Anda di halaman 1dari 18

SATUAN ACARA PENYULUHAN

ANTENATAL CARE
(MATA KULIAH PROMOSI KESEHATAN)

Dosen Pembimbing :
Tumiur Sormin, SKM.,M.Kes
Disusun Oleh:
Selpi Tiara Ariska
1914301057
Tingkat 2 Reguler 2

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPRAWATAN


POLTEKKES KEMENKES TANJUNGKARANG
TAHUN AJARAN 2020/2021
SATUAN ACARA PENYULUHAN
ANTENATAL-CARE

Pokok Bahasan : Antenatal-Care


Sub Pokok Bahasan : Pengertian antenatal-care, tujuan antenatal-care, pelaksana antenatal-care,
lokasi pelayanan antenatal-care, Pelaksanaan Pelayanan antenatal-care,
frekuensi kunjungan, antenatal-care, dan keluhan pada masa kehamilan.
Sasaran : Ibu hamil dan keluarga
Hari / tanggal : 14 September 2020
Waktu : 30 menit
Tempat : Rumah penduduk di desa Panaragan No.123
Penyuluh : Selpi Tiara Ariska

A. Analisa Situasi
Antenatal Care (ANC) sebagai salah satu upaya pencegahan awal dari faktor risiko kehamilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)Antenatal care untuk mendeteksi dini terjadinya resiko
tinggi terhadap kehamilan dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau
keadaan janin. Idealnya bila tiap wanita hamil mau memeriksakan kehamilannya, bertujuan untuk
mendeteksi kelainan-kelainan yang mungkin ada atau akan timbul pada kehamilan tersebut lekas
diketahui, dan segera dapat diatasi sebelum berpengaruh tidak baik terhadap kehamilan tersebut
dengan melakukan pemeriksaan antenatal care (Winkjosastro, 2013). Rendahnya ibu hamil yang
melakukan kunjungan K4 bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi
ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan adalah pekerjaan, paritas, pengetahuan, dukungan
keluarga dan jangkauan ke tempat pelayanan kesehatan (Siyoto,S, 2015).
Salah satu indikator untuk melihat keberhasilan kualitas pelayan obstreti dan ginekologi, bisa
dilihat dari penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sekitar 25-50%
kematian wanita usia subur di negara miskin disebabkan oleh masalah kehamilan dan persalinan, dan
nifas. Pada tahun 2015, 2 WHO memperkirakan di seluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000
ibu hamil meninggal saat hamil atau bersalin. Berdasarkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 2015, penyebab langsung kematian ibu di Indonesia diantaranya perdarahan 42%,
eklamsia/preeklamsia 13%, abortus 11%, infeksi 10%, partus lama/persalinan macet 9%, dan
penyebab lain 15% (Kemenkes, 2015). Maka dari itu perlu dilakukan penyuluhan agar ibu hamil dan
keluarganya dapat mengetahui Pengertian antenatal-care, tujuan antenatal-care, pelaksana
antenatal-care, lokasi pelayanan antenatal-care, Pelaksanaan Pelayanan antenatal-care, frekuensi
kunjungan, antenatal-care, dan keluhan pada masa kehamilan.
B. Diagnosa
1. Diagnosa keperawatan
-
2. Diagnosa Kebutuhan Promkes
Kurangnya pengetahuan tentang antenatal-care dan bagian nya.

C. Tujuan
1. Tujuan Intruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan ibu hamil dan keluarga dapat
mengetahui Pengertian antenatal-care, tujuan antenatal-care, pelaksana antenatal-
care, lokasi pelayanan antenatal-care, Pelaksanaan Pelayanan antenatal-care,
frekuensi kunjungan, antenatal-care, dan keluhan pada masa kehamilan.

