Anda di halaman 1dari 9

FISIKA

“PENENTUAN PANJANG GELOMBANG DENGAN


MENGGUNAKAN KISI DIFRAKSI”

OLEH :
KELOMPOK IV
1. Putu Agus Prema Yoga (03)
2. Gede Bimananda Mahardika Wisna
(05)
3. Putu Herlin Oktavianti (13)
4. Desak Ketut Nariswari Pramegia
(16)
5. Ni Putu Sri Wahyuningsih (20)

PENENTUAN PANJANG GELOMBANG

1
DENGAN METODE INTERFERENSI (KISI
DIFRAKSI)

I. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah menentukan panjang gelombang suatu pointer laser
dengan menggunakan metode interferensi gelombang (kisi difraksi).

II.Dasar Teori
 KISI DIFRAKSI
Kisi difraksi adalah alat yang sangat berguna untuk menganalisis sumber-sumber
cahaya. Sebuah kisi dapat dibuat dengan cara membuat goresan garis yang sejajar
pada sekeping kaca dengan menggunakan teknik mesin yang presisi. Celah
diantara goresan-goresan adalah transparan terhadap cahaya dan karena itu
bertindak sebagai celah-celah yang terpisah.

Gambar 2.1 Kisi Difraksi


Diantara kisi dan layar terdapat lensa positif untuk memfokuskan sinar-sinar ke
titik P. Intensitas yang teramati pada layar maerupakan kombinasi interferensi dan
difraksi. Pada difraksi kisi , tiap celah dianggap sebagai sumber gelombang
koheren. Jika terdapat N garis per satuan panjang, maka tetapan kisi, d, adalah
kebalikan dari N.

d = 1N

2
Dari gambar di atas terlihat bahwa pada lintasan di antara gelombang-gelombang
dari dua celah yang berdekatan adalah dsinθ. Jika beda lintasan sama dengan 1
panjang gelombang atau kelipatan bulat dari panjang gelombang, gelombang-
gelombang dari semua celah akan sefase di suatu titik dan satu garis terang akan
diamati di layar. Karena itu, syarat interferensi konstruktif atau garis terang pada
sudut deviasi θ adalah :
λ

∆S = d sinθ = ndengan
λ n = 0,1,2,3,dst

n = 0 menyatakan maksimum orde ke -0 atau terang pusat, n = 1 menyatakan


maksimum orde ke-1 atau garis terang pertama, n = 2 menyatakan maksimum orde
ke-2 atau garis terang kedua.

I. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
Alat dan Bahan Gambar Fungsi
Sebagai bahan uji yang akan
Pointer Laser ditentukan panjang
gelombangnya.

Sebagai alat yang digunakan


Kisi Difraksi untuk menentukan panjang
gelombang.

Sebagai tempat meletakkan


Bangku Optik
kisi difraksi dan layar.

Mistar Panjang dan Sebagai alat untuk mengukur


Pendek dalam praktikum.

Sebagai tempat terjadinya


Layar
bayangan dari praktikum.

3
Untuk mencatat data yang
Alat Tulis
didapat dari praktikum.

II.Prosedur Kerja
1. Menyususun alat dan bahan praktikum sedemikian rupa.
2. Mengatur jarak antara layar dengan kisi difraksi agar mendapatkan bayangan dari
pointer laser dengan jelas.
3. Menyalakan pointer laser dan menyinari pada kisi difraksi secara tegak lurus serta
mengusahakannya agar tidak goyang.
4. Mencatat data-data yang diperoleh dari praktikum sesuai dengan tabel yang terdapat
pada hasil pengamatan.
5. Mengulangi langkah ke-4 dan ke-5 dengan jarak layar ke kisi difraksi yang berbeda
sehingga mendapatkan data yang lebih akurat.

I. Hasil Pengamatan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan data sesuai dengan tabel hasil
pengamatan berikut :
Kisi Difraksi
Jarak (L) 100 garis/mm (N1) 300 garis/mm (N2) 600 garis/mm (N3)
y1 y2 y1 y2 y1 y2
3 cm 0,2 cm 0,5 cm 0,6 cm 1,8 cm 1,2 cm 4 cm
5,3 cm 0,4 cm 0,7 cm 1,1 cm 2,4 cm 2 cm 5,3 cm
7 cm 0,5 cm 1 cm 1,8 cm 2,7 cm 3 cm 8 cm

