Anda di halaman 1dari 15

DEFINISI

Menurut PPDGJ III, gangguan afektif bipolar adalah suatu gangguan suasana perasaan yang
ditandai oleh adanya episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek 3 pasien
dan tingkat aktivitas jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai
penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan
afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya ada
penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan
berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih
lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi satu tahun kecuali pada orang usia
lanjut. Kedua macam episode tersebut sering terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres
atau trauma mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakan diagnosis) (Depkes RI
2012). IV.

EPIDEMIOLOGI

Saat ini prevalensi gangguan bipolar dalam populasi cukup tinggi, mencapai 1,3-3%. Bahkan
prevalensi untuk seluruh spektrum bipolar mencapai 2,6-6,5%. Tujuh dari sepuluh pasien pada
awalnya misdiagnosis. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan sama besarnya terutama pada
gangguan bipolar I, sedangkan pada gangguan bipolar II, prevalensi pada perempuan lebih besar.
Depresi atau distimia yang terjadi pertama kali pada prapubertas memiliki risiko untuk menjadi
gangguan bipolar. (Kusumawardhani 2012).

PATOFISOLOGI
1. Faktor Biologi

a. Herediter

Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya
episode manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya,
berdasar etiologi biologik. 50% pasien bipolar memiliki satu orangtua dengan
gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika
seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko
mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar
maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Keturunan
pertama dari seseorang yang menderita gangguan bipolar berisiko menderita
gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko pada anak kembar sangat tinggi
terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah,
yakni 10-20%2.

b. Genetik

Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan


kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari
kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah
diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22. Yang
menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21)
berisiko rendah menderita gangguan bipolar2.

c. Neurotransmiter

Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,


peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar.
Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Gen-gen
yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang
mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-
Ometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT)2.

d. Kelainan Otak

Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat
perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui
pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography
(PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada
korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen
Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdala dan hipokampus.
Korteks prefrontal, amygdala dan hipokampus merupakan bagian dari otak yang
terlibat dalam respon emosi (mood dan afek)2.
2. Faktor Psikososial

a. Peristiwa Kehidupan dan Stres Lingkungan

Satu pengamatan klinis yang telah lama yang telah direplikasi adalah bahwa
peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode
pertama gangguan suasana perasaan daripada episode selanjutnya. Hubungan tersebut
telah dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I5.

b. Faktor Psikoanalitik dan Psikodinamika

Dalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmund Freud mengendalilkan suatu


hubungan antara kehilangan suatu objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa
kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi
dengan objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan satu-
satunya cara bagi ego untuk melepaskan suatu objek. Ia membedakan melankolia atau
depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga
diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri
sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian5

c. Ketidakberdayaan yang Dipelajari

Di dalam percobaan dimana binatang secara berulang dipaparkan dengan kejutan


listrik yang tidak dapat dihindarinya, binatang akhirnya menyerah dan tidak
melakukan usaha sama sekali untuk menghindari kejutan selanjutnya. Mereka belajar
bahwa mereka tidak berdaya. Pada manusia yang terdepresi, kita dapat menemukan
keadaan ketidakberdayaan yang mirip. Menurut teori ketidakberdayaan yang
dipelajari, depresi dapat membaik jika klinisi mengisi pada pasien yang terdepresi
suatu rasa pengendalian dan penguasaan lingkungan. Klinisi menggunakan teknik
perilaku berupa dorongan yang menyenangkan dan positif di dalam usaha tersebut5.

d. Teori Kognitif

Menurut teori kognitif, interpretasi yang keliru (misinterpretation) kognitif yang


sering adalah melibatkan distorsi negatif, pengalaman hidup, penilaian diri yang
negatif, pesimisme, dan keputusasaan. Pandangan negatif yang dipelajari tersebut
selanjutnya menyebabkan perasaan depresi. Seorang ahli terapi kognitif berusaha
untuk mengidentifikasi hal yang negatif dengan menggunakan tugas perilaku, seperti
mencatat dan secara sadar memodifikasi pikiran pasien5.

A. KRITERIA DIAGNOSTIK
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar
dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipe klasik
ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar
II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang
berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita6.