2. Tujuan intruksional khusus


Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, ibu hamil dan keluarga mampu :
1. Menjelaskan pengertian dari antenatal-care
2. Menjelaskan tentang tujuan antenatal-care
3. Menjelaskan tentang pelaksana antenatal-care
4. Menjelaskan tentang lokasi pelayanan antenatal-care
5. Menjelaskan tentang Pelaksanaan Pelayanan antenatal-care
6. Menjelaskan tentang frekuensi kunjungan, antenatal-care
7. Menjelaskan tentang keluhan pada masa kehamilan

D. Isi Materi

a. Pengertian antenatal-care
b. Tujuan antenatal-care
c. Pelaksana antenatal-care
d. Pelayanan antenatal-care
e. Pelaksanaan Pelayanan antenatal-care
f. Frekuensi kunjungan, antenatal-care
g. Keluhan pada masa kehamilan

E. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. Media
1. Leafleat
2. LCD
3. Laptop

G. Kegiatan Pembelajaran
NO Kegiatan Respon Waktu

1 Pembukaan
- Mengucapkan salam - Membalas salam
- Menjelaskan tujuan - Mendengarkan
- Kontrak waktu - Memberi respon
- Test awal
2 Inti
- menjelaskan pengertian -Mendengarkan
antenatal-care dengan penuh
- Menjelaskan tentang tujuan perhatian
antenatal-care
- Menjelaskan tentang pelaksana
antenatal-care
- Menjelaskan tentang lokasi
pelayanan antenatal-care
- Menjelaskan tentang
Pelaksanaan Pelayanan
antenatal-care
- Menjelaskan tentang frekuensi
kunjungan, antenatal-care
- Menjelaskan tentang keluhan
pada masa kehamilan

3 Penutup -Menanyakan
- Tanya jawab
yang belum jelas
- Test terakhir
- Menyimpulkan hasil -Aktif bersama
penyuluhan
menyimpulkan
- Memberi salam penutup
-Membalas salam
H. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Materi sesuai dengan tujuan
b. Ruangan yang dipakai kondusif
c. Sarana prasarana berfungsi dengan baik

2. Evaluasi proses
a. Ibu hamil dan keluarga dapat mengikuti kegiatan sampai akhir dan aktif dalam
penyuluhan
b. Penyuluh dapat melakukan tugas sesuai dengan rencana
c. Suasana kegiatan kondusif dan sesuai dengan yang diharapkan

3. Evaluasi hasil
a. 80% Ibu hamil dan keluarga dapat menjelaskan ulang tentang apa itu antenatal care
dan bagian-bagian di dalam nya

I. Daftar Pustaka
https://www.scribd.com/doc/100722365/SAP-ANC
https://www.academia.edu/40275654
http://repository.unmuha.ac.id:8080/xmlui/bitstream/handle/123456789/336/BAB%20I.pdf?
sequence=15&isAllowed=y
MATERI

Antenatal-Care
1. Pengertian

Antenatal care adalah : Pelayanan kesehatan atau perawatan kepada ibu selama masa
kehamilan (DepKes RI, 1997 : 26).
Menurut Prawiroharjo S. (1994 : 72) antenatal care adalah : pengawasan terhadap ibu
hamil dengan mempersiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental ibu dalam kehamilan,
persalinan dan nifas sehingga selalu dalam keadaan sehat dan normal.

2. Tujuan

Antenatal Care bertujuan untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan,
persalinan dan nifas dengan baik dan selamat serta menghasilkan bayi yang sehat. (Dep Kes
RI, 1997 : 48).
Menurut Reeder S.J. (1997 : 111) tujuan antenatal care adalah melindungi dan
menjaga kesehatan serta kehidupan ibu dan janin selama kehamilan dengan
mempertimbangkan sosio kultural keluarga (meliputi status ekonomi, tingkat pendidikan dan
support system).
Sedangkan tujuan utama pelayanan antenatal care di Indonesia adalah :
1) Mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat saat kehamilan,
persalinan dan nifas.
2) Mengenal dan menangani penyakit yang menyerati kehamilan, persalinan dan nifas.
3) Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan,
laktasi dan keluarga berencana.
4) Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.

