Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH LINGUISTIK

LINGUISTIK ALIRAN TRANFORMASIONAL DAN ALIRAN –


ALIRAN SESUDAHNYA

DISUSUN OLEH:

Ahmad Rizki Fathan (032119089)


Evita Hasan (032119083)
Siti Hadayani (032119082)
Zahrah Wafiyyah (032119040)

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PAKUAN

BOGOR

2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Sejarah dan
Aliran Linguistik ini dengan sebaik mungkin.

Kami menyadari benar bahwa lingustik mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Karena linguistik akan memberikan manfaat langsung kepada mereka
yang berkecimpung dalam kegiatan yang berkaitan dengan bahasa, seperti seorang linguis,
guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, penyusun kamus, atau kepada seorang
mahasiswa sekalipun yang sedang mempelajari ilmu kebahasaan secara mendalam. Selain itu,
bahasa merupakan identitas bangsa. Jadi, sudah sewajarnya kita mengetahui dan mempelajari
bahasa bangsa kita sendiri. Jangan sampai orang lain yang lebih ahli.

Kami selaku penyusun menyadari penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna. Mengingat
adanya keterbatasan, atau pun pengalaman yang kami miliki. Oleh karena itu, kami
membutuhkan saran atau pun kritik yang sifatnya membangun. Semoga makalah yang kami
buat ini mampu membantu rekan-rekan sekalian dalam proses pembelajaran dan yang
lainnya.

Akhir kata kami ucapkan banyak terima kasih pada berbagai pihak, atau sumber buku yang
membantu proses penyelesaian makalah ini.
DAFTAR ISI
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, karena
dengan bahasa seseorang dapat menyampaikan maksud dan keinginan kepada orang lain.
Dengan kata lain seseorang dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan manusia lain,
seperti yang dikatakan oleh Kridalaksana (1983:45) bahwa bahasa adalah sistem lambang
bunyi arbitrer, yang digunakan oleh para kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi
dan mengidentifikasikan diri.

Ada orang yang beranggapan bahwa kompetensi penggunaan bahasa seakan-akan dicapai
dengan sempurna melalui keturunan dan warisan saja. Pandangan ini keliru karena
kemampuan penguasaan dan penggunaan bahasa harus melalui latihan-latihan baik mengenai
pengucapan maupun mempergunakan bahasa dengan baik dan benar. Di lain pihak ada
komunikasi dilakukan dengan tulisan. Hal tersebut berarti kompetensi menyatakan pikiran
dan perasaan dalam bentuk tulisan dan kemampuan memakai apa yang dicoba. Jadi relevansi
bahasa terhadap pemikiran manusia sangat erat sekali.

Sesuai dengan kodrat manusia maka kerangka karangan pemikirannya tetap berkembang,
sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya sehingga perkembangan bahasa juga ikut serta di
dalamnya. Bukti yang nyata adalah ilmu pengetahuan dengan perkembangan tidak mungkin
diterapkan tanpa bahasa.

Dunia ilmu, termasuk linguistik, bukan merupakan kegiatan yang statis,melainkan merupakan
kegiatan yang dinamis; berkembang terus, sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu
ingin mencari kebenaran yang hakiki. Begitulah, linguistik transformasi lahir karena
ketidakpuasan linguistik struktural, linguistik struktural lahir karena tidak puas dengan
pendekatan dan prosedur yang digunakan linguistik tradisional dalam menganalisis bahasa.
Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi berbagai aliran dan paham yang dari
luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan terutama bagi para
pemula (Chaer, 2003:332). Sejarah linguistik yang sangat panjang telah melahirkan berbagai
aliran-aliran linguistik. Masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda-
beda tentang bahasa, tapi pada prinsipnya aliran tersebut merupakan penyempurnaan dari
aliran-aliran sebelumnya. Oleh karena itu, dengan mengenal dan memahami aliran-aliran
tersebut akan menjadi pedoman bagi setiap orang untuk dapat memilih atau mengacu kepada
aliran linguistik yang menurutnya baik dan sesuai dengan bahasanya.
Dalam pembahasan kali ini akan dipaparkan salah satu sejarah perkembangan aliran-aliran
linguistik yaitu aliran transformasional. Aliran Transformational Generative Grammer atau
transformasi generatifini dicetuskan oleh Chomsky (1965) kemudian dikembangkan oleh
Halle(1973) dan Aronoff (1976). Selanjutnya teori ini dimodifikasi olehDardjowidjojo (1988)
dan disesuaikannya dengan sistem bahasa Indonesia. Sesuai dengan latar belakang yang
telah disebutkan, maka muncul pertanyaan yaitu apa itu transformasi generatif? Bagaimana
sejarahnya? Apa-apa saja ciri-cirinya? dan contohnya tulisan yang memakai teori
transformasigeneratif?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Linguistik Tranformasional Dan Aliran – Aliran Sesudahnya

