Anda di halaman 1dari 8

Penggunaaan Interferometer Michelson dalam Pencarian Panjang Gelombang, Indeks Bias, Distribusi Intensitas dan Nilai Kontras

S,Riski. D.R, Adung


Department of Physics, Sepuluh Nopember Institutes of Technology Riski09@mhs.physics.its.ac.id

Abstrak Telah dilakukan percobaan penggunaan interferometer Michelson dalam pencarian panjang gelombang, indeks bias, distribusi intensitas dan nilai kontras. Interferometer Michelson adalah alat ukur yang memanfatkan gejala interferensi, pada percobaan ini diamati pola frinji yang dihasilkan. Dari pola frinji itu nanti dengan menghitung jarak antar pola gelap terangnya dan juga dengan menghitung banyaknya pola gelap terangnya dapat ditentukan panjang gelombangnya, indeks bias pada kaca yang digunakan pun dapat ditentukan. Dengan bantuan software matlab dapat ditentukan distribusi intensitas yang dicari, dan dengan software imageJ dapat ditentukan nilai kontras paada frinji yang diamati. Kata kunci : interferometer Michelson, panjang gelombang, indeks bias, distribusi intensitas, nilai kontras, pola frinji.

PENDAHULUAN Beberapa tahun terakhir ini, terjadi perkembangan yang luar biasa dibidang elektronika yang di dalamnya sudah terintegrasi dengan komponen-komponen optik untuk menghasilkan suatu peralatanperalatan pengontrol operasi elektromekanik, transfer informasi atau kegiatan pengukuran. Bentuk terintegrasi antara bidang elektronika, optika dan cahaya dikenal dengan sebutan optoelektronika. Mengukur meter standar, mengukur muai panjang bahan logam atau mengukur pertambahan panjang suatu logam karena Panjang gelombang adalah sebuah jarak antara satuan berulang dari sebuah pola gelombang. Biasanya memiliki denotasi huruf Yunani lambda (). Dalam sebuah gelombang sinus, panjang gelombang adalah jarak antara puncak:

temperaturnya bertambah dan dapat pula digunakan untuk menganalisa getaran merupakan kegunaan dari interferometer Michelson. Interferometer Michelson juga dapat digunakan panjang gelombang cahaya maupun untuk mengukur indeks bias suatu kaca dengan cara interferensi. Interferometer Michelson merupakan interferometer yang paling sederhana yang ditemukan Michelson diantara interferometer yang lain. TINJAUAN PUSTAKA
Panjang Gelombang dan Indeks Bias

Dengan = selisih dari jarak frinji yang muncul tanpa menggunakan dengan jarak antar yang muncul menggunakan kaca x1 = jarak antar frinji muncul saat menggunakan kaca = panjang gelombang d = ketebalan kaca digunakan n udara = indeks bias udara
x

antar saat kaca frinji saat yang tanpa yang

Axis x mewakilkan panjang, dan I mewakilkan kuantitas yang bervariasi (misalnya tekanan udara untuk sebuah gelombang suara atau kekuatan listrik atau medan magnet untuk cahaya), pada suatu titik dalam fungsi waktu x. Panjang gelombang memiliki hubungan inverse terhadap frekuensi f, jumlah puncak untuk melewati sebuah titik dalam sebuah waktu yang diberikan. Panjan gelombang sama dengan kecepatan jenis gelombang dibagi oleh frekuensi gelombang. Ketika berhadapan dengan radiasi elektromagnetik dalam ruang hampa, kecepatan ini adalah kecepatan cahaya c, untuku sinyal (gelombang) di udara, ini merupakan kecepatan suara di udara. Hubungannya adalah:

di mana: = panjang gelombang dari sebuah gelombang suara atau gelombang elektromagnetik c = kecepatan cahaya dalam vakum = 299,792.458 km/d ~ 300,000 km/d = 300,000,000 m/d atau c = kecepatan suara dalam udara = 343 m/d pada 20 C (68 F) f = frekuensi gelombang Indeks bias pada medium didefinisikan sebagai perbandingan antara kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara dengan cepat rambat cahaya pada suatu medium. Dalam percobaan ini rumus yang dipakai untuk mencari indeks bias adalah :
xx12d+n udara

