Tabel 1.
Contoh Pengisian Blangko Pengukuran Hujan dari Penakar Hujan ManuaJ di
Sub DAS Dumpul Selama (1) Satu Bulan, Kabupaten Karanganyar.
PEMERIKSAAN HUJAN
. ··BULAN :Januari TAHUN :2000
TEMPAT : Salam Kecamatan : Jurnantono
DESA :Ngwmt Kabupaten :Karanganyar
PEMERIKSAAN HUJAN PAGI JAM :07.00
Jil<a t'idak ada hui.an d"llSl. :.
Tanggal Air·Hujan Tanggal Air Tanggal · Air
Penakaran (mm) Penakara .Hujan Penakaran Hujan
D (mm) (mm) .
1 2 .ll ·4 21 21
2 . 12 . 22 4
3 3 13 31 23 20
4 . 14 4 22 .
5 24 15 . 25 l
6 7 16 . 26 .
7 8 17 . 27 .
8 3 18 . 28 5
9 . 19 3 29 .
10 .34 .20 5 30 50
31
Jumlah 81 · Jumlah 43 Jumlah 123
Jumlah air hujan sebulan = 247 mm Beritahukan segera jika :
Jumlah Hari Hujan sebulan = 18 hari Kehabisan kartu hujan
Penakar bocor/rusak
DIKIRIM OLEH :Triyono (Pengamat) Gelas penakar pecah
. ALAMAT :Ngunut Ada Gempa, banjir dll.
3
2. Alat Penakar hujan dengan alat ukur hujan otomatis (Automatic Rainfall
Recorder/ARR).
Alat ukur hujan otomatis (ARR) banyak tipenya, tetapi pada prinsipnya adalah sama
yaitu mencatat hubungan jumlah hujan dengan waktu secara otomatis kertas grafik yang
disebut dengan kertas pias.
a. Ke1ias pias tersebut ada yang diganti setiap hari (kertas pias hujan harian, setiap
minggu (kertas pias hujan mingguan), setiap bulan (kertas pias hujan bulanan)
tergantung type alat ukur hujan otomatis yang terpasang.
b. Prinsip pencatatannya dari ke1ias pias jumlah hujan persatuan waktu terjadinya hujan
dapat dibaca sebagai intensitas hujan.
c. Garis datar pada kertas pias merupakan petunjuk waktu tidak terjadi hujam, sedangkan
garis miring/tegak menandakan terjadi hujan.
d. Pada garis tegak lurus yang tergambar pada kertas pias akan naik hingga mencapai
angka 10 (sepuluh) mm, setelah mencapai angka itu jarum otomatis turun hingga angka
0 mm, kalau masih terns hujan jarum akan naik lagi sambil mencatat tingginya hujan.
e. Kontrol terhadap alat hams dilakukan setiap hari dan diberi tanda catatan pada saat
pemeriksaan.
f. Pada saat pemasangan kertas pias hams dicatat : (1). Lokasi; (2). Tanggal; (3). Jam; dan
(4). Nama pengamat.
g. Pada saat pengambilan kertas pias perlu dicatat : (1). Tanggal; (2).Jam; dan (3). nama
pengamat.
h. Bentuk alat penakar hujan otomatis (ARR) adalah sepe1ii pada Gambar. .., sedangkan
contoh basil pengukuran hujan dengan ARR pada kertas pias disaji kan pada Gambo.r. ..,
yang memperlihatkan satu kejadian hujan (rainfall event)
1. Pengolahan data dengan cara memotong garis garis yang relatif lurus seperti tanda tanda
pada Gambar .., kemudian potongan potongan garis tersebut dianalisis sepe1ii pada
Tabel...
3. Syarat-syarat pemasangan alat ukur hujan supaya berfungsi clcngan baik sebagai
berikut :
a. Letak stasiun h ujan harus i ndependen tidak overl ap dengan stasi un h ujan yang lain .
b. Ti nggi corong 1 10 cm clari per mukaan tanah.
c. Di letak kan m inimum 4 x ti nggi rintangan bang una n atau po hon yang tercl ekat.
cl. Terlindung dari gangguan luar (binatang, orang).
e. Dekat clengan tem pat ti nggal pcngamat.
