Anda di halaman 1dari 5

Media Litbang Sulteng III (1) : 01 – 05, Mei 2010 ISSN : 1979 - 5971

KONSEP PENANGANAN ALUR DI BELOKAN DALAM RANGKA


PENGELOLAAN SUNGAI DI SULAWESI TENGAH
Oleh :
M. Galib Ishak

ABSTRAK

Provinsi Sulawesi Tengah memiliki 6 buah Satuan Wilayah Sungai (SWS) diantaranya SWS Buol-Lambunu, SWS
Parigi-Poso, SWS Bongka-Malik, SWS Lombok-Mentawa, SWS Laa-Tambalako dan SWS Palu-Lariang, dan terdiri dari
sekitar 157 buah sungai dan tidak termasuk sungai-sungai kecil yang berfungsi sebagai anak-anak sungai. Terdapat beberapa
sungai besar dengan debit relatif konstan sepanjang tahun seperti Sungai Poso (Luas DAS  1101.87 km2 dan panjang sungai
 68.70 km ), Sungai Bongka (Luas DAS  3085 km2 dan panjang sungai  122 km), Sungai Laa (Luas DAS  2875.60 km2
dan panjang sungai  96.30 km), Sungai Tambalako (Luas DAS  1045.60 km2 dan panjang sungai  83.70 km), Sungai
Gumbasa (Luas DAS  1276.65 km2 dan panjang sungai  61.50 km) dan Sungai Palu (Luas DAS  3043 km2 dan panjang
sungai  90 km). Secara umum, konfigurasi memanjang sungai-sungai tersebut memiliki profil berbelok-belok (bermeander)
akibat proses morfodinamik sungai yang terjadi secara terus menerus, yang ditandai dengan belokan-belokan ringan dengan
sudut belokan besar sampai belokan-belokan berat dengan sudut belokan kecil. Pada dasarnya belokan sungai memiliki arti
penting terhadap fenomena hidraulis aliran di sungai. Konsep eko-hidraulik memandang belokan sungai sebagai wahana
retensi untuk mereduksi akumulasi aliran banjir di hilir. Namun sebaliknya belokan sungai juga justru menjadi faktor penyebab
terjadinya luapan banjir dan terjadinya gerusan lokal di sisi luar belokan. Kedua potensi tersebut harus dikelola secara bijak
sehingga permasalahan yang timbul bisa direduksi dan manfaat/potensi yang dimilki dapat dioptimalkan. Oleh karena itu perlu
dikemukakan konsep-konsep pengelolaan dan penanganan sehingga belokan sungai memiliki potensi yang baik dalam
pengelolaan sungai dan pengendalian banjir.

Kata kunci : Belokan sungai, masalah dan pengelolaan

I. PENDAHULUAN dengan kemiringan dasar yang relatif


sangat rendah. Luapan banjir terjadi pada
Pada umumnya Sungai-sungai di debit-debit besar dimana kapasitas
Sulawesi Tengah memiliki karakteristik penampang sungai terlampaui, sehingga
morfologi yang berbelok-belok selalu berdampak terhadap warga pemukim
(meandering) hampir di sepanjang ruas di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) yang
sungai khususnya pada bagian hilir. Sudut bersangkutan. Pada sisi yang lain, pengaruh
bagian dalam belokan bervariasi mulai dari pasang-surut terhadap banjir dihilir cukup
belokan (bagian dalam) ringan bersudut signifikan. Pengaruhnya adalah
sekitar 1700 sampai belokan berat bersudut dimungkinkan terjadinya fenomena aliran
sekitar 350. Dari beberapa kasus banjir yang balik (back water) atau fenomena
terjadi belakangan ini, luapan dan genangan pembendungan baik pada debit rendah
justru sering terjadi di belokan sungai, yang maupun pada debit tinggi. Dengan demikian
disertai dengan proses penggerusan pada sisi elevasi muka air banjir akan meningkat dan
luar belokan. pada akhirnya dapat menimbulkan
Beberapa contoh kejadian banjir yang pendangkalan bahkan penutupan alur pada
dimulai dengan proses penggerusan di bagin hilir (muara).
belokan sungai di Sulawesi Tengah Umumnya telah dilakukan tindakan
diantaranya Sungai Palu (2005 dan 2007), penanganan terkait dengan upaya mitigasi
Sungai Sausu (2007), Sungai Tambarana banjir oleh pemerintah dan warga
(2006), Sungai Dongin (2006), Sungai masyrakat, salah satunya dengan
Lambunu (2007) dan masih banyak sungai- meninggikan talud pada kedua sisi alur
sungai lainnya. Pada kebanyakan kasus, sungai (tanggul), seperti yang dilakukan
luapan banjir terjadi pada ruas bagian hilir pada Sungai Palu bagian hilir. Namun
dimana kondisi sungai berbelok – belok seiring dengan meningkatnya intensitas
banjir belakangan ini, bangunan-bangunan
1)
Dosen Fakultas Teknik Universitas Tadulako Palu. pengendali banjir yang telah dibangun

