Anda di halaman 1dari 5

biografi singkat MOZART

Ada satu saat dalam sejarah musik di mana semua pihak yang berlawanan pandangan bersepakat,
dan saat itu ada pada Mozart. Dialah komposer yang tidak perlu merevisi satu nada pun dalam
karyanya.Mozart adalah musisi dan komponis besar yang, menurut Robert Schumann, merupakan
salah satu dari tiga jenius musik bersama Ludwig van Beethoven dan Johann Sebastian Bach.
Pencapaiannya dianggap setingkat dengan prestasi Raphael dan Shakespeare di bidangnya. Sebagian
orang menyebutnya salah satu jenius terbesar dalam peradaban Barat. Dia telah menghasilkan lebih
dari 600 karya selama hidupnya yang hanya 35 tahun.Namun, Mozart yang jenius ternyata juga
memiliki sisi lain kehidupan yang menarik, terutama hubungannya dengan ayahnya, Leopold
Mozart–seorang musisi profesional berpendidikan tinggi. Mozart seorang anak penurut yang taat
kepada ayah dan keluarganya. Lahir dari keluarga musisi pada 27 Januari 1756 di Salzburg, Austria,
Wolfgang Amadeus Mozart menjadi sosok fenomenal. Pada usia tiga tahun ia telah belajar musik
dan memahami pelajaran secepat pelajaran itu diberikan kepadanya. Pada usia lima tahun ia telah
mencipta beberapa karya dan kord-kord yang menyenangkan. Saat berumur enam tahun ia telah
menulis sejumlah karya cantik untuk harpsikord dan berupaya menciptakan sebuah konserto.

Mozart kecil, Si Anak Ajaib yang dikenal sebagai pencipta Eine Kleine Nachtmusik, juga simfoni,
konserto, opera, dan sonata, tak ubahnya sebuah bintang nan amat cemerlang di angkasa musik.
Bukan saja musik-musik gubahannya mempesona, tapi ia juga melambangkan kejeniusan yang
fenomenal. Julukan “sang maestro Mozart” diberikan kepadanya ketika usianya belum genap
delapan tahun. Di sisi lain, kehidupan keluarganya yang penuh gejolak juga patut disimak. Leopold
seorang figur dominan. Dan Mozart, di luar bakat briliannya sebagai komposer, terus menjadi “anak
kecil” di bawah bayang-bayang ayahnya.

Kisah hubungan antara Mozart dan ayah menjadi sorotan utama buku ini. Hidup sebagai borjuis lokal
membuat ayah Mozart sangat berambisi menjadikan anak-anaknya pekerja keras demi kehidupan
dan martabatnya kelak. Karenanya, keluarga Mozart memegang teguh nilai-nilai borjuis lokal: kerja
keras, jujur, setia pada pasangan, dan cepat melunasi tagihan.

Wolfgang Mozart adalah anak yang baik dan penurut, tapi apakah Leopold ayah yang baik? Pengaruh
ayahnya tampak sangat jelas dan bertahan sangat lama sehingga tak seorang pun penulis biografi
Mozart dapat melewatkan hubungan ayah-anak yang penting ini. Leopold Mozart adalah guru,
kolaborator, penasihat, perawat, sekretaris, impresario, agen pers, dan pemandu sorak bagi Mozart.

Sejak sangat belia, Mozart tahu siapa yang paling berjasa bagi dirinya: “sesudah Tuhan”, katanya,
“papa-lah yang paling banyak berjasa.” Meski terkadang dengan kesabaran dan kerendahan hati
yang menyentuh, ia menangkis tuduhan kasar ayahnya yang hampir selalu tanpa dasar menduga
Mozart melakukan kesalahan atau kekeliruan tertentu. “Aku hanya memiliki satu permintaan,”
tulisnya dengan nada sedih pada akhir 1777, ketika usianya mendekati dua puluh dua, “yaitu
janganlah terlalu berprasangka buruk tentang diriku.”
Sikap ayahnya yang demikian merupakan tuntutan sekaligus kekhawatiran sang ayah terhadap
kehidupan keluarganya. Sebagai keluarga sederhana, tumpuan hidup keluarga Mozart diperoleh dari
kegiatannya bermusik. Singkatnya, ada beragam motivasi yang membentuk hubungan Leopold
dengan sang anak, dan ini sangat manusiawi. Langkah-langkah Leopold ini di antaranya didorong
oleh kekhawatirannya yang irasional tentang keuangan keluarga.