II.Pembahasan
Dari data di atas, dapat diperoleh d dari masing-masing kisi difraksi sebagai berikut :
➢ Untuk kisi difraksi 100 garis/mm dengan L1
d1 = 1N1 tan θ1 = y1L1 tan θ2 =
y2L1

d1 = 1100 = 0,23,0 =
0,53,0

4
d1 = 10-2 mm = 10-3 cm
d1 sinθ = n λ d1 sinθ = n λ
d1 tan θ1= n λ d1 tan θ2= n λ
10-3. 0,23 = 1 . λ 10-3 . 0,53 = 2 . λ
λ = 6 ,67 x 10-5 cm λ = 8 x 10-5 cm
λ 1 = 6,67 x 10-7 m λ 2 = 8,33 x 10-7 m
Rata-ratanya = 7,5 x 10-7 m
➢ Untuk kisi difraksi 100 garis/mm dengan L2
tan θ1 = y1L2 tan θ2 = y2L2

= 0,45,3 = 0,75,3
d1 sinθ = n λ d1 sinθ = n λ
d1 tan θ1= n λ d1 tan θ2= n λ
10-3. 0,45,3 = 1 . λ 10-3 . 0,75,3 = 2 . λ
λ = 7,55 x 10-5 cm λ = 6,60 x 10-5 cm
λ 1 = 7,55 x 10-7 m λ 2 = 6,60 x 10-7 m
Rata-ratanya = 7,07 x 10-7 m
➢ Untuk kisi difraksi 100 garis/mm dengan L3
tan θ1 = y1L3 tan θ2 = y2L3

= 0,57,0 = 1,07,0
d1 sinθ = n λ d1 sinθ = n λ
d1 tan θ1= n λ d1 tan θ2= n λ
10 . 0,57,0 = 1 . λ
-3
10-3 . 1,07,0 = 2 . λ
λ = 7,14 x 10-5 cm λ = 7,14 x 10-5 cm
λ 1 = 7,14 x 10-7 m λ 2 = 7,14 x 10-7 m
Rata-ratanya = 7,14 x 10-7 m

• Untuk kisi difraksi 300 garis/mm dengan L1


d2 = 1N2 tan θ1 = y1L1 tan θ2 =

y2L1

d2 = 1300 = 0,63,0 =
1,83,0
d2 = 3,30 x 10-3 mm = 3,30 x 10-4 cm
d2 sinθ = n λ d2 sinθ = n λ

5
d2 tan θ1= n λ d2 tan θ2= n λ
3,30 x 10-4. 0,63,0 = 1 . λ 3,30 x 10-4 . 1,83,0 = 2 . λ
λ = 6 ,60 x 10-5 cm λ = 9,90 x 10-5 cm
λ 1 = 6,60 x 10-7 m λ 2 = 9,90 x 10-7 m
Rata-ratanya = 8,25 x 10-7 m
• Untuk kisi difraksi 300 garis/mm dengan L2
tan θ1 = y1L2 tan θ2 = y2L2

= 1,15,3 = 2,45,3

d2 sinθ = n λ d2 sinθ = n λ
d2 tan θ1= n λ d2 tan θ2= n λ
3,30 x 10-4. 1,15,3 = 1 . λ 3,30 x 10-4 . 2,45,3 = 2 . λ
λ = 6 ,85 x 10-5 cm λ = 7,47 x 10-5 cm
λ 1 = 6,85 x 10-7 m λ 2 = 7,47 x 10-7 m
Rata-ratanya = 7,16 x 10-7 m
• Untuk kisi difraksi 300 garis/mm dengan L3
tan θ1 = y1L3 tan θ2 = y2L3

= 1,87,0 = 2,77,0

d2 sinθ = n λ d2 sinθ = n λ
d2 tan θ1= n λ d2 tan θ2= n λ
3,30 x 10-4. 1,87,0 = 1 . λ 3,30 x 10-4 . 2,77,0 = 2 . λ
λ = 8,49 x 10-5 cm λ = 6,36 x 10-5 cm
λ 1 = 8,49 x 10-7 m λ 2 = 6,36 x 10-7 m
Rata-ratanya = 7,43 x 10-7 m

✔ Untuk kisi difraksi 600 garis/mm dengan L1


d3 = 1N3 tan θ1 = y1L1 tan θ2 =
y2L1

d3 = 1600 = 1,23,0 =
43,0
d3 = 1,67 x 10-3 mm = 1,67 x 10-4 cm
d3 sinθ = n λ d3 sinθ = n λ