8.3 Linguistik Tranformasional

Dalam ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis,melainakan


merupakan kegiatan yang dinamis berkembangnya terus sesai dengan filsafat ilmu itu sendiri
yang selalu ingin mencari kebeneran yang hakiki.Namun, kemudian model transformasi ini
pun dirasakan orang banyak kelemahannya ,sehingga orang membuat model lain pula ,yang
dianggap lebik baik.

8.3.1 Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa transfomasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic
Structure pada tahun 1957,yang kemudian diperkembangkan karena adanya kritik dan saran
dari berbagai pihak,didalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect Of The Theory
Of Syntax pada tahun 1965. Nama yang dikembangkan untuk model tata bahasa yang
dikembangkan oleh Chomsky ini adalah Transformational Generative Grammar tetapi dalam
bahasa transfornasi atau tata bahasa generatif.sedangkan menurut Chomsky salah satu tujuan
dari bahasa dari bahasa tersebut.bahsa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri
dari deretan bunyi yang mempunyai makna.tata bahasa haruslah mengganbarkan hubungan
bunyi dan arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas.

Menurut Chomksy adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan tata bahasa itu harus
memenuhidua syarat yaitu:

1. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai
bahasa tersebut,sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat
2. Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa,sehinnga satuan atau istilah
yang digunakan tidak berdasarakan pada gejala bahasa tertentu saja ,dan semuanya ini
harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
Chomsky membedakan antara kemampuan (competence) dan perbuatan berbahasa
(performance). Dalam tata bahasa transformasional ini kemampuanlah yang menjadi
objeknya, meskipun perbuatan berbahasa juga penting. Competence adalah kemungkinan
yang terwaris dan tersimpan dalam otak manusia itu memberikan kemungkinan kepadanya
untuk melaksanakan proses berbahasa. Dengan kata lain competence adalah pengetahuan
yang dimiliki oleh pemakai bahasa mengenai bahasanya. Ia berpendapat bahwa sebenarnya
kalimat yang kita dengar dari seorang pembicara bahasa tertentu itu pada umumnya adalah
kalimat-kalimat yang baru.

Sedangkan performance merupakan pencerminan dari, yang juga dipengaruhi oleh berbagai
situasi mental dan lingkungan real seperti keterbatasan ingatan, keteledoran, kecerobohan dan
sebagainya. Oleh karena itu, agar performance benar- competence benar merupakan
pencerminan competence atau bunyi dan makna bersesuai dengan kaidah-kaidah competence,
maka faktor- faktor ekstralinguistik tersebut sejauh mungkin dihindari. Dengan kata lain
dapat kita katakan bahwa performance adalah pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan
yang sebenarnya.

Menurut aliran transformasi, sebuah tata bahasa hendaknya terdiri dari sekelompok kaidah
yang tertentu jumlahnya, tetapi dapat menghasilkan kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
Seseorang bisa membuat berbagai kalimat yang tidak terbatas jumlahnya dan bisa ia
mengerti, yang mana sebagian besar kalimat tersebut barangkali belum pernah diucapkan
ataupun didengar, kemampuan tersebut dinamakan aspek kreatif bahasa.

Secara umum transformasi generatif merupakan proses atau kaidah perubahan dari struktur
dalam, menjadi struktur luar atau permukaannya, baik dalam menambah, mengurangi
(penghilangan), permutasi, maupun pergantian. Teori transformasi generatif meninjau aspek
bahasa berdasarkan sudut pandang bahasa itu sendiri, serta menelaah unsur-unsur dan
fungsinya dalam bahasa yang diteliti. Beberapa ahli tata bahasa membuat batasan-batasan
transformasi di bawah ini:

a. Keraf ( 1980: 153) ―Transformasi adalah suatau proses merubah bentuk bahasa
menjadi bentuk-bentuk lain, baik dari bentuk sederhana ke bentuk yang kompleks
maupun dari bentuk kompleks ke bentuk yang sederhana‖.
b. Samsuri (1981 :35) ―Transformasi adalah proses atau hasil pengubahan sebuah struktur
kebebasan atau struktur yang lain menurut kaidah tertentu‖.

c. Kridalaksana (1984 :198) ―Transformasi adalah kaidah untuk mengubah struktur


gramatikal lain dengan menambah, mengurangi, atau mengatur kembali konstituen-
konstituennya‖.

d. Rosenbaun (1968 : 28) “Transformasi convert one sentences structure by performing


verious operations on the constituens making up there tructure”. Terjemahannya:
―Transformasi adalah proses perubahan struktur dalam suatu kalimat ke dalam struktur luar
atau struktur permukaannya‖.

e. Kridalaksana, (1993,69) Tata bahasa transformasi generatif merupakan teori linguistik


yang menyatakan bahwa tujuan linguistik ialah menemukan apa yang semesta dan teratur
dalam kemampuan manusia untuk memahami dan menghasilkan kalimat-kalimat yang
gramatikal. Kalimat dianggap sebagai satuan dasar, dan hubungan antara unsur-unsur dalam
struktur kalimat diuraikan atas abstraksi yang disebut kaidah struktur frase dan kaidah
transformasi.

8.2.3 Sematik Generatif

Menjelang dasaawarsa tujuh puluhan beberapa muri dan pengikut Chomsky ,antara lain
postal ,lakoff.Mc Cawly ,dan Kiparsky,sebagai reaksi terhadap Chomsky ,memisahkan diri
dari kelompok Chomsky,dan membentuk aliran sendiri.menurut teori sematik generatif
,argumen adalah segala sesuatu yang dibicarakan sedangkan predikat itu semua yang
menunjukakan hubungan,perbuatan sifat,keanggotaan ,dan sebagainya .jadi dalam
menganalisis sebuah kalimat,teori ini berusaha mengabstraksikan predikatnya dan
menentukan argumen-argumennya.contoh diberikan oleh Mc Cawly terhadap kata kill dalam
kalimat bahasa inggris John Killed Harry ,yang memperoleh CAUSE John,COME ABOUNT
BE DEAD (Harry).pararel dengan predikat dalam bahasa indonesia
MEMBUNUH=MENYEBABKAN ( X), MENJADI MATI (Y).
8.3.3 Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam
karangannya berjudul “The Case For Case” tahun 1968 yang dimuat dalam buku Bach, E dan
R.Hams Universal in Linguistic Theory,terbitan Holt Rinehart and Winston.yang dimaksud
dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina
Makna kalimat dalam teori dirumuskan dalam bentuk berikut.

+ [--- X, Y, Z ]

Tanda --- dipakai untuk menandai posisi verba dalam sutruktur semantis, sedangkan X, Y, Z
adalah argumen yang berkaitan dengan verba atau predikat itu yang biasanya diberi label
kasus. Makna kalimat di atas adalah berikut ini.