Interferensi Interferensi dan difraksi merupakan fenomena penting yang membedakan gelombang dari partikel. Interferensi ialah penggabungan secara superposisi dua gelombang atau lebih yang bertemu dalam satu titik di ruang. Sedangkan difraksi adalah pembelokan gelombang di sekitar sudut yang terjadi apabila sebagian muka gelombang dipotong oleh halangan atau rintangan. Apabila dua gelombang yang berfrekuensi dan berpanjang gelombang sama tapi berbeda fase bergabung, maka gelombang yang dihasilkan merupakan gelombang yang amplitudonya tergantung pada perbedaan fasenya. Jika perbedaan fasenya 0 atau bilangan bulat kelipatan 360, maka gelombang akan sefase dan berinterferensi secara saling menguatkan (interferensi konstruktif). Sedangkan amplitudonya sama dengan penjumlahan amplitudo masing-masing gelombang. Jika perbedaan fasenya 180 atau bilangan ganjil kali 180, maka gelombang yang dihasilkan akan berbeda fase dan berinterferensi secara saling melemahkan (interferensi destruktif). Amplitudo yang dihasilkan merupakan perbedaan amplitudo masingmasing gelombang. Perbedaan fase antara dua gelombang sering disebabkan oleh adanya perbedaan panjang lintasan yang ditempuh oleh kedua gelombang. Perbedaan lintasan satu panjang gelombangmenghasilkan perbedaan fase 360o, yang ekivalen

dengan tidak ada perbedaan fase sama sekali. Perbedaan lintasan setengah panjang gelombang menghasilkan perbedaan fase 180o. Umumnya, perbedaan lintasan yang sama dengan _d menyumbang suatu perbedaan fase yang diberikan oleh (Tipler,1991) Interferometer Michelson

Interferometer merupakan alat ukur yang memanfaatkan gejala interferensi sinar. Interferometer yang paling sederhana ialah yang ditemukan oleh Albert Abraham Michelson pada 1881. Berkas sinar dari sebuah sumber dijatuhkan pada permukaan lensa pembagi.

3 4 1 2 6

gambar 2.1

keterangan : 1: laser 2: kolimator 3: cermin yang digerakkan Berkas sinar yang dipecah menjadi dua, yang satu diteruskan ke cermin M1 yang satu lagi diteruskan lagi ke M2. Kedua berkas sinar dipantulkan kembali ke sermin M1 keduanya saling koherensi, sehingga terjadi interferensi. Apabila cermin M1 dan cermin M2 benar-benar tegak lurus dengan yang lainnya maka efeknya sama saja dengan cahaya yang berasal sumber S jatuh pada lapisan tebal udara diantara cermin yang ketebalannya d1-d2. Pola inteferensi dengan menggerakan cermin M2 ke depan dan kebelakang sehingga

4: lensa pembagi 5: layar 6: cermin

cincin terang ke gelap berubah satu panjang gelombang. Aplikasi interferometer ini dapat digunakan untuk menggukur meter standar, mengukur muai panjang bahan logam atau mengukur pertambahan panjang suatu logam karena temperaturnya bertambah dan dapat pula digunakan untuk menganalisa getaran

METODE PENELITIAN

Dalam praktikum ini alat-alat dan bahan yang digunakan antara lain, 1 set interferometer, power supply, laser dan juga tiga buah kaca(masingmasing memiliki ketebalan yang berbeda). Pertama-tama interferometer Michelson yang akan digunakan dikalibrasi terlebih dahulu, laser, beam splitter, kedua cermin dan lensa diatur posisinya sepertii pada gambar 2.1. Kemudian mencari pola interferensi dengan cara mengatur(men ggeser-geser) salah satu cermin sampai muncul pola frinji pada layar pengamatan. Kemudian kaca yang ada

digunakan untuk mencari indeks bias pada kaca tersebut dengan cara menghitung jarak antar frinji yang muncul saat menggunakan kaca dan tanpa menggunakan kaca.

2 3 4

Kaca 1 Kaca 2 Kaca 3

4.1.2Tabel jumlah frinji NN o 1 2 Skala (mikro) 1 10 Gambar 4.2 pola frinji pada skala 1 menggunaka n kaca 1

ANALISA DATA DAN PEMBAHASA N Data Percobaan 4.1.1Tabel jarak antar frinji NN o 1 Kaca Tanpa kaca Gambar 4.1 pola frinji di skala 1 tanpa menggunaka n kaca Gambar 4.3 pola frinji pada skala 1 menggunaka n kaca 2

Contoh perhitungan : Menggunakan rumus : =


2dmN

X 12 d

sebagai berikut
I n t e r f e r o g r a m , f i l e :

+ n
uda ra

1 2 3 4

0 0 0 0

0 0 0 0

0 0 0 0

=
2(.1 x 10-6)5

= 4 x 10-7 Gambar 4.4 pola frinji pada skala 1 menggunaka n kaca 3 tabel 4.3 perhitungan panjang gelombang No dm 1 2 1 10 n 5 6

kaca
0,15(4x1070.62(0,45)

n =
0

1 2 03 0 0 0 0 0 0 0 0 D 1 . . . . 0 5 8 6 4 2 1 0 1 0 0 2 5 0 2 0 0 03 5 0 03 0 0 04 5 0 0 0 0 0 0 0 0 D i s t r i b u s i s t r i b u s i K O L O

+ n =

0 0 0

1 kaca 1,000111

I n

t e

tabel 4.4 perhitungan indeks bias No Kaca 1 2 3 Kaca 1


0

I n

t e

r f e

r o

f i l

1 2 3 4

0 0 0 0

0 0 0 0

0 0 0 0

1 2 30 0 0 0 0 0 0 D 1 . . . . 0 5 8 6 4 2 1 0 1 0 20 5 02 0 03 05 03 0 0 0 4 0 5 0 0 0 0 0 0 0 D i s t r i b u 0 s i I n t e i s t r i b u s i K O L

4.1.4Perhitu ngan Indeks Bias gambar 4.5 pola frinji pada skala 10 tanpa menggunaka n kaca Perhitungan 4.1.3Perhitu ngan Panjang Gelomb ang Contoh Perhitungan : Menggunakan rumus : X .X12d + n
udara

Kaca 2 Kaca 3

0 0 0

n k ac a =
X .