Mozart merupakan komponis pertama dalam sejarah yang berusaha hidup dari pekerjaannya
sebagai seniman yang berdiri sendiri. Ini terjadi, terutama setelah hubungannya dengan Uskup
Agung Hieronymus, Pangeran Colloredo, retak pada 1781. Sampai akhir hayatnya, Mozart hidup
dalam kemiskinan. “Keliru kalau orang mengira bahwa seni datang dengan gampang pada saya.
Tidak seorang pun yang mencurahkan begitu banyak waktu dan pikiran bagi komposisi seperti saya.
Tidak ada seorang empu masyhur yang musiknya tidak saya kaji berulang-ulang.”

Penjelasan Mozart di atas mungkin ia pandang perlu karena pencinta musik gubahannya banyak
yang mempercayai bahwa musik adalah urusan gampang bagi jenius ini. Wajar saja dugaan itu
muncul. Di tangan Mozart, musik seakan lahir begitu saja dan mengalir indah, dengan style yang bisa
dikatakan sempurna. Yang mendengar musik Mozart pun lebih kurang akan berpandangan sama.

Kemasyhuran Mozart di bidang musik menyebabkan nama dan komposisinya–selain Johann


Sebastian Bach–menjadi paling sering dijadikan tema festival di seluruh dunia, hingga kini. Sebagian
dari festival itu sudah berumur bertahun-tahun dan termasuk festival yang bergengsi di dunia,
seperti halnya Mostly Mozart Festival di New York yang sudah berumur 37 tahun dan selalu dihadiri
artis-artis besar dunia.

Komponis besar ini hanyalah satu dari sekian banyak komponis kondang dari Austria. Sebut saja
Ludwig van Beethoven, Anton Bruckner, Franz Joseph Hayden, Franz Schubert, Johann Srausses,
Franz von Suppe, Franz Lehar, Gustav Mahler, Richard Strauss, Alban Berg, Anton Webern, dan
Arnold Schoenberg. Austria juga menghasilkan dirigen kondang, misalnya, Felix Weingartner,
Clemens Krauss, dan Herbert von Karajan. Itulah sebabnya Austria disebut sebagai “Bumi Musik”. Di
Winna, Austria, ada dua gedung opera yang begitu kondang, Volksoper (Opera Rakyat) yang dibuka
pada 1904, dan Vienna State Opera yang dibuat pada 1869.

Puluhan, atau bahkan ratusan, buku telah dibuat tentang Mozart. Sejarah hidupnya telah banyak
ditulis. Masa hidupnya yang pendek, tapi menarik, menjadi sumber cerita yang dirangkai secara
imajinatif oleh Franz Xaver Niemetschek, pemuja Mozart dari Praha, dalam Leben des
K.K.Kapellmeisterswolfgang Gottlieb Mozart nach Originalquellen Beschrieben (1798). Ia juga
dianggap sebagai penulis pertama biografi Mozart.

Sebuah biografi utuh terbaru karya Maynard Solomon, Mozart: A Life (1995),merupakan buku yang
sangat mengesankan karena penulisnya memakai perspektif psikoanalisis dalam mengeksplorasi
penguasaan musik Mozart. Sebuah buku lebih dari 600 halaman ini mampu menyuguhkan informasi
tentang karir musik Mozart dan menelisik kehidupan batinnya yang ditulis secara mendetail. Dan
masih banyak buku-buku yang lain.

Sementara itu, buku yang ditulis oleh Peter Gay ini terfokus pada konflik endemik ayah-anak, dan
banyak mengutip buku hasil tesis Solomon. Inilah sisi lain kehidupan Mozart. Di satu sisi, dia harus
menerima perlakuan ayahnya yang dominan terhadap dirinya, di sisi lain dia harus tetap mencipta
dan menggubah karya musik yang bagus.

Bahkan, kisah hidup Mozart juga diangkat dalam pita seluloid pada 1984. Sebuah film yang diangkat
dari cerita hidup Mozart berjudul Amadeus garapan sutradara Milos Forman telah memenangkan
delapan Academy Award–sebuah penghargaan yang luar biasa.

Dalam sakit parah di masa-masa akhir hidupnya, sebuah Requiem agung diciptakannya, yang
ternyata menjadi pengantar kematiannya sendiri pada 1791. Mozart segera dilupakan orang. Tanda
kuburnya pun tak pernah diketahui pasti hingga sekarang. Seniman besar sepanjang abad ini
mewarisi dunia dengan karya musik dalam jumlah dan nilai keindahan yang luar biasa.

Kini, penghargaan dan festival musik di seluruh dunia yang menggunakan namanya semakin banyak.
Penghormatan dan penghargaan kian meluas. Selanjutnya, kita layak menyimak sebuah kaidah
mazhab Mozartian: semakin orang menganggap serius musik Mozart, semakin serius dia
diperhitungkan.
Mozart lahir dengan nama yang amat panjang, sebagaimana lazimnya orang-orang yang hidup di
Austria zaman wangsa Habsburg. Anda mesti menghabiskan satu tarikan napas untuk mengeja nama
lengkapnya: Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart.

