Tugas Ebhc Lembar Kerja Praktik
Tugas Ebhc Lembar Kerja Praktik
Tahapan Proses EMB, Formulasi Permasalahan Klinis (PICO) dan Dasar-dasar Penelusuran Pustaka Obat
NIM : 1907047014
2020
1. Pre Test 1
Tanggal: jam:
Kerjakan minitest pada lembar dibawah ini:
2. LATIHAN I
A. Skenario
1. Ketika Anda sedang bertugas di apotek, seorang klien datang ke apotek Anda bermaksud ingin membeli obat ibuprofen sebagai
penurun panas untuk anaknya (berumur 5 tahun) yang tiba-tiba mengalami demam tinggi (hari pertama) disertai dengan mual tanpa
batuk dan pilek. Hanya saja sang Ibu masih ragu- ragu tentang keamanan obat tersebut. Apakah ada penurun panas yang lebih aman?
2. Seorang Remaja datang ke apotek menanyakan tentang keamanan dan kemanjuran obat tradisional penurun berat badan dimana
selama ini remaja tersebut sudah mengkonsumsi obat herbal yang berisi ekstrak daun jati belanda untuk menurunkan berat badannya.
3. Seorang klien datang ke apotek menanyakan kemanjuran bawang putih sebagai penurun kolesterol darah jika dibandingkan dengan
obat-obat antidislipidemia.
4. Seorang pasien menanyakan kemanjuran temulawak sebagai pencegah penyakit jantung koroner.
5. Seorang ibu datang ke apotek Anda dan berkonsultasi tentang apakah anaknya yang berumur 3 tahun dengan batuk berdahak, pilek
dengan secret berwarna hijau dan demam tinggi 5 hari perlu diberi antibiotika ?
6. Kepala Dinas Kesehatan Kota X minta pertimbangan kepada Saudara selaku staf untuk memilih alat diagnostic yang lebih tepat
untuk skrining ca cervix di puskesmas-puskesmas di Kota X tsb. Apakah saran Saudara pada kasus ini?
B. TUGAS:
1. Berdasarkan kasus 1 s.d.6 buatlah formulasi permasalahan klinik masing-masing kasus sesuai dengan struktur PICO, Kemudian
tentukan jenis formulasi permasalahan klinik masing-masing formulasi permasalahan klinik yang sudah Saudara buat.
2. Cobalah lakukan penelusuran (searching) pustaka obat untuk menjawab permasalahan yang dihadapi klien Saudara tersebut.
c. Bandingkan hasil yang Saudara peroleh pada cara a dan cara b. Apakah kesimpulan Saudara ?
LEMBAR JAWAB :
Seorang remaja datang ke apotek menanyakan tentang P : Remaja yang Untuk pasien remaja Keamanan (Safety) dan
keamanan dan kemanjuran obat tradisional penurun berat memiliki obesitas obesitas, apakah obat herbal Kemanjuran (Efficacy)
badan, selama ini remaja tersebut sudah mengkonsumsi I : Obat Herbal ekstrak daun jati belanda
obat herbal yang berisi ekstrak daun jati belanda untuk daun jati belanda atau obeslim yang lebih
menurunkan berat badannya. C : Obeslim aman dan manjur dalam
(Olistat kapsul) mengatasi obesitas?
O : Keamanan
(Safety) dan
Kemanjuran
(Efficacy) Obat
Seorang klien datang ke apotek menanyakan kemanjuran P : Pasien dengan Pada Pasien dengan Kemanjuran (Efficacy)
bawang putih sebagai penurun kolesterol darah jika penyakit penyakit hyperlipidemia
dibandingkan dengan obat-obat antidislipidemia. hyperlipidemia apakah bawang putih atau
I : Bawah putih obat simvastatin yang lebih
C : Simvastatin manjur ?
O : Kemanjuran
(Efficacy)
Seorang pasien menanyakan kemanjuran temulawak P : Pasien Sehat Untuk pasien sehat apakah Kemanjuran (Efficacy)
sebagai pencegah penyakit jantung koroner. I : Temulawak temulawak atau kulit
C : Kulit manggis manggis yang lebih manjur
O : Kemanjuran untuk mencegah jantung
(Efficacy) untuk coroner ?
pencegahan
jantung koroner
Seorang ibu datang ke apotek Anda dan P : Anak 3 tahun Pada pasien anak berumur 3 Kemanjuran (Efficacy)
berkonsultasi tentang apakah anaknya yang berumur 3 memiliki penyakit tahun dengan keluhan batuk
tahun dengan batuk berdahak, pilek dengan secret batuk berdahak, berdahak, pilik dengan
berwarna hijau dan pilek dengan secret secret berwarna hijau dan
demam tinggi 5 hari perlu antibiotika ? berwarna hijau dan demam tinggi 5 hari apakah
demam tinggi 5 antibiotik atau paracetamol
hari yang lebih manjur ?
I : Antibiotika
C : Paracetamol
O : Kemanjuran
(Efficacy)
Kepala Dinas Kesehatan Kota X minta pertimbangan P : Pasien wanita Untuk pasien wanita sehat Diagnosa ( Diagnostic)
kepada Saudara selaku staf untuk memilih alat diagnostic sehat apakah Pap smear atau
yang lebih tepat untuk skrining ca cervix di puskesmas- I : Pap smear colposcopy yang tepat
puskesmas di Kota X tsb. Apakah saran Saudara pada C : Colposcopy dalam mendiagnosa Ca
kasus ini? O : Diagnosa serviks ?
2. Hasil searching
a. Keyword, searching pada www.yahoo.com, www.google.com dan Pubmed.com serta
laporan hasil
3 P : Pasien dengan Pada Pasien dengan Kemanjuran Effecacy of allium Geogle.com (Scholar) : 17.000
Yahoo.com : 940
penyakit penyakit hyperlipidemia (Efficacy) sativum or
Pubmed.com : 3.061
hyperlipidemia apakah bawang putih simvastatin for
I : Bawah putih atau obat simvastatin hypeylipitdemia
C : Simvastatin yang lebih manjur ?
