Anda di halaman 1dari 11

Uji Linearitas mA dan Reproducibility

Eksposi Generator Sinar X


Disusun Untuk Memenuhi Kriteria Penilaian Mata kuliah Kendali dan Jaminan
Mutu Radiologi yang Diampu Oleh Bapak Bagus Abimanyu, S.Si., M. Pd.

KELOMPOK EMPAT :

PROGAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK RADIOLOGI

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2015

PRAKTIKUM JMR

Uji Linearitas mA dan Reproducibility Eksposi Generator Sinar X

I. Tujuan

A. Umum
Menguji Linearitas nilai mA dan ketepatan faktor eksposi yang
digunakan pada pesawat yang ada di Laboratorium Jurusan Teknik
Radiodiagnostik dan Radioterapi Semarang

B. Khusus

1. Dapat menjelaskan tujuan dilakukannya uji linearitas mA, reproducibility


dan reciprocity

2. Dapat menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap linearitas mA


dan ketidaktepatan faktor ekposi yang digunakan

3. Dapat menjelaskan hubungan dan pengaruh suatu ketepatan faktor eksposi


terhadap kualitas radiografi

II. Materi Praktikum Uji Kinerja Processor

A. Pendahuluan

Pengujian mutu pesawat sinar X dapat melalui uji kolimator, uji


grid, uji bucky, dan uji reciprocity – linearity mAs. Uji linearitas adalah
untuk menilai kenaikan sekuensial pada mAs harus memproduksi
kenaikan sekuensial yang sama pada hasil eksposi. Dengan kata lain, jika
faktor eksposi 70 kVp dan 10 mAs memproduksi 50 mR eksposi pada
dosimeter, maka faktor eksposi 70 kVp dan 20 mAs dengan pesawat yang
sama harus menghasilkan eksposi 100mR.
X mA , Y s = XY mAs -> XY mR
2X mA, Y s = 2XY mAs -> 2XY mR
Linearity varian :

(mR/mAs max−mR/mAs min )


mR/mAsaverage : 2 x 100 %
Dengan ketentuan standar deviasi < 10%.

Uji reprocity adalah uji untuk menilai mAs dengan kombinasi mA


dan s yang berbeda akan menghasilkan output radiasi yang sama. Dengan
kata lain, jika faktor eksposi menggunakan mAs 20 dengan kombinasi 200
mA dan 0,1 s menghasilkan eksposi 50 mR maka apabila menggunakan
kombinasi 100 mA dan 0,2 s menghasilkan eksposi yang sama juga.
Dengan ketentuan standar deviasi yang diperbolehkan adalah < 10%.
(mR / mAs max  mR / mAs min)
Reciprocity varian : mR / mAsaverage : 2 x 100 %

Uji reproducibility adalah uji untuk menilai faktor eksposi, apabila


faktor eksposi yang digunakan tetap maka jika diulang sebanyak apapun
akan menghasilkan radiasi yang sama, dengan kata lain, jika faktor eksposi
yang digunakan 70 kV dan 20 mAs menghasilkan output radiasi 50 mR
maka apabila faktor eksposi tersebut diulang sebanyak 3 kali maka akan
menghasilkan output radiasi yang sama juga.Dengan ketentuan standar
deviasi yang diperbolehkan adalah ≤ 5%.
Reproducibility varian :

(mR max  mR min)


mR max  mR min x 100%

B. Pelaksanaan

1. Nama Tim Kendali Mutu : Kelompok 4

2. Waktu Pelaksanaan : Rabu, 24 Juni 2015. 13.30-15.00 WIB

3. Persiapan Peralatan dan Bahan :


a) Pesawat Sinar X

b) Survey Meter Ram Ion

c) Poket Dosimeter

d) Stepwedge

e) Kaset dan Film ukuran 24 x 30 cm

f) Cairan Prosesing dan alat pengering (drying)

g) Densitometer

4. Prosedur pengujian

Percobaan yang akan dilakukan menggunakan 2 metode, yaitu


metode stepwedge dan metode dosimeter. Prosedur praktikum yang akan
dilakukan yaitu :

A) Metode Stepwedge
 Menyiapkan alat dan bahan uji praktikkum yang akan digunakan
 Meletakkan stepwedge diatas kaset. Mengatur luas lapangan sebatas
luasan stepwedge dan harus menggunakan 1/3 bagian dari kaset
yang digunakan.
 Mengeksposi kaset yang sudah terisi film, dengan nilai kVp dan
mAs sama, namun dengan kombinasi pengaturan mAs (55 kVp, 16
mAs)
Exposure 1 = 200 mA, 0,8 sekon.
Exposure 2 = 160 mA, 0,1 sekon.
Exposure 3 = 100 mA, 0,16 sekon.
 Memproses film pada manual prosesing dan dikeringkan
 Mengukur densitas radiograf yang dihasilkan dengan menggunakan
densitometer.
B) Metode Poket Dosimeter
Dalam metode ini dilakukan uji linearitas mA dan Reproducibility

