Anda di halaman 1dari 6

MODUL PERTEMUAN 1 : MINYAK ATSIRI

ISTILAH/SINONIM
Minyak atsiri ini memiliki beberapa sinonim. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan
volatile oils, essential oils, aromatic oils ataupun ethereal oils. Istilah Essential Oils sering
disingkat dengan EOs. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal juga dengan istilah
minyak essensial, minyak atsiri, minyak aromatik dan minyak terbang.

SEJARAH MINYAK ATSIRI


Sejarah dan perkembangan pemanfaatan minyak atsiri telah tersebar di berbagai
negara di belahan dunia. Penggunaan minyak atsiri ini terintegrasi dengan tata cara hidup
masyarakat baik pada aspek sosiokultural, juga ekonomi dan religi.
Sebagai contoh, di Mesir, masyarakatnya menggunakan minyak esensial aromatis ini
secara luas dalam praktek medis, perawatan kecantikan, kuliner dan upacara keagamaan.
Bahan-bahan alam seperti Frankinsens, sandalwood (cendana), Myrrh dan cinnamon
merupakan contoh komoditi perdagangan yang mengandung minyak atsiri dengan aroma
khas, dan nilainya sangat berharga pada jaman dulu. Bahan-bahan ini dijual di sepanjang rute
perdagangan dan dapat ditukarkan dengan emas. Sedemikian tinggi nilai jual dari bahan
aromatis ini. Bahan alam mengandung minyak atsiri merupakan komponen utama dalam
racikan mumifikasi atau pembalseman firaun.
Di Yunani, minyak atsiri atau minyak essensial digunakan untuk pijat terapi dan
praktik aromaterapi. Aromaterapi merupakan suatu metode pengobatan alternatif yang
menggunakan minyak atsiri sebagai bahan utama pengobatan. Contohnya, orang yang
mengalami luka bakar dapat dioleskan minyak lavender sebagai obatnya. Di Romawi,
minyak atsiri/minyak aromatik ini telah digunakan sejak lama untuk meningkatkan kesehatan
dan menjaga hiegenitas perorangan. Masyarakat Yunani-Romawi gemar berendam, Minyak
atsiri ini dicampurkan dalam air berendam sebagai wewangian dan aromanya menimbulkan
efek relaksasi yang menenangkan.
Di China dan India juga telah menggunakan minyak atsiri dalam kehidupan dan
sistem pengobatan mereka. China memiliki sistem pengobatan tradisional yang dikenal
dengan Traditional China Medicine (TCM), sedangkan di India ada Ayurveda. Praktik
pengobatan tradisional ini memiliki buku-buku panduan resep dan ramuan. Di dalam resep
pengobatan tersebut sering dijumpai penggunaan tanaman-tanaman yang mengandung
1
minyak atsiri. Pada tahun 2697-2597 sebelum Masehi, China telah mengenal minyak atsiri,
tepatnya pada jaman Kaisar Kuning (Yellow Emperor) Huang Ti. Dia menuliskan buku yang
terkenal yaitu “The Yellow Emperor’s Book of Internal Medicine” yang berisi tentang
penggunaan zat-zat aromatik, dan buku ini masih menjadi rujukan para tabib hingga saat ini.
Sistem pengobatan tradisional India yaitu Ayurveda, sejak 3000 tahun yang lalu telah
memiliki catatan sejarah mengenai penggunaan minyak atsiri dalam resep atau ramuan
penyembuhannya. Literatur Veda membuat daftar lebih dari 700 tanaman, dan termasuk di
dalamnya jenis tanamana penyembuh yang bersifat aromatis seperti cinnamon, ginger, myrrh
dan sandalwood.
Di Prancis, penemuan potensi farmakologis dari minyak atsiri terjadi secara tidak
