-1-
PENGARUH DILUSI TERHADAP KUALITAS BATUBARA
Disusun oleh Suparyana
I. Latar Belakang
Adanya kenaikan Ash akibat dilusi penambangan pada beberapa tambang ( pit ) batubara di Binungan
yang berpengaruh pada kualitas batubara yang akan diangkut ke Suaran atau ke Transhipment.
Disamping itu ditemukannya beberapa kasus penambangan batubara yang tidak bersih dari dilusi yaitu
dengan ditemukannya serpih,bongkahan yang berupa soil,carbonaceous mudstone,Coaly shale,Shally
coal,Sandstone,dan Mudstone lunak di ROM B2 maupun B1.
II. Tujuan
Memberikan gambaran secara detil kepada masing masing kontraktor terhadap penyimpangan kualitas
batubara terhadap metode penambangan atau system penambangan yang menyalahi SOP yang telah ditentukan.
Dari uraian ini diharapkan masing masing kontraktor merasa ikut bertanggung jawab atau perduli dengan
permasalahan yang sedang dan akan di hadapi oleh PT. Berau Coal ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas
batubara yang akan ditambang, sehingga bisa dicapai kualitas yang sesuai dengan permintaan pasar.
Sosialisasi terhadap SOP pembersihan batubara dan penambangan batubara.
III. Latar Belakang
Adanya kenaikan Ash akibat dilusi penambangan pada beberapa tambang ( pit ) batubara di Binungan
yang berpengaruh pada kualitas batubara yang akan diangkut ke Suaran atau ke Transhipment.
Disamping itu ditemukannya beberapa kasus penambangan batubara yang tidak bersih dari dilusi yaitu
dengan ditemukannya serpih,bongkahan yang berupa soil,carbonaceous mudstone,Coaly shale,Shally
coal,Sandstone,dan Mudstone lunak di ROM B2 maupun B1.
IV. Definisi
Total Moisture ( TM ) : Total lengas yaitu gabungan kandungan lengas yang terdiri dari :
Inherent Moisture ( Pengotor bawaan )
External Impurities ( Pengotor luar )
Air dried losses ( ADL ) : Kandungan air yang jika dipanaskan pada temperature 40 º C akan menguap.
Residual moisture ( RM ) : Kandungan lengas dalam batubara setelah mencapai keseimbangan dengan suhu
laboratorium.
Inherent Moisture ( IM ) : Kandungan lengas batubara yang merupakan lengas bawaan dari proses
pembentukan batubara.
Ash : Zat-zat sisa pembakaran yang sudah tidak dapat terbakar lagi.
Volatile matter ( VM ) : Merupakan bagian dari batubara yang jika dipanaskan pada temperature 750º - 850
ºC akan berubah menjadi bentuk gas sedang sisanya berupa Fixed Carbon ( Karbon
tetap )
Fixed Carbon ( FC ) : Karbon padat / tetap yaitu karbon padat/tertambat yang tertinggal pada pembakaran
batubara.
Total sulphur ( TS ) : Kandungan belerang yang terdapat pada batubara
Calorific value ( CV ) : Besarnya panas yang dihasilkan pada saat proses pembakaran batubara.
Form of Sulphur ( FoS ) : Jenis sulphur yang terbentuk didalam batubara,yaitu terdiri dari :
Organic Sulphur
Pyritic Sulphur
Sulphate Sulpur
Air Dried Basis ( ADB ) : Parameter analisa yang berbasis pada analisa udara kering.
Air Received Basis ( ARB ) : Parameter dengan perhitungan pada kondisi TM dan IM original.
Dried Ash Free ( DAF ) : Kalori batubara dalam kondisi bebas Ash dan Moisture.
-2-
Hardgrove Grindability Index ( HGI ) : Angka yang menunjukkan kemudahan batubara untuk digerus ( 30
sd 110 )
Trace Element : Analisa terhadap unsur kimia yang terdapat di dalam batubara.
Ash Fusion Temperature ( AFT ) : Analisa yang dilakukan untuk mengetahui potensi batubara membentuk
kerak atau kotoran pada saat dilakukan pembakaran pada tungku.
Initial Deformation Temperature ( IDT )
Spherical Temperature ( ST )
Hemisphere Temperature ( HT )
Fluid Temperature ( FT )
Ash Analysis : Analisa yang dilakukan untuk mendapatkan data komposisi elemen-elemen yang
terkandung didalam abu batubara yang berguna untuk evaluasi terhadap potensi pergerakkan ( Slagging ) dan
potensi pengotoran ( Fauling )
Potensi pergerakkan ( Slagging ) : Kondisi dimana terdapat kecenderungan pertumbuhan kerak batubara yang
terbentuk pada daerah radiasi.
