Anda di halaman 1dari 10

RESPIRASI DALAM SERANGGA JANGKRIK

(LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM)

LABORATORIUM BIOLOGI

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG

2017
Judul percobaan : Respirasipada Jangkrik

Tanggal percobaan : 12 Desember 2017

Tempat percobaan : Laboratorium Biologi

Nama Anggota :

 Indah Fitriani 175040039


 Salsa Dila S. 175040061
 Jepi Ramdani 175040045
 Ahmad Fahrijal 175040059

Kelompok : 5 ( Anatomi )

Jurusan : pendidikan Biologi

Fakultas : FKIP

i
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i

DAFTAR ISI ii

I. PENDAHULUAN 1
A. LATAR BELAKANG
B. TUJUAN PRAKTIKUM
II. TINJAUAN PUSTAKA 2
III. METODOLOGI PENILITIAN
A. WAKTU DAN TEMPAT 2
B. ALAT DAN BAHAN 3-4
C. CARA KERJA 4
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN 5
B. PEMBAHASAN 5-7

KESIMPULAN 7

DAFTAR PUSTAKA 8

ii
I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui
pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup.
Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan pernapasan.
Namun, istilah respirasi mencakup proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan.
Respirasi terjadi pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan
terkecil, sel. Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai
senyawa pemecah, respirasi tidak melulu melibatkan oksigen.
Pada dasarnya, respirasi adalah proses oksidasi yang dialami SET sebagai unit penyimpan energi
kimia pada organisme hidup. SET, seperti molekul gula atau asam-asam lemak, dapat dipecah
dengan bantuan enzim dan beberapa molekul sederhana. Karena proses ini adalah reaksi eksoterm
(melepaskan energi), energi yang dilepas ditangkap oleh ADP atau NADP membentuk ATP atau
NADPH. Pada gilirannya, berbagai reaksi biokimia endotermik (memerlukan energi) dipasok
kebutuhan energinya dari kedua kelompok senyawa terakhir ini.
Kebanyakan respirasi yang dapat disaksikan manusia memerlukan oksigen sebagai oksidatornya.
Reaksi yang demikian ini disebut sebagai respirasi aerob. Namun, banyak proses respirasi yang
tidak melibatkan oksigen, yang disebut respirasi anaerob. Yang paling biasa dikenal orang adalah
dalam proses pembuatan alkohol oleh khamir Saccharomyces cerevisiae. Berbagai bakteri anaerob
menggunakan belerang (atau senyawanya) atau beberapa logam sebagai oksidator.
Respirasi dilakukan pada satuan sel. Proses respirasi pada organisme eukariotik terjadi di
dalam mitokondria.

B. TUJUAN PRAKTIKUM

 Mengetahui proses Respirasi

 Mengetahui faktor yang mempengaruhi respirasi

 Mengukur laju respirasi

Hal 1
II. TINJAUAN PUSTAKA

Sebagai suatu medium respirasi, udara mempunyai banyak keuntungan, salah satunya
tentu saja kandungan oksigen yang tinggi. Selain itu, karena O2 dan CO2 berdifusi jauh
lebih cepat di udara dibandingkan dengan di dalam air, maka permukaan respirasi yang
terpapar ke udara tidak harus di respirasi secara menyeluruh seperti insang. Sementara
permukaan respirasi mengeluarkan oksigen dari udara dan mengeluarkan karbon dioksida
, difusi dengan cepat membawa lebih banyak oksigen ke permukaan respirasi dan
membuang karbondioksida. Ketika hewan darat melakukan ventilasi, maka lebih sedikit
energi yang dipakai karena udara jauh lebih mudah di gerakkan dibandingkan dengan air.
Akan tetapi sebuah permasalahan yang mengalahkan keuntungan udara sebagai medium
respirasi. Permukaan respirasi yang harus lebih besar dan lembab secara terus menerus
akan kehilangan air ke udara melalui penguapan. Permasalahan itu diatasi dengan cara
membuat permukann respirasi melipat ke dalam tubuh.
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa sistem trakea, yang terbuat dari pipa
yang becabang di seluruh tubuh, merupakan salah satu variasi dari permukaan respirasi
internal yang melipat-lipat dan pipa yang terbesar itulah yang disebut trakea. Bagi seekor
serangga kecil, proses difusi saja dapat membawa cukup O2dari udara ke sistem trakea dan
membuang cukup CO2 untuk mendukung sistem respirasi seluler. Serangga yang lebih
besar dengan kebutuhan energi yang lebih tinggi memventilasi sistem trakeanya dengan
pergerakan tubuh berirama (ritmik) yang memampatkan dan mengembungkan pipa udara
seperti alat penghembus.
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per
satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena
respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada
adanya oksigen. Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat
dituliskan sebagai berikut: C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O +ATP.
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang
dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari
bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan
energi yang dapat diketahui jumlahnya. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup
diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi
laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hwan, ukuran badan dan aktivitas .