OPEN, + [ --- A, I, O]

A = Agent, pelaku

I = Instrument, alat

O = Object, tujuan

2.2 Pembedaan dan Macam-macam Kasus

Fillmore menjelaskan posisinya lebih lanjut tentang gagasan kasus batin sebagai dasar untuk
menerangkan berbagai fungsi (frasa) nomina dalam kalimat- kalimat. Dalam karangannya
Some Problems for Case Grammar, Fillmore membicarakan berbagai masalah dalam
kategorisasi kasus, dan memberikan saran pemecahannya. Dia juga mengeluarkan dua prinsip
dalam menghadapi pemecahan masalah itu, yaitu :

(1) Bahwa hanya terdapat satu kasus bagi tiap (frasa) nomina dalam sebuah klausa.

(2) Bahwa jika kita ambil sebuah predikator, yang secara intuitif dilihat sebagai memberikan
fungsi-fungsi semantik kepada (frasa) nomina (frasa) nomina yang terdapat pada posisi
sintaktik tertentu terhadap predikator itu, mestilah ada suatu batas dalam menggolong-
golongkan fungsi semantik itu. Pada mulanya Fillmore membedakan kasus-kasus atas pelaku

(agentive), alat (instrumental), datif (dative), faktitif (factitive), tempat (locative), dan
objektif (objective).

Kemudian pada tahun 1971 Fillmore mengadakan perubahan pada pembedaan kasus-kasus,
yang mulanya dibagi atas enam kasus setelah dikembangkan menjadi 10 kasus. Di dalam
daftar kasus yang baru kasus ‘datif’ dan ‘faktitif’ tidak dimunculkan lagi, namun keduanya
digantikan penamaannya dengan kasus ‘yang mengalami’ dan kasus ‘tujuan’.
Daftar baru kasus-kasus tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kasus Agentif (A)

Kasus agentif adalah kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang
bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba (dalam Tarigan,
Fillmore, 1968: 24}. Kasus agentif mendapat pemarkah [+hidup] yang merupakan pelaku
suatu kegiatan atau yang memprakarsai tindakan verba, seperti dalam kalimat ‘Marta
memangkas bunga mawar, kata ‘Marta’ melakukan perbuatan memangkas atau memprakarsai
tindakan memangkas bunga mawar.

2. Kasus Experiens (P)

Kasus yang mengalami berbeda dengan kasus pelaku walaupun verba yang ada di dalam
predikat adalah verba yang sama. Bandingkan kalimat ‘Budi mendengar suara aneh’ berbeda
dengan kasus, ‘Budi mendengar radio’. Kata ‘Budi’ yang pertama mempunyai kasus yang
mengalami sedangkan yang kedua mempunyai kasus pelaku mendengar radio. Untuk
membedakan PLK dan P dapat digunakan masing-masing pertanyaan ‘Apa yang dilakukan
PLK?’ dan ‘Apa yang terjadi pada P’.

3. Kasus Instrumen (I)

Kasus alat/ instrumental ialah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tidak bernyawa atau objek
yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba
(dalam Tarigan, Fillmore, 1968: 24). Kasus agentif mempunyai ciri [-hidup] yang tidak

bernyawa, secara kausal merupakan penyebab suatu tindakan atau keadaan yang
diekspresikan oleh verba. Kasus ini diberi pemarkah dengan preposisi ‘with’ dalam bahasa
Inggris. Ini bukan berarti bahwa setiap frasa benda yang didahului oleh preposisi ‘with’
adalah alat. Misalnya, ‘Jhon opened the door with a key’, ‘a key’ merupakan alat untuk
membuka pintu dan menyebabkan pintu terbuka, tetapi pada kalimat ‘Jhon walks with an
umbrella’, ‘an umbrella’ merupakan kasus penyerta.

4. Kasus Objectif (O)

Kasus objektif adalah kasus yang secara semantis paling netral, kasus dari segala sesuatu
yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam
tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh interpretasi semantik verba itu sendiri; menurut
pemikiran, konsep tersbut hendaknya terbatas pada hal-hal yang dipengaruhi oleh tindakan
atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba. Istilah ini hendaknya jangan dikacaukan dengan
pengertian ‘objek langsung’ ataupun dengan nama kasus permukaan yang bersinonim dengan
akusatif (dalam Tarigan, Filmore, 1968: 25). Dalam kalimat ‘Ali membunuh ular’, kata ‘ular’
adalah objektif. Namu, istilah objektif tidak boleh diinterpretasikan sebagai objek langsung,
seperti pada tata bahasa tradisional karena apabila disamakan dengan objek langsung, maka
akan ada objek tak langsung. Padahal, gramatika kasus tidak mengenal objek tak langsung,
tetapi mempunyai nama tersendiri yang tidak dibicarakan pada saat ini. Frasa benda dalam
kasus objektif tidak melakukan kegiatan atau tindakan, dan tidak pula menduduki posisi
kasus-kasus lain seperti alat dan sebagainya.

5. Kasus Sumber (S)

Kasus sumber merupakan sumber atau penye-bab terjadinya proses atau kegiatan atau
keadaan yang dinyatakan oleh verba. Dalam kalimat ‘Gempa meruntuhkan gedung-gedung
tinggi’, ‘Hayati mengecewakan aku’ dan ‘Angin meng-goyangkan daun-daunan’,
kata’gempa’. ’Hayati’ dan ‘angin’ merupakan sumber dari kegiatan, proses, atau keadaan
yang disebutkan verba.

6. Kasus Tujuan (TJ)

Kasus tujuan lebih diartikan sebagai arah dari suatu kegiatan yang dinyatakan oleh verba.
Contoh ‘Jack menulis surat kepada Jhon’ dan ‘Joko menulis surat untuk Karta’, kata ‘Jhon’
dan kata ’Karta’ adalah kasus yang berbeda. Yang pertama dinyatakan sebagai tujuan, tetapi
yang kedua merupakan benefaktif. Preposisi ‘kepada’ dan ‘untuk’, dalam hal ini
membedakan peran semantis antara ‘Jhon’ dan ‘Karta’.

7. Kasus Lokatif (L)

Kasus lokatif adalah kasus yang memperkenalkan lokasi, tempat, (atau letak) ataupun
orientasi ruang/spasi atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba (dalam Tarigan, Filmore,
1972: 90). Dalam kalimat ‘Anita mengajar di Aceh’, kata ‘Aceh’ merupakan kasus tempat.
8. Kasus Waktu (WK)

Kasus waktu adalah waktu yang terpakai atau diduduki oleh suatu proses, kegiatan, atau
keadaan yang dinyatakan oleh verba. Dalam kalimat ‘Tuti datang kemarin’, kata ‘kemarin’
adalah kasus waktu.

9. Kasus Penyerta (PNY)

Kasus penyerta adalah frasa benda yang mempunyai hubungan konjungtif dengan frasa benda
lain, yang ditandai oleh preposisi ‘dengan’, ’bersama’ dan sebagainya. Contoh ‘ MS main
catur dengan Latief’ dan MS bersama Latief main catur’, kata ‘Latief’ merupakan kasus
penyerta.

10. Kasus Benefaktif (BEN)

Kasus Benefaktif mempunyai ciri [+ hidup]. Kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang
bernyawa) yang memperoleh keuntungan dari tindakan yang diperikan oleh verba. Dalam
Bahasa Inggris, kasus ini dinyatakan dengan preposisi ‘for’.

2.3 Jenis Kasus yang Bersejarah

Mengikuti sejarah, kebanyakan bahasa-bahasa indo-eropa dahulunya ada delapan kasus ber-
morfologi, tetapi bahasa-bahasa modern pula jarang menggunakan kasus sedemikian,
sebaliknya menggunakan kata depan dan susunan kata untuk menyampaikan maklumat yang
pernah di sampaikan dengan menggunakan bentuk kata nama yang berbeda.

Delapan kasus bersejarah yaitu:

1. Kasus nominatif, bersamaan kasus subjektif bahsa melayu, ialah subjek bagi kata kerja
finitum

Contonya: kami pergi ke kedai

2. Kasus akusatif, bersama kasus datif dan ablatif (bawah) bersamaan kasus objektif
bahasa melayu ialah objek langsung bagi klata kerja

Contohnya: Dia mengingati kami


3. Kasus datif merupakan ojek tak langsung bagi kata kerja

Contoh: dia memberi kami diskaun

4. Kasus ablatif, merupakan pergerakan dari sesuatu

Contoh: dia meninggalkan kami untuk berjumpa dengan dokter

5. Kasus genetif, bersamaan kasus milik, merupakan pemilik kepada satu lagi kata nama

Contohnya: buku saya di atas mejanya

6. Kasus vokatif merupakan penerima pesanan

Contohnya: awak disana tak apa?

7. Kasus lokatif merupakan lokasi

Contohnya: kami tinggal di malaysia

8. Kasus perantian merupakan objek yang digunakan untuk melakukan sesuatu

Contoh: kami bermain musik dengan piano


Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap
beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata
bahsa transformasi. Serangan yang dilancarkan oleh tatabahasa trasformasional terhadap
tatabahasa relasional tertuju pada beberapa kaidah susunan tatabahasa trasformasional yang
diberi label “universal”, tetapi yang oleh tatabahasa relasional dinyatakan sebagian “tidak
universal”. Kaidah yang disusun oleh tatabahasa transformasional lahir atas dasar
pengamatan terhadap bahasa Inggris, kritikan yang dilontarkan oleh tatabahasa relasional
timbul sebagai hasil penerapan kaidah “universal” tatabahasa transformasional itu pada
bahasa yang dianalisis oleh tatabahasa relasional, yankni bahasa selaiin bahasa indonesia.

Tatabahasa Relasional (relational grammar) merupakan pecahan dari Tata bahasa


Transformasional (Transformational Grammar). Kedua aliran ini sebanarnya mengupayakan
menggali kaidah yang dapat dipakai pada semua bahasa di dunia, yang disebut kaidah
universal language atau kaidah bahasa semesta. Tatabahasa transformasional menjadikan
bahasa Inggris sebagai bahasa garapannya, tetapi setelah dicoba oleh kelompok Aliran
Tatabahasa Relasional terhadap bahasa-bahasa selain bahasa Inggris, kaidah-kaidah tersebut
tidak dapat diterima sebagai semesta bahasa.

Tata bahasa Relasional dikembangkan oleh David M. Perlmulter dan Paul M. Postal pada
tahun tujuh puluhan. Tata bahasa Relasional lahir sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap Tata
bahasa Transformasional mengenai struktur klausa yang dijabarkan melalui urutan linear
(linear order) dan relasi dominansi (dominance relation) di antara unsur-unsur suatu klausa.
Hal ini akan menghalangi Tatabahasa Transformasi menjadi teori sejagat (semesta bahasa).
Menurut Tatabahasa Relasional, teori sintaksis semesta harus dianalisis berdasarkan relasi-
relasi gramatikal.

Masalah Subjek dan Objek langsung berdasarkan relasi dominasi, Tatabahasa


Transformasional menjelaskan sebagai berikut: subjek adalah FN (Frasa Nomina) yang
secara langsung didominasi oleh K (Kalimat), dan objek langsung adalah FN (Frase Nomina)
yang secara langsung didominasi oleh FV (Frasa Verba).
Akan tetapi menurut tata bahasa relasional, jika struktur klausa dijajagi dari segi relasi
gramatikal, maka dalam hal penafsiran terdapat kesamaan yang mereka analisis. Misalkan
pada klausa Klausa (1a) “Ali memberi buku itu kepada saya”

Memiliki rician dari unsur :

a) Nomina Ali berelasi “subjek dari”

b) Nomina buku itu berelasi “objek langsung dari”

c) Nomina saya berelasi “objek tak langsung dari”

d) Verba beri berelasi “predikat dari”

Menurut analisis tata bahasa relasional kalimat diatas juga mempunyai tiga tataran struktural
yang urutan-urutannya juga sama dengan menurut teori tata bahasa transformasi di atas :

(a) Kontruksi kalimat inti,

(1a) Ali memberi buku itu kepada saya.