1
mengalami kegagalan terutama di sekitar helokoidal yaitu suatu fenomena aliran
belokan sungai. Memperhatikan fenomena utama searah aliran dipengaruhi oleh
banjir dan kegagalan bangunan yang selalu hadirnya aliran sekunder.
di mulai di belokan sungai, kiranya perlu Dengan adanya fenomena ini maka
disampaikan teori dan konsep tentang terjadi interaksi antara tegangan geser
fenomena hidraulis di belokan sungai, (akibat aliran helikoidal) dengan tegangan
karaktersitik, potensi serta penanganan dan geser yang menahan (akibat sifat
pengelolaannya dalam rangka pengendalian erodibilitas penampang basah saluran).
banjir terpadu di Sulawesi Tengah. Dampak utama akibat dari fenomena aliran
helikoidal adalah terjadinya serangan pada
II. KARAKTERISTIK ALIRAN DI tebing saluran pada sisi luar belokan, serta
BELOKAN SUNGAI pengendapan atau sedimentasi pada dasar
saluran di dekat sisi dalam belokan.
Secara alamiah alur sungai dari Fenomena gerusan lokal (local scouring)
wilayah hulu ke hilir membentuk profil yang terjadi di sungai terutama di sekitar
berbelok-belok akibat proses morfodinamik belokan, umumnya sering terjadi akibat arus
sungai yang disebabkan oleh interaksi aliran, sekunder dan gaya sentrifugal yang bekerja
sedimen, dinding sungai dan gaya-gaya yang pada aliran. Secara umum karakteristik
mempengaruhinya. Belokan-belokan sungai aliran di sekitar belokan, ditandai dengan
akan terevolusi secara terus menerus, tidak liniernya pola arus tetapi membentuk
sehingga tidak jarang dijumpai posisi-posisi pusaran-pusaran (eddies). Akibat yang
belokan yang tersususn seri dalam rangka ditimbulkan oleh arus dan gaya tersebut
mencapai keseimbangan. Belokan-belokan adalah terjadi perbedaan elevasi muka air
sungai secara seri pada suatu kurvatur pada sisi luar belokan dan sisi dalam
sungai disebut meander, umumnya belokan.
dinyatakan dengan indeks meander, yakni Penelitian-penelitian laboratorium
perbandingan antara panjang total alinemen (Ishak, G., 1992) menunjukkan bahwa pada
sungai dan panjang total kurvatur sungai. kasus belokan sungai terjadi perubahan
Sungai lurus memiliki indeks meander sama profil muka air melintang saluran.
dengan satu. Semakin tinggi angka indeks Perubahan profil melintang ditandai dengan
meander sungai maka sudut belokan dalam kenaikan muka air di belokan saluran yang
akan semakin kecil dan sebaliknya. Pada dapat diidentifikasi dari bilangan Froude.
prinsipnya sungai meander digolongkan Pada bilangan Froude yang kecil perbedaan
sebagai suatu sungai yang membentuk ketinggian muka air kecil dan sebaliknya.
fungsi sinus (Jansen, 1979 dalam Mudjiatko, Kenaikan permukaan air di belokan sungai
2000), yang dibedakan menjadi dua jenis berbanding lurus terhadap kecepatan. Akibat
yakni irregular meander dan regular yang ditimbulkan oleh akumulasi aliran dan
meander. Irregular meander diistilahkan kenaikan muka air di belokan sungai adalah
untuk sungai yang mempunyai kurva gerusan tebing pada sisi luar belokan.
belokan yang tidak teratur antara satu
belokan dan belokan yang mengikutinya dan III. BELOKAN SUNGAI DALAM
regular meander diperuntukkan untuk KONSEP EKO-HIDRAULIK
sungai yang mempunyai kurvatur seragam.
Sebagaimana telah diketahui, gerakan Konsep eko hidraulik merupakan
air pada saluran terbuka yang membelok konsep integral dalam pembangunan sungai
akan mengalami gaya lemparan ke sisi luar yang memasukkan unsur pertimbangan
belokan yang di sebut dengan gaya hidraulika dan ekologis secara sinergis
centrifugal (Legono, 2003). Pada kondisi ini (Maryono, 2002). Dalam konsep ini, sungai
aliran akan berusaha bergerak keluar, tetapi dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem
angkutan massa total pada arah transversal keairan yang sifatnya terbuka dari hulu ke
harus sama dengan nol. Fenomena seperti hilir. Belokan-belokan sungai dalam konsep
inilah yang disebut fenomena aliran eko-hidraulis adalah salah satu elemen