1) Linearitas mA

 Menyiapkan semua alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini


 Meletakkan poket dosimeter dalam keadaan nol diatas meja
pemeriksaan
 Mengatur lampu kolimator seminimal mungkin, dan
memastikan poket berada di pertengahan lampu kolimator
dosimeter.
 Mengatur faktor eksposi kV 60 dan mAs 20 dan melakukan
eksposi
 Melihat hasil dan mereset poket dosimeter kembali
 Melakukan eksposi kembali dengan kV tetap 60, sedangkan
mAs berubah menjadi 10 dan 5.
 Menganalisis terhadap hasil yang didapat

2) Reproducibility

 Menyiapkan semua alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini


 Meletakkan poket dosimeter dalam keadaan nol diatas meja
pemeriksaan
 Mengatur lampu kolimator seminimal mungkin, dan
memastikan poket berada di pertengahan lampu kolimator
dosimeter.
 Mengatur faktor eksposi kV 60 dan mAs 20 dan melakukan
eksposi
 Melihat hasil dan mereset poket dosimeter kembali
 Melakukan eksposi kembali dengan kV dan mAs tetap
 Menganalisis terhadap hasil yang didapat
III. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

1. Data hasil praktikum


a. Tabel.1 hasil pengukuran reciprocity menggunakan densitometer
dengan kV 55, mA 200, dan 0.08 s. stepwedge diletakkan di dekat
window kaset.

Step 1 2 3 Rata-rata
1 0.81 0.81 0.81 0.81
2 0.94 0.94 0.94 0.94
3 1.11 1.11 1.11 1.11
4 1.20 1.21 1.22 1.21
5 1.26 1.26 1.26 1.26
6 1.34 1.34 1.34 1.34
7 1.37 1.37 1.37 1.37
8 1.42 1.42 1.42 1.42
9 1.61 1.61 1.61 1.61
10 1.81 1.81 1.81 1.81
11 1.67 1.67 1.67 1.67
b. Tabel.2 hasil pengukuran reciprocity menggunakan densitometer
dengan kV 55, mA 160, dan 0.1 s. stepwedge diletakkan dekat
dengan pertengahan kaset.

Step 1 2 3 Rata-rata
1 0.46 0.46 0.46 0.46
2 0.79 0.80 0.80 0.80
3 1.11 1.11 1.11 1.11
4 1.48 1.49 1.49 1.49
5 1.84 1.84 1.84 1.84
6 2.09 2.10 2.10 2.10
7 2.27 2.27 2.28 2.27
8 2.38 2.39 2.39 2.39
9 2.46 2.46 2.46 2.46
10 2.50 2.51 2.51 2.51
11 2.53 2.54 2.54 2.54

c. Tabel.3 hasil pengukuran reciprocity menggunakan densitometer


dengan kV 55, mA 100, dan 0.16 s. stepwedge diletakkan pada tepi
kaset.

Step 1 2 3 Rata-rata
1 0.55 0.56 0.56 0.56
2 0.87 0.88 088 0.88
3 1.22 1.22 1.22 1.22
4 1.58 1.58 1.59 1.58
5 1.91 1.92 1.92 1.92
6 2.17 2.18 2.18 2.18
7 2.37 2.38 2.38 2.38
8 2.49 2.50 2.49 2.49
9 2.53 2.53 2.54 2.53
10 2.53 2. 54 2.54 2.54
11 2.55 2.56 2.56 2.56
d. Tabel.4 perbandingan antara tabel.1 tabel.2 dan tabel.3

Step Tabel.1 Tabel.2 Tabel.3


11 1.67 2.54 2.56
10 1.81 2.51 2.54
9 1.61 2.46 2.53
8 1.42 2.39 2.49
7 1.37 2.27 2.38
‘ 6 1.34 2.10 2.18
5 1.26 1.84 1.92
4 1.21 1.49 1.58
3 1.11 1.11 1.22
2 0.94 0.80 0.88
1 0.81 0.46 0.56