3. Pelaksana
Sebagai pelaksana pelayanan antenatal care terdiri atas :
Tenaga medis meliputi dokter umum dan dokter spesialis Obstretik Gineokologi.
Tenaga perawat meliputi bidan/perawat yang telah mendapatkan pelatihan antenatal
care. (Dep Kes RI, 1994 : 16)
4. Lokasi Pelayanan
Menurut Dep Kes RI (1994 : 16), tempat pemberian pelayanan antenatal care dapat
bersifat statis dan aktif meliputi :
1. Puskesmas/ puskesmas pembantu
2. Pondok bersalin desa.
3. Posyandu.
4. Rumah Penduduk (pada kunjungan rumah.
5. Rumah sakit pemerintah/ swasta
6. Rumah sakit bersalin
7. Tempat praktek swasta (bidan dan dokter)

5. Pelaksanaan Pelayanan
Pelayanan antenatal care selengkapnya mencakup anemnesis, pemeriksaan fisik (umum
dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium atas indikasi dasar dan intervensi khusus sesuai
dengan tingkat resiko. Dengan penerapan operasionalnya dikenal standar minimal ”5T” untuk
pelayanan antenatal yang terdiri atas :
a. Timbang berat badan
b. Ukuran tekanan darah, diukur setiap kunjungan
c. Ukur tinggi fundus uteri, dilakukan setiap kunjungan dimana fundus uteri
mulai teraba setelah usia kehamilan > 12 minggu.
d. Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid atau TT lengkap, mulai diberikan
usia kehamilan 16 minggu dengan interval pemberian selanjutnya 4
minggu.
e. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama hamil, mulai diberikan pada usia
kehamilan 20 minggu diminum 1 hari 1 tablet.
Dengan demikian maka secara operasional pelayanan antenatal yang tidak
memenuhi standar minimal ”5T” tersebut belum dianggap suatu pelayanan antenatal care
(Dep Kes RI, 1995 : 18).

6. Frekuensi Kunjungan Antenatal Care


Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dan petugas kesehatan yang
memberi pelayanan antenatal untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan
tidak mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang datang ke fasilitas pelayanan tetapi dapat
juga sebaliknya yaitu ibu hamil yang dikunjungi petugas kesehatan dirumahnya.
Selama kehamilan keadaan ibu dan janin harus selalu dipantau jika terjadi
penyimpangan dari keadaan normal dapat dideteksi secara dini dan diberikan penanganan
yang tepat. Oleh karena itu ibu hamil diharuskan memeriksakan diri secara berkala selama
kehamilannya.
Menurut Manuaba (2000 : 129), berdasarkan standar pemeriksaan kehamilan
dilakukan berulang dengan ketentuan sebagai berikut :
- Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid.
- Satu kali dalam sebulan sampai umur kehamilan 7 bulan.
- Dua kali sebulan sampai umur kehamilan 8 bulan.
- Setiap minggu sejak umur kehamilan 8 bulan sampai dengan bersalin.

Dalam pelaksanaan ANC terdapat kesepakatan adanya standar minimal yaitu dengan
pemeriksaan ANC 4 kali selama kehamilan dengan distribusi sebagai berikut :
- Minimal satu kali pada trimester I
- Minimal satu kali pada trimester II
- Minimal dua kali pada trimester III (Dep Kes RI, 1994 : 24)

Menurut Jumiarni (1995 : 34), frekuensi ANC diharapkan paling kurang 8 kali (7 – 9
kali) sehingga pengawasan ibu dan janin dapat dilaksanakan dengan optimal. Pemeriksaan
kehamilan tersebut dilaksanakan dengan jadwal dan kegiatan sebagai berikut :

 Kunjungan 1 (0-12 minggu), kunjungan II 12-24 minggu


Pada kunjungan ini dilakukan:
1. Anamnesis lengkap, termasuk mengenai riwayat obstertric dan ginekologi.
2. Pemeriksaan fisik ; Tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu tubuh, bunyi jantung,
bunyi pernafasan, reflek patella, edema dan lain-lain.
3. Pemeriksaan obstetric : Usia kehamilan, tinggi fundus uteri, DJJ (kehamilan lebih
dari 12 minggu), pengukuran panggul luar.
4. Pemeriksaan laboratorium : urine lengkap, darah (Haemoglobin, leukosit, Diff,
Golongan darah, Rhesus, sitologi, dan gula darah).
5. Penilaian status gizi, dilihat dari keseimbangan antara berat badan (BB) dan tinggi
badan (TB).
6. Penilaian resiko kehamilan.
7. KIE pada ibu hamil tentang keberhasilan diri dan gizi ibu hamil.
8. Pemberian imunisasi TT 1.