O : Kemanjuran
(Efficacy)
4 P : Pasien Sehat Untuk pasien sehat Kemanjuran Effecacy of curcuma Geogle.com (Scholar) : 32
Yahoo.com : 14.400
I : Temulawak apakah temulawak atau (Efficacy) xanthorriza or
Pubmed.com : 3
C : Kulit manggis kulit manggis yang lebih garcinia mangostana
O : Kemanjuran manjur untuk mencegah for prevention
(Efficacy) untuk jantung coroner ? coronaria heart
pencegahan disease
jantung koroner
5 P : Anak 3 tahun Pada pasien anak Kemanjuran Efficacy of antibiotic Geogle.com (Scholar) : 19.100
Yahoo.com : 38.800
memiliki penyakit berumur 3 tahun dengan (Efficacy) or paracetamol for
Pubmed.com : 45.624
batuk berdahak, keluhan batuk berdahak, children three years
pilek dengan pilik dengan secret old bacterial infection
secret berwarna berwarna hijau dan
hijau dan demam demam tinggi 5 hari
tinggi 5 hari apakah antibiotik atau
I : Antibiotika paracetamol yang lebih
C : Paracetamol manjur ?
O : Kemanjuran
(Efficacy)
6 P : Pasien wanita Untuk pasien wanita Diagnosa The right diagnostic Geogle.com (Scholar) : 16.600
Yahoo.com : 148.000
sehat sehat apakah Pap smear (Diagnostic) of colposcopy or pap
Pubmed.com : 5.557
I : Pap smear atau colposcopy yang smear for screening
C : Colposcopy tepat dalam cervical cancer
O : Diagnosa mendiagnosa Ca
serviks ?
b. Presentasi hasil searching & identifikas jenis literature
Berdasarkan Searching di geogle yahoo dan pabmed memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk geogle memliki
banyak sumber data yang bias diakses. Untuk yahoo memiliki banyak data yang tidak dapat diakses dari sumber aslinya karena
banyak berupa artikel website biasa sehingga perlu untuk dilakukan pemerisaan secara lebih teliti lagi. Kemudian untuk pubmed
memiliki hasil yang lebih spesifik berdasarkan judul penelitian dari sumbernya tetapi memiliki jumlah penelitian yang relative lebih
sedikit dibandingkan dengan yahoo.com dan geogle.com.
Berdasarkan Searching di geogle yahoo dan pabmed memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk geogle memliki
banyak sumber data yang bias diakses. Untuk yahoo memiliki banyak data yang tidak dapat diakses dari sumber aslinya karena
banyak berupa artikel website biasa sehingga perlu untuk dilakukan pemerisaan secara lebih teliti lagi. Kemudian untuk pubmed
memiliki hasil yang lebih spesifik berdasarkan judul penelitian dari sumbernya tetapi memiliki jumlah penelitian yang relative lebih
sedikit dibandingkan dengan yahoo.com dan geogle.com.
Berdasarkan Searching di geogle yahoo dan pabmed memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk geogle memliki
banyak sumber data yang bias diakses. Untuk yahoo memiliki banyak data yang tidak dapat diakses dari sumber aslinya karena
banyak berupa artikel website biasa sehingga perlu untuk dilakukan pemerisaan secara lebih teliti lagi. Kemudian untuk pubmed
memiliki hasil yang lebih spesifik berdasarkan judul penelitian dari sumbernya tetapi memiliki jumlah penelitian yang relative lebih
sedikit dibandingkan dengan yahoo.com dan geogle.com.
Berdasarkan Searching di geogle yahoo dan pabmed memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk geogle memliki
banyak sumber data yang bias diakses. Untuk yahoo memiliki banyak data yang tidak dapat diakses dari sumber aslinya karena
banyak berupa artikel website biasa sehingga perlu untuk dilakukan pemerisaan secara lebih teliti lagi. Kemudian untuk pubmed
memiliki hasil yang lebih spesifik berdasarkan judul penelitian dari sumbernya tetapi memiliki jumlah penelitian yang relative lebih
sedikit dibandingkan dengan yahoo.com dan geogle.com.
Berdasarkan Searching di geogle yahoo dan pabmed memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk geogle memliki
banyak sumber data yang bias diakses. Untuk yahoo memiliki banyak data yang tidak dapat diakses dari sumber aslinya karena
banyak berupa artikel website biasa sehingga perlu untuk dilakukan pemerisaan secara lebih teliti lagi. Kemudian untuk pubmed
memiliki hasil yang lebih spesifik berdasarkan judul penelitian dari sumbernya tetapi memiliki jumlah penelitian yang relative lebih
sedikit dibandingkan dengan yahoo.com dan geogle.com.
3. POST TEST 1
Tanggal: jam:
LEMBAR KERJA IV-II
NIM : 1907047014
2020
1. Pre test
Tanggal: jam:
A. Kasus
1. Tn. Hernadi, umur 41 tahun dengan obesitas, sudah 2 kali dalam satu minggu ini mengalami nyeri dada berat pada dada sebelah
kiri, bila sedang beraktifitas misalnya jalan cepat atau lari-lari dada terasa seperti ditindih dan nafas terasa sesak, nyeri dada
berkurang apabila beristirahat. Tn. Hendardi Datang ke apotek bertanya kira-kira nyeri dada yang dialami itu karena sakit apa?
Pemeriksaan apa yang harus dilakukan untuk memastikan sakit dadanya tersebut? Dan yang terakhir bertanya tentang bagaimana
pengobatan untuk mencegah atau menghambat agar sakitnya tidak tambah berat. Berdasarkan data pemeriksaan fisik dan lab terakhir
ketika kontrol ke Puskesmas adalah tekanan darahnya 170/110 mmHg dan dari hasil lab. diketahui pasien menderita
hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida. Penderita memiliki berat badan 75 Kg dengan tinggi 150 cm.