F31 Gangguan Afektif Bipolar


Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua) yang
menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu,
dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan (mood)
serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain
berupa penurunan suasana perasaan (mood) serta pengurangan energi dan aktivitas
(depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode. Episode
manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5
bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan)
meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode
itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau trauma mental lain
(adanya stres tidak esensial untuk penegakkan diagnosis).
Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif.
Tidak termasuk: gangguan bipolar, episode manik tunggal (F30).
F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Hipomanik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30.0); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif atau campuran) di masa lampau.
F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik Tanpa Gejala Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala
psikotik (F30.1); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif atau campuran) di masa lampau.
F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik Dengan Gejala Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan
gejala psikotik (F30.2); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif atau campuran) di masa lampau.
F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat Tanpa Gejala
Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat tanpa gejala psikotik (F32.2); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat Dengan Gejala
Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat dengan gejala psikotik (F32.3); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomani, dan
depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/
hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama masa terbesar dari
episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung sekurang-
kurangnya 2 minggu); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau.
F31.7 Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Dalam Remisi
 Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan
terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif
hipomanik, manik, atau campuran dimasa lampau dan ditambah sekurangnya
satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran).
F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

F32 Episode Depresif


Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini, ringan
(F32.0), sedang (F32.1), dan berat (F32.2 dan F32.3), gejala utama yang ditemukan
adalah :
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
Gejala lainnya adalah :
a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c) Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe
ringan sekali pun)
d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f) Tidur terganggu
g) Nafsu makan berkurang

F32.0 Episode Depresif Ringan


a) Suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan, dan
mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala dari depresi yang paling
khas, dan sekurang-kurangnya dua gejala dari ini, ditambah sekurang-kurangnya dua
gejala lain (untuk F32.-) harus ada untuk menegakkan diagnosis pasti.
b) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya.
c) Lamanya episode berlangsung ialah sekurang kurangnya sekitar 2 minggu.
d) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjan dan kegiatan social yang biasa dilakukannya.

F32.00 Tanpa gejala somatik

F32.01 Dengan gejala somatik

F32.1 Episode Depresif Sedang


a) Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala paling khas yang ditentukan untuk
episode depresif ringan (F32.0), ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya
empat) gejala lainnya.
b) Lamanya keseluruhan episode berlangsung ialah sekurang-kurangnya sekitar 2
minggu.
c) menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan
rumah tangga.

F32.10 Tanpa gejala somatik

F32.11 Dengan gejala somatik

F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik


a) Semua ketiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresof ringan dan sedang
harus ada, Ditambah sekurang-kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa di
antaranya harus berintensitas berat.
b) Apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi) menyolok, maka pasien
mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara
terinci. Dalam hal demikian, penentuan menyeluruh dalam subkategori episode berat
masih dapat dibenarkan.
c) Episode depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu,
akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka mungkin
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.
d) Sangat tidak mungkinpenderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik


a) Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut diatas,
b) Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Wahamnya biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa
bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa
suara yang menghina atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor
yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat
ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).
F32.8 Episode Depresif lainnya
F32.9 Episode Depresif YTT

B. PEMERIKSAAN FISIK
a. Penampilan

Orang yang menunjukkan suatu periode depresi mungkin menunjukkan sedikit


sampai tidak ada kontak mata. Pakaian mereka mungkin tidak terawat, kotor,
berlubang, kumal, serta tidak cocok dengan ukuran badan. Bila seseorang kehilangan
berat badan secara signifikan, ukuran pakaiannya tidak akan cocok. Kebersihan diri
tercermin dari mood mereka yang rendah, yang ditunjukkan dengan badan yang
kurus, tidak bercukur, dan tidak membersihkan diri. Pada wanita, kuku jari
tangannya mungkin terdapat lapisan warna yang berbeda atau sebagian warna yang
rusak pada kuku mereka, bahkan cenderung kotor juga pada tangannya. Rambut
mereka juga tidak terurus. Bila orang ini bergerak, afek depresi jelas terlihat. Mereka
bergerak dengan lambat dan sangat sedikit yang menunjukkan retardasi psikomotor.
Mereka juga berbicara dengan suara yang pelan atau suara yang monoton.

b. Afek/Suasana Perasaan

Afek depresi. Kesedihan mendominasi suasana hati seseorang dalam episode


depresi. Penderita merasa sedih, tertekan, kehilangan, kosong dan terisolasi.

c. Pikiran

Penderita mempunyai pemikiran yang mencerminkan kesedihan mereka. Gagasan


yang negatif, perhatian nihilistik, dan mereka mempunyai suatu istilah bahwa “
mereka bagaikan gelas yang separuh kosong”. Pemikiran mereka lebih berfokus
tentang kematian dan tentang bunuh diri.
d. Persepsi

Terdapat 2 format dari tipe depresi yang dijelaskan. Dengan psikotik dan tanpa
psikotik. Dengan psikotik, penderita mempunyai khayalan dan halusinasi yang sesuai
atau tidak dengan suasana hati. Penderita merasa telah berdosa, bersalah, dan
merasakan penyesalan yang sangat dalam.