Bapaknya, Leopold Mozart, dihormati penduduk Salzburg sebagai guru musik dan komponis yang
saleh. Sementara ibunya, Anna Maria Walburga, adalah putri seorang pejabat tinggi tingkat
kabupaten.

Sejak kecil, Mozart senior mendorong anak-anaknya bermain musik. Leopold dan Anna Maria punya
tujuh anak, lima di antaranya meninggal saat bayi. Mozart dan saudarinya, Maria Anna alias Nannerl,
adalah dua anak yang tersisa. Karena itu tidak mengherankan, Leopold amat menyayangi keduanya.

Pada umur 5, ketika anak sebayanya masih bermain pasir dan rumah-rumahan, Mozart sudah
menciptakan komposisi pertamanya. Itu cuma beberapa larik pendek yang dimainkan dengan piano.
Skornya pun masih ditulis sang bapak dan diberi judul “Minuet in G”.

Tiga tahun kemudian, kala usia Mozart menginjak 8, simfoni pertamanya selesai ditulis. Catatan di
skor orisinal tertera titi mangsa Agustus 1764. Di sinilah Mozart mulai dikenal sebagai wonderkid
dalam kancah musik Eropa.

“Mozart amat beruntung memiliki seorang ayah musisi berpengalaman. Leopold segera mengetahui
potensi Wolfgang. Ia pun membaktikan hidupnya demi mendukung bakat anaknya,” catat situs
Mozart.com.

Tapi Leopold adalah bapak yang ambisius. Ia tak puas dengan kecakapan sang anak bermain dan
menggubah musik. Leopold ingin seluruh Eropa mengetahuinya. Maka dibawalah Mozart kecil
berkeliling menunjukkan bakatnya dari satu kota ke kota lain. Dari istana para kaisar di Eropa barat
hingga Basilika Santo Petrus di Roma.

Di tengah kesibukan berkeliling, Mozart tetaplah bocah yang punya dunia sendiri. Ia sebenarnya
lebih senang bermain-main dengan teman sebaya ketimbang menuruti ambisi sang bapak. Tapi
hidup mesti berjalan. Leopold telah mengorbankan profesinya sebagai pengajar musik dan
berkonsentrasi penuh pada pertunjukan keliling anaknya yang menghasilkan banyak uang. Dengan
kata lain, Mozart kecil adalah tulang punggung keluarga.

Kelak, masa kecil yang terampas itu memengaruhi kepribadiannya yang arogan, manja, dan kekanak-
kanakan hingga Mozart dewasa. Apalagi sang ayah juga selalu mengekang kebebasannya.
Ketika Leopold meninggal pada 28 Mei 1787, Mozart mengalami kesedihan yang begitu mendalam
dan menerbitkan perasaan rindu-dendam kepada sosok kawan sekaligus ayah. Perasaan ini begitu
jelas tergambar kala lima bulan kemudian Mozart mementaskan operanya yang paling muram: Don
Giovanni.

Mozart tumbuh dan berkembang sebagai seorang dewasa sekaligus komponis produktif dalam
kondisi mental macam itu. Ia memang sangat berbakat dan barangkali layak digelari musisi paling
jenius sepanjang zaman. Tapi hampir semua karyanya lahir dari keadaan yang muram.

Hebatnya, Mozart mampu menyembunyikan kemuraman itu dalam musik-musiknya. Jika Anda
seksama mendengarkan beberapa karyanya yang paling menonjol dan menyimpulkan bahwa
mereka digubah Mozart dengan tujuan menghibur belaka, Anda tak sepenuhnya salah.

Bila dibandingkan dengan Beethoven, yang hidupnya sama-sama muram, Mozart bisa dijadikan
teladan yang baik bagaimana memperlakukan musik tak melulu soal kedalaman dan kepedihan.
Beethoven kelewat serius menggurat satu demi satu nada hingga dua baris saja seseorang
mempelajari partiturnya, ia akan sampai pada keyakinan: lelaki ini jelas pelamun ulung. Tapi ketika
beralih ke skor Mozart, sedikit sekali kegetiran di sana; bahkan cenderung playful dan main-main.

Salah satu adegan dalam Amadeus menggambarkan karakter musik Mozart dengan sangat
mengena. Di depan Kaisar Joseph II, Mozart, yang sedang mempresentasikan rencana operanya,
berkata tandas, “Hidupku memang getir, tapi musikku tidak.”