4
5 5
I •' ..... •'- '• •j; ·:-·· l' ," -:-: ·-:,,·.•• • -.. ,' • •\: 0 • , 11
::" 16.,·'k .,?,•··11.:...·
" ·' ·; ,, '. '. f
.. ·-·-·.. '. ,.18
' • • '\
'. ..• "'
•
< \ 19.: . "!; ' \ ,' 't ' .. '
..
Gambar 2. Grafik curah hujan pada kertas pias
Tabel 2. Curah hujan di DAS Goseng, tanggal 20 November 2017
No Jam Waktu Tebal hujan (mm) lntensitas hujan (mm/jam)
1. 13.30 - 14.00 30 menit ( Yz jam) 13,00 26,00
2. 14.00 - 14.30 30 menit ( Y,jam) 4,20 8,40
3. 14.30 - 15.00 30 menit ( Yi jam) 1,80 3,60
4. 15.00 - 15.30 30 menit ( Yi jam) 0,60 1,20
5. 15.30 - 16.00 30 menit ( Yz jam) 0,80 1,60
6. 16.00 - 16.30 30 menit ( Yz jam) 1,20 2,40
7. 16.30 -17.00 30 menit ( Y,jam) 1,80 3,60
8. 17.00 -17.30 30 menit ( Yz jam) 0,80 1,60
9. 17.30 -18.00 30 menit ( Y, jam) 0,30 0,60
10. 18.00 - 18.30 30 menit ( Yz jam) 0,30 0,60
11. 18.30 - 19.00 30 menit ( Yz jam) 0,10 0,20
12. 19.00 - 19.30 30 menit ( Yz jam) 0,05 0,10
Jml 360 menit (6jam} 24,95 49,90
lntensitas hujan rata-rata 49,90/6 = 8,32
Jumlah hujan selama 6 jam (13.30 ·- 19.30) = 24,95 mm "' 25 mm.
lntensitas hujan rata-rata tanggal 20 · - November ·- 2017 :. 8,32 mm/jam ""llmm/jam.
6
4. Perhitungan Hujan Rata Rata
Untuk perhitungan hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) diperlukan perhitungan
hujan rata-rata. Karena pada perhitungan hujan rata-rata, hujan yang terjadi distribusinya
dianggap merata pada suatu daerah alfran. sungai. Dalam perhitungan curah hujan rata-rata
DAS berapa metode yang sering digunakan yaitu :
I . Metode aritlnnatik baik digunakan untuk daerah datar dan penyebaran stasiun
hujannya merata.
2. Metode Poligon Thiessen baik digunakan untuk daerah yang stasiun hujannya tidak
merata.
3. Metode Isohyet unuk daerah pegunungan.
4.1. Metode Arithmatik
Perhitlmgan hujan rata-rata metode arithmatik caranya adalah dengan membagi rata
jumlah hujan dari hasil pencatatan stasiun yang ada pada DAS, sehingga dapat dirumuskan
sebagai berikut :
P1 + P2 + P3 + ..................................+ Pn
P=
n
dimana : P = hujan rata-rata (mm)
P1 , P2. PJ. Pn, = Jumlah hujan masing stasiun yang diamati
Gambar J. Metode Arithmatik
7
Contoh perhitungan :
Misal Jumlah hujan tahun 2018, Pada stasiun P1 1000 mm,
P2 = 950 mm, P3 = 1050, dan stasiun P4 = 1200 mm, maka jumlah hujan rata rata DAS
pada Tahun 2018 =
1000 + 950 + 1050 + 1200
P= ------------------------------------------- = 1050 m
4
Jadi hujan tahunan rata rata DAS pada Tahun 2018 adalah 1050 mm.
