Anda di halaman 1dari 75

DIKTAT KULIAH TEOLOGI

PERJANJIAN LAMA

FATI ARO ZEGA


SEKOLAH TINGGI ALKITAB BATU
SILABUS
Program Studi : Teologi/Kependetaan
Kelompok/Nomor : MKB/1
Nama Mata Kuliah : Teologi Perjanjian Lama 1
Dosen Pengampu : Pdt. Fati Aro Zega, M.Th
Bobot : 2 Sks
Semester : -
Prasyarat : Tafsir PL 1
Banyaknya Pertemuan/
Waktu Tiap Pertemuan : 14 X (2 X 50 Menit)

STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa memiliki pengetahuan tentang sejarah dan perkembangan teologi dalam PL, serta
mampu menjelaskan tema-tema teologi PL sebagaimana dijumpai dalam Kitab Pentateukh dan
Sejarah dan merefleksikannya secara kontekstual.

KOMPETENSI DASAR
1. Mampu menjelaskan dengan benar secara rinci aspek-aspek awal Teologi PL I
2. Mempelihatkan sikap kritis dalam mempelajari tema-tema teologi PL I
3. Mampu berinovasi dalam mempelajari tema-tema Teologi PL I
4. Memperlihatkan kesadaran pentingnya mempelajari tema-tema Teologi PL I
5. Mampu mendemonstrasikan penghayatan nilai-nilai tema-tema Teologi PL I
6. Mampu menunjukkan kebiasaan berperilaku sesuai nilai-nilai Teologi PL I
7.

URUTAN DAN RINCIAN MATERI


1. Pengenalan Aspek-aspek Awal Teologi Perjanjian Lama
2. Multiwajah Metodologi Teologi Perjanjian Lama
3. Sejarah dan Perkembangan Teologi Perjanjian Lama
3. Tema-Tema pokok Teologi Perjanjian Lama
4. Sunat
5. Sabat
8. Berkat
9. Ibadah
10. Kesalehan

INDIKATOR HASIL BELAJAR


1. Menjelaskan multiwajah dari metodologi Perjanjian Lama
2. Menguraikan sejarah dan perkembangan Teologi Perjanjian Lama, serta tema-tema pokok
Teologi Perjanjian Lama
3. Menjelaskan konsep sunat, konsep Kudus, Konsep Sabat, Konsep Allah, Konsep Ibadah
dalam Perjanjian Lama
4. Memiliki minat yang besar dalam mempelajari metodologi dan tema-tema serta konsep-
konsep dalam Teologi Perjanjian Lama
5. Memiliki rasa ingin tahu dalam mempelajari Teologi Perjanjian Lama
6. Bersikap kritis dalam mempelajari Teologi Perjanjian Lama
7. Berinovasi dalam mempelajari Teologi Perjanjian Lama
8. Menerapkan nilai-nilai relevan Teologi Perjanjian Lama (kudus, sabat, Allah dan ibadah)
9. Mempunyai koleksi sumber belajar tentang tema-tema Teologi PL I

STANDAR PROSES PEMBELAJARAN


PENDEKATAN : Kontekstual partisipatoris
i
PENGALAMAN : 1. Mahasiswa mendengarkan penjelasan dosen
BELAJAR 2. Mahasiswa berdiskusi
3. Mahasiswa bereksplorasi
4 Mahasiwa mengkaji
5. Mahasiswa mempresentasikan
6. Mahasiswa berinovasi
METODA : Ceramah, eksplorasi, diskusi, presentasi, tugas mandiri,
inkuiri, studi perbandingan, dan kajian pustaka.
TUGAS : 1. Membuat makalah
2. Membuat sketsa
3. Mengoleksi sumber belajar
4. Membuat kajian pustaka
5. Melakukan presentasi
STANDAR PENILAIAN : 1. Partisipasi dan kehadiran : 10 %
2. UTS : 30 %
3. Pengamatan dan tinjauan buku : 30 %
4. UAS : 30 %
TEKNIK : Tertulis
BENTUK SOAL : Tes Tertulis, Tes Sikap, Porto Folio, proyek, unjuk kerja

MEDIA : Laptop, LCD Proyektor, VCD , Papan Tulis / White board,

PRASYARAT :
SUMBER BELAJAR
1. Keluarga
2. Media elektronik (internet)
3. Narasumber,
4. Lingkungan alam,
5. Lingkungan sosial,
6. Teman di kampus
7. Teman di masyarakat setempat
8. Komunitas gereja
9. Literatur
1. Baker, David L. (2009) Mari Mengenal Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
2. Barth, C.,(1993) Theologia Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
3. Blommendaal, J. (2009) Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
4. Childs, Brevards (1993). Biblical Theology of The Old and New Testament: Theological
Reflection on The Christian Bible. Fortress: Minneapolis.
5. Clements, Ronald O (1978) Old Testament Theology: A Fresh Approach. England: Marshall
Morgan & Scott.
6. Dyrness, W (2002) Tema-Tema Dalam Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas.
7. Eichordt, Walther (1967) Theology of The Old Testament I & II. Philadelphia: The
Wesminter.
8. Enns, Paul, The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi, Literatur SAAT,
Malang, 2006.
9. Hasel. Gerhard F. (2020) Teologi Perjanjian Lama Ed. Revisi. Malang: Gandum Mas.
10. Hinson, DF (1976) Theology of The Old Testament. London: SPCK.
11. Kaiser Jr., Walter C. (2016) Toward an Old Testament Theology. Grand Rapids: Zondervan.
12. Karman, Yongky (2005) Teologi Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
13. Knierim, Rolf P (1995) The Task Of The Old Testament Theology: Method and Cases.
Michigan: Eerdmans.
14. Lassor, W.S, Hubbard & D.A, Bush, F.W (2008) Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan
Sejarah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
15. Lassor, W.S, Hubbard, D.A, Bush, F.W (2008) Pengantar Perjanjian Lama 2: Sastra dan
Nubuat. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
16. Martens, E.A (1961) Plot and Purpose. Leicester: IVP.

ii
17. Rowley, H.H (2004) Ibadat Israel Kuno. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
18. Smith, Ralph L (1993) Old Testament Theology: Its History, Method and Message. Tennessee:
Broadman and Holman.
19. Snaith, N (1995) Gagasan-Gagasan Khas Dalam Perjanjian Lama. (Jakarta: BPK Gunung
Mulia).
20. Vriezen, C. Th (2006) Agama Israel Kuno. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
21. Wright, G.E & Kuiper, A. de (1967) Perjanjian Lama Terhadap Sekitarnya. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
22. Zimmerli, Walther (1978) Old Testament Theology in Outline. Edinburgh: T&T Clark.

Tugas-tugas Presentasi
1. Penelitian Literatur Tentang Penemuan Arkeologi PL
2. Penelitian Literatur tentang Tanah Kanaan
3. Tinjauan Teologis Hubunagn Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama
4. TinjauanTeologis tentang Pembuangan Israel
5. Membuat tanggapan atas buku bacaan yang diwajibkan minimal dalam 7 tanggapan
evaluatif.

iii
MOTTO

Tujuan Utama
Agar setiap orang “Mengenal Yesus Kristus lebih jelas, mengasihi-Nya lebih sungguh, dan
mengikuti-Nya lebih dekat”
(Richard Chichester: dalam W. Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari)

Prinsip Doktrin
Di dalam Keristenan doktrin bukan segala-galanya,
tetapi tidak yang lebih penting dalam Kekristenan daripada doktrin

iv
DAFTAR ISI

SILABUS........................................................................................................................ i
MOTTO.......................................................................................................................... iv
DAFTAR ISI................................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 1
A. Masalah Memahami Perjanjian Lama....................................................... 1
B. Pentingnya Perjanjian Lama...................................................................... 2
C. Definisi dan Sifat Teologi Perjanjian Lama.............................................. 3
D. Ruang Lingkup Teologi Perjanjian Lama.................................................. 4
E Pembentukan Kitab-kitab Perjanjian Lama............................................... 4
F. Kanon Perjanjian Lama............................................................................. 7
BAB II. MULTI WAJAH METODE TEOLOGI PERJANJIAN LAMA...................... 12
A. Metode Umum.................................................................................................. 12
B. Metode Kritik.................................................................................................... 14
BAB III.
PERKEMBANGAN PERIODIK TEOLOGI PERJANJIAN LAMA..................... 20
A. Periodisasi Perkembangan Teologi Perjanjian Lama....................................... 20
B. Sejarah Teologi Perjanjian Lama Sampai Abad XX........................................ 24
BAB IV...........................................................................................................................POKOK-
POKOK BAHASAN TEOLOGI PERJANJIAN LAMA............................................... 29
A. Penciptaan Langit dan Bumi............................................................................. 29
B. Pemilihan Bapa Leluhur Israel......................................................................... 35
C. Pembebasan Israel ........................................................................................... 40
D. Perjanjian Allah................................................................................................ 42
E. Penebusan......................................................................................................... 49
F. Pemeliharaan Allah........................................................................................... 50
BAB V. TEMA-TEMA TEOLOGI PERJANJIAN LAMA 1 ....................................... 52
A. Sunat ................................................................................................................ 52
B. Sabat ................................................................................................................ 53
C. Berkat................................................................................................................ 56
D. Ibadah............................................................................................................... 60
E. Kesalehan.......................................................................................................... 63

v
BAB I
PENDAHULUAN

Perjanjian Lama (selanjutnya disingkat PL) adalah koleksi dokumen agamawi yang
tersusun melalui proses yang panjang dan adikodrati. Pembentukannya memakan waktu selama
berabad-abad dan bertahap sampai kemudian ditetapkan sebagai Kitab Suci yang dikanonkan.
Suatu proses yang menguji dan meneguhkan bahwa kumpulan buku ini memang sungguh-
sungguh Firman Allah.
Dokumen itu bukan sekadar sekumpulan kitab, seperti sekian banyak buku yang pernah ada,
melainkan sebuah rangkaian kepustakaan agung dan menakjubkan yang mencatat kehadiran
Allah di dalam sejarah manusia dengan begitu jelas. Keseluruhannya merupakan tulisan suci dari
keyakinan iman Ibrani, karena itu disebut sebagai Kitab Suci Ibrani. “Di antara semua literatur
yang didapatkan dari kebudayaan dunia purba, tidak ada yang lebih mengagumkan atau lebih
provokatif daripda Alkitab Ibrani.”1 Kitab Suci Ibrani yang dikenal gereja Kristen sebagai
Alkitab Perjanjian Lama itu demikian luar biasanya sehingga telah mempengaruhi sedemikian
banyak manusia di sepanjang masa, dan akan tetap mempengaruhi lebih banyak orang lagi.
Karena semuanya itu adalah firman Allah.
Memang, Perjanjian Lama tersusun dari beragam kisah, peristiwa, gaya sastra, walaupun
tidak kronologis. Namun, secara material kitab-kitab PL secara konprehensif tersatukan oleh
fakta bahwa semuanya adalah bagian dari cerita yang sama. 2 Koherensi di dalam isi. Dari Alkitab
Ibrani inilah dilahirkan Teologi Perjanjian Lama.
Teologi Perjanjian Lama adalah salah satu cabang dari Teologi Biblkal, sebuah studi
mengenai kandungan-kandungan teologis yang bersumber dari dalam kitab-kitab PL. Dokumen
yang berasal dari akar kehidupan sebuah bangsa yang secara istimewa mengalami hubungan
yang begitu intim dengan Allah di sepanjang sejarahnya, sehingga layak menjadi “Umat Allah”.

A. Masalah Memahami Perjanjian Lama

Sekalipun kumpulan literatur itu luar biasa dan provokatif, sudah memengaruhi sedemikian
banyak umat manusia dari setidaknya dua agama samawi yang dipeluk sebagian terbesar umat
manusia, namun tidak mudah untuk dapat memahami isi Kitab Suci Ibrani ini. Hal itu
disebabkan ada kesenjangan waktu dan budaya yang tidak terjembatani, yang memengaruhi
pemaknaan dan pemahamannya. Sebab kumpulan dokumen Perjanjian Lama ini merupakan
rekam jejak perjalanan iman masayarakat sangat kuno yang terajut erat dengan perjalanan
sejarah bangsa yang fluktuatif dalam perjuangan eksistensial dan politik. Pada satu sisi,
perjuangan itu mempertahankan jati diri di tengah-tengah pergolakan dunia oleh ekspansi
imperialis Mesir, Asyur, Babel, Persia, penguasa Yunani setelah Aleksander Agung dan
1
John Drane, Memahami Perjanjian Lama I, Dari Bapa Leluhur Sampai Kerajaan Bersatu (Jakarta: Persekutuan Pembaca
Alkitab, 2002), v.
2
Ibid., 2.
1
Romawi,3 pada sisi lain melawan ketidaktaatan iman dan penyembahan berhala. Sehingga
muncul pertanyaan kaum beriman masa kini mengenai dokumen-dokumen Kitab Suci itu, antara
lain:
1. Apa artinya ketika naskah-naskah (teks) tersebut pertama kali ditulis?
2. Bagaimana hubungan kitab-kitab ini dengan kebutuhan dan aspirasi para pengarang dan
pembacanya?
3. Bagaimanakah pengetahuan akan kebudayaan lain pada zamannya memberikan informasi
tentang Israel purba?
4. Apakah maknanya bagi manusia zaman sekarang?
5. Pendekatan apa saja yang memungkinkan untuk memahami Perjanjian Lama?

B. Pentingnya Perjanjian Lama

Harus diakui, faktanya, Perjanjian Lama banyak menimbulkan pertanyaan dan penafsiran
bagi orang Kristen di milenium ketiga ini, lebih daripada Perjanjian Baru. Masalahnya antara
lain karena kekunoannya sangat asing bagi manusia masa kini. Selain itu banyak aturan agama
dan praktik ritual yang tidak terpahami dari segi moralitas modern. Ada teks yang diskriminatif
merendahkan perempuan. Tuhan terlibat dalam perang dan genocide.4 Bahkan lebih banyak lagi
masalah yang mendatangkan tanda tanya bagi orang beriman.
Namun, apa pun alasannya, kumpulan buku yang ditulis lebih dari dua ribu tahun lalu itu
(bahkan ada yang berusia 3.500 tahun), tetaplah sekumpulan buku yang sangat penting bagi
Kristen, bahkan bagi semua ras manusia yang mendatangkan keuntungan dan berkat bagi
kehidupan dalam beraneka dimensi, baik moral, historis, teologis dan salvasi. Pentingnya PL ini
terutama antara lain sebagai berikut:5

1. Merupakan Alkitab Yesus Kristus


a. Yesus mengenal sejarah PL (Yoh 3:14 cf. Bil 21:4-9)
b. Yesus Mendasarkan pengajaran-Nya pada PL (Mat 5:17; Mrk 11:17)
c. Yesus menggunakan PL untuk menentang Iblis (Mat 4:1-11)
d. Yesus menyatakan bahwa nubuat-nubuat PL digenapi di dalamNya (Luk 4:16-21; Yoh
15:25).

2. Merupakan Sumber Kutipan di PB


Tidak kurang dari 2.650 kutipan PB diambil dari PL, dengan ± 350 kutipan langsung dan
2.300 kutipan tidak langsung serta persamaan bahasa. Atau rata-rata ada satu kutipan PL dalam 3
ayat PB, dengan kitab yang terbanyak dikutip, Yesaya dan Mazmur (masing-masing ≥ 400 kali).
Hanya Kidung Agung yang tidak dikutip PB.
3
John Rogerson, Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), ix.
4
Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia 2007), xi
5
David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2009),13-14.
2
3. Merupakan Dasar untuk Memahami PB, berdasarkan:
a. Segi bahasa (bahasa Yunani PB banyak dipengaruhi oleh bahasa PL)
b. Segi sejarah (sejarah PL dilanjutkan sejarah PB), dan ...
c. Segi teologi (tema-tema teologi PL, seperti penciptaan, dosa, hukuman, pertobatan,
keselamatan, anugerah, menjadi dasar teologi PB).

4. Bersama dengan PB menjadi Dasar Doktrin tentang Allah yang Esa


a. Sifat-Nya sama (Mahakuasa, Mahakudus, Mahakasih, mahaadil, dsb).
b. Rencana-Nya sama (untuk penebusan dan penyempurnaan alam ciptaan).
c. Tuntutan-Nya sama (hidup suci, mengasihi Allah dan sesama, dsb).
5. Merupakan kesatuan dengan PB sebagai firman Allah yang berotoritas dan inerransi.
6. Mengandung sastra yang indah dan kisah yang termasyhur.

C. Definisi dan Sifat Teologi Perjanjian Lama

Teologi PL adalah salah satu bidang dari disiplin ilmu teologi yang penting dalam
memahami Alkitab secara keseluruhan. Istilah Teologi Alkitabiah (Biblical Theology) bisa
dipakai dalam dua arti, bisa berarti sebuah teologi yang bersumber dan berdasar Alkitab, atau
teologi yang dikandung oleh Alkitab itu sendiri. 6 Sedangkan arti teologi, menurut Millard J.
Erickson merupakan istilah yang digunakan untuk banyak hal.7 Dapat diartikan secara
etimologis, juga dalam arti batasan. Erickson menggunakan arti luas dan sempit.

1. Arti Luas Teologi


Ilmu teologi adalah ilmu yang meliputi berbagai bidang, seperti Teologi Biblika,
berdasarkan PL, PB, Historika, Teologi Sistematika, teori-teori berkhotbah, PAK, dan juga
bimbingan rohani atau konseling. Artinya “membahas keseluruhan ajaran dan praktik Kristen.”8

2. Arti Sempit Teologi


Dalam arti sempit hanya membahas ajaran mengenai Allah, lalu berkembang sebagai usaha-
usaha yang secara khusus mempelajari sifat doktrinal iman Kristen, termasuk di dalamnya:
teologi alkitabiah, teologi historis, teologi sistematika, dan teologi filosofis (teologi yang
dipengaruhi oleh filsafat).
Menurut Leon Morris, teologi mencerminkan kiat kita untuk menyajikan secara teratur
pemahaman kita mengenai Allah dan penyataan-Nya di dalam Kristus dan tentang makna
semuanya itu bagi para penyembah-Nya.9 Sehingga teologi adalah penemuan, penyusunan, dan
penyampaian kebenaran-kebenaran tentang Allah berdasarkan Alkitab.
Sedangkan menurut Ferguson, dkk., Teologi PL adalah sebuah disiplin ilmu yang secara
6
Gerhard F. Hasel, Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gundum Mas, 1992),16.
7
Millard J. Erickson, Teologi Kristen, Vol.1 (Malang: Gandum Mas, 2003), 24.
8
B. F. Drewes & Julianus Mojau (2003) Apa Itu Teologi, Pengantar Ke Dalam Teologi. Jakarta: BPK-GM, 17.
9
Leon Morris, Teologi Perjajian Baru (Malang: Gandum Mas, 1996), 29.
3
khusus mencari definisi, motif, metodologi atau inti aktivitas dan sebuah landasan permanen
untuk pembelajaran mengenai pekerjaan ilahi di dalam PL.10

3. Definisi Teologi Perjanjian Lama


Sikap para ahli terhadap teologi PL bukan tanpa masalah. Pada masa jayanya teologi Liberal
(abad ke-19 sampai awal abad 20, sampai PD I), teologi PL menghadapi tantangan teologis yang
berat dari serangan kelompok Liberal, yang ditokohi Schleiermacher, Welllhausen (dalam
Sejarah Agama-agama). Mereka ini sangat dipengaruhi oleh Hegel dan teori Darwin, dan
memandang teologi PL sebagai koleksi bahan-bahan dari beberapa periode yang hanya diangap
sebagai refleksi Israel atas agama-agama kafir di sekitar sejarah Israel sendiri. Namun pada masa
kini telah terjadi titik balik, melalui para teolog konservatif (Injili), PL kembali dilihat sebagai
proklamasi sejarah keselamatan dan sebagai sejarah iman Israel.
Menurut pandangan Kaiser, sifat teologi Perjanjian Lama bukanlah semata-mata suatu
teologi yang sesuai dengan keseluruhan Alkitab, tetapi teologi yang digambarkan dan dimuat
dalam Alkitab (subyektif-genitif) dan secara sadar berhubungan dari zaman ke zaman sebagai
keseluruhan konteks anteseden sebelumnya, menjadi dasar bagi teologi yang menyusul tiap
zaman. Strukturnya disusun secara historis dan isinya diperiksa dari segi eksegesis. Pusat dan
konseptualisasinya yang menyatu bisa ditemukan dalam berbagai gambaran, penjelasan dan
hubungan teksnya.11
Berkaitan dengan penfsiran, Teologi PL, bersama-sama dengan teologi sistematika,
menerapkan dan memanfaatkan penelitian dari hermeneutik Alkitab. Peneliti atau penafsir
membuat langkah-langkah penafsiran secara gramatikal – historis – sintaksis dan budaya dengan
menambahkan kerangkah teologis.
Teologi Perjanjian Lama secara definitif, adalah suatu bidang teologi yang membahas tema-
tema atau isu-isu teologis yang ada di dalam Alkitab Perjanjian Lama.12

D. Ruang Lingkup Nilai Teologi Perjanjian Lama

Teologi PL secara khusus membahas sejarah dan perkembangan teologi di PL, sehingga
memiliki ruang lingkup yang terbatas. Bidang yang menjadi bahasannya hanya pada kitab-kitab
kanon dalam koleksi orang Yahudi, dan korelasinya dengan Perjanjian Baru. Bukan untuk
mendiskusikan tiap informasi yang berhubungan dengan sejarah atau praktik keagamaan, seperti
dalam studi tentang sejarah, pemujaan, adat istiadat, atau arkeologi, tetapi suatu bidang studi
yang meneliti topik-topik teologis dan ajaran dari kandungan kitab-kitab PL.
Di dalam teologi PL semua teks dipandang sama pentingnya dan hadir untuk menilai kita,
bukan kita menilainya. Sekalipun tidak semua teks penting karena alasan yang sama, tidak
semua mengajarkan doktrin, tidak semua bagian memberikan ajaran etis, tetapi keseluruhan teks

10
Sinclair B. Ferguson, David F. Wright, J. I. Packer, New Dictionary Of Theology 2 (Malang: SAAT, 2009), 442).
11
Walter C. Kaiser Jr., Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004), 20.
12
Wikipedia: mengutip C. Barth dan Marie-Claire Barth-Frommel, Teologi Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK–GM, 2008.
4
merupakan suatu totalitas tema cerita atau ajaran. Teologi PL, kendati berbeda dengan teologi
PB, namun Teologi PL merupakan salah satu sumber dan penghubung Teologi PB.

E. Pembentukan Kitab-kitab PL

Kitab-kitab PL terbentuk secara bertahap melalui kurun waktu lebih dari seribu tahun, dari
zaman Musa sampai zaman intertestamental, dari pertengahan milenium ke-2 sampai
pertengahan milenium pertama sebelum Kristus. Melibatkan sekitar 40 penulis, dan dua bahasa
yang telah mati, yaitu bahasa Ibrani klasik dan bahasa Aram (Kej 31:47; Yer 10:11; Ez 4:8 –
6:18; 7:12-26).

1. Teks dan Transmisi


Sistem penulisan telah digunakan manusia sebelum tahun 3000 sM, baik di Mesir maupun di
Mesopotamia.13 Sistem penulisan di Mesopotamia umumnya dikenal sebagai rumpun bahasa
Semit. Mengutip Blommendaal,14 bahasa yang mendominasi tulisan PL adalah bahasa Ibrani
yang berasal dari rumpun bahasa Semitik. Bahasa semitik dapat dibedakan menjadi Semitik
Timur dan Semitik Barat. Semitik Timur menurunkan bahasa-bahasa Akkadian. Semitik Barat
menurunkan kelompok bahasa-bahasa Semitik Baratlaut dan Semitik Baratdaya. Bahasa Semitik
Baratdaya ini menurunkan antara lain bahasa Arab dan Etiopia. Sedangkan Semitik Baratlaut
menurunkan bahasa-bahasa Aram, Kanaan, dan sebagainya. Dari bahasa Kanaan muncul bahasa-
bahasa Ugarit, Kanaan-Amarna, Fenis-Fenisia, Moab dan Ibrani.

a. Bahan-bahan Tulis
Berbagai macam media tulis telah ditemukan di berbagai belahan dunia yang dipakai untuk
mendekumentasikan berbagai hal dan peristiwa melalui tulisan di zaman kuno. Ada berbagai
ragam penulisan, antara lain seperti inskripsi, yaitu tulisanyang diterakan di tembok-tembok
batu, lempengan batu, tanah liat, kulit dedaunan dan benda lainnya. Salah satu inskripsi yang
sangat terkenal adalah batu Rosetta dan Batu Moab. Sedangkan tulisan yang paling agamais
adalah Dekalog, yang aslinya ditulis pada 2 loh batu. Belum dikenal tinta untuk menulis,
sekalipun Alkitab menyebut-nyebut pengukir dan pena besi (Ayb 19:24; Yer 17:1), pena buluh
(Yer 8:8), pisau raut untuk menajamkan pena (Yer 36:23), dan tempat tinta (Yer 36:18).

b. Penulisan Perjanjian Lama


Bersamaan dengan dikenalnya sistem penulisan maka muncul pula golongan juru-tulis, yang
pada masa itu merupakan suatu profesi tersendiri. Pada masa tertentu, para juru-tulis sering juga
berfungsi sebagai diplomat. Sebab melalui keahlian mereka menguasai bahasa dan kesusastraan
yang berlaku di masa itu memudahkan hubungan surat-menyurat secara internasional, seperti
diperlihatkan dalam Yer 36:18, yang mencatat data yang sah mengenai kemiliteran, keuangan

13
Andrew E. Hill dan J. H. Walton, Op.cit., 20.
14
Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 13-14.
5
untuk kerajaan, contoh lainnya dalam 1Raj 4:3 – 2Raj 22:3-4; 2Taw 24:11; 26:11. Mereka
tergolong kaum cendikiawan. Di antaranya termasuk para imam yang merupakan jurutulis dan
pencatat untuk Bait Allah (Hill dan Walton, 2004:22-23).
Dengan semakin berkembanganya interaksi kebudayaan dan bahasa, serta sistem penulisan,
maka terjadi perkembangan di bidang tulis menulis, dan beberapa bahasa justru tereliminasi
karena ditinggal atau semakin sedikit penuturnya. Salah satunya adalah bahasa Ibrani. Karena itu
muncul kelompok cendikiawan yang merasa perlu untuk membukukan teks-teks Kitab Suci.
Seperti dikatakan oleh Blommendaal (2000:14), pembukuan teks-teks Kitab Suci itu berlangsung
dalam suatu kegiatan yang berabad-abad lamanya oleh para sarjana Yahudi yang disebut
Masorah, yang artinya penurunalihan atau tradisi. Pada waktu itu, ± tahun 100 sM, tulisan Ibrani
berupa huruf-huruf konsonan saja. Baru beberapa abad kemudian (± 500 – 900) ditambahkan
tanda baca yang menunjukan ucapan vokal. Dalam sistem penulisannya ada 2 aliran yang utama,
yaitu aliran Babilonia dan aliran Palestina, yang dianggap sebagai pratingkat sistem Tiberias.
Sedangkan Alkitab PL versi Biblia Hebraica, yang disusun R. Kittel, mengikuti pola Tiberias.
Para masoret merupakan kaum cendikiawan yang umumnya merupakan ahli kitab dan
pemimpin agama Yahudi. Merekalah yang telah membagi kata-kata dan menambahkan tanda
huruf hidup, tanda baca dan pembagian ayat dalam pada PL Ibrani. Untuk mengenang dan
menghargai para Masoret yang telah berjasa melestarikan Kitab Suci PL tersebut, maka Kitab
Suci PL Ibrani disebut sebagai Masyoreth Text (MT). Dalam perkembangan selanjutnya,
kemudahan untuk pembacaan Alkitab Ibrani itu semakin disempurnakan, meliputi pembagian
tambahan dari kitab-kitab PL ke dalam pasal-pasal. Pertama kalinya diperkenalkan dalam bahasa
Latin oleh Stephen Langdon (1150-1228), pembagian pasal-pasal dalam tahun 1518 (edisi
Bomberg). Pasal-pasal PL diberi nomor dalam versi Ibrani oleh Arius Montanus (± 1571), PL
dalam versi Latin ± 1555.15

c. Berbagai Versi Perjanjian Lama


Menghadapi perubahan zaman, situasi politik dan perjuangan eksistensi bangsa Israel, maka
keadaan itu mengharuskan Alkitab Ibrani untuk disalin kedalam bahasa-bahasa lain. Beberapa
versi kuno yang masih eksis dalam bentuk manuskrip, yang dipandang sebagai saksi-saksi
penting keaslian PL Ibrani, antara lain:
1) Pentateukh versi Samaria (bertanggal abad ke-4/5 sM)
2) Targum (saduran pra-Kristen PL berbahasa Aram)
3) Septuaginta (LXX)
4) Vetus Latina/Italia (Salinan latin LXX)
5) Vulgata (Salinan Latin PL Ibrani oleh Hieronimus tahun 382-405)
6) Pesyita Siria (± tahun 400).
7)
F. Kanon Perjanjian Lama

15
Hill dan Walton, op.cit., 2004:23.
6
Kanon adalah kata lain untuk standarisasi atau validasi. Kanon Alkitab adalah pengakuan
atas daftar kumpulan kitab yang berotoritas yang diakui sebagai Alkiab Kristen. Kanonisasi PL
artinya proses suatu kitab di PL untuk diakui dan diterima oleh umat Israel PL sebagai kitab-
kitab ilahi yang berotoritas dan inerransi. Untuk masuk ke dalam Kanon PL suatu kitab telah
teruji dalam isi dan waktu, serta teah menerima pengakuan luas.

1. Definisi
Perjanjian Lama adalah kumpulan kesusastraan yang istimewa dari zaman Ibrani purba.
Koleksi buku-buku ini diakui sebagai kitab-kitab suci, atau sebagai kanonik. Pada dasarnya,
kanon ini hanya memuat kitab-kitab yang diterima memiliki wibawa rohani bagi jemaat Yahudi
pra-dan paska-pembuangan.
Istilah “kanon” adalah ungkapan teologis untuk mengacu kepada kitab suci yang diakui
otoritasnya. Kata ini berasal dari kata qaneh yang artinya gelagah atau tongkat pengukur dari
bulu. Karena gelagah pada masa itu dipakai sebagai alat penggaris atau pengukur untuk
membuat garis lurus, maka lambat laun pemakaian kata ini berubah menjadi alat pengukur. Kata
ini tidak dijumpai dalam Alkitab, sekalipun kosa katanya ada dalam 1Raj 14:15; Ayb 40:21.
Diterapkan secara teologis untuk mengidentifikasikan kitab suci, yang mula-mula dikenakan
oleh Athanasius, uskup dari Aleksandria (tahun 367). Gagasan kanon ini memiliki arti intrinsik
dan ekstrinsik. Secara instrinsik kanon mengandung arti bahwa tiap-tiap kitab PL menunjukkan
sifat yang tidak dapat dipisah-kan dari pengilhaman ilahi. Kesaksian dari buku itu sendiri dalam
hubungannya dengan inspirasi ilahi. Kedua, secara ekstrinsik (secara teknis), menunjuk pada
daftar atau kumpulan kitab yang terdapat dalam Kitab Suci Ibrani.