sengaja. Pada tahun 1910, seorang kimiawan bernama Rene-Maurice Gattefosse (1881)
mengalami luka bakar ketika sedang bekerja di laboratorium. Secara reflex, Gattefosse
mengoleskan cairan dalam botol yang ada di dekatnya untuk mengurangi rasa sakit karena
terbakar. Setelah beberapa waktu, Gattefosse menyadari bahwa cairan yang digunakannya
adalah minyak Lavender. Luka bakar yang dialaminya sembuh dengan cepat dan hanya
sedikit meninggalkan bekas. Pada tahun 1937, Gattefosse mempublikasi buku pertamanya
tentang aromaterapi. Selanjutnya, Dr. Jean Valnet (1920 – 1995), merupakan seorang dokter
militer yang telah merawat para prajurit korban perang dunia II (1940-45), dengan
mempraktekkan cara-cara pengobatan menggunakan minyak atsiri. Pada tahun 1959, Dr.
Valnet berhenti dari militer dan melanjutkan praktek medis di Paris. Valnet mengadakan
Simposium Aromaterapi Medis di Paris tahun 1960 dan juga mempublikasi penelitiannya
dengan judul “Aromatherapy : The Treatment of Ailments by Plant Essences”. Valnet telah
dikenal sebagai perintis pengembangan praktek aromaterapi di dunia.
Aplikasi modern dari minyak atsiri berlanjut hingga saat ini dan semakin berkembang
seiring dengan kemajuan riset para peneliti dan praktisi medis yang bertujuan untuk
memvalidasi manfaat minyak atsiri berkualitas terapetik bagi kesehatan dan kesejahteraan.
Praktek aromaterapi juga terdapat dalam budaya Sumatera Barat. Salah satu adat suku
Minang adalah mandi batangeh.. Mandi batangeh mirip dengan praktek spa sauna di salon
atau pusat kecantikan. Mandi batangeh adalah mandi dengan uap/diuapi dengan ramuan
rempah supaya berkeringat. Fungsinya tak hanya untuk menjaga kecantikan diri tapi juga
untuk pengobatan. Para wanita Minang seperti calon pengantin, para ibu yang baru saja
melahirkan, dan orang yang dalam masa penyembuhan dari penyakit yang menahun
memanfaatkan batangeh sebagai perawatan tubuh dan menghilangkan bau tak sedap. Uap
2
yang dihasilkan dari air rebusan rempah-rempah mampu mengembalikan kesegaran tubuh
dan mengobati penyakit-penyakit seperti reumatik, penyakit kulit dan sinusitis serta
memperbaiki fungsi rahim. Rempah-rempah yang dipakai sangat beragam, seperti limau
puruik, sirih, bunga rampai, cengkeh, kunyit, kayu manis, kenanga dan pandan. Rempah-
rempah ini direbus hingga mendidih dalam panci belanga, kemudian rebusan rempah ini
diletakkan di bawah kursi yang berlubang-lubang. Wanita calon pengantin ataupun yang baru
melahirkan, duduk di atas kursi tersebut dengan membungkus tubuhnya dan menutupi
belanga serta kursi dengan kain. Selanjutnya uap rempah-rempah yang direbus tadi akan
memanaskan tubuh wanita tersebut hingga megeluarkan keringat.
Selain mandi batangeh, penggunaan bahan alam aromatik juga terdapat pada acara-
acara adat keagamaan seperti selamatan, pernikahan, dan peringatan kematian. Sebelum
melakukan doa bersama pada acara tersebut, maka terlebih dahulu dilakukan pembakaran
sedikit kemenyan yang kemudian menimbulkan aroma yang khas.
Demikian lah beberapa kutipan bukti-bukti sejarah penggunaan minyak atsiri dalam
kehidupan masyarakat dari berbagai wilayah, dimana pemanfaatannya meliputi aspek
ekonomi, tradisi dan kesehatan

