Anda di halaman 1dari 5

Tugas PPKN XII MIPA 5

Kelompok 4

Anggota :

Amrita Deviayu Tunjungbiru (7)

Delvino Ananta (11)

Hagea Sofia Adninda Imanisla (17)

Muhammad Rayhanafraa Gibran Maulana (23)

Muhammad Syarief Nur Hakim (24)

Nasywa Aqilah Putri (28)

Ransi Raihan Majesta (33)


TUGAS 2.2 ANALISIS KASUS

1. Dampak dari eksekusi mati terhadap peredaran narkoba

Di tengah-tengah kepastian hukum yang oleh sebagian orang masih menunjukkan


ketidakadilan, Indonesia memberlakukan hukuman mati untuk pengedar dan pengguna
narkoba. Hukuman mati menjadi senjata pamungkas pemerintah Indonesia untuk
menekan peredaran narkoba di Indonesia. Tidak ada ampun bagi mereka yang terbukti
secara hukum terlibat dalam jaringan peredaran narkoba di Indonesia. Logika dari
pemerintah jelas, eksekusi mati terhadap gembong narkoba akan membuat orang
menjauhi narkoba. Akan tetapi, pemberlakuan hukuman mati tidak serta merta
membuat pelaku jera, pun tidak membuat orang takut mendekati narkoba. Peredaran
narkoba terus terjadi, dan korban anak-anak bangsa terus berjatuhan.

2. Efek jera yang ditimbulkan dari pelaksanaan eksekusi mati yang ditandai dengan
menurunnya jumlah pengedar dan pengguna narkoba

Dengan pelaksanaan hukuman yang berupa eksekusi mati, efek yang ditimbulkan
meliputi kejeraan beberapa orang terhadap narkoba sehingga tidak ingin menggunakan
narkoba lagi, hal tersebut disebabkan karena hukuman terhadap pengedar narkoba
sangat berat, maka diharapkan orang yang pernah menjadi pengguna akan berhenti.
Efek yang selanjutnya adalah Menurunnya jumlah pengedar narkoba dan pengguna
narkoba. Hal tersebut karena takut dengan hukuman,beberapa orang yang memakai
narkoba akan menghentikan pemakaian sehingga mengakibatkan penurunan jumlah
pengedar dan pengguna narkoba.

3. Relevansi (kesesuaian) pelaksanaan hukuman mati dengan penegakan hak asasi


manusia

Sebenarnya, pelaksanaan hukuman mati sendiri merupakan hal yang bertentangan


dengan penegakan hak asasi manusia. Karena tindakan tersebut tidak menghormati dan
menghargai hak untuk hidup manusia. Tidak ada pihak yang berhak untuk mengakhiri
hidup seseorang. Namun, terkait dengan penegakan hukum, adanya sanksi eksekusi
mati bagi pelaku pembunuhan, pengedar narkoba bandar besar, korupsi, dan kejahatan
besar lainnya dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelaku kriminal yang ada.
Sehingga, tindakan kriminal dapat diminimalisasi.
4. Alternatif hukuman bagi pelaku penyalahgunaan narkoba selain hukuman mati

Alternatif hukuman bagi pelaku penyalahgunaan narkoba selain hukuman mati


adalah hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara paling singkat 5 tahun
dan paling lama 20 tahun. Selain itu, juga dapat melaksanakan rehabilitasi narkoba.
Dalam ketentuan UU Nomor 35 Tahun 2009 dimana pengguna narkotika dapat
dikategorikan sebagai pecandu, yaitu orang yang menggunakan atau yang
menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika, baik
secara fisik maupun psikis dan berhak untuk mendapatkan atau mengakses rehabilitasi
medis dan rehabilitas sosial. Hak atas pemulihan kesehatan pengguna narkotika dari
kecanduannya itu senada dengan ketentuan World Health Organization (WHO) yang
mengategorisasikan adiksi (kecanduan) sebagai suatu penyakit kronis kambuhan yang
dapat dipulihkan.
International Drug Policy Consortium mendefinisikan dekriminalisasi sebagai
penghapusan atau pengambilan jalur non-hukum pidana pada aktivitas tertentu.
Dekriminalisasi pengguna narkotika mengacu pada penghapusan atau pengambilan jalur
non-hukum pidana bagi kasus penggunaan narkotika, kepemilikan narkotika,
kepemilikan peralatan untuk penggunaan narkotika, serta budidaya narkotika untuk
tujuan konsumsi pribadi. Konsep dekriminalisasi penggunaan narkotika juga sangat
memungkinkan untuk menghapus semua bentuk penghukuman. Pilihan lain adalah
penjatuhan sanksi perdata atau administratif dibandingkan hukuman pidana. Konsep
dekriminalisasi pengguna narkotika dilaksanakan dalam konsep kesehatan masyarakat.
Ini merupakan kunci utama dari pergeseran pandangan kriminalisasi pengguna narkotika
ke dekriminalisasi. Pondasinya sederhana dan kuat, yaitu kriminalisasi tidak lagi mampu
menjawab persoalan yang sesungguhnya dihadapi dalam masalah narkotika, yaitu
masalah kesehatan masyarakat
Presentasikan dalam sebuah artikel minimal 4 – 6 paragraf