(b) Kontruksi kalimat hasil transformasi datif,

(1b) Ali memberikan saya buku itu.

(c) Kalimat hasil transformasi pasif dari kontruksi datif.

(1c) Saya diberikan buku itu oleh Ali.

Relasi gramatikal yang dilambangkan dengan angka,1,2, dan 3 tersebut memiliki kedudukan
yang khusus. Ketiga nya disenut “suku” (term). Relasi diluar ketiga ini (misalnya benefaktif,
lokatif, instrumen dan sebagainya) disebut bukan suku (non terms). Relasi yang bukan suku
itu disebut “chomeur” (kata prancis yang berarti pengganggur) yaitu konstituen yang yang
tidak memiliki atau kehilangan fungsi gramatikal, sehingga dijuluki “konstituen yang
mengganggur”. Sedangkan yang disebut suku di atas memiliki fungsi gramatikal tertentu,
misalnya suku nerperan di dalam persesuaian verva (verba agreement), di dalam pelepasan
konstituen (nominal) yang berkorelasi, di dalam kemungkinan menjadi subjek dalam
konstruksi pasif.
Seperti terlihat dalam diagram diatas, Ali membawakan relasi-1,pada tataran I dan II,
sedangkan pada tataran III membawarelasi Chomeur, buku ini membawakan relasi-2 pada
tataran I, sedangkan pada tataran II dan III membawa relasi Chomeur. saya membawa relasi-
3 pada tataran I, membawakan relasi pada tataran II, dan membawakan relasi I pada tataran.
Ciri- Ciri Aliran Transformasi

Sistem tata bahasa transformasi yang diasaskan oleh Chomsky ini walaupun merupakan
lanjutan dari tata bahasa yang dibangunkan bersama Harris, namun terdapat perbedaan
pendapat dengan . Ternyata sistem tata bahasa berdasarkan Chomsky ini telah menarik
perhatian ramai dan telah menerima kesinambungan berterusan yang ekstensif. Chomsky
seterusnya menyatakan bahawa teorinya dapat memperlihatkan ciri-ciri universal dalam
mengkaji semua bahasa manusia. Aliran transformasi muncul menentang aliran strukturalis
yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan. Aliran ini mempunyai pandangan
bahwa bahasa bersifat mentalistik dan kognitif.

Adapun ciri-ciri transformasi generatif adalah sebagai berikut:

a. Berdasarkan paham mentalistik Aliran ini berpendapat bahwa proses berbahasa bukan
sekadar proses rangsang tanggap semata-mata, akan tetapi justru menonjol sebagai proses
kejiwaan. Aliran ini sangat erat dengan psikolinguistik. Proses berbahasa bukan sekadar
proses fisik yang berupa bunyi sebagai hasil sumber getar yang diterima oleh alat auditoris,
akan tetapi berupa proses kejiwaan di dalam diri peserta bicara. Oleh karena itu, aliran ini
sangat erat kaitannya dengen subdisipliner psikolinguistik.

b. Bahasa merupakan innate Kaum transformasi beranggapan penuh bahwa bahasa


merupakan faktor innate (warisan/keturunan). Dalam hal ini, untuk membuktikan teorinya
Chomsky dengan bantuan rekannya membuktikan bahwa struktur otak manusia dengan otak
simpanse persis sama, kecuali satu simpul syaraf bicara yang ada pada struktur otak manusia
tidak terdapat pada struktur otak simpanse. Itulah sebabnya simpanse tidak dapat berbicara
seperti manusia, meskipun ia telah dilatih berkali-kali, karena hal itu tidak disebabkan oleh
kebiasaan, akan tetapi harus ada faktor keturunan.

