0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan43 halaman

Dinamika Populasi Ikan Cakalang Cilacap

Skripsi ini membahas parameter dinamika populasi ikan cakalang yang didaratkan di PPS Cilacap, Jawa Tengah. Analisis data meliputi rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang, sebaran frekuensi panjang, hubungan panjang bobot, parameter pertumbuhan, laju eksploitasi, dan model produksi surplus. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan ikan cakalang lambat dengan panjang tubuh maksimum 992 mm, laju eksploitasi 0,
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan43 halaman

Dinamika Populasi Ikan Cakalang Cilacap

Skripsi ini membahas parameter dinamika populasi ikan cakalang yang didaratkan di PPS Cilacap, Jawa Tengah. Analisis data meliputi rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang, sebaran frekuensi panjang, hubungan panjang bobot, parameter pertumbuhan, laju eksploitasi, dan model produksi surplus. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan ikan cakalang lambat dengan panjang tubuh maksimum 992 mm, laju eksploitasi 0,
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PARAMETER DINAMIKA POPULASI IKAN CAKALANG

(Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) YANG DIDARATKAN


DI PPS CILACAP, PROVINSI JAWA TENGAH

AISYA INTAN WIDYA SATRIA

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Parameter Dinamika


Populasi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di
PPS Cilacap, Provinsi Jawa Tengah adalah benar karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan
tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2015

Aisya Intan Widya Satria


NIM C24110044
ABSTRAK

AISYA INTAN WIDYA SATRIA. Parameter Dinamika Populasi Ikan Cakalang


(Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di PPS Cilacap, Provinsi
Jawa Tengah. Dibimbing oleh YONVITNER dan RAHMAT KURNIA.

Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan pelagis besar yang


memiliki nilai ekonomis penting di perairan Samudera Hindia dan merupakan
salah satu ikan tangkapan dominan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan
Samudera (PPS) Cilacap, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan parameter dinamika populasi ikan cakalang di Perairan Samudera
Hindia. Pelaksanaan penelitian pada bulan Desember 2014 hingga Maret 2015.
Analisis data terdiri atas rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, ukuran
pertama kali matang gonad, sebaran frekuensi panjang dan identifikasi kelompok
umur, hubungan panjang bobot, parameter pertumbuhan, laju eksploitasi, dan
model produksi surplus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan
cakalang lambat (K = 0,3). Panjang tubuh asimptotik (L∞) ikan cakalang sebesar
992,6 mm, dengan laju eksploitasi sebesar 0,93 yang berarti telah mengalami
tangkap lebih. Hasil tangkapan maksimum lestari dan upaya optimum masing-
masing 3354,3 ton per tahun dan 1700 trip per tahun. Upaya pengelolaan yang
dapat dilakukan adalah pengendalian upaya penangkapan dan pembatasan musim
penangkapan.

Kata kunci: Ikan cakalang, Cilacap, indikator populasi, manajemen

ABSTRACT
AISYA INTAN WIDYA SATRIA. Dynamic Population Parameters of Skipjack
Tuna (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) landed on PPS Cilacap, Central Java.
Guided by YONVITNER and RAHMAT KURNIA.

Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) is a large pelagic fish that have


important economic value in the Indian Ocean and also as a dominant fish landed
in PPS Cilacap, Central Java. The aim of this research is to determine the
population dynamics parameter of skipjack tuna in the Indian Ocean. This
research was in December 2014 until March 2015. The data analysis conducted
are sex ratios, gonad maturity, first lenght maturity, length frequency distribution
and age, lenght and weight relationship, growth parameters, exploitation rate, and
the surplus production model. The results shown growth of skipjack tuna move
slow (K = 0,3). Lenght infinity (L∞) of skipjack tuna is 992,6303 mm, the
exploitation rate is 0,93 and called as overexploited. Maximum sutainable yield
(MSY) is about 3354,3 ton per year and optimum effort amount is 1700 trip per
year. Management efforts to control fishing effort and restrictions of the fishing
season.

Keywords: Skipjack, Cilacap, population indicator, management


PARAMETER DINAMIKA POPULASI IKAN CAKALANG
(Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) YANG DIDARATKAN
DI PPS CILACAP, PROVINSI JAWA TENGAH

AISYA INTAN WIDYA SATRIA

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Perikanan
pada
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat serta karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul Parameter Dinamika
Populasi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang Didaratkan di
PPS Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan kesempatan untuk studi.
2. Dr Majariana Krisanti, SPi MSi selaku dosen pembimbing akademik.
3. Dr Yonvitner, SPi MSi serta Dr Ir Rahmat Kurnia, MSi selaku dosen
pembimbing yang telah memberi arahan dan masukan dalam penulisan
karya ilmiah ini.
4. Dr Ir Etty Riani, MS selaku penguji tamu dan Ali Mashar, SPi MSi selaku
komisi pendidikan Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan atas saran
dan masukan dalam penulisan karya ilmiah ini.
5. Keluarga Penulis Ibu Ratna Dewi, Bapak Ir Budi Satria, Adik Annisa Putri
WS dan Alika Tririsky WS yang telah memberikan banyak motivasi dan
doa kepada Penulis baik moril maupun materil.
6. PPS Cilacap (Bapak Agung, Ibu Eko, Bapak Taufik, Mas Iqbal dan lain-
lain) dan Tim Penelitian Cilacap (Tini, Ira, Diah, dan Riana).
7. Sahabat Penulis (Oktarina KS, Anisa NF, Siti NK, Meti F, FJ Ilmil, Poppy
H, dan Tria Khairunnisa), Muhamad Radifa, Gama, Asisten Biologi
Perikanan dan Oseanografi Umum atas semangat, dukungan, motivasi, serta
doa kepada Penulis.
8. Teman-teman terbaik Manajemen Sumberdaya Perairan angkatan 48.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Agustus 2015

Aisya Intan Widya Satria


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 1
Tujuan Penelitian 2
METODE 3
Lokasi dan Waktu Penelitian 3
Pengumpulan Data 3
Analisis Data 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 10
Hasil 10
Pembahasan 17
KESIMPULAN DAN SARAN 23
Kesimpulan 23
Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 23
LAMPIRAN 26
RIWAYAT HIDUP 31
DAFTAR TABEL

1 Klasifikasi tingkat kematangan gonad (TKG) ikan cakalang (Katsuwonus


pelamis) 4
2 Rasio kelamin ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) pada setiap
pengambilan contoh 10
3 Sebaran kelompok umur ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 14
4 Parameter pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
berdasarkan model von Bertalanffy 15
5 Laju mortalitas dan eksploitasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 16
6 Produksi perikanan (ton) dan upaya penangkapan (trip) 16
7 Perbandingan pola pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 19
8 Perbandingan nilai parameter pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus
pelamis) 20

vi
DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran penelitian 2


2 Peta lokasi penelitian 3
3 Penentuan panjang total (A-B) ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 4
4 Hasil tangkapan per jenis ikan di PPS Cilacap 10
5 Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
betina 11
6 Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
jantan 11
7 Sebaran frekuensi panjang total ikan cakalang (Katsuwnous pelamis) 12
8 Pergeseran modus frekuensi panjang ikan cakalang (Katsuwonus
pelamis) 13
9 Hubungan panjang bobot ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 14
10 Kurva pertumbuhan von Bertalanffy ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 15
11 Grafik model produksi surplus dengan pendekatan model Schaefer 17

vii
DAFTAR LAMPIRAN

1 Uji Chi-square terhadap proporsi kelamin ikan cakalang (Katsuwonus


pelamis) 26
2 Tingkat kematangan gonad ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) betina 26
3 Tingkat kematangan gonad ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) jantan 27
4 Ukuran pertama kali matang gonad ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
jantan 27
5 Sebaran frekuensi panjang ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 28
6 Pendugaan parameter pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 28
7 Hubungan panjang bobot ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 29
8 Pendugaan mortalitas ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 29
9 Standarisasi alat tangkap 29
10 Model produksi surplus 30

viii
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Samudera Hindia kaya akan sumberdaya ikan pelagis besar, seperti


madidihang (Thunnus albacares), tuna mata besar (Thunnus obesus), albakora
(Thunnus allalunga), tuna sirip biru selatan (Thunnus macoyii), tuna abu-abu
(Thunnus tonggol) dan cakalang (Katsuwonus pelamis) (Merta et al. 2006). Ikan
cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan salah satu jenis sumberdaya perikanan
terpenting baik sebagai komoditi ekspor maupun sebagai bahan konsumsi dalam
negeri. Kajian Komisi Stok Nasional menunjukkan pemanfaatan stok cakalang
masih dalam tingkat moderate (KepMen KP nomor 45/Men/2011).
Data Ditjen Perikanan Tangkap menunjukkan produksi perikanan ikan
cakalang tahun 2014 sebesar 484610 ton, dengan persentase kenaikan rata-rata
dari tahun sebelumnya sebesar 0,75%. Produksi ikan di Pelabuhan Perikanan
Samudera Cilacap meningkat cukup tinggi terutama ikan cakalang. Hasil
tangkapan rata-rata ikan cakalang tahun 2014 di PPS Cilacap sebesar 675,45 ton
dengan harga Rp 14.000-17.000 per-kg.
Pertumbuhan ikan cakalang cenderung lambat dan termasuk spesies yang
memiliki resiko terhadap stok besar. Menurut World Wildlife Fund (WWF)
(2015), bentuk upaya pengelolaan yang saat ini telah dilakukan oleh Kementrian
Kelautan dan Perikanan pada tahun 2014 antara lain mengekang praktik
penangkapan ikan yang melanggar hukum, tidak dilaporkan, serta tidak diatur
(Illegal, Unreported, Unregulated Fishing). Namun, hingga saat ini upaya
penangkapan ikan cakalang masih dilakukan dengan cara yang tidak sesuai kaidah
pengelolaan sumber daya perikanan. Nelayan masih dapat melakukan
penangkapan dengan bebas termasuk ikan yang masih belum matang gonad.
Peningkatan armada yang beroperasi dari tahun ke tahun di wilayah ini
menyebabkan penurunan hasil tangkapan per upaya penangkapan (CPUE)
maupun penurunan total hasil tangkapan. Kegiatan penangkapan ikan cakalang
yang dilakukan terus-menerus dapat mempengaruhi keberadaan dan kondisi stok
sumberdaya ikan cakalang di daerah Perairan Samudera Hindia. Oleh karena itu,
pertimbangan ini menjadi dasar dalam menentukan parameter dinamika populasi
terhadap ikan cakalang di Perairan Samudera Hindia khususnya PPS Cilacap agar
diperoleh informasi mengenai kondisi stok yang berguna untuk menunjang
pengelolaan sumberdaya ikan cakalang demi mewujudkan pemanfaatan
sumberdaya ikan cakalang yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Perumusan Masalah