2
penting dalam pengelolaan sungai. Belokan- terhambatnya aliran pada salah satu sisi
belokan sungai tidak dianggap sebagai saluran yakni sisi bagian luar belokan
faktor pemicu luapan banjir dan genangan (Mudjiatko, 2000). Peristiwa pembendungan
tetapi justru merupakan wahana yang paling akan menimbulkan terjadinya peningkatan
efektif untuk mereduksi akumulasi banjir di elevasi muka air. Hasil penelitian yang
hilir. Mempertahankan belokan sungai dilakukan oleh Mudjiatko (2000)
secara alamiah merupakan cara yang sangat menunjukkan semakin besar angka indeks
dianjurkan dalam penanganan banjir. Banjir meander maka tingkat pembendungan aliran
seringkali muncul akibat kesalahan konsep semakin tinggi. Berpijak pada hasil
drainase, yang menyatakan bahwa air yang penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
jatuh dipermukaan harus dibuang secepat- kondisi meander sungai merupakan salah
cepatnya ke sungai. Apabila dikaji lebih satu faktor penyebab banjir di Sulawesi
lanjut, konsep drainase seperti ini ini akan Tengah. Pengaruh lainnya adalah terjadinya
memberi peluang akumulasi banjir yang pengikisan pada bagian luar belokan dan
lebih besar di bagian hilir. pengendapan pada bagian dalam belokan,
Belokan-belokan yang ada sehingga pada bagian ini bentuk tampang
disepanjang alur sungai semestinya selalu berubah-ubah.
dianggap sebagai faktor yang Sebagai dampak ikutan, gerusan talud
menguntungkan dalam pengelolaan sungai. di dimulai dengan meningkatnya elevasi
Dalam konsep drainasi, belokan-belokan muka air pada sisi luar belokan sampai
sungai dapat memperlambat laju aliran di akhirnya elevasi talud terlampaui. Fenomena
sungai, sehingga memberikan keuntungan ini mengakibatkan pengikisan talud yang
dua hal, yaitu belokan sungai akan dimulai dari bagian atas dan berlanjut secara
memberikan kesempatan air meresap ke kontinyu pada kaki talud. Akumulasi gaya
dalam tanah sebelum terdrainasi ke hilir dan aliran yang bekerja pada sisi talud
belokan sungai akan memperlambat dan menyebabkan talud Sungai Palu disekitar
mereduksi waktu dan debit puncak banjir di belokan mengalami keruntuhan dan
hilir. Sepintas belokan sungai dapat kegagalan.
dianggap sebagai kolam konservasi (retensi) Memperhatikan fenomena tersebut
di alur sungai. maka terdapat beberapa cara yang dapat
diusulkan dalam kerangka pengelolaan
IV. KONSEP PENANGANAN DAN sungai khususnya di belokan. Cara yang
PENGELOLAAN BELOKAN pertama adalah mengurangi intensitas aliran
SUNGAI yang menuju belokan dengan cara
mengarahkan aliran pada suatu kolam
Sebagaimana telah disampaikan konservasi pada sebelah hulu belokan. Cara
sebelumnya, belokan sungai memiliki dua ini sangat efektif apabila pada sebelah hulu
sisi yang saling berlawanan. Sisi yang satu belokan tersedia lahan yang dapat digunakan
dalam pandangan eko-hidraulik, belokan sebagai kolam konservasi. Konsep yang
sungai harus dipertahankan karena ditawarkan cara ini adalah mirip sekali
merupakan wahana retensi alamiah yang dengan konsep pemaparan puncak banjir
berfungsi untuk mereduksi banjir di hilir. pada waduk. Cara kedua adalah tetap
Sisi yang lain dari belokan sungai adalah mempertahankan belokan tanpa melakukan
fakor penyebab banjir sehingga perlu di modifikasi pada alur sungai. Namun pada
tetapkan penanganannya apakah dengan cara kiri kanan alur sungai, perlu dibuatkan
taludisasi, pelurusan/pemendekan alur jika tanggul yang dimensinya harus ditentukan
tidak ditemukan cara lain yang lebih efektif berdasarkan pemodelan aliran dalam konsep
dan efisien. 2D (Detail Enginering Design). Selain itu
Perlu dijelaskan kembali bahwa juga konstruksi dan elevasi tanggul pada
pengaruh yang ditimbulkan sungai berbelok bagian belokan memiliki karakteristik yang
atau bermeander terhadap aliran adalah berbeda (harus ekstra kuat dan ekstra tinggi)
terjadinya pembendungan aliran akibat dengan konstruksi tanggul pada bagian

