Anda di halaman 1dari 12

MODUL 1

KONSEP BENCANA

Oleh : Egidius Umbu Ndeta, S.Kep., M.Kes

A. Definisi Bencana
Menurut World Health Organization (2002) bencana adalah setiap
kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya
nyawa manusia, atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan
kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar
masyarakat atau wilayah yang terkena.
Menurut UU No.24 Tahun 2007 Bencana adalah peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis.
Definisi bencana mengandung tiga aspek dasar, yaitu:
1. Terjadinya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak
(hazard).
2. Peristiwa atau gangguan tersebut mengancam kehidupan, penghidupan,
dan fungsi dari masyarakat.
3. Ancaman tersebut mengakibatkan korban melampaui kemampuan
masyarakat untuk mengatasi dengan sumber daya mereka. (Himpunan
Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia, 2014)
B. Klasifikasi Bencana
Klasifikasi bencana menurut Undang – Undang No.24 Tahun 2007
Tentang Penanggulangan, antara lain:
1. Bencana alam (natural disaster)
Bencana yang terjadi secara alamiah karena terjadinya perubahan
kondisi alam semesta. Misalnya bencana alam yang berhubungan
dengan angina (puting beliung, badai, topan), api (kebakaran dan
letusan gunung api) (Priambodo, 2009). Bencana alam akan

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 1
mengganggu kehidupan masyarakat, menghancurkan harapan
masyarakat, menyebabkan kerugian bagi masyarakat sehingga terjadi
perubahan dalam kehidupan sosial serta kehilangan mata pencaharian
(Sukandarrumidi, 2010).
2. Bencana non alam
Kejadian yang biasanya disebabkan karena ulah tangan manusia sebagai
komponen sosial (Priambodo, 2009), sedangkan menurut Kodoatie dan
Syarief (2010) bencana non alam adalah bencana yang disebabkan
karena peristiwa nonalam, berupa kegagalan teknologi, kegagalan
dalam segi modernisasi, epidemic, dan wabah penyakit .
3. Bencana social
Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
disebabkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok
atau antar komunitas masyarakat.
C. Wilayah Bencana
Cakupan wilayah bencana menurut Efendi, dkk (2009), antara lain :
1. Bencana lokal, bencana yang memberikan dampak pada wilayah
sekitarnya dan biasanya diakibatkan karena ulah manusia, seperti
kebakaran, ledakan, terorisme, kebocoran bahan kimia, dan lainnya.
2. Bencana regional, bencana yang memberikan dampak geografis secara
luas dan disebabkan karena faktor alam, seperti badai, banjir, letusan
gunung api, tornado, dan lainnya.
D. Siklus Bencana
Terdapat 4 tahapan penanggulangan bencana (siklus bencana) menurut
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yaitu (BNPB, 2008) :

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 2
Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, agar setiap kegiatan
dalam setiap tahapan dapat berjalan dengan terarah, maka disusun suatu
rencana yang spesifik pada setiap tahapan penyelenggaraan
penanggulangan bencana.
1. Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana, dilakukan
penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Management
Plan), yang merupakan rencana umum dan menyeluruh yang meliputi
seluruh tahapan / bidang kerja kebencanaan. Secara khusus untuk upaya
pencegahan dan mitigasi bencana tertentu terdapat rencana yang disebut
rencana mitigasi misalnya Rencana Mitigasi Bencana Banjir DKI
Jakarta.
2. Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana
dilakukan penyusunan Rencana Kesiapsiagaan untuk menghadapi
keadaan darurat yang didasarkan atas skenario menghadapi bencana
tertentu (single hazard) maka disusun satu rencana yang disebut
Rencana Kontinjensi (Contingency Plan).
3. Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi (Operational
Plan) yang merupakan operasionalisasi/aktivasi dari Rencana
Kedaruratan atau Rencana Kontinjensi yang telah disusun sebelumnya.
4. Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan
(Recovery Plan) yang meliputi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi
yang dilakukan pada pasca bencana. Sedangkan jika bencana belum
terjadi, maka untuk mengantisipasi kejadian bencana dimasa mendatang
dilakukan penyusunan petunjuk /pedoman mekanisme penanggulangan
pasca bencana

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 3
Berikut ini adalah aktivitas pada siklus bencana :

(HIPGABI, 2014)