Potensi pengotoran ( Fauling ) : Kondisi dimana terdapat kecenderungan pengotoran abu hasil pembakaran
batubara pada daerah konveksi.
V. Pokok Bahasan
Dilusi dalam hal ini akan berpengaruh langsung terhadap kenaikan kandungan ash,yang secara otomatis
akan menurunkan kalori yang dihasilkan oleh batubara pada saat proses pembakaran.
Hubungan kandungan Ash dan CV menurut Ambyo M. adalah sbb :
“ Semakin banyak kadar abunya,akan lebih banyak menyerap panas dari pembakaran batubara sama
artinya dengan semakin tinggi kandungan abunya kalori yang dihasilkan menurun dan atau waktu
batubara terbakar semakin pendek”
“ Kenaikan 1 % ash batubara dari data tipical Binungan akan menurunkan sekitar 80 Kcal/kg “
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kenaikan Ash adalah sbb :
1. Material bukan batubara yang terbawa pada saat loading batubara, material ini berasal dari :
Batuan dari lapisan atas batubara ( Top dilution )
Batuan lain diantara batubara/sisipan ( parting )
Batuan dari lapisan bawah batubara ( Bottom dilution )
2. Kebersihan lokasi disekitar aktivitas penambangan batubara terutama dari :
Genangan air yang bercampur dengan OB ( Lumpur )
Fragment hasil blasting
Material hasil cleaning
OB
3. Material pengotor karena masih dalam zona weathered atau rekahan yang kemasukan air dan Lumpur
Kenaikan kandungan TM pada daerah tambang yang terdapat genangan air,dimana air berasal dari :
Genangan air bersih ( Jernih )
Genangan air kotor ( air dan Lumpur )
Mengambil dari apa yang dinyatakan oleh Bp. Ambyo M,bahwa :
“10 % Ash setara dengan 1% air artinya panas yang diserap oleh batubara berkadar abu 10 %
setara dengan panas yang diserap oleh 1 % air untuk menghilangkan moisture content “
Dari pernyataan diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa secara teori maupun aktual di lapangan memang
sebenarnya ada hubungan antara kandungan Ash dan kandungan air dengan naik turunnya angka kalori
yang dihasilkan.
-3-
“Kenaikan TM ini secara langsung akan menurunkan CV pada parameter arb dengan dan dari
trend data yang ada di Binungan menunjukkan kenaikan TM sebesar 1 % akan menurunkan
kalori sebesar 70 Kcal/kg”
Naik turunnya kandungan TM ini erat hubungannya dengan kondisi cuaca saat penambangan maupun aktivitas
loading di Suaran, dari evaluasi yang dilaksanakan pit control BMO ( ESW ) dapat disimpulkan sbb:
Cuaca Range TM aktual Range TM yang akan muncul Rata-rata
Minimum Maximum Minimum Maximum
Hujan tinggi 16.20 22.60 18.00 19.50 18.41
Hujan rendah 14.30 19.30 15.00 17.50 16.59
Jadi secara garis besar pada saat aktivitas penambangan terdapat 2 masalah pokok yaitu kenaikan Ash yang ada
pada saat penambangan karena adanya dilusi yang bisa di minimalkan dengan melakukan penambangan sesuai
dengan SOP atau penambangan bersih dan kenaikan TM pada saat penambangan pada kondisi cuaca hujan ,
sementara untuk parameter lain erat hubungannya dengan karakteristik batubara itu sendiri.
VI. Kesimpulan dan saran
Dengan beberapa uraian diatas dan dilengakapi dengan data-data yang diperoleh dari forecast tambang
dan actual kualitas produksi dari suaran.Kebersihan dari penambangan merupakan factor penting pada kualitas
actual penambangan.Apabila factor-faktor yang menjadikan kenaikan Ash dan kenaikan TM tadi bisa di tekan
sedemikian mungkin sehingga kemungkinan batubara tercampur dengan dilusi sangatlah kecil.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk menghindari batubara dari dilusi :
1. Melaksanakan penambangan sesuai dengan SOP tentang Cleaning Batubara dan
Penambangan batubara dengan benar.
2. Kebersihan areal penambangan batubara dari potensi dilusi yang ada seperti material hasil
cleaning ,genangan air dan Lumpur.
3. Peran serta dari masing-masing kontraktor ( dalam hal ini pengawas lapangan ) melakukan
pengawasan yang ketat pada saat penambangan batubara disamping pengawas dari PT. Bera
Coal sendiri akan dapat menjaga kualitas.
4. Kepedulian Operator alat loading saat penambangan batubara.
5. Komunikasi yang baik antara kontraktor dan PT. Berau Coal apabila ada masalah yang
berhubungan dengan kualitas maupun kuantitas batubara yang akan ditambang.