e. Bunuh diri

Angka kejadian bunuh diri banyak terjadi pada penderita depresi. Mereka adalah
individu yang mencoba dan berhasil dalam usaha bunuh diri.

f. Pembunuhan/kekerasan

Pembunuhan yang dilakukan oleh penderita biasanya diikuti dengan bunuh diri.
Pada beberapa penderita depresi biasanya merasa dunia sudah tidak berguna lagi
untuknya dan untuk orang terdekatnya/orang lain.

g. Tilikan/Insight

Depresi dapat mempengaruhi penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri.


Penderita biasanya gagal dalam melakukan tindakan yang penting sebab mereka
sangat jatuh dan menurun dalam mengenali diri mereka sendiri. Meraka memiliki
sedikit pengertian terhadap diri mereka sendiri.

h. Kognitif

Pada depresi dan manik yang berat, penderita dapat mengalami kesulitan dalam
berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya.

C. PENATALAKSANAAN
1. Terapi Farmakologi8
Farmakoterapi

Keberhasilan dalam pengendalian dan pencegahan kambuhnya gangguan bipolar didasari


oleh pengendalian stabilitas mood jangka panjang serta pencegahan berlanjutnya episode
mania dan depresi (Malhi, et al., 2015).
Mood stabilizer

Pilihan pertama yang digunakan dalam mengobati gangguan bipolar ialah mood
stabilizer seperti litium, divalproex, karbamazepin dan lamotrigin. Dosis awal pemberian
litium ialah 600-900 mg/hari dan biasanya diberikan dalam dosis terbagi. Sedangkan,
dosis awal divalproex yang digunakan biasanya 500-1000 mg/hari (Chisholm-Burns, et
al., 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Collins and McFarland (2008) menyebutkan
bahwa litium dapat menurunkan resiko percobaan bunuh diri pada subjek penelitian. Pada
percobaan yang sama, ditemukan bahwa pasien gangguan bipolar yang menggunakan
divalproex memiliki resiko lebih tinggi melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan
dengan pasien yang menggunakan litium. Secara umum penggunaan litium dalam fase
pemeliharaan lebih unggul dibandingkan valproate dan lamotrigin. Penggunaannya
segera setelah muncul episode mania pertama dapat meningkatkan efek jangka panjang
(Kessing, 2015). Penggunaan asam valproatee, lamotrigine dan antikonvulsan lain
sebagai mood stabilizer perlu diperhatikan sebab pengunaannya dapat meningkatkan
risiko bunuh diri (NIMH, 2012).

Antipsikotik

Semua antipsikotik atipikal memiliki beberapa efikasi untuk gangguan bipolar karena
adanya efek antimania. Antipsikotik yang digunakan diantaranya risperidone, olanzapine,
quetiapine, ziprasidone, aripiprazole, lurasidone dan asenapine (Chisholm-Burns, et al.,
2016; Mitchell, et al., 2009). Monoterapi olanzapine efektif dan relatif aman dalam
mengobati pasien yang tidak merespon serta tidak toleran terhadap litium, asam
valproatee dan/atau karbamazepin, serta dua atau lebih antipsikotik., namun perlu
diperhatikan efek samping dari olanzapine terutama saat dosis yang digunakan lebih dari
20 mg/hari (Chen, et al., 2011). Studi yang dilakukan oleh Keck, et al (2009) menyatakan
bahwa aripiprazole efektif digunakan dalam pengobatan pasien dengan bipolar mania
akut dan dapat ditoleransi dengan baik. Dosis yang direkomendasikan untuk terapi
gangguan bipolar adalah 20-30 mg/hari (ChisholmBurns, et al., 2016). Farmaka
Suplemen Volume 16 Nomor 1 272 Pada sebuah studi randomized control trial
menyebutkan bahwa risperidone memiliki efikasi lebih tinggi dibandingkan litium dan
divalproex sodium bila digunakan sebagai terapi awal episode mania atau episode
campuran pada gangguan bipolar I pada pasien pediatrik dan dewasa dengan dosis efektif
harian 0,5- 2,5 mg dan 3-6 mg, namun risperidone memiliki efek metabolik yang lebih
serius (Geller, et al., 2012; Hass, et al., 2009). Antipsikotik lain yang sering digunakan
ialah quetiapine. Penggunaannya bersama dengan litium atau divalproex pada fase
pemeliharaan memiliki efek yang menguntungkan dan berkaitan dengan penurunan
waktu kambuh dari episode mood. Penggunaan quetiapine extended-release telah
dibuktikan efektif mengatasi gejala depresi dalam 3 hari pertama pengobatan (Porcelli, et
al., 2014; Suppes, et al., 2009).

