untuk mempunyai satu rumah ibadah yang sah. Dengan teologi
mengenai kehadiran Allah yang terus menerus di Bait Suci, di satu tempat, dan tidak memungkinkan
adanya lebih dari satu tempat peribadatan, menyatakan kehadiran Allah tidak dapat diwakilkan oleh
berhala-berhala seperti pada agama-agama lain. Sehingga sentralisasi pada masa itu penting sekali artinya,
baik karena alasan-alasan teologis maupun melindungi praktik keagamaan yang ortodoks. Kegagalan untuk
melaksankan sentralisasi itulah yang terus menerus menghidupkan banyak persoalan agama sebelum
pembuangan.
Sebagaimana diketahui pula, PL selalu menunjuk pada eksklusivisme Israel. Dengan adanya
tempat ibadah yang sentral berarti Israel hanya memiliki satu pusat hidup keagamaan yang memberi kesan
mendalam untuk membina kesatuan nasional. Dekat dengan Bait Suci berarti dekat dengan hadirat Allah.
Sangat beda dengan PB.
Di PB pembatasan tempat ibadah dan hadirat Allah ditiadakan. Tidak lagi ditekankan pada satu
tempat ibadah melainkan satu Oknum. Kalau PL sangat sangat eksklusiv, terikat dengan satu tempat
(Kanaan dan Yerusalem), maka PB menekankan pada satu oknum yang bersifat universal.
Sida-sida dari Etiopia sudah datang di tempat yang benar (Yerusalem), sudah memiliki maksud
yang benar (beribadah), sudah membaca kitab yang benar (kitab Yesaya), namun tidak mendapat
kepuasan dan kehadiran Allah yang diharapkan, sampai Filipus datang dan memperkenalkabn satu Oknum
yang menandai kehadiran Allah yang ada di mana-mana.

3. Konsep Pemilihan Israel


Dasar dari ajaran pemilihan Israel ini terdapat dalam pemanggilan Abraham (Kej 13:13; 15:1-6)
dan janji Allah yang ditujukan kepada Abraham dan keturunannya. Itu dikemukakan dalam panggilan Allah
terhadap Musa (Kel 3:6), dalam pemberian hukum Taurat di Sinai (Kel 20:2,12), dan dalam sistem korban
(Im 18:1-5, 24-30). Janji itu disebutkan pula saat para pengintai diutus ke Kanaan (Bil 13:2) dan dalam
laporan Yosua dan Kaleb (Kel 14:8). Gagasan perjanjian Allah itulah yang menjadi dasar pilihan terhadap
Israel yang yang meresapi kitab Ulangan.
Menurut LaSor dan Hubbart, salah satu gagasan penting yang meresapi Kitab Ulangan adalah
konsep tentang pemilihan. Terminologi teologis yang dipakai untuk mengemukakan ajaran tentang
pemilihan itu adalah kata kerja Ibrani bakhar 59 (‫)ּבחר‬. Menurut BDB, kata ini berarti to choose, elect,
decide for, (Qal) to choose, (Niphal) to be chosen, (Pual) to be chosen, selected60 (memilih, terpilih,
memutuskan untuk, menetukan, menjadi pilihan, sudah dipilih atau diseleksi).
Dari 150 kali dipakai, di antaranya 31 di Ul, Yes 19, Mzm 14, 2Taw 13, 1Sam 12, 2Sam 8, 1Taw 8,
Ams 8, Ayb 7, Hak 5, Yos 4, Yer 4, Kel 3, dll (BibleWorks 9: Statistic). Pemahaman tentang bahwa Allah
telah memilih Israel menjadi milik-Nya dinyatakan dengan banyak cara yang lain dan acapkali secara
tersirat (cf. Ul 4:32-35).
Konsekuensi dari pemilihan Allah ini, Israel harus menghancurkan tuntas dan tanpa belas kasihan
bangsa-bangsa Kanaan, demi menghapuskan seluruh simbol agama Kanaan. Tampaknya ini suatu
kewajiban yang keras, tetapi bila dilihat dari konsep pemilihan, dengan memilih Israel dan mengadakan
ikatan perjanjian dengan bangsa ini, maka ia tidak mengadakan ikatan dengan bangsa-bangsa lain, kecuali
yang berhubungan dengan perjanjian-Nya dengan Israel. Gagasan dasar pemilihan ini melatarbelakangi

59LaSor, Hubbard, 255.