 Kunjungan III, 28 – 32 Minggu


Pemeriksaan terutama untuk menilai resiko kehamilan, laju pertumbuhan janin,
kelainan atau cacat bawaan.
Kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Anemnese meliputi keluhan dan perkembangan yang dirasakan oleh ibu.
2. Pemeriksaan fisik dan obstetric (pengukuran panggul luar tak perlu dilakukan lagi).
3. Pemerksaan dengan USG. Biometri janin (besar dan usia kehamilan), aktifitas
janin, kelainan, cairan ketuban dan letak plasenta, serta keadaan plasenta.
4. Penilaian resiko kehamilan.
5. KIE tentang perawatan payudara.
6. Pemberian imunisasi TT 2 dan vitamin bila perlu.

 Kunjungan IV kehamilan 34 minggu.


Pemeriksaan terutama untuk menilai resiko kehamilan dan pemeriksaan laboratorium
ulang. Kegiatannya adalah
1) Anamnese keluhan dan gerakan janin.
2) Pengamatan gerak janin
3) Pemeriksaan fisik dan obstetrik (pemeriksaa panggl dalam bagi kehamilan
pertama)
4) Penilaian resiko kehamilan.
5) Pemeriksaan laboratorium ulang : Hb, Ht, dan gula darah.
6) Nasehat senam hamil, perawatan payudara dan gizi.

 Kunjungan V (36 minggu), Kunjungan VI (38 minggu), Kunjungan VII (40 minggu)
(2 minggu 1 kali)
Pemeriksaan terutama untuk menilai resiko kehamilan, aktifitas janin dan pertumbuhan
janin secara klinis.
Kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Anamnese meliputi keluhan, gerakan janin dan keluhan.
2. Pemeriksaan laboratorium ulang (Hb dan gula darah).
3. Pemeriksaan fisik dan obstetrik.
4. Penilaian resiko kehamilan.
5. USG ulang pada kunjungan 4.
6. KIE tentang senam hamil, perawatan payudaran, dan persiapan persalinan.
7. Pengawasan penyakit yang menyertai kehamilan dan komplikasi trimester III.
8. Penyuluhan diet 4 sehat 5 sempurna.

 Kunjungan VIII 41 minggu, kunjungan IX 42 minggu (1 minggu sekali)


Pemeriksaan terutama ditujukan kepada penilaian, kesejahteraan janin dan fungsi
plasenta serta persiapan persalinan.
Kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Anamnese meliputi keluhan dan lain-lain.
2. Pengamatan gerak janin.
3. Pemeriksaan fisik dan obstetric.
4. Pemeriksaan USG yaitu pemeriksaan yang memantau keadaan jantung janin
sehubungan dengan timbulnya kontraksi.
5. Memberi nasehat tentang tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan dan rencana
untuk melahirkan.
6. Sesuai standar kunjungan ibu hamil diatas maka semakin tua umur kehamilan
harus semakin sering memeriksakan kehamilannya, resiko kehamilan semakin
tinggi, semakin tinggi pula kebutuhan untuk memeriksakan kehamilannya
Berdasarkan uraian diatas berikut ini akan digambarkan jadwal/frekuensi antenatal care
sebagai berikut :
Tabel Frekuensi / Jadwal Pemeriksaan Kehamilan
Minimal Frek Optimal Frek Ideal Frek

Triwulan I 1 - Kehamilan 1 - Sejak haid 1


1 – 12 terlambat 1
minggu 2 bulan 5
- Kehamilan - Sampai
Triwulan II 1 12 – 28 1 kehamilan 28 4
minggu mg (1 bulan
Triwulan III 2 - Kehamilan 3 1x) 5
28 – 32 - Kehamilan
minggu 28-36 mg (2
- Kehamilan mg 1x)
34 – 40 - Kehamilan 7
minggu / 37
- Kehamilan (1 mg 1x)
41 – 42
minggu
Total 4 9 15