Resist Absorb Anticipate Respond Adapt Recovery

Mitigation Preparedness Response Recovery

Aktivitas yang Aktivitas yang Aktivitas, program, Aktivitas dan


menjadikan didasarkan pada tugas dan sistem program yang
sebuah kegiatan pemahaman yang telah disiapkan diatur untuk
sebagai dasar tentang sebelum terjadinya secara efektif
untuk mengurangi ancaman pada bencana telah dan efisien
kerusakan dan lingkungan dan diaktifkan dan mengembalikan
konsekuensi jika masyarakat dijalankan untuk kondisi pada
ancaman yang menjadi mengatur dari efek tingkatan yang
lingkungan terjadi subjek yang ditimbulkan dapat diterima
setelah terjadinya oleh lingkungan
ancaman pada dan masyarakat
lingkungan dan
masyarakat

E. Dampak bencana
Dampak bencana adalah akibat yang timbul dari kejadian bencana dapat
berupa korban jiwa, luka, pengungsian, kerusakan pada infrastruktur/aset,
lingkungan ekosistem, harta benda, gangguan pada stabilitas sosial-
ekonomi. Besar kecilnya dampak bencana tergantung pada tingkat
ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas/kemampuan
untuk menanggulangi bencana. Dampak bencana menurut Nurjanah, et al
(2011) dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Dampak langsung (direct impact), meliputi kerugian finansial dari
kerusakan asset ekonomi, misalnya rusaknya bangunan seperti tempat
tinggal dan tempat usaha.

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 4
2. Dampak tidak langsung (indirect impact) meliputi berhentinya proses
produksi, hilangnya sumber penerimaan yang dalam istilah ekonomi
disebut flow value.
3. Dampak sekunder (secondary impact) atau dampak lanjutan. Misalnya
terhambatnya pertumbuhan ekonomi, terganggunya rencana
pembangunan yang telah disusun, meningkatnya angka kemiskinan dan
lain-lain.

Dampak langsung akibat bencana alam lebih mudah dilakukan dari pada
dampak tidak langsung dan dampak sekunder. Kesulitan yang ada adalah
melalukan estimasi secara tepat total kerugian padahal untuk menentukan
skala bantuan yang optimal dibutuhkan penghitungan kerugian secara
tepat. Disamping dampak bencana yang dikemukakan diatas, terdapat
dampak yang sering kurang menapatkan perhatian yaitu dampak
psikologis. Dampak bencana ini mengakibatkan terganggunya
keseimbangan kondisi psikologis seseorang.

F. Paradigma Penanggulangan Bencana


Berbagai pandangan tentang bencana berkembang dari waktu ke waktu,
terkait dengan tingkat pemahaman terhadap kejadian bencana, yaitu:
1. Pandangan Konvensional
Pandangan ini menganggap bahwa bencana merupakan takdir dari
Tuhan Yang Maha Esa. Bencana dianggap sebagai takdir (musibah atau
kecelakaan). Karena dianggap sebagai takdir berupa musibah/
kecelakaan, menurut pandangan ini bencana tidak dapat diprediksi
karena tidak menentu datangnya dan tidak dapat dihindari serta dapat
dikendalikan. Menurut pandangan ini pula, masyarakat adalah korban
yang berhak menerima bantuan dari pihak luar.
2. Pandangan Ilmu Pengetahuan Alam
Pandangan ini mengemukakan tentang bencana berdasarkan ilmu
pengetahuan alam yang menganggap bahwa bencana sebagai unsur
lingkungan fisik yang membahayakan kehidupan manusia. Bencana
dipandang sebagai kekuatan alam yang luar biasa. Dalam periode ini