2. Bu Ana, 35 tahun datang ke apotek untuk membelikan obat asma untuk anaknya. Anda sebagai farmasis di apotek tersebut ditanya
oleh Bu Ana ‘manakah obat yang lebih baik dan murah untuk anak saya yang sering mengalami asma ketika udara dingin?”. Apabila
udara dingin serangan asma malam hari paling tidak sekali dalam 2 minggu. Anda putuskan untuk mencari literature obat dalam
bentuk RCT (Randomized Controlled Trial) yang membandingkan antara obat anti asma dengan kelompok placebo sebelum
menjawab pertanyaan klien Anda.
3. Saudara sudah 5 tahun bertugas di instalasi Farmasi RS Harapan Kita di Jakarta. Disamping sebagai kepala instalasi farmasi itu
saat ini Saudara juga menduduki posisi sekretaris Komisi Farmasi dan Terapi RS. Sebagai Farmasis di RS Anda harus dapat
menentukan pilihan obat yang akan digunakan di RS berdasarkan tingkat keamanan, efikasi dan biaya. Obat dengan tingkat
keamanan tertinggi, handal dan murah adalah menjadi pilihan pertama. Anda diminta pendapat tentang manakah obat antihipertensi
yang paling baik (aman, efikasius, murah) untuk penderita hipertensi dengan DM tipe II yang akan ditetapkan sebagai obat pilihan
untuk RS Anda.
4. Saudara sudah 5 tahun bertugas di Depkes RI dibagian health technology assessment. Saudara diminta untuk menilai alat uji
diagnosis TB pulmo pada anak apakah yang lebih sesuai dengan kondisi puskesmas di Indonesia?
B. Tugas
1. Lakukan searching pustaka obat untuk menjawab ke 4 permasalahan di atas dengan menggunakan urutan kerja/prosedur sesaui
strategi searching.
2. Untuk kasus I Lakukanlah penelusuran (searching) bahan pustaka ttg diagnosis dan terapi obat (minimal 2 judul artikel) dan
lakukanlah identifikasi terhadap bahan pustaka yang sudah Anda dapatkan itu dan tulislah hasil identifikasi tersebut pada lembar
laporan yang telah tersedia.
3. Untuk kasus 2 Lakukanlah penelusuran (searching) bahan pustaka ttg terapi obat/harm/efikasi/farmakoekonomi (minimal 2 judul
artikel) dan lakukanlah identifikasi terhadap bahan pustaka yang sudah Anda dapatkan itu dan tulislah hasil identifikasi tersebut pada
lembar laporan yang telah tersedia.
4. Untuk kasus 3 Lakukanlah penelusuran (searching) bahan pustaka ttg terapi obat/harm/efikasi/farmakoekonomi (minimal 2 judul
artikel) dan lakukanlah identifikasi terhadap bahan pustaka yang sudah Anda dapatkan itu dan tulislah hasil identifikasi tersebut pada
lembar laporan yang telah tersedia.
5. Untuk kasus 4 Lakukanlah penelusuran (searching) bahan pustaka ttg uji diagnosis (minimal 2 judul artikel) dan lakukanlah
identifikasi terhadap bahan pustaka yang sudah Anda dapatkan itu dan tulislah hasil identifikasi tersebut pada lembar laporan yang
telah tersedia.
C. PRESENTASI HASIL
1. Kasus 1
1. TULISKAN PICO SESUAI KASUS DAN PILIHLAH KATA KUNCI YANG SESUAI
No Kombinasi kata kunci Pangkalan data atau alamat website Jumlah pustaka yang tersaring (Jumlah
kasu tujuan hit)
s
1 Efficacy of aspirin or clopidogrel for Geogle.com (Scholar) 9.870
Yahoo.com 148.000
angina obesity
Pubmed.com 5.514
1 Obesity and antiplatelet effects of Primer : Original articel Efficacy Level 1 : RCT
acetylsalicylic acid and clopidogrel in patients
with stable angina pectoris after percutaneous
coronary intervention.
Isi Jurnal : Mengevaluasi hubungan antara
obesitas dan respons PLT terhadap terapi
antiplatelet ganda selama 1 bulan pada pasien
dengan angina pektoris stabil setelah
intervensi koroner perkutan (PCI). asam
(ASA, 75 mg / hari) setelah PCI terdaftar
dalam penelitian dan dibagi berdasarkan
indeks massa tubuh (BMI): BMI <25 kg / m²
(kelompok A); BMI = 25–29,9 kg / m² (grup
B); dan BMI ≥30 kg / m² (grup C). Fungsi
PLT dinilai dengan impedansi aggregometri
24 jam setelah PCI dan dosis pemuatan (LD)
clopidogrel (CLO, 600 mg) dan setelah 30
hari dosis pemeliharaan (MD) CLO dan ASA
75 mg / d. Nilai-nilai delta dihitung sebagai
perbedaan antara tes yang dilakukan 30 hari
dan 24 jam setelah PCI. HASIL Fungsi PLT
berubah secara signifikan selama 30 hari
tindak lanjut. Reaktivitas PLT awal terhadap
adenosin difosfat (ADP1) lebih rendah pada
kelompok A dan tertinggi pada kelompok C
(P <0,05). Reaktivitas PLT terhadap kolagen
(COL1) dan asam arakidonat lebih rendah
pada kelompok A (P <0,05) tanpa perbedaan
antara kelompok B dan C. Tidak ada
perbedaan di antara subkelompok dalam
reaktivitas PLT yang dinilai setelah 30 hari.
Analisis regresi multivariat menunjukkan
bahwa BMI (P = 0,03), konsentrasi serum
kreatinin (P <0,01), jenis kelamin laki-laki (P
<0,01), dan merokok aktif (P <0,001) adalah
prediktor independen ΔADP.KESIMPULAN
Obesitas dikaitkan dengan respons yang lebih
rendah terhadap CLO LD tetapi fungsi PLT
setelah 30 hari CLO MD serupa pada pasien
dengan obesitas dan berat badan normal.