2. Proses Pebentukan Kanon


Pada dasarnya tidak ada dokumen dari para ahli kitab yang merinci berbagai langkah dari
prosedur sehingga terbentuknya kanon Alkitab Ibrani. Pengkanonan Alkitab PL sampai menjadi
Kitab Suci jelas melalui proses yaang panjang dan rumit, dan terjadi dalam berbagai tahap
selama beberapa abad.
Tahap pertama, pengumpulan bentuk lisan. Ucapan-ucapan yang berotoritas dari firman
Allah disampaikan (Ul 5:1; Yeh 5:5) dan diteruskan ke generasi-generasi berikutnya sebagai
“firman Tuhan” dalam bentuk tradisi lisan (cp. Yes 48:17).
Tahap kedua, ditulis dalam dokumen resmi. Pada suatu saat perkataan-perkataan ilahi dan
ucapan-ucapan yang diinspirasikan Allah itu dicatat dan dipelihara oleh masyarakat Ibrani dalam
bentuk tertulis. Kadang-kadang ucapan-ucapan yang berwenang itu ditulis pada waktu hampir
bersamaan (mis. Taurat dalam Kel 24:3 – cp. Yos 1:8 – juga firman Tuhan yang disampaikan
oleh Yeremia pada Yoyakim, Yer 36)
Tahap ketiga, Pengumpulan dokumen tertulis. Proses pengumpulan barangkali lama dan
luas, mencapai kurun waktu seribu tahun.
Tahap keempat, menyortir dokumen-dokumen tertulis dan menetapkan kanon. Rincian
prosedur pernyortiran tidak jelas. Namun tampaknya penyortiran ini berdasarkan pilihan-pilihan

7
yang disepakati di antara para pemuka agama Yahudi yang mendapat pimpinan Roh Kudus.
Setidaknya, ada empat kriteria untuk sebuah kitab bisa diterima sebagai kanon:
a. Penyataan langsung dari Roh Allah, contoh kasus pada Musa dan ketujuh puluh
pemimpin lainnya, Bil 11:16-30; Yer 28:9; 44:28).
b. Ditulis oleh siapa? merupakan salah satu faktor penting. Pada umumnya penulis kitab-
kitab yang dikanonisasi itu menduduki jabatan sebagai pemimpin yang ditunjuk Allah,
seperti pemberi hukum, nabi, hakim, imam dan raja.
c. Tiap-tiap isi kitab diteliti sehubungan dengan konsistensi internal dari pengajar-annya
dan kesatuan menyeluruh dari tema-tema dan berita yang sudah diakui otoritas-nya,
seperti Taurat atau perkataan “demikianlah firman Tuhan.”
d. Penggunaan dokumen-dokumen atau kitab-kitab itu sudah tidak diragukan lagi menjadi
salah satu faktor penentu. Atau dengan kata lain, kitab itu sudah dipakai dan diterima
secara umum sebagai kitab yang berotoritas.
Pada akhirnya, harus diterima, bahwa Roh Kudus yang sama, yang telah menginspirasi
penulis kitab-kitab itu, telah membimbing para pemimpin rohani Ibrani selama proses
penyaringan kanon.

3. Penetapan Kanon
Penganonisasian yang sudah tidak dapat ditentukan dimulai sejak kapan itu, yang jelas
ditutup ketika terjadi Konsili atau Sidang Raya di Yamnia (± tahun 105 M). Ketika itu para rabbi
Yahudi akhirnya memutuskan untuk memasukkan Kidung Agung, Ester dan Pengkhotbah ke
dalam kanon mereka, sehingga telah melengkapi seluruh konten PL sebagaimana dikenal
sekarang, tanpa memasukkan tulisan-tulisan lain, baik kitab-kitab yang dikenal dengan nama
Apokrifa, maupun kitab-kitab Pseudepigrafa.

1. Susunan PL Menurut Kanon Ibrani


Bahasa Ibrani Bahasa Indonesia Bahasa Latin Bahasa Inggris
I. Thora I. Taurat Pentateukh Pentateukh
Beresyit – Pada mulanya Kejadian Genesis Gensis
Eleh Syemot – Inilah nama2 Keluaran Exodus Exodus
Wayyiqra- Lalu Ia memanggil Imamat Leviticus Leviticus
Bemidbar – pdg gurun Bilangan Numeri Numbers
Eleh Haddebarim (Debarim) Ulangan Deuteronomium Deuteronomy
Inilah perkataan2/perkara2
II. Nebiim II. Nabi-nabi
A. Nebiim Risyonim A. Nabi2 terdahulu
Yehosyua Yosua Josua Joshua
Syofetim Hakim-hakim Judicum Judges
I, II Syemuel I, II Samuel I, II Samuel I, II Samuel
I, II Melakim I, II Raja-raja I, II Regum I, II Kings

B. Nebiim Akharonim B. Nabi2 kemudian


Yesyayahu Yesaya Jesaia Isaiah
Yirmeyahu Yeremia Jeremia Jeremiah
Yekhezqel Yehezkiel Ezechiel Ezekiel
Hosyea Hosea Hosea Hosea
Yoel Yoel Joel Joel

8
Amos Amos Amos Amos
Obadyah Obaja Obadia Obadiah
Yonah Yunus Jona Jonah
Mikah Mikha Micha Micah
Nahum Nahum Nahum Nahum
Khabaqquq Habakuk Habakuk Habakkuk
Sefanyah Zefanya Zephania Zephaniah
Khaggai Hagai Haggai Haggai
Zekharyah Zakharia Sacharia Zechariah
Malaki Maleakhi Maleachi Malachi

III. Ketubim III. Tulisan2 Suci


Tehillim Mazmur Psalmi Psalm
Iyob Ayub Job Job
Misyelē Amsal Proverbia Proverbs
Rut Rut Ruth Ruth
Syir Hasysyirim Kidung Agung Canticum-Canticorum The Song of songs
Qohelet Pengkhotbah Ecclesiastes Eccleesiastes
Ekah Ratapan Threni Lamentation
Ester Ester Esther Esther
Daniel Daniel Daniel Daniel
Ezra Ezra Ezra Ezra
Nehemiyah Nehemia Nehemia Nehemia
I, II Dibre Hayyamim I, II Tawarikh I, II Chronica I, II Chronicles

2. Daftar Urutan Tanakh


Torah (‫)ּתֹורָ ה‬ Nevi’im (‫)נביאים‬ Ketuvim (Tulisan atau kitab-kitab
suci [‫)]כְּתּובִים‬
1. Bereshit (Kejadian) [ Nabi-nabi Awal (Nevi'im Rishonim [ Kelompok I: Tiga Kitab Puisi
‫]בראשית‬ ‫)]נביאים ראשונים‬ (Sifrei Emet)
2. Shemot (Keluaran [‫)]שמות‬ 6. Yekhoshua (Yosua) [‫]יהושע‬ 14. Tehillim (Mazmur) [‫]תהלים‬
3. Wayiqra (Imamat [‫)]ויקרא‬ 7. Syofetim (Hakim-hakim) [ 15. Mishlei (Amsal) [‫]משלי‬
4. Bamidbar (Bilangan/ ‫במדבר‬ ‫]שופטים‬ 16. Iyov (Ayub) [‫]איוב‬
5. Devarim (Ulangan [‫)]דברים‬ 8. Shemuel (1 dan 2 Samuel
menjadi satu) [‫]שמואל‬
9. Melakhim (1 dan 2 Raja-raja
menjadi satu) [‫]מלכים‬

Nabi-nabi Akhir (Nevi'im Kelompok II: Lima Gulungan


Aharonim [‫)]נביאים אחרונים‬ (Hamesh Megillot)
10. Yeshayahu (Yesaya) [‫]ישעיהו‬ 17. Shir Hashirim (Kidung Agung) [
11. Yirmeyahu (Yeremia) [ ‫]שיר השירים‬
‫]ירמיהו‬ 18. Rut (Rut) [‫]רות‬
12. Yekhezqel (Yehezkiel) [ 19. Eikhah (Ratapan) [‫]איכה‬
‫]יחזקאל‬ 20. Qokheleth (Pengkhotbah [
13. Trei Asar (Dua belas kitab ‫)]קהלת‬
Nabi-nabi kecil [‫)]תרי עשר‬: 21. Esther (Ester [‫)]אסתר‬

Hosea (Hoshea [‫)]הושע‬


Yoel atau Yo'el [‫]יואל‬
Amos [‫]עמוס‬ Kelompok III: Kitab-kitab Sejarah
Obaja (Ovadyah [‫)]עבדיה‬ Lainnya
Yunus (Yonah [‫)]יונה‬ 22. Daniel (Daniel) [‫]דניאל‬
Mikha (Mikhah [‫)]מיכה‬ 23. Ezra (Ezra dan Nehemia
Nahum (Nakhum [‫)]נחום‬ Menjadi satu [‫)]עזרא‬
Habakuk (Khabaquq [‫)]חבקוק‬ 24. Divrei ha-Yamim (1 dan 2
Zefanya (Tsefania [‫]צפניה‬ Tawarikh menjadi satu [‫דברי‬
Hagai (Khaggai [‫)]חגי‬ ‫)]הימים‬
Zakharia atau Tsekharia [‫]זכריה‬

9
Maleakhi (Malaakhi [‫)]מלאכי‬

2. Daftar urutan Kitab-kitab dalam Tanakh, Alkitab Kristen dan Alkitab Katolik
Tenakh/Tanakh Katolik Roma/Ortodoks Kristen
Thorah Pentateuch Pentateukhos
1. Beresyith 1. Kejadian 1. Kejadian
2. Shemoth 2. Keluaran 2. Keluaran
3. Wayiqra 3. Imamat 3. Imamat
4. Bemidbar 4. Bilangan 4. Bilangan
5. Debarim 5. Ulangan 5. Ulangan
Nebi’im (Nabi-nabi) Sejarah sejarah
6. Yosua 6. Yosua 6. Yosua
7. Shofetim 7. Shofetim 7. Hakim-hakim
8. Samuel 8. Rut 8. Rut
9. Melakim 9-10. 1, 2 Samuel 9.10. 1, 2 Samuel
10. Yesaya 11-12. 1, 2 Raja2 11-12 1, 2 Raja-raja
11. Yeremia 13.14 1, 2 Tawarikh 13.14 1, 2Tawarikh
12. Yehzkeil 15-16 Ezra dan Nehemia 15.16 Ezra dan Hehemia
13. Tere Asar (Dua Belas) 17. Tobit* 17. Ester
Hosea 18. Yudit*
Yoel 19. Ester & tambahan2 pada
Amos kitab Ester*
Obaja Syair dan Kebijaksanaan Syair dan Hikmat
Yunus 20. Ayub 18. Ayub
Mikha 21. Mazmur 19. Mazmur
Nahum 22. Amsal 20. Amsal
Habakuk 23. Pengkhotbah 21. Pengkhotbah
Zefanya 24. Kidung Agung 22. Kidung Agung
Hagai 25. Kebijaksanaan Salomo*
Zakharia 26. Eklesiastikus
Maleakhi (Kebijaksanaan Yesus
bin Sirakh)*
Ketubim Nabi-nabi Nabi-nabi
14. Tehilim 27. Yesaya 23. Yesaya
15. Ayub 28. Yeremia 24. Yeremia
16. Mishle 29. Ratapan 25. Ratapan
17. Rut 30. Barukh, termasuk surat 26. Yehezkiel
18. Shir Hashirim (Kid. Yeremia+ 27. Danile
Agung) 31. Yehezkiel 28. Hosea
19. Kohelet 32. Daniel, termasuk 29. Yoel

10
20. Ekah tambahan pada kitab 30. Amos
21. Ester Daniel*, Susana*, Lagu 31. Obaja
22. Daniel Pujian Ketiga Pemuda*, 32. Yunus
23. Ezra – Nehemia Dewa Bel dan Naga* 33. Mikha
24. Dibre Hayamin 33. Hosea 34. Nahum
(Tawarikh) 34. Yoel 35. Habakuk
35. Amos 36. Zefanya
36. Obaja 37. Hagai
37. Yunus 38. Zakharia
38. Mikha 39. Maleakhi
39. Nahum
40. Habakuk Catatan :
41. Zefanya * Apokrifa dalam Kanon
42. Hagai Protestan
43. Zakharia + Hanya pada Roma
44. Maleakhi Katolik
45. I Makabe*
46. II Makabe+

Pertanyaan

Bagian A
1. Apa maksudnya Alkitab Perjanjian Lama itu bersifat provokatif, dan bagaimana?
2. Apa masalah utama dalam memahami Perjanjian Lama sekarang ini?
3. Jelaskan apakah teolgi dan Teolgi Perjanjian Lama itu
4. Mengapa Perjanjian Lama Penting bagi Orang Kristen masa kini?
5. Sebutkan sifat Teologi Perjanjian Lama

Bagian B
1. kapankah Perjanjian Lama ditulis?
2. Sebutkan pola pembagian kitab dalam Alkitab Ibrani dan uraikan

11
BAB II
MULTIWAJAH METODE TEOLOGI PERJANJIAN LAMA

Pendekatan ilmiah dalam membahas teologi Perjanjian Lama, tidaklah sesederhana seperti
yang ada pada masa kini. Para sarjana berusaha membangun metode atau pendekatan melalui
berbagai cara. Secara umum ada metode yang bersifat deskriptif dan historis, menggunakan
pendekatan bersifat normatif teologis yang sangat kaku, bersifat progresif dari kitab per kitab,
ada juga dengan cara menyusun tema-tema tertentu. Tetapi juga ada metode kritik Alkitab

A. Metode Umum

Para peneliti ahli telah berusaha menemukan arti teks seperti yang dimengerti pembaca masa
lalu (pembaca aslinya) oleh pembaca masa kini. Tentu ini suatu upaya keras dan tugas yang amat
besar, yang memerlukan persiapan yang tepat. Banyak faktor yang menyulitkan16
Pertama, Wahyu Allah itu tidak disampaikan dalam bahasa atau kebudayaan kita, tetapi
bahasa dan kebudayaan Timur Dekat Kuno, khususnya kebudayaan Israel.
Kedua, Kecenderungan untuk memilih-milih apa yang kita dengar atau menyesuaikan berita
dengan apa yang ingin kita dengar. Padahal kita harus membiarkan Alkitab berbicara sendiri
menurut ketinggian dan agendanya sendiri, tanpa ditambah dengan ide-ide kita sendiri.
Ketiga, karena materi PL memiliki beranekaragam bahan yang berasal dari berbagai periode
dengan rentang waktu yang sangat panjang, maka muncul beragam metodologi yang pernah
dipakai dalam sejarah teologi yang berusaha membangun pendekatan teologis sesuai sudut
pandang yang dipakai. Menurut Kaiser (2004:21), setidaknya ada 4 tipe utama metodologi yang
muncul dalam tahun-tahun belakangan ini, yaitu tipe struktural, tipe diakronis, tipe leksikografis,
dan tipe tema alkitabiah. Sekalipun masih banyak lagi pendekatan yang dipakai dalam
mempelajari PL.
Mengutip Gerald F. Hasel dan Walter C. Kaiser, Wikipedia memaparkan bahwa metode
yang digunakan para teolog dalam membangun sebuah sebuah Teologi PL merupakan hal yang
cukup penting, karena dengan metode tertentu, kita dapat mengeluarkan pesan yang beragam
dari sejarah PL melalui penafsiran eksegetis, sehingga memberikan dampak pada sejarah
dogmatika dan filsafat agama-agama. 17
Dalam menentukan metode yang akan digunakan, para teolog perlu mengetahui tugas dari
Teologi Perjanjian Lama, berupa tugas deskriptif dan tugas normatif. Tugas deskriptif
mengarahkan para teolog untuk memusatkan perhatiannya pada soal menguraikan arti asli dari
ayat, bukan makna ayat itu pada masa kini berbeda dengan tugas normatif dari Teologi PL yang
menuntut para teolog untuk memusatkan perhatiannya dalam menguraikan arti dan makna ayat
itu bagi masa kini sehingga bersifat normatif bagi iman dan kehidupan saat ini.

16
Andrew E. Hill & John H. Walton, (2004) Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2004, 3-4.
17
https://id.wikipedia.org/wiki/Teologi_Perjanjian_Lama/9/12/2016/9:14.
12
Dalam perkembangan selanjutnya, para teolog tidak dapat memilih kedua tugas tersebut
karena tugas deskriptif maupun normatif dapat saling melengkapi sebuah bangunan Teologi PL.
Berdasarkan pergumulan tersebut, muncul beberapa pendekatan penting yang menjadi metode
seorang teolog dalam membangun sebuah Teologi PL.
Sebelum memahami metode yang akan digunakan, para teolog juga perlu memerhatian
beberapa watak yang dimiliki oleh Teologi PL.
Pertama, PL perlu dilepaskan dari sifat pengajaran /kerygmatic sehingga fokus dari PL
bukanlah terhadap disiplin ilmu teologi melainkan pada Firman Allah. Kedua, setiap bagian
dalam PL memiliki sifat dan karakter yang kaya dan beragam. Ketiga, Teologi PL merupakan
disiplin ilmu yang menggunakan pendekatan sejarah. Dari ketiga watak tersebut, kemudian
muncul empat pendekatan utama, yaitu metode tipe struktural, tipe diakronik, tipe leksikon dan
tipe tematik alkitabiah, yang sering digunakan pada masa kini, juga beberapa metode lain.

1. Metode Struktural (Didaktik-Dogmatik)


Metode ini dalam mempelajari PL menggunakan pendekatan penggambaran kerangka
berpikir dari pemikiran dan kepercayaan PL dalam unit-unit yang dipinjam dari teologi
sistematika, sosiologi, atau prinsip-prinsip teologi pilihan, kemudian merunut hubungannya
dengan konsep-konsep sekunder (Eichrodt, Vriezen, van Imschoot). Artinya, topik per topik. Ini
adalah metode tradisional dengan skema dasar Allah – manusia – keselamatan. Namun
pendekatan ini dianggap usang dan tidak mampu mewakili keseluruhan tema yang terkandung
dalam Alkitab. Metode ini bersifat deduktif dan disebut juga sebagai metode didaktik-Dogmatik.
Metode ini, membahas PL bukan berdasarkan hanya pada pernyataan PL saja, tetapi juga
masalah-masalah dari luar PL.18

2. Tipe Diakronik (Berdasarkan Sejarah)


Metode ini mendekati teologi PL berdasarkan jangka waktu dan stratafikasi sejarah bangsa
Israel secara berturut-turut (Gerald von Rad). Mentode ini menekankan pada penelusuran sejarah
penyataan Allah berdasarkan perkembangan tradisi kuno, yang dianggap penting bagi orang
Israel, sesuai dengan urutan tahun kemunculannya. Tetapi sayangnya, tradisi dalam sejarah Israel
tidak selalu menunujukkan urutan yang logis, sekalipun ada kesinambungannya. Von Rad
menolak “pendekatan pemikiran”, sebab menurutnya teologi PL berpusat pada sebuah dunia
yang dibangun dari kesaksian sejarah Israel, kerygma tentang tindakan penyelamatan Allah yang
disaksikan oleh iman Israel, bukan apa yang dipikirkan teolog. Sehingga dia menggunakan
pedekatan sejarah.

3. Tipe Leksikografis (Pengunaan Contoh yang Representatif)


Tipe ini membatasi lingkup penyelidikannya pada satu kelompok orang-orang alkitabiah dan
kosa kata teologi khusus mereka, misalnya orang-orang bijak, kosa kata para imam, kaum elohis,

18
Hasel, 47.
13
dsb. Metodologi ini dibangun oleh W. Eichrodt. 19 Tujuannya, untuk memahami kepercayaan PL
dalam kesatuan strukturalnya dan menjelaskan maknanya yang paling dalam. Tema utama yang
diusung berkenaan dengan “perjanjian.”

4. Metode Tematik-Alkitabiah (Metode Dialektis-Tematik)


Teologi PL mengandung pendekatan topikal deskriptif, yaitu sesuai dengan pengertian
yang dikandungnya untuk masa kini. Misalnya mengembangkan tema tentang etika-estetika,
pembebasan-berkat, atau masalah kosmis. Topik-topik atau tema-tema dikelompokkan bersama
dalam beberapa bagian sehingga menimbulkan pertanyaan bagaimana semua topik dan tema itu
berhubungan satu sama lain.

5. Metode Topikal
Tipe lain yang digunakan untuk menyusun teologi PL ialah metode yang mendasarkan
penelitian pada topik-topik tertentu di dalam PL semata. Metode ini melihat Alkitab secara
menyeluruh lalu melihat sejauh mana gagasan-gagasan dari topik tersebut memiliki relevansi dan
krusialitasnya dalam PL. Padahal. Untuk memiliki suatu pandangan yang menyeluruh mengenai
Alkitab tidaklah mudah. Kedalaman setiap materi tidak sama, dan konteks PL juga berbeda-
beda.

B. Metodologi Kritik

Metode kritik mencoba merekonstruksi cara-cara dan sarana-sarana yang digunakan dalam
teks PL sehingga berada dalam bentuknya yang sekarang. Pendekatan-pendekatan itu biasanya
digunkan oleh para teolog liberal. Maksud dan tujuan kritik teks adalah untuk mengidentifikasi
kesalahan-kesalahan yang menurut mereka mungkin saja terjadi dalam proses penyalinan ulang
(transmisi) teks yang dilakukan dengan tangan selama berabad-abad.
Menurut mereka, naskah-naskah Ibrani tertua berasal dari abad ke-2 sM, dan kebanyakan
berupa fragmentaris (terpotong-potong). Padahal, Alkitab Ibrani itu lengkap, usia tertua bagian
Alkitab diperkirakan berasal dari abad ke-14 SM. Semua bukti menunjukkan bahwa secara
keseluruhan teks-teks itu asli, PL telah disalin dengan setia selama berabad-abad, kendatipun
memiliki variasi yang ribuan banyaknya.

1. Perkembangan Kritik Modern


Kritik tehadap Alkitab yang dikembangkan oleh para sarjana Liberal didasarkan atas
mengembangkan pemahaman yang mengandalkan rasio semata, mengabaikan inspirasi Allah
atas Alkitab, baik di PL maupun di PB dan menggulirkan berbagai teori kritik modern.

a. Prinsip-Prinsip Dasar Kritik Modern

19
Hasel. 53-60.
14
Adanya kemiripan sastra yang ada dalam literatur daerah Timur Dekat, membuat para
kritikus menerapkan prinsip-prinsip penyelidikan sejarah kesusastraan timur kuno kepada
Perjanjian Lama. Setidaknya ada tiga prinsip dasar yang mereka terapkan:19
1) Menerapkan pendekatan harmonis atas kitab-kitab suci Ibrani seperti karya kuno lainnya.
2) Untuk menentukan historisitas suatu dokumen kuno, “para sarjana sejarah dan kesusastraan
tetap mengikuti dictum atau ucapan Aristoteles, bahwa fungsi prasangka harus diberikan
kepada dokumen itu sendiri.
3) Para kritikus menekankan pentingnya telaah ini diterapkan ke dalam PL, dan mereka
menyebut ini sebagai metode harmonisasi.20

b. Melatih Berpikir Terbuka


Konsep rasionalisasi yang dipegang oleh para kritikus, sangat berorientasi kepada fakta, dan
akan mengubah pemikiran mereka jika ada fakta baru yang ditemukan. Mereka siap untuk
mengubah teori jika teori ini tidak mencerminkan seluruh fakta secara memuaskan.21

c. Menerima Pengaruh-pengaruh Luar yang obyektif


Para kritikus mengemukakan konsep pendekatan terhadap Alkitab dengan menggunakan
kriteria estetika, dan kriteria sastra zaman modern, dan menerapkan ukuran-ukuran masyarakat
timur terutama bangsa Israel. Dan prioritas mereka arahkan kepada data yang obyektif tetapi dari
luar Alkitab. Namun pada kenyataannya bukti-bukti Arkeologi sekarang ini justru banyak
diabaikan oleh para kritikus ini.
a. Anti Supranatural
Satu pemikiran penting yang seragam dari para pengeritik Alkitab adalah meragukan hal-hal
supranatural terutama mukjizat. Hal ini dipengaruhi oleh konsep rasionalis. Pengeritik
digerakkan oleh kekuatan rasionalisme yang lebih menjunjung tinggi konsep filsafat yang jelas
bertentangan dengan firman Tuhan.22

2. Model-Model Kritik

a. Kritik Historis
Kritik ini mengalami kejayaan sekitar tahun 1950-an. Para teolog kritik historis berusaha
menyelidiki latar belakang sejarah kitab-kitab dalam Alkitab. Setiap kata, kallimat atau narasi
kitab dibangding-bandingkan dan dicari kelemahannya, khususnya dari aspek sejarah. Bila ada
kelemahan, mereka ekspos sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa tulisan itu hasil
pengumpulan atau editing para penulis, baik yang namanya disebut atau anonim. Bahkan lebih
jauh mereka menyimpulkan bahwa suatu kitab itu bukan hanya sekedar tafsir ulang tetapi juga

20
Josh McDowell, (2003) Apologetika: Volume 2. Malang: Penerbit Gandum Mas, 38-39, dikutip Wisma Pandia, dalam
Modul Diktat Kritik Tinggi Alkitab, STTIF.
21
Wisma Pandia. Modul Kuliah Kritik Tinggi Alkitab, STTIF, 27.
22
Pandia, 27
15
merupakan ungkapan iman penulis dan bukan peristiwa historis. Pendekatan yang mereka
lakukan dikenal dengan teori Linguistik Modern, suatu displin ilmu dengan prinsip-prinsip:
1) mengutamakan pendekatan terhadap teks secara sinkronik, bukan secara diakronik.
2) Menekankan unsur-unsur ujaran daripada bentuk tertulis suatu bahasa, dan
3) pemahaman terhadap bahasa sebagai suatu sistem yang terstruktur.23
Pendekatan ini akhirnya membuat Alkitab sama dengan buku-buku lain. Mereka meneliti
catatatan kagamaan yang pararel, meneliti materi sejarah yang sekuler, dan mencocokan
peristiwa sejarah yang paralel lalu berusaha menjelaskan kejadian supranatural dengan
penjelasan secara alamiah dan cerita-cerita yang dibuat oleh penulisnya. Mereka menentukan
penanggal suatu kitab menurut pandangan sendiri, yang jauh lebih kemudian.

b. Kritik Sumber
Kritik sumber berusaha untuk mengidentifikasi sumber-sumber yang digunakan dalam
penulisan kitab. Dalam penentuan sumber-sumber itu setidaknya mereka mempunyai beberapa
pertanyaan dasar.
1) Apakah dokumen yang sedang dipelajari itu menunjukkan adanya sumber?
2) Apa yang dikatakan sumber tersebut?
3) Apa yang dilakukan pengarang dengan sumber tsb? (menyalin? Mengubah? Atau salah
paham?)
Menentukan adanya sebuah sumber, menetapkan isi dan makna sumber itu, dan bagaimana
sumber itu dipakai, merupakan tiga pokok penelitian sumber.24
Adanya sumber-sumber mereka tentukan juga bila mereka melihat ayat tertentu membuat
alur pemikiran atau gaya bahasa yang berbeda dari konteksnya, walaupun tidak ada petunjuk
eksplisit. Kesepakatan perkataan juga mengusulkan adanya suatu sumber yang sama, yang
mendasarinya. Problem dari kritik sumber ini ada dua segi, yaitu cendrung mengabaikan unsur
ilahi dan mengakui adanya kesalahan, segi lainnya, kritik ini dibangun tanpa adanya bukti
otentik suattu sumber tertentu, teapi hanya bersifat hipotetis.25

c. Kritik Bentuk
Kritik bentuk melepaskan kritik bahwa:
1) Alkitab yang ada sekarang didasarkan atas tradisi lisan yang beredar dalam unit-unit
terkecil, yang dikumpulkan si pengedit (penulis) ataupara editor.
2) Bahan-bahan asli tersebut (tradisi lisan) sudah digabung dan diedit dalam berbagai cara,
langkah atau tingkatan
3) Bahan-bahan yang ada di dalam tradisi itu memberikan informasi kepada kita tentang
kepercayaan dan situasi bangsa Israel mula-mula, semacam cerita rakyat.

23
S.O. Aitonam, “Pengantar Keragaman Metoda Tafsir” Forum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K.
Sembiring (Jakarta: LAI,1998),hal. 8, dikutip oleh Wisma Pandia, dalam Modul Diktat Kritik Tinggi Alkitab, STTIF.
24
Martin Harun, “Penelitian Sumber” Forum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K. Sembiring (Jakarta:
LAI,1998), hal. 12. Dikutip Wisma Pandia, 38.
25
Diedit dari Paul Enns (2003). The Moody Handbook of Theology. Malang: Literatur SAAT, 94.
16
Kritik bentuk berusaha menetapkan sejarah lisan dari berbagai teks Alkitab. Asumsinya,
bahwa bahan-bahan yang kita miliki sekarang, kitab apa pun, sebenarnya mempunyai sejarah
yang dipelihara dan diwariskan dalam bentuk tradisi lisan Yahudi. Penelitian bentuk ini terutama
berasal dari Jerman pada tahun-tahun berakhirnya perang dunia pertama.

d. Kritik Redaksi
Kritik Redaksi berkembang setelah dan berdasarkan kritik bentuk. Selain itu kritik redaksi,
yang memberi perhatian kepada seluruh Alkitab, juga menyiapkan sarana bagi lahirnya kritik
naratif. Kristik redaksi memiliki pendekatan berusaha mengenali redaktur (editor) yang
menghimpun sumber-sumber untuk menghasilkan bentuk akhir dari teks (seperti yang ada
sekarang). Secara luas peneliti resaksi bekerja dengan sumber-sumber. Metode redaksi
dipandang menggarap bnetuuk akhir dari teks yang sudah diolah oreh editor dan mengolah dan
menafsirkan kembali, atau dengan cara apa pun membentuk kemabli sumber-sumber untuk
mencapai tujuannya.26
Terlihat jelas bahwa kritik redaksi menempatkan penulis Alkitab bukan hanya sejarawan,
menurut mereka, tetapi juga menjadi seorang teolog dalam memodifikasi dan membumbui
tradisi historis. Penulis dapat kreatif, menambah dan membumbui tradisi historis bahkan dapat
keluar dari peristiwa historis. Penganut Kritik Redaksi menyebutkan beberapa cara kerja sebagai
redaktur, yaitu: (1) Mengaitkan bahan-bahan tertentu satu dengan yang lain (2) Menambahkan
catatannya sendiri pada bahan tradisional (3) menyusun ceritanya dalam urutan tertentu (4)
menanggapi atau menafsir bahan tradisional. Didalam penelitian redaksi ini, para peneliti
seringkali memberi perhatian besar pada kekhususan kitab-kitab tersebut, seakan-akan tidak ada
kesamaan sama sekali dalam hal isi dan amanatnya.27

1. Kritiki Teks
Maksud dan tujuan dari kritik teks adalah untuk mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang
mungkin saja terjadi dalam proses penyalinan ulang (transmisi) teks yang dilakukan dengan
tangan selama berabad-abad. Menurut mereka, naskah-naskah Ibrani tertua berasal dari abad ke-
2 SM, dan kebanyakan berupa fragmentaris (terpotong-potong). Padahal, Alkitab Ibrani lengkap
dan diperkirakan tertua usianya berasal dari abad ke-14 SM. Sekalipun semua bukti
menunjukkan bahwa secara keseluruhan teks-teks itu asli tulisan-tulisan Alkitab yang telah
disalin dengan setia selama berabad-abad, kendatipun memiliki variasi yang ribuan banyaknya.