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 5
mulai dipahami bahwa bencana merupakan proses geofisik, geologi dan
hydro-meterology. Dari aspek ilmu pengetahuan alam, pandangan ini
memang berkembang dan menganggap semua bencana adalah peristiwa
alamiah yang tidak memperhitungkan manusia sebagai penyebab
terjadinya bencana.
3. Pandangan Ilmu Terapan
Perkembangan ilmu alam murni mulai bervariasi dengan
berkembangnya ilmu-ilmu terapan. Pandangan ilmu terapan melihat
bencana didasarkan pada besarnya ketahanan atau tingkat kerusakan
akibat bencana. Pandangan ini melatarbelakangi oleh ilmu-ilmu teknik
sipil bangunan/ konstruksi. Pengkajian bencana lebih ditujukan pada
upaya untuk meningkatkan kekuatan fisik struktur bangunan untuk
memperkecil kerusakan.
4. Pandangan Progresif
Zaman berkembang terus, pemikiran dan imajinasi manusia juga
berkembang sehingga lahirlah pandangan progresif yang menganggap
bencana sebagai bagian yang biasa dan selalu terjadi dalam
pembangunan. Artinya, bencana merupakan masalah yang tidak pernah
berhenti dalam proses pembangunan. Peran pemerintah dan masyarakat
dalam manajemen bencana adalah mengenali bencana itu sendiri.
5. Pandangan Ilmu Sosial
Pandangan ini memfokuskan pada sisi manusianya, bagaimana sikap
dan kesiapan masyarakat menghadapi bahaya. Ancaman bahaya adalah
fenomena alam, akan tetapi bahaya itu tidak akan berubah menjadi
bencana jika manusianya siap atau tanggap. Besarnya bencana
tergantung pada perbedaan tingkat kerentanan masyarakat menghadapi
bahaya atau ancaman bencana.
6. Pandangan Holistik
Pendekatan ini menekankan pada adanya bahaya, kerentanan dan risiko
serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi bahaya dan risiko.
Gejala alam dapat menjadi bahaya, jika mengancam manusia dan harta
benda. Bahaya jika bertemu dengan kerentanan dan ketidakmampuan

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 6
masyarakat akan menjadi risiko bencana. Risiko bencana akan berubah
menjadi bencana, jika ada pemicu kejadian.

Selain berkembang pandangan tentang bencana, juga berkembang


paradigma tentang tindakan/cara untuk menanggulangi bencana, yakni:

1. Paradigma Bantuan Darurat


Paradigma ini berkaitan dengan pandangan konvensional yang
menyatakan bahwa bencana itu takdir ilahi sehingga masyarakat
dipandang sebagai korban dan penerima bantuan. Paradigma ini
memfokuskan pada saat kejadian bencana melalui pemberian bantuan
darurat (relief) berupa evakuasi/pertolongan korban, bantuan pangan,
penampungan, dan layanan kesehatan. Tujuan utamanya adalah untuk
meringankan penderitaan korban, mencegah meluasnya kerusakan dan
segera mempercepat pemulihan.
2. Paradigma Mitigasi
Paradigma ini memfokuskan pada pengenalan daerah rawan ancaman
bencana dan pola perilaku individu.masyarakat yang rentan terhadap
bencana. Tujuan utama mitigasi terhadap ancaman bencana dilakukan
antara lain melalui pembuatan struktur bangunan, sedangkan mitigasi
terhadap pola perilaku yang rentan dilakukan antara lain melalui
relokasi permukiman, peraturan-peraturan bangunan dan penataan
ruang.
3. Paradigma Pembangunan
Paradigma ini memfokuskan pada faktor penyebab dan proses
terjadinya kerentanan masyarakat terhadap bencana. Tujuan utamanya
adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat di berbagai aspek
non-struktural misalnya pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas
hidup, pemilikan lahan, akses terhadap modal, dan inovasi teknologi.
4. Paradigma Pengurangan Risiko
Paradigma ini memfokuskan pada analisis risiko bencana, ancaman,
kerentanan dan kemampuan masyarakat. Tujuan utamanya adalah untuk
meningkatkan kemampuan dalam rangka mengelola dan mengurangi

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 7
risiko dan juga mengurangi terjadinya bencana. Hal ini dilakukan
secara bersama-sama oleh semua pihak (stakeholder) melalui
pemberdayaan masyarakat.
G. Pengelompokan Jenis Bencana
1. Hidrometeorologi
a. Banjir
1) Aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal
sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya
genangan pada lahan rendah disisi sungai. Aliran air limpasan
tersebut yang semakin meninggi, mengalir dan melimpasi muka
tanah yang biasanya tidak dilewati aliran air.
2) Gelombang banjir berjalan kearah hilir sistem sungai yang
berinteraksi dengan kenaikan muka air dimuara akibat badai.
b. Angin Badai
Pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau
lebih yang sering terjadi di wilayah tropis di antara garis balik utara
dan selatan, kecuali di daerah‐daerah yang sangat dekat dengan
khatulistiwa. Angin kencang ini disebabkan oleh perbedaan tekanan
dalam suatu system cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di
daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer
di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem. Sistem
pusaran ini bergerak dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Di
Indonesia, angin ini dikenal sebagai badai, di Samudra Pasifik
sebagai angin taifun (typhoon), di Samudra Hindia disebut siklon
(cyclone), dan di Amerika dinamakan hurricane.
c. Gelombang Pasang/Badai
Pengertian gelombang laut (ideal) adalah pergerakan naik turunnya
muka air laut yang membentuk lembah dan bukit mengikuti gerak
sinusoidal. Pengertian gelombang yang dijelaskan di atas merupakan
gelombang periode singkat (wave of short period), yang biasanya
dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut. Selain tipe
gelombang diatas, terdapat juga gelombang periode panjang (wave of