Sumber : Dep Kes RI, 1994 : 24, Jumiarni, 1995 : 34, Manuaba, 1998 : 130

Dari tabel diatas dapat disampaikan hal – hal sebagai berikut :


1. Frekuensi pemeriksaan kehamilan minimal (4 kali,Depkes,l994) Frekuensi
pemeriksaan kehamilan dilakukan 4 kali yang terbagi dalam triwulan I,II,III.
Frekuensi ini dapat terjadi bila segalanya normal tanpa adanya resiko dan frekuensi
lebih sering dilakukan pada triwulan III untuk deteksi dini terhadap kelainan.
2. Frekuensi pemeriksaankehamilan optimal ( 9 kali, Jumiarni l994)
Pemeriksaan kehamilan dilakukan sejak haid terlambat sampai dengan usia
kehamilan 12 minggu l kali. Pemeriksaan tiap l bulan sekali dilakukan sampai
dengan usia kehamilan 36 minggu, sedangkan pemeriksaan kehamilan 36 – 40
minggu dilakukan setiap 2 minggu sekali.dan sampai dengan melahirkan
pemeriksaan dilakukan l minggu sekali. Dengan frekuensi demikian adanya
penyulit kehamilan dapat dideteksi dan diatasi sedini mungkin.
3. Frekuensi pemeriksaan kehamilan ideal (Manuaba, 1998).
Pemeriksaan kehamilan dilakukan sejak terlambat haid satu bulan sampai dengan
usia kehamilan 28 minggu dilakukan satu bulan satu kali. Pada usia kehamilan 28 –
36 minggu pemeriksaan dilakukan setiap 2 minggu sekali dan usia 37 minggu
sampai dengan melahirkan pemeriksaan dilakukan 1 minggu sekali. Pemeriksaan
kehamilan ini yang paling ideal sehingga diharapkan dengan frekuensi seperti ini
penyulit kehamilan dapat terdeteksi dan diatasi sedini mungkin.
Menurut Manuaba (2000 : 130), jadwal melakukan ANC sebaiknya
12 – 13 kali selama hamil. Dinegara berkembang ANC dilakukan sebanyak 4 kali
sudah cukup (tercatat).

Menurut Puji Rochyati Penentuan frekuensi ANC antara lain didasarkan atas resiko
kehamilan yang dihadapi oleh ibu hamil, adapun resiko itu dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.
Tabel Screening/ Deteksi Dini Ibu Hamil Resiko Tinggi

A) Kehamilan Skor pada kelompok umur/tahun skore


awal:………

Ke < 16 17 - 19 20 – 34 > 35

1 4 4 2 4

2 4 2 4

3 4 2 4

4 2 4

>5 4 4

Kelompok Faktor Resiko No. Kondisi Ibu Hamil Skor

1 Terlalu muda, hamil pertama < 16 tahun 4


B) 2 a. Terlalu tua hamil pertama > 35 tahun 4

b. Terlalu lambat hamil pertama 4

Ⅰ. 3 Anak terkecil > 10 tahun 4

4 Anak terkecil > 2 tahun 4

5 Terlalu banyak punya anak 4 atau lebih 4

6 Terlalu tua, umur > 35 tahun 4

7 Terlalu pendek < 145 cm 4

8 Pernah gagal kehamilan 4

9 Pernah melahirkan dengan : 4

a. Tarikan tang/ vakum


b. Uri rogoh
c. Diberi infus/ transfusi
10 Pernah dioperasi 4

11 Penyakit pada ibu hamil : 4

a. Kurang darah.
b. Malaria
c. Tuberkulosa paru
d. Payah jantung
e. Kencing manis/ diabetes
12 Bengkak pada muka dan tungkai (tekanan
Ⅱ. darah tinggi)