Aspirin and Clopidogrel in Acute Coronary Sekunder : Systematic Efficacy Level 1 : Sistemati
review
SyndromesTherapeutic Insights From the review and Meta-
CURE Study. analysis
Isi Jurnal : Keunggulan kombinasi aspirin dan
clopidogrel muncul di awal pengobatan,
dengan manfaat yang signifikan terjadi
selama 24 jam pertama. Keunggulan ini
dipertahankan melalui studi 12 bulan. Secara
acak, 25% pasien menggunakan agen penurun
lipid, 58% β-blocker, 36% inhibitor
angiotensin-converting enzyme, dan 72%
menerima terapi antikoagulan heparin tanpa
molekul atau berat molekul rendah. Namun
demikian, analisis subkelompok menunjukkan
bahwa manfaat rejimen kombinasi tetap
dipertahankan terlepas dari obat yang
diminum pasien.
Reduced-function CYP2C19 genotype and Sekunder : Meta- Efficacy Level 1 : Sistemati
risk of adverse clinical outcomes among analysis review
patients treated with clopidogrel
predominantly for PCI: a meta-analysis.
Isi Jurnal : Untuk menentukan risiko hasil
kardiovaskular yang merugikan utama di
antara pembawa 1 (≈ 26% prevalensi putih)
dan pembawa 2 (≈ 2% prevalensi putih)
fungsi varian genetik CYP2C19 fungsi rendah
pada pasien yang diobati dengan clopidogrel.
Association of Clopidogrel Pretreatment With Sekunder : Systematic Efficacy Efficacy and safety and
Mortality, Cardiovascular Events, and Major review and Meta- Level 1 : RCT
Bleeding Among Patients Undergoing analysis
Percutaneous Coronary InterventionA
Systematic Review and Meta-analysis.
Isi Jurnal : Untuk mengevaluasi hubungan
pra-perawatan clopidogrel vs tanpa
pengobatan dengan mortalitas dan perdarahan
mayor setelah PCI. Hasil Dari 37.814 pasien
yang dimasukkan dalam meta-analisis, 8608
pasien telah berpartisipasi dalam RCT; 10
945, dalam analisis observasional RCT; dan
18.261, dalam studi observasional. Analisis
RCT menunjukkan bahwa pretreatment
clopidogrel tidak terkait dengan pengurangan
kematian (risiko absolut, 1,54% vs 1,97%;
OR, 0,80; 95% CI, 0,57-1,11; P = 0,17) tetapi
dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah
dari kematian. kejadian jantung utama (9,83%
vs 12,35%; OR, 0, 77; 95% CI, 0,66-0,89; P
<0,001). Tidak ada hubungan yang signifikan
antara pretreatment dan perdarahan besar
secara keseluruhan (3,57% vs 3,08%; OR,
1,18; 95% CI, 0,93-1,50; P = 0,18). Analisis
dari analisis pengamatan RCT dan studi
observasi konsisten untuk semua hasil.
No consistent evidence of differential Sekunder : Meta- Efficacy Level 1 : Sistematik
cardiovascular risk amongst proton-pump analysis review
inhibitors when used with clopidogrel: meta-
analysis.
Isi Jurnal : Untuk mengevaluasi secara
sistematis apakah masing-masing PPI berbeda
dalam risikonya untuk kejadian
kardiovaskular ketika diberikan bersama
clopidogrel. Untuk studi secara acak dan non-
acak yang melaporkan kejadian
kardiovaskular yang merugikan dengan
paparan PPI spesifik pada pasien yang
menerima clopidogrel. Kami melakukan
meta-analisis efek acak, dan menilai
heterogenitas menggunakan statistik I2.
2 Comparison of Oral Bambuterol and Primer : Original articel Efficacy Level 1 : Double blind.
InhaledSalmeterol in Patients with
SymptomaticAsthma and Using Inhaled
Corticosteroids.
Isi jurnal : Perbandingan oralbambuterol dan
salmeterol inhalasi pada pasien dengan asma
simtomatik dan menggunakan inhalasi
kortikosteroid. Membandingkan bambuterol
oral dalam dosis 20 mg yang diambil sekali
sehari di malam hari dengan salmeterol
inhalasi pada 50 mg yang diminum dua kali
sehari pada 126 pasien asma (60 bambuterol,
66 salmeterol) berusia 18 hingga 74 tahun
yang dirawat setidaknya 4 minggu dengan
kortikosteroid dihentikan pada dosis konstan
400 hingga 2.000 mg / hari atau dengan
kortikosteroid oral pada <20mg / hari. Para
pasien dapat menggunakan inhaler dosis
terukur bertekanan (pMDI) secara efisien, dan
memiliki FEV1 40 hingga 85% dari nilai
normal yang diprediksi. Selama periode run-
in, pasien harus menunjukkan setidaknya satu
kebangkitan nokturnal atau dini yang
disebabkan oleh gejala asma yang
memerlukan obat penyelamatan, dan
penurunan> 15% semalam dalam puncak
aliran ekspirasi (PEF) pada 3 dari 7 hari
sebelumnya, dalam rangka tobe diacak ke
dalam studi kelompok double-blind, dummy
ganda, paralel multicenter ini (periode
berjalan 2 minggu dan pengobatan 6 minggu).
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara
bambuterol dan salme-terol dalam perubahan
pagi dari baseline di DTP (hal. 5 0,53).
Median peningkatan PEF pagi adalah 50 L /
mnt untuk bambuterol dan 55 L / mnt untuk
salmeterol. Variabel lain (PEF malam, persen
over-night penurunan PEF, jumlah
kebangkitan, persen malam dengan
kebangkitan, jumlah embusan obat
penyelamatan, gejala asma di siang dan
malam hari, dan skor tremor rata-rata) juga
tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan
antara bambuterol dan salmeterol. Kedua
perawatan, pada dosis yang diberikan,
ditoleransi dengan baik. Bambuterol oral
sekali sehari adalah salmeterol inhalasi dua
kali sehari yang nyaman, efektif, dan lebih
murah untuk mengobati asma nokturnal.