Pengkajian dinamika populasi ikan merupakan kajian mengenai nilai dugaan


besarnya biomasa ikan berdasarkan kelompok jenis ikan dalam waktu tertentu
dengan menggunakan aplikasi ilmu statistika dan matematika sehingga diperoleh
status stok ikan secara kuantitatif untuk kepentingan pendugaan stok ikan dan
alternatif pengelolaan perikanan. Sebaran frekuensi panjang dan hubungan
panjang bobot merupakan informasi dasar yang sangat penting untuk mengetahui
2

laju pertumbuhan dan merupakan beberapa faktor pertimbangan utama dalam


menetapkan strategi pengelolaan perikanan suatu sumberdaya ikan tertentu. Data
produksi ikan cakalang di PPS Cilacap mengalami fluktuasi. Status pemanfaatan
sumberdaya ikan cakalang di Cilacap juga sudah dalam kondisi tangkap lebih
(overfishing). Kegiatan penangkapan ikan yang tinggi dengan volume produksi
yang terus meningkat setiap tahunnya dapat mengakibatkan adanya upaya tangkap
lebih yang akan menyebabkan penurunan stok ikan cakalang di Perairan
Samudera Hindia khususnya Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan hal tersebut, dilakukan suatu studi dalam pengelolaan
sumberdaya perikanan secara berkelanjutan, dimana lebih difokuskan pada kajian
dinamika populasi sumberdaya ikan cakalang di Perairan Samudera Hindia yang
didaratkan di PPS Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Informasi mengenai keadaan
stok sumberdaya ikan cakalang meliputi sebaran frekuensi panjang, pola
pertumbuhan, TKG, laju mortalitas, tangkapan maksimum lestari (MSY) dan
upaya optimum penangkapan ikan cakalang di Perairan Samudera Hindia.
Informasi tersebut berguna bagi rencana pengelolaan sumberdaya ikan cakalang
yang lebih tepat dan berkelanjutan. Pokok permasalahan dari pengelolaan
perikanan cakalang yang lebih difokuskan pada pengkajian stok ikan cakalang
dengan batasan daerah penangkapan perairan Samudera Hindia yang didaratkan di
PPS Cilacap, kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 1.

Upaya penangkapan Intensitas


Populasi menurun
tinggi eksploitasi

Intensitas
Stok menurun
penangkapan

Keberlanjutan
stok menjadi
terganggu

Pengelolaan
perikanan
berkelanjutan

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji parameter dinamika populasi
sumber daya ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sebagai input untuk
menetapkan rencana pengelolaan yang tepat.
3

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di PPS Cilacap, Desa Tegalkamulyan, Kecamatan


Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Ikan contoh yang
diperoleh merupakan hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Samudera Hindia.
Analisis ikan contoh dilakukan di Laboratorium PPS Cilacap. Pengambilan
contoh data primer dan data sekunder dilakukan sebanyak empat kali, dimulai
pada bulan Desember 2014 hingga Maret 2015 dengan interval waktu
pengambilan contoh lebih kurang 30 hari. Gambar 2 menunjukkan lokasi
penelitian dan daerah penangkapan dari ikan yang didaratkan.

Gambar 2 Peta lokasi penelitian

Pengumpulan Data

. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer meliputi panjang total (mm), bobot ikan (gram), jenis
kelamin dan tingkat kematangan gonad (TKG). Pengambilan ikan contoh
meliputi ikan-ikan yang berukuran kecil, sedang, dan besar yang diambil secara
acak dari ikan-ikan yang didaratkan oleh nelayan. Jumlah ikan contoh yang
dianalisis gonad dan TKG sebanyak 32 ekor. Ikan contoh diukur panjang total
dan ditimbang bobot basahnya di lokasi pelelangan sebanyak 822 ekor.
Pengukuran panjang, yaitu panjang total (ketelitian 0,5 cm) dan bobot total
dengan timbangan digital (ketelitian 0,025 gram). Gambar 3 menunjukkan
pengukuran panjang total ikan cakalang yang diukur mulai dari ujung mulut (A)
hingga ujung ekor (B) ikan cakalang.
4

Gambar 3 Penentuan panjang total (A-B) ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)

Ikan yang telah diukur panjang total dan ditimbang bobot basah dianalisis
jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad (TKG) di Laboratorium dengan
menggunakan alat bedah. Jenis kelamin dan TKG dapat diketahui melalui
pengamatan perkembangan gonad setelah dilakukan pembedahan. Tingkat
kematangan gonad (TKG) diamati secara morfologi dengan memperhatikan
bentuk, warna dan ukuran gonad ikan contoh. Penentuan TKG mengacu pada
klasifikasi sebagai berikut (Orange 1961).

Tabel 1 Klasifikasi tingkat kematangan gonad (TKG) ikan cakalang (Katsuwonus


pelamis)
Keadaan
TKG Deskripsi
Gonad
I IMMATURE Gonad memanjang, kecil hampir transparan
Gonad membesar, berwarna pink-krem, butiran telur belum dapat
II MATURING
terlihat dengan kasat mata
Gonad berwarna krem kekuningan, butiran telur sudah dapat
III MATURE
terlihat dengan mata biasa
Butiran telur membesar dan bewarna kuning jernih, dapat keluar
IV RIPE
dengan sedikit penekanan pada bagian perut
Gonad mengecil, bewarna merah dan banyak terdapat pembuluh
V SPENT
darah

Data sekunder diperoleh dari bagian statistik perikanan PPS Cilacap yang
berupa data produksi perikanan dan trip unit penangkapan setiap tahun yang
didaratkan di PPS Cilacap. Informasi lain yang dikumpulkan adalah operasi
penangkapan, daerah penangkapan, dan biaya operasi penangkapan. Data tersebut
diperoleh melalui wawancara terhadap nelayan dan pihak PPS Cilacap.

Analisis Data

Rasio kelamin

Rasio kelamin merupakan perbandingan antara jenis kelamin ikan yang ada di
perairan. Pada statistika, konsep rasio adalah proporsi populasi tertentu terhadap
total populasi (Walpole 1993). Pendugaan rasio kelamin dibutuhkan sebagai
5

bahan pertimbangan dalam reproduksi, recruitment, dan konservasi sumberdaya


ikan tersebut. Menurut Effendie (2002), rasio kelamin dihitung menggunakan:
A
p= ×100% (1)
B
p adalah rasio kelamin (jantan atau betina), A adalah jumlah ikan jantan dan
betina. B adalah jumlah total individu ikan jantan dan betina contoh (ekor). Uji
khi-kuadrat (Chi-square) digunakan untuk mengetahui keseimbangan hubungan
antara populasi betina dan populasi jantan dalam suatu populasi (Steel dan Torrie
1980).
2
2 ∑ (oi -ei )
χ = (2)
ei

χ2 adalah nilai statistik khi-kuadrat (Chi-square) untuk peubah acak yang sebaran
penarikan contohnya mengikuti sebaran khi-kuadrat, oi adalah frekuensi ikan
jantan dan betina yang teramati, dan ei adalah frekuensi harapan dari ikan jantan
dan betina.

Ukuran pertama kali matang gonad

Metode yang digunakan untuk menduga ukuran rata-rata ikan cakalang


mencapai matang gonad (M) adalah metode Spearman-Karber yang menyatakan
bahwa logaritma ukuran rata-rata mencapai matang gonad adalah (Udupa 1986):

x
m = [xk+ (2)] -(x ∑ pi ) (3)

Sehingga, M = antilog m
dan selang kepercayaan 95% bagi log m dibatasi sebagai:
pi x qi
antilog m (M) = m±1,96 √x2 ∑ (4)
ni -1

m adalah log panjang ikan pada kematangan gonad pertama, 𝑥𝑘 adalah log
nilai tengah kelas panjang yang terakhir ikan telah matang gonad, x adalah log
pertambahan panjang pada nilai tengah, pi adalah proporsi ikan matang gonad
pada kelas panjang ke-i dengan jumlah ikan pada selang panjang ke-i, ni adalah
jumlah ikan pada kelas panjang ke-i, qi adalah 1 – pi, dan M adalah panjang ikan
pertama kali matang gonad.
Pemijahan cakalang sangat dipengaruhi oleh perairan panas, sebagian besar
larva cakalang ditemukan di perairan dengan suhu di atas 240C. Musim
pemijahan cakalang ditentukan berdasarkan tingkat kematangan gonad dan
ditemukannya larva di perairan tersebut. Perbedaan ukuran cakalang pertama kali
matang gonad dibedakan oleh ketersediaan makanan, suhu perairan, letak lintang
dan bujur serta kecepatan pertumbuhan (Nikolsky 1963).
6

Sebaran frekuensi panjang dan identifikasi kelompok umur

Sebaran frekuensi panjang ditentukan berdasarkan data panjang total ikan


cakalang (Katsuwonus pelamis). Data panjang ikan cakalang dikelompokkan ke
dalam beberapa kelas panjang, sehingga setiap kelas panjang ke-i memiliki
frekuensi (fi). Identifikasi kelompok umur dilakukan dengan menganalisis
frekuensi panjang melalui metode NORMSEP (Normal Separation) (FISAT II,
FAO-ICLARM Stock Assesment Tool). Sebaran frekuensi panjang
dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok umur yang menyebar dengan nilai
rata-rata panjang dan simpangan baku pada masing-masing kelompok umur
(Gafanilo et al. 1994 in Fandri 2012). Apabila fi adalah frekuensi ikan dalam
kelas panjang ke-i (i = 1, 2, ..., N), μj adalah rata-rata panjang kelompok umur ke-j
dan pj adalah proporsi ikan dalam kelompok umur ke-j (j= 1, 2, ..., G), maka
fungsi objektif yang digunakan untuk menduga {μj, σj, pj} adalah fungsi
kemungkinan maksimum (maximum likelihood function):

L= ∑N G
i=1 fi log ∑j=1 pj qij (5)

dan
x μ 2
1 i- j
1 ( )
2 σj
qij = e (6)
σj √2π

qij yang merupakan fungsi kepekatan sebaran normal dengan nilai tengah
(μj) dan simpangan baku σj, xi adalah titik tengah kelas panjang ke-i. Fungsi
objektif L ditentukan dengan cara mencari turunan pertama L masing-masing
terhadap μj, σj dan pj, sehingga diperoleh dugaan μj, σj, dan pj yang akan
digunakan untuk menduga parameter pertumbuhan.

Hubungan panjang bobot

Analisis hubungan panjang bobot ikan cakalang dihitung menggunakan


rumus yang umum sebagai berikut (Effendie 2002).

W= ɑ Lb (7)

W adalah bobot (gram), L adalah panjang (mm), ɑ adalah konstanta dan b


adalah penduga pola hubungan panjang-bobot. Rumus umum tersebut bila
ditransformasikan ke dalam logaritme, akan diperoleh persamaan:
log W= log α+b log L (8)
Interpretasi dari hubungan panjang dan bobot dapat dilihat dari nilai
konstanta b, yaitu dengan hipotesis:
1. H0: b = 3, dikatakan hubungan isometrik (pola pertumbuhan panjang sama
dengan pola pertumbuhan bobot).
2. H1: b ≠ 3, dikatakan memiliki hubungan allometrik
7

Pola pertumbuhan allometrik ada dua macam, yaitu allometrik positif (b>3)
yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan bobot lebih dominan dibandingkan
dengan pertumbuhan panjang dan allometrik negatif (b<3) yang berarti bahwa
pertumbuhan panjang lebih dominan dibandingkan dengan pertumbuhan bobotnya.
Selanjutnya untuk menguji hipotesis tersebut digunakan statistik uji sebagai
berikut:
b-3
t hitung = | S | (9)
b

Sb adalah simpangan baku dugaan b yang dihitung dengan:


s2
Sb = 1 2 (10)
∑ni=1 x1 2 - (∑ni=1 xi )
n

Selanjutnya nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel pada selang


kepercayaan 95%. Pengambilan keputusannya adalah jika thitung > ttabel maka tolak
hipotesis nol (H0) dan jika thitung < ttabel berarti terima hipotesis nol (Walpole 1995).

Parameter pertumbuhan

Pertumbuhan dapat diduga dengan menggunakan model pertumbuhan von


Bertalanffy (Sparre dan Venema 1999).

Lt = L∞ (1-e[-K(t-t0)]) (11)

Pendugaan nilai koefisien pertumbuhan (𝛫) dan L∞ dilakukan dengan


menggunakan metode Ford Wallford yang diturunkan dari model von Bertalanffy
untuk t sama dengan t+1, sehingga persamaannya menjadi:

Lt+1 = L∞ [1- e-K] + Lt e-K (12)

Berdasarkan persamaan di atas dapat diduga dengan persamaan regresi linier


y = b0 + b1x, jika Lt sebagai absis (x) diplotkan terhadap Lt+1 sebagai ordinat (y)
sehingga terbentuk kemiringan (slope) sama dengan e-K dan titik potong dengan
absis sama dengan L∞[1 – e-K]. Dengan demikian, nilai K dan L∞ diperoleh
dengan cara:
K=-ln(b1 ) (13)
dan
a
L∞ = 1-b (14)

Pendugaan terhadap nilai t0 (umur teoritis ikan pada saat panjang sama
dengan nol) diperoleh melalui persamaan Pauly (1980) in Sparre dan Venema
(1999):
log(-t0 ) = 0,3922-0,2752(logL∞ )-1,038( log K) (15)
8

Lt adalah panjang ikan pada saat umur t (mm), 𝐿∞ adalah panjang asimtotik
ikan (mm), K adalah koefisien laju pertumbuhan (mm/satuan waktu), t adalah
umur ikan, dan t0 adalah umur ikan pada saat panjang ikan 0.

Mortalitas dan laju eksploitasi

Menurut Sparre dan Venema (1999) parameter mortalitas meliputi mortalitas


alami (M), mortalitas penangkapan (F), dan mortalitas total (Z). Laju mortalitas
total (Z) diduga dengan kurva tangkapan yang dilinearkan berdasarkan data
panjang sedemikian sehingga diperoleh hubungan:

C(L +L2 ) L1 +L2


ln ∆t (L1 = h − Z t( ) (16)
1 ,L2 ) 2

Persamaan (16) diduga melalui persamaan regresi linear sederhana y =


C (L + L ) L +L
b0+b1x, dengan y = ln ∆t (L1 ,L 2) sebagai ordinat, y = 1 2 2 sebagai absis, dan Z =
1 2
-b1. Persamaan di atas adalah bentuk persamaan linier dengan kemiringan (b) = -
Z. Laju mortalitas alami (M) dapat diduga dengan menggunakan rumus empiris
Pauly (1980) in Sparre dan Venema (1999) sebagai berikut.

Ln M = -0,152-0,279 Ln L∞ +0,6543 Ln K+0,0463 Ln T (17)

Pada ikan yang memiliki kebiasaan menggerombol seperti ikan cakalang


maka menurut Pauly (1980) in Sparre dan Venema (1999) menyarankan dalam
perhitungan, ikan dikalikan dengan nilai 0,8 sehingga untuk nilai dugaan menjadi
20% lebih rendah:

M = 0,8 e-0,152-0,279 Ln L∞+0.6543 Ln K +0.463 Ln T (18)

L∞ adalah panjang asimtotik (mm), K adalah koefisien pertumbuhan dari


persamaan pertumbuhan von Bertalanffy, dan T adalah rata-rata suhu permukaan
air (⁰ C). Laju mortalitas penangkapan (F) ditentukan dengan:

F = Z-M (19)

Laju eksploitasi ditentukan dengan membandingkan mortalitas penangkapan


(F) dengan mortalitas total (Z) Pauly (1984):

F F
E= = (20)
F+M Z

Laju mortalitas penangkapan (F) atau laju eksploitasi optimum menurut


Gulland (1971):

F optimum = M sehingga E optimum = 0,5 (21)


9

Model produksi surplus

Pendugaan potensi ikan cakalang dapat diduga dengan model produksi


surplus Schaefer dan Fox yang menganalisis hasil tangkapan (catch) dan upaya
penangkapan (effort). Model ini dapat diterapkan apabila diketahui dengan baik
hasil tangkapan per unit upaya tangkap (CPUE) atau berdasarkan spesies dan
upaya penangkapannya dalam beberapa tahun. Upaya penangkapan harus
mengalami perubahan substansial selama waktu yang dicakup (Sparre dan
Venema 1999). Tingkat upaya penangkapan optimun (𝑓𝑀𝑆𝑌) dan tangkapan
maksimum lestari (MSY) dapat diduga melalui persamaan:
Ct
= a-bft (22)
ft
dan
C
ln f t = a-bft (23)
t

masing-masing untuk model Schaefer dan model Fox, sehingga diperoleh


dugaan fmsy untuk Schaefer dan Fox adalah:
a
fmsy = (24)
2b
dan
1
fmsy = (25)
b

MSY masing-masing untuk Schaefer dan Fox:


a2
MSY = 4b (26)
dan
1
MSY = b e(a-1) (27)

Keterangan:
a : Perpotongan (intersept)
b : Kemiringan (slope)
e : Bilangan natural (e = 2,71828)
Ct : Jumlah tangkapan
ft : Upaya tangkap

Model yang akan digunakan adalah model yang memiliki nilai korelasi dan
determinasi yang paling tinggi. Potensi lestari (PL) dan jumlah tangkapan yang
diperbolehkan atau Total Allowable Catch (TAC) dapat ditentukan dengan
analisis produksi surplus dan berdasarkan prinsip kehati-hatian (FAO1995),
sehingga:

PL = 90% × MSY (28)

selanjutnya dapat ditentukan Total Allowable Catch menurut Keputusan


Menteri nomor 473A (1985):

TAC = 80% × MSY (29)


10

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Komposisi hasil tangkapan ikan

Sumberdaya ikan yang didaratkan di PPS Cilacap sangat beragam, antara


lain ikan cakalang, tuna, hiu, paruh, udang, dan ikan lainnya. Berdasarkan
Gambar 4 dapat dilihat bahwa ikan cakalang memiliki persentase sebesar 13%
dari total hasil tangkapan yang didaratkan di PPS Cilacap. Jenis lain yang juga
tinggi adalah kelompok tuna. Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan
salah satu ikan dominan yang tertangkap di PPS Cilacap. Harga jual ikan
cakalang tergantung kualitas ikan tersebut dan harganya berkisar Rp 14000–17000
per kg.

Tuna/Tunas
13%
Cakalang/Skipjack tuna
13%
Hiu/Shark

53% 7% Paruh Panjang/Bill fish

Udang/Shrimp
11% 3%
Ikan lainnya/Others fishes

Gambar 4 Hasil tangkapan per jenis ikan di PPS Cilacap


Sumber: Data Statistik Perikanan PPS Cilacap Tahun 2014

Rasio kelamin

Rasio kelamin merupakan perbandingan antara jenis kelamin ikan yang ada
di perairan. Dalam statistika, konsep rasio adalah proporsi populasi tertentu
terhadap total populasi (Walpole 1993). Rasio kelamin ikan cakalang pada setiap
pengambilan contoh disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Rasio kelamin ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) pada setiap


pengambilan contoh
Jumlah Perbandingan (%)
Waktu n
Betina Jantan Betina Jantan
25 Desember 2014 11 6 5 54,6 45,4
27 Januari 2015 5 0 5 0,0 100,0
24 Februari 2015 7 3 4 42,9 57,1
24 Maret 2015 9 4 5 44,4 55,6
Total 32 13 19 40,6 59,4
11

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat pada setiap pengambilan contoh, jumlah


ikan jantan lebih besar dibandingkan ikan betina. Jumlah keseluruhan ikan
cakalang yang diamati jenis kelaminnya adalah 32 individu yang terdiri dari 13
individu ikan betina dan 19 individu ikan jantan. Secara keseluruhan
perbandingan antara ikan cakalang betina dan jantan yang diamati pada penelitian
ini sebesar 1:1,5 atau 40,6%:59,4%. Rasio kelamin TKG III dan IV tidak
ditemukan pada betina selama penelitian, sedangkan pada jantan ditemukan hanya
pada bulan Februari sebanyak 2 ekor.

Tingkat kematangan gonad

Tingkat kematangan gonad adalah tahap tertentu perkembangan gonad


ikan (Effendie 2002). Grafik tingkat kematangan gonad (TKG) ikan cakalang
betina dan jantan pada setiap pengambilan contoh berdasarkan selang kelas
panjang ikan (Lampiran 2 dan 3) disajikan pada Gambar 4 dan 5.

100%
Frekuensi Relatif (%)

80%
60% TKG IV
40% TKG III

20% TKG II
TKG I
0%
220-261 262-303 304-345 346-387 388-429 430-471
Selang Kelas (mm)

Gambar 5 Tingkat kematangan gonad (TKG)


ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) betina

100%
Frekuensi Relatif (%)

80%
60% TKG IV
40% TKG III

20% TKG II
TKG I
0%
220-261 262-303 304-345 346-387 388-429 430-471

Selang Kelas (mm)


Gambar 6 Tingkat kematangan gonad (TKG)
ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) jantan

Pada Gambar 5 dan Gambar 6 diperoleh bahwa baik ikan cakalang betina
maupun jantan yang dominan tertangkap adalah TKG I dan TKG II. Berdasarkan
perhitungan dengan metode Spearman-Karber (Udupa 1986) panjang ikan
12

cakalang pertama kali matang gonad (Lm) untuk ikan jantan adalah 439,40 mm,
sedangkan untuk ikan cakalang betina tidak ditemukan TKG III dan TKG IV
sehingga tidak didapatkan hasil ukuran pertama kali matang gonad.

Sebaran frekuensi panjang dan identifikasi kelompok umur

Jumlah ikan cakalang yang diukur pada setiap pengambilan contoh


berkisar antara 124-353 ekor. Total ikan cakalang yang diukur selama penelitian
mencapai 822 ekor. Pada Gambar 7 menggambarkan bahwa frekuensi panjang
ikan cakalang menyebar dari selang kelas panjang 220 mm hingga 791 mm.
Panjang minimum dan maksimum ikan cakalang yang diamati adalah 220 mm
dan 790 mm. Berdasarkan hasil Lm diketahui bahwa jumlah ikan yang ukurannya
lebih kecil dari ukuran pertama kali matang gonad sebanyak 657 ekor atau
79,93%. Oleh karena persantase yang diperoleh lebih besar dari 50%, maka dapat
diduga bahwa telah terjadi gejala recruitment overfishing.

300,0 Lm= 439,40 mm

250,0
Frekuensi (ind)

200,0 n= 822
150,0
100,0
50,0
0,0

Selang Kelas (mm)

Gambar 7 Sebaran frekuensi panjang total ikan cakalang (Katsuwnous pelamis)

Analisis kelompok umur dilakukan setelah mengetahui sebaran distribusi


frekuensi panjang total dari ikan yang diamati pada setiap waktu pengambilan
contoh. Analisis sebaran frekuensi panjang dapat digunakan untuk menduga umur
ikan dan kelompok umur ikan. Hal ini dikarenakan frekuensi panjang ikan
tertentu menggambarkan umur yang sama dan cenderung membentuk sebaran
normal. Gambar 8 menyajikan hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan
cakalang.
13

100,0

Frekuensi (ind)
80,0 Desember
60,0 n= 136
40,0
20,0
0,0
245,5 297,5 349,5 401,5 453,5 505,5 557,5 609,5 661,5 713,5 765,5
100,0
Januari
Frekuensi (ind)

80,0
60,0 n= 209
40,0
20,0
0,0
245,5 297,5 349,5 401,5 453,5 505,5 557,5 609,5 661,5 713,5 765,5
100,0 Februari
Frekuensi (ind)

80,0 n= 124
60,0
40,0
20,0
0,0
245,5 297,5 349,5 401,5 453,5 505,5 557,5 609,5 661,5 713,5 765,5
100,0
Frekuensi (ind)

80,0 Maret
60,0
n= 353
40,0
20,0
0,0
245,5 297,5 349,5 401,5 453,5 505,5 557,5 609,5 661,5 713,5 765,5
Nilai Tengah Panjang (mm)

Gambar 8 Pergeseran modus frekuensi panjang


ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)

Berdasarkan Gambar 8 dapat dilihat bahwa terjadi pergesaran modus ke


arah kanan pada bulan Desember hingga Januari dan Februari hingga Maret.
Pergeseran ke arah kanan menunjukkan pertumbuhan ikan cakalang. Metode
yang digunakan untuk analisis kelompok umur adalah metode NORMSEP melalui
program FISAT II. Hasil analisis kelompok umur ikan cakalang berupa panjang
rata-rata dan indeks separasi. Tabel 3 menunjukkan nilai indeks separasi lebih
dari 2, sehingga hasil pemisahan kelompok umur ikan cakalang dapat diterima
dan digunakan untuk analisis berikutnya. Menurut Hasselblad (1996) in Spare
dan Venema (1999) menjelaskan bahwa indeks separasi menggambarkan kualitas
pemisahan dua kelompok umur yang berdekatan. Bedasarkan Tabel 3 diperoleh
bahwa setiap waktu pengambilan contoh hanya ditemukan maksimum 2 hingga 3
kelompok umur saja.
14

Tabel 3 Sebaran kelompok umur ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)


Panjang Rata-Rata Indeks Separasi
Waktu Pengambilan Contoh Kelompok Umur
Total (mm) Total
25 Desember 2014 1 323,5 ± 36,6 N.A
2 713,5 ± 60,2 8,1
27 Januari 2015 1 387,2 ± 52,9 N.A
2 496,4 ± 26,0 2,8
3 651,1 ± 54,1 3,9
24 Februari 2015 1 366,7 ± 28,7 N.A
2 471,5 ± 75,3 2,0
24 Maret 2015 1 302,4 ± 26,0 N.A
2 393,7 ± 51,0 2,4
3 609,6 ± 26,0 5,6

Hubungan panjang bobot

Analisis hubungan panjang bobot dimanfaatkan untuk mengetahui pola


pertumbuhan suatu organisme. Gambar 9 menyajikan hasil analisis hubungan
panjang dan bobot ikan cakalang.

10000
W = 0,00005L3,0
8000 R² = 85,4%
Bobot (gram)

n = 822
6000
4000
2000
0
0 200 400 600 800 1000
Panjang (mm)

Gambar 9 Hubungan panjang bobot ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)

Persamaan hubungan panjang bobot ikan cakalang adalah W= 0,00001L3,0


dengan koefisien determinasi 85,4%. Berdasarkan persamaan pada Gambar 7
diperoleh nilai b sebesar 3,0. Berdasarkan nilai t sebesar 0,5, diperoleh pola
pertumbuhan ikan cakalang adalah isometrik, yang berarti pertumbuhan bobot
sama dengan pertumbuhan panjangnya.

Parameter pertumbuhan

Parameter pertumbuhan diduga menggunakan metode Ford Walford


(Lampiran 6) yang diturunkan dari model von Bertalanffy. Analisis parameter
pertumbuhan terhadap ikan cakalang meliputi koefisien pertumbuhan (K), panjang
15

asimtotik atau panjang yang tidak dapat dicapai oleh ikan (L∞) dan umur teoritis
ikan pada saat panjang ikan nol (t0). Tabel 4 menyajikan parameter pertumbuhan
ikan cakalang berdasarkan model von Bertalanffy.

Tabel 4 Parameter pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) berdasarkan


model von Bertalanffy
Parameter Pertumbuhan Total
L∞ (mm) 992,6
K (tahun-1) 0,3
t0 (tahun) -0,2

Persamaan pertumbuhan model von Bertalanffy untuk ikan cakalang adalah


Lt= 992,6(1-e -0,3(t+0,2)). Kurva pertumbuhan von Bertalanffy ikan cakalang
disajikan pada Gambar 10 dengan memplotkan umur (bulan) dan panjang total
ikan (mm).
1.200,0

1.000,0
Panjang (mm)

800,0

600,0 Lt = 992,6 1 − e −0,3 t+0,2

400,0

200,0

0,0
-2 0 2 4 6 8 10
Umur (tahun)
Gambar 10 Kurva pertumbuhan von Bertalanffy
ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)

Mortalitas dan laju eksploitasi

Suatu stok sumberdaya ikan akan mengalami penurunan akibat tingkat


mortalitas yang tinggi. Laju mortalitas terdiri dari 2 jenis yakni mortalitas alami
dan mortalitas penangkapan. Pendugaan konstanta laju mortalitas total (Z) ikan
cakalang dilakukan dengan kurva hasil tangkapan yang dilinearkan berbasis data
panjang. Penentuan laju eksploitasi merupakan salah satu faktor yang perlu
diketahui untuk menentukan kondisi sumberdaya perikanan dalam pengkajian
stok ikan (King 1995). Tabel 5 menyajikan informasi mengenai laju mortalitas
dan laju eksploitasi.
16

Tabel 5 Laju mortalitas dan eksploitasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)


Parameter Total
Mortalitas alami (M) 0,3
Mortalitas penangkapan (F) 3,1
Mortalitas total (Z) 3,3
Laju Eksploitasi (E) 0,93

Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bahwa nilai mortalitas penangkapan ikan


cakalang lebih besar dibandingkan dengan nilai mortalitas alami. Hal ini
menunjukkan bahwa ikan cakalang lebih banyak mati akibat adanya kegiatan
penangkapan. Laju eksploitasi ikan cakalang sebesar 93%.

Model produksi surplus

Model produksi surplus digunakan untuk menentukan upaya optimum


yang dapat menghasilkan suatu tangkapan maksimum lestari. Data hasil
tangkapan ikan cakalang dan upaya penangkapan yang telah distandarisasi
(Lampiran 9) disajikan pada Tabel 6 (Data Statistik Perikanan PPS Cilacap 2014).

Tabel 6 Produksi perikanan (ton) dan upaya penangkapan (trip)


Tahun Produksi perikanan (ton) Upaya (trip)
2008 2272,4 2906
2009 1835,8 2726
2010* 361,2 2789
2011 2519,2 2704
2012 2400,8 2513
2013 723,8 3071
2014* 675,4 1965
Note: *Data tidak dimasukkan ke dalam perhitungan model produksi surplus

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa hasil tangkapan ikan cakalang


mengalami fluktuasi. Produksi perikanan ikan cakalang tertinggi terdapat pada
tahun 2011 dengan upaya penangkapan sebesar 2704 trip. Upaya penangkapan
tertinggi terjadi pada tahun 2013, yaitu sebesar 3071 trip. Pada tahun 2010 dan
2014, data produksi perikanan dan upaya tidak dimasukkan dalam perhitungan
karena merupakan data pencilan.
Analisis potensi sumberdaya ikan cakalang menggunakan model Schaefer
dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 71,3%. Nilai upaya optimum
(fmsy) dan Maximum Sustainable Yield (MSY) yang di peroleh masing-masing
sebesar 1700 trip dan 3354,3 ton per tahun. Nilai potensi lestari (PL) dan Total
Allowable Catch (TAC) masing-masing adalah 3018,8 ton per tahun dan 2683,4
ton per tahun. Grafik model produksi surplus dengan pendekatan model Schaefer
disajikan pada Gambar 11.
17

3.500,0

3.000,0

Hasil Tangkapan (ton)


2.500,0 2011

2.000,0 2012
Fmsy
1.500,0
MSY
1.000,0 Tahun
2013
500,0

0,0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500
Upaya Tangkap (trip)

Gambar 11 Grafik model produksi surplus dengan pendekatan model Schaefer

Pembahasan

Salah satu faktor penting untuk mengetahui struktur suatu populasi ikan
maupun pemijahannya adalah dengan melakukan pengamatan rasio kelamin (sex
ratio). Perbandingan rasio kelamin antara ikan cakalang betina dan jantan adalah
1:1,5. Hal ini menunjukkan bahwa ikan yang banyak tertangkap di perairan
Samudera Hindia adalah ikan cakalang jantan dibandingkan ikan cakalang betina.
Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumadhiharga dan Hukom
(1987) di Laut Banda yang menghasilkan perbandingan rasio kelamin antara ikan
cakalang betina dan jantan adalah 0,82:1. Variasi rasio kelamin biasanya terjadi
akibat adanya 3 faktor, yaitu perbedaan tingkah laku seks, kondisi lingkungan dan
penangkapan (Bal dan Rao 1984 in Saha et al. 2009). Perbandingan ikan betina
dan jantan dalam suatu populasi diharapkan dalam keadaan 1:1 atau sedapat-
dapatnya ikan betina lebih banyak, agar bertujuan untuk mempertahankan
kelestarian populasi (Purwanto et al. 1986 in Sulistiono et al. 2001). Menurut
Wilson (1982) in Sumadhiharga dan Hukom (1987) menyatakan hal yang
menyebabkan perbedaan rasio kelamin adalah kurangnya ikan betina pada suatu
perairan karena akan melakukan pemijahan.
Penentuan tahap kematangan gonad bertujuan untuk mengetahui
perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dengan yang tidak
melakukan reproduksi (Sulistiono et al. 2007). Tingkat kematangan gonad pada
tiap waktu bervariasi, tertinggi umumnya didapatkan pada saat pemijahan akan
tiba. Selain itu bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan
memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan
berlangsung sampai selesai. Berdasarkan hasil pengamatan gonad secara
anatomis yang mengacu pada Orange (1961) terlihat bahwa selama penelitian ikan
cakalang betina mempunyai TKG I dan TKG II, sedangkan pada ikan cakalang
jantan didapatkan TKG I, TKG II, TKG III dan TKG IV. Pada penelitian ini
diambil 32 contoh gonad (13 ekor di antaranya ikan cakalang betina dan 19 ekor
ikan cakalang jantan) yang diamati, hanya ditemukan 1 ekor ikan cakalang jantan
yang mencapai TKG III dan IV, dan pada ikan cakalang betina tidak
18

ditemukannya TKG III dan TKG IV. Menurut Koya et al. (2012) puncak musim
pemijahan ikan cakalang di perairan Samudera Hindia mulai dari bulan Desember
hingga Maret, pada saat memijah ikan cakalang akan bermigrasi jauh ke laut
dalam, sehingga peluang untuk tertangkapnya ikan cakalang betina TKG III dan
TKG IV sangat kecil.
Ukuran pertama kali matang gonad merupakan salah satu aspek biologi
yang perlu diketahui dalam memanfaatkan sumberdaya ikan, karena dapat
dijadikan sebagai salah satu dasar pengelolaan perikanan (Waileruny 2014).
Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode Sperman Karber (Udupa 1986),
dugaan ukuran pertama kali matang gonad (Lm) ikan cakalang jantan berada pada
ukuran 430-471 mm, yaitu sebesar 439,40 mm, sedangkan untuk ikan cakalang
betina tidak ditemukannya TKG III dan TKG IV sehingga tidak didapatkan hasil
ukuran pertama kali matang gonad (Lampiran 4).
Pada penelitian Grande et al. (2014) menyebutkan bahwa ukuran pertama
kali matang gonad (Lm) ikan cakalang betina di perairan Samudera Hindia Barat
diperkirakan sebesar 399 mm. Menurut Brock (1954), ukuran pertama kali
matang gonad ikan cakalang betina di perairan sekitar kepulauan Hawai sebesar
400 mm. Penelitian Sumadhiharga dan Hukom (1987) diperoleh nilai Lm di Laut
Banda sebesar 418 mm pada ikan cakalang betina dan 420 mm pada ikan cakalang
jantan. Manik (2007) mendapatkan hasil ukuran ikan cakalang terkecil yang
sudah matang gonad (TKG III) di perarian sekitar pulau Seram Selatan dan pulau
Nusa laut berukuran 436 mm pada jantan dan 428 mm pada betina. Hasil
pengamatan secara histologi yang dilakukan Mallawa et al. (2014) di perairan
Laut Flores didapatkan bahwa ikan cakalang mencapai fase siap memijah pada
ukuran 555 mm dan diduga memijah pada ukuran 560 mm pada betina dan 600
mm pada jantan.
Nikolsky (1963) menyatakan, bahwa perbedaan ukuran pertama kali
matang gonad ikan cakalang dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, suhu
perairan, letak lintang dan bujur, serta kecepatan pertumbuhan. Perbedaan tempat
pemijahan dapat menimbulkan perbedaan musim pemijahan. Menurut Widiawati
(2000), puncak pemijahan ikan cakalang untuk Selatan Jawa antara bulan Mei
hingga Oktober, untuk Barat Sumatera pada bulan September hingga Desember,
dan untuk perairan Laut Banda pada bulan Desember. Musim penangkapan ikan
cakalang di PPS Cilacap berlangsung antara bulan Juni hingga Oktober dan
puncaknya pada bulan Agustus-September (Merta 2004).
Frekuensi panjang ikan cakalang menyebar mulai selang kelas panjang
220-791 mm. Apabila dibandingkan dengan penelitian Fadhilah (2010), panjang
ikan cakalang total yang tertangkap di Teluk Palabuhanratu dan sekitarnya
berkisar antara 246-535 mm. Panjang ikan cakalang total yang tertangkap pada
perairan Samudera Hindia Barat menurut penelitian Mayangsoka (2010) bekisar
antara 250-568 mm. Frekuensi tertinggi ikan cakalang terdapat pada selang kelas
324-375 mm. Hal ini menunjukkan bahwa banyak ikan cakalang berukuran kecil
yang tertangkap, sehingga dapat diduga bahwa perairan tersebut merupakan
daerah pengasuhan (nursery area). Banyaknya ikan-ikan muda yang tertangkap
akan beresiko terhadap keberadaan stok ikan. Ikan cakalang merupakan spesies
yang memiliki resiko terhadap stok besar
Menurut Nikolsky (1963) in Suwarni (2009) jika pada suatu perairan
terdapat perbedaan ukuran dan jumlah ikan, hal tersebut mungkin disebabkan oleh
19

perbedaan pola pertumbuhan, perbedaan ukuran pertama kali matang gonad,


perbedaan masa hidup, dan adanya pemasukan jenis ikan atau spesies baru pada
suatu populasi ikan yang sudah ada. Spesies ikan yang sama dan hidup di lokasi
perairan yang berbeda akan mengalami pertumbuhan yang berbeda karena adanya
faktor dalam dan faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan ikan tersebut.
Faktor dalam tersebut adalah faktor yang umumnya sulit dikontrol seperti
keturunan, jenis kelamin, umur, serta penyakit, sedangkan faktor luar yang utama
mempengaruhi petumbuhan ikan adalah suhu dan makanan (Effendie 2002).
Analisis kelompok umur dilakukan untuk melihat adanya perubahan rata-
rata panjang ikan setiap pengambilan contoh. Pada Gambar 7 terlihat bahwa pada
pengambilan contoh ke-1 hingga ke-2 dan pengambilan contoh ke-3 hingga 4
terdapat pergeseran kurva ke arah kanan yang menunjukkan adanya pertumbuhan
pada ikan cakalang. Pada pengambilan contoh ke-3, yaitu akhir Februari terjadi
proses recruitment yang ditandai dengan adanya pergeseran ke arah kiri. Hal ini
diduga terjadi karena adanya individu baru yang masuk ke dalam stok ikan
cakalang, sehingga membentuk kelas panjang baru. Selain itu dapat diduga ikan
yang ditangkap pada akhir Februari memiliki ukuran panjang yang kecil atau ikan
cakalang yang berusia muda tertangkap oleh nelayan. Penangkapan ikan berusia
muda sangat mempengaruhi keberadaan stok sumberdaya ikan cakalang. Faktor
utama yang menyebabkan hal demikian, yaitu ukuran mata jaring yang terlalu
kecil sehingga penangkapan tidak selektif.
Analisis hubungan panjang bobot pada ikan cakalang menghasilkan nilai b
sebesar 3,0 dengan t sebesar 0,5. Berdasarkan uji t (α = 0,05) terhadap nilai b
didapatkan pola pertumbuhan ikan cakalang, yaitu isometrik yang berarti pola
pertumbuhan panjang sama dengan pola pertumbuhan bobot. Perbedaan pola
pertumbuhan dari beberapa penelitian sebelumnya disebabkan adanya perbedaan
nilai b (Tabel 7).

Tabel 7 Perbandingan pola pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)


Persamaan Pola
Sumber Lokasi
pertumbuhan pertumbuhan
Perairan Timur Indonesia
Uktolseja (1987) W= 0,00001L3,1 Allometrik positif
(Sorong)
Andrade et al. Samudera Atlantik Selatan
W= 0,0000007L3,3 Allometrik positif
(2002) bagian tenggara
Mayangsoka Samudera Hindia Barat (Barat
W= 0,00001L3,0 Isometrik
(2010) Sumatera)
Fadhilah (2010) Palabuhanratu dan sekitarnya W= 0, 000004L3,2 Allometrik positif
Jamal et al.
Kawasan Teluk Bone W= 0,0004L2,8 Isometrik
(2011)
Penelitian ini
Perairan Samudera Hindia W= 0,00001L3,0 Isometrik
(2015)

Berbedanya hasil analisis tersebut diduga karena diferensiasi kisaran


panjang ikan yang dianalisis cukup besar, selain karena pengaruh faktor-faktor
biologis dan ekologis dari masing-masing perairan dimana ikan tersebut hidup.
Menurut Sumadhiharga (1991) in Jamal et al. 2011, menyatakan perbedaan nilai b
dipengaruhi oleh perbedaan musim dan tingkat kematangan gonad serta aktivitas
penangkapan. Aktivitas penangkapan yang cukup tinggi pada suatu daerah akan
mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan populasi ikan. Selain itu perbedaan
20

pola pertumbuhan juga dapat disebabkan oleh perbedaan jumlah dan variasi
ukuran ikan yang diamati (Moutopoulos dan Stergiou 2002 in Kharat et al. 2008).
Selanjutnya Matsumoto et al. (1984) in Jamal et al. (2011), menyatakan bahwa
nilai b ikan cakalang berbeda-beda pada setiap lokasi penangkapan. Nilai terbesar
b = 3,67 diperoleh dari lokasi Bonin Island, West Pacific dan terkecil b = 1,70
yang berasal dari Filipina.
Parameter pertumbuhan dengan metode von Bertalanffy (parameter L∞
dan K) dapat diduga dengan menggunakan metode plot Ford Walford yang
merupakan salah satu metode paling sederhana dalam menduga suatu parameter
pertumbuhan dengan interval waktu pengambilan contoh yang sama. Kelompok
ukuran ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dipisahkan dengan menggunakan
metode NORMSEP dalam program FISAT II. Menurut Sparre dan Venema
(1999), semakin rendah koefisien pertumbuhan semakin lama waktu yang
dibutuhkan spesies tersebut untuk mendekati panjang asimtotik, dan sebaliknya
semakin tinggi koefisien pertumbuhan semakin cepat waktu yang dibutuhkan
mendekati panjang asimtotik. Hasil analisis beberapa penelitian mengenai ikan
cakalang disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Perbandingan nilai parameter pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus


pelamis)
Koefisien
L∞
Sumber Lokasi pertumbuhan t0
(mm) (K) per tahun
Perairan Atlantik
Gaertner D et al. (2008) 893,8 0,4 -0,1705
bagian Timur
Samudera Hindia Barat
Mayangsoka (2010) 591,2 0,4 -1,0749
(Barat Sumatera)
Palabuhanratu dan
Fadhilah (2010) 662,0 0,2 -0,6909
sekitarnya
Jamal et al. (2011) Kawasan Teluk Bone 759,8 0,2 -0,3600
Perairan Samudera
Koya et al. (2012) 920,0 0,5 -0,0012
Hindia
Perairan Samudera
Penelitian ini (2015) 992,6 0,3 -0,2195
Hindia

Secara umum pertumbuhan ikan cakalang lambat, hal ini dapat dilihat dari
nilai koefisien yang rendah. Perbedaan nilai parameter pertumbuhan tersebut (L∞
dan K) dari spesies ikan yang sama pada lokasi yang berbeda dapat dipengaruhi
oleh faktor lingkungan masing-masing perairan seperti ketersediaan makanan,
suhu perairan, oksigen terlarut, ukuran ikan dan kematangan gonad (Merta 1992
in Jamal et al. 2011). Oleh karena itu, perbedaan nilai parameter pertumbuhan
yang didapatkan dari lokasi-lokasi tersebut diduga dapat disebabkan oleh kondisi
lingkungan yang berbeda. Waktu penelitian juga dapat mempengaruhi perbedaan
nilai parameter pertumbuhan yang didapat. Selanjutnya Widodo dan Suadi
(2008), menyatakan bahwa kecenderungan ketidaktepatan nilai parameter
pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh komposisi ikan sampel yang dianalisis
mengenai cara atau metode yang digunakan.
Pada penelitian Mayangsoka (2010) didapatkan nilai panjang infinitif yang
kecil. Hasil tersebut mengindikasikan adanya tekanan penangkapan yang tinggi
dimana ukuran ikan yang tertangkap semakin lama semakin kecil. Hal ini terjadi
21

karena ikan tidak mendapatkan waktu pulih untuk melakukan pertumbuhan.


Perbedaan koefisien laju pertumbuhan menurut Gaertner (2008), menunjukkan
bahwa ikan cakalang tumbuh lebih cepat di wilayah utara timur Samudera
Atlantik daripada di daerah khatulistiwa
Penentuan tingkat eksploitasi dapat diperkirakan melalui parameter
pertumbuhan dan mortalitas dari beberapa spesies ikan. Pauly dan Palomares
(1986) menduga bahwa stok yang dieksploitasi optimal maka laju mortalitas
penangkapan (F) akan sama dengan laju mortalitas alami (M) atau laju eksploitasi
(E) sama dengan 0,5 (Foptimum = M atau Eoptimum = 0,5). Laju eksploitasi ikan
cakalang sudah melebihi nilai optimum, yaitu sebesar 0,93 (Tabel 6). Nilai ini
mengindikasikan adanya penangkapan yang tinggi dan berlebih (overexploited)
terhadap ikan cakalang, dengan tingginya penangkapan tersebut mengakibatkan
nilai panjang maksimum ikan cakalang yang tertangkap lebih kecil. Semakin
besar aktivitas penangkapan maka akan mengakibatkan sumberdaya ikan
terancam. Hal ini serupa dengan beberapa penelitian sebelumnya oleh
Mayangsoka (2010) yang memiliki nilai eksploitasi untuk ikan cakalang di
perairan Samudera Hindia Barat sebesar 0,95 dan Fadhilah (2010) dengan nilai
laju eksplotasi ikan cakalang di perairan Palabuhanratu dan sekitarnya, yaitu
sebesar 0,94. Tingginya tingkat eksploitasi mengindikasikan adanya tekanan
penangkapan yang sangat tinggi terhadap stok ikan cakalang di perairan Samudera
Hindia tepatnya di perairan selatan Jawa. Penangkapan ini akan berpengaruh
terhadap perubahan populasi ikan di suatu perairan (Oktaviyani 2013).
Pengelolaan sumberdaya perikanan pada awalnya didasarkan pada faktor
biologi, yaitu dengan pendekatan Maximum Sustainable Yield (Waileruny 2014).
Masing-masing model biologi pengelolaan perikanan secara eksplisit atau implisit
mengandung informasi mengenai overfishing yang merupakan suatu masalah
umum dari para pengelola perikanan. Model produksi surplus digunakan untuk
menentukan tingkat upaya optimum (effort optimum) dan tangkapan maksimum
lestari. Rumus-rumus model produksi surplus (MPS) hanya berlaku bila
parameter slope (b) bernilai negatif, artinya penambahan upaya penangkapan akan
menyebabkan penurunan CPUE (Utami et al. 2012).
Model Schaefer menduga upaya optimum (fmsy) sebesar 1700 trip per
tahun dan Maximum Sustainable Yield (MSY) sebesar 3354,6 ton per tahun. Pada
tahun 2010 produksi perikanan ikan cakalang sebesar 361,2 ton per tahun. Nilai
ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan informasi Reuters pada artikel medan bisnis (2011), produksi
perikanan tangkap di Cilacap, Jawa Tengah selama tahun 2010 menurun di
akibatkan pengaruh cuaca buruk yang sering terjadi sehingga nelayan mengalami
musim panceklik yang berkepanjangan di wilayah perairan selatan.
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa ikan cakalang yang
didaratkan di PPS Cilacap telah mengalami tekanan penangkapan yang tinggi.
Hal ini dapat dilihat dari upaya rata-rata yang lebih besar dari nilai upaya
optimumnya. Pada tahun 2014 jumlah produksi perikanan ikan cakalang sebesar
675,4 ton dengan upaya 1965 trip, nilai tersebut dapat diduga bahwa produksi
perikanan menurun akibat upaya melaut melebihi upaya optimum. Selain itu
ditunjukkan pula dari tingginya laju eksploitasi yang sudah melebihi laju
eksploitasi optimum dan tingginya laju mortalitas penangkapan.
Pengelolaan sumberdaya perikanan sangat penting untuk menjaga agar
22

perikanan tetap dapat lestari dan berkelanjutan. Terjadinya penurunan potensi


sumberdaya ikan di wilayah perairan tersebut dapat dihindari dengan melakukan
pengaturan pemanfaatan dan pengelolaan terhadap sumberdaya ikan yang ada.
Keberlanjutan perikanan tangkap sebaiknya didukung oleh peraturan yang
menetapkan ukuran ikan yang layak tangkap. Hal ini dapat berguna baik untuk
faktor keamanan (population safety) maupun untuk keberlanjutan populasi
(population sustainability) (Mallawa et al. 2014). Salah satu kriteria ikan layak
ditangkap adalah memiliki panjang yang lebih besar dari panjang pertama kali
ikan matang gonad (length at first maturity, Lm). Berdasarkan ukuran ikan layak
tangkap tersebut, spesifikasi alat untuk menangkap cakalang dapat ditentukan
dalam mendukung keberlanjutan perikanan tangkap. Pengaturan spesifikasi alat
tangkap ini merupakan jenis pengendalian input perikanan (Jamal et al. 2011).
Pada hasil Lm diperoleh jumlah ikan yang ukurannya lebih kecil dari
ukuran pertama kali matang gonad sebanyak 657 ekor atau 79,93%. Oleh karena
nilai persantase yang didapatkan telah melebihi 50%, maka dapat diduga bahwa
telah terjadi gejala recruitment overfishing pada ikan cakalang. Recruitment
overfishing adalah penangkapan ikan dewasa secara berlebihan akibat
meningkatnya usaha penangkapan sehingga produksi telur, larva, dan ikan muda
berkurang, penambahan jumlah anggota baru ke dalam stok juga berkurang,
sehingga tidak cukup untuk mempertahankan populasi (McManus et al. 1997).
Recruitment overfishing terjadi karena selama pengambilan contoh empat bulan
frekuensi tertinggi ikan yang tertangkap berada pada selang kelas 324-375 mm,
dimana ukuran ini lebih kecil dari ukuran pertama kali ikan cakalang matang
gonad, yaitu sebesar 439,4 mm.
Pencegahan terhadap recruitment overfishing adalah dengan melakukan
proteksi terhadap sejumlah stok induk (parental stock) yang memadai (Widodo
dan Suadi 2008). Namun, pada kenyataannya untuk mengatur dan merubah
pengelolaan perikanan dalam kondisi saat ini sangat sulit, sehingga upaya yang
mungkin dapat dilakukan, yaitu berupa pengendalian penangkapan untuk
mengurangi resiko tertangkapnya ikan cakalang yang belum matang gonad,
pengendalian upaya menjadi lebih menentukan hasil yang baik bagi nelayan, serta
perlu adanya pusat data yang memfasilitasi tersedianya data yang respresentatif
sehingga diharapkan data tersebut dapat memberikan informasi yang tepat.
Musim penangkapan ikan cakalang paling banyak pada bulan Juni hingga
Oktober dengan puncaknya pada bulan Agustus sampai September, sementara
hasil ikan cakalang sedikit pada bulan Januari hingga Mei. Penelitian ini
berlangsung mulai bulan Desember 2014 hingga Maret 2015. Pada bulan-bulan
tersebut belum memasuki musim penangkapan ikan cakalang, sehingga diduga
ikan-ikan yang didapat berukuran kecil-kecil atau muda dan belum mencapai
ukuran pertama kali matang gonad. Oleh karena itu, diperlukan penentuan musim
penangkapan ikan cakalang, agar ikan-ikan tersebut diberi kesempatan untuk
tumbuh. Namun hal ini perlu peran serta dan kesadaran para pelaku perikanan
dalam upaya pengelolaan perikanan cakalang untuk menciptakan pemanfaatan
sumberdaya ikan cakalang yang berkelanjutan.
23

