Hawowowo
Hawowowo
OLEH
M. ZILZALUDIN PUTRA NUGRAHA
NIM. 03121001008
1 Universitas Sriwijaya
2
Universitas Sriwijaya
3
BAB 1 Pendahuluan
Bagian ini terdiri dari latar belakang, maksud dan tujuan penulisan, metode
pengumpulan data, ruang lingkup penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB 2 Tinjauan Pustaka
Bagian ini menguraikan kajian literatur yang akan digunakan dan
menjelaskan mengenai teori dasar, temuan, serta penelitian terdahulu yang akan
menjadi landasan untuk melaksanakan penelitian tugas akhir ini.
BAB 3 Metodologi Penelitian
Bagian ini berisi metode yang digunakan dalam penelitian ini, variabel-
variabel yang akan dicari dan cara menemukannya, metode analisis, langkah
penelitian, serta pemilihan wilayah penelitian.
BAB 4 Analisis dan Pembahasan
Bagian ini berisi penyajian hasil dari pengolahan data yang diambil untuk
penelitian dan diolah berdasarkan metodologi yang dipakai serta dari data yang
telah diperoleh pembahasan dari hasil analisis data yang telah dilakukan dalam
penelitian tersebut.
BAB 5 Penutup
Bagian ini berisi uraian kesimpulan yang dapat diambil dari hasil analisis
serta pembahasan penelitian yang telah dilakukan selama penelitian, serta saran
yang dianggap perlu untuk penelitian lanjutan.
Universitas Sriwijaya
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab tinjauan pustaka ini berisi studi terdahulu, teori- teori, dan rumus –
rumus yang berkaitan dengan bahasan sehingga dapat digunakan sebagai
referensi dalam mengerjakan tugas akhir maupun sebagai pengetahuan umum
mengenai terminal curah cair di Pelabuhan.
4
5
Universitas Sriwijaya
6
2.2. Pelabuhan
Pelabuhan merupakan suatu wilayah perairan yang terlindung dari
gelombang dan dilengkapi dengan fasilitas terminal laut meliputi dermaga dimana
kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang, kran (crane) untuk bongkar
muat barang, gudang laut (transito) dan tempat penyimpanan dimana kapal
membongkar muatannya, serta gudang dimana barang dapat disimpan dalam
waktu yang lebih lama selama menunggu pengiriman ke daerah tujuan atau
pengapalan.
Pelabuhan merupakan suatu pintu gerbang untuk masuk ke suatu wilayah
atau negara dan sebagai prasarana penghubung antar daerah, antar pulau, atau
bahkan antar negara.(Triatmojo,2009)
Pelabuhan juga dapat didefinisikan sebagai fasilitas yang berada di ujung
samudera, sungai, atau danau berfungsi untuk menerima kapal serta
memindahkan barang maupun penumpang ke dalamnya. Sering pula dibangun
fasilitas penunjang seperti penyimpanan dan pengangkutan dari darat menuju
kapal.
Pelabuhan mempunyai daerah pengaruh (hinterland) yaitu daerah yang
mempunyai kepentingan ekonomi, sosial dll dengan pelabuhan tersebut. Indonesia
yang merupakan negara kepulauan dengan mempunyai lebih dari 13.000 pulau
Universitas Sriwijaya
7
Universitas Sriwijaya
8
b) Interface
Pelabuhan berfungsi sebagai interface (penghubung) disini maksudnya
bahwa pelabuhan merupakan tempat melakukan kegiatan pemindahan muatan
kapal baik barang maupun manusia dengan berbagai macam fasilitas yang ada
baik dari angkutan kapal ke angkutan darat ataupun sebaliknya.
c) Link
Pelabuhan juga berfungsi sebagai link (mata rantai) maksudnya adalah
pelabuhan memiliki fungsi untuk memfasilitasi pengangkutan sebagai mata rantai
dari pengangkutan muatan baik barang ataupun manusia dari daerah produsen
(origin) sampai ke daerah konsumen (destination).
d) Indrusty Entity
Pelabuhan sebagai Industry Entity (kawasan industri) maksudnya adalah
pelabuhan modern juga memiliki fungsi sebagai fasilitator kegiatan industri yang
bersifat dinamis sehingga penyediaan fasilitas dari pelabuhan untuk mendukung
kegiatan industri di pelabuhan sangat diperlukan, sehingga pelabuhan bisa
dimanfaatkan oleh industri yang menggunakan transportasi laut sebagai sarana
pengangkutan hasil dari industri tersebut.
Universitas Sriwijaya
9
Baru diserahkan kepada pihak PT. Pelindo II sebagai pihak yang mengurus dan
mengelola Pelabuhan Boom Baru Palembang.
Universitas Sriwijaya
10
Universitas Sriwijaya
11
Universitas Sriwijaya
12
Yang kedua yaitu pelabuhan minyak. Pelabuhan ini harus diletakkan agak
jauh dari keperluan umum. Pelabuhan minyak biasanya tidak memerlukan
Universitas Sriwijaya
13
dermaga atau pangkalan yang harus dapat menahan muatan vertikal yang besar
melainkan cukup membuat jembatan perancah atau tambatan yang dibuat
menjorok ke laut untuk mendapatkan kedalaman air yang cukup. Bongkar muat
dilakukan dengan pipa dan pompa.
Biasanya untuk keamanan pipa diletakkan dibawah dermaga hingga ke
tempat penyimpanan namun di daerah dekat kapal pipa berada diatas dermaga
demi kemudahan dalam melakukan aktifitas bongkar maupun muat. Namun
seiring perkembangan pesat kapal tanker yang menyebabkan semakin dalamnya
draft kapal digunakan sarana lain untuk menambatkan kapal minyak di laut yaitu
dengan Single Point Mooring(SPM), berupa sarana tambat yang mengapung di
lepas pantai. SPM memuat minyak dengan mengalirkan melalui pipa bawah laut.
Berikut merupakan gambar Pelabuhan minyak.
Universitas Sriwijaya
14
Universitas Sriwijaya
15
Selanjutnya yaitu ada pelabuhan campuran yang merupakan pelabuhan yang dapat
melayani penumpang maupun barang. Yang terakhir yaitu pelabuhan militer yang
digunakan untuk kapal perang dengan gerakan yang cepat sehingga dibutuhkan
daerah yang luas.
Universitas Sriwijaya
16
Universitas Sriwijaya
17
Pelabuhan Boom baru ini terletak di Sungai Musi dengan kisaran jarak +108
km dari muara sungai Musi ke arah hulu. Pelabuhan ini juga termasuk sebagai
wilayah administratif Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan dengan letak
geografis 02’’-58’’-48’’ LS sampai 104’’-46’’-36’’ BT.
Pelabuhan Palembang ini memiliki kawasan yang sangat potensial dimasa
mendatang dan masih memiliki area terbuka yang potensial bagi kerjasama
investasi yaitu area Sungai Lais yang didukung dengan kawasan yang cukup luas
untuk kegiatan industri pengolahan. Perkembangan Pelabuhan Boom Baru
Palembang sangat didukung oleh pertumbuhan hinterlandnya yang meliputi sektor
pertanian, sektor pertambangan dan sektor industri.
Adapun komoditi yang memiliki potensi peningkatan signifikan dimasa
mendatang adalah CPO. Hal ini mengingat jumlah perkebunan kelapa sawit di
Sumatera Selatan cukup banyak. Selain daripada itu, di sektor industri dan
agrobisnis masih terbuka peluang investasi yang sangat luas bagi investor yang
berminat. Manajemen telah mengantisipasi peningkatan arus komoditi yang
masuk ke Pelabuhan dimasa mendatang melalui penyediaan terminal peti kemas
yang didukung berbagai peralatan modern yang akan mampu menjamin pelayanan
kapal dan barang. Profil pelabuhan Boom Baru/Palembang dapat dilihat dalam
Tabel 2.2 berikut ini.