Inhaled beclomethasone in pregnant asthmatic Sekunder : Systematic Efficacy and safety Level 1 : Sistematik
women – A systematic review. review review
Isi jurnal : Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk meninjau secara sistematis keamanan
dan kemanjuran beclomethasone inhalasi
untuk pengobatan asma pada wanita hamil.
Kami melakukan tinjauan sistematis dalam
database elektronik Medline, LILACS, dan
SciELO pada Desember 2012. Sebanyak 3433
artikel ditemukan dengan menggunakan kata
kunci asma, kehamilan, dan beclometason. Di
antaranya, 1666 berasal dari Medline, via
PubMed, dan 1767 berasal dari LILACS dan
SciELO. Sembilan artikel ini dipilih. Hanya
satu makalah yang menyarankan peningkatan
risiko janin untuk malformasi kongenital, dan
satu lainnya untuk keturunan endokrin dan
gangguan metabolisme. Data sebagian besar
meyakinkan, mendukung penggunaan inhalan
glukokortikoid selama kehamilan, dan kami
tidak menemukan bukti inferioritas dalam
kaitannya dengan kemanjuran dan keamanan
beclomethasone dibandingkan dengan obat
lain yang digunakan pada wanita asma hamil.
Systematic review of clinical effectiveness of Sekunder : Systematic Efficacy and Cheap Level 1 : Sistematik
pressurised metered dose inhalers versus other review review
hand held inhaler devices for delivering
corticosteroids in asthma.
Isi jurnal : Tujuan Untuk menentukan
efektivitas klinis inhaler dosis meteran
bertekanan (dengan atau tanpa spacer)
dibandingkan dengan perangkat inhaler
genggam lainnya untuk pengiriman
kortikosteroid pada asma yang stabil. Tidak
ada bukti yang ditemukan bahwa perangkat
inhaler alternatif (inhaler serbuk kering,
inhaler dosis terukur tekanan digerakkan, atau
inhaler dosis terukur tekanan
hidrofluoroalkane) lebih efektif daripada
inhaler dosis terukur meteran untuk
pengiriman kortikosteroid inhalasi. Inhaler
dosis terukur bertekanan tetap menjadi alat
pengiriman lini pertama yang paling efektif.
3 Efficacy and safety of sitagliptin compared Sekunder : Meta- Efficacy and safety Level 1 : RCT
with sulfonylurea therapy in patients with analysis
type 2 diabetes showing inadequately
controlled glycosylated hemoglobin with
metformin monotherapy: A meta-analysis.
Isi jurnal : Percobaan terkontrol acak
sebelumnya (RCT) telah melaporkan hasil
yang bertentangan untuk kemanjuran terapi
sitagliptin dan sulfonylurea pada pasien
dengan diabetes mellitus tipe 2 yang
menunjukkan kontrol glikemik yang tidak
memadai dengan monoterapi metformin.
Untuk mengklarifikasi temuan ini, meta-
analisis dilakukan terhadap hasil dari semua
RCT yang diterbitkan membandingkan
sitagliptin dengan sulfonylureas dalam
pengobatan diabetes mellitus tipe 2. Database
medis standar dicari untuk mengidentifikasi
RCT bahasa Inggris dan Cina yang relevan.
Hasil RCT dibandingkan mengenai perubahan
rata-rata kadar hemoglobin terglikasi
(HbA1c); proporsi mencapai <7% HbAlc; dan
perubahan berat badan. Tidak ada perbedaan
signifikan yang ditemukan antara kelompok
metformin plus sitagliptin dan metformin plus
sulfonylurea mengenai HbAlc atau proporsi
yang mencapai <7% HbAlc, sedangkan
kelompok metformin plus sitagliptin
mengalami lebih sedikit peristiwa
hipoglikemik (P <0,00001) dan penurunan
yang lebih besar dalam berat badan (P
<0,00001) dan <0,00001). Terapi metformin
plus sitagliptin dapat menurunkan nilai HbAlc
pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2
yang tidak mencapai target glikemiknya
dengan monoterapi metformin dengan cara
yang serupa dengan terapi metformin plus
sulfonylurea, sementara menimbulkan risiko
hipoglikemia yang lebih rendah, dan
menghasilkan efek yang lebih
menguntungkan pada berat badan.
Impact of metformin on cardiovascular Sekunder : Meta- Efficacy Level 1 : Sistematik
disease: a meta-analysis of randomised trials analysis review
among people with type 2 diabetes.
Isi jurnal : Metformin adalah obat oral yang
paling banyak diresepkan untuk menurunkan
glukosa darah di seluruh dunia. Namun
tinjauan sistematis sebelumnya telah
menimbulkan keraguan tentang efektivitasnya
dalam mengurangi risiko penyakit
kardiovaskular, komplikasi diabetes tipe 2
yang paling mahal. Kami bertujuan untuk
secara sistematis mengidentifikasi dan
mengumpulkan percobaan acak yang
melaporkan hasil kardiovaskular di mana efek
metformin 'terisolasi' melalui perbandingan
dengan diet, gaya hidup atau plasebo. ari uji
coba metformin yang diidentifikasi melalui
pencarian MEDLINE. Kami menyertakan uji
coba terkontrol secara acak terhadap orang
dewasa dengan diabetes tipe 2 yang
membandingkan dosis dan persiapan
metformin oral tanpa intervensi, plasebo atau
intervensi gaya hidup dan melaporkan
mortalitas atau hasil kardiovaskular.