13 a. Letak sungsang 4
b. Letak lintang
14 Hamil kembar 2 atau lebih 4

15 Hamil kembar air (Hydrammon) 4

16 Bayi mati dalam kandungan 4

17 Kehamilan lebih bulan 4


Ⅲ. 18 Perdarahan waktu hamil ini 8

19 Kejang-kejang hamil > 7 8

Jumlah skor kelompok faktor resiko I, II dan III (B)

Jumlah skor awal (A)

Jumlah skor (A + B)

Pedoman penyuluhan menuju persalinan aman :


Jumlah Kelompok Periksa Rujukan Tempat Penolong
skor resiko kehamilan kehamilan persalinan

2–4 Resiko Bidan Tidak Rumah pasien Bidan


ringan dirujuk Dukun
6–8 Resiko Bidan Bidan Rumah Bidan
tinggi Polindes
> 10 Resiko Dokter Dokter Puskesmas Dokter
tinggi Rumah sakit

Menurut Dep Kes RI (1992), faktor resiko ibu hamil seperti yang tercantum dalam
KMS ibu hamil adalah sebagai berikut :
1. Anemia berat (Hb < 8 gr %)
2. Tekanan darah diastole > 90 mmHg
3. Perdarahan selama kehamilan
4. Kelainan pada persalinan terdahulu
5. Jarak kehamilan terakhir kurang dari 2 tahun
6. Tinggi badan kurang dari 140 cm
7. Umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih 35 tahun
8. Pernah sakit kronis
Tabel Penilaian resiko kehamilan (Depkes RI, 1992 : 85)
No. Kriteria Jumlah
Nilai
1. Kematian neonatal BB < 40 atau > 70 kg
Riwayat preterm Premipara < 20 tahun
Riwayat preeklamsi dan > 35 tahun
1
Penyakit paru Multi para > 40 tahun
Anemi 8-10 gr% Paritas > 3
Tinggi badan < 145 cm Tanpa antenatal
2. Abortus > 3 Gemelli
Riwayat SC Sungsang
2
Placenta previa Partus percobaan
Diabetes mellitus Hiperteoridism
3. Riwayat lahir mati Sungsang (premipara)
Penyakit ginjal Ketuban pecah > 6 jam
Partus 32 – 36 minggu Mekonium (kepala)
3
Posterum > 42 minggu Partus > 24 jam
Penyakit hepar Plasenta previa
Preeklamsi berat SC
4. Diabetes mellitus DJJ ireguler < 120 atau
Fitiumcordis > 180 kali / menit 4
KMK
5. Eklamsi Incomtabilitas RH
Hedramnion Solutio pacenta
5
Infeksi intra partum Letak lintang
KPD > 24 jam Prolapsus tali pusat

Keterangan :
1. Bila jumlah nilai resikonya > 3 ibu hamil perlu dirujuk ke Puskesmas untuk
mendapatkan pemriksaan dan penanganan yang lebih teliti dari dokter.
2. Bila jumlah nilai resiko > 5 ibu hamil harus dirujuk ke rumah sakit. Ibu hamil yang
boleh ditolong perawat/ bidan hanya pasien dengan resiko rendah dengan nilai < 3.

7. Keluhan Pada Masa Kehamilan


Keluhan ada masa hamil menurut Dep.Kes.RI. (1994: 84) adalah suatu kondisi
bersifat subyektif dimana pada individu yang hamil terjadi proses adaptasi terhadap
kehamilannya. Keluhan-keluhan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

 Keluhan pada Triwulan I usia kehamilan 1 – 3 bulan


Pada triwulan ini keluhan yang timbul adalah :

1. Mual dan Muntah


Terutama terjadi pada pagi hari dan akan hilang menjelang tengah hari. (Morning
Sicknes)

2. Perasaan neg atau mual


Hal ini terjadi bila mencium bau yang menyengat penciuman, misalnya : Bawang
goreng, minyak rambut.

3. Pusing terutama bila akan bangun dari tidur


Hal ini terjadi karena adanya gangguan keseimbangan, perut kosong.
4. Sering kencing
Sering kencing terjadi karena tekanan uterus yang membesar dan menekan pada
kandung kencing.
5. Keputihan (leukorhoe)
Pengaruh peningkatan hormon kehamilan (estrogen dan progesteron) yang
mempengaruhi mukosa servix dan vagina.