2. Kritik Sumber
Kritik sumber berusaha untuk menetapkan bagian-bagian dari suatu kitab berhubungan
dengan sumber pertamanya. Atau berusaha merekonstruksikan sumber-sumber yang melandasi
narasinya. Misalnya kitab Tawarikh dan Raja-raja menyebutkan sumber-sumber yang tersedia

26
Andew H. Hill & J. H. Walton, 14-15.
27
Wisma Pandia, 40
17
bagi penyusunan kitab-kitab itu, baik dari sumber-sumber tertulis maupun sumber-sumber lisan.
Mereka sama sekali mengabaikan peranan pengilhaman ilahi.
3. Kritik Bentuk Sastra
Kritik sastra memandang Alkitab sebagai salah satu objek studi sastra. Mereka melakukan
analisis, penafsiran, juga penilaian terhadap teks sastra PL Kritik ini tidak terlalu memperhatikan
sumber-sumber tulisan yang barangkali berada di balik suatu kitab tertentu. Sebaliknya,
penelitian berkaitan dengan menetapkan sejarah lisan dari berbagai bagian teks. Asumsinya,
bahwa banyak bagian dari kitab apa pun dalam bentuk lisannya mempunyai fungsi yang berbeda
penggunaannya dalam konteks yang sekarang. Misalnya beberapa Mazmur kadang-kadang
diidentifikasi sebagai tradisi perayaan tertentu yang sudah digunakan dalam tata ibadat Israel.

4. Kritik Redaksi
Pendekatan redaksi berusaha untuk mengenali logika dan motivasi penulis, atau lebih sering
berusaha mengenali editor yang menghimpun sumber-sumber untuk menghasilkan bentuk akhir
teks. Biasanya peneliti kritik redaksi bekerja dengan sumber-sumber yang diteliti oleh kritik
sumber. Dengan demikian cara ini menggunakan penerapan pendekatan diakronik. Metode ini
tergantung pada riset sejarah tradisi. Jadi alkitab yang ada sekarang dianggap sebagai penceritaan
kembali kisah-kisah masyarakat kuno PL yang ada dalam tradisi mereka

5. Kritik Sejarah (Historis Kritis)


Sasaran dari kritik sejarah adalah menyusun kembali kejadian-kejadian yang berada di balik
kisah-kisah di Alkitab. Mereka mencurigai bahwa dibalik suatu kisah terdapat suatu motif atau
agenda teologis, sehingga tidak menyajikan detail-detail dari kejadian sebenarnya dengan jelas
dan lengkap. Misalnya, peneliti sejarah memberi rekonstruksi mengenai apa yang sebenarnya
terjadi di balik kisah berbagai kisah tulah di Mesir atau dalam penyeberangan Laut Merah. Di
mana saja intervensi adikodrati Allah berikan penjelasan alami. Demikian juga kisah ketika
Daud melawan Goliat, atau tentang keperkasaan Simson.

6. Analisis Struktur
Dalam penyelidikan PL, analisis mendapat pengertian sebagai metode yang menunjuk
kepada penafsiran yang menggunakan pendekatan sinkronik, yaitu pendekatan yang melihat teks
sebagai suatu yang berdiri sendiri, berlawanan dengan metode sejarah (diakronik) yang
menekankan pada penelusuran sejarah. Analisis sejarah ini semata-mata memusatkan perhatian
pada sifat sastra dan bagian-bagain penting dari teks untuk menyimpulkan artinya, alur cerita,
sifat pengembangan, penggunaan berbagai motif, kosa kata, sintaksis dan unsur-unsur sastra
lainnya digali secara mendalam dan mengesampingkan latar belakang sejarah atau arkeologi atau
sejarah sastra itu.

7. Pendekatan Kanonik

18
Dalam metode ini prasejarah (sumber-sumber, tradisi-tradisi, bentuk-bentuk terdahulu,
peredaksian, dsb) dari teks diabaikan, karena lebih mengutamakan pemahaman arti dari bentuk
akhir (bentuk kanonik) dari teks bagi komunitas orang percaya. Perhatian ditujukan pada sejarah
teks (diakronik) yang mengambil perkembangan bentuk kanonik sebagai titik tolak
penganalisisnnya. Suatu kisah keseluruhan dapat dipandang sebagai suatu konteks daripada
sebagai bagian-bagian dari kitab-kitab, atau kitab-kitab itu sendiri dipandang sebagai konteks.

Pertanyaan

1. Apa bahayanya metode diakronik dalam studi PL?


2. Perlukan kritik Alkitab bagi studi PL?
3. Apa negatifnya berpikir terbuka dalam pendekatan studi PL?
3. Sebutkan salah satu contoh destruktifnya metode historis kritis dalam studi PL

19
BAB III
PERKEMBANGAN PERIODIK TEOLOGI PERJANJIAN LAMA

Perjanjian Lama adalah sebuah dokumen yang jelas mengungkapkan sejarah Israel yang kait
mengait dengan pernyataan, yang terkenal dalam ungkapan “Beginilah firman Tuhan” dan kata-
kata yang serupa dengan itu. Di dalamnya terdapat kesatuan hakiki dari sejarah dan teologi
Israel, fakta tentang hidup serta kehidupan orang-orang beriman. Semuanya adalah peristiwa
sejarah. Terdapat bermacam-macam motif teologis, tetapi bukan sebagai ide dari penulisnya,
melainkan merupakan rencana Allah. Dialah yang berhak menetapkan nilai-nilai dan
menunjukkan perkembangan-perkambangan baik untuk masa kini dan masa yang akan datang.28

A. Periodisasi Perkembangan Teologi Perjanjian Lama

Perkembangan sejarah dalam teologi PL dimulai dari sejarah Israel yang nyata, dengan
geografi dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Di dalamnya tercakup seutuhnya kegiatan
penyelamatan Allah, dimulai dari era sebelum Bapa leluhur sampai sesudah pembuangan.

1. Zaman Sebelum Bapa Leluhur (Pengantar kepada Janji Allah)


Periode awal dimulai dari zaman Adam sampai Abraham. Namun Abraham merupakan
“kunci”, yang dimulai dari konsep perjanjian. Kata kunci perkembangan sejarah pada
periode ini ialah “berkat”. Pada mulanya “berkat” atas seluruh tatanan yang diciptakan,
kemudian mengerucut menjadi berkat keluarga dan bangsa di dalam Adam dan Nuh.
Klimaksnya, berupa berkat rangkap 5 kepada Abraham, di dalam Kej 12:1-3. Menjadi bangsa
yang besar mengandung dua berkat (memiliki keturunan dan negeri yang diberkati), memiliki
nama besar, diberkati secara material, berkat perlindungan. Berkat itu mencakup berkat jasmani
dan spiritual.

2. Zaman Para Bapa Leluhur (Perlengkapan di dalam Janji Allah)


Periode ini merupkan rentang waktu yang sangat penting dalam sejarah Israel. Begitu
pentingnya, sehingga Allah menyatakan diri-Nya sebagai “Allah Bapak Leluhur,” yaitu Allah
Abraham, Ishak dan Yakub. Mereka ini juga diangap sebagai “para nabi” (Kej 20:7; Mzm 10-
5:15). Hal ini disebabkan karena mereka telah menerima firman Allah secara pribadi dan
langsung (Kej 12:1; 13:14; 21:12; 22:1). Bahkan Allah telah menampakkan diri kepada mereka
melalui penglihatan dan bertemu “Malaikat Tuhan” (12:7; 15:1; 17:1; 18:1; 22:11,15). Ketiga
bapa leluhur Israel ini memiliki hak istimewa untuk menerima, melihat, mengalami dan
mendengar lebih banyak penyataan Allah ketimbang semua yang hidup di dalam milenium-
milenium sebelumnya. Karena itu, tidak salah kalau Kej pasal 12–50 disebut sebagai periode
sejarah ke-2 dalam pengembangan teologi PL.

28
Sumber utama: Walter C. Kaiser, Jr. (2020). Teologi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 61-77.
20
3. Zaman Musa (Orang-orang yang berkaitan dengan Janji Allah)
Zaman Musa menandai sejarah Israel yang disebut “kerajaan nabi dan bangsa yang kudus”
(Kel 19:6). Dengan penuh kasih Allah menguraikan garis besar sarana moral, sarana keagamaan
dan kehidupan sekular untuk melaksanakan panggilan yang demikian mulia itu. di dalam
Keluaran, tindakan kasih Allah itu diwujudkan melalui pelepasan dari Mesir, kepatuhan terhadap
10 perintah Allah, teologi tentang kemah suci dan berbagai persembahan kurban, sebagai
peraturan perjanjian (Kel 21-23). Pada periode ini Israel menjadi umat yang baru (Kel 1–40; Im
1–7; Bil 1–36. Selama periode ini, Musa menjadi nabi yang tidak ada tandingannya di antara
umat manusia (Bil 12:6-8), sebagai model nabi besar yang akan datang, Sang Mesias (Ul 18:15,
18). Konsep teologis utama adalah panggilan menjadi bangsa yang merdeka dan kudus bagi
Allah.

4. Zaman Pra-Kerajaan (Tempat yang berkaitan dengan Janji Allah)


Periode pra-teokrasi ini ditandai dengan penaklukan dan pendudukan Kanaan, sampai
dengan narasi tabut perjanjian Allah (1Sam 4-7). Suatu periode setelah enam abad sejak janji
diberikan kepada Abraham, yang penggenapannya, paling tidak sudah mencapai “babak semi
final”. Orang-orang dan kitab-kitab selama periode ini memiliki ukuran nilai moral Kitab
Ulangan, seperti Yosua, Hakim-hakim, Sameul bahkan Raja-raja (cf. Ul. 28:31; Yos 1, 12, 14;
Hak 2; 1Sam 12; 1Raj 8; 2Raj 17. Menjadikan periode yang ini sangat penting dalam sejarah
penyataan Allah. Tema teologi utama adalah penaklukkan dan penghunian.

5. Zaman Daud (Raja yang Berkaitan dengan Janji Allah)


Periode ini dihubungkan dengan kerajaan, keturunan, nama, tempat perhentian dan berkat
yang menjangkau pengaruh dan masa yang tidak terbatas. Janji di Kej 12:1-3 sama dengan 2Sam
7, zaman keemasan di bawah nama besar Daud, tinggal menunggu penggenapan final (raja
kekal-universal, sumber berkat). Tema utamanya adalah dinasti kerajaan.

6. Zaman Sastra Hikmat (Kehidupan di dalam Janji Allah)


Empat puluh tahun pemerintahan Salomo ditandai dengan pembanguan Bait Allah dan
penyataan ilahi yang luar biasa. Pada tingkat tertentu periode ini menyerupai masa sebelum
kerajaan, karena sebagian bersifat transisi. Tidak ada periode yang lebih sulit untuk dihubungkan
dengan keseluruhan teologi PL yang berkesinambungan daripada periode sastra hikmat, yang
terdapat dalam Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, dan Mazmur Hikmat. Konsep kunci pada
zaman hikmat ini ialah “takut akan Allah.”

7. Zaman Abad Kesembilan (Hari Janji Allah)


Masa ini merupakan “Hari Janji” yang pertama dari lima zaman para nabi, yang dimulai dari
pembagian kerajaan pada thun 931 SM. Periode ini menempatkan nabi Yoel dan Obaja sebagai
tokoh yang sangat berperan dan dianggap sebagai nabi yang paling permulaan menulis. Teologi

21
mereka yang utama adalah mengenai “hari Tuhan,” Suatu hari yang akan datang ketika TUHAN
akan membuktikan kebenaran-Nya malalui penyelamatan dan penghakiman.

8. Zaman Abad Kedelapan (Hamba dalam Janji Allah)


Inti teologi PL mencapai puncaknya selama abad ke-8, melalui karya nabi-nabi Yunus,
Hosea. Amos, Yesaya dan Mikha. Mereka masing-masing diutus sekitar satu dekade sebelum
hukuman Allah yang menakutkan terhadap Damsyik, ibu kota Siria yang jatuh pada tahun 732
sM, dan kejatuhan Samaria pada tahun 722 SM.
Tidak ada yang dapat menggambarkan secara memadai ketinggian sikap teologis dari para
nabi tersebut. Teologi Yesaya menyatakan: “Dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa
yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes 40:18). Demikian juga Mikha, dia bertanya:
“Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa?” (Mik 7:18). Amos menyatakan
dengan tegas bahwa Allah akan “mendirikan kembali pondok Daud yang roboh” (Am 9:11).
Sekalipun yang paling mendominasi teologi zaman itu adalah teologi miniatur PL dari Yes 40-
66, dengan tokoh utama Hamba Tuhan dari keturunan Abraham dan Daud. Tema utamanya ialah
“kemahatinggian Allah.”

9. Teologi Abad Ketujuh (Pembaruan Janji Allah)


Mendekati akhir abad ketujuh terjadi suksesi nabi yang menulis, yaitu Zefanya, Habakuk,
Nahum dan Yeremia. Nahum mengingatkan dekatnya hukuman menimpa Asyur (Ninewe),
seperti lebih dulu disampaikan oleh Yunus, satu abad sebelumnya, yang terjadi tahun 611 SM.
Ketiga nabi yang lain memperingatkan ibu kota Yehuda, Yerusalem, yang dikalahkan tahun 606,
598 dan kejatuhan totol pada 586 SM. Sayangnya, kejatuhan itu terjadi karena ketidakmauan
untuk bertobat. Periode ini bertemakan “kesuraman”. Kendati demikian, kesuraman bukanlah
satu-satunya tema teologi, karena ada prospek yang menggembirakan pada akhir, yaitu akan
terjadi pembaruan perjanjian. Yeremia memberi tema teologi era ini dengan judul “Perjanjian
Baru” (Yer 30-33). Zefanya menjelaskan lebih banyak tentang “Hari TUHAN” dan akhir yang
baik dari kaum yang tersisa. Habakuk memberikan solusi akhir, “orang benar akan hidup oleh
percayanya.” Tema utamnya adalah pembaruan janji.

10. Masa Pembuangan (Kerajaan Berkaitan dengan Janji Allah)


Pada masa ini muncul teolog penulis, seperti Yehezkiel dan Daniel, yang hidup di tanah
pembuangan di Babel. Intinya, mempertajam lebih jelas bagaimana “Gembala yang Baik”, yang
akan datang pada suatu hari nanti untuk memerintah atas ke-12 suku Israel yang dipersatuakn
kembali di Kanaan. Anak Manusia akan datang dengan awan-awan dari langit yang diberi kuasa,
kemuliaan, dan seluruh bangsa dan bahasa akan melayani Dia. Kekuasaannya kekal, tidak pernah
lenyap. Kerajaan-Nya tidak akan pernah mati seperti kerajaan-kerajaan dunia lain. Dari catatan
yang agung kedua nabi yang dibuang ini, memimpin teologi Israel masuk ke dalam abad
keenam, zaman baru bagi semua umat manusia, penggenapan janji kepada Abraham dan Daud.
Tema utamanya tentang Pemimpin atau Gembala yang Baik, yang akan memerintah Israel jaya.

22
11. Masa Sesudah Pembuangan (Kemenangan Janji Allah)
Sejarah dari Ezra-Nehemia, Ester, Tawarikh, nubuat-nubuat dari Hagai, Zakharia dan
Maleakhi bersama-sama membentuk teologi akhir tentang penyataan Allah di dalam kanon PL.
Catatan mereka bergerak dari berbagai keadaan yang menyedihkan di Israel, sesudah mereka
kembali dari 70 tahun pembuangan di Babel. Peristiwa-peristiwa yang terjadi sekitar tahun 520
sM itu langsung dihubungkan kepada kemuliaan dan kekekalan dengan ringkasan sejarah final
Allah. Bait Suci yang sudah dibangun mereka itu secara fisik lebih kecil dari sebelumnya.
Namun Bait Suci itu dihubungkan ke masa depan, suatu Bait Suci yang lebih mulia dari Bait
Suci Salomo.
Semua pekerjaan yang dkerjakan para nabi tidak dapat dinilai secara empiris semata. Di
balik hal-hal yang lahiria terhubung dengan seluruh tindakan total Allah dalam sejarah. Raja
mereka akan datang dengan mengendarai seekor keledai dan membawa keselamatan (Za 9:9).
Bahkan akan pergi dan memerangi semua bangsa di dunia, yang pada zaman akhir nanti akan
berkumpul untuk melawan Yerusalem (Zak 14).
Seolah-olah, untuk membuktikan kembali keabsahan dari visi mesianis mereka, para penulis
Tawarikh menggunkan sejarah masa lampau Israel untuk menunjukkan tindakan Allah di dalam
sejarah, khusunya visi dalam kaitan dengan pola “rumah” Daud dan Bait Suci Salomo. Tema
utamanya tentang Mesias dan pemulihan Bait Suci.

12. Rangkuman Perkembangan Teologi Perjanjian Lama Setiap Periode


Setiap bagian dari seluruh sejarah panjang Israel menggambarkan metode kerja Allah,
dengan masing-masing memiliki dasar-dasar teologinya sendiri yang memperlihatkan
perkembangan yang utuh ke masa depan. Seperti pohon yang tumbuh menjadi pohon yang
berkembang sempurna dengan setiap kali ada pertumbuhan baru.
Firman pertama Allah tentang berkat dalam Penciptaan diikuti dengan firman tentang janji
di Taman Eden, bahwa akan ada keturunan perempuan yang menang atas Iblis. Sebelum
mencapai masa Abraham, firman itu diperluas di dalam ucapan berkat kepada Nuh dan Sem
tentang bangsa yang akan muncul dari mereka yang diperkenan Allah untuk tinggal di kemah-
kemah mereka. Tema-tema teologi yang utama dalam masa sebelum bapa leluhur ini adalah
“berkat”, “keturunan” dan bangsa yang di tengah-tengahnya Allah “berdiam.”
Periode sesudahnya, para bapa leluhur, secara cuma-cuma menerima ucapan berkat untuk
suatu ahli waris (keturunan), suatu warisan (tanah) dan suatu milik pusaka (segala bangsa akan
diberkati – Gal 3:8).
Pada zaman Musa, PL menekankan, mula-mula, tentang Israel sebagai “anak” Allah, “anak
sulung” Allah. Pada Kitab Keluaran mereka bergabung menjadi “imamat yang rajani, bangsa
yang kudus” bagi-Nya. Untuk mendapatkan hak istimewa itu, mereka harus memilih untuk
melayani, kudus dan bersih. Kudus artinya sepenuhnya terpisah dari hal-hal lain di luar Allah,
baik atas tubuh, jiwa, roh dan kehidupan. Bersih artinya Israel harus mempersiapkan diri agar
layak menyambah Allah, secara mental, moral dan spiritual, dihubungkan dengan sifat Allah.

23
Tema-tema sebelum kerajaan berkisar pada “perhentian” Allah, Roh Allah, Tabut
Perjanjian, dan perintah untuk mengasihi, takut akan Allah dan melayani Allah dengan segenap
hati, jiwa kekauatan dan pikiran.
Periode Daud memunculkan tema dinasti, tahta dan kerajaan. Bagi Salomo, “takut akan
Allah” sebagai permulaan hikmat, permulaan hidup, permulaan pengetahuan dan permulaan
tindakan. Sebagaimana istana menjadi lambang zaman kegemilangan Daud, begitu juga Bait
Suci yang dibangun dengan hikmat, menjadi lambang zaman Salomo.
Era terkemudian, para nabi, mengambil secara berturut-turut tema-tema tentang Hari
Tuhan, Hamba Tuhan, Perjanjian Baru, Kerajaan Allah, dan kemenangan rencana Allah.

B. Sejarah Teologi Perjanjian Lama Sampai Abad Kedua Puluh

Ada beberapa faktor yang menyebabkan bangkitnya kembali Teologi PL, yang termasuk di
dalam Teologi Alkitabiah. Perkembangan Teologi PL bangkit dari fakta gagalnya Teologi
Liberal menjawab tantangan zaman, setelah Perang dunia Pertama. 29 Berikut ini penelitian
sejarah yang menjelaskan latar belakang lingkup, maksud, sifat dan fungsi teologi Perjanjian
Lama.

1. Sejak Reformasi sampai Pencerahan (Dari Renaisans sampai Aufklarung) Abad XV- XVII
Prinsip reformasi Protestan yang mengusung semangat “sola scriptura” (hanya berdasar
Alkitab saja), menolak Teologi Skolastik dan tradisi kekuasaan Gereja. Serangkai dengan slogan
sola gartia dan sola fidei. Semangat ini memberikan energi bagi perkembangan Teologi
Alkitabiah yang menggagas penafsiran sendiri Alkitab (sui ipsius interpres). Namun para
reformis tidak terlibat dalam menciptakan istilah “teologi Alkitabiah” dan membangun disiplin
ilmu Teologi Alkitabiah. Teologi ini diperkirakan berkembang sekitar tahun 1920-an. (G. F.
Hassel, 2016:15-16)
Teologi Alkitabiah dipakai dalam dua arti, yaitu
a. Itulah yang apat berarti sebuah teologi yang ajaran-ajarannya bersumber pada Alkitab
dan adasrnya adalah Alkitab, atau…
b. Teologi yang dikandung oleh Alkitab itu sendiri.
Menurut Walther Zimmerli, Teologi PL adalah kombinasi dari pernyataan-pernyataan PL
tentang Allah, sehingga tugasnya adalah menyajikan apa yang dikatakan PL tentang Allah dalam
kaitan-kaitan tersiratnya.
Menurut C.R. Lehman, Teologia PL adalah bagian dari Teologi Alkitabiah dan dibuat
berdasarkan “pemahaman fundamental tentang penyataan yang setahap demi setahap” dan
“kesatuan agung dari keseluruhan Alkitab“.
Henricus A. Diest dalam buku Theologia Bibilica (Daventri, 1643) memberi pengertian
Teologi Alkitabiah sebagai terdiri dari ayat-ayat bukti dari Alkitab yang dicomot dari kedua

29
Bahan ini bersumber dari Gerhard F. Hassel, Teologi Perjanjian Lama. BPK Gunung Mulia, 15-35.
24
Perjanjian untuk mendukung sistem-sistem doktrin tradisional dari golongan Ortodoks Protestan
yang mula-mula. (Hasel 2020:16-17)
Abraham Clovius dan beberapa rekan sezamannya menganggap Teologi Alkitabiah sebagai
pendukung Teologi Dogmatik dan menganggap ayat-ayat Alkitab sebagai pendukung Dogmatik.
Penekanan kembali kepada Alkitab baru ketika munculnya gerakan Pietisme. Akibatnya, sejak
tahun 1745, Teologi Alkitabiah berpisah dari Teologi Dogmatik (sistematika) dan menjadi dasar
dari Teologi Sistematika. (Hasel 2020:17).
Penekanan untuk kembali kepada Alkitab dari Pietisme Jermaan telah mengubah arah
Teologi Alkitabiah. Teologi Alkitabiah menjadi alat reaksi terhadap sifat ortodoks Protestan
yang kering. Sejak tahun 1745 Telogi Alkitabiah terpisah dari Teologi Dokmatik (sistematika).

2. Zaman Pencerahan (Aufklarung) Abad XVII - VIII


Pada zaman Pencerahan (aufklarung) berkembang beberapa pendekatan baru yang
disebabkan karena beberapa pengaruh.
a. Reaksi rasionalisme terhadap supernaturalisme yang menegakkan akal manusia sebagai
sumber patokan final, serta sumber utama pengetahuan, sedangkan wibawa Alkitab
sebagai catatan penyataan ilahi ditolak mereka. (2020:18)
b. Dikembangkannya suatu hermeneutik baru, yaitu metode penelitian sejarah (Critical
Historical), yang berkembang dalam Liberalisme.
c. Penggunaan kritik sastra yang radikal terhadap Alkitab, oleh J. B. Witter dan J Astruc,
dll., yang tidak mengakui pengilhaman Akitab dan menjadikannya hanya sebagai
dokumen kuno yang harus dipelajari sebagaimana dokumen kuno lainnya.
Hal terutama yang bisa dilihat dari masa ini adalah keterpisahan antara Teologi Sistematika
dan Teologi Biblika. Anton Friedrich Busching menunjukkan untuk pertamakalinya Teologi
Alkitabiah sebagai saingan Teologi Dogmatik. G. Ebeling menyampaikan hal yang serupa.
Sementara Johann Solomo Semler menyatakan bahwa Firman Allah sama sekali tidak identik
dengan Alkitab, dengan begitu menyiratkan bahwa tidak semua bagian Alkitab diilhamkan, dan
Alkitab adalah dokumen sejarah murni yang harus diselidiki dengan suatu metodologi murni
yang bersifat historis dan bersifat kritis. Gotthilf Traugott Zacharia berusaha membangun suatu
sistem pengajaran teologis berdasarkan suatu hasil kerja eksegetis yang teliti. Menurutnya, aspek
historis dalam Alkitab tidak terlalu penting dalam Teologi. Ia juga mengupayakan pembersihan
bagi ketidaksempurnaan yang ada dalam sistem dogmatik.  W.F. Hufnagel (1785-1789) dan C.F.
Von Ammon (1792) mengungkapkan bahwa Teologi Alkitabiah terdiri atas sekumpulan
penelitian sejarah atas ayat-ayat bukti dari Alkitab yang mendukung dogmatic. Karya Von
Ammon lebih bersifat Teologi Filosofis, namun memandang PB lebih tinggi daripada PL.
Johann Philipp Gabler (1753-1826), melalui ceramahnya (1787) berhasil
menjadikan peranan Teologi Alkitabiah hanya salah satu peranan sejarah semata, terlepas dari
Dogmatik.  Definisinya tentang Teologi Alkitabiah adalah “Teologi Akitabiah secara historis
meneruskan pemahaman  para penulis Alkitab tentang masalah-masalah ilahi; sebaliknya, teologi
dogmatic bersifat  mendidik, mengajarkan penalaran filosofis seorang Teolog terhadap masalah-

25
masalah ilahi sesuai dengan kemampuan, waktu, usia, tempat, aliran, atau mazhab dan hal-hal
lain dari sang teolog. Pendekatannya didasarkan atas 3 pertimbangan:
(1) Ilham harus dihapuskan dari pertimbangan karena Roh Allah dengan jelas tidak
menghancurkan kemampuan pribadi setiap orang kudus untuk memahami kadar wawasan
alamianya tentang berbagai hal.
(2) Teologi Alkitabiah bertugas mengumpulkan secara teliti berbagai konsepsi dan gagasan dari
setiap penulis Alkitab. Karena Alkitab tidak berisi gagasan satu orang saja. Tugas ini dapat
dilaksanakan dengan cara menerapkan metode penelitian sejarah secara konsisten dan
bantuan penelitian kritik sastra, penelitian sejarah dan penelitian filosofis.
(3) Sebagai salah satu bentuk disiplin ilmu Sejarah, Teologi Alkitabiah harus membedakan
beberapa periode antara agama lama dan agama baru. Tugas utama Teologi Alkitabiah
adalah menyelidiki gagasan-gagasan mana yang penting untuk doktrin Kristen, mana yang
berlaku sekarang, mana yang tidak “berlaku untuk zaman kita.” (Hasel 2020:21-23)
3. Zaman Pencerahan Sampai Zaman Teologi Dialektik (Abad XI – XX)
     Beberapa macam pendekatan yang telah ada sebelumnya banyak menuai kritik lalu
menghadapi tantangan dari ilmu pengatahuan Alkitab yang konservatif, dan akhirnya mati oleh
pendekatan dari sudut “sejarah agama-agama (Religiongeschichte). Beberapa dasawarsa setelah
Perang Dunia I, disiplin Teologi Alkitabiah menerima kehidupan yang baru, yaitu zaman
Teologi Dialektik.
Dialektik (dialektika) berasal dari kata dialog yang berarti komunikasi dua arah, istilah ini
telah ada sejak masa Yunani kuno ketika diintrodusir pemahaman bahwa segala sesuatu berubah
(panta rei). Kemudian Hegel menyempurnakan konsep dialektika dan menyederhanakannya
dengan memaknai dialektika ke dalam trilogi tesis, anti-tesis dan sintesis. Menurut Hegel tidak
ada satu kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektik, yang absolut hanyalah
semangat revolusionernya (perubahan/pertentangan atas tesis oleh anti-tesis menjadi sintesis).30

a. Tokoh-tokoh Dialektika Abad XVIII


      Pada masa ini muncul beberapa tokoh dengan karya-karyanya yaitu:
1) Gottlob Ph. C. Kaiser yang menolak segala jenis supernaturalisme dan berusaha
menggambarkan perkembangan agama PL dari sudut sejarah awal pertumbuhan.
2) W.M.L. De Wette (1813) mencoba menjauhi rasionalisme dan memadukan Teologi
Alkitabiah dengan suatu sistem filsafat. Melalui bukunya “Biblische Dogmatik”, ia mencoba
mensintesiskan antara iman dan perasaan yang membawa masuk ‘perkembangan awal
pertumbuhan agama dari Hebraisme menjadi Kristianisme lewat Yudaisme.
3) Timbul reaksi dari D.C. Vonn Coln terhadap Wette. Dalam bukunya, Biblical Theology of
The OT, ia menyajikan suatu Teologi Alkitabiah historis dengan penekanan teokratis yang
kuat.  Ia bergerak dalam ketegangan antara partikularisme dan universalisme dan
melukiskan suatu keadaan perkembangan historis dari Hebraisme-Yudaisme-Kristianisme.
30
https://id.wikipedia.org/wiki/Dialektik, diakses 30-7-2020.
26
4) Wilhelm Vatke menyatakan bahwa sistem pengaturan bahan-bahan PL tidak boleh disajikan
berdasarkan kategori-kategori yang diambil dari Alkitab namun yang ditetapkan dari luar,
dan harus merumuskan dogma pendekatan dari sudut ‘sejarah agama’ mengenai PL yang
sama sekali berdiri sendiri. (Hasel, 2020:24-25)
b. Tokoh Abad XIX
Pada pertengahan abad XIX muncul golongan-golongan konservatif yang menolak keras
pendekatan berdasarkan penelitian sejarah, menentang pendekatan-pendekatan rasional dan
filosofis terhadap Teologi PL. Mereka itu antara lain: Steudel, Haevernick, dan Oehler.