Kami memasukkan sepuluh artikel yang
melaporkan 13 percobaan (termasuk total
2.079 orang dengan diabetes tipe 2 yang
dialokasikan untuk metformin dan jumlah
yang serupa dengan kelompok pembanding)
di mana hanya empat yang membandingkan
metformin dengan plasebo dan
mengumpulkan data tentang hasil
kardiovaskular. Peserta umumnya berkulit
putih, berusia ≤65 tahun, kelebihan berat
badan / obesitas dan dengan kontrol glikemik
yang buruk. Perkiraan ringkasan didasarkan
pada sejumlah kecil peristiwa: 416 infark
miokard / kejadian penyakit jantung iskemik
dalam tujuh studi dan 111 stroke dalam empat
studi. UK Prospective Diabetes Study
(UKPDS) memberikan kontribusi mayoritas
data untuk perkiraan ringkasan, dengan bobot
mulai dari 52,3% untuk infark miokard
hingga 70,5% untuk stroke. Semua hasil,
dengan pengecualian stroke, lebih menyukai
metformin, dengan heterogenitas terbatas di
antara penelitian, tetapi tidak ada yang
mencapai signifikansi statistik. Ukuran efek
(Mantel-Haenszel RR) adalah: semua
penyebab kematian 0,96 (95% CI 0,84, 1,09);
kematian kardiovaskular 0,97 (95% CI 0,80,
1,16); infark miokard 0,89 (95% CI 0,75,
1,06); stroke 1,04 (95% CI 0,73, 1,48); dan
penyakit pembuluh darah perifer 0,81 (95%
CI 0,50, 1,31).
Effect of Antihyperglycemic Agents Added to Sekunder : Meta- Efficacy Level 1 : Sistematik
Metformin and a Sulfonylurea on Glycemic analysis review
Control and Weight Gain in Type 2 Diabetes:
A Network Meta-analysis.
Isi jurnal : Untuk membandingkan
kemanjuran obat antihyperglycemic add-on
pada pasien dengan diabetes tipe 2 yang tidak
dikontrol dengan metformin dan sulfonylurea.
Percobaan acak dalam durasi setidaknya 24
minggu. Studi mengevaluasi efek
penambahan obat antihiperglikemik ketiga
pada pengobatan orang dewasa berusia 18
tahun atau lebih dengan diabetes tipe 2 dan
kadar hemoglobin A1c (HbA1c) lebih besar
dari 7,0% yang sudah menerima kombinasi
metformin dan sulfonylurea. Titik akhir
primer adalah perubahan kadar HbA1c,
perubahan berat badan, dan frekuensi
hipoglikemia berat. Delapan belas uji coba
yang melibatkan 4.535 peserta yang
berlangsung rata-rata 31,3 minggu (24 hingga
52 minggu) dimasukkan. Dibandingkan
dengan plasebo, kelas obat tidak berbeda
pengaruhnya pada tingkat HbA1c
(pengurangan mulai dari .0.70% [interval
kredibel 95% {CrI}, −1.33% hingga −0.08%]
untuk acarbose menjadi .081.08% [CrI,
−1.41% hingga -0,77%] untuk insulin).
Peningkatan berat terlihat dengan insulin
(2,84 kg [CrI, 1,76 hingga 3,90 kg]) dan
thiazolidinediones (4,25 kg [CrI, 2,76 hingga
5,66 kg]), dan penurunan berat badan terlihat
dengan agonis peptida-1 seperti glukagon-
seperti (1,63 kg) [CrI, −2.71 hingga −0.60
kg]). Insulin menyebabkan dua kali jumlah
absolut dari episode hipoglikemik berat
daripada agen antihyperglikemik noninsulin.
Sebagian besar uji coba bersifat jangka
pendek, dan kualitas uji coba bervariasi.
Dengan sangat sedikit percobaan relatif
terhadap agen antihiperglikemik, para peneliti
mengandalkan perbandingan tidak langsung,
yang meningkatkan ketidakpastian temuan
dan kesimpulan.Tidak ada perbedaan yang
jelas dalam manfaat antara kelas obat ketika
menambahkan agen ketiga untuk pengobatan
pasien dengan diabetes tipe 2 yang sudah
menerima metformin dan sulfonylurea.
Pilihan yang paling tepat harus tergantung
pada karakteristik klinis setiap pasien.
The use of glyburide in the management of Sekunder : Meta- Efficacy, safety and Level 1 : RCT
gestational diabetes mellitus: A meta-analysis. analysis Cheap
Isi jurnal : Glyburide telah digunakan untuk
mengelola gestational diabetes mellitus
(GDM) di sejumlah negara. Agak murah.
Namun, kemanjuran dan keamanannya masih
kontroversial. Dengan meta-analisis ini, kami
mengevaluasi glyburide dibandingkan dengan
insulin. Dengan strategi pencarian literatur
yang sistematis, total 93 uji coba terkontrol
secara acak (RCT) dengan insulin dan
perbandingan glyburide diidentifikasi.
Berdasarkan checklist Standar Konsolidasi
Uji Coba (CONSORT) yang direvisi, lima di
antaranya memenuhi kriteria inklusi dan
dimasukkan dalam meta-analisis ini.
Enam ratus tujuh puluh empat mata pelajaran
dimasukkan dalam lima RCT ini. Ketika
dibandingkan dengan insulin, glikburida
memiliki peningkatan risiko relatif (RR)
untuk hipoglikemia neonatal (RR: 1,98;
interval kepercayaan 95% [CI]: 1,17, 3,36).
Estimasi perbedaan rata-rata standar (SMD)
menunjukkan bahwa berat lahir janin dan
insidensi makrosomia lebih tinggi pada subjek
yang menerima glburida dibandingkan pada
mereka yang menerima insulin (SMD: 0,21;
95% CI: 0,06, 0,36; RR: 2,22; 95% CI:
Masing-masing 1,07, 4,61). Tidak ada
perbedaan yang signifikan dalam kontrol
glukosa ibu, hemoglobin terglikasi, tingkat
operasi caesar, usia kehamilan besar,
hipokalsemia neonatal, lama rawat inap ICU
neonatal, kelahiran prematur, atau kelainan
bawaan. Studi kami menunjukkan bahwa
pada wanita dengan GDM, glikburid sama
efektifnya dengan insulin, tetapi risiko
hipoglikemia neonatal, berat lahir janin yang
tinggi, dan makrosomia lebih tinggi.
