ANGGARAN RUMAH TANGGA
ANGKATAN MUDA TOLAKI
BAB I
LAMBANG, PANJI, IKRAR DAN ATRIBUT LAINNYA
Pasal 1
1. Lambang Anandolaki adalah bintang, kalosara (simbol hukum adat), dua ta’awu (senjata
tajam khas Suku Tolaki, gong dan bertuliskan Angkatan Muda Tolaki;
2. Panji AMT adalah berwarna hitam dengan sisi berwarna merah dan lambang Organisasi pada
bagian tengah dengan ukuran 90 Cm x 150 Cm;
3. Ikrar dan atribut-atribut lainnya diatur dalam peraturan organisasi;
BAB II
KEANGGOTAAN
Pasal 2
Persyaratan menjadi anggota biasa AMT harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Merupakan Warga Negara Indonesia;
2. Bersuku Tolaki;
3. Telah berumur minimal 17 tahun ;
4. Sanggup aktif mengikuti kegiatan yang ditentukan organisasi.
5. Menerima AD, ART, program Umum Organisasi dan peraturan-peraturan organisasi
6. Menyatakan diri menjadi anggota Anandolaki melalui peringkat organisasi terbawah yang ada
7. Ditetapkan dan disahkan oleh Pengurus Distrik / Pengurus Perwakilan sesuai dengan
peraturan organisasi.
Pasal 3
1. Anggota Kehormatan adalah tokoh-tokoh yang dianggap telah berjasa kepada organisasi yang
keanggotaannya ditentukan oleh keputusan organisasi;
2. Anggota Kehormatan tingkat Pusat ditentukan oleh Pengurus Pusat sedangkan Anggota
Kehormatan lainnya ditentukan oleh Kepengurusan setingkat lebih tinggi diatasnya.
BAB III
KEWAJIBAN, HAK, LARANGAN BAGI ANGGOTA
Pasal 4
Setiap anggota berkewajiban :
1. Mentaati AD dan ART serta seluruh keputusan-keputusan Organisasi;
2. Mentaati dan melaksanakan segala peraturan organisasi;
3. Membantu pengurus dalam melaksanakan tugas dan kewajiban organisasi;
4. Menentang setiap usaha dan tindakan yang merugikan kepentingan dan nama baik organisasi;
5. Mengamankan dan memperjuangkan kebijaksanaan organisasi.
Pasal 5
Setiap anggota berhak :
1. Berhak memperoleh perlakuan yang sama dari organisasi;
2. Mengeluarkan pendapat dan mengajukan usul-usul dan saran-saran;
3. Memilih dan dipilih;
4. Memperoleh perlindungan, pembelaan;
5. Memperoleh pendidikan kader dan bimbingan dari organisasi
Pasal 6
Ketentuan-ketentuan dalam pasal 4 dan pasal 5 tentang kewajiban dan hak anggota berlaku bagi
setiap anggota Organisasi, kecuali anggota kehormatan tidak memiliki hak memilih.
Pasal 7
1. Anggota dilarang melanggar ketentuan Hukum Adat Tolaki;
2. Anggota tidak dibenarkan melakukan tindakan dan atau mempublikasikan (menyebarluaskan)
kepada umum hal-hal yang bersifat merugikan nama baik dan kepentingan organisasi baik
langsung maupun tidak langsung baik berupa :
a. Menyebarluaskan paham kebencian terhadap Suku, Agama, atau Ras tertentu;
b. Menyerbaluaskan dan menyatakan rasa permusuhan terhadap Salah Satu Institusi
Negara/Pemerintahan;
c. Melakukan upaya-upaya provokatif baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
menciptakan benturan/kekacauan dalam keamanan dan ketertiban masyarakat;
d. Ikut serta mengkampanye pada saat pemilihan umum di berbagai tingkat dengan
mengatasnakan organisasi Anandolaki.
3. Pengurus yang tidak aktif, melalaikan tugas dan menghambat mekanisme organisasi selama 3
(tiga) bulan berturut-turut dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (4)
Anggaran Rumah Tangga ini.
4. Pelanggaran terhadap ketentuan ayat (1), (2) dan (3) Pasal ini, dapat dikenakan tindakan
administratif organisasi sebagai berikut :
a. Teguran/peringatan organiosasi;
b. Skorsing Keanggotaan/Pengurus;
c. Pemecatan/pemberhentian.
Pasal 8
Tata cara pembelaan diri anggota akan diatur dalam peraturan organisasi.
BAB IV
PEMBERHENTIAN ANGGOTA
Pasal 9
Anggota berhenti karena :
a. Meninggal Dunia;
b. Atas permintaan sendiri;
c. Diberhentikan.
Pasal 10
1. Pengurus Pusat terdiri atas :
a. Ketua Umum
b. Ketua-ketua
c. Sekretaris Jenderal
d. Wakil-wakil Sekretaris Jenderal
e. Bendahara Umum
f. Wakil-wakil Bendahara Umum
g. Ketua-ketua Departemen
2. Pada tiap-tiap wilayah dapat ditunjuk Koordinator Wilayah (KORWIL) sebagai Pembantu
Pengurus Pusat di wilayahnya yang kewenangannya diatur oleh Pengurus Pusat.
3. Ketua Umum dipilih oleh Musyarah Besar.
4. Tata cara Pemilihan Ketua Umum dan penetapan kepengurusan tingkat Pusat diatur oleh Tata
Tertib.
Pasal 11
1. Pengurus Distrik / Pengurus Perwakilan terdiri atas :
a. Ketua;
b. Wakil Ketua;
c. Sekretaris;
d. Wakil Sekretaris;
e. Bendahara;
f. Wakil Bendahara;
g. Ketua-ketua Biro.
2. Pada tiap-tiap wilayah ditunjuk Koordinator Wilayah (KORWIL) yang kedudukannya
setingkat dengan Wakil Ketua sebagai Pembantu Pengurus Distrik di wilayahnya yang
kewenangannya diatur oleh Pengurus Distrik.
Pasal 12
1. Pengurus Rayon/Komisariat terdiri atas :
a. Ketua;
b. Wakil Ketua;
c. Sekretaris;
d. Wakil Sekretaris;
e. Bendahara;
f. Wakil Bendahara;
g. Ketua-ketua Bidang.
2. Pada tiap-tiap wilayah dapat ditunjuk Koordinator Wilayah (KORWIL) yang kedudukannya
setingkat dengan Wakil Ketua sebagai Pembantu Pengurus Rayon di wilayahnya yang
kewenangannya diatur oleh Pengurus Rayon.
Pasal 13
Pengurus Sub Rayon terdiri atas :
a. Ketua;
b. Wakil Ketua;
c. Sekretaris;
d. Wakil Sekretaris;
e. Bendahara;
f. Wakil Bendahara;
g. Ketua-ketua Bagian.
Pasal 14
1. Pengisian lowongan antar waktu Personalia Pengurus Pusat dilakukan oleh Rapat Pimpinan
Paripurna;
2. Calon-calon diajukan oleh Pengurus Pusat setelah berkonsultasi dengan Dewan Penasehat
Pusat;
3. Sebelum diadakan rapat pimpinan Paripurna, maka Pengurus Pusat dapat mengisi lowongan
tersebut dengan menunjuk penjabat.
Pasal 15
Pengisian lowongan antar waktu Personalia Pengurus Distrik / Pengurus Perwakilan disyahkan
oleh Pengurus Pusat berdasarkan usulan Pengurus Distrik setelah berkonsultasi dengan Dewan
Penasehat Distrik.
Pasal 16
Pengisian lowongan antar waktu personalia Pengurus Rayon/Komisariat disyahkan oleh
Pengurus Distrik berdasarkan usul Pengurus Rayon setelah berkonsultasi dengan Penasehat
Rayon.
Pasal 17
Pengisian lowongan antar waktu personalia Pengurus Sub Rayon disahkan oleh Pengurus Rayon
berdasarkan usul Pengurus Sub Rayon setelah berkonsultasi dengan Dewan Penasehat Sub
Rayon.
Pasal 18
Masa jabatan penggantian antar waktu berakhir pada waktu jabatan yang digantikannya berakhir.