60Brown-Driver-Brigg’s Hebrew Definition, click H977, dalam: Erick Meyers, E-Sword.
Pdt. FatiaroZega | 65
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

bagian-bagian istimewa dalam Perjanjian Baru, misalnya pembedaan antara pengikut Kristus dan pengikut
dunia (cf. Yoh.1:12; 8:42; 15:18-19; 1Yoh.2:15).
Sekalipun dalam Kitab Ulangan tidak dinyatakan tujuan pemilihan Israel sebagai bangsa milik Allah
yang menjadi kesaksian diberkati lebih daripada bangsa-bangsa lain melalui pemilihan itu, namun tujuan
Musa menekankan konsep pemilihan ini adalah untuk menginagtkan Israel bahaya-bahaya pencemaran
iman setelah mereka memasuki Kanaan.
Pemilihan Allah terhadap Israel terlaksana dengan menjadikan mereka sebagai satu bangsa yang
baru. Pemilihan itu tidaklah sewenang-wenang, seolah-olah Allah memilih suatu bangsa dengan
merendahkan yang lainnya. Tetapi dilakukan dalam rencana keselamatan-Nya yang kekal, yang
memerlukan suatu bangsa yang baru. Itulah sebabnya Dia memanggil Abraham dan membentuk bangsa
baru itu dari keluarga Abraham dan dari peristiwa-peristiwa sejarahnya. Cf. ps.7.
a. Pemilihan itu melalui suatu proses pengudusan (7:6)
b. Pemilihan itu bukan berdasarkan banyaknya jumlah (7:7)
c. Pemilihan itu atas kasih karunia dan pemenuhan janji Allah (7:8)
d. Pemilihan itu mengharuskan penghancuran bangsa2 di Kanaan (7:1-2)
e. Pemilihan itu memiliki konsekuensi yang keras dan tegas (7:3-5)
f. Alasan teologis pemilihan itu berawal dari perjanjian Allah di Kej 12:3. Tujuan pemilihan itu
agar Israel menyebarkan kebenaran kepada bangsa-bangsa lain. Jika Israel tidak hati-hati
memelihara kebenaran yang telah dinyatakan Allah dalam firman dan perbuatan-Nya, maka
kebenaran itu tidak akan pernah mencapai bangsa-bangsa lain di dunia. Sesuai dengan itu,
maka dalam kitab Ulangan ditekankan agar Israel harus melakukan semua yang diperintahkan
Allah setelah mereka masuk Kanaan. Inilah alasan di balik perintah untuk suatu ibadat sentral
(Ul 12:1-14). Perintah tersebut melarang orang Israel beribadat di tempat-tempat yang
dipakai bangsa-bangsa yang ditaklukkan Israel itu beribadah, dan kepada allah-allah mereka.