Antidepresan

Penggunaan antidepresan sebagai monoterapi berkaitan dengan peningkatan resiko


episode mania pada pasien bipolar. Namun, tidak terdapat adanya resiko episode mania
pada pasien yang menggunakan antidepresan bersamaan dengan mood stabilizer
(Viktorin, et al., 2014). Antidepresan trisiklik seperti imipramine dan despiramine
memiliki tingkat respon setara atau lebih rendah dari komparatornya seperti fluoxetine,
paroxetine dan bupropion. Namun, terapi dengan antidepresan trisiklik berkaitan dengan
peningkatan perubahan episode mood menjadi mania atau hipomania. Penggunaan MAOI
aksi ganda (seperti venlafaxine, duloxetine dan amitriptilin) memiliki resiko terjadinya
perubahan mood menjadi mania yang lebih besar dibandingkan obat aksi tunggal
(terutama SSRI) (American Psychiatric Association, 2010; Goodwin, et al., 2016).

Tabel.1 Obat-Obatan yang Digunakan dalam Terapi Gangguan Bipolar


2. Terapi Non Farmakologi
a. Konsultasi

Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu sesuai


bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan
medikasi.

b. Diet

Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs),


tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah
asupan garam, karena peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum
menurun dan menurunkan efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam dapat
meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas.

c. Aktivitas

Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan


olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik
aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk bertahan dari
penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan
respirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas
litium.

d. Edukasi

Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal dan lanjutan.
Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga
melalui keluarga dan sistem disekitarnya. Fakta menunjukkan edukasi tidak hanya
meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit, namun juga
kualitas hidupnya.

D. PROGNOSIS
Prognosis pada penderita dengan gangguan bipolar I lebih buruk daripada penderita
dengan depresi berat. Dalam 2 tahun pertama setelah episode awal, 40 – 50 % penderita
mengalami serangan manik lain.8 Hanya 50 – 60 % penderita gangguan bipolar I dapat
dikontrol dengan litium terhadap gejalanya. Pada 7 % penderita, gejala tidak
kembali/mengalami penyembuhan, 45 % penderita mengalami episode berulang, dan 40
% mengalami gangguan yang menetap.Seringkali perputaran episode depresif dan manik
berhubungan dengan usia.

Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain :

i. Riwayat pekerjaan yang buruk


ii. Penggunaan alkohol
iii. Gambaran psikotik
iv. Gambaran depresif diantara episode manik dan depresi
v. Adanya bukti keadaan depresif
vi. Jenis kelamin laki-laki

Indikator prognosis yang baik adalah sebagai berikut :

i. Fase manik (dalam durasi pendek)


ii. Onset terjadi pada usia yang lanjut
iii. Pemikiran untuk bunuh diri yang sedikit
iv. Gambaran psikotik yang sedikit
v. Masalah kesehatan (organik) yang sedikit
DAFTAR PUSTAKA

1. NIMH. Bipolar disorder. 2010 .


http://www.nimh.nih.gov/health/publications/bipolar-disorder/complete-index.shtml
2. Membangun kesadaran - mengurangi resiko gangguan mental dan bunuh diri.2011.
http://www.rsjlawang.com/artikel_070309a.html
3. F.C.Murphy, B.J. Sahanian, 2001, Neuropschology of Bipolar Disorder, BJ Psych, 178, S
120-127
4. J.L. Thompson, P. Gallagher, J.H.Hughes et all, 2005, Neurocognitive Impairment in
Euthymic Patients with Bipolar Affective Disorder, BJ Psych, 186, 32-40
5. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri [Widjaja K, alih bahasa]. edisi 7 jilid 1.
Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. Bab 15, Gangguan Mood; hlm.777-833.
6. Rusdi M. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2001.
7. A.H.Young, J.R.Calabrese, 2000, Treatment of Bipolar Affective Disorder., BMJ, 321, 1302-
3
8. Soreff S. Bipolar affective disorder treatment & management. 2011.
http://emedicine.medscape.com/article/286342-treatment
9. C.L.Marvel, S.Paradiso, 2004, Cognitive and Neurological Impairment in Mood Disorders
Psychiatri Clin North, 27, 1-17
10. I.M.Ferrier, J.M.Thompson, 2002, Cognitive Impairment In Bipolar Affective Disorder
Implications for the Bipolar Diatress, BJ Psych, 180, 293-295