BAB VI
PEDOMAN TATA KERJA
Pasal 19
1. Demi tertibnya pelaksanaan mekanisme organisasi, Pengurus Pusat wajib membuat Pedoman
Tata Kerja yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga serta
Peraturan Organisasi lainnya;
2. Untuk memudahkan terlaksananya tujuan organisasi sesuai dengan kondisi masingmasing
Distrik / Pengurus Perwakilan, setiap Distrik / Pengurus Perwakilan harus membuat Pedoman
Tata Kerja yang berlaku untuk Distrik / Pengurus Perwakilan yang bersangkutan. Setelah
mendapat pengesahan dari Pengurus Pusat yang tidak boleh bertentangan dengan AD dan
ART serta peraturan-peraturan organisasi lainnya;
3. Hal tersebut seperti yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini berlaku pula bagi masingmasing
Rayon/Komisariat dan Sub Rayon dengan mendapat pengesahan dari Pengurus yang setingkat
lebih atas.
BAB VII
SUSUNAN DEWAN PENASEHAT
Pasal 20
Susunan Dewan Penasehat terdiri atas :
1. Ketua;
2. Wakil Ketua;
3. Sekretaris;
4. Wakil Sekretaris;
5. Anggota-anggota.
BAB VIII
PERSONALIA DEWAN PENASEHAT
Pasal 21
Susunan Dewan Penasehat dipilih dan ditetapkan oleh Formatur
BAB IX
KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN DEWAN PENASEHAT
Pasal 22
Dewan Penasehat merupakan Dewan yang bersifat kolektif yang dibentuk ditingkat Pusat,
Distrik / Pengurus Perwakilan, Rayon/Komisariat, dan Sub Rayon.
Pasal 23
Keputusan-keputusan atau saran-saran Dewan Penasehat diambil dalam suatu rapat Dewan
Penasehat.
BAB X
SUSUNAN DAN KEDUDUKAN DEWAN PENDIRI
Pasal 24
1. Susunan dan kedudukan Majelis Pendiri diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi.
2. Personalia Majelis Pendiri ditetapkan oleh Majelis Pendiri.
BAB XI
LEMBAGA-LEMBAGA/BADAN OTONOM
Pasal 25
1. Berdasarkan kebutuhan dengan disertai alasan yang benar dan tepat, Pengurus Pusat dapat
membentuk lembaga-lembaga / Badan Otonom;
2. Sebagaimana ayat (1), baik mengenai pengertian, jenis, tata cara pembentukan dan tata
kerjanya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi
BAB XII
PESERTA MUSYAWARAH DAN RAPAT
Pasal 26
1. Peserta Musyawarah Besar terdiri atas :
a. Pengurus Pusat;
b. Unsur Dewan Penasehat Pusat;
c. Unsur Pendiri;
d. Unsur Pengurus Distrik dengan menyertakan unsur Rayon;
e. Unsur Perwakilan;
f. Organisasi / Lembaga ekstra struktural Tingkat Pusat yang ditetapkan oleh Pengurus Pusat;
g. Perorangan yang ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
2. Peninjau Musyawarah Besar adalah Lembaga/Badan Otonom Tingkat Pusat dan Perorangan
yang ditetapkan oleh Pengurus Pusat;
3. Peserta dan Peninjau Musyawarah Luar Biasa adalah sama seperti tersebut dalam ayat (1) dan
ayat (2) pasal ini;
4. Pimpinan Musyawarah Besar dan Luar Biasa dipilih dari dan oleh peserta;
5. Sebelum Pimpinan Musyawarah Besar dan Musyawarah terpilih, Pengurus Pusat bertindak
sebagai Pimpinan sementara.
Pasal 27
Rapat Pimpinan Paripurna Pusat dihadiri oleh :
1. Pengurus Pusat;
2. Unsur Dewan Penasehat Pusat;
3. Unsur Pengurus Distrik / Pengurus Perwakilan;
4. Organisasi/Lembaga Ekstra Struktural Tingkat Pusat yang ditetapkan oleh Pengurus Pusat;
5. Perorangan yang ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
Pasal 28
Rapat Kerja Tingkat Pusat dihadiri oleh unsur peserta yang sama dengan peserta Rapat Pimpinan
Paripurna Pusat
Pasal 29
1. Musyawarah Distrik dan Musyawarah Distrik Luar Biasa dihadiri oleh :
a. Unsur Pengurus Pusat;
b. Pengurus Distrik / Pengurus Perwakilan;
c. Unsur Dewan Penasehat Distrik;
d. Unsur Pengurus Rayon yang menyertakan unsur Sub Rayon;
e. Komisariat;
f. Organisasi/Lembaga Ekstra Struktural Tingkat Distrik / Pengurus Perwakilan. Yang
ditetapkan oleh Pengurus Distrik;
g. Perorangan yang ditetapkan oleh Pengurus Distrik / Pengurus Perwakilan. h. Unsur
Pengurus Sub Rayon.
2. Peninjau Musyawarah Distrik dan Musyawarah Distrik Luar Biasa adalah perorangan dan
Lembaga/Badan Otonom Tingkat Disktrik yang ditentukan oleh Pengurus Distrik / Pengurus
Perwakilan.
Pasal 30
Rapat Kerja Tingkat Distrik / Pengurus Perwakilan dihadiri oleh :
1. Unsur Pengurus Pusat;
2. Pengurus Distrik;
3. Unsur Dewan Penasehat Distrik;
4. Unsur Pengurus Rayon yang menyertakan unsur Sub Rayon;
5. Unsur Komisariat;
6. Organisasi/Lembaga Ekstra Struktural Tingkat Distrik yang ditetapkan oleh Pengurus Distrik;
7. Perorangan yang ditetapkan oleh Pengurus Distrik.
Pasal 31
1. Peserta Musyawarah Rayon terdiri atas :
a. Unsur Pengurus Distrik;
b. Pengurus Rayon;
c. Unsur Dewan Penasehat Rayon;
d. Unsur Pengurus Sub Rayon;
e. Organisasi/Lembaga Ekstra Struktural Tingkat Rayon yang ditetapkan oleh Pengurus
Rayon;
f. Perorangan yang ditentukan oleh Pengurus Rayon.
2. Peninjau Musyawarah Rayon adalah Perorangan dan Lembaga/Badan Otonom Tingkat Rayon
yang ditentukan oleh Pengurus Rayon.
Pasal 32
1. Peserta Musyawarah Sub Rayon terdiri atas :
a. Unsur Pengurus Rayon;
b. Pengurus Sub Rayon;
c. Unsur Dewan Penasehat Sub Rayon;
d. Organisasi/Lembaga Ekstra Struktural Tingkat Sub Rayon yang ditetapkan oleh Pengurus
Sub Rayon;
e. Perorangan yang ditentukan oleh Pengurus Sub Rayon (2) Peninjau Musyawarah Sub
Rayon adalah Perorangan dan atau Lembaga/Badan Otonom Tingkat Sub Rayon yang
ditentukan oleh Pengurus Sub Rayon.
Pasal 33
Jumlah terperinci Peserta Musyawarah dan Rapat-rapat seperti tersebut pada Bab XII Anggaran
Rumah Tangga ini akan diatur dalam Peraturan tersendiri.
BAB XIII
HAK BICARA DAN HAK SUARA
Pasal 34
Hak Bicara dan Hak Suara pada peserta Musyawarah dan Rapat-rapat yang diatur sebagai
berikut :
1. Hak Bicara pada dasarnya menjadi hak perorangan yang penggunaannya dapat diatur oleh
kelompok-kelompok peserta;
2. Hak Suara yang digunakan dalam pengambilan Keputusan pada dasarnya dimiliki oleh
Anggota/Peserta yang penggunaannya dilakukan melalui kelompok peserta.
BAB XIV
KEUANGAN
Pasal 35
1. Hal yang menyangkut pemasukan dan pengeluaran untuk dan dari Organisasi Wajib
dipertanggung jawabkan setiap tahun kepada Lembaga/forum yang ditetapkan dalam
Peraturan Organisasi;
2. Penerimaan dan Pengeluaran uang dalam rangka Penyelenggaraan kongres, Kongres Luar
Biasa, Musyawarah Distrik, Musyawarah Distrik Luar Biasa, Musyawarah Rayon, dan
Musyawarah Sub Rayon harus dipertanggung jawabkan kepada Pengurus Organisasi sesuai
tingkatannya melalui Panitia Verifikasi yang dibentuk oleh Pengurus sesuai tingkatannya.
BAB XV
PERATURAN PERALIHAN
Pasal 36
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur dan atau ditetapkan
kemudian dalam Peraturan Organisasi.
BAB XVI
PENUTUP
Pasal 37
Anggaran Rumah Tangga ditetapkan oleh Musyawarah Besar dan berlaku sejak tanggal
ditetapkannya.