1) J. C. F. Steudel (1840) tetap menganggap PL mempunyai asal-usul yang ilahi. Dia


bersikeras memakai metode sejarah gramatikal, menolak metode historis kritis, namun
menolak pandangan sempit tentang pengilhaman harfiah.
2) Oehler menyumbang sebuah Teologi PL yang membahas secara luas teori dan metode
pemahaman dari sudut Teologi Alkitabiah tentang Teologi PL. Dia mengakui bahwa ada
kesatuan antara PL dan PB namun juga menerima bahwa ada pemisahan di antara keduanya,
bahwa Teologi PL hanya akan berfungsi secara benar di dalam konteks kanonik yang luas.
Teologi PL sendiri menurut, Oehler, mempunyai pengertian sebagai ilmu sejarah yang
berdasar pada eksegese dari sudut sejarah gramatikal yang tugasnya adalah mereproduksi isi
dari tulisan-tulisan dalam Alkitab menurut kaidah-kaidah bahasa dengan memper-
timbangkan keadaan sejarah pada saat tulisan-tulisan tersebut pertamakali ditulis dan juga
kondisi-kondisi pribadi dari para penulis Alkitab. Jadi metode yang tepat menurut mereka
bagi Teologi Alkitabiah adalah pendekatan dari sudut ‘sejarah awal pertumbuhan’ yang
dieksegesis berdasarkan sejarah tata bahasa, bukan eksegesis berdasarkan  penelitian sejarah
yang harus digabungkan dengan suatu perkembangan organis dari agama PL.

c. Reaksi Golongan Konservatif


Golongan konservatif muncul dengan “mazhab sejarah keselamatan”, didasarkan pada:
1) Sejarah umat Allah sebagaimana didasarkan pada firman
2) Pemahaman tentang pengilhaman
3) Hasil antara sejarah manusia dan Allah dalam Kristus Yesus dan PL berisi proklamasi
sejarah keselamatan, dan Alkitab adalah saksi dari perbuatan Allah kepada dunia.

d. Pengaruh Sejarah Agama-agama


   Tahun 1787, pendekatan ‘sejarah-sejarah agama’ mulai menguasai cara pendekatan PL.
Karya J. Wellhausen berjudul Prolegomena to the History of Israel (1844-1918), menyerang
kaum konservatif. Teologi PL (dan Teologi Alkitabiah) sejak itu dipengaruhi oleh:
1) Tanggal lama yang diberikan oleh dokumen P (Sumber Imamat) dalam penelitian
Pentateukh yang diperkenalkan oleh K. H. Graf dan A Kuenen dihidupkan kembali
2) Gambaran yang sama sekali baru akibat dari pengaruh tanggal-tanggal yang dipakai
berdasarkan dokumen ini. Ciri khas lainnya adalah adanya metode perkembangan
27
evolusioner yang berdasarkan sejarah pertumbuhan. Pendekatan ini menghancurkan
kesatuan PL dengan menganggap PL hanya sebagai koleksi bahan-bahan dari periode yang
berdiri sendiri dan hanya terdiri dari sedikit refleksi tentang jumlah agama-agama kafir yang
berbeda-beda, hubungan yang hakiki antara antara PL dan PB direduksi menjadi hanya
memiliki kaitan secara historis dan rangkaian yang tidak penting di antara keduanya.
Akibatnya, perlu tindakan berani untuk menghidupkan kembali Teologi PL.

4. Kebangunan Kembali Teologi Perjanjian Lama (Abad XX sampai Sekarang)


Ada beberapa faktor yang menyebabkan bangkitnya kembali Teologi PL. Zeitgeist31 (jiwa
zaman) yang berubah. Menurut R.C Dentan, faktor-faktor tersebut antara lain: hilangnya pamor
rasionalisme evolusioner, reaksi terhadap keyakinan bahwa kebenaran historis dapat dicapai dari
objektivitas, dan kecenderungan untuk kembali ke Teologi Dialektik (Neo-Orthodox). E. Konig
menaruh penghargaan tinggi terhadap kebenaran amanat PL dan menolak evolusi agama yang
diajarkan oleh Wellhausen dengan mencanangkan suatu metode penafsiran berdasarkan sejarah
tata bahasa.
Tahun 1920-an ditandai dengan perdebatan tentang sifat teologi PL. Muncul beberapa
sarjana dengan pendekatan mereka masing-masing. Eissfeldt memberikan pengertian terhadap
Teologi PL sebagai suatu bidang disiplin non-historis, tetapi berdasarkan iman sehingga bersifat
subyektif. Pendekatan ini mendapat kritik dari Eichordt. Pada zaman ini, semakin banyak
bermunculan para ahli dengan berbagai macam pendekatan dan dari berbagai macam negara
termasuk Amerika. Dan belum ada konsesus tentang masalah-masalah utama dalam PL, baru
hanya perdebatan-perdebatan di antara sarjana-sarjana.
“Zaman emas” dari Teologi PL dimulai sekitar tahun 1930-an dan terus berlangsung sampai
sekarang. Karya-karya teologi PL yang penting datang dari E. Sellin (1933) dan L. Kohler
(1936) yang keduanya memakai susunan inti Teologi PL: Allah  Manusia Keselamatan.
W. Eichrodt (1933-19390) merintis metode penggunaan contoh yang representatif yang
mewakili keseluruahn berdasarkan suatu prinsip yang menyatukan. Sampai sekarang belum ada
konsesus tentang masalah-masalah utama dalam Teologi Perjanjian Lama.

Pertanyaan:
1. Mengapa Abraham menjadi kunci perkembangan teologi PL?
2. Apakah keistimewaan zaman Daud dalam perkembangan Teologi PL?
3. Mengapa zaman sastra hukmta sulit dihubungkan dengan periode perkembangan teologi
PL?
4. Sebutkan aspek-aspek penting dari teologi zaman abad ketujuh?
5. Jelaskan perbedaan antara Teologi Alkitabiah dengan Teologi Dokmatika
6. Apakah inti Teologi Dialektika Friedrich Hegel?

31
Zeitgeist (bahasa Jerman: Zeit yang berarti waktu atau zaman dan Geist yang berarti jiwa) merupakan pemikiran
dominan pada suatu masa yang menggambarkan dan mempengaruhi sebuah budaya dalam masa itu sendiri.
28
BAB IV
POKOK-POKOK BAHASAN TEOLOGI PERJANJIAN LAMA

Salah satu ciri utama dari teologi PL adalah membahas peristiwa-peristiwa historis di dalam
kehidupan bangsa Israel. Sehingga teologi PL dapat disebut sebagai teologi Israel, teologi yang
berakar pada sejarah Israel. Dengan demikian tema sejarah sangat relevan dengan pernyataan
Ibrani 1:1-2, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara
kepada nenek moyang kita dan dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah
berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.”
Ada satu prinsip dan pemahaman bahwa semua penyataan Allah bertitik tolak pada sejarah.
Di dalam sejarah itu dimulai dengan penciptaan, dari tema itu terkandung “berkat”, “janji”,
“penebusan” dan pemeliharaan Allah yang dinyatakan sebagai harapan semua manusia, yang di
dalamnya Allah bekerja dengan bermacam-macam implikasi yang bersifat universal. Perhatikan
misalnya dalam Mzm 36, 105, 78. Atau di Yer 2; Yeh 16, 20, 23.

A. Penciptaan Langit dan Bumi

Teologi penciptaan32 adalah kepercayaan tentang Allah sebagai Pencipta dan penjaga
kelangsungan segala sesuatu yang ada dari alam semesta yang disebut alam ciptaan (cf. Ibr 1:3).
Selama berabad-abad orang Kristen menerima kisah penciptaan yang dicatat dalam PL sebagai
karya Allah Yang Mahakuasa dalam ruang dan waktu. Sesuatu yang terjadi sebagai kenyataan,
yang berasal dari ketiadaan.

1. Allah sebagai Pencipta

Alkitab tidak pernah berusaha untuk membuktikan keberadaan Allah. Alkitab diawali
dengan pernyataan keberadaan Allah, yaitu sebagai Pencipta (Kej 1:1). Karya ciptaan-Nya
meliputi segala yang ada, yang diterangkan dengan terminologi “langit dan bumi.” Kisah
penciptaan menjadi pembuka seluruh kisah lainnya, yang dipaparkan dengan lugas dalam dua
bagian, yaitu Kejadian 1:1 – 2:4a dan Kejadian 2:4b – 25. Ini bukanlah dua model atau dua kali
penciptaan, melainkan penciptaan yang diuraikan dalam dua babah. Dua pasal pertama Kitab
Kejadian berisi dua kisah yang saling melengkapi. 33 Pandangan kaum kritistik yang
menyebutkan ada dua model penciptaan lebih banyak disebabkan dari penafsiran yang salah dan
filosofistik dari kisah ini. Mereka menganggap kisah penciptaan di pasal dua sebagai penciptaan
kedua yang berasal dari sumber yang belakangan.34

32
Mengikuti bahasan dari Yongky Karman, 18-34
33
Willaim Dyrness, (2001). Tema-tema Dalam Teologi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 50
34
Dyrness, loc.cit.
29
Ada dua catatan tentang penciptaan yang saling melengkapi. Kisah dalam Kejadian 1:1 –
2:4a menarasikan kisah penciptaan dari perspektif urutan penciptaan, berkenaan dengan alam
semesta dan universal. Sedangkan Kej. 2:4b–25 jelas berpusat pada manusia, menarasikan ulang
bagian tertentu yang ditekankan secara lebih detail pada penciptraan Hari Keeanam, yaitu detail
mengenai penciptaan manusia, ciptaan yang mendapat kemuliaan yang istimewa, sehingga dapat
disebut sebagai “mahkota ciptaan.”35
Kejadian pasal 1:1 yang dibuka dengan pernyataan “Pada mulanya Allah menciptakan langit
dan bumi,” jelas menyatakan bahwa Allah itu ADA. Sebutan nama Allah di sini menggunakan
kata Elohim (~yhi_l{a/). Ini suatu Nama Allah yang berasal dari kata “El” yang berarti
“mighty One” atau “kuasa atau kuat”. Kata Elohim muncul 33 kali pada 34 ayat pertama di Kitab
Kejadian (1:1-2:3). Nama itu diikuti YHWH ELOHIM, yang muncul sebanyak 20 kali dalam 45
ayat selanjutnya (2:4-3:24), dan akhirnya nama YHWH sebanyak 10 kali pada 25 ayat
berikutnya (4:1-26).36 Nama Elohim sendiri bentuknya jamak tetapi kata kerja yang
mengikutinya justru tunggal. Maksudnya seperti kalimat “Allah (Elohim=jamak) menciptakan
(bentuknya tunggal). Dan ini bukan sebuah kesalahan karena sebenarnya Elohim mengacu
kepada Allah Tritunggal yang Esa.

a. Makna Nama Elohim


Pertama, Elohim adalah Pencipta yang Maha Kuasa, Kuat dan Perkasa. Elohim adalah
Pribadi yang tidak terbatas, kekal, ada dengan sendirinya, Awal dari segala sesuatu yanga ada.
Bandingkan dengan nyanyian Musa dalam Mazmur 90:2. Nama ini menunjuk kepada kebesaran,
kedaulatan dan kemuliaan-Nya. Dalam terjemahan Alkitab Cina, kata Elohim dipakai sebagai
Penguasa Langit. Allah adalah Penguasa tertinggi, Penguasa yang berotoritas, Penguasa satu-
satunya. Dialah Penguasa yang memerintah atas ciptaan, karena Dialah yang menjadikannya.
Nama Elohim sekaligus menunjuk kepada keagungan, kreativitas dan hikmat. Dalam hikmat-
Nya Dia menciptakan alam ini dengan sangat baik dan indah, merefleksikan keagungan dan
kebesaran-Nya. Carl Boberg seorang pengkhotbah Swedia, sewaktu melihat pemandangan alam
terinspirasi untuk menulis sebuah lagu, yang sampai sekarang tetap abadi. Di suatu siang, selagi
dia melihat alam yang permai, tiba-tiba dia menyaksikan suara guruh menggelegar diikuti kilatan
petir yang menyambar, tidak lama kemudian dalam ketenangan sayup-sayu dia mendengar suara
burung berkicau. Pemandangan yang memesona itu akhirnya menginspirasi dia untuk menulis
lagu ”How Great Thou Art.”
Kedua, Elohim berarti Allah yang menjadi Penopang ciptaan-Nya. Dia adalah Allah Kuasa
yang mengontrol dan mengendalikan seluruh ciptaan. Mazmur 8:4 mengatakan bahwa Allah
menempatkan bulan dan bintang-bintang. Bahkan burung yang kecil di udara pun tidak luput
dari pengendalian Tuhan. Dia mengatur seluruh ciptaan-Nya dan menopang semuanya.
Ketiga, Elohim adalah Allah Pencipta yang menciptakan segala yang ada dengan tujuan.
Elohim terlibat secara personal dalam membentuk dan menjadikan manusia dengan tujuan untuk
35
Roy B. Zuck, ed. (2015). A Biblical Theology of the Old Testament, terj. Malang: Gandum Mas, 34.
36
Josh McDowell, (2014) Apologetika, Volume 2. Malng: Gandum Mas, 273-274.
30
kemuliaan-Nya, seperti dinyatakan dalam Yesaya 43:7. Allah menciptakan manusia bukan
karena kebetulan dan bukan tanpa tujuan. Dia bahkan merancang dan menjadikan dengan
cermatnya. Pencipta itu mengenal setiap ciptaan, khususnya manusia, secara pribadi. Dia bahkan
mengenal jauh lebih baik daripada diri manusia itu sendiri. Setiap orang diciptkan-Nya secara
unik.

b. Keunikan Kisah Penciptaan


Allah sudah ada secara kekal dan tidak terbatas dalam kemahakuasaan-Nya. Dia berada di
atas semua ciptaan, tidak tergantung pada ciptaan-Nya dan mendului segala yang diciptakan-Nya
(Mzm 90:2). Umat Israel percaya bahwa Allah berada di belakang semua penciptaan dan segala
yang terjadi. Bagi Israel, Allah diyakini hadir pada permulaan dan akhir. Inilah yang memberi
nilai penting dari keberadaan dunia. Teologi penciptaan menjadi dasar untuk menyatakan
hubungan antara Allah yang transenden dan dunia yang imanen. Kisah penciptaan dalam Kitab
Kejadian sama sekali berbeda dari mitos-mitos penciptaan dari Mesir dan Babel. Cerita dalam
Kitab Kejadian dimulai dari Allah.

2. Penciptaan Dan Wahyu

Berdasarkan PL, dan menjadi kepercayaan dasar umat beriman, Tuhan adalah Pencipta, dan
tidak pernah mengidentikkan Sang Pencipta dengan dunia ciptaan (Monisme). Ada transendensi
antara Pencipta dan ciptaan. Karena itu tidak ada tempat untuk memperilah dunia ciptaan
(panteisme). Sebaliknya, Alkitab juga menyatakan bahwa Allah tidak pernah melepaskan atau
meninggalkan ciptaan-Nya (deisme). Allah menghargai dunia ciptaan, karena semuanya
diciptakan “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Berdasarkan itu Tuhan bersedia melalui dunia
ciptaan untuk menyingkapkan diri-Nya sekaligus membuat Dia dapat dikenal. Walaupun dunia
ciptaan tercemar dosa, kuasa dan kebijaksanaan Tuhan masih terefleksi melaluinya (Mzm
104:24; Yer 10:12)37 dan melalui wahyu, Maz 19:2; Rm 1:18-21.
Dosa telah menyebabkan terjadinya kesenjangan relasi antara ciptaan dengan Penciptanya.
Sekalipun Allah dapat dikenal melalui alam ciptaan, tetapi alam tidak pernah dapat mengantar
orang menuju Tuhan Allah. Dibutuhkan wahyu khusus, suatu penyataan istimewa agar selalu
terjalin komunikasi dan Allah mengomunikasikan karya-Nya. Hanya melalui wahyu khusus
Allah dapat dikenal. Wahyu khusus itulah yang terjadi dalam seluruh sejarah PL (dan PB), dan
perwujudan sepenuhnya di dalam Yesus Kristus.

3. Keajaiban Penciptaan
Alkitab menyatakan bahwa Allah menjadikan, menciptakan atau membuat langit dan bumi
dengan segala isinya. Ada beberapa gagasan keajaiban Tuhan dalam penciptaan itu. Pertama,
kata kerja Ibrani yang dapat diartikan menjadikan atau menciptakan. Kedua, semua dilakukan
hanya dengan berfirman.

37
Ibid., 19.
31
a. Kata Kerja Penciptaan
Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Kejadian 1:1 mengatakan “be’resyit bara
ELOHIM.” Kata bara (ar"B') yang menyatakan bahwa penciptaan dilaksanakan tanpa memakai
materi yang sudah ada, yang lebih popular dalam bahasa Latin dengan istilah creation ex nihilo.
Erickson menjelaskan, Istilah bara dalam PL dipakai sebanya 38 dalam verba qal dan 10 kali
dalam verba nifal. Bentuk qal dan nifal hanya dipakai untuk Allah, tidak pernah dipakai untuk
manusia. satu kali dipakai dalam bentuk nomina, beri'ah, di Bil 16:30.38
Terdapat banyak kerja dalam bahasa Ibrani yang dapat berarti menciptakan atau membuat,
selain kata bara, seperti ditemukan dalam kata-kata berikut ini.39
1) Kata yatsar (‫)יצר‬, yang artinya memberi bentuk, seperti dibuat oleh tukang periuk (cf. Kej
2:7, 19; Yes 44:9, 12; 45:9; Yer 18:6).
2) Kata banah (‫)ּבנה‬, yang artinya membangunkan, mendirikan. Pekerjaan tukang tembok (Kej
2:22; Yos 6:26; Am 9:6)
3) Kata qana (‫)קנה‬, artinya menciptakan (Kej 14:19, 22; Ul 32:6; Maz 104:24; 139:13)
4) Kata asyah (‫)עׂשה‬, artinya membuat (segala macam pekerjaan), cf. Ul 32:46; Maz 104:24;
Yes 41:20; 43:7; 44:23; 45:7, 12, 18; Amo 4:13.
5) Kata kun (‫)ּכּון‬, artinya mendirikan, menegakkan, menetapkan (Ul 32:6 2Sam 7:13; Mzm
65:6; 37:23)
6) Kata nata (‫)נטה‬, artinya membentangkan, dari pekerjaan membuat kemah (Ayb 9:8; Mzm
104:2)
Tetapi dalam penciptaan langit dan bumi, Allah bekerja secara ajaib melalui kata kerja bara
(‫)ּברא‬. Suatu kata kerja yang yang hanya menunjukkan kepada pekerjaan Allah saja (kecuali
dalam Pkh 12:1). Menurut Barth (1993:25), nampaknya hanya kata kerja bara sajalah yang
menggambarkan pekerjaan Allah sebagai sesuatu yang ajaib. Sekalipun tidak ada kata kerja
mana pun yang dapat menyatakan dengan jelas keajaiban pekerjaan Allah.40

b. Pelaksanaan Penciptaan
Salah satu keajaiban dalam penciptaan yang diceritakan Alkitab, sehingga menjadi pokok
puji-pujian Israel kepada Allah, adalah dalam perwujudan penciptaan itu. selain Allah
menciptakan tanpa bahan, juga hanya dengan berfirman, bahasa Ibraninya amar (‫)אמר‬, cp. Mzm
33:8-9; 148:5-6. Allah yang berfirman berarti Allah menyatakan diri-Nya (Ul 8:3).

c. Kemenangan atas Kontra Produktif Penciptaan


Suatu aspek teologis dari keajaiban penciptaan adalah fakta kemenangan atas kontra
produktif penciptaan, atau musuh penciptaan yang menimbulkan bencana khaos. Kemenangan

38
Millard J. Erickson, (2014) Teologi KristenVolume 1. Malang: Gandum Mas, 589.
39
Didasarkan atas: Bart, Op. Cit., 30-31.
40
C. Barth, 25
32
atas musuh itu memang sedikit dibahas dalam PL, tetapi perlu juga diperhatikan. 41 Golongan
musuh yang pertama, terdiri dari nama-nama binatang purba dan raksasa, seperti lewiatan (Yes
27:1; Mzm 74:14; 104:26; Ayb 3:8; 40:25), rahab (Yes 30:7; Mzm 87:4:89:11; Ayb 26:12; Yes
51:9), dan ular-ular naga (Yes 27:1; 51:9; Ayb 7:12; 51:9; Ayb 7:12; Yeh 32:2; Maz 74:13;
148:7), yang kesemuanya menghuni tubir raya, samudra raya.
Musuh golongan kedua, terdiri dari sebutan-sebutan untuk keadaan dunia purba, seperti
“laut”, tubir raya” atau ‘atau “samudera” (berasal dari kata tehom [‫ ]ּתהם‬yang mungkin juga
berarti nama suatu mahluk raksasa atau bahkan nama suatu dewi [Tiamat di Mesopotamia], Kej
1:2; 7:11; 8:2; Kel 15:5,8; Mzm 3:7; 71:20; 104:6; 106:9).
Musuh golongan ketiga “kacau balau” atau “campur baur”, sesuatu yang “belum berbentuk
dan kosong”, yang menurut Barth (1993:36), terjemahan biasa walaupun kurang tepat dari tohu
wabohu (‫ )ּתהו ובהו‬yang menandai kekosongan yang dahsyat dari padang belantara (Kej 1:2;
Yes 34:11; Yer 4:23; cf. Yes 45:18). Semuanya itu merupakan kuasa-kuasa jahat atau musuh
potensial yang merusak dan membuat kekacauan, seperti gurun gersang yang mematikan
kehidupan, kegelapan malam yang membahayakan, sehingga terang harus dipisahkan dari
kegelapanan. Ada laut dengan gelombang dahsyat yang menyebabkan kekacauan. Penciptaan
membuat semua tatanan dunia menjadi harmonis dan ideal.

3. Bidang-bidang Ciptaan
Rumusan tentang “penciptaan langit dan bumi” menyatakan dan menyatukan keseluruhan
alam semesta sebagai ciptaan Allah tanpa terkecuali. Berdasarkan hal itu maka Penciptaan
berarti terdiri dari 2 bidang utama (kembangan uraian Barth: 31-45).

a. Bidang Langit atau Angkasa Luar


Cakrawala, samudera raya langit, benda-benda langit dan segala kuat kuasa yang tidak
kelihatan termasuk segala malaikat sebagai bagian dari langit. Umat Israel PL dan segala bangsa
masa itu tidak mengenal ruang angkasa seperti pengetahuan masa kini. Bagi mereka, sebutan
langit adalah segala sesuatu “yang di atas” muka bumi, mulai dari burung-burung di udara yang
bergerak sampai bentangan langit, bahkan lebih jauh di atas. Langit adalah dunia bagian atas,
yang dapat dilihat atau atau tidak dapat dilihat mata, yang dapat dipahami atau tidak dipahami
manusia. Langit juga dipandang sebagai tempat kediaman kuasa-kuasa yag tidak dapat diduga
dan dikendalikan oleh manusia, justru dipandang mengendalikan kehidupan manusia.
Bagi umat Israel, langit dan semua benda langit adalah ciptaan belaka, yaitu ciptaan Allah,
sehingga semuanya adalah milik Allah sendiri. Jauh di atas langit yang tidak kelihatan dan tidak
terduga, yang biasa disebut surga, Allah mendirikan tahtanya. Dari situlah Dia memerintah atas
seluruh ciptaan. Dari situlah Dia “turun” dari kediaman-Nya yang tidak terhampiri untuk
menyatakan diri. Di sini Allah dengan segala kegemilangan yang tidak terbayangkan dikelilingi
kemuliaan dan para “dewan surgawi”, yakni para mahluk yang melayani, pesuruh dan utusan-
utusan-Nya (Kej 1:26; 1Raj 22:19-22; Yes 6:1-3; Ayb 1:6-12) yang tidak terbilang jumlahnya.
41
Ibid., 35-36.
33
Bila PL berbicara tentang “bala tentara” surgawi, itu bisa berarti konstelasi bintang-bintang,
matahari dan bulan, tetapi juga “tentara perang” yang siap siaga untuk turun ke bumi (Yos 5:14-
15, cf. Mat 26:53). Semua kesaksian PL tentang penciptaan langit itu bermaksud untuk
mengagungkan perbuatan Allah.

b. Bidang Bumi
Gunung-gunung, lembah-lembah, sungai, hutan, padang gurun, tumbuhan, dan semua
penghuninya, berikut ruang di bawah permukaan bumi (dunia maut), semuanya disebut bidang
bumi. Pemahaman dunia purba tentang “bumi” biasanya bertolak dari dari tanah kediaman
mereka sendiri, yang dianggap pusat bumi. Bersama-sama dengan negeri-negeri di sekitarnya
dipandang sebagai piringan besar yang dikelilingi samudera raya. di bawahnya terapat tubir raya.
Sedangkan piringan bumi itu tidaklah terapung, melainkan berlandasakan tiang-tiang yang tak
tergoyahkan (Mzm 104:5) yang kakinya di dasar laut.
Bumi dipandang sebagai dunia bagian bawah, bagian yang dapat dilihat dan diraba dan
tempat berkembang biak manusia. Sekalipun diakui sebagai ciptaan Allah yang sangat baik,
namun diakui juga memiliki segi-segi negatifnya. Ada gelombang-gelombang ganas, padang
gurun, angin badai yang dahsyat, kegelapan dan bencana-bencana. Ada bahaya, kehausan,
penyakit, peperangan, yang semuanya disumberkan oleh “dunia maut.” Tetapi semuanya ada di
bawah kendali Allah, dan semuanya itu ‘diberikan’ Allah kepada manusia. Keberadaan bumi tak
dapat dipisahkan dengan langit sebagai ciptaan Allah yang sempurna.

c. Penciptaan Manusia
Kisah tentang penciptaan manusia dijelaskan dan saling melengkapi dalam Kejadian 1 dan 2
setelah Allah menciptakan segala sesuatu yang lain lebih dulu dalam enam tahapan penciptaan
yang disebut sebagai “hari-hari penciptaan.” Barth (1993:49) mengatakan bahwa dia antara
segala mahluk-Nya yang lain, manusia diberi tempat yang terkemuka, sebab Allah berniat untuk
pertama-tama mendirikan perjanjian-Nya dengan dia. Menurut Kej 2:7, manusia diciptakan dari
bahan dasar debu (ָ‫ )עָפר‬apar atau tanah yang kering dan tanah lempung (liat-padat) atau dāmāh
(Hm'd'a]). Selanjutnya dilengkapi dengan napas kehidupan yang dihembuskan Allah ke dalam
manusia, sehingga menjadi mahluk yang hidup (a living soul atau nefesy [ֶ‫)]נ ֶפשׁ‬, yang memiliki
tubuh (basar [‫ )]בָּשׂר‬dan jiwa (nefesy) yang bisa dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
Menurut Kej 1:26-28, manusia diciptakan menurut pola yang menggambarkan Pencipta itu
sendiri dengan menggunakan kosa kata gambar dan rupa (image–likeness), Tselem-demuth,
eikona-homoiosin, imago-similitudo. Sehingga manusia memiliki tubuh dan jiwa atau “tubuh
yang berjiwa”, “jiwa yang bertubuh”, yang maknanya, menurut Barth (1993:49-50):
1) Keadaan manusia sebagai jiwa dan tubuh mencerminkan pertemuan antara langit dan bumi,
Khalik dan mahluk; Roh Allah yang dititipkan kepadanya selama hidup, menjadi lambang
dari Kuasa yang menghidupkan persekutuan antara dua pihak.

34
2) Selaku pencerminan perjanjian itu Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan
perempuan, yang lelaki menjadi lambang (dan wakil) Khalik yang memanggil, perempuan
menjadi lambang (dan wakil) mahluk yang dengan sukarela menuruti panggilan itu.
3) Manusia diberi kedudukan seorang tuan yang berkuasa tinggi terhadap mahluk-mahluk
lainnya di bumi, tetapi pada waktu yang sama diserahi tugas untuk bekerja sebagai hamba
dan pelayan yang rendah.
4) Manusia, ciptaan Allah itu, menjadi mahluk yang “sempurna”, mirip dengan Allah sendiri.
Manusia menjadi mahluk utama yang mendapat perhatian khusus dari Allah, sehingga
disebut sebagai “mahkota ciptaan”. Melihat di dalam seluruh penciptaan itu, PL memperlihatkan
kesan bahwa seakan-akan segala-galanya diciptakan oleh karena manusia, untuk manusia,
sekeliling manusia. Seakan-akan sejarah dunia ini barulah mulai dengan munculnya manusia. 42
Lebih jauh, dari konsep penciptaan manusia ini, Allah menciptakan manusia dengan beda
kelamin atau perbedaan seksis di antara manusia, tetapi diciptkan baik menurut “imago Dei”
(Kej 1:27) sebagai unsur kesempurnaan. Tanpa laki-laki perempuan adalah suatu nihilisme,
tanpa perempuan laki-laki tidak memiliki penolong (ezer knegdo [‫ּכנֶג ְּֽד ֹו‬
ְ ‫)]עז ֶר‬.
ֵ֖ Sebab tanpa
pasangan manusia itu menjadi “tidak baik” dari semua yang baik dari penciptaan Allah (Kej
2:18).