The Effectiveness of Glyburide Compared to Sekunder : Systematic Efficacy, safety and Level 1 : RCT
Insulin in the Management of Gestational review Cheap
Diabetes Mellitus: A Systematic Review.
Isi jurnal : Terapi insulin telah menjadi
andalan dalam mengelola wanita dengan
gestational diabetes mellitus (GDM), tetapi
beberapa kelemahan insulin telah
menyebabkan penggunaan glyburide, yang
murah di beberapa negara, untuk mengelola
GDM. Namun, ada perdebatan mengenai
efektivitas, kemanjuran dan keamanannya bila
dibandingkan dengan insulin untuk kontrol
glikemik ibu, dan beberapa hasil neonatal
yang merugikan pada GDM. Metode:
Tinjauan sistematis dari delapan studi uji coba
terkontrol acak (RCT) dilakukan untuk
membandingkan glburida dan insulin. Studi
yang melibatkan 849 peserta dimasukkan
dalam analisis kuantitatif. Hasil: Tidak ada
perbedaan yang signifikan antara glyburide
dan insulin dalam puasa ibu (P = 0,09; SMD:
0,13; 95% CI: .020,02-0,28) dan postprandial
(P = 0,45; SMD: 0,05; 95% CI: ﹣0,09 hingga
0,19) kontrol glikemik dan hae-moglobin
terglikosilasi (P = 0,35; SMD: 0,08; 95% CI: ﹣
0,08-0,24). Ketika dibandingkan dengan
insulin, glikbid memiliki peningkatan rasio
risiko (RR) untuk hipoglikemia neonatal (P =
0,0002; RR: 2,27; 95% CI: 1,47 hingga 3,51)
dan besar untuk bayi usia kehamilan (P =
0,03; RR: 1,60; 95 % CI: 1,06 hingga 2,41).
Estimasi perbedaan rata-rata standar
menunjukkan bahwa berat lahir neonatus
secara signifikan lebih tinggi pada subjek
yang menerima glburida dibandingkan pada
kelompok insulin (P = 0,002; SMD: 0,21;
95% CI: 0,08 hingga 0,35). Kesimpulan:
Glyburide dianggap efektif secara klinis dan
alternatif yang lebih aman daripada insulin
untuk kontrol glikemik ibu pada wanita
GDM. Itu terjangkau, mudah dan tidak
memerlukan pelatihan edukatif yang
komprehensif pada saat inisiasi terapi.
Namun, hasil yang merugikan - hipoglikemia
neonatal, berat lahir neonatal tinggi dan besar
untuk bayi usia kehamilan - memerlukan
pemantauan yang cermat terhadap pasien
GDM untuk setiap kebutuhan insulin
tambahan.
4 Diagnostic accuracy of Xpert MTB/RIF assay Sekunder : Meta- Efficacy Level 1 : Sistematik
for musculoskeletal tuberculosis: a meta- analysis review
analysis.
Isi jurnal : Uji Xpert MTB / RIF, tes
amplifikasi asam nukleat real-time yang cepat
dan otomatis, telah dilaporkan untuk
diagnosis tuberkulosis muskuloskeletal (TB)
pada tahun-tahun ini. Meta-analisis ini
bertujuan untuk menentukan akurasi
diagnostik Xpert untuk mendeteksi TB
muskuloskeletal dan resistansi rifampisin
(RIF). sensitivitas dan spesifisitas yang
dikumpulkan masing-masing 0,81 (interval
kepercayaan 95% [CI] 0,78-0,83) dan 0,83
(95% CI 0,80-0,86) dari Xpert untuk
diagnosis TB muskuloskeletal. Xpert sangat
sensitif (0,89, 95% CI 0,79-0,95) dan sangat
spesifik (0,96, 95% CI 0,92-0,98) dalam
mendeteksi resistansi RIF. AUC (lebih dari
0,9) menyarankan tingkat akurasi diagnostik
Xpert yang relatif tinggi untuk mendeteksi TB
muskuloskeletal dan resistansi RIF.
Prevalensi dan standar referensi diindikasikan
sebagai sumber heterogenitas antara studi.
Tidak ada bias publikasi yang ditemukan.
Diagnostic Accuracy of Xpert Test in Sekunder : Systematic Efficacy Level 1 : Sistematik
Tuberculosis Detection: A Systematic Review review and Meta- review
and Meta-analysis. analysis
Isi jurnal : Studi yang dimasukkan memiliki
risiko rendah dari segala bentuk bias,
menunjukkan bahwa temuan memiliki
validitas dan kredibilitas ilmiah yang tinggi.
Analisis kuantitatif dari 37 studi termasuk
menunjukkan bahwa Xpert MTB / RIF adalah
tes diagnostik yang akurat untuk TB dan
deteksi resistansi rifampisin.
Xpert MTB / RIF assay adalah tes yang kuat,
sensitif dan spesifik untuk diagnosis TB yang
akurat dibandingkan dengan tes konvensional
seperti kultur dan pemeriksaan mikroskopis.
Kata kunci: Diagnosis, Tuberkulosis, Xpert
MTB / RIF assay.
Comparing Tuberculosis Diagnostic Yield in Sekunder : Systematic Efficacy Level 1 : Sistematik
Smear/Culture and Xpert® MTB/RIF-Based review review
Algorithms Using a Non-Randomised
Stepped-Wedge Design.
Isi jurnal : Untuk membandingkan hasil
diagnosa tuberkulosis (TB) dalam smear /
kultur berbasis yang ada dan algoritma
Xpert® MTB / RIF yang baru diperkenalkan.
Hasil diagnostik TB (proporsi kasus TB yang
diduga dengan diagnosis TB di laboratorium)
dinilai menggunakan desain steped-wedge
non-acak sebagai situs yang ditransisikan ke
algoritma berbasis Xpert®. Kami
mengidentifikasi urutan penuh tes dahak yang
dicatat dalam database laboratorium
elektronik untuk kasus TB dugaan dari 60
tempat kesehatan utama selama tujuh titik
waktu satu bulan, terpisah enam bulan.