DEFINISI, BIOSINTESIS DAN KARAKTERISASI DARI MINYAK ATSIRI


Professor Dr. Gerhard Buchbauer dari Institut Kimia Farmasi, Universitas Viena (di
Wina Austria) menyatakan definisi dari minyak atsiri pada Simposium Internasional Minyak
essensial ke-25 tahun 1994 ; “Minyak essensial merupakan suatu substansi volatil dengan
aroma yang berdampak, diproduksi baik secara destilasi uap atau destilasi kering atau cara-
cara mekanis, dari satu spesies tunggal. Dari definisi yang dikemukakan oleh Buchbauer,
menunjukkan bahwa minyak atsiri harus diperoleh dari 1 spesies saja dan tidak
diperkenankan untuk memproduksi minyak atsiri dengan mencampurkan beberapa tanaman
dengan spesies yang berbeda.
Istilah volatile atau esensial merujuk kepada sifat minyak ini yang volatil atau mudah
berubah menjadi uap atau gas saat dikukus ataupun dipanaskan. Dalam kefarmasian kita
selain minyak atsiri kita juga mengenal minyak lemak. Kedua substansi ini jelas berbeda,
walaupun dalam prakteknya, minyak atsiri sering dicampur dengan minyak lemak untuk
tujuan-tujuan tertentu. Berikut beberapa perbedaan minyak atsiri dan minyak lemak :
 Minyak atsiri dapat didestilasi karena mudah menguap, sedangkan minyak lemak
tidak.
3
 Jika diteteskan pada kertas, maka minyak lemak akan meninggalkan noda/bekas,
sedangkan minyak atsiri akan menguap tanpa meninggalkan bekas.
 Secara kimia, minyak lemak merupakan ester dari gliserol dengan asam lemak ,
sedangkan minyak atsiri tidak mengandung ester gliserol dengan asam lemak,
melainkan campuran dari berbagai golongan zat ber-berat molekul rendah dan
beraroma seperti monoterpen, seskuiterpen, ester, keton, aldehid dan alkohol.
 Minyak lemak dapat membentuk sabun dengan air alkali, sementara minyak atsiri
tidak.
 Dalam penyimpanan dengan jangka waktu yang lama, minyak lemak dapat berubah
menjadi tengik dan berbau tidak enak, sedangkan minyak atsiri tidak menjadi tengik,
namun mengalami proses oksidasi dan resinifikasi. Reaksi degradasi ini akan
mengakibatkan warna minyak atsiri menjadi gelap dan mengental.

Biosintesis minyak atsiri terjadi melalui jalur asam asetat-mevalonat yang tidak jarang
berkombinasi pula dengan jalur sikimat dan menghasilkan senyawa-senyawa dengan struktur
aromatis. Berbagai komponen kimia dihasilkan dari masing-masing jalur ataupun
perpaduannya. Seperti golongan terpen, fenil propanoid, dan keton, aldehid dan zat aromatis
lainnya. Jadi minyak atsiri bukanlah suatu senyawa murni atau satu gongan kimia tertentu
saja, namun merupakan substansi minyak yang mengandung berbagai jenis senyawa
beraroma dari golongan kimia yang berbeda-beda
Beberapa conntoh senyawa-senyawa yang terdapat di dalam minyak atsiri seperti
Carvone, yang merupakan suatu monoterpen dengan gugus fungsi keton, Sinamaldehid dari
golongan aldehid, Mentol (golongan alkohol) dan miristisin yang merupakan golongan
aromatis.
Karateristik minyak atsiri antara lain :
 Memiliki berat molekul dibawah 300 Dalton. BM ini menunjukkan bahwa minyak atsiri
merupakan molekul kecil
 Minyak atsiri bersifat hidrofobik
 Ketika terpapar oleh udara, minyak ini cepat menguap dan beberapa diantaranya
cenderung mengalami resinifikasi. Minyak yang teresinifikasi karena bereaksi dengan
oksigen diudara, akan berubah menjadi lapisan film dan mengental.
 Karena sifatnya yang hidrofobik, maka minyak atsiri akan mudah larut dalam pelarut
organik seperti eter dan alkohol
4
 Minyak ini mengandung aroma dan rasa yang khas.
 Minyak atsiri dapat memutar bidang polarisasi sehingga bersifat optis aktif.
 Selain itu, minyak atsiri juga memiliki nilai indeks bias
 Bobot jenis minyak atsiri pada umumnya lebih ringan dibandingkan air, sehingga jika
bercampur dengan air, maka minyak akan berada pada lapisan atas. Kecuali pada minyak
tertentu seperti minyak sinamon (kulit manis) dan minyak cengkeh, memiliki BJ yang
lebih besar daripada air.

KEMOTIPE
Kemotipe merupakan perbedaan kandungan komponen kimia yang terjadi pada
tanaman dengan ciri dan karakter visual yang sama (spesies yang sama). Minyak atsiri
dengan kemotipe yang berbeda akan memberikan efek terapi berbeda pula, karena kandungan
kimia yang berbeda tersebut. Misalnya ada satu kemotipe memiliki kandungan alkohol lebih
tinggi dibandingkan kemotipe lainnya. Sebagai contoh, pada Herba Timi (Thymus vulgaris),
terdapat minyak atsiri dari herba timi dengan kandungan komponen utama timol, namun juga
ada yang menghasilkan minyak atsiri timi dengan kandungan utama senyawa linalool.
Kemotipe dapat terjadi pada tanaman yang tumbuh liar di alam maupun yang ditanam secara
budidaya.
Kemotipe dapat terjadi karena dipengaruhi sejumlah faktor, seperti :
 Bagian tanaman yang menhasilkan minyak. Contoh Minyak dari kuncup cengkeh akan
berbeda komponennya dari minyak daun cengkeh.
 Keadaan tanah dan penggunaan pupuk (organik maupun kimia). Unsur hara tanah dan
pupuk yang diberikan akan mempengaruhi metabolisme tanaman sehingga berujung
pada perbedaan komponen kimia yang dihasilkan
 Wilayah geografis, iklim dan ketinggian. Tanaman yang tumbuh di daerah ketinggian
dengan paparan cahaya matahari yang cukup akan memiliki profil kimia yang berbeda
dengan tanaman spesies sama, namun tumbuh di daerah lembah dan terlindungi cahaya
matahari.
 Waktu dan Metode panen. Pemilihan waktu panen apakah pada pagi, siang ataupun sore
hari dan juga umur tanaman waktu dipanen, akan berpengaruh pada kandungan kimia
tanaman tersebut. Metode panen juga berdampak pada kualitas tanaman. Contohnya
pemanenan dengan petik tangan langsung, dibandingkan dengan panen menggunakan
alat-alat besi yang rentan berkarat dan dapat mengoksidasi
5
 Destilasi atau proses ekstraksi. Selain dengan destilasi, minyak atsiri dapat diperoleh
dengan berbagai metode ekstraksi lainnya. Pemilihan metode ekstraksi sangat
berpengaruh terhadap profil kandungan kimia minyak atsiri. Sehingga perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui metode yang paling tepat dalam mengekstraksi minyak
atsiri tertentu.

DISTRIBUSI
Minyak atsiri terdistribusi pada tumbuhan tertentu saja. Contohnya pada family
Pinaceae, Lauraceae, Rutaceae, Myrtaceae, Umbelliferae, Labiatae dan Compositae. Adapun
keberadaan minyak atsiri pada tanaman seringkali ditemukan dalam organ yang berbeda,
contohnya pada :
 Glandular hairs atau rambut kelenjar di Famili Labiatae
 Sel Parenkim (family Piperaceae)
 Saluran atau tabung minyak pada Umbelliferae
 Rongga Lysigenous atau Schizogenous di Famili Pinaceae dan Rutaceae
 Pada hampir seluruh jaringan tanaman dari Famili Conifer
 Pada bagian kelopak bunga di Famili Rosaceae
 Pada daun dan kulit batang pada tumbuhan Cinamon atau kayu manis.

Demikianlah materi kita hari ini, untuk mengevaluasi bahwa materi ini dapat saudara ikut
dengan baik, maka saya akan memberikan sedikit tugas, yang dapat dilihat pada menu
assignment di pertemuan ini

Dosen Pengampu

(apt. Verawati, M.Farm.)