4.2. Metode Poligon Thiessen
Perhitungan hujan rata-rata metode Poligon Thiessen dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut :
1. Menghubungkan masing masing Stasiun hujan dengan garis poligon.
2. Membuat garis berat antara 2 stasiun hujan hingga bertemu dengan garis berat
lainnya pada satu titik dalam poligon.
3. Luas area yang mewakili masing- masing stasiun hujan dibatasi oleh garis berat pada
polygon.
4. Luas Sub Area masing masing stasiun hujan dipakai sebagai faktor pemberat dalam
menghitung hujan rata-rata.
Sehingga perhitungan hujan rata-rata pacla suatu DAS clapat cli rurnuskan :
P1 . A1 + P2 . A2 + P3 . A3 + ..................................+ Pn. An
P=
A 2 + A 3 + ..................................+ An
dimana : P = hujan rata-rata (mm )
P 1 , P2 . P3 . Pn, = Ju m lah huja n masi ng slasi u n yan g d iamati
0
A 1 ·' A 2 . A 3 , A n = Luas Sub-area yang m ewak i l i masi ng masi ng stasi u n h ujan
( k m 2)
8
Contoh perhitungan :
Misal jumlah hujan tahun 2018, pada stasiun :
P 1 = 1000 mm, luas sub-area 1 = 200 km2
P2 == 950 mm, luas sub-area 2 = 150 km2
P3 = 1050 mm, luas sub-area 3 = 215 km2
P4 = 1200 mm, luas sub-area 4 = 225 km2
maka jumlah hujan rata rata DAS pada Tahun 2018 =
( 1000.200) + ( 950.150) + (1050.215) + (1200.225)
P= 1062 mm
(200+150+215+225)
Jadi hujan tahunan rata rata DAS pada Tahun 2018 adalah 1062 mm.
Gambar 4. Metode Poligon Thiessen.
9
4.3. Metode Isohiet
Isohiet adalah garis kontur yang menghubw1gkan tempat-tempat yang
mempunyai jumlah hujan yang sama.Perhitungan hujan rata-rata metode Isohiet dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Memploting masing-masing stasiun hujan pada peta dasar.
2. Mencacat jumlah hujan pada setiap stasiun httjan.
3. Membuat interpolasi dengan garis kontur antara stasiun stasiun hujan menurut
interval yang dikehendaki.
4. Luas sub-area antara 2 garis kontur yang dipakai sebagai faktor pemberat dalam
menghitung hujan rata-rata.
1250 mm
1200 mm
A7=IOKm2 1150 mm
A6=60 Km 2
1100 mm
A5=70 Km•
105D mm
A4=90 Km2
A3=180 Km 2
95D mm
900 mm
Gambar 5. Metode Isohiet
10
Sehingga perhitungan hujan rata-rata pada suatu DAS dapat dirumuskan :
P=
A1 + A2 + A3 + ..................................+ An
dimana : P = hujan rata-rata (mm)
X 1 , X2, X3, Xn = Jumlah hujan masing stasiun yang diamati
A1 , A2, A3 = Luas Sub-area yang mewakili masing masing stasiun
hujan (km2)
Contoh perhitungan :
Misal Jumlah hujan tahun 201 8, Pada stasiun P1 1000 mm,
P2 = 950 mm, P3 = 1050, dan stasiun P4 = 1200 mm, maka jumlah hujan rata rata DAS
pada Tahun 2018 =
P=
A1 + A2 + A3 + .................................. + An
(900+950)/2.80+(950+ 1000)/2.250+(1000+ 1050)/2.180(1050+ 1 100)/2.90+(1 100+
1 150)/2.70+ (1150+ 1200)/2.60+(1200+ 1240)/2.40
P=
80 + 250 + 1 80+ 90 + 70 + 60 + 40
P = 1035 mm
11
5. Perkiraan Data hujan Hilang
Dalam praktek lapangan sering dijumpai data hujan yang tidak lengkap, hal ini
disebabkan antara lain :
a. Alat ukur hujan rnsak
b. Pengamat stasiun hujan berhalangan
c. Data pencatatan hujan hilang
Untuk mengisi data hujan yang hilang dapat dilakukan dengan beberapa cara yang
sering digunakan untuk perencanaan hidrologi yaitu :
I . Metode perbandingan normal
2. Metode Inversed Square Distance
5.1. Metode Perbandingan Normal
Jika pencatatan pada tahun tertentu terdapat data yang hilang, sedang stasiun yang
lain di sekitarnya terdapat data pencatatan hujan waktunya panjang maka untuk
memperkirakan data hujan yang hilang dapat digunakan cara "Metode Perbandingan
Norm
PA = l/n (NA/N1 .P1 + NA/Nz. P2 + NA/N3.P3 +...........+ NA/N 11 .P 11 )
dimana : PA = hujan yang diperkirakan pada Stasiun A.