Perbedaan dalam hasil TB dan tren temporal
diperkirakan menggunakan model regresi
binomial. Hasil TB adalah 20,9% (95% CI
19,9% hingga 22,0%) dalam algoritma
berbasis smear / kultur dibandingkan dengan
17,9% (95% CI 16,4% hingga 19,5%) dalam
algoritma berbasis Xpert®. Ada penurunan
hasil TB dari waktu ke waktu dengan
perbedaan risiko rata-rata -0,9% (95% CI
-1,2% menjadi -0,6%) (p <0,001) per titik
waktu. Ketika perkiraan disesuaikan dengan
tren temporal, hasil TB adalah 19,1% (95%
CI 17,6% hingga 20,5%) dalam algoritme
berbasis apusan / kultur dibandingkan dengan
19,3% (95% CI 17,7% hingga 20,9%) di
Xpert® algoritma berbasis dengan perbedaan
risiko 0,3% (95% CI -1,8% hingga 2,3%) (p =
0,796). Tes kultur dilakukan untuk 35,5%
smear-negative dibandingkan dengan 17,9%
dari Xpert® negative low MDR-TB risiko
kasus dan untuk 82,6% smear-negative
dibandingkan dengan 40,5% dari Xpert®
negative high MDR-TB case risiko pada
masing-masing algoritma .
Diagnostic accuracy of Xpert MTB/RIF for Sekunder : Systematic Efficacy Level 1 : Sistematik
tuberculosis detection in different regions review and Meta- review
with different endemic burden: A systematic analysis
review and meta-analysis.
Isi jurnal : Untuk memperkirakan akurasi
diagnostik Xpert MTB / RIF, tinjauan
sistematis dan meta-analisis dilakukan.
Dengan demikian, 106 studi termasuk 52.410
sampel dipilih. Akurasi diagnostik Xpert
MTB / RIF untuk deteksi TB divalidasi
terhadap kultur atau standar referensi
gabungan (CRS). Selain itu, penelitian yang
dipilih lebih lanjut dikelompokkan dalam
empat kelompok berdasarkan jenis sampel,
usia subjek, status koinfeksi HIV dan BTA-
positif. Sensitivitas dan spesifisitas gabungan
keseluruhan Xpert MTB / RIF adalah 0,85
(interval kepercayaan 95% [CI] 0,82-0,88)
dan 0,98 (95% CI 0,96-0,98), masing-masing,
dibandingkan dengan budaya; sementara itu
0,59 (95% CI 0,44-0,72) dan 0,99 (95% CI
0,97-1,00) dibandingkan dengan CRS.
Sensitivitas keseluruhan lebih rendah di
negara-negara dengan prevalensi TB tinggi
daripada negara-negara dengan prevalensi
menengah / rendah (0,84, 95% CI: 0,80-0,88
versus 0,89, 95% CI: 0,84-0,93). Lebih lanjut,
Xpert MTB / RIF memiliki sensitivitas lebih
tinggi pada pasien dengan BTA positif (0,99,
95% CI 0,97-0,99), pada pasien dengan
sampel TB paru (0,87, 95% CI 0,83-0,90),
pada orang dewasa (0,82, 95% CI 0,76-0,86)
dan pada pasien HIV-positif (0,81, 95% CI
0,73-0,87). Secara bersama-sama, Xpert MTB
/ RIF adalah tes diagnostik cepat dan akurat
untuk TB yang secara signifikan akan
membantu dokter untuk membuat keputusan
klinis mereka.
Optimal Triage Test Characteristics to Sekunder : Systematic Efficacy and Cheap Level 1 : Sistematik
Improve the Cost-Effectiveness of the Xpert review review
MTB/RIF Assay for TB Diagnosis: A
Decision Analysis.
Isi jurnal : Biaya tinggi adalah batasan untuk
meningkatkan Xpert MTB / RIF assay (Xpert)
untuk diagnosis TB di rangkaian terbatas
sumber daya. Strategi triase di mana tes cepat
yang sensitif tetapi tidak harus sangat spesifik
digunakan untuk memilih pasien untuk Xpert
dapat menghasilkan algoritma diagnostik
yang lebih terjangkau. Untuk
menginformasikan pemilihan dan
pengembangan diagnostik tertentu sebagai tes
triase, kami mengeksplorasi kombinasi
sensitivitas, spesifisitas dan biaya di mana tes
triase hipotetis akan meningkatkan
keterjangkauan uji Xpert. Dalam model
analitik keputusan yang diparameterisasi
untuk Uganda, India, dan Afrika Selatan,
kami membandingkan algoritme diagnostik di
mana kohort pasien dengan TB duga
menerima Xpert ke algoritma triase di mana
hanya mereka yang memiliki tes triase positif
yang diuji oleh Xpert.
Temuan Tes triase dengan sensitivitas sama
dengan Xpert, spesifisitas 75%, dan biaya US
$ 5 per pasien yang diuji mengurangi total
biaya diagnostik sebesar 42% dalam
pengaturan Uganda, dan sebesar 34% dan
39% masing-masing dalam pengaturan India
dan Afrika Selatan. Ketika menjelajahi
algoritma triase dengan sensitivitas lebih
rendah, penggunaan contoh uji triase dengan
sensitivitas 95% relatif terhadap Xpert,
spesifisitas 75% dan biaya pengujian $ 5
menghasilkan pengurangan biaya yang
serupa, dan hemat biaya dengan ambang batas
kemauan WHO untuk membayar.
dibandingkan dengan Xpert untuk semua di
Uganda, tetapi tidak di India dan Afrika
Selatan. Keuntungan dalam keterjangkauan
dari algoritma triase yang diperiksa
meningkat dengan menurunnya prevalensi
tuberkulosis di antara kohort.
D. Post Test