6. Pengeluaran darah pervaginam


Bila terjadi perdarahan, perlu diwaspadai ancaman abortus.

7. Perut membesar lebih besar dari usia kehamilan


Bila terjadi pembesaran uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan diwaspadai
kemungkinan terjadi molla hidatidosa.
Perasaan gembira dengan penerimaan kehamilan akan mempengaruhi penerimaan ibu
terhadap kelainan-kelainan yang timbul. Sebaliknya karena menolak kehamilan, keluhan
tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman dan menimbulkan antipati terhadap kehamilannya.
Pada masa ini sering timbul konflik karena pengalaman baru, sehingga ibu hamil perlu
mendapatkan perhatian dan dukungan suami.

 Keluhan pada triwulan II, usia 4 – 6 bulan


Pada triwulan ini keluhan yang bersifat subyektif sudah berakhir, sehingga bila ada ibu
hamil masih mendapatkan keluhan seperti pada triwulan I yang menyangkut faktor-faktor
subyektif, perlu diwaspadai kemungkinan adanya faktor psikologis.

Pada triwulan ini sering ditandai adanya adaptasi ibu terhadap kehamilannya, perasaan
ibu cenderung lebih stabil, karena keluhan yang terjadi pada triwulan I sudah terlewati. Ibu
merasakan pengalaman baru, mulai merasakan gerakan bayi, terdengarnya detak jantung
janin (DJJ) melalui alat doptone atau melihat gambar/posisi melalui pemeriksaan USG.
Triwulan II juga dikatakan fase aman untuk kehamilan, sehingga aktifitas ibu dapat berjalan
tanpa gangguan yang berarti.

 Pada triwulan III, usia kehamilan 7 – 9 bulan


Pada triwulan ini keluhan yang sering muncul akan mencerminkan prognose
kehamilan. Keluhan yang bersifat subyektif perlu mendapatkan perhatian karena hal ini
menunjukkan kepada kondisi patologis. Kejadian yang sering timbul antara lain :

1. Pusing disertai pandangan berkunang-kunang


Hal ini dapat menunjukkan kemungkinan terjadi anemia dengan HB kurang dari
10 %.

2. Pandangan mata kaburdisertai pusing


Hal ini dapat digunakan rujukan kemungkinan adanya hipertensi.

3. Kaki odem
Odem pada kaki perlu dicurigai karena sebagai salah satu gejala dari trias klasik
ekslamsi, yakni hipertensi, odem pada kaki dan protein uri. Sesak nafas pada
triwulan III perlu dicurigai kemungkinan adanya kelainan adanya kelainan letak
(sungsang) kelainan posisi bayi.

4. Perdarahan
Pada triwulan III bisa terjadi perdarahan pervaginam perlu
dicurigai adanya placenta praevia atau solutio plasenta.

5. Keluar cairan di tempat tidur pada siang atau malam hari, cairan jernih
bukan pada saat kencing perlu dicurigai adanya ketuban pecah dini
(KPD).
6. Sering kencing
Pada triwulan III karena kepala bayi akan masuk ke pintu atas panggul
(PAP) pada usia kehamilan 36 minggu. Sering kencing disebabkan
tekanan kepala bayi pada kandung kemih.

Apabila ibu hamil mendapat keluhan diatas, perlu segera periksa ke


fasilitas kesehatan, untuk itu penyuluhan pada triwulan III diarahkan
kepada hal-halyang berkaitan dengan antisipasi dari keluhan di atas.
Selain keluhan di atas pada truwulan III ditandai dengan adanya
kegembiraan emosi karena akan lahirnya seorang bayi. Reaksi calon ibu
terhadap persalinan secara umum tergan\tung pada persiapan dan
persepsinya terhadap kewjadian ini, untuk itu kerjasama dan komunikasi
yang baik selama ANC perlu dibina sehingga ibu dapat melalui masa
kehamilan dan persalinan dengan perasaan gembira (Hamiton, 1998:
163).