E Hasil pengukuran menggunakan dosimeter


 Hasil pengukuran reproducibilitas dengan dosimeter
menggunakan faktor eksposi 60 kV dan 20 mAs
o 0.23
o 0.24
o 0.23, dengan rata-rata = 0,23
Perhitungan :
Dengan ketentuan standar deviasi yang diperbolehkan adalah ≤5%.
(mR max  mR min)
Reproducibility varian : mR max  mR min x 100%
(0,24  0,23)
Reproducibility : 0,24  0,23
0,01
: 0,47
: 2,1 % (memenuhi standar)
 Hasil pengukuran linearitas dengan dosimeter menggunakan
faktor eksposi 60 kV dan 10 mAs
o 0.12
 Hasil pengukuran dosimeter menggunakan faktor eksposi 60
kV dan 5 mAs
o 0.06
(mR / mAs max  mR / mAs min)
Uji Linearitas : mR / mAsaverage : 2 x 100 %
(0,23 / 20  0,06 / 5)
: 0,41 / 11,67 : 2 x 100 %
(0,0115  0,012)
: 0,035 : 2 x 100 %
(0,005)
: 0,035 : 2 x 100 %
: 0,142 : 2 x 100%
: 0,071 x 100%
: 7 % ( memenuhi standar )
Dengan ketentuan standar deviasi < 10%.

B. Pembahasan
Pada praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa :

Pada uji reciprocity, berdasarkan perbandingan densitas dari ketiga


stepwedge (posisi stepwedge dekaat dengan window, stepwedge pada
pertengahan kaset, dan stepwedge pada tepi kaset) terdapat penyimpangan
rentang densitas, yakni densitas stepwedge bagian window (eksposi
pertama) pada step 1 dengan densitas stepwedge pertengahaan kaset
(eksposi kedua) pada step 2. Penyimpangan yang terjadi sebesar 0.1,
dengan densitas stepwedge window step 1sebesar 0,81 dan densitas
stepwedgge tengah step 2 sebesar 0,80 . Sehingga dapat dikatakan bahwa
hasil pengujian reciprotsitas pada pesawat sinar-x yang ada pada
Laboratoeium Empat, perlu dilakukan perbaikkan, karena terdapat nilai
densitas yang melebihi nilai densitas step diatasnya, meskipun
penyimpangan yang terjadi hanya pada satu step saja.

Pada uji reproducibility, dengan menggunakan kV 60 dan mAs 2,


dihasilkan nilai dengan rata-rata 0,23 mSv. Pengujian ini dukur dengan alat
poket dosimeter. Setelah dimasukkan ke dalam rumus, hasil yang diperoleh
yakni 2,1% dan hal ini tidak melebihi standar yang telah ditentukan.

Sedangkan pada uji linearity, dengan menggunakan alat poket


dosimeter didapatkan hasil, pada penggunaan kV 60 dan mAs 20 sebesar
0,24 mSv, pada kV 60 dan mAs 10 dihasilkan 0,12 mSv lalu pada
penggunaan kV 60 dan mAs 5 dihasilkan nilai 0,06 mSv. Setelah
dimasukkan ke dalam rumus, hasil yang diperoleh yakni 7% dan hal ini
tidak melebihi standar yang telah ditentukan. Berdasarkan teori, jika pada
penggunaan kV yang tetap sedangkan pada nilai mAs berubah, akan
menyebabkan kenaikan sekuensial pada nilai output radiasi yang sebanding
dengan kenaikan sekuensial pada mAs. Pada praktikum linearitas, hal ini
terbukti, yakni nilai output radiasi dengan kenaikan sekuensial nilai mAs
adalah sama.

IV. Penutup
A. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil


kesimpulan bahwa pada uji reciprositas, terjadi penyimpangan dan perlu
dilakukan perbaikkan. Pada uji linearity, jika pada penggunaan kV yang
tetap sedangkan pada nilai mAs berubah, akan menyebabkan kenaikan
sekuensial pada nilai output radiasi yang sebanding dengan kenaikan
sekuensial pada mAs. Dengan hasil variabel linearitas yang didapat
sebesar 7%. Dan pada uji reproducibility, penggunaaan faktor eksposi yang
berulang akan menghasilkan output radiasi yang sama. Dengan variabel
reproducibilitas yang didapat sebesar 2.12 %.

B. Saran

Perlunya perawatan terhadap alat-alat pengujian yang terdapat di


Laboratorium Empat Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
Semarang. Lalu, alat tersabut harus terkalibrasi secara rutin, agar dalam
setiap pengukuran atau pengujian dapat dihasilkan nilai yang akurat. Serta,
perlunya perawatan pada pesawat sinar x agar terpelihara dengan kondisi
yang tetap baik dan dapat dihasilkan radiograf yang lebih baik lagi.

V. Daftar Pustaka

Papp, Jeffrey. 2006. Quality Management in the Science. ____