Universitas Sriwijaya
18
DERMAGA I
Nama : Konvensional
Fungsi/Kegunaan : Tempat bersandar kapal-kapal cargo
Panjang : 376 m
Lebar : 19 m
Kedalaman : -7 mLWS
Konstruksi : Beton Bertulang
Kapasitas : 3,5 T/m2
Tahun Pembuatan : 1973
Pemilik : PT (persero) Pelabuhan Indonesia II
Kondisi : 60%
DERMAGA II
Nama : Petikemas
Fungsi/Kegunaan : Tempat bersandar kapal-kapal petikemas
Panjang : 266 m
Lebar : 26 m
Kedalaman : -9 mLWS
Konstruksi : Beton Bertulang
Kapasitas : 3,5 T/m2
Tahun Pembuatan : 1996
Pemilik : PT (persero) Pelabuhan Indonesia II
Kondisi : 70%
DERMAGA PERAHU LAYAR
Nama : Sungai Lais
Fungsi/Kegunaan : Tempat bersandar perahu layar
Panjang : 280 m
Lebar : 15 m
Kedalaman : -1 mLWS
Konstruksi : Beton Bertulang
Kapasitas : 1 T/m2
Tahun Pembuatan : 1983
Pemilik : PT (persero) Pelabuhan Indonesia II
Kondisi :50%
BERTHING DOLPHIN 12 UNIT
Panjang : 7,8 m
Lebar : 5,6 m
Kedalaman :6m
Tahun Pembuatan : 1983
Pemilik :PT (persero) Pelabuhan Indonesia II
Fasilitas Pelayanan Barang
Lapangan Petikemas : 47100 m2
Lapangan Penumpukan : 613 m2
Gudang Tertutup : 11345 m2
Gudang Terbuka : 230 m2
Universitas Sriwijaya
19
Alat Mekanis
Container Crane : 1 Unit
Top Loader : 1 Unit
Side Loader : 2 Unit
Diesel Forklift : 13 Unit
Reach Steaker : 2 unit
Side Loader : 1 Unit
Chasis : 6 Unit
Head Truck : 5 Unit
Mobile Crane : 1 Unit
Gambar 2.10 Lay Out Pelabuhan Boom Baru Palembang (PT. Pelindo II, 2014)
Universitas Sriwijaya
20
b) muatan cair yang diangkut dalam kapal tangki seperti minyak bumi, minyak
kelapa sawit, bahan kimia cair dsb. Berikut merupakan gambar muatan cair di
Pelabuhan.
Gambar 2.12 Muatan Minyak Kelapa sawit di Pelabuhan Boom Baru Palembang
Universitas Sriwijaya
21
Universitas Sriwijaya
22
Universitas Sriwijaya
23
menghubungkan kapal dengan tangki penyimpanan. Tangki ini terbuat dari baja
yang dibangun di atas tanah atau dibawah tanah.
Untuk kapal tangker yang berukuran besar yang mempunyai draft besar
sehingga tidak bisa masuk ke pelabuhan yang ada, biasanya penambatan
dilakukan di lepas pantai. Bongkar muat dilakukan dengan menggunakan pipa
bawah laut atau dengan memindahkan muatan ke dalam kapal yang lebih kecil
dan kemudian membawanya ke pelabuhan.
Masalah yang dihadapi dalam perencanaan terminal muatan curah cair yaitu
peralatan yang dibutuhkan dan jumlah dermaga yang dibutuhkan tidak secara
langsung berhubungan dengan total jumlah muatan. Hal ini diakibatkan oleh
kebutuhan untuk memisahkan sejumlah besar komoditas cair yang sama. Karena
itu jumlah tangki penyimpanan dan peralatan lain yang dibutuhkan lebih
tergantung pada jenis komoditi sejenis yang akan datang ke terminal, daripada
jumlahnya sendiri. Sementara untuk perencanaan instalasi pembongkaran muatan
cair lebih tergantung pada kapasitas pompa kapal itu sendiri dibandingkan dengan
peralatan penanganan di pelabuhan. (JICA, 2000)
Perhatian utama terminal curah cair juga madalah keselamatan dikarenakan
banyak komoditas yang mudah terbakar atau dengan kata lain berbahaya,
sehingga penempatan alat dan lay out teknis secara mendetil harus ditentukan dari
masalah-masalah tersebut.
Hal-hal yang harus diperiksa dengan teliti untuk memastikan kesesuaian
kapal dan terminal antara lain jumlah, panjang, dan garis tengah loading arms atau
selang; tinggi maksimum manifold kapal; spesifikasi hubungan manifold; jumlah,
garis tengah dan tekanan maksimum dari saluran pipa-pipa di dermaga
Berikut merupakan gambar dari Pelabuhan dengan dermaga curah cair.
Universitas Sriwijaya
24
Universitas Sriwijaya
25
Sifat alami LNG yang berbahaya dan bertekanan sangat rendah memerlukan
fasilitas khusu yang terpisah selurunya dari pelabuhan. Permukaan yang
berhubungan langsung dengan LNG harus dibuat dari campuran logam untuk
menahan temperatur yang sangat rendah, seperti baja biasa yang akan menjadi
serapuh gelas apabila terkena LNG.
c) Minyak Tumbuhan
Minyak tumbuhan dapat berupa minyak biji palm, minyak biji kapas, dan
minyak kelapa sawit. Tiap-tiap jenis mempunyai sifat yang berbeda pula.
Begitupun dengan gaya berat masing-masing yang berbeda. Beberapa diantaranya
bersifat padat pada suhu lingkungan dan memerlukan pemanasan. Peralatan
penanganan oleh karenanya akan berbeda. Suhu penanganan berkisar antara 15
sampai 65 derajat celcius. Namun minyak tidak harus dipanaskan dan didinginkan
berkali-kali karena dapat menyebabkan penurunan kualitas. Untuk pipa biasanya
digunakan pipa baja anti karat.
d) Gula Cair
Gula cair adalah sirup lengket, berwarna hitam, kecoklatan yang dialirkan
dari gula selama pengilangan. Pengawasan suhu merupakan hal yang penting baik
dalam penanganan maupun penyimpanan selama di bawah 32 derajat celcius hasil
pembekuan dan di atas 38 derajat celcius dalam sifat karamel. Pipa saluran dapat
dibuat dari baja atau besi tuang dengan diameter 500 mm sampai 600 mm. Pipa
saluran dan selang harus dibersihkan dengan udara yang dipadatkan dan dicuci
dengan air segar. Kapasitas tipikal Tangki penyimpanan sebesar 14000
ton.Sedangkan kapasitas tangki mobil umumnya sebesar 30 ton.
e) Getah Karet
Getah karet cair adalah getah tumbuhan-tumbuhan kental seperti susu yang
menetes dari pohon karet ketika disadap. Kira-kira 36-38 ton karet bisa diperoleh
dari 100 ton getah karet. Suhu tangki penyimpanan karet adalah sekitar 29 derajat
celcius. Gaya berat khusus cairan latex adalah 0,94. Selang karet khusus biasanya
berdiameter 150-200 mm. Nilai pompa normal yaitu sekitar 150-200 ton per jam.
Kapasitas penyimpanan tangki bervariasi antara 200 hingga 2500 ton. Dan lapisan
internal tangki diberi lilin microparafin untuk mencegah pengendapan karet.
Universitas Sriwijaya
26
f) Ammonia Cair
Amonia adalah gas bebas air tak berwarna dengan bau yang tidak enak.
Walaupun amonia tidak mudah terbakar namun bila dicampur dengan udara atau
oksigen amonia dapat membentuk ledakan. Gas amonia cair ketika didinginkan
pada suhu minus 33 derajat celcius pada tekanan udara. Amonia cair diangkut
dengan kapal amonia khusus dari 3000 – 4000 dwt. Pompa kapal dengan
kapasitas 600 ton per jam. Dengan lengan sambungan 6 inci dan pada suhu -33
derajat.
Universitas Sriwijaya
27
sarana bantu navigasi ini dapat diarahkan pada 3 fungsi utamanya, yaitu untuk
menandakan adanya bahaya, untuk menentukan lokasi/ posisi kapal, dan
menandakan batas alur pelayaran.
Universitas Sriwijaya
28
Universitas Sriwijaya
29
Universitas Sriwijaya
30
2.8.4 Fender
Fender adalah suatu alat untuk meredam/ menyerap energi tumburan kapal
agar kapal tidak langsung membentur konstruksi breasthing dolphin, melainkan
diterima dahulu oleh fender dan untuk selanjutnyaenergi tumbukannya disalurkan
ke breasthing dolphin. Fender harus mampu menyerap energi kinetik dari kapal
Universitas Sriwijaya
31
sandar dan meredam gaya horisontal dari kapal sandar dengan pengaruh angin,
arus dan ombak. Kriteria yang digunakan dalam memilih fender adalah bahwa
penyerapan energi harus lebih besar dari energi tumbukan.
Universitas Sriwijaya
32
Universitas Sriwijaya
33
Universitas Sriwijaya
34
Universitas Sriwijaya
35
tanker yang mempunyai panjang 460 m, lebar 70 m, dan sarat 24,7 m ). Negara
Jepang dan Eropa merupakan produsen utama kapal-kapal pengangkut minyak
dan gas bumi. Berikut merupakan gambar dari kapal tanker yang mengangkut
CPO di Pelabuhan Boom Baru.
Universitas Sriwijaya
36
diameter minimal dan tinggi yang cukup akan mengurangi bahaya potensial dari
uap dengan mencegah penyebaran cairan yang bocor.
Berikut macam-macam tangki timbun yang biasa digunakan untuk menampung
curah cair di Pelabuhan:
a) Single Wall Tanks
Tipe tangki ini masih tradisional, komoditi yang dingin disimpan dalam
tangki berdinding tunggal yang banyak dijumpai di seluruh dunia. Detail tiap
tangki bervariasi namun pada dasarnya sama yaitu cangkang baja bersuhu rendah
diinsulasi untuk meminimalkan timbulnya panas pada saat terjadinya kebocoran
dengan insulasi berupa tahan air yang dipasang pada sisi luar.
Insulasi juga dipasang di atas muka cairan berbentuk langit-langit yang
menggantung dan didasar tangki terdapat kumparan panas dan celah udara untuk
menghindari pembekuan tanah di bawah tangki dan kerusakan pondasi oleh
kebekuan tersebut. Pengisian tangki dapat melalui dasar tangki atau dasar atas
tangki. Pengeluaran dari tangki melewati bawah tangki dapat menggunakan
pompa eksternal.
Kebocoran cairan yang terjadi dapat ditampung di daerah sekitar tangki.
Desain tangki seperti ini memerlukan bund untuk menampung tumpahan dengan
volume sama dengan volume tangki untuk mengantisipasi “ kegagalan “ tangki.
Tipe ini dapat diklasifikasikan sebagai single containtment system ( sistem
penyimpanan tunggal ).
b) Double Wall Tanks
Pada instalasi ini, tangki menggunakan kulit dalam yang ditutupi kulit luar.
Kulit luar tidak didesain untuk menyimpan kebocoran dari tangki dalam tetapi
untuk mendukung dan melindungi insulasi serta menampung uap dan tekanan
uap. Celah pada tangki dapat diisi dengan material insulasi granular seperti perlit
dan nitrogen.
Sistem pernafasan disediakan untuk mengakomodasi perubahan volume
akibat perubahan tekanan atmosfer, isi tangki dan lain-lain. Atap yang
menggantung dalam kubah tangki luar sesuai dengan tangki dalam. Jenis terakhir
dari desain ini dilengkapi dengan dinding beton yang tinggi di dekat tangki,
biasanya dalam jarak 1-2 meter. tipe lain dari tangki dinding ganda dan pondasi
Universitas Sriwijaya
37
Universitas Sriwijaya
38
dimana :
Ktt : Kapasitas terpasang tangki penimbun ( m3 )
Universitas Sriwijaya
39
𝐾𝑡𝑝 = 𝐾𝑝 ∗ 𝑛. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.2)
dimana :
Ktp : Kapasitas terpasang pipa ( m3/ jam )
Universitas Sriwijaya
40
𝐾𝑚 = 𝐾𝑡𝑝 ∗ 𝑇. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.3)
dimana :
Km : Kapasitas muatan CPO ( m3/ tahun )
Ktp : Kapasitas tterpasang pipa ( m3/ jam )
T : Waktu pemuatan produk ke kapal dalam satu tahun ( jam/ tahun)
Sedangkan untuk kebutuhan pipa penyalur, apabila terjadi peningkatan
produksi muatan CPO pada pelabuhan sehingga kapasitas pipa dalam
menyalurkan muatan sudah tidak mencukupi berdasarkan waktu maksimum yang
diijinkan dalam melakukan pemuatan dalam satu tahun, maka dibutuhkan
penambahan pipa penyalur. Dengan demikian dalam menentukan penambahan
kapasitas fasilitas peralatan sangat dipengaruhi oleh arus muatan CPO yang
dimuat pada pelabuhan tersebut. Berikut merupakan gambar fasilitas pemuatan di
Pelabuhan Boom Baru Palembang.
Gambar 2.27 Fasilitas Pemuatan atau Pipa CPO di Pelabuhan Boom Baru
Universitas Sriwijaya
41
(Loa + 5) ∗ JP
BOR = ∗ 100%. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.4)
(𝑃𝐷 ∗ 24 ∗ 𝐻𝐾)
𝑃𝐷 ∗ 𝐽𝑃
BOR = ∗ 100%. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.5)
𝑃𝐷 ∗ 24 ∗ 𝐻𝐾
Universitas Sriwijaya
42
dimana :
BOR : Berth Occupancy Ratio (%)
Loa : Panjang Kapal (m)
JP : Jumlah Waktu Penambatan Kapal (Jam)
PD : Panjang Dermaga (m)
HK : Hari Kerja Pelabuhan (355 hari)
𝐵𝐾 = 𝐵𝑂𝑅𝑚 ∗ 𝑡𝑦 ∗ 𝑡
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.6)
𝑡𝑚𝑢𝑎𝑡
dimana :
BK : jumlah kapal yang berlabuh dalam 1 tahun ( buah )
BORm : Berth Occupancy Ratio maksimum yang diijinkan ( % )
Ty : jumlah hari dalam 1 tahun ( 365 hari )
t : jumlah jam kerja pelabuhan dalam 1 hari
tmuat : waktu muat CPO dalam 1 hari ( 16 jam )
Setelah mengetahui jumlah kapal yang dapat berlabuh, maka kapasitas
terpasang untuk satu dermaga dapat ditentukan sebagai berikut ( Mulyana, 2001 ):
Universitas Sriwijaya
43
dimana :
Ktd : kapasitas terpasang dermaga ( m3/ tahun )
BK : jumlah kapal yang berlabuh dalam 1 tahun ( buah )
Kmk : kapasitas maksimum muatan 1 kapal ( m3 )
Dimana :
Lp : Panjang Dermaga (m)
n : Jumlah Kapal yang Ditambat
Loa : Panjang Kapal yang Ditambat (m)
15 : Ketetapan (Jarak antara buritan ke haluan dari satu kapal ke kapal lain)
50 : Ketetapan (Jarak Dari Kedua Ujung Dermaga ke Buritan dan Haluan
Kapal)
Sedangkan untuk Kebutuhan dermaga diperhitungkan setelah kapasitas
terpasang dermaga sudah tidak mampu menampung arus kapal dan arus muatan
dalam melakukan kegiatan pemuatan CPO di dermaga tersebut. Kebutuhan
dermaga dalam melayani kapal yang bertambat didasarkan pada tingkat
penggunaan dermaga secara maksimum ( Berth Occupancy Ratio maximum ).
Untuk ketentuan BOR(Berth Occupancy Ratio) maksimum untuk dermaga curah
cair dapat dilihat dari kriteria UNCTAD (M. Nur Nasution, 2003).
Universitas Sriwijaya
44
Tabel 2.3 Data BOR maksimum berdasarkan jumlah dermaga (M. Nur Nasution,
2003)
Universitas Sriwijaya
45
analisis teori antrian. Salah satunya adalah antrian kendaraan truk pada saat
bongkar/muat barang di pelabuhan. Komponen antrian ada 3 yaitu, tingkat
kedatangan (λ), tingkat keberangkatan atau pelayanan (µ), dan disiplin antrian.
Dalam tingkat kedatangan dikenal dengan 2 model yaitu model sebaran
peluang seragam dan model sebaran peluang poisson. Model sebaran peluang
poisson didapat dengan rumus :
(𝜆𝑡)𝑛 ∗ 𝑒 −𝜆𝑡
𝑃(𝑛) = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.9)
𝑛!
Dimana:
P(n) : Peluang terdapat sejumlah n kendaraan yang tiba dalam selang waktu t
λ : tingkat kedatangan kendaraan dalam satu satuan waktu tertentu
t : selang waktu kedatangan kendaraan
e : bilangan natural(e = 2,718)
Sedangkan untuk mencari headway kendaraan dengan model poisson
yaitu:
1
𝑃(0) = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.10)
1 λ 𝑛 1 λ 𝐾 𝐾µ
[∑𝑘−1
𝑛=0 𝑛! (µ) ] + [𝐾! (µ) (𝐾µ−λ)]
Dimana :
h : waktu headway
q : arus lalu lintas dalam kendaraan/jam
Sedangkan untuk tingkat keberangkatan atau pelayanan diperlukan untuk
menghitung waktu pelayanan, yaitu :
𝜆
𝜌= < 1. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.11)
µ
Dimana:
ρ : nisbah antara tingkat kedatangan(λ) dan tingkat pelayanan(µ)
Universitas Sriwijaya
46
jika nilai ρ>1 maka artinya tingkat kedatangan lebih besar dari tingkat
pelayanan sehingga dapat terjadi antrian yang akan selalu bertambah panjang.
Disiplin antrian terdapat 3 jenis yaitu, FIFO(First in first out), FILO(First in
Last Out), FVFS(First Vacant First Served). Untuk memodelkan antrian truk di
pelabuhan dipakai disiplin antrian FVFS dengan tingkat kedatangan dibagi per
jam dan tingkat pelayanan merupakan pola sebaran seragam. (Triatmodjo, 2009)
𝜆
𝜌 = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.12)
µ
λ 𝐾
𝜆µ( ) 𝜆
µ
𝑛̅ = (𝐾−1)!(𝐾µ−𝜆)2
. 𝑃(0) + µ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. (2.13)
λ 𝐾
𝜆µ (µ)
𝑞̅ = . 𝑃(0). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.14)
(𝐾 − 1)! (𝐾µ − 𝜆)2
λ 𝐾
µ( ) 1
𝑑̅ = µ
(𝐾−1)!(𝐾µ−𝜆)2
. 𝑃(0) + µ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . … .. (2.15)
λ 𝐾
µ (µ)
̅̅̅
𝑤
̅ = . 𝑃(0). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. (2.16)
(𝐾 − 1)! (𝐾µ − 𝜆)2
Dimana:
𝑛̅ : jumlah kendaraan truk dalam sistem (kendaraan per satuan waktu)
𝑞̅ : jumlah kendaraan truk dalam antrian (kendaraan per satuan waktu)
𝑑̅ : waktu kendaraan menunggu dalam sistem(satuan waktu)
𝑤
̅ : waktu kendaraan menunggu dalam antrian (satuan waktu)
Universitas Sriwijaya
47
𝑌 = 𝑎 ∗ 𝑒 𝑏 ∗ 𝑥. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.17)
𝐿𝑛 𝑌 = 𝑙𝑛 𝑎 + 𝑏 ∗ 𝑥. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.18)
Koefisien a dan b diperoleh den gan pemecahan secara simultan dari persamaan
berikut ini :
𝑛 ∗ 𝛴 𝑋𝑖 ∗ 𝑙𝑛 𝑌𝑖 − 𝛴 𝑋𝑖 ∗ 𝛴 𝑙𝑛 𝑌𝑖
𝑏= . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. (2.19)
𝑛 ∗ 𝛴 𝑋𝑖² − ( 𝛴𝑋𝑖 )²
𝑎 = 𝑙𝑜𝑔 [ ( 𝛴 𝑋𝑖 / 𝑛 ) − 𝑏 ∗ ( 𝛴 𝑙𝑛 𝑌𝑖 / 𝑛 ) ]. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. (2.20)
Koefisien korelasi :
𝐷𝑡² − 𝐷²
𝑟= . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.21)
𝐷𝑡²
Universitas Sriwijaya
48
Dengan
𝑛
𝑌 = 𝑎 + 𝑏 ∗ 𝑋. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.24)
Dimana a dan b adalah konstanta yang dapat diperoleh dengan pemecahan secara
simultan dari kedua persamaan berikut :
Universitas Sriwijaya
49
Σ X² ∗ Σ Y² − Σ X ∗ Σ XY
𝑎= . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.25)
𝑛 ∗ 𝛴 𝑋² – ( 𝛴 𝑋 )²
n ∗ Σ XY − Σ X ∗ Σ Y
𝑏 = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.26)
𝑛 ∗ 𝛴 𝑋² – ( 𝛴 𝑋 )²
koefisien korelasi :
r .δ .Y
𝑟= . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.27)
𝛿 .𝑋
n .Σ XY – ( Σ X ) ( ΣY )
r= . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.28)
√ [ 𝑛∗ 𝛴 𝑋2 – ( 𝛴 𝑋 )2 ] [ 𝑛∗ 𝛴 𝑌2 – ( 𝛴 𝑌 )2 ]
1
𝛿 .Ӯ = ∗ 𝛴 ( 𝑌𝑖 – 𝑌 ). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.29)
𝑛
1
𝛿 . 𝑋̅ = ∗ 𝛴 ( 𝑋𝑖 – 𝑋 ). . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.30)
𝑛
𝑌
𝑌̅ = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.31)
𝑛
𝑋
𝑋̅ = . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.32)
𝑛
Universitas Sriwijaya
50
Universitas Sriwijaya
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Umum
Tahapan - tahapan metodologi penelitian pelabuhan mulai dari awal penelitian
hingga laporan hasil penelitian tugas akhir disusun berdasarkan bagan alir urutan
kerja berikut ini :
MULAI
Perumusan
Masalah
Pengumpulan Data
Analisa Data
Eksisting Rencana
Kesimpulan dan
Saran
Pada bab ini akan dianalisis dan dibahas mengenai analisis kapasitas
terpasang dan analisis kebutuhan Terminal Curah Cair (CPO) di Pelabuhan Boom
Baru Palembang berdasarkan data primer maupun sekunder yang didapat dari
hasil pengamatan dan studi literatur di lokasi penelitian Pelabuhan Boom Baru
Palembang.
56
57
Gambar 4.1. Kondisi Tampak Atas PT. Indo Karya Internusa Pelabuhan Boom
Baru Palembang (Pelindo,2016)
Pada gambar tersebut dapat dilihat keadaan tampak atas lokasi PT. Indo
Karya Internusa di Pelabuhan Boom Baru Palembang. Sedangkan gambar berikut
ini merupakan pintu masuk truk tangki ke Pelabuhan Boom Baru melalui PT.
Indo Karya Internusa.
Gambar 4.2. Kondisi Pintu Masuk PT. Indo Karya Internusa Pelabuhan Boom
Baru Palembang
58
Tempat melakukan muat CPO dari truk tangki menuju ke tangki timbun
pada PT. Indo Karya Internusa hanya terdapat 2 buah tempat fasilitas bongkar
CPO. Berikut merupakan gambar dermaga yang dipakai untuk sandar maupun
tolak kapal curah cair (CPO) di Pelabuhan Boom Baru Palembang:
Gambar 4.3. Dermaga Kapal Curah Cair CPO Pelabuhan Boom Baru
Tabel 4.1. Hasil Survey Kedatangan Truk di Pelabuhan Boom Baru Palembang
Didapat rata - rata kedatangan truk per hari yaitu sebanyak 35 truk per hari.
Sedangkan untuk kedatangan truk rata-rata per jam dalam 1 hari yang diambil dari
pengamatan selama 10 hari di Pelabuhan Boom Baru Palembang dapat
digambarkan dengan grafik berikut :
15.00 - 16.00
14.00 - 15.00 6%
9%
13.00 -14.00 08.00 - 09.00
14% 37%
12.00 - 13.00
11%
11.00 - 12.00 10.00 - 11.00 09.00 - 10.00
3% 6% 14%
Gambar 4.5. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 15 Februari 2016
61
Dari gambar 4.5. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 37%.
11.00 - 12.00
12%
10.00 - 11.00 09.00 - 10.00
6% 18%
Gambar 4.6. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 16 Februari 2016
Dari gambar 4.6. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 37%. Sedangkan
kedatangan truk dengan jumlah paling sedikit terjadi pada pukul 15.00 hingga
16.00 dengan kedatangan sebesar 3%.
09.00 - 10.00
11.00 - 12.00 18%
13%
10.00 - 11.00
8%
Gambar 4.7. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 17 Februari 2016
62
Dari gambar 4.7. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 37%.
11.00 - 12.00
6%
10.00 - 11.00
10%
09.00 - 10.00
16%
Gambar 4.8. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 18 Februari 2016
Dari gambar 4.8. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 44%. Sedangkan
kedatangan truk dengan jumlah paling sedikit terjadi pada pukul 15.00 hingga
16.00 dengan kedatangan sebesar 3%.
15.00 - 16.00
14.00 - 15.00 13%
6%
08.00 - 09.00
13.00 -14.00 29%
6%
09.00 - 10.00
16%
12.00 - 13.00
10%
Gambar 4.9. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 19 Februari 2016
63
Dari gambar 4.9. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 29%.
Gambar 4.10. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 20 Februari 2016
Dari gambar 4.10. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 38%. Sedangkan
kedatangan truk dengan jumlah paling sedikit terjadi pada pukul 15.00 hingga
16.00 dengan kedatangan sebesar 5%.
Gambar 4.11. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 21 Februari 2016
64
Dari gambar 4.11. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 38%.
15.00 - 16.00
14.00 - 15.00 9%
8%
13.00 -14.00 08.00 - 09.00
6% 34%
09.00 - 10.00
12.00 - 13.00 17%
14%
11.00 - 12.00
10.00 - 11.00
6%
6%
Gambar 4.12. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 22 Februari 2016
Dari gambar 4.12. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 34%. Sedangkan
kedatangan truk dengan jumlah paling sedikit terjadi pada pukul 13.00 hingga
14.00 dengan kedatangan sebesar 6%.
15.00 - 16.00
14.00 - 15.00 9%
9%
13.00 -14.00 08.00 - 09.00
9% 37%
12.00 - 13.00
11%
11.00 - 12.00
6% 10.00 - 11.00 09.00 - 10.00
8% 11%
Gambar 4.13. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 23 Februari 2016
65
Dari gambar 4.13. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 37%.
08.00 - 09.00
13.00 -14.00 36%
11%
12.00 - 13.00
3%
11.00 - 12.00
8% 10.00 - 11.00 09.00 - 10.00
8% 14%
Gambar 4.14. Grafik Kedatangan Truk Per Jam Pada Tanggal 24 Februari 2016
Dari gambar 4.13. dapat dilihat kedatangan truk terbanyak terjadi pada jam
sibuk yaitu pukul 08.00 hingga 09.00 dengan kedatangan sebesar 36%.
Selanjutnya Dari data diatas didapat jumlah rata-rata kedatangan truk per jam di
Pelabuhan yaitu seperti gambar berikut.
11.00 - 12.00
8%
10.00 - 11.00 09.00 - 10.00
7% 17%
Gambar 4.15. Grafik Kedatangan Truk per Jam Rata-Rata Selama 10 hari di
Pelabuhan Boom Baru (Hasil Survey, 2016)
66
Dari grafik dapat dilihat bahwa jam sibuk kedatangan truk yaitu pada jam
08.00 - 09.00 dengan tingkat kedatangan (λ) sebanyak 13 truk, selanjutnya yang
terkecil kedatangannya yaitu pada jam 10.00-11.00 dan 15.00-16.00 dengan
tingkat kedatangan (λ) sebanyak 2 truk.
Truk yang masuk ke Pelabuhan Boom Baru Palembang dalam kasus ini
masuk ke PT. Indo Karya Internusa melakukan antrian untuk menunggu
pelayanan aktifitas bongkar maupun muat. Dalam aktifitas bongkar curah cair
CPO terdapat 2 fasilitas (K) untuk mendukung aktifitas bongkar maupun muat
dari truk ke tangki di Pelabuhan Boom Baru Palembang. Dengan 2 fasilitas
pemuatan (K) yang dimiliki waktu pelayanan (WP) selama pengamatan di
Pelabuhan Boom Baru adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Hasil Survey Waktu Pelayanan Rata-rata Bongkar Truk di Pelabuhan
Boom Baru Palembang
45
40
35
Waktu Pelayanan
30
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35
Truk ke-
Gambar 4.16. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 15 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.16. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 15 Februari 2016 yaitu sebesar 40 menit.
40
35
30
Waktu Pelayanan
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33
Truk ke-
Gambar 4.17. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 16 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.17. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 16 Februari 2016 yaitu sebesar 38 menit.
68
45
40
35
Waktu Pelayanan
30
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.18. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 17 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.18. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 17 Februari 2016 yaitu sebesar 40 menit.
40
35
Waktu Pelayanan
30
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.19. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 18 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.19. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 18 Februari 2016 yaitu sebesar 38 menit.
69
45
40
35
Waktu Pelayanan
30
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.20. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 19 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.20. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 19 Februari 2016 yaitu sebesar 39 menit.
40
35
30
Waktu Pelayanan
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.21. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 20 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.21. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 20 Februari 2016 yaitu sebesar 37 menit.
70
45
40
35
Waktu Pelayanan
30
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.22. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 21 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.22. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 21 Februari 2016 yaitu sebesar 39 menit.
45
40
35
Waktu Pelayanan
30
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.23. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 22 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.23. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 22 Februari 2016 yaitu sebesar 39 menit.
71
45
40
35
Waktu Pelayanan
30
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.24. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 23 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.24. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 23 Februari 2016 yaitu sebesar 39 menit.
40
35
30
Waktu Pelayanan
25
20
15
10
5
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35
Truk ke-
WAKTU PELAYANAN (MENIT)
Gambar 4.25. Waktu Pelayanan Bongkar Truk Pada Tanggal 24 Februari 2016
Dapat dilihat pada gambar 4.25. waktu pelayanan bongkar truk terlama pada
tanggal 24 Februari 2016 yaitu sebesar 37 menit.
72
Dari data yang didapat dari pengamatan di lapangan diatas, waktu pelayanan
(WP) rata-rata truk di Pelabuhan Boom Baru Palembang yaitu sebesar 30,1589
menit untuk melayani aktifitas 1 truk. Sehingga dapat diketahui:
60
Tingkat pelayanan (µ) = 𝑊𝑃
60
Tingkat pelayanan (µ) = 30,1589
Tabel 4.3. Rekapan Kapal CPO yang bersandar maupun bertolak di Pelabuhan
Boom Baru Tahun 2012, 2013, dan 2014 PT. Indo Karya Internusa
(PT.Pelindo II, 2016)
Dari Tabel 4.3. diatas dapat dilihat aktifitas muat kapal paling besar pada
tahun 2012 terjadi pada bulan januari sebesar 44.550 ton. Sedangkan aktifitas
muat terkecil pada tahun 2012 terjadi pada bulan april yaitu sebesar 8.500 ton.
Aktifitas muat kapal paling besar pada tahun 2013 terjadi pada bulan oktober
sebesar 37.695 ton. Sedangkan aktifitas muat terkecil pada tahun 2013 terjadi
pada bulan juli yaitu sebesar 7.500 ton. Aktifitas muat kapal paling besar pada
tahun 2014 terjadi pada bulan oktober sebesar 48.127 ton. Sedangkan aktifitas
muat terkecil pada tahun 2013 terjadi pada bulan november yaitu hanya sebesar
9.992 ton.
Tabel 4.4. Data Geometrik serta Fasilitas Terminal Curah Cair (PT.Indo Karya
Internusa, 2016)
No Fasilitas Jumlah
1 Tangki Timbun 19 Tangki
2 Jumlah Pipa 7 buah Pipa
3 Jumlah Pompa 2 buah
Tabel 4.5. Data Realisasi volume ekspor CPO Sumatera Selatan (BPS, 2016)
1 2005 74882,66
2 2006 97611,836
3 2007 38,339
4 2008 119,508
5 2009 121741,446
6 2010 607063,225
7 2011 369310,062
sehingga dari data yang ada perlu diolah menggunakan metode regresi linier yang
paling cocok untuk mendapatkan proyeksi komoditi CPO.
Tabel 4.6. Proyeksi Traffic Kapal di Pelabuhan Boom Baru tahun 2016 dan 2020:
2016 2020
BONGKAR MUAT BONGKAR MUAT
JANUARI 1267 28906 2672 23600
FEBRUARI 1606 24038 774 29268
MARET 1622 20472 1107 15934
APRIL 169 44920 314 76555
MEI 985 15026 1207 8487
JUNI 956 45378 1144 76156
JULI 5033 33594 15788 56519
AGUSTUS 4356 4290 12478 19976
SEPTEMBER 3917 47047 6520 85601
OKTOBER 2334 73269 6930 122973
NOVEMBER 0 1812 0 26428
DESEMBER 1156 37485 3310 44053
TOTAL 23401 376238 52245 585551
Dari Tabel 4.6. diatas dapat dilihat aktifitas muat kapal paling besar pada
proyeksi tahun 2016 terjadi ada bulan oktober sebesar 73.269 ton. Sedangkan
aktifitas muat terkecil pada tahun 2016 terjadi pada bulan november yaitu
sebesar 1.812 ton. Aktifitas muat kapal paling besar pada proyeksi tahun 2020
77
terjadi pada bulan oktober sebesar 122.973 ton. Sedangkan aktifitas muat terkecil
pada tahun 2020 terjadi pada bulan mei yaitu sebesar 8.487 ton.
Tabel 4.7. Proyeksi Traffic Kapal di Pelabuhan Boom Baru tahun 2025 dan 2030:
2025 2030
BONGKAR MUAT BONGKAR MUAT
JANUARI 4462,89 19441,5 6264,15 16084,9
FEBRUARI 82,66 36292,9 495,14 43476,3
MARET 574,42 10414,4 77,61 4944,2
APRIL 449,02 114954,3 1329,19 152982,1
MEI 1611,88 1696,7 2058,72 4645,0
JUNI 1507,75 116601,5 1912,56 157686,9
JULI 18424,62 86569,5 43409,39 117072,1
AGUSTUS 18424,62 48993,5 32149,37 77584,9
SEPTEMBER 10081,73 134190,2 13743,35 182908,2
OKTOBER 8084,59 184835,2 18342,41 246611,1
NOVEMBER 0,00 57659,3 0,00 89040,8
DESEMBER 3860,17 53455,4 8527,68 63244,4
TOTAL 67564 865104 128310 1156281
Dari Tabel 4.7. diatas dapat dilihat aktifitas muat kapal paling besar pada
proyeksi tahun 2025 terjadi ada bulan oktober sebesar 184.835 ton. Sedangkan
aktifitas muat terkecil pada tahun 2025 terjadi pada bulan november yaitu
sebesar 0 ton. Aktifitas muat kapal paling besar pada proyeksi tahun 2030 terjadi
pada bulan oktober sebesar 246.611 ton. Sedangkan aktifitas muat terkecil pada
tahun 2020 terjadi pada bulan mei yaitu sebesar 4.645 ton.
78
Tabel 4.8. Proyeksi Traffic Kapal di Pelabuhan Boom Baru tahun 2035:
BONGKAR MUAT
Dari Tabel 4.8. diatas dapat dilihat aktifitas muat kapal paling besar pada
proyeksi tahun 2025 terjadi ada bulan oktober sebesar 308.398 ton. Sedangkan
aktifitas muat terkecil pada tahun 2025 terjadi pada bulan maret yaitu sebesar
532,6 ton. Hasil proyeksi kapal dari tahun 2020 hingga tahun 2035 dapat
digunakan untuk menganalisis kapasitas terpasang dan kebutuhan di Pelabuhan
Boom baru Palembang.
Proyeksi traffic truk yang juga merefleksikan produksi CPO yang masuk ke
Pelabuhan Boom Baru Palembang sehingga data traffic truk juga diperlukan untuk
menganalisis kapasitas tangki timbun, kapasitas fasilitas pemuatan, serta kapasitas
dermaga yang ada dan menganalisis kebutuhan di tahun rencana.
Berikut merupakan data lalu lintas truk selama 1 bulan yang diproyeksikan
dari pengamatan di lapangan selama 10 hari di Pelabuhan Boom Baru Palembang:
900
800
700
Muatan Truk (Ton)
600
500
400
300
200
100
0
Tanggal
Pada gambar 4.26. dapat dilihat proyeksi lalu lintas truk yang melakukan
aktifitas bongkar di Pelabuhan Boom Baru Palembang menggunakan metode
forecast untuk memproyeksikan data 1 bulan kedatangan truk selanjutnya data
tersebut diproyeksikan menjadi data 1 tahunan.
80
Tabel 4.9. Proyeksi Traffic Truk Yang Masuk di Pelabuhan Boom Baru
diproyeksikan hingga 1 Tahun (Analisis Data, 2016)
Bulan 1 22281
Bulan 2 26813
Bulan 3 29608
Bulan 4 33208
Bulan 5 36808
Bulan 6 37602
Bulan 7 45289
Bulan 8 47488
Bulan 9 52853
Bulan 10 56697
Bulan 11 62557
Bulan 12 64509
TOTAL 515710
Tabel 4.10. Proyeksi Traffic Truk Yang Masuk di Pelabuhan Boom Baru hinga
tahun 2035 (Analisis Data, 2016)
JAM P(0) ̅
𝒏 ̅
𝒒 ̅
𝒅 𝒘
̅
08.00-09.00 0,5313 13,7443 7,2098 1,0572 0,5546
09.00-10.00 0,2025 8,3992 5,3833 1,3998 0,8972
10.00-11.00 0,3309 1,3451 0,3398 0,6725 0,1699
11.00-12.00 0,1402 3,4944 1,9865 1,1648 0,6621
12.00-13.00 0,1402 3,4944 1,9865 1,1648 0,6621
13.00-14.00 0,1402 3,4944 1,9865 1,1648 0,6621
14.00-15.00 0,1402 3,4944 1,9865 1,1648 0,6621
15.00-16.00 0,3309 1,3451 0,3398 0,6725 0,1699
Dari data yang telah dianalisis diketahui jumlah kendaraan dalam sistem
pada jam sibuk yaitu sebesar 13,74 truk ~ 14 truk dan kendaraan dalam antrian
yaitu sebanyak 7,2 truk ~ 7 truk dengan waktu menunggu kendaraan dalam sistem
yaitu sebesar 1,057 jam atau sebesar 1 jam 3,42 menit serta waktu menunggu
kendaraan dalam antrian sebesar 0,5546 jam atau setara dengan 33 menit 16 detik.
83
Pada jam dengan tingkat kedatangan paling rendah yaitu jam 10.00 sampai
jam 11.00 dan jam 15.00 sampai jam 16.00 didapat jumlah kendaraan dalam
sistem pada jam sibuk yaitu sebesar 1,345 truk ~ 1 truk dan kendaraan dalam
antrian yaitu sebanyak 0,3 truk ~ 1 truk dengan waktu menunggu kendaraan
dalam sistem yaitu sebesar 0,672 jam atau sebesar 40 menit 19 detik serta waktu
menunggu kendaraan dalam antrian sebesar 0,169 jam atau setara dengan 10
menit 8 detik.
Dari data yang telah dianalisis diketahui bahwa perlunya penambahan
kapasitas fasilitas pemuatan yang ada di Pelabuhan Boom Baru pada jam sibuk
agar dapat mengurangi panjang antrian sehingga antrian tidak mengganggu
kapasitas jalan raya dan tidak merusak jalan yang ada di sekitar area Pelabuhan
Boom Baru seperti pada gambar berikut.
Gambar 4.27. Kerusakan jalan akibat antrian truk yang masuk ke Pelabuhan
timbun dengan jumlah dari tangki timbun tersebut. Kapasitas tangki timbun dicari
untuk mengetahui kapasitas maksimum CPO yang bisa ditampung tangki timbun
di Pelabuhan Boom Baru. Sehingga CPO bisa ditampung apabila belum adanya
kapal yang melakukan kegiatan muat CPO di Pelabuhan Boom Baru.
Berikut merupakan Kapasitas tangki timbun di Pelabuhan Boom Baru:
Tabel 4.12. Data Tangki timbun yang terdapat di Pelabuhan Boom Baru
Palembang(PT. IKI,2016)
Tabel 4.13. Data Pipa dan Kapasitas Pompa yang terdapat di Pelabuhan Boom
Baru Palembang (PT. IKI,2016)
= 282,2945 𝑚3 /jam
KTP = 282,2945 𝑚3 /jam * 3 buah
= 846,883 𝑚3 /jam
T = 24 jam * 355 hari(Waktu Kerja Pelabuhan 1 Tahun)
= 8520 jam/Tahun
Km = 846,883 𝑚3 /jam * 8520 jam/Tahun
= 7.215.443,16 𝑚3 /tahun
Dari analisis diatas diketahui kapasitas fasilitas pemuatan curah cair CPO di
Pelabuhan Boom Baru dapat menampung maksimum sebesar muatan
7.215.443,16 𝑚3 /tahun.
(92+5)∗3029,45
BOR tahun 2012 = *100%
(125∗24∗355)
= 28 %
(110+5)∗1511,63
BOR tahun 2013 = *100%
(125∗24∗355)
= 16%
(92+5)∗1905,39
BOR tahun 2014 = *100%
(125∗24∗355)
=17,35%
Untuk menganalisis panjang dermaga curah cair sebesar 125 m di Dermaga H
Pelabuhan Boom Baru Palembang dapat dihitung dengan menggunakan rumus Lp
(Sahdan Amiron, 2009) pada persamaan 2.8 maka didapat perhitungan sebagai
berikut.
Berdasarkan Panjang Kapal (Loa) maksimum tahun 2012, Panjang Dermaga
yang dibutuhkan,
Lp = 2*92m + (2-1)*15m + 50m
Lp = 184 + 15 + 50
Lp = 249 m
dengan jumlah kapal yang bersandar berjumlah 2 buah, sandar kapal dapat
dilayani.
Berdasarkan Panjang Kapal (Loa) maksimum tahun 2014, Panjang Dermaga
yang dibutuhkan,
Lp = 2*92m + (2-1)*15m + 50m
Lp = 184 + 15 + 50
Lp = 249 m
Panjang dermaga yang terpakai sebesar 249 m Sedangkan dermaga H
mempunyai panjang sebesar 125 m, 249 m > 125 m atau dengan kata lain dengan
kondisi seperti di perhitungan yaitu dengan panjang kapal sebesar 92 meter dan
dengan jumlah kapal yang bersandar berjumlah 2 buah, sandar kapal tidak dapat
dilayani.
Berdasarkan Panjang Kapal (Loa) minimum tahun 2014, Panjang Dermaga
yang dibutuhkan,
Lp = 2*41m + (2-1)*15m + 50m
Lp = 82 + 15 + 50
Lp = 147 m
= 7339,656 𝑚3
tmuat maksimum = 26 Jam (PT. Pelindo II, 2013)
40%∗355∗24
BK = 26
89
antrian yaitu sebanyak 0,3 truk ~ 1 truk dengan waktu menunggu kendaraan
dalam sistem yaitu sebesar 0,672 jam atau sebesar 40 menit 19 detik serta waktu
menunggu kendaraan dalam antrian sebesar 0,169 jam atau setara dengan 10
menit 8 detik.
Maka dilakukan analisis kebutuhan fasilitas pelayanan antrian di Pelabuhan
Boom Baru dengan metode uji coba. Ada 2 buah cara untuk mengurangi panjang
antrian dan waktu antrian, yaitu mengurangi waktu pelayanan dan menambah
fasilitas pelayanan antrian. Menambah fasilitas antrian memerlukan biaya yang
lumayan banyak sehingga penulis menggunakan opsi 1 yaitu mengurangi waktu
antrian dengan menambahkan pompa dan petugas pada fasilitas pemuatan ketika
jam sibuk sehingga waktu pelayanan (WP) bisa mencapai 15 menit Maka didapat:
menunggu kendaraan dalam antrian sebesar 0,5546 jam atau setara dengan 33
menit 16 detik dapat dikurangi hingga 0,40 jam atau setara dengan 24 menit .
Tabel 4.15. Data Selisih Produksi dan Ekspor untuk kebutuhan Tangki Timbun
SELISIH
MUATAN MUATAN BONGKAR PRODUKSI
NO TAHUN KAPAL(TON) TRUK(TON) KAPAL(TON) DAN EKSPOR
1 2012 289670 267313,5 25702,00 3345,46
2 2013 225745 335186,6 7251,00 116692,62
3 2014 322230 415264,9 10468,00 103502,88
4 2015 311775 477388,1 12609,00 178222,11
5 2016 332644 515709,6 18779,33 201844,97
6 2017 374991,67 546904,8 26160,33 198073,47
7 2018 418346,67 596010,8 33541,33 211205,43
8 2019 468155 645116,7 41362,33 218324,05
9 2020 527224,67 694222,7 49595,33 216593,34
10 2021 588427,67 743328,6 58162,33 213063,30
11 2022 649630,67 792434,6 66729,33 209533,26
12 2023 710833,67 841540,5 75296,33 206003,22
13 2024 772036,67 890646,5 83863,33 202473,17
14 2025 833239,67 939752,5 92430,33 198943,13
15 2026 894442,67 988858,4 100997,33 195413,09
16 2027 955645,67 1037964,4 109564,33 191883,05
17 2028 1016848,67 1087070,3 118131,33 188353,01
92
SELISIH
MUATAN MUATAN BONGKAR PRODUKSI
NO TAHUN KAPAL(TON) TRUK(TON) KAPAL(TON) DAN EKSPOR
18 2029 1078051,67 1136176,3 126698,33 184822,96
19 2030 1139254,67 1185282,3 135265,33 181292,92
20 2031 1202175 1234388,2 143832,33 176045,55
21 2032 1266120 1283494,2 152399,33 169773,51
22 2033 1330065 1332600,1 160966,33 163501,46
23 2034 1394010 1381706,1 169533,33 157229,42
24 2035 1457955 1430812,0 178100,33 150957,38
Tabel 4.16. Data Kebutuhan Tangki Timbun Pelabuhan Boom Baru Palembang
KEBUTUHAN TANGKI
TAHUN SELISIH KURANG (TANGKI)
2020 216593,34 167593,34 55,86444714
2025 198943,13 149943,13 49,98104394
2030 181292,92 132292,92 44,09764075
2035 150957,38 101957,38 33,9857931
Tabel 4.17. Data Produksi Muatan Kapal dalam Tonase yang telah diproyeksikan
MUATAN VOLUME
TAHUN (TON) (M3) ANALISIS KEBUTUHAN
Tabel 4.19. Data Kapasitas dermaga eksisting Pelabuhan Boom Baru Palembang
BOR (a), Lp (b), dan Ktd (c)
Kapasitas Jumlah
Ktd 961.495,0316 𝑚3
(c)
Dari data diatas diketahui BOR dermaga curah cair di Pelabuhan Boom
Baru Palembang masih dibawah 40% sehingga masih dalam kategori yang baik.
Sedangkan untuk Panjang Dermaga diperlukan penambahan panjang dermaga dari
125 m perlu ditambahkan sepanjang 175 m sehingga total panjang dermaga yaitu
300 m atau mencukupi Panjang Dermaga yang dibutuhkan.
Untuk kapasitas terpasang dermaga dipengaruhi oleh arus muatan kapal dari
Pelabuhan Boom Baru yang telah diproyeksikan sebagai berikut.
Tabel 4.20 Data Produksi Muatan Kapal dalam Tonase yang telah diproyeksikan
1 2012 289670
2 2013 225745
3 2014 322230
96
4 2015 311775
5 2016 332644
6 2017 374991,67
7 2018 418346,67
8 2019 468155
9 2020 527224,67
10 2021 588427,67
11 2022 649630,67
12 2023 710833,67
13 2024 772036,67
14 2025 833239,67
15 2026 894442,67
16 2027 955645,67
17 2028 1016848,67
18 2029 1078051,67
19 2030 1139254,67
20 2031 1202175
21 2032 1266120
22 2033 1330065
23 2034 1394010
24 2035 1457955
MUATAN VOLUME
TAHUN (TON) (M3) ANALISIS KEBUTUHAN
2020 527224,67 595330,4727 -366164,5573 TIDAK PERLU PENAMBAHAN
2025 833239,67 940875,8657 -20619,1643 TIDAK PERLU PENAMBAHAN
2030 1139254,67 1286421,259 324926,2287 PERLU PENAMBAHAN
2035 1457955 1646290,65 684795,6204 PERLU PENAMBAHAN
40%∗355∗24
BK = 15
Berikut Lay Out eksisting Pelabuhan Boom Baru Palembang berikut ini.
98
Dari lay out eksisting Pelabuhan Boom Baru Palembang dan keadaan di
lokasi didapat bahwa di lapangan diperlukan lahan seluas ± 3874,3622 𝑚2 untuk
sebanyak 15 tangki timbun sehingga diasumsikan luasan untuk 1 tangki timbun
yaitu sebesar ± 258,2908 𝑚2 . Maka didapat luasan untuk kebutuhan tangki paling
maksimum sebesar 56 tangki diperlukan penambahan luasan lahan sebesar
14464,285 𝑚2 hanya untuk kebutuhan tangki timbun saja.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan studi literatur serta
menganalisis data yang telah dilakukan, dapat memberikan beberapa kesimpulan
yang dapat dijadikan saran sebagai analisis kebutuhan terminal curah cair di
Pelabuhan Boom Baru Palembang. Adapun kesimpulan – kesimpulan tersebut adalah
sebagai berikut :
a) Analisis kapasitas terpasang di Pelabuhan Boom baru Palembang didapat
analisis antrian yang memiliki rata-rata tingkat kedatangan yaitu 35 truk dalam 1
hari nya memiliki jam sibuk pada jam 08.00-09.00 pagi. Dan memiliki tingkat
kedatangan rendah pada jam 10.00-11.00 dan 15.00-16.00. Dari data yang telah
dianalisis diketahui jumlah kendaraan dalam sistem pada jam sibuk yaitu sebesar
14 truk dan kendaraan dalam antrian yaitu sebanyak 7 truk dengan waktu
menunggu kendaraan dalam sistem yaitu sebesar 1 jam 3,42 menit serta waktu
menunggu kendaraan dalam antrian sebesar 33 menit 16 detik. Analisis kapasitas
tangki timbun di Pelabuhan Boom Baru didapat kapasitas maksimum tangki
timbun CPO yaitu sebesar 49000 ton. Analisis kapasitas pengangkutan di
Pelabuhan Boom Baru dengan pipa berjumlah 3 buah didapat kapasitas fasilitas
pemuatan curah cairyang dapat melayani muatan 1 tahunnya di Pelabuhan Boom
Baru Palembang yaitu sebesar 7.215.443,16 𝑚3 /tahun. Analisis kapasitas
dermaga di Pelabuhan Boom baru Palembang didapat BOR tahun 2012-2014
yaitu sebesar berturut-turut 28%,16%, dan 17,35% masih dibawah BOR
maksimum yaitu 40%. Sedangkan untuk Panjang Dermaga diperlukan
penambahan panjang dermaga sepanjang 175 m. Sedangkan untuk kapasitas
terpasang dermaga didapat 961.495,0316 𝑚3 .
99
100
5.2 Saran
a) Dari hasil perhitungan yang telah disimpulkan, maka disarankan melakukan
alternatif untuk kapasitas antrian yaitu dengan meningkatkan fasilitas pelayanan
antrian di Pelabuhan Boom Baru Palembang. Mempersingkat waktu pelayanan
dapaat dilakukan dengan penambahan karyawan di fasilitas pelayanan antrian
Pelabuhan Boom Baru Palembang
b) Penggunaan tangki diharapkan untuk ditambah agar proyeksi produksi CPO
pada tahun 2035 dapat terpenuhi
c) Perlunya peningkatan waktu pelayanan aktifitas muat di Pelabuhan Boom Baru
Palembang agar dapat meningkatkan kapasitas terpasang dermaga di Pelabuhan
Boom Baru sehingga dapat melayani proyeksi produksi CPO pada tahun 2035.
d) Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai analisis kebutuhan terminal curah cair
berdasarkan data yang lebih valid