3
sungai yang lurus. Cara yang ketiga yang akumulasi banjir di hilir dengan
dapat dilakukan dalam pengelolaan alur di memperlambat waktu pencapaian dan
belokan adalah dengan sudetan/pelurusan debit puncak banjir.
alur (short-cut). Harus dicermati bahwa b. Diperlukan perlakuan khusus dalam
sebaiknya tidak melakukan pelurusan sungai mendesain bangunan-bangunan
pada bagian hulu apalagi posisi akhir dari hidraulik di sekitar belokan sungai,
pelurusan sungai berada di hulu kawasan- terutama menyangkut adanya kenaikan
kawasan yang dianggap penting seperti muka air dan akumulasi debit pada sisi
permukiman, perkotaan, pertanian, industri, luar belokan, dan terjadinya
perdagangan atau kawasan lainnya. pengendapan sedimen pada sisi dalam
Pelurusan sungai membawa dampak belokan
peningkatan akumulasi debit yang dapat c. Pada kasus-kasus tertentu dimana
menyebabkan banjir di hilir, dengan belokan sungai diperkirakan menjadi
demikian pelurusan sungai di hulu kawasan faktor penyebab banjir yang intensif
penting sebaiknya dihindari. Pelurusan pada suatu sungai, pemendekan alur
sungai dapat direkomendasikan apabila (short-cut) dapat dilakukan dengan tetap
ujung akhir dari pelurusan langsung membuka aliran ke arah belokan sungai.
bermuara ke sungai atau dengan kata lain
cara ini mirip dengan banjir kanal (flood 5.2. Saran
way), sehingga debit langsung terakumulasi Terkait dengan kasus-kasus yang
di muara. Perlu juga diperhatikan bahwa diamati dan diskusi yang telah dilakukan,
sungai yang berbelok (bermeader) yang maka dapat disarankan hal-hal sebagai
telah diluruskan sebaiknya tetap dibuka, berikut:
sehingga apabila terjadi debit besar, aliran a. Perlu dilakukan pemodelan fisik
akan terbagi pada bagian belokan dan bagian mengenai belokan-belokan seri pada
short-cut. suatu sungai untuk mengetahui interaksi
aliran pada satu belokan dengan belokan
V. KESIMPULAN DAN SARAN lainnya.
b. Untuk menetapkan perlu tidaknya
5.1. Kesimpulan pemendekan alur pada suatu belokan
Berdasarkan analisis yang telah sungai, perlu dipelajari mengenai posisi
dilakukan maka dapat disimpulkan hal-hal belokan, karakteristik aliran di belokan
sebagai berikut: serta dampak hidraulis yang ditimbulkan
a. Belokan sungai memiliki peran penting dengan pemodelan.
dalam pembentukan keseimbangan
morfodinamik sungai dan mereduksi

4
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, M., (2000), Pemodelan Hidraulik Aliran dan Angkutan Polutan di Saluran dan Sunga. Institut Teknologi Bandung,
Bandung.

Delis, A.I., Skeels, C.P., and Ryrie, S.C., (2000), Implicit High-Resolution Methods for Modelling One-Dimensional Open
Channel Flow”. Journal of Hydraulic research, 34(5), 369-382.

Ishak, Galib., (1992), Superelevasi Pada Tikungan Saluran, Tesis S-2 ITB, Bandung

Istiarto, (1994), Geometri dan Kapasitas Tampang Sungai, BPLT Perum KA, Yogyakarta

Jansen, P.P., Berg, V.B., Vries M.D., and Zanen, A., (1979), Principle of River Engineering : The Non-Tidal Alluvial River.
Pitman Press, London.

Kodoatie, R.J., dan Sugiyanto (2002), Banjir : Beberapa Penyebab Banjir dan Metode Pengendaliannya dalam Persepektif
Lingkungan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Legono D., (2003), Bahan Kuliah Teknik Sungai, Program S-2 UGM, Yogyakarta

Makrup, L., (2001), Dasar-Dasar Analisis Aliran di Sungai dan Muara”. UII Press, Yogyakarta.

Maryono, A. (2002), Eko-Hidraulik Pembangunan Sungai, Magister Sistem Teknik-UGM, Yogyakarta.

Mudjiatko (2000), Pengaruh Meander Sungai Terhadap Perubahan Konfigurasi Dasar dan Seleksi Butiran Sedimen, Tesis S2
UGM, Yogyakarta.

Mulyanto, H. R. (2007), Sungai: Fungsi dan Sifat-Sifatnya, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Rahardjo, A. P. (2003), Bahan Kuliah Model Matematika, PPS-UGM, Yogyakarta.

Tunas, G. (2006), Pengaruh Perubahan Penampang Sungai Terhadap Karakteristik Aliran Banjir, Jurnal Rekayasa UNRAM
Vol. 7 No. 2, pp. (95-103