Narkoba di Mata Hukum

Narkoba merupakan salah satu contoh jenis obat-obatan yang sangat berbahaya
yang seringkali digunakan secara menyimpang. Narkoba atau yang disebut dengan
narkotika dan obat/bahan berbahaya ini, selain membuat penggunanya menjadi
kecanduan, juga dapat menjadikan penggunanya mengalami kematian serta merusak
generasi-generasi penerus bangsa.

Hukuman penyalahgunaan narkoba


Di tengah-tengah kepastian hukum yang oleh sebagian orang masih menunjukkan
ketidakadilan, Indonesia memberlakukan hukuman mati untuk pengedar dan pengguna
narkoba. Hukuman mati menjadi senjata pamungkas pemerintah Indonesia untuk
menekan peredaran narkoba di Indonesia. Tidak ada ampun bagi mereka yang terbukti
secara hukum terlibat dalam jaringan peredaran narkoba di Indonesia. Logika dari
pemerintah jelas, eksekusi mati terhadap gembong narkoba akan membuat orang
menjauhi narkoba. Akan tetapi, pemberlakuan hukuman mati tidak serta merta
membuat pelaku jera, pun tidak membuat orang takut mendekati narkoba. Peredaran
narkoba terus terjadi, dan korban anak-anak bangsa terus berjatuhan.

Efek hukuman penyalahgunaan narkoba bagi masyarakat


Dengan pelaksanaan hukuman yang berupa eksekusi mati, efek yang ditimbulkan
meliputi kejeraan beberapa orang terhadap narkoba sehingga tidak ingin menggunakan
narkoba lagi, hal tersebut disebabkan karena hukuman terhadap pengedar narkoba
sangat berat, maka diharapkan orang yang pernah menjadi pengguna akan berhenti.
Efek yang selanjutnya adalah Menurunnya jumlah pengedar narkoba dan pengguna
narkoba. Hal tersebut karena takut dengan hukuman,beberapa orang yang memakai
narkoba akan menghentikan pemakaian sehingga mengakibatkan penurunan jumlah
pengedar dan pengguna narkoba.
Sebenarnya, pelaksanaan hukuman mati sendiri merupakan hal yang bertentangan
dengan penegakan hak asasi manusia. Karena tindakan tersebut tidak menghormati dan
menghargai hak untuk hidup manusia. Tidak ada pihak yang berhak untuk mengakhiri
hidup seseorang. Namun, terkait dengan penegakan hukum, adanya sanksi eksekusi
mati bagi pelaku pembunuhan, pengedar narkoba bandar besar, korupsi, dan kejahatan
besar lainnya dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku-pelaku kriminal yang ada.
Sehingga, tindakan kriminal dapat diminimalisasi.

Alternatif hukuman mati


Alternatif hukuman bagi pelaku penyalahgunaan narkoba selain hukuman mati
adalah hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara paling singkat 5 tahun
dan paling lama 20 tahun berdasarkan UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Selain
itu, juga dapat melaksanakan rehabilitasi narkoba. Dalam ketentuan UU Nomor 35
Tahun 2009 dimana pengguna narkotika dapat dikategorikan sebagai pecandu, yaitu
orang yang menggunakan atau yang menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan
ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis dan berhak untuk
mendapatkan atau mengakses rehabilitasi medis dan rehabilitas sosial. Hak atas
pemulihan kesehatan pengguna narkotika dari kecanduannya itu senada dengan
ketentuan World Health Organization (WHO) yang mengategorisasikan adiksi
(kecanduan) sebagai suatu penyakit kronis kambuhan yang dapat dipulihkan.