Anda di halaman 1dari 2

Keseimbangan dalam bekerja dan kehidupan pribadi menjadi salah satu tolak ukur kesuksesan

seorang individu dalam meningkatkan produktifitas bekerja nya dan meningkatkan kebahagiaan
hkehidupan individu tersebut dalam menjalani kehidupan diluar pekerjaannya. berbagai teori,
dimensi danindikator telah dikeluarkan oleh beberapa ahli dalam melakukan pendekatan terkait
keseimbanagan dalam bekerja dan kehidupan pribadi, yang menjurus ke bagaimana cara kita
sebagai individu dapat memodifikasi agar keduanya saling menguatkan sesuai dengan fisher,2001
dimensi pekerjaan yang dapat meningkatkan kehidupan pribadi (PLEW) dankehidupan pribadi yang
dapat meningkatkan pekerjaan (WEPL).

Harmonisasi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi sangat kompleks dinegara ini
disebabkan yang pertama dari segi penghasilan, beberapa profesi kesehatan di rumah sakit
mendapat penghasilan yang kurang dari kata cukup dan memiliki kebutuhan yang lebih besar dari
penghasilannya sehingga memaksa individu tersebut untuk mengambil kerja tambahan diluar jam
kerja reguler nya, sehingga waktu yang menjadi salah satu indikator keseimbangan dalam kerja dan
kehidupan pribadi ini tidak seimbang. Dikarenakan didunia kesehatan kadang kita bekerja diluar jam
kerja kewajaran orang lain diluar dunia kesehatan seperti bekerja dimalam hari dimana orang
beristirahat dan bekerja saat oranglain berlibur, dengan begitu banyak hal diluar pekerjaan yang
dikorbankan seperti hobi yang berkaitan dengan olahraga, kebutuhan akan berpolitik, berorganisasi
lain diluar pekerjaan maupun kegiatan-kegiatan diluar pekerjaan yang dibutuhkan untuk aktualisasi
diri. Yang kedua kesempatan dalam mengatur waktu pekerjaan yang masih sangat baku di bisnis
rumah sakit sangat mempengaruhi tingkat stres karyawan, fleksibilitas pengaturan waktu dapat
dilakukan di beberapa unit saja disebabkan rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan memiliki
unit yang bekerja secara simultan setiap harinya. yang ketiga, pengaruh gender dalam keseimbangan
antara pekerjaan dan kehidupan pribadi diluar pekerjaan sangat berefek terutama pada karyawan
wanita yang sudah berkeluarga atau memiliki anak disebabkan peran istri yang tidak sedikit
merangkap sebagai ibu tergerus oleh pekerjaan. Penanganan masalah-masalah diatas dapat diatasi
dengan konsep pengaturan waktu pekerjaan, keterlibatan karyawan itu sendiri dengan pekerjaan
yang bisa dibagi atau dibantu oleh teman kerja nya. Hal ini bisa menyebabkan turunnya kepuasan
kerja yang dapat menurunkan produktifitas dan peningkatan turnover. Memodifikasi beban kerja
denan memadatkan pekerjaan dan membawa pekerjaan kerumah pun sepertinya belum dapat
memecahkan masalah keseimbangan bekerja.

Ditempat saya bekerja pemenuhan kebutuhan akan kegiatan diluar pekerjaan meningkat disebabkan
adanya peningkatan kebutuhan pegawai akan pembelajaran agama, hal ini diyakini menjadi salah
satu solusi untuk menimbulkan keikhlasan bekerja dan mengarahkan tujuan karyawan selain
mencari nafkah untuk keluarganya tapi juga mencari keberkahan dan keridhoan ALLAH terhadap apa
yang dikerjakan ditempat kerja.

Memasuki era disrupsi sekarang ini, efisiensi tenaga dan rangkap jabatan sudah menjadi hal yang
lumrah diterapkan didalam institusi rumah sakit, efek nya adalah jam kerja yang makin padat dengan
kompleksitas pekerjaan yang makin rumit karena rangkap jabatan. Diharapkan dengan negara telah
mengatur jam kerja karyawan lewat kementrian tenaga kerja dengan aturan maksimal jam kerja
dalam satu minggu dan satu bulan nya dapat diterapkan dalam membatasi dan mencegah terjadinya
stres dalam bekerja yang mengganggu keseimbangan dalam bekerja dan kehidupan individu diluar
pekerjaannya.
Untuk physical well being (PWB) itu sendiri menjadi salah satu factor dalam menigkatkan kinerja,
karyawan dapat diajakk kembali memikirkan tujuan dalam bekerja dan dapat mengambil pelajaran
dari apa yang sudah dilaui oleh karyawan itu sendiri untuk menjadi lebih baik dalam bekerja. Dalam
menciptakan physical well being dalam diri karyawan, sebagai manajer atau pemimpin perusahaan
dapat memberikan contoh terhadap karyawan nya, dengan menjadikan diri sendiri sebagai contoh
dalam bersikap menikmati atau menerima hasil kerja sendiri, menjalin hubungan baik dengan rekan
kerja baik atasan maupun bawahan, bersikap tidak bergantung pada oranglain dalam bekerja
maupun mengambil keputusan, menguasai tempat kerja kita agar tujuan hidup atau tujuan dalam
kita bekerja dapat tercapai dan dapat meningkatkan kemampuan diri.