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. WAKTU DAN TEMPAT

Pada penilitian kali ini kita melakukan penelitian pada hari selasa,12 Desember 2017 di
laboratorium biologi FKIP Universitas Pasundan Bandung.

2
B. Alat dan Bahan

 Alat-Alat
 Respirometer

 Neraca

 tisu

 Bahan-Bahan
 Jangkrik

 Eosin

 Vaselin

3
 KOH

C. CARA KERJA

o Ambil jangkrik kemudian timbang pada neraca

o Siapkan KOH sebanyak 1gr pada tisu kemudian gulung tisu tersebut

o Masukan tisu yang di gulung dan jangkrik kedalam tabung Respirometer

o Olesi tabung respirometer tersebut dengan vaseline kemudian rapatkan

o Tetesi ujung pipa respirometer dengan eosin sebanyak 2 tetes kemudian olesi dengan
vaselin, amati pergerakan pada eosin

4
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
JANGKRIK MENGGUNAKAN KOH

NO BERAT LAJU 10 15
JANGKRIK RESPIRASI
5
1 0,03 gr 1 ml 0,35 0,31
ml ml
2 0,6 gr 0,03 ml 0,15 0,18
ml ml
3 0,4 gr 0,09 ml 0,15 0,18
ml ml
4 0,5 gr 0,32 ml 0,49 0,59
ml ml
Sumber: penelitian UGM

Karena pada saat penelitian kami kurangnya waktu di karenakan ada sedikit kesalahan teknis
jadi kami menggunakan hasil pengamatan dari sumber yang lain.