B. Pemilihan Bapa Leluhur Israel43

Tema penting lainnya dalam Teologi PL adalah tentang pemilihan Allah, yaitu pemilihan
terhadap pribadi-pribadi tertentu yang begitu penting dalam melaksanakan rencana Allah atas
umat manusia. Pemilihan itu disebabkan karena keturunan manusia telah hidup dalam kejahatan
dan pemberontakaan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan semakin hari semaikn menjauh
dari Tuhan, maka Tuhan, mula-mula, memilih satu pribadi untuk tujuan-Nya. Nuh menjadi
kepala ras manusia yang berkenan kepada Dia. Tetapi keturunannya yang bertambah dengan
pesat semakin bertambah juga dalam pelanggaran dan pemberontakan terhadap Dia. Kemudian
Dia memilih berdasarkan garis keturunan dari Sem, seorang bapa keluarga yang bernama Terah.
Terah artinya “yang tertunda’, dan memang kegagalan Terah mencapai Kanaan telah menunda
sementara rencana Allah untuk membangun bangsa pilihan yang berkenan kepadanya. Tetapi
seorang putra Tera, Abraham, menjadi pilihan Allah yang “paling sempurna” berdasarkan
rencana Allah. Dari Abraham Allah inilah Allah membangun suatu keturunan yang menjadi
leluhur Israel.
Sejarah Israel merupakan kisah tentang karya Allah dalam membentuk sebuah bangsa.
Berbeda dengan sejarah bangsa-bangsa lain yang diwarnai kisah perjuangan kepahlawanan
manusia, sejarah Israel merupakan sejarah Allah. Hal ini terlihat dari sentralitas Allah dalam
setiap kisah. Meskipun dalam setiap generasi Allah berurusan dengan orang-orang tertentu tetapi
tidak pernah orang-orang itu, seberapa popular pun, mengaburkan kahadiran Allah. Kisah

42
Lihat C. Barth. Theologia Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, 49-50.
43
Bagian ini dioalh dari https://urapan-ilahi.blogspot.com/2008/06/israel-dalam-pl.html
35
sejarah ini adalah kisah sejarah terunik yang pernah ada. Tidak ada catatan sejarah bangsa-
bangsa purba yang selengkap dan sedetail sejarah Israel, baik ketika berbicara tentang kejadian-
kejadian tertentu dan tokoh-tokoh tertentu, maupun ketika berbicara tentang Allah. Berbicara
sejarah Israel adalah berbicara karya Allah, berbicara karya Allah berarti berbicara tentang Allah
(Teologi).
Pemilihan Israel menjadi begitu unik karena Israel bukan bangsa yang besar, tenar, tercatat
dalam sejarah-sejarah bangsa-bangsa lain. Dalam prasasti-prasasti purba bangsa-bangsa lain,
tidak banyak tercatat tentang Israel. Ini membuktikan bahwa Israel bukan bangsa yang terkenal
pada waktu itu. Israel menjadi terkenal setelah masa PB, dipopulerkan oleh orang-orang Kristen.

1. Pemilihan Bapa-Bapa Leluhur


Pemilihan Israel menjadi suatu bangsa dimulai dari pemilihan satu pribadi yang kemudian
menurunkan bangsa Israel. Tokoh pilihan Allah itu adalah Abraham. Dari keturunannya Allah
memilih Ishak, dan dari keturunan Ishak Allah memilih Yakub. Mulai dari Yakub, yang
menurunkan 12 anak laki-laki, muncul 12 suku Israel sebagai bangsa. Ketiga tokoh inilah yang
menjadi “bapa leluhur.” Proses pemilihan Allah atas mereka itu meliputi beberapa tahapan.

a. Inisiatif Allah
Tahap pertama pemilihan bangsa Israel adalah inisiatif tindakan Allahyang memilih. Allah
yang datang kepada Abraham, memperkenalkan diri-Nya yang pada waktu itu masih bernama
Abram. Demikian juga kepada Ishak, dan Yakub Allahlah yang menyatakan diri-Nya, bukan
mereka yang mencari Allah. Pemilihan Abram, Ishak, dan Yakub bukanlah karena kebaikan atau
kelebihan mereka melainkan karena inisiatif Allah yang memilih dan menuntun mereka untuk
menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya. Selanjutnya, melalui mereka Allah
menyatakan rencana-Nya bagi keselamatan dunia ini. Alkitab bahkan secara jujur menuliskan
kekurangan-kekurangan mereka.

b. Panggilan Allah
Tahap kedua, Allah memanggil mereka untuk percaya kepada-Nya. Untuk meninggalkan
kekafiran dan hanya menyembah Allah saja. Meskipun nama Allah pada masa itu juga dipakai
sebagai nama salah satu dewa-dewa politeisme, yaitu ELOHIM, mereka dituntut untuk
menyembah Allah secara eksklusif monoteistik (bd. Kel 6:3)
Panggilan itu eksklusif. Bukan untuk tujuan personal, melainkan tujuan komunal bahkan
universal. Artinya, panggilan itu undangan untuk melayani melalui cara dan tujuan Allah.
Dampak dari panggilan itu bersifat global. Semua panggilan Allah dalam PL lebih bersifat
kebangsaan, kepada bangsa Israel, dalam kerangka memulihkan ciptaan yang rusak karena dosa.

c. Janji Allah
Panggilan Allah itu diteguhkan dengan perjanjian. Allah sebagai pihak yang superior
berjanji kepada pihak yang inferior, yaitu manusia. Dengan demikian, perjanjian itu adalah

36
perjanjian anugerah karena bukan perjanjian yang seimbang. Dalam konteks perjanjian atau
kovenan itu, hubungan Allah dengan manusia sering digunakan dengan ungkapan khesed.
Merujuk kepada kepastian janjin Allah, melalui kasih setia-Nya (ds,x,). Manusia yang
membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan manusia, kendati begitu, justru Allah
yang berjanji, oleh karena itu tepat jika perjanjian berat sebelah itu disebut perjanjian anugerah.
Perjanjian itu tidak membawa keuntungan apa-apa bagi Allah. Perjanjian itu untuk keuntungan
manusia, tetapi toh demikian manusia kerap menolak janji anugerah itu.
Allah memberikan janji bahwa keturunan mereka akan diberkati dan akan menjadi bangsa
yang besar. Bukan itu saja, bahkan melalui keturunan mereka bangsa-bangsa lain akan diberkati
dan akan mengenal Allah yang benar. Mereka, bapa-bapa leluhur itu, hanya dituntut mengimani
saja janji itu. Di sini, dalam penerapannya, tidak berarti, si penerima janji lepas dari kesulitan
dan penderitaan apa pun. Masalah penderitaan adalah masalah dosa, karena dunia ini sudah rusak
oleh dosa, maka penderitaan menjadi bagian dalam kehidupan manusia.
Seringkali mereka diperhadapkan pada situasi renti yang sepertinya janji itu tidak digenapi.
Mereka menerima janji berkat tetapi ternyata berada dalam pengembaraan, tidak mempunyai
tempat yang menetap. Bahkan Yakub sendiri bertahun-tahun dalam pelarian. Mulanya, dia lari
dari Esau, kakaknya, karena berkat kesulungan. Kemudian, lari dari Laban mertuanya, kemudian
ia lari dari orang-orang Sikhem-Hemor. Dan terakhir mereka mengalami kelaparan yang
puncaknya mengungsi ke-Mesir, sampai menjadi budak di Mesir selama sekitar 400 tahun. Total
masa janji Tuhan digenapi, dari Abraham sampai terbentuknya sebagai bangsa di Kanaan, lebih
dari 400 tahun.

d. Pengasingan
Pemanggilan Allah atas Abraham menuntut suatu tindakan yang tuntas. Abraham
diharuskan keluar dari kaum keluarga dan lingkungannya. Diasingkan atau dipisahkan dari
leluhurnya. Kata Ibrani untuk pengasingan ini ialah qadosh, yang berarti dipisahkan, terasing
atau mutlak berbeda dari yang lain. Tujuan Allah atas pengasingan ialah agar melepaskan
Abraham dan keturunannya dari kekafiran, dari kebiasaan-kebiasaan para penyembah berhala.
Abraham harus melepaskan konsep-konsep teologis, budaya yang melahirkan dan
membesarkannya, melepaskan kebiasaan masyarakat tempat ia lahir dan bertumbuh yang tak
sesuai dengan kehendak Allah. Pengasingan merupakan proses pengubahan karakter. Dalam
pengasingan Allah memberikan pemahaman baru tentang konsep ketuhanan, etika, kemanusiaan,
dan tentang konsep ibadah yang harus dijalani sebagai umat Yahweh yang akan menurunkan
umat yang kudus.

2. Pemilihan Suatu Bangsa


Pemilihan Allah atas Israel menjadi suatu bangsa khusus milik Allah memuat juga
perkembangan teologis pernyataan diri Allah yang progresif. Demikian juga pemilihan gereja
menjadi umat Allah yang universal, memuat pernyataan diri Allah yang progresif bahkan
mencapai puncaknya. (Ibrani 1:1-2). Pemilihan dimulai dari satu pribadi untuk menyiapkan satu

37
bangsa. Pemilihan satu bangsa untuk mempersiapkan masuknya bangsa-bangsa lain yang kafir
menjadi satu umat kepunyaan Allah. Satu Allah, satu umat kepunyaan Allah.
Proses pemilihan Israel menjadi suatu bangsa meliputi:

a. Inisiatif Allah
Sama seperti pemilihan kepada bapa-bapa leluhur, pemilihan Israel sebagai suatu bangsa
adalah inisiatif Allah. Allah berinisiatif mencari mereka bukan karena kebaikan bangsa Israel
melainkan karena perjanjian-Nya. Pemilihan ini bukan karena kelebihan Israel dari pada bangsa-
bangsa lain. Pemilihan ini karena kemurahan Allah semata. Bukan atas usaha mereka, melainkan
kasih karunia Allah. Jadi sejak semula keselamatan Israel bukan kerena Taurat melainkan karena
kasih karunia Allah.

b. Pembebasan Dari Perbudakan


Israel awalnya bukanlah bangsa yang besar, yang memiliki tokoh-tokoh politikus ulung
sehingga mampu menyatukan sebuah bangsa sampai menjadi sebuah negara yang kuat. Pada
kenyataannya Israel adalah bangsa yang kecil, tertindas, diperbudak oleh bangsa yang lain.
Mereka awalnya tidak memiliki kabanggaan sebagai sebuah bangsa. Tapi karena kehendak Allah
mereka dibebaskan sehingga menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat. Ada dua kata Ibrani yang
dipergunakan untuk menunjukkan proses keluarnya bangsa Israel dari Mesir:

1( Yasa (‫)אצי‬
Yasa atau yatsa adalah kata Ibrani yang berarti berjalan keluar atau dibawa keluar (Kej
15:14: Kel 3:10-12; Yos 2:10). Kata ini memiliki makna pembebasan. Namun di sini harus ada
tindakan aktif untuk melangkah berpindah tempat. Allah sanggup dalam sekejap mata
memindahkan bangsa keluar dari Mesir tanpa mereka kerja keras, tetapi cara itu tidak digunakan
Allah. Dia yang membawa mereka keluar, tetapi mereka harus mengikuti Allah dari belakang.

2) Ala (hl;[')
Kata ala artinya berjalan naik ketempat yang lebih tinggi (Kel 3:8; 13:18; Bil 32:11)
meningkat, beranjak naik. Kata ini memiliki pengertian bahwa tempat yang Allah berikan jauh
lebih baik dari tempat mereka semula. Oleh karena itu pemberian tanah Kanaan merupakan
analogi tanah yang lebih baik dari pada tanah di dunia ini, yaitu tanah sorgawi.
Pemakaian dua kata ini menunjukkan bahwa mereka dapat keluar dari perbudakan Mesir
karena Allah. Dari sisi mereka hanya perlu respon aktif agar pembebasan Allah itu efektif. Allah
tidak sekadar membebaskan mereka dari tanah perbudakan tempat hidup mereka yang lama,
tetapi juga menyediakan tempat baru yang lebih tinggi, lebih baik dari pada Mesir. Pembebasan
Allah melepaskan mereka dari perbudakan itu secara teologis dimengerti sebagai karya Tuhan
tanpa campur tangan manusia. Maksud kebebasan itu ialah supaya mereka bisa bebas
menyembah dan menaati Allah. Ritual keagamaan mereka tidak terganggu oleh intervensi pihak
asing yang kafir.
38
Pembebasan itu tidak serta merta dalam sekejab mata melainkan melalui proses panjang.
Dalam proses ini Allah mendidik Israel sedemikian rupa sampai menjadi sebuah bangsa yang
baru. Mulai dari sekumpulan umat yang mengembara, belum banyak pengalaman mengatur
dirinya, Allah membawa mereka berkeliling lebih dulu selama dua tahun. Selama itu Allah
mendidik mereka untuk taat. Allah melatih kepekaan rohani mereka perihal dosa dan berhala.
Allah juga melatih mereka untuk berperang, sebelum merebut Tanah Perjanjian.
Selama dua tahun perjalanan di padang gurun ternyata mereka gagal untuk setia kepada
Allah. Akibatnya mereka mengalami pendidikan yang lebih keras guna pendewasaan, harus
mengeliling padang gurun selama empat puluh tahun, menjadi pengembara sampai generasi
pertama semua mati, kecuali Imam Eleazar, Yosua, dan Kaleb. Allah melakukan proses
pendidikan kepada bangsa Israel sebelum menjadikan Israel sebuah bangsa tergenapi.

c. Pemberian Hukum sebagai Konstitusi Bangsa


Suatu bangsa tentulah memerlukan sebuah konstitusi atau hukum untuk mengatur peri
kehidupan di antara mereka. Jika bangsa lain pada zaman itu pembuatan hukum berdasarkan
keputusan sang raja, sehingga kalau raja berganti hukum bisa berubah. Pada zaman sekarang,
konstitusi adalah buatan suatu badan konstituante/komisi konstitusi dan disepakati oleh rakyat
(wakil-wakil rakyat). Namun konstitusi Israel datang dari Allah sendiri, oleh karena itu
konstitusi Israel bersifat kekal.
Allah memberikan hukum ilahi yang bukan buatan manusia, tidak memuat konsesi antara
Allah dan umat. Syarat menjadi umat Allah ialah harus mentaati hukum Allah. Hukum itu tidak
saja mengatur hubungan antara Allah dengan manusia, melainkan juga hubungan manusia
dengan manusia. Hukum itu juga menyentuh sisi kemanusiaan pelaksana hukum yang menjamin
nilai relegius, hak-hak sebagai manusia dan warga negara, serta nilai-nilai moral dan karakter
masyarakat Israel. Hukum-hukum ini menjadi semacam kontrak politik atau kontrak perjanjian
umat Allah. Hukum itu dikenal sebagai Perjanjian Sinai, sebuah hukum yang mengikat seluruh
umat Israel, baik yang asli maupun pendatang yang bergabung dengan mereka.

d. Pemberian Tanah sebagai Ruang Lingkup


Suatu bangsa merdeka memerlukan wilayah tempat tinggal yang dihuni dan dapat dikelola
untuk kelangsungan hidup mereka dan keturunan, sekaligus tempat bernaung dan berlindung
mempertahankan jati diri sebagai bangsa. Oleh karena itu, Allah memberikan tanah Kanaan
sebagai tanah tampat mereka hidup dan berkembang.
Tanah yang Allah berikan juga bukanlah tanah yang tandus, melainkan tanah yang subur.
Akan tetapi tanah itu milik bangsa-bangsa Kanaan. Demi memberi umat-Nya tanah sebagai
tempat tinggal mereka, Allah menghancurkan bangsa-bangsa lain dan menghalau mereka keluar
dari tanah mereka. Sekilas seakan-akan Allah Israel semena-mena terhadap bangsa-bangsa lain
demi kepentingan Israel. Kesalahan pahaman ini dapat dihindari jika mengamati kitab Kejadian
15:16. Allah tidak serta merta memberikan Kanaan kepada Abraham, sebab kejahatan bangsa
Kanaan belum mencapai puncaknya. Pada masa Abraham mereka belum pantas untuk

39
mendapatkan hukuman yang keras dari Allah karena dosa-dosa mereka. Allah menghalau bangsa
Kanaan disebabkan karena dosa-dosa mereka yang luar biasa (Im 18:3-24), sehingga menghalau
keluar dari tanah air mereka. Hal itu harus dipahami sebagai hukuman Allah terhadap bangsa
yang berdosa. Jadi penghukuman itu bukan semata-mata demi keuntungan Israel malainkan demi
kemuliaan Allah dan pelajaran bagi semua bangsa untuk takut akan Tuhan (bd. Kej 15:16; Im.
18; 1Raj 21:26). Bahkan, penghalauan juga berlaku bagi orang Israel jika mereka berdosa,
sekalipun mereka umat kesayangan-Nya, dan jauh lebih dahsyat. (Ul 4:25-28; 28:63-68).

e. Pengujian dan Penguatan


Bangsa Israel mendapatkan pengujian ketika mereka menghadapi gurun kering tanpa air,
demikian juga ketika ada air yang ternyata berasa pahit, tidak dapat diminum. Semua itu diizinka
terjadi supaya ngsa itu memiliki keteguhan dalam mempercayai janji Allah tergenapi.
Di samping pengujian mereka juga mendapatkan penguatan, pengulangan janji, pernyataan
kebesaran Allah, dsb. Untuk menguatkan orang Israel, Allah menyatakan kuasa, bahkan
berulang-ulang memperagakan kemahakuasaan Allah yang dinyatakan melalui mukjizat.
Demikian juga janji-Nya terus diulang-ulang dinyatakan kepada mereka, sebagai penguatan.
Akan tetapi ketika orang Israel gagal dalam ujian yang pertama, menyebabkan perjalanan yang
seharusnya cukup 2 tahun mengelilingi padang gurun, akhirnya menjadi 40 tahun.

3. Tujuan Pemilihan
Sekilas tampaknya Allah pilih kasih terhadap Israel. Allah memperlakukan bangsa itu
sedemikian eksklusif. Namun, Sebenarnya kalau dicermati, pemilihan Israel bukanlah demi
Israel sentris, melainkan demi seluruh umat manusia. Tujuan pemilihan Israel adalah demi
kemanusiaan secara universal. Tujuan-tujuan Allah dalam memilih Israel bisa dirangkum sebagai
berikut:
a. Memberi berkat kepada Israel.
b. Menjadikan Israel berkat bagi bangsa-bangsa.
c. Menjadi pola hidup masyarakat yang tunduk dalam pemerintahan Allah.
d. Menjadi saksi Allah sehingga bangsa-bangsa menyembah Yahweh, Allah Israel.
e. Menjadikan semua bangsa sebagai satu umat kepunyaan Allah yang hidup.
Jadi Israel dipilih Allah adalah untuk membawa bangsa-bangsa menyembah Allah yang
benar. Israel mengemban tugas untuk menyatakan Allah yang benar, menunjukkan bagaimana
penyembahan yang benar, dan hidup sebagai umat Allah yang benar. Demikian juga Israel
mengemban tugas menunjukkan keseriusan dosa di mata Allah kepada bangsa-bangsa.

C. Pembebasan Israel

Pandangan Alkitab tentang kebebasan dilatarbelakangi pemikiran tentang penahanan dalam


penjara atau perbudakan. Para penguasa memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah
(Kej 39:20), atau bangsa yang dikalahkan akan diperbudak oleh bangsa yang mengalahkannya,

40
atau menjadi tawanan perang oleh penakluknya, contoh pribadi seperti Yusuf, dijual sebagai
budak. Kalau Alkitab berbicara tentang pembebasan, di dalamnya terkandung pengertian tentang
perbudakan atau penahanan dalam penjara, sebelum pembebasan itu.
Kebebasan berarti kebahagiaan berdasarkan pembebasan dari perbudakan, memasuki
kehidupan baru dalam sukacita dan kepuasan yang tidak mungkin diperoleh sebelumnya.
Gagasan tentang pelepasan atau pembebasan muncul dalam Alkitab dengan arti biasa secara
sekuler (mis Mzm 105:20); tapi pemikiran ini juga mengalami perkembangan teologis yang
penting. Hal ini terjadi karena kesadaran Israel bahwa kemerdekaan dari penaklukan bangsa-
bangsa asing, seperti yang dinikmatinya, adalah anugerah Allah. Dalam PB, pembebasan
menjadi suatu konsep teologis yang penting untuk menggambarkan keselamatan.44
Dalam Kej 39:20, verba yang dipakai untuk memenjarakan adalah asyir (Rys) yang artinya
terpenjara. Sedangkan perbudak Israel di Mesir (Kel 6:4; Kej 15:13-14) dipakai kata abad (db[)
yang memiliki implikasi melayani. Kata pembebasan di Mzm 105:20, dipakai kata patakh (xtP)
yang bermakna membuka lebar, membuka pintu, melepaskan. Verba yang diapakai untuk
pembebsan Israel dari Mesir, memakai kata yatsa (ac‫)י‬, seperti di Kel 6:6; UL 6:23; 8:7; 14:28
yang bermakna membawa keluar. Kata lainnya yang untuk pembebasan adalah bo (aAB),
membawa (masuk atau keluar). Kata penting dalam bahasa Ibrani yang berbicara tentang

pembebasan atau penebusan atau pelepasan dari pembudakan adalah kata ga’al (la;G'), seperti
di Kej 48:16; Kel 6:6; 15:13; Rut 3:13; Yes 43:14)
Dalam peristiwa Keluaran, Allah membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir, supaya
sejak itu Israel sebagai umat perjanjian-Nya melayani Dia (Kel 19:34 dab; 20:12 dab; Im 25:55;
bnd Yes 43:21). Ia membawa mereka masuk ke 'tanah yang berkelimpahan susu dan madu' (Kel
3:8; bnd Bil 14:7 dab; Ul 8:7 dab), menempatkan mereka di sana, memelihara mereka dalam
kemerdekaan secara politis dan kemakmuran ekonomis, selama mereka menjauhi penyembahan
berhala dan memelihara hukum-hukum-Nya (Ul 28:1-14).
Ini berarti bahwa kemerdekaan Israel tidak bergantung pada usaha-usaha secara militer
maupun politis, melainkan terletak pada ketaatan kepada Allah. Kemerdekaannya adalah
anugerah ilahi, karunia TUHAN kepada umat pilihan-Nya yang tak dapat dicapai atas jasa
mereka sendiri, dan kini tetap terpelihara hanya karena kemurahan-Nya yang tidak terputus-
putus. Ketidaktaatan, baik dalam kehidupan agamawi maupun ketidakadilan sosial, akan
mengakibatkan kebebasan itu hilang. Allah akan menghakimi umat-Nya dengan bencana
nasional dan perbudakan (Ul 28:25, 47 dab; bnd Hak 2:14 dab; 3:7 dab, 12
dab; 4:1 dab; 6:1 dab). Ia akan membangkitkan kuasa-kuasa musuh melawan mereka, dan
terutama mengangkut mereka ke suatu negeri di mana tak ada tanda-tanda dari kasih-Nya dapat
diharapkan (Ul 28:64 dab; Am 5; 2 Raj 17:6-23; bnd Mzm 137:1-4).
Kerangka pemikiran teologis tentang pelepasan atau pembebasan nyata dengan jelas di
sini. Kebebasan menurut PL, pada satu pihak berarti pembebasan dari kuasa-kuasa buatan yang
menjauhkan manusia dari pengabdian dan pemujaan kepada Penciptanya, di pihak lain, adalah
44
https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=BEBAS,%20PEMBEBASAN,%20PELEPASAN
41
kebahagiaan positif dari kehidupan persekutuan dengan Allah dalam perjanjian-Nya, di tempat
mana Ia berkenan menyatakan diri dan memberi berkat. Kebebasan berarti ditarik lepas dari
perhambaan kepada kuasa-kuasa yang menentang Allah, bagi ketaatan kepada tuntutan-tuntutan-
Nya atas kehidupan manusia. Kebebasan bukan hasil usaha manusia, melainkan pemberian
cuma-cuma, sesuatu yang mustahil dapat dimiliki manusia, kecuali dikaruniakan Allah.
Selanjutnya kelepasan pembebasan adalah suatu anugerah perjanjian, yang telah dijanjikan Allah
untuk dipelihara selama umat-Nya setia.
Kebebasan tidak berarti bebas dari Allah, bahkan artinya yang tepat adalah dalam
pelayanan kepada Allah, manusia menemukan kebebasannya yang sempurna. Manusia dapat
menikmati kebebasan dari perhambaan kepada makhluk, hanya dengan keterikatan kepada
Khalik-nya. Jadi jalan Allah untuk membebaskan manusia dari para penakluk manusia dan
musuh-musuh manusia, adalah dengan menjadikan manusia hamba-hamba-Nya sendiri. Ia
membebaskan manusia dengan jalan membawa manusia kepada diriNya sendiri (Kel 19:4).
Nubuat-nubuat Yesaya tentang pembebasan dari tawanan dan pemulihan Yerusalem,
memperkaya pengertian agamawi tentang kebebasan dengan menekankan bahwa peristiwa-
peristiwa ini merintis jalan kepada suatu pengalaman baru, yang tidak pernah ada sebelumnya
tentang persekutuan yang penuh sukacita dan memuaskan dengan Allah Israel yang rahmani
(Yes 35:3-10; 43:14-44:5; 45:14-17; 49:8-50:3; 51:17-52:12; 54; 61:1 dab; bnd Yeh 36:16-36;
37:15-28).
Karena semua anggota dari bangsa yang dibebaskan itu adalah hamba-hamba Allah (Im
25:42, 55), maka orang Israel yang menjual dirinya untuk menjadi hamba karena tekanan
kemiskinan, tidak boleh diperlakukan seperti budak-budak bangsa asing, yang menjadi milik dan
warisan tuannya (Im 25:44 dab). Pada setiap tahun ke-7, mereka harus dibebaskan (kecuali
mereka sukarela memilih untuk tetap menghambakan diri), sebagai peringatan atas pembebasan
Allah terhadap Israel dari perbudakan di Mesir (Ul 15:12 dab). Pada setiap tahun ke-50, sebagai
tambahan kepada pembebasan hamba-hamba berkebangsaan Israel, tanah yang telah diambil
harus dikembalikan kepada pewarisnya (Im 25:10). Yeremia mencela masyarakat Israel karena
walaupun kepada mereka telah diberitakan pembebasan bagi hamba-hamba Ibrani, mereka tidak
melaksanakan pembebasan itu (Yer 34:8-17).45

D. Perjanjian Allah46

Perjanjian adalalah suatu ikrar sungguh-sungguh yang diikat oleh Sumpah. Perjanjian dapat
merupakan ucapan lisan ataupun tindakan simbolis (Mendenhall 196262, 714). Dalam kitab PL
perjanjian itu bertumpu pada janji Allah dan terletak pada pusat pikiran alkitabiah mengenai
sejarah. Meskipun perjanjian itu secara khusus disamakan dengan yang dibuat di Sinai.
Perjanjian adalah inti pengertian orang Ibrani tentang hubungan mereka dengan Allah.

45
Sub-bab ini diolah dari sumber utama https://urapan-ilahi.blogspot.com/2008/06/israel-dalam-pl.html
46
Sub bab ini diedit dari William Dyrness, hlm. 95-107.
42
Kata lain perjanjian adalah pakta. Perjanjian Allah dengan Israel merupakan pakta yang unik
yang tidak dapat disamakan dengan pakta apa pun dari bangsa-bangsa lain yang pernah
ditemukan, yang sezaman dengan masa PL. Perjanjian di dalam PL merupakan penyingkapan
diri Allah kepada Umatnya. PL merupakan sebuah dokumen perjanjian. Perjanjian tidak bisa
diubah. Jika hubungan kedua belah pihak berubah, perjanjian itu tidak dapat diubah. Perjanjian
itu hanya dimusnahkan dan diganti dengan yang baru.
Perjanjian adalah tema yang harus dibahas tersendiri dalam teologi PL. Perjanjian diberikan
di sepanjang timeline sejarah manusia, juga menjadi tema penghubung dengan teologi PB.
Melalui pendekatan terhadap berbagai perjanjian Allah di dalam sejarah PL, Allah terlihat
mengerjakan rencana-Nya yang kekal bagi pemulihan segala sesuatu yang puncaknya terwujud
di dalam dan melalui Yesus Kristus. Kristus menjadi penggenapan dan penyingkapan akhir dari
seluruh rencana Allah terhadap manusia. Perjanjian itu suatu tindakan Allah yang mengikatkan
diri-Nya secara sepihak demi mewujudkan rencana-Nya terhadap manusia.

1. Definisi Perjanjian
Kata “perjanjian” berasal dari transliterasi beberapa kata. Pertama dari bahasa Yunani, yaitu
dari kata diatheke (διαθηκη), yang bermakna perjanjian atau ikat yang dibuat secara formal dan
memenuhi suatu standar hukum antara pihak-pihak yang mengadakannya. Dalam pemakaian
sekuler, kata ini juga diterjemahkan sebagai “kehendak terakhir yang mengikat” atau populer
dengan istilah “wasiat”. Kata ini paralel dengan kata Ibrani berit (‫)תירּב‬, ִ yang memiliki
pengertian lebih dalam dari diatheke, karena sifat perjanjiannya tidak hanya dengan kedua belah
pihak, tetapi juga dari satu sisi. Kata ini dalam bahasa Inggris disalin dengan beberapa kata,
seperti covenant, testament, dan comitment. Tetapi secara lingual lebih tepat diterjemhakan
sebagai covenant. Dalam bahasa Indonesia LAI menyalinnya menjadi “wasiat” (Alkitab versi
TL).
Dalam konteks Alkitab, yang disebut kovenan adalah perjanjian yang dibuat tanpa
menunggu kesepakatan manusia (antara dua sisi), tetapi dibuat dan ditetapkan Allah, kemudian
diberikan kepada manusia (hibah satu sisi). Sehingga ketika Allah membuat berit kepada tokoh-
tokoh Alkitab, maka perjanjian itu diterima begitu saja dan mengikat mereka. Salah satu wujud
perjanjian itu dinyatakan melalui pemberian “nama” ilahi. Jika perjanjian itu bersyarat, maka
selama syaratnya dipenuhi akan mendatangkan hasil, berupa penggenapan dari perjanjian itu.
Demikianlah, kovenan merupakan anugerah Allah yang menjelaskan kemahakuasaan Allah
terhadap segala sesuatu.

2. Macam-macam Perjanjian
Bebarapa pandangan mengatakan bahwa perjanjian Allah kepada manusia di dalam Alkitab
PL ada sebanyak tujuh perjanjian. Bila dikaji secara teologis, perjanjian utama yang dibuat Allah
kepada manusia di PL hanya sebanyak empat perjanjian, sedangkan perjanjian lainnya tersirat di
dalam keempat perjanjian tersebut. Berikut ini macam-macam perrjanjian yang ada.

43
a. Perjanjian Eden (Kej 1:26-31; 2:16-17). Sifatnya bersyarat, dan mengandung tuntutan,
cakupannya bersifat universal, berintikan janji:
1) Beranak-cucu
2) Menaklukkan bumi dan isinya
3) Berkuasa penuh atas ciptaan lain
4) Menikmati hasil bumi
5) Menggarap dan menjaga taman/lingkungan
6) Menjauhkan dari dari buah larangan.

b. Perjanjian Nuh (Kej 9:1-18), berintikan:


1) Berkat untuk Nuh memerintah, beranak cucu untuk memenuhi bumi
2) Hubungan baru dengan ciptaan lainnya
3) Manusia untuk pertama kalinya diperkenankan memakan daging binatang.
4) Menetapkan pentingnya HAM
5) Allah berjanji yang tidak akan memusnahkan bumi dengan air bah lagi.

c. Perjanjian Abraham (Kej 12:1-4; 13:14-17; 15:1-18; 17:1-8), dikonfirmasi ulang kepada
Ishak (Kej 26:2-5), dan Yakub (Kej 28:1-4, 12-15). Esensinya lintas generasi, berupa:
1) Kemakmuran dan berkat secara pribadi
2) Berkat keturunan,
3) Tanah atau negeri yang diberkati.
d. Perjanjian Musa (Kel 19:4-6; 19:8; 20:1 – 13:18).
e. Perjanjian Palestina (Ul 30:1-10)
f. Perjanjian Daud (2Sam 7:4-16; 1Taw 17: 3-15).
g. Perjanjian Baru (Yer 31:31).

3. Perjanjian Utama Dalam Perjanjian Lama


Alkitab menggambarkan perjanjian Allah di PL dalam suatu progresivitas yang dapat
dirunut dalam beberapa periode dan pribadi.

a. Perjanjian Dengan Nuh (Noahic Covenant)


Gagasan perjanjian itu sudah tersirat dalam perjanjian yang dibuat dengan Adam dan Hawa
dalam Kejadian 3-15, dan tergambar dalam janji Allah yang penuh rahmat kepada Kain (Kej
4:15) dengan menaruh tanda padanya sehingga ia tidak akan dibunuh oleh siapa pun. Tetapi
tepatnya kata perjanjian tidak muncul sebelum janji Allah kepada Nuh, sebelum air bah (Kej
6:18). Lalu Allah menyuruh Nuh dan keluarganya masuk ke dalam bahtera.
Kemudian perjanjian itu dimeteraikan sesudah air bah (Kej 9:1-17). Perjanjian itu tidak
hanya merupakan sebuah kontrak antara dua pihak, antara Allah yang datang kepada Nuh dan
anak-anaknya, tetapi juga kepada segala makhluk yang hidup. Jangkauan perjanjian Nuh bersifat
universal. Tidak ada syarat-syarat yang diberikan, dan berlaku bagi “segala makhluk turun

44
temurun". Sebagai tanda perjanjian Allah, busur pelangi menjadi lambang dari perjanjian Allah
dengan bumi (ayat 11). Ini adalah tindakan kasih Allah, suatu maksud yang hadir kemudian
dalam perjanjian dengan Abraham, bahwa semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
Melalui Abraham Allah memperkecil garis silsilah umat perjanjian-Nya, supaya melalui umat
pilihan tersebut, segala bangsa akan mengenal anugerah Allah. (Dyrness, 2001:98-99)

b. Perjanjian Dengan Abraham (Abrahamic Covenant)


Perjanjian ini muncul di Kejadian 15 dan 17. Dasar perjanjian telah ada dalam Kej 12:1-3,
ketika Allah memanggil Abram untuk meninggalkan negerinya, serta berjanji akan
menjadikannya suatu bangsa yang besar. Dalam pasal 15, Allah mengadakan sebuah upacara
khidmat bersama Abram, yang ditutup di ayat 18, “Pada hari itulah TUHAN mengadakan
perjanjian dengan Abram. Tidak ada satu pun yang dapat menjamin kepastian perjanjian tersebut
selain upacara khidmat yang dimeteraikan dengan sumpah Allah ini (lih. Yer 34:18-22).
Pertama-tama, la menjanjikan akan memberikan negeri itu (lih juga Kej 17:8). Rujukan ini
menunjuk kepada Kerajaan Daud yang diisyaratkan dalam Kej 17:6, ketika Allah berjanji bahwa
"daripadamu akan berasal raja-raja"). Kemudian Allah berjanji bahwa Abram akan menjadi bapa
suatu bangsa yang besar (17:4). Akhirnya, Allah berjanji untuk menjadi Allah mereka dan
keturunan mereka (17:7). Sekali lagi, inisiatif Allahlah yang terlihat di depan. Allah bertindak
sebagai raja yang berdaulat (15:18; 17:7). Akhirnya perjanjian itu akan menjadi kekal (17:19)
untuk keturunannya. Ishak secara khusus dimasukkan dalam perjanjian ini (17:21), yang pertama
dari garis keturunan yang panjang, yang akan mengenal Allah sebagai Allah mereka dan menjadi
umat-Nya. Ismael diberkati tetapi tegas-tegas tidak diikutsertakan dalam perjanjian itu (17:20).
Tanda Abraham dan keturunannya “memegang” perjanjian itu (17:10-14) itu ialah
keharusan setiap laki-laki disunat (ayat 10), yang tidak bersunat harus dilenyapkan dari antara
orang-orang sebangsanya. Inilah tanda pertama mengenai pembalasan dalam perjanjian. Pada
satu pihak, sunat sebagai suatu kewajiban dalam arti berlaku sebagai syarat. Merupakan
"jaminan sepanjang waktu atas kebenaran sumpah Yahwe". Seperti dalam kasus pelangi, sunat
harus menjadi tanda pengenal bagi siapa saja yang kelak mengambil bagian dalam perjanjian
Allah. Di pihak lain, partisipasi mereka yang disertai rasa syukur atas anugerah yang diberikan
Allah itu ditunjukkan dengan menyunatkan anak-anak mereka. Penyunatan merupakan lambang
dari peraturan yang kelak menjadi tanda bagi janji-janji Allah, yaitu: Baptisan dan Perjamuan
kudus. Sunat menjadi lambang pengudusan hidup mereka, yang kelak diterangkan dalam uraian
mengenai hukum perjanjian (Taurat). Semuanya ini mengungkapkan keinginan Allah untuk
bersekutu dengan Umat-Nya. Perjanjian itu tidak bersyarat. Sedangkan kesinambungan berkat
janji-janji bagi setiap individu bergantung pada tanggapan iman mereka masing-masing.
Berpegang pada perjanjian adalah syarat untuk terus-menerus hidup dalam anugerah ini.
Berpegang adalah tanggapan timbal balik, dan tanpa tanggapan ini persekutuan dengan Allah
menjadi tak mungkin. (Dyrness, 99-100)

3. Perjanjian Dengan Musa (Mosaic Covenant)

45
Perjanjian dengan Musa merupakan perjanjian fundamental bagi bangsa Israel. Perjanjian ini
dipandang sebagai dasar dari kehidupan beragama dan sosial mereka, walaupun isi perjanjian
memiliki kesinambungan dengan janji-janji Allah yang lebih awal (lih. Keluaran 3:15).
Keunikan perjanjian ini, pertama-tama, bangsa tersebut, dipilih oleh Yang Mahakuasa karena
mereka dilepaskan dari perbudakan Mesir (Kel 19:4). Motifnya kemudian dinyatakan sebagai
kasih Allah kepada mereka (Ul 7:6-8). Akan tetapi, pilihan ini juga merupakan pernyataan
bahwa Allah mengingat perjanjian-Nya dengan para leluhur (Kel 2:24). Kesinambungan ini
nyata sekali dalam kisah penuh kegembiraan mengenai perlindungan Allah dalam Mazmur
105:8-15. Maksud membawa bangsa Israel keluar dari Mesir merupakan bentuk penebusan,
melepaskan umat itu dari perbudakan agar mereka beribadah kepada Allah dalam kesucian dan
kebenaran. Melalui itu Israel bukan saja menjadi umat-Nya, tetapi juga membangun hubunga
bagaikan anak dengan bapa (Kel 4:22; Ul 8:5). Allah bukan saja raja yang berdaulat atas mereka,
melainkan sebagai Bapa juga.
Dalam perjanjian ini hadir ketentuan-ketentuan perjanjian yang diperluas artinya menjadi
tanggapan ketaatan Israel pada inisiatif Allah (Kel 19:4-5; Ul 26:16-19). Ketentuan itu terdiri
dari hukum apodiktis ("Janganlah engkau'") dan hukum kasuistik yang dibuat oleh keputusan
pengadilan ("Jikalau...maka engkau akan'"). Ketentuan-ketentuan ini sebagai syarat untuk terus-
menerus menikmati berkat yang dijanjikan sang penguasa kepada mereka, yaitu Allah sendiri.
Ketentuan-ketentuan (syarat-syarat) tersebut melibatkan kehidupan yang taat, yang harus
mencerminkan sifat Allah yang kudus. Gagasan ini terangkum dalam Imamat 19:2, "Kuduslah
kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus."
Meskipun perjanjian zaman Abraham tidak hilang, penekanan di sini adalah pada ketentuan-
ketentuan yang dikenakan Allah pada umat-Nya. Artinya, perjanjian diadakan dan diberlakukan
atas dasar ketetapan Allah (sang penguasa). Karena fakta yang ada sebelumnya bahwa mereka
adalah umat Allah, milik pribadi Allah, maka mereka didorong untuk memberikan tanggapan
ketaatan mereka. Kenyataan bahwa Allah memilih mereka sudah tetap. Sebagai hasil ketaatan,
maka mereka akan terus menikmati berkat-berkat janji itu. Kalau tidak maka akan dibuang.
Tantangan perjanjian ini selalu diulang dalam Kitab Raja-raja. Dalam kitab-kitab ini kelanjutan
eksistensi mereka sebagai bangsa tergantung pada kesetiaan terhadap kewajiban-kewajiban
perjanjian. Bagi Kerajaan Utara, perjanjian menjadi krisis karena dosa besar Yerobeam (1Raj
13:33-34). Hingga bencana térakhir yang ditimpakan, penulis mengulang-ulang hukuman atas
setiap raja bagaikan sebuah refrein, "Ia hidup menurut tingkah laku Yerobeam." Pada saat
pukulan datang dan bangsa Asyur menawan Israel, sebabnya sudah jelas, orang Israel hidup
menurut segala dosa yang telah dilakukan Yerobeam. Mereka tidak menjauhinya, sampai
TUHAN menjauhkan orang Israel dari hadapan-Nya" (2Raj 17:22-23). Kutuk yang terkandung
dalam perjanjian itu menjadi kenyataan karena dosa Israel. Kehancurannya telah ditentukan.
(Dyrness, 2001: 101-102)

4. Perjanjian Dengan Daud (Davidic Covenant)

46
Sejajar dengan perjanjian kepada Abraham, Allah mengulang perjanjian kepada Daud. Di
sini muncul kembali pola Allah mengambil inisiatif perjanjian-Nya dan mengulanginya, setiap
kali dalam kerangka yang lebih besar serta lebih luas dan lengkap. Allah tidak hanya mengingat
janji-janji-Nya, tetapi memberikan berkat tambahan. Seperti yang dikatakan oleh Mendenhall,
"Di dalam Daud, janji kepada para leluhur dipenuhi dan diperbaharui" (Mendenhall 1962, 718).
Janji kepada Daud, yang difirmankan melalui Nabi Natan, terdapat dalam 2Sam 7:12-17. Kata
perjanjian tidak tertera di sana, tetapi gagasannya ada. Dalam Mazmur 89:4-5, 28-29, perjanjian
Allah kepada Daud diuraikan dengan kata-kata yang hampir sama dengan perjanjian-Nya kepada
Abraham. Sekali lagi, sifatnya abadi dan berdasarkan inisiatif Allah (Mazmur 89:4-5: 2Sam
7:13). Namun di sini suatu unsur baru ditambahkan, yaitu kerajaan atau takhta. Ini meliputi
"wilayah", negeri yang dijanjikan Allah kepada para leluhur, dan gagasan tentang Allah yang
"memerintah wilayah tersebut. Jadi, seolah-olah Allah mengatakan bahwa la akan mengambil
kerajaan Daud bagi diri-Nya sendiri dan menjadikannya kepunyaan-Nya untuk menjamin
keabadiannya (2Sam 7:16). (Dyrness, 2001:102)
Keturunan Daud didorong untuk berpegang pada perjanjian-Nya agar mereka tetap duduk di
atas takhta (Mzm 132:12), tetapi suatu unsur baru ditambahkan, "Apabila ia (yaitu keturunanmu)
melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan
dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia'" (2Sam 7:14), hal ini disinggung dalam
Ulangan 8:5. Melompat beberapa abad ke muka, ke zaman penulis Tawarikh, sesudah masa
pembuangan, yang sekali lagi menonjolkan perjanjian Daud. Teologi kitab-kitab Tawarikh
termasuk bagian yang paling menarik di PL. Kitab-kitab ini ditulis sekitar tahun 400 SM., di
tengah-tengah tantangan paling besar yang dihadapi orang Israel. Para pengungsi telah kembali
dari pembuangan dan diperhadapkan dengan tugas berat membangun kembali bangsa mereka.
Di tengah-tengah keadaan hidup yang serba rawan, menurut penulis Tawarikh, bangsa sisa
itu menikmati kekuatan yang membuat mereka dapat survive, dengan cara:
a. Membangkitkan kembali kekuatan yang datang dari dalam tradisi mereka sendiri.
b. Membangkitkan semangat pembangunan kembali untuk suatu pemulihan.
c. Mengingat kembali bentuk-bentuk perjanjian yang diterima Daud dari Musa yang
dinyatakan secara sempurna dalam ibadah Bait Suci, tempat Allah dimuliakan
sebagaimana mestinya.
d. Lebih-lebih lagi, mereka harus ingat bahwa Allah adalah Raja mereka yang benar dan
bahwa pemerintahan Daud melambangkan pemerintahan yang lebih agung.
e. Mengingat kembali janji yang disampaikan dengan perantaraan Nabi Natan, yang
mengulang lagi pernyataan maksud Allah bagi garis keturunan Daud, Seorang anak
laki-laki akan lahir bagimu… dialah yang akan menjadi anak-Ku," demikian firman
Allah kepada Daud, "dan Aku akan”menjadi Bapanya; Aku akan mengokohkan takhta
kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya" (1Taw 22:9-10).
f. Mengingat perjanjian kepada Daud tentang seorang penguasa kekal, seperti di Mazmur
2:7, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini." Bahwa ayat ini,
yang sangat penting bagi penafsiran Kristus di PB (lihat Kisah 13:33), mengacu pada

47
Mesias, nyata dari nas berikutnya, di mana bangsa-bangsa akan diberikan kepada Anak
itu menjadi milik pusakanya.
Gagasan bahwa anak Allah akan menjadi perantara suatu perjanjian yang abadi, sudah lebih
dulu dinyatakan dalam puji-pujian Yesaya mengenai hamba Tuhan. Dalam Yesaya 42:1, 6, Allah
memilih hamba-Nya ("anakku'" dalam LXX) untuk menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa.
Allah berfirman, "Aku telah… memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi
terang untuk bangsa-bangsa" (ayat 6). Yes 55:3-4 menunjuk kepada perjanjian abadi itu sebagai
kasih setia Allah "yang teguh kepada Daud."
Maleakhi menyebut tokoh yang sama ini 'utusan-Ku" (Mal 3:1, "Siapakah yang dapat tahan
sampai hari kedatangan-Nya?"). Pemerintahan ini akan merupakan suatu kerajaan universal,
yang meliputi semua bangsa sebagaimana yang dijanjikan Allah kepada Abraham (Yes 2:2-4),
tetapi membawa penghukuman maupun berkat (Yes 2:9-12).
Nabi Yeremia menyebut kerajaan ini suatu perjanjian baru (Yer 31:31-34). Yeremia
menegaskan bahwa Allah tidak memutuskan hubungan dengan umat perjanjian-Nya, sekalipun
ia menulis di tengah-tengah kehancuran lahiriah janji-janji Allah menjelang masa pembuangan.
Suatu saat nanti Allah akan mengadakan suatu perjanjian baru, baru dalam arti bukan seperti
perjanjian sebelumnya yang telah diingkari para leluhur (ayat 32).
Sifat-dasar perjanjian ini adalah:
1) Perjanjian ini akan menjadi nyata "sesudah waktu itu" (ayat 33), yaitu, sesudah tindakan
penebusan lain yang Allah kerjakan, yang dilukiskan terdahulu dalam pasal ini sebagai
karya pembangunan dan pengumpulan (lih Yer 31:4, 10, 16).
2) Salah satu fungsi perjanjian baru ialah menaruh Taurat dalam batin manusia. Tindakan ini
ditafsirkan sebagai mengenal Tuhan (ayat 34). Menurut Yeremia, kegagalan Israel ialah
karena kekurangan pengetahuan (lih. 4:22; 8:7 dan 24:7). Sekarang, dengan revolusi batin
ini pengetahuan akan datang dengan sendirinya.
3) Kedudukan baru di hadapan Tuhan ini adalah bagi setiap orang ("mereka semua besar
kecil", ayat 34), tidak hanya bagi para nabi dan para imam.
4) Hubungan baru ini akan meliputi pengampunan dosa (ayat 34). Dosa akan ditindak dengan
cara yang menentukan dan tidak akan diingat lagi. Di tengah-tengah tragedi pribadi dan
nasional, Yeremia membangkitkan pengharapan bangsanya dan bernubuat tentang jalan
yang baru dan hidup, perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah Kristus (lih. Luk 22:20
dan 1Kor 11:25).
Segera setelah masa pembuangan, ketika Ezra dan Nehemia kembali ke Yerusalem, mereka
harus menghadapi sinkretisme dan paganisme yang sudah meluas. Karena itu adalah wajar untuk
menegakkan kembali perjanjian Allah secara ketat dan tegas dan berusaha menjamin
pelaksanaan Taurat dengan cara-cara politik. Menurut anggapan mereka, kegagalan dalam
mematuhi hukum Taurat adalah penyebab kehancuran mereka, karena itu mereka harus
menjamin ketaatan pada hukum tersebut. (Akan tetapi, Mendenhall yakin bahwa pola
pelaksanaanhukum ini telah dimulai sejak pembaharuan yang dilakukan Yosia sebelum masa
pembuangan seperti yang diperikan dalam 2Raj 23. Rakyat menanggapi Ezra dan bersumpah

48
akan menaati hukum Allah (Neh 9:32-33, 38). Sebagaimana Allah terikat pada perjanjian-Nya
dengan Abraham, demikian pula Israel terikat untuk mematuhi hukum Taurat yang diberikan di
Sinai. Pada waktu inilah penulis Tawarikh mengungkap di hadapan orang banyak harapan yang
terdapat dalam pemerintahan teokratis Daud.
Bagi para rabi antar-perjanjian, pemahaman perjanjian dari penulis Tawarikh masih menjadi
titik sentral. Mereka sering menyebut Allah sebagai Raja yang perbuatan-Nya menyelamatkan.
Tetapi unsur yang mengandung syarat sangat menonjol, umat Tuhan harus menerima Allah
sebagai Raja dengan menunjukkan ketaatan. Dalam perjanjian itu, Allah telah menyediakan
pendamaian melalui ketaatan pada hukum Taurat, yang pada gilirannya menetapkan (atau
menetapkan kembali) hubungan perjanjian (para sarjana sering menyebut pandangan ini sebagai
nomisme perjanjian). Paulus mencoba membetulkan suatu salah paham, bukan mengenai
tuntutan-tuntutan perjanjian itu, tetapi mengenai caranya perjanjian itu ditetapkan. Perjanjian
baru itu ditetapkan, bukan dengan melakukan hukum Taurat, melainkan melalui kematian
Kristus yang mengerjakan keselamatan dan tanggapan orang-orang percaya kepada-Nya.

E. Penebusan

Penebusan adalah salah satu aspek dalam teologi PL yang berkaitan erat dengan perjanjian.
Penebusan adalah sebuah recana jangka panjang di dalam sejarah manusia, yang telah disusun
sejak dari kekekalan. Konsep penebusan menjelaskan tentang usaha Allah untuk membebaskan
umatnya dari dosa, perbudakan atau penindasan (Kel 21:30; 6:6-7; Yes 48:20; Maz 130:8).
Makna istilah ini beranjak dari tindakan membebaskan salah seorang anggota keluarga dengan
cara membeli kembali apa yang menjadi milikinya (Im 25:25). Pengertian lainnya, sebagaimana
dipraktikkan pada masa Graeco-Roma, sebagai tindakan pembebasan para budak dengan
melakukan pembelian melalui pembayaran sejumlah uang atau harga tebusan.
Tema penebusan dihadirkan di sepanjang narasi PL, mengungkapkan rencana dan tindakan
Allah di dalam sejarah manusia. Skemanya dimulai dari kejatuhan manusia di Taman Eden,
sampai akhirnya pada karya Kristus di dalam PB. Kej pasal 1 – 3 dipandang sebagai
preredemptive work.
Penebusan berasal dari kata ge’ûliym (ְ‫ )גּאוּ ִלים‬dan ָ‫( גַּאל‬gā’al). Sebuah katakerja yang
berarti menebus atau tindakan penebus sanak. Suatu tindakan penebus terhadap sanak yang
sudah meninggal (Rut 3:13); atau membeli dari perbudakan (Im 25:48 ); atau membeli kembali
harta milik sanaknya (Im 25:26 ); untuk membalas dendam atas pembunuhan sanak-keluarga
(Bil 35:19); untuk menebus satu objek melalui suatu pembayaran (Im 27:13). Secara teologis
kata ini digunakan untuk menyatakan penebusannya Allah atas individu-individu dari kematian
rohani dan penebusan-Nya atas bangsa Israel dari perbudakan Mesir maupun dari pembuangan
(lihat Kel. 6:6).
Prinsip penebusan ini muncul dan dimulai dari hadirnya ras manusia sebagai imago dei
dalam periode penciptaan, tetapi yang akhirnya mengalami kejatuhan di dalam dosa. Kejatuhan
itu terjadi di lingkungan yang sangat ideal dan eratnya hubungan antara Pencipta dan ciptaan.
49
Kej 3 dilihat sebagai titik tolak dari seluruh rencana penebusan Allah. menggambarkan
bagaimana dosa telah mengubah kehidupan manusia secara radikal, sehingga lingkungan yang
penuh keharmonisan harus diakhiri dan diganti dengan lingkungan yang keras dan berbahaya
bahkan terkutuk. Sejak dari pasal 3 itu sejarah menjadi dimulainya tindakan penebusan Allah.
Tindakan Allah yang menebus diawali karena terganggunya hubungan antara Pencipta
dengan ciptaan dan antara sesama ciptaan yang destruktif. Sehingga penebusan merupakan
program Allah selain untuk memulihkan hubungan manusia dengan diri Allah yang kudus, juga
mencakup pembebasan seluruh ciptaan dari kutuk dosa dan kematian.
Sejak dari Kej 3 – 11, sejarah menyingkap kejatuhan dan akibat kerusakannya. Seluruh
ciptaan tidak mampu menyelaraskan diri pada kehendak Tuhan dan makin terjebak dalam
pemberontakan dan pengejaran keingin sendiri. Sejarah kala itu akhirnya berujung pada
pembinasaan semua ras manusia karena kejahatannya tidak dapat lagi ditoleransi. Sekalipun
muncul kepala ras baru, yaitu Nuh, yang dipandang baik oleh Allah, namun seluruh
keturunannya tidak mampu menjawab kehendak Allah, sehingga dibiarkan Allah tetap terjebak
dalam dosa kesombongan dan pemberontakan (Kej 8:21). Sampai kemudian panggilan Allah
terhadap manusia terjawab melalui ketaatan dan iman Abraham.

F. Pemeliharaan Allah

Pengakuan iman Israel lebih lanjut, dalam ketakjuban mereka kepada Allah, adalah
pernyataan tentang pemeliharaan Allah yang berkesinambungan atas alam ciptaan. Alkitab Ibrani
dengan tegas menyatakan bahwa langit dan bumi telah diciptakan sesuai dengan kebijaksanaan
Allah, dengan sempurna, cocok dan serasih untuk rencana-Nya. Tidak ada yang kurang (Kej 2:1-
3), sehingga langit dan bumi berdiri tegak, segala isinya, baik yang benafas atau tidak, sudah
diberi tugas dan perannya masing-masing, serta tempat dan waktunya (Barth, 1993:65).
Pada satu sisi, penciptaan Allah atas langit dan bumi telah selesai, karena itu Allah berhenti
dari pekerjaan-Nya pada hari Sabat. Semua lengkap, tidak usah ditambah atau diperbaiki. Tetapi
pada sisi yang lain pekerjaan Sang Khalik sama sekali tidak selesai dan tidak pernah selesai,
karena Allah juga menciptakan kehidupan yang dinamis dalam waktu, khususnya terhadap
manusia. Allah telah menciptakan segala sesuatu sebagai “yang terbatas”, sehingga kehidupan
(kedinamisan) dan keterbatasan yang berhubungan dengan waktu merupakan kerangka di mana
Allah terus menerus bekerja untuk memeliharanya agar tetap sesuai dengan kehendak dan
rencana Allah sendiri.
Menurut PL, tata penciptaan hampir selalu menyangkut juga pemeliharaan dunia. Allah
tidak menciptakan segala-galanya sempurna, tetapi semua baik, dan cocok dengan kehendak
Allah. Maksudnya, seperti dikatakan Dyrness, Allah bekerja di dalam dan melalui tatanan alam
untuk mewujudkan maksud-maksudnya.47 Karena ciptaan itu terbatas, maka perkerjaan Allah
selalu disertai tindakan-tindakan pengamanan terhadap kodrat keterbatasan yang rentan
kekacauan dan bencana, seperti banjir, kekeringan, kelaparan dan bahaya lainnya. “Sehingga

47
William Dyrness, 58
50
penciptaan dunia bersifat juga pemeliharan dunia di sepanjang waktu” (Barth: 65). Pemeliharaan
atas mahluk-mahluk ciptaan itu dikenal dengan terminologi dari bahasa Latin, providentia atau
“providentia Dei.
Menurut Barth, Allah memelihara dunia berarti Allah mengaruniakan waktu kepada dunia.
Di dalam waktu itu terkandung perubahan. Dan di antara segala mahluk di bumi, manusialah
yang dapat merasai, menyadari dan menghitung karunia waktu itu. Waktu itu juga semata-mata
dikaitkan dengan rencana Allah terhadap manusia, dan boleh dikatakan bahwa penciptaan dunia
sekaligus memulai sejarah dunia, khususnya sejarah manusia.

1. Tingkat-Tingkat Pemeliharaan Allah (Cf. Dyrness: 58-59)


Pada tingkat pertama, ciptaan asli yang pembuatannya segera, dari materi yang tidak ada
sebelumnya. Pada tingkat yang kedua, Allah melanjutkan pemeliharaan melalui proses-proses
kehidupan yang difasilitasi Allah dalam alam ciptaan tersebut. Dalam tahap ini Allah
membiarkan hujan turun, baik atas orang benar atau yang tidak benar, sebagai hukum alam yang
terjadi secara teratur dan tetap. Ini secara teologis menyatakan bahwa tatanan alam yang padanya
manusia bergantung adalah suatu pernyataan kebaikan Allah, terutama kemurahan dan panjang
sabar-Nya (Maz 19:3-5; Rm 2:4; 2 Pet 3:9).
Pada tingkat yang ketiga, dan yang paling eksplisit, dari pemeliharaan Allah, selain
menciptakan lingkungan yang cocok bagi manusia, Dia bertindak langsung untuk mengadakan
keselamatan. Pada tingkat ini, providensia Allah menunjuk kepada mukjizat-mukjizat. Allah
bahkan menyatakan kebaikan dan pemeliharaan-Nya atas tatanan alam dengan campur tangan
dalam mengontrol peristiwa-peristiwa dengan cara-cara yang khusus. Salah satu contohnya
dalam sejarah pelepasan bangsa Israel dari Mesir yang dikisahkan kitab Keluaran. Allah dapat
menggunakan air bah, laut, angin dan sebagainya dalam menyempurnakan pekerjaan
penyelamatan-Nya, termasuk semua perbuatan ajaib dan istimewa yang membantu melepaskan
dan memelihara bangsa Israel.

51
BAB V
TEMA-TEMA TEOLOGI PERJANJIAN LAMA I

Teologi PL, sebagai sebuah disiplin ilmu teologi yang mandiri, secara umum terbagi dalam
pokok-pokok yang membentang di dalam seluruh Perjanjian Lama. Pokok-pokok itu, menurut
Bath, berkenaan dengan perbuatan-perbuatan di medan sejarah, bahwa Allah telah bertindak,
sedang bertindak dan akan bertindak di sepanjang sejarah Israel. Pokok-pokok itu yang
menggerakkan hati dan tangan para penulis Kitab Suci, sehingga berdasarkan hal itu teologi PL
secara alami terbagi dalam 9 pokok utama, namun dalam Teologi PL I ini hanya membahas lima
pokok saja.

A. Sunat

Bagi kehidupan Israel, sunat memiliki peranan yang penting sebagai identitas yang
menyangkut hubungan yang sangat penting dalam kehidupan bangsa dan teologi Perjanjian.
Sunat pertama-tama merupakan suatu tanda, bahwa seorang sudah sah masuk dalam perjanjian
dengan Allah. Dilakukan pada tubuh setiap anak laki-laki di Israel pada umur delapan hari (Kej
17:9-14). "Orang-orang yang tidak bersunat" berarti bangsa-bangsa bukan Israel (mis. Gal 2:7).
Sunat ini menjadi tanda dan adat dalam bangsa Yahudi yang menjadi tanda perjanjian Allah
dengan umat Israel (Kej 17:9-14).

1. Pengertian Sunat
Bagi keturunan Abraham, sunat, bukan peristiwa biasa, tetapi itu lebih merupakan
perjanjian, antara Allah dan manusia. oleh sebab itu upacara ini disebut dengan Perjanjian Sunat
ִ
atau berit milah (ְּ‫תירב‬ ִ‫ )הלָימ‬atau berit hamilah (‫יר ְּב‬
ִ ִ‫)הלָימִ ה מ‬, harafiahnya berarti perjanjian sunat
(circumcise covenant). Kata mulah, berasal dari kata mul (‫)לּומ‬, artinya: menyunat, to circumcise
(verba).48
Kata sunat dalam PL berasal dari kata kerja bahasa Ibrani mul (‫)מּול‬, suatu kata yang berarti
memotong pendek, menyunat sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan
keturunannya. Musa memerintahkan Bangsa Israel untuk menyunat hati mereka, yaitu, untuk
menyingkirkan kekerasan dan untuk mencintai Tuhan (Ul. 10:16; cf. 30:6; Yer 4:4). Ketika
dipergunakan dalam bentuk intensif, katakerja ini berarti lisut, layu (dipotong KJV), seperti di
Mzm 90:6. Dipergunakan pada bangsa yang ditetapkan untuk potong, untuk dihancurkan
(Mzm.118:10–12). Berhubungan dengan kata kerja māhal (H4107), mālal (H4448), dan nāmal
(H5243).49

1. Asal Mula Sunat

48
http://www.sarapanpagi.org/perjanjian-sunat-brit-milah-vt314.html
49
The Complate Word Study Dictionary, in: E-Sword Biblesoftware, verson 7-8.
52
Kebiasaan sunat barangkali datang di tengah masyarakat Israel lewat Mesir. Sedangkan
bangsa Filistin (keturunan Indo-Jerman) tidak mengenalnya (1Sam 14:6; bdk Yer 9:24-25; Yeh
32:22-32). Sebagai bukti, bahwa tradisi sunat sudah tua sekali adalah penggunaan batu tajam
yang dijadikan pisau sunat (Kel 4:25; Yos 5:2). Berlawanan dengan incisio (pembelahan),
circumsio (sunat) yang dilakukan oleh bangsa Isr., terjadi dengan menghilangkan keseluruhan
kulup atau kulit depan. Tidaklah mencukupi, bila penjelasan sunat hanya dihubungkan dengan
masalah kesehatan atau medis melulu. Pada dasarnya sunat merupakan sebuah upacara inisiasi
(upacara pemberkatan kedewasaan seorang laki-laki). Pada umumnya sunat dilakukan pada
waktu anak laki-laki menjadi puber. Tradisi Israel tidak memberi arti yang asli pada sunat itu
(Kej 17:23-27; Kel 4:25; Yos 5:2-10). Sejak awal-mula, orang Israel memandang sunat sebagai
tanda perjanjian (Kis 7:8), tanda menjadi milik Yahwe atau tanda menjadi anggota persekutuan
agama Israel (Kel 12:48; Rm 4:11). Sunat juga dipandang sebagai sebuah tanda khas, yang
membedakan dari bangsa-bangsa lain (Hak 14:3; 1Sam 14:6; 2Sam 1:20 dan lain-lain). Di Israel
tidak ditemukan undang-undang khusus mengenai sunat. Berdasarkan Kej 17:12; Im 12:3,
ketentuan sunat dilakukan pada hari ke-8 sesudah kelahiran. Waktu semula sunat dilakukan oleh
bapak keluarga sendiri. Pada zaman PB sunat dihubungkan dengan upacara pemberian nama
(Luk 1:59).50
Perjanjian sunat mula-mula diberikan kepada Abram setelah dia berada di negeri perjanjian
selama 24 tahun, dan merubah namanya menjadi Abraham (Kej 12:4, 5; 17:1-5).
Ada 4 hal utama nerkenaan dengan sunat, yaitu:
a. Sebagai tanda yang tampak pada tubuh,
b. Terbatas pada laki-laki dari keluarganya Abraham,
c. Anak-anak disunat pada hari kedelapan,
d. Yang tidak disunat dikeluarkan dari lingkungan perjanjian (Kej 17:6 - 14).