4. Perjanjian
Konsep teologi yang penting lainnya dalam Kitab Ulangan ialah mengenai perjanjian. Kata ini
berasal dari istilah Ibrani berith (‫)ּברית‬, yang dalam bahasa Inggris dialihaksarakan menjadi covenant.
Dalam Ulangan dipakai sebanyak 29 kali, seperti dalam 4:12-13 (3); 4:23; 4:31 5:2-3 (2); 7:2; 7:9; 7:12;
8:18; 9:9; 9:11; 9:15; 10:8; 17:2; 29:1 (2); 29:9; 29:12; 29:14; 29:21; 29:25; 31:9; 31:16; 31:20; 31:25-
26 (2); 33:9. Arti harfiahnya covenant, alliance, pledge 1a) between men 1a1) treaty, alliance, league (man
to man) 1a2) constitution, ordinance (monarch to subjects) 1a3) agreement, pledge (man to man) 1a4)
alliance (of friendship) 1a5) alliance (of marriage) 1b) between God and man 1b1) alliance (of friendship)
1b2) covenant (divine ordinance with signs or pledges).61
Menurut LaSor dan Hubbard, ikatan yang muncul dari pemilihan Allah atas Israel disebut
“perjanjian.” Kata “perjanjian” yang dimaksud tidaklah sama dengan “kontrak”. Kontrak mengandung quid
pro quo (Sesuatu ganti sesuatu), misalnya, “Untuk sesuatu yang saya terima, saya setuju untuk membayar
nilai yang sesuai.” Dalam kontrak, jika salah satu pihak tidak dapat memenuhi perjanjian, maka pihak lain
dibebaskan dari kewajibannya. Perjanjian antara maharaja dan raja-raja lain juga tidak sama persis dengan
perjanjian dalam Alkitab. Jika maharaja telah menaklukkan suatu bangsa, maka raja taklukan dibebani
kewajiban tertentu kepadanya. Sebaliknya sang maharaja berjanji untuk memberikan fasilitas tertentu.
Tetapi perjanjian dalam Alkitab tidak bersumber dari quid pro quo maupun dari penaklukkan. Perjanjian
dalam Alkitab mulai dengan kasih (cf. Ul/7:8). Sekalipun Israel gagal memenuhi kewajibannya, namun
Allah tidak membatalkan perjanjian-Nya (cf.4:31).62
Bagi para nabi, ikatan perjanjian itu penting dan menjadi batu penjuru dari berita pengharapan
mereka. Ada tiga unsur dasar pengharapan tersebut, yaitu pembentukan bangsa yang dipilih Allah menjadi

61Lihat BDB (Brown-Driver-Brigg’s Hebrew Definition), dalam E-Sword, klik H1285.


62LaSor, Hubbard, 257.
Pdt. FatiaroZega | 66
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

milik-Nya, hak waris atas tanah yang telah dijanjikan kepada leluhhur Israel, serta pengukuhan kerajaan
yang dijanjian kepada Daud dan keturunannya.