6
d3 tan θ1= n λ d3 tan θ2= n λ
1,67 x 10-4. 1,23,0 = 1 . λ 1,67 x 10-4 . 43,0 = 2 . λ
λ = 6 ,68 x 10-5 cm λ = 1,11 x 10-4 cm
λ 1 = 6,68 x 10-7 m λ 2 = 11,1 x 10-7 m
Rata-ratanya = 8,89 x 10-7 m
✔ Untuk kisi difraksi 600 garis/mm dengan L2
tan θ1 = y1L2 tan θ2 = y2L2

= 2,05,3 = 5,35,3

d3 sinθ = n λ d3 sinθ = n λ
d3 tan θ1= n λ d3 tan θ2= n λ
1,67 x 10-4. 2,05,3 = 1 . λ 1,67 x 10-4. 5,35,3 = 2 . λ
λ = 6,30 x 10-5 cm λ = 8,35 x 10-5 cm
λ 1 = 6,30 x 10-7 m λ 2 = 8,35 x 10-7 m
Rata-ratanya = 7,33 x 10-7 m
✔ Untuk kisi difraksi 600 garis/mm dengan L3
tan θ1 = y1L3 tan θ2 = y2L3

= 3,07,0 = 8,07,0

d3 sinθ = n λ d3 sinθ = n λ
d3 tan θ1= n λ d3 tan θ2= n λ
1,67 x 10-4. 3,07,0 = 1 . λ 1,67 x 10-4 . 8,07,0 = 2 . λ
λ = 7,12 x 10-5 cm λ = 9,54 x 10-5 cm
λ 1 = 7,12 x 10-7 m λ 2 = 9,54 x 10-7 m
Rata-ratanya = 8,33 x 10-7 m

Rata-rata gelombang yang di dapatkan dari-data di atas adalah sebagai berikut :


λ = (7,50 + 7,07 + 7,14 + 8,25 + 7,16 + 7,43 + 8,89 + 7,33 + 8,33) x 10-
79
= 7,68 x 10-7 m

Dari hasil-hasil perhitungan di atas, diperoleh panjang gelombang (λ 1 dan λ 2) yang


berbeda-beda dari setiap L. Perbedaan dari panjang gelombang ini dipengaruhi oleh :

7
a. Keterbatasan alat ukur
Dalam percobaan ini, alat ukur yang digunakan adalah mistar. Mistar yang
digunakan belum tentu akurat ataupun tepat. Mungkin saja jarak antara ruas yang
ada dalam penggaris tidak sama, sehingga akan mempengaruhi hasil pengukuran.
b. Kesalahan dalam pengukuran
Dengan keterbatasan alat ukur, hasil pengukuran juga akan ikut terpengaruh. Saat
mengukur jarak antara titik terang pusat dengan titik terang pertama mungkin tidak
akurat akibat sudut pandang pengukur yang berbeda-beda.
c. Faktor manusia
 Pemegang laser
Pada percobaan ini, pointer laser tidak menggunakan tumpuan yang tetap,
melainkan dipengang oleh tangan pengamat. Sehingga memungkinkan
ketidakstabilan titik terang pusat dan titik terang lainnya (berubah-ubah).

 Pemegang layar
Sama halnya dengan pointer laser, layar juga tidak stabil. Layar yang digunakan
seharusnya berupa millimeter blok, sehingga pengukuran dapat dilakukan
dengan lebih tepat dan akurat.

I. Kesimpulan
Dari praktikum ini, di dapat beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1. Panjang gelombang yang didapat dari percobaan ini dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus untuk kisi difraksi yaitu :
λ
d sinθ = n λ dengan n = 0,1,2,3,…
2. Panjang gelombang dari percobaan ini adalah 7,68 x 10-7 m
3. Panjang gelombang yang didapat dari hasil percobaan berbeda dengan panjang
gelombang yang tertera pada pointer laser dipengaruhi oleh keterbatasan alat ukur,
kesalahan dalam pengukuran, dan faktor manusia.

8
DAFTAR PUSTAKA

Kanginan, Marthen.2007.Fisika untuk SMA Kelas XII.Cimahi. Penerbit Erlangga.


Kanginan, Marthen.2008.Seribu Pena Fisika untuk SMA Kelas XII.Cimahi. Penerbit
Erlangga.
Surya, Yohanes.2000.Fisika Itu Mudah.Jakarta.PT. Bina Sumber Daya MIPA
www.google.com/images/
www.google.com/kisi-difraksi/