2. Makna Sunat
Ungkapan "Tidak disunat" di dalam PL sudah mempunyai sebuah arti kiasan, artinya: Tidak
punya kebajikan, tidak berguna lagi (seperti pohon buah-buahan, Im 19:23; lidah, Kel 6:12,30;
telinga, Yer 6:10; hati Im 26:41; Yer.9:25). Oleh sebab itu orang berbicara tentang kulit kulup
hati (yang keras) seperti (Yer 4:4) atau tentang sunat hatinya (Ul 10:16; 30:6; Rm 2:29).
Pandangan PB tentang sunat bukan tidak berguna lagi, tetapi tidak berfungsi. Sebab pada masa
Paulus sunat suka dihubungkan dengan iman. Sehingga iman terhadap Kristus membuat sunat
tidak berlaku lagi, seperti yang diajarkannya di Gal 5:6; 6:15; Kol 2:11. Pandangan itu diambil
dari Konsili para Rasul (Kis 15:1-20; Gal 2:2-3; Rom 4:12).51

B. Sabat

Hari Sabat di dalam PL sampai PB, bahkan dalam tradisi Yahudi merupakan hari yang
istimewa. Menurut Word Study, Sabat adalah hari ketujuh dikhususkan pada penciptaan.
50
https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Sunat
51
https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Sunat
53
Sekalipun sabat itu ditetapkan oleh Allah sendiri pada saat penciptaan, namun sebutan hari Sabat
yang Kudus pertama kali diberikan kepada Israel dalam teks Alkitab di Kel 16:23 sebagai hadiah
dari umat Tuhan (Kel 16:25-26; 16:29). Sabat dimasukkan secara resmi di dalam Dasatitah di
Sinai. Hari Sabat atau hari yang ketujuh ini harus dipelihara dan dikhususkan untuk Tuhan (Kel
20:8; 20:10). Hari itu diberkati oleh Tuhan (Kel 20:11), dan harus dipelihara oleh Israel selama-
lamanya (Kel 31:13-16; Yeh 20:12). Bahkan api tidak dapat dinyalakan di rumah mana pun pada
hari Sabat (Kel 35:3; Im 23:32; Neh 10:31; Yes 58:13; Yer 17:22). Pada hari itu tidak orang
yang boleh bekerja, bahkan di Kemah Suci (Kel 35:2). Persembahan khusus yang
dipersembahkan korban pada hari Sabat harus digandakan dari korban bakaran harian biasa,
yang disebut persembahan Sabat (Bil 28:9-10). Tujuan untuk Sabat adalah hari peristirahatan
bagi semua umat Tuhan, dasarnya adalah dalam beristirahatnya Allah dari pekerjaan pada
penciptaan (Kel 20:11; cf. 31:17), dan dari pengalaman sejarah kerja paksa orang Israel di Mesir
(Ul 5:15). Sayangnya, di PL umat Tuhan telah mencemari Sabat Tuhan (Yeh. 20:13; 20:16;
20:20).52

1. Asal Usul
Etimologis kata sabat tidak jelas. Banyak para ahli menyimpulkan Sabat itu berasal dari kata
kerja "syabat" atau syavat yang berarti berhenti dari sesuatu atau melepaskan (bd. Yos 5:12; Neh
6:3; Ayb 32:1; Yes 24:8 dsb.). Ada ahli yang menghubungkannya dengan kata "syeba" (tujuh)
karena ritme 7 hari dari Sabat itu. Semua Kitab Hukum PL mewajibkan, agar Sabat dirayakan
dengan menghentikan pekerjaan harian. Peraturan Sabat yang tertua (Kel 23:12) mendasarkan
larangan bekerja pada pertimbangan manusiawi, sebagai hari istirahat bagi manusia dan hewan.
Di samping itu Ul 5:15 menghubungkan perayaan Sabat dengan keluaran mereka dari Mesir.
Pada zaman pembuangan, bangsa Yahudi mulai menganggap Sabat, di samping sunat, sebagai
"tanda" yang membuat Israel berbeda dari bangsa-bangsa lain (Kel 31:13-17; Yeh 20:12,20).
Hari Sabat itu kudus dan kekudusannya dilanggar dengan bekerja (Kel 20:8-11 dalam
hubungannya dengan Kej 1:1-2:4). Pada waktu sebelum pembuangan Sabat diperingati dalam
suasana perayaan dengan mengunjungi Bait Suci (Yes 1:12-13) dan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan kepada para nabi (2Raj 4:23). Pada masa Nehemia, setelah masa pembuangan (2Raj
13:15-22) ketenangan Sabat ditegakkan dengan paksa. Sejak saat itu semakin timbul
penghormatan atas Sabat (Yes 56:2-6; Yer 17:24-27). Pada zaman Makabe orang-orang Yahudi
membiarkan dirinya dibunuh musuh tanpa mengadakan perlawanan, agar tidak melanggar
kekudusan Sabat dengan berperang (1Mak 2:37-38; 2Mak 6:11; 2Mak 15:1-2). Tulisan-tulisan
para rabi mewakili pandangan keras tentang istirahat Sabat secara berlebihan. Peraturan-
peraturan kasuistik yang sangat rumit membuat Sabat menjadi beban (bd. Yub 2:17-33; 50:6-13).
Ada 39 perbuatan terlarang Sabat, antara lain memetik benda-benda (Mat 12:2) dan mengangkut
beban (Yoh 5:10). Seorang tabib hanya diijinkan menolong orang yang berada dalam bahaya
maut (oleh karenanya timbul perlawanan keras atas penyembuhan-penyembuhan yang dibuat
oleh Yesus: Mark 3:1-5 dst; Yoh 5:1-16 dbtl.). Sabat dalam pandangan kelompok Qumran

52
The Compalte Word Study Dictionary, dalam E-Swor Biblesoftware, versi 7-8.
54
(Eseni) sebagai waktu khusus untuk berdoa. Tentu saja aturan di situ juga keras (Misalnya, orang
tidak diizinkan berjalan ke luar kota lebih dari 2000 langkah atau ± 1,5 km (= perjalanan untuk
sabat), kecuali membebaskan ternak dari lubang (bd. Luk 14:5), atau membicarakan pekerjaan
hari berikut. Itu yang menurut orang Yahudi telah dilanggar oleh Yesus. Tetapi bagi Tuhan
Yesus, Sabat itu tidak mempunyai tujuan sendiri, melainkan harus menjadi berkat untuk hidup
(Mark 2:27). Beberapa kali Yesus memancing orang (lawan-lawan) supaya mengadakan
perdebatan soal Sabat (Mat 12:10-14; Luk 13:10-17; Yoh 5:8-18). Yesus mengambil kebebasan
untuk berbuat baik pada hari Sabat atau menghapusnya sama sekali (Mark 2:28). Dari Mat 24:20
dapat ditarik kesimpulan, bahwa para orang Kristen pertama wajib mengikuti Sabat seperti
mereka juga mengikuti kebiasaan Yahudi lainnya (Kis 2:1, 46; 3:1; 10:9). Tetapi Paulus tidak
mewajibkan para Kristen asal kafir untuk merayakan hari Sabat (Gal 4:9-10), tetapi mengadakan
ibadah pada hari pertama dalam minggu Yahudi (Kis 20:7; 1Kor 16:2).53

2. Sabat Tahunan
Puncak tahun-tahun sabat dicapai pada setiap tahun yangg ke-50. Inilah yubilium (Ibrani
Yovel, ‘domba jantan’, mengacu kepada ‘terompet’, tanduk domba jantan, dengan mana tahun
itu dirayakan. Sanksi-sanksi tahun sabat diterapkan dengan keras. Di samping itu hak milik
dikembalikan kepada pemilik aslinya. Hutang-hutang dinyatakan lunas, dan orang Ibrani yang
menjadi budak akibat hutang dibebaskan. Saat itu adalah saat pengucapan syukur dan tindak
penerapan iman bahwa Allah akan menyediakan pangan (Im 25:8 dst).54
Istilah Sabat tahunan ini mengacu kepada ketentuan yang dibuat mengenai Tanah Perjanjian,
Im 25:2 menyatakan wesyavetah a’arets syabbat, ‘maka tanah itu harus mendapat perhentian’.
Hal itu juga disebut ‘perhentian istirahat’ dan ‘tahun perhentian’ (Im 25:4,5). Sesudah enam
tahun masa tanam, pemeliharaan dan panen, tanah dibiarkan tidak ditanami selama satu tahun.
Tanaman yang tumbuh sendiri di ladang tidak boleh dipanen, tetapi diperuntukkan bagi orang
miskin dan sisanya bagi hewan (Kel 23:11; Ul 15:2-18). Untuk menenangkan kekuatiran umat
Israel akan kekurangan, Tuhan menjamin bahwa tahun ke-6 akan menyediakan cukup tuaian
buat 3 tahun (Im 25:20 dab). Sejak saat itu ‘tahun perhentian’ ini diberlakukan di Israel (Neh
10:31; 1 Makabe 6:49, 53; bn Jos., Ant. 12. 378; 14. 206). Teks Im 26:34-43;2Taw 36:21; Yer
34:14-22 mengacu kepada kemarahan Tuhan terhadap pelanggaran atas peraturan ini.
Pada awalnya, Sabat hanya menekankan perhentian dan penyegaran kembali (baik orang
Israel, hamba, orang asing, bahkan binatang dan tanah, Ul 5:12-15; Kel 16:29; 23:12). Namun,
bagi umat Kristen, pengertiannya bila dilihat dari terang PB tidak lagi merupakan suatu hukum.
Messias telah datang dalam Yesus sebagai penggenap Taurat (Luk.4:14-22), di mana Yesus
bertugas "mengabarkan tahun karunia Tuhan" (Luk.4:18,19) dan dikatakan pula bahwa "Pada
hari ini isi kitab yang kamu dengar itu sudah sampai." Tahun karunia Tuhan bagi umat Israel
adalah tahun Yobel (tahun ke-50, yang merupakan Sabat akbar setelah melewati 7 X Sabat
tahun). Dalam Mat.11:28 Yesus mengatakan "Aku akan memberikan kelegaan bagimu". Istilah

53
Diedit dari https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Sabat
54
The Complate Word Study Dictionari, H7676
55
Yunani untuk kelegaan adalah kata pausis terjemahan dari kata Ibrani Sabat. Tuhan Yesus
berfirman: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat" (Luk.6:5).
Memang para pengikut Yesus Kristus mula-mula adalah orang Yahudi dan mereka masih
berkumpul di sinagoga pada hari Sabat (Kis.13:14, 44 dst; 14:1;18:4, 19, 19:8), namun mereka
sadar bahwa Sabat telah memiliki pengertian baru sehingga lama-kelamaan mereka yang telah
menjadi Kristen merasa tidak nyaman lagi beribadah pada hari Sabat di sinagoga yang masih
melaksanakan ritus-ritus Taurat. Apalagi dalam persidangan para Rasul di Yerusalem (Kis.15),
para rasul tidak menyebutkan firman Sabat sebagai perintah yang harus dituruti oleh orang kafir
(lihat juga perjuangan Paulus dalam kitab Galatia dan Rom.14).
Umat Kristen jemaat awal kemudian berkumpul pada hari pertama dalam minggu sebagai
peringatan mingguan hari kebangkitan Tuhan Yesus (Yoh 20:1, 19,26; Kis.20:7; 1Kor.16:2),
pengakuan Tomas bahwa Yesus adalah 'Tuhanku dan Allahku' (Yoh.20:28) terjadi dalam
pertemuan hari Minggu. Hari Pertama dalam minggu disebut sebagai hari Tuhan (kuriake
hemera, Why.1:10). Kuriake Hemera dalam bahasa Latin adalah Dies Dominica, Portugis =
dominggo, dan kemudian menjadi kosa kata bahasa Indonesia, yaitu Minggu.
Jadi, umat Kristen tidak lagi merayakan hari Sabat pada hari Sabtu atau hari Minggu,
pertemuan pada hari pertama dalam minggu adalah pertemuan ulangan untuk mengenang Tuhan
Yesus yang telah bangkit dan bukan merayakan Sabat.
Ada juga argumentasi dari pengajaran Adventis bahwa ‘hari Tuhan’ (kuriake Hemera)
dalam PL menunjuk hari Sabtu karena dikatakan bahwa ‘hari ketujuh adalah Sabat Tuhan’
(Kel.20:10), disebut ‘hari Sabat adalah hari kudus-Ku’ (Yes.58:13) dan bahkan dalam PB
dikatakan bahwa Yesus mengaku sebagai ‘Tuhan atas hari Sabat.’ Namun, kalau melihat
bagaimana Tuhan Yesus memperbarui arti Sabat yang sebenarnya, bahwa Yesus kemudian tidak
menjalankan Sabat sekalipun masih sekali-kali hadir pada hari Sabat di sinagoga dan Bait Allah,
tujuannya untuk memberitahukan Tahun Rahmat Tuhan. Karena tidak merayakan Sabat itulah
Yesus sering dimaki bahkan dimusihi oleh umat Yahudi.
Para murid berkumpul pada hari ‘Tuhan’ untuk mengenang kebangkitan Yesus dari
kematian yang menyatakan diri sebagai Tuhan pada hari pertama dalam minggu itu, karena
bukan saja Ia adalah Tuhan atas hari Sabat, Tuhan Yesus sudah menjadi Sabat bagi umatnya
sehingga umat tidak lagi perlu melakukan syariat Sabat lagi.

C. Berkat

Di antara tema teologis yang beraneka ragam dalam PL muncul satu tema pertama dan
utama yang secara nyata menghubungkan pekerjaan Allah lintas periodik dalam sejarah Israel,
yaitu tema tentang berkat. Dapat dikatakan bahwa “berkat” menjadi salah satu fokus utama
dalam teologi PL yang membangun hubungan-hubungan melintasi berbagai zaman sejarah dari
tema-tema yang muncul dalam teologi PL. Mulai Kejadian pasal 1 berkat ilahi sudah dinyatakan.
Beberapa bagian dari uraian ini mengikuti bahasan dari Kaiser (Kaiser, 2020:80-96)

56
Kata “berkat” berasal dari kata Ibrani barakh (‫)בַּרךּ‬. Verba yang berarti memberkati,
berlutut, memberi hormat, memuliakan atau salam. Verba ini berasal dari kata benda “lutut”
yang menunjuk arti pelentukan lutut dalam pemberkatan, lalu memperoleh arti memberkati
seseorang atau sesuatu. Kata kerjanya dipergunakan ketika memuliakan Tuhan (Kej 9:26) atau
orang-orang (Bil 24:9). Tuhan mempergunakan kata kerja ini ketika memberkati Abraham (Kej
12:3). Juga dipergunakan secara intensif ketika Allah memberkati orang-orang, atau orang-orang
saling memberkati satu sama lain (Yos 17:14). Ketika dipergunakan secara reflektif, kata ini
menyatakan seseorang selamat atau memberi selamat dirinya sendiri (Ul.29:19). Arti lain adalah
menekukkan lutut (2Taw 6:13), untuk menyambut seseorang dengan salam (1Sa 25:14). Kata ini
dan turunannya digunakan tidak kurang dari 324 kali di seluruh PL, yang mencakup arti
memberkati, berlutut, memuji, memuliakan, bersyukur, menyelamati, menghormati memberi
salam, bahkan mengutuki.55

1. Berkat Zaman Pra-Bapak Leluhur dan Zaman Para Bapak Leluhur


Tema pertama yang muncul dalam Alkitab adalah dalam penciptaan. Menurut para ahli,
motif utama dari cerita-cerita tentang penciptaan itu adalah “berkat” Allah. Mula-mula berkat
atas segala mahluk yang hidup di laut dan di udara (Kej 1:22), dan atas manusia laki-laki dan
perempuan (Kej 1:28). Wujud dari berkat itu berupa kapasitas dan hasil. Ciptaan Allah harus
mudah berkembang biak dan melimpah di bumi.
Berkat Allah itu berlanjut dalam Kej 5:2 dan setelah peristiwa air bah dalam Kej 9:1,
sekalipun tidak ada penggunaan kata “berkat” atau formula “Allah memberkati mereka, lalu
Allah berfirman...” di sana. Tetapi dinyatakan secara tidak langsung di dalam gagasan yang
disebut “gambaran penyelamatan” atau heilsschilderung, termasuk di dalam ayat-ayat sebelum
masa para bapak leluhur (Kej 3:15; 9:27). Sehingga berkat terdapat dalam konsep, formula dan
tindakan penyelamatan ilahi.56
Tema “berkat” secara jelas muncul secara luas menghubungkan Kej 1 – 11 dan zaman para
bapak leluhur dalam pengulangan rangkap lima dari berkat yang diberikan kepada Abraham
dalam Kej 12:1-3. Berkat itu kemudian mengalami transisi yang diformulasikan dengan kata
janji. Pertama-tama diberikan kepada seorang dari keluarga semit dari antara segala keluarga lain
yang semakin hari semakin menjauh dari Allah yang memberkati mereka dengan
perkembangbiakan yang luar biasa. Abraham menjadi bapak leluhur pertama yang menerima
berkat dalam motif “janji” dari Sang Pencipta. Kata kerja “memberkati” muncul sebanyak 82
kali di dalam narasi tentang bapak leluhur yang berkenaan dalam “janji” kepada mereka. Pola itu
berkesinambungan kepada Ishak (Kej 26:24), bahkan formulasi berkat dalam konteks penciptaan
muncuk kembali pada Yakub di Kej 35:11. (Kaiser Jr., 2020:81)57
Konsep tentang berkat mengandung ide tentang “berhasil” dalam suatu usaha atau dijadikan
makmur oleh Allah. Kata berhasil dipakai kata tsalah (ָ‫ )צַלח‬yang berarti menjadikan makmur,

55
The Complate Word Study Dictionary, in: Bible Software E-Sword, H1288.
56
W. C. Kaiser, Jr., Teologi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2020, 81.
57
Diringkas dari W. C. Kaiser, Jr., 81-82.
57
mendatangkan keberhasilan, digunakan dalam Kej 24:21, 40, 42, 56, sepadan dengan kata barak
atau “memberkati” (Kej 24:1, 27, 31). Secara terpadu menunjukkan bahwa berkat Allah yang
menyertai bapak leluhur membuat segala sesuatu yang mereka usahakan berhasil. Dengan
demikian “berkat” melintasi kedua zaman melalui transisi “janji”, walaupun tidak ada kata Ibrani
yang khusus untuk “janji”. Sementara itu, Allah terus menyatakan pekerjaan-Nya dengan
memberikan kelepasan pada masa yang akan datang dengan membekali manusia dan seluruh
ciptaan dengan kapasitas dan buah-buah keberhasilan. Berkat dan janji seringkali muncul dalam
kedua zaman dalam tindakan penyelamatan Allah (Heilsschilderung). (Kaiser, 2020: 81).

2. “Berkat” Zaman Bapak Leluhur dan “Hukum Taurat” Zaman Musa


Tema “janji” dan “berkat” zaman bapak leluhur memiliki hubungan dengan zaman Musa
yang dalam perkembangannya diteguhkan melalui pemberian hukum Taurat. Hubungan antara
“janji” dan “hukum Taurat” zaman Musa yang paling jelas muncul dalam formula pernyataan
Allah di Keluaran 20:2 (dan ± 125 kali sisanya di seluruh PL), yang berbunyi: “Akulah Tuhan,
Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Mirip
dengan formula dalam Kej 15:7 kepada Abraham. Demikian juga kenyataan dalam Kej 15:17
dengan Kel 19:18 tentang nyala api yang menyertai peristiwa perjanjian. Hubungan lainnya yang
melintasi zaman bapak leluhur dan zaman Musa, dalam ungkapan “Allah ayahku/ayahmu” (Kej
26:24; 28:13; 31:5, 42, 32:9 cf. Kel 3:6; 15:2; 18:4).58
Berdasarkan penelitian teks ternyata bahwa setiap perbuatan Allah dalam Keluaran langsung
berhubungan dengan “pernjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub (Kel 2:24; 3:13, 15-
16; 4:5; 6:3, 5, 8). Demikian juga janji tentang “tanah”, merupakan lanjutan dari sumpah kepada
bapak leluhur (Kel 6:4, 8; 13:5, 11; 32:13; 33:1; Bil 10:29; 11:12; 14:23; 32:11). Tetapi di dalam
perwujudan operasionalnya, pemberian “janji” melalui hukum Taurat di zaman Musa disertai
pula tuntutan dan kewajiban. Ini menjadi pembeda berkat antara bapak leluhur dengan berkat
zaman Musa. Jika dalam kitab Kejadian berkat itu menggambarkan anugerah Allah dalam
perjanjian dengan tuntutan atau syarat berupa perintah untuk taat dan iman saja, maka pada
zaman Musa disertai dengan kewajiban melakukan hukum Taurat. Dengan demikian hubungan
“berkat” zaman bapak leluhur dan zaman Musa dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Baik berkat pada masa leluhur maupun hukum Taurat diprakarsai oleh Allah yang sama.
b. Hukum Taurat bukanlah peraturan untuk memeroleh keselamatan, tetapi alat untuk
memelihara persekutuan dengan Tuhan, bukan dasar untuk membangun persekutuan itu.
c. Hukum Taurat merupakan hukum yang meminta suatu standar hidup kudus yang sama
dengan sifat Allah, dan bagi yang gagal menaatinya dibutuhkan pengampunan dosa dan
pendamaian melalui darah korban persembahan.
d. Konteks setiap tuntutan hukum Taurat merupakan nuansa anugerah,: “Akulah Tuhan
Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir,” sama seperti anugerah yang
diberikan kepada bapak leluhur.59

58
Diedit dari Kaiser, Jr., 84-85
59
Diedit dari Kaiser, Jr., 88-89
58
3. Berkat pada zaman Pra-Monarkhi dan pada Zaman Daud
Bagian utama yang menjalin tema berkat zaman pra-monarkhi muncul dalam kitab-kitab
Ulangan, Yosua, Hakim-hakim dan 1 Samuel yang dilihat dari aspek “perjanjian.” Berkat itu
disertai tuntutan agar “berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan” Allah, hidup
“mengikuti jalan Tuhan” dan melakukan “apa yang benar di mata Tuhan”, dan sebagainya.
Berkat itu berhubungan dengan keturunan, tanah, pemberian para hakim dan pendirian monarki.
Sedangkan puncak dari berkat itu terlihat dalam tema sentral janji kepada Daud di 2 Samuel
7. Secara garis besar berkat itu berhubungan dengan zaman sebelum, pada, dan menjangkau jauh
sesudah Daud, dengan beberapa pokok di antaranya:
7:9, “Aku membuat besar namamu” (Kej 12:2, dll).
7:10, “Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya (Kej 15:18; Ul 11:24-
25).
7:12 , “Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian(Kej 17:7-10, 19).
7:14, “Ia akan menjadi anak-Ku (Kel 4:22).
23-24, ”Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebas-
kannya menjadi umat-Nya,? Engkau telah mengokohkan bagi-Mu umat-Mu Israel menjadi
umat-Mu untuk selama-lamanya, dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka (Kej 17:7-8;
28:21; Kel 6:7; 29:45; Im 11:45; 22:33; 25:38; 26:12, 44, 45; Bil 15:41; Ul 4:20; 29:12-13, dll).60
4. Berkat pada Zaman Sastra Hikmat dan Janji pada Zaman Para Nab
Sastra hikmat adalah salah satu deretan kepustaakan PL yang isinya berupa peribahasa
pendek (Amsal), renungan-renungan mengenai kehidupan (Pengkhotbah), dan percakapan-
percakapan mengenai problem hidup (Ayub). Pokok pikirannya tercermin dalam kata Ibani
hokma (ָ‫חכָמה‬ ְ ), dari akar kata yang berarti teguh dan berpengalaman. 61 Sebuah kata benda
feminim yang berarti kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman, ketajaman pikiran.
Hikmat adalah salah satu perkataan kebijaksanaan dalam Amsal, Pengkhotbah, Ayub, dan
literatur hikmat lainnya yang tersebar di seluruh PL. Titik ketinggian dari kata dan konsep ini
terdapat pada di Ams 8:1, 11 - 12. Di Ams 8:22-31, kebijaksanaan itu dipersonifikasikan seperti
manusia. Ini adalah kebaikan Tuhan dan dengan demikian tidak bisa dipisahkan dengan tata
penciptaan (Ayb 28:12, 20, 21, 28; Ams 1:7; 8:13) [e-sword, 2008: wordstudy). Hikmat adalah
kompetensi untuk menjalani kehidupan yang sukses (Ams 1:5) tempatnya berada di dalam
“hati”, yang menjadi tempat pengambilan keputusan yang bermoral dan berakal (1Raj 3:9, 12).
Kata kunci untuk menikmati berkat pada zaman Sastra Hikmat, mengikuti Kaiser (2004:93-
96), adalah “takut akan Tuhan” yang berarti menjauhi kejahatan. Tema ini sudah terlihat dalam
kehidupan iman Abraham (Kej 22:12), Yusuf (Kej 42:18), Ayub (Ayb 1:1, 6-9; 2:3), dan para
bidan bagi orang Ibrani di Mesir (Kel 1:15-21).
Dalam kitab Amsal, “takut akan Tuhan” menjadi motto yang menghasilkan “hikmat” (cp.
Ams 1:7). Ketakutan yang sehat seperti itu memperpanjang umur, menghasilkan kelimpahan
hidup (Ams 10:27; 4:27; 19:23; 22:4). Bahkan, menghasilkan buah iman yang utama, yaitu

60
Kaiser, Jr., 89-90.
61
William Dyrness, Tema-tema Dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2001), 171.
59
kehidupan (Im 18:5). Sikap ini harus menjadi gaya hidup agar menikmati hidup (Ams 2:20-21;
5:7-9; 10:17; 13:14; 15:24). Itulah jalan yang menjadi pohon kehidupan (Ams 3:18; 11:30;
13:12; 15:4).
Takut akan Tuhan berarti “menjauhi kejahatan”, berpaling kepada Allah di dalam hidup
yang penuh iman dan harap. Hal yang demikianlah yang memampukan seseorang menikmati
berkat-berkat Allah selain berupa makan, minum dan memperoleh nafkah. Takut akan Tuhan
juga terkait dengan perolehan hikmat (Ams 1:7, 29; 2:5; 3:18; 15:33). Karena hikmat adalah sifat
Allah, maka Dia-lah yang membagikannya hikmat kepada siapa saja yang memiliki hubungan
khusus dengan Dia.
Tema takut akan Tuhan juga memberikan begitu banyak konsep yang digunakan oleh
sebagian para nabi. Banyak teknik, citra atau pola para nabi sudah umum bagi orang-orang bijak.
Misalnya model X + 1 dari Amos (“karena tiga… bahkan empat” [Am 1:3, 6, 9, 11, 13, dll]),
pertanyaan retorik yang berpusat pada alam (Am 6:12), penggunaan kiasan tentang anggur (Yes
5), perumpamaan tentang petani (Yes 28:23-29); penggunaan ungkapan “menerima hajaran”
(musar) dsb di Yer 2:30; 5:3; 7:28; 17:23; 32:33; 35:13; Yeh 18:1). Tetapi puncak doktrin
tentang hikmat dan janji yang berkaitan langsung adalah nubuat tentang roh rangkap 7 pada
imanuel dalam Yes 11:1-2 yang berhubungan langsung dengan Daud.62

D. Ibadah

Fakta absolut universal menunjukkan bahwa ibadah memegang peranan sentral dalam
semua agama di dunia. Tanpa ibadah, agama akan kehilangan hakikatnya. Melalui ibadah orang
mengadakan hubungan vertikal dengan yang ilahi dan mewujudkan nilai-nilai rohaninya dalam
kehidupan bersama (horizontal). Ibadah menjadi ciri hidup dari relasi yang benar manusia
terhadap Allah. Ibadah selalu berfokus tunggal, yaitu jawaban manusia terhadap panggilan
Allah, terhadap tindakan-tindakan-Nya yang penuh kuasa yang berpuncak pada tindakan
pendamaian dalam Kristus. Ibadah adalah kegiatan puji-pujian dalam penyembahan yang
mensyukuri kasih Allah yang merangkul manusia dan kebaikan kasih-Nya yang menebus.
Ibadah adalah suatu ‘bakti‟ kepada Sang Pencipta dan persembahan hidup secara keseluruhan
kepada Allah. Banyak hal yang bisa dicontohi dari kehidupan orang-orang percaya dalam zaman
PL, khususnya dalam cara mereka beribadah.
Kosa kata ibadah dalam Alkitab sangat luas, tetapi konsep asasinya baik dalam PL
maupun PB ialah ‘pelayanan’. Kata Ibrani ‘avoda’ dan Yunani ‘latreia’ pada mulanya
menyatakan pekerjaan budak atau hamba upahan. Dan dalam rangka mempersembahkan ‘ibadat’
ini kepada Allah, maka para hamba-Nya harus meniarap, kata Ibrani hisytakhawa, atau Yunani
proskuneo, dan dengan demikian mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan
ketakjuban penuh puja. 63

62
Kaiser, Jr., 94-95.
63
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini A – L, 2003, hlm 409
60
1. Arti Ibadah
Kata ibadah sebenarnya berasal dari kosa kata “äbodah” (hd"wOb[|) atau ibadah (bahasa
Arab) yang secara harafiah berarti bakti, hormat, penghormatan, suatu “sikap dan aktivitas“ yang
mengakui dan menghargai seseorang (atau yang ilahi). Atau dapat juga dikatakan suatu
penghormatan hidup yang mencakup kesalehan (yang diatur dalam suatu tata cara), yang
implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Jadi ibadah di sini
merupakan ekspresi dan sikap hidup yang penuh bakti (penyerahan diri) kepada Yang ilahi, yang
pengaruhnya nampak dalam tingkah laku yang benar (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini I,
2003:409)
Istilah Ibadah di PL pertama sekali dipakai di Keluaran 3:12, menggunakn kosa kata
ta’abdun, dari kata abad (‫)אבד‬. Selanjutnya, di Ulangan 4:19, dan di tempat lain, muncul kata
ibadah (dalam terjemahan Indonesia) yang memakai kata shakha (hxv<<). Kata abodah atau
abdi atau ta’abdun dalam Septuaginta (LXX) sinonim dengan kata λατρευσετε, dari akar kata
latreuo (λατρεύω). Kata Ibrani shakha (H7812) dalam Septuaginta sinonim dengan kata
proskyneses (προσκυνησης), dari kata dasar proskuneo (G4352) yang berarti menyembah atau
mencium tangan kepada.64
Jika kedua kata tersebu dipadukan, maka dapat dikatakan bahwa ibadah adalah sikap
melayani, mendengar, melaksanakan, memalihara, memuja, menundukkan diri, menyembah
seseorang atau sesuatu yang lebih tinggi, dalam hal ini berarti pemujaan. Ibadah berarti suatu
respon hormat, tunduk dan taat, menghormati, khususnya kepada Tuhan atas apa yang tela Ia
lakukan.