NA = Jumlah hujan tahunan normal pada stasiun A
P 1 , P2 • P3 , Pn = hujan pada saat yang sama dcngan hujan yang
diperki rakan pada stasiun 1,2,3......n
N 1 , N 2. N 3 • • .N = Jumlah hujan tahunan normal stasiu n yang berdekatan.
12
Contoh Perhitung an :
Hasil pencatatan data hujan masing masing stasiun dapat dilihat pada Tabel...
Tabel 3. Pencatat Data Hujan Tahunan
Hu_jan Tahunan di Stasiun (mm)
Tahun A B c D E
1977 1100 1010 900 850 960
1978 1200 1040 800 12 10 1190
1979 1090 1210 - 1160 1140
1980 1150 1120 1000 1020 1050
1981 1250 1260 1300 1215 1225
Jumlah 5790 5640 4000 5455 5565
Data hujan yang hi lang pada Stasiun C untuk Tahun 1979, dapat dihitung sebagai berikut :
PC = 1/.i (4000/5790.1090 + 4000/5640 . 1210+4000/5455.1160+4000/5455.1160)
PC = 820 mm
5.2. Metode lnverstec.l Squa re Distance
Apabi l a terdapat data hujan yang hilang pada stasiun hujan tertentu,d imana
stasi un hujan tcrsebut d i kelil i n gi oleh beberapa stasiun h uja n yang lain , maka u ntuk
mem perki rak an data hujan yang hi lang dapat dilakukan den gan metode ' 'Jnverst ed
Squore Distance " sehagai bcri kut :
2 2 2
l/a . PA + .1/b • PB + l/c • PC + .............+ 1/n2 • PN
PX =
1 /a 2 + 1 /h 2 + 1 /c. 2 + .............+ l/n 2 . I) N
d i rna na : PX = h u_ja n ya n g cl i perk i ra kan pacla Stasiu n X (m m).
PA, PB,PC...PN c .J u rn l ah h uj an pacla stasiu n mengel i l i ngi stasi u n h uja n X
( 111111 )
a , b. c n ° 0
J ara k cl a ri stasi u n X kc masi ng masi n g Stasi u n huja n A,B,C...N
( k m)
13
Contoh pcrhitungau :
Lokasi stasiun hujan C terletak seperti pada Gambar, Pada tahun 2007 terdapat
data yang hilang. Adapun data hujan yang tercatat pada stasiun hujan A,B,D dan Stasiun
hujan E adalah PA = 1090 mm, PB = 1210 mm, PD = l 160mm, dan PE = 1140 mm.
Sehingga dta hujan yang hilang pada Stasiun C dapat dihitung sebagai berikut :
1/a2 • PA + 1/b2 • PB + l/d2 • PD + l/n2 • PE
J>C == ---------------------------------- --------------------------
1/a2 + 1/b2 + 1/d2 + l/e2
1/252 • 1090 + 1/152 • 1210 + 1/42 • 1160 + 1/62 • 1140
J>C =
l/252 + 1/152 + 1142 + 1/62
1,74 + 5,38 + 72,50 + 31,69
PC == ----------------------------------------------------------------------
0,0016 + 0,0044 + 0,0625 + 0,00278
.PC = .l156 m m
14