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 8
long period) yang mempunyai periode lebih lama dari gelombang
yang disebabkan oleh angin.
d. Kekeringan
Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh di
bawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian,
kegiatan ekonomi dan lingkungan.
2. Geologi
a. Gempa Bumi
Gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh
tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunungapi
atau runtuhan batuan. Kekuatan gempabumi akibat aktivitas
gunungapi dan runtuhan batuan relatif kecil sehingga kita akan
memusatkan pembahasan pada gempa bumi akibat tumbukan antar
lempeng bumi dan patahan aktif. Gempa bumi merupakan peristiwa
pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada
bagian dalam bumi secara tiba‐tiba. Penyebab :
1) Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
2) Aktivitas sesar dipermukaan bumi
3) Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadinya
runtuhan tanah
4) Aktivitas gunung api
5) Ledakan Nuklir
b. Tsunami
Tsunami berasal dari bahasa Jepang. “tsu” berarti pelabuhan, “nami”
berarti gelombang sehingga secara umum diartikan sebagai pasang
laut yang besar di Pelabuhan. Tsunami dapat diartikan sebagai
gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh
gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsive tersebut bisa
berupa gempabumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran.
Ada beberapa penyebab terjadinya tsunami:
1) Gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa
tanah/batuan yang sangat besar di bawah air (laut/danau)/

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 9
2) Tanah longsor di bawah tubuh air/laut.
3) Letusan gunungapi di bawah laut dan gunung api pulau.
c. Letusan Gunung Api
Gunung api adalah bentuk timbunan (kerucut dan lainnya) di
permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah letusan, atau
tempat munculnya batuan lelehan (magma)/rempah lepas/gas yang
berasal dari bagian dalam bumi. Penyebab :
1) Pancaran magma dari dalam bumi yang berasosiasi dengan arus
konveksi panas
2) Proses tektonik dari pergerakan dan pembentukan lempeng/ kulit
bumi
3) Akumulasi tekanan dan temperatur dari fluida magma
menimbulkan pelepasan energy
d. Tanah Longsor
Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau
batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng
akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun
lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan
kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng.
3. Lingkungan
a. Kebakaran Hutan Dan Lahan
Kebakaran hutan dan lahan, adalah perubahan langsung atau tidak
langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang menyebabkan
kurang berfungsinya hutan atau lahan dalam menunjang
kehidupanan yang berkelanjutan sebagai akibat dari penggunaan api
yang tidak terkendali maupun faktor alam yang dapat mengakibatkan
terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan.
4. Teknologi
a. Kegagalan Teknologi
Semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain,
pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam
penggunaan teknologi dan atau industri.

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 10
5. Biologi
a. Wabah Penyakit
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata
melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Secara umum
penyebab wabah dikelompokkan sebagai berikut :
1) Toksin (kimia & biologi).
2) Infeksi (virus, bakteri, protozoa dan cacing).

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 11
DAFTAR PUSTAKA

BNPB. 2008. Pedoman Penyusunan Rencana Penaggulangan Bencana. Jakarta:


BNPB

Efendi, F. dan Makhfudli (2009) Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta:


Salemba Medika.

Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia.(2014). Modul


Pelatihan Keperawatan Bencana Dasar

Nurjanah et al. (2011) Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta.

Priambodo, Arie. 2009. Panduan Praktis Menghadapi Bencana. Yogyakarta:


Kanisius.

Sukandarrumidi. 2010. Bencana Alam & Bencana Anthropogene. Penerbit


KANISIUS.

Undang Undang No.24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.

World Health Organization and International Council of Nurses. 2009. ICN


Framework of Disaster Nursing Competencies. Genewa Switzerland.

MODUL 1
KONSEP BENCANA Page 12