B. PEMBAHASAN

Dalam percobaan ini, khususnya pada percobaan yang menggunakan respirometer,


digunakan larutan KOH. Fungsi dari larutan ini adalah untuk mengikat CO2, sehingga
pergerakan dari larutan eosin benar-benar hanya disebabkan oleh konsumsi oksigen.
Adapun reaksi yang terjadi antara KOH dengan CO2 adalah sebagai berikut:
KOH + CO2 → K2CO3 + H2O
Setelah itu serangga dimasukkan ke dalam tabung dan tabung ditutup dengan
bagian yang berskala rapat-rapat. Untuk mengetahui penyusutan udara dalam tabung,
pada ujung terbuka pipa berskala diberi setetes larutan eosin. Larutan eosin ini akan
bergerak ke arah tabung spesimen karena terjadinya penyusutan volum udara dalam
ruang tertutup (tabung spesimen) sebagai akibat pernapasan, yaitu O2 diserap
sedangkan CO2 dihembuskan tetapi lalu diserap oleh KOH. Kecepatan larutan eosin itu
bergerak ke dalam menunjukkan kecepatan pernapasan organisme (serangga) yang
diselidiki. 5
Perhitungan dilakukan untuk memperoleh angka kecepatan respirasi organisme
tertentu dalam ml tiap satuan waktu. Data yang diambil adalah lama
pernapasan. Dalam percobaan ini diambil tiap 2 menit sekali dan jarak yang ditempuh
oleh larutan eosin bergerak. Pada hitungan kenaikan interval kedua, dicari dengan
interval 2 dikurangi interval 1 dan begitu seterusnya untuk mencari kenaikan nilai
interval berikutnya.
Keberhasilan percobaan atau eksperimen ini tergantung pada bocor tidaknya alat.
Pada percobaan ini, hubungan antara tabung dan bagian berskala ditutup rapat
menggunakan plastisin. Tujuan pemberian plastisin atau vaselin yaitu agar hubungan
antara tabung dan bagian bersekala licin serta udara tidak dapat keluar masuk.
Pada percobaan ini, perubahan suhu udara (bila menjadi panas) menyebabkan titik
air yang sudah bergerak ke arah tabung dapat bergerak kembali ke arah luar. Oleh
karena itu percobaan ini diadakan dalam waktu perubahan suhu tidak besar.
Sebaliknya bila suhu menurun, tetes air cepat bergerak ke arah tabung spesimen.
Sebelum disimpan, spesimen hewan dikembalikan ke tempatnya dan KOH yang
biasanya meleleh segera dikeluarkan dan tabung dicuci bersih. Jika kurang bersih dan
tabung tertutup, maka akan terjadi respirometer tak dapat dibuka lagi, karena merekat
oleh KOH.
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju respirasi:
1.) Jenis kelamin
Belalang atau jangkrik betina dan belalang jantan memiliki kecepatan respirasi yang
berbeda.
2.) Ketinggian
Ketinggian mempengaruhi pernapasan. Makin tinggi daratan, makin rendah O2,
sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup belalang. Sebagai akibatnya belalang
pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan yang meningkat, juga kedalaman
pernapasan yang meningkat.
3.) Ketersediaan Oksigen.
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh
tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada
tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak
mempengaruhi laju respirasi karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk
berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
4.) Suhu.
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi
untuk mengangkut dan mengedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan
mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trachea memanjang dan bercabang-cabang menjadi
saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu,
pengangkutan O2dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem
transportasi atau darah. Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil
yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke
6
pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa. Pada serangga
bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya
pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara terat
5.) Berat Tubuh
Hubungan antara berat dengan penggunaan oksigen berbanding lurus. Karena setiap
makhluk hidup membutuhkan O2 (Oksigen) dalam jumlah yang besar.Semakin
berat serangga semakin cepat pergerakan larutan eosin pada pipa berskala, begitupun
sebaliknya, semakin ringan serangga maka semakin lambat pergerakan larutan eosin
pada pipa berskala. Ini artinya semakin berat tubuh serangga, akan semakin banyak
membutuhkan oksigen sehingga akan semakin cepat pernafasannya. Sebaliknya,
semakin ringan tubuh serangga akan semakin lambat respirasinya. Seperti halnya
manusia apabila dia berbadan gemuk dia lebih banyak membutuhkan oksigen sehingga
akan bernafas cepat.
Pada hasil praktikum di atas, jelas sekali bahwa ukuran tubuh belalang atau
jangkrik tidak mempengaruhi laju pernapasan. Semakin besar ukuran dan berat tubuh
belum tentu semakin cepat pernapasannya. Walaupun diatas ada sedikit kegagalan
yaitu pernapasan pada belalang yang ukurannya lebih besar dan lebih berat daripada
jangkrik, memberikan hasil yang tidak sebagaimana mestinya. Karena pada belalang
yang berukuran lebih besar daripada jangkrik melakukan aktifitas yang
berkemungkinan banyak melakukan pergerakkan,sehingga membutuhkan
banyak pernafasan dan oksigen. Ternyata aktifitas yang banyak bergerak dari serangga
juga memengaruhi laju pernapasan. Akan tetapi, hasil praktikum menunjukkan bahwa
belalang yang berukuran lebih besar pernafasannya lebih lambat daripada jangkrik
yang aktif bergerak. Seharusnya semakin berat/ besar ukuran serangga, oksigen yang
butuhkan akan semakin banyak karena untuk melakukan aktifitas yang banyak
bergerak sehingga laju respirasinya akan lebih cepat. Sehingga kami menyimpulkan
bahwa selain berat, aktivitas juga sangat berpengaruh terhadap laju pernafasan
serangga.

KESIMPULAN

Setelah melakukan penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

 Semua orgnisme membutuhkan oksigen unruk respirasi


 Kebutuhan oksigen setiap organisme di pengaruhi oleh jenis,ukuran,serta
aktifitas organisme
 Tidak semua jenis hewan memiliki sistem respirasi yang sama, alat-alat
pernafasan dan lain yang sama pula
 Habitat yang mereka tempati juga mempengaruhi sistem respirasi mereka,
walaupun pada jenis serangga atau jenis hewan yang serupa.

7
DAFTAR PUSTAKA

Cartono.,setiono.2012:penuntun praktikum Biologi umum edisi 4.


Bandung:prismapress
Cambell.2003.biologi jilid 2. Jakarta:Erlangga
Aryulina, Diah., Choirul Muslim dan Syalfinaf Manaf.2010.Biology 2B for Senior High
School Grade XI Semester 2.Jakarta:Esis.
Reza Fredo Simarmata. Praktikum Respirasi Serangga. (Online).
(http://biologipedia.blogspot.com/2012/03/praktikum-respirasi-serangga.html/