2. Pola-pola Ibadah
Dalam PL ada beberapa contoh ibadah pribadi (Kej. 4:4; 24:26; kel. 33:9-34:8). Tetapi
tekanannya adalah pada ibadah dalam jemaat (Mzm 42:4; I Taw 29:20). Terlepas dari korba-
korban harian setiap pagi atau sore, perayaan Paskah dan Hari Pendamaian merupakan hal
penting dalam kalender tahunan Yahudi. Upacara agamawi berupa pencurahan darah,
pembakaran kemenyan, penyampaian berkat imamat dan lain lain, cenderung menekankan segi
upacaranya sehingga mengurangi segi rohaniah, bahkan sering memperlihatkan pertentangan
antara kedua sikap itu (Mzm 40:6; 50:7-15; Mi. 6:6-8). Tetapi banyak ibadah di Israel yang
merupakan ibadah umum, misalnya di Mzm 93; 95-100 dan doa–doa bersama, misalnya Mzm
60; 79; 80, dan memanfaatkanya untuk mengungkapkan kasih dan syukur mereka kepada Allah
(Ul 11:13) dalam tindakan ibadah rohani batiniah yang sungguh-sungguh.65
Harus dipahami bahwa Allah adalah Allah yang transenden dan imanen. Allah yang tidak
sama dan terpisah dari ciptaanNya, juga merupakan Allah yang berkomunikasi dengan umat
manusia, menerima penyembahan dari umat-Nya. Pada waktu Allah memilih suatu bangsa bagi
diri-Nya, Allah juga memberikan cara bagaimana bangsa itu dapat bertemu dengan Tuhan. Dia
memberikan ibadah tabernakel di mana Israel dapat menghadap Allah yang Mahakudus. Di
64
Studi kata melalui E-Sword Biblesoftwear.
65
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 2003, 409
61
tempat ini Tuhan akan bertemu dengan Israel (Kel. 25:22; 29:42). Kemudian, pelaksanaan
ibadah itu berkembang menjadi ibadah umat.
Musa adalah tokoh yang dianggap sebagai peletak dasar dari ibadah umat yang diorganisir,
dan yang menjadikan Tuhan sebagai alamat ibadah satu-satunya. Ibadah umat diorganisir di
dalam Kemah Pertemuan, dan upacaranya dipandang sebagai pelayanan suci d umat untuk
memuji Tuhan.
Pada perkembangan selanjutnya, setelah Kemah Pertemuan, lahirlah Bait Suci sebagai
tempat ibadah bagi Israel. Ketika Bait Suci dihancurkan oleh Babel, maka terbentuklah
kebaktian Sinagoge, karena pelaksanaan ibadah tetap dirasakan sebagai kebutuhan penting.
Di samping tempat ibadah, orang Yahudi juga memiliki kalender tahunan untuk upacara
agamawi. Di antaranya yang amat penting adalah: Hari Raya Paskah (Kel 12:23-27), Hari Raya
Perdamaian (Im 16:29 - 34), Hari Raya Pentakosta, Hari Raya Pondok Daud, dan Hari Raya Roti
Tidak Beragi (Kel.12:14-20). Pemimpin ibadah di Bait Suci dan Sinagoge adalah para Imam.
Mereka adalah keturunan Lewi yang telah dikhususkan untuk tugas pelayanan ibadah. Para
imam memimpin ibadah umat pada setiap hari Sabat dan pada Hari Raya agama lainnya. Ibadah
di Sinagoge terdiri dari: Shema, doa, pembacaan Kitab Suci dan penjelasannya. (Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini, 409)
Ibadah juga berkaitan dengan kewajiban-kewajiban agama, yakni perintah-perintah Tuhan
(bd. Ul.11:8-11). Jadi, pada hakikatnya ibadah bukanlah hanya merupakan pelaksanaan upacara
keagamaan di tempat-tempat ibadah, akan tetapi mencakup pelaksanaan kewajiban agama,
seperti sunat, puasa, pemeliharaan Sabat, Taurat dan doa. Dengan demikian, ibadah juga harus
mengandung makna bagi hidup susila.
Ibadah umum yang dilaksanakan dalam kemah pertemuan dan Bait Suci, berbeda sekali dari
ibadah pada zaman yang lebih awal ketika para Bapak leluhur percaya, bahwa Tuhan dapat
disembah di tempat mana pun Dia dipilih untuk menyatakan diri-Nya. Tapi bahwa ibadat umum
di bait Suci merupakan realitas rohani, jelas dari fakta bahwa ketika tempat suci itu dibinasakan,
dan masyarakat Yahudi terbuang di Babel, ibadat tetap merupakan kebutuhan dan untuk
memenuhi kebutuhan itu ’diciptakanlah’ kebaktian sinagoge, yang terdiri dari: (1) shema’, (2)
doa-doa, (3) pembacaan Kitab Suci dan (4) penjelasan. (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 2003,
409)

3. Pelaksanaan Ibadah
Ekspresi ibadah privat dalam PL dapat ditemukan dalam kisah Nuh. Ketika Nuh keluar
dari bahtera setelah air bah, tindakan pertamanya adalah membangun mezbah dan beribadah
kepada Tuhan (Kej. 8:20). Ini merupakan catatan pertama di PL tentang ibadah kepada Tuhan
melalui korban penumpahan darah di atas mezbah. Abrahan dapat dikatakan salah seorang tokoh
peletak ibadah pribadi yang mendirikan mezbah sebagai responsnya kepada janji-janji Tuhan,
misalnya di Kej 8:20 (2); 12:7-8 (2); 13:4; 13:18; 22:9 (2), Persembahan korban bakaran
kemudian dinyatakan sebagai korban persembahan (Im. 1:1-7). Selanjutnya dalam kisah
keluarnya bangsa Israel dari Mesir, ibadah mejadi dasar dan sebagai cetakbiru untuk semua

62
bentuk ibadah masa depan. Peristiwa keluaran telah memberikan kepada Israel beberapa jalan
untuk beribadah kepada Allah. Ekspresi utama termasuk mempersembahkan korban binatang
pada Paskah (Kel.12:1-28), mempersembahkan semua yang sulung atau pertama lahir kepada
Tuhan menjadi milik Tuhan (Kel.13:1-2), dan menyanyikan puji-pujian dengan sorak sorai dan
penuh kemenangan yang dipimpin oleh Musa dan Miriam (Kel.15:1-21).
Di Gunung Sinai Allah menentukan tiga hari raya yang harus diadakan dalam rangka
mempersembahkan ibadah kepada Allah setiap tahun. Pertama, hari raya roti tidak beragi, kedua,
hari raya menuai dan ketiga, hari raya pengumpuan hasil (Kel.23:14-19). Perintah ini telah
tertanam di dalam kesadaran umat Tuan bahwa ibadah melibatkan pengertian waktu yang kudus.
Ada lima elemen dalam ibadah, yaitu:
a. Pertemuan dengan Allah. Ibadah adalah pangilan Allah kepada umat-Nya untuk
bertemu dengan-Nya.
b. Umat Tuhan diatur dalam satu tanggung jawab terstruktur. Artinya ada yang
bertanggung jawab. Musa adalah pemimpin. Tetapi untuk mengatur ibadah dan lain-
lainnya adalah tugas Harun, Nadab, Abihu. Tujuh puluh tua-tua Israel, pemuda dan
umat. Dengan kata lain, elemen kedua adalah soal partisipasi dalam ibadah.
c. Pertemuan antara Allah dan Umat bersifat proklamasi Firman. Allah berbicara kepada
umat-Nya dan memperkenalkan diri-Nya kepada mereka. Hal ini berarti ibadah
belumlah lengkap tanpa mendengar Firman Tuhan.
d. Umat setuju dan menerima perjanjian dengan syarat-syaratnya yang memberi makna
kepada komitmen umat untuk mendengar dan taat kepada Firman Allah. Dengan kata
lain, aspek penting dalam ibadah adalah pembaruan komitmen pribadi secara terus-
menerus. .
e. Puncak hari pertemuan itu ditandai dengan simbol pengesahan, suatu materai perjanjian.
Dalam PL Allah selalu menggunakan darah korban sebagai materai hubungan-Nya
dengan manusia, yang merujuk kepada korban Yesus Kristus di PB.
Dengan demikian Allah adalah pusat ibadah PL. Umat Tuhan beribadah sebagai respons
dalam ucapan syukur kepada karya Allah di dalam hidup manusia. Ibadah bukan hanya pergi ke
pusat ibadah, melaksanakan upacara-upacara keagamaan, melainkan berkaitan dengan
kewajiban-kewajiban agama, yaitu perintah-perintah Tuhan (Ul 11:8-11).

E. Kesalehan

Kesalehan merupakan tanggapan hati terhadap penyataan diri Allah. Pada saat Allah yang abadi
menyatakan diri-Nya yang kudus dan penuh kasih, pastilah ada tanggapan. Tanggapan seorang beriman
kepada Allah bukanlah sekadar pengakuan atau persetujuan semata. Seperti kasus Abraham, berarti juga
harus meninggalkan, mengikuti dan, yang terpenting, hidup di hadapan Allah tanpa cacat cela. Ada
beberapa unsur dalam kehidupan yang saleh di PL.. Uraian ini diedit dari Dyrness, 2001, 141-150.

1. Takut Akan Allah

63
Rudolf Otto menamakan kesadaran akan kehadiran yang kudus ini unsur dasar bagi semua
agama (The ldea of the Holy, 1923). Namun ketakutan pertama ini bukanlah yang dimaksudkan
PL ketika memakai istilah “takut akan Tuhan seakan-akan berhadapan dengan sesuatu yang tak
dikenal atau tidak dapat dipahami (sumber ketakutan dari agama-agama kafir), tetapi mereka
harus hidup sambil menyadari sepenuhnya siapa Allah itu sebenarnya.
Ketakutan orang lbrani akan Tuhan adalah unik. Dalam agama-agama kafir orang selalu
takut kepada roh-roh yang harus mereka berusaha tenangkan. Maka, sebagainmana dikatakan
Gilbert Murray mengenai orang Yunani, “mereka selalu takut". Sebenarnya lebih tepat untuk
mengatakan bahwa ketakutan Israel akan Tuhan adalah kesadaran yang penuh kekaguman bahwa
Allah yang kudus telah berkenan menoleh kepada mereka serta memilih mereka menjadi umat-
Nya. Oleh karena itulah mereka harus hidup dalam rasa takut, namun ketakutan yang menuntun
kepada keyakinan dan kepercayaan, dan bukan kepada ketidakpastian yang mematahkan
semangat. Ketakutan bukanlah terutama suatu perasaan, melainkan suatu cara hidup yang
berlandaskan suatu pertimbangan yang sungguh-sungguh akan kehadiran serta perhatian Allah.
Sikap semacam itu memang meliputi perasaan juga, namun tidak merupakan kekuatan yang
menghancurkan, tetapi ketakutan yang menuntun kepada hidup dan rasa puas (Ams 19:23).
Yeremia mengatakan bahwa pada saat perjanjian kekal telah dibuat, ketakutan akan Tuhan akan
berada dalam hati manusia, sehingga mereka tidak akan berbalik lagi dari Tuhan (Yer 32:40).
(Dyrness, 2001:141-142)

2. Iman kepada Tuhan66


Kejadian 15:6 mengatakan bahwa Abraham percaya sehingga Tuhan memperhitungkan hal
itu kepadanya sebagai kebenaran. Di seluruh PL hanya Tuhan sendiri yang diakui sebagai oknum
yang tepat untuk dipercayai, "Siapa yang percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal"
(Ams 28:26). Dalam PL percaya pertama-tama menyiratkan pengetahuan dan pemahaman
tentang Tuhan. Pengetahuan ini bukan sekadar pengetahuan teoretis, tetapi selalu merupakan
pengetahuan praktis berdasarkan pengalaman. Pemazmur mengimbau umat untuk diam serta
mengetahui siapa Allah itu, karena dikatakan bahwa Dialah yang menghentikan peperangan
(Mzm 46:10-11).
Kedua, kesadaran akan siapa Allah itu, akan menuntun seseorang untuk secara suka rela
menyerahkan diri sepenuhnya untuk dipimpin Tuhan. Sebagaimana halnya ketakutan, maka
iman suatu sikap yang mempengaruhi seluruh hidup seseorang. Kenyataan ini secara indah sekali
diungkapkan dalanm Mazmur 37:3-5, Percayalah kepada Tuhan… bergembira karena Tuhan…
Serahkanlah hidupmu.” Penyerahan seperti itu akhirnya akan membuat seseorang memercayai
janji-janji Tuhan. Inilah sebabnya PL begitu sering herbicara mengenai "jalan kehidupan". Mzm
26:1 mengatakan hahwa pemazmur tidak takut dihakimi oleh Tuhan karena ia telah hidup
dengan tulus di hadapan-Nya. Kemudian pemazmur hanya menambahahkan, “Kepada Tuhan
aku percaya dengan tidak ragu-ragu.” Pemazmur tidak percaya pada ketulusan dirinya sendiri,
tetapi bahwa ketulusannya itu dipersembahkan sebagai bukti kepercayaannya kepada Tuhan.

66
Bagian ini dikutip dan edit dari Dyrness, 2001:142-143
64
Dalam gagasan tentang iman ini tersirat pertobatan, atau seperti diungkapkan secara
sederhana dalam PL, hal berbalik. Sekalipun gagasan tentang pertobatan ini tidak dikembangkan
sepenuhnya sebagaimana dalam PB, gagasan tersebut sudah ada sepanjang PL. Berbalik dari
jalan kita sendiri lalu mengikut Tuhan dan hukum-hukum-Nya secara tak langsung menyatakan
bahwa cara hidup yang lalu itu tidak benar. Kita juga tidak mempunyai gambaran tentang
tindakan berbalik kepada Tuhan yang dilakukan satu kali untuk selama-lamanya. Lebih tepat
kalau dikatakan bahwa seseorang mengakui kegagalannya kepada Allah setiap kali ia berbuat
dosa, yakni kapan saja ia menemukan bahwa ia telah berbalik ke jurusan yang salah (Im 5:5; Ul
30:2; Yeh 18:30).
3. Mengasihi Allah
Ayat yang terbaik yang menjelaskan keseluruhan tugas manusia kepada Allah terdapat
dalam Ulangan 6:5, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Kita dapat mengerti sekarang bahwa cara berbicara
seperti ini dalam bahasa Ibrani menunjuk kepada kasih yang timbul dari manusia seutuhnya.
Kasih merupakan suatu ikatan batin yang melibatkan seluruh kepribadian dengan segala tingkah
lakunya. Secara umum dapat dikatakan bahwa kasih mendorong seseorang untuk melakukan
berbagai perbuatan yang memuaskan keinginan-keinginan yang telah timbul sebelumnya (Amsal
20:13). Namun, keinginan yang paling mendalam dari hati umat manusia ialah keinginan akan
Allah sendiri (Mzm 42:2). Dengan demikian, kasih kepada Allah merupakan suatu kekuatan
batin yang berpaut kepada Allah secara pribadi sehingga dengan sendirinya menghasilkan
kehidupan yang setia dan penuh penyerahan. Mungkin gambaran paling agung dari hubungan
semacam ini terdapat dalam kehidupan Nabi Hosea, yaitu hubungan kasih antara suami dan istri.
Menurut Eichrodt, di situ hubungan dasarnya terwujud dalam perasaan saling memiliki dan
saling berhubungan, kasih seorang suami atau istri senantiasa merupakan tanggapan terhadap
kasih yang mula-mula dinyatakan Allah.
Tanggapan yang penuh kasih ini merupakan satu-satunya hubungan yang memadai terhadap
kesetiaan Allah kepada manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam Ulangan 7:9, Tuhan senantiasa
memelihara perjanjian-Nya dengan orang yang mengasihi Dia. Musa menenmpatkan kasih
kepada Allah sejajar dengan melayani Dia dan mengikuti segala jalan-Nya (Ul 11:13, 22). Kasih
bukanlah sebuah perasaan terhadap Allah, sekalipun perasaan tidak dapat dikatakan tidak ada
samasekali, tetapi kasih kepada Allah merupakan penyerahan batiniah yang terungkap dalam
ketaatan lahiriah. Dengan taat kepada hukum-hukum Tuhan seseorang menunjukkan bahwa la
mengasihi Tuhan (Ul 13:3, 4; lihat juga Yoh 14:15). Perintah-perintah Tuhan menjadi begitu
penting sebagai sarana pengungkapan kasih kepada Allah sehingga pemazmur dapat menyatakan
kasihnya kepada hukum Taurat sebagai melebihi emas (Mzm 119:127). (Dyrness, 2001:143-144)

4. Ungkapan yang Khas dari Kesalehan

a. Memuji Allah

65
Kepercayaan dan keyakinan yang dimiliki oleh seorang Ibrani terhadap Tuhan membawa
kepada perasaan sukacita yang sangat mendalam, sehingga seakan-akan meliputi seluruh
penyembahan dalam PL. Sukacita ini dengan sendirinya membuat seorang Ibrani memuji Tuhah
dengan sangat bersemangat. Gagasan memuji (dalam bahasa Ibrani, hillel atau yadäh) berkaitan
dengan hal mengeluarkan suara atau membuat gerak-isyarat tertentu, atau dengan bermain dan
bernyanyi. Dari catatan-catatan dalam mazmur-mazmur nampaknya bahwa aspek memuji
semacam ini hampir selalu nampak dalam penyembahan. Namun dalam pemakaiannya hal
memuji kemudian dikaitkan dengan menceritakan kembali dengan sukacita perbuatan anugerah
Allah sebagai ungkapan rasa syukur si penyembah. Contoh-contoh awal dari hal ini terdapat
dalam Keluaran 15, dan Ul 26:5-9, di mana pengakuan iman dan pujian dipanjatkan secara
serentak.
Kesadaran dan kenangan akan kebaikan Tuhan memberikan kegembiraan yang khas pada
penyembahan Ibrani (bd. Mzm 92-100 dan 103-118). Bagi orang percaya zaman PL kenyataan
kehadiran Tuhan itu nampak di mana-mana dan segera dapat dilihat. Mereka berhadapan dengan
kenyataan ini pada setiap saat dalam kehidupan mereka. Tidak mau mengakui Tuhan adalah
tindakan yang bodoh (Mzm 14:1), demikianlah PL menerangkan keadaan hati orang jahat.
Namun kehadiran Tuhan senantiasa bersifat pribadi. Mazmur-mazmur berisi banyak ucapan
seperti, "marilah kita memuji Allah kita," atau "aku hendak menyanyikan kasih-setia TUHAN,"
atau *"TUHAN adalah gembalaku.'' Akan tetapi perasaan bersyukur yang paling pribadi
sekalipun mendambakan ungkapan yang dinaikkan bersama-sama seluruh jemaat.
Pujian itu sering kali begitu menggembirakan sehingga penyembahan itu dapat digambarkan
sebagai ramai sekali. Dalam ibadat ada tari-tarian (Mzm 150:4), pemakaian berbagai jenis alat
musik Mzm 108:3), bernyanyi terus-menerus (Mzm 33:3) dan bahkan sorak-sorai yang meriah
(Mzm 27:6). Tidak ada yang kering atau membosankan dalam penyembahan Perjanjian Lama!
Bagi orang-orang lbrani PL menemukan tujuan hidupnya dalam memuji-muji Tuhan. Von Rad
mengatakan, "Memuji dan tidak memuji Tuhan berhadapan satu sama lain seperti hidup dan mati
(von Rad I, 370). Ibadat yang “mati” di gereja kontemporer telah menyimpang jauh dari
kehendak Tuhan.

b. Doa
Bersumber pada hubungan, pribadi yang sangat mendalam antara Tuhan dengan umat-Nya
adalah kesadaran bahwa kita dapat menghampiri Tuhan. Walaupun bentuk-bentuk doa khusus
(seperti yang dikenal dengan nama doa-doa di Bait Suci dalam Mzm 24:7-10) berkembang
kemudian, isi utama dari doa PL adalah ungkapan kepercayaan yang spontan yang timbul akibat
suatu pengalaman pribadi. Hamba yang diutus oleh Abraham (Kej 24:42-44) tahu bahwa tidak
perlu berdoa hanya di tempat-tempat suci, bahwa Tuhan dapat dihampiri kapan saja diperlukan.
Doa PL menunjukkan tingkat keakraban yang cukup tinggi (Kej 15:2-3; 24:12-14, 26). Sejak
sangat awal, doa berkaitan erat sekali dengan persembahan korban, yang dikenal dengan istilah
"mencari Tuhan'". Salah satu sikap dasar doa adalah kepatuhan kepada kehendak Tuhan, ini

66
merupakan ciri utama pelaksanaan persembahan korban yang benar. Doa sebagai ungkapan
wajar dari kepercayaan dapat dipanjatkan pada setiap waktu atau tempat dalam hidup.
Bagi seorang Ibrani tidak ada kegaiban atau mantra tertentu yang berhubungan dengan nama
Tuhan. Keluaran 20:7 melarang disebutnya nama Tuhan dengan sembarangan, maksudnya tanpa
dipikir terlebih dulu. Hal ini, bersama dengan sifat spontan dari doa, menunjukkan betapa
jauhnya pemahaman doa PL dari paham mantra-mantra kafir. Eichrodt mencatat unsur-unsur
yang lazim terdapat dalam pemahaman kafir tentang doa, namun asing bagi orang Ibrani: (1) di
Israel tidak ada pemakaian nama Tuhan sebagai istilan gaib; (2) tidak ada pengulangan istilah-
istilah yang dianggap bertuah, (3) tidak ada bisikan atau cara mengucapkan kata-kata bertuah
dengan cara tertentu (Eichrodt I, 174). Doa dalam PL cenderung merombak batas-batas berbagai
bentuk dan cara yang tetap. Sebagaimana halnya nama Tuhan tidak dirahasiakan namun
diberikan kepada semua, demikian pula seluruh umat Allah bebas untuk berseru kepada nama-
Nya setiap waktu.
Yang juga tidak ada dalam doa PL ialah perasaan kehilangan diri secara gaib di dalam
Tuhan dan memisahkan diri dari dunia ketika sedang berdoa. Dapat dikatan bahwa doa dalam PL
bukanlah sarana retret, melainkan sarana kerjama yang giat dalam pekerjaan Tuhan (lihat Jacob,
176). Hal ini menjadi lebih penting lagi ketika mengingat bahwa seorang Ibrani melihat
hubungan Tuhan dengan dunia sebagai hubungan yang sangat dekat. Tuhan tidak pernah
memanggil umat manusia untuk keluar dari dunia, tetapi justru untuk masuk ke dalamnya,
karena di dalam dunia itulah Allah menunjukkan dirinya sebagai Tuhan dan Penebus.
Segenap ruang lingkup kehidupan beragama terungkap dalam doa di PL. Doa
mengungkapkan kasih dan pujian umat Tuhan. Doa merupakan juga sarana untuk menyatakan
kasih kepada sesama. Salah satu cara berdoa yang diutamakan dalam PL ialah doa syafaat.
Contoh doa syafaat semacam itu dipanjatkan oleh Musa (Kel 32:32), Harun (Bil 6:22-27),
Samuel (1Sam 7:5-13), Salomo (1Raj 8:22-53), dan Hizkia (2Raj 19:1419). Bahwa masing-
masing orang yang memanjatkan doa syafaat ini adalah tokoh yang penting menggagaskan
bahwa tokoh-tokoh tersebut dapat melayani sebagai perantara antara Allah dengan manusia.
Sekalipun hal ini tidak berarti bahwa doa pribadi umat tidak diperlukan lagi, namun doa syafaat
ini menggambarkan sebuah pokok yang menjadi sangat penting dalam pelayanan Kristus. Umat
yang berdosa memerlukan seorang tokoh yang mau membela perkara mereka di hadapan Allah,
sekalipun dalam PL sudah disadari bahwa dosa memerlukan lebih daripada sekadar syafaat
beberapa orang (Yehezkiel 14:12-20). Sedikit banyak, semua orang yang percaya kepada Tuhan
saling memerlukan doa syafaat masing-masing. Oleh karena itu kesadaran akan dosa dan
kelemahan senantiasa merupakan konteks doa. Ucapan-ucapan kesusahan serta pengakuan dosa
sering kali mengawali doa-doa di Perjanjian Lama.
Sekalipun doa merupakan penyataan hubungan pribadi antara Allah dengan umat-Nya, telah
kita lihat tadi bahwa doa berkembang sepenuhnya dalam ibadat bersama umat itu di bait suci.
Mazmur-mazmur Ziarah (Mzm 120-134) menunjukkan sukacita yang dirasakan oleh para
penyembah karena mempunyai kesempatan untuk bersama-sama pergi ke rumah ibadah (Mzm
137:5-6). Dalam PL, doa pribadi dan doa umum senantiasa saling melengkapi. Sebagaimana

67
dikatakan oleh Eichrodt, "Tidak perlu kesalehan yang mundi dan hidupan hidup untuk
menyendiri dalam doa, namun pemujaan dan kesadaran religius yang hidup itulah yang memberi
kuasa kepada ibadat bahkan ibadat umum sekalipun'" (Eichrodt I, 175). Bahwa orang lbrani
sudah biasa berdoa bersama-sama tidak alanggap sebagai keterbatasan oleh mereka, sekalipun
mereka juga tahu bahwa doa tidak hanya dipanjatkan di bait suci, tetapi di mana-mana pun
boleh.

c. Memuliakan Tuhan
Gagasan alkitabiah tentang kemuliaan menyangkut bobot dan kelayakan. Memuliakan
Tuhan dalam pengertian alkitabiah dapat diungkapkan sebagai membiarkan kelayakan dan
hakikat Tuhan sendiri menjadi nyata. Konteks gagasan ini dalam PL ialah kepercayaan bahwa
seluruh bumi merupakan tempat ditunjuknya kemuliaan Tuhan. Bukan saja langit yang
menceritakan kemuliaan Allah (Mzm 19:2), tetapi seluruh bumi juga penuh dengan kemuliaan
Tuhan (Yes 6:3). Sudah sering kita lihat bagaimana orang Ibrani secara langsung memahami
hubungan antara Tuhan dengan dunia. Vriezen mencatat kesejajaran antara pandangan PL
tentang dunia dengan pandangan Gereja Ortodoks Timur yang menekankan bahwa kenyataan
Roh Allah memasuki segala sesuatu (Vriezen, 282n). Namun, di dalam PL tidak ada reaksi
mistik terhadap dunia yang umum terdapat dalam kekristenan Timur. Tetapi di dalam kedua
pandangan ini terdapat kesadaran bahwa Allah dapat menyatakan diri-Nya di dalam dunia,
bahkan la dapat "mengetahui (menyelami) semua rancangan dunia (Mazmur 94:8-11). Hubungan
ini terungkap dengan paling jelas dalam peristiwa Penjelmaan.
Sekalipun demikian, akibat dosa manusia tidak dapat melihat kemuliaan Allah di dunia ini,
dan ketika Allah menyatakan diri-Nya, maka penyataan itu datang dalam bentuk penghakiman.
Bibir Yesaya perlu disucikan ketika ia menyaksikan kekudusan dan kemuliaan Tuhan (Yes 6:6-
7; bandingkan dengan Keluaran 33:20). Namun, sesudah penghakiman (setelah korban yang
ditentukan dipersembahkan) maka orang percaya dapat memandang keindahan Tuhan. Bagi
orang Ibrani keindahan terutama merupakan pengalaman penyembahan dan senantiasa
berhubungan dengan kehadiran Tuhan (Mzm 50:2). Namun keindahan ini bukanlah sesuatu
untuk dipandang dan dinikmati saja. Merupakan ciri khas dari penyataan Tuhan bahwa bila
kemuliaan-Nya itu nampak maka itu juga disampaikan. Para penyembah Ibrani menjadi serupa
dengan apa yang mereka saksikan. Mereka harus mencerminkan apa yang mereka sembah.
Sebagaimana telah kita lihat tadi, puji-pujian merupakan sarana bagi orang percaya untuk
mengingat kembali di tengah-tengah jemaat apa yang telah dilakukan Tuhan baginya. Pujian
dalam arti ini mencerminkan kemuliaan dan kelayakan Tuhan. Jadi, dengan mengungkapnya
seorang penyembah menyebarluaskan kemuliaan Allah. Sebagaimana dikatakan oleh C.S. Lewis,
"Pujian bukan sekadar mengungkapkan tetapi Juga melengkapi kenikmatannya; pujian
merupakan perwujudan yang ditetapkan… Menikmati sepenuhnya berarti memuliakan. Ketika
memerintahkan kita untuk memuliakan Dia, Tuhan mengajak kita untuk menikmati Dia
(Reflections on the Psalms, 1958, 95, 97).

68
Bahan ini disarikan dari William Dyrness (2001). Tema-tema Dalam Teologi Perjanjian
Lama. Malang, Gandum Mas, halaman 141-150.

69