Kemudian data-data yang didapat dalam bentuk foto tersebut dicari distribusi intensitasnya menggunaka n matlab, dan hasil yang didapat adalah

Pembahasa n Praktikum ini bernama interferomete r Michelson,pra ktikum ini bertujuan untuk mendapatkan panjang gelombang pada laser yang menggunaka n dua skala yang berbeda yaitu 1 dan 10, juga bertujuan untuk mencari indeks bias pada kaca yang digunakan serta untuk mengetahui perbedaan distribusi intensitas saat menggunaka n kaca atau tidak dan untuk mendapatkan nilai kontras dari tiap grafik yang didapatkan.

Dalam menentukan panjang gelombang digunakan dua skala yang berbeda yaitu 1 dan 10 tanpa menggunaka n kaca, panjang gelombang berkaitan dengan jumlah frinji yang dihasilkan. Dalam praktikum ini terlihat bila semakin banyak pola frinji yang dihasilkan maka panjang gelombangny a akan semakin kecil dan sebaliknya bila semakin sedikit pola frinji yang dihasilkan maka semakin besar panjang gelombangny a. Pada hasil perhitungan terlihat bahwa pada

penggunaan skala 10 panjang gelombang yang diketahui lebih besar dibandingkan pada saat penggunaan skala 1. Terdapat 3 buah kaca yang dicari indeks biasnya dalam praktikum ini, dalam pencarian nilai indeks bias ini digunakan skala yang sama yaitu skala 1. Penggunaan kaca disini mempengaru hi jarak antar frinji yang terbentuk, dari jarak antar frinji inilah dapat ditentukan indeks bias yang digunakan. Dan dapat terlihat bahwa

semakin tebal kaca yang digunakan maka akan semakin kecil indeks bias yang akan didapatkan. Dari ketiga kaca yang digunakan maka diketahui kaca 3 dengan tebal 0.45 memilki indeks bias terbesar yaitu 1,000165. Pada penentuan distribusi intensitas, didapat dengan menggunaka n matlab. Pada praktikum ini pola frinji yang dihasilkan dalam bentuk vertikal maka sebelum diolah menggunaka n matlab data yang berupa foto tersebut dirubah dahulu ke

dalam bentuk horizontal, kemudian pada gambar frinji tersebut dibandingkan antara kolom Sebelah kanan dan kirinya. Pada contoh yang dimasukkan ke dalam jurnal ini dibandingkan antara kolom 1400 dengan kolom 1900 yang terletak di sebelah kanan pada foto frinji. Terlihat bahwa pada frinji yang sama namun pada kolom yang berbeda terdapat distribusi intensitas yang berbeda. Hal ini menunjukan bahwa cahaya yang jatuh pada tiap bagian pola frinji itu berbeda intensitasnya.

KESIMPULAN Berdasarkan data hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pada

pencari an besar panjang gelomb ang yang menggu nakan 2 skala yang berbeda yaitu skala 1 dan 10, terlihat bahwa pada skala 10 memilik i panjang gelomb ang lebih besar yaitu 3,33 x 10-6 2. Pada penentu an indeks bias didapat

kan besar indeks bias yaitu : a) K ac a 1 : 1, 0 0 0 1 1 1 b) K ac a 2 : 1, 0 0 0 0 6 8 c) K ac a 3 : 1, 0 0 0 1

6 5 Terlihat bahwa kaca 3 memiliki indeks bias terbesar, dalam penentuan indeks bias ketebalan kaca sangat mempengaru hi besar indeks bias. Semakin besar ketebalannya maka akan semakin kecil indeks biasnya. DAFTAR PUSTAKA Indarto, Bahtera.dkk.2000 .Eksperimen Fisika Lanjut I.jurusan Fisika Susilorahayuning tjas, Endang.2003.Opt ika.Jurusan Fisika Halliday, D. dan Resnick, R. 1999. Physics (terjemahan Pantur Silaban dan Erwin Sucipto). Jilid 2. Edisi 3. Penerbit Erlangga: Jakarta Tipler, P. A. 1991.Fisika Untuk Sains dan

Tehnik Jilid 2 (alih bahasa Dr.Bambang Soegijono).

Penerbit Erlangga: