100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
385 tayangan84 halaman

Regulasi Emosi dan Self Disclosure Suami Istri

Skripsi ini membahas peran regulasi emosi terhadap self disclosure pada pasangan suami istri yang menggunakan jejaring sosial Facebook. Penelitian ini menggunakan 218 responden yang dipilih secara purposive dan menganalisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasilnya menunjukkan bahwa regulasi emosi berperan negatif dan signifikan terhadap self disclosure dengan kontribusi sebesar 8,8% sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain.

Diunggah oleh

LP3S SAKA
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
385 tayangan84 halaman

Regulasi Emosi dan Self Disclosure Suami Istri

Skripsi ini membahas peran regulasi emosi terhadap self disclosure pada pasangan suami istri yang menggunakan jejaring sosial Facebook. Penelitian ini menggunakan 218 responden yang dipilih secara purposive dan menganalisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasilnya menunjukkan bahwa regulasi emosi berperan negatif dan signifikan terhadap self disclosure dengan kontribusi sebesar 8,8% sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain.

Diunggah oleh

LP3S SAKA
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN REGULASI EMOSI TERHADAP SELF DISCLOSURE

PADA SUAMI ISTRI YANG MENGGUNAKAN JEJARING

SOSIAL FACEBOOK

SKRIPSI

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana


Psikologi Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Disusun Oleh :

HILMATUL AZIZAH

105120307111051

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
MOTTO

Tidak Ada Usaha yang Mengkhinati Hasil


Selalu Bersyukur Atas Apa yang Sudah Dimiliki
dan Tetap Bersabar untuk Sesuatu yang
Diperjuangkan
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
rahmat dan hidayah-Nya yang telah dilimpahkan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul PERAN REGULASI EMOSI
TERHADAP SELF DISCLOSURE PASA SUAMI ISTRI YANG
MENGGUNAKAN JEJARING SOSIAL FACEBOOK.
Skripsi ini merupakan karya ilmiah yang disusun dalam upaya
untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) Jurusan Psikologi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Selama proses skripsi
ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak.
Sehingga, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
orang tua penulis Bapak Muchid dan Ibu Jazilah yang senantiasa
memberi motivasi dan dukungan moral maupun material serta do’a
dalam penulisan skripsi dan pelaksanaan ujian skripsi. Terima kasih
buat Adik Karin yang selalu unik buat semangatin Kakaknya.
2. Terima kasih kepada Om Muchid yang mulai dari sebelum sakit
sampe akhirnya beliau tiada yang setiap hari selalu menanyakan
perkembangan skripsi. Kepada Om Yazid, tante Lilik, Om Erfan,
Tante Ira, Tante Juwairiyah, Om Kodir dan Tante Neni yang juga tiada
hentinya memberikan semangat serta motivasi dan dukungan.
3. Penulis sangat berterima kasih kepada Ibu Ari Pratiwi, S. Psi, M. Psi.
selaku pembimbing atas segala perhatian dan bimbingannya serta
arahan-arahan yang di berikan kepada penulis dalam upaya
menyelesaikan skripsi ini.
4. Penulis juga sangat berterima kasih kepada Ibu Afia Fitriani, S.Psi, M.
Psi yang menjadi pembimbing pedamping sampai penulis seminar
proposal, terimakasih atas segala perhatian dan bimbingannya serta
arahan-arahan yang di berikan kepada penulis dalam upaya
menyelesaikan skripsi ini.
5. Terima kasih penulis disampaikan pula kepada Ibu Ika Herani S. Psi,
M. Si, Psi. serta Ibu Nur Hasanah, S.Psi., M.Psi. atas bantuan dan
kesediaan serta saran-saran yang diberikan kepada penulis dalam ujian
skripsi.
6. Terima kasih kepada Septyarizaldi Ismanto yang dari awal memulai
sampai akhir masih setia dan tidak ada bosan-bosannya memberikan
perhatian, pengertian, motivasi, dukungan dan semangat bagi penulis
dalam menyelesaikan skripsi. Terimakasih atas bantuan translate
jurnal yang seabrek tapi masih meluangkan waktu disela-sela kerja
untuk mengerjakan. Terimakasih selalu menjadi pendengar yang baik
selama ini.
7. Untuk sahabat tercinta Febrilita, Shirly, Lupi, dan Nita. I love you so
much buat kalian yang tiada hentinya menanyakan kapan wisuda.
Terimakasih semangat dan dukungan kalian yang tiada henti dari awal
sampai akhirnya lulus.
8. Teruntuk teman sekamar Anis, terimasih selalu mengingatkan untuk
bimbingan dan menemui dosen, terimakasih atas semangat dan
bantuannya, selalu mendengarkan keluh kesah selama pengerjaan
skripsi serta sudah menjadi teman begadang.
9. Terima kasih untuk Upik yang meskipun sudah pulang ke kampung
halaman tapi masih bersedia meluangkan waktu mendengarkan
curhatan penulis, serta tidak pernah lupa memberikan semangat
kepada penulis untuk segera wisuda
10. Teman seperjuangan Pink, Yayang, Arum, Sitta, Nita, Raihanah,
Indah, Lala Melody, Lala Farah, Amung, kalian luar biasa.
Terimakasih atas waktu, bantuan, motivasi dan semangatnya selama
ini.
11. Adik sekaligus teman penghibur lara Ay, Fhay, dan Jules yang selalu
punya cara tersendiri buat sejenak lupa jika punya tanggungan skripsi.
Terimakasih untuk selalu ada setiap di Jember dan selalu punya waktu
buat ketemu dan tidak lupa untuk makan dimanapun dan kapanpun.
12. Terima kasih kepada semua teman-teman yang tidak bisa disebutkan
satu-persatu, atas semangat dan dukungannya selama ini
13. Kepada seluruh teman seperjuangan Psikologi 2010, terimakasih atas
canda tawa, motivasi, bantuan, semangat, serta wejangannya. Kalian
semua luar biasa dan keren. Terimakasih sudah menjadi bagian cerita
hidup selama di Malang.
Menyadari adanya keterbatasan pengetahuan, refrensi, dan
pengalaman, harapan penulis semoga laporan penelitian skripsi ini bisa
bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan semua pihak serta berguna bagi
pengembangan ilmu pengetahuan sosial dan politik, khususnya Psikologi.
PERAN REGULASI EMOSI TERHADAP SELF DISCLOSURE PADA
SUAMI ISTRI YANG MENGGUNAKAN JEJARING SOSIAL
FACEBOOK

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran regulasi emosi terhadap


self disclosure pada suami istri yang menggunakan jejaring sosial facebook.
Subjek penelitian dalam penelitian ini sebanyak 218 orang yang menggunakan
facebook dengan menggunakan metode purposive sampling. Uji analisis data
menggunakan teknik regresi linear sederhana dengan menggunakan program
SPSS 16.0 for windows. Berdasarkan hasil analisis dapat ditarik kesimpulan
terdapat peran negatif dan signifikan regulasi emosi terhadap self disclosure pada
suami istri yang menggunakan facebook dengan nilai R square 0,088. Hal ini
menunjukan bahwa variabel regulasi emosi memiliki kontribusi sebesar 8,8%
terhadap variabel self disclosure dan 91,2% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain diluar variabel regulasi emosi yang tidak diteliti oleh peneliti
Kata Kunci : regulasi emosi, self disclosure, suami istri, facebook

viii
PERAN REGULASI EMOSI TERHADAP SELF DISCLOSURE PADA
SUAMI ISTRI YANG MENGGUNAKAN JEJARING SOSIAL
FACEBOOK

ABSTRACT

This research aimed to find out the role of emotion regulation toward self
disclosure on married couples who use facebook social media. The research
subjects in this study were 218 people who use facebook and they were chosen by
using purposive sampling method. The data analysis test was done by using
simple linear regression technique of SPSS 16.0 for Windows. Based on the data
analysis results, it was concluded that there was negative and significant role of
emotion regulation of self disclosure on couples who use facebook with the R
square value of 0.088. It showed that the variable of emotion regulation had
contributed 8.8% to the self disclosure variable and the other 91.2% had been
influenced by other factors outside the emotional regulatory variables which were
not studied by the researcher.
Keywords: emotion regulation, self disclosure, married couples, facebook

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... ii
HALAMAN ORISINILITAS .......................................................................... iii
MOTTO ........................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................... v
ABSTRAK ..................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 9
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 9
D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 9
1. Manfaat Teoritis ...................................................................................... 9
2. Manfaat Praktis ....................................................................................... 9
E. Penelitian Terdahulu ................................................................................... 10
BAB II TINJAUAN TEORITIS ..................................................................... 14
A. Regulasi Emosi ........................................................................................... 14
1. Emosi .................................................................................................... 14
2. Definisi Regulasi Emosi ........................................................................ 15
3. Strategi Regulasi Emosi ....................................................................... 16
4. Ciri-Ciri Regulasi Emosi ....................................................................... 18
5. Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi ......................................... 19
B. Self Disclosure ............................................................................................ 21
1. Definisi Self Disclosure ......................................................................... 21
2. Aspek Self Disclosure ........................................................................... 22
3. Fungsi Self Disclosure ........................................................................... 24
4. Manfaat Self Disclosure ........................................................................ 25
5. Faktor yang Mempengaruhi Self Disclosure .......................................... 26
C. Dewasa Awal .............................................................................................. 28
1. Definisi Dewasa Awal ........................................................................... 28
2. Ciri-Ciri Dewasa Awal .......................................................................... 29
D. Jejaring Sosial Facebook ............................................................................. 31
E. Peran Regulasi Emosi Terhadap Self Disclosure Pasangan Suami Istri yang
Menggunakan Jejaring Sosial Facebook ...................................................... 31
F. Kerangka Pemikiran.................................................................................... 34
G. Perumusan Hipotesis ................................................................................... 35
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 36
A. Pendekatan Penelitian ................................................................................. 36
B. Identifikasi Variabel Penelitian ................................................................... 36
C. Definisi Operasional ................................................................................... 37

x
1. Regulasi Emosi ..................................................................................... 37
2. Self Disclosure ...................................................................................... 37
D. Populasi, Sampel dan Pengambilan Sampel................................................. 38
1. Populasi ................................................................................................ 38
2. Sampel .................................................................................................. 38
3. Teknik Sampling ................................................................................... 40
E. Tahapan Pelaksanaan Penelitian .................................................................. 40
1. Tahap Persiapan .................................................................................... 40
2. Tahap Pelaksanaan ................................................................................ 41
3. Tahap Analisis Data .............................................................................. 42
F. Sumber Data ............................................................................................... 42
G. Instrumen Penelitian ................................................................................... 43
1. Skala Regulasi Emosi ............................................................................ 43
2. Skala Self Disclosure ............................................................................. 45
H. Pengujian Instrumen Penelitian ................................................................... 48
1. Reliabilitas ............................................................................................ 48
I. Analisis Data .............................................................................................. 49
1. Uji Normalitas....................................................................................... 49
2. Uji Linearitas ........................................................................................ 50
J. Uji Hipotesis ............................................................................................... 50
BAB IV PEMBAHASAN................................................................................ 52
A. Hasil Penelitian ........................................................................................... 52
1. Analisis Data Deskriptif ........................................................................ 52
2. Uji Asumsi ............................................................................................ 56
B. Pembahasan ................................................................................................ 59
C. Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 63
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 65
A. Kesimpulan ................................................................................................ 65
B. Saran........................................................................................................... 65
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 67

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Skoring Instrumen........................................................................... 43


Tabel 2 : Blue Print Skala Regulasi Emosi Sebelum Uji Coba ....................... 44
Tabel 3 : Blue Print Skala Regulasi Emosi Setelah Uji Coba .......................... 44
Tabel 4 : Blue Print Skala Self Disclosure Sebelum Uji Coba ........................ 45
Tabel 5 : Blue Print Skala Self Disclosure Setelah Uji Coba .......................... 47
Tabel 6 : Kriteria Reliabilitas Berdasarkan Cronbach Alpha .......................... 49
Tabel 7 : Hasil Uji Realibilitas ....................................................................... 49
Tabel 8 : Analisis Deskriptif Berdasarkan Data Demografis ........................... 52
Tabel 9 : Persamaan Skor Hipotetik ............................................................... 54
Tabel 10 : Perbandingan Skor Hipotetik dan Skor Empirik .............................. 54
Tabel 11 : Kategorisasi Jenjang bagi Subjek Penelitian .................................... 55
Tabel 12 : Kategorisasi Data Variabel Regulasi Emosi dan Self Disclosure ...... 55
Tabel 13 : Hasil Uji Normalitas ....................................................................... 56
Tabel 14 : Hasil Uji Linearitas ......................................................................... 57
Tabel 15 : Hasil Uji Hipotesis .......................................................................... 58
Tabel 16 : Hasil Uji Korelasi Laki-Laki dan Perempuan .................................. 58

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Kerangka Pemikiran ..................................................................... 34

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang selalu mengalami perkembangan serta

perubahan dalam kehidupannya yang diharapkan mampu memenuhi tugas-tugas

perkembangannya sesuai dengan tahapan usianya. Hurlock (1993)

mengungkapkan bahwa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira

umur 40 tahun. Pada masa ini Erikson (Santrock, 2010) mengungkapkan tugas

perkembangan dewasa awal adalah membuat komitmen dengan menciptakan

suatu hubungan interpersonal yang erat dan stabil serta mampu

mengaktualisasikan diri seutuhnya untuk mempertahankan hubungan tersebut.

Papalia (2008) menambahkan bahwa tugas perkembangan dewasa awal yaitu

mulai memisahkan diri dari orang tua, membentuk keluarga baru dengan

pernikahan, memperkuat ikatan perkawian, meninggalkan kesibukan, pekerjaan,

dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah diperoleh. Menikah dan

menjalani ikatan sebagai suami istri adalah salah satu cara untuk menjalin suatu

hubungan yang lebih intim.

Hubungan antar pribadi sangat penting bagi hubungan suami istri, agar antar

keduanya dapat saling mengerti perasaan dan saling memahami serta menciptakan

hubungan yang baik. Sehingga akan tercapai hubungan yang baik di antara suami

istri, maka diperlukan komunikasi antara suami dan istri. Menurut Rogers dan

Kincaid (Pamuncak, 2011) komunikasi adalah proses pertukaran informasi dalam

1
2

menyampaikan gagasan atau perasaan agar mendapat tanggapan dari orang lain

dan dapat mengekspresikan dirinya yang unik. Informasi yang disampaikan

kepada orang lain bisa berupa data pribadi, perasaan, pikiran, keadaan saat itu,

pengalaman, dan sebagainya. Dalam komunikasi pada pasangan suami istri harus

tercipta suasana hangat, pengertian, dan kasih sayang agar memberikan suasana

yang akrab dan intim diantara keduanya. Karel, Sondakh, dan Pasoreh (2014)

mengatakan bahwa peran terpenting komunikasi adalah membangun kedekatan

dan keintiman dengan pasangan.

Munculnya media komunikasi dan informasi di internet dalam kehidupan

manusia menghadirkan banyak fasilitas yang bisa diperoleh oleh pasangan suami

istri melalui internet dalam menjalin komunikasi, salah satunya adalah media

jejaring sosial. Penggunaan jejaring sosial menjadi salah satu media untuk

berinteraksi satu sama lain tanpa batas waktu, ruang dan jarak. Menurut data

dari We Are Social (Techinasia, 2015) jumlah pengguna internet di dunia saat ini

3,25 miliar, di Indonesia jumlah pengguna internet mencapai 88,1 juta pengguna.

Salah satu media jejaring sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia

adalah facebook. Menurut Reynold D’Silva sebagai Business Group Head (Tekno

Kompas, 2016), Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah

RGA (Remscheider General Anzeiger) facebook terbesar di dunia. Jumlah

pengguna aktif bulanan facebook di Tanah Air mencapai kisaran 82 juta orang

pada kuartal-IV 2015. Jumlah yang disebutkan oleh D’Silva tersebut mendekati

jumlah keseluruhan pengguna internet di Indonesia pada 2015, sebesar 88,1 juta
3

atau 34,9 persen dari total 252,4 juta penduduk. Dengan kata lain, hampir semua

pengguna internet Indonesia turut memakai facebook.

Fasilitas seperti wall dan chat yang dimiliki oleh facebook memudahkan

penggunanya bisa saling berinteraksi, kirim mengirim pesan, bertemu dan

memelihara persahabatan dengan teman lama, mencari teman baru, chating,

bermain bersama, berbagi file dan foto, mencari partner bisnis (melancarkan

bisnis/promosi), bermain game online bersama teman, dan sebagainya (Nugroho,

2013). Sehingga facebook menjadi salah satu alternatif yang digunakan oleh

suami istri untuk berkomunikasi satu sama lain. Melalui facebook suami istri bisa

mengungkapkan perasaan, pikiran, dan informasi apapun yang sedang atau sudah

terjadi mengenai diri sendiri maupun orang lain. Menurut Jourard (Sari, Tri &

Achmad, 2006) proses penyampaian informasi yang berhubungan dengan diri

sendiri kepada orang lain disebut pengungkapan diri atau self disclosure.

Sependapat dengan yang diungkapkan oleh Karel, Sondakh, dan Pasoreh (2014)

pengungkapan diri adalah menyampaikan informasi pribadi yang mendalam, atau

segala hal yang kemungkinan orang lain tidak mengerti bila tidak diberitahu.

Informasi tersebut dapat berupa gagasan dan pemikiran, impian dan harapan,

maupun perasaan positif dan negatif.

Facebook merupakan salah satu media jejaring sosial yang digunakan oleh

pasangan suami istri untuk melakukan self disclosure. Adanya fasilitas dalam

facebook membuat proses self disclosure pada pasangan suami istri semakin

mudah. Dalam proses self disclosure, terjadi pertukaran informasi satu sama lain,

seperti penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kusumaningtyas (2010) peran


4

facebook sangatlah luar biasa sebagai saluran self disclosure remaja putri di

Surabaya, karena mampu membuat informasi tersembunyi di kehidupan nyata

(offline) cenderung diungkapkan pada facebook (online) secara terbuka oleh

facebooker (informan penelitian), begitupula bagi suami istri. Dengan adanya

facebook memotivasi suami istri untuk melakukan self disclosure. Suami istri

menggunakan jejaring sosial facebook untuk mengungkapkan apa yang

dirasakannya pada saat itu kepada pasangannya dan kepada orang lain daripada

mengungkapkan langsung, karena mereka lebih merasa nyaman dan lebih dekat

melalui dunia maya. Walther (Pamuncak, 2011) menyebutkan bahwa seseorang

merasa dekat jika berada dibalik layar atau dunia maya dibandingkan dunia nyata.

Sama halnya dengan apa yang diungkapkan oleh Asandi dan Rosyidi (2010)

dalam penelitiannya yang berjudul self disclosure (pengungkapan diri) pada

remaja pengguna facebook menjelaskan bahwa melalui facebook, remaja dapat

mengungkapkan dirinya dengan efektif. Begitu pula pada suami istri, keterbukaan

diri atau self disclosure merupakan salah satu faktor dalam interaksi sosial dan

juga yang dibutuhkan dalam hubungan suami istri, karena dengan adanya

keterbukaan diri pada suami istri dapat memunculkan hubungan yang terbuka

terhadap keduanya dan orang lain. Hubungan yang terbuka ini menurut Asandi

dan Rosyidi (2010) akan memunculkan hubungan timbal balik positif yang

menghasilkan rasa aman, adanya penerimaan diri, dan rasa lebih mendalam dapat

melihat diri sendiri serta mampu menyelesaikan berbagai masalah hidup. Salah

satu fungsi self disclosure menurut Devito (2007) adalah ekspresi dimana dengan
5

pengungkapan diri seseorang bisa mempunyai kesempatan untuk mengekpresikan

perasaannya.

Devito (1997) menjelaskan, individu melakukan self disclosure salah satunya

karena seseorang merasa perlu menghilangkan perasaan bersalah dengan

mengungkapkannya. Di saat yang lain mungkin seseorang ingin terlihat baik

dengan mengungkapkan hal- hal baik dari dirinya. Selain itu melakukan self

disclosure bisa jadi untuk membantu menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Hal

yang seringkali terjadi adalah self disclosure digunakan untuk meningkatkan

derajat suatu hubungan, memperbaiki suatu hubungan, atau bahkan sebagai

strategi untuk mengakhiri suatu hubungan. Setiap suami dan istri tidak hanya

membutuhkan self disclosure namun pengaturan emosi pun tidak kalah

pentingnya dalam menjalin sebuah hubungan.

Pengaturan emosi sangat diperlukan agar tercipta hubungan yang romantis,

harmonis, dan tidak ada sebuah salah paham. Menurut Frijda (Nisfiannoor &

Kartika, 2004) seseorang tidak hanya memiliki emosi, tetapi juga perlu mengatur

emosi mereka, dalam arti mereka perlu mengambil sikap terhadap emosi mereka

dan menerima konsekuensi dari tindakan emosional mereka. Sebagaimana yang

diutarakan oleh Richard dan Gross (2000) bahwa regulasi emosi sebagai

pemikiran atau perilaku yang dipengaruhi oleh emosi. Hasil regulasi dapat berupa

perilaku yang ditingkatkan, dikurangi, atau dihambat dalam ekspresinya.

Regulasi emosi diperlukan setiap orang karena menurut pandangan

evolusioner, yang dikemukakan oleh Gross (2007) beberapa bagian dari otak
6

manusia menginginkan untuk melakukan sesuatu pada situasi tertentu, sedangkan

bagian lainnya menilai bahwa rangsangan emosional ini tidak sesuai dengan

situasi saat itu, sehingga membuat individu melakukan sesuatu yang lain atau

tidak melakukan sesuatu apapun. Regulasi itu sendiri adalah bentuk kontrol yang

dilakukan seseorang terhadap emosi yang dimilikinya. Menurut Ubaidillah (2014)

seseorang yang dengan kemampuan mengelola emosi dengan baik mampu

mengontrol emosi serta mampu menyeimbangkan rasa marah, kecewa, frustasi,

putus asa, dalam menghadapi banyak hal dan peristiwa. Rosyidi (2014) dalam

penelitiannya mengatakan bahwa regulasi emosi sangatlah diperlukan manakala

seseorang tidak mempu meregulasikan emosinya maka emosi negatif yang akan

timbul.

Berikut contoh suami istri dalam melakukan self disclosure kepada pasangan

masing-masing melalui media sosial facebook dengan kata-kata yang

diungkapkan sebagai berikut:

“Udah tau keadaanku kayak gini. Masih saja mementingkan kesenengane dewe…
Nggak due pikiran blaz #benci_misuaku”
Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa seorang istri yang sedang menyampaikan

apa yang dia rasakan terhadap dirinya pada saat itu kepada suaminya. Dengan

menggunakan jejaring sosial sang istri menggunakan facebook sebagai medianya

dalam melakukan self disclosure, melalui cara tersebut maka orang lain beserta

suaminya bisa mengetahui apa yang dia rasakan ketika seseorang membuka situs

facebook yang akan muncul di beranda facebook orang lain. Dengan begitu,

ungkapan yang dilakukan oleh istrinya tersebut otomatis akan masuk di beranda
7

facebook milik suaminya serta orang lain, dan tentu saja harapan istrinya adalah

supaya suaminya membaca apa yang dia rasakan pada saat itu.

Atau contoh lainnya dengan kata-kata yang diungkapkan oleh suaminya

kepada istrinya sebagai berikkut:

“Semangat berjuang istriku.Menjadi seorang wanita yang seutuhnya memanglah


tidak mudah, kau tak sendiri. Do’aku menyertaimu selalu”
Pada contoh di atas dapat dilihat seorang suami yang sedang menyampaikan

kebahagian kepada istriya melalui fasilitas facebook di kolom wall (dinding)

dengan harapan istrinya bisa menjadi wanita seutuhnya (ibu bagi anaknnya) yang

disertai dengan do’a dari suaminya dan supaya istrinya bisa mengetahui bahwa dia

tidak sendirian untuk menjalani semuanya.

Melalui contoh di atas maka masing-masing pasangan suami istri dalam

mengungkapkan perasaan tersebut juga menggunakan emosinya. Terlihat pada

hastag (#) ataupun kata istri yang digunakan oleh pengguna tersebut dengan

menggunakan kata “#benci_misuaku” dan “istriku”. Regulasi emosi yang

dilakukan oleh contoh pasangan diatas menjelaskan bahwa adanya hasil regulasi

emosi positif dan negatif.

Maka, regulasi emosi diperlukan oleh suami dan istri ketika melakukan

self disclosure sebagai salah satu cara bagi suami atau istri untuk membangun

keakraban dalam upaya menjalin komunikasi yang lebih baik atau untuk

mengungkapkan perasaan supaya terjalin hubungan yang semakin akrab dan

intim. Namun diperlukan regulasi emosi dalam mengontrol pengungkapan diri

yang dilakukan oleh suami istri tersebut. Dalam regulasi emosi terdapat
8

keinginan-keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu pada situasi tertentu dan

hal tersebut mendorong seseorang untuk melakukan self disclosure. Dari

penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa peran emosi regulasi terhadap self

discosure memiliki keterikatan. Dimana semakin baik atau tidaknya regulasi

emosi antara suami istri, maka semakin baik atau tidaknya pula self disclosure

dengan melihat keterbukaan yang terjadi pada suami istri.

Pada penelitian ini, subjek yang dipilih adalah suami istri yang menggunakan

jejaring sosial facebook. Peneliti memillih subjek tersebut dikarenakan masih

banyak suami istri yang menggunakan jejaring sosial facebook sebagai sarana

untuk meregulasikan emosi mereka dan mengungkapkan diri mereka kepada

pasangannya serta kepada orang lain. Tentang apa yang ingin dilakukan oleh

pasangan, perasaan yang dirasakan oleh pasangan saat itu, kejadian saat itu yang

terjadi pada pasangan, dan sebagainya. Dengan media facebook suami istri dapat

mengungkapkan ekspresi mereka dimana hal tersebut merupakan salah satu fungsi

dari self disclosure. Adanya fasilitas dalam facebook membuat proses self

disclosure pada pasangan suami istri semakin mudah, namun perlu juga adanya

regulasi emosi sebagai pengontrol dalam emosi pada suami dan istri yang mana

emosi tersebut bisa ditingkatkan, dikurangi, atau dihambat dalam ekspresinya.

Dengan demikian, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Peran

Regulasi Emosi Terhadap Self Discosure Pada Suami Istri yang Menggunakan

Jejaring Sosial Facebook”


9

B. Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian adalah

apakah terdapat peran regulasi emosi terhadap self discosure pada suami istri yang

menggunakan jejaring sosial facebook?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian adalah untuk

mengetahui adanya peran regulasi emosi terhadap self discosure pada suami istri

yang menggunakan jejaring sosial facebook

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan referensi serta memperkaya

teori-teori pada bidang psikologi perkembangan dewasa awal terutama dalam hal

regulasi emosi dan self disclosure. Selain itu juga bisa menambah wawasan bagi

para mahasiswa psikologi khususnya bagi mahasiswa yang berminat pada bahasan

yang berkaitan dengan regulasi emosi dan self disclosure pada dewasa.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini sebagai bahan masukan bagi para suami istri untuk lebih bisa

mengontrol emosi ketika mengungkapkan diri mereka di jejaring sosial facebook,

sehingga hubungan antara suami istri akan semakin baik.


10

Memberikan pengetahuan kepada pasangan suami istri bagaimana regulasi

emosi dalam self disclosure agar tidak terjadi salah paham diantara keduanya,

agar hubungan rumah tangga bisa semakin harmonis.

E. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian yang akan dilakukan mengenai peran emosi regulasi

terhadap self discosure pada suami istri yang menggunakan jejaring sosial

facebook, maka akan mengacu pada penelitian terdahulu tentang regulasi emosi

dan self disclosure.

1. Dimas, Pamuncak 2011. Pengaruh Tipe Kepribadian Terhadap Self Disclosure

Pengguna Facebook. Jurnal Online Psikologi Vol. 1 No. 1

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tipe kepribadian dengan

self disclosure pengguna facebook. Penelitian ini menggunakan metode

kuantitatif dengan studi korelasi yang melibatkan 173 responden usia 14-18

tahun. Alat ukur yang digunakan menggunakan skala self disclosure dan untuk

alat ukur tipe kepribadian menggunakan EPQ (Eysenck Personality

Quesionare).Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan

tipe kepribadian terhadap self disclosure pengguna facebook. Dimana

berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan dengan menggunakan uji

korelasi pearson didapatkan signifikan sebesar 0.004<0.005, yang artinya

hipotesis nihil dan tidak ada pengaruh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada

hubungan seseoranng yang mempunyai kecenderungan ekstrovert atau

kecenderungan introvert dengan self disclosure pengguna facebook.


11

2. Totok Wahyu Abadi, Fandrian Sukmawan dan Dian Asha Utari. 2013. Media

Sosial dan Pengembangan Hubungan Interpersonal di Sidoarjo. Jurnal

KANAL Vol. 2, No. 1

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan menjelaskan penggunaan media

sosial di kalangan remaja, pengembangan hubungan interpersonal, dan

pengaruh media sosial terhadap pengembangan hubungan interpersonal remaja

Sidoarjo. Penelitian dengan seratus siswa SLTA sebagai responden ini

menggunakan pendekatan eksplanatif.Melalui pengumpulan data secara

random sampling, data dianalisis dengan menggunakan teknik penganalisisan

statistik deskriptif dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

penggunaan situs jejaring sosial oleh remaja banyak dimotivasi untuk 1)

mendapatkan berbagai informasi, 2) memperkuat hubungan di antara sesama

pengguna situs, 3) melepaskan ketegangan, 4) memenuhi kebutuhan

emosional, dan 5) meningkatkan rasa percaya diri. Pengembangan hubungan

yang dilakukan oleh remaja lebih dominan pada pencarian informasi identitas

diri, ide-ide ataupun pemikiran, serta alamat akun pengguna. Tingkat

pengembangan hubungan interpersonal (pertemanan) melalui jejaring sosial

sebesar 68,7%. Penggunaan situs jejaring sosial berpengaruh terhadap

pengembangan hubungan interpersonal remaja di Sidoarjo sebesar 43,4%.

3. Ditya Ardy Nugroho. 2013. Self Disclosure Terhadap Pasangan Melalui

Media Facebook Di Tinjau Dari Jenis Kelamin. Jurnal Online Psikologi Vol.

01 No. 02 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang


12

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan self disclosure

terhadap pasangan melalui media facebook di tinjau dari jenis kelamin. Desain

yang digunakan adalah desain deskriptif kuantitatif dan menggunakan skala

self disclosure. Jumlah subyek 60 orang, usia 16 – 18 tahun, kelas X. Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil analisis data yang telah

dilakukan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa self disclosure

perempuan terhadap pasangannya melalui media facebook lebih tinggi

dibanding dengan self disclosure laki laki terhadap pasangannya melalui

media facebook. Berdasarkan hasil penelitian ini juga dapat disimpulkan

bahwa kehadiran facebook sebagai media sosial dan menjadi tren dikalangan

anak SMA tidak lantas membuat laki-laki memiliki self disclosure yang

tinggi.Wanita mempunyai self disclosure yang besar kepada pasanganya

melalui media facebook dibandingkan dengan laki – laki.

4. Oktavia Dewi Kusumaningrum. 2012. Regulasi Emosi Istri Yang Memiliki

Suami Stroke. Jurnal EMPATHY Vol I, No 1, Fakultas Psikologi Universitas

Ahmad Dahlan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran emosi dan regulasi

emosi istri terkait dengan stoke suami, serta faktor-faktor yang mempengaruhi

penggunaan regulasi emosi sebagai akibat dari peristiwa yang menimbulkan

emosi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan

fenomenologi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan

metode observasi dan wawancara. Subjek penelitian yaitu dua orang istri yang

memiliki suami stroke, masing-masing berusia 58 tahun dan 68 tahun.


13

Hasil penelitian menunjukkan istri yang memiliki suami stroke mengalami

berbagai emosi negatif seperti kaget, stres (tertekan), tidak sabar, marah,

menangis, sedih, jengkel, dan emosi positif seperti sabar, ikhlas, menerima,

pasrah, berharap, empati, senang ketika dapat bercanda dengan suami. Adapun

faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan regulasi emosi antara lain

stresor, faktor fisiologis, faktor usia, kognitif, aspek sosial terutama pengaruh

keluarga, dan faktor budaya. Kesimpulan penelitian ini adalah kemampuan

regulasi emosi setiap individu berbeda-beda dipengaruhi oleh stresor, faktor

fisiologis, faktor usia, kognitif, aspek sosial terutama pengaruh keluarga, dan

faktor budaya.

5. Makon Fardis. 2007. Expression And Regulation Of Emotions In Romantic

Relationships. Journal Internasional Clinical Psychology

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat regulasi emosi dan ekspresi

dalam hubungan romantis dan mengamati kemungkinan korelasi ekspresif

dengan kepuasan hubungan. Kriterianya subjek dalam penelitian ini adalah (1)

minimum hubungan 3 bulan, (2) hubungan terus-menerus saat penelitian, (3)

berumur 18 tahun atau lebih, (4) tidak ada batasan pada jenis hubungan; yaitu,

perkawinan, non-perkawinan, sama dan hubungan seks lain. Interaksi

diprediksi dalam penelitian ini tidak ditemukan signifikan. Temuan studi yang

paling penting dirangkum dalam kategori (1) hubungan, (2) ekspresi

emosiona, dan (3) lampiran terkait temuan.


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Regulasi Emosi

1. Emosi

Menurut Santrock (2007) emosi adalah perasaan atau afeksi yang timbul

ketika seseorang sedang berada di suatu keadaan atau suatu interaksi yang

dianggap penting. Feldman (2012) mengungkapkan bahwa emosi adalah perasaan

yang umumnya memiliki elemen fisiologis dan kognitif yang dapat

mempengaruhi perilaku. Sementara pandangan fungsional, mendefinisikan emosi

sebagai respon yang mengarahkan tingkah laku individu dan menyediakan

informasi yang dapat menolong individu mencapai tujuannya. Menurut Wade

(2007), emosi adalah situasi stimulus yang melibatkan perubahan pada tubuh dan

wajah, aktivitas pada otak, penilaian kognitif, perasaan subjektif, dan

kecenderungan melakukan sesuatu yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan yang

terdapat di suatu kebudayaan. Oleh karena itu emosi adalah perasaan yang

umumnya melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah serta tingkah laku individu

atas apa yang dirasakan oleh individu.

Feldman (2012) mengungkapkan bahwa para psikolog mengklasifikasikan

rentang emosi dengan berbagai macam klasifikasi yang berujung pada kategori

emosi positif ataupun negatif. Pembagian tersebut dilakukan untuk

mengkategorikan emosi yang dirasakan oleh manusia di seluruh dunia. Adapun

emosi terbagi menjadi emosi positif dan emosi negatif. Dalam emosi positif dibagi

menjadi 2 bagian yang terdiri dari cinta dan kegembiraan. Dalam emosi cinta

14
15

terdapat kesukaan dan kegilaan, sedangkan emosi kegembiraan terdapat bahagia,

puas, dan bangga. Emosi negatif, terdiri dari marah, kesedihan, dan takut. Pada

emosi marah terdapat benci, terhina, cemburu, dan kesal. Sedangkan emosi

kesedihan terdapat kesakitan, kesepian, nestapa, dan rasa bersalah. Pada emosi

takut terdapat khawatir dan ngeri (Feldman, 2012).

Pengkategorian emosi tersebut akan memudahkan para psikolog untuk melihat

perkembangan sosioemosional seorang individu. Menurut Fredicson (Feldman,

2012) emosi memiliki beberapa fungsi bagi kehidupan kita sehari-hari, yaitu:

a. Mempersiapkan kita untuk bertindak. Emosi bertindak sebagai penghubung

antara kejadian di lingkungan dan respon yang kita keluarkan. Misalnya ketika

kita bertemu dengan anjing yang sedang marah. Reaksi emosional (takut) tersebut

akan diasosiasikan kedalam respon “lawan atau lari”.

b. Membentuk perilaku dimasa depan. Emosi memfasilitasi pembelajaran yang

akan membantu individu membuat respon yang sesuai di masa depan. Reson

emosional yang tidak menyenangkan mengajarkan kepada individu untuk

menghindari kondisi yang sama dimasa depan.

c. Membantu kita berinteraksi secara lebih efektif dengan orang lain. Emosi

dapat dikomunikasikan melalui perilaku verbal dan nonverbal sehingga emosi

dapat dirasakan oleh lingkungan disekitar. Perilaku tersebut dapat bertindak

menjadi sebuah pertanda emosi yang dirasakannya.

2. Definisi Regulasi Emosi

Menurut Gross dan Thompson (2007) regulasi emosi adalah serangkaian

proses dimana emosi diatur sesuai dengan tujuan individu, baik dengan cara
16

otomatis atau dikontrol, disadari atau tidak disadari dan melibatkan banyak

komponen yang bekerja terus menerus sepanjang waktu. Gross dan John (2003)

mengungkapkan bahwa regulasi emosi adalah suatu proses pengenalan,

pemeliharaan dan pengaturan emosi positif maupun negatif, baik secara otomatis

atau dikontrol, yang tampak maupun yang tersembunyi, yang disadari maupun

tidak disadari. Thompson (1994) mengatakan bahwa regulasi emosi terdiri dari

proses intrinsik dan ekstrinsik yang bertanggung jawab untuk mengenal,

memonitor, mengevaluasi dan membatasi respon emosi khususnya intensitas dan

bentuk reaksinya untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan

bahwa regulasi emosi adalah suatu proses dimana emosi terjadi secara tampak

maupun tersembunyi, baik dengan cara otomatis atau dikontrol, disadari atau tidak

disadari untuk mencapai suatu tujuan.

3. Strategi Regulasi Emosi

Gross (2007) menyatakan bahwa setiap individu memiliki cara meregulasi

emosi yang berbeda-beda. Akan tetapi, Gross menyimpulkannya menjadi 5 cara

meregulasi emosi pada diri individu, yaitu:

a. Situation Selection

Suatu cara dimana individu mendekati atau menghindari orang atau situasi

yang dapat menimbulkan emosi yang berlebihan. Individu akan menentukan

tindakannya berdasarkan dampak emosiPonal yang ditimbulkan. Cara ini akan


17

memberikan pilihan kepada individu untuk mendekati atau menjauhi sesuatu yang

tidak menyenangkan baginya.

Akan tetapi, cara ini biasanya hanya dapat dilakukan dalam jangka pendek dan

biasanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki sifat pemalu dan cenderung

merasa lebih nyaman jika menghindari permasalahan tersebut sementara waktu.

Meski demikian, cara ini juga bisa dilakukan dengan cara bertahan pada hal yang

tidak menyenangkan dikarenakan adanya tekanan dari pihak luar yang membuat

individu tersebut harus bertahan.

b. Situation modification

Suatu cara dimana seseorang mengubah lingkungan sehingga akan ikut

mengurangi pengaruh kuat dari emosi yang timbul. Contohnya, seseorang yang

mengatakan kepada temannya bahwa ia tidak mau membicarakan kegagalan yang

dialaminya agar tidak bertambah sedih.

Individu akan berusaha secara langsung untuk memodifikasi situasi agar

dampak emosionalnya teralihkan. Modifikasi ini biasanya terjadi saat kehadiran

individu lain dalam lingkungannya atau aktivitas lain yang menyita perhatiannya.

c. Attention deployment

Suatu cara dimana seseorang mengalihkan perhatiannya dari situasi yang tidak

menyenangkan untuk menghindari timbulnya emosi yang berlebihan. Contohnya,

seseorang yang menonton film lucu, mendengar musik atau berolahraga untuk

mengurangi kemarahan atau kesedihannya. Individu berusaha untuk mengarahkan

perhatiannya pada situasi yang dapat menekan emosi negatif. Hal ini bisa
18

dilakukan dengan cara mengalihkan perhatiannya pada aspek atau kejadian yang

menyenangkan dan berkonsentrasi pada hal yang menyenangkan.

d. Cognitive change

Suatu strategi dimana individu mengevaluasi kembali situasi dengan

mengubah cara berpikir menjadi lebih positif sehingga dapat mengurangi

pengaruh kuat dari emosi. Contohnya, seseorang yang berpikir bahwa kegagalan

yang dihadapi sebagai suatu tantangan daripada suatu ancaman. Individu akan

menilai situasi untuk mengubah emosi negatifnya, baik dengan cara mengubah

cara berfikir mengena situasi yang tidak diingikannya atau mengenai kemampuan

untuk mengatur tuntunan-tuntutannya.

e. Respon Modification

Individu akan memodifikasi respon atau mengontrol secara langsung respon

emosi sesuai dengan situasi pada saat itu. Meski demikian, ketidakmampuan

seseorang untuk meregulasi emosinya bukan berarti individu tersebut memiliki

gangguan psikologis. Ketidakmampuan tersebut berhubungan dengan tujuan

emosinya. Ketika individu tersebut gagal mencapai tujuan emosinya, maka ia

dapat dikatakan tidak mampu meregulasi emosinya (Rasyid,2012).

4. Ciri-ciri Regulasi Emosi

Individu dikatakan mampu melakukan regulasi emosi jika memiliki kendali

yang cukup baik terhadap emosi yang muncul. Kemampuan regulasi emosi dapat

dilihat dalam lima kecakapan yang dikemukakan oleh Goleman (2004), yaitu:

a. Kendali diri, dalam arti mampu mengelola emosi dan impuls yang merusak

dengan efektif.
19

b. Memiliki hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain.

c. Memiliki sikap hati-hati.

d. Memiliki adaptibilitas, yang artinya luwes dalam menangani perubahan dan

tantangan.

e. Toleransi yang lebih tinggi terhadap frustasi.

f. Memiliki pandangan yang positif terhadap diri dan lingkungannya.

5. Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan regulasi emosi

seseorang, baik secara internal ataupun eksternal. Faktor-faktor tersebut antara

lain:

a. Usia

Usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi regulasi emosi seseorang.

Usia seseorang dihubungkan dengan adanya peningkatan kemampuan regulasi

emosi, dimana semakin tinggi usia seseorang semakin baik kemampuan regulasi

emosinya. Sehingga dengan bertambahnya usia seseorang menyebabkan ekspresi

emosi semakin terkontrol (Maider dalam Coon, 2005).

b. Jenis Kelamin

Beberapa penelitian menemukan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda

dalam mengekspresikan emosi baik verbal maupun ekspresi wajah sesuai dengan

gendernya. Perempuan menunjukkan sifat feminimnya dengan mengekspresikan

emosi sedih, takut, cemas dan menghindari mengekspresikan emosi marah dan

bangga yang menunjukkan sifat maskulin. Perbedaan gender dalam


20

pengekspresian emosi dihubungkan dengan perbedaan dalam tujuan laki-laki dan

perempuan mengontrol emosinya. Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk

menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak

berdaya. Sedangkan laki-laki lebih mengekspresikan marah dan bangga untuk

mempertahankan dan menunjukkan dominasi. Sehingga, dapat disimpulkan

bahwa wanita lebih dapat melakukan regulasi terhadap emosi marah dan bangga,

sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas (Fischer dalam Coon,

2005).

c. Kepribadian

Orang yang memiliki kepribadian ‘neuroticism’ dengan ciri-ciri sensitif,

moody, suka gelisah, sering merasa cemas, panik, harga diri rendah, kurang dapat

mengontrol diri dan tidak memiliki kemampuan coping yang efektif terhadap stres

akan menunjukkan tingkat regulasi emosi yang rendah (Cohen & Armeli dalam

Coon, 2005).

d. Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal dan individual juga mempengaruhi regulasi emosi.

Keduanya berhubungan dan saling mempengaruhi, sehingga emosi meningkat bila

individu yang ingin mencapai suatu tujuan berinteraksi dengan lingkungan dan

individu lainnya. Biasanya emosi positif meningkat bila individu mencapai

tujuannya dan emosi negatif meningkat bila individu kesulitan dalam mencapai

tujuanny (Nisfianoor, 2004).


21

B. Self Disclosure

1. Definisi Self Disclosure

Menurut Johnson (Supratiknya, 1995), keterbukaan diri (self disclosure) adalah

reaksi atau tanggapan seseorang terhadap sesuatu yang sedang dihadapi serta

memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau yang berguna untuk

memahami tanggapan dimasa kini. Menurut Morton (Dayakisni, 2006)

pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang

akrab dengan orang lain. Informasi di dalam pengungkapan diri ini bersifat

deskriptif atau evaluatif. Deskriptif artinya individu melukiskan berbagai fakta

mengenai diri sendiri yang mungkin belum diketahui oleh pendengar seperti, jenis

pekerjaan, alamat dan usia. Sedangkan evaluatif artinya individu mengemukakan

pendapat atau perasaan pribadinya seperti tipe orang yang kita sukai atau hal-hal

yang kita sukai atau kita benci.

Sedangkan Papu (2002) menjelaskan bahwa pengungkapan diri atau self

disclosure dapat diartikan sebagai pemberian informasi tentang diri sendiri kepada

orang lain. Informasi yang diberikan tersebut dapat mencakup berbagai hal seperti

pengalaman hidup, perasaan, emosi, pendapat, cita-cita, dan lain sebagainya.

Pengungkapan diri haruslah dilandasi dengan kejujuran dan keterbukaan dalam

memberikan informasi, atau dengan kata lain apa yang disampaikan kepada orang

lain hendaklah bukan merupakan suatu topeng pribadi atau kebohongan belaka

sehingga hanya menampilkan sisi yang baik saja. Devito (1997), menyatakan

bahwa keterbukaan diri dapat berupa berbagai topik seperti informasi perilaku,

sikap, perasaan, keinginan, motivasi dan ide yang sesuai dan terdapat di dalam
22

diri orang yang bersangkutan. Dengan demikian, self disclosure adalah kegiatan

membagi perasaan dan informasi kepada orang lain yang berisi tentang perilaku,

sikap, perasaan, keinginan, motivasi dan ide yang sesuai.

2. Aspek Self Disclosure

Ada 9 faktor pengungkapan diri menurut Sherwin (1998) yang terdiri dari :

a. Emotional State

Pengungkapan emosi atau perasaan seeorang kepada orang lain. Perasaan,

sikap terhadap suatu situasi menjadi terungkap kepada orang lain.

b. Interpersonal Relationship

Menunjukan sikap ke arah keintiman yang lebih akrab dalam hubungan

interpersonal. Jarak hubungan atau ikatan terbentuk dalam luar keluarga.

c. Personal Matters

Kebenaran pribadi tentang seseorang, kelebihan atau kekurangan, terhadap

sesuatu atau seseorang ditunjukkan dalam kepercayaan seseorang, perasaan atau

perilaku yang diharapkan. Menjadi jujur dan meminta orang lain untuk

mengetahui diri sendiri lebih baik dengan pengungkapan.

d. Problems

Kejadian atau situasi menyedihkan yang dapat dikurangi dengan cara

pengungkapan. Konflik, perselisihan yang dialami oleh seseorang.


23

e. Religion

Kemampuan seseorang untuk berbagi pengalaman, pemikiran, dan emosinya

terhadap Tuhan. Konsep, persepsi, dan pandangan seseorang terhadap agama

dapat dibagi atau diselesaikan di hadapan orang lain.

f. Sex

Sebagai cara berada di dunia wanita dan pria yang masa-masa hidupnya

dihabiskan untuk merasakan berada sepenuhnya bersama dunia dengan jelas-jelas

pria atau wanita. Keinginan seseorang untuk membahas pengalaman, kebutuhan,

dan pandangan seksualnya.

g. Taste

Kesukaan dan ketidaksukaan seseorang terbuka kepada orang lain. Pandangan,

perasaan, apresiasi terhadap orang, tempat, atau benda.

h. Thoughts

Infomasi dalam pikiran yang akan seseorang bagi dengan orang lain. Persepsi

mengenai sebuah benda, atau situasi yang mana dibagi dengan orang lain.

i. Work/study/accomplishment

Tugas seseorang yang diharapkan kepadanya. Tanggung jawab seseorang

diharapkan oleh orang lain dan dipenuhi dalam waktu tertentu.


24

3. Fungsi Self Disclosure

Menurut Derlega dan Grzelak (Dayakisni, 2006) ada 5 (lima) fungsi

keterbukaan diri, antara lain :

a. Ekspresi (expression)

Dalam kehidupan kadang kita mengalami hal-hal yang membuat kecewa

seperti percintaan, pekerjaan. Untuk membuang semua kekecewaan atau

kekesalan itu biasanya kita akan merasa senang bila bercerita kepada teman yang

dipercayai. Dengan adanya keterbukaan diri semacam ini seseorang mendapat

kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya.

b. Penjernihan diri (self clarification)

Dengan saling berbagi rasa dan menceritakan perasaan serta masalah yang

individu hadapi kepada orang lain, individu berharap agar memperoleh penjelasan

dan pemahaman dari orang lain akan masalahnya sehingga pikirannya akan

menjadi lebih jernih dan dapat melihat inti dari persoalan dengan baik.

c. Keabsahan sosial (social validation)

Setelah membicarakan masalah yang dihadapi, biasanya pendengar akan

memberikan tanggapan mengenai permasalahan tersebut. Sehingga dengan begitu,

individu akan mendapatkan informasi yang bermanfaat tentang kebenaran akan

pandangan serta memperoleh dukungan ataupun sebaliknya.

d. Kendali sosial (social control)

Seseorang dapat mengemukakan atau menyembunyikan informasi tentang

keadaan dirinya yang dimaksudkan untuk mengadakan kontrol sosial, misalnya


25

orang akan mengatakan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan baik tentang

dirinya.

e. Perkembangan hubungan (relationship development)

Saling berbagi rasa dan informasi tentang dirinya kepada orang lain serta

saling mempercayai merupakan saran yang paling penting dalam merintis suatu

hubungan sehingga akan semakin terjalin keakraban.

4. Manfaat Self Disclosure

Menurut Devito (Ginau, 2009), ada beberapa manfaat yang akan diperoleh

seseorang jika mau mengungkap informasi diri kepada orang lain, antara lain:

a. Mengenal diri sendiri

Seseorang dapat lebih mengenal diri sendiri melalui keterbukaan diri (self

disclosure), karena dengan mengungkapkan dirinya akan diperoleh gambaran

baru tentang dirinya, dan mengerti lebih dalam perilakunya.

b. Adanya kemampuan menanggulangi masalah

Seseorang dapat mengatasi masalah, karena ada dukungan dan bukan

penolakan, sehingga dapat menyelesaikan atau mengurangi bahkan

menghilangkan masalahnya.

c. Mengurangi Beban

Jika individu menyimpan rahasia dan tidak mengungkapkannya kepada orang

lain, maka akan terasa berat sekali memikulnya. Dengan adanya keterbukaan diri,

individu akan merasakan beban itu terkurangi, sehingga orang tersebut ringan

beban masalah yang dihadapinya.


26

5. Faktor yang Mempengaruhi Self Disclosure

Adapun faktor yang dapat mempengaruhi self disclosure menurut Devito

(1997) adalah :

a. Efek Diadik

Dalam proses self disclosure nampaknya individu-individu yang terlibat

memiliki kecenderungan mengikuti norma resiprok (timbal balik). Bila seseorang

menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi, maka akan cenderung memberikan

reaksi yang sepadan. Pada umumnya mengharapkan orang lain memperlakukan

sama seperti memperlakukan mereka.

b. Jumlah Pendengar

Sejumlah ketakutan yang dimiliki individu dalam mengungkapkan diri membuat

pengungkapan diri lebih efektif dilakukan dalam jumlah pendengar yang sedikit dalam

mengungkapkan diri akan lebih mudah bagi individu untuk menghadapi reaksi satu orang

daripada reaksi kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang. Satu pendengar

memudahkan individu dalam mengontrol apakah pengungkapan diri individu harus

dilanjutkan atau dihentikan, dibandingkan sejumlah pendengar yang memiliki sejumlah

respon. Jumlah pendengar lebih dari satu akan menghasilkan variasi respon dan apa yang

diungkapkan individu akan dianggap sebagai hal yang umum karena banyak orang yang

tahu.

c. Topik Bahasan

Pada awalnya orang akan selalu berbicara hal-hal yang umum saja. Makin

akrab maka akan makin mendalam topik pembicaraan kita. Tidak mungkin kita

berbicara soal-soal yang sangat pribadi, pada orang yang baru kita kenal atau

orang yang tidak akrab. Kita akan lebih memilih topik percakapan yang umum,
27

seperti soal cuaca, politik secara umum, kondisi keuangan negara atau kondisi

sosial.

d. Perasaan Menyukai

Seseorang membuka diri pada orang yang disukaiatau dicintai dan bukan

sebaliknya. Seseorang juga membuka lebih banyak pada orang yang dipercayai

(Wheeles dan Grotz, dalam Devito, 1997).

e. Jenis Kelamin

Beberapa penelitian menunjukkan ternyata wanita memang lebih terbuka

dibandingkan dengan pria. Meski bukan berarti pria juga tidak melakukan self

disclosure. Bedanya, apabila wanita mengungkapkan dirinya pada orang yang dia

sukai maka pria mengungkapkan dirinya pada orang yang dipercayainya.

f. Ras, Kebangsaan, dan Usia

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ras-ras tertentu yang lebih sering

melakukan pengungkapan diri dibandingkan dengan ras lainnya. Misalnya kulit putih

Amerika lebih sering melakukan pengungkapan diri dibandingkan dengan orang Negro.

Begitu juga dengan usia, pengungkapan diri lebih banyak dilakukan oleh pasangan yang

berusia antara 17-50 tahun, dibandingkan dengan orang yang lebih muda atau yang lebih

tua.

g. Mitra dalan Hubungan

Tingkat keakbaran sebagai penentu kedalaman pengungkapan diri, maka lawan

komunikasi atau mitra dalam hubungan akan menentukan pengungkapan diri. Hal ini

dimaksudkan bahwa pengungkapan diri yang dilakukan kepada individu yang dianggap

sebagai orang dekat, misalnya anggota keluarga atau teman dekat.


28

h. Kepribadian

Orang-orang yang pandai bergaul (sociable) dan ekstrovert melakukan

pengungkapan diri lebih banyak daripada mereka yang kurang pandai bergaul

dan introvert. Orang yang kurang berani bicara pada umumnya juga kurang

mengungkapkan diri daripada mereka yang merasa lebih nyaman dalam

berkomunikasi.

C. Dewasa Awal

1. Definisi Dewasa Awal

Istilah adult atau dewasa berasal dari kata kerja latin, yang berarti “tumbuh

menjadi dewasa”. Akan tetapi adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata

kerja adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang

sempurna”, atau “telah menjadi dewasa”. Hurlock (1993) mengungkapkan orang

dewasa adalah seseorang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap

menerima kedudukannya di dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa

lainnya. Lebih lanjut Hurlock (1993) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai

pada usia 18 tahun sampai kira-kira 40 tahun, secara umum mereka yang

tergolong dewasa awal ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Vaillant (Papalia,

2008) membagi tiga masa dewasa yaitu masa pembentukan, masa konsolidasi dan

masa transisi. Masa pembentukan dimulai pada usia 20 hingga 30 tahun dengan

tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari orang tua, membentuk keluarga

baru dengan pernikahan dan mengembangkan persahabatan. Masa konsolidasi

dimulai pada usia 30-40 tahun merupakan masa konsolidasi karir dan memperkuat

ikatan perkawinan, sedangkan masa transisi sekitar usia 40 tahun merupakan masa
29

meningalkan kesibukan, pekerjaan dan melakukan evaluasi terhadap hal telah

diperoleh. Menurut Erikson (Santrock, 2002), masa dewasa awal berada pada

tahap intimacy vs isolation, pada masa ini individu menghadapi tugas

perkembangan untuk membentuk relasi intimasi dengan orang lain. Erikson juga

menggambarkan keintiman sebagai penemuan terhadap diri sendiri pada orang

lain, tanpa harus kehilangan diri sendiri.

2. Ciri-Ciri Dewasa Awal

Menurut Santrock (2002), terdapat 3 aspek yang dapat dilihat sebagai ciri dari

perkembangan usia dewasa awal, yakni perkembangan fisik, perkembangan

sosioemosional, dan perkembangan kognitif.

a. Perkembangan Fisik

Dewasa awal merupakan masa transisi remaja ke dewasa. Transisi ini

dikemukakan oleh Kenniston adalah periode kesementaraan ekonomi dan pribadi,

dan perjuangan antara ketertarikan pada kemandirian dan menjadi terlibat secara

sosial. Status fisik puncak dewasa awal dicapai antara umur 18-30 tahun, terutama

antara umur 19-26 tahun. Kesehatan dewasa awal pada tahun-tahun tersebut juga

mencapai puncaknya. Dalam masa akhir dewasa awal, pelambatan dan penurunan

kondisi fisik mulai tampak dan ketergantungan pada obat-obatan adalah persoalan

yang umum terjadi.

b. Perkembangan Psikososial

Erikson berpendapat bahwa keintiman versus isolasi, fase keenam dari

delapan fase yang dikemukakannya tentang siklus kehidupan yang terjadi pada

masa dewasa awal. Menurut Erikson jika keintiman tidak terjadi pada masa
30

dewasa awal, maka individu mungkin akan mengalami isolasi. Pada saai ini

individu menghadapi tugas membentuk hubungan intim dengan orang lain.

Erikson menggambarkan keintiman sebagai penemuan diri sendiri sekaligus

kehilangan diri sendiri dalam diri orang lain. Jika seorang dewasa membentuk

persahabatan yang sehat dan sebuah hubungan yang intim dengan orang lain,

keintiman akan dicapai, tetapi jika tidak, hasilnya adalah isolasi.

Ketidakmampuan untuk membangun hubungan yang bermakna dengan orang

lain dapat berbahaya bagi kepribadian individu. Hal itu mungkin menyebabkan

seseorang menolak, mengabaikan, atau menyerang orang-orang yang dianggap

membuat mereka frustasi. Erikson percaya bahwa hal itu akan terjadi, cepat atau

lambat seorang individu akan beralih pada instropeksi diri untuk menemukan

dalam hal apa mereka melakukan kesalahan. Instropeksi ini kadang akan

menimbulkan depresi dan isolasi yang menyakitkan dan mungkin berkontribusi

pada ketidakpercayaan terhadap orang lain dan menghambat keinginan seseorang

untuk bertindak atas inisiatifnya sendiri.

c. Perkembangan Kognitif

Piaget berpendapat bahwa caraberpikir dewasa awal sama dengan remaja

yakni operasional formal, namun menurut William Perry terdapat perubahan-

perubahan penting tentang cara berpikir dewasa awal. Pada dewasa awal

pemikirannya mulai matang dan mulai menyadari perbedaan pendapat dan

berbagai perspektif yang dipegang orang lain. Dewasa awal mulai menyadari jika

orang lain tidak selalu memiliki jawaban.


31

D. Jejaring Sosial Facebook

Facebook adalah situs jejaring sosial atau disebut juga layanan jaringan sosial

secara online yang memungkinkan penggunanya saling berinteraksi dan berbagi

informasi di seluruh dunia. Facebook adalah website jejaring sosial dimana para

penggunanya dapat bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan

daerah untuk melakukan hubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Orang

juga dapat menambahkan teman-teman mereka, mengirim pesan, dan

memperbaharui prifil pribadi agar orang lain dapat melihat tentang dirinya.

Facebook atau disingkat FB adalah sebuah situs website jejaring sosial yang

diluncurkan pada 4 februari 2004. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg

seorang mahasiswa Harvard kelahiran 14 Mei 1984 dan mantan murid Ardsley

High School (Chairunnisa, 2010).

E. Peran Regulasi Emosi Terhadap Self Disclosure Pada Pasangan Suami

Istri yang Menggunakan Jejaring Sosial Facebook

Hubungan antar pribadi sangat penting bagi hubungan suami istri, supaya

antar keduanya dapat saling mengerti perasaan dan saling memahami serta

menciptakan hubungan yang baik. Supaya hubungan yang baik dapat terwujud di

antara suami istri, maka diperlukan komunikasi antara suami dan istri. Menurut

Karel, Sondakh, dan Pasoreh (2014) mengatakan bahwa peran terpenting

komunikasi adalah membangun kedekatan dan keintiman dengan pasangan.

Munculnya media komunikasi dan informasi di internet dalam kehidupan

manusia menghadirkan banyak fasilitas yang bisa diperoleh oleh suami istri

melalui internet dalam menjalin komunikasi, salah satunya adalah media jejaring
32

sosial. Salah satu media jejaring sosial yang digunakan oleh suami istri adalah

facebook. Melalui facebook suami istri bisa mengungkapkan perasaan, pikiran,

dan informasi apapun yang sedang atau sudah terjadi mengenai diri sendiri

maupun orang lain. Menurut Jourard (Sari, Tri & Achmad, 2006) proses

penyampaian informasi yang berhubungan dengan diri sendiri kepada orang lain

disebut pengungkapan diri atau self disclosure. Facebook merupakan salah satu

media jejaring sosial yang digunakan oleh suami istri untuk melakukan self

disclosure. Adanya fasilitas dalam facebook membuat proses self disclosure pada

pasangan suami istri semakin mudah. Devito (1997) menjelaskan, individu

melakukan self disclosure salah satunya karena seseorang merasa perlu

menghilangkan perasaan bersalah dengan mengungkapkannya. Selain itu,

melakukan self disclosure bisa jadi untuk membantu menjelaskan sesuatu kepada

orang lain. Sebagaimana fungsi self disclosure menurut Devito (2007) adalah

ekspresi dimana dengan pengungkapan diri seseorang bisa mempunyai

kesempatan untuk mengekpresikan perasaannya.

Setiap suami dan istri tidak hanya membutuhkan self disclosure namun

pengaturan emosi pun tidak kalah pentingnya dalam menjalin sebuah hubungan.

Pengaturan emosi sangat diperlukan agar tercipta hubungan yang romantis,

harmonis, dan tidak ada sebuah salah paham. Menurut Frijda (Nisfiannoor &

Kartika, 2004) seseorang tidak hanya memiliki emosi, tetapi juga perlu mengatur

emosi mereka, dalam arti mereka perlu mengambil sikap terhadap emosi mereka

dan menerima konsekuensi dari tindakan emosional mereka. Menurut Gross dan

Thompson (2007) regulasi emosi adalah serangkaian proses dimana emosi diatur
33

sesuai dengan tujuan individu, baik dengan cara otomatis atau dikontrol, disadari

atau tidak disadari dan melibatkan banyak komponen yang bekerja terus menerus

sepanjang waktu. Bagi hubungan suami istri pengaturan emosi sangat diperlukan

agar tercipta hubungan yang romantis, harmonis, dan tidak ada kesalahpahaman.

Menurut Ubaidillah (2014) seseorang yang dengan kemampuan mengelola emosi

dengan baik mampu mengontrol emosi serta mampu menyeimbangkan rasa

marah, kecewa, frustasi, putus asa, dalam menghadapi banyak hal dan peristiwa.

Oleh karena itu, regulasi emosi diperlukan oleh suami dan istri ketika

melakukan self disclosure sebagai salah satu cara bagi suami istri untuk

membangun keakraban dalam upaya mengatasi konflik atau untuk

mengungkapkan perasaan supaya terjalin hubungan yang semakin akrab dan

intim. Dimana hasil regulasi emosi tersebut dapat berupa perilaku yang

ditingkatkan, dikurangi, atau dihambat dalam ekspresinya. Dalam regulasi emosi

terdapat keinginan-keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu pada situasi

tertentu dan hal tersebut mendorong seseorang untuk melakukan self disclosure

sesuai dengan perasaannya pada saat itu melalui ekspresi yang dihasilkan dengan

tulisan melalui media sosial facebook. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui

bahwa hubungan emosi regulasi terhadap self discosure memiliki keterikatan.

Dimana semakin tinggi regulasi emosi antara suami istri, maka semakin rendah

self disclosure pada pasangan suami istri.


34

F. Kerangka Pemikiran

Regulasi Self Disclosure melalui


Emosi Jejaring Sosial Facebook

Gambar 1. Kerangka Pemikiran


Keterangan:

Dalam menciptakan hubungan yang baik bagi suami istri diperlukan

komunikasi antar keduanya supaya antar keduanya dapat saling mengerti perasaan

dan saling memahami serta menciptakan hubungan yang baik. Karel, Sondakh,

dan Pasoreh (2014) mengatakan bahwa peran terpenting komunikasi adalah

membangun kedekatan dan keintiman dengan pasangan. Dalam komunikasi

diperlukan pula adanya regulasi emosi sebagai bentuk kontrol yang dilakukan

seseorang terhadap emosi yang dimilikinya. Menurut Ubaidillah (2014) seseorang

yang dengan kemampuan mengelola emosi dengan baik mampu mengontrol

emosi serta mampu menyeimbangkan rasa marah, kecewa, frustasi, putus asa,

dalam menghadapi banyak hal dan peristiwa. Hasil regulasi dapat berupa perilaku

yang ditingkatkan, dikurangi, atau dihambat dalam ekspresinya.

Bukan hanya regulasi emosi yang diperlukan oleh suami dan istri dalam

menciptakan hubungan, namun juga perlu adanya self disclosure supaya pasangan

bisa saling terbuka satu sama lain. Devito (1997) menjelaskan, individu

melakukan self disclosure salah satunya karena seseorang merasa perlu

menghilangkan perasaan bersalah dengan mengungkapkannya. Di saat yang lain

mungkin seseorang ingin terlihat baik dengan mengungkapkan hal- hal baik dari

dirinya. Selain itu melakukan self disclosure bisa jadi untuk membantu

menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Facebook merupakan salah satu media
35

jejaring sosial yang digunakan oleh suami istri untuk melakukan self disclosure.

Dengan media facebook suami istri dapat mengungkapkan ekspresi mereka

dimana hal tersebut merupakan salah satu fungsi dari self disclosure. Adanya

fasilitas dalam facebook membuat proses self disclosure pada suami istri semakin

mudah.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, perlunya regulasi emosi ketika

suami istri melakukan self disclosure di media sosial facebook sebagai cara dalam

mengungkapkan perasaanya yang hasil dari regulasi dapat berupa perilaku yang

ditingkatkan, dikurangi, atau dihambat dalam ekspresinya ketika suami istri

melakukan self disclosure. Dari hal tersebut maka peneliti memperkirakan adanya

pengaruh antara regulasi emosi terhadap self discosure pada suami istri yang

menggunakan jejaring sosial facebook.

G. Perumusan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang

dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan yang deklaratif (Azwar, 2012).

Berdasarkan permasalahan di atas, dapat diambil hipotesis dalam penelitian ini

yaitu:

Ha : Terdapat peran regulasi emosi terhadap self discosure pada suami istri

yang menggunakan jejaring sosial facebook

H0 : Tidak terdapat peran regulasi emosi terhadap self discosure pada suami

istri yang menggunakan jejaring sosial facebook


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Desain penelitian merupakan salah satu pelaksanaan penelitian yang

penting. Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian kuantitatif,

yaitu suatu desain yang memungkinkan dilakukannya pencatatan data hasil

penelitian secara nyata dalam bentuk angka, sehingga memudahkan proses

analisis dan penafsirannya dengan menggunakan perhitungan-perhitungan

(Azwar, 2010).

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang

bersifat korelasional. Penelitian korelasional bertujuan untuk menyelidiki sejauh

mana variasi pada satu variable berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih

variable lain yang berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2010).

Penelitian ini terdapat satu variable bebas (independent) dan satu variable

terikat (dependent). Kedua variable tersebut akan dilakukan penelitian dengan

tujuan untuk melihat pengaruh antara dua buah variabel, yaitu peran regulasi

emosi terhadap self disclosure pasangan suami istri yang menggunakan jejaring

sosial facebook.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek

atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

36
37

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011). Variabel yang

digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Variabel bebas atau variable independent (X)

Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah Regulasi Emosi.

2. Variabel terikat atau variable dependent (Y)

Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah Self Disclosure Suami Istri

yang menggunakan Facebook.

C. Definisi Operasional

1. Regulasi Emosi

Regulasi emosi adalah suatu proses dimana emosi terjadi secara tampak

maupun tersembunyi, baik dengan cara otomatis atau dikontrol, disadari atau tidak

disadari untuk mencapai suatu tujuan dengan 5 strategi meregulasi emosi pada diri

individu, yaitu menyeleksi situasi, modifikasi situasi, mengarahkan perhatian,

perubahan kognitif, modifikasi respon.

2. Self Disclosure

Self disclosure merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi kepada

pasangan dan orang lain supaya diketahui oleh orang yang ditujukan tersebut yang

meliputi 6 aspek untuk self disclosure yaitu emotional state, interpersonal

relationship, personal matters, problems, religion, sex, taste, thoughts,

work/study/accomplishment.
38

D. Populasi, Sampel dan Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011). Jadi populasi

bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi

juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi

meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu

(Sugiyono, 2011). Populasi dalam penelitian ini adalah Suami Istri yang

menggunakan Jejaring Sosial Facebook di Kota Probolinggo

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2011). Sampel dari penelitian ini yaitu suami istri

yang menggunakan jejaring sosial facebook dengan karakteristik yang sama

dengan populasi. Adapun karakteristik untuk subjek penelitian ini yang digunakan

adalah sebagai berikut:

a. Suami dan istri

b. Usia 21-40 tahun

c. Suami dan istri mempunyai akun facebook sendiri-sendiri

d. Menggunakan jejaring sosial facebook

Sampel yang digunakan sebagai uji coba (try out) adalah 30 suami dan 30

istri di kota Probolinggo. Pada saat penelitian, peneliti melibatkan 109 suami dan
39

109 istri yang sesuai dengan kriteria. Peneliti menentukan jumlah sampel

berdasarkan perhitungan sampel yang dirumuskan oleh Cooper dan Emory

(1995):

𝜌𝑞
𝜎𝜌 = √
𝑛−1

Dimana:

n : ukuran sampel

σρ : 0,051= kesalahan proporsi standart (0,10/1,96)

ρq : ukuran penyebaran sampel (disini dipakai sebagai estimasi

penyebaran populasi)

1,96 σρ : tingkat keyakinan 95% untuk mengestimasi interval yang


digunakan untuk mengharapkan proporsi populasi
𝜌𝑞
𝜎𝜌 = √
𝑛−1
𝜌𝑞
𝑛= +1
𝜎2
0,25
𝑛= +1
(0,051)2
𝑛 = 97, dibulatkan menjadi 100
Berdasarkan rumus di atas, maka sampel penelitian yang diambil dalam

penelitian ini adalah 218 responden suami dan istri, dimana subjek penelitian

dilakukan secara online dan offline. Dilakukan secara online, yakni dengan

memberikan skala kepada responden suami istri melalui internet. Sedangkan

secara offline yakni dengan memberikan skala kepada suami istri yang

mempunyai dan menggunakan facebook serta menyertakan alamat facebook yang

digunakan sebagai bukti bahwa menggunakan dan mempunyai facebook.


40

Menyebarkan skala secara online yang menggunakan google docs serta secara

offline dengan menyebar skala kepada suami istri secara langsung.

3. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive

sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sehingga

layak untuk dijadikan sampel (Sugiyono, 2011). Pemilihan teknik sampling ini

disesuaikan dengan kondisi populasi penelitian sehingga diharapkan mendapatkan

subjek penelitian yang tepat.

E. Tahapan Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahap persiapan,

pelaksanaan dan penganalisaan data.

1. Tahap Persiapan

a. Melakukan observasi di facebook untuk mencari suami istri yang

menggunakan facebook dalam kesehariannya

b. Pembuatan alat ukur, terdapat dua skala yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu :

1) Skala Regulasi Emosi

Skala regulasi emosi mengacu pada teori Gross (2007), yang meliputi

menyeleksi situasi, modifikasi situasi, mengarahkan perhatian, perubahan

kognitif, modifikasi respon.


41

2) Skala Self Disclosure

Skala self disclosure mengacu pada teori Sherwin (1998) yang terdiri dari

aspek-aspek yang meliputi emotional state, interpersonal relationship,

personal matters, problems, religion, sex, taste, thoughts,

work/study/accomplishment.

c. Melakukan uji coba (tryout) yang berfungsi untuk mengetahui tingkat

keabsahan dan keandalan dari aitem-aitem yang ada.

d. Melakukan revisi alat ukur yaitu dengan cara mempertahankan aitem-aitem

yang lulus validitas dan reliabilitas dan membuang aitem-aitem yang gugur

dan yang tidak memenuhi kualifikasi, kemudian menyusunnya kedalam alat

ukur yang digunakan untuk pengambilan data.

2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini dilakukan kegiatan-kegiatan diantaranya penyebaran instrument

penelitian dengan skala regulasi emosi dan self disclosure, dengan memberikan

skala kepada subjek penelitian, yaitu suami istri yang menggunakan dan

mempunyai jejaring sosial facebook. Penyebaran skala dilakukan secara online

dan offline. Dilakukan secara online, yakni dengan memberikan skala kepada

responden suami istri melalui internet yang menggunakan google docs.

Sedangkan secara offline yakni dengan memberikan skala kepada suami istri yang

mempunyai dan menggunakan facebook serta menyertakan alamat facebook yang

digunakan sebagai bukti bahwa mempunyai serta menggunakan facebook.

Skala yang diberikan kepada subjek telah memenuhi syarat validitas dan

reliabilitas, hal tersebut setelah dilakukannya uji coba terhadap aitem-aitem pada
42

skala. Peneliti terlebih dahulu menjelaskan tujuan penelitian dan meminta

kesediaan subjek dalam partisipasinya sebagai subjek penelitian. Subjek

penelitian merupakan suami istri yang menggunakan jejaring sosial facebook

berjumlah 218 orang yang terdiri dari 109 suami dan 109 istri.

3. Tahap Analisa Data

Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan kegiatan, seperti:

a. Pengecekan kembali data yang telah terkumpul untuk mengetahui skala

yang layak dan skala yang gugur

b. Analisis data dengan menggunakan perhitungan statistik untuk menguji

hipotesis dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows

c. Penafsiran hasil analisa data

d. Melakukan interpretasi berdasarkan teori dan kerangka berpikir yang

diajukan sebelumnya dan selanjutnya merumuskan kesimpulan dari hasil

penelitian.

F. Sumber Data

Menurut sumbernya, data penelitian digolongkan sebagai data primer dan

data sekunder. Data primer, atau data tangan pertama adalah data yang diperoleh

langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat

pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari.

Sedangkan data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh lewat

pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya

(Azwar, 2010). Data yang peneliti kumpulkan pada penelitian ini adalah data
43

primer. Data primer diperoleh dengan menggunakan skala regulasi emosi dan

skala self disclosure.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan segala peralatan yang digunakan untuk

memperoleh, mengelola, dan menginterpretasikan informasi dari para responden

yang dilakukan dengan pola pengukuran yang sama (Sugiyono, 2010). Model

skala yang digunakan pada penelitian ini adalah skala model Likert, skala model

Likert menggunakan pernyataan sebagai perangsang bagi subjek untuk

merepresentasikan keadaannya. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,

pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial

(Sugiyono, 2011).

Tabel 1. Skoring Instrumen


Aitem Favorable Aitem Unfavorable
Alternatif respons Skor Alternatif respons Skor
Sangat setuju 4 Sangat setuju 1
Setuju 3 Setuju 2
Tidak setuju 2 Tidak setuju 3
Sangat tidak setuju 1 Sangat tidak setuju 4

Tahap awal dalam pembuatan sebuah skala adalah pembuatan blueprint.

Blueprint adalah pedoman dalam menyusun sebuah skala. Berikut ini adalah

blueprint dari skala-skala yang peneliti gunakan dalam penelitian ini:

1. Skala Regulasi Emosi

Skala Regulasi Emosi, digunakan untuk mengontrol emosi pada diri subjek

penelitian yang mengacu pada teori regulasi emosi Gross (2007), yaitu
44

menyeleksi situasi, modifikasi situasi, mengarahkan perhatian, perubahan

kognitif, modifikasi respon Skala ini diadaptasi dari penelitian Natalia (2015)

terdiri dari 25 item valid dengan nilai koefisien realibilitas Cronbach’s Alpha

sebesar 0,732. Berikut blue print dari skala regulasi emosi :

Tabel 2. Blue Print Skala Regulasi Emosi Sebelum Uji Coba


No Dimensi Item Jumlah
Favorable Unfavorable
1 Seleksi Situasi 1*, 18* 6, 14*, 21* 5

2 Modifikasi Situasi 7*, 13*, 22 2, 17* 5

3 Menyebarkan Perhatian 3*, 12 8, 19, 23 5

4 Mengubah Kognitif 9, 15 4*, 11, 24 5


5 Modulasi Respon 5, 10*, 16*, 5
20, 25
Total 10 16 25
Keterangan : (*) = Item gugur

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan oleh peneliti, didapatkan hasil

realibilitas dari skala regulasi emosi sebesar 0,829 dengan nilai corrected item-

total 0,3. Jumlah item gugur sebanyak 11 item (1, 3, 4, 7, 10, 13, 14, 16, 17, 18,

21) dari jumlah total item 25. Setelah dilakukan uji coba skala regulasi emosi,

adapun rincian item yang lolos pada skala regulasi emosi yang akan digunakan

sebagai penelitian , dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 3. Blue Print Skala Regulasi Emosi Setelah Uji Coba


No Dimensi Item Jumlah
Favorable Unfavorable
1 Seleksi Situasi 6 1

2 Modifikasi Situasi 22 2 2

3 Menyebarkan Perhatian 12 8, 19, 23 4


45

4 Mengubah Kognitif 9, 15 11, 24 4

5 Modulasi Respon 5, 20, 25 3

Total 4 10 14

2. Skala Self Disclosure

Self disclosure digunakan untuk mengetahui pengungkapan diri pasangan

yang mengacu pada teori Sherwin (1998). Skala ini diadaptasi dari penelitian

Pamuncak (2011) berdasarkan aspek-aspek yang terdiri dari emotional state,

interpersonal relationship, personal matters, problems, religion, sex, taste,

thoughts, work/study/accomplishment yang terdiri dari 30 item valid dengan nilai

koefisien realibilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,841. Berikut blue print dari skala

self disclosure :

Tabel 4. Blue Print Skala Self Disclosure Sebelum Uji Coba

No Aspek Indikator Jumlah Item Total


Favorable Unfavorable
1 Masalah Tentang pribadi 1, 19, 26 18 4
Pribadi diri sendiri

2 Ide dan a. Berbagi ide 17, 20 2*, 27* 4


Pemikiran dengan orang
lain
b. Persepsi situasi
bersama
3 Agama Kemampuan 3, 28 16 3
berbagi
pengalaman,
pikiran dan emosi
tentang Tuhan
dengan pasangan
4 Bekerja, Tugas dan 15, 22 4* 3
Belajar, tanggung jawab
Prestasi
46

5 Seks Kesediaan untuk 5 14* 2


membahas
pengalaman
seksual, kebutuhan
dan pandangannya

6 Hubungan Hubungan atau 13, 23 6*, 29 4


Interpersonal ikatan yang
terbentuk diluar
lingkungan
keluarga

7 Keadaan a.Penyataan emosi 7, 24 12* 3


Emosi
b.Perasaan, sikap
terhadap situasi
yang disampaikan
kepada orang lain
8 Rasa Pandangan, 11*, 30 8* 3
perasaan, apresiasi
terhadap tempat
atau benda

9 Masalah a. Peristiwa atau 9, 21 10, 25* 4


situasi yang
dapat
diringankan
melalui
pengungkapan
b. Konflik,
perselisihan yang
dialami oleh
seorang individu
Total 18 12 30
Keterangan : (*) = Item gugur

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan oleh peneliti, didapatkan hasil

realibilitas dari skala self disclosure sebesar 0,880 dengan nilai corrected item-

total 0,3. Jumlah item gugur sebanyak 8 item (2, 4, 6, 8, 11, 12, 14, 25, 27) dari

jumlah total item 30. Setelah dilakukan uji coba skala self disclosure, adapun
47

rincian item yang lolos pada skala self disclosure yang akan digunakan sebagai

penelitian , dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5. Blue Print Skala Self Disclosure Setelah Uji Coba

No Aspek Indikator Jumlah Item Total


Favorable Unfavorable
1 Masalah Tentang pribadi diri 1, 19, 26 18 4
Pribadi sendiri

2 Ide dan a.Berbagi ide 17, 20 2 3


Pemikiran dengan orang lain
b.Persepsi situasi
bersama

3 Agama Kemampuan 3, 28 16 3
berbagi
pengalaman,
pikiran dan emosi
tentang Tuhan
dengan pasangan

4 Bekerja, Tugas dan tanggung 15, 22 2


Belajar, jawab
Prestasi

5 Seks Kesediaan untuk 4 1


membahas
pengalaman
seksual, kebutuhan
dan pandangannya

6 Hubungan Hubungan atau 13, 23 5, 29 4


Interpersonal ikatan yang
terbentuk diluar
lingkungan
keluarga

7 Keadaan a.Penyataan emosi 24 1


Emosi
b.Perasaan, sikap
terhadap situasi
yang disampaikan
kepada orang lain
48

8 Rasa Pandangan, 30 6 2
perasaan, apresiasi
terhadap tempat
atau benda

9 Masalah a.Peristiwa atau 7, 21 2


situasi yang dapat
diringankan melalui
pengungkapan
b.Konflik,
perselisihan yang
dialami oleh
seorang individu
Total 16 6 22

H. Pengujian Instrumen Penelitian

1. Reliabilitas

Reliabilitas berarti keajegan, suatu alat ukur dikatakan reliabel apabila

instrumen tersebut dipergunakan secara berulang memiliki memberikan hasil ukur

yang sama. Pengukuran yang reliabel ialah suatu pengukuran yang mampu

menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi (Azwar, 2012).

Teknik yang digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen adalah

dengan menggunakan formula koefisien Cronbach Alpha. Suatu variabel di dalam

suatu instrumen dinyatakan reliable jika nilai koefisien Cronbach Alpha lebih

besar dari 0,6. Rumus penggujian reliabilitas dengan teknik Cronbach Alpha

adalah:

𝑘 𝛴𝑠𝑖2
α= (1 − )
𝑘−1 𝑠2

Kriteria indeks lengkap diuraikan sebagai berikut (Arikunto, 2006).


49

Tabel 6. Kriteria Reliabilitas Berdasarkan Cronbach Alpha


No Interval Kriteria
1 < 0,20 Sangat Rendah
2 0,20 – 0,39 Rendah
3 0,40 – 0,59 Cukup Tinggi
4 0,60 – 0,79 Tinggi
5 0,80 – 0,100 Sangat Tinggi

Hasil perhitungan estimasi Cronbach’s Alpha dengan bantuan pogram

SPSS (Statistical Product and Service Solution) for windows versi 16.0 untuk

setiap variabel skala penelitian adalah sebagai berikut :

Tabel 7. Hasil Uji Realibilitas


Score Cronbach’s
No Variabel Kriteria
Alpha
1 Regulasi Emosi 0,829 Sangat Tinggi

2 Self Disclosure 0,880 Sangat Tinggi

Uji realibilitas alat ukur regulasi emosi menunjukkan koefisien realibilitas

Cronbach’s Alpha sebesar 0,829. Hasil tersebut menunjukkan bahwa alat ukur

valid dan layak untuk dijadikan alat ukur penelitian. Begitu juga dengan alat ukur

self disclosure memiliki koefisien realibilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,880

yang menunjukkan bahwa alat ukur valid dan layak untuk dijadikan alat ukur

penelitian.

I. Analisa Data

1. Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2006) menyatakan bahwa uji normalitas adalah untuk

menguji apakah model regresi variable independennya dan variable dependennya


50

memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki

distribusi data normal atau mendekati normal. Uji normalitas dilakukan dengan uji

Kolmogorov-smirnov satu arah atau analisis grafik. Dasar pengambilan keputusan

normal atau tidaknya data yang diolah adalah sebagai berikut:

a. Jika angka signifikasi Uji Kolmogorov Smirnov >0,05 maka distribusi

sampel normal

b. Jika angka signifikasi Uji Kolmogorov Smirnov <0,05 maka distribusi

sampel tidak normal

2. Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variable mempunyai

hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Linearitas data dapat dilihat

melalui signifikansi, dimana nilai Sig. lebih kecil 0,05 berarti data tersebut linear,

sedangkan apabila nilai Sig. lebih besar 0,05 berarti data tersebut tidak linear

(Priyatno, 2009).

J. Uji Hipotesis

Penelitian ini menggunakan model regresi linier sederhana. Regresi linier

sederhana dapat digunakan untuk memprediksikan seberapa jauh hubungan

fungsional ataupun kausal satu variabel independen (X) dengan satu variabel

dependen (Y) (Siregar, 2013).

Untuk menguji keberartian koefisien regresi secara simultan, maka

dilakukan uji F (F test) dilakukan dengan bantuan SPSS untuk mengetahui tingkat

signifikansi pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel

terikat, atau melihat signifikansi dari pengaruh variabel-variabel secara


51

keseluruhan terhadap variabel dependen. Uji F digunakan untuk menguji apakah

dimensi dari variabel bebas neuroticism secara simultan berpengaruh terhadap

perilaku agresi. Dasar pengambilan keputusan adalah jika nilai F hitung < F tabel

atau nilai signifikansi F > 0,05, maka H0 diterima artinya tidak ada pengaruh

terhadap secara simultan antara variabel-variabel bebas (X) terhadap variabel

terikat (Y). Jika nilai F hitung > F tabel atau nilai signifikansi F < 0,05, maka H0

ditolak artinya ada pengaruh terhadap secara simultan antara variabel-variabel

bebas terhadap variabel terikat (Y).


BAB IV

PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Analisis Data Deskriptif

Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai

subyek penelitian berdasarkan data dari variabel yang diperoleh dari

kelompok subyek yang diteliti dan tidak dimaksudkan untuk pengujian

hipotesis (Azwar, 2012).

a. Analisis Deskriptif Berdasarkan Kategori Data Demografis Penelitian

Analisis deskriptif dilakukan dengan cara mengkategorikan subjek

penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah suami istri yang menggunakan

jejaring sosial facebook. Tabel analisis deskriptif berdasarkan kategori data

demografis subjek penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 8. Analisis Deskriptif Berdasarkan Data Demografis


Analisis
Kategori Jumlah Persentase
Berdasarkan
21-30 189 87%
Usia
31-40 29 13%
Laki-Laki 109 50%
Jenis Kelamin
Perempuan 109 50%
Setiap Hari 126 58%
Seberapa Sering
Menggunakan 3-7 Kali Seminggu 56 26%
FB
2 Minggu Sekali 29 13%

52
53

Lain-Lain 7 3%
Memperbaharui Status 56 26%
Kegiatan Membagikan Foto 69 32%
Menggunakan
FB Membagikan Artikel 46 21%
Lain-lain 46 21%
Jumlah 218 100%

Berdasarkan tabel 8 dapat kita ketahui jumlah subjek dari beberapa

kategori. Pertama adalah kategorisasi usia, subjek terbanyak berada pada usia

21-30 tahun dengan jumlah 189 orang ( 87%). Kedua adalah kategori jenis

kelamin, pada penelitian ini subjek sama banyak karena penelitian dilakukan

kepada suami dan istri, yaitu dengan jumlah 109 orang laki-laki dan 109

orang perempuan. Ketiga adalah kategori seberapa sering menggunakan

facebook, subjek terbanyak memilih setiap hari dengan jumlah 126 orang

(58%). Terakhir adalah kegiatan menggunakan facebook, subjek terbanyak

memilih membagikan foto dengan jumlah 69 orang dengan persentase

sebesar (39%).

b. Analisis Deskriptif Berdasarkan Variabel X (Regulasi Emosi) dan

Variabel Y (Self Disclosure)

Sebelum dilakukan analisis deskriptif berdasarkan variabel X dan Y, maka

perlu dilakukan perhitungan untuk mengetahui skor yang diperoleh dalam

penelitian, seperti nilai maksimum, minimum, dan rata-rata. Data penelitian

yang telah dikumpulkan dibagi menjadi dua kategori skor yaitu skor hipotetik
54

dan skor empirik. Menurut Azwar (2012), untuk mencari skor hipotetik dapat

diperoleh melalui persamaan dibawah ini:

Tabel 9. Persamaan Skor Hipotetik


Statistik Persamaan
Nilai Minimum Hipotetik Skor Item Terendah x Jumlah Item
Nilai Maksimum Hipotetik Skor Item Tertinggi x Jumlah Item
Mean Hipotetik Jumlah Item x Mean dari Skor Item
Skor Maksimum – Skor Minimum
Standart Deviasi Hipotetik
6

Sedangkan untuk perhitungan skor empirik dapat dilakukan dengan

bantuan program aplikasi SPSS (Statistical Product And Service Solution) for

windows versi 16.0. Perhitungan skor hipotetik dan empirik bertujuan untuk

membandingkan data hipotetik dengan data yang diperoleh dilapangan.

Berikut adalah gambaran perbandingan skor hipotetik dan skor empirik:

Tabel 10. Perbandingan Skor Hipotetik dan Skor Empirik


Prediktor Statistik Hipotetik Empirik
Skor Minimum 14 14
Skor Maksimum 56 55
Regulasi Emosi
Mean 35 39,06
Standart Deviasi 7 6,162
Skor Minimum 22 21
Skor Maksimum 88 72
Self Disclosure
Mean 55 46,97
Standart Deviasi 11 10,531
55

Setelah mengetahui perbandingan skor hipotetik dan skor empirik, maka

langkah selanjutnya yaitu menghitung kategori tingkatan berdasarkan norma

yang telah ditetapkan. Menurut Azwar (2012), ketentuan kategori tingkat

variabel sebagai berikut:

Tabel 11. Kategorisasi Jenjang bagi Subjek Penelitian


Katagori Daerah keputusan
Rendah X<(µ- σ)
Sedang (µ- σ)< X <(µ+σ)
Tinggi (µ+σ)<X
Sumber : Azwar (2012)
Keterangan :
µ : Mean Hipotetik
SD : Standar Deviasi
X : Skor subjek

Dengan dilakukan perhitungan kategori tingkat variabel, maka peneliti

dapat mengetahui tingkat variabel dalam penelitian berada dalam kategori

rendah, sedang, ataupun tinggi. Berdasarkan penghitungan tersebut, maka

diperoleh kategorisasi seperti dibawah ini:

Tabel 12. Kategorisasi Data Variabel Regulasi Emosi dan Self Disclosure

Rentang Jumlah
Variabel Kategori Persentase
Nilai (Orang)
X < 28 Rendah 11 5%
Regulasi Emosi 28 X < 42 Sedang 154 71%
> 42 Tinggi 53 24%
Self Disclosure X < 44 Rendah 75 34%
56

44 X < 66 Sedang 129 59%


> 66 Tinggi 14 7%
Jumlah 218 100%

Dari tabel 12 maka diketahui bahwa variable regulasi emosi untuk kategori

rendah sebanyak 11 orang, kategori sedang sebanyak 154 orang, dan 53 orang

masuk dalam kategori tinggi. Sedangkan untuk variabel self disclosure

diperoleh kategori rendah sebanyak 75 orang, kemudian kategori sedang

sebanyak 129 orang, dan 14 orang untuk kategori tinggi.

2. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah di dalam model

regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi data

normal atau mendekati normal. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan

dengan menggunakan uji One-Sampel Kolmogorov-Smirnov. Data dikatakan

terdistribusi normal jika taraf signifikansi lebih dari 0,05. Berikut adalah hasil

dari uji normalitas yang dilakukan oleh peneliti :

Tabel 13. Hasil Uji Normalitas


Variabel Signifikansi Keterangan
Regulasi Emosi 0,136 Distribusi Normal
Self Disclosure 0,191 Distribusi Normal
57

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua variabel dalam

penelitian memiliki hubungan yang linear atau tidak. Jika kedua variabel

memiliki hubungan linear, maka dapat dilakukan uji regresi linier. Hubungan

yang linear menggambarkan bahwa perubahan pada variabel bebas akan

cenderung diikuti oleh perubahan variabel tergantung dengan membentuk

garis linear. Berikut adalah hasil dari uji linearitas yang dilakukan oleh

peneliti :

Tabel 14. Hasil Uji Linieritas


Variabel Signifikansi Keterangan
Regulasi Emosi*Self Disclosure 0,000 Linier
Keterangan : (*) = Terhadap
Menurut Priyatno (2009) dimana nilai Sig. lebih kecil 0,05 berarti data

tersebut linier, sedangkan apabila nilai Sig. lebih besar 0,05 berarti data

tersebut tidak linier. Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa uji

linieritas pada Linearity adalah sebesar 0,000 sehingga dapat dikatakan

hubungan antar variabel adalah linier.

3. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis adalah suatu prosedur yang akan menghasilkan suatu

keputusan, yaitu keputusan dalam menerima atau menolak hipotesis yang

sudah ditentukan sebelumnya (Hasan, 2006). Berikut adalah hasil

berdasarkan data yang sudah diperoleh dari lapangan :


58

Tabel 15. Hasil Uji Hipotesis


R Square F T Signifikansi Keterangan
0,088 20,757 -4,556 0,000 Signifikan

Berdasarkan hasil olah data menggunakan SPSS 16.0 for Windows dapat

disimpulkan bahwa hipotesis diterima dengan memperhatikan nilai F, T dan

signifikansi <0,05, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat peran

negatif dan signifikan regulasi emosi terhadap self disclosure pada suami istri

yang menggunakan jejaring sosial facebook. Melalui uji hipotesis nilai R

square yang didapat adalah 0,088 hal ini menunjukan bahwa variabel regulasi

emosi memiliki kontribusi sebesar 8,8% terhadap variabel self disclosure dan

91,2% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar variabel regulasi

emosi yang tidak diteliti oleh peneliti.

Adapun analisis tambahan dari nilai korelasi Product Moment-Pearson

antara laki-laki dan perempuan adalah:

Tabel 16. Hasil Uji Korelasi Laki-Laki dan Perempuan


Koefisien
Variable Signifikasi Keterangan
Korelasi
Regulasi emosi terhadap
Korelasi
self disclosure pada laki- -0,324 0,001
Rendah
laki
Regulasi emosi terhadap
Korelasi
self disclosure pada -0,286 0,003
Rendah
perempuan
59

Dari tabel 16 dapat dilihat bahwa korelasi antara regulasi emosi terhadap

self disclosure pada laki-laki sebesar -0,324 dengan signifikasi 0,001 ( p <

0,05) yang berarti hubungan antara kedua variabel tersebut signifikan dengan

kategori korelasi rendah. Sedangkan, korelasi antara regulasi emosi terhadap

self disclosure pada perempuan sebesar -0,286 dengan signifikasi 0,003 ( p <

0,05) yang berarti hubungan antara kedua variabel tersebut signifikan dengan

kategori korelasi rendah. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa korelasi

regulasi emosi terhadap self disclosure pada laki-laki dan perempuan sama-

sama rendah, namun korelasi regulasi emosi terhadap self disclosure pada

laki-laki lebih tinggi daripada korelasi regulasi emosi terhadap self disclosure

pada perempuan.

B. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan pada suami istri dengan sampel 218 orang.

Penelitian ini dilakukan guna mengetahui ada atau tidaknya peran antara

variabel bebas yakni regulasi emosi dengan variabel terikat yaitu self

disclosure pada suami atau istri yang menggunakan jejaring sosial facebook.

Dari hasil terlihat bahwa Ha diterima yang artinya terdapat peran negatif dan

signifikan variabel regulasi emosi terhadap self disclosure pada suami istri

yang menggunakan jejaring sosial facebook, yang artinya semakin tinggi

regulasi emosi maka self disclosure rendah. Sehingga regulasi emosi yang

tinggi pada pada suami istri dapat menurunkan self disclosure di media sosial

facebook pada suami istri.


60

Berdasarkan data hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan, terlihat

hasil analisis deskriptif dari skor regulasi emosi pada suami istri menunjukan

bahwa 71% memiliki tingkat regulasi emosi pada kategori sedang. Hal ini

menunjukkan bahwa suami istri memiliki regulasi emosi dalam setiap emosi

yang timbul pada diri mereka. Menurut Ubaidillah (2014) seseorang yang

dengan kemampuan mengelola emosi dengan baik mampu mengontrol emosi

serta mampu menyeimbangkan rasa marah, kecewa, frustasi, putus asa, dalam

menghadapi banyak hal dan peristiwa. Frijda (Nisfiannoor & Kartika, 2004)

mengungkapkan bahwa seseorang tidak hanya memiliki emosi, tetapi juga

perlu mengatur emosi mereka, dalam arti mereka perlu mengambil sikap

terhadap emosi mereka dan menerima konsekuensi dari tindakan emosional

mereka. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ubaidillah (2014) seseorang

yang dengan kemampuan mengelola emosi dengan baik mampu mengontrol

emosi serta mampu menyeimbangkan rasa marah, kecewa, frustasi, putus asa,

dalam menghadapi banyak hal dan peristiwa. Dimana hal tersebut bisa

menjadi cara bagi suami istri untuk meregulasi emosi mereka masing-masing.

Banyak faktor pendukung yang bisa mempengaruhi suami istri ketika

meregulasi emosinya, penyebabnya adalah perbedaan yang ada apa diri

individu setiap pasangan suami istri. Bukan hanya perbedaan mendasar seperti

usia, sebagaimana dijelaskan oleh Maiden (Coon, 2005) dimana semakin

tinggi usia seseorang semakin baik kemampuan regulasi emosinya. Sehingga

dengan bertambahnya usia seseorang menyebabkan ekspresi emosi semakin

terkontrol, tetapi juga perbedaan jenis kelamin.


61

Pada skor self disclosure pada subjek, berdasarkan hasil analisis deskriptif

menunjukkan bahwa 59% suami istri memiliki tingkat self disclosure pada

kategori sedang. Menurut Morton (Dayakisni, 2006) pengungkapan diri

merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan

orang lain. Informasi di dalam pengungkapan diri bisa melukiskan berbagai

fakta mengenai diri sendiri yang mungkin belum diketahui oleh orang lain

serta bisa mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya. Sedangkan Papu

(2002) menjelaskan bahwa pengungkapan diri atau self disclosure dapat

diartikan sebagai pemberian informasi tentang diri sendiri kepada orang lain.

Informasi yang diberikan tersebut dapat mencakup berbagai hal seperti

pengalaman hidup, perasaan, emosi, pendapat, cita-cita, dan lain sebagainya.

Devito (1997) menjelaskan, individu melakukan self disclosure salah satunya

karena seseorang merasa perlu menghilangkan perasaan bersalah dengan

mengungkapkannya. Di saat yang lain mungkin seseorang ingin terlihat baik

dengan mengungkapkan hal- hal baik dari dirinya. Selain itu melakukan self

disclosure bisa jadi untuk membantu menjelaskan sesuatu kepada orang lain

dan pasangan.

Borchers (1999) mengemukakan bahwa melalui self disclosure

seseorang/individu dapat meningkatkan kesadaran diri. Self disclosure juga

dapat membantu seseorang/individu untuk mengadakan kontrol sosial.

Johnson (1981) yang mengungkapkan bahwa individu yang mampu dalam

membuka diri (self disclosure) akan dapat mengungkapkan diri secara tepat,

terbukti mampu menyesuaikan diri (adaptif), lebih percaya diri sendiri, lebih
62

kompeten, dapat diandalkan, lebih mampu bersikap dan berperilaku positif,

percaya terhadap orang lain, lebih objektif, dan mampu mengontrol

perilakunya. Dengan ini seseorang akan mampu mengendalikan diri terhadap

pikiran, perasaan dan perilakunya.

Pada uji tambahan penelitian ini menunjukkan bahwa korelasi regulasi

emosi terhadap self disclosure pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan

korelasi regulasi emosi terhadap self disclosure pada perempuan. Seperti

penelitian yang dilakukan oleh Khoirina (2013) hasil penelitian menunjukkan

regulasi mood negatif pada mahasiswa laki-laki lebih baik dibandingkan

dengan mahasiswa perempuan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh

Garnefski (Umar, 2012) bahwa perempuan dan laki-laki memiliki regulasi

emosi yang relatif berbeda. Menurutnya perempuan lebih banyak melakukan

rumination (terus-menerus memikirkan hal negatif), catastrophizing (merasa

peristiwa yang dialami adalah pengalaman buruk) dan positif refocusing

(focus pada pemikiran hal-hal positif atau menyenangkan daripada

memikirkan yang sebenarnya). Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan

oleh Kusumaningrum (2012) bahwa kemampuan regulasi emosi setiap

individu berbeda-beda dipengaruhi oleh stresor, faktor fisiologis, faktor usia,

kognitif, aspek sosial terutama pengaruh keluarga, dan faktor budaya, hal ini

dikarenakan setiap individu memiliki caranya tersendiri ketika meregulasikan

emosinya.

Begitupula dengan self disclosure, menurut Fischer (Coon, 2005)

penelitian menemukan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda dalam


63

mengekspresikan emosi baik verbal maupun ekspresi wajah sesuai dengan

gendernya. Jenis kelamin merupakan factor yang paling mempengaruhi dalan

mengungkapkan diri. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2013)

self disclosure pada perempuan lebih tinggi daripada self disclosure laki –

laki. Menurut Cunningham (Nugroho, 2013) kesulitan pria dalam

mengungkapkan diri disebabkan karena pria memiliki anggapan bahwa

mengungkapkan diri merupakan tanda dari kelemahan, sehingga

pengungkapan diri pada pria cenderung lebih rendah. Perbedaan self

disclosure pada pria dan wanita juga dijelaskan oleh (Jourard,1964) bahwa

wanita telah dibiasakan untuk mengungkapkan diri. Stereotip yang

menyatakan wanita lebih banyak bicara dari pria menunjukkan bahwa wanita

pada dasarnya menyenangi pembicaraan dengan orang lain.

C. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah :

1. Peneliti tidak menggunakan rentang pernikahan, budaya, hubungan

antara suami atau istri merupakan hubungan jarak jauh (LDR) atau

tinggal bersama dalam penelitian ini sebagai kriteria dalam penelitian

2. Keterbatasan juga dikarenakan subjek yang diambil merupakan

pasangan suami istri tetapi peneliti belum bisa menganalisis sebesar

apa pengaruh regulasi emosi terhadap self disclosure pada pasangan

masing-masing, dikarenakan keterbatasan dalam analisa uji statistik


64

3. Peneliti masih menggunakan teori self disclosure secara umum, bukan

yang lebih spesifik mengarah kepada self disclosure melalui media

online
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Terdapat peran negatif dan signifikan variabel regulasi emosi terhadap self

disclosure pada suami istri yang menggunakan jejaring sosial facebook, yang

artinya semakin tinggi regulasi emosi maka self disclosure rendah. Sehingga

regulasi emosi yang tinggi pada pada suami istri dapat menurunkan self

disclosure pada suami istri yang menggunakan jejaring sosial facebook.

2. Dari analisis tambahan uji korelasi antara dua variable dapat diketahui bahwa

korelasi regulasi emosi terhadap self disclosure pada laki-laki lebih tinggi

daripada korelasi regulasi emosi terhadap self disclosure pada perempuan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka peneliti mengajukan

beberapa saran sebagai berikut :

1. Saran Teoritis

a. Peneliti selanjutnya disarankan agar dapat meneliti faktor - faktor lain

yang tidak diteliti dalam penelitian ini, yang diperkirakan dapat

mempengaruhi regulasi emosi dan self disclosure pada suami istri. Faktor-

faktor tersebut diantaranya adalah usia, jenis kelamin, kepribadian.

b. Diharapkan dapat memilih subjek dengan latar belakang yang lebih

bervariasi, seperti berdasarkan budaya, rentangan usia pernikahan,

65
66

hubungan jarak jauh (LDR) atau tinggal bersama, atau latar belakang

pendidikan, sehingga dapat memberikan variasi pada hasil penelitian yang

serupa.

c. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menganalisis sebesar apa pengaruh

regulasi emosi terhadap self disclosure pada pasangan masing-masing

sesuai dengan pasangannya.

d. Diharapkan teori self disclosure yang dipergunakan oleh peneliti

selanjutnya lebih mengarah atau lebih spesifik kepada teori self disclosure

melalui media online.

2. Saran Praktis

Untuk suami istri dengan adanya regulasi emosi diharapkan hubungan yang

ada dalam rumah tangganya semakin terjaga dan selalu bisa mengontrol emosi

pada masing-masing individu ketika mengungkapan diri di media sosial serta bisa

berpikiran positif dan keluarganya semakin harmonis bersama pasangan dengan

adanya saling keterbukaan diri pada pasangan masing-masing.


67

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu PendekatanPraktik. Jakarta: PT


Rineka Cipta
Asandi, Qurratul A R & Hamim Rosyidi. 2010. Self Disclosure Pada Remaja
Pengguna Facebook. Jurnal Penelitian Psikologi Vol 1, No 1, 87-98

Azwar, S. 2010. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar

-----------. 2012. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar


-----------. 2012. Sikap Manusia :Teori dan Pengukurannya-Edisi Kedua.
Yogyakarta: Pustaka Belajar
Borchers. 1999. Self Disclosure
http://www.comscl.coza//ac11101/SelfDisclosure.190303.htm, dikutip
kembali, 23 Mei 2017

Chairunnisa. 2010. Hubungan Intensitas Mengakses Facebook dengan Motivasi


Belajar Siswa MAN 13 Jakarta. Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta

Coon, D. 2005. Psychology a journey (2nd ed.). USA: Thomson Wadsworth


Cooper, D. R & Emory, C. W. 1995. Metode Penelitian Bisnis Jilid 1-Terjemahan
oleh Ellen G. Sitompul. Jakarta: Erlangga
Dayakisni, Tri & Hudaniah. 2006. Psikologi sosial. Malang: UMM Press

Devito, J. A. 1997. Komunikasi Antar Manusia: Kuliah Dasar – Edisi Kelima.


Jakarta: Professional Books

Fardis, Markon. 2007. Expression And Regulation Of Emotions In Romantic


Relationships. Disertasi For the Degree of Doctor of Philosophy in
Clinical Psychology The University of Montana Missoula

Feldman, R. S. 2012. Pengantar Psikologi: Understanding Psychology Buku 2


(10thed) – Terjemahan Petty Gina Gayatri dan Putri Nurdina Sofyan.
Jakarta: Salemba Humanika

Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS


cetakan Keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Gainau, Maryam B. 2009. Keterbukaan Diri (Self Disclosure) Siswa Dalam
Perspektif Budaya Dan Implikasinya Bagi Konseling. Jurnal Ilmiah Widya
Warta Vol 33 No 1

Goleman, D. 2004. Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting Daripada


IQ. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Gross, J. J & John, O. P. 2003. Individual Difference in Two Emotion Regulation


Processes: Implication for Affect, Relationship, and Well-Being. Journal
of Personality and Social Psychology 85

Gross, J. J. 2007. Handbook of Regulation Emotion. New York: Guilford Press

Gross, J.J. & Thompson, R.A. 2007. Emotion Regulation.Conceptual


Foundations. InHandbook of Emotion Regulation. New York: Guilford
Press

Hurlock, Elizabeth B. 1993. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan


Sepanjang Rentang Kehidupan – Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga

Johnson,W. David. 1981. Reaching Out - Interpersonal Effectivenss And Self


Actualization. Printice:Internasionalin Jersey
Jourard, M.S. 1964. The transparent self: self disclosure and well-being. New
York: Van Nostrand Reinhold Company
Karel, Rivika Sakti, Miriam Sondakh, & Yuriwaty Pasoreh. 2014. Komunikasi
Antar Pribadi Pada Pasangan Suami Istri Beda Negara (Studi Pada
Beberapa Keluarga Di Kota Manado). Jurnal Acta Diurna Vol 3, No 4, 5-
6

Khoirina, Izzati. 2013. Regulasi Mood Negatif Pada Mahasiswa DiTinjau Dari
Jenis Kelamin. Jurnal Online Psikologi Vol 1, No 2 Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Malang

Kusumaningrum, Oktavia Dewi. 2012. Regulasi Emosi Istri Yang Memiliki


Suami Stroke. Jurnal EMPATHY Vol I, No 1, 200-202

Kusumanistyas, Ratih Dwi. 2010. Peran Media Sosial Online (Facebook) Sebagai
Saluran Self Disclosure Remaja Putri Di Surabaya (Studi Deskriptif
Kualitatif Mengenai Peran Media Sosial Online (Facebook) Sebagai
Saluran Self Disclosure Remaja Putri Di Surabaya). Skripsi Fakultas Ilmu
Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Jawa Timur

68
Natalia, Alvia Esra. 2015. Perbedaan Regulasi Emosi Pada Mahasiswa Yang
Bersuku Karo dan Bersuku Jawa. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta

Nisfiannoor, M & Yuni Kartika .2004. Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan
Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Pada Remaja. Jurnal Psikologi Vol
2, No 2, 3-4

Nugroho, Ditya Ardi. 2013 Self Disclosure Terhadap Pasangan Melalui Media
Facebook Di Tinjau Dari Jenis Kelamin. Jurnal Online Psikologi Vol 1,
No 2, 2-4 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Pamuncak, Dimas. 2011. Pengaruh Tipe Kepribadian Terhadap Self Disclosure


Pengguna Facebook. Jurnal Online Psikologi Vol 1, No 1

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. 2008. Psikologi Perkembangan.


Jakarta: Kencana Prenada Media Grup

Papu, Johanes. 2002. Pengungkapan Diri. http://www.e-


psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=271, diunduh tanggal 12 April
2016

Priyatno, Dwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data Dengan SPSS 17. Yogyakarta :
Andi
Rasyid, M. 2012. Hubungan antara Peer Attachment dengan Regulasi Emosi
Remaja yang Menjadi Siswa di Boarding School SMA Negeri 10
Samarinda. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Vol.1, No.3
Richard, J. M & Gross, J. J. 2000. Emotion Regulation and Memory: The
Cognitive Coots of Keeping One’s Cool. Journal of Personality and
Social Psychology Vol 79, No 3, 210-224
Rosyidi, Moch. Latief Hasyim. 2014. Regulasi Emosi Pada Istri yang Tertular
HIV/AIDS. Skripsi Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan
Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalaijaga Yogyakarta

Santrock, J. W. 2002. Perkembangan Masa Hidup Jilid 2. Jakarta: Erlangga

------------------. 2007. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga

------------------. 2010. Life-Span Development - Perkembangan Masa Hidup -


Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga

69
Saphiro, L. E. 2003. Mengajarkan Emotional Intelegence Pada Anak. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama
Sari, Retno Puspito, Tri Rejeki A, & Achmad Mujab M. 2006. Pengungkapan Diri
Mahasiswa Tahun Pertama Universitas Diponegoro Ditinjau Dari Jenis
Kelamin Dan Harga Diri. Jurnal Psikologi Undip Vol 3, No 2, 12

Sherwin, Cuason., Carlo, Magno., & Christine, Figueroa. 1998. The Development
Of The Self Disclosure Scale. Journal Of De La Salle University Manilla

Siregar, Sofian. 2013. Statistik Parametrik untuk Penelitian Kuantitatif. Jakarta:


Bumi Aksara
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R dan D. Bandung:
Alfabeta

Supratiknya, A. 1995.Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius

Techinasia. 2015. Statistik Pengguna Internet dan Media Sosial Terbaru Di


Indonesia, dikutip kembali tanggal 23 Mei 2017 dari
https://id.techinasia.com/talk/statistik-pengguna-internet-dan-media-sosial-
terbaru-diindonesia
Tekno kompas. (2016, 15 April). Hampir Semua Pengguna Internet Indonesia
Memakai Facebook?. Dikutip tanggal 23 Mei 2017 dari
http://tekno.kompas.com/read/2016/04/15/10210007/Hampir.Semua.Peng
guna.Internet.Indonesia.Memakai.Facebook?utm_source=tekno&utm_me
dium=bp kompas&utm_campaign=related&
Thompson, R. A. 1994. Emotion Regulation: A Theme in Search of Definition.
Monographs of The Society for Reseach in Child Development Vol. 59,
No. 2/3

Ubaidillah. 2014. Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan Pengambilan Keputusan


Dalam Melakukan Transaksi Di Pasar Valuta Asing Pada Trader. Skripsi
Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Umar, N. M. 2012. Regulasi Emosi Pada Remaja Panti Asuhan Muhajirin


Balikpapan Timur. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang

Wade, Carole & Tavris Carol. 2007. Psikologi Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta:
Erlangga

70

Anda mungkin juga menyukai