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Pola pertumbuhan ikan cakalang di perairan Samudera Hindia Barat adalah
isometrik. Ikan cakalang di perairan Samudera Hindia diduga telah mengalami
kondisi recruitment overfishing. Laju eksploitasi ikan cakalang sebesar 0,93 yang
menunjukkan telah terjadi tangkap lebih (overexploited). Hasil tangkapan
maksimum lestari atau Maximum Suistainable Yield (MSY) sebesar 3354,3 ton
per tahun dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan atau Total Allowable Catch
(TAC) sebesar 2683,4 ton per tahun.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai wilayah daerah pengasuhan


(nursery area) di wilayah perairan Samudera Hindia agar didapatkannya data
yang semakin lengkap, sehingga dapat memberikan pengelolaan perikanan yang
lebih tepat. Perlu adanya pusat data yang memfasilitasi tersedianya data yang
respresentatif sehingga diharapkan data tersebut dapat memberikan informasi
yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Andrade HA, Campos RO. 2002. Allometry coefficient variations of the length–
weight relationship of skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) caught in the
southwest South Atlantic. Journal Fisheries Research 55: 307-312.
Brock VE. 1954. Some aspect of the biology of the Aku (Katsuwonus pelamis) in
the Hawaiian Islands. Journal Pasific Science 8: 94-104.
Effendie MI. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta (ID). Yayasan Pustaka
Nusatama. 163 hal.
Fadhilah LN. 2010. Pendugaan Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Cakalang
(Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) Yang Didaratkan di PPN
Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. [skripsi]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Fandri D. 2012. Pertumbuhan dan reproduksi ikan kembung lelaki (Rastrelliger
kanagurta Cuvier 1817) di Selat Sunda. [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Food And Agriculture Organization (FAO) of The United Nations. 1995. Code
of Conduct for Responsible Fisheries. Rome. 41p.
Gaertner D, Molina AD, Ariz J, Pianet R, Hallier JP. 2008. Variability of the
growth parameters of the skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) among areas
in the eastern Atlantic: analysis from tagging data within a meta-analysis
approach. Journal Aquatic Living Resources 21: 349-356.
24

Grande M, Murua H, Zudaire I, Goni N, Bodin N. 2014. Reproductive timing


and reproductive capacity of the Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) in the
western Indian Ocean. Journal Fisheries Research 156: 14-22.
Jamal M, Sondita MFA, Haluan J, Wiryawan B. 2011. Pemanfaatan Data
Biologi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dalam Rangka Pengelolaan
Perikanan Bertanggung Jawab di Perairan Teluk Bone. Jurnal Natur
Indonesia 14(1): 107-113.
Kharat SS, Khillare YK, Dahanukar N. 2008. Allometric scaling in growth and
reproduction of a freshwater loach Nemacheilus mooreh (Sykes, 1839).
Electronic Journal of Ichtyology. 1:8-17.
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 473A. 1985. Penetapan Jumlah Tangkapan
yang Diperbolehkan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Direktorat
Jendral Pertanian. Jakarta.
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 45. 2011. Estimasi Potensi
Sumberdaya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Replublik
Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Jakarta.
King M. 1995. Fishery Biology, Asessment, and Management. Fishing News
Books. London, USA. 341p.
Koya KPS, Joshi KK, Abdussamad EM, Rohit P, Sivadas M, Kuriakose S, Ghosh
S, Koya M, Dhokia HK, Prakasan D, Koya VAK, Sebastine M. 2012.
Fishery, biology and stock structure of skipjack tuna, Katsuwonus pelamis
(Linnaeus, 1758) exploited from Indian waters. Indian Journal Fish 59(2):
39-47.
Mallawa A, Amir F, Zainuddin M. 2014. Keragaan Biologi Populasi Ikan
Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang Tertangkap dengan Purse Seine Pada
Musim Timur di Perairan Laut Flores. Jurnal IPTEKS PSP 1(2): 129-145.
Manik N. 2007. Beberapa Aspek Biologi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)
di Perairan Sekitar Pulau Seram Selatan dan Pulau Nusalaut. Jurnal
Oseanologi dan Limnologi 33: 17-25.
Mayangsoka, ZA. 2010. Aspek Biologi dan Analisis Ketidakpastian Perikanan
Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang Didaratkan di PPS Nizam Zachman
Jakarta. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Merta IGS. 2004. Musim Penangkapan Ikan di Indonesia. Jakarta: Penebar
Swadaya. 116p.
McManus JW, Reyes RB, Nanola CL. 1997. Effects of some destructive fishing
methods on coral cover and potential rates of recovery. Environmental
Management 21(1):69-78.
Merta IGS, Nurhuda M, Nasrullah A. 2006. Perkembangan Perikanan Tuna di
Pelahuan Ratu. JPPI 12(2): 117-127.
Nikolsky GV. 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press. London. 352p.
Oktaviyani S. 2013. Kajian Stok Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus, Bloch
1791) di Perairan Teluk Banten yang Didaratkan di PPN Karangantu,
Banten. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Orange CJ. 1961. Spawning of Yellowfin Tuna and Skipjack in the Eastern
Tropical Pacific, As Inferred From Studied of Gonad Development.
Bulletin Inter-American Tropical Tuna Commission 5(6): 459-496.
Pauly D. 1984. Fish Population Dynamics In Tropical Waters: A Manual For
Use With Programmable Calculator. ICLARM. Manila. Filipina.
25

Pauly D, Palomares ML. 1986. Growth, Mortality and Recruitment og


Commercially Improtant Fishes and Penaeid Shrimps in Indonesia Waters.
ICLARM. Filipina.
Reuters. Cuaca Buruk, Produksi Perikanan Tangkap Menurun.
http://www.medanbisnisdaily.com/. Di akses pada 25 Juni 2015.
Saha SN, Vijayanand P, Rajagopal S. 2009. Length-weight Relationship and
Relative Condition Factor in Thenus Or ientalis (Lund, 1793) along East
Coast of India. Journal of Biological Sciences 1(2): 11-14.
Spare P, Venema S C. 1999. Introduksi pengkajian stok ikan tropis buku i-
manual (edisi terjemahan). Kerjasama Organisasi Pangan, Perserikatan
Bangsa-Bangsa dengan Pusat penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Jakarta (ID). 438 hal.
Steel RGD, Torrie JH. 1980. Principles and Procedure of Statistic : a Biological
Approach. New York (NY) : Mic Grow Hill Bool Company, Inc.
Sulistiono, Jannah MR, Ernawati Y. 2001. Reproduksi Ikan Belanak (Mugil
dussumieri) di Perairan Ujung Pangkah, Jawa Timur. Jurnla Iktiologi
Indonesia 1(2): 31-37.
Sulistiono, Firmansyah A, Sofiah S, Brojo M, Affandi R, Mamengke J. 2007.
Aspek biologi ikan butini (Glossogobius Matanensis) di Danau Towuti,
Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia.
14(1): 13-22.
Sumadhiharga K dan Hukom FD. 1987. Hubungan panjang berat, makanan dan
reproduksi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di laut Banda. Makalah
pada Kongres Biologi Nasional VIII. Purwokerto.
Suwarni. 2009. Hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi ikan butana
Acanthurus mata (Cuvier, 1829) yang tertangkap di sekitar Perairan Pantai
Desa Mattiro Deceng, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Provinsi Sulawesi
Selatan. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. 19 (3) : 160-165.
Udupa KS. 1896. Statistical method of estimating the size at first maturity of
fishes. Fishbyte. 4(2): 8-10.
Uktolseja JBC. 1987. Estimates growth parameters and migrations of skpijack
tuna (Katsuwonus pelamis), in the Eastern Indonesian waters through
tagging experiments. Jurnal Penelitian Perikanan Laut 43: 15-44.
Utami DP, Gumilar I, Sriati. 2012. Analisis bioekonomi penangkapan ikan layur
(Trichirus sp.) di Perairan Parigi Kabupaten Ciamis. Jurnal Perikanan dan
Kelautan 3(3):137-144.
Walpole RS. 1995. Pengantar Statistika. Jakarta (ID). PT Gramedia Pustaka
Umum. 515 hal.
Waileruny W. 2014. Pemanfaatan Berkelanjutan Sumberdaya Perikanan
Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Laut Banda dan Sekitarnya Provinsi
Maluku. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Widiawati E. 2000. Analisis Pola Musim Penangkapan Ikan Cakalang
(Katsuwonus pelamis) yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan
Cilauteureun, Jawa Barat. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Widodo J dan Suadi. 2008. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
World Wildlife Fund. Blowing up the bad guys: Will Indonesia’s new fisheries
laws deliver?. http://wwf.panda.org/. Di akses pada 29 Juli 2015.
26

LAMPIRAN

Lampiran 1 Uji Chi-square terhadap proporsi kelamin ikan cakalang (Katsuwonus


pelamis)

Rasio Uji Chi square


Waktu N 2
Betina Jantan χ hit χ2 tab
25-Des-14 11 1,2 1,0 0,2 3,2
27-Jan-15 5 0,0 1,0 5,0 3,2
24-Feb-15 7 1,0 1,3 2,3 3,2
24-Mar-15 9 1,0 1,3 3,7 3,2

Lampiran 2 Tingkat kematangan gonad ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)


betina
Betina
(SK= Jumlah Gonad)
TKG Frekuensi Relative
SKb Ska SK Jumlah
1 2 3 4 1 2 3 4
220 261 220-261 0 1 0 0 1 0 100 0 0
262 303 262-303 2 0 0 0 2 100 0 0 0
304 345 304-345 3 2 0 0 5 60 40 0 0
346 387 346-387 2 2 0 0 4 50 50 0 0
388 429 388-429 1 0 0 0 1 0 0 0 0
430 471 430-471 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 5 0 0

13

trip 1 trip 2 trip 3 trip 4


TKG (Dec) (Jan) (Feb) (Mar)
I 3 1 0 4
II 3 2 0 0
III 0 0 0 0
IV 0 0 0 0
100%
80%
Frekuensi Relatif

60% TKG IV
40% TKG III

20% TKG II

0% TKG I
Dec-14 Jan-15 Feb-15 Mar-15
Waktu Pengambilan Contoh
27

Lampiran 3 Tingkat kematangan gonad ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)


jantan
TKG Frekuensi Relative
SKb Ska SK Jumlah
1 2 3 4 1 2 3 4
220 261 220-261 0 0 0 0 0
262 303 262-303 1 0 0 0 1 100 0 0 0
304 345 304-345 3 1 0 0 4 75 25 0 0
346 387 346-387 4 3 0 0 7 57,1 42,9 0 0
388 429 388-429 1 3 0 1 5 20 60 0 20
430 471 430-471 1 0 1 0 2 50 0 50 0
10 7 1 1

19

trip 1 trip 2 trip 3 trip 4


TKG (Dec) (Jan) (Feb) (Mar)
I 3 4 1 2
II 2 1 1 3
III 0 0 1 0
IV 0 0 1 0

100%

80%
Frekuensi Relatif

60% TKG IV

40% TKG III


TKG II
20%
TKG I
0%
Dec-14 Jan-15 Feb-15 Mar-15
Waktu Pengambilan Contoh

Lampiran 4 Ukuran pertama kali matang gonad ikan cakalang (Katsuwonus


pelamis) jantan

SK Xi Ni Nb pi qi x(i+1)-xi Pi*Qi Ni-1


280-311 2,3811 2 0 0,0000 1,0000 0,0699 0,0000 1
312-343 2,4510 3 0 0,0000 1,0000 0,0602 0,0000 2
344-375 2,5112 5 0 0,0000 1,0000 0,0529 0,0000 4
376-407 2,5641 5 0 0,0000 1,0000 0,0471 0,0000 4
408-439 2,6112 2 1 0,5000 0,5000 0,0425 0,2500 1
440-471 2,6537 2 1 0,5000 0,5000 0,0000 0,2500 1
total 15,1723 19,0000 2,0000 1,0000 0,2726
rata-rata 2,5287 3,1667 0,3333 0,0454
28
𝑥
m = [𝑥𝑘 + ( )] - (𝑥 ∑ pi )
2
m = 2,6428
antilog = 10^2,6428
= 439,3977 mm

Keterangan :
log m : Logaritma dari panjang pada kematangan yang pertama
x : Logaritma dari pertambahan nilai tengah panjang
k : Jumlah kelas panjang
xk : Logaritma nilai tengah panjang ikan 50% matang gonad
qi : 1-pi
pi : ri/ni
ri : Jumlah ikan matang pada kelompok ke-i
ni : Jumlah ikan pada kelompok panjang ke-i

Lampiran 5 Sebaran frekuensi panjang ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)

SKb Ska SK BKb Bka BK Xi Fi


220 271 220-271 219,5 271,5 219,5-271,5 245,5 8
272 323 272-323 271,5 323,5 271,5-323,5 297,5 138
324 375 324-375 323,5 375,5 323,5-375,5 349,5 249
376 427 376-427 375,5 427,5 375,5-427,5 401,5 230
428 479 428-479 427,5 479,5 427,5-479,5 453,5 100
480 531 480-531 479,5 531,5 479,5-531,5 505,5 71
532 583 532-583 531,5 583,5 531,5-583,5 557,5 3
584 635 584-635 583,5 635,5 583,5-635,5 609,5 9
636 687 636-687 635,5 687,5 635,5-687,5 661,5 6
688 739 688-739 687,5 739,5 687,5-739,5 713,5 4
740 791 740-791 739,5 791,5 739,5-791,5 765,5 4

Lampiran 6 Pendugaan parameter pertumbuhan ikan cakalang (Katsuwonus


pelamis)
Lt L t+1
323,5 496,4
496,4 609,6
609,6 713*
713*
Note: *Didekati dari rata-rata panjang yang diukur

Perpotongan (a) 249,7


Kemiringan (b) 0,7
L infinity 992,6
K 0,3
t0 -0,2
29

Lampiran 7 Hubungan panjang bobot ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)


dB JK KT Fhit
Regresi 1 44,6282 44,6282 4799,5873
Sisa 820 7,6246 0,0093
Total 821 52,2529

Standard
Coefficients Error
Perpotongan -4,8424 0,1127
Kemiringan 3,0204 0,0436
thit 0,4673
ttab 1,9629

thit < ttab maka gagal tolak H0, sehingga pola pertumbuhannya adalah isometrik
(b=3)

Lampiran 8 Pendugaan mortalitas ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)


t(L1/L2)/2 Ln((C(L1,L2)/∆t)
SKb Ska Xi C (L1,L2) t (L1) ∆t
(x) (y)
220 271 245,5 8 0,5833 0,2099 0,6860 3,6405
272 323 297,5 138 0,7975 0,2307 0,9101 6,3941
324 375 349,5 249 1,0329 0,2560 1,1575 6,8802
376 427 401,5 230 1,2942 0,2875 1,4336 6,6846
428 479 453,5 100 1,5877 0,3279 1,7460 5,7201
480 531 505,5 71 1,9226 0,3816 2,1057 5,2260
532 583 557,5 3 2,3123 0,4564 2,5296 1,8830
584 635 609,5 9 2,7786 0,5678 3,0457 2,7632
636 687 661,5 6 3,3591 0,7518 3,7054 2,0771
688 739 713,5 4 4,1283 1,1153 4,6212 1,2772
740 791 765,5 4 5,2716 2,2089 6,1286 0,5938

Lampiran 9 Standarisasi alat tangkap

Payang Drift Gill net Rawai Tuna


Tahun
C F C F C F
2008 170,0807 2480 1524,1885 1382 578,0809 1709
2009 39,4150 739 1423,5396 1723 372,8054 1527
2011 714,9804 1382 1274,3665 1463 529,8171 1679
2012 355,2868 1868 1403,8145 1611 641,7047 830
2013 144,1079 1892 437,5699 2474 142,0785 253
30

Alat Tangkap C F CPUE FPI


Payang 1423,8708 8361,0000 0,1703 0,2430
Drift Gillnet 6063,4790 8653,0000 0,7007 1,0000
Rawai Tuna 2264,4865 5998,0000 0,3775 0,5388

Lampiran 10 Model produksi surplus


a. Tabel produksi dan upaya penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
Tahun C F CPUE Ln CPUE
2008 2272,3500 2905,4786 0,7821 -0,2458
2009 1835,7600 2725,3088 0,6736 -0,3951
2011 2519,1640 2703,4700 0,9318 -0,0706
2012 2400,8060 2512,1612 0,9557 -0,0453
2013 723,7563 3070,1202 0,2357 -1,4450

b. Tabel nilai MSY dan fmsy menggunakan model Schaefer dan FOX
Nilai Model Schaefer Model FOX
a 3,9461 5,7855
B -0,0012 -0,0022
R2 71,31% 67,28%
Upaya Optimum (fmsy) (unit) 1700,0186 447,0578
Maximum Sustainable Yield (MSY) (ton/tahun) 3354,2535 53538,0514
Potensi Lestari (PL) (ton/tahun) 3018,8282 48184,2463
Total Allowable Catch (TAC) (ton/tahun) 2683,4028 42830,4412
31

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Aisya Intan Widya Satria lahir
di Jakarta 16 Desember 1993, merupakan anak pertama dari
tiga bersaudara dari pasangan Ratna Dewi dan Ir Budi Satria.
Penulis mulai mengikuti pendidikan di TK Assyafiiyah lulus
1999, dilanjutkan sekolah dasar di SDN Jatimakmur V Bekasi
dan lulus pada tahun 2005. Melanjutkan di SMP Angkasa
Jakarta Timur lulus pada tahun 2008 serta dilanjutkan di
SMAN 113 Jakarta Timur dan lulus pada tahun 2011. Penulis
lulus seleksi menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor
melalui jalur SNMPTN Undangan pada tahun 2011 sebagai
mahasiswa Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor. Kegiatan di luar akademik, penulis aktif dalam organisasi Koran Kampus IPB
tahun 2011-2012 sebagai fotografer, Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan
Bersama (BEM TPB) IPB tahun 2011-2012 sebagai Bendahara Departemen
FOKUSTIK, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
(BEM FPIK) IPB tahun 2012-2013 sebagai Bendahara Departemen KOMINFO,
Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) IPB tahun
2013-2014 sebagai Sekretaris Divisi SPARTA. Kegiatan akademik di luar
perkuliahan yang pernah dilakukan oleh penulis adalah menjadi asisten mata kuliah
Oseanografi Umum tahun 2012/2013 dan 2014/2015, asisten mata kuliah Biologi
Perikanan tahun 2013/2014 dan 2015/2016, dan asisten mata kuliah Pengkajian Stok
Ikan 2015/2016. Selain itu penulis juga aktif mengikuti seminar maupun
berpartisipasi dalam kegiatan olimpiade olahraga serta berbagai kepanitian di
lingkungan kampus IPB.

Anda mungkin juga menyukai