c. Bahasa terdiri atas lapis dalam dan lapis permukaan Teori transformasional memisahkan
bahasa atas dua lapisan, yakni deep structure (struktur dalam/ lapis batin) yaitu tempat
terjadinya proses berbahasa yang sesungguhnya/ secara mentalistik; dan surface structure
(struktur luar, struktur lahiriah) yaitu wujud lahiriyah yang ditransformasikan dari lapis batin.
d. Bahasa terdiri atas unsur competent dan performance Sebagaimana yang telah kita
sebutkan di atas, aliran transformasional memisahkan bahasa atas unsur competent yaitu
pengetahuan yang dimiliki oleh seorang penutur tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah
yang berlaku bagi bahasanya; dan performance yaitu ketrampilan seseorang dalam
menggunakan bahasa tersebut.

e. Analisis bahasa bertolak dari kalimat Aliran ini beranggapan bahwa kalimat merupakan
tataran gramatik yang tertingi. Dari kalimat analisisnya turun ke frasa dan kemudian dari
frasa turun kata. Aliran ini tidak mengakui adanya klausa.

f. Bahasa bersifat kreatif Ciri ini merupakan reaksi atas anggapan kaum struktural yang
fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum transformasional yang terpenting adalah
kaidah. Walaupun suatu bentuk kata belum umum asalkan pembentukannya sesuai dengan
kaidah yang berlaku, maka tidak ada halangan untuk mengakuinya sebagai bentuk
gramatikal.

g. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus. Analisis dalam teori ini dimulai
dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (FN) dan frase kerja (FV)
kemudian dari frase turun ke kata.

Misalnya, jika kita mengambil kalimat ”The woman hugged the child”, menggunakan analisa
frase kita dapat memberikan analisa sebagai berikut:

Kalimat → frase kata benda (the woman) + frase kata kerja (hugged the child)

Frase kata benda → artikel definit (the) + kata benda (woman)

Frase kata kerja → kata kerja (hugged) + frase kata benda (the child)

Artikel definit → the

Kata benda → (woman, child)

vi. Kata kerja → (hugged )

Menggunakan aturan Chomsky, analisa terhadap kalimat akan terlihat seperti ini:

Kalimat → frase kata benda (the woman) + frase kata kerja (hugged the child)
Frase kata kerja → kata kerja (hugged) + NP (the child)

Frase kata benda → (dapat tunggal atau jamak: woman, women; child, children). Tunggal
akan menjadi artikel definit plus kata benda. Jamak akan menjadi artikel definit plus kata
benda plus ”bentuk jamak s”

Artikel definit → the

Kata benda → (woman, child)

Kata kerja → (hugged, touched, watched, etc.)

Keterangan waktu kata kerja (past and present)

Tambahan kata kerja (will, can, ay, shall, must)

Aturan-aturan transformasi ini tidak akan digambarkan secara rinci disini (lihat Chomsky,
1968), tetapi fungsi mereka adalah mengakui sebagai sesuatu yang mengungkapkan penilai-
penilai frase dan juga struktur gramatikal kalimat sehingga kita dapat memahami bunyi dan
struktur kalimat ketika menganalisa struktur bahasa. Dalam pekerjaan selanjutnya, Chomsky

menghubungkan analisa ini kepada psikologi kognitif dan pemahaman pikiran manusia
(Chomsky, 1968).Gambar : Analisa sebuah kalimat

h. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi Aliran ini membedakan antara kalimat
inti dan kalimat transformasional. Kalimat inti adalah kalimat yang belum dikenai oleh
kaidah transformasi, mempunyai ciri-ciri (a) lengkap, (b) simpel (c) aktif (merupakan ciri
pokok), (d) statement (e)positif (f) runtut (merupakan ciri tambahan).