5. Makna Dosa
Dosa adalah sesuatu yang buruk sebagai penghalang antara Allah dan umat-Nya, yang
menghasilkan murka. Dosa merupakan wujud dari ketidaktaatan dalam hubungannya dengan Tuhan yang
diungkapkan melalui pemberontakan dan pelanggaran. Dalam Kitab Ulangan, dosa dihubungkan dengan
kewajiban melakukan perintah-perintah-Nya secara total dan menyeluruh (Ul.6:20-25). Kewajiban Israel
untuk memegang dan melakukan ketetapan-Nya bersumber dari karya penyelamatan dan pemilihan Allah
atas mereka sebagai milik-Nya. Sehingga mereka wajib mengingat dan melakukan perintah-perintah-Nya
ketika telah memasuki Kanaan (8:1). Jika mereka melupakan kewajiban itu dan berpaling kepada ilah-ilah
lain di Kanaan (8:11-18), mereka akan menanggung kebinasaan sebagai akibatnya (8:11-18).
Dasar ajaran tentang dosa dikemukakan mulai dari kisah kejatuhan Adam (Kej 3) dan digambarkan
dalam pasal-pasal berikutnya yang mencapai puncak dalam peristiwa air bah (Kej 4 – 9). Dalam Kitab
Bilangan, dosa Israel digambarkan dalam beberapa peristiwa pemberontakan dan persungutan mereka.
Tetapi dalam Kitab Ulangan, dosa ditekankan sebagai kemurtadan karena berpaling kepada dewa-dewa
yang disembah bangsa-bangsa yang negerinya akan mereka masuki. Karena itu dalam Kitab Ulangan
ditegaskan agar Israel harus intoleran terhadap kebudayaan kafir, yang identik dengan penyembahan
berhala, karena Israel harus eksklusif dan kudus bagi Allah.
Dalam Kitab ini, dosa dilihat dengan latar belakang ikatan perjanjian. Dosa adalah semua yang
melanggar, tidak memegang peraturan dan perintah-perintah Allah, kelalaian melakukan kewajiban-
kewajiban yang telah ditetapkan Allah bagi mereka (6:20-25; 7:6; 8:1-10; 8:11-18). Tetapi dosa yang
terburuk adalah berpaling kepada ilah-ilah lain dan sebagai akibatnya mereka pasti binasa (8:19). Meskipun
banyak hukum dan peraturan dikemukakan dalam Kitab ini, tetapi hukuman terberat, akibat melakukan
ketidaksetiaan dengan berpaling menyembah ilah lain atau berhala, termasuk mengajak atau membujuk
orang lain untuk menyembahnya, ialah dengan hukuman rajam (13:8-10, 15-16).
Kata yang ditempatkan berdampingan dengan kewajiban melakukan perintah-perintah-Nya ialah
mengasihi Allah (11:1, 13) dan ketaatan. Berkat di negeri perjanjian akan terwujud sesuai dengan ketaatan
mereka melakukan kewajiban (11:8-12). Sedangkan ketidaktaatan akan mengakibatkan berkat itu akan
ditarik kembali. Hukuman terberatnya adalah penceraiberaian bangsa itu keluar dari negeri perjanjian.

6. Sejarah
Keyakinan bahwa Allah telah masuk dalam sejarah manusia merupakan ajaran yang hanya
terdapat dalam Alkitab dan tidak didapati dengan cara yang sama dalam agama mana pun. Di Israel sejarah
bukan hanya dipandang sebagai serangkaian peristiwa yang dinilai berkenaan dengan sebab dan akibat,
tetapi dilihat sebagai tindakan Allah. Sejarah adalah bukti dari pemilihan Israel.
Kenyataan bahwa Allah sudah bertindak dalam sejarah terhadap mereka merupakan panggilan
yang jelas sekali bagi Israel untuk menerima pemerintahan Allah yang penuh kebajikan. Ditegaskan (ps.
4) bahwa umat Israel harus belajar dari sejarah. Nasihat ini diulang dalam PB seperti Rm 15:4; 1Kor 10:1-
13. Kendati tangan Allah terlihat dalam seluruh sejarah dan berbagai pelajaran dapat ditarik dari bagian
apa saja di sejarah dunia, namun sejarah Israel adalah unik, sebagai suatu wahana yang secara khusus
dirancang untuk penyataan diri Allah.
Di dalam kitab Ulangan keyakinan ini dikemukakan dengan cara yang istimewa. Keseluruhan kitab
ini menceritakan kembali karya Allah dalam sejarah mulai dari bagaimana Allah memimpin keluar dari
Mesir, memberi mereka hukum Taurat, dengan sabar menanggung ketidakpercayaan mereka yang keras
hati di padang gurun sampai di seberang sungai Yordan. Urutan kejadian-kejadian itu diringkasa dengan
jelas dalam pasal 6 – 12.

7. Kekuasaan Allah

Pdt. FatiaroZega | 67
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Allah tidak hanya dipandang sebagai Tuhan perjanjian yang berdaulat atas seluruh bangsa Israel,
tetapi juga sebagai Allah umat manusia. Berkuasa atas seluruh dunia, atas bangsa-bangsa dan alam
semesta. Dia berkuasa untuk melaksanakan janji-janji-Nya. Kitab Ulangan menjelasakan bagaimana kuasa
Allah ditunjukkan dalam sejarah Israel. Musa memperingatkan mereka tentang apa yang telah diperbuat
Allah terhadap Firaun, mengenai Baal Peor (4:3), yang memberikan petunjuk tentang perilaku mereka
selanjutnya (4:5). Allah itu sedemikian dekat dengan mereka (4:7), karenanya peristiwa-peristiwa sejarah
itu harus diberitahukan kepada anak cucu keturunan mereka selanjutnya (4:9). Tugas! Buatlah daftar
mengenai cara Allah menunjukkan kuasanya berdasarkan ps. 4 dan 30.
8. Kesetiaan Allah
Salah satu dasar yang memungkinkan Israel melihat perjanjian itu nyata dalam kehidupan mereka
adalah pengetahuan bahwa kesetiaan Allah itu dapat diandalkan sepenuhnya. (Baca ps. 32 dan temukan
berbagai cara penggambaran kesetiaan Allah dala penghukuman). Jika Israel melupakan pengalaman-
pengalaman masa lalu bagaiman Allah telah memimpin mereka dengan kuat kuasa-Nya, lalu berubah setia
(mendurhaka) dengan melanggar peraturan dan peringatan yang disampaikan dalam kitab Ulangan ini,
maka Allah akan menghukum mereka dan menyebarkan mereka ke antara bangsa-bangsa. Kendati
demikian, oleh kasih setia-Nya, jika Israel berbalik kembali kepada Allah dan menaati firman-Nya, Dia yang
setia itu bersifat pengampun dan tidak akan melupakan perjanjian yang diberikan-Nya dengan sumpah
kepada para bapak leluhur mereka (4:25-31). Lihat ayat 4, 26, 36, 39, 40, 43.

9. Kasih Allah
Dasar utama dari perjanjian adalah kasih (‫)אָ הַ ב‬. Kasih Allah-lah yang memulai perjanjian itu dan

memungkinkan kelanjutannya sebagai kasih karunia ( ds,x,Þ). Tuntutan pertama terhadap


manusia ialah bahwa ia harus mengasihi Allah. Tanpa kasih hubungan dengan Allah tidak mungkin
terwujud. Baca : 4:37; 5:10; 6:5; 7:9, 13, 22; 10:12-19; 11:1,13,22; 13:3; 19:9; 23:5; 30:16,20.
10. Penyerahan
Allah menginginkan dari umat-Nya suatu penyerahan total, kesetiaan, yang utuh, dan pengabdian
dengan sepenuh hati. Semua ini berarti mengikuti kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan seperti
yang diatur dalam perintah-perintah di dalam perjanjian. Cf. 5:1-21; 6:4-9; 10:12-22. Semua ayat ini dapat
dianggap sebagai ringkasan dari seluruh hukum Allah.

11. Prinsip Pembalasan


Menyesuaikan diri terhadap apa yang Allah harapkan akan memberi pahala, dan melanggar
perintah2 Allah mendatangkan hukuman. Begitulah cara kerja Allah. Ini juga dapat dipahami sebagai cara
Allah dalam berurusan dengan individu2. . Konsep yang sama diperlihatkan dalam kitab2 puisi dan sastra
hikmat.
Apa yang diharapkan Allah dari Israel dijelaskan dalam hukum Taurat dan dicatat sebagai
ketetapan2 dari perjanjian Allah. Berkat2 dari perjanjian itu akan hilang jika syarat2 tidak dipenuhi, kendati
tidak berarti bahwa perjanjian itu akan dibatalkan dan tidak berlaku sama sekali. Kutukan2 yang
dilampirkan pada perjanjian itu diungkapkan secara mencolok di kemudian hari oleh para nabi pada masa
pembuangan. Cf. ps.28.
1. Malapetaka atas bangsa. Mereka akan menderita banyak kekalahan dan pada akhirnya
dimusnahkan, 28:20, 25; 4:26.
2. Malapetaka bagi negeri. Akan terjadi kekeringan dahsyat sehingga tanaman dan binatang
binasa, 28:22-24, 38-40.
3. Malapetaka bagi rakyat. Akan terjadi epidemi yang menakutkan. Keluarga akan terpecah
belah dan tidak ada keamanan, 28:21, 22, 28, 32, 41.

F. Peranan dan Pentingnya Kitab Ulangan

Pdt. FatiaroZega | 68
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Salah satu tolok ukur untuk menentukan pengaruh dari suatu kitab terhadap kitab yang lain ialah
jumlah buku yang ditulis tentang kitab itu atau yang mengutip dari kitab itu. Beberapa orang yang
mempelajari Alkitab melihat pengaruh kitab Ulangan atas Samuel atau Elia, Hosea, Yeremia dan bahkan
Yesus sendiri. Melihat jumlah kutipan dari kitab Ulangan dalam PB, dapat dikatakan kitab Ulangan sangat
berpengaruh (berdasarkan PB Yunani terbitan UBS), Kitab Ulangan dikutip 195 kali dalam PB. Hanya Maz,
Yes, Kej dan Kel yang melebihi jumlah kutipan kitab Ulangan dalam PB.

1. Pengaruh Kitab Ulangan dalam Kitab-kitab lain, khususnya PB


Berdasarkan kitab-kitab PL yang ditemukan di antara naskah-naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls),
Kitab Ulangan merupakan salah satu dari ke-5 kitab yang paling berpengaruh di persekutuan Qumran.
Tuhan Yesus menggunakan Kitab Ulangan sebanyak 3 kali untuk mematahkan cobaan iblis (Mat 4:1-11 cf.
Ul 8:3; 6:13, 16). Ketika ditanya tentang hukum terbesar, Dia mengutip pasal 6:6. Sedangkan nubuat
mesianis dalam 18:15-19 dikutip dua kali dalam Kis 3:22-26; 7:37.
Pengaruh lain dari kitab Ulangan terlihat dari berulang kalinya kitab ini dikutip di dalam keluarga
Ibrani, termasuk oleh Yusuf dan Maria, sesuai perintah Yahudi yang disebut syema Yisrael (Ul 6:4-5).
Bagian dari kitab ini harus disebut beberapa kali sehari yang membangkitkan iman dan semangat. Ada
banyak orang Kristen yang telah mendapat pertolongan dan kekuatan dari kitab ini. Dapat disimpulkan
bahwa Kitab Ulangan adalah salah satu kitab PL yang paling penting dan berpengaruh dalam generasi
mana pun, sehingga patut dipelajari dengan saksama.

2. Penerapan Masa Kini


Kitab Ulangan merupakan amanat perpisahan dari Musa, yang merupakan pula amanat bagi kita
yang hidup pada masa kini. Sebab kita berhadapan dengan Tuhan yang sama. Dialah yang membawa kita
keluar dari perhambaan Iblis kepada warisan yang indah dalam Kristus. Dia menuntut dari kita tidak kurang
dari tuntutan-Nya kepada orang Israel dulu, agar kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa dan
berjalan di dalam segala jalan-Nya. Ulangan mengajarkan kita tentang:

a. Hubungan kita dengan Allah


1) Hubungan itu harus pribadi. Menjadi rakyat suatu bangsa atau keluarga yang mengikut
Allah tidaklah cukup. Setiap pribadi harus mempunyai pengalaman langsung dan segar
dengan Allah
2) Hubungan itu harus hidup. Perjanjian Allah lebih dari sekedar perjanjian kontrak. Allah
menginginkan persekutuan dengan umat-Nya di dalam kasih yang melahirkan ketaatan.
3) Hubungan itu harus menyeluruh. Allah ingin kita mengikuti Dia tidak hanya satu hari dalam
seminggu atau dalam situasi-situasi tertentu, tetapi setiap saat – Dia menaruh perhatian
pada apa yang kita kerjakan dalam setiap segi kehidupan kita.

b. Ibadah kita kepada Allah


1) Ibadah kita harus murni dan tidak dinodai atau dirusak dengan memasukkan pengajaran
dan adat istiadat orang-orang di sekeliling kita.
2) Ibadah kita harus sesuai dengan pola yang sudah digariskan oleh Allah.
3) Ibadah kita harus diresapi dan tidak semata-mata hanya terikat pada suatu bentuk
peribadatan tertentu. Ibadah itu harus menyenangkan.

c. Pribadi Musa
Selain perlu memahami seluruh amanat yang disampaikan Musa dalam kitab terakhirnya ini, kita
juga perlu memahami pribadi Musa. Musa adalah pribadi alkitabiah yang paling terdepan. Kisah hidupnya
memperlihatkan “grafik” fluktuatif yang menaik, penuh dengan dinamika dan representasi dari karakter
yang mulia dan yang mengalami perkebangan yang terus menerus dengan idealnya.

Pdt. FatiaroZega | 69
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

1) Watak Musa
Dari kitab Ulangan kita melihat suatu gambaran bagaimana Musa mencapai kedewasaan karakter
yang mulia itu secara sempurna, yang terbentuk dari pengalaman hidupnya. Musa telah mengalami
bermacam-macam pergumulan dan perjuangan berat, mengatasi pengalaman-pengalaman yang hebat,
mempunyai disiplin yang lahir dari tanggung jawab yang besar, mengalami kekecewaan-kekecewaan yang
menguatkan pengetahuannya tentang keadaan hati manusia. Dan dia telah memperoleh pengertian yang
lebih agung tentang kemuliaan dan kesabaran Allah yang tidak terukur itu. Seperti dikatakan oleh G.H.C.
MacGregor, “Dalam ucapan-ucapan Musa di Ulangan, kita berjumpa dengan suatu kematangan, kehalusan
budi, kelembutan dan hikmat ilahi, yang membuat kitab ini dalam banyak hal menjadi yang paling menarik
dan mengesankan di antara kitab-kitab Pentateukh”.
Seorang penulis yang tidak dikenal, yang dikutip oleh J. Sidlow Baxter, mengatakan: “Dalam
Ulangan Musa kelihatan paling halus, mulia dan praktis. Dia terlihat selaku tokoh terkemuka dalam sejarah,
yang memiliki jiwa besar, hati tenang, keyakinan yang dalam, kesetiaan yang tidak kenal mundur terhadap
kebenaran, mempunyai tujuan yang tunggal dan maksud yang tidak mementingkan diri sendiri.” Dia adalah
nabi yang tidak ada duanya, yang bergaul begitu intim dengan Allah (Ul 34:10).
Musa adalah tokoh yang tidak ada tandingannya. Tokoh Alkitab terbesar dalam sejarah. Hidupnya
terbagi secara khas dan nyata atas masa-masa 40 tahun. Selama 40 tahun pertama dia hidup sebagai
putra raja di Mesir, selama masa 40 kedua dia hidup sebagai gembala di Midian, dan selamam masa 40
terakhir dia menjadi pemimpin orang Israel. Ini dapat dibaca dalam Kel 2:11 dan Kis 7:23; Kel 7:7 dan Kis
7:29, 30, dan Ul 31:2.
Kalau ditanya, “Manakah sifat Musa yang khas di antara sekian banyak sifatnya yang baik dan
mulia itu sebagai yang paling menonjol?” Ternyata: “Tidak ada yang menonjol!” Tidak ada satu di antara
sifat-sifatnya berikut ini yang lebih menonjol, yaitu dalam keteguhan hati, ketabahan, ketulusikhlasan,
tidak mementingkan diri sendiri, patriotisme, kepercayaaan tanpa syarat kepada Tuhan, kesabaran dan
kerendahan hati yang dapat dikatakan khas menonjol. Tidak satu pun di antara sifat-sifat yang dimilikinya
itu yang lebih menonjol dari yang lain, melainkan sama-sama menonjol! Semuanya sama khas dan
menonjol. Kebajikan, sifat pengasihan dan kelembutan hatinya sama mulianya. Dan inilah yang
menjadikan Musa tokoh besar yang memberi keagungan kepada wataknya. Watak semacam ini jarang
terdapat dalam diri orang lain, bahkan sepanjang yang diketahui dalam sejarah, yang memiliki sifat-sifat
mulia sedemikian lengkapnya. Kecuali Tuhan Yesus Kristus sendiri. Manusia yang termulia dan paling
sempurna itu tentunya.
Musa memiliki segala macam pengetahuan dari zamannya, namun dia tidak menginginkan bakat-
bakat dan kecakapan-kecakapan yang ada untuk mengutamakan kebesaran dunia dan manusiawi. Kita
patut memberi penghargaan dan penghormatan sepenuhnya pada Musa, namun terlebih lagi kepada Allah
yang telah membangkitkan seorang yang luar biasa seperti Musa, yang memanggilnya pada saat-saat
dunia memerlukannya.

2) Kesamaam Musa dengan Kristus


Musa meninggal pada usia 120 tahun (Ul 34:7). Dan dialah satu-satunya manusia yang dikuburkan
sendiri oleh Tuhan. Dia dikuburkan Tuhan di suatu lembah di tanah Moab, tetapi tidak ada orang yang
tahu kuburannya (34:6). Tubuhnya kemudian dibangkitkan dan dipermuliakan, dalam Lukas 9:30, 31
diceritakan bagaimana Musa menampakkan diri dengan tubuh yang baru di atas gunung pemuliaan.

d. Kesamaan Musa dan Yesus Kristus

Musa Dan Yesus Kristus Refrensi PL dan PB


Dipelihara secara ajaib pada masa kecil Kel 2:2-10 dan Mat 2:14,15
Berkonfrantasi dengan pemimpin jahat Kel 7:11 dan Mat 4:1
Berpuasa 40 hari Kel 34:28 dan Mat 4:2
Pdt. FatiaroZega | 70
Pengantar Teologi PL 1 Kitab-kitab Taurat

Menguasai laut/air Kel 14:21 dan Mat 8:16


Memberi makan kepada umat di padang gurun Kel 16:15 dan Mat 14:20,21
Dinyatakan dengan muka yang bersinar dari Kel 34:35; dan Mat 17:2
kemuliaan Allah
Mengalami tantangan dan sungutan Kel 15:24; dan Mat 7:2
Ditolak oleh sanak saudara Bil 12:1; dan Yoh 7:5
Ditolak di Israel Kis 7:23-27; dan Yoh 1:11
Menjadi perantara dengan doa syafaat Kel 32:32; dan Yoh 17:9
Menjadi utusan dan nabi Allah yang istimewa Ul 18:15-18
Mempunyai 70 pembantu Bil 11:16,17; dan Luk 10:1
Mendirikan suatu peringatan Kel 12:14; dan Luk 22:19
Menampakkan diri sesudah mati Mat 17:3; dan Kis 1:3
Memberi undang-undang Ul 5; dan Yoh 1:17

Kesimpulan

1. Kitab Ulangan menceritakan riwayat bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, yang hanya
dapat hidup melalui kuat kuasa Allah.
2. Hidup dengan mengasihi Allah dengan segenap hati, kekuatan dan akal budi merupakan jalan
satu-satunya untuk mengalami kuasa dan kasih Allah.
3. Hidup yang mengasihi Allah dengan segenap hati, kekuatan dan akal budi berarti hidup
dengan menjauhkan diri dari penyembahan berhala dan keinginan diri sendiri.
4. Kitab Ulangan mengajarkan kasih setia Allah dalam kehidupan umat-Nya, baik pengampunan
maupun keadilan-Nya untuk kehidupan di masa yang akan